Anda di halaman 1dari 29

ASKEP GANGGUAN KOGNITIF DAN MENTAL ORGANIK

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN


GANGGUAN KOGNITIF DAN MENTAL ORGANIK
I. PENDAHULUAN
Gangguan kognitif pada pasien akan mempengaruhi pada kemampuan berpikir dan rasional
sesorang. Repon kognitif yang ditimbulkan berbeda dan tergantung pada bagian yang
mengalami gangguan. Perubahan dalam perilaku juga akan terjadi. Pada kasus delirium akan
terjadi gangguan pada proses pikir, sedangkan pada demensia akan mengalami respon
kognitif yang maladaptip.
Untuk mengetahui lebih lanjut masalah yang terjadi pada pasien perlu dkaji lebih lanjut
tentang Gangguan kognitif dan mental organic pada pasien. Penulisan makalah ini diharapkan
mampu memberikan gambaran secara umum tentang Asuhan keperawatan yang diberikan
pada pasien dengan gangguan kognitif, sehingga dapat membantu perawat dalam menerapkan
asuhan keperawatan yang diaplikasikan dalam hal :
- Pengkajian
- Penegakan diagnosa
- Intervensi
- Implementasi
- Evaluasi.
Pemberian asuhan keperawatan yang maksimal dapat membantu pasien untuk menghadapi
masalahnya dan meminimalkan resiko yang akan terjadi.
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi :
Kognitif adalah : Kemampuan berpikir dan memberikan rasional, termasuk proses mengingat,
menilai, orientasi, persepsi dan memperhatikan ( Stuart and Sundeen, 1987. Hal.612).
Gangguan kognitif erat kaitannya dengan fungsi otak, karena kemampuan pasien
untuk berpikir akan dipengaruhi oleh keadaan otak .
B. Fungsi Otak :

1. Lobus Frontalis, Pada bagian lobus ini berfungsi untuk :


- Prose belajar
- Abstraksi
- Alasan
2. Lobus Temporal, Secara umum berfungsi untuk :
- Diskriminasi bunyi
- Prilaku verbal
- Bicara
3. Lobus Parietal, Berfungsi untuk :
- Diskriminasi waktu
- Fungsi somatic
- Fungsi motorik
4. Lobus Oksipitalis, Berfungsi untuk :
- Diskriminasi visual
- Diskriminasi beberapa asfek memori
5. Sisitim Limbik, Hal ini akan berpengaruh pada fungsi :
- Perhatian
- Flight of idea
- Memori
- Daya ingat
Secara umum apabila terjadi gangguan pada otak, maka seseorang akan mengalami
gejala yang berbeda, sesuai dengan daerah yang terganggu yaitu :
1. Gangguan pada lobus frontalis , akan ditemukan gejala-gejala sbb :
- Kemampuan memecahkan masalah berkurang
- Hilang rasa sosial dan mora
- Impilsif verbal/ obyektif
- Regresi
2. Gangguan pada lobus temporalis akan ditemukan gejala sbb :
- Amnesia
- Demensia
3. Gangguan pada lobus parietalis dan oksipitalis akan ditemukan gejala gejala yang hampir
sama, tapi secara umum akan terjadi disorientasi
4. Gangguan pada sistim limbik akan menimbulkan gejala yang bervariasi all :
- Gangguan daya ingat

- Memori
- Disorientasi
- Dll
RENTANG RESPON KOGNITIF SECARA UMUM :
Respon Adaptif -------------------------------------------------- Respon Maladaptif
-

Decisiveness - Periodic - Tidak mampu membuat

indecisiveness keputusan

Memori baik

Orientasi penuh - Pelupa - Kerusakan memori

Persepsi akurat - Kadang-kadang bingung - Kerusakan penilaian

Perhatian terfokus - Ragu Disorientasi

Koheren - Mispersepsi Mispersepsi

Berfikir logis - Pikiran kacau - Perhatian tidak terfokus

Kadang-kadang - Sulit memberikan alasan

pikiran tidak yang logis jernih


( Stuart and Sundeen, 1995. Hal. 546 )
III. ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN

1. Faktor Predisposisi
Penyebab :
- Gangguan fungsi susunan saraf pusat
- Gangguan pengiriman nutrisi
- Ganggua peredaran darah
a. Penuaan
Kumulatif degeneratif jaringan otak
penuaan
Racun dalam jaringan otak
Kimia toksik/logam berat
Respon kognitif maladaptive
b. Neurobiologi

Penyakit Alzheimers
Gangguan metabolik :
- Penyakit lever kronik,
- GGK
- Devisit vitamin
- Malnutrisi
Anorexia nervosa
Bulimia nervosa
c. Genetik :
Penyakit otak degeneratif herediter ( Huntingtons Chorea)
2. Stressor Presipitasi
a. Hipoksia :
- Anemia hipoksik
- Histotoksik hipoksia
- Hipoksemia hipopoksik
- Iskemia hipoksik
Suplai darah ke otak menurun/berkurang
b. Gangguan metabolism
Malfungsi endokrin : Underproduct / Overproduct Hormon
- Hipotiroidisme
- Hipertiroidisme
- Hipoglikemia
- Hipopituitarisme
c. Racun, Infeksi
- Gagal ginjal
- Syphilis
- Aids Dement Comp
d. Perubahan Struktur
- Tumor tumor otak
- Trauma
e. Stimulasi Sensori
- Stimulasi sensori berkurang
- Stimulasi berlebih
Lingkungan yang stimulusai berkurang / atau lebih

Halusinasi
Penerangan dan aktifitas di ICU yang konstan
Bingung
Delusi
Halusinasi
3. Perilaku
Delirum adalah : Suatu keadaan proses pikir yang terganggu, ditandai dengan
Gangguan perhatian, memori, pikiran dan orientasi
Demensia : Suatu keadaan respon kognitif maladaptif yang ditandai dengan hilangnya
kemampuan intelektual/ kerusakan memori, penilaian, berpikir abstrak.
Karakteristik Delirium dan demensia
Delirium Demensia
Onset Biasanya tiba-tiba Biasanya perlahan
Lama Biasanya singkat/ <> 65 th
Stressor
Racun, infeksi, trauma,
Hipertermia
Hipertensi, hipotensi,
anemia. Racun, deficit
vitamin, tumor atropi
jaringan otak
perilaku
- Fluktuasi tingkat kesadaran
- Disorientasi
- Gelisah
- Agitasi
- Ilusi
- Halusinasi
- Pikiran tidak teratur
- Gangguan penilaian dan pengambilan keputusan
- Afek labil - Hilang daya ingat

- Kerusakan penilaian
- Perhatian menurun
- Perilaku sosial tidak sesuai
- Afek labil
- Gelisah
- Agitasi
4. Mekanisme koping :
- Dipengaruhi pengalaman masa lalu
- Regresi
- Rasionalisasi
- Denial
- Intelektualisasi
5. Sumber Koping :
- Pasien
- Keluarga
- Teman

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Menurut Nanda :
Anxietas
Komunikasi, kerusakan verbal
Resiko tinggi terhadap cedera
Sindrom defisit perawatan diri ( mandi,/kebersihan diri, makan, berpakaian, berhias, toilet )
Perubahan sensori/perseptual ( penglihatan, pendengaran, pengecapan, perabaan, dan
penghidu)
Gangguan pola tidur
Perubahan proses piker
( Stuart and Sundeen, 1995.hal 556 )
Diagnosa lengkap dalam proses keperawatan :
Gangguan proses pikir berhubungan dengan gangguan otak ditandai dengan :
- Interpretasi lingkungan yang tidak akurat

- Kurang memori saat ini


- Kerusakan kemampuan memberikan rasional
- Konfabulasi
Resiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan :
- Ketakutan
- Disorientasi yang ditandai dengan perilaku agitasi
Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan :
- Kerusakan kognitif
- Kehilangan memori saat ini
- Konfabulasi

C. PERENCANAAN
Identifikasi hasil :
Pasien dapat mencapai fungsi kognitif yang optimal
Prioritas :
Menjaga keselamatan hidup
Pemenuhan kebutuhan bio-psiko-sosial
Libatkan keluarga
Pendidikan kesehatan mental
Usaha perawatan :
Memfungsikan pasien seoptimal mungkin sesuai kemempuan pasien

D. IMPLEMENTASI
Intervensi Delirium :
a.

Kebutuhan Fisiologis
- Prioritas : menjaga keselamatan hidup
- Kebutuhan dasar dengan mengutamakan nutrisi dan cairan
- Jika pasien sangat gelisah perlu : Pengikatan untuk menjaga therapi, tapi sedapat mungkin
harus dipertimbangkan dan jangan ditinggal sendiri
- Gangguan tidur :
Kolaborasi pemberian obat tidur

Gosok punggung
Beri susu hangat
Berbicara lembut
Libatkan keluarga
Temani menjelang tidur
Buat jadwal tetap untuk bangun dan tidur
Hindari tidur diluar jam tidur
Mandi sore dengan air hanngat
Hindari minum yang dapat mencegah tidur seperti : kopi, dll
Lakukan methode relaksasi seperti : napas dalam
- Disorientasi :
Ruangan yang terang
Buat jam, kalender dalam ruangan
Lakukan kunjungan sesering mungkin
Orientasikan pada situasi linkumngan
Beri nama/ petunjuk/ tanda yang jelas pada ruangan/ kamar
Orientasikan pasien pada barang milik pribadinya ( kamar, tempat tidur,
lemari, photo kleuarga, pakaian, sandal ,dll)
Tempatkan alat-alat yang membantu orientasi massa
Ikutkan dalam tyherapi aktifitas kelompok dengan program orientasi
realita (orang, tempat, waktu).
b. Halusinasi
- Lindungi pasien dan orang lain dari perilaku merusak diri
- Ruangan :
Hindari dari benda-benda berbahaya
Barang-barang seminimal mungkin
- Perawatan 1 1 dengan pengawasan yang ketat
- Orientasikan pada realita
- Dukungan dan peran serta keluarga
- Maksimalkan rasa aman
- Sikap yang tegas dari pemberi/ pelayanan perawatan (konsisten)
c.

Komunikasi
- Pesan jelas
- Sederhana

- Singkat dan beri pilihan terbata


d. Pendidikan kesehatan
- Mulai saat pasien bertanya tentang yang terjadi pada keadaan sebelumnya
- Seharusnya perawat harus harus tahu sebelumnya tentang :
Masalah pasien
Stressor
Pengobatan
Rencana perawatan
Usaha pencegahan
Rencana perawatan dirumah
- Penjelasan diulang beberapa kali
- Beri petunjuk lisan dan tertulis
- Libatkan anggota keluarga agar dapat melanjutkan perawatan dirumah dengan baik sesuai
rencana yang telah ditentukan
Intervensi pada Demensia
a.

Orientasi
Tujuan : Membentuk pasien berfungsi dilingkungannya
- Tulis nama petugas pada kamar pasien jelas, besar, sehingga dapat dibaca pasien
- Orientasikan pada situasi lingkungan
- Perhatikan penerangan terutama dimalam hari
- Kontak personal dan fisik sesring mungkin
- Libatkan dalam kegiatan T.A.K
- Tanamkan kesadaran :
Mengapa pasien dirawat
Memberikan percaya diri
Berhubungan dengan orang lain
Tanggap situasi lingkungan dengan menggunakan panca indera
Inyteraksi personal
- Identifikasi proses pulang

b. Komunikasi
- Membina hubungan saling percaya
Umpan balik yang positif

Tentramkan hati
Ulangi kontrak
Respek, pendengaran yang baik
Jangan terdesak
Jangan memaksa
- Komunikasi verbal
Jelas
Ringkas
Tidak terburu buru
- Topik percakapan dipilih oleh pasien
- Topik buat spesipik
- Waktu cukup untuk pasien
- Pertanyaan tertutup
- Pelan dan diplomatis dalam menghadapi persepsi yang salah
- Empati
- Gunakan tehnik klarifikasi
- Summary
- Hangat
- Perhatian
c.

Pengaturan koping
- Koping yang selama dipakai ini yang positif positif dimaksimalkan dan yang negative
diminimalkan
- Bantu mencari koping baru yang posistif

d. Kurangi agitasi
- didorong melakukan sesuatu yang tidak biasa dan tidak jelas
- beri penjelasan
- beri pilihan
- penyaluran energi :
Perawatan mandiri
Menggunakan kekuatan dan kemampuan dengan tepat, misalnya berolahraga
- Saat agitasi :
Tetap senyum

Tujukkan sikap bersahabat


Empati
e.

Keluarga dan masyarakat


- Siapkan keluarga untuk menerima keadaan pasien
- Siapkan fasilitas dalam berinteraksi dengan dimasyarakat
- Perlu bantuan dalam merawat 24 jam dirumah, yang diprogramkan melalui :
Puskesmas
Pos-pos pelayanan kesehatan dirumah sakit

f.

Farmakologi
- Tergantung penyebab gangguan, spt :
Penyakit Alzheimers
- Pada orang tua harus hati-hati, karena keadaan yang sensitive

g. Wandering
Perilaku yang harus diperhatikan oleh pemberi perawatan
h. Therapeutik Milieu
- Stimulasi kognitif
Melakukan aktifitas yang berfungsi untuk perbaikan kognitif misalnya diskusi kelompok
Dukung perasaan aman
Situasi yang tenang
Rancangai fisik konsisten
Struktur yang teratur
Fokus pada kekuatan dan kemampuan
Minimalkan perilaku destruktif
i.

Intervensi interpersonal
- Psychotherapi
- Life review therafi
Untuk menyelesaikan masalah yang melibatkan individu dan kelompok dengan saling
menceritakan riswayat hidup
- Latihan dan terafi kognitif

Latihan daya ingat


Memelihara inteligensia
- Therapi relaksasi
Untuk mengurangi ketegangan dan stress
Deep Breathing
Konsentrasi
- Kelompok pendukung dan konseling
Ekspres filling
Pemecahan masalah yang dilakukan dengan cara :
1. Meningkatkan harga diri
2. Meningktkan percaya diri
3. Meningkatkan simpati
4. Meningkatkan empati
j.

Gangguan daya ingat :


- Mulai percakapan dengan menyebut nama anda dan panggil nama pasien
- Hindarkan konfrontasi atas pernyataan pasien yang salah
- Penataan barang pribadi jangan dirubah
- Lakukan progran orientasi

k. Gangguan perawatan diri :


- Buat jadwal mandi dengan teratur
- Tempatkan pakaian yang kemungkinan mudah dijangkau pasien
- Ajarkan cara mandi secara bertahap :
Peralatan mandi
Langkah-langkah mandi
Perhatikan privacy
- Ajarkan cara berpakaian
Buat langkah berpakaian yang rutin
Hindarkan kancing dan resleting
Beri instruksi yang sederhana
Lakukan berulang-ulang
Tetap perhatikan privacy
- Ajarkan BAB dan BAK pada tempatnya
l.

Isolasi social

- Mulai kotak dengan keluarga


- Teman dekat
- Dorong berhubungan dengan orang lain
- Masukkan dalam kelompok aktifitas
- Buat jadwal kontak sosial secara teratur
Prinsip Konservatif Myra Levines
Penerapannya pada pasien gangguan kognitif.
Tujuan : Meningkatkan fungsi kognitif yang optimal.
a. Konservatif Energi
Intervensi :
- Nutrisi adekuat
- Observasi intake
- Observasi out put
- Observasi tanda vital
- Kesempatan istirahat dirangsang
- Bantu pergerakan
- Kaji gangguan fisiologis
- Kaji stres, bantu cara menghindari dan mengatasi
Dilakukan melalui kegiatan yang berhubungan dengan penggunaan energy

b. Konservasi Integritas Struktur


Intervensi :
- Kaji fungsi sensori
- Kaji persepsi
- Beri kaca mata
- Alat bantu dengar
- Tongkat
- Observasi dan jauhkan benda-benda berbahaya
- Supervisi pemberian obat
- Lindungi dari bahaya

Perlindungan keselamatan dari ancaman bahaya kecelakaan


c. Konservasi Integritas Personal
Intervensi :
- Orientasi realita
- Hubungan saling percaya
- Dorong untuk mandiri
- Identifikasi minat
- Identifikasi kemampuan
beri kesempatan untuk menggunakan
- Beri pujian
- Lakukan tehnik komunikasi terapeutik
Pemeliharaan peningkatan harga diri
d. Konservasi social
Intervensi :
- Kontak keluarga
- Kontak teman dekat
- Dorong untuk berhubungan dengan orang lain
- Didik keluarga dan pasien
- Ijinkan keluarga/orang dekat untuk membantu perawat
- Bertemu keluarga secara teratur
- Libatkan keluarga dalam perencanaan pulang
Pemeliharaan hubungan sosial dengan orang terdekat
E. EVALUASI
1) Realistis
2) Tidak pesimis
3) Ditujukan pada :
Orientasi waktu
Tempat

Orang
Interaksi social
Perawatan mandiri
Status nutrisi
Fungsi kognitif
Pasien terhindar dari cedera
4) Ditujukan pada pasien delirium
pasien kembali pada fungsi sebelumnya
pasien dapat memelihara tingkat optimal fungsi sensori dan persepsi
berperan dalam aktifitas sehari-hari
memelihara keseimbangan fungsi fisiologis
5) Ditujukan pada pasien demensia
pasien melakukan perawatan mandiri secara optimal
keluarga tetap memelihara hubungan dengan pasien.
IV. PENUTUP
a. Kesimpulan
Gangguan kognitif pada pasien yang mengalami gangguan jiwa, erat hubungannnya
dengan gangguan mental organik. Hal ini terlihat dari gambaran secara umum perilaku/ gejala
yang timbul akan dipengaruhi pada bagian otak yang mengalami gangguan, misalnya pada
lobus oksipitalis, lobus parietalis, lobus temporalis, lobus frontalis maupun sistim limbik.
Dari intervensi yang dilakukan untuk mengatasi masalah pasien , hal utama yang
dilakukan adalah : selalu menerapkan tehnik komunikasi terapeutik. Pendekatan secara
individu dan kelompok, juga keterlibatan keluarga dalam melakukan perawatan sangat
penting

untuk

mencapai

kesembuhan

pasien.

Berdasarkan hal diatas masalah dengan gangguan kognitif sangat penting diketahui apa
penyebab terjadinya . Sehingga intervensi yang diberikan tepat dan sesuai untuk mengatasi
masalah pasien. Akhirnya pasien diharapkan dapat seoptimal mungkin untuk memenuhi
kebutuhannya dan terhindar dari kecelakaan yang ,membahayakan keselamatan pasien.
b. Saran

Dari

kesimpulan

diatas,

pemberian

asuhan

keperawatan

pada

pasien

yang

mengalami gangguan kognitip seharusnya kita memperhatikan hal-hal sebagai berikut :


1. Asuhan yang kita berikan secara tuntas dengan tetap mengacu pada pengkajian bio-psikososial

dengan

lebih

mengutamakan

etiologi

dari

terjadinya

masalah

2. Pemberian obat /terapy seharusnya berdasarkan pada gejala yang terjadi, karena akan
dipengaruhi oleh bagian otak yang terganggu dan harus tetap berkolaborasi dengan tim
medis.
3. Dalam pemberian asuhan keperawatan diharapkan peran serta dan keterlibatan keluarga.

GANGGUAN MENTAL ORGANIK


Definisi
Adalah gangguan mental yg mempunyai dasar organik yg patologis yg dapat diidentifikasi
misal tumor otak, penyakit serebrovaskular, intoksikasi obat2an. Ada 3 kelompok gangguan
ini yg gejala utamanya adalah gangguan kognitif berupa gangguan daya ingat, gangguan
berbahasa dan gangguan perhatian yaitu:

Delirium

Dimensia

gangguan Amnestik

A. Delirium
Gangguan utama: Gangguan kesadaran,gangguan kognitif.
Gangguan mental: gangguan mood, gangguan persepsi, gangguan perilaku.
Gangguan neurologis: tremor, nistagmus, inkoordi-nasi, inkontinentia urine.
Onset mendadak: beberapa jam hari.
Perjalanan penyakit singkat dan berfluktuasi.
Perbaikan cepat, bila penyebab teridentifi-kasi dan dihilangkan.
Faktor predisposisi: usila, anak2, cedera otak yg telah ada sebelumnya, ketergantungan
alkohol, kanker
Gambaran klinis: penurunan kejernihan kesadaran terhadap lingkungan dgn penu-runan
kemampuan unt memusatkan, mem-pertahankan atau mengalihkan perhatian yg berfluktuasi.
Gangguan awal: kecemasan, mengantuk, insomnia, halusinasi, mimpi yg menakutkan pada
malam hari dan gelisah
Gangguan penyerta: gangguan tidur-bangun, sering mengantuk pada siang hari, tidur
terputus-putus dan singkat disertai mimpi yg menakutkan

Terapi simptomatik, antipsikotik.


Prognosis: reversibel..
B. Dimensia
Suatu sindroma yg ditandai dgn berbagai gangguan fungsi kognitif tanpa gangguan
kesadaran.
Fungsi kognitif yg terganggu: inteligensia umum, belajar, ingatan, bahasa, memecah-kan
masalah, orientasi, persepsi, perhatian, konsentrasi, pertimbangan dan kemampuan sosial
Gangguan dapat progresif, statis, permanen dan reversibel bila diberi pengobatan tepat waktu.
Merupupakan. Penyakit. Lansia, 50-60% menderita demensia tipe Alzheimer
Penyebab : 75% demensia Alzheimer dan demensia vaskular, sisanya oleh karena penyakit
Pick, penyakit Huntington, penyakit Parkinson, HIV, trauma kepala
Gambaran gangguan awal yg menonjol mulanya hanya pada peristiwa klinis: Gangguan daya
ingat yg baru, seterusnya ingatan lama juga akan terganggu. Juga didapati gangguan bahasa
dan gangguan orientasi.
Gangguan neurologis: apraksia, agnosia, kejang2, nyeri kepala, pusing sampai pingsan
Yang Dapat paling mengganggu pada keluarga adalah perubahan kepribadian menjadi
introvert, waham paranoid yaitu memusuhi keluarga, mudah marah dan meledak-ledak, juga
dapat dijumpai halusinasi.
tertawa atau menangis patologis.Gangguan mental lain : depresi, cemas, gangguan afek
Terapi simptomatis.
C. Gangguan Amnestik
Ditandai dengan Gangguan tunggal: Gangguan daya ingat yg menyebabkan gangguan
bermakna dalam fungsi sosial dan pekerjaan. Paling sering ditemukan pada Gangguan
penggunaan alkohol dan Cedera kepala
Gangguan daya ingat ditandai dengan gangguan pada kemampuan untuk mempelajari
informasi baru (Amnesia anterograd) dan ketidakmampuan untuk mengingat pengetahuan
sebelumnya (Amnesia retrograd). Daya ingat jangka pendek (short term memory), daya ingat
segera (recent memory) biasanya terganggu juga.
Onset dapat tiba2 atau bertahap.
Gangguan dapat sementara atau menetap
Pemulihan yg lengkap bisa terjadi pada Epilepsi lobus temporalis, ECT, penggunaan obat
tertentu seperti benzodiazepin dan barbiturat.
Terapi simptomatis.

2.1 Definisi
Gangguan mental organik adalah gangguan mentak organik yang berkaitan
dengan penyakit atau gangguan sistemik atau otak yang dapat didiagnosis
tersendiri (Rusdi Maslim, 2003; 22).
Gangguan Mental Organik (GMO) adalah suatu Gangguan patologi yang jelas,
misalnya; tumor otak, penyakit serebrovaskular, atau intoksikasi obat (Arif
Mansjoer, 2001; 189).
2.2 Etiologi
Gangguan jiwa yang psikotik atau non psikotik yang disebabkan oleh gangguan
fungsi jaringan otak. Gangguan fungsi jaringan otak ini dapat disebabkan oleh
penyebab badaniah yang terutama mengenai otak (WF. Maramis, 1995; 181).
2.3 Gambaran Utama
Menurut Rusdi Maslim (2001; 22), gangguan mental organik terbagi menjadi 3,
yaitu:
1. Gangguan fungsi kognitif
Misalnya: Daya ingat (memory), daya pikir (Intellect), daya belajar (Learning).
2. Gangguan sensorium
Misalnya: Gangguan kesadaran (Consciousness) dan perhatian (Attention).
3. Sindrom dengan manifestasi yang menonjol dalam bidang;
1) Persepsi (halusinasi)
2) Isi pikir (waham/delusi)
3) Suasana perasaan dan emosi (depresi, gembira, cemas).
2.4 Klasifikasi Gangguan Mental Organik (GMO)
Menurut Arif Mansjoer (2003; 18), GMO dapat dibagi menjadi menjadi 4, yaitu;
1. Delirium
1) Delirium yang berhubungan dengan suatu kondisi medis lain
2) Delirium yang di indiuksi oleh zat
3) Delirium yang disebabkan oleh berbagai macam etiologi
4) Delirium yang tidak diklasifikasikan di tempat lain.
2. Demensia
1) Demensia tipe Alzheimer
2) Demensia tipe vaskular
3) Demensia yang berhubungan dengan suatu kondisi medis lain (HIV, Parkinson,
trauma kepala, penyakit Huntington, penyakit Pick, penyakit Creatzfeldt-Jacob,
kondisi medis lain)
4) Demensia yang di induksi oleh zat

5) Demensia yang disebabkan oleh berbagai macam etiologi


6) Demensia yang tidak diklasifikasikan di tempat lain.
3. Gangguan Amnesia
1) Gangguan Amnesia yang berhubungan dengan kondisi medis lain
2) Gangguan Amnesia yang di induksi oleh zat.
4. Gangguan kognitif yang tidak diklasifikasikan di tempat lain.
2.4.1 Delirium
2.4.1.1 Definisi
Suatu sindrom dengan gejala pokok adanya gangguan kesadaran yang biasanya
tampak dalam bentuk hambatan pada fungsi kognitif (Arif Mansjoer, 2001; 189).
Status kebingungan akut yang ditandai dengan kewaspadaan, perhatian, dan
konsentrasi dengan awitan akut dan berlangsung singkat (berjam-jam hingga
berhari-hari) (Barry. Guze, MD, 1997; 165).
2.4.1.2 Etiologi (faktor penyebab)
Menurut Arif Mansjoer (2001; 190), delirium memunyai berbagai macam
penyebab, semuanya mempunyai pola gejala serupa putus obat maupun zat
toksik, penyebab delirium terbanyak terletak diluar sistem saraf pusat, misalnya
gagal ginjal dan hati. Neurotransmitter yang dianggap berperan adalah
asetilkolin, serotonin, serta glutamat. Area yang terutama terkena adalah
formasio retikularis. Faktor predisposisi terjadinya delirium, antara lain;
1) Usia
2) Kerusakan otak
3) Riwayat delirium
4) ketergantungan alkohol
5) Diabetes
6) Kanker
7) Gangguan panca indera
8) Malnutrisi
Sementara itu menurut Barry Gue (1997; 167), menyatakan penyebab lain
terjadinya Delirium yaitu;
1) Gangguan sistemik
2) Disfungsi endokrinologis
3) Proses infeksi
4) Defisiensi nutrisional
5) Proses intrakranial
Perdarahan subaraknoid dan subdural, trauma, infeksi (meningitis dan
ensefalitis), stroke, sakit kepala, migrain, tumor, epilepsi (delirium dan
pascaiktal) dan ensefalopati hipertensif.
6) Intoksikasi
Obat-obatan dan medikasi (khususnya antikolinergik), alkohol, racun (logam,
bahan industri dan karbon monoksida).
7) Penarikan diri karena obat
8) Masalah psikiatrik
9) Penyebab lainnya.
2.4.1.3 Manifestasi Klinis

Gejala utama pada penyakit delirium adalah kesadaran yang menurun. Gejalagejala lain adalah penderita tidak mampu mengenal orang dan berkomunikasi
dengan baik, ada yang bingung atau cemas, gelisah dan panik, ada pasien yang
terutama berhalusinasi dan ada yang hanya berbicara komat-kamit dan
inkoherent. Pasien delirium yang berhubungan dengan sindrom putus obat
merupakan jenis hiperaktif yang dapat dikaitkan dengan tanda-tanda otonom,
seperti flushing, berkeringat, takikardi, dilatasi pupil, nausca, mundan dan
hipertermi. Orientasi waktu seringkali hilang, sedangkan orientasi tempat dan
orang mungkin terganggu pada kasus yang berat. Pasien seringh mengalami
Abromalitas dalam berbahasa, seperti pembicaraan yang bertele-tele, tidak
relevan dan inkoheren (Arif Mansjoer, 2001; 190).
Fungsi kognitif lain yang mungkin terganggu adalah daya ingat dan fungsi
kognitif umum. Pasien mungkin tidak mampu membedakan rangsang sensorik
dan mengintegrasikannya sehingga sering merasa terganggu dengan rangsang
yang tidak sesuai atau timbul agitasi, gejala yang sering tampak adalah marah,
mengamuk dan ketakutan yang tidak beralasan, pasien selalu mengalami
gangguan tidur sehingga tampak mengamuk sepanjang hari dan tertidur dimana
saja (Arif Mansjoer, 2001; 190).
Delirium biasanya hilang bila penyakit badaniah yang menyebabkannya sudah
sembuh, mungkin sampai kira-kira 1 bulan sesudahnya. Jika disebabkan oleh
proses langsung menyerang otak, bila proses itu sembuh, maka gejala-gejalanya
tergantung pada besarnya kerusakan yang ditinggalkan (gejala
neurologik/gangguan mental dengan gejala utama gangguan intelegensi).
Biasanya delirium muncul tiba-tiba (dalam beberapa jam atau hari) faktor
penyebabnya telah dapat diketahui dan dihilangkan, walaupun delirium biasanya
terjadi mendadak, gejala-gejala prodnormal mungkin telah terjadi beberapa hari
sebelumnya. Prognosa tergantung pada dapat atau tidak dapat kembalinya
penyakit yang menyebabkannya dan kemampuan otak untuk menahan
pengaruh penyakit itu (WF. Maramis, 1995; 182).
2.4.1.4 Penalaksanaan
Menurut Maramis (1995; 182), pengobatan etiologik harus sedini-dininya dan
disamping ini faal otak dibantu agar tidak terjadi kerusakan otak yang tetap.
Peredaran darah harus diperhatikan (nadi, jantung, tekanan darah), bila perlu
diberi stimulansia. Pemberian cairan harus cukup, sebab tidak jarang terjadi
dehidrasi.
1) Penderita harus dijaga terus, lebih-lebih ia sangat gelisah, sebab ia berbahaya
untuk diri sendiri (jatuh, lari dan loncat keluar dari jendela dan sebagainya)
ataupun untuk orang lain.
2) Dicoba menenangkan penderita dengan kata-kata (biarpun kesadarannya
menurun) atau dengan kompres es, penderita mungkin menjadi lebih tenang bila
ia melihat orang tua, barang yang ia kenal dari rumah. Sebaiknya kamar jangan
terlalu gelap, penderita tidak tahan terlalu di isolasi. Terhadap gejala-gejala
psikiatrik, bila sangat mengganggu dapat diberi neroleptika, terutama yang
mempunyai dosis efektif tinggi.
3) Bila kondisi ini merupakan foksisitas antikolinergik digunakan fisostigmin
salisilat 1-2 mg IV atau im. (dosis 15-30 menit)

4) Dilakukannya terapi untuk memberi dorongan perbaikan fisik sensorik dan


lingkungan
5) Untuk gejala-gejala psikosis digunakan haloperidol 2-10 ms
6) Insomnia diobati dengan benzodiazepin.
Sementara itu menurut Arif Mansjoer (2000; 191), bila kondisi ini merupakan
toksisitas anti kolinergik, digunakan fisostigmin salisilat 1-2 mg, iv atau im
dengan pengulangan dosis setiap 15-30 menit. Selain itu, perlu dilakukan terapi
untuk memberi dorongan perbaikan pada fisik, sensorik, dan lingkungan. Untuk
mengatasi gejala psikosis digunakan haloperidol 2-10 mg im, yang dapat diulang
setiap 1 jam. Insomnia sebaiknya diobati dengan benzodiazepin yang
mempunyai waktu terapi pendek.
Pengobatan tergantung pada penyakitnya:
1. Infeksi diatasi dengan antibiotik.
2. Demam diatasi dengan obat penurun panas.
3. Kelainan kadar garam dan mineral dalam darah diatasi dengan pengaturan
kadar ciran dan garam dalam darah.
2.4.2 Demensia
2.4.2.1 Definisi
Suatu sindrom akibat penyakit/gangguan otak yang biasanya bersifat kronikprogresif, dimana terdapat gangguan fungsi luhur kortikel yang multiple (Rusdi
Maslim, 2003; 22).
Sindrom yang ditandai oleh berbagai gangguan fungsi kognitif tanpa gangguan
kesadaran, gangguan fungsi kognitif antara lain pada intelegensi, belajar dan
daya ingat, bahasa, pemecahan masalah, orientasi, persepsi, perhatian dan
konsentrasi, penyesuaian dan kemampuan bersosialisasi (Arif Mansjoer, 2001;
191).
2.4.2.2 Etiologi
Sebagian besar disebabkan oleh penyakit alzheimer dan vaskular. Penyebab lain
adalah penyakit pick, creutzfeldt-jacob, huntington, parkinson, HIV dan trauma
kepala (Arif Mansjoer. 2000; 191).
Penyebab kedua tersering dari demensia adalah serangan stroke yang berturutturut. Demensia juga bisa terjadi setelah seseorang mengalami cedera otak atau
cardiac arrest.
(http://medicastore.com/index.php?mod=penyakit&id=698).
Sementara itu menurut Barry Guze (1997; 195-196), beberapa penyebab
terjadinya Demensia diantaranya adalah;
1. Demensia karena Al-zheimer (AD)
Merupakan penyebab tunggal paling lazim untuk demensia, mencakup hampir
55% dari semua kasus
1) Temuan histopatologik umum
(1) Mikroskopik, otak atropik dengan pelebaran sulkus, konvules kortikel yang
menciut dan ventrikel yang membesar.
(2) Temuan histopatologik termasuk kekacauan neuro psikologik, plaksenilis,
degenerasi granulovakuoler dan kehilangan neural.
2) Faktor etiologik

(1) Faktor genetik


Pada 20% kasus, penyakit ini diwariskan sebagai dominan autosomal pada 50%
sisanya, tampaknya terdapatnya peningkatan insidens familial.
(2) Aluminium
Pada model hewan, aluminium ditemukan menyebabkan demensia degenarif
neurofibriler, juga pada pasien yang terkena AD, telah dideteksi adanya
peningkatan konsentrasi aluminium otak.
(3) Faktor lain
Walaupun data masih langka telah diperkirakan adanya etiologi virus dan auto
imun.
2. Demensia infark majemuk
Keadaan ini mencakup 10% hingga 15% demensia, karena intervensi yang pada
waktunya dapat mempunyai dampak terhadap perjalanan penyakit ini, maka
penting dikenali manifestasi klinisnya.
3. Sindrom ekstrapiramidal
1) Penyakit Parkinson
Penyakit Parkinson timbul sebagai akibat kehilangan sel pengandung dopamin
dalam lintasan nigrostriatal dan tegmentum ventral. Secara klinis ditandai
dengan bradikinesia tremor, rigiditas, ekspresi wajah yang berkurang dan
berjalan dengan kaki diseret. Demensia berkorelasi buruk dengan tremor pada
gangguan ini tetapi tampaknya bervariasi menurut beratnya bradikinesia yang
ada.
2) Penyakit Huntington
Penyakit Hungtinton diwariskan sebagai suatu gangguan dominan autosomal.
Demensia subkortikal merupakan manifestasi lazim dari penyakit ini yang
ditandai dengan gangguan gerakan koreiform dan perjalan penyakit yang
progresif lambat. Biasanya diikuti dengan demensia Huntington, tetapi dapat
mendahului timbulnya gangguan gerakan atau terdapat sendiri sebagai satusatunya manifestasi dari penyakit ini.
3) Kelumpuhan Supranuklear Progresif
Kelumpuhan supranuklear progresi ditandai dengan demensia subkortikal ringan,
kelumpuhan tatapan supranuklear, kekakuan aksial dan kelumpuhan
pseudobulber (afek yang tak semestinya dalam derajat dan atau arah, disfagia
dan disartria). Pada fase awal dan pertengahan kadang-kadang ditemukan
depresi.
4) Penyebab Infeksi
(1) Penyakit Jacob-Creutzfeldt
Keadaan ini merupakan suatu infeksi virus progresif cepat dari susunan saraf
pusat yang biasanya berpuncak dengan kematian dalam 6 bulan sejak mulai
terinfeksi.
(2) Kompleks Demensia Sindrom Imunodefisiensi didapat (AID)
Menurut Artno, Demensia terkait HIV. http//spiritia.or.id.1999. Istilah demensia
terkait HIV ( HIV Associated Dementia-HAD) mencakup spektrum luas
perwujudan psikiatri dan neurologi dari infeksi HIV pada SSP, HAD mencakup
berbagai derajat gejala kognitif, motor dan perilaku.
5) Defisiensi nutrisional

Defisiensi vitamin yang paling lazim menimbulkan demensia B12, folat dan
niasin, defisiensi tianin menimbulkan amnesia dalam konteks sindrom wernicke,
korsakoff dengan sedikit gangguan intelektual.
6) Kelainan endokrinologik
Keadaan endokrinologik berikut dapat meliputi demensia dalam gambaran
klinisnya, hipotroidisme, hipertiroidisme, hipopara tiroidisme, hiperpara
tiroidisme, penyakit addison dan penyakit custing.
7) Gangguan elektrolit
8) Hipoksia
Anoreksia, gangguan jantung dan fungsi pernapasan.
9) Demensia dialisis dan uremia
10) Ensefalopati uremik kronik
11) Obat-obatan, logam dan paparan kimiawi industri
12) Ensefalopatii hepatik
13) Porikiria
14) Demensia pseudo
15) Demensia hidrosefalik
16) Demensia traumatik dan neoplastik
17) Demensia terkait penyakit mielin
18) Penyusunan diagnostik demensia
Dalam salah satu website dengan alamat http://www.idijakbar.com
mengklasifikasikan beberapa penyebab terjadinya demensia diantaranya:
1) Menurut umur
(1) Demensia senilis (> 65 tahun)
(2) Demensia prasenalis (< 65 tahun)
2) Menurut perjalanan penyakit
(1) Reversibel
(2) Ireversibel
3) Menurut kerusakan struktur otak
(1) Tipe Al-Zheimer
(2) Tipe non Alzheimer
(3) Demensia vaskular
(4) Demensia jisim lewy
(5) Demensia lobus frontal-temporal
(6) Demensia terkait HIV
(7) Morbus parkinson
(8) Morbus huntington
(9) Morbus pick
(10) Morbus jacob creutzfeldt
(11) Sindrom gerstmann
(12) Priondisease
(13) Priondisease
(14) Palsi supranuklear progresif
(15) Multiple sklerosis
(16) Neurosifilis
(17) Tipe campuiran

4) Menurut sifat-klinis
(1) Demensia proprius
(2) Pseudo-demensia
2.4.2.3 Manifestasi Klinis
Demensia biasanya dimulai secara perlahan dan makin lama makin parah,
sehingga keadaan ini pada mulanya tidak disadari. Terjadi penurunan dalam
ingatan, kemampuan untuk mengenali orang, tempat dan benda. Penderita
memiliki kesulitan dalam menemukan dan menggunakan kata yang tepat dan
dalam pemikiran abstrak dan sering terjadi perubahan kepribadian.
(http://medicastore.com/index.php?mod=penyakit&id=698)
Menurut Arif Mansjoer (2001; 191) tanda dan gejala dari Demensia yaitu:
1. Pada stadium awal, pasien menunjukkan kesulitan untuk mempertahankan
kinerja mental fatig dan cenderung gagal bila diberi suatu tugas baru atau
kompleks.
2. Orientasi, daya ingat, persepsi dan fungsi intelektual pasien memburuk
3. Pasien tampak introvert dan kurang peduli terhadap akibat tingkah lakunya
4. Diperkirakan 20-30% pasien tipe Alzheimer mengalami halusinasi dan 30-40%
mempunyai gejala waham, terutama waham curiga dan tidak sistematik
5. Terdapat depresi dan ansietas pada sebagian besar pasien. Pasien dapat
mengalami afasia, apraksia dan agnosia
6. Kejang.
2.4.2.4 Penatalaksanaan
Demensia dapat disembuhkan bila tidak terlambat. Secara umum, terapi pada
demensia adalah perawatan medis yang mendukung, memberi dukungan
emosional pada pasien dan keluarganya, serta farmakoterapi untuk gejala yang
spesifik. Terapi simtomatik meliputi diet, latihan fisik yang sesuai, terapi
rekreasional dan aktivitas, serta penanganan terhadap masalah-masalah lain.
Sebagai farmakoterapi, benzodiazepin diberikan untuk ansietas dan insomnia,
anti depresan untuk depresi, serta anpsikotik untuk gejala waham dan halusinasi
(Arif Mansjoer, 2001; 192).
Sementara itu takrin telah digantikan oleh donepezil, yang menyebabkan lebih
sedikit efek samping dan memperlambat perkembangan penyakit alzheimer
selama 1 tahun atau lebih. Ibuprofen juga bisa memperlambat perjalanan
penyakit ini. Obat ini paling baik jika diberikan pada stadiun dini.
(http://medicastore.com/index.php?mod=penyakit&id=698)
2.4.2.5 Klasifikasi Demensia
Menurut WF. Maramis (1997; 192) Demensia terbagi menjadi:
1. Demensia senilis
Adalah perubahan fisik akan mental yang terjadi pada orang lanjut usia disertai
dengan energi yang berkurang, reaksi terhadap kejadian sekitarnya menjadi
lambat, daya kreatif dan inisiatif berangsur-angsur menyempit dan pelan-pelan
menarik diri, seakan-akan kepribadiannya terbungkus.
1) Gejala
Biasanya sesudah umur 60 tahun baru timbul gejala-gejala yang jelas untuk

membuat diagnosis demensia klinis. Penyakit jasmaniah atau gangguan emosi


yang hebat mempercepat kemunduran mental.
2) Gejala jasmaniah
Kulit menjadi tipis, atrofis dan keriput, berat badan mengurang, atrofi pada otototot, jalannya menjadi tidak stabil, suara kasar dan bicaranya menjadi pelan,
tremor pada tangan dan kepala.
3) Gejala psikologik
Sering hanya terdapat tanda kemunduran mental umum (demensia simplek).
4) Pencegahan
Pertahankan perasaan aman dan harga diri, perhatikanlah dan cobalah
memuaskan kebutuhan rasa kasih sayang, rasa masuk hitungan, rasa
tercapainya sesuatu dan rasa perlu dibenarkan serta dihargai.
2. Demensia prasenilis
Seperti namanya telah menjelaskan maka pada gangguan ini gejala utamanya
ialah demensia sebelum masa senil, akan dibicarakan dua macam demensia
prasenilis, yaitu penyakit Alzheimer dan penyakit pick.
1) Morbus Alzheimer
Penyakit alzheimer ini biasanya timbul antara umur 50-60 tahun. Terdapat
degeneratif korteks yang difus pada otak dilapisan-lapisan luar, terutama di
daerah frontal dan temporal. Atrofi otak ini dapat dilihat pada pnemoensefalogram: sistema ventrikel membesar serta banyak hawa diruang
subarakhroidal (giri mengecil dan sulkus-sulkus melebar).
Penyakit ini mulai pelan-pelan sekali, tidak ada ciri-ciri yang khas pada gangguan
inteligensi atau pada kelainan perilaku. Terdapat disorientasi, gangguan ingatan,
emosi yang labil, kekeliruann mengenai hitungan dan mengenai pembicaraan
sehari-hari. Terjadi afasi sering juga terdapat perseverasi, pembicaraan
logoklonia dan bila sudah berat maka penderita tidak dapat dimengerti lagi, ada
yang menjadi gelisah dan hiperaktif.
2) Morbus Pick
Pick dari prahara pertama kali mengumumkan hal-hal tentang penyakit yang
jarang ini pada tahun 1892. secara patologis ciri khas ialah atrofi dan gliosis di
daerah-daerah asosiatif. Daerah motorik, sensorik dan daerah proyeksi secara
relatif tidak banyak berubah yang terganggu ialah daerah korteks yang secara
filogenptik lebih muda yang penting buat fungsi asosiasi yang lebih tinggi, sebab
itu yang terutama terganggu ialah pembicaraan dan proses berpikir.
Penyakit ini mungkin herediter diperkirakan bahwa terdapat faktor menjadi tua
dari sel-sel ganglion yang tertentu, yaitu yang genetis paling muda. Lobus
frontalis menjadi demikian atrofis sehingga kadang-kadang kelihatan seperti
ditekan oleh suatu lingkaran. Biasanya terjadi pada umur 45-60 tahun yang
termuda pernah diberikan ialah 31 tahun.
Dalam waktu satu tahun terjadi demensia yang jelas. Ada yang eforia, ada yang
menjadi susah dan curiga, sering terdapat gejala-gejala fokal seperti afasia,
apraxia, alexia, agrafia, tetapi gejala-gejala ini sering diselubungi oleh demensia
umum. Ciri afasia yang penting pada penyakit ini ialah terjadinya secara pelanpelan (tidak mendadak seperti pada gangguan pembuluh darah otak).

2.4.3 Amnesia
2.4.3.1 Definisi
Amnesia (dari bahasa Yunani) adalah kondisi harganya daya ingat.
(http://Wikipedia.org/wiki/Amnesia/2008).
Amnesia adalah suatu gangguan daya ingat yang ditandai adanya gangguan
kemampuan mempelajari hal-hal baru atau mengingat hal-hal yang telah
dipelajari sebelumnya serta menimbulkan hambatan pada fungsi sosial dan
pekerjaan (Arif Mansjoer, 2001; 192).
2.4.3.2 Etiologi
Gangguan ini sangat sering terjadi pada orang dewasa muda, lebih sering terjadi
pada orang yang telah terlibat didalam peperangan, kecelakaan atau bencana
alam .
(http://medicastore.com/index.php?mod=penyakit&id=698).
Penyebab amnesia bervariasi mulai dari fisiologis sampai kerusakan otak.
Kerusakan otak disebabkan karena trauma atau kecelakaan, tumor, stroke,
maupun pembengkakan otak.
(http://www.emedicine.com/neuro/tropic380.html).
Penyebab amnesia dapat berupa organik dan fungsional. Penyebab organik
dapat berupa kerusakan otak akibat trauma, penyakit atau penggunaan obatobatan (biasanya yang bersifat sedatif). Penyebab fungsional adalah faktor
psikologis, seperti halnya mekanisme pertahanan ego.
(http://www.emedicine.com/neuro/tropic380.html).
Sementara itu menurut Arif Mansjoer (2001; 192), gangguan pada daya ingat
umumnya diakibatkan kerusakan struktur neuroanatomi tertentu, pada satu atau
dua lebih hemister, namun lebih mudah timbul bila yang terkena hemister kiri.
Gangguan amnesia dapat disebabkan banyak hal, antara lain;
1. Gangguan sistemik
1) Defisiensi tramin (sindrom korsakoff)
2) Hipoglikemia.
2. Gangguan otak primer
1) Kejang, trauma kepala, tumor otak
2) Penyakit serebrovaskular, ensevolitis karena virus herpes simpleks
3) Hipoksia, sklerosis multipel
4) Amnesia transien global
5) Tindakan bedah otak, terapi syok listrik.
3. Obat-obatan: alkohol, neurotoksin, benzodiazepin dan sejenisnya
2.4.3.3 Klasifikasi Amnesia
Menurut website dengan alamat http://www.emidicine.com/neuro /topic
380.htmi, amnesia terbagi menjadi:
1. Anterograde
Ketidakmampuan untuk mengingat kejadian-kejadian setelah terjadinya trauma
atau penyakit setelah terjadinya trauma atau penyakit yang menyebabkan
amnesia.
2. Retrograde
Ketidakmampuan untuk mengingat kejadian-kejadian sebelum terjadinya

trauma.
3. Amnesia lakunar
Ketidakmampuan mengingat kejadian tertentu.
4. Amnesia emosional
Hilangnya ingatan karena trauma psikologis. Biasanya bersifat sementara.
5. Sindrom korsakoff
Hilangnya ingatan karena alkoholisme kronik.
6. Amnesia posthipnotik
Hilangnya ingatan setelah keadaan hipnotik atau informasi yang disimpan pada
memori jangka panjang.
7. Transient global amnesia
Merupakan kehilangan sementara seluruh memori secara khusus disertai
anterograde amnesia dan juga retrograde amnesia ringan.
2.4.3.4 Manifestasi Klinis
Gambaran yang sangat umum pada amnesia dissociative adalah kehilangan
ingatan. Segera setelah terjadi amnesia, seseorang bisa kelihatan bingung.
Kebanyakan orang dengan amnesia dissociative setidaknya depresi atau sangat
menderita karena amnesia mereka.
(http://www.emedicine.com/neuro/tropic380.html)
Gejala utamanya adalah ketidak mampuan mempelajari ha-hal baru (amnesia
anterograde) atau mengingat hal-hal yang telah dipelajari sebelumnya (amnesia
retrograde). Daya ingat jangka pendek biasanya terganggu, bahkan pada kasus
yang berat, orientasi tempat dan waktu juga terganggu. Namun, orientasi orang
jarang terganggu. Daya ingat jangka panjang yang meliputi pengalaman masa
kecil tidak terganggu. Daya ingat segera masih baik. Gejala penyerta lainnya
antara lain perubahan kepribadian, apatis, kurang inisitif, agitasi dan
kebingungan. Pasien tidak mempunyai tilikan diri yang baik terhadap
penyakitnya (Arif Mansjoer, 2001; 192-193).
2.4.3.5 Perjalanan Penyakit dan Prognosis
Dapat timbul secara segera seperti pada trauma dan penyakit cerebrovaskular
dapat juga timbul secara bertahap pada kekurangan nutrisi dan tumor otak.
Durasinya dapat singkat, kurang dari sebulan (amnesia transien) atau lebih dari
sebulan (amnesia peristen) (Arif Mansjoer, 2001; 193).
2.4.3.6 Penatalaksanaan
Terutama ditujukan kepada penyakit yang mendasarinya, pendekatan bersifat
suportif yang berkaitan dengan waktu dan tempat akan sangat membantu
pasien dan mengurangi rasa cemasnya, setelah episode amnesia teratasi,
beberapa jenis psikoterapi (kognitif, psikodinamika atau suporatif) mungkin
dapat membantu pasien (Arif Mansjoer, 2001; 193).
Untuk mempercepat pemulihan amnesia biasanya diberikan terapi atau obatobatan yang meningkatkan fungsi otak. Diluar terapi dan obat-obatan, cara yang
paling ampuh adalah menyediakan kondisi yang memberi rasa aman bagi
penderita. Kebanyakan penderita amnesia justru sembuh bukan diruang praktek,

namun ketika menjalani kehidupan secara normal


(http://id.wikipedia.org/wiki.amnesia).
Dokter memulai pengobatan dengan membantu orang tersebut untuk merasa
aman dan terjamin. Jika ingatan yang hilang tidak secara spontan teringat, atau
jika kebutuhan untuk mengingat ingatan tersebut mendesak, teknik mengingat
kembali sering kali berhasil. Menggunakan hipnotis atau wawancara yang diawali
dengan obat (wawancara dilakukan setelah orang tersebut tenang dengan obat
secara infus seperti amobarbital atau midazolam), dokter menanyakan orang
yang amnesia mengenai masa lalunya (http://medicastore.com/index.php?
mod=penyakit&id=3095)
2.4.4 Gangguan Akibat Alkohol dan Obat/Zat
Konsep ketergantungan obat meliputi ketergantungan perilaku dan
ketergantungan fisik. Ketergantungan perilaku menekankan pada aktifitas
mencari-cari zat sedangkan ketergantungan fisik menekankan efek fisiologis dari
penggunaan zat berulang.
Kekurangan zat ditandai oleh sekurangnya satu gejala spesifik yang menyatakan
bahwa penggunaan zat telah mempengaruhi kehidupan seseorang (Arif
Mensjoer, 2001; 193)
Penyalahgunaan zat adalah penggunaan zat secara terus menerus bahkan
sampai setelah terjadi masalah (stuart &s udden, 1995, diunduh dari
http://kuliahbidan.wordpress.com/2008/11/07/asuahan-keperawatan-kliendengan-sindrom-putus-zat-napza)
2.4.4.1 Etiologi
Ketergantungan zat disebabkan oleh pemakaian zat dalam pola yang berlebihan
secara umum, perilaku mencari obat dapat dilihat pada gambar:
Gambar 2.1 Alur ketergantungan zat
Dalam website dengan alamat
http://kuliahbidan.wordpress.com/2008/11/07/asuhan-keperawatan-klien-dengansindrom-putus-zat-napza, menyebutkan proses terjadinya masalah
penyalahgunaan dan ketergantungan zat memfokuskan pada zat yang sering
disalahgunakan individu : opiat, amfetamin,canabis dan alkohol.
1. Rentang respon kimiawi
Perlu diingat bahwa pada rentang respon tidak semua individu yang
menggunakan zat akan menjadi penyalahgunaan dan ketergantungan zat. Hanya
individu yang menggunakan zat berlebihan dapat mengakibatkan
penyalahgunaan dan ketergantungan zat.
Penyalahgunaan zat merujuk pada penggunaan zat secara terus-menerus
bahkan sampai setelah terjadi masalah. Ketergantungan zat menunjukkan
kondisi yang parah dan sering dianggap sebagai penyakit. Gejala putus zat
terjadi karena kebutuhan biologik terhadap obat. Toleransi berarti bahwa
memerlukan peningkatan jumlah zat untuk memperoleh efek yang diharapkan
(Stuart & sundeen, 1995, Stuart & laraia, 1998, diunduh dari http://kuliah
bidan.wordpress.com/2008/11/07/asuhan-keperawatan-klien-dengan-sindrom-

putus-zat-napza).
2. Perilaku
3. Faktor penyebab
Faktor penyebab pada klien penyalahgunaan dan ketergantungan napza meliputi
:
1) Faktor biologic
(1) Kecenderungan keluarga, terutama penyalahgunaan narkoba.
(2) Perubahan metabolisme alkohol yang mengakibatkan respon fisiologik yang
tidak nyaman.
2) Faktor psikologic
(1) Tipe kepribadian ketergantungan.
(2) Harga diri rendah biasanya sering berhybyngan dengan penganiayaan waktu
masa kanak-kanak.
(3) Perilaku maladaptif yang dipelajari secara berlebihan.
(4) Mencari kesenangan dan menghindari rasa sakit.
(5) Sifat keluarga, termasuk tidak stabil, tidak ada contoh peran yang positif,
kurang percaya diri, tidak mampu memperlakukan anak sebagai individu, dan
orang tua yang adiksi.
3) Faktor sosiokultural
(1) Ketersediaan dan penerimaan sosial terhadap pengguna obat.
(2) Ambivalens sosial tentang penggunaan dan penyalahgunaan berbagai zat
seperti tembakau, alkohol dan mariyuana.
(3) Sikap, nilai, norma dan sanksi cultur.
(4) Kemiskinan dengan keluarga yang tidak stabil.
2.4.4.2 Manifestasi Klinis
Pada dasarnya terdapat dua konsep ketergantungan zat, yaitu ketergantungan
perilaku dan ketergantungan fisik. Ketergantungan perilaku diperlihatkan dengan
aktifitas mencari zat. Ketergantungan fisik diperlihatkan dari efek fisik dari
episode multipel penggunaan zat (Arif Mansjoer, 2001; 195).
2.4.4.3 Penatalaksanaan
Pendekatan pengobatan untuk penyalahgunaan zat bervariasi menurut zat, pola
penyalahgunaan, tersedianya sistem pendukung dan ciri individual pasien.
Tujuan utama pengobatan adalah abstinensi zat serta mencapai kesehatan fisik
psikiatrik dan psikososial.
Pendekatan pengobatan awal dapat dilakukan dengan rawat inap atau rawat
jalan. Pengiobatan rawat inap diindikasikan pada adanya gejala medis atau
psikiatrik yang parah, suatu riwayat gagalnya pengobatan rawat jalan, tidak
adanya dukungan psikosoasial atau riwayat penggunaan zat yang parah atau
berlangsung lama.
Pada beberapa kasus penggunaan obat psikotropik mungkin diindikasikan untuk
menghalangi pasien menggunakan zat yang disalahgunakan, untuk menurunkan
efek putus zat, atau untuk mengobati suatu perkiraan gangguan psikiatrik dasar.
Kadang-kadