Anda di halaman 1dari 26

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................................................i
DAFTAR ISI....................................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN

1.2 TUJUAN ..................................................................................................................................1


1.3 RUMUSAN MASALAH.............................................................................................................1
1.4 TINJAUAN PUSTAKA ...............................................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN
2.1 POINT-POINT DALAM ARSITEKTUR JAWA..............................................................................2
2.2 TIPE-TIPE RUMAH ARSITEKTUR JAWA ...................................................................................3
2.3 KOMPOSISI DAN LINGKUNGAN RUMAH TEMPAT TINGGAL .....................................18
2.3.1 KAWERUH GRIYA....................................................................................................21

III PENUTUP
3.1 KESIMPULAN .............................................................................................................24

nusantaraknowledge.blogspot.com

1.1 LATAR BELAKANG...................................................................................................................1

3.2 SARAN ......................................................................................................................24

ii

2009

Arsitektur Nusantara-Jawa

BAB I
PENDAHULUAN
Masyarakat Jawa dengan faham jawanya (kejawen) sering dianggap oleh kalangan lain
sebagai masyarakat yang hidup dalam suasana kepercayaan primitive, walaupun sebenarnya
karena faham-fahjam itulah mereka kemudian dikatakan mempunyai sifat-sifat khusus.

nusantaraknowledge.blogspot.com

Hubungan antara sesama manusia didasarkan pada dua motif , hubungan antara
kawula lan Gusti (Hamba dan Majikan) dan hubungan yang nantinya akan menyebut dirinya

dengan ingsun (saya untuk kaum bangsawan). Hubungan manusia dengan alam sekitarnya
didasarkan pada anggapan bahwa eksistensi (Hidup) dalam kosmos alam raya dipandang sebagai
suatu yang tersususn teratur secara hierarki.

Kehidupan manusia dalam lingkungan budaya Jawa pada dasarnya dinyatakan dengan

berlandaskan pada empat areal atau lingkup keyakinan yaitu, kepercayaan, ikatan sosial,
ekspresi pribadi (kepribadian), dan permasalahan (makna). Keempat hal; tersbut akan
berpengaruh terhadappola piker, prbuatan, dan karyanya. Dalam karya , di dalanya berlaku pula

keberadaan lingkungan buatan atau tempat tinggal atau rumah tinggal atau karya arsitektur
sebagai bagian dari kehidupan budaya.
1.2 Tujuan
Untuk lebih memahami unsur-unsur tradisional yang terkandung pada bangunan-bangunan
modern khususnya arsitektur Jawa.
1.3 Rumusan Masalah
1. Apa sajakah point-point dalam arsitektur Jawa?
2. Apa saja tipe rumah pada arsitektur Jawa?
3. Apa sajakah komposisi arsitektur tradisional Jawa?
1.4 Tinjauan Pustaka

Perolehan atau pengumpulan data adalah berdasarkan pencarian data dan contoh bangunan
lewat literatur ataupun internet.

2009

Arsitektur Nusantara-Jawa

BAB II
P EMBAHASAN

2.1 Point-Point Dalam Arsitektur Jawa

a)

Lingkup, meliputi spiritual sampai fisik

b)

Jangkauan, meliputi makro sampaiu mikro

c)

Kedalaman, meliputi lahir sampai batin

d)

Pemaknaan, meliputi logic sampai simbolik

e)

Pemahaman, meliputi ontologism sampai axiologis

f)

Operasional, kebijakan sampai pelaksanaan

nusantaraknowledge.blogspot.com

Landasan membangun yang digunakan dalam arsitektur Jawa adalah manunggali


kawula lan Gusti dan Golong Gilig menjadi acuan untuk landasn pembangunan, bahkan dapat
lebih luas dan mendalam sebab dari sudut:

Landasan pembangunan kebudayaan tidak tampak dengan jelas dalam rumusan kinerja
pembangunan. Selain itu kehidupan dalam system adat jawa tidak lagi berpengaruh aktif dalam
dalam tiap-tiap aspek dalam kehidupan social.ekonomi dan kebudayaan.

Gmb. 1 omah

2009

Arsitektur Nusantara-Jawa
2.2 Tipe Rumah Arsitektur Jawa

Di dalam masyarakat Jawa, baik sebagai sentana, abdi maupun kawula dalem, walaupun
tidak tertulis, secara tradisional tidak dibenarkan melakukan pelanggaran terhadap pranatapranata sosial masyarakat. Misalnya tata aturan sopan santun, tingkah laku, gaya hidup, tata cara
pergaulan dan rumah tempat tinggal pun termasuk dalam aturan tersebut dan dibuat secara

nusantaraknowledge.blogspot.com

hierarkis.
Dalam interaksi sosial, misalnya kawula dalem sering merasa sulit untuk dapat bergaul
secara bebas dan langsung dengan sentana atau abdi dalem tingkat tinggi. Di lain pihak para

sentana dan abdi dalem tersebut sering bertindak mempertinggi diri dan menjaga ketertiban
stratifikasi sosial secara ketat.

Gmb. 2 Rumah Jawa

Dalam suasana kehidupan feodal, sebagai raja, misalnya tidak dbenarkan membangun

rumah tempat tinggal (dhatulaya, istana) dengan menggunakan bangun sinom mangkurat untuk
Sasana Prabasuyasa. Bangun limasan atau joglo atau kampung tetapi sebaliknya menggunakan
bangun sinom mangkurat untuk Sasana Prabasuyasa. Bangun limasan atau joglo hanyalah untuk

bangunan pelengkap saja, misalnya untuk kantor, pertemuan, perlengkapan, paseban dan
sejenisnya. Bagi golongan ningrat (bangsawan sentana dalem) dan abdi dalem derajat tertentu
berhak membuat rumah tempat tingga; dengan bentuk limasan, sinom, ataupun joglo. Sedangkan
untuk bangunan pelengkap boleh membuat bangun rumah yang lain yang tingkatannya lebih
rendah, misalnya daragepak, sethong, kalabang nyander, dan sebagianya (Narpawandawa,
1935:91-94).

