Anda di halaman 1dari 6

Pendahuluan

Dalam mengkaji Islam, salah satu unsur yang sangat penting digunakan sebagai
pendekatan adalah ilmu ushul Fiqih, yaitu ilmu yang mempelajari kaidah-kaidah yang dijadikan
pedoman dalam menetapkan hukum-hukum syariat yang bersifat amaliyah, yang diperoleh
melalui dalil-dalil secara rinci. Melalui kaidah-kaidah ushul fiqih akan diketahui nash-nash
syara dan hukum-hukum yang ditunjukkannya. Dengan ushul fiqih dapat dicarikan solusi untuk
menyelesaikan dalil-dalil yang kelihatannya kontradiksi satu sama lain. Dengan adanya
perangkat ushul fiqih maka syariat Islam akan membuktikan dirinya sebagai syariat yang akan
berlaku sepanjang masa, dan tidak akan hilang ditelan zaman.
Diantara kaidah-kaidah ushul fiqih yang penting diketahui adalah lafal
mutlaq, muqayyad, muradif dan musytarak yang akan dibahas lebih lanjut dalam makalah ini.

1.

1.
2.
3.

2.

Pembahasan
Mutlaq Dan Muqayyad
Pengertian Mutlaq
Secara bahasa kata mutlaq berarti bebas tanpa ikatan, dan kata muqayyad berarti terikat.
[1] Dalam memberikan definisi kepada mutlaq terdapat rumusan yang berbeda, namun saling
berdekatan. Dibawah ini merupakan definisi beberapa ahli:
Muhammad al-Khudhari Beik:
Mutlak ialah lafaz yang memberi petunjuk terhadap satu atau beberapa satuan yang mencakup
tanpa ikatan yang terpisah secara lafzi.
Al-Amidi:
Lafaz yang memberi petunjuk kepada madlul (yang diberi petunjuk) yang mencakup dalam
jenisnya.
Ibn Subki:
Mutlak adalah lafaz yang member petunjuk kepada hakikat sesuatu tanpa ada ikatan apa-apa.
[2]
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan maksudnya lafal tersebut masih dalam keadaan asli
dan bebas dari pengaruh hal-hal yang lain.
Contohnya:
Kata N3r& dalam ayat:
Nn=s (#rgrB [!$tB (#qJJutFs #Y| $Y7hs (#qs|B$$s
N3dq_q/ N3r&ur
Artinya: Apabila kamu tidak menemukan air, Maka bertayamumlah kamu dengan tanah
yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu dengan debu itu. (QS. An-Nisa : 43)
Mengusap tangan dengan debu, dalam ayat ini tidak dibatasi dengan sifat syarat dan
sebagainya, artinya tidak diterangkan sampai di mana, apakah semuanya diusap atau sebagainya.
Yang jelas dalam tayamum itu harus mengusap tangan dengan debu.
Karena perkataan ( tangan) ini tidak dibatasi sampai dimana yang harus diusap, maka
bagian yang diusap adalah bagian mana saja asalkan bagian tangan. Karena itu disebut mutlaq.
[3]
Pengertian Muqayyad
Muqayyad atau Al-Muqayyad ialah lafal yang menunjukkan arti yang sebenarnya dengan
dibatasi oleh sesuatu hal dari batas-batas tertentu.[4] Batas tertentu itu disebut Al-Qaid.
Contohnya:
N3tr&ur n<) ,#tyJ9$#

