Anda di halaman 1dari 8

Kabar Buruk dari Masa Depan

Oleh: Aris Susanto

MARJO benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Seluruh kota didapatinya

tanpa tulisan, tanpa huruf. Kosong. Di jalan-jalan tak lagi ia temui papan reklame, pamflet,

spanduk, terlebih lagi, kertas. Sebelumnya, ia terkejut mendapati dirinya berada di antara puing-

puing reruntuhan sebuah bangunan. Tadinya ia menganggap pastilah suatu gempa dahsyat telah

terjadi kala dirinya tertidur pulas. Ia panjatkan puji syukur kepada Tuhan karena ia masih diberi

nyawa. Lalu kemudian ia ingat anak-bininya. Bagaimana nasib mereka? Ia coba cari, namun tak ia

temukan. Dan ketika keluar, ia dapati pemandangan ganjil itu. Sebuah kota yang lain saat sebelum

ia tidur. Semuanya berubah.

Dimana aku?, pikirnya. Rumah tempat dimana ia tidur tadi, ia temukan telah menjadi

bangunan tua yang sudah bobrok. Gardu listrik yang semestinya tegak tak jauh di depan

rumahnya, kini ia dapati sebagai hotel tua dan kusam tanpa satu pun manusia di dalamnya.

Kebun singkong yang seharusnya masih tumbuh subur di belakang rumahnya pun, kini ia dapati

sebagai WC umum dengan bau menyengat tanpa setetes air. Semuanya berubah. Berbeda jauh

ketika ia hendak tidur tadi, ketika semuanya masih normal. Ia ingat istrinya masih menanak nasi

di dapur. Anak-anaknya masih memelototi atraksi goyangan artis berbusana minim di televisi, di

ruang tengah. Dan suara-suara kambing miliknya di kandang masih mengembik seperti hari-hari

biasanya. Tapi kini semuanya berubah. Semua tempat menjelma bangunan dan jalan yang sama

sekali tak ia kenal. Ia gosok kedua matanya, barangkali ia masih mimpi. Tapi kenyataannya tidak.

Ini benar-benar riil. Kini ia benar-benar berada di sebuah tempat lain.

Dengan setumpuk pertanyaan di kepala, dan kebingungan yang melanda pikiran, ia susuri

jalanan dengan terbengong-bengong. Sejauh mata memandang, yang ia dapati hanya kekosongan.

Sampah-sampah berserakan. Bau amis darah pun ia cium sejak tadi. Apa yang sudah terjadi dengan

kota ini? Apakah ini masih merupakan kota dimana ia tinggal? Ia sendiri tidak tahu.

Setelah lelah dan hampir putus asa berjalan dan tak menemukan seorang manusia pun,

samar-samar dari kejauhan ia melihat ada pergerakan kecil. Ia tajamkan pandangannya. Sosok

kerdil berjalan tak karuan, seperti orang mabuk. Bergegas Marjo mempercepat langkahnya ke arah

sosok tersebut. Setelah dekat, ia dapati seorang tua dengan rambut gondrong, jenggot lebat acak-

acakan tak karuan, pakaian dekil, dan sebotol minuman tanpa label di tangannya. Bau busuk

tercium dari mulut dan tubuhnya.

"Nhaaaa!! Akhirnya aku temukan juga ada orang lain di sini, hiks... huahahaha!!!," orang

Kabar Buruk dari Masa Depan ~ Cerpen Aris Susanto |1


tua itu berteriak keras setelah menyadari Marjo ada di depannya. Marjo segera mengambil posisi

hati-hati, takut-takut kalau orang tua di depannya itu adalah orang yang tak lagi waras setelah

sebelumnya ia sendiri kaget bukan main mendengar teriakan orang tua yang tiba-tiba itu.

"Haks... haks...!! Kau jangan takut begitu, anak muda... Aku bukan orang gila, kota inilah

yang gila... Huahahahaha...!!! Hiks!," kata orang tua itu dengan suara serak sambil kembali

meneguk minumannya, kemudian bersandar pada sebuah tembok, menggelosor, lalu duduk.

