Anda di halaman 1dari 3

Bagaimana Mengaku Dosa dengan Baik?

oleh: Romo William P. Saunders *

Konsili Vatikan II menetapkan bahwa Upacara dan rumus untuk Sakramen Tobat hendaknya ditinjau kembali sedemikian rupa,
sehingga hakekat dan buah sakramen terungkap secara lebih jelas (Sacrosanctum Concilium, no. 72). Oleh karena itu,
Kongregasi untuk Ibadat menerbitkan Ritus Sakramen Tobat pada tahun 1973. Ritus yang baru ini menambahkan pilihan doadoa, menyediakan bacaan dari Kitab Suci serta memperkenalkan pelayanan-pelayanan Sakramen Tobat dengan pengakuan
pribadi. Namun demikian, ketentuan tersebut menetapkan, bagi para imam, dan khususnya para imam paroki dalam melayani
individual maupun komunitas, hendaknya menyesuaikan ritus dengan kondisi konkrit peniten (no. 40). Sebab itu, pada hari
Sabtu sore dengan antrian peniten menunggu giliran mengaku dosa, imam paroki dapat menggunakan ritus yang lebih efisien,
yang mencakup format tradisional yang biasa dipergunakan dalam pengakuan.
Dengan dasar pemikiran di atas, orang mulai dengan pemeriksaan batin yang baik. Kita patut hidup sesuai pola hidup yang
Tuhan nyatakan tentang bagaimana kita harus hidup. Sebagai contoh, kita meluangkan waktu untuk merefleksikan Sepuluh
Perintah Allah, Sabda Bahagia, Perintah Gereja, Kebajikan Pokok (kebijaksanaan, keadilan, keberanian dan penguasaan diri), dan
Tujuh Dosa Pokok (sombong, cabul, serakah, marah, rakus, iri hati, malas). lihat Katekese Singkat : Perintah Allah
Pemeriksaan Batin adalah bagaikan berhenti melangkah dan menengok gambaran hidup kita serta memperbandingkannya
dengan pola hidup yang dikehendaki Tuhan. Ingatkah ketika kita masih kanak-kanak, kita biasa menjiplak gambar. Menjiplak
membantu kita untuk belajar menggambar. Kita mengambil selembar kertas kosong, menempatkannya di atas gambar asli, dan
menerawangkannya dekat jendela atau cahaya. Terang memungkinkan kita untuk menjiplak gambar asli ke dalam kertas kosong
kita. Dari waktu ke waktu, kita perlu berhenti dan melihat kalau-kalau kertas kita telah bergeser dan melenceng dari gambar
aslinya, atau kalau-kalau goresan kita telah menyimpang dari gambar aslinya.
Demikian pula halnya dengan hidup kita, kita melewatkan hidup sesuai dengan pola hidup yang ditetapkan Tuhan. Dalam
pemeriksaan batin, kita menengok ke belakang dan dengan jujur menilai bagaimana kita telah berusaha hidup sesuai pola yang
ditetapkan Tuhan dan tinggal dalam batas-batas tersebut. Kita merefleksikan kemajuan yang telah kita capai sejak pengakuan
dosa kita yang terakhir berkenaan dengan kelemahan-kelemahan, pelanggaran-pelanggaran, pencobaan-pencobaan, dan dosadosa di masa lalu. Besar harapan, kita mendapati kemajuan dalam hidup rohani kita. Namun demikian, ketika kita melenceng
atau menyimpang dari batasan-batasan Tuhan, kita berdosa - bukan hanya dengan perbuatan, tetapi juga dengan kelalaian.
Patutlah kita mengenali dosa-dosa ringan - dosa-dosa ringan ini melemahkan persahabatan kita dengan Tuhan - dari dosa-dosa
berat - dosa-dosa yang memutuskan persahabatan kita dengan Tuhan dan membunuh rahmat pengudusan yang ada dalam
jiwa kita. Kita ingat akan sabda Yesus, barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu,
supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada
terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah. (Yoh 3:20-21).