2009

Arsitektur Nusantara-Jawa

Aturan tersebut didasarkan pada kedudukan sosial pemiliknya yang merupakan simbol
ststus bagi pemiliknya golongan raja, jogiswara, abdi dalem dan sentana dalem termasuk strata
atas. Golongan ini dianggap sebagai golongan penguasa dan bahkan suci, maka bangunan
bangunan rumah tempatnya harus meniru bangunan suci; tinggi (seperti gunung suci); besar
(seperti dunia yang luas);bersekat-sekat seperti candi, pura atu bangunan suci lainnya (ada
tempat-tempat yang profan, sakral dan paling sakral). Bentuk bangunan rumah dikompleks istana

dilarang bagi kawula dalem.

Gmb. 3 Rumah Jawa Type Limas

nusantaraknowledge.blogspot.com

(dhatulaya) dalam batas-batas tertentu boleh dicontoh oleh para sentana dan abdi dalem, tetapi

Gmb. 4 Rumah Jawa Type Joglo

Kita ketahui bahwa bangunan pokok rumah adat Jawa ada lima macam, yaitu: panggung
pe, kampung, limasan, joglo dan tajug. Namun dalam perkembangannya, jenis tersebut
berkembang menjadi berbagai jenis bangunan rumah adat Jawa, hanya bangunan dasarnya masih
tetap berpola dasar bangunan yang lima tersebut (Narpawandawa, 1937-1938).

Gmb. 5 Keraton Jogja

nusantaraknowledge.blogspot.com

2009

Arsitektur Nusantara-Jawa

Di dalam bangunan rumah adat Jawa tersebut ditentukan ukuran, kondisi perawatan
rumah, kerangka, dan ruang-ruang di dalam rumah serta situasi di sekeliling rumah, yang
dikaitkan dengan status pemiliknya. Di samping itu, latar belakang sosial, dan kepercayaannya

ikut berperanan. Agar memperoleh ketentraman, kesejahteraan, kemakmuran, maka sebelum


membuat rumah dipetang (diperhitungkan) dahulu tentang waktu, letak, arah, cetak pintu utama

rumah, letang pintu pekarangan, kernagka rumah, ukuran dan bengunan rumah yang akan dibuat,
dan sebagainya. Di dalam suasana kehidupan kepercayaan masyarakat Jawa, setiap akan
membuat rumah baru, tidak dilupakan adanya sesajen, yaitu bensa-benda tertentu yang disajikan
untuk badan halus, danghyang desa, kumulan desa dan sebagainya, agar dalam usaha
pembangunan rumah baru tersebut memperoleh keselamatan (R. Tanaya, 1984:66-78).

2009

Arsitektur Nusantara-Jawa

Dalam perkembangan selanjutnya, bangunan rumah adat Jawa berkembang sesuai dengan
kemajuan. Berdasarkan tinjauan perubahan atapnya, maka terdapatlah bangunan rumah adat
Jawa sebagai berikut.
Bangunan model/bentuk Panggung dalam perkembangannya terdapat bangunan
Panggung Pe (Epe), Gedong Selirang, Panggung Pe Gedong Setangkep, Cere Gancet, Empyak
Setangkep, Trajumas, Barongan, dan sebagainya. Dari bangunan rumah kampung berkembang

nusantaraknowledge.blogspot.com

menjadi bangunan rumah kampung, Pacul Gowang, Srotong, Daragepak, Klabang Nyander,
Lambang Teplok, Lambang Teplok Semar Tinandhu, Gajah Jerum, Cere Gancet Semar
Tinnadhu,

Cere Gancet

Semar

Pinondhong,

dan

sebagainya.

Gmb. 6 Inetrior Joglo

Dari bangunan Rumah Limasan berkembang menjadi bentuk rumah Limasan Lawakan,
Gajah Ngombe, Gajah Jerum, Klabag Nyonder, Macan Jerum, Trajrumas, Trajrumas Lawakan,
Apitan, Pacul Gowang, Gajah Mungkur, Cere Goncet, Apitan Pengapit, Lambang Teplok Semar
Tinandhu, Trajrumas Rambang Gantung, Lambangsari, Sinom Lambang Gantung Rangka Usuk
Ngambang, dan sebagainya. Dari perkembangan bangunan rumah Joglo terdapatlah bangunan

Arsitektur Nusantara-Jawa

2009

rumah Joglo, Joglo Limasan Lawakan atau Joglo Lawakan, Joglo Sinom, Joglo Jampongan,
Joglo Pangrawit, Joglo Mangkurat, Joglo Wedeng, Joglo Semar Tinandhu, dan sebagainya. Dari
jenis tajug dalam perkembangannya terdapatlah bangunan rumah tajug (biasa untuk rumah
ibadah), tajug lawakan lambang teplok, tajug semar tinandhu, tajug lambang gantung, tajug
semar sinonsong lambang gantung, tajug lambang gantung, tajug semar sinonsong lambnag
gantung, tajug mangkurat, tajug ceblakan, dan sebagainya (Narpawandawa 1936-1936).

nusantaraknowledge.blogspot.com

Disamping bentuk bangunan rumah baku tersebut, masih terdapat bangunan rumah untuk

musyawarah (rapat), rumah tempat menyimpan padi (lumbung) atau binatang ternak (kandang,
gedhongan, kombong), untuk alat-alat (gudang) dan sebagainya (Gatut Murdiatmo, 1979/1980;
Koentjaraningrat, 1971; almanak Narpawandawa, 1935-1938; Sugiyanto Dakung, 1982/1982;
Radjiman, 1986.

Joglo

Rumah Joglo ini kebanyakan hanya dimiliki oleh mereka yang mampu. Hal ini
disebabkan rumah bentuk joglo membutuhkan bahan bangunan yang lebih banyak dan mahal

daripada rumah bentuk yang lain. Masyarakat jawa pada masa lampau menganggap bahwa

rumah joglo tidak boleh dimiliki oleh orang kebanyakan, tetapi rumah joglo hanya
diperkenankan untuk rumah kaum bangsawan, istana raja, dan pangeran, serta orang yang

terpandang atau dihormati oleh sesamanya saja. Dewasa ini rumah joglo digunakan oleh segenap

lapisan masyarakat dan juga untuk berbagai fungsi lain, seperti gedung pertemuan dan kantorkantor.
Banyak kepercayaan yang menyebabkan masyarakat tidak mudah untuk membuat rumah
bentuk joglo. Rumah bentuk joglo selain membutuhkan bahan yang lebih banyak, juga
membutuhkan pembiayaan yang besar, terlebih jika rumah tersebut mengalami kerusakan dan
perlu diperbaiki.

2009

Arsitektur Nusantara-Jawa

Kehidupan ekonomi seseorang yang mengalami pasang surut pun turut berpengaruh,
terutama setelah terjadi penggeseran keturunan dari orang tua kepada anaknya. Jika keturunan
seseorang yang memiliki rumah bentuk joglo mengalami penurunan tingkat ekonomi dan harus
memperbaiki serta harus mempertahankan bentuknya, berarti harus menyediakan biaya
secukupnya. Ini akan menjadi masalah bagi orang tersebut. Hal ini disebabkan adanya suatu
kepercayaan, bahwa pengubahan bentuk joglo pada bentuk yang lain merupakan pantangan

menjadi melarat, mendatangkan musibah, dan sebagainya.

nusantaraknowledge.blogspot.com

sebab akan menyebabkan pengaruh yang tidak baik atas kehidupan selanjutnya, misalnya

Pada dasarnya, rumah bentuk joglo berdenah bujur sangkar. Pada mulanya bentuk ini

mempunyai empat pokok tiang di tengah yang di sebut saka guru, dan digunakan blandar
bersusun yang di sebut tumpangsari. Blandar tumpangsari ini bersusun ke atas, makin ke atas
makin melebar. Jadi awalnya hanya berupa bagian tengah dari rumah bentuk joglo zaman

sekarang. Perkembangan selanjutnya, diberikan tambahan-tambahan pada bagian-bagian


samping, sehingga tiang di tambah menurut kebutuhan. Selain itu bentuk denah juga mengalami

perubahan menurut penambahannya. Perubahan-perubahan tadi ada yang hanya bersifat sekedar
tambahan biasa, tetapi ada juga yang bersifat perubahan konstruksi.

Dari perubahan-perubahan tersebut timbulah bentuk-bentuk rumah joglo yang beraneka


macam dengan namanya masing-masing. Adapaun, jenis-jenis joglo yang ada, antara lain : joglo
jompongan, joglo kepuhan lawakan, joglo ceblokan, joglo kepuhan limolasan, joglo sinom

apitan, joglo pengrawit, joglo kepuhan apitan, joglo semar tinandu, joglo lambangsari, joglo
wantah apitan, joglo hageng, dan joglo mangkurat.

Gmb. 7 Denah dan potongan Joglo

Gmb. 8 Denah Joglo Semar Tinandu

Bagian-bagian dari rumah joglo:

2009

Gmb. 9 Potongan Joglo Semar Tinandu

nusantaraknowledge.blogspot.com

Arsitektur Nusantara-Jawa

1.Pendopo
Pendopo merupakan bangunan terdepan dari rumah joglo yang berfungsi sebagai tempat
menerima tamu atau tempat mengadakan upacara-upacara adat. Pada umumnya pendopo
selalu terbuka atau tidak diberi dinding penutup. Kalaupun memakai penutup, maka yang
digunakan adalah dinding dari kayu yang mudah dibuka atau gebyok. Secara filosofis, hal ini
menggambarkan adanya prinsip keterbukaan yang dianut oleh tuan rumah.
2.Sentong
Bagian ini pada prinsipnya digunakan sebagai tempat tidur. Tetapi sebelum orang tua
menikahkan anaknya, maka pintu sentong akan selalu tertutup atau terkunci. Sentong baru
dibuka atau dipakai untuk tidur setelah anaknya dinikahkan. Sentong ini terbagi menjadi tiga
yaitu:
Sentong Tengen ( Kanan )
Sentong Tengen dipergunakan sebagai tempat tidur bagi anak laki-laki yang telah
dinikahkan.
Sentong kiwo ( Kiri)
Sentong ini merupakan tempat tidur bagi anak perempuan yang telah dinikahkan.
Sentong Tengah
Sentong Tengah disebut juga Petanen, Pasren, Pedaringan atau Krobongan. Sentong
ini dianggap sakral dan digunakan untuk pemujaan. Masyarakat Jawa yang mayoritas

Arsitektur Nusantara-Jawa

2009

menggantungkan hidupnya pada bidang pertanian, percaya bahwa Sentong Tengah


adalah tempat bersemayamnya roh nenek moyang yakni Dewi Sri sebagai Dewi
Kesuburan. Karena dianggap sakral, maka tidak sembarangan orang boleh
memasukinya kecuali ada keperluan. Orang yang masuk sentong inipun harus hatihati dan bersifat menghormati tuan rumah dalam hal ini Dewi Sri. Di sentong tengah
ini diletakkan tempat tidur atau kantil lengkap dengan bantal guling, cermin dan
sisir. Selain itu ada lampu minyak yang selalu menyala, baik di siang hari maupun
malam hari.

nusantaraknowledge.blogspot.com

3.Gandok
Gandok merupakan bangunan yang terletak di samping (pavilium). Biasanya menempel
dengan bangunan bagian belakang. Arah membujur gandok melintang pada rumah belakang.
Gandok berfungsi sebagai tempat penyimpanan perabot dapur, ruang makan dan terkadang
berfungsi sebagai dapur.
4.Pringgitan
Pringgitan merupakan bangunan yang biasanya terletak di antara pendopo dan dalem.
Bangunan ini dipakai untuk pementasan wayang/ ringgit.

5.Kuncung
Kuncung adalah bangunan yang terletak di samping atau depan pendopo yang berfungsi
sebagai tempat bersantai misalnya minum teh atau membaca koran.
6. Pawon
Pawon merupakan bagaian dari suatu rumah joglo yang dipergunakan sebagai tempat untuk
memasak.

Rumah Panggangpe

Rumah panggangpe merupakan bentuk bangunan yang paling sederhana dan bahkan
merupakan bentuk bangunan dasar. Bangunan panggangpe ini merupakan bangunan pertama
yang dipakai orang untuk berlindung dari gangguan angin, dingin, panas matahari dan hujan.
Ciri-ciri dari rumah tradisional jawa bentuk panggang pe adalah sebagai berikut :

Bangunannya berbentuk sederhana


Mempunyai bentuk pokok berupa tiang atau saka sebanyak 4 atau 6 buah.
Pada bagian sisi sekelilingnya diberi dinding yang hanya sekedar untuk menahan hawa
lingkungan sekitar atau dapat dikatakan sebagai bentuk perlindungan yang lebih bersifat
privat dari gangguan alam.

10

2009

Arsitektur Nusantara-Jawa

1. Panggang Pe Pokok
2. Panggang Pe Trajumas
3. Panggang Pe Empyak Setangkep
4. Panggang Pe Gedhang Selirang
5. Panggang Pe Gedhang Setangkep
6. Panggang Pe Cere Gancet
7. Panggang Pe bentuk kios
8. Panggang Pe Kodokan (jengki)
9. Panggang Pe Barengan
10. Panggang Pe Cere Gancet

nusantaraknowledge.blogspot.com

Pada perkembangannya bentuk rumah panggangpe ini mengalami perubahan menjadi


variasi bentukan yang lain. Berikut merupakan jenis-jenis dari Rumah Panggangpe :

Gmb. 10 Rumah Panggangpe

Rumah Kampung
Rumah bentuk Kampung adalah rumah dengan denah empat persegi panjang, bertiang
empat dengan dua buah atap persegi panjang pada sisi samping atas ditutup dengan tutup

11

Arsitektur Nusantara-Jawa

2009

keyong. Rumah ini kebanyakan dimiliki oleh orang kampung atau orang jawa menyebutnya
desa. Kampung berarti desa. Pada masa lalu rumah bentuk kampung merupakan tempat
tinggal yang paling banyak ditemukan. Sehingga ada sebagian masyarakat yang berpendapat
bahwa rumah kampung sebagian besar dimiliki oleh orang-orang desa yang kemampuan
finansial/ ekonominya berada di bawah.

1. Rumah Kampung Pokok


Merupakan rumah dengan dua buah atap persegi panjang yang ditangkupkan.
2. Rumah Kampung Pacul Gowang
Adalah Rumah Kampung yang beratap emper pada salah satu sisi panjang, sedangkan sisi
lain tanpa atap emper.
3. Rumah Kampung Dara Gepak
Rumah Kampung yang beratap emper pada keempat sisinya.
4. Rumah Kampung Gotong Mayit
Rumah Kampung bergandengan tiga buah pada sebuah blandar sesamanya.
5. Rumah Kampung Klabang Nyander
Rumah Kampung bertiang lebih dari delapan buah atan berpengerat lebih dari empat buah.
6. Rumah Kampung Apitan
Rumah Kampung dengan ander satu buah di tengah tengah molo.

nusantaraknowledge.blogspot.com

Rumah bentuk kampung dapat dibedakan menjadi:

7. Rumah Kampung Lambang Teplok Semar Tinandu


Disebut Lambang Teplok karena penghubung atap brunjung dan atap penanggap masih
merupakan satu tiang. Disebut Semar Tinandu karena tiang penyangga di atas bertumpu pada
balok blandar yang ditopang oleh tiang-tiang di pinggir atau tiang-tiangnya tidak langsung
sampai ke dasar rumah.
8. Rumah Kampung Gajah Ngombe
Rumah Kampung dengan sebuah atap emper pada salah satu sisi samping.
9. Rumah Kampung Gajah Njerum
Merupakan Rumah Kampung dengan tiga buah emper terdiri dari dua atap emper di muka
dan belakang dan sebuah lagi pada sisi samping. Sedangkan sisi samping yang lain tidak
diberi atap emper.
10. Rumah Kampung Lambang Teplok
Rumah Kampung yang mempunyai renggangan antara atap brunjung dan atap penanggap,
tetapi kedua jenis atap dihubungkan dengan tiang utama.

12

2009

Arsitektur Nusantara-Jawa

11. Rumah Kampung Cere Gencet


Rumah Kampung bergandengan terdiri dari dua buah. Misalnya pada atap emper atau
sebuah blandar sesamanya

13. Rumah Kampung Semar Pinondong


Rumah Kampung dengan tiang-tiang berjajar di tengah menurut panjangnya rumah. Atap
ditopang balok yang dipasang horisontal pada tiang tersebut.

Gmb. 11 Rumah Kampung

nusantaraknowledge.blogspot.com

12. Rumah Kampung Trajumas


Rumah Kampung bertiang enam buah atau mempunyai tiga buah pengerat sehingga rumah
ini terbagi dua, masing-masing bagian disebut rongrongan.

13

Arsitektur Nusantara-Jawa

2009

Rumah Tajug

Berikut merupakan jenis-jenis dari rumah tajug :


1.Tajug Tawon Boni
Tajug dengan denah bujur sangkar memakai kepala gada tanpa ander penyangga puncak.
2.Masjid dan cungkup
Rumah ini pada umumnya bertiang empat buah dan kapnya seperti Rumah Limasan Empyak
Setangkep.
3.Tajug Semar Sinongsong
Rumah ini bertiang satu seperti payung.

nusantaraknowledge.blogspot.com

Rumah Tajuk tidak dipakai sebagai rumah tinggal, melainkan dipakai sebagai rumah
ibadah. Ciri-ciri rumah Tajuk adalah pada langgar tanpa pananggap berkeliling serta payonnya
gathuk (bertemu-beradu). Rumah ini mempunyai denah bujursangkar, dan bentuk inilah yang
masih mempertahankan bentuk aslinya hingga sekarang.

