Anda di halaman 1dari 17

MENGATUR KEMASAKAN BUAH DENGAN MENGGUNAKAN ZAT

PENGATUR TUMBUH

Oleh :
Fajar Husen
Maretra Anindya P.
Rombongan
Kelompok
:1
Asisten

B1J013002
B1J013090
: II
: Latifah Ambarwati

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN II

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2015

I.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Buah-buahan yang telah dipanen akan mengalami proses respirasi.


Respirasi menyebabkan terjadinya pematangan pada buah dan pada
akhirnya buah tersebut akan mengalami perubahan seperti pelayuan dan
pembusukan. Respirasi sendiri merupakan perombakan bahan organik
yang lebih komplek seperti pati, asam organik dan lemak menjadi produk
yang lebih sederhana (karbondioksida dan air) dan energi dengan
bantuan oksigen. Aktivitas respirasi penting untuk mempertahankan sel
hidup buah. Buah-buahan dengan laju respirasi tinggi cenderung cepat
mengalami kerusakan. Percepatan respirasi ini juga dipengaruhi oleh
keberadaan etilen. Etilen adalah senyawa organik sederhana yang
berfungsi sebagai hormon pertumbuhan, perkembangan dan kelayuan.
Keberadaan etilen perlu ditekan pada saat buah telah mengalami
kematangan agar daya simpan buah-buahan lebih lama (Ayu, 2011).
Pola respirasi produk hortikultura dibagi menjadi dua, yaitu
klimaterik dan non-klimaterik. Produk hortikultura yang memiliki respirasi
klimaterik ditandai dengan produksi karbohidrat meningkat bersamaan
dengan buah menjadi masak dan meningkatnya produksi etilen. Saat
buah-buahan mencapai masak fisiologi, respirasinya mencapai klimaterik
yang paling tinggi. Respirasi klimaterik dan proses pemasakan dapat
berlangsung pada saat buah masih di pohon atau telah dipanen (Ayu,
2011).
Pemanenan dapat dilakukan ketika laju respirasi suatu buahbuahan sudah mencapai klimaterik. Hal ini karena ketepatan pemanenan
sangat

mempengaruhi

kualitas

buah-buahan

tersebut.

Buah

yang

dipanen terlalu muda akan menyebabkan kematangan yang tidak


sempurna sehingga kadar asamnya meningkat dan rasa buah menjadi
asam. Pemanenan yang terlalu tua menyebabkan kualitas buah turun
pada saat disimpan dan rentan terjadi pembusukan. Buah-buahan yang
tergolong klimaterik adalah pisang, tomat, pepaya, apel dan mangga.
Pola respirasi buah-buahan yang tidak menunjukkan karakteristik seperti
klimaterik

disebut

non-klimaterik.

Contoh

strawberry, jeruk, cabai, dan nanas (Ayu, 2011).

buah-buahannya

adalah

B. Tujuan
Tujuan

dari

praktikum

mengatur

kemasakan

buah

dengan

menggunakan zat pengatur tumbuh kali ini adalah untuk mengetahui


konsentrasi zat pengatur tumbuh yang mampu mempercepat kemasakan
buah.
II.

TINJAUAN PUSTAKA

Zat pengatur tumbuh merupakan hormon sintesis yang diberikan


pada organ tanaman yang dalam konsentrasi rendah berperan aktif
dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Zat pengatur tumbuh
memiliki berbagai fungsi dalam proses fisiologis tanaman diantaranya
mempercepat perkembangan dan pematangan buah. Perubahan tingkat
keasaman dalam jaringan juga akan mempengaruhi aktivitas beberapa
enzim

seperti

enzim-enzim

pektinase

yang

mampu

mengkatalis

degradasi protopektin yang tidak larut menjadi substansi pektin yang


larut. Perubahan komposisi pektin ini akan mempengaruhi kekerasan
buah (Anderson and Beardall, 1991).
Kemasakan

