Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH KIMIA ORGANIK

SIFAT SIFAT KELARUTAN SENYAWA ORGANIK

OLEH :
NAMA

: ISMAR WULAN

NIM

: O1A114017

KELAS

:A

KELOMPOK : III (TIGA)


ASISTEN

: IRVAN ANWAR, S. Farm.

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2015

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Senyawa

organik adalah

kimia yang molekulnya mengandung karbon,

golongan

besar senyawa

kecuali karbida, karbonat,

dan

oksida

karbon. Studi mengenai senyawaan organik disebut kimia organik. Banyak di antara
senyawaan organik, seperti protein, lemak, dan karbohidrat, merupakan komponen
penting dalam biokimia. Di antara beberapa golongan senyawaan organik adalah senyawa
alifatik, rantai karbon yang dapat diubah gugus fungsinya; hidrokarbon aromatik,
senyawaan

yang

heterosiklik yang

mengandung
mencakup

paling

atom-atom

tidak

satu cincin

nonkarbon

dalam

benzena; senyawa
struktur

cincinnya;

dan polimer, molekul rantai panjang gugus berulang.


Senyawa-senyawa organik dapat diklasifikasikan berdasarkan sifat kelarutannya
dalam sejumlah pelarut dan larutan tertentu. Senyawa dikatakan larut apabila 0,1 gram
padatan atau 0,2 ml cairan dapat larut dalam 3 ml pelarut. Secara umum senyawa organik
dapat diklasifikasikan berdasarkan kelarutan dalam pelarut organik. Senyawa polar akan
larut dalam senyawa polar dan senyawa nonpolar akan larut dalam senyawa nonpolar.
Dalam kelarutan senyawa organik dengan suatu larutan dapat memberikan informasi
tentang klasifikasi larutan yang bersifat asam dan larutan yang bersifat basa.
Dari sifat kelarutan suatu senyawa dapat diklasifikasikan kedalam suatu senyawa
polar dan nonpolar. Jika suatu senyawa organik yang tidak dapat larut dalam air tetapi
dapat larut dalam larutan 10% NaOH, maka dapat dikatakan bahwa senyawa tersebut
lebih asam daripada air dan mempunyai gugus fungsional asam.

Gugus fungsional sebagai ciri utama suatu senyawa organik yang pada dasarnya
dapat diketahui secara jelas dengan mengelompokkan molekul-molekul tersebut saling
berkaitan sehingga sulit untuk membahas suatu gugus fungsional tanpa menyinggung
gugus fungsional yang lainnya. Tetapi secara sederhana dapat dikatakan bahwa gugus
fungsional adalah suatu atom-atom, gugus atom dalam suatu senyawa organik yang boleh
dikatakan paling menentukan sifat zat tersebut.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari penulisan makalah ini adalah sebaagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan senyawa organik?
2. Apa saja sifat-sifat kelarutan senyawa organik?
3. Apa yang dimaksud dengan prinsip like dissolve like?
C. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mempelajari sifat-sifat kelarutan senyawa organik.
2. Untuk membandingkan tingkat kelarutan suatu senyawa terhadap beberapa pelarut.
D. Manfaat
Manfaat dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Dapat mengetahui sifat-sifat kelarutan senyawa organic
2. Dapat membandingkan tingkat kelarutan suatu senyawa terhadap beberapa pelarut.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Senyawa yang mengandung karbon disebut sebagai senyawa organik dan cabang kimia
yang mengkhususkan diri dalam kajian senyawa-senyawa karbon disebut kimia organik. Mulamula dianggap hanya berasal dari benda hidup, senyawa organic berkisar mulai dari molekulmolekul sederhana seperti metana (CH4), hingga molekul-molekul besar seperti protein yang
memiliki ribuan atom dan berat molekulnya melebihi 100,000 delton (Campbell, 1999).