Yang artinya basuhlah tanganmu sampai siku-siku. Ayat ini menerangakan soal wudhu, yaitu
harus membasuh muka dan tangan sampai siku-siku. Di sini jelaslah bahwa lafal N3t
r& ini disebut muqayyad (dibatasi) sedangkan lafal disebut al-qaid yang
kadang-kadang disebut Qaid.
3. Hukum Lafal Mutlak Dan Muqayyad
Apabila ada suatu lafal, di satu tempat berbentuk mutlaq sedangkan pada tempat lain
berbentuk muqayyad, maka ada empat kemungkinan dari ketentuan tersebut.
a. Persamaan Sebab dan Hukum
Apabila kedua lafal itu bersamaan dalam sebab dan hukumnya, maka salah satunya harus
diikutkan pada yang lain, yakni muqayyad. Artinya lafal mutlaq tadi jiwanya sudah tidak mutlaq
lagi karena ia harus tunduk kepada yang muqayyad, dan harus diartikan secara muqayyad. Jadi,
kedua lafal tadi sekalipun berbeda dalam bentuknya namun sama saja cara mengartikannya. Oleh
karena itu yang muqayyad merupakan penjelasan yang mutlaq.[5]
Contoh lafal: 5Q$r& psWn=rO yang artinya tiga hari. Dalam ayat
$r& psWn=rO gs P$usO9`yJs
Artinya: Maka barang siapa yang tidak mendapatkannya hendaklah puasa tiga hari. (QS. AlMaidah: 89)
Menurut bacaan mutawatir, lafal di atas bentuknya mutlaq. Tetapi menurut
bacaan syadzah lafal di atas bentuknya muqayyad (bacaan Ubbaid bin Kaab dan Ibnu Masud)
ayat itu berbunyi,
$r& psWn=rO gs P$us
Artinya: Hendaklah puasa tiga hari berturut-turut.
Jadi, dibatasi dengan kata-kata berturut-turut (mutatabiat).
Karena kedua bacaan tadi bersamaan sebab dan hukumnya, maka qiraat mutawatir di atas
harus diikuti (disesuaikan) dengan qiraat syadzah, cara mengartikannya disamakan dengan
qiraat syadzah, hendaklah berpuasa tiga hari berturut-turut, jadi dalam qiraat mutawatir harus
juga dibatasi dengan berturut-turut. Jadi karena keduanya sama hukumnya, yaitu wajib puasa dan
sama sebabnya karena kafarat sumpah. Walaupun di dalam mushaf tidak disebutkan (mutatabiat)
tetapi cara mengartikannya haruslah berturut-turut sesuai dengan qiraat syadz.[6]
b. Sebabnya berbeda tetapi hukumnya sama
Apabila dua lafal berbeda dalam sebab, tetapi tidak berbeda dalam hukum (persamaan hukum)
maka bagian ini diperselisihkan antara ulama ushul. Menurut sebagian ulama, yang mutlaq harus
diikutkan kepada yang muqayyad, sedangkan ulama yang lain mengatakan bahwa yang mutlaq
tetap pada kemutlaqannya.
Contohnya pada perkataan yang artinya budak. Lafal ini bentuknya mutlaq dalam ayat
t%!$#ur tbrgs `B Nk!$|pS NO tbrqt $yJ9(#q9$s%
..stGs 7pt7s%u `iB @6s% br& $!$yJtFt 4
Artinya: Dan orang-orang yang bersumpah ziahar kemudian menarik kembali apa yang
diakatakannya, maka wajiblah memerdekakan budak sebelum keduanya berkumpul. (QS.
Al_Mujadilah: 3)
Pada ayat lain dalam surat An-Nisa disebutkan dengan bentuk muqayyad ( budak
yang mukmin) dalam ayat
b*s c%x. `B BQqs% 5irt N39 uqdurBsB stGs .4
7pt6s%u 7poYBsB ....

