Anda di halaman 1dari 32

RIWAYAT HIDUP YESUS KRISTUS

I. KEBENARAN SEJARAH
Fakta sejaran bahwa Yesus Kristus pernah hidup di dunia ini tak dapat
disangkal. Segenap upaya membuktikan bahwa itu tidak benar selama
200tahun silam gagal total. Kenyataan bukan hanya bahwa seluruh
Perjanjian Baru (PB) disusun berdasarkan Kristus yang benar hidup, tapi
lahirnya dan berkembangnya gereja bahkan perjalanan sejarah dunia sejak
19 abad yang lalu, tak dapat diterangkan terlepas dari realitas sejarah
tentang Kristus yang hidup, mati dan bangkit kembali.
Bahwa sumber-sumber data di luar Alkitab dari abad pertama sesudah
pelayanan Kristus hanya sedikit menyinggung mengenai Dia, hal itu adalah
lumrah. Agama Kristen adalah salah satu dari sekian agama yang alhir di
negeri timur wilayah dunia Romawi pada kedua abad pertama. Perihal
agama itu sedikit sekali yang menarik para ahli sejarah bangsa-bangsa.
Tetapi sesudah agama Kristen bertikai dengan negara, agama itu penting
disebut terutama pada kurun waktu itu, dan penulis-penulis non-Kristen
pertama yang menyinggungnya berkaitan dengan pertikaian itu menyebut
Kristus adalah pendiri agama Kristen (Tacitus, Annals15.44;
Suetonius,Claudius 25, [/i]Nero[/i] 16; Plinius, Epistles 10.96).
Di luar berita dalam tulisan Yosefus (Antiquities of the Jews 18.64), yang
sangat diragukan dan sudah pasti banyak ditambah dengan sisipan, tak
pernah Yesus disebut langsung dalam tulisan-tulisan Yahudi yang non-Kristen
pada zaman itu. Penyebabnya ialah rasa permusuhan dan dendam yang
sellau timbul jika pemimpin-pemimpin Yahudi pada zaman itu teringat
kepada Yesus. Tetapi secara tak langsung ada rujukan kepada Yesus dalam
tulisan-tulisan rabbi terdahulu, yang menyebut Yesus adalah orang durhaka
Israel dan yang mempraktekkan sihir, yang mencemooh kata-kata orang
bijak, menuntut orang tersesat, datang untuk menambahi Hukum Taurat,
yang mati digantung pada hari sebelum Hari Raya Paskah orang Yahudi, dan

yang murid-muridNya menyembuhkan orang sakit dalam namaNya. Kita


dapat mengenal Kristus di belakang gambaran ini.
Pada abad-abad pertama Masehi, tak seorangpun gembong musuh agama
Kristen yang menyangkal bahwa Yesus hidup dan mati di Palestina, dan
bahwa Dia melakukan mujizat-mujizat tak menjadi doal, keterangan
apapun yang mereka berikan tentang kekuasaan yang Dia gunakan untuk
melakukannya. Dan pada masa kini tak seorangpun ahli sejarah yang
obyektif menyangkal fakta sejarah mengenai Kristus. Bukanlah ahli sejarah
bila bermain-main dengan khayalan suatu dongeng Kristus. Tidak hanya
kematianNya saja, tapi kebangkitanNya juga harus dihitung masuk realitas
sejarah yang paling teduh dan sahih.

BP
Merdeka dlm Kristus

Posts: 10670
Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
by BP Tue Jun 13, 2006 1:27 pm

II. SUMBER-SUMBER
Mengenai keterangan terperinci peri-kehidupan Kristus, kita mutlak
bergantung pada PB. Seperti sudah dikatakan, tidak banyak yang diharapkan
dari penelitian atas kepustakaan Yahudi atau non-Yahudi dari dekade awal
tahun Masehi, dan jika kita beralih ke kepustakaan Kristen di luar Alkitab dari
zaman yang sama, hanya sedikit yang akan kita yang akan kita dapati
disana yang belum disebut dalam PB. Kebanyakan Injil Apokrifa mencolok
sebagai hasil khayalan, sehingga dengan cara yang bertentangan
membantu untuk membuktikan watak sejarah Injil-Injil Kanon, tapi tidak
menambah pengetahuan apapun tentang Tuhan Yesus.
Berita Injil bukanlah riwayat hidup dalam arti biasa ungkapan itu. Masing-

masing penulis keempat Injil mempunyai tujuan khas dalam menulis Injilnya,
dan mereka teliti memilih bahan dari data yang tersedia tentang hidup Tuhan
Yesus Kristus. Kendati banayak beda penekanan peri segi-segi tertentu hidup
Yesus, keempat Injil itu memberitakan Kristus yang satu dan sama adalah
Tuhan dan Juruselamat, Anak Manusia sejati dan Anak Tunggal Allah.
Karena keempat Injil bukanlah riwayat hidup biasa, tapi pengumuman kabar
baik mengenai Yesus yang adalah Juruselamat dan Tuhan, maka sukar
mencari di dalamnya kronologis yang ketat. Pada pihak lain, tujuan agamawi
para penulis tidak menyesatkan mereka untuk mengabaikan watak sejarah
hidup Yesus. Seperti jelas dinyatakan dalam kata pendahuluan Injil ketiga,
Lukas, para penulis itu benar-benar menyadari betapa mendesak dan
perlunya mengumumkan kebenaran tentang kristus. Bagi mereka dan
sesama mereka yang seiman kepercayaan pada Kristus adalah soalan hidup
dan mati. Karena itu mereka tak dapat mengalaskan iman mereka pada
takhayul, dongeng atau legenda. Kepercayaan seperti yang dimiliki generasi
Kristen pertama menuntut ketaatan mutlak sampai mati. Kepercayaan
seperti itu hanaya dapat didasarkan pada fakta-fakta yang benar-benar
meyakinkan. Lagipula, begitu dekat dan hidup hubungan para penulis Injil
dengan banyak saksi mata yang sempat mendengar dan melihat sendiri
Tuhan Yesus, sehingga para penulis itu mempunyai kesempatan yang khas
luar biasa untuk memperoleh bukti-bukti nyata dan sah. Diamping itu,
karena fakta-fakta historis itu diperoleh dari begitu banyak saksi mata, maka
para penulis Injil tidak berani memberikan keterangan-keterangan fiktif.
Kendati Lukas memasukkan kedalam Injilnya sebagian besar tulisan Markus,
dan mungkin Yohanes sudah mengena; baik ketiga Injil Pertama, tapi
masing-masing keempat Injil itu merupakan sumber yang berdiri sendiri
mengenai hidup Tuhan Yesus. Masing-masing menekankan segi tertentu dari
hidup dan pelayanan Kristus yang satu melebihi yang lain, tapi pada
dasarnya kristus yang sama dan yang satu itulah yang kita jumpai dalam
keempatnya. Hal itu benar dalam Injil Yohanes, seperti dalam Injil-injil
Sinoptik. Injil Yohanes melengkapi yang lain, dan sebagai hasil perenungan
yang bertahun-tahun dan pemikiran yang lebih dalam peri sejarah Injil
Yohanes lebih memusatkan perhatiannya pada ajaran Tuhan Yesus mengenai
diriNya sebagai Anak Allah. Tapi Yohanes tidak memberitakan Kristus yang
lain dari Kristus yang diberitakan oleh ketiga penulis Injil terdahulu.

Ringkasnya, sumber paling jitu dan paling terpercaya untuk memperoleh


informasi tentang hidup Yesus Kristus adalah keempat Injil Kanon. Kendati
bagian PB lainnya tidak menambah rincian informasi atas peri kehidupan
Yesus yang disajikan dalam Kitab-kitab Injil, Penting diperhatikan bahwa
Kitab Kisah Para Rasul, Surat-surat dan Wahyu semuanya disusun
berdasarkan fakta bahwa Yesus hidup, mengajar, menderita kematian dan
menang atas maut seperti diceritakan oleh Kitab-kitab Injil. Beberapa surat
dalam PB ditulis awal tahun 50M (atau sedikit lebih dini(, umpamanya 1 dan
2 Tesalonika dan Galatia, dan mungkin Yakobus ditulis kira-kira 20tahun
kemudian dari tanggal penyaliban Kristus).
Selanjutnya, mengingat kenyataan bahwa salah seorang penulis PB, yakni
Paulus, yang begitu kejinya menganiaya pengikut Kristus, tapi yang bertobat
kemudian tahun 32M atau 33M, juga surat Yakobus ditulis oleh saudara
Tuhan Yesus, maka dapatlah kita bayangkan betapa dekatnya hubungan
masa hidup Tuhan Yesus di bumi ini (tahun 4sM 30M) dengan generasi
masyarakat Kristen yang pada masa hidup mereka dokumen-dokumen asli
PB ditulis.
Ringkasan yang diberikan Paulus tentang pemberitaan para rasul dalam 1
Korintus 15:1-8 penting sekali :
15:1 Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada
Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di
dalamnya kamu teguh berdiri.
15:2 Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya,
seperti yang telah kuberitakan kepadamu -- kecuali kalau kamu telah sia-sia
saja menjadi percaya.
15:3 Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa
yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa
kita, sesuai dengan Kitab Suci,
15:4 bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari
yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;
15:5 bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada
kedua belas murid-Nya.
15:6 Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara
sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi

beberapa di antaranya telah meninggal.


15:7 Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada
semua rasul.
15:8 Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga
kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya.
Dalam bagian ini Paulus tidak hanya memberitakan Injil yang satu dan sama
dengan yang diberitakan keempat Kitab Injil, tetapi ia juga menyatakan
betapa dekatnya hubungan gereja Kristen perdana, para rasul dan saksisaksi mata lainnya dengan hidup Tuhan Yesus. Maka tidaklah mengherankan
menjumpai bahwa keempat Kitab Injil, kendati dengan perbedaan-perbedaan
penekanan dan keberbagaian perincian informasi, toh keempatnya
memberikan berita Kristus yang sama yang datang untuk mencari dan
menyelamatkan orang yang hilang. Tuhan yang datang dari Allah, yang
kepadaNya telah diberikan segala kuasa di Sorga dan di bumi (Matius 11:27;
28:18; Markus 1:11; 8:29; Lukas 1:32,35; 2:11; 9:35; 10:22; Yohanes 1:1;
20:28, dll).
Justru sesudah mengalami kecaman-kecaman tajam dan bertubi-tubi lebih
dari satu abad, sifat kesahihan dan ketegaran keempat Injil Kanon untuk
dipercayai makin mantap dan teguh dari sebelumnya. Teori satu demi satu,
juga aliran aliran pemikiran yang sambung-menyambung yang meragukan
kesahihan keempat Injil untuk dipercayai, rontok berguguran. Kendati Kitabkitab Injil memang bungkam tentang banyak rincian perihal hidup Yesus,
keempat Injil saling mengukuhkan dan melengkapi, menyajikan semua fakta
mengenai Yesus Kristus yang perlu kita ketahui, supaya kita mempercayai
Dia adalahMesias, Anak Allah dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh
hidup dalam namaNya (Yohanes 20:31)

BP
Merdeka dlm Kristus

Posts: 10670
Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm

by BP Tue Jun 13, 2006 1:30 pm

III. UNIK
Ditinjau dari berbagai sudut hidup Tuhan Yesus adalah unik. Satu dari
keunikan itu ialah hidupNya adalah kegenapan nubuat-nubuat
khusus yang dinubuatkan ratusan tahun sebelum kelahiranNya. Yesus
sendiri, umpamanya, beberapa kali mengatakan kepada murid-muridNya
bahwa Dia harus menderita, mati dan bangkit dari antara orang mati sesuai
Kitab Suci (Bandingkan Lukas 18:31-34). Sesudah kebangkitanNya, Ia
menjelaskan bahwa hidupNya, kematianNya dan kebangkitanNYa
menggenapi semua yang tertulis dalam Kitab Suci (Lukas 24:25-27, 44-48 ).
Dalam tuturan Petrus, Stefanus dan Paulus yang tertulis dalam Kitab Kisah
Para Rasul dan hampir semua kitabd dalam PB, berulang kali diumumkan
bahwa hidup, penderitaan, kematian dan kenaikan Tuhan Yesus adalah
penggenapan janji-janji Allah dalam PL. Tak ada satupun dalam sejarah dunia
yang dapat dibandingkan dengan ketepatan fakta, bahwa ratusan tahun
sebelum Yesus lahir, ada banyak hal mengenai Dia bahkan tempat
kelahiranNya (Mikha 5:2) sudah di-pra-ucapkan dan dicatat dalam kitabkitab PL. Dan ditinjau dari berbagai sudut mulai dari ia dikandung secara
supra-alami sampai peristiwa kenaikanNya ke Sorga hidupNya adalah khas
dan unik. Hanya didalam hidup Dia tampak kepada kita Allah yang menjadi
manusia. Sementara hidup semua pendiri agama lainnya mengungkapkan
kepada kita orang-orang yang mencari kebenaran dan berusaha memahami
hakikat agama, hidup Yesus Kristus menyatakan Allah Pengasih dan Penegak
keadilan yang berprakarsa menyelamatkan umat manusia yang sudah jatuh
ke dalam dosa.
Semua klaim Yesus mengenai diriNya, bahwa Dia adalah Anak-Allah yang
kekal dibernarkan oleh hidupNya, kematianNya, kebangkitanNya dan
kenaikanNya yang penuh kejayaan. Ia memang khas dan unik diantara
segenap umat manusia.

BP
Merdeka dlm Kristus

Posts: 10670
Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
by BP Tue Jun 13, 2006 1:31 pm

IV : MASA-MASA TERPENTING
Kendati tidak ada kitab yang menyusun riwayat hidup Yesus Kristus secara
kronologis, keempat Injil menyajikan cukup bahan yang memungkinkan kita
menunjuk masa-masa penting dalam hidupNya :

A. KelahiranNya yang supra alami.

Para penulis Injil beroleh kesempatan luar biasa untuk menyelidiki kebenaran
tentang kelahiran Yesus Kristus. Lepas dari kenyataan bahwa Maria, ibu
Yesus, diserahkan dalam pengasuhan murid yang paling akrab kepada Yesus
(lihat Yohanes 19:26-27), baiklah diingat bahwa Yakobus, saudara Yesus,
beberapa tahun menjadi salah seorang pemimpin jemaat Yerusalem.
Sesudah kebangkitan dan kenaikan Yesus, Maria dan anak-anaknya tidak lagi
meragukan ke-Tuhan-an Yesus. Mereka hidup dalam persekutuan yang akrab
dengan sesama mereka, seiman di jemaat Yerusalem (lihat Kisah 1:14).
Ketika Lukas menyertai Paulus ke Yerusalem tahun 56 atau 57M, salah
seorang yang dikunjungi ialah Yakobus, saudara Yesus (Kisah 21:17-18 ).
Waktu itu sesuai pendahuluan Injilnya Lukas sudah memebri perhatian
besar pada fakta-fakta yang berkaitan dengan hidup Tuhan Yesus. Apakah
Lukas bertemu dengan Maria tidaklah diberitakan, tapi pasti kesempatan
terbuka lebar baginya untuk memperoleh informasi mengenai kelahiran

Tuhan Yesus, teristimewa informasi khusus yang hanya Maria satu-satunya


nara-sumber yang otoritatif. Justru sudut pandang dan pengalaman pribadi
Maria-lah yang mewarnai dan mendasari laporan Lukas tentang ke-supraalamian Yesus yang dikandung dan dilahirkan (Lkas 1:26-56; 2:1-51).
Pada pihak lain Matius menyusun laporannya berdasarkan sudut pandang
dan pengalaman pribadi Yusuf. Tetapi kedua Injil itu bulat-bulat sepakat
bahwa keberadaan dan kehadiran jasadi Yesus dalam kandungan Maria
tidaklah berasal dari atau oleh bapak manusiawi, melainkan oleh kuasa Roh
Kudus dan lahir sebagai Anak Allah (Lukas 1:35; Matius 1:18-24). Persis
sesuai kenyataan ini memulai Injilnya Pada mulanya adalah Firman; Firman
itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah Firman yang
telah menajdi mansuia, dan diam diantara kita, dan kita telah melihat
kemuliaanNya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepadaNya sebagai Anak
Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran (Yohanes 1:1-14).

Selengkapnya silahkan baca artikel INKARNASI.

BP
Merdeka dlm Kristus

Posts: 10670
Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
by BP Tue Jun 13, 2006 1:33 pm

B. Masa bayi, kanak-kanak dan berjenjang dewasa.

Lukas 2:40,52 melaporkan jelas perkembangan hidup Yesus dari masa kanakkanak sampai jenjang dewasa berjalan seperti biasa tapi sempurna. Setiap
segi kehidupan ideal manusia sempurna seperti yang dikehendaki Allah
terwujud nyata dalam hidup Yesus. Kendati Dia hidup ditengah-tengah
keluarga sederhana bersama Maria, Yusuf dan beberapa adikNya lelaki dan

perempuan, hidupNya seluruhnya selaras dengan kehendak Allah (Lukas


2:52). Dan sejak usia anak-anak (Lukas 2:49) nampaknya ia sudah sadar
bahwa Dia adalah Anak Allah dalam arti yang khas.
Dari Lukas 2:46-47 jelas pula bahwa sejak usia anak-anak Ia sudah
mempelajari kitab-kitab PL secara mendalam. Dan kendati
mungkin Yusuf meninggal pada usia muda, sehingga Yesus harus bekerja
keras sebagai tukang-kayu untuk memenuhi kebutuhan keluargaNya (Matius
13:55-56), Ia menyediakan cukup waktu memahami Kitab Suci dan berdoa.
Memang ada sedikit infomasi tentang masa kanak-kanak Yesus, dan
kesimpulan-kesimpulan yang dapat ditarik dari Kitab-kitab Injil mengenai
hidupNya dalam hal pertumbuhan fisik, mental dan rohani menuju
kedewasaan penuh, tapi diluar itu PB tidak mencatat masa kehidupan Yesus
dari umur 12 tahun, sehingga muncul banyak rekaan-rekaan yang
mengatakan bahkan Yesus ke India dan sebagainya. Mengenai hal tersebut
silahkan ada baca artikel ini :
[url=http://www.sarapanpagi.org/viewtopic.php?p=101#101]THE LOST
YEARS OF JESUS:
DIMANA YESUS BERADA KETIKA BERUSIA 12-30 TAHUN?[/url]

