Anda di halaman 1dari 15

REFERAT

PENATALAKSANAAN NYERI PADA LUKA BAKAR

Oleh
Ryan Prasdinar Pratama Putra
H1A010027

Pembimbing
dr. H. Sulasno, Sp.An

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA


BAGIAN/SMF ANESTESI DAN REANIMASI
RUMAH SAKIT UMUM PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM
2014
0

Penatalaksanaan Nyeri pada Luka Bakar


Pendahuluan
Luka bakar merupakan cedera yang cukup sering dihadapi para dokter. luka bakar berat
menyebabkan morbiditas dan derajat cacat yang relatif tinggi dibandingkan dengan cedera oleh
sebab lain. Di Amerika Serikat, kurang lebih 250.000 orang mengalami luka bakar setiap
tahunnya. dari angka tersebut 112.000 penderita luka bakar membutuhkan tindakan emergensi,
dan sekitar 210 penderita luka bakar meninggal dunia. Di Indonesia, belum ada angka pasti
mengenai luka bakar, tetapi dengan bertambahnya jumlah penduduk serta industri, angka luka
bakar tersebut semakin meningkat.1
Luka bakar menyebabkan hilangnya integritas kulit dan juga menimbulkan efek sistemik
yang sangat kompleks. Luka bakar biasanya dinyatakan dengan derajat yang ditentukan oleh
kedalaman luka bakar. Beratnya luka bergantung pada dalam, luas dan letak luka. Selain
beratnya luka bakar, umur dan keadaan kesehatan penderita sebelumnya merupakan faktor yang
sangat mempengaruhi prognosis.1
Patofisiologi
Kulit adalah organ terluar tubuh manusia dengan luas 0,025 m2 pada anak baru lahir
sampai 1 m2 pada orang dewasa. Respon inflamasi lokal dan sistemik terhadap luka bakar sangat
kompleks, sehingga baik kerusakan jaringan terbakar secara lokal dan efek sistemik terjadi pada
semua sistem organ lain yang jauh dari daerah terbakar itu sendiri. Sebagian besar perubahan
lokal dan tentu saja mayoritas perubahan luas disebabkan oleh mediator inflamasi. Luka bakar
yang menginisiasi reaksi inflamasi sistemik memproduksi racun dan radikal oksigen dan
akhirnya menyebabkan peroksidasi. Jaringan terluka menginisiasi suatu inflammation-induced
hyperdynamic, hypermetabolic yang dapat menyebabkan kegagalan organ progresif yang parah.1
Apabila kulit terbakar atau terpajan suhu tinggi, pembuluh kapiler di bawahnya, area
sekitarnya dan area yang jauh sekali pun akan rusak dan menyebabkan permeabilitasnya
meningkat. Terjadilah kebocoran cairan intrakapiler ke interstisial sehingga terjadi oedem dan
bula yang mengandung banyak elektrolit. Rusaknya kulit akibat luka bakar akan mengakibatkan
hilangnya fungsi kulit sebagai barier dan penahan penguapan.1
1

Kedua penyebab di atas dengan cepat menyebabkan berkurangnya cairan intravaskular.