Artinya: Barang siapa yang membunuh orang mukmin dengan tersalah, maka wajiblah
memerdekakan budak yang mukmin. (QS. An-Nisa: 92)
Dalam ayat pertama, yang menjadi sebab seseorang harus memerdekakan budak ialah karena
bersumpah zhihar, sedangkan pada ayat kedua karena membunuh dengan tidak sengaja. Jadi,
berbeda dalam sebabnya.
Meskipun berlainan dalam sebabnya, tetapi hukumnya bersamaan, yaitu sama-sama harus
memerdekakan budak. Dalam ayat yang pertama bentuknya mutlaq karena hanya
disebut ( budak) sedangkan dalam ayat kedua bentuknya muqayyad karena disebut
( budak yang mukmin). Jadi, kalau yang mutlaq diikutkan kepada muqayyad, maka yang
dimaksud budak dalam ayat yang pertama itu ialah budak-budak yang mukmin (harus mukmin).
Namun, jika tidak diikutkan, berarti yang mutlaq tetap pada kemutlaqannya, maka dalam sumpah
zhihar, budak yang dimerdekakan tidak harus mukmin, sedangkan dalam soal membunuh dengan
tidak sengaja budak yang dimerdekakan haruslah yang mukmin.[7]
c. Perbedaan hukum dan sebabnya.
Dalam hal ini masing-masing mutlaq dan muqayyad tetap pada tempatnya sendiri.[8] Maka
yang mutlaq tidak boleh diikutkan kepada muqayyad. Misalnya, dalam hal saksi diharuskan adil,
sedangkan dalam hal membunuh dengan tidak sengaja diharuskan memerdekakan budak.
Keduanya berlainan hukum dan sebabnya, yang satu diharuskan adil (muqayyad), dan yang lain
diharuskan memerdekakan budak (mutlaq). Yang satu soal saksi dan yang lain soal pembunuhan,
maka jelaslah persoalannya. Karena itu, tidak boleh diikutkan satu dengan yang lain, artinya
dalam hal budak tidak harus budak yang adil sebagaimana dalam hal saksi.[9]
d. Hukum berbeda tetapi sebabnya sama
Dalam hal ini masing-masing mutlaq dan muqayyad tetap menempati tempatnya sendiri.
Contoh mutlaq yang artinya: Tayamum ialah sekali mengusap debu untuk muka dan kedua
tangan. (HR. Ammar)
Contoh muqayyad yang artinya: Basuhlah mukamu dan tanganmu sampai siku-siku. (QS.
Al-Maidah: 6)
Ayat 6 Al-Maidah tersebut yang muqayyad tidak bisa menjadi penjelasan hadis yang mutlaq,
karena berbeda hukum yang dibicarakan, yaitu wudhu pada ayat 6 Al-Maidah, dan tayamum
pada hadis meskipun sebabnya sama yaitu hendak shalat atau karena hadas (tidak suci).[10]
Muradif Dan Musytarak
1. Pengertian lafal Muradif
Muradif ialah lafalnya banyak sedangkan artinya adalah sama (sinonim), misalnya lafal asad
dan allits (artinya singa), himtah dan qamhu (artinya gandum).[11]
2. Hukum Lafal Muradif
Meletakkan lafal muradif di tempat lafal lainnya, diperbolehkan apabila tidak ada halangan
dari syara. Pendapat lain mengatakan: meletakkan lafal muradif di tempat lainnya,
diperbolehkan asal masih satu bahasa.[12]
Tentang lafal muradif tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama bahwa lafal yang
satu dapat menempati tempat yang lain selama tidak mengubah makna dan tidak ada larangan
syara untuk mempergunakannya.[13]
Perbedaan pendapat tersebut hanya mengenai lafal selain Al-Quran yaitu zikir-zikir dalam
ayat dan lafal-lafal lainnya. Imam Malik mengatakan, tidak boleh membaca takbir kecuali
dengan lafalAllahuakbar. Demikian pula pendapat Imam Syafii. Sedangkan Imam Abu Hanifah
memperbolehkan takbir dengan lafal yang sama artinya dengan Allahuakbar seperti Allah Al-

Adzam atau Allah Al-Ala atauAllah Al-Ajall. Perbedaan pendapat ini adalah disebabkan apakah
kita beribadah dengan lafalnya atau maknanya.[14]
3. Pengertian dan Hukum Lafal Musytarak
Lafal Musytarak menurut Abdul Wahab Khallaf ialah lafal yang mempunyai dua arti atau
lebih dengan kegunaan yang banyak yang dapat menunjukkan kepada artinya secara bergantian,
maksudnya ialah bahwa lafal itu bisa menunjukkan arti ini atau arti itu.[15] Seperti
lafal yang menurut bahasa bisa berarti: mata, sumber mata air dan mata-mata.
Contoh lafal Musytarak yang mempunyai dua arti:
tRq=tour `t syJ9$# ( @% uqd ]r& (#q9tI$$s
.... u!$|iY9$# syJ9$# ( wur `dq/t)s? 4Lymtbgt

4.
1.

