Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tumor merupakan pertumbuhan sel baru yang abnormal. Pertumbuhan
sel pada tumor biasanya lebih cepat dari sel yang normal dan akan berlanjut
pertumbuhannya jika tidak ditangani. Pada saat berkembang, jaringan sel
abnormal ini juga merusak jaringan sekitarnya. Tumor sendiri dibedakan menjadi
dua, yaitu benign (jinak) dan malignant (ganas). (Hruban R, 2012)
Tumor testis merupakan keganasan terbanyak pada pria berusia diantara
15-35 tahun dan merupakan 1-2% dari semua neoplasma pada pria. Akhir-akhir
ini terdapat perbaikan usia harapan hidup pasien yang mendapatkan terapi jika
dibandingkan dengan 30 tahun yang lalu, karena sarana diagnosis lebih baik,
diketemukan petanda tumor, diketemukan regimen kemoterapi dan radiasi, serta
teknik pembedahan yang lebih baik. Angka mortalitas menurun dari 50% (1970)
menjadi 5% (1997). (Purnomo PB, 2011)
Pada anak-anak, tumor testis terjadi pada usia 2 tahun pertama atau
selama usia remaja setelah laki-laki mengalami pubertas. Sebelum usia 2 tahun,
tumor biasanya jinak dan tidak menyebar keseluruh tubuh. Namun, tetap
membutuhkan operasi. Beberapa tumor testis yang terjadi pada usia muda
merupakan ganas, dan menyebar ke seluruh bagian tubuh yaitu paru, liver,
kelenjar limfe, otak. Pada usia setelah pubertas, sebagian besar tumor testis
merupakan ganas. (Baskin LS, et all 2013)
Para peneliti menemukan beberapa faktor resiko yang membuat
seseorang mengalami tumor testis. Walaupun seseorang memiliki satu atau
beberapa faktor resiko, namun sangat sulit untuk tau bagaimana faktor resiko
tersebut berkontribusi pada berkembangnya kanker tersebut. Baik anak atau pria
dewasa tidak dapat diketahui apa penyebab utama yang pasti dari kanker testis
tersebut. Namun ada beberapa faktor yang memungkinkan dapat terjadinya
tumor testis diantaranya adalah undescendensus testir, riwayat keluarga memiliki
tumor testis, infeksi HIV, memiliki riwayat tumor testis sebelumnya. (ACS, 2015)
Penanganan pada tumor testis jinak yaitu dengan mengambil testis
(orchiectomy) dengan melakukan insisi pada lipatan paha. Tumor testis pada
anak biasanya memiliki prognosis yang baik. Pada anak prognosis tergantung
pada lamanya penyakit dan kecepatan kita dalam mendiagnosis terjadinya tumor

testis tersebut. Sangat penting bagi anak apabila masa tersebut diketahui pada
stadium awal, sehingga dapat dilakukan tindakan dengan secepat mungkin.
Beberapa anak dapat terjadi gangguan fertilitas setelah dilakukan kemoterapi
dan radiasi. (Baskin LS, et all 2013)
Dengan kita dapat mengetahui gejala dan tanda dari tumor testis secara
dini, maka kita dapat mencegah tumor tersebut agar tidak berkembang ke
stadium lanjut. Maka dari itu, kita harus mengetahui bagaimana faktor resiko,
diagnosis, pengobatan serta bagaimana prognosis dari tumor testis tersebut.
1.2 Tujuan
1) Mengetahui apa saja yang menjadi faktor resiko tumor testis
2) Mengetahui gejala klinis dan cara mendiagnosis tumor testis
3) Mengetahui penanganan dan prognosis dari tumor testis
1.3 Manfaat
1) Dapat mendiagnosis secara dini tumor testis
2) Dapat menjelaskan pada pasien penanganan selanjutnya dan prognosisnya
serta merujuk kepada dokter spesialis yang lebih ahli