(ripening)

adalah

suatu

proses

fisiologis,

yaitu

terjadinya perubahan dari kondisi yang tidak menguntungkan ke kondisi


yang menguntungkan, ditandai dengan perubahan tekstur, warna, rasa
dan aroma (Abidin, 1985). Proses pematangan buah pisang merupakan
proses pengakumulasian gula dengan merombak pati menjadi senyawa
yang

lebih

sederhana,

tidak

seperti

buah

pada

umumnya

yang

mengakumulasi gula secara langsung dari pengiriman asimilat hasil


fotosintesis di daun yang umumnya dikirim ke organ lain dalam bentuk
sukrosa (Anderson and Beardall, 1991). Inisiasi proses pematangan buah
klimakterik seperti pisang

dikontrol oleh tingkat kandungan etilen

endogen (Dhillon and Mahajan, 2011).


Stimulasi pematangan sering dilakukan dengan gas etilen, karbit,
dan ethrel/ethepon. Zat-zat perangsang pematangan ini akan memicu
kerja etilen pada buah untuk kemudian memicu proses pematangan pada
buah

tersebut.

merupakan

Ethrel

senyawa

atau
kimia

lebih
yang

dikenal
berfungsi

dengan
memicu

nama

ethepon

pertumbuhan.

Penggunaannya bervariasi pada setiap jenis tanaman atau buah,


konsentrasi

yang

digunakan,

juga

waktu

penggunaannya.

Namun

penggunaan ethepon di kalangan petani atau pun pedagang pisang

masih sangat jarang dibandingkan dengan penggunaan gas karbit.


Ethepon sangat cepat diubah menjadi etilen pada tanaman/buah, selain
itu juga memiliki tingkat toksisitas yang sangat rendah, sehingga
residunya tidak membahayakan bagi manusia (Ridhyanty et al., 2015)
Menurut Abidin (1985), etilen merupakan hormon tumbuh yang
dalam keadaan normal berbentuk gas serta mempunyai struktur kimia
yang sangat sederhana, yaitu terdiri dari 2 atom karbon dan 4 atom
hidrogen. Etilen digolongkan sebagai hormon yang aktif dalam proses
pematangan. Terdapat dua hipotesa tentang hubungan antara etilen dan
pematangan buah. Hipotesa pertama, pematangan merupakan proses
kelayuan yang mengakibatkan organisasi antara sel menjadi terganggu.
Gangguan ini merupakan pelopor hidrolisa pati, klorofil, pektin dan tanin
oleh enzim-enzim di dalamnya yang akan menghasilkan bahan-bahan
seperi

etilen,

pigmen,

energi

dan

polipeptida.

Hipotesa

kedua,

pematangan diartikan sebagai suatu fase akhir dari proses penguraian


substrat dan proses yang dibutuhkan oleh bahan untuk mensintesa
enzim-enzim spesifik, yang diantaranya akan digunakan dalam proses
kelayuan (Winarno, 1979; Wereing 1970).
Menurut

Nogge

and

Fritz

(1989),

berdasarkan

kandungan

amilumnya, buah dibedakan menjadi buah klimaterik dan buah non


klimaterik. Buah klimaterik adalah buah yang banyak mengandung
amilum, seperti pisang mangga, apel, alpokat dan dapat dipacu
kematangannya dengan etilen. Etilen endogen yang dihasilkan oleh buah
yang telah matang dengan sendirinya dapat memacu pematangan pada
sekumpulan buah yang diperam. Buah non klimaterik adalah buah yang
kandungan amilumnya sedikit, seperti jeruk, anggur, semangka dan
nanas. Pemberian etilen pada buah ini dapat memacu laju respirasi,
tetapi tidak memacu produksi etilen endogen dan pematangan buah.
Perubahan warna buah merupakan indikator pemasakan buah yang
ditunjukkan dengan hilangnya warna hijau. Penyimpanan buah pada suhu
rendah dapat memperlambat kecepatan reaksi metabolisme sehingga
akan memperpanjang umur simpannya. Perbedaan buah yang matang
dan masak adalah, apabila

buah yang matang (mature) yaitu buah

dengan tingkat kematangan optimum dengan warna kuning kemerahan


dan tekstur yang masih keras, serta buah yang masak (ripe), yaitu buah
yang sudah berwarna merah dan tekstur yang sudah agak lunak. Bahan

lainnya adalah bahan kimia untuk analisis kadar vitamin C dan total asam
(Julianti, 2011).

III. MATERI DAN METODE


A. Materi
Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah kertas koran,
gelas ukur, batang pengaduk, beaker glass, dan timbangan analitik.
Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini meliputi 2 buah
pisang

kepok,

larutan

Ethrel

(2-chloroetilphosponic

acid)

dengan

konsenterasi 300 ppm, 600 ppm dan 900 ppm serta akuades.
B. Metode
Cara kerja dalam praktikum kali ini adalah:
1. Larutan Ethrel disiapkan dengan konsentrasi 300 ppm, 600 ppm, dan
900 ppm.
2. Satu buah pisang dicelupkan ke dalam larutan Ethrel selama kurang
lebih 5 menit sesuai dengan konsentrasi masing-masing kelompok.
Sedangkan satu buah pisang yang lainnya digunakan sebagai kontrol.
3. Kedua pisang dibungkus dengan menggunakan kertas koran.
4. Pisang diamati setiap hari, dan dicatat perubahan yang terjadi pada
buah pisang tersebut.
5. Preparat pisang di rasakan (dicicipi rasanya sebagai uji rasa).
6. Didokumentasikan preparat pisang antara konterol dan uji.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
IV.1. Tabel Pengamatan Kemasakan Buah Pisang
No
.
1
2
3

Perubahan yang
terjadi
Warna
Rasa
Tekstur

Konsentrasi (ppm)
300
600
900

++
+
++

+++
+++
+++

+++
+++
+++

++
+++
+++

Interpretasi :

: perubahan buah cukup baik

++

: perubahan buah baik

+++ : perubahan buah baik sekali

IV.2. Foto Pengamatan Kemasakan Buah Pisang


Kontrol

Etilen 300 ppm

Gambar

Hari

Gambar 1. Kontrol Hari Ke-1

2.

Etilen
Ke-1

Gambar 3. Kontrol Hari Ke-7


Gambar 4. Etilen Hari Ke-7

B. Pembahasan

Berdasarkan praktikum yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa


semakin tinggi konsenterasi ethilen yang digunakan maka proses
kecepatan pematangan akan lebih cepat. Data menunjukan pada
konsenterasi 300 dan 600 ppm saja memperlihatkan perbedaan yang
sangat

signifikan

dibandingkan

dengan

konterol.

Hal

tersebut

membuktikan bahwa kerja ethilen dikatakan bagus dan baik, sementara


pada konsenterasi 900 ppm menunjukan pada parameter tekstur seperti
kontrol atau dikatakan cukup baik, walaupun sebenarnya menurut Andre
(2012) bahwa kecepatan kerja ethilen terhadap pemasakan buah akan
sginifikan ketika konsenterasi yang digunakan ditingkatkan dan proses
penyimpanan yang sesuai tersedia cukup oksigen. Data sesuai dengan
referensi Andre (2012) untuk parameter warna dan rasa, di mana pada
seluruh

perlakuan

tingkatan

konsenterasi

menunjukan

hasil

yang

signifikan dan bagus. Walaupun faktor eksternal seperti kandungan


oksigen di lingkungan penyimpanan yang mempengaruhi kecepatan kerja
ethilen dapat mempengaruhi hasil namun secara keseluruhan terdapat
parameter yang menunjukan nilai positif untuk kerja ethilen ini.
Pemasakan buah merupakan perubahan yang terjadi pada tahap
akhir

perkembangan

buah

atau

merupakan

tahap

awal

penuaan

(senescence) pada buah. Selama perkembangan buah, terjadi perubahan


biokimiawi dan fisiologi. Umumnya buah yang masih muda berwarna
hijau karena memiliki kloroplas sehingga dapat melakukan fotosintesis.
Pemasakan buah juga merupakan proses yang kompleks dan terprogram
secara genetik diawali dengan perubahan warna, tekstur, aroma dan rasa
(flavour) (Sinay, 2008).
Kecepatan pemasakan buah terjadi karena zat tumbuh mendorong
pemecahan tepung dan penimbunan gula. Proses pemecahan tepung dan
penimbunan gula tersebut merupakan proses pemasakan buah dimana
ditandai dengan terjadinya perubahan warna, tekstur buah dan bau pada
buah

atau

terjadinya

pemasakan

buah.

