Anda di halaman 1dari 66

IDENTIFIKASI PARASIT YANG MENYERANG UDANG VANNAMEI

(Litopenaeus vannamei) DI DINAS KELAUTAN PERIKANAN DAN


PETERNAKAN, KABUPATEN GRESIK, JAWA TIMUR

PRAKTEK KERJA LAPANGAN


PROGRAM STUDI S-1 BUDIDAYA PERAIRAN

Oleh :
MUH NUR FAITH ZULKARNAIN
GRESIK JAWA TIMUR

FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN


UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2011

IDENTIFIKASI PARASIT YANG MENYERANG UDANG VANNAMEI


(Litopenaeus vannamei) DI DINAS KELAUTAN PERIKANAN DAN
PETERNAKAN, KABUPATEN GRESIK, JAWA TIMUR

Praktek Kerja Lapang sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Perikanan pada Program Studi S-1 Budidaya Perairan
Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga

Oleh :
MUH NUR FAITH ZULKARNAIN
NIM. 060810331P

Mengetahui,
Dekan Fakultas Perikanan dan Kelautan,
Universitas Airlangga

Prof. Dr.Drh.Hj. Sri Subekti, B.S.,DEA.


NIP. 19520517 197803 2 001

Menyetujui,
Dosen Pembimbing,

Prof. Dr. Hari Suprapto, Ir., M. Agr.


NIP. 19580916 19850 2 001

Setelah mempelajari dan menguji dengan sungguh-sungguh, kami berpendapat


bahwa Praktek Kerja Lapang (PKL) ini, baik ruang lingkup maupun kualitasnya
dapat diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana
Perikanan.

Tanggal Ujian : 25 Juli 2011


Menyetujui,
Panitia Penguji,
Ketua

Prof. Dr. Hari Suprapto, Ir., M. Agr.


NIP. 19580916 19850 2 001

Sekertaris

Anggota

Prayogo, S.Pi., MP.


NIP. 19750522 200312 1 002

Dr. Gunanti Mahasri, Ir., M.Si.


NIP. 19600912 198603 2 001

Surabaya, 19 September 2011


Fakultas Perikanan dan Kelautan
Universitas Airlangga
Dekan,

Prof. Dr. Drh. Hj. Sri Subekti, B.S.,DEA.


NIP. 19520517 197803 2 001

RINGKASAN

MUH NUR FAITH ZULKARNAIN. Identifikasi Parasit yang menyerang


Udang Vannamei (litopenaeus vannamei). Di Dinas Kelautan Perikanan, dan
Peternakan Kabupaten Gresik Propinsi Jawa Timur. Dosen Pembimbing
Prof. Dr. Hari Suprapto, Ir., M.Agr.
Udang vanamei merupakan jenis udang yang awal kemunculannya di
Indonesia dikenal sebagai udang dengan tingkat ketahanan yang tinggi terhadap
serangan hama penyakit. Namun sejak akhir tahun 2008, udang vanamei juga
terkena serangan penyakit yang menyebabkan jatuhnya jumlah produksi udang
secara nasional sehingga terjadi penurunan hasil devisa negara.
Penyakit pada udang yang sering ditemukan menginfeksi udang vannamei
adalah dari golongan parasit. Oleh karena itu, harus ada upaya dalam penanganan
serangan parasit tersebut agar tidak terjadi kerugian lebih banyak lagi. Salah satu
upaya yang dapat dilakukan dalam penanganan penyakit infeksi parasit ini dengan
cara mengidentifikasi terlebih dahulu golongan parasit ini sehingga upaya dalam
penanganan penyebaran penyakit akibat parasit ini dapat dilakukan.
Atas dasar pemikiran tersebut maka dilakukan Praktek Kerja Lapang
tentang teknik identifikasi parasit yang menyerang udang vannamei yang tepat
sehingga dapat dilakukan upaya mengatasi masalah tersebut dengan benar.
Tujuan dari Praktek Kerja Lapang (PKL) ini adalah untuk memperoleh
pengetahuan, keterampilan dan pengalaman dalam melakukan teknik identifikasi
parasit di Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan Kabupaten Gresik Propinsi
Jawa Timur yang dilaksanakan mulai tanggal 24 Januari 2011 - 24 Februari 2011.
Metode kerja yang digunakan dalam Praktek Kerja Lapang ini adalah
metode deskriptif dengan teknik pengambilan data meliputi data primer dan data
sekunder. Pengambilan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara
partisipasi aktif dan studi pustaka. Kegiatan identifikasi dan penanganan parasit
pada Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan Gresik meliputi pengambilan
sampel, pengamatan dan identifikasi parasit secara benar.
Kegiatan identifikasi penyakit pada pemeliharaan udang vannamei adalah
kegiatan rutin yang dilakukan setiap 2 hari sekali di Laboratorium Kesehatan Ikan
di DKPP Gresik. Pengambilan sampel parasit udang vannamei pada waktu PKL
berasal dari udang vannamei yang diduga terserang penyakit parasit dalam kondisi
hidup.
Pemeriksaan parasit pada udang vanamei dilakukan secara natif (langsung)
dengan cara scrapping terhadap bagian yang diduga terserang penyakit. Prosedur
kerja dari pemeriksaan parasit ini mengacu pada Lightner (1996). Parasit yang
menyerang udang vanamei adalah Zoothamnium sp. dan Vorticella sp. Organisme
ini menyerang udang vanamei pada permukaan tubuh maupun insang.

SUMMARY

MUH NUR FAITH ZULKARNAIN. The Paracite Identification to


Litopenaeus Vannamei Attack. In The Fisheries Sea and Animal Husbandry
Department Gresik Regency East Java. Academic adviser Prof. Dr. Hari
Suprapto, Ir., M.Agr.
The shrimp disease is one of seriously problem, and must be facing in a
certain direction shrimp cultivation. The solution problems, must be fast
identification, for loss avoid occur more bigger than before again, the attack result
plant disease and shrimp disease from practice group, the shrimp to be dead and
can be chacked cultivation process, so need to right hand. On the based think it,
do this Trainer outside practice to study appropriate paracite identification
technique in the problem contend hacked cultivation fisheries.
The purposes of this trainer Outside Practice are to get knowledge, skill
and experience work to do paracite Identification technique in the seas, fisheries
and animal husbandry Gresik Regency East Java.
This Trainer Outside Practice activity Implementation in the seas,
Fisheries and animal husbandry Departement Gresik Regency East Java. The
activity Implementation from January 24th February 24th, 2011. This method in
the Trainer Outside Practice is descriptive method with take the data, the ways are
active participation, observation, interview, and divining manual. Identify actifity
and paracite handling in the seas, fisheries and animal husbandry Departement
Gresik such as take sample, observation and the right paracite Identify.
The diseas Identify at litopenaeus vannamei rearing is the daily activity
every two days one time in the fish healthy Laboratory DKPP Gresik. Take
sample litopenaeus vannamei paracite in the Trainer Outside Practice from
litopenaeus vannamei guess paracite attack diseas still fresh Condition.
The first paracite Identify in the litopenaeus vannamei started with killed
the litopenaeus vannamei predicted get paracite diseas by stabed the part of top
head then scrapping on the skin, fish fin and fish gills. The result of scrapping is
phelegm. Working procedures of the parasite examination refers to the work
procedures used by Lightner (1996). Then identified unfer microscope in
litopenaeus vannamei during top is zoothamnium sp dan vorticella sp.

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas
limpahan rakhmat dan hidayah-Nya, sehingga Praktek Kerja Lapang tentang
Identifikasi Parasit yang menyerang Udang Vannamei (litopenaeus vannamei). Di
Dinas Kelautan Perikanan, dan Peternakan Kabupaten Gresik Propinsi Jawa
Timur ini dapat terselesaikan. PKL ini disusun berdasarkan hasil Praktek Kerja
Lapang yang telah dilaksanakan di Dinas Kelautan Perikanan, dan Peternakan
Kabupaten Gresik Propinsi Jawa Timur pada tanggal 24 Januari - 24 Pebruari
2011.
Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada :
1. Prof. Dr. Ir. Hari Suprapto. M. Agr. selaku dosen pembimbing.
2. Ibu Dr. Gunanti Mahasari, Ir., M.Si. dan Prayogo, S.pi., MP. Selaku dosen
penguji yang telah menguji, memberikan arahan dan petunjuk dalam
penulisan laporan PKL ini.
3. Bapak Drs. Suyadi M.Si., selaku Kepala Dinas Kelautan Perikanan dan
Peternakan Gresik yang telah memberikan fasilitas selama penulisan PKL.
4. Ibu Ir. Lilik Deswati selaku kepala UPT Laboratorim Kesehatan Ikan dan
Ternak DKPP Gresik yang telah memberikan fasilitas selama penulis
menjalani PKL.
5. Ibu Nurul Wahyuni SP.i., selaku staf UPT yang telah memberikan bimbingan
kepada penulis selama PKL berlangsung.

6. Ibu Tri Hardinah A.Md.,selaku staf UPT yang telah memberikan bimbingan
kepada penulis selama PKL.
7.

Bapak Ach Khofiyudin S.Pi., Kepala Sub Bagian Program dan Pelaporan
pada

bidang

Sekertariat, yang telah memberikan informasi atas segala

bantuan dalam perizinan sehingga penulis dapat melaksanakan PKL di DKPP


Gresik.
8. Kedua orang tua Drs. Nurlan dan. Siti Sholihah S.pd, serta kakakku Lina.
S.pd dan adekku Afafah, Fiqoh yang telah memberikan bantuan, motivasi
serta doa.
9. Teman-teman Buper 2008, yang ikut membantu dalam pelaksaaan maupun
penyelesaian PKL ini serta semua pihak yang tidak dapat disebut satu persatu
yang telah membantu penulis dalam pelaksaan maupun penyelesaian PKL ini.
Akhirnya penulis berharap semoga karya tulis ini bermanfaat dan dapat
memberikan informasi bagi semua pihak.

Surabaya, September 2011

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman
RINGKASAN ................................................................................................

iv

SUMMARY ...................................................................................................

KATA PENGANTAR ...................................................................................

vi

DAFTAR ISI ..................................................................................................

viii

DAFTAR TABEL .........................................................................................

xi

DAFTAR GAMBAR .....................................................................................

xii

DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................

xiii

II

PENDAHULUAN ................................................................................

1.1

Latar Belakang .............................................................................

1.2

Tujuan ...........................................................................................

1.3

Manfaat .........................................................................................

TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................

2.1

Udang vannamei Litopenaeus Vannamei .....................................


2.1.1 Klasifikasi .........................................................................
2.1.2 Morfologi ..........................................................................
2.1.3 Sifat dan Tingkah Laku ....................................................
2.1.4 Siklus Hidup .....................................................................
2.1.5 Makanan ...........................................................................