Pada luka bakar yang luasnya kurang dari 20%, mekanisme kompensasi tubuh masih bisa
mengatasinya. Bila kulit yang terbakar luas (lebih dari 20%), dapat terjadi syok hipovolemik
disertai gejala yang khas, seperti gelisah, pucat, dingin, berkeringat, nadi kecil dan cepat, tekanan
arah menurun, dan produksi urin berkurang. Pembengkakan terjadi perlahan, maksimal terjadi
setelah delapan jam. Pembuluh kapiler yang terpajan suhu tinggi rusak dan permeabilitas
meninggi. Sel darah yang ada di dalamnya ikut rusak sehingga dapat terjadi anemia.1
Pada kebakaran dalam ruang tertutup atau bila luka terjadi di wajah, dapat terjadi
kerusakan mukosa jalan napas karena gas, asap atau uap panas yang terhirup. Udem laring yang
ditimbulkannya dapat menyebabkan hambatan jalan napas dengan gejala sesak napas, takipnea,
stridor, suara parau, dan dahak berwarna gelap akibat jelaga. Dapat juga terjadi keracunan gas
CO atau gas beracun lainnya. Karbonmonoksida sangat kuat terikat dengan hemoglobin sehingga
hemoglobin tidak mampu lagi mengikat oksigen. Tanda keracunan yaitu lemas, bingung, pusing,
mual, dan muntah. Pada keracunan yang berat terjadi koma. Bila lebih dari 60% hemoglobin
terikat CO, penderita dapat meninggal.1
Setelah 12-24 jam, permeabilitas kapiler mulai membaik dan terjadi mobilisasi serta
penyerapan kembali cairan dari ruangan interstitial ke pembuluh darah yang ditandai dengan
meningkatnya diuresis. Luka bakar umumnya tidak steril. Kontaminasi pada kulit mati yang
merupakan medium yang baik untuk pertumbuhan kuman, akan mempermudah infeksi. Infeksi
ini sulit diatasi karena daerahnya tidak tercapai oleh pembuluh kapiler yang mengalami
trombosis. Padahal, pembuluh ini membawa system pertahanan tubuh atau antibiotik. Kuman
penyebab infeksi pada luka bakar, selain berasal dari penderita sendiri, juga dari kontaminasi
kuman saluran napas atas dan kontaminasi kuman di rumah sakit. Infeksi nosokomial biasanya
sangat berbahaya karena kumannya banyak yang sudah resisten terhadap berbagai antibiotik.1
Pada awalnya, infeksi biasanya disebabkan oleh kokus Gram positif yang berasal dari
kulit sendiri atau dari saluran napas, tetapi kemudian dapat terjadi invasi kuman Gram negatif.
Pseudomonas aeruginosa yang dapat menghasilkan eksotoksin protease dan toksin lain yang
berbahaya, terkenal sangat agresif dalam invasinya pada luka bakar. Infeksi pseudomonas dapat
dilihat dari warna hijau pada kasa penutup luka bakar. Kuman memproduksi enzim penghancur
keropeng yang bersama dengan eksudasi oleh jaringan granulasi yang membentuk nanah.1
Infeksi ringan dan noninvasive (tidak dalam) ditandai dengan keropeng yang mudah
2

terlepas dengan nanah yang banyak. Infeksi yang invasive ditandai dengan keropeng yang kering
dan perubahan jaringan di tepi keropeng yang mula-mula sehat menjadi nekrotik; akibatnya, luka
bakar yang mula-mula derajat dua menjadi derajat tiga. Infeksi kuman menimbulkan vaskulitis
pada pembuluh kapiler di jaringan yang terbkaar dan menimbulkan trombosis.1
Bila penderita dapat mengatasi infeksi, luka bakar derajat dua dapat sembuh dengan
meninggalkan cacat berupa parut. Penyembuhan ini dimulai dari sisa elemen epitel yang masih
vital, misalnya sel kelenjar sebasea, sel basal, sel kelenjar keringat, atau sel pangkal rambut.
Luka bakar derajat dua yang dalam mungkin meninggalkan parut hipertrofik yang nyeri, gatal,
kaku, dan secara estetik sangat jelek. Luka bakar derajat tiga yang dibiarkan sembuh sendiri akan
mengalami kontraktur. Bila ini terjadi di persendian; fungsi sendi dapat berkurang atau hilang.1
Pada luka bakar berat dapat ditemukan ileus paralitik. Pada fase akut, peristaltik usus
menurun atau berhenti karena syok. Juga peristaltis dapat menurun karena kekurangan ion
kalium. Stres atau beban faali serta hipoperfusi daerah splangnikus pada penderita luka bakar
berat dapat menyebabkan terjadinya tukak di mukosa lambung atau duodenum dengan gejala
yang sama dengan gejala tukak peptik. Kelainan ini dikenal sebagai tukak Curling atau stress
ulcer. Aliran darah ke lambung berkurang, sehingga terjadi iskemia mukosa. Bila keadaan ini
berlanjut, dapat timbul ulkus akibat nekrosis mukosa lambung. Yang dikhawatirkan pada tukak
Curling ini adalah penyulit perdarahan yang tampil sebagai hematemesis dan/atau melena.1
Fase permulaan luka bakar merupakan fase katabolisme sehingga keseimbangan protein
menjadi negatif. Protein tubuh banyak hilang karena eksudasi, metabolisme tinggi, dan mudah
terjadi infeksi. Penguapan berlebihan dari kulit yang rusak juga memerlukan kalori tambahan.
Tenaga yang diperlukan tubuh pada fase ini terutama didapat dari pembakaran protein dari otot
skelet. Oleh karena itu, penderita menjadi sangat kurus, otot mengecil, dan berat badan menurun.
Kecacatan akibat luka bakar bisa sangat hebat, terutama bila mengenai wajah. Penderita mungkin
menglami beban kejiwaan berat akibat cacat tersebut, sampai bisa menimbulkan gangguan jiwa
yang disebut schizophrenia postburn.1
Nyeri pada luka bakar terjadi segera setelah kulit terbakar yang disebabkan oleh stimulus
langsung dan kerusakan pada nosiseptor yang ada di epidermis dan dermis yang selanjutnya akan
memicu terjadinya transmisi stimulus nyeri melalui serabut saraf A-delta dan serabut saraf C.
Melalui kedua saraf tersebut, stimulus nyeri akan diteruskan menuju kornu posterior medulla