Marjo sedikit mulai merasa bahwa orang tua di hadapannya tidaklah berbahaya. Justru ia

terkejut pikirannya bisa ditebak. Ia harus cepat-cepat menanyakan sesuatu pada orang tua itu. Ia

jongkok, dan mulai bertanya.

"Pak Tua, sebenarnya ini dimana? Kota apa ini?!," tanya Marjo dengan suara pelan. Orang

yang dipanggilnya Pak Tua itu hanya mengernyitkan alis. Lalu tawanya meledak. Marjo langsung

berpikir, bahwa ia harus meralat anggapannya tadi. Sudah jelas orang tua di hadapannya adalah

seorang yang sinting. Ia berdiri, dan sudah hendak pergi ketika ia dengar orang tua itu menyahut.

"Pastilah kau orang dari masa lalu yang kutunggu-tunggu"

Giliran Marjo yang mengernyitkan alis.

"Apa maksudmu, Pak Tua?"

"Hng...?? Huahahahahaha...!!! Do'aku ternyata Engkau kabulkan juga, Ya Tuhaaan!

Hahahahaha!!! Engkau kirim juga manusia abad lalu kemari!!!," orang tua itu berteriak girang

sambil menatap langit dengan mata berbinar. Marjo masih berdiri dengan pandangan tak

mengerti. Tiba-tiba pandangannya membentur sebuah kertas kumal yang tersembul di salah satu

saku pakaian kumal orang tua itu. Dengan cepat Marjo menyambar kertas tersebut. Tertera

berbagai angka dengan kotak-kotak di sisinya. Matanya tak percaya. Orang tua itu sedikit kaget,

lalu tertawa lagi.

"Ini... kalender tahun sekarang?!," Marjo bertanya lirih dengan suara serak.

"Huahahaha...!!! Itu kalender dua puluh delapan tahun lalu! Saat masih ada manusia-

manusia di negeri ini yang hidup dari usaha percetakan," jawab orang tua tersebut.

Marjo kembali jongkok perlahan.

"Apa maksudmu dengan 'saat masih ada manusia' itu?"

"Heh! Tenang... Akan aku jelaskan padamu, anak muda..."

Marjo bersiap menyimak apa yang bakal dikatakan orang tua itu.

"Empat puluhan tahun lalu, negeri ini sudah kehilangan para juru tulis dan koleganya,

haks! Kalau dalam istilah di zamanmu, barangkali namanya penulis dan penerbit ya, hiks!"

Sekonyong-konyong Marjo merampas botol yang masih menempel di mulut orang tua itu,

Kabar Buruk dari Masa Depan ~ Cerpen Aris Susanto |2


dan melemparnya jauh-jauh hingga terdengar suara pecahan yang cukup keras.

"Minumanmu sudah habis, Pak Tua! Sekarang cepat jelaskan semuanya padaku apa yang

telah terjadi dengan serius!," ucap Marjo dengan suara meledak-ledak.

"Huahahahaha!! Jangan marah begitu, anak muda. Akan aku jelaskan, hiks! Sebab kau

memang wajib mengetahuinya. Haks!"

Marjo masih mampu menahan geram. Efek mabuk dan suara tawa orang tua itu

membuatnya sedikit muak.

"Semuanya berawal ketika sebuah kejumudan terjadi, hingga akhirnya menjadi status quo

berkepanjangan. Hampir semua generasi muda negeri ini tak lagi memiliki minat baca satu persen

pun! Semua penulis negeri ini, baik para sastrawan, esais, kolumnis, novelis, cerpenis, penyair,

pokoknya semua penulis buku, berhenti massal dari kegiatannya menulis. Royalti yang mereka

dapat teramat kecil, bahkan bisa kukatakan nominalnya hanya mampu buat makan ala kadarnya

selama satu minggu. Buku-buku seluruh penulis di negeri ini, semuanya gagal pasar, lalu

membusuk dimakan waktu, sebagian digerogoti rayap. Tak ada yang berminat membaca. Bukan

lantaran karya mereka tak bernilai, tapi masyarakatnya yang benar-benar anti buku! Tak ada lagi

yang namanya orang menginjakkan kakinya ke toko buku atau ke perpustakaan. Mall, swalayan,

supermarket, dan tempat-tempat hedonis-lah yang menjadi tempat singgah wajib manusia-

manusia negeri ini. Ini berimbas kepada kelangsungan hidup seluruh penerbit dan toko buku.

Mereka semua terpaksa gulung tikar lantaran menderita kerugian yang besarnya bukan kepalang

meskipun sebelumnya mereka sudah beratus kali banting stir terhadap buku-buku yang mereka

jual. Nyatanya tetap saja tak ada orang yang berminat menyentuhnya, apalagi membelinya. Lalu

perusahaan kertas pun enyah dari jagat ekonomi. Mereka tutup usaha lantaran sebagian besar

pendapatannya yang didapat dari kegiatan penerbitan, telah mati. Lantaran seluruh perusahaan

kertas hengkang, pabrik-pabrik rokok di negeri ini pun tutup usaha. Pendapatan terbesar negara

yang dipungut dari pajak perusahaan rokok menjadi hilang. Pemerintah tak ambil pusing dengan

peristiwa langka ini. Mereka lebih senang mengurusi partai dan persekongkolan untuk menipu

rakyat. Anak-anak generasi muda negeri ini masih saja tidak sadar bahwa malapetaka akbar

sedang mendekat. Lalu, media massa cetak pun lumpuh. Sebab, disamping tak ada lagi yang

memproduksi kertas, oplah penjualan pun menurun lantaran masyarakat tak lagi berminat

mengalokasikan uangnya untuk membeli satu koran pun. Masyarakat sudah tak mau peduli lagi

dengan yang namanya informasi. Mereka sudah tak lagi memiliki kesadaran pentingnya

membaca. Buku-buku yang mereka miliki, mereka buang semua. Ada yang menjualnya ke tukang

loak, ada yang menjadikannya bungkus gorengan, ada pula yang dijadikan untuk mengelap

Kabar Buruk dari Masa Depan ~ Cerpen Aris Susanto |3


bokong bekas buang air besar, dan lain-lain lagi. Lalu para generasi muda itu melahirkan

keturunan yang tak mengenal baca tulis pula. Sama seperti orang tuanya, tak menganggap bahwa

membaca adalah sebuah kebutuhan primer. Tak ada lagi kutu buku. Lalu tahun berganti tahun.

Jajaran kabinet pemerintahan digantikan oleh manusia-manusia yang tak suka, tak pernah, dan

tak becus membaca. Lebih parah lagi, profesi guru pun mati, lantaran anak-anak didiknya tak lagi

mampu membaca meskipun sudah digojlok belasan tahun. Kertas dan buku-buku pun sudah

hilang lantaran tak ada lagi yang mau menulis dan menerbitkan. Maka, lembaga pendidikan

bernama sekolah pun ditiadakan. Sebab toh, bukankah sekolah adalah tempat pembodohan,

dimana kreativitas anak-didik malah dikebiri dan diamputasi oleh sistem keparat bernama

kurikulum? Lalu negeri ini pun sepi dari suara-suara lantunan kitab suci, sebab tak ada lagi yang

bisa membacanya. Adagium bahwa "verba valent, scripta manent"—omongan cepat hilang dan

tulisan akan tetap lestari, tak lagi relevan di zaman ini, anak muda. Justru omonganlah yang kini

menjadi entitas abstrak yang tak lekang dimakan sejarah. Sedangkan tulisan malah mampus

sebelum kiamat tiba. Manusia negeri ini hanya suka menghabiskan waktunya di depan televisi,

yang semuanya hanya berisi omongan dan aksi tubuh. Manusia negeri ini menjadi kian regresif,

bahkan menuju kehidupan primitif. Mereka kembali mengulang sejarah ketika manusia belum

mengenal tulisan. Hingga akhirnya mereka benar-benar tidak lagi mengenal tulisan, sebab mereka

tak bisa membaca. Huruf-huruf dan angka tak lagi dikenal di zaman ini, anak muda. Potongan

kertas kalender yang ada di tanganmu, itu ketika aku masih muda dulu, dan tentu saja kini ia

menjadi benda yang teramat langka. Bukankah sekarang pun kau lihat, di sana-sini, sejauh

matamu memandang, tak kau temui sebuah kertas satu lembar pun yang sebelumnya kerap

menempel di tiang listrik dan tembok-tembok? Semuanya sudah musnah puluhan tahun lalu.