4.Masjid Payung Agung/ Meru


Biasanya bertingkat lebih dari dari tiga. Pada tingkat kedua masih disangga oleh tiang utama.
Sedangkan tiang berikutnya disangga tingkat sebelumnya.
5.Tajug Lambang Sari
Tajug ini memakai kepala gada, antara brunjung dan atap penanggap terdapat renggangan
yang dihubungkan dengan balok yang disebut lambang sari.
6.Tajug Tiang Satu Lambang Teplok
Rumah yang memakai penguat bahu danyang, brunjung diangkat ke atas sedang atap
penanaggap merenggang dengan atap brunjung.
7.Tajug Lambang Gantung
Adalah rumah yang memakai soko bentung sebagai penggantung atap penanggap pada atap
brunjung.
8.Masjid Lawakan
Bentuknya hampir sama dengan Rumah Limasan Atap Setangkep tetapi ditambah atap
penanggap.
9.Tajug Semar Tinandu
Adalah rumah yang brunjungnya tidak ditopang langsung oleh satu tiang, tetapi tiang-tiang
menyangga balok-balok yang mengangkat brunjung.

14

Arsitektur Nusantara-Jawa

2009

10.Tajug Ceblokan
Adalah Tajug yang tiangnya tertanam dalam tanah, atapnya teplok yaitu tidak memakai tiang
bentung kecualai atap pengapit memakai lambangsari.
11.Tajug Mangkurat
Adalah rumah yang memakai tumpangsari, uleng, tiang bentung dan lambangsari.

13.Masjid Lambang Teplok


Adalah rumah dengan tiang utama langsung ke atas menyangga brunjung atap paling atas
dan memakai sebuah ander sampai dada peksi pada tingkat kedua.
14.Tajug Semar Sinongsong Lambang Gantung/ Masjid Soko Tunggal
Rumah ini bertiang satu dengan bahu danyang, memakai lambang gantung sebagai
penggantung dan penanggap pada brunjung.
15.Tajug Semar Sinom Tinandu
Disebut Semar Tinandu karena letak atap penanaggap lebih tegak dibandingkan dengan atap
penanggap tajug-tajug lain. Disebut Semar Tinandu karena atap penanggap dan brunjung
tidak disangga langsung oleh tiang utama tetapi dipikul oleh tiang-tiang yang berderet di
pinggir memakai lambangsari.

Rumah Limasan

nusantaraknowledge.blogspot.com

12.Tajug Lawakan Lambang Teplok


Rumah yang brunjungnya secara langsung disangga tiang utama.

Rumah Limasan merupakan salah satu bentuk rumah tradisional jawa yang
dipergunakan sebagai tempat tinggal, khususnya di daerah Jawa Tengah, Jawa Timur dan beberapa
daerah di Jawa barat serta pesisir pantai utara dan selatan.

Ciri-ciri rumah Limasan :


Dinamakan Limasan, karena jenis rumah tradisional ini mempunyai denah empat persegi
panjang atau berbentuk limas.
Pada masa lalu rumah jenis ini kebanyakan dimiliki oleh masyarakat dengan status
ekonomi menengah.
Terdiri dari empat buah atap, dua buah atap bernama kejen/ cocor serta dua buah atap
bernama bronjong yang berbentuk jajaran genjang sama kaki. Kejen berbentuk segi tiga
sama kaki seperti enam atap keyong, namun memiliki fungsi yang berbeda. Pada

15

Arsitektur Nusantara-Jawa

2009

perkembangan selanjutnya rumah limasan diberi penambahan pada sisi-sisinya yang


disebut empyak emper atau atap emper.
Sistim dari kostruksi bangunannya dapat dibongkar pasang (knock down) tanpa merusak
keadaan rumah tersebut.
Menggunakan material kayu jati secara keseluruhan pada sistem konstruksinya.

Rumah Limasan dapat dibedakan menjadi:

nusantaraknowledge.blogspot.com

Selain dari Kontruksi utamanya yang terbuat dari kayu, konstruksi dinding pengisi juga
terbuat dari lembaran kayu solid dengan bukaan-bukaan jendela yang juga terbuat dari
kayu.

1. Rumah Limasan Ceblokan


Rumah Limasan yang sebagian tiangnya (ujung bawah) terdapat bagian terpendam. Bentuk
ini semata-mata dapat dilihat dari cara bertumpunya tiang.

2. Rumah Limasan Klabang Nyander


Rumah Limasan yang mempunyai pengeret lebih dari empat buah sehingga kelihatan
panjang. Bentuk rumah ini semata-mata dilihat banyaknya pengeret dan tiang (tengah) serta
susunan tiang.
3. Rumah Limasan Apitan
Adalah Rumah Limasan bertiang empat dengan sebuah ander yang menopang molo di tengahtengahnya.

4. Rumah Limasan Lawakan


Adalah semacam Rumah Limasan Klabang nyander, susunan tiangnya seperti Limasan
Trajumas yang diberi atap emper pada keempat sisinya.
5. Rumah Limasan Pacul Gowang
Adalah Rumah Limasan memakai sebuah atap emper terletak pada salah satu sisi
panjangnya, sedangkan pada lainnya diberi atap cukit (atap tritisan) dan sisi samping
dengan atap trebil.
6. Rumah Limasan Gajah Mungkur
Rumah Limasan yang memakai tutup keong pada salah satu sisi pendek, sedangkan sisi
lainnya memakai atap kejen. Bentuk ini sering diberi atap emper tetapi pada sisi yang
memakai tutup keong tidak diberi atap emper. Sehingga bentuknya setengah limasan dan
setengah kampung.

16

Arsitektur Nusantara-Jawa

2009

7. Rumah Limasan Gajah Ngombe


Adalah Rumah Limasan memakai sebuah empyak (atap) emper terletak pada salah satu sisi
samping (sisi pendek), sedangkan sisi lainnya memakai trebil dan kedua sisi panjang diberi
cukit atau atap tritisan.