BP
Merdeka dlm Kristus

Posts: 10670
Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
by BP Tue Jun 13, 2006 1:37 pm

C. Babtisan dan Pencobaan

Pada usia + 30tahunYesus dibabtis oleh Nabi Yahya (Yohanes Pembabtis),


dan pada saat itu pula Ia sudah meninggalkan kampung halamanNya di

Nazareth. Pada saat setelah Babtisan, Yesus menerima dimuka umum tigas
ke-Mesias-anNya sebagai Anak Allah dan Juruselamat, yang sekalipun Dia
sendiri tidak berdosa (2 Korintus 5:21), memikul hukuman dosa umat
manusia.
Allah Bapa membenarkan dan mensahihkan tindakan AnakNya, yang dalam
kesadaran penuh menyamakan diriNya dengan orang berdosa. Pembenaran
dan pensahihan itu dinyatakan dengan turunnya Roh Kudus dalam wujud
burung merpati dan suara dari Langit Engkau inilah Anakku yang Kukasihi,
kepadaMu Aku berkenan (Lukas 3:22 terj. Lama). Pernyataan ini yang
menghubungkan Mazmur 2:7 dengan Yesaya 42:1 mengenal Dia adalah
Mesias, tapi itu berarti Dia wajib menggenapi panggilan kemesiasanNya
dalam citra Hamba YHVH yang taat dan menderita sengsara.
Dengan keyakinan demikian dalam hatiNya, Yesus dibawa oleh Roh Kudus ke
padang gurun Yudea untuk dicobai Iblis (Matius 4:1). Guna membuktikan
kelaikan dan kesanggupanNya menjadi Juruselamat manusia, Dia harus
membuktikan dulu ketaatanNya secara mutlak dan tanpa syarat kepada
BapaNya, juga kuasa keperkasaanNya mengalahkan penggoda ulung itu.
Peristiwa pencobaan ini mencolok dibandingkan peristiwa kejatuhan ke
dalam dosa pada Kitab Kejadian pasal 3; disana Adam dan Hawa menyerah
terhadap pencobaan kendati mereka hidup dalam keadaan paling
menguntungkan. Padahal, disini, Yesus menang berjaya kendati Ia dicobai
dalam keadaanNya yang paling buruk dan mengerikan. Setelah 40 hari di
padang gurun terus menerus dieckam ketegangan fisik dan spiritual, Iblis
mengerahkan segenap kemampuan dan kelicikannya menipu, untuk
mendesak Yesus mencobai BapaNya, atau, menolak melakukan misi-Nya
sesuai yang digariskan dalam seruan dari langit, seperti yang dikehendaki
BapaNya bagi Dia. Tapi Yesus mematahkan cobaan itu betapapun lihainya
dan halusnya cobaan itu. Yesus tetap taat tak tergoyahkan kepada kehendak
BapaNya. Yesus bangkit berjaya dari pertarungan spiritual itu sebagai Anak
Allah yang taat dan Hamba yang setia (Matius 4:1,11; Markus 1:12-13; Lukas
4:1-13).

BP
Merdeka dlm Kristus

Posts: 10670
Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
by BP Tue Jun 13, 2006 1:39 pm

D. Awal pelayananNya terhadap masyarakat umum

Setelah berjaya mematahkan semua serangan Iblis, Yesus memulai tahap


pertama pelayananNya terhadap masyarakat umum secara terbuka,
memanggil murid-muridNya yang pertama (Yohanes 1:35-51), menyatakan
kuasa ke-Allah-an-Nya dengan mengubah air menjadi Anggur (Yohanes 2:111), melakukan mujizat-mujizat (Yohanes 2:23 dab), mengajarkan kepada
Nikodemus seorang Farisi tentang kebenaran-kebenaran rohani yang
revolusioner, melayankan keselamatan bahkan kepada orang Samaria yang
dimata orang Yahudi adalah hina (Yohanes 4:1-42).
Tahapan pelayananNya ini dipersiapkan Nabi Yahya (Yohanes Pembabtis),
dan mencapai puncaknya tatkala beberapa orang Samaria mengakui, Kami
tahu, bahwa Dia-lah benar-benar Juruselamat dunia (Yohanes 4:42).

BP
Merdeka dlm Kristus

Posts: 10670
Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
by BP Tue Jun 13, 2006 1:48 pm

E. Pelayanan dan ajaran berpusat di Galilea

Penahanan Nabi Yahya menjadi tanda bagi Yesus untuk memulai


pelayananNya di Galilea , dengan pengunuman Waktunya telah tiba,

Kerajaan Allah sudah dekat (Markus 1:14 dab). Saat Ia menyatakan di


Sinagoge Nazareth bahwa Dia-lah yang menggenapi janji-janji mengenai
Mesias, Dia ditolak oleh masyarakat sekampungNya itu (Lukas 4:16 dab).
Lalu Ia menjadikanKapernaum markas besarNya. Ia bekerja dan mengajar
di Kapernaum dan daerah-daerah lain kira-kira 1 tahun (Matius 4:12-14:13;
Markus 1:14- 6:34; Lukas 4:14-9:11; Yohanes 4:46-54 dst), sambil
menyatakan kuasa keilahianNya atas alam (Markus 435-41; 6:34-51 dst),
atas badan manusia dan atas penyakit badani dan rohani (Matius 8:1-17;
9:1-8 dst), bahkan atas hidup dan kematian (Lukas 7:11-17; Matius 8:18-26),
Selanjutnya Ia menyatakan memiliki otoritas final atas nasip akhir dan kekal
umat manusia. Dalam Khotbah di Bukit dan ajaran-ajaranNya yang lain, Ia
menyatakan otoritasNya yang khas memberitakan undang-undang Kerajaan
Allah (Matius 5:1-7:29 dst).
Sementara Ia menyatakan keunggulan otoritasNya sebagai Mesias, pada
periode ini Ia menyatakan kasihNya dan keprihatinanNya terhadap orangorang yang tertindas secara badani dan rohani (Matius 9:1-8, 18:22; Lukas
8:43-48 dst). Berulang kali Ia menyatakan bahwa Dia datang untuk mencari
dan menyelamatkan yang hilang, dan Ia melakukan hak khas ilahi
mengampuni dosa (Lukas 5:20-26; 7:48-50). Ia memilih 12 orang diantara
pengikutNya untuk menjadi murid khusus bagiNya (Matius 10:1-4; Lukas
6:12-16), yang secara sistematis diajar dan dilatih olehNya menjadi rasulrasul.
Otoritas Yesus mengajar begitu mencolok dan khas. Dia begitu tegar tak
goyah sedikitpun menghadapi para penentangNya dari kalangan Yahudi dan
Farisi. Mujizat-mujizat penyembuhan yang Dia perbuat dan manifestasimanifestasi lainnya menyatakan kuasaNya atas alam (Lukas 4:33-41; Markus
5:1-42 dst). Semuanya itu membuat Dia sangat terkenal dan dikagumi
masyarakat di seluruh galilea (Lukas 4:40-42; 5:15, 26; 6:17-19). Ketenaran
ini mencapai puncaknya pada mujizat memberi makan 5000 orang (Matius
14:13-21; Markus 6:30-44; Lukas 9:10-17; Yohanes 6:5-13). Peristiwa ini,
yang begitu gamblang membuktikan kemesiasanNya mencorong orang
banyak untuk menobatkan Dia menjadi raja (Yohanes 6:15).

BP
Merdeka dlm Kristus

Posts: 10670
Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
by BP Tue Jun 13, 2006 1:49 pm

F. Dua belas orang dilatih

Karena Yesus menolak dinobatkan menjadi Mesias duniawi (Yohanes 6:26-27)


massa bahkan jumlah terbesar muridNya dalam arti lebih luas (Yohanes
6:66-67) meninggalkan Dia. Lalu Yesus memasuki wilayah Tirus, Sidon dan
Kaisarea Filipi (Matius 15:21; 16:13; Markus 7:31 dsb) dan melayani disana.
Ketika Yesus berkunjung lagi ke daerah sekitar danau Galilea, Ia
menyembuhkan dan benolong banyak penderita yang tertekan jiwa, dan
untuk kedua kalinya Ia membuat mujizat memberi makan banyak orang
(Matius 15:29-39).
Kemudian Ia membawa murid-muridNya menyendiri ke tempat yang sepi.
Lalu Ia mengajukan pertanyaan pelik Siapakah Aku ini? (Matius 16:15).
Petrus mewakili semua rasul menjawab tegas Engkau adalah Mesias, Anak
Allah yang hidup (Matius 16:16). Sejak itu Yesus mulai mempersiapkan
murid-muridNya untuk menghadapi pukulan dahsyat yang akan menimpa
mereka di yerusalem (Matius 16:21-26). Tapi ketika itu juga dengan jelas dan
berulang-kali Ia mengajarkan pada akhirnya kemenangan akan menjadi milik
Dia (Matius 16:27-28), karena itu pengikutNya tidak perlu takut (Lukas 12:412; 32-34).
Puncak pernyataan diri Yesus kepada murid-muridNya terjadi saat Ia
dipermuliakan di atas gunung, pada saat mana Ia nampak dalam kemuliaan
Ilahi kepada tiga orang muridNya yang paling akrab (Matius 17:1-13, Markus
9:2-10; Lukas 9:28-36). Karena Dia datang untuk menggenapi hukum Taurat
maupun Nabi-nabi, Maka Musa (yang menggambarkan hukum Taurat) dan

Elia (yang mewakili para nabi) nampak bersama-sama Dia dalam permuliaan
itu, sebelum Dia pada akhirnya memulai perjalananNya menuju Yerusalem
menanggung derita maut untuk menyelamatkan umat manusia. Sekali lagi
suara Allah dari langit menyatakan Yesus adalah AnakNya yang terpilih,
kepadaNya semua orang wajib menyimak dan patuh (Lukas 9:35).

BP
Merdeka dlm Kristus

Posts: 10670
Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
by BP Tue Jun 13, 2006 1:51 pm

G. Permusuhan yang memuncak

Setelah yesus menyatakan diriNya kepada murid-muridNya, dan murid-murid


itu mengenal Dia adalah benar-benar Anak Allah (Matius 17:1-13; Markus
9:2-10; Lukas 9:18-20), maka Dia mempersiapkan mereka lebih terarah dari
sebelumnya untuk mengemban tugas mereka di hari depan sebagai jajaran
fondasi gerejaNya. Dia mengajarkan kebenaran kepada mereka, baik
langsung atau berupa perumpamaan, da ia melanjutkan menyatakan kuasa
keilahianNya dan otoritasNya dengan menyembuhkan orang sakit (Lukas
14:1-6; 17:11-19), orang buta (Markus 10:46-53) dan menanggulangi beban
hidup orang-orang yang tersiksa ditekan penderitaan.
Para penguasa Yahudi dan para pemimpin agama Yahudi makin keras dan
gencar menentang Dia (Lukas 14:1b). Cara dan jalan apa saja ditempuh
untuk menjerat Dia, menghancurkan pengaruhNya yang terus meningkat
atas masyarakat banyak, dan alasan terus dicari-cari untuk menyeret Dia ke
tangan penguasa Roma untuk dihukum mati (Matius 19:1-3; Lukas 11:53-54).
Semua peringatan serius yang Dia tunjukkan kepada penentangNya, semua
ajaranNya yang punya daya gudah dan yang dimaksudkan untuk mengubah
hati mereka, semua karyaNya menyembuhkan orang sakit dan

membangkitkan orang mati (Yohanes 11:41-45), hanya mempertajam


kebencian orang Farisi, ahli Taurat dan para pemimpin Yahudi terhadap Dia
(Yohans 11:46-53).

BP
Merdeka dlm Kristus

Posts: 10670
Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
by BP Tue Jun 13, 2006 1:54 pm

H. Minggu terakhir di Yerusalem

Setelah Yesus dengan terang-terangan sebagai Mesias memasuki Yerusalem,


diarak dan dielu-elukan orang banyak yang bersorak-sorai (Markus 11:1-10;
Yohanes 12:12-19 dst), Ia mengusir para penukar uang dan pedagang
binatang korban dari pelataran luar Bait Suci. Dengan demikian Ia
memperluhatkan kekuasaanNya sebagai Mesias (Lukas 19:45-46; Matius
21:12-16) Akhir hidupNya sekarang makin dekat. Dengan gamblang Ia
menelanjangi kemunafikan orang-orang yang memburu-buru Dia (Matius
21:33-34; 22:1-14; Markus 12:1-12; Lukas 20:9-47), menubuatkan apa yang
akan menimpa orang Yahudi, Yerusalem dan Bait Suci (Lukas 21:20-24). Ia
mempersiapkan pengikutNya perihal bahaya yang telah siap menanti
mereka (Lukas 21:9-19 dst), memberi tahu apa yang telah tersedia bagi
dunia dan gereja (Lukas 21:25-27) dan menubuatkan bahwa sejarah dunia
akan mencapai puncaknya kelak pda saat Ia dalam kemuliaan datang lagi
untuk menyatakan kuasa ke-Allah-an-Nya atas semua kuat kuasa kegelapan,
dan untuk mulai menegakkan kerajaanNya yang kekal (Matius 24:29-31;
25:31-46).
Malam menjelang penderitaanNya, dan sebagai upaya terakhir
mempersiapkan para rasul mengemban tugas besar yang menanti mereka,
Yesus membasuk kaki murid-muridNya itu (Yohanes 13:1-11), mengajarkan

kepada mereka pelajaran yang sangat penting tentang kerendahan hati


(Yohanes 13:12-17; Lukas 22:24-30) dan memberitahukan kepada Yudas
akan mengkianati Dia (Markus 14:18-21; Yohanes 13:21-30). Kemudian Ia
menetapkan Perjamuan Kudus (Matius 26:26-29 dst) dan akhirnya Ia
mendoakan kepada pengikutNya (Yohanes 17:1-26).
Lalu di Getsemani Ia menyerahkan diriNya mutlak seutuhnya untuk yang
terakhir kalinya kepada kehendak BapaNya (Matius 26:39-46 dst). Setelah
menimpakan atas diriNya segenap kesalahan umat manusia yang sudah
jatuh ke dalam dosa, dengan ikhlas Ia membiarkan diriNya ditangkap,
disiksa, dijatuhi hukuman yang salah dan disalibkan. penderitaanNya
sebagai korban tebusan dosa mencapai puncaknya di kayu salib, menjelang
akhir tiga jam gulita saat Ia berseru AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau
meninggalkan Aku? (Matius 27:46). Telah Ia kemukakan kepada muridmuridNya bahwa Ia datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk
memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang (Matius 26:28;
Markus 10:45 dst). Setelah dengan sukarela Ia mempersembahkan diriNya
sebagai Anak Domba Allah (Yohanes 1:29; 10:11-18 ), tugasNya tuntas
seutuhnya. Lalu Ia menyerahkan nyawaNya kedalam tangan BapaNya
dengan seru kemenangan Sudah selesai! (Yohanes 18:30).

BP
Merdeka dlm Kristus

Posts: 10670
Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
by BP Tue Jun 13, 2006 1:54 pm

I. Penguburan, kebangkitan dan kenaikan

Setelah Yesus mati, Ia tidak lagi dibawah kuasa musuh-musuhNya. Mayat


Yesus diturunkan dari kayu salib (Lukas 23:50-53) dan dikuburkan di kuburan
baru dalam suatu kebun. JanjiNya akan bangkit dari antara orang mati

segera digenapi. Sebagai Kristus yang bangkit dan Tuhan yang hisup, Ia
membasmi ketakutan dan kebimbangan hati pengikutNya (Lukas 24:13-49;
Yohanes 20:11-21:22). Pada kurun waktu 40hari, Ia berulang-ulang
menampakkan diriNya kepada mereka, membuka hati mereka supaya
mengerti kitab suci PL, menjadikan akan mengutus Roh Kudus untuk
menghibur, memimpin dan memberi kuasa kepada mereka bertindak
sebagai saksiNya mulai dari yerusalem sampau ke ujung bumi (Kisah 1:8).
Setelah sekali lagi Ia meyakinkan mereka bahwa segala kuasa di Sorga dan
di Bumi telah diberikan kepadaNya (Matius 28:18 ), Ia menugasi mereka
untuk menjadikan semua bangsa muridNya (Matius 28:19). Lalu Ia berjanji
akan senantiasa menyertai mereka, bahkan sampai akhir zaman (Matius
28:20), dan Ia pun terangkat ke Sorga sambil mengangkat tanganNya
memberkati mereka (Lukas 24:50).
Dengan demikian, hidup Yesus sebagai Manusia diantara manusia di bumi
ini, pada akhirnya menang berjaya. Klaim para rasul sangat tepat
menyimpulkan pelayanan Yesus ke bumi Allah telah membuat Yesus, yang
kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus (Kisah 2:36).

Kepustakaan :
H Anderson, Jesus anda Christian Origins, 1964
O Borchert, The Original Jesus
FC Conybeare, The Historic Jesus
Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, Jilid 2 Halaman 603.

BP
Merdeka dlm Kristus

Posts: 10670
Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm

by BP Thu Nov 08, 2007 12:07 pm

KELAHIRAN YESUS DAN PERMULAAN


PELAYANANNYA
Kisah tentang kelahiran Yesus memperlihatkan bahwa bukan ahli-ahli agama,
melainkan rakyat biasalah yang pertama-tama mengenali penyelamat yang
dijanjikan Allah ketika Ia datang. Lukas 1 menceritakan tentang seorang
imam yang tidak begitu dikenal, Zakharia, dan istrinya Elizabet, yang sedang
menunggu saat Allah membebaskan umat-Nya (Luk. 1:5-28). Karena sikap
menanti itu, mereka mendapat anugerah berupa pemberitahuan tentang
kelahiran anak lelaki mereka sendiri, yang dikenal sebagai Yohanes
Pembaptis (Luk. 1:57-80). Maria, ibu Yesus, adalah anggota keluarga besar
yang sama. Dari Magnificat, kidung pujian Maria dalam bentuk syair yang
menggetarkan (Luk. 1:46 - 55), kita dapat melihat betapa rindunya orangorang ini menunggu agar Allah bertindak dalam hidup mereka. Maria dan
sahabat-sahabatnya benar-benar gembira karena Allah akan bertindak
dengan cara yang baru.
Tema-tema yang sama ditekankan dalam semua cerita tentang peristiwa
Natal yang pertama itu - cerita-cerita yang sudah kita kenal semuanya.
Orang-orang pertama yang mendengar kabar baik tentang penggenapan
janji-janji Allah dengan lahirnya Yesus adalah beberapa gembala di
perbukitan Yudea (Luk. 2:8-20), kemudian Simeon dan Hana di Bait Allah
(Luk. 2:25-38). Tidak satu pun dari orang-orang itu merupakan orang penting
dalam masyarakat pada umumnya. Cerita-cerita dalam pasal-pasal pertama
Injil Lukas menekankan bahwa pejabat resmi - apakah dalam bidang politik
atau agama - tidak mengenali Yesus. Hal ini terus terulang sepanjang kisah
kehidupan Yesus. Jelaslah untuk dapat benar- benar mengerti karya-karya
Allah dalam Kristus orang-orang terpenting penting pun harus menjadi
seperti anak-anak kecil (Luk. 18:17).

1. Kapankah Yesus lahir?

Tidak mudah untuk menentukan dengan tepat kapan Yesus dilahirkan.


Menurut perkiraan yang umum, Yesus lahir antara tahun 1 sM dan tahun 1 M.
Tetapi hal ini ternyata tidak benar, karena kesalahan yang dibuat pada abad
ke-6 M di dalam menghitung permulaan tarikh Masehi. Ada empat bukti yang
perlu dipertimbangkan.
Pertama, menurut Matius, "Yesus dilahirkan di kota Betlehem di negeri Yudea
pada masa pemerintahan Raja Herodes" (Mat. 2:1, BIS) - yakni sebelum
kematian Herodes Agung pada tahun 4 sM.
Kedua, Lukas lebih berminat untuk menempatkan kisahnya dalam konteks
yang lebih luas dari kekaisaran Roma; menurut laporannya, Yesus dilahirkan
ketika sensus pertama dijalankan pada waktu Kirenius gubernur Siria (Luk.
2:2). Yosefus menceritakan bahwa seseorang yang bernama Kirenius
memang dikirim ke Siria dan Yudea guna menyelenggarakan suatu sensus
pada permulaan tarikh Masehi (Antiquities 18.1). Tetapi sensus ini
merupakan bagian operasi pembersihan setelah Arkhelaus, anak lelaki
Herodes Agung, dicopot dari jabatannya. Hal itu semestinya terjadi pada
tahun 6 atau 7 M, dan tidak mungkin terjadi sebelum kematian Herodes
Agung pada tahun 4 sM.
Oleh karena itu, beberapa ahli menduga bahwa orang yang disebut
"Kirenius" oleh Lukas sebenarnya Saturninus, perwira tinggi Romawi di Siria,
yang mengadakan sensus pada tahun 6 sM. Tetapi kita tidak mempunyai
bahan untuk menunjukkan bagaimana Lukas tidak dapat membedakan
kedua orang itu. Pada bagian lain Injilnya dan Kisah Para Rasul, ia sangat
cermat serta sangat teliti dalam pemakaian nama- nama dan gelar-gelar
pejabat Roma. Bagaimanapun juga, kita tidak mempunyai bukti nyata,
bahwa Saturninus memang mengadakan sensus.
Ketiga, Lukas juga membuat pernyataan-pernyataan yang lain tentang waktu
terjadinya peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan Yesus. Ia,
umpamanya, mengatakan bahwa Yesus berumur tiga puluh tahun ketika Ia
dibaptis, yakni "Dalam tahun kelima belas dari pemerintahan Kaisar Tiberius"
(Luk. 3:1). Tiberius menjadi penguasa kekaisaran Roma pada tahun 14 M,
sehingga tahun kelima belas adalah tahun 28 M. Tetapi sebenarnya Tiberius

telah turut memerintah dengan pendahulunya, Agustus, sejak tahun 11 M.


Jadi, walaupun ia baru menjadi kaisar setelah Agustus meninggal pada tahun
14 M, ia telah memegang kekuasaan tiga tahun sebelumnya. Mungkin sekali
Lukas menghitung tahun kelima belas pemerintahan Tiberius sejak tahun 11
M, sehingga Yesus berumur tiga puluh tahun pada tahun 25-26 M. Dengan
demikian, Ia lahir pada tahun 5 atau 4 sM, jadi sebelum Herodes Agung
meninggal.
Keempat, beberapa ahli berusaha lebih spesifik lagi dengan menghitung
terjadinya suatu konjungsi planet-planet sekitar tahun 6 sM dan
menganggap peristiwa astronomi ini dapat menerangkan bintang terang
yang disebut dalam Injil Matius. Tetapi argumen seperti ini jelas merupakan
spekulasi.
Dari hal di atas kita dapat lihat bahwa ada dua bukti yang menunjuk bahwa
Yesus lahir sekitar tahun 4 sM, sedangkan informasi lain yang diberikan oleh
Lukas tentang sensus pada masa Kirenius kelihatannya tidak cocok dengan
cara penentuan waktu ini. Ada tiga kemungkinan untuk menjelaskan
persoalan ini.
Pertama, keterangan Lukas disalah-artikan. Sejumlah ahli mengutarakan
bahwa masalah yang kami kemukakan pada hakekatnya tidak ada. Menurut
mereka, dari segi tata bahasa, Lukas 2:2 dapat diterjemahkan, "Sensus ini
dijalankan sebelum sensus yang diadakan ketika Kirenius menjadi gubernur
negeri Siria," berbeda dengan terjemahan yang lazim. "Sensus yang pertama
ini dijalankan waktu Kirenius menjadi gubernur negeri Siria" (BIS; bnd. TB).
Pengertian seperti ini memang mungkin, walaupun bukanlah makna utama
pernyataan itu. Lagi pula, untuk itu harus ada perubahan terhadap teks,
walaupun secara tersirat. Beberapa ahli Perjanjian Baru yang terkemuka
mendukung penjelasan demikian, tetapi penjelasan tersebut tidak diterima
secara luas.
Kedua, Lukas keliru. Kebanyakan ahli malahan cenderung menganggap
informasi yang diberikan dalam Lukas 2:2 sebagai kekeliruan. Ini merupakan
cara yang mudah memecahkan masalah, tetapi tetap mengandung
kesulitan-kesulitan. Seperti yang dikemukakan di atas, di bagian- bagian lain
Injilnya dan dalam Kisah Para Rasul, bila Lukas membicarakan orang-orang

dan peristiwa-peristiwa dalam kekaisaran Roma, ia memperlihatkan dirinya


sebagai seorang ahli sejarah yang benar-benar dapat diandalkan. Oleh
karena itu kelihatannya tidak mungkin ia memberi keterangan yang begitu
spesifik di sini kalau ia tidak mempunyai alasan yang kuat untuk itu. Lagi
pula, pernyataannya tentang waktu Yesus dibaptis oleh Yohanes cocok
dengan asumsi bahwa Yesus lahir pada masa pemerintahan Herodes Agung,
kira-kira sepuluh tahun sebelum pemerintahan Kirenius yang disebut oleh
Yosefus. Hampir tidak mungkin, seorang sejarawan yang cerdas akan
membuat dua pernyataan yang saling bertentangan pada konteks yang
berdekatan dalam kisahnya. Kalau kita menganggap Lukas memakai sumbersumbernya dengan cermat dan menulis secara saksama serta mengerti apa
yang ditulisnya, maka sulit mengatakan bahwa ia memberi keterangan yang
keliru mengenai sensus di bawah Kirenius.
Ketiga, Lukas tidak memberikan cerita yang lengkap. Suatu penjelasan yang
lebih baik dapat ditemukan bila kita mengingat bagaimana sebenarnya
kehidupan berlangsung di kekaisaran Roma. Memerintah Yudea dari Roma
pada tahun 7 M tidaklah sama keadaannya bila dilakukan pada hari ini.
Sekarang ini kita mempunyai komunikasi langsung ke seluruh penjuru dunia.
Perserikatan Bangsa-bangsa di New York dapat mengambil suatu keputusan
yang mempengaruhi sebuah negara di belahan dunia yang lain dan
keputusannya itu dapat, disampaikan kepada negara itu dalam waktu
beberapa menit saja. Tetapi di Roma purba keadaannya berbeda. Walaupun
dalam kondisi yang ideal, sebuah dekrit yang ditandatangani kaisar di Roma
dapat memakan waktu berbulan-bulan lamanya untuk mencapai provinsi
yang jauh seperti Yudea - dan selalu ada kemungkinan bahwa pembawa
pesan mengalami musibah di laut bila kapalnya karam, sehingga perintah
kaisar tertunda lebih lama atau malahan hilang sama sekali. Pada zaman
setelah Yesus, umpamanya, kaisar Kaligula mengirim perintah agar
patungnya sendiri ditempatkan di Bait Allah di Yerusalem. Gubernur
setempat lebih bijaksana dari kaisar dan menyadari bahwa hal itu akan
ditentang keras oleh orang-orang Yahudi. Sebab itu ia menulis dan minta
kepada kaisar untuk meninjaunya kembali. Tetapi Kaligula mendesak agar
rencana itu dilaksanakan, dan menulis kepada gubernur untuk
mengerjakannya. Kapal yang membawa perintah tersebut memerlukan
waktu tiga bulan berlayar dari Roma ke Yudea. Sementara itu Kaligula
dibunuh, dan sebuah kapal yang berangkat belakangan dari Roma membawa

berita kematiannya dan tiba di Yudea 27 hari lebih dahulu dari kapal pertama
sehingga perintahnya tidak dilaksanakan.
Dalam menentukan waktu pelaksanaan sensus yang dilakukan oleh Kirenius
dengan tepat, kita harus mengingat kesulitan-kesulitan komunikasi dan
pemerintahan pada waktu itu. Lagi pula, sudah diketahui secara umum
bahwa sensus-sensus Roma (yang diadakan untuk maksud perpajakan)
sering ditentang di banyak wilayah kerajaan. Salah satu sensus seperti itu,
umpamanya, yang diadakan di Gaul sangat ditentang rakyat sehingga
diperlukan 40 tahun guna menyelesaikannya! Selain itu, ada lagi persoalanpersoalan komunikasi. Sehingga, boleh jadi sensus yang diselesaikan oleh
Kirenius pada tahun 6 atau 7 M telah didasarkan pada informasi yang
dikumpulkan jauh sebelumnya.
Kaisar Agustus sangat gemar mengumpulkan angka-angka statistik; karena
itu mungkin sekali ia meminta Herodes Agung untuk menjalankan suatu
sensus. Kirenius dikirim pada tahun 6 M untuk membereskan pekerjaan yang
belum diselesaikan oleh Arkhelaus, dan mungkin sekali ia memakai informasi
yang dikumpulkan sebelumnya dan tidak memulai pekerjaan yang rumit itu
dari awal sekali. Kalau ini benar, tidak ada alasan kuat untuk menganggap
informasi Lukas tentang sensus tersebut bertentangan dengan keterangan
lainnya yang mendukung perkiraan bahwa Yesus lahir pada tahun 5 sM.
Bagaimanapun juga, ia lebih menaruh minat untuk menceritakan kisah
kelahiran Yesus daripada menjelaskan kerumitan dunia politik Yudea pada
waktu itu.

2. Yesus beranjak dewasa.

Kita hanya tahu sedikit sekali tentang kehidupan Yesus sebagai anak- anak.
Rumahnya yang terbuat dari tanah liat merupakan bangunan yang terdiri
hanya dari satu ruangan, dengan atap datar. Mungkin Yesus ikut membantu
Yusuf dalam pekerjaannya. Mereka membuat alat-alat pertanian, perabot
rumah dan mungkin juga bekerja untuk bangunan- bangunan. Setiap desa
kecil seperti Nazaret mempunyai tukang kayunya sendiri, yang mungkin
sekali juga melakukan berbagai tugas lain di samping pekerjaannya sebagai

ahli bangunan kayu. Gambar-gambar yang kadang- kadang kita lihat tentang
Yesus sebagai remaja, yang sedang membuat kuk untuk sapi, tidaklah
melukiskan semua yang dilakukan- Nya. Tentu Ia juga terampil di dalam
pekerjaan memplester tembok maupun menyerut kayu.
Walaupun rumah-Nya relatif sederhana, kelihatannya Yesus memperoleh
pendidikan yang baik. Ia dianggap orang yang cocok untuk membaca
Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani di sinagoge di Nazaret (Luk. 4:16- 20),
padahal tidak semua orang seumur-Nya dapat membaca bahasa Ibrani,
walaupun mereka mungkin dapat berbicara di dalam bahasa itu. Anak-anak
lelaki Yahudi biasanya dididik di sinagoge setempat, dan Yesus tampaknya
termasuk anak yang cerdas dalam kelas-Nya.
Nazaret merupakan kota yang menantang bagi seorang anak lelaki cerdas
yang sedang beranjak dewasa. Memang benar Nazaret bukan kota penting.
Ia tidak pernah disebut di bagian lain Alkitab, maupun dalam tulisan lain
pada zaman itu. Tetapi mungkin sekali hal itu disebabkan karena orangorang Yahudi yang sangat taat merasa bahwa rakyat Galilea - termasuk
penduduk-penduduk Nazaret - terlalu banyak berhubungan dengan orangorang bukan Yahudi. Galilea sendiri sering disebut "Galilea, wilayah bangsabangsa lain" (Mat. 4:15), karena lebih banyak orang bukan Yahudi ketimbang
orang Yahudi sendiri menetap di sana. Sebaliknya rakyat di provinsi Yudea di
sebelah selatan telah terisolasi dari semua pihak lain kecuali dari masyarakat
mereka sendiri, sehingga mereka menjadi tertutup dan mementingkan diri
sendiri, dan juga merasa benar sendiri serta bersikap munafik. Tetapi Galilea
sangat berbeda. Jalan-jalan raya yang membawa pedagang- pedagang dari
timur dan pasukan Roma dari barat melintasi Galilea. Di Nazaret, Yesus
bertemu dan bergaul dengan banyak orang bukan Yahudi. Tentu Ia
memikirkan dan berbicara mengenai gagasan-gagasan Yunani dan Romawi,
di samping warisan agama bangsa-Nya sendiri.
Salah satu keuntungan istimewa bila dibesarkan di Galilea adalah bahwa
Yesus dapat berbicara tiga bahasa. Seperti yang disebutkan di atas, Ia dapat
berbicara dan membaca bahasa Ibrani, meskipun bahasa Ibrani bukan lagi
bahasa yang biasa dipakai rakyat Yahudi. Sejak beberapa abad sebelum
zaman Yesus, orang-orang Yahudi telah memakai bahasa lain yang mirip
dengan bahasa Ibrani, yang disebut bahasa Aram. Bahasa itulah yang

dipakai Yesus di rumah dan ketika bergaul dengan teman- teman-Nya.


Karena ada begitu banyak orang bukan Yahudi di Galilea, Ia mungkin sekali
berbicara bahasa Yunani juga, yakni bahasa pengantar yang dipakai di
seluruh kekaisaran Roma.
Kecuali yang dapat kita simpulkan berdasarkan pengetahuan kita tentang
corak masyarakat di mana Yesus dibesarkan, Perjanjian Baru hampir tidak
menceritakan apa-apa tentang kehidupan-Nya sebelum Ia berumur tiga
puluh tahun. Penulis-penulis Kristen pada abad ke-2 M merasa ada sesuatu
yang tidak benar dan tidak wajar mengenai hal ini, sehingga mereka
berusaha melengkapi apa yang dirasakan sebagai suatu kekurangan dalam
Perjanjian Baru. Kita mempunyai sejumlah kisah tentang masa kanak-kanak
Yesus, cerita-cerita dengan judul judul seperti Injil tentang Kelahiran Maria,
Sejarah Yusuf si Tukang Kayu, atau Injil Tomas tentang Masa Kanak-kanak
Yesus. Tidak perlu menanggapi secara serius cerita-cerita tentang masa
kanak-kanak Yesus yang kita temukan dalam "Injil-injil" tersebut. Semuanya
hanyalah legenda yang sering berkembang tentang tokoh penting, bila
orang-orang yang benar-benar mengenalnya sudah meninggal. Tetapi ada
beberapa tulisan dari abad ke- 2 yang mungkin mengandung beberapa
ucapan Yesus yang asli, yakni tulisan-tulisan seperti Injil Tomas dan Injil
Filipus. Hal ini akan ditinjau secara terinci dalam salah satu pasal berikut.
Lukas hanya menggambarkan masa kanak-kanak Yesus dengan berkata, Ia
"bertambah besar dan menjadi kuat" (Luk. 2:40) seperti anak-anak lain.
Tetapi Lukas juga menambahkan bahwa Yesus "bertambah hikmat- Nya dan
besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia" (Luk. 2:52). Kemudian
ia menceritakan hanya satu kisah saja untuk menggambarkan apa yang
dimaksudkannya dengan kata-kata tersebut (Luk. 2:41-52).
Dalam kisah itu diceritakan bagaimana Yesus tertinggal di Yerusalem ketika
Ia berumur dua belas tahun. Ia pergi ke sana dalam suatu ziarah agama
bersama Maria dan Yusuf, untuk ikut serta dalam salah satu pesta besar
agama Yahudi. Ketika orang tua-Nya akhirnya menemukan-Nya di Bait Allah,
Ia bertanya kepada mereka, "Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada
di dalam rumah Bapa-Ku?" (Luk. 2:49). Pada usia itu pun, Yesus bertumbuh
tidak hanya secara fisik dan mental, tetapi juga secara spiritual. Ia
mempunyai kesadaran yang luar biasa tentang kehadiran Allah dalam hidup-

Nya. Allah adalah Bapa-Nya dan hubungan itu lebih penting bagi-Nya
daripada apa pun juga.
Peristiwa berikutnya yang kita dengar tentang Yesus adalah waktu Ia sudah
berumur kira-kira tiga puluh tahun. Saudara sepupu-Nya, Yohanes
Pembaptis, telah memulai suatu gerakan agama dan mendapat banyak
pengikut. Yohanes hidup secara sederhana di padang gurun Yudea.
Pakaiannya terbuat dari bulu unta, dan dia hanya makan makanan yang
dihasilkan padang gurun, yakni "belalang dan madu hutan" (Mrk. 1:6).
Yohanes bukanlah satu-satunya nabi yang berkeliling pada waktu itu. Banyak
orang berbicara mengenai kedatangan penyelamat yang dijanjikan Allah
untuk membangun suatu masyarakat yang baru. Di padang gurun yang
sama, agak ke arah selatan terdapat persekutuan di Qumran berbicara
mengenai hal-hal yang serupa. Pada kemudian hari banyak penghasut dan
nabi mencari ketenaran bagi mereka sendiri di tempat yang sama.
Tetapi Yohanes berbeda karena ia tidak berusaha mencari ketenaran bagi
dirinya sendiri. Di Palestina cukup banyak orang sinting, yang masingmasing menyatakan diri sebagai penyelamat yang dijanjikan Allah. Mereka
merasa mendapat tugas untuk membasmi ketidakadilan sosial dan politik di
masa itu dan mendapat kuasa untuk membangun umat yang baru. Tetapi
Yohanes tidak membuat pernyataan-pernyataan seperti itu. Ia hanya
mengatakan bahwa ia adalah "utusan" atau "suara" (Mrk. 1:2-3) untuk
membawa kabar baik bahwa umat baru segera akan dibentuk.
Orang-orang Yahudi yang sedang menanti-nantikan umat baru dari Allah
mengetahui dari Perjanjian Lama kedatangan seorang utusan, yang sama
seperti Nabi Elia dari Perjanjian Lama (Mal. 4:5). Para penulis kitab- kitab Injil
dengan tegas menyatakan bahwa orang itu Yohanes Pembaptis. Cerita-cerita
mereka mengenai cara hidupnya dan pemberitaannya mirip dengan kisahkisah tentang Elia dalam Kitab Raja-raja di Perjanjian Lama (1Raj. 17 - 19).
Perjanjian Baru dan penulis Yahudi, Yosefus (Antiquities 18.5.2), keduaduanya menggambarkan pekerjaan Yohanes sebagai seruan kepada orangorang Yahudi agar membenahi hidup mereka supaya mereka layak secara
moral untuk bertemu dengan orang yang akan membangun umat baru. Para

nabi Perjanjian Lama, sering melihat bahwa walaupun orang Yahudi adalah
umat Allah, mereka tidak dalam keadaan yang layak untuk bertemu dengan
Allah mereka. Jika Allah hendak berkarya dalam kehidupan mereka,
kedatangan-Nya harus dimulai dengan penghakiman - dan penghakiman-Nya
akan sangat berat bagi mereka yang diberi hak-hak istimewa yang paling
besar.
Pemberitaan Yohanes tepat sama seperti itu. Ia berseru kepada orang-orang
Yahudi agar bersedia mengubah cara hidup mereka, supaya mereka layak
bertemu dengan Allah. Orang-orang yang bersedia memenuhi panggilan
tersebut memperlihatkan kesediaan mereka dengan cara "dibaptis". Kata
Yunani yang darinya kita mendapat kata "baptis", berarti "mencelup". Kata
itu sering dipakai, umpamanya, sehubungan dengan pemberian warna pada
kain sewaktu kain tersebut dicelupkan ke dalam bak. Arti "baptisan" dalam
agama sama seperti itu, hanya dalam hal ini manusialah yang dicelupkan,
dan mereka dicelupkan bukan dalam zat pewarna melainkan dalam air
jernih. Yohanes agaknya memanfaatkan Sungai Yordan sebagai sumber air
yang dekat.
Kebanyakan orang Yahudi tahu apa baptisan itu. Mungkin hal itu dipakai
sebagai cara untuk menandai masuknya orang-orang bukan Yahudi ke dalam
agama Yahudi. Baptisan memang dilakukan dengan maksud tersebut pada
kemudian hari. Juga ada banyak bukti dari Naskah-naskah Laut Mati bahwa
kaum Eseni memakai baptisan secara teratur sebagai cara untuk
memelihara kemurnian moral dan agama mereka. Salah satu ciri yang
menonjol dari puing-puing biara di Qumran adalah sistem saluran air dan
tangki air yang sangat rumit, yang menyediakan air yang cukup bagi umat di
padang gurun agar mereka dapat menjalankan upacara-upacara baptisan
mereka. Tentunya, upacara-upacara yang dilakukan seperti kaum Eseni tidak
sama seperti baptisan orang bukan-Yahudi yang masuk agama Yahudi.
Baptisan dan upacara pembasuhan diulangi terus menerus di Qumran. Tetapi
baptisan orang-orang yang masuk agama Yahudi merupakan peristiwa satu
kali yang berlaku seterusnya.
Sukar ditentukan apakah latar belakang baptisan Yohanes adalah
pembasuhan berulang kali, sama seperti yang dilakukan kaum Eseni, atau
baptisan satu kali bagi orang-orang bukan-Yahudi yang bertobat. Sifat radikal

pemberitaan Yohanes, dan pertentangan yang dibangkitkannya lebih mudah


dimengerti jika ia berseru kepada orang Yahudi agar ambil bagian dalam
sesuatu yang dirancang bukan bagi umat pilihan Allah melainkan bagi orang
kafir. Yohanes mengerti, jika orang Yahudi mau ambil bagian dalam umat
baru yang akan datang itu, mereka pun harus mulai baru sama sekali,
seakan-akan seperti mereka (orang kafir bukan Yahudi) yang mengenal Allah
untuk pertama kalinya.
Namun Yohanes tidak melihat seluruh implikasi umat baru itu. Ia seakanakan berdiri di antara janji-janji Allah dalam Perjanjian Lama dan
penggenapan janji-janji itu yang segera akan terlaksana. Ia melihat
kedatangan Mesias dalam rangka penghakiman dan penghukuman. Ia
melukiskan penyelamat yang dijanjikan Allah sebagai seseorang yang akan
menebang pohon buah-buahan yang tidak menghasilkan buah dan
membakar sekam dari gandum (Luk. 3:7-17). Harus diakui, ia melihat
dengan lebih jelas daripada kaum Farisi dan kaum Zelot. Mereka mengira
bahwa sasaran kutukan Allah adalah pihak Roma, tetapi Yohanes
menegaskan bahwa Allah akan menghakimi umat-Nya sendiri - dan yang
pertama-tama dihakimi-Nya ialah kaum Farisi.
Dalam pada itu, ia tidak memahami sepenuhnya sifat sebenarnya umat yang
akan dibangun Allah itu. Sebab, umat Allah yang baru tidak berdasarkan
kutukan dan penghakiman melainkan berdasarkan kasih, pengampunan dan
perhatian pribadi bagi setiap orang. Ini merupakan hal yang paling sulit
dimengerti oleh orang-orang Yahudi. Pada kemudian hari pun, pengikutpengikut Yesus tidak mengerti sepenuhnya ketika Yesus mengatakan bahwa
umat tersebut terbentuk melalui pelayanan dan penderitaan (Mrk. 8:13-33).
Karya-karya Allah belum jelas sifatnya, sampai kelak setelah kematian dan
kebangkitan Yesus.

3. Yesus dibaptis.

Yesus datang kepada Yohanes dan minta dibaptis. Mula-mula Yohanes tidak
mengizinkan Yesus ambil bagian dalam lambang pertobatan ini. Kalau Yesus
memang mempunyai hubungan istimewa dengan Allah, seperti yang diyakini

Yohanes, mengapa Ia perlu bertobat? Tetapi Yesus meyakinkan Yohanes


bahwa Ia harus turut dibaptis. Yesus berkata, "dengan demikian kita
melakukan semua yang dikehendaki Allah" (Mat. 3:15, BIS).
Apa yang dimaksudkan Yesus dengan kata-kata tersebut? Secara sederhana
dapat dikatakan, Yesus merasa harus mengidentifikasikan diri-Nya dengan
orang berdosa yang mau bertobat, yang akan menjadi pengikut-Nya yang
pertama. Tanpa maksud menjauhkan diri-Nya dari orang lain, hubungan
khusus yang dimiliki-Nya dengan Allah merupakan alasan kuat bagi-Nya
untuk melibatkan diri sepenuhnya dalam kehidupan orang biasa. Tetapi ada
beberapa orang berpendapat bahwa Yesus menganggap baptisan- Nya
sebagai langkah pertama pada jalan menuju salib, yang dilihat-Nya sebagai
puncak dan tujuan seluruh hidup-Nya. Dan memang benar kemudian Ia
menyebut kematian-Nya sebagai "baptisan", dan di dalamnya Ia benarbenar secara nyata melakukan kehendak Allah (Mrk. 10:38).
Tentu dalam pengalaman-Nya sewaktu dibaptis, Yesus mulai mengerti untuk
pertama kalinya hakikat hubungan istimewa-Nya dengan Allah. Menurut
Markus, Yesus mendengar kata-kata, "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi,
kepada-Mulah Aku berkenan" (Mrk. 1:11). Ini merupakan gabungan
pernyataan yang terdapat dalam dua nats Perjanjian Lama. Di satu pihak ada
gema Mazmur 2:7, "Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari
ini". Dalam konteks aslinya, pernyataan ini mengacu kepada raja-raja Yehuda
di masa lampau. Pada zaman Yesus pernyataan itu dianggap secara umum
sebagai nubuat tentang kedatangan Mesias. Pada pihak yang lain, ada juga
acuan yang jelas terhadap sajak tentang hamba yang menderita dalam Kitab
Yesaya, hambanya dilukiskan sebagai "orang pilihan-Ku; yang kepadanya Aku
berkenan" (Yes. 42:1). Gagasan tentang hamba Tuhan ini tidak pernah
dihubungkan dengan pengharapan akan seorang Mesias sebelum zaman
Yesus.
Sebab itu agaknya pada baptisan-Nya Yesus belajar tentang dua hal:
1. Ia diyakinkan kembali tentang hubungan-Nya yang istimewa dengan Allah,
sebagai orang yang dipilih secara khusus untuk membentuk umat Allah yang
baru; dan
2. Ia diperingatkan bahwa peranan penyelamat yang dijanjikan Allah
berbeda sekali dengan apa yang diharapkan oleh kebanyakan orang.