spinalis. Besarnya impuls nyeri ditentukan oleh banyaknya stimulus yang dibawa dari perifer dan
dipengaruhi oleh persepsi nyeri yang dibawa dari otak.2
Respon inflamasi terjadi dalam beberapa menit setelah terjadinya cedera dan memicu
terjadinya pelepasan berbagai macam bahan kimia iritatif yang selama beberapa hari kedepan
akan terus mensensitisasi dan menstimulasi nosiseptor yang ada di daerah cedera. Bagian
tersebut selanjutnya akan menjadi nyeri dan sangat sensitif terhadap rangsaangan mekanis dan
suhu, disebut sebagai hiperalgesia primer. Kemudian daerah disekitar bagian yang mengalami
cedera juga akan menjadi sensitif terhadap rangsangan mekanis yang disebut sebagai
hiperalgesia sekunder.2
Luas Luka Bakar
Luas luka bakar dinyatakan dalam persen terhadap luas seluruh tubuh. Pada orang dewasa
digunakan rumus rules of nine, yaitu luas kepala dan leher, dada, punggung, perut, pinggang
dan bokong, ekstremitas atas kanan, ekstremitas atas kiri, paha kanan, paha kiri, tungkai dan kaki
kanan, serta tungkai dan kaki kiri masing-masing 9%, sisanya 1% adalah daerah genitalia.
Rumus ini membantu untuk menaksir luasnya permukaan tubuh yang terbakar pada orang
dewasa.1
Pada anak dan bayi digunakan rumus lain karena luas relatif permukaan kepala anak lebih
besar. Karena perbandingan luas permukaan bagian tubuh anak kecil berbeda, dikenal rumus 10
untuk bayi dan rumus 10-15-20 untuk anak. Untuk anak, kepala dan leher 15%, badan depan dan
belakang masing-masing 10%, ekstremitas bawah kanan dan kiri masing-masing 15%1

Derajat Luka Bakar


Kedalaman luka bakar ditentukan oleh tingginya suhu dan lamanya pajanan suhu tinggi.
Selain api yang langsung menjilat tubuh, baju yang ikut terbakar juga memperdalam luka bakar.
Bahan baju yang paling aman adalah yang terbuat dari bulu domba (woll). Bahan sintesis seperti
nilon dan dakron selain mudah terbakar juga mudah meleleh oleh suhu tinggi lalu menjadi
lengket, sehingga memperberat kedalaman luka bakar.1
Tabel Luka Bakar berdasarkan Kedalaman Luka3

