Anda di halaman 1dari 10

RINGKASAN MATERI KULIAH

PENGENDALIAN DAN SISTEM INFORMASI


AKUNTANSI
Disusun guna memenuhi tugas Sistem Informasi Akuntansi

DISUSUN OLEH:
YUWONO DWI SAPUTRO (F1314095)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2015
BAB 7
Pengendalian dan Sistem Informasi Akuntansi)
Control and Accounting Information System

A. SEKILAS TENTANG ANCAMAN TERHADAP SIA

PENGENDALIAN DAN SISTEM INFORMASI AKUNTANSI

Ancaman Terhadap Sistem Informasi Akuntansi Meningkat


Hampir setiap tahun, lebih dari 60% organisasi mengalami kegagalan utama dalam
mengendalikan keamanan dan integritas sistem komputernya, antara lain karena :
1. Ketersediaan informasi bagi sejumlah pekerja tidak terpenuhi;
2. Informasi pada jaringan komputer distribusi sulit dikendalikan;
3. Pelanggan serta pemasok memiliki akses ke sistem dan data satu sama lain.
Organisasi belum melindungi data dengan baik karena :
1. Beberapa perusahaan memandang kehilangan atas informasi penting sebagai
ancaman yang tidak mungkin terjadi;
2. Implikasi pengendalian atas pemindahan dari sistem komputer tersentralisasi ke
sistem berbasis internet tidak sepenuhnya dipahami;
3. Banyak perusahaan tidak menyadari bahwa informasi adalah sumber daya
strategis dan melindungi informasi harus menjadi sebuah ketentuan strategis;
4. Produktivitas dan penekanan biaya memotivasi manajemen untuk mengabaikan
ukuran-ukuran pengendalian yang memakan waktu.
Kejadian (event) atau ancaman (threat) adalah segala potensi kejadian yang
merugikan, atau kejadian tidak diinginkan yang dapat merusak Sistem Informasi
Akuntansi (SIA) atau organisasi.
Paparan (exposure) atau dampak (impact) merupakan kerugian uang yang
potensial dari sebuah ancaman tertentu yang akan menjadi kenyataan.
Kemungkinan (likelihood) ancaman yaitu kemungkinan bahwa ancaman
(paparan/dampak) akan terjadi.
Ancaman-ancaman atas Sistem Informasi Akuntansi (SIA), meliputi :
1. Kehancuran karena bencana alam dan politik, seperti : kebakaran atau panas
berlebih, banjir, gempa bumi, badai angin, peperangan.
2. Kesalahan pada software dan tidak berfungsinya peralatan, seperti : kegagalan
hardware, kesalahan atau kerusakan pada software, kegagalan sistem operasi,
gangguan dan fluktuasi listrik, kesalahan pengiriman data yg tidak terdeteksi.
3. Tindakan yang tidak disengaja, seperti : kecelakaan yang disebabkan oleh
kesalahan manusia, kesalahan atau penghapusan karena ketidaktahuan,
hilangnya atau salah letaknya data, kesalahan pada logika sistem, sistem yang
tidak memenuhi kebutuhan perusahaan atau tidak mampu menangani tugas
yang diberikan.
4. Tindakan disengaja yang biasanya disebut sebagai kejahatan komputer, seperti :
sabotase, penipuan melalui komputer, penyalahgunaa aset, pencurian.
B. IKHTISAR KONSEP PENGENDALIAN
Pengendalian internal (internal control) merupakan proses dan prosedur yang
dijalankan untuk menyediakan jaminan memadai bahwa tujuan pengendalian telah
dicapai.
Tujuan-tujuan pengendalian tersebut meliputi :
1. Mengamankan aset;
2. Mengelola catatan dengan detail yang baik untuk melaporkan aset perusahaan
secara akurat dan wajar;
3. Memberikan informasi yang akurat dan reliabel;
SISTEM INFORMASI AKUNTANSI

PENGENDALIAN DAN SISTEM INFORMASI AKUNTANSI


4.
5.
6.
7.

Menyiapkan laporan keuangan yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan;


Mendorong dan memperbaiki efisiensi operasional;
Mendorong ketaaan terhadap kebijakan manajerial yang telah ditentukan;
Mematuhi hukum dan peraturan yang berlaku.