Kelarutan ialah kuantitas suatu zat yang larut dalam sejumlah tertentu air. Dalam
perhitungan kesetimbangan kelarutan, biasanya dinyatakan dalam gram zat terlarut per liter
larutan. Kelarutan molar ialah jumlah mol zat terlarut per liter larutan (Chang, 2005).
Kelarutan merupakan salah satu sifat fisikokimia yang penting untuk diperhatikan pada
tahap preformulasi sebelum memformula bahan obat menjadi sediaan. Beberapa metode dapat
digunakan untuk meningkatkan kelarutan obat, antara lain: melalui pembentukan garam,
perubahan struktur internal Kristal (polimorfi) atau penambahan suatu bahan penolong, misalnya
bahan pengompleks, surfaktan dan kosolven (Erindyah dan Sukmawati, 2005).
Kelarutan merupakan parameter yang penting diketahui dalam penelitian, preformulasi
suatu obat menjadi suatu sediaan farmasi. Sebelum obat dapat terabsorpsi menembus membrane,
obat harus melalui fase pelarutan di dalam cairan tubuh. Kelarutan suatu obat seringkali
dipengaruhi oleh keberadaan bahan lain yang digunakan sebagai bahan tambahan dalam
formulasi (Nugroho, dkk., 2000).
Parameter kelarutan merupakan suatu konsep yang penting, yang dapat digunakan
sebagai parameter pemilihan pelarut. Penggunaan parameter kelarutan dalam pemilihan pelarut
adalah berdasar aturan kimia yang telah dikenal yakni like dissolved like. Jika gaya antar
molekul antara molekul pelarut dan solut memiliki kekuatan yang mirip, maka pelarut tersebut
merupakan pelarut yang baik bagi solut tersebut (Hartati, 2012).
Reaksi senyawa-senyawa organik bersifat molekuler maka reaksi berjalan lambat,
kadang-kadang berjalan dapat-balik, mempunyai hasil-samping dan pada umumnya berjalan
kurang sempurna. Reaksi senyawa-senyawa organik sangat dipengaruhi oleh berbagai keadaan,
terutama oleh zat itu sendiri, temperature, kalalisator atau pelarut yang dipakai. Hal semacam
inilah yang menyebabkan reaksi-reaksi organik kurang kuantitatif (Sumardjo, 2009).

BAB III
PEMBAHASAN

Kelarutan merupakan kemampuan suatu zat untuk dapat bercampur secara sempurna
dengan suatu pelarut tertentu. Secara umum, dikatakan larutan apabila zat terlarut dan
perlarutnya berada dalam fase yang sama, sehingga sifat-sifatnya sama diseluruh cairan.
Campuran ini disebut juga campuran homogen. Tetapi suatu pelarut tertentu dicampur kemudian
membentuk 2 lapisan, maka campuran merupakan campuran dua fase atau biasa disebut dengan
campuran heterogen. Zat organik adalah zat yang banyak mengandung unsure karbon.
Contohnya antara lain Benzen, Chloroform, Detergen, Methoxychlor, dan Pentachlorophenol.

Zat organik dibagi menjadi 2, yaitu zat organik aromatis yaitu senyawa organic yang beraroma,
secara kimia senyawa ini mempunyai ikatan rantai yang melingkar, misalnya benzene, toluene,
dan zat organik nonaromatis yaitu senyawa organik yang tidak beraroma, dan secara kimia tidak
mempunyai ikatan rantai yang melingka, misalnya etana, etanol formalin. Zat organik dapat
digunakan sebagai bahan makanan. Reaksi senyawa-senyawa organik sangat dipengaruhi oleh
berbagai keadaan, terutama oleh zat itu sendiri, temperature, kalalisator atau pelarut yang
dipakai. Hal semacam inilah yang menyebabkan reaksi-reaksi organik kurang kuantitatif.
Golongan senyawa organik terbagi atas Senyawa alifatik, rantai karbon yang dapat
diubah gugus fungsinya; hidrokarbon aromatik, senyawaan yang mengandung paling tidak
satu cincin benzena; senyawa heterosiklik, yang mencakup atom-atom nonkarbon dalam struktur
cincinnya; polimer, molekul rantai panjang gugus berulang. Contoh senyawa organic yaitu
senyawa polar, seperti : methanol, etanol, asam asetat, formaldehida, aseton, dan metilamina;
senyawa tidak polar atau kurang polar, seperti : metana, n-heksana, karbon tetraklorida,
kloroform, dan difenil eter.
Gugus fungsional senyawa organic terbagi atas : 1. Alkil halida yang merupakan turunan
hidrokarbon dalam mana suatu atau lebih hidrogenya diganti dengan halogen. R-X sering
digunakan sebagai notasi umum untuk organik halida, R menandakan suatu gugus alkil dan X
untuk suatu halogen. Reaksi alkil halida dikelompokkan menjadi dua yaitu reaksi substitusi dan
reaksi eliminasi; 2. Alkohol adalah atom oksigen yang bervalensi dua, bisa satu atau kedua
valensinya berikatan dengan karbon. Bila oksigen mengikat sato hidrogen dan satu karbon [C-OH] atau ditulis sebagai R-OH, maka senyawa hidroksilat ini disebut sebagai gugus fungsi
hidroksil (-OH), dan dikenal sebagai alcohol; 3. Eter, bila kedua valensi atom oksigen mengikat
atom karbon, senyawa demikian termasuk golongan oksida organik, yang dikenal sebagai eter