Dengan pemeriksaan batin, kita bertobat atas dosa-dosa kita. Kita menyesali dosa karena kita takut akan api neraka dan
kehilangan surga; kita takut akan hukuman Allah yang adil, tetapi terutama kita menyesal karena dosa-dosa kita telah menghina
Tuhan yang selayaknya kita kasihi lebih dari segala sesuatu. Kasih kepada Tuhan menggerakkan kita untuk bertobat atas dosa
dan mohon didamaikan kembali. Segenap para kudus yang mengaguman itu melakukan pemeriksaan batin secara teratur dan
memanfaatkan Sakramen Tobat sesering mungkin. (Bahkan Bapa Suci kita, Paus Yohanes Paulus II, mengakukan dosa-dosanya
seminggu sekali, demikian pula Beata Teresa dari Calcutta). Orang mungkin bertanya, Mengapa? Dosa-dosa apakah yang
mungkin dilakukan oleh orang-orang kudus ini? Mereka mengasihi Tuhan begitu dalam hingga bahkan kelalaian ataupun
pelanggaran terkecil sekalipun menggerakkan mereka untuk mengaku dosa. Mereka tidak menghendaki bahkan dosa teremeh
sekalipun memisahkan mereka dari kasih Tuhan. Demi kasih kepada Tuhan, kita pun juga menyesali dosa-dosa kita.
Sesal atas dosa menggerakkan kita untuk bertekad sebulat hati untuk tidak berbuat dosa lagi. Mungkin kita akan jatuh ke dalam
dosa lagi, tetapi kita berusaha untuk tidak melakukannya. Kita tidak berencana meninggalkan kamar pengakuan dan melakukan
dosa-dosa yang sama.
Kemudian, kita mengakukan dosa-dosa kita. Kita masuk ke dalam kamar pengakuan. Terkadang, dalam kamar pengakuan
terdapat sekat antara peniten dan imam, tetapi terkadang juga peniten langsung berhadapan muka dengan imam. Entah kita
berhadapan langsung dengan imam atau tidak, ingatlah senantiasa bahwa apapun yang dikatakan selama pengakuan disimpan
rapat oleh imam sebagai rahasia.

Ingatlah juga bahwa kita mengakukan dosa kita kepada imam karena tiga alasan pokok: Pertama, Kristus Sendiri yang
menetapkan sakramen ini, dan imam memiliki wewenang yang diberikan kepada para rasul, melalui tahbisan yang diterimanya,
untuk mengampuni dosa atas nama Tuhan. Pada malam kebangkitan-Nya, Yesus bersabda, Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu
mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada. (Yoh
20:22-23). Imam adalah pelayan sakramen yang bertindak atas nama pribadi Kristus.
Jika pengakuan dosa bukan sakramen yang ditetapkan oleh Kristus yang mendatangkan rahmat, sayalah orang pertama yang
akan mengatakan, Pergilah menemui penasehatmu. Hubungi Dr. Ini atau Itu. Sebaliknya, justru karena Kristus yang
memberikan sakramen pengampunan ini kepada Gereja, saya menyampaikan dalam homili, Pergilah mengaku dosa.
Kedua, seorang imam adalah seorang bapa rohani. Sama seperti kita datang kepada seorang dokter ketika jasmani kita sakit agar
disembuhkan, demikian pula kita datang kepada seorang imam ketika jiwa kita sakit dan perlu disembuhkan. Lebih jauh tentang
analogi imam-dokter, sama seperti orang merasa berdebar ketika mengunjungi seorang dokter atau mungkin gelisah akan
penyakit yang mungkin ditemukan atau divoniskan oleh dokter, tetapi orang tersebut tetap datang sebab ia tahu bahwa
perawatan dokter akan menjadikan kesehatannya lebih baik; demikian juga halnya dengan pengobatan rohani yang ditawarkan
oleh seorang imam.