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tumor Testis


Tumor merupakan sel neoplastik yang otonom dalam arti tumbuh dengan
kecepatan yang tidak terkoordinasi dengan kebutuhan hospes dan fungsi yang
sangat tidak bergantung pada pengawasan homeostasis sebagina besar sel
tubuh lainnya. Pertumbuhan sel neoplastik biasanya progresif, yaitu tidak
mencapai keseimbangan, tetapi lebih banyak mengakibatkan penambahan
massa sel yang mempunyai sifat-sifat yang sama. Neoplasma tidak melakukan
tujuan adaptif yang menguntungkan hospes, tetapi lebih membahayakan (Kumar,
2015).
Tumor testis merupakan tumor yang berasal dari sel germinal atau
jaringan stroma testis. Lebih dari 90% berasal dari sel germinal. Tumor ini
mempunyai derajat keganasan tinggi, tetapi dapat sembuh bila diberi
penanganan adekuat. Tumor ini mempunyai petanda tumor sejati yang sangat
berharga untuk diagnosis, rencana terapi dan kontrol (Wein, 2012).
2.2 Epidemiologi Tumor Testis
Menurut Purnomo, 2011 tumor testis merupakan keganasan terbanyak
pada pria yang berusia diantara 15-35 tahun, dan merupakan 1-2% semua
neoplasma pada pria. Dari semua tumor maligna pada laki-laki 1-2% terlokalisasi
di dalam testis. Kira-kira 90% dari semua tumor testis primer terdiri atas tumor
sel embrional, selanjutnya dapat dijumpai tumor sel Sertoli-Leydig dan limfoma
maligna. Insidensi tumor sel embrional maligna di Nederland adalah kira-kira 4
per 100.000 laki-laki tiap tahun. Ini berarti bahwa tiap tahun kira-kira 300
penderita baru didiagnosis dengan kelainan maligna ini. Tumor-tumor sel
embrional maligna testis merupakan tumor maligna yang paling sering terdapat
pada laki-laki usia 20-40 tahun meskipun pada penderita kurang dari 5 tahun dan
lebih dari 70 tahun juga dapat dijumpai tumor testis (Wein, 2012).
Menurut Williams dan Welser, 2014 tumor testis merupakan 1-2% pada
semua tumor solid pediatri. Insiden di Amerika Serikat adalah 1-2 banding
100.000. Mayoritas, tumor testis terjadi pada anak dengan usia <2 tahun dan
kebanyakan tumor yang terjadi adalah tumor yolk sac. Saat ini jenis tumor testis
yang paling sering adalah teratoma.

Tumor testis sel germinal lebih banyak terjadi pada penduduk asli Asia
dan Kepulauan Pasifik dengan insiden 1,4 lebih besar dari yang lain baik pada
anak berkulit putih atau berkulit hitam. Tidak ada perbedaan insiden pada anak
berkulit putih dan hitam pada usia 0-14 tahun (Walsh et al, 2010). Pada kasus
tumor testis pada anak, sekitar 38% kasus merupakan tumor jinak. Metastasis
terjadi pada < 15% kasus, dimana rinciannya adalah 28% metastasis secara
limfogen, 40% bermetastasis secara hematogen, dan 20% merupakan
keduannya (Williams dan Welser, 2014).

Gambar 2.2.1 Insiden Tumor Testis Menurut Usia (Williams dan Welser, 2014).

Gambar 2.2.2 Insiden tipe patologi tumor testis prepubertal (Pohl dkk, 2014)
2.3 Etiologi
2.3.1 Undesendensus Testis
Satu dari faktor resiko dari tumor testis adalah kondisi yang disebut
cryptorchidism atau undesendensus testis. Kondisi tersebut adalah satu atau
kedua testis gagal berpindah dari abdomen ke skrotum sebelum kelahiran. Laki-

laki dengan cryptorchidism lebih beresiko terjadi tumor testis dibandingkan pada
laki-laki dengan turunnya testis secara normal.
Normalnya, testis berkembang didalam abdomen saat fetus dan turun ke
skrotum pada saat kelahiran. Namun pada 3% laki-laki, testis tidak turun ke
scrotum pada saat kelahiran. Terkadang, testis menetap diabdomen, pada kasus
yang berbeda testis tetap turun namun berada pada lipatan paha. (ACS,2015)
2.3.2 Riwayat keluarga
Beberapa literatur menyebutkan bahwa laki-laki yang terinfeksi HIV, dapat
meningkatkan resiko terjadinya tumor testis. Tidak ada infeksi lainnya yang
terbukti meningkatkan resiko terjadinya tumor testis. (ACS,2015)
2.3.3 Riwayat menderita kanker testis sebelumnya
Seseorang dengan riwayat kanker testis sebelumnya maerupakan faktor
resiko lainnya terjadi tumor testis. Pada 3-4% pria yang menderita kanker pada
salah satu testisnya, kanker dapat berkembang pada ke testis lainnya.
(ACS,2015)
2.3.4 Usia
Usia terbanyak terdapat pada usia antara 15-35 tahun, tapi kanker dapat
menyerang semua usia, baik pada anak-anak dan orang tua. (ACS,2015)
2.3.5 Ras dan Etnik
Alasan

perbedaan

tersebut

tidak

diketahui.