Luka bakar derajat satu hanya mengenai epidermis dan biasanya sembuh dalam 5-7 hari
misalnya tersengat matahari. Luka tampak sebagai eritema dengan keluhan rasa nyeri atau
hipersensitifitas setempat. Luka bakar derajat dua mencapai kedalaman dermis, tetapi masih ada
elemen epitel sehat yang tersisa. Elemen epitel tersebut, misalnya sel epitel basal, kelenjar
sebasea, kelenjar keringat, dan pangkal rambut. Dengan adanya sisa sel epitel ini, luka dapat
sembuh sendiri dalam dua sampai tiga minggu. Gejala yang timbul adalah nyeri, gelembung,
atau bula berisi cairan eksudat yang keluar dari pembuluh karena permeabilitas dindingnya
meninggi. Luka bakar derajat tiga meliputi seluruh kedalaman kulit dan mungkin subkutis atau
organ yang lebih dalam. Tidak ada elemen epitel hidup yang tersisa yang memungkinkan
penyembuhan dari dasar luka. Oleh karena itu untuk mendapatkan kesembuhan harus dilakukan
cangkok kulit. Kulit tampak pucat abu-abu gelap atau hitam, dengan permukaan lebih rendah
dari jaringan sekeliling yang masih sehat. Tidak ada bula dan tidak terasa nyeri.1
Diagnosis banding ditentukan dengan uji tusuk jarum. Uji dilakukan dengan menusukkan
jarum untuk menentukan apakah daerah luka bakar masih memiliki daya rasa. Bila tusukan ini
5

masih terasa artinya sensorisnya masih berfungsi dan dermis masih vital, luka tersebut bukan
derajat tiga.1
Beratnya Luka Bakar
Beratnya luka bakar biasanya dinyatakan dengan derajat yang ditentukan oleh kedalaman
luka bakar. Walaupun demikian, beratnya luka bergantung pada dalam, luas dan letak luka. Umur
dan keadaan kesehatan penderita sebelumnya akan sangat mempengaruhi prognosis. Selain
dalam dan luasnya luka bakar, prognosis dan penanganan ditentukan oleh letak luka, usia dan
keadaan kesehatan penderita. Perawatan daerah perineum, ketiak, leher dan tangan sulit, antara
lain karena mudah mengalami kontraktur, lanjut daya kompensasinya lebih rendah, maka bila
terbakar digolongkan ke dalam golongan berat.1
Tabel American Burn Association Burn Injury Severity Grading System3

Penatalaksanaan Nyeri pada Luka Bakar


Walaupun beberapa penelitian mutakhir terkini mengenai penatalaksanaan pasien dengan
luka bakar telah banyak berkembang, penatalaksaan nyeri yang tidak adekuat masih banyak
menjadi masalah yang sering dihadapi. Hal ini disebabkan baik karena kompleksnya mekanisme
nyeri yang timbul secara alamiah pada pasien maupun akibat kurangnya pelatihan terhadap
tenaga profesional.2
Kontrol yang tidak memadai terhadap nyeri dapat mengurangi kepercayaan pasien
kepada tim medis yang dapat berpengaruh negatif terhadap hasil pengobatan. Lebih jauh lagi,
mungkin akan berkontribusi terhadap berkembangnya nyeri kronis, parestesia, dan disestesia.
6

Menurut penelitian terdapat hubungan yang positif antara belum memadai hilangnya rasa sakit
yang dialami pasien dan timbulnya beberapa gangguan psikiatrik, seperti depresi dan gangguan
stres pasca trauma.2
Keberhasilan pengobatan nyeri pada luka bakar memerlukan penilaian yang hati-hati
terhadap perjalanan nyerinya, memahami jenis dan pola nyeri yang berbeda dan mengetahui
jenis terapi yang terbaik. Sebuah penilaian awal yang baik berfungsi sebagai dasar untuk
mengevaluasi hasil intervensi selanjutnya. Pendekatan multidisiplin pada pasien ini sangat
diperlukan, karena kompleksitasnya faktor yang terlibat dalam prosesnya timbul nyeri.2
Evaluasi Nyeri
Sangat penting untuk melakukan evaluasi secara terus-menerus dan berkesinambungan
terhadap pasien luka bakar khususnya terhadap perasaan nyeri yang dialami untuk membantu
memandu dalam memberikan jenis tatalaksana analgetik yang tepat dan respon terhadap oobat
yang telah tercapai. Hal-hal yang perlu dievaluasi seperti lokasi nyeri, nyeri membaik atau
memberat, tipe serta intensitas nyeri.2
Intensitas nyeri pada pasien biasanya digambarkan dengan menggunakan skala numerik
(0-10). Semakin tinggi angkanya menunjukkan semakin berat intensitas nyeri yang dirasakan
pasien. Selain menggunakan skala numerik tersebut, untuk mengevaluasi intensitas nyeri juga
dapat dilakukan dengan menggunakan skala analog visual, skala deskriptif verbal, dan skala
wajah dan warna. Terdapat pula berbagai macam skala yang dikembangkan untuk
menggambarkan intensitas nyeri pada pasien-pasien yang tidak dapat mengekspresikan perasaan
nyeri mereka sendiri, misalnya pada pasien usia lanjut yang mengalami gangguan fungsi kognitif
dengan menggunakan skala nyeri Abbey dan pada anak-anak dengan menggunakan skor FLACC.
Terdapat empat pola nyeri yang dapat diamati pada pasien luka bakar.2
1. Background pain merupakan nyeri yang dirasakan secara terus-menerus pada saat istirahat
maupun perubahan posisi atau gerakan
2. Breakthrough pain merupakan nyeri yang intensitas nyerinya memberat secara episodik dan
tiba-tiba
3. Nyeri yang berlangsung selama tindakan perawatan
4. Nyeri yang terjadi pada periode pos operasi