9. Rumah Limasan Semar Tinandu


Rumah Limasan dengan dua buah tiang berjajar pada memanjangnya rumah dan terletak di
tengah-tengah. Jika ada empernya maka diberi tiang emper. Bentuk ini biasanya untuk
regol / pintu gerbang atau los pasar.
10. Rumah Limasan Bapangan
Rumah limasan yang panjang blandarnya lebih panjang dari pada jumlah panjang pengeret
biasanya memakai empat buah tiang.
11. Rumah Limasan Cere Gancet
Rumah Limasan ini dapat bergandengan pada salah satu emper masing-masing atau
bergandengan/ memakai salah satu blandar sesamanya. Jika bergandengan pada salah satu
blandar sesamanya disebut Rumah Limasan Kepala Dua.
12. Rumah Limasan Gotong Mayit
Rumah Limasan bergandengan tiga, baik bergandengan pada blandar sesamanya atau pada
atap emper sesamanya.
13. Rumah Limasan Lambangsari
Rumah Limasan yang memakai lambangsari / balok pengandeng atap brunjung dan atap
penanggap.
14. Rumah Limasan Semar Tinandu
Rumah Limasan Tinandu terdapat pada Masjid Besar Yogyakarta, bila dilihat dari depan
(pintu gerbang). Tiang utama tidak kelihatan

nusantaraknowledge.blogspot.com

8. Rumah Limasan Gajah Njerum


Merupakan Rumah Limasan yang memakai dua buah atap emper pada kedua sisi panjang
dan sebuah atap emper pada salah satu sisi samping (sisi pendek). Sedangkan sisi lainnya
memakai atap trebil.

15. Rumah Limasan Semar Pinondong


Pindong artinya digendong. Pada dasarnya rumah ini sama dengan Rumah Limasan Semar
Tinandu, tetapi pada bentuk ini diberi penyangga yang disebut bahu danyang.

17

Gmb. 12 Rumah Limasan

2.3 Komposisi dan Lingkungan Rumah Tempat Tinggal

nusantaraknowledge.blogspot.com

2009

Arsitektur Nusantara-Jawa

Yang dimaksudkan dengan komposisi rumah ialah susunan dan pengaturan cetak
bangunan lain terhadap bangunan rumah tempat tinggal (induk). Sedangkan yang dimaksud

dengan lingkungan di sini ialah rumah tempat tinggal dan rumah-rumah kelengkapan dengan tata
susunannya dalam suatu rumah tangga sebuah keluarga

Dalam masyarakat Jawa, susunan rumah dalam sebuah rumah tangga terdiri dari

beberapa bangunan rumah. Selain rumah tempat tinggal (induk), yaitu tempat untuk tidur,
istirahat anggota keluarga, terdapat pula bangunan rumah lain yang digunakan untuk keperluan
lain dai keluarga tersebut. Bangunan rumah tersebut terdiri dari: pendhapa, terletak di depan

rumah tempat tinggal, digunakan untuk menerima tamu. Rumah belakang (omah buri) digunakan
untuk rumah tempat tinggal, di antara rumah belakang dengan pendapa terdapat pringgitan.
Pringgitan ialah tempat yang digunakan untuk pementasan pertunjukan wayang kulit, bila yang
bersangkutan mempunyai kerja (pernikahan, khitanan, dan sebagainya). Dalam pertunjukan
tersebut tamu laki-laki ditempatkan di pendapa, sedang tamu wanita ditempatkan di rumah
belakang. Susunan rumah demikian mirip dengan susunan rumah istana Hindu Jawa, misalnya
Istana Ratu Boko di dekat Prambanan.

18

Gmb. 13 Denah Bangunan Utama Dalam Ling. Temp Tinggal

2009

nusantaraknowledge.blogspot.com

Arsitektur Nusantara-Jawa

Bagi warga masyarakat umum (kawula dalem) yang mampu, disamping bangunan rumah
tersebut, tempat tinggalnya (rumah) masih dilengkapi dengan bangunan lainnya, misal: lumbung,

tempat menyimpan padi dan hasil bumi lainnya. Biasanya terletak di sebelah kiri atau kanan

Pringgitan. Letaknya agak berjauhan. Dapur (pawon) terletak di sebelah kiri rumah belakang
(omah buri), tempat memasak. Lesung, rumah tempat menumbuk padi. Terletak di samping kiri

atau kanan rumah belakang (pada umumnya terletak di sebelah belakang). Kadang-kadang
terdapat lesung yang terletak di muka pendapa samping kanan. Kandang, untuk tempat binatang
ternak (sapi, kerbau, kuda, kambing, angsa, itik,ayam dan sebagainya). Untuk ternak besar
disebut kandang, untuk ternak unggas, ada sarong (ayam), kombong (itik, angsa); untuk kuda
disebut gedhongan. Kandang bisa terdapat di sebelah kiri pendapa, namun ada pula yang
diletakkan di muka pendhapa dengan disela oleh halaman yang luas. Gedhongan biasanya
menyambung ke kiri atau ke kanan kandhang. Sedang untuk sarong atau kombong terletak di
sebelah kiri agak jauh dari pendhapa.

19

2009

Arsitektur Nusantara-Jawa

Kadang-kadang terdapat peranginan, ialah bangunan rumah kecil, biasanya diletakkan disamping
kanan agak berjauhan dengan pendapa. Peranginan ini bagi pejabat desa bisa digunakan untuk
markas ronda atau larag, dan juga tempat bersantai untuk mencari udara segar dari pemiliknya.
Kemudian terdapat bangunan tempat mandi yang disebut jambang, berupa rumah kecil
ditempatkan di samping dapur atau belakang samping kiri atau kanan rumah belakang. Demikian
pula tempat buang air besar/kecil dan kamar mandi dibuatkan bangunan rumah sendiri. Biasanya

nusantaraknowledge.blogspot.com

untuk WC ditempatkan agak berjauhan dengan dapur, rumah belakang, sumur dan pendhapa.
Pintu masuk pekarangan sering dibuat Regol.