Botol minuman yang kubawa tadi pun tak berlabel sama sekali, kan?"

Marjo hanya bisa mendengarkan semua itu dengan mulut menganga. Amat sulit sekali ia

mempercayai omongan orang tua itu. Terlalu irasional!

"Heh! Kau pikir aku membual, hah?!!!," seketika orang tua itu membentak. Marjo kembali

kaget. "Apa yang tidak mungkin dan mustahil, jika Tuhan berkehendak?!," bentak orang tua itu

lagi. Untuk kedua kalinya pikirannya bisa terbaca.

"Oke, Oke. Baiklah, Pak Tua. Aku percaya padamu. Lalu, bagaimana dengan respon

negara-negara tetangga?!," Marjo menyela.

"Goblok! Kita diisolir! Semuanya menarik kedutaannya dari negeri ini. Para investor kabur

lantaran tidak sudi berhubungan dengan orang-orang dungu bangsa ini. Dan semua kekayaan

negeri kita sudah dikuras habis oleh para kapitalis lantaran manusia-manusia di negeri ini tak lagi

Kabar Buruk dari Masa Depan ~ Cerpen Aris Susanto |4


becus membaca! Kita menjadi bangsa yang paling terbelakang dibanding Vietnam dan Kamboja!

Kita dikutuk dan dicaci di seluruh dunia!"

"Membaca?! Apa hubungannya?!"

"Tolol!! Ya tentu saja membaca keadaan! Membaca situasi! Membaca gelagat buruk!

Membaca peluang! Membaca segalanya! Itu yang tidak becus dilakukan oleh para pemimpin di

atas sana ketika itu! Lalu aksi separatis ramai terjadi. Dan apa respon para bapak-bapak di

pemerintahan?! Mereka acuh saja! Sebab mereka goblok! Dan lantaran kegoblokan mereka,

terjadilah aksi saling guling kekuasaan, makar, pemberontakan, dan beragam aksi subversif. Lalu

lahirlah katastrofi berkepanjangan yang tak ada seorang pun yang sanggup meredakannya. Tak

ada lagi yang namanya pemikir, pengamat, kiai, ulama, dan mahasiswa-mahasiswa cerdas yang

berusaha melawan atau menelurkan ide-ide pencerahan. Semuanya mati! Pernah ada segelintir

orang yang ingin merubah keadaan, namun mereka tak memiliki preseden tertulis. Toh kalaupun

ada, mereka tak akan mengerti, lantaran tak becus membaca!"

"Kita terputus total dari dunia?!"

"Ya!"

"Bagaimana dengan dunia maya?!"

"Sama saja! Para provider internet gulung tikar lantaran tak ada pasokan listrik. Kenapa

pasokan listrik tidak ada, karena tak ada manusia yang bisa bekerja seputar kelistrikan. Kenapa

tak ada yang bisa bekerja seputar kelistrikan? Lantaran tak ada yang sekolah dan belajar! Kenapa

tak ada sekolah? Karena tak ada guru! Kenapa tak ada guru? Lantaran tak ada bacaan dan buku-

buku! Kenapa tak ada buku-buku? Karena tak ada yang menulis! Kenapa tak ada yang mau

menulis? Lantaran tak ada yang mau membaca dan para penerbit semuanya mati! Kenapa tak ada

yang mau membaca? Karena satu-satunya kegiatan esensial itu diacuhkan! Kenapa diacuhkan?

Lantaran mereka tak punya kesadaran akan pentingnya membaca! Paham, kau!? Lalu hal ini

berimbas pada seluruh sektor kehidupan. Semua profesi yang pernah ada di negeri ini mati! Kau

pikir saja sendiri bagaimana semua ini bisa terjadi hanya karena satu saja biang keroknya; sudah

tak ada manusia yang mau dan bisa membaca!"

"Omong kosong!,” Marjo berteriak. “Ini tidak mungkin terjadi!"

"Bodoh kau, anak muda! Pakai akalmu! Kejadian langka ini pun terjadi tidak serta merta

begitu saja, tapi gradual! Berangsur-angsur! Ngerti?!"