4
4
4
7
7
8

2.2

Penyakit Parasit pada Udang ........................................................


2.2.1 Zoothamnium sp ...............................................................
A. Klasifikasi ..................................................................
B. Morfologi ..................................................................
C. Gejala Klinis ..............................................................
2.2.2 Vorticella sp .....................................................................
A. Klasifikasi ..................................................................
B. Morfologi ..................................................................
C. Gejala Klinis ..............................................................
2.2.3 Epistylis sp ........................................................................
A. Klasifikasi ..................................................................

10
11
11
11
12
12
12
12
13
13
13

B. Morfologi ..................................................................
C. Gejala Klinis ..............................................................

13
14

Metode pemeriksaan parasit pada udang vannamei .....................


2.3.1 Pemeriksaan Makroskopis ................................................
2.3.2 Pemeriksaan Makroskopis ................................................

14
14
15

PELAKSANAAN KEGIATAN ..........................................................

16

3.1

Waktu dan Tempat .......................................................................

16

3.2

Metode dan Kerja .........................................................................

16

3.3

Metode Pengumpulan Data ..........................................................

16

3.4

Data Primer ..................................................................................

16

A. Observasi ...............................................................................

17

B. Wawancara ............................................................................

17

C. Partisipasi aktif .......................................................................

18

Data Skunder ..................................................................................

18

2.3

III

3.5

IV HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1

Keadaan Umum Lokasi Praktek kerja lapangan .............................

19

4.1.1 Letak Geografis dan Topografi DKPP Gresik ................................

19

4.1.2 Sejarah beririnya DKPP Gresik ......................................................

20

4.1.3 Status tugas pokok dan fungsi .........................................................

20

4.1.4 Struktur Organisasi .........................................................................

21

4.1.5 Kepegawaian ...................................................................................

22

4.2

Sarana dan Prasarana.........................................................................

22

4.2.1 Sarana ..............................................................................................

22

A.
B.
C.
D.
E.
F.
4.2.2

Ruang Uji Kualitas air dan tanah ............................................


Ruang PCR (Polymerase chain reaction) ...............................
Ruang Amplifikasi ..................................................................
Ruangan Timbangan ...............................................................
Ruangan Sterilisasi .................................................................
Ruangan Mikrobiologi ............................................................

22
22
23
23
23
23

Prasarana .............................................................................
A. Transportasi ................................................................
B. Bangunan Penunjang ..................................................

24
24
24

4.3

Kegiatan praktek kerja Lapangan .................................................


4.3.1 Kegiatan Identifikasi parasit .............................................
4.3.2 Identifikasi parasit ............................................................
4.3.3 Alat dan Bahan .................................................................
4.3.4 Pengambilan sampel .........................................................
4.3.5 Prosedur kerja ...................................................................

24
24
26
26
27
27

4.4

Hasil Identifikasi parasit ...............................................................

28

4.5

Hambatan dan kemungkinan usaha ..............................................


4.5.1 Hambatan yang dihadapi ..................................................
4.5.2 Kemungkinan pengembangan usaha ................................

33
33
33

KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................

34

5.1

Simpulan .......................................................................................

34

5.2

Saran .............................................................................................

34

DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................

35

LAMPIRAN ....................................................................................................

40

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

1. Skema Alur Identifikasi Parasit di Laboratorium di DKPP .....................

28

2. Hasil pemeriksaan parasit pada sampel udang vannamei .........................

29

3. Jenis parasit yang ditemukan pada sampel udang vannamei ....................

29

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

1.

Litopenaeus Vannamei ...........................................................................

2.

Bagian-bagian Tubuh Udang Vannamei ................................................

3.

Daur hidup udang vannamei ...................................................................

4.

Zoothamnim sp .......................................................................................

12

5.

Vorticella sp .............................................................................................

13

6.

Epistylis sp ...............................................................................................

14

7.

Struktur organisasi DKPP ........................................................................

21

8.

Alur Identifikasi parasit di laboratorium kesehatan ikan ........................

25

9. A. Mikroskop ..........................................................................................

26

B. Disetting set .......................................................................................

26

10. Pengamatan Morfologi Zoothamnium sp. dengan Pembesaran 400x ......

30

11. Pengamatan Morfologi Vorticella sp. dengan Pembesaran 1000x ...........

32

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

Halaman

1. Peta Wilayah Gresik .................................................................................

40

2. Denah Penempatan Fasilitas di DKPP Kabupaten Gresik .......................

41

3. Hasil Identifikasi Parasit ...........................................................................

42

4. Parameter Kualitas Air Pemeliharaan ......................................................

43

5. Hasil Uji Kualitas Air ...............................................................................

44

6. Dokumentasi .............................................................................................

48

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kebutuhan masyarakat dunia terhadap pemenuhan gizi khususnya protein
hewani yang sangat dibutuhkan untuk kesehatan dan kecerdasan semakin tinggi,
dengan permintaan terhadap udang. Berdasarkan data Kementerian Kelautan
Perikanan (2010), tingkat konsumsi ikan per kapita penduduk Indonesia pada
tahun 2008 baru mencapai 28 kg/kapita/tahun .
Budidaya air payau merupakan salah satu subsektor perikanan paling
banyak dilakukan, yang sebagian besar komoditasnya memiliki nilai ekonomis
tinggi dan merupakan komoditas ekspor. Salah satu komoditas budidaya air payau
yang banyak digemari adalah udang vanamei (Litopenaeus vannamei). Udang
vanamei di Indonesia merupakan jenis udang introduksi dari kawasan subtropis
sekitar perairan negara Meksiko, Amerika Latin. Asal udang vanamei dari
kawasan subtropis, namun dalam pengembangannya dapat pula dibudidayakan di
wilayah tropis secara masal dengan penerapan teknologi dari sederhana hingga
intensif (Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, 2010)
Berdasarkan sejarah perkembangan budidaya air payau di Indonesia,
kendala yang mengakibatkan produksi menjadi berfluktuasi telah banyak
dijumpai. Kendala itu adalah munculnya wabah penyakit yang berakibat pada
kematian udang secara massal di tambak (Ayu, 2009).
Timbulnya penyakit pada udang merupakan hasil interaksi yang tidak
seimbang antara kondisi udang, lingkungan, dan patogen. Ketidakseimbangan ini

terjadi ketika salah satu faktor tersebut di atas mengalami gangguan, seperti
kondisi udang stress. Udang yang stress akan lebih mudah terserang penyakit,
keadaan ini dapat didukung oleh kondisi lingkungan yang jelek, sehingga dengan
adanya patogen, udang akan lebih mudah terserang penyakit, karena kekebalan
tubuh udang menurun dan akhirnya menyebabkan kematian pada udang
(Soetomo,2003 dalam Ayu, 2009). Menurut Wijaya (2005), salah satu patogen
yang menyerang udang adalah parasit.
Kejadian penyakit pada udang oleh serangan parasit mortalitasnya
mencapai 41,582% (Mahasri dan Kismiyati, 2008), sehingga kasus ini tidak dapat
diabaikan begitu saja karena infeksi atau infestasi yang disebabkan oleh parasit
dapat menyebabkan infeksi primer artinya dalam kondisi udang yang lemah akibat
serangan parasit akan memudahkan masuknya patogen lain yang tentu akan
memperparah kondisi udang dan mempercepat terjadinya kematian (Handayani
dan Bambang, 1999).
Penyakit parasit pada udang vannamei memerlukan penanganan yang
tepat. Penanganan parasit yang salah dapat mengakibatkan resistensi parasit,
kematian pada udang vannamei yang terserang dan dapat menghambat proses
budidaya, sehingga diperlukan penanganan yang benar. Atas dasar pemikiran
tersebut maka dilakukan Praktek Kerja Lapang ini untuk mempelajari teknik
identifikasi parasit yang tepat.

1.2 Tujuan
Praktek Kerja Lapang ini bertujuan untuk memperoleh pengetahuan,
pengalaman dan ketrampilan serta mengetahui cara mengidentifikasi parasit pada
udang vannamei (Litopenaeus vannamei) di Dinas Kelautan, Perikanan dan
Peternakan, Kabupaten Gresik, Propinsi Jawa Timur.

1.3

Manfaat
1. Manfaat pelaksanaan Praktek Kerja Lapang ini adalah Meningkatkan
pengetahuan, ketrampilan, dan menambah wawasan di bidang perikanan
dalam megidentifikasi parasit yang menyerang udang vannamei.
2. Membandingkan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang didapat
dari perkuliahan (kampus) dengan ilmu pengetahuan dan teknologi
(IPTEK) yang diterapkan di lapangan dan menelaah persamaan maupun
perbedaan yang ada.
3. Melatih mahasiswa untuk bekerja secara mandiri di lapangan dan
sekaligus melatih mahasiswa untuk menyesuaikan diri dengan kondisi di
lapangan pekerjaan yang nantinya akan ditekuni setelah lulus.
4. Dapat digunakan sebagai acuan serta pengetahuan bagi pembaca mengenai
teknik identifikasi yang tepat dalam usaha budidaya perikanan.

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei)

2.1.1

Klasifikasi
Klasifikasi udang vannamei (Litopenaeus vannamei) menurut Haliman

dan Adijaya (2005), adalah sebagai berikut :


Kingdom
Sub Kingdom
Filum
Sub Fillum
Kelas
Sub Kelas
Super Ordo
Ordo
Sub Ordo
Famili
Genus
Spesies

2.1.2

:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:

Animalia
Metazoa
Arthropoda
Crustacea
Malacostraca
Eumalacostraca
Eucarida
Decapoda
Dendrobranchiata
Penaeidae
Litopenaeus
Litopenaeus vannamei

Morfologi
Secara umum tubuh udang vannamei dibagi menjadi dua bagian, yaitu

bagian kepala yang menyatu dengan bagian dada (Cephalothorax) dan bagian
tubuh sampai ekor (Abdomen). Bagian cephalothorax terlindung oleh kulit chitin
yang disebut carapace. Bagian ujung cephalotorax meruncing dan bergerigi yang
disebut rostrum. Udang vannamei memiliki 2 gerigi di bagian ventral rostrum
sedangkan di bagian dorsalnya memiliki 8 sampai 9 gerigi (Arifin dkk., 2007).
Tubuh udang vannamei beruas-ruas dan tiap ruas terdapat sepasang
anggota badan yang umumnya bercabang dua atau biramus. Jumlah keseluruhan
ruas badan udang vannamei umumnya sebanyak 20 buah. Cephalotorax terdiri

dari 13 ruas, yaitu 5 ruas dibagian kepala dan 8 ruas di bagian dada. Ruas I
terdapat mata bertangkai, sedangkan pada ruas II dan III terdapat antenna dan
antennula yang berfungsi sebagai alat peraba dan pencium. Pada ruas ke III
terdapat rahang (mandibula) yang berfungsi sebagai alat untuk menghancurkan
makanan sehingga dapat masuk ke dalam mulut (Adiwijaya dkk, 2008). Gambar
udang vannamei dapat dilihat pada gambar 1 dibawah.