Tatalaksana Farmakologi
Sebelum memberikan obat-obatan kepada pasien luka bakar, seorang klinisi terlebih
dahulu harus memahami perubahan status farmakokinetik obat yang terjadi sebagai akibat
adanya perubahan proses patofisiologi pada pasein. Selama 48 jam pertama, terjadi penurunan
perfusi darah ke organ yang akan mengurangi pembersihan obat, tetapi pada fase hipermetabolik
berikutnya (48 jam setelah cedera) terjadi peningkatan pembersihan obat dari dalam sirkulasi.
Adanya variasi kadar protein plasma pada fase akut memicu terjadinya perubahan pada daya ikat
dan fraksi bebas obat. Oleh karena itu dosis obat akan sangat bervariasi pada masing-masing
individu dan dapat berubah setiap waktu pada individu yang sama.4
Analgetik Opioid
Opioid merupakan fondasi utama dalam upaya mengontrol nyeri pada luka bakar. Opiod
sangat efektif dan variasi obatnya yang banyak tersedia memberikan berbagai jenis pilihan
potensi, metode pemberian dan lamanya kerja. Efek positif dari obat ini adalah dapat
memberikan rasa nyaman melebihi batas undividu untuk merasakan perasaan bebas nyeri.
Morfin telah terbukti berkorelasi positif dengan menurunkan gejala sindrom stres pasca-trauma.
Efek opioid sangat luas dan berkorelasi dengan efek samping yang ditimbulkan seperti depresi
pernapasan, gatal, mual, dan muntah.2,4
Dosis obat dapat sangat bervariasi dan bertambah selama proses pengobatan luka bakar.
Hal ini tidak hanya berkaitan dengan penyembuhan luka dan modulasi nyeri, tetapi juga
berhubungan dengan berkembangnya status toleransi terhadap opioid atau yang baru-baru ini
dikenal dengan opiate-induced huperalgesia (OIH). Toleransi didefinisikan sebagai peningkatan
dosis opioid tertentu yang diperlukan untuk mencapai efek analgesik yang sama dan berlaku
sama untuk efek sampingnya. Hal ini lebih sering terjadi setelah penggunaan opioid kerja
pendek, terutama bila diberikan sebagai infus. Mekanisme terjadinya toleransi ini hingga kini
masih belumm jelas tetapi hubungannya dengan OIH semakin dapat dimengerti. OIH secara
klinis ditunjukkan sebagai sensitivitas rasa nyeri yang meningkat, difus dan meliputi seluruh
tubuh pasien setelah terpapar opiat. Reseptor mu-agonis menginduksi keadaan hiperalgesia ini
melalui perubahan nosiseptif neuroplastik dari neuron aferen dan medulla spinalis, yang dapat
bertahan dalam jangka panjang.4
Sistem reseptor glutamate/NMDA memainkan peran penting dalam mengurangi
perubahan ini. Hal ini sudah dibuktikan dengan penggunaan ketamin dan gabapentin. Ketamin
8

efektif dalam membalikkan efek toleransi opiat. Meskipun hubungan antara toleransi opiat dan
hiperalgesia sangat kompleks dan kurang begitu dipahami, tapi diperkirakan bahwa mekanisme
yang mendasari terjadinya hiperalgesia juga ikut bertanggung jawab terhadap keadaan yang
memicu terjadiya toleransi opiat.4
Akan sangat bijaksana untuk mengekstrapolasi hasil temuan tersebut dan sebagai
panduan bahwa opioid harus dihindari sebagai modal terapi untuk mengontrol nyeri akut pada
luka bakar. Penggunaan obat-obat anti nyeri yang lain bersamaan dengan opioid menunjukkan
hasil yang positif. Obat-obat anti inflamasi non-steroid dan parasetamol mengurangi efek
hiperalgesia pada pusat dan ketamin dan gabapentin akan menurunkan efek toleransi opiat.
Selain dengan menggunakan kombinasi obat, merubah satu jenis obat opiat dengan opiat yang
lain pada pasien, atau yang disebut dengan 'saklar opioid', dapat membantu mengembalikan efek
analgesia pada pasien yang toleran.4
Ketergantungan fisik biasanya terjadi pada pasien yang menggunakan opioid jangka
panjang dan penggunaan opioid pada pasien ini tidak boleh dihentikan secara tiba-tiba, untuk
menghindari terjadinya gejala penarikan atau withdrawal. Ketergantungan fisik berbeda dengan
kecanduan atau ketergantungan psikologis yang ditandai oleh adanya perubahan perilaku pada
para pecandu.4
Rasa nyeri pada saat istirahat (background pain) pada pasien luka bakar bersifat sedang
dan dapat ditangani dengan opiat potensi sedang yang konsentrasi plasmanya relatif tetap
konstan sepanjang hari. Contoh yang paling umum adalah: infus intravena opioid, opioid kerja
panjang (metadon) diberikan secara oral, atau pemberian opoid enteral jangka panjang (morfin
atau oksikodon pelepasan terkendali). Tramadol dan opioid juga memberikan efek yang
menguntungkan pada nyeri neuropatik. Tidak ada bukti dalam literatur yang menunjukkan
mengenai keunggulan suatu opioid tertentu pada pengobatan nyeri neuropatik. Remifentanil,
opioid dengan onset kerja dan metabolism plasma yang ultra cepat, merupakan pilihan obat
untuk memberikan efek analgesia selama prosedur atau tindakan terapi lainnya pada pasien luka
bakar dengan cara diberikan melalui infus kontinu. Selain itu juga dapat digunakan opiat jenis
lain seperti fentanyl atau alfentanyl. 2
Obat Antiinflmasi, Parasetamol, dan Dipyrone
Obat-obat ini dapat mengurangi jumlah opioid yang dibutuhkan hingga 20-30%. Obat
anti-inflamasi nonsteroid (NSAID) juga dapat mengurangi dampak buruk dari penggunaan
9