2.
3.
4.

Artinya: "Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: "Haid itu adalah suatu
kotoran". oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan
janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci.... (QS. Al-Baqarah: 222)
Kata suci dalam ayat ini dapat diartikan berhenti dari haid atau berhenti dari haid dan sudah
mandi wajib.
Contoh lafal musytarak yang mempunyai tiga arti:
. #$b)ur c%x. @_u ^uq 's#n=2 rr& or&tB
Artinya: Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan
ayah dan tidak meninggalkan anak,. (QS. Al-Baqarah: 222)
Kata kalalah dalam ayat ini mempunyai tiga arti; orang yang meninggalkan anak tetapi tidak
mempunyai ayah, tidak meninggalkan anak dan juga tidak meninggalkan ayah dan orang tidak
meninggalkan keluarga jurusan anak dan jurusan ayah. Namun yang dimaksud dalam ayat ini
ialah orang yang meninggalkan anak, tetapi tidak meninggalkan ayah.[16]
Mengenai hukum lafal musytarak, diatas telah dikemukakan bahwa lafal musytarak
mempunyai dua arti, arti yang diambil hanya satu. Kalau disebabkan perbedaan antara bahasa
dan arti syara, arti syara-lah yang dipakai dan kalau disebutkan perbedaan antara arti hakiki dan
majazai, arti hakiki yang dipakai.
Sebab-sebab Timbulnya Lafal Musytarak
Burhanuddin dalam bukunya Fiqih Ibadah menjelaskan diantara faktor-faktor yang
menyebabkan timbulnya lafal-lafal musytarak tersebut diantaranya ialah:
Bermacam-macam suku bangsa Arab terdiri dari dua golongan Adnan dan Qathan. Masingmasing golongan ini terdiri dari suku yang bermacam-macam dan dusun yang berpencar-pencar
yang berbeda-beda tempat dan lingkungannya. Terkadang suatu suku membuat nama untuk suatu
pengertian. kemudian suku lain menggunakan nama tersebut untuk suatu pengertian lainnya yang
tidak dimaksud oleh suku pertama. Bahkan kadang-kadang antara kedua pengertian itu tidak ada
kaitannya. Hal ini menyebabkan adanya satu kata mempunyai dua arti.
Satu lafal mempunyai arti tertentu, namun dipindahkan maknanya ke arti lain kemudian arti
aslinya dilupakan orang.
Asal suatu lafal untuk maksud kemudian dipergunakan untuk arti lain yang ada hubungannya
dengan arti asli, tetapi lama-kelamaan hubungan itu dilupakan sehingga lafal itu digunakan untuk
dua arti.
Satu lafal dipergunakan untuk arti tertentu dan menurut isyarat nash dipindahkan ke arti yang
lain yang kemudian dipergunakan oleh orang lain tanpa mengetahui arti aslinya. Kemudian
penggunaannya semakin meluas, bahkan kadang-kadang arti asli itu dilupakan orang.[17]
Kesimpulan