Demikian sedikit variasi bangun rumah adat Jawa yang lengkap untuk sebuah keluarga. Hal
tersebut sangat bergantung pada kemampuan keluarga. Secara lengkap kompleks rumah tempat

tinggal orang Jawa adala rumah belakang, pringgitan, pendapa, gadhok (tempat para pelayan),
lumbung, kandhang, gedhogan, dapur, pringgitan, topengan, serambi, bangsal, dan sebagainya.

Besar kecilnya maupun jenis bangunannya dibuat menurut selera serta harus diingat status sosial
pemiliknya didalam masyarakat.

Gmb. 15 Joglo Modern

Gmb. 14 Joglo

20

2009

Arsitektur Nusantara-Jawa
2.3.1 KAWRUH GRIYA

Di sekitar pergantian dari abad 19 ke abad 20 sejumlah naskah yang berkenaan dengan
arsitektur Jawa telah dihadirkan dalam bentuk tulisan tangan. Naskah-naskah yang berragam itu
memiliki

umum sebagai `Kawruh Kalang' dan `Kawruh Griya',

Gmb. 16 Interior

nusantaraknowledge.blogspot.com

judul naskah yang juga berbeda-beda, namun di kalangan pengkaji arsitektur Jawa dikenal secara

Masyarakat Jawa disusun atas dasar kedudukan sosial, teritorial, komunal, dan religius.

Dasar tersebut dalam proses pembentukan masyarakat Jawa akan terpancar dalam ciri-ciri dasar
masyarakat Jawa yang tetap mereka pertahankan dan mereka lestarikan keberadaannya dalam
wujud pandangan dunia orang Jawa. Pandangan dunia dimaksudkan sebagai keseluruhan
keyakina deskriptif tentang kenyataan suatu kesatuan antara alam, masyarakat, dan alam gaib,
yang daripadaNya manusia memberi suatu struktur yang bermakna bagi pengalamannya. Bagi
orang Jawa, baik sebagai individual maupun anggota masyarakat, realita itu tidak dibagi-bagi
secara terpisah-pisah dan tanpa hubungan satu sam lain, melainkan ia dilihat sebagai satu
kesatuan yang menyeluruh.

21

Arsitektur Nusantara-Jawa

2009

Bagi orang jawa dunia masyarakat dan dunia gaib, atau dunia Adi Kodrati bukanlah tiga bidang
yang berdiri sendiri-sendiri, dan masing-masing mempunyai hukumnya sendiri, melainkan
merupakan satu kesatuan pengalaman. Pada hakekatnya, orang Jawa tidak membedakan antara
sikap religius atau tidak religius dan interaksi-interaksi sosial religius, tetapi tetapi ketiganya
merupakan penjabaran manusia Jawa tentang sikapnya terhadap alam, seperti halnya sikap alam

perbedaan yang hakiki (Mulder, 1975:36).

nusantaraknowledge.blogspot.com

yang sekaligus mempunyai relevansi sosial. Di sini antara pekerjaan, interaksi, dan doa tidak ada

Tolok ukur anti pandangan dunia orang Jawa adalah nilai pragmatisme atau kemanfaatannya

untuk mencapai keadaan senang, tenteram dan seimbang lahir dan batin antara dunia sini dengan
dunia sana. Oleh karena itu, apabila kita membicarakan pandangan dunia orang Jawa tidak
terbatas pada bidang agama, kepercayaan dan mitos, melainkan juga sistem pertanian, perayaan

pameran, kehidupan keluarga Jawa, seni dan budaya Jawa, sistem tempat tinggal dan lingkungan
tempat tinggal mereka.
Dari Kawruh Griya-Slamet Soeparno (G-Sla)

Bangunan "regol" (gapura), asalnya dari kata "rigol" juga "parigolan", dimaksudkan

sebagai pengetrapan tata-krama/tata-susila antara muda kepada tua, antara kecil kepada yang
besar. "Parigolan" adalah batas pemberhentian dari kendaraan, atau membuka/menutup payung,
topi, atau turunnya dari pendapa ke "regol". Hormat kepada tamu lebih tua atau tinggi

derajat/pang-katnya. Turunnya dari tempat atau kendaraan itu diumpamakan "rigol" (rigol =
jatuh). Adapun "dapur" dalam bahasa Jawa adalah "pawon". Bangunan dapur atau "pawon" ini

disebut karena penggunaannya "pawon" atau dapur adalah tempat memasak. Untuk memasak ini
mempergunakan kayu bakar, maka dengan sendirinya akan terdapat "abu" yang dalam bahasa
Jawa "awu". "Paawon" atau "pawon" artinya tempat "awu" (tempat abu) lalu disebut "pawon"
yang dalam bahasa Indonesia "dapur". "GANDHOK"; Bangunan yang berhubung- an tritisnya
(overstek) dengan bangunan belakang. Jadi "gandhok' artinya "gan- dheng", tetapi bangunannya
sendiri juga mempunyai nama menurut modelnya. "LUMBUNG"; mengambil kata dari burungburung yang terbang bergerom- bolan, dalam bahasa Jawa disebut "alalumbungan". Jadi
mengatur padi dalam lumbung itu juga bergerombol ditumpuk/ disusun bulat ke atas. Pada

22

Arsitektur Nusantara-Jawa

2009

umumnya bangunan lumbung itu dengan model "taju" dengan beratap kampung, jadi
dihubungkan memakai "tutup keyong", pada bagian bawah (lantai berongga). "KANDHANG",
disebabkan alat-alatnya dengan palang-palang atau dari bahasa Jawa "kahadhang-hadhang"
(dihalang- halangi). "GEDHOGAN" atau gedhogag", atau "gedhugag". "Gedhogan" adalah
kandang kuda. Kepercayaan orang, kuda adalah binatang piaraan yang paling berharga sendiri,
atau "gegedhug"nya binatang piaraan. "Gegedhug" berarti paling tinggi, paling atas dan bagi

nusantaraknowledge.blogspot.com

orang pandai adalah "empu". Kuda disebut juga "turangga" atau "turaga", "satu-raga". Pada
waktu per- tempuran dengan musuh tidak usah dikendalikan, diibaratkan "raganya" sudah

bersatu dalam suka dan duka. "Kuda", atau "jaran" dalam bahasa Jawa, bahasa halusnya adalah
"kapal", ini berasal dari kata "kaapal" (sudah diapalkan/diketahui). Dari K-Sla terlihat bahwa

penerjemah me- ngalami kesulitan untuk mengindonesiakan `griya' yang mengawali bangunanbangunan `griya-regol, griya gandhok, griya pawon' dan seterusnya. Dari Kawruh Griya
berbahasa Jawa menjadi jelas bahwa `griya' dan `omah' tidak dapat dengan segera dimengerti
dan diindone- siakan atau diterjemahkan menjadi `rumah'. Griya atau omah memang di satu sisi
dapat dimengerti sebagai rumah, tapi di sisi yang lain tidak dapat dimengerti sebagai rumah.

Dalam wilayah bahasa Jawa baru, kata `griya' dan `omah' adalah sama artinya,
hanya\penggunaannya yang berbeda. Kata griya menunjuk pada tingkatan atau tataran krama
sedangkan kata omah digunakan dalam tingkatan atau tataran krama-ngoko.

Kawruh Griya ditegaskan bahwa sebutan- sebutan itu harus dengan tepat digunakan bagi

pengukuran jenis bangunan, bukan digunakan untuk membuat tipe atap tertentu. Membangun

rumah tinggal, lalu bagaikan menanam pohon; sedangkan membuat atap adalah bagaikan

menghadirkan hiasan kepala. Keadaan ini pulalah yang mungkin menjadi penyebab mengapa
redaksi Kawruh Griya terkelompokkan ke dalam dua redaksi utama. Redaksi pertama adalah
yang meletakkan penjelasan sebutan hitungan dalam pasal yang menerangkan tentang
pengukuran kerangka utama bangunan (tiang-utama/sakaguru dan balok/blandar); sedangkan
pada redaksi kedua menempatkannya pada penghitungan banyaknya usuk atap bangunan. Kalau
pada redaksi terdahulu dipakai anggapan di mana membangun rumah adalah bagaikan menanam
pohon; maka dalam redaksi kedua penekanannya adalah membangun atap itu adalah bagaikan
membuat dan memasangkan hiasan kepala.

23

2009

Arsitektur Nusantara-Jawa
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

3.2 SARAN

nusantaraknowledge.blogspot.com

Rumah tradisional jawa merupakan salah satu kekayaan arsitektur nusantara yang patut
dilestarikan. Rumah ini digolongkan menjadi 5 bagian yaitu, panggangpe, limasan, joglo, tajug,
dan kampung. Masing-masing rumah memiliki ciri khas dan fungsi yang berbeda-beda sesuai
dengan status sosial kepemilikan dan kedudukan pemiliknya dalam lingkungan masyarakat.
Tiap-tiap rumah diatas juga memiliki jenis-jenis rumah yang beraneka ragam pula. Bentuk fisik
dari rumah adat jawa ini sangatlah sederhana dengan bentuk serupa yaitu bujursangkar, dan
dengan atap berbentuk limasan. Selain itu, rumah ini juga terdiri dari saka-saka yang
menopangnya.

Rumah-rumah tradisional di negara indonesia ini sudah semakin mengalami


perkembangan yang semakin mengikuti jaman. Unsur-unsur budayanya pun sedikit demi sedikit
mulai pudar. Rumah tradisional jawa ini merupakan salah satu kekayaan arsitektur nusantara,
maka dari itu kita sebagai warga negara indonesia sudah sepatutnya harus melestarikan
kebudayaan indonesia dalam bidang arsitektur pada khususnya. Contoh yang riil ada ada pada
pembangunan replika-replika rumah adat tiap-tiap provinsi di kawasan Taman Mini Indonesia
Indah. Hal ini dapat kita tiru agar generasi berikutnya masih menikmati warisan-warisan
leluhurnya.
3.3 PRESENTASI
Presentasi pada

: Sabtu, 16 Mei 2009

Tempat

: Kampus Sudirman

Dosen saat presentasi

: Ir. Tjok Sajang Putra

Keterangan

: Tidak ada sesi tanya jawab

Banyaknya bentuk rumah merupakan variasi dari bentuk dasar atau bentuk awal. Rumahrumah tradisional yang megah adalah variasi yang mewah dari variasi bentuk asal dengan atau
tanpa penerapan arsitektur asing. Sebagia contoh yang memiliki rumah mewah adalah mereka
yang memiliki jabatan dalam masyarakat biasanya adalah yang berkedudukan sebagai pemimpin.
Rumah mereka banyak dihiasi oleh ornamen. Contoh-contoh lain yang dianggap sebagai rumah
tradisional yang megah adalah kraton Jogja dan Solo karena disitulah dipandang adanya
penerusan hidup sejak jaman mataram. Dalam bentuknya yang sekarang keempat kraton yang
ada di Jawa sudah banyak terkena pengaruh Barat.

24

KATA PENGANTAR

Puji syukur Penulis panjatkan ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa atas karunia-Nya
sehingga paper ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Paper ini berjudul ARSITEKTUR NUSANTARA-JAWA yang disusun untuk memenuhi
salah satu persyaratan dalam rangka mengikuti Mata Kuliah Arsitektur Nusantara

petunjuk, serta bantuan dan dukungan dari berbagai pihak dan dosen pembimbing.

nusantaraknowledge.blogspot.com

Dalam penyusunan paper ini, Penulis banyak memperoleh bimbingan dan petunjuk-

Penulis menyadari bahwa dalam paper ini masih terdapat kekurangan dan diharapkan

adanya saran demi penyempurnaan karya ini. Semoga paper ini bisa memberikan sumbangan
ilmiah bagi dunia Arsitektur terutama bidang Arsitektur Jawa dan berguna bagi masyarakat.
Terima kasih.

Denpasar, Mei 2009


Penulis