Ketiga, imam mewakili Gereja dan orang kepada siapa kita berbuat dosa. Di masa-masa awal Gereja, orang mengakukan dosadosanya secara umum pada awal perayaan Misa dan mendapatkan absolusi. Sungguh melegakan, pada abad-abad sekarang kita
mempunyai pengakuan dosa secara pribadi.
Kita memulai dengan membuat Tanda Salib dan mengatakan, Berkatilah aku ya Bapa, sebab aku telah berdosa. Atau, orang
biasa memulai dengan, Dalam nama Bapa. Kemudian kita menyatakan kapan terakhir kali kita mengakukan dosa-dosa kita:
Bapa, pengakuan saya yang terakhir yang lalu.
Kemudian, kita mengakukan dosa-dosa kita. Kita harus spesifik. Terkadang orang mengatakan, Saya melanggar perintah
keenam, yang meliputi semuanya mulai dari pikiran yang tak pantas hingga pemerkosaan dan perzinahan. Kita tidak harus
menceritakannya secara terperinci, melainkan intinya agar imam dapat menolong. Kita juga perlu menyebutkan jumlah melalaikan Misa satu kali berbeda dari beberapa kali, yang juga berbeda dari setiap kali. Setelah selesai mengakukan dosa-dosa
kita, kita menyatakan, Saya menyesal atas semua dosa saya dan dengan hormat saya mohon pengampunan dan penitensi yang
berguna bagi saya. Lalu, imam dapat mulai memberikan nasehat kepada kita. Imam juga memberikan penitensi guna pulihnya
luka akibat dosa dan guna memperkuat jiwa kita dalam menghadapi pencobaan di masa mendatang. Kemudian imam meminta
kita untuk menyatakan tobat, yang biasanya adalah Doa Tobat: Allah yang Maharahim, aku menyesal atas dosa-dosaku, sebab
patut aku Engkau hukum, terutama sebab aku telah menghina Engkau yang Mahamurah dan Mahabaik bagiku. Aku benci akan
segala dosaku dan berjanji dengan pertolongan rahmat-Mu hendak memperbaiki hidupku dan tidak akan berbuat dosa lagi. Ya
Allah, kasihanilah aku, orang yang berdosa ini. Amin.
Terakhir, imam menyampaikan absolusi. Renungkanlah kata-kata indah ini: Allah, Bapa yang Mahamurah telah mendamaikan
dunia dengan DiriNya dalam wafat dan kebangkitan Putranya. Ia telah mencurahkan Roh Kudus demi pengampunan dosa. Dan
berkat pelayanan Gereja, Ia melimpahkan pengampunan dan damai kepada orang yang bertobat. Maka, saya melepaskan
saudara dari dosa-dosa saudara. Demi nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Rumusan ini menekankan Bapa Surgawi kita yang
penuh belas kasihan, misteri keselamatan dari sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus serta pelayanan pemulihan oleh Roh
Kudus melalui Gereja.
Imam kemudian mempersilakan kita untuk pergi dengan mengatakan, Bersyukurlah kepada Tuhan sebab Ia baik, dengan mana
kita menjawab, kekal abadi kasih setia-Nya. (Banyak imam secara sederhana mengatakan, Semoga Tuhan memberkatimu).
Kita lalu meninggalkan kamar pengakuan untuk melaksanakan penitensi yang diberikan kepada kita.
Sakramen Tobat sungguh merupakan sakramen yang indah dengan mana kita didamaikan kembali dengan Allah, diri kita sendiri,
dan sesama. Ingatlah kata-kata St Paulus ini, Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang
dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahankesalahan kita (Ef 2:4-5). Sementara kita semakin dekat dengan perayaan Paskah, marilah meluangkan waktu untuk mengaku
dosa dengan baik.
* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Notre Dame
Graduate School in Alexandria.
sumber : Straight Answers: How to Make a Good Confession by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald,
Inc; Copyright 2004 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: diterjemahkan oleh YESAYA:
www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.

Gereja Katolik
23 Juni 2013
KATEKESE 23 JUNI
Mengapa mengaku dosa, kalau akhirnya juga berbuat dosa lagi?
Mungkin ada orang yang mengajukan keberatan, mengapa harus mengaku dosa, kalau toh kita juga akan melakukan dosa yang
sama lagi. Atau orang mengatakan bahwa Sakramen Tobat adalah percuma, karena sama seperti anak yang bermain di lumpur,
kemudian dibersihkan dan dimandikan, namun kemudian anak tersebuat bermain di lumpur lagi. Untuk menjawab pertanyaan
ini ada beberapa prinsip yang harus kita pegang:
Gereja Katolik tidak mengajarkan bahwa setelah dibersihkan, maka seorang anak boleh bermain lumpur lagi, namun justru
melarang anak tersebut bermain lumpur. Dengan kata lain, setelah diberikan pengampunan dalam Sakramen Tobat, maka yang
mengakukan dosa harus dengan kebulatan hati dan dibantu dengan rahmat Tuhan untuk memperbaiki kehidupannya dan tidak
akan berbuat dosa lagi, seperti yang termuat dalam doa tobat.[4]
Namun anak itu akan bermain lumpur lagi setelah dibersihkan oleh ibunya. Bukankah ini percuma? Argumen seperti ini tidaklah
mendasar. Hal ini sama seperti pernyataan percuma makan, karena nanti juga lapar lagi. Tentu saja orang tidak akan pernah
memberikan pernyataan tersebut, karena tahu bahwa itu adalah pernyataan yang salah. Masalahnya adalah bukan pada
Sakramen Tobat, namun pada manusia yang penuh dengan kelemahan. Sama seperti argumen di atas bahwa masalahnya bukan
pada ibunya yang telah bersusah payah membersihkan anak itu, namun pada anak itu yang bermain lumpur lagi, walaupun
sudah diperingatkan untuk tidak bermain lumpur lagi. Selama manusia masih mempunyai kehendak bebas, maka manusia masih
bisa memilih untuk berkata tidak terhadap dosa, atau mengikuti kelemahannya dan berbuat dosa.
Kalau begitu, sampai berapa kali anak yang bermain lumpur musti dibersihkan lagi, atau sampai berapa kali si pendosa musti
diampuni di dalam Sakramen Tobat? Gereja Katolik menjalankan perintah Yesus yang dikatakan-Nya pada waktu Yesus
menjawab pertanyaan rasul Petrus yang bertanya, sampai berapa kali dia harus mengampuni saudaranya yang berdosa
kepadanya. Dan Yesus menjawab Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali (Mat 18:22). Dengan
kata lain adalah tak terbatas. Memenuhi pesan Yesus inilah, Yesus memberikan pengampunan yang dipercayakan kepada
Gereja dalam Sakramen Tobat yang dapat kita hampiri setiap saat.
Apakah elemen penting dalam Sakramen Tobat?
Pada dasarnya ada dua elemen penting di dalam Sakramen Tobat, yang terdiri dari: 1) tindakan dari Allah, dan 2) tindakan dari
manusia. Tindakan dari Allah merupakan penggerak utama dalam Sakramen Tobat[5], sedangkan tindakan dari manusia adalah
merupakan jawaban atau respon manusia terhadap tindakan Allah. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kasih dan belas
kasih Tuhan adalah penggerak pertama dan utama untuk pertobatan manusia. Kasih dan belas kasih Tuhan juga menjadi dasar
kepercayaan bagi pendosa untuk mendapatkan pengampunan dalam Sakramen Tobat, yang diwakili oleh para pastor dengan
memberikan pengampunan atau absolusi.
Sumber: Situs Katolisitas
--Deo Gratias--