Pengendalian internal melaksanakan tiga fungsi penting yaitu :


1. Pengendalian untuk pencegahan (preventive control) mencegah timbulnya suatu
masalah sebelum mereka muncul.
2. Pengendalian untuk pemeriksaan (detective control) dibutuhkan untuk
mengungkap masalah begitu masalah muncul.
3. Pengendalian korektif (corrective control) memecahkan masalah yang ditemukan
oleh pengendalian untuk pemeriksaan.
Pengendalian internal sering kali dipisahkan dalam dua kategori berikut :
1. Pengendalian umum (general control) : memastikan lingkungan pengendalian
sebuah organisasi stabil dan dikelola dengan baik.
2. Pengendalian aplikasi (application control) : mencegah, mendeteksi, dan
mengoreksi kesalahan transaksi serta penipuan di dalam program aplikasi.
Empat kaitan pengendalian untuk membantu manajemen menyelesaikan konflik di
antara kreativitas dan pengendalian (Robert Simons, professor bisnis Harvard) :
1. Sebuah sistem kepercayaan (belief system), menjelaskan cara sebuah
perusahaan menciptakan nilai, membantu pegawai memahami visi misi
manajemen,
mengkomunikasi-kan
nilai-nilai
dasar
perusahaan,
serta
menginspirasi kerja pegawai dengan nilai tersebut.
2. Sebuah sistem batas (boundary system), membantu pegawai bertindak secara
etis dengan membangun batas-batas dalam perilaku kepegawaian.
3. Sebuah sistem pengendalian diagnostik (diagnostic control system), mengukur,
mengawasi, dan membandingkan perkembangan perusahaan aktual berdasar
anggaran & tujuan kinerja.
4. Sebuah sistem pengendalian interaktif (interactive control system), membantu
manajer untuk memfokuskan perhatian bawahan pada isu-isu strategis utama
dan lebih terlibat di dalam keputusan mereka.
Pengendalian manajemen (management control) meliputi tiga fitur berikut:
1. Merupakan bagian kesatuan dari tanggung jawab manajemen;
2. dirancang untuk mengurangi kesalahan, penyimpangan, dan mencapai tujuan
organisasi;
3. berorientasi pada personil dan berusaha membantu karyawan mencapai tujuan
perusahaan.

1.
2.
3.
4.

Prosedur pengendalian khusus yang digunakan dalam sistem pengendalian internal


dan sistem pengendalian manajemen dapat diklasifikasikan dalam klasifikasi
pengendalian internal berikut:
Pengendalian pencegahan, detektif, dan korektif;
pengendalian umum dan aplikasi;
pengendalian administratif dan akuntansi;
pengendalian input, proses/pengolahan, dan output.
Praktik Korupsi Asing dan Sarbanes-Oxley Acts
SISTEM INFORMASI AKUNTANSI