opioid secara signifikan. Obat-obatan yang paling tepat untuk pasien dengan luka bakaradalah
parasetamol, dipyrone, dan NSAID selective cox-2 inhibitor. Meskipun obat ini memiliki potensi
lemah bila digunakan secara sendiri-sendiri, tetapi obat-obat ini bertindak secara sinergis dengan
opioid. Karena efek penghambatan agregasi platelet, penggunaan NSAID harus dihindari pada
keadaan di mana risiko perdarahan merupakan masalah serius yang akan dihadapi (seperti luka
bakar yang parah). Penggunaannya juga membutuhkan perhatian pada pasien dengan penyakit
kardiovaskular dan gastrointestinal.2,4
Antikonvulsan
Gabapentin dan pregabalin sering digunakan untuk mengobati nyeri neuropatik pada
pasien luka bakar. Obat ini mengurangi rasa nyeri dengan bekerja secara langsung dan tidak
langsung pada pusat nyeri. Secara langsung obat ini mengurangi sensitisasi pusat nyeri dengan
cara mengikat saluran kalsium dan secara tidak langsung bekerja dengan menghambat reseptor
presinaptik N-methyl-D-aspartat (NMDA). Dalam sebuah penelitian pasien luka bakar, intensitas
nyeri dan konsumsi opioid secara signifikan akan berkurang pada pasien yang menggunakan
gabapentin. Dosis gabapentin yang direkomendasikan pada penatalaksanaan nyeri neuropatik
adalah 300 mg dosis terbagi dengan titrasi yang jika diperlukan dapat dinaikkan hingga 3600
mg/hari. Untuk anak-anak dapat dimulai dengan dosis 10mg/kgBB dengan titrasi sebesar 40-50
mg/kgBB. Pregablin merupakan senyawa yang sama dengan gabapentin dan diberikan sebanyak
dua kali sehari.2,4
Antidepresan
Antidepresan adalah obat yang efektif dan karena itu memiliki peran penting dalam
konsep pengobatan multimodal terhadap rasa sakit yang terkait dengan luka bakar. Amitriptyline,
yang digunakan dalam dosis rendah, memiliki peran yang cukup signifikan dalam pengelolaan
nyeri neuropatik. Kerjanya adalah dengan mengaktifkan jalur penghambatan di sumsum tulang
belakang. Dosis yang dibutuhkan biasanya tidak lebih dari 75 mg per hari. Selective serotonin
reuptake inhibitor (SNRTI) juga dapat digunakan dalam kasus intoleransi terhadap efek samping
dari trisiklik. Efek analgesik dari antidepresan biasanya terjadi dalam beberapa hari atau minggu.
Tidak ada studi mengenai efek analgesik dan waktu untuk memulai terapi analgesik pada pasien
luka bakar.2

10

Ketamine
Ketamine merupakan antagonis non-kompetitif reseptor NMDA dan dapat digunakan
untuk sedasi sadar selama tindakan mengganti pakaian pada pasien luka bakar. Obat ini
menginduksi keadaan anestesi disosiatif dengan dosis intravena sebesar 1 mg/kgBB. Keuntungan
penggunaan ketamine adalah obat ini tetap mempertahankan refleks jalan napas, tekanan darah,
dan detak jantung dengan pelepasan norepinefrin secara langsung. Terjadinya halusinasi yang
efek samping yang signifikan, dapat dilemahkan dengan pemberian bersamaan dengan
benzodiazepin atau propofol. Pada sebuah meta-analisis ketamin pada dosis rendah dan
penggunaan opioid pasca operasi, terdapat pengurangan hingga sepertiga dalam dosis total
opioid yang diberikan. Selain itu, ketamin efektif sebagai obat penghilang nyeri jika pasien
kurang responsif terhadap opioid. 2,4
Benzodiasepin
Karena gangguan kecemasan dapat memperburuk keluhan nyeri, penggunaan obat anti
cemas terkait dengan obat analgesik merupakan tindakan yang sering dilakukan di banyak pusat
pelayanan kesehatan. Ketakutan dan ketegangan dapat menurunkan toleransi terhadap rasa sakit.
Pasien luka bakar yang paling diuntungkan dari penggunaan terapi benzodiazepin adalah pasienpasien dengan tingkat kecemasan dan rasa sakit yang tinggi. Ketika dibutuhkan obat dengan
onset kerja yang cepat, midazolam merupakan pilihan yang tepat untuj tujuan tersebut.
Lorazepam lebih cocok daripada diazepam pada kelompok pasien luka bakar karena sering
terjadi penurunan metabolisme hepatik pada pasien ini, yang dapat memperpanjang metabolism
obat dari dalam tubuh.2,4
Alpha-2 agonist
Alpha-2 agonist memiliki sifat menarik yang memudahkan penggunaannya dalam
manajemen

analgesik pasien luka bakar. Selain merangsang pengahambatan jalur nyeri

descending, obat ini juga memiliki efek sedatif dan efek antihipertensi. Clonidine dapat
digunakan secara aman dalam pengelolaan analgesik korban luka bakar anak. Pada beberapa
pusat luka bakar, obat tersebut rutin diberikan untuk anak-anak dan orang dewasa.
Dexmedetomidine memiliki durasi kerja yang lebih dari dari clonidine dan kerjanya lebih
selektif terhadap alpha-2 reseptor. Satu studi melaporkan hasil positif dalam hubungan antara
ketamin dan dexmedetomidine dibandingkan dengan ketamin sendiri atau kombinasi dengan
11