dengan rumus umum R-O-R. Eter merupakan asam lemah, karena adanya pasangan electron
bebas pada oksigen yang dapat bereaksi dengan proton dari asam asam kuat atau basa lewis; 3.
Aldehid dan keton adalah senyawa senyawa yang mengandung salah satu dari gugus penting di
dalam kimia organic, yaitu gugus karbonil C=O, semua senyawa yang mengandung gugus fungsi
inui disebut senyawa karbonil. Gugus karbonil adalah gugus yang paling menentukan sifat kimia
aldehid dan keton.
Prinsip like dissolve like yaitu setiap yang bersifat polar hanya dapat larut dalam pelarut
polar, demikian juga yang setiap yang non polar hanya akan larut dalam pelarut non polar. Untuk
yang semi polar tentunya menyesuaikan dengan ukuran kepolaran yang dimilikinya. Bahan yang
ionik tentunya juga lebih larut dalam pelarut polar. Secara umum pada pelarut polar terjadi
perbedaan keelektronegatifan atom-atom yang menyusun molekul pelarut tersebut, sehingga
berdasarkan hal tersebut maka atom-atom penyusun senyawa tersebut akan memiliki tingkat
energi yang berbeda dalam menarik pasangan elektron yang digunakan secara bersama menuju
arahnya masing-masing. Kecenderungan suatu zat untuk larut sempurna dalam pelarutnya
diperngaruhi oleh kesamaan polaritas, kesamaan zat tersebut untuk berubah menjadi kutup-kutup
yang berupa kation dan anion dan membentuk suatu zat baru dengan melakukan ikatan antar
kutup.
Adapun sifat-sifat senyawa organik berdasarkan aspek fisika yaitu rentangan suhu lebur
30-400C, rentangan titik didih 30-400C, sukar larut dalam air, mudah larut dalam pelarut
organik serta warna cerah, sedangkan sifat-sifat senyawa berdasarkan aspek kimia yaitu
mengandung beberapa macam unsur, umumnya C, H, O, dan N,S,P, halogen, dan

logam,

reaksinya berlangsung lambat, non ionik, dan kompleks, mempunyai variasi sifat kimia yang
banyak serta fenomena isomeri.

Dalam bidang farmasi, pengetahuan mengenai kelarutan sangat diperlukan. Pengetahuan


mengenai sifat-sifat kelarutan senyawa organik digunakan oleh apoteker dalam membuat dan
meracik obat sehingga obat menyenangkan untuk dikonsumsi, selain itu pula digunakan apoteker
untuk memperkirakan efek terapi dari obat tersebut, apakah onset yang dihasilkan cepat atau
lambat berdasarkan daya larutnya dalam lemak tubuh..

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun dapat disimpulkan bahwa :
1 Prinsip kelarutan senyawa organik berdasarkan prinsip like disolve like yaitu senyawa
polar hanya dapat larut dalam senyawa polar dan senyawa nonpolar hanya dapat larut
2

dalam senyawa nonpolar juga.


Kelarutan dari senyawa organik dalam pelarut inert dan dalam pelarut aktif, secara
kimia tergantung pada struktur molekulnya serta sifat fisika dan kimia zat pelarut.

B. Saran
Bagi para pembaca makalah ini, sebaiknya tidak merasa puas, karena masih
banyak ilmu-ilmu yang didapat dari berbagai sumber. Sebaiknya mencari sumber lain
untuk lebih memperdalam materi. Selain itu, penulis sangat mengharap kritik dan saran
yang membangun agar kelak dapat menulis makalah yang lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Campbell, Reece dan Mitchell L. 1999. Biologi. Edisi Kelima Edisi 1. Jakarta : Erlangga.

Chang, Raymond. 2005. Kimia Dasar: Konsep-konsep Inti Jilid II. Jakarta: Erlangga.

Erindyah R. W. dan Anita Sukmawati. 2005. Peningkatan kelarutan pentagamavunon-1 Melalui


pembentukan kompleks dengan Polivinilpirolidon. Jurnal Penelitian Sains & Teknologi,
Vol. 6, No. 2.
Hartati, I. 2012. Prediksi Kelarutan Theobromine pada Berbagai Pelarut menggunakan Parameter
Kelarutan Hildebrand. Jurnal momentum. Vol(8) No(1)
Nugroho A. K., Suwaldi M., dan Tedjo Y. 2002. Pengaruh Propilen Glikol terhadap Kelarutan
Semu Teofilin dan Kofein. Majalah Farmasi Indonesia 11(3)

Sumardjo, Damin. 2009. Pengantar Kimia: Buku Panduan Kuliah Mahasiswa Kedokteran dan
Program Strata I Fakultas Bioeksakta. Jakarta: EG

KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada
Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya penyusun mampu menyelesaikan tugas
makalah Kimia Organik. Makalah ini merupakan tugas pengganti Laporan pada Praktikum
Kimia Organik.
Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi.
Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat
bantuan, dorongan, dan bimbingan orang tua, sehingga kendala-kendala penulis dapat teratasi.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi
sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa. Penulis sadar bahwa
makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu penulis meminta
masukannya

demi

perbaikan

pembuatan

makalah di

masa

yang

akan datang dan

mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.

Kendari, 4 Mei 2015

Penulis