Kebanyakan

buah

tanda

kematangan pertama adalah hilangnya warna hijau. Kandungan klorofil


buah yang sedang masak lambat laun berkurang. Saat terjadi klimaterik,
klorofilase

bertanggung

jawab

atas

terjadinya

penguraian

klorofil.

Penguraian hidrolitik klorofilase yang memecah klorofil menjadi bagian


vital

dan

inti

porfirin

yang

masih

utuh,

maka

klorofilida

yang

bersangkutan tidak akan mengakibatkan perubahan warna. Bagian

profirin pada molekul klorofil dapat mengalami oksidasi atau saturasi,


sehingga warna akan hilang. Lunaknya buah disebabkan oleh adanya
perombakan

photopektin

yang

tidak

larut.

Pematangan

biasanya

meningkatkan jumlah gula-gula sederhana yang memberi rasa manis


(Fantastico, 1986).
Etilen adalah senyawa hidrokarbon tidak jenuh yang pada suhu
kamar berbentuk gas. Senyawa ini dapat menyebabkan terjadinya
perubahan-perubahan

penting

dalam

proses

pertumbuhan

dan

pematangan hasil-hasil pertanian (Purba, 1996). Etilen adalah hormon


tumbuh yang secara umum berlainan dengan auksin, giberellin dan
sitokinin. Keadaan normal, etilen akan berbentuk gas dan struktur
kimianya sangat sederhana sekali. Di alam etilen akan berperan apabila
terjadi perubahan secara fisiologis pada suatu tanaman. Hormon ini akan
berperan dalam proses pematangan buah dalam fase klimaterik (Abidin,
1985).
Klimaterik merupakan suatu fase yang banyak sekali perubahan
yang berlangsung (Zimmermar, 1961). Klimaterik juga diartikan sebagai
suatu keadaan auto stimulation dalam buah sehingga buah menjadi
matang yang disertai dengan adanya peningkatan proses respirasi (Hall,
1984). Klimaterik merupakan fase peralihan dari proses pertumbuhan
menjadi layu, meningkatnya respirasi tergantung pada jumlah etilen yang
dihasilkan serta meningkatnya sintesis protein dan RNA (Heddy, 1989).
Mekanisme kerja etilen dalam pemasakan buah yaitu dengan cara
menambahkan etilen dari luar. Perubahan yang disebabkan oleh etilen
terhadap

tanaman

sangat

banyak

diantaranya

adalah

perubahan

permeabilitas membran sel sehingga mengakibatkan penghancuran


klorofil ke dalam kloroplas oleh enzim. Terombaknya pigmen klorofil
dalam sel-sel buah yang tidak terlindungi berakibat pada buah yang
menampakkan warna masaknya (Sumarjono, 1981).
Kadar etilen dalam pemasakan buah berbeda beda, ada 4 macam
kadar mulai dari rendah, sedang, tinggi, sangat tinggi. Kadar etilen
rendah (< 1.0 ml kg1 h1) yaitu buah lemon, dan nanas; buah dengan
kadar etilen sedang (110 ml kg1 h1) yaitu pisang, mangga, dan tomat;
buah dengan kadar etilen tinggi (10100 ml kg1 h1) yaitu pir, dan
aprikot; sedangkan buah dengan kadar etilen sangat tinggi (> 100 ml kg
1 h1) apel dan alpukat. Bunga dan tunas juga sangat sensitif dengan

perlakuan etilen selain itu, pada suhu tertentu (21 0C) gas etilen akan
keluar dengan penyimpanan rapat dan akan bekerja meningkat secara
drastis setelah melewati 3500 detik (Smith et al., 2009).
Faktor-faktor utama yang mempengaruhi aktivitas etilen menurut
Abidin (1985) ialah:
1. Aktivitas pematangan buah akan menurun dengan turunnya suhu
ruang penyimpanan b u a h . Contoh pada buah apel yang disimpan
pada suhu 300C, penggunaan etilen dengan konsentrasi tinggi tidak
memberikan pengaruh yang nyata baik pada proses pematangan
maupun respirasinya.
2.