PENGENDALIAN DAN SISTEM INFORMASI AKUNTANSI


Pada tahun 1977 Kongres menggabungkan aturan dari sebuah pernyataan
American Institute of Certified Public Accountants (AICPA) ke dalam Foreign Corrupt
Practices Act (FCPA). Tujuan utama dari undang-undang ini adalah mencegah
penyuapan oleh perusahaan kepada para pejabat luar negeri untuk mendapatkan
bisnis. Selain itu juga mengharuskan perusahaan untuk memelihara sistem
pengendalian internal akuntansi yang baik.
Pada tahun 2002, Kongres mengeluarkan undang-undang Sarbanes-Oxley Act (SOX)
yang dimaksudkan untuk mencegah kejahatan laporan keuangan, membuat laporan
keuangan lebih transparan, memberikan perlindungan pada investor, memperkuat
pengendalian internal pada perusahaan publik, dan menghukum eksekutif yang
melakukan kejahatan.
Setelah SOX dikeluarkan, Securities and Exchange Commission (SEC)
memerintahkan bahwa manajemen harus :
1. mendasarkan evaluasinya pada sebuah kerangka pengendalian yang berlaku;
2. mengungkap semua kelemahan pengendalian internal material;
3. menyimpulkan bahwa sebuah perusahaan tidak memiliki pengendalian internal
pelaporan keuangan yang efektif jika terdapat kelemahan material.
C. KERANGKA PENGENDALIAN
1. Kerangka COBIT
Information Systems Audit and Control Foundation (ISACF) mengembangkan
Control Objectives for Information and related Technology (COBIT), yaitu sebuah
kerangka praktik pengendalian untuk teknologi informasi dan keamanan sistem
informasi yang umumnya dapat diaplikasikan. COBIT mengonsolidasi standar
dari 36 sumber berbeda ke dalam satu kerangka. Kerangka tersebut
memungkinkan :
Manajemen membuat tolok ukur praktik keamanan dan pengendalian
lingkungan TI;
Para pengguna layanan TI dijamin dengan pengendalian dan keamanan yang
memadai;
Para auditor memperkuat opini pengendalian internal dan untuk memberikan
saran dalam masalah keamanan dan pengendalian TI.
2. Kerangka Pengendalian Internal COSO
Committee of Sponsoring Organizations (COSO) adalah kelompok sektor swasta
yang terdiri dari : American Accounting Association (AAA); American Institute of
Certified Public Accountants (AICPA); Institute of Internal Auditors; Institute of
Management Accountants; dan Financial Executives Institute.
Pada tahun 1992, COSO mengeluarkan Pengendalian Internal - Kerangka
Terintegrasi - IC, untuk mengembangkan definisi pengendalian internal dan
memberikan panduan untuk mengevaluasi dan meningkatkan sistem
pengendalian internal, yang telah diterima sebagai otoritas untuk pengendalian
internal yang digabungkan ke dalam kebijkan, peraturan, dan regulasi untuk
mengendalikan aktivitas bisnis.
Untuk memberikan jaminan yang wajar bahwa tujuan pengendalian dicapai
dengan pertimbangan hal-hal berikut :
a. Efektivitas dan efisiensi (effectiveness and efficiency) operasional organisasi;
b. Keandalan (reliability) pelaporan keuangan;
c. Kesesuaian (compliance) dengan hukum dan peraturan yang berlaku.
SISTEM INFORMASI AKUNTANSI

PENGENDALIAN DAN SISTEM INFORMASI AKUNTANSI


Lima komponen Model Pengendalian Internal COSO yang saling berhubungan :
a. Control environment (lingkungan pengendalian)
b. Control activities (aktivitas pengendalian)
c. Risk assessment (penilaian risiko)
d. Information and communication (informasi dan komunikasi)
e. Monitoring (pengawasan)
3. Kerangka Manajemen Risiko Perusahaan COSO
Manajemen risiko perusahaan (Enterprise Risk Management) Kerangka
Terintegrasi (Integrated Framework) ERM, merupakan sebuah kerangka COSO
yang
memperbaiki
proses
manajemen
risiko
dengan
memperluas
(menambahkan tiga elemen tambahan) Pengendalian Internal COSO-terintegrasi.
Kerangka ERM digunakan dewan direksi dan manajemen untuk mengatur
strategi, mengidentifikasi kejadian yang mungkin memengaruhi entitas, menilai
dan mengelola risiko, serta menyediakan jaminan memadai bahwa perusahaan
mencapai tujuan dan sasarannya.
4. Kerangka Manajemen RIsiko Perusahaan Vs Kerangka Pengendalian
Internal
Kerangka IC telah diadopsi secara luas sebagai cara untuk mengevaluasi
pengendalian internal, seperti yang ditentukan oleh SOX.
Kerangkan ERM lebih komprehensif menggunakan pendekatan berbasis risiko
daripada berbasis pengendalian, dengan menambah 3 elemen ke kerangka IC
COSO yaitu :
a. Penetapan tujuan,
b. Pengidentifikasian kejadian yang mungkin mempengaruhi perusahaan,
dan
c. Pengembangan sebuah respon untuk risiko yang dinilai.
Sehingga pengendalian bersifat fleksibel dan relevan karena mereka
ditautkan dengan tujuan organisasi terkini.
Model ERM juga mengakui bahwa risiko, selain dikendalikan, dapat pula
diterima, dihindari, dibuat berjenis-jenis, dibagi, atau ditransfer.

D. LINGKUNGAN INTERNAL
Lingkungan penegendalian terdiri dari faktor-faktor berikut ini :
1. Filosofi Manajemen, Gaya Pengoperasian, dam Selera Risiko
Filosofi pihak manajemen dan gaya beroperasi dapat dinilai dengan cara
menjawab pertanyaan seperti berikut ini :
Apakah manajemen mengambil resiko yang tidak sepantasnya untuk
mencapai tujuan, atau apakah manajemen menilai risiko dan manfaat
potensial sebelum bertindak?
Apakah manajemen mencoba untuk memanipulasi ukuran-ukuran kinerja
seperti pemasukan bersih, agar kinerjanya dapat dilihat dalam pandangan
yang lebih baik?
Apakah manajemen menekan para pegawai untuk mencapai hasil terlepas
dari metodenya, atau apakah manajemen menuntut perilaku yang etis?
2. Komitmen terhadap Integritas, Nilai Etis, dan Kompetensi
SISTEM INFORMASI AKUNTANSI

PENGENDALIAN DAN SISTEM INFORMASI AKUNTANSI


Merupakan hal yang penting bagi pihak manajemen untuk menciptakan stuktur
organisasional yang menekankan pada integritas dan nilai-nilai etika. Perusahaan
dapat mengesahkan integritas sebagai prinsip dasar beroperasi, dengan secara
aktif mengajarkan dan mempraktikannya. Contohnya, manajemen puncak harus
memperjelas bahwa laporan yang jujur lebih penting daripada laporan yang
sesuai keinginan pihak manajemen.
3. Pengawasan Pengendalian Internal oleh Dewan Direksi
Komite Audit Dewan Komisaris (board of Director) bertanggungjawab untuk
mengawasi struktur pengendalian internal perusahaan, proses pelaporan
keuangan dan kepatuhannya terhadap hukum, peraturan dan standar yang
terkait, serta perekrutan dan pengawasan auditor internal dan eksternal, juga
tanggungjawab menyediakan peninjauan independen, atas nama pemegang
saham perusahaan, terhadap tindakan para manajer perusahaan.
4. Struktur Organisasi
Struktur
organisasional
perusahaan
menetapkan
garis
otoritas
dan
tanggungjawab, serta menyediakan kerangka umum untuk perencanaan,
pelaksanaan, pengendalian, dan pengawasan operasinya. Beberapa aspek pentik
dari struktur organisasi yaitu :
a. Sentralisasi atau desentralisasi wewenang;
b. Hubungan pengarahan atau matriks pelaporan;
c. Organisasi berdasarkan industri, lini produk, lokasi, atau jaringan pemasaran;
d. Alokasi tanggung jawab memengaruhi ketentuan informasi;
e. Organisasi & garis wewenang untuk akuntansi, pengauditan, fungsi sistem
informasi;
f. Ukuran dan jenis aktivitas perusahaan.
5. Metode Penetapan Wewenang dan Tanggung Jawab
Pihak manajemen harus memberikan tanggung jawab untuk tujuan bisnis
tertentu ke depatemen dan individu yang terkait, serta kemudian membuat
mereka tanggung jawab untuk mencapai tujuan tersebut. Buku pedoman
kebijakan dan prosedur (policy and procedures manual) adalah alat yang penting
untuk memberikan otoritas dan tanggung jawab, merupakan dokumen yang
menjelaskan praktik bisnis yang sesuai, pengetahuan dan pengalaman yang
dibutuhkan, prosedur dokumen, cara menangani transaksi serta mendata
sumber daya yang tersedia untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu.
6. Standar Sumber Daya Manusia yang Menarik, Mengembangkan, dan
Mempertahankan Individu yang Kompeten
Kebijakan dan praktik-praktik mengenai perekrutan, pengontrakan, pelatihan,
pemberian kompensasi, pengevaluasian, dan promosi pegawai, pengelolaan
pegawai yang tidak puas, pemberhentian, liburan dan rotasi tugas, perjanjian
kerahasiaan dan asuransi ikatan kesetiaan, serta menuntut dan memenjarakan
pelaku, yang seluruhnya mempengaruhi kemampuan organisasi untuk
meminimalkan ancaman, risiko, dan paparan.
7. Pengaruh Eksternal
Pengaruh-pengaruh eksternal yang mempengaruhi lingkungan pengendalian
adalah termasuk persyaratan yang dibebankan oleh bursa efek, Financial
SISTEM INFORMASI AKUNTANSI