"Tidak!"

"Goblok!!"

"Kau yang goblok, Pak Tua! Kalau kau paham semuanya, berikut sebab-akibatnya, kenapa

Kabar Buruk dari Masa Depan ~ Cerpen Aris Susanto |5


kau tidak mencegahnya?! Kenapa kau tidak melakukan usaha untuk membenahi keadaan?!"

Orang tua itu memandang Marjo dengan nanar. Cukup lama. Marjo pun seketika merasa

ucapannya tadi terlalu kasar. Ia sedikit menyesal.

"Kau tahu, Nak, aku ini dilahirkan ketika semua prahara ini usai. Dan selama enam puluh

delapan tahun ini, aku hidup sebatang kara. Sejak kecil aku hidup di lingkungan kotor. Lahir dari

rahim pelacur. Tahu-tahu, aku berada di sini kala aku berumur lima tahun, bersama kawan-kawan

sebayaku yang tak pernah mengerti apa yang sedang dan sudah terjadi. Lalu, waktu dan

kehidupan membawaku pada segenap pemahaman, terutama ketika aku menemukan sebuah

perpustakaan yang sudah runtuh dengan ribuan bukunya yang hampir habis dimakan rayap. Aku

habiskan seluruh waktu hidupku di sana dengan membaca. Dari situlah aku mengerti sejarah

macam apa yang baru saja melewati negeri ini."

"Membaca?! Bukankah kau bilang—"

"Ketika aku masih kecil, lembaga pendidikan bernama sekolah masih tersisa satu-dua. Aku

yang anak jalanan ini kerap mendengarkan dan mengamati dari luar jendela kelas dan ikut

mendengar pelajaran, termasuk pelajaran mengeja dan menghafal huruf. Dari sana aku mulai

belajar membaca otodidak. Bukankah Tuhan masih sayang padaku? Hmm? Huahahahahaha!!!"

"La...lantas... kemana semua orang di negeri ini?!"

"Heh! Kau tak akan menjumpai manusia lagi kecuali mayat-mayat yang berserakan dan

sudah membusuk tak karuan. Aksi penjarahan, pemerkosaan, dan pembunuhan besar-besaran

sudah terjadi lama sekali. Paling banter kau bisa temukan manusia yang masih bertahan hidup

seperti aku di setiap radius dua kilometer. Populasi manusia yang masih hidup di negeri ini bisa

kuperkirakan hanya tinggal satu persen saja dari total sepuluh ribu, sebab sudah puluhan tahun

tak kuketahui lagi hal-hal baru. Semuanya sudah lenyap."

Orang tua itu pun menunduk. Marjo kemudian melihat orang tua itu menitikkan air mata.

Ia masih belum bisa mencerna semua omongan orang tua itu.

"Sekarang, aku minta tolong kepadamu, anak muda," orang tua itu mengangkat kepala,

kembali bersuara. Marjo mengerutkan dahi.

"Bagaimana aku bisa menolongmu?! Sebab aku saja bingung untuk bisa kembali pulang!

Aku yakin ini hanya mimpi!"

"Ini riil! Nyata! Pintaku cuma satu..."

"Sebentar!," Marjo memotong.

"Apa?"

"Ada satu hal yang membuatku heran. Bagaimana kau bisa bertahan hidup kalau keadaan

Kabar Buruk dari Masa Depan ~ Cerpen Aris Susanto |6


kota ini begini. Tak ada makanan, tak ada air bersih. Tak ada apapun!"

"Heh! Jujur anak muda! Aku bisa hidup hingga saat ini dengan memakan sesamaku.

Kadang jika aku bertemu orang-orang yang senasib denganku dan menemukan mayat, kami

saling berebut. Dan jika tak ada mayat sama sekali, kami saling berkelahi dan saling bunuh. Yang

kalah, tentu dijadikan santapan bagi yang menang. Beruntungnya, aku selalu memenangkan

pertarungan gila tersebut."

Marjo seketika berdiri dan mundur cepat-cepat.

"Kk...kau... kanibal?!," ucap Marjo lirih. Kini ia tahu bau busuk apa yang berasal dari mulut

orang tua itu.