Suhu yang lebih tinggi dari 35 0C, buah tidak memproduksi etilen.
S u h u optimum untuk produksi dan aktivitas etilen pada buah
tomat dan apel adalah 32 0C, sedangkan pada buah-buahan
lainnya lebih rendah.

3.

Pembentukan etilen dapat dirangsang dengan adanya kerusakan


mekanis dan infeksi, misalnya memarnya buah karena jatuh atau
memar dan lecet dalam pengangkutan buah.

4. Penggunaan sinar radioaktif dapat merangsang pembentukan etilen.


Selain dampak yang menguntungkan, gas etilen memiliki dampak
yang jika kekurangan ataupun berlebihan, yaitu (Abidin, 1985) :
1. Mempercepat senensen dan menghilangkan warna hijau pada buah
seperti mentimun dan sayuran daun.
2. Mempercepat pemasakan buah selama penanganan dan penyimpanan.
3. Pembentukan rasa pahit pada wortel.
4. Pertunasan kentang.
5. Gugurnya daun (kol bunga, kubis, tanaman hias).
6. Pengerasan pada asparagus.
7. Mempersingkat masa simpan dan mengurangi kualitas bunga.
8. Gangguan fisiologis pada tanaman umbi lapis yang berbunga.
9. Pengurangan masa simpan buah dan sayuran.
Pematangan buah merupakan suatu variasi dari proses penuaan
melibatkan

konversi

pati

atau

asam-asam

organik

menjadi

gula,

pelunakan dinding-dinding sel, atau perusakan membran sel yang


berakibat pada hilangnya cairan sel sehingga jaringan mengering. Tiaptiap kasus, pematangan buah distimulasi oleh gas etilen yang berdifusi ke
dalam ruang-ruang antarsel buah. Gas tersebut juga dapat berdifusi

melalui udara dari buah satu ke buah lainnya, sebagai contoh satu buah
apel ranum akan mampu mematangkan keseluruhan buah dalam satu lot.
Buah akan matang lebih cepat jika buah tersebut disimpan di dalam
kantung plastik yang mengakibatkan gas etilen terakumulasi. Skala
komersial dalam berbagai macam buah misalnya tomat sering dipetik
ketika masih dalam keadaan hijau dan kemudian sebagian dimatangkan
dengan mengalirkan gas etilena (Abidin, 1985).
Proses pematangan buah meliputi dua proses yaitu :
1.

Etilen mengatur pematangan buah dengan mengkoordinasikan


ekspresi gen yang bertanggung jawab untuk berbagai proses,
termasuk kenaikan respirasi, autokatalitik produksi etilena, perubahan
warna, tekstur, aroma dan rasa (Dhillon and Mahajan, 2011).

2.

Kandungan protein meningkat karena etilen telah merangsang


sintesis

protein.

pematangan

Protein

buah

yang

karena

terbentuk

akan

terlibat

meningkatkan

dalam

proses

enzim

yang

menyebabkan respirasi klimakterik (Wereing dan Philips, 1970).


Selama

proses

pemasakan

buah

pisang

akan

mengalami

perubahan sifat fisik dan kimiawi, antara lain adalah: perubahan tekstur,
aroma dan rasa, kadar pati dan gula (Fantastico, 1986). Tekstur buah
ditentukan

oleh

senyawa-senyawa

pektin

dan

selulosa.