5 cm

Gambar 1. Udang vannamei (Litopenaeus vannamei)


(Sumber: Budi, 2009)
Bagian dada udang vannamei terdapat 8 ruas yang masing-masing ruas
terdiri dari anggota badan yang biasa disebut thoracopoda. Thoracopoda I-III
dinamakan maxilliped yang berfungsi sebagai pembantu mulut dalam memegang
makanan. Thoracopoda IV-VIII berfungsi sebagai kaki jalan (periopoda). Bagian
abdomen udang vannamei terdapat 6 ruas. Ruas I-V merupakan bagian kaki
renang (pleopoda), sedangkan pada ruas VI berbentuk pipih dan melebar yang
dinamakan uropoda yang bersama-sama dengan telson berfungsi sebagai kemudi
dan anus terdapat di pangkal ujung ekor (Arifin dkk, 2007). Menurut Bratvold dan
Browdy (2001), organ dalam pada udang yang bisa diamati adalah usus (intestine)
yang bermuara pada anus yang terletak pada ujung ruas keenam.

Karakteristik udang vannamei dari subgenus Litopenaeus adalah ditandai


dengan adanya organ seksual (thelycum) yang terbuka tanpa adanya tempat
penampung sperma pada betina (Indra, 2007), dapat dilihat pada gambar 2. Selain
itu ciri khusus pada udang vannamei adalah terdapat warna biru spesifik di bagian
ekor (Soleh, 2006).

Gambar 2. Bagian tubuh Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei), (FAO, 2010).

Menurut Fahrur dan Yulianingsih. 2006, udang vannamei dalam


pertumbuhan dan perkembangannya mengalami beberapa stadia, yaitu nauplius,
zoea, mysis, post larva, juvenile (udang muda), dan udang dewasa yang
membutuhkan habitat yang berbeda pada setiap stadium. Udang vannamei
melakukan pemijahan di perairan yang relatif dalam. Setelah menetas, larvanya
yang bersifat planktonis terapung-apung terbawa arus, kemudian berenang
mencari air dengan salinitas rendah disekitar pantai atau muara sungai. Di
kawasan pantai, larva udang vannamei berkembang. Menjelang dewasa, udang
vannamei beruaya kembali ke perairan yang lebih dalam dan memiliki tingkat
salinitas yang lebih tinggi, dan kemudian memijah.

2.1.3

Sifat dan tingkah laku


Di antara berbagai sifat dan tingkah laku udang sangat penting untuk kita

ketahui yaitu sifat nocturnal, sifat suka memangsa sesama jenis (kanibalisme) dan
proses ganti kulit (moulting), sifat nocturnal adalah sifat binatang yang aktif
mencari makan pada waktu malam. Pada waktu siang udang vannamei lebih suka
beristirahat baik membenamkan diri di dalam lumpur maupun menempel pada
suatu benda yang terbenam dalam air (Rachmansyah dkk, 2006).
Menurut Kungvankij et al (1986), perkembangan pada stadium nauplius
udang vannamei terdiri dari enam instar, yaitu nauplius I ditandai dengan adanya
setae yang pendek pada antena, pada nauplius II ujung antena pertama terdapat
setae yang satu panjang dan dua lainnya pendek. Nauplius III, furcal dua buah
mulai terlihat jelas, masing masing dengan tiga duri yang terdiri dari tunas
maxilla dan maxilliped. Nauplius IV, pada masingmasing furcal terdapat 4 buah
duri, dan exopoda pada antenna kedua yang beruas-ruas. Nauplius V ditandai
dengan tumbuhnya tonjolan pada pangkal maxilla dan organ bagian depan mulai
tampak jelas. Nauplius VI, perkembangan setae semakin sempurna dan duri pada
furcal tumbuh semakin panjang

2.1.4

Siklus hidup
Udang vannamei biasa kawin di daerah lepas pantai yang dangkal. Proses

kawin udang meliputi pemindahan spermatophore dari udang jantan ke udang


betina. Peneluran bertempat pada daerah lepas pantai yang lebih dalam. Telurtelur dikeluarkan dan difertilisasi secara eksternal di dalam air. Seekor udang
betina mampu menghasilkan 100.000 250.000 butir telur yang berukuran 0,22

mm. Dalam waktu 13-14 jam, telur kecil tersebut berkembang menjadi larva
berukuran mikroskopik yang disebut nauplii atau nauplius (Perry, 2008). Gambar
siklus hidup udand vannamei dapat dilihat pada gambar 3.

Gambar 3. Daur Hidup Udang Vannamei


(Sumber : Soleh, 2006 )
Udang vannamei memijah di daerah lepas pantai yang dangkal. Proses
memijah udang meliputi pemindahan spermatophore dari udang jantan ke udang
betina. Proses pemijahan ditandai dengan loncatan udang betina secara tiba-tiba.
Pada saat meloncat udang tersebut, betina menggeluarkan sel-sel telur. Pada saat
yang bersamaan, udang jantan mengeluarkan sperma sehingga sel telur dan
sperma bertemu. Proses perkawinan berlangsung sekitar 1 menit. Sepasang udang
vannamei berukuran 30-40 gram dapat menghasilkan 100.000-25.000 butir telur
yang berukuran 0,22 mm (Soemardjati dan Suriawan, 2007).

2.1.5

Makanan
Menurut Suprapto (2005), udang vannamei membutuhkan pakan dengan

kandungan protein 25-30%, lebih rendah ketimbang udang windu. Di samping itu

feeding efficiency-nya juga lebih baik, dengan FCR 1: 1,2 pada budidaya
vannamei secara intensif, sedangkan FCR udang windu 1:1,6. Karena kedua
alasan tersebut dan dengan pertumbuhan yang lebih cepat dan sintasan yang lebih
tinggi, maka biaya produksi udang vannamei

lebih rendah hingga 25-30%

ketimbang biaya produksi udang windu.


Litopenaeus vannamei memiliki karakteristik kultur yang unggul. Berat
udang ini dapat bertambah lebih dari 3 gram tiap minggu dalam kultur dengan
densitas tinggi (100 udang/m2). Berat udang dewasa dapat mencapai 20 gram dan
diatas berat tersebut, udang vannamei tumbuh dengan lambat yaitu sekitar 1 gram
per minggu. Udang betina tumbuh lebih cepat daripada udang jantan (Arifin dkk.,
2007).
Untuk makanannya yaitu memakan kuning telur yang tersimpan dalam
tubuhnya lalu mengalami metamorfosis menjadi zoea. Stadia kedua ini memakan
alga dan setelah beberapa hari bermetamorfosis lagi menjadi mysis. Mysis mulai
terlihat seperti udang kecil menyerupai bentuk udang yang dicirikan dengan
terlihat ekor kipas (uropods) dan ekor (telson) memakan alga dan zooplankton,
setelah 3 sampai 4 hari, mysis mengalami metamorfosis menjadi postlarva. Tahap
postlarva adalah tahap saat udang sudah mulai memiliki karakteristik udang
dewasa. Keseluruhan proses dari tahap nauplii sampai postlarva membutuhkan
waktu sekitar 12 hari. Di habitat alaminya, postlarva akan migrasi menuju
estuarin yang kaya nutrisi dan bersalinitas rendah. Mereka tumbuh di sana dan
akan kembali ke laut terbuka saat dewasa. Udang dewasa adalah hewan bentik
yang hidup di dasar laut (Arifin dkk., 2007).

2.2

Penyakit Parasit pada udang


Menurut Yanto (2006), proses timbulnya suatu penyakit adalah adanya

interaksi antara agen penyakit misalnya parasit dengan kondisi lingkungan serta
udang itu sendiri. Penurunan kualitas lingkungan akibat penumpukan bahan
organik, dan sebagai dampak dari kegiatan intensifikasi tambak menyebabkan
udang stress dan akhirnya rentan terhadap penyakit.
Parasit adalah hewan atau tumbuhan yang hidup didalam atau pada tubuh
organisme lain, sehingga memperoleh makanan dari inangnya tanpa ada
kompensasi apapun (Handjani, dan Samsundari. 2005)
Irawan (2000) menyatakan bahwa berdasarkan daerah penyerangannya
parasit dibagi menjadi dua golongan : (1) Eksternal parasit atau ektoparasit yaitu
parasit yang hidup dibagian luar hewan inang, dapat hidup dikarapas, antenna,
kaki renang, mata ekor dan insang; (2) Endoparasit yaitu parasit yang hidup
dibagian hewan dalam hewan inang, hidup disaluran darah, otot, internal (otak,
hati, ginjal) infeksi parasit ini melalui oral dan mulut.
Parasit dapat dengan mudah menyerang udang vannamei bila kualitas air
pemeliharaan kurang baik, terutama bila kandungan bahan organik dalam air
tinggi. Parasit akan menempel pada insang, kaki renang dan kaki jalan. Dalam
kondisi yang lebih parah, parasit akan menempel pada permukaan tubuh udang
vannamei. Parasit dapat terlepas dari tubuh udang vannamei jika udang yang
terserang parasit telah mengalami moulting (Haliman dan Adijaya, 2005).
Menurut Sudrajat (2010), parasit yang menyerang udang vannamei yang sering
ditemukan pada pemeliharaan udang pada kualitas air yang kurang baik umumnya

berasal dari kelas Ciliata. Beberapa spesies dari kelas Ciliata antara lain
Zoothamnium sp., Vorticella sp., dan Epistylis sp. Protozoa yang menyerang
udang yang sering ditemukan pada pemeliharaan udang pada kualitas air yang
kurang baik dari kelas ciliata. Beberapa spesies dari kelas ciliata adalah sebagai
berikut:

2.2.1

Zoothamnium sp.

A.

Klasifikasi
Menurut Mahasri dan Kismiyati (2008), klasifikasi Zoothamnium sp.

adalah sebagai berikut:


Phylum
Kelas
Ordo
Famili
Genus
Spesies
B.

: Protozoa
: Ciliata
: Peritricha
: Vorticellidae
: Zoothamnium
: Zoothamnium sp.