Secara bahasa kata mutlaq berarti bebas tanpa ikatan, dan kata muqayyad berarti terikat.
Dalam memberikan definisi mutlaq, Muhammad al-Khudhari Beik menyatakan bahwa mutlak
ialah lafaz yang memberi petunjuk terhadap satu atau beberapa satuan yang mencakup tanpa
ikatan yang terpisah secara lafzi. Misalnya kata basuhlah tanganmu. Hal ini tidak ada yang
membatasi, apa harus sampai siku-siku atau seluruh tangan.Muqayyad atau Al-Muqayyad ialah
lafal yang menunjukkan arti yang sebenarnya dengan dibatasi oleh sesuatu hal dari batas-batas
tertentu. Misalnya kata basuhlah tanganmu sampai siku-siku. Hal ini ada yang membatasi,
yaitu siku-siku. Sedangkan hukum lafal mutlaq dan muqayyad ialah apabila di suatu tempat
berbentuk mutlaq sedangkan pada tempat lain berbentuk muqayyad, maka ada empat
kemungkinan dari ketentuan tersebut: persamaan sebab dan hukum, sebabnya berbeda tetapi
hukumnya sama, perbedaan hukum dan sebabnya, dan hukum berbeda tetapi sebabnya sama.
Muradif ialah lafalnya banyak sedangkan artinya adalah sama (sinonim), misalnya lafal
asad dan allits (artinya singa), himtah dan qamhu (artinya gandum).
Hukum lafal muradif ini adalah diperbolehkan apabila tidak ada halangan dari syara.
Pendapat lain mengatakan: meletakkan lafal muradif di tempat lainnya, diperbolehkan asal masih
satu bahasa. Lafal yang mempunyai dua arti atau lebih dengan kegunaan yang banyak yang dapat
menunjukkan kepada artinya secara bergantian, maksudnya ialah bahwa lafal itu bisa
menunjukkan arti ini atau arti itu. Seperti lafal yang menurut bahasa bisa berarti: mata,
sumber mata air dan mata-mata.
Faktor utama yang menyebabkan timbulnya lafal-lafal musytarak tersebut ialah, suku
bangsa Arab yang terdiri dari dua golongan yaitu Adnan dan Qathan. Masing-masing golongan
ini terdiri dari suku yang bermacam-macam dan dusun yang berpencar-pencar yang berbedabeda tempat dan lingkungannya. Terkadang suatu suku membuat nama untuk suatu pengertian.
kemudian suku lain menggunakan nama tersebut untuk suatu pengertian lainnya yang tidak
dimaksud oleh suku pertama. Bahkan kadang-kadang antara kedua pengertian itu tidak ada
kaitannya. Hal ini menyebabkan adanya satu kata mempunyai dua arti.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin dan A. Faisal Haq, Miftahul, Ushul Fiqh: Kiaidah-kaidah Penetapan Hukum Islam, Cet. I,
Surabaya: Citra Media, 1997.
Burhanudin, Fiqih Ibadah, Cet. I, Bandung: CV. Pustaka Setia, 2001.
Efendi Dan M. Zein, Satria, Ushul Fiqh, Cet. II, Jakarta: Kencana, 2005.
Karim, SyafiI, Fiqih-Ushul Fiqih, Cet. II, Bandung: Pustaka Setia, 2001.
Syarifudin, Amir, Ushul Fiqih, Jilid 2, Cet. 5, Jakarta: Kencana, 2008.
Uman dan A. Ahyar Aminudin, Khairul, Ushul Fiqih II, Cet. II, Bandung: Pustaka Setia, 2001.

[1]Satria Efendi, M. Zein, Ushul Fiqh, Cet. II, Jakarta: Kencana, 2005, h. 206.
[2]Amir Syarifudin, Ushul Fiqih, Jilid 2, Cet. 5, Jakarta: Kencana, 2008, h. 121-122.
[3]Khairul Uman dan A. Ahyar Aminudin, Ushul Fiqih II, Cet. II, Bandung: Pustaka Setia, 2001, h. 96.
[4]Ibid., h. 97.
[5]Ibid., h. 99.
[6]Ibid., h. 100.
[7]Ibid.
[8]Syafii Karim, Fiqih-Ushul Fiqih, Cet. II, Bandung: Pustaka Setia, 2001, h. 173.

[9]Ibid.
[10]Ibid., h. 174-175.
[11]Ibid., h. 195
[12]Ibid.
[13]Burhanudin, Fiqih Ibadah, Cet. I, Bandung: CV. Pustaka Setia, 2001, h. 227.
[14]Syafii Karim, Fiqih-Ushul Fiqih,, h. 195.
[15]Miftahul Arifin dan A. Faisal Haq, Ushul Fiqh: Kiaidah-kaidah Penetapan Hukum Islam, Cet. I,
Surabaya: Citra Media, 1997, h. 204.
[16]Ibid.
[17]Burhanudin, Fiqih Ibadah, Cet. I, Bandung: CV. Pustaka Setia, 2001, h. 229.