Selama

pemasakan buah menjadi lunak karena menurunnya jumlah senyawa


tersebut. Selama itu jumlah protopektin yang tidak larut berkurang
sedang jumlah pektin yang larut menjadi bertambah. Menurut Palmer
(1981), jumlah selulosa buah pisang yang baru dipanen adalah 23% dan
selama pemasakan buah jumlahnya akan berkurang. Rasa manis setelah
buah masak, ditentukan oleh adanya gula hasil degradasi pati yang
menjadi gula yang lebih sederhana yaitu sukrosa, glukosa, dan fruktosa
(Palmer, 1981). Daging buah yang masih mentah memiliki rasa sepat
yang disebabkan oleh senyawa tanin. Selama proses pemasakan buah
rasa sepet berangsur-angsur kurang, hal ini disebabkan kandungan tanin
aktif menurun pada buah yang masak (Stover, 1987).
Timbulnya aroma yang khas pada buah pisang disebabkan
terbentuknya senyawa kompleks dari senyawa yang mudah menguap
dan beberapa minyak esensial yang ada. Disamping timbulnya aroma
terbentuk juga gula selama pemasakan buah. Bertambahnya senyawa
mudah menguap pada saat pemasakan buah pisang sangat erat

hubungannya dengan pembentukan aroma buah pisang (Stover, 1987).


Komponen penyusun aroma pada buah pisang adalah isoamil asetat,
amil asetat, amil propionat, amil butirat, heksil asetat, metil asetat,
pentanol, butil alkohol, amil alkohol, dan heksil alkohol (Hulme, 1981).
Sebagian besar zat padat dalam buah adalah karbohidrat. Karbohidrat
utama jaringan tanaman yang tidak ada hubungannya dengan dinding sel
adalah senyawa pati. Pati terdapat dalam plastida intraseluler atau
granula yang mempunyai ukuran dan bentuk khusus. Metabolisme pati
mempunyai peran yang penting pada proses pemasakan buah. Selama
periode pasca panen, pati dapat diubah menjadi gula sederhana seperti
sukrosa, glukosa, dan fruktosa. Penyimpanan pada suhu rendah, akan
mengakibatkan terjadinya akumulasi gula adalah akibat dari aktivitas
enzim.
Perubahan kadar pati dan penambahan kadar gula merupakan sifat
yang menonjol dalam proses pemasakan buah pisang, saat pemanenan
buah, pisang sudah mengandung pati sekitar 2030% berat basah. Pada
akhir pemasakan buah, hampir semua pati terhidrolisis menjadi gula
sederhana hanya tinggal 12% saja. Kandungan gula pada buah pisang
yang masih muda hanya sekitar 2% tetapi setelah masak meningkat
menjadi 1520%. Pada waktu kandungan pati menurun, kandungan
sukrosa akan naik, dan sukrosa yang terbentuk akan dipecah menjadi
glukosa dan fruktosa. Glukosa yang terbentuk akan digunakan untuk
proses respirasi atau diubah menjadi senyawa lain (Winarno, 1979).
Menurut batas konsentrasi etilen yang biasa digunakan yaitu 30
cc/liter air dan jenis etilen berdasarkan konsenterasinya dibedakan
menjadi tiga bentuk yaitu padat, cair dan gas. Ethrel merupakan salah
satu jenis dari hormon dengan bentuk cair dengan konsenterasi dibawah
50% yang berperan untuk membantu mempercepat pematangan buah,
apabila konsentrasi yang digunakan terlalu rendah maka efek dari ethrel
itu sendiri akan rendah sehingga tidak begitu berdampak kepada
pematangan buah, karena pematangan buah itu dibantu oleh ethrel
tersebut. Jenis lain dari hormon pemasakan buah lainnya adalah bentuk
padat dengan konsenterasi diatas 50% contohnya yaitu karbit yang
umum dikenal oleh masyarakat, walaupun berbentuk padat namun
sebenarnya ketika bereaksi terhadap obejek dan terjadi reaksi kimia
maka akan membentuk gas-gas, fungsi seperti ethrel. Bentuk lainnya

adalah gas, contohnya gas etilen dengan konsenterasi dibawah 10%,


umumnya kerja etilen mampu memecahkan klorofil pada buah yang
masih muda hingga mengakibatkan merah atau orange, karna klorofil
telah tereduksi oleh gas etilen. Akibat kelebihan etilen akan menghalangi
pertumbuhan

tanaman

(menghambat

pemanjangan

tanaman),

menghambat pertumbuhan dan perkembangan akar, daun, batang dan


bunga (Andre, 2012).

V. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa:
1. Semakin tinggi konsentrasi etilen maka semakin cepat pula proses
pemasakan buah tertentu.
2. Perendaman buah dalam etilen dengan konsentrasi yang cukup tinggi
dapat mempercepat proses pemasakan buah.
3. Selama proses pematangan buah terjadi perubahan warna, tekstur,
aroma dan rasa.
B. Saran
Saran untuk praktikum selanjutnya agar praktikan lebih memahami
penjelasan asisten serta mencatat hal-hal penting dari penjelasan
tersebut secara lengkap, kemudian mengamati setiap perkembangan dari
preparat uji agar secara detail agar mengetahui perbedaan yang terjadi
secara baik.

DAFTAR REFERENSI
Abidin, Z. 1985. Dasar-dasar Pengetahuan Tentang Zat Pengatur Tumbuh.
Angkasa, Bandung.
Andre, Veliarry. 2012. Kelebihan dan Kekurangan Hormon pada Tanaman.
Grammedia, Jakarta.
Anderson, J.W., J. Beardall. 1991. Molecular Activities of Plant Cell An
Introduction to Plant Biochemistry. Oxford University, England.
Ayu, A. P. 2011. Kajian Pola Penyerapan Etilen dan Oksigen untuk
Penyimpanan Buah Segar. IPB, Bogor.
Dhillon W. S., and Mahajan B. V. C. 2011. Ethylene and Ethephon Induced
Fruit Ripening in Pear. Journal of Stored Products and Postharvest
Research, 2(3), pp. 45-51.
Fantastico. 1986. Fisiologi Pasca Panen. Gajah Mada University Press,
Yogyakarta.
Hall, J.L. 1984. Plant Cell Structure and Metabolism. Language Book
Society, England.
Heddy, S. 1989. Hormon Tumbuhan. CV Rajawali, Jakarta.
Hulme, W. 1981. Pectic Substance and Other Uronides. The Biochemistry
of Fruit and Their Product. Academic Press, London.
Julianti, Eka. 2011.Pengaruh Tingkat Kematangan dan Suhu Penyimpanan
Terhadap Mutu Buah Terong Belanda (Cyphomandra betacea).
Jurnal Hortikultura Indonesia 2(1):14-20.
Nogge, G. R. and G. J. Fritz. 1989. Plant Physiology. Prentice Hall Inc, New
Delhi.
Palmer, J.K. 1981. The Banana. The Biochemistry of Fruits and Their
Produc Vol 2. Academic Press, New York.
Purba, M. 1996. Ilmu Kimia. Erlangga, Jakarta.
Ridhyanty, Shahila P., Elisa J., dan Linda M.L. 2015. Pengaruh Pemberian
Ethepon Sebagai Bahan Perangsang Pematangan terhadap Mutu
Buah Pisang Barangan (Musa paradisiaca L.). Jurnal Rekayasa
Pangan dan Pertanian, 3(1), pp. 1-13.
Sinay, M. 2008. Kontrol Pemasakan Buah Tomat menggunakan RNA
Antisense. UGM press, Yogyakarta.
Smith, A.W.J., S. Poulston, L. Rowsell, L.A. Terry, J.A. Anderson. 2009. A
new palladium-based ethylene scavenger to control ethyleneinduced ripening of climacteric fruit. Platinum Metals Rev., 53(3),
pp. 112122.

Stover, R.H. and N.W. Simmons. 1987. Bananas 3rd. Longmans Group U.K.
Ltd, Singapore.
Sumarjono, H. 1981. Masalah Jenis Tanaman Buah. CV. Sinar Biru, Bogor.
Wereing, D.F and I. D.J. Phillips. 1970. The Control of Growth and
Differentation in Plants. Pergamon Press, New York.
Winarno, F.G. dan Moehammad A. 1979. Fisiologi Lepas Panen. Sastra
Hudaya, Institut Pertanian Bogor.
Zimmermar, P.W. 1961. Plant Growth Regulation. The Lowa State
University Press, USA.