PENGENDALIAN DAN SISTEM INFORMASI AKUNTANSI


Accounting Standards Board (FASB), PCAOB, dan Securities and Exchange
Commision (SEC), serta persyaratan yang diwajibkan oleh badan regulasi seperti
bank, utilitas, dan perusahaan asuransi.
E. PENETAPAN TUJUAN
Manajemen menentukan hal yang ingin dicapai oleh perusahaan, sering disebut
sebagai visi misi perusahaan. Penetapan tujuan meliputi :
Tujuan strategis (strategic objective) : tujuan tingkat tinggi yang disejajarkan dan
mendukung misi perusahaan serta menciptakan nilai pemegang saham.
Tujuan operasi (operation objective) : berhubungan dengan efektivitas dan
efisiensi operasi perusahaan serta menentukan cara mengalokasikan sumber
daya.
Tujuan pelaporan (reporting objective) : membantu memastikan ketelitian,
kelengkapan, dan kehandalan laporan perusahaan, meningkatkan pembuatan
keputusan, serta mengawasi aktivitas dan kinerja perusahaan.
Tujuan kepatuhan (compliance objective) : membantu perusahaan mematuhi
seluruh hukum dan peraturan yang berlaku.
F. IDENTIFIKASI KEJADIAN
Kejadian (event) menurut COSO, merupakan sebuah insiden atau peristiwa yang
berdampak baik positif, negatif, atau keduanya, dari sumber-sumber internal dan
eksternal yang mempengaruhi implementasi strategi atau pencapain tujuan
organisasi.
Teknik untuk mengidentifikasi kejadian termasuk penggunaan sebuah daftar
komprehensif dari kejadian potensial, pelaksanaan sebuah analisis internal,
pengawasan kejadian-kejadian yang menjadi penyeab dan titik-titik pemicu,
pengadaan seminar atau wawancara, penggunaan data mining, dan penganalisisan
proses-proses bisnis.

G. PENILAIAN RISIKO DAN RESPONS RISIKO


Pendekatan penilaian risiko untuk perancangan pengendalian internal :
1. Mengidentifikasi kejadian/ancaman yang menyerang perusahaan;
2. Memperkirakan kemungkinan dari masing-masing ancaman yang terjadi;
3. Memperkirakan kemungkinan dan dampak/kerugian potensial dari setiap
ancaman;
4. Mengidentifikasi pengendalian untuk melawan setiap ancaman;
5. Memperkirakan biaya dan manfaat dari pengendalian yang dibentuk;
6. Menentukan efektivitas biaya/manfaat
7. Mengurangi risiko dengan mengimplementasikan pengendalian untuk melawan
ancaman, atau menerima, membagi, atau menghindari risiko (jika biaya/manfaat
tidak memadai)
Persamaan untuk memperkirakan nilai pengendalian internal :
EXPECTED LOSS = RISK EXPOSURE
Kerugian yang diperkirakan = Dampak x Kemungkinan
SISTEM INFORMASI AKUNTANSI

PENGENDALIAN DAN SISTEM INFORMASI AKUNTANSI

H. AKTIVITAS PENGENDALIAN
Aktivitas pengendalian merupakan kebijakan dan peraturan yang menyediakan
jaminan yang wajar bahwa tujuan pengendalian pihak manajemen dicapai.
Prosedur pengendalian meliputi beberapa kategori berikut :
1. Otorisasi Transaksi dan Aktivitas yang Tepat
Otorisasi merupakan penetapan kebijkan bagi para pegawai untuk diikuti dan
kemudian memberdayakan mereka guna melakukan fungsi organisasi tertentu,
dapat didokumentasikan dengan penandatanganan, penginisialisasian, atau
pengkodean.
2. Pemisahan Tugas
Contoh pemisahan tugas akuntansi guna meminimalkan tindakan penipuan oleh
pegawai
Fungsi Penyiapan
Fungsi Pencatatan
Fungsi otorisasi
(Custodial Functions)
(Recording Functions)
(Authorization
Functions)
penanganan kas
Mempersiapkan dokumen
otorisasi transaksi
penanganan aset
sumber
menulis/mencatat cek
menjaga catatan jurnal
Menerima cek dalam
mempersiapkan rekonsiliasi
surat
Mempersiapkan laporan
kinerja
Sedangkan pemisahan tugas sistem menerapkan prosedur pengendalian untuk
membagi wewenang dan tanggung jawab secara jelas di dalam fungsi sistem
informasi, meliputi :
a. Administrasi sistem,
b. Manajemen jaringan,
c. Manajemen keamanan,
d. Manajemen perubahan,
e. Pengguna,
f. Analisis sistem,
g. Pemrograman,
h. Operasi komputer,
i. Perpustakaan sistem informasi,
j. Pengendalian data.
3. Pengembangan Proyek dan Pengendalian Akuisisi (Perolehan)
Pengendalian pengembangan sistem yang penting meliputi :
a. Komite pengarah,
b. Rencana induk strategis,
c. Rencana pembangunan proyek,
d. Jadwal pengolahan data,
e. Pengukuran kinerja sistem,
f. Tinjauan pasca implementasi.
4. Mengubah Pengendalian Manajemen