"Tenang saja, aku tak akan membunuhmu, apalagi memakanmu. Kau terlihat lebih kuat

dan kekar daripada aku yang sudah tua dan ringkih ini. Toh, aku pun tak membawa senjata

apapun. Terlebih lagi, justru aku mengharapkanmu. Seperti kataku tadi, aku justru membutuhkan

bantuanmu. Kau bisa kembali ke masamu, dan kau bisa memberi tahu keadaan di masa ini kepada

orang-orang yang berada di zamanmu. Bilang kepada anak cucumu supaya mereka mau

membiasakan diri membaca buku. Tentunya bukan buku-buku murahan yang tak menambah

kecerdasan, wawasan dan kekritisan berpikir!"

"Bagaimana bisa?! Aku bisa ada di sini saja kejadiannya tidak kumengerti, sekarang kau

menyuruhku kembali ke masaku?!"

“Kau masih percaya Tuhan?! Mintalah pertolongan pada-Nya semoga keajaiban terjadi

padamu sebagaimana permohonanku yang dikabulkan-Nya untuk mendatangkan manusia zaman

lampau kemari, ya kamu ini!”

Marjo menelan ludah. Keringat mengalir di pelipisnya. Orang tua itu masih nyerocos.

"Katakanlah pada sesamamu. Perbaikilah dirimu dan sesamamu pada zamanmu, agar di

masa depan, kejadian buruk yang nampak absurd ini tak menjadi kenyataan! Kau bisa merubah

masa depan. Atau..., jangan-jangan kau mau bilang bahwa kau adalah salah satu spesies manusia

yang tak suka membaca pula, hah?!"

"Ah, tidak. Aku bersyukur termasuk orang yang hobi membaca. Aku biasakan keluargaku

mencintai buku-buku. Nah, apa yang harus kulakukan sekarang, Pak Tua?!"

"Kenapa kau bertanya padaku?! Apa kau mau mengobservasi dulu seluruh sudut kota ini?!

Kau kembali saja ke tempatmu semula! Siapa tahu ada semacam lorong waktu yang bisa

membawamu pulang!"

Lama Marjo berpikir. Dan akhirnya...

"... Baiklah, baiklah aku akan segera pergi..."

Kabar Buruk dari Masa Depan ~ Cerpen Aris Susanto |7


Orang tua itu hanya membalas dengan senyuman. Marjo pun bergegas meninggalkan

orang tua itu, menuju puing-puing dimana ia bangun untuk pertama kalinya tadi. Siapa tahu jika

ia tidur kembali di sana dan bangun, ia bisa kembali ke masa dimana seharusnya ia hidup. Tapi

sama sekali di luar dugaannya, ketika baru beberapa langkah berjalan, sepotong besi tajam

mencuat dari dalam perutnya. Dirasakan lambungnya bocor. Perih bukan main. Seseorang telah

menusuknya dari belakang. Marjo menoleh. Orang tua itu!

Darah segar keluar dari mulut Marjo. Seketika ia ambruk menimpa bumi, hampir tak

sadarkan diri. Melihat hal itu, orang tua tersebut berdiri, dan berteriak keras-keras.

"Hooooiiii!!! Kawan-kawaaan!!! Keluarlaah!!! Saatnya kita pestaaa...!!!"

Seketika muncul berpuluh orang dari balik tembok, dari balik sudut bangunan, dari dalam

tong sampah, dan dari berbagai tempat persembunyian lainnya.

"Wah, kita bisa makan kenyang hari ini," ucap salah seorang dari mereka sambil

menginjak-injak tubuh besar Marjo. Dan tanpa berbasa-basi lagi, mereka merobek-robek tubuh

Marjo, menguliti, dan mencincangnya seperti kambing kala Idul Adha. Teriakan dan lolongan

Marjo disambut riuh tawa para kanibal itu. Darah merah bergenangan. Daging-daging

berhamburan. Tak ada saksi, kecuali sepotong kertas kalender lusuh di tangannya yang ia ambil

dari orang tua itu tadi. Sepercik darah menempel disana. Pada sebuah angka, tahun 2103. []

Bandung, 13 Agustus 2008


Aris Susanto

Kabar Buruk dari Masa Depan ~ Cerpen Aris Susanto |8