Namun

resiko

berkembangnya tumor lebih sering pada orang yang tinggal di Amerika dan
Eropa dibandingkan dengan Afrika dan Asia. (ACS,2015)
2.4 Klasifikasi Tumor Testis
Sebagian besar ( 95%) tumor testis primer, berasal dari sel germinal,
sedangkan isinya berasal dari non germinal. Tumor germinal testis terdiri atas
seminoma dan non seminoma. Seminoma berbeda sifatnya dengan nonseminoma, antara lain sifat keganasannya, respon terhadap radioterapi dan
prognosis tumor. Tumor yang bukan berasal dari sel-sel germinal atau non
germinal diantaranya adalah tumor sel leydig, sel sertoli, dan gonadoblastoma.
Selain berada di dalam testis, tumor sel germinal juga bisa berada di luar testis
sebagai extragonadal germ cell tumor antara lain dapat berada di mediastinum,
retroperitoneum, daerah sakrokoksigeus, dan glandula pineal (Purnomo, 2011).
Pembagian tumor testis dapat dilihat pada diagram 2.4.1 dan tabel 2.4.1
Tumor-tumor sel embrional testis merupakan satu golongan tumor yang
heterogen. Dari berbagai klasifikasi tumor testis ganas, klasifikasi organisasi

kesehatan dunia (WHO) paling sering dipakai. Disamping seminoma yang


memang berasal dari sel germinal terdapat karsinoma embrional, teratoma dan
koriokarsinoma yang digolongkan non seminoma, yang dianggap berasal dari sel
germinal pada tahap perkembangan lain histogenesis. Seminoma meliputi sekitar
40% dari tumor ganas testis. Koriokarsinoma jarang sekali ditemukan (1%).
Metastasis tumor testis kadang berbeda sekali dari tumor induk, yang berarti
tumor primer terdiri dari berbagai jenis jaringan embrional dengan daya invasi
yang berbeda (Jemal et al, 2010).
Tabel 2.4.1 Klasifikasi Tumor Testis Pediatri (Williams dan Welser, 2014)
JINAK
Teratoma

Sel Germinal
Stromal Gonadal
Para-Testicular

Kista Epidermoid
Sel Leydig
Sel Juvenile Granulosa
Lipoma
Leiomyoma

GANAS
Yolk Sac
Sel Sertoli
Rhabdomyosarcoma

P
A
K
N
T
G
S
L
r
p
n
l
a
u
o
i
e
o
e
u
i
e
a
r
n
k
m
u
r
m
m
i
r
p
s
o
a
u
f
k
i
a
o
e
m
l
S
G
r
d
n
o
i
a
k
n
t
r
e
o
d
m
T
t
m
o
r
s
b
e
a
a
o
t
i
m
e
l
r
k
m
y
s
n
l
a
i
t
i
k
a
o
s
n
f
i
m
r
a
l
s
t
s
a
l
e
o
i
s
k
k
y
r
m
l
i
d
a
t
n
s
e
i
o
r
m
o
g
l
a
b
m
c
i
t
r
i
a
i
f
o
n
a
l

Diagram 2.4.1 Klasifikasi Tumor Testis (Purnomo, 2011)


Seminoma merupakan tumor maligna testis yang tersering, diikuti dengan
Karsinoma embrional, teratoma dan khoriokarsinoma. Sekresi Gonadotropin
khorionik berhubungan dengan hiperplasia sel Leydig. Tumor testis sel benigna
jarang terjadi (Thedore, 2014).