Itu berarti menerima penderitaan dan pelayanan sebagai bagian yang


penting dari hidup-Nya. Ini adalah hal yang sangat sulit, seperti yang akan
segera dialami oleh Yesus. Tetapi Ia menghadapi masalah itu dengan kuasa
Allah sendiri; Ia diingatkan akan penyertaan Allah ketika Roh Kudus secara
simbolis turun ke atas-Nya dalam bentuk seekor merpati.

4. Yesus menentukan prioritas-Nya.

Kitab-kitab Injil mengisahkan bagaimana Yesus setelah pembaptisan-Nya


ditantang untuk mengatur prioritas-Nya dengan benar sebagai penyelamat
yang dijanjikan Allah, yakni Sang Mesias. Setiap cobaan yang Dia alami
merupakan cobaan agar menghindari penderitaan dan pelayanan secara
rendah hati yang merupakan kehendak Allah.
Pertama, Yesus dicobai agar membentuk umat baru melalui tindakan di
bidang ekonomi, dengan menjadikan roti dari batu (Luk. 4:1-4). Ada banyak
orang lapar di dunia yang akan menyambut makanan dari sumber mana
saja. Yesus sendiri waktu itu berpuasa di padang gurun dan merasa lapar.
Selain itu, Perjanjian Lama sering melukiskan umat baru sebagai zaman
kemakmuran material yang melimpah, ketika orang lapar diberi makan dan
kebutuhan setiap orang dipenuhi (Yes. 25:6- 8; 49:9-10; Yeh. 39:17-20). Jadi
ada banyak alasan mengapa Yesus harus memperhatikan hal-hal seperti itu.
Tetapi Ia tahu, ketenaran dan popularitas pelaku mujizat ekonomi berbeda
dengan menderita dan melayani.
Sabda Tuhan kepada umat Israel pada saat yang penting dalam sejarah
mereka, menolong-Nya untuk mengatasi cobaan itu, "Manusia tidak hidup
dari makanan saja" (Ul.8:3, BIS). Hal itu tidak berarti, Yesus kurang peka
terhadap kebutuhan ekonomi di kalangan rakyat. Sebaliknya Ia menyadari di
satu pihak bahwa ini bukanlah kebutuhan mereka yang paling besar, dan di
pihak lain, bukan maksud Allah agar hal itu menjadi penekanan utama
pekerjaan-Nya. Dalam kenyataannya, Yesus pada kemudian hari memberi
makan orang-orang lapar (Mrk. 6:30- 34). Tetapi Ia tahu, ini bukanlah tujuan
utama hidup-Nya.

Cobaan kedua ialah agar Ia terjun dari puncak Bait Allah ke pelataran di
bawah yang penuh sesak, tanpa melukai diri-Nya sendiri (Luk. 4:9-12).
Adalah mudah untuk memperlihatkan diri sebagai Mesias dengan melakukan
mujizat, karena hal ajaib dan luar biasa mempunyai daya tarik bagi bangsa
yang sifatnya dikenal dengan baik oleh Yesus. Paulus, yang mengenal agama
Yahudi lebih baik dari kebanyakan orang lain, mengatakan bahwa sifat orang
Yahudi ialah "menghendaki tanda" (1Kor. 1:22). Malah pada abad kita yang
maju dan serba ilmiah pun, banyak orang tertarik dengan hal-hal yang luar
biasa dan spektakuler, dan siapa saja yang menyatakan bisa melakukan
mujizat tidak sulit memperoleh pengikut-pengikut.
Di sini juga cobaan Yesus mengandung makna yang lebih dalam, sebab ada
nubuat dalam Perjanjian Lama mengenai Mesias yang akan muncul secara
tiba-tiba di Bait Allah (Mal. 3:1). Ada juga janji dalam Mazmur 91 yang
mengatakan Allah akan melindungi mereka yang mempercayainya. Apakah
ini bukan waktunya untuk mencobai Allah? Kalau Yesus benar- benar Mesias
yang diutus Allah, tentu Ia boleh mengharapkan bahwa Allah akan menepati
janji-janji-Nya. Suatu pemikiran yang menarik. Tetapi jawaban terhadap hal
itu datang dari zaman penting yang sama juga dalam pengalaman umat
Israel, "Janganlah kamu mencobai Tuhan Allahmu" (Ul. 6:16). Konteks janji
Allah dalam Mazmur 91 menegaskan bahwa itu hanya berlaku bagi orangorang yang hidup dengan taat melayani kehendak Allah. Bagi Yesus,
melakukan kehendak Allah berarti pelayanan dan penderitaan, dan bukan
pemanfaatan janji-janji Allah secara semena-mena untuk kepentingan diri
sendiri.
Jadi Yesus menolak godaan untuk dikenal sebagai penyelamat yang
dijanjikan Allah melalui pertunjukan kuasa ajaib. Ia memang melakukan
mujizat-mujizat. Tetapi seperti yang akan kita lihat nanti, Ia juga menjelaskan
bahwa mujizat-mujizat itu merupakan tanda-tanda yang hidup dari
pemberitaan-Nya itu; mujizat bukanlah berita itu sendiri.
Cobaan ketiga ialah agar Ia mau menjadi Mesias politis. Lukas
menempatkannya sebagai cobaan kedua, tetapi Matius menempatkannya
terakhir (Mat. 4:8-10). Lukas rupanya melakukan hal itu untuk menekankan
pentingnya cobaan ini. Jelas, inilah cobaan yang terkuat. Sebab, orang

Yahudi justru mengharapkan seorang Mesias seperti itu. Banyak di antara


mereka juga percaya, mereka akan memerintah semua bangsa lain dalam
zaman baru yang akan datang - dan Yesus digoda untuk menerima
kewibawaan Iblis agar memperoleh kuasa atas dunia. Ide itu dijadikan lebih
nyata melalui suatu penglihatan tentang kemegahan kerajaan-kerajaan
dunia. Tetapi Yesus sekali lagi menyadari bahwa ini jauh berbeda dari jenis
umat baru yang akan didirikan-Nya. Itu tidak berarti, Yesus tidak
menghiraukan hasrat kuat bangsa-Nya untuk memperoleh kemerdekaan.
Bagaimanapun juga, Ia sendiri hidup di bawah kelaliman penguasa Romawi.
Ia bekerja dengan tangan-Nya sendiri agar dapat mempunyai penghasilan
yang cukup untuk membayar pajak kepada Roma. Ia tahu benar kemelaratan
orang-orang sebangsa-Nya.
Tetapi Ia menolak jabatan Mesias politis karena dua alasan. Pertama- tama,
Ia menolak syarat-syarat yang diajukan Iblis kepada-Nya. Menurut ceritacerita dalam Injil, Iblis menawarkan untuk membagi kekuasaannya dengan
Yesus. Jika Yesus mengakui otoritas Iblis atas alam semesta cara
keseluruhan, maka Ia akan diberikan kuasa politik secara terbatas sebagai
gantinya. Hal itu tidak dapat diterima oleh Yesus. Komitmen-Nya sendiri, dan
komitmen yang kemudian dituntut-Nya dari pengikut-pangikut-Nya, hanya
ditujukan khusus kepada Allah sebagai Tuhan yang berdaulat. Mengakui
kuasa Iblis di salah satu bidang kehidupan berarti menolak wibawa Allah.
Di samping itu Yesus ditawarkan kemungkinan memerintah dengan "kuasa"
dan "kemuliaan" suatu kerajaan yang sama seperti kekaisaran Roma. Tetapi,
Ia tahu hal itu bukanlah tugas-Nya. Ia tahu, pemerintahan Allah dalam
kehidupan manusia dan dalam masyarakat tidak pernah dapat dipaksakan
dari luar. Inilah salah satu pelajaran yang dapat ditarik dari sejarah
bangsanya. Mereka memiliki semua peraturan dalam Perjanjian Lama, tetapi
berulangkali mereka gagal melaksanakannya. Yesus melihat bahwa apa yang
dibutuhkan manusia adalah penyerahan kehendak dan ketaatan mereka
secara bebas kepada Allah. Dengan demikian mereka diberikan kebebasan
moral untuk menciptakan kehidupan baru yang Allah kehendaki bagi
mereka.
Jadi cobaan ketiga ini pasti merupakan cobaan yang terkuat dan yang paling
menggoda. Cobaan itu juga ditolak dengan tegas sekali, "Enyahlah, Iblis!"

(Mat. 4:10). Yesus tidak mau memaksakan suatu sistem kekuasaan baru di
dunia untuk menggantikan sistem kekuasaan Romawi. Umat-Nya yang baru
tidaklah merupakan pemerintahan yang lalim dan kejam seperti yang
dibayangkan oleh banyak orang Yahudi, melainkan akan timbul dari tabiat
batin yang sama sekali baru dari mereka yang menjadi anggota-anggota-Nya
sewaktu mereka melayani dan beribadah hanya kepada Allah saja.