SISTEM INFORMASI AKUNTANSI

PENGENDALIAN DAN SISTEM INFORMASI AKUNTANSI


Organisasi memodifikasi sistem yang berjalan untuk merefleksikan praktikpraktik bisnis baru dan untuk memanfaatkan penguasaan TI.
5. Mendesain dan Menggunakan Dokumen dan Catatan
Desain dan penggunaan dokumen elektronik dan kertas yang sesuai dapat
membantu memastikan pencatatan yang akurat serta lengkap dari seluruh data
transaksi yang relevan.
6. Pengamanan Aset, Catatan, dan Data
Perusahaan harus melindungi kas dan aset fisik beserta informasinya, berikut
beberapa hal penting yang harus diperhatikan :
a. Menciptakan dan menegakkan kebijakan dan prosedur yang tepat;
b. Memelihara catatan akurat dari seluruh aset;
c. Membatasi akses terhadap aset;
d. Melindungi catatan dan dokumen.
7. Pengecekan Kinerja yang Independen
Dilakukan oleh seseorang yang bukan pelaku operasi yang asli untuk membantu
memastikan bahwa transaksi diproses dengan tepat, meliputi :
a. Tinjauan tingkat atas;
b. Tinjauan analitis;
c. Rekonsiliasi catatan-catatan yang dikelola secara independen;
d. Perbandingan jumlah aktual dengan yang dicatat;
e. Pembukaan berpasangan (akuntansi double-entry);
f. Peninjauan independen.

I. INFORMASI DAN KOMUNIKASI


Tujuan utama dari SIA adalah mengumpulakan, mencatat, memproses, menyimpan,
meringkas, dan mengkomunikasikan informasi atas suatu organisasi. Akuntan harus
memahami bagaimana:
a. transaksi diawali;
b. data didapat dalam bentuk yang dapat dibaca oleh mesin, atau data diubah dari
dokumen; sumber ke bentuk yang dapat dibaca oleh mesin;
c. file komputer diakses dan diperbaharui;
d. data diproses untuk mempersiapkan sebuah informasi;
e. informasi dilaporkan ke para pemakai internal dan pihak eksternal;
f. transaksi dicatat.
Prinsip dalam proses informasi dan komunikasi berdasarkan kerangka IC yang
diperbarui :
a. Mendapatkan atau menghasilkan informasi yang relevan dan berkualitas tinggi
untuk mendukung pengendalian internal;
b. Mengkomunikasikan informasi secara internal, termasuk tujuan dan tanggung
jawab yang diperlukan untuk mendukung komponen lain dari pengendalian
internal;
c. Mengkomunikasikan hal-hal pengendalian internal yang relevan kepada pihak
eksternal.

SISTEM INFORMASI AKUNTANSI

PENGENDALIAN DAN SISTEM INFORMASI AKUNTANSI


J. PENGAWASAN
Metode utama mengawasi kinerja mencakup :
1. Menjalankan Evaluasi Pengendalian Internal;
2. Implementasi Pengawasan yang Efektif;
3. Menggunakan Sistem Akuntansi Pertanggungjawaban;
4. Mengawasi Aktivitas Sistem;
5. Melacak Perangkat Lunak dan Perangkat Bergerak yang Dibeli;
6. Menjalankan Audit Berkala;
7. Memperkerjakan Petugas Keamanan Komputer dan Chief Compliance Officer;
8. Menyewa Spesialis Forensik;
9. Memasang Perangkat Lunak Deteksi Penipuan;
10.Mengimplementasikan Hotline Penipuan;

***

SISTEM INFORMASI AKUNTANSI

1
0