Seminoma dapat dianggap sebagai tumor pendahulu sel embrional


(gonosit) yang arah diferensiasinya berlanjut ke arah sel embrional (germ cell).
Tumor-tumor non seminoma dapat dianggap sebagai tumor sel embrional
pluripoten. Tumor yang paling tidak terdiferensiasi dalam golongan ini adalah
karsinoma sel embrional yang didalamnya tidak tampak arah diferensiasi
spesifik. Koriokarsinoma berupa produk kehamilan, Teratoma merupakan
campuran jaringan-jaringan somatik, seperti berbagai tipe epitel, tulang rawan,
jaringan otot dan saraf dan berasal dari berbagai lapisan embrional (ektoderm,
mesoderm, endoderm). Jika jaringan-jaringan ini menunjukkan struktur normal
(hampir normal) maka ini disebut teratoma matur, jika arah diferensiasi jaringan
dapat

dikenal

dengan

baik,

dan

jika

diferensiasinya

tidak

seluruhnya

dewasa/matang, maka ini disebut teratoma imatur. Tipe non-seminoma


merupakan manifestasi berbagai arah diferensiasi sel-sel embrional pluripoten,
maka tidak mengherankan bahwa suatu non seminoma hampir selalu tersusun
atas bermacam-macam komponen (Wein, 2012).
2.5 Stadium dan Penyebaran Tumor Testis
Penentuan stadium klinis yang sederhana dikemukakan oleh Boden dan
Gibb (Purnomo, 2011 dan Thedore, 2014):
1. Stadium A atau I : tumor testis terbatas pada testis, tidak ada bukti
penyebaran baik secara klinis maupun radiologis.
2. Stadium B atau II : tumor telah mengadakan penyebaran ke kelenjar
regional (para aorta) atau nodus limfatikus iliaka. Stadium II A untuk
pembesaran limfonodi para aorta yang belum teraba, stadium II B untuk
pembesaran limfonodi yang telah teraba (>10 cm).
3. Stadium C atau III : tumor telah menyebar keluar dari kelenjar
retroperitoneum atau telah mengadakan metastasis supradiafragma.
Tumor testis menyebar melalui pembuluh limfe. Kelenjar limfe terletak
para aortal kiri setinggi L2 tepat dibawah hilus ginjal dan di sebelah kanan antara
aorta dan v.kava setinggi L3 dan prakava setinggi L2. Metastasis di kelenjar
inguinal hanya terjadi setelah penyusupan tumor ke dalam kulit skrotum atau
setelah dilakukan pembedahan pada funikulus spermatikus. Penyebaran
hematogen luas pada tahap dini merupakan tanda koriokarsinoma (Wein, 2012).
Rute penyebaran hematogen primer adalah melalui sirkulasi darah dari
testis ke paru, rute kedua adalah dari metastasis kelenjar retroperitoneal melalui
ductus thoracicus dan v.subclavia ke paru. Kecepatan terjadinya metastasis

sering tampak ada hubungan dengan subtipe histologiknya. Seminoma


bermetastasis lambat dan terutama ke kelenjar paralumbal, koriokarsinoma
bermetastasis cepat dan kebanyakan hematogen (Wein, 2012).
Tabel 2.5.1 Klasifikasi tingkat penyebaran, digunakan sistem TNM Karsinoma
Testis (Purnomo, 2011)
BODEN/GIBB

A(I)

TNM
T
Tis
T1
T2
T3
T4

B(II)
B1
B2
B3

N
N1
N2
N3

KETERANGAN
Terbatas testis
Intratubuler
Testis dan rete testis
Menembus tunika albuginea/epididimis
Funikulus spermatikus
Skrotum
Penyebaran ke kelenjar limfe regional
(retroperitoneal)
Tunggal
Tunggal

2 cm

2 cm 5 cm

> 5 cm
> 10 cm
Penyebaran di atas kelenjar retroperitoneal /
metastasis hematogen

2.6 Diagnosis
Dasar diagnosis tumor testis dapat ditegakkan melalui anamnesis,
pemeriksaan fisik dan serangkaian pemeriksaan penunjang yang terdiri dari
pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan radiologi, dan pemeriksaan histologi
sebagai berikut (Purnomo, 2011):
2.6.1 Manifestasi klinis
Gambaran khas tumor testis ialah adanya benjolan di dalam skrotum
yang tidak nyeri. Gejala dan tanda lain seperti nyeri pinggang, perut kembung,
sesak nafas, batuk, dan ginekomastia menunjukkan adanya metastatis yang
luas. Metastatis pada kelenjar paraaorta sering menyebabkan perut menjadi
kembung dan pasien mengeluh adanya massa di perut bagian atas. Metastatis di
paru dapat menyebar dengan cepat sehingga menimbulkan sesak nafas dan
juga batuk. Sedangkan ginekomastia adalah manifestasi dari beredarnya kadar
bHCG di dalam sirkulasi sistematik yang banyak terdapat pada koriokarsinoma.
Tidak jarang penurunan berat badan secara drastis dapat terjadi pada pasien
dengan tumor testis.
2.6.2