Morfologi
Zoothamnium sp. merupakan parasit bersifat ektoparasit yang dapat

menyebabkan penyakit zoothamniosis pada udang vannamei. Tubuh terdiri dari


zooid dan pedicle. Zooid berbentuk seperti kerucut hampir membulat. Diameter
bagian antrior dan posterior lebih kecil dari pada bagian dorsal dan ventral
(Patterson, 2010). Zooid terdiri dari tangkai peristomial yang bersilia, vacuola
kontraktril, ribosom, mitokondria dan retikulum endoplasma (Mahasri dan
Kismiyati, 2008). Pedicle berfungsi untuk melekat pada substrat. Pedicle
mempunyai 2 cabang, dan setiap cabang memiliki cabang lagi. Reproduksi
dengan cara pembelahan dan hasil pembelahan untuk memperbesar koloni.
Bentuk Zoothamnium sp. dapat dilihat pada gambar 4.

Gambar 4 . Zoothamnium sp.


(sumber : Sekhar, 2004).
C. Gejala klinis
Tubuh udang tertutup semacam selaput yang berwarna putih atau coklat
yang menyerupai jaket. Udang sulit bernafas karena inang tertutup parasit
(Sunarto dan Rukyani. 1992).

2.2.2
A.

Vorticella sp.
Klasifikasi
Menurut Verma (2005), klasifikasi Vorticella sp. adalah sebagai berikut :

Phylum
Kelas
Subklas
Ordo
Famili
Genus
Spesies
B.

: Protozoa
: Ciliata
: Protociliata
: Peritricha
: Vorticellidae
: Vorticella
: Vorticella sp

Morfologi
Vorticella sp. memilki ukuran lebih besar pada peristome, dan memiliki

silia. Tangkai berbentuk pipih dan silindris. Memiliki vakuola kontraktil 1 sampai
2 buah. Sel Vorticella sp. berwarna kuning kehijauan. Hidup soliter dan
menempel pada substrat (Dana dan Hadiroseyani, 1989). Bentuk tubuh Vorticella
sp. dapat dilihat pada gambar 5.

Gambar 5. Vorticella sp.


(sumber : Holt, 2009)
C.

Gejala Klinis
Gejala klinis udang yang terserang Vorticella sp. hampir sama dengan

udang yang terserang Zoothamnium sp. udang berenang ke permukaan kolam dan
tubuhnya berwarna buram. Insang yang terinfeksi berwarna kecoklatan. Proses
moulting terhambat dan timbul peradangan pada kulit (Direktorat Kesehatan Ikan
dan Lingkungan, 2010).

2.2.3

Epistylis sp.

A.

Klasifikasi
Menurut Kudo (1977), klasifikasi dari Epistylis sp. adalah sebgai berikut :

Phylum
Kelas
Ordo
Famili
Genus
Spesies

B.

: Protozoa
: Ciliata
: Peritricha
: Epistylidae
: Epistylis
: Epistylis sp

Morfologi
Epistylis sp. hidup dalam bentuk koloni bertangkai yang tidak

berkontraktil, mempunyai makronukleus kecil. Bentuk tubuhnya seperti lonceng


namun lebih ramping dan mempunyai cilia pada membran adoral. Sel mampu

berkontraksi. Capsilia kecil berpasangan mengandung benang melingkar.


Epistylis sp adalah filter feeder dan merupakan ektoparasit pada udang dan
predileksinya pada kulit dan insang (Trimariani, 1994). Gambar Epistylis sp. dapat
dilihat pada gambar 6.

Gambar 6. Epistylis sp.


(Sumber : Sekhar, 2004)
C.

Gejala Klinis
Penampilan udang vannamei menjadi tidak menarik. Tubuh udang

kelihatan seperti berlumut dengan warna kecoklatan yang diakibatkan oleh


penempelan parasit ini. Parasit ini juga menyerang insang udang vannamei,
sehingga insang berwarna kehitaman (Barnes, 1991).

2.3

Metode Pemeriksaan Parasit pada Udang Vannamei


Menurut Mahasri dan Kismiyati (2008), Metode pemeriksaan parasit pada

udang vannamei dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara visual atau
makroskopis dan secara mikroskopis.

2.3.1

Pemeriksaan makroskopis
Pemeriksaan makroskopis dapat dilakukan dengan cara melihat atau

mengamati secara langsung, baik penampilan maupun tingkah laku udang hidup
karena udang yang sakit akan memperlihatkan gejala yang berbeda dari udang

sehat. Beberapa parasit yang ukurannya besar dapat dilihat secara visual dengan
menggunakan kaca pembesar. Pemeriksaan secara visual juga dapat dilakukan
dengan melihat organ dalam pada udang, seperti usus dan hepatopankreas dengan
cara

pembedahan.

Adanya

infeksi

endoparasit

dapat

mengakibatkan

ketidaknormalan bentuk dan warna organ dalam.

2.3.2

Pemeriksaan mikroskopis
Udang vannamei yang akan diperiksa secara mikroskopis harus dalam

keadaan hidup. Hal ini penting untuk pemeriksaan beberapa jenis protozoa yang
sukar terlihat pada udang yang sudah lama mati atau dibekukan. Beberapa jenis
ektoparasit akan melepaskan diri setelah inangnya mati atau mati bersama dengan
inangnya dan akan sulit diidentifikasi.
Selama pemeriksaan, udang sebaiknya dipertahankan dalam keadaan
basah karena kekeringan akan mengakibatkan kematian beberapa ektoparasit yang
terdapat di permukaan tubuh udang. Pemeriksaan secara mikroskopis dengan cara
scrapping pada permukaan tubuh dan usus udang vannamei (Taslihan, 2006
dalam Ayu, 2009), pewarnaan dan secara histopatologi (Islahuttamam, 2008).
Prosedur pemeriksaan mikroskopis ini menurut Islahuttamam (2008),
adalah sampel udang vannamei dibunuh dengan cara menusuk bagian atas kepala.
Selanjutnya dilakukan scrapping pada bagian kulit, insang dan ekor dengan
menggunakan alat Disetting set. Hasil scrapping yang berupa lendir diletakkan
pada obyek glass, dan ditetesi dengan aquadest atau air secukupnya dan ditutupi
dengan cover glass. Selanjutnya diamati dibawah mikroskop dengan pembesaran
100-400x. Parasit dapat diamati.

III PELAKSANAAN KEGIATAN

3.1 Waktu dan Tempat


Praktek Kerja Lapangan ini dilaksanakan di Dinas Perikanan Kelauatan
dan Peternakan Kabupaten Gresik, Propinsi Jawa Timur. Pada tanggal 24 Januari
24 Pebruari 2011.

3.2 Metode Kerja


Metode yang digunakan dalam Praktek Kerja Lapang ini adalah metode
deskriptif, yaitu metode yang menggambarkan atau memaparkan suatu kejadian
pada objek tertentu yang diteliti secara tepat. Metode penelitian deskriptif
merupakan

metode

penelitian

yang

berusaha

menggambarkan

dan

menginterpretasikan objek sesuai dengan apa adanya (Rakim, 2008).

3.3 Metode Pengumpulan Data


Data yang diambil dalam Praktek Kerja Lapangan ini yaitu berupa data
primer dan data sekunder yang diperoleh melalui beberapa metode atau cara
pengambilan.

3.4 Data Primer


Data Primer merupakan data yang diperoleh langsung dengan mengadakan
pengamatan langsung terhadap objek yang telah diselidiki baik dalam situasi yang
sebenarnya maupun dalam situasi buatan yang khusus. Data primer diambil secara
langsung dari sumbernya dan belum melalui proses pengumpulan dari pihak lain.
Data primer merupakan data yang didapat dari sumber pertama, dari individu

seperti hasil wawancara, pengisian kuisioner yang dilakukan peneliti (Siagian dan
Sugiarto, 2002). Dalam pengumpulan data primer dapat digunakan beberapa
metode yaitu observasi, wawancara (interview), dan partisipasi aktif maupun
memakai instrument pengukuran tertentu yang khusus sesuai dengan tujuan
(Azwar, 1998).

A. Observasi
Observasi atau yang disebut pula dengan pengamatan meliputi kegiatan
pemuatan perhatian terhadap suatu objek dengan menggunakan seluruh alat
indera. Dalam artian observasi dapat dilakukan dengan tes, dan rekaman gambar
(Hendri, 2009). Observasi praktek kerja lapangan ini dilakukan terhadap berbagai
hal yang berkaitan dengan pemeriksaan parasit pada udang vanamei meliputi
kegiatan pemeriksaan parasit pada udang vanamei serta sarana prasarana yang
dibutuhkan untuk pemeriksaan parasit pada udang vanamei di Dinas Kelautaan
Perikanan dan Peternakan Kabupaten Gresik.

B. Wawancara
Wawancara merupakan cara mengumpulkan data dengan tanya jawab
sepihak yang dikerjakan secara sistematis dan berlandaskan pada tujuan kegiatan.
Dalam wawancara memerlukan komunikasi yang baik dan lancar antara
mahasiswa dengan subyek, yaitu pegawai atau pembimbing lapangan sehingga
pada akhirnya bisa didapatkan data yang dapat dipertanggungjawabkan secara
keseluruhan. Wawancara dilakukan dengan cara tanya jawab mengenai sejarah
berdirinya Dinas Kelautaan Perikanan dan Peternakan Kabupaten Gresik. Struktur

organisasi, tenaga kerja, sarana prasarana yang diperlukan dalam pemeriksaan


parasit pada udang vanamei, serta metode pemeriksaan parasit pada udang
vanamei.

C. Partisipasi Aktif
Partisipasi aktif dilakukan dengan mengikuti secara langsung beberapa
kegiatan yang dilakukan dalam pemeriksaan parasit pada udang vanamei di Dinas
Kelautan Perikanan dan Peternakan.

3.5 Data Sekunder


Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber tidak langsung dan
telah dikumpulkan serta dilaporkan oleh orang di luar dari penelitian itu sendiri
(Azwar, 1998). Pada umumnya data sekunder berupa data yang telah
dikumpulkan dan diolah oleh pihak lain sehingga dapat digunakan oleh peneliti
untuk memberikan gambaran tambahan, lengkap atau untuk proses lebih lanjut.
Data ini dapat diperoleh dari data dokumentasi, lembaga penelitian, dinas
perikanan, pustaka-pustaka, laporan tahunan yang berkaitan dengan kegiatan
identifikasi penyakit pada udang vannamei.

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1

Keadaan Umum Lokasi Praktek Kerja Lapang

4.1.1

Letak Geografis dan Topografi DKPP Gresik


Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan (DKPP) Gresik terletak di Desa

Randu Agung Kecamatan Kebomas Kabupaten Gresik Propinsi Jawa Timur.


Secara geografis DKPP Gresik berada didekat pantai utara pulau Jawa tepatnya
pada 112-113 Bujur Timur dan 78 Lintang Selatan dari pusat kota berjarak 1
km dari pusat kota. Lokasi di sekitar antara 20-30C. Ketinggian lokasi dari
permukaan yaitu 2-12 meter, jenis tanah pada lokasi disekitar DKPP Gresik juga
berdekatan dengan laut dengan kondisi pantai yang berkarang dan berpasir dengan
salinitas antara 28-34 ppt dan mempunyai perbedaan pasang surut 2 meter
dengan dasar pantai yang berkarang dan berpasir.
Letak DKPP Gresik terletak pada 5 meter dari jalan Kabupaten
sedangkan dari jalan Kabupaten lokasi DKPP Gresik dihubungkan dengan jalan
desa yang beraspal, di daerah lokasi DKPP Gresik terdapat banyak usaha di
bidang perikanan yang dilakukan oleh masyarakat, karena letak dari DKPP Gresik
dekat dengan pusat kota dan usaha di bidang perikanan yang dijalankan oleh
masyarakat yang tinggal di seekitar pusat kota Gresik. Luas area yang di miliki
DKPP Gresik adalah sekitar 250 m dimana dengan penggunaan area seluas 250
m digunakan sebagai area perkantoran dan laboratorium.

4.1.2

Sejarah Berdirinya
Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan (DKPP) Gresik dalam

perkembangannya sejak didirikan mengalami beberapa kali perubahan status dan


hierarki. Pada awalnya berdiri pada tahun 1999 berada di bawah Dinas Kelautan
dan Perikanan Provinsi Jawa Timur, dan pada tahun 2004 terbentuk Dinas
Kelautan, Perikanan dan Peternakan dan masih dibawah Dirktorat Jendral
Perikanan, Prioritas dan kebijakan umum pembangunan daerah tahun 2006-2010
sebagaimana tertuang dalam Peraturan Bupati Gresik Nomor 43 Tahun 2006
tentang Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Gresik tahun 2009
maka prioritas utama pembangunan yang terkait dengan pembangunan kelautan
dan perikanan adalah Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup.

4.1.3

Status Tugas Pokok dan Fungsi


Berdasarkan Peraturan Daerah tersebut maka Dinas Kelautan, Perikanan

dan Peternakan Kabupaten Gresik mempunyai tugas pokok dan fungsi sebagai
berikut yaitu (a). Tugas Pokok Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan
Kabupaten Gresik yaitu Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan mempunyai
tugas membantu Bupati dalam menyelenggarakan urusan Rumah Tangga Daerah
dan tugas pembantuan dibidang Kelautan dan Perikanan. (b). Fungsi Dinas
Kelautan, Perikanan dan Peternakan Kabupaten Gresik yaitu : (a). Pelaksanaan
pembinaan dan pengembangan teknis kewenangan Kelautan, Perikanan dan
Peternakan berdasarkan kebijakan yang ditetapkan oleh Kepala daerah. (b).
Penyusunan rencana dan pelaksanaan program pembangunan bidang Kelautan,
Perikanan dan Peternakan yang menjadi kewenangan Kabupaten. (c). Pelaksanaan

pemberian pengawasan teknis dan tugas-tugas pelaksanaan bidang Kelautan,


Perikanan

dan

Peternakan

yang menjadi

kewenangan

Kabupaten.

(d).

Pengelolaan, pembinaan dan pelayanan perijinan dibidang Kelautan, Perikanan


dan Peternakan. (e). Pengelolaan administrasi umum meliputi ketatalaksanaan,
keuangan dan kepegawaian, peralatan dan perlengkapan dinas. (f). Pengelolaan
Unit Pelaksana Teknis. (g). Pelaksana tugas lain yang diberikan oleh Bupati
sesuai dengan bidang dan tugasnya.

4.1.4

Struktur Organisasi
Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan Kabupaten Gresik dibentuk

berdasarkan Perda No. 2 Tahun 2008 dan ditindak lanjuti dengan keputusan
Bupati No. 45 Tahun 2008 tentang Penjabaran Tugas Pokok dan Fungsi Dinas
Kelautan, Perikanan dan Peternakan Kabupaten Gresik. Struktur organisasi DKPP
Gresik dapat dilihat pada gambar 7.
Kepala Dinas

Sekertariat

Bidang
Kelautan

Bidang
Perikanan

Bidang
Peternakan

Bidang
pemberdayaan

Jabatan
Fungsional

Gambar 7. Struktur Organisasi DKPP Gresik.


(Sumber: Laporan Tahunan DKPP Gresik, 2009 ).

Unit
Pelaksana

4.1.5

Kepegawaian
DKPP Gresik dalam melaksanakan tugasnya memerlukan sumberdaya

manusia yang cukup. DKPP Gresik didukung oleh sumberdaya manusia sebanyak
100 orang, terdiri atas 97 dan 3 orang tenaga honorer.

4.2

Sarana dan Prasarana DKPP Gresik

4.2.1. Sarana
A. Ruang Uji Kualitas Air dan Tanah
Ruang uji kiualitas air dan tanah merupakan ruangan yang berfungsi untuk
menguji kualitas air dan tanah untuk menunjang kegiatan para pembudidaya ikan
dan udang. Luas ruangan 25 m. Di Laboratorium ini mempunyai sarana dan
prasarana yaitu meliputi 1 buah spectrometer, 1 buah PH soil tester, 1 buah
revractometer, 1 buah frezzer untuk penguji PCR dengan suhu -25C, 1buah MV
meter, 1 buah ayakan bersusun, 1 buah Cool Box, 1 buah BOD jamper, 1 buah DO
meter, 5 buah cawan petri, 6 buah baker glass, 1 buah etalase, 1 buah timbangan.

B.

Ruang PCR (Polymerase chain reaction)


Ruang PCR merupakan ruangan yang berfungsi untuk menguji adanya

berbagai macam virus melalui hasil reaksi berantai suatu primer dari sequence
DNA dengan bantuan enzyme polymerase sehingga terjadi amplifikasi DNA
secara in vitro. Di Laboratorium ini mempunyai sarana dan prasarana yaitu
meliputi 1 buah alat hand laminar flow, 6 buah micropipet, 1 buah centrifuge, 1
buah mesin vortex, 1 buah water BUD, 1 buah Frezzer, 1 unit sarung tangan, 1
unit masker, 1 lt botol alkohol 96%, 1 lt Aquades, dan 1 buah stopwatch.

C. Ruang Amplifikasi
Ruang Amplifikasi berfungsi untuk mengelola hasil ekstraksi DNA sampai
terbaca di transilminator. Di Laboratorium ini mempunyai sarana dan prasarana
yaitu meliputi 1 buah microwafe, 1 buah cctv, 1 buah printer, 1 buah uv document
dan 1 buah master cycler personal.

D. Ruangan Timbangan
Ruangan timbangan berfungsi untuk menimbang bahan-bahan yang akan
dilakukan pengujian dan untuk menyimpan bahan-bahan kimia. Di Laboratorium
ini mempunyai sarana dan prasarana yaitu meliputi 1 buah timbangan analytic
balance, 6 ltr alcohol, 2 ltr aquades dan 1 buah hot plate.

E. Ruangan Sterilisasi
Ruangan sterilisasi berfungsi untuk mensterilisasi alat dan menyimpan
alat. Di Laboratorium ini mempunyai sarana dan prasarana yaitu meliputi 1 buah
autoclave, 1 buah pellet pastel, 1 lemari sterilisasi, 12 buah cawan petri, 4 tabung
reaksi, 6 buah elenmeyer, 4 buah gelas ukur, 4 buah labu ukur, 4 buah Bunsen, 1
buah turbidimeter, 1 buah squit 3cc, dan 1 buah colony counter.

F. Ruangan Mikrobiologi
Ruangan mikrobiologi berfungsi untuk melaksanakan kerja Mikrobiologi,
identisifikasi parasitologi, perhitungan total bakteri, penentuan angka lempeng
total dan pengecetan bakteri. Peralatan lab ini yaitu: 2 buah mikroskop, 1 buah
laminar flow, 1buah Bunsen, 2 gelas ukur, 4 buah tabung ukur, 2 buah mikropipet,
1 ltr alkohol, 1 buah frezzer, 1 paket cover glass, dan 1 paket obyek glass.

4.2.2.

Prasarana

A. Transportasi
Guna mendukung kelancaran tugas dan kegiatan Dinas

Kelautan

Perikanan dan Peternakan dilengkapi dengan sarana transportasi berupa : (1) 21


unit kendaraan roda 2; (2) 3 unit buah mobil, (3) 3 unit kapal yang terdiri dari 1
kapal patrol pantai dan 2 kapal patrol speed boat.

B. Bangunan Penunjang
Bangunan yang dimiliki DKPP Gresik adalah berupa perkantoran,
laboratorium, garasi, kantin. Gedung perkantoran meliputi : gedung utama (1
lantai) yang digunakan untuk ruang perputakaan, ruang rapat, ruang kepala dinas,
ruang staf, dan ruang sekertariat. Selain saranaa tersebut, DKPP Gersik memiliki
sarana berupa jalan aspal yang menghubungkan masing-masing perkantoran, dan
Sarana lain berupa : Musholla sebagai sarana ibadah. Ruang staf berfungsi untuk
mengelola data yang dibtuhkankan oleh instansi.

4.3

Kegiatan Praktek Kerja Lapangan

4.3.1

Kegiatan Identifikasi Parasit


Kegiatan identifikasi parasit di Lab Mikrobiologi di DKPP Gresik, dengan

mengacu pada metode yang telah ditetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional
berupa Standard Nasional Indonesia (SNI). Identifikasi ini dilakukan untuk
sampel internal (sampel dari tambak-tambak DKPP Gresik) maupun eksternal
(sampel dari balai lain yang bekerja sama dengan DKPP Gresik) serta menetapkan
rencana dan prosedur pengambilan sampel yang akan di uji berdasarkan SNI.

Jenis kegiatan yang dilakukan di DKPP Gresik yaitu pemeriksaan penyakit


parasiter, pemeriksaan bakteri, dan pemeriksaan virus dengan teknik PCR.
Berdasarkan persyaratan yang telah ditetapkan, maka kondisi sampel yang akan di
uji harus terpenuhi agar diperoleh hasil identifikasi yang akurat. Berdasarkan hasil
pengamatan sampel yang akan diuji harus mengikuti alur identifikasi mulai dari
identifikasi parasit, bakteri, dan virus, dimana skema alur kegiatan identifikasi
penyakit Ikan dan Udang di DKPP Gresik seperti Gambar 8 Namun, tidak semua
sampel yang diterima diperiksa dengan tiga metode identifikasi tersebut
disesuaikan dengan permintaan konsumen (pemilik sampel). Kegiatan identifikasi
parasit pada pemeliharaan udang vannamei dilakukan pada pagi hari.
Sampel yang diambil di lapangan berupa udang dengan ukuran antara 1025 cm yang berumur 1-3,5 bulan dan diduga diduga terserang parasit, dan
menunjukkan, gejala klinis seperti lemas, tidak bergerak dan nafsu makan
menurun yang sesuai dengan pendapat Lightner (1996).
SAMPEL YANG DIUJI

IDENTIFIKASI PENYAKIT INFEKSIUS


YANG DISEBABKAN PARASIT

IDENTIFIKASI PENYAKIT YANG DI


SEBABKAN BAKTERIAL

IDENTIFIKASI PENYAKIT VIRAL


DENGAN TEKNIK PCR
Gambar 8. Alur Identifikasi Penyakit di Laboratorium Kesehatan Ikan di DKPP Gresik.

4.3.2

Identifikasi Parasit
Identifikasi parasit pada pemeliharaan udang vannamei dilaksanakan di

Laboratorium Mikrobiologi di DKPP Gresik yang mengacu pada prosedur kerja


yang telah ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Perikanan-Departemen Kelautan
dan Perikanan. Identifikasi parasit umumnya dilakukan dengan menggamati
bentuk yang kemudian di kelompokkan dalam genus dan spesies. Pemeriksaan
parasit pada udang vannamei dilakukan secara natif (langsung) dengan cara
scrapping terhadap bagian yang diduga terserang penyakit (Lightner, 1996).

4.3.3

Alat dan Bahan


Alat yang digunakan untuk identifikasi parasit pada udang vannamei di

Laboratorium Mikrobiologi di DKPP Gresik meliputi diseeting set, cover glass,


object glass, dan mikroskop cahaya seperti pada Gambar 6. Bahan yang
diperlukan untuk identifikasi penyakit parasiter meliputi contoh atau sampel
udang vannamei (Litopenaeus vannamei) yang diduga terserang parasit dan gejala
klinis yang ditimbulkan.

a.
Gambar 9. a. Mikroskop

b. Disetting set

4.3.4

Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel pada waktu PKL berupa udang vannamei yang

diduga terserang parasit dalam kondisi hidup yang berasal dari 7 kecamatan yang
berbeda, setiap kecamatan sampel udang vannamei berjumlah 5. Pengambilan
sampel udang dilakukan setiap 2x seminggu pada waktu pagi hari. Banyaknya
sampel yang diambil sekitar 75 ekor udang vannamei, dan banyaknya udang yang
terinfeksi parasit adalah 10 ekor udang vannamei.
Sampel yang diambil adalah sampel yang menunjukkaan gejala klinis dan
tingkah laku terserang penyakit parasit seperti diam di dasar kolam, lemas, nafsu
makan menurun, berenang dengan menonjolkan kepalanya ke permukaan, atau
berenang ke tepi (pematang) kolam seperti pendapat (Holt. 2009). Pengambilan
sampel dilakukan di pembudidaya udang vannamei di wilayah Gresik, dengan
mengambil lendir yang ada di kulit dan insang. Sampel yang diambil untuk
identifikasi penyakit parasit adalah sampel yang dalam kondisi masih hidup,
karena sampel yang sudah mati umumnya beberapa jenis parasit sudah rusak,
sehingga sulit untuk dikenali (Astuti, 2006).

4.3.5

Prosedur Kerja
Prosedur kerja identifikasi parasit yang dilakukan di Laboratorium

Mikrobiologi di DKPP Gresik diawali dengan menggambil sampel udang


vannamei. Sampel udang vannamei yang diperiksa adalah udang yang
menunjukkan gejala klinis terserang parasit, kemudian udang dibawa ke
Laboratorium untuk diperiksa. Teknik pemeriksaan dan identifikasi parasit pada
udang vannamei yaitu : Mengambil sampel udang vannamei, kemudian dimatikan

dengan cara menusuk bagian atas kepala. Selanjutnya dilakukan scrapping pada
bagian kulit, insang dan ekor. Hasil scrapping yang berupa lendir diletakkan pada
obyek glass, dan ditetesi dengan aquadest atau air secukupnya dan ditutupi dengan
cover glass. Selanjutnya diamati dibawah mikroskop dengan pembesaran 100400x. Hasil pengamatan dicocokan pada gambar atau buku identifikasi parasit
yang menunjukkan infeksi seragan parasit. Alur prosedur kerja identifikasi parasit
dapat dilihat di tabel 1.

Pengambilan sampel dan


mematikan udang

Scrapping lender di kulit, sirip dan


insang

Pengamatan dengan mikroskop


perbesaran 100 - 400x

Buat preparat segar

Pencatatan hasil identifikasi

Tabel 1. Skema alur Prosedur Kerja Identifikasi Parasit.

4.4

Hasil Identifikasi Parasit


Hasil pemeriksaan parasit pada udang vannamei yang dilakukan selama

PKL dapat dilihat pada Lampiran 4 Jumlah sampel yang diperiksa selama PKL
adalah 75 ekor udang vannamei dalam kondisi hidup. Dari 75 ekor jumlah sampel
udang vannamei hidup yang diperiksa, sebanyak 10 ekor udang vannamei yang
positif terinfestasi parasit. Hasil pemeriksaan parasit pada sampel yang diperiksa
dalam kondisi hidup dapat dilihat pada Tabel 2. Sedangkan parasit yang
ditemukan dalam pemeriksaan dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 2. Hasil Pemeriksaan Parasit pada Sampel Udang Vannamei.


No
1

Kondisi dan
Jumlah Sampel
Hidup
75 ekor

Jumlah Udang yang


Terinfestasi (%)
10 ekor
(13,33 %)

Jumlah Udang yang Tidak


Terinfestasi (%)
65 ekor
(86,67%)

Tabel 3. Jenis Parasit yang Ditemukan pada Sampel Udang Vannamei.


Total
Sampel
NO
yang
Diperiksa

Kondisi
Predileksi
Sampel

Kulit
1

75 ekor
(100 %)

Jenis Parasit
yang
Ditemukan

(+)

Persentase
(%)

(-)

Persentas
e(%)

Vorticella sp.
Zoothamnium
sp.

2
4

2,66
5,33

73
71

97,34
94,67

Vorticella sp.
Zoothamnium
sp.

2
2

2,66
2,66

73
73

97,34
97,34

Hidup
Insang

Keterangan : (+) = Jumlah Sampel yang Terinfestasi (ekor)


(-) = Jumlah Sampel yang Tidak Terinfestasi (ekor)
Dari 10 ekor udang vanamei hidup yang terinfeksi parasit Vorticella sp.
dan Zoothamnium sp. predileksinya pada kulit dan insang. Hasil dari PKL yang
saya lakukan, terdapat 6 udang vannamei terinfeksi pada bagian kulit, yaitu 2 ekor
udang terinfeksi Vorticella sp. dan 4 ekor udang terinfeksi Zoothamnium sp. serta
terdapat 4 udang vannamei terinfeksi pada insang, yaitu 2 ekor udang terinfeksi
Vorticella sp. dan 2 ekor udang terinfeksi Zoothamnium sp.
Banyaknya infestasi parasit pada udang yang masih hidup menunjukkan
bahwa nutrisi yang terdapat di dalamnya dapat digunakan sebagai makanan untuk
pertumbuhan parasit ini. Dalam pertumbuhannya, parasit membutuhkan makanan
yang didapat dari inang atau substrat tempat menempel. Jika dalam penempelan

inangnya mati, secara umum parasit akan terlepas dan mencari inang baru sebagai
media pertumbuhan barunya atau mati bersama inangnya. Parasit yang paling
banyak ditemukan pada pemeriksaan udang vannamei adalah Zoothamnium sp.
Gambar Zoothamnium sp. pada kulit dan insang udang vannamei dapat dilihat
pada Gambar 10.

Gambar 10. Zoothamnium sp. pada kulit udang vannamei (perbesaran 400x).
Zoothamnium

sp.

melekat

pada

permukaan

tubuh

dan

insang.

Zoothamnium sp. adalah jenis ciliata, yang paling umum sebagai penyebab
kematian pada udang vannamei. Zoothamnium sp. mempunyai kemampuan
menembus karapas udang dan menyebabkan kerusakan pada permukaan kulit
bagian dalam (Mahasri, 2008a). Menurut Giogertti (1989), faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan parasit ini adalah perairan dengan padat penebaran
yang tinggi, pemberian pakan terlalu banyak dan kadar oksigen rendah.
Pemberian pakan yang terlalu banyak menyebabkan sisa pakan yang tertinggal di
kolam banyak pula sehingga kandungan bahan organik dalam kolam tinggi dan
memacu pertumbuhan parasit ini. Kelimpahan Zoothamnium sp. dapat

menyebabkan rendahnya kandungan oksigen. Namun, jika dihubungkan dengan


kondisi perairan budidaya udang ini, kualitas perairannya baik, dan Zoothamnium
sp. tetap bisa tumbuh dengan baik, karena menurut Mahasri (2008b),
Zoothamnium sp. merupakan ciliata yang hidup normal pada perairan berkualitas.
Sehingga, meskipun kualitas perairan baik, parasit ini tetap bisa tumbuh. Namun
kelimpahan Zoothamnium sp. pada udang vannamei yang diperiksa ini masih
wajar selama tidak mengakibatkan mortalitas yang tinggi.
Parasit yang ditemukan dalam pemeriksaan ini adalah Vorticella sp. yang
dapat dilihat pada Gambar 11. Keberadaan parasit ini tidak banyak ditemukan, hal
ini dimungkinkan karena lingkungan yang tidak sesuai untuk pertumbuhannya,
karena menurut Kudo (1977) Vorticella sp. hidup baik pada perairan tawar dan
laut, sehingga pertumbuhan di perairan payau yang sebagai media budidaya udang
vannamei ini mempengaruhi kecepatan pertumbuhan parasit Vorticella sp.
Namun, parasit ini tetap dapat hidup apabila menemukan substrat yang sesuai
untuk dia bertahan hidup dan melakukan perkembangbiakan, misalnya pada
udang vannamei dan pakan yang mempunyai nutrisi sebagai makanan parasit ini.

Gambar 11. Vorticella sp. pada insang udang vanamei (perbesaran 1000x).
Keterangan : a= vakuola kontraktil, b= cytosome, c= cytopharynx, d= tangkai

Menurut Yanto (2006) jenis protozoa atau parasit menempel seperti


Zoothamnium sp., dan Vorticella sp. merupakan epifauna yang bersifat free
living pada substrat seperti sedimen dan tanah atau merupakan epikomensal pada
tubuh udang dan juga ditemukan pada pakan (Brock and Master, 1996).
Kelompok protozoa ini umumnya dijumpai pada kondisi udang yang stress yang
dipengaruhi perubahan fluktuasi kondisi kualitas air terutama suhu, juga bak
pemeliharaan yang banyak mengandung sisa-sisa pakan dan terjadi penumpukan
bahan organik yang akan meningkatkan kadar amoniak sehingga kandungan
oksigen terlarut diperairan akan turun.
Menurut Main dan Laramore (2004), parasit ini ditemukan secara alami
pada lingkungan budidaya dan dapat menyebabkan kematian, namun mereka
dapat menyebabkan masalah pada budidaya udang saat kondisi lingkungan buruk
dan sesuai untuk perkembangannya. Benih-benih parasit dapat masuk ke kolam
karena terbawa oleh air yang masuk, tumbuhan air, binatang renik, dan peralatan
budidaya (Mahasri dan Kismiyati, 2008).

4.5

Hambatan dan Kemungkinan Pengembangan Usaha

4.5.1

Hambatan yang Dihadapi


Hambatan yang dihadapai dalam pemeliharaan udang vannamei adalah

terserangnya hama dan penyakit. Pada saat musim hujan tidak dilakukan
pembenihan karena salinitas air laut saat turun hujan rendah, sedangkan untuk
melakukan pembenihan dibutuhkan salinitas air yang tinggi, sehingga produksi
udang vannamei menurun.

4.5.2

Kemungkinan Pengembangan Usaha


Pengembangan usaha pada pemeliharan

udang vannamei adalah

menciptakan kondisi yang terkontrol dengan pencegahan dan pemberantasan


hama dan penyakit secara optimal dan teratur. Hal ini dapat mengurangi kematian
yang tinggi pada pemeliharaan udang vannamei dan penyediaan induk udang
vannamei dapat tercukupi untuk menghasilkan benih udang vannamei yang
berkualitas. Usaha lain yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan
penyuluhan kepada masyarakat setempat untuk melakukan usaha budidaya udang
vannamei skala rumah tangga dan benih yang berkualitas.

V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1

Kesimpulan
1. Identifikasi parasit pada udang vannamei dilakukan dengan 2 metode yaitu
pemeriksaan

secara

makroskopis

dan

mikroskopis.

Pemeriksaan

makroskopis dapat dilakukan dengan cara melihat atau mengamati secara


langsung, baik penampilan maupun tingkah laku udang,

sedangkan

pemeriksaan dengan cara scrapping pada permukaan tubuh, insang dan


usus udang, dengan dilakukannya identifikasi di atas didapatkan jenis
parasit berupa zoothamnium sp dan vorticella sp.

5.2

Saran
1. Sebaiknya dilakukan pemeriksaan ke Laboratorium parasit secara rutin
oleh pemilik tambak agar dapat mengetahui serangan parasit yang
mengakibatkan kematian.
2. Penebaran udang vannamei sebaiknya dilakukan pada pagi hari dimana
suhu relatif tidak panas, dan factor fisika, kimia, dan biologi harus
diterapkan sebaik mungkin.

DAFTAR PUSTAKA

Ayu, D. 2009. Identifikasi Penyakit pada Ikan atau Udang di Balai Besar
Pengembangan Budidaya Air Payau. Fakultas Perikanan dan Kelautan.
Universitas Airlangga. Surabaya. hal. 5-13

Adiwijaya, D., Supito dan I. Sumantri. 2008. Penerapan Teknologi Udang


Vaname L. vannamei Semi-Intensif pada Lokasi Tambak Salinitas Tinggi.
Media Budidaya Air Payau Perekayasa. 19 hal.

Arifin Z, Andrat K, Subiyanto. 2007. Teknik produksi udang vaname


(Litopenaeus vannamei) secara sederhana. Departemen Kelautan dan
Perikanan. Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara 9 hal.

Astuti, SM. 2006. Mikrobiologi. Balai besar Pengembangan Budidaya Air Payau
Jepara. Jepara. Hal 7-14.

Azwar, S. 1998. Metode Penelitian. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. 146 hal.

Barnes, RB. And EE Ruppert. 1991. Inverteberata zoology. Six edition. Sounders
College Publishing. New York : 124-146.

Bastiawan, D., A. Rukyani, P. Taufik dan A. Poernomo. 1991. Penanggulangan


Hama dan Penyakit Pada Usaha Budidaya Ikan dan Udang. Puslitbang
Perikanan, Badan Litbang Pertanian, Dept. Pertanian. 30 hal.

Budi, H. S. 2009. Kiat sukses budidaya udang vannamei. http://shrimpculture


information.html/16/06/2010. 5 hal.

Bratvold D, Browdy CL. 2001. Effect of sand sediment and vertical surfaces
(AquaMatsTM) on production, water quality, and microbial ecology in an
intensive Litopenaeus vannamei culture system. Aquaculture 195 : 81 94
p

Briggs, M., Smith, S.F., Subasinghe, R., Phillips, M. 2004. Introduction and
Movement of Penaeus vannamei and Penaeus stylirostris in Asia and The
Pacific. RAP Publication 2004/10. : 136-140.

Brock, J. A. and B. L. Master. 1996. Alook at the Principal Bacterial, Fungal and
Parasitic Disease of Farmed Shrimp. Departement of Land and Natural
Resource State of Hawaii. Hawaii. 15 hal.

Dana, D. dan Y. Hadiroseyani. 1989. Pengendalian Hama dan Penyakit: Penyakit


Udang dan Pengendaliannya. Institut Pertanian Bogor. 27 hal.
Direktorat Jenderal Perikanan, 1977a. Statistik Perikanan Indonesia. Departemen
Pertanian. Jakarta. 13 hal.

Dinas Perikanan dan Kelautan 2010. Monitoring Penyakit Pada Ikan Air Tawar
dan Penyakit Pada Udang Vannamei. Propinsi Jawa Timur. 20 hal.

Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. 2010. Budidaya Udang Vanamei.


http://www.perikananbudidaya.dkp.go.id/index.php?view=article&catid=
117:berita&id=267:budidaya-udang-vaname&format=pdf. 31/12/2010. 2
hal.

Direktorat Kesehatan Ikan dan Lingkungan. 2010. Pengendalian Penyakit Ikan.


Jakarta. Hal 35-37.

Dinas Perikanan, Kelautan dan Peternakan 2009. Jumlah Produksi Tahunan


Perikanan Budidaya. Kabupaten Gresik. Hal 6

Entjang, I. 2003. Mikrobiologi dan Parasitologi Untuk Akademi Kperawatan dan


Sekolah Tenaga Kesehatan yang Sederajat. PT. Citra Aditya Bekti.
Bandung. Hal 334.

Erwinda, YE., 2008. Pembenihan Udang Putih Vannamei secara Intensif. http:
www. Sith. Itb. ac.id. 30 September 2009. Hal 11.

Fahrur M, Yulianingsih R. 2006. Teknik pengukuran laju sedimentasi pada


tambak intensif udang vanamei (Litopenaeus vannamei ). Makalah
disampaikan pada Pertemuan Teknis Teknisi Litkayasa, 18 19 Mei 2006,
Bali. Hal 117 122.

FAO. 2010. The State of World Fisheries and Aquaculture 2000. Rome: FAO. pp
1-9.

Foissner, W., Berger, H. & Kohmann, F. 1992. Taxonomiy ang Revision Ciliata
des
Saprobiensystems-Band
II:
Peritrichida,
Heterotrichida,
Odontostomatida. Information Bayer. Landesamtes Wass., 5/92:1502.

Giogertti, G. 1989. Disease Problems in Farmed Penaeids in Italy. Experimental


Institute for Animal Prophylaxis in Trivenoto Region-Fish. Italy. 13 hal.

Handajani, H dan Sri Samsundari. 2005. Parasit dan Penyakit Ikan. UMM Press:
Malang. 11 hal.

Handayani, R. dan W.P. Bambang. 1999. Dinamika Pertumbuhan Parasit. Balai


Besar Pengembangan Budidaya Air Payau. Hal. 2-3.

Haliman, R. W. dan D.S. Adijaya. 2005. Budidaya Udang Vannamei. Penebar


Swadaya. Jakarta. hal. 36-39.

Hendri, J. 2009. Riset Pemasaran. Universitas Gunadarma. Jakarta.


http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21091/4/Chapter%20II.p
df. 08/12/2011. 5 hal.

Holt,

R. J. 2009. Phylum Ciliata. http://comenius.susqu.edu/bi/202/


CHROMALVEOLATA/ALVEOLATAE/CILIATA/ciliata.htm.
9/02/2011. 1 hal.

Indra. 2007. Biologi Udang Putih Vannamei. http://www.scribd.com/doc/


46184339/Biologi-Vannamei-2-No-4. 11/01/2011. 5 hal.

Irawan, A. 2000. Penangulangan Hama dan Penyakit Ikan. Penerbit CV. Aneka
Solo. 14-20 hal.

Islahuttamam. 2008. Shrimp Disease and Prevention. Balai Budidaya Air Payau
Ujung Batee. Nanggroe Aceh Darussalam. 28 hal.

Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2010. Konsumsi Ikan 2014 di Genjot Naik
39%. http://www.dkp.go.id/index.php/ind/news/2421/konsumsi-ikan-2014digenjot-naik-39. 03/01/2011. 1 hal.

Kungvankij, P., L. B. Tiro and B. J. Pudadera. 1986 Shrimp Hatchery Design,


Operasional and Management. Network of Aquaculture Centres in Asia.
Bangkok. Thailand. Hal 33-36.

Lightner, D. V. 1996. A Handbook of Shrimp Pathology and Diagnostic


Procedures for Diseases of Penaeid Shrimp. The World Aquaculture
Society. Lousiana.

Main, K. L. and R. Laramore. 2004. Shrimp Health Management. Harbor Branc


Oceanographic Institution. 15 hal.

Mahasri, G. 2008a. Protein Membran Imunogenik Zoothamnium penaei Sebagai


Bahan Pengembangan Imunostimulan pada Udang Windu (Penaeus
monodon Fabricus) Terhadap Zoothamniosis Penelitian Laboratorik.
http://adln.lib.unair.ac.id/go.php?id=gdlhub-gdl-s3-2008-mahasrigun7014.
04/05/2011. 3 hal.

Mahasri, G. 2008b. Survival Rate (SR) Udang Windu (Penaeus monodon Fab.)
yang Diimunisasi dengan Whole Protein Zoothamnium penaei Asal
Tambak di Pantai Utara dan Selatan Jawa Timur Sebagai Agen Penyebab
Zoothamniosis. Fakultas Kedokteran Hewan. Universitas Airlangga.
Surabaya. 8 hal.
Mahasri, G. dan dan kismiyati. 2008. Parasit dan Penyakit Ikan I, Fakultas
Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga. Surabaya. 46 hal.

Nazir, M. 1988. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Jakarta. 622 hal.

Patterson, D. 2010. Description of Zoothamnium. Encyclopedia of Life. 1 hal.


Perry, Harriet M., 2008, Marine Resources and History of the Gulf Coast. Diakses
dari : http//www.dmr. State. ms. us/dmr.css. (tanggal diakses 25-12-2010)
4 hal.

Priyono, A. 2007. Stasiun Karantina Ikan. (www.of fish.com. Karantina. Php,


diakses pada 4 Januari 2011). 6 hal.

Rachmansyah., Suwoyo HS, Undu MC, Makmur. 2006. Pendugaan nutrient


Budget tambak intensif udang Litopenaeus vannamei. Jurnal Riset
Akuakultur. Vol 1 (2) : 181 -202.
Rakim. 2008. Metode Penelitian. http://rakim-ypk.blogspot.com. 04/01/2011. 1
hal.
Sekhar, C. 2004. Shrimp Disease Diagnostic- Microscopic. Aquatic enterprise.
Malaysia. http://www.shrimpcare.com/Body.shtml. 9/02/2011. 1 hal.
Sholeh, M. 2006. Biologi Udang Vanamei. Balai Budidaya Air Payau. Jepara. hal.
23.
Soemardjati W, Suriawan A. 2007. Petunjuk teknis budidaya udang vaname
(Litopenaeus vannamei) di Tambak. Departemen Kelautan dan Perikanan.
Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Balai Budidaya Air Payau
Situbondo. 30 hal.

Sladecek V (1971) Saprobic sequences within the genus Vorticella. Water Res 5:
11351140.
Samhudi, M. F. 1985. Komposisi Desain Riset. Ramdhani. Solo. 25 hal.

Siagian, D. dan Sugiarto. 2002. Metode Statistik untuk Bisnis dan Ekonomi.
Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 414 hal..

Siagian, D. dan Sugiarto. 2002. Metode Statistik untuk Bisnis dan Ekonomi.
Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 414 hal.

Suprapto. 2005. Petunjuk teknis budidaya udang vannamei (Litopenaeus


vannamei). CV Biotirta. Bandar Lampung. 25 hal..
Sudrajat, A. 2010. Budi Daya Udang di Sawah dan Tambak. Penebar
Swadaya. Jakarta. hal. 53-58.
Sunarto, A., A. Rukyani. 1995. Penyakit Viral pada Udang di Indonesia dan
kemungkinan Pengendalian. Pusat Penelitian dan Pengembangan
Perikanan. Jakarta. 31 hal.

Suryabrata, S. 1993. Metode Penelitian. CV. Rajawali. Jakarta. 115 hal.

Suyanto, S. R. dan E. B. Takarina. 2009. Panduan Budidaya Udang. Penebar


Swadaya. Jakarta. hal. 8-10.

Syaifudin, A. 1998. Metode Penelitian. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. 146 hal.

Trimariani, A. 1994. Petunjuk Praktikum Parasitologi Ikan. Universitas


Padjajaran. Semarang. Hal. 48.

Yuasa, K., N. Panigoro., M. Bahnan., E.B. Kholidin. 2003. Panduan Diagnosa


Penyakit Ikan Balai Budidaya Air Tawar. Jambi. 64 hal.

Yanto, H. 2006. Diagnosa dan Identifikasi Penyakit Udang Asal Tambak Intensif
dan Panti Benih di Kalimantan Barat. Jurnal Penelitian Sains dan
Teknologi VII (1). hal. 27-28.

Verma, A. 2005. Invertebrates. Protozoa to Echinodermata. Alpha Science


International Ltd. Harrow.

Warren, A. 1986. A revision of the genus Vorticella (Ciliophora: Peritrichida).


Bull. Br. Mus. Nat. Hist. (Zool.), 50: PP 157.

Wijayati, A. 2004. Biologi Udang Sebagai Penunjang Keberhasilan Budidaya Di


Tambak. Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau. Jepara. 15 hal.

Wijaya, Z. 2005. Identifikasi Penyakit pada Udang Windu (Penaeus monodon) di


Balai Besar Budidaya Air Payau Jepara. Fakultas Kedokteran Hewan.
Universitas Airlangga. Surabaya. hal. 4-12.

LAMPIRAN

Lampiran 1. Peta Wilayah Gresik

Lampiran 2. Denah Penempatan Fasilitas di DKPP Gresik

U
*
B

*
S
1
2

10

11
12

7
14
13

*
21
8

1. Parkir
2. ruang Penyuluh
3. Ruamg Skretaris
4. Ruang Koprasi
5. Kamar Mandi
6. Keuangan
7. Kepala Dinas
8. Mushola .
9. Ruang Kelautan
10. Gudang

20

19

17
15

22
23

11.Skretariat
12. Ruang Perikanan
13.Ruang Pemberdayaan
14. Parkir
15. Ruang uji kualitas Air
16. Ruang Staf
17. Ruang PCR
18. Ruang Rapat
19. Ruang Ekstrasi DNA
20. Kamar WC

24

25

18

16

21. Ruang Sterilisasai


22. Taman Bungga
23. Ruang Biologi
24. Parasitologi
25. Mushola
* . Pintu

Lampiran 3. Hasil Identifikasi Parasit

Lokasi Pengambilan
Sampel

Parasit yang
ditemukan

NO

Tanggal

Sampel

24-012011

Udang
Vannamei

Kec. Bungah

25-012011

Udang
Vannamei

Ds. Gumeno. Kec.


Manyar

Ds. Keramat. Kec.


Duduk Sampeyan

Ds. Golokan. Kec.


Sidayu (tambak 1)

Vorticella sp &
Zoothamium sp

26-012011

Udang
Vannamei

Ds. Golokan. Kec.


Sidayu (tambak 2)
4

02-022011

Udang
Vannamei

Ds. Pangkah Kulon.


Kec. Ujung Pangkah

Zoothamium sp

08-022011

Udang
Vannamei

Ds. Abar-abir. Kec.


Bungah

Vorticella sp

14-022011

Udang
Vannamei

Ds. Dahan Rejo. Kec.


Kebomas

21-022011

Udang
Vannamei

Ds. Kemangi. Kec.


Bungah

22-022011

Tidak ada
sampel

23-022011

Udang
Vannamei

Ds. Serowo. Kec.


Sidayu

Vorticella sp &
Zoothamium sp
-

Lampiran 4. Parameter Kualitas Air Pemeliharaan

NO

Parameter

Kisaran

Salinitas

15 25

Suhu

Oksigen (ppm)

3,0 - 7,5

PH air

7,5 - 8,3

Alkalinitas (ppm)

120 160

Nitrit (ppm)

0,01 - 0,05

NH3 (ppm)

0,05 - 0,10

H25 (ppm)

0,01 - 0,05

Bahan Organik (ppm)

10

Phospat (ppm)

11

Transparasi

28,5 - 31,5

< 55
0,10 - 0,25
30 40

Sumber : UPT Lab. Kesehatan Ikan dan Ternak.


Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan Kabupaten Gresik.

Lampiran 5. Hasil Uji Kualitas Air


NO

TANGGAL

LOKASI
BAHAN UJI
PENGAMBILAN
SAMPEL

HASIL UJI

26-01-2011

Ds Gumeno. Kec PH Air


Manyar
Salinitas Air

7,08

26-01-2011

27-01-2011

Suhu Air

28,7 C

Nitrat

0,9

Nitrit

0,042 mg/L

Amoniak

0,21 mg/L

Alkalinitas

4,00 m,mol

Ds Golokan. Kec PH Air


Sidayu
Salinitas Air

4,89
2

Suhu Air

25 C

Nitrat

4,6

Nitrit

0,36 mg/L

Amoniak

0,04 mg/L

Alkalinitas

6,30 m.mol

Ds Golokan. Kec PH Air


Sidayu
Salinitas Air

6,15
2

Suhu Air

25 C

Nitrat

21,7

Nitrit

0,059 mg/L

Amoniak

0,14 mg/L

Alkalinitas
4

27-01-2011

31-01-2011

02-02-2011

Ds Keramat. Kec PH Air


Duduk Sampean
Salinitas Air

2,50 m,mol
7,25
2

Suhu Air

26 C

Nitrat

1,6

Nitrit

0,014 mg/L

Amoniak

0,23 mg/L

Alkalinitas

3,90 m,mol

Ds Dalegan. Kec PH Air


Panceng
Salinitas Air

7,44
3

Suhu Air

26 C

Nitrat

-0,7

Nitrit

0,137 mg/L

Amoniak

0,17 mg/L

Alkalinitas

6,50 m,mol

Ds Pangkah. Kec PH Air


Pangkah
Salinitas Air

7,44
2

Suhu Air

25 C

Nitrat

2,1

Nitrit

0,014 mg/L

Amoniak

0,13 mg/L

Alkalinitas

6,90 m,mol

08-02-2011

14-02-2011

21-02-2011

Ds Abar-abir. PH Air
Kec Bungah
Salinitas Air

7,03
2

Suhu Air

27 C

Nitrat

5,0

Nitrit

0,037 mg/L

Amoniak

< 0,01 mg/L

Alkalinitas

2,20 m,mol

Ds Dahan. Kec PH Air


Kebomas
Salinitas Air

7,15
4

Suhu Air

27,9 C

Nitrat

2,8

Nitrit

0,027 mg/L

Amoniak

0,11 mg/L

Alkalinitas

3,50 m,mol

Ds Kemangi. PH Air
Kec Bungah
Salinitas Air

7,99
4

Suhu Air

26 C

Nitrat

6,8

Nitrit

0,065 mg/L

Amoniak

0,34 mg/L

Alkalinitas

2,15 m,mol

10

23-02-2011

Ds
Serowo. PH Air
Kec Sidayu
Salinitas Air

8,86
5

Suhu Air

27 C

Nitrat

2,1

Nitrit

0,013 mg/L

Amoniak

0,11 mg/L

Alkalinitas

3,20 M,mol

Lampiran 7. Dokumentasi

Gambar : Identifikasi parasit

Gambar : Mv meter
mengukur Redox tanah

Gambar : pH Meter

Gambar : Sampel Udang Vannamei

untuk

Gambar : Udang yang terserang


parasit

Gambar : Refraktometer

Lampiran 7 Dokumentasi (Lanjutan).

Gambar : Spektrofotometer

Gambar : Alkalinitas Kit

Gambar : pH Soil Meter

Gambar : Uji Amonia

Gambar : DO Meter

Gambar : Udang yang terserang


parasit