midazolam dalam menurunkan rasa nyeri selama tindakan mengganti pakaian pada pasien luka
bakar.2,4
Tatalaksana non-farmakologi
Masalah-masalah yang ada pada pasien luka bakar, terutama mengenai status nyeri
pasien, bergabung menjadi satu membentuk sebuah tantangan baru dalam pengelolaannya yang
jauh lebih besar daripada hanya sekedar pemberian terapi farmakologis saja. Penatalaksanaan
dengan menggunakan multidisiplin ilmu dengan psikolog, psikoterapis, fisioterapi dan spesialis
nyeri harus dimulai sejak awal pemulihan pasien luka bakar, untuk memastikan rencana
tatalaksana yang komprehensif.2,4
Hubungan antara persepsi intensitas nyeri dan tingkat kecemasan pasien berkorelasi
secara kuat. Teknik psikologis dapat sangat bermanfaat dalam mengurangi tingkat kecemasan
dan melengkapi pasien dengan pilihan strategi koping terhadap nyeri selama masa rehabilitasi
luka bakar. Terapi ini juga termasuk terapi relaksasi, distraksi, dan terapi perilaku kognitif
(cognitive behavioural therapy/CBT). CBT telah terbukti efektif pada individu dengan masalah
nyeri yang kompleks dan sulit serta tingkat ketakutan, kecemasan dan kesusahan dengan derajat
sedang.2,4
Hipnosis diartikan sebagai suatu kondisi peubahan kesadaran yang ditandai dengan
peningkatan penerimaan seseorang yang terhipnosis terhadap saran, kemampuan untuk
mengubah persepsi dan sensasi, dan meningkatkan kapasitas untuk disosiasi. Tekhnik ini telah
digunakan dalam manajemen nyeri pada pasien luka bakar selama berbagai prosedur tatalaksana
luka bakar dan mengendalikan kecemasan pasien. Sebuah studi neurofisiologis mendukung
terapi ini.2,4
Pendekatan lain yang dapat digunakan dengan baik adalah tekhnik virtual reality atau
realitas maya. Terapi initerdiri dari teknologi yang mengisolasi pasien dari dunia nyata dan
membiarkan visinya hanya berhubungan dengan lingkungan virtual tiga dimensi. Dalam konteks
pasien luka bakar, dunia maya ini disebut SnowWorld. Dalam beberapa penelitian, virtual reality
yang digunakan sebagai teknik distraksi selama prosedur terapi efektif dalam mengurangi
intensitas nyeri pada pasien luka bakar.2,4

12

Kesimpulan
Luka bakar merupakan merupakan salah satu jenis cedera yang akan sering ditemui
dalam praktik sehari-hari. Luka bakar dapat menimbulkan berbagai macam komplikasi yang
dapat mengancam nyawa. Oleh karena itu, diperlukan suatu tindakan tatalaksana yang cepat dan
tepat pada pasien ini. Salah satu jenis terapi yang diberikan harus ditujukan untuk mengatasi
nyeri yang dapat ditimbulkan akibat kerusakan pada jaringan kulit. Mekanisme yang mendasari
timbulnya nyeri pada pasien luka bakar sangat kompleks dan untuk itu diperlukan suatu upaya
penanggulangan yang efektif. Upaya penanganan tersebut tidak hanya dapat dilakukan melalui
pendekatan farmakologi saja, melainkan juga dapat diupayakan melalui pendekatan non
farmakologi agar hasil yang diinginkan dapat tercapai.

13

DAFTAR PUSTAKA
1. De Jong, Wim & R. Sjamsuhidajat. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta. EGC
2. de Castro RJA, Leal PC, Sakata RK. Pain Management in Burn Patients. Rev Bras

Anestesiol. 2013;63(1):149-58.
3. Harbin KR, Norris TE. Anesthetic Management of Patients With Major Burn Injury. AANA

Journal. 2012;80(6):430-9.
4. Richardson R, Mustard L. The Management of Pain in the Burns Unit. Burns. 2009:1-16.

14