Pemeriksaan fisik

Pada pemeriksaan fisik testis didapatkan adanya benjolan padat, keras,


tidak nyeri pada palpasi dan menunjukkan tanda transiluminasi negatif. Pada
umumnya tumor terbatas di dalam testis sehingga mudah dibedakan dari
epididimis, namun perlu diperhatikan adanya infiltrasi tumor pada funikulus
maupun epididimis. Selain itu perlu dicari kemungkinan adanya massa di
abdomen, benjolan kelenjar supraklavikuler, dan ginekomastia. Pemeriksaan fisik
juga harus mampu menyingkirkan diagnosis banding tumor testis diantaranya
epididimitis, hidrokel, orkitis, hernia, dan torsio testis.
2.6.3 Pemeriksaan Penunjang
A. Pemeriksaan Laboratorium
Penanda tumor pada karsinoma testis germinal bermanfaat untuk
membantu diagnosis, penentuan stadium tumor, monitoring respons pengobatan,
dan sebagai indikator prognosis tumor testis. Penanda tumor yang paling sering
diperiksa pada tumor testis adalah :
1. aFP (Alfa Feto Protein) adalah suatu glikoprotein yang diproduksi oleh
karsinoma embrional, teratokarsinoma, atau tumor yolk sac, tetapi tidak
diproduksi oleh koriokarsinoma murni dan seminoma murni. Penanda tumor
ini mempunyai masa paruh 5-7 hari.
2. HCG (Human Chorionic Gonadotropin) adalah suatu glikoprotein yang pada
keadaan normal diproduksi oleh jaringan trofoblas. Penanda tumor ini
meningkat pada semua pasien koriokarsinoma, pada 40% - 60% pasien
karsinoma embrional, dan 5% - 10% pasien seminoma murni. HCG
mempunyai waktu paruh 24-36 jam.
Secara ringkas nilai penanda tumor pada berbagai macam jenis tumor
dapat dilihat pada tabel 2.6.1 :
Tabel 2.6.1 Nilai Penanda Tumor pada Beberapa Jenis Tumor Testis
Seminoma
B. a FP
bHCG

7%

Non Seminoma
Non Chorio Ca
Chorio Ca
40-70%
25-60%

100%

Pemeriksa
an

Radiologi
Pemeriksaan ultrasonografi dapat membedakan dengan jelas lesi
intratestikuler atau ekstratestikuler pada massa padat atau kistik. Namun
ultrasonografi tidak dapat memperlihatkan tunika albuginea, sehingga tidak dapat
digunakan untuk menentukan staging tumor testis. Berbeda halnya dengan
ultrasonografi, MRI dapat mengenali tunika albuginea secara terperinci sehingga

dapat dipakai untuk menentukan luas ekstensi tumor testis. Pemakaian CT Scan
berguna untuk menentukan ada tidaknya metastasis pada retroperitoneum.
Namun, pemeriksaan CT tidak mampu mendeteksi mikrometastasis pada
kelenjar limfe retroperitoneal.
C. Pemeriksaan Histologi
Setiap benjolan pada testis yang tidak hilang atau mengecil setelah
pengobatan yang adekuat dalam waktu dua minggu harus dicurigai dan
dilakukan pemeriksaan biopsi. Testis diinspeksi dan dibuat biopsi insisi setelah
funikulus ditutup dengan jepitan klem untuk mencegah penyebaran limfogen atau
hematogen. Melakukan biopsi langsung melalui kulit skrotum berbahaya karena
dapat menyebabkan pencemaran luka bedah dengan sel tumor melalui
implantasi lokal atau penyebaran ke regio inguinal. Bila hasil biopsi menunjukkan
sel-sel ganas, dilakukan orkiektomi yang diikuti dengan pemeriksaan luas untuk
menentukan jenis tumor, derajat keganasan dan luasnya penyebaran. Untuk
menentukan luas penyebaran limfogen biasanya dilakukan diseksi kelenjar limfe
retroperitoneal

secara

trans

abdomen.

Diagnosis

ditentukan

dengan

pemeriksaan histologik sediaan biopsi (Purnomo, 2011).


2.7 Manajemen Tumor Testis
Tumor testis adalah salah satu tumor padat yang dapat disembuhkan.
Tujuan penatalaksanaan adalah untuk menyingkirkan penyakit dan mencapai
penyembuhan. Pemilihan pengobatan bergantung pada tipe sel dan keluasan
anatomi penyakit. Terdapat 3 macam pengobatan yang bisa digunakan untuk
tumor testis, yaitu:
1. Pembedahan
Pembedahan

dilakukan

dengan

pengangkatan

testis

(orkiektomi).

Berbeda dengan pasien dewasa yang dilakukan radical inguinal orchiechtomy,


dimana pengangkatan dilakukan melalui ligasi funikulus spermatikus dengan
insisi di bawah abdomen. Pasien tumor testis pada anak-anak hanya dilakukan
pengangkatan jaringan testis yang terkena tumor. Hal ini karena sebagian besar
kasus adalah jinak dan masih ingin mempertahankan jaringan testisnya untuk
mempertahankan fungsinya. Prosedur pembedahan lainnya juga dapat dilakukan
limfadenektomi atau RPLND (Retroperitoneal Lymph Node Dissection). Terapi ini
dilakukan untuk mencegah penyebaran kanker melalui jalur limfatik mungkin
dilakukan setelah orkiektomi.
2. Terapi radiasi

Terapi radiasi langsung meradiasi sel kanker dengan kekuatan tinggi,


merusak kemampuan sel kanker untuk tumbuh dan berkembang biak. Terapi ini
meggunakan sinar-X atau sinar gamma yang memancarkan sinar elektron pada
daerah sasaran. Perkembangan terakhir pada terapi radiasi adalah lapangan
radiasi luas, dosis radiasi besar, seperti terapi pada sebagian tubuh. Lapangan
radiasi luas dan dosis radiasi besar memberikan terapi yang efektif dan diterima
dengan baik oleh penderita yang kankernya sudah menyebar.Sebelum operasi,
radiasi dapat mengecilkan tumor sehingga memungkinkan tumor diambil total.
Setelah operasi, radiasi dapat merusak sel-sel kanker yang tidak terdeteksi
selama pembedahan. Ini juga untuk menghilangkan nyeri dan meningkatkan
kualitas hidup penderita kanker terminal.
3. Kemoterapi
Kemoterapi dilakukan dengan menggunakan obat-obatan (misalnya
cisplastin, bleomycin dan etoposid) untuk membunuh sel-sel kanker.Kemoterapi
telah meningkatkan angka harapan hidup penderita tumor non-seminoma. Terapi
ini dilakukan untuk :
- Menghilangkan kanker keseluruhan
- Mengendalikan kanker yang diperkirakan akan timbul kembali dan
-

berkembang di kemudian hari.


Menghilangkan gejala-gejala yang disebabkan oleh kanker, seperti: nyeri.
Pada pasien yang mengalami kekambuhan dari kanker testis sebelumnya
juga dapat diberikan obat-obat kemoterapi (ifosfamide, cisplastin dan
etoposid atau vinblastin).

Penatalaksanaan tumor seminoma berdasarkan stadiumnya, yaitu:


1. Stadium I diobati dengan orkiektomi dan penyinaran kelenjar getah bening
2. Stadium II diobati dengan orkiektomi, penyinaran kelenjar getah bening dan
kemoterapi dengan sisplastin
3. Stadium III diobati dengan orkiektomi dan kemoterapi multi-obat.
Penatalaksanaan tumor non-seminoma berdasarkan stadiumnya, yaitu:
1. Stadium

diobati

dengan

orkiektomi

dan

kemungkinan

dilakukan

limfadenektomi
2. Stadium II diobati dengan orkiektomi dan limfadenektomi, kemungkinan
diikuti dengan kemoterapi
3. Stadium III diobati dengan kemoterapi dan orkiektomi.
2.8 Prognosis
Prognosis pasien dengan tumor testis yang jinak sangat baik yaitu sekitar
99%. Bahkan pasien tumor yolk-sac dengan metastasis, memiliki angka harapan

hidup sekitar 90% dengan kemoterapi. Anak-anak yang berusia kurang dari 10
tahun memiliki angka harapan hidup sekitar 95%. Sementara anak-anak yang
berusia diatas 10 tahun terutama yang memiliki rhabdomyosarcoma memiliki
prognosis yang lebih buruk dan resiko mengenai limfo nodus retroperitoneal
yang lebih tinggi. Oleh karena itu, diseksi limfo nodus retroperitonel
direkomendasikan. Pasien dengan rhabdomyosarcoma memiliki angka harapan
hidup lebih dari 70% ketika ditangani dengan terapi multimodal. Indikator dari
prognosis yang buruk meliputi histologi alveolar, usia di atas 7 tahun, metastasis
pada retroperitoneal yang tidak direseksi, dan metastasis jauh.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Tumor merupakan sel neoplastik yang otonom dalam arti tumbuh dengan
kecepatan yang tidak terkoordinasi dengan kebutuhan hospes dan fungsi yang
sangat tidak bergantung pada pengawasan homeostasis sebagian besar sel
tubuh lainnya. Tumor testis merupakan keganasan terbanyak pada pria yang
berusia antara 15-35 tahun dan sekitar 1-2% dari semua neoplasma pada pria.

Sementara pada anak-anak, sebagian besar tumor testis terjadi pada usia
dibawah 2 tahun. Tumor testis berasal dari sel germinal atau jaringan stroma
testis. Lebih dari 90% tumor testis primer berasal dari sel germinal. Saat ini jenis
tumor testis yang paling sering terjadi pada anak adalah teratoma.
Diagnosis tumor testis dapat ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan
fisik, dan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan laboratorium (alfafeto
protein dan HCG), pemeriksaan radiologi (USG, MRI, dan CT scan), dan
pemeriksaan histologi (biopsy). Manajemen tumor testis yang utama adalah
pengambilan jaringan testis atau orchiectomy, kemoterapi, dan radiasi. Prognosis
tumor testis dapat ditentukan oleh jenis tumor (jinak atau ganas), usia, dan ada
tidaknya metastasis.
3.2 Saran
Dibutuhkan penegakan diagnosis yang tepat dan cepat sehingga
penanganan tumor testis dapat segera dilakukan dan prognosisnya menjadi lebih
baik.

DAFTAR PUSTAKA
American Cancer Society. 2015. Testicular Cancer.
Baskin LS, Copp H, Disandro M, Arnhym A, Champeau A, Kennedy C. 2013.
Testicular Tumors. UCSF Pediatric Urology.
Jemal A, Sieger R, Xu J, and Ward E. 2010. Cancer Statistic. J Clin: Ca Cancer.
60: pp.277-300.
Kumar, Vinay. 2015. Robbins and Cotran Pathologic Basis of Disease. Neoplasia.
Elsevier. Chapter 7.

Pohl, Hans G; Shukla, Aseem R; Metcalf, Peter D; Cilento, Bartley G; Hetik, Alan
B; Bagil, Darius J; Huff, Dale S; dan Rushton, H Gil. 2004. Prepubertal
Testis Tumors: Actual Prevalence Rate of Histological Types. Journal of
Urology. USA: American Urological Association. Vol 172, 2370-2372.
Purnomo, Basuki B. 2011. Dasar-dasar Urologi Edisi Ketiga. Jakarta: Sagung
Seto. 15: 270-5.
Thedore, Schrock R. 2004. Handbook of Surgery, Urologi, Edisi 7, Jakarta: EGC,
Hlm 324-341.
Velde, Van de C.J.H., Bosman F.T., Wagener D.J. 2000. Onkologi, Tumor Testis,
Edisi Revisi, Panitia Kanker RSUP Sardjito Yogyakarta, Alih Bahasa :
Arjono, 556-563.
Walsh TJ, Davies BJ, Croughan MS, Carroll PR, Turek PJ. 2008. Racial
differences among boys with testicular germ cell tumors in the United
States. J Urol. May. 179(5):1961-5.
Williams, Mark A dan Welser, Joe. 2014. Pediatric Testicular Tumor. Presentasi
Ilmiah. Toronto, Canada.

Anda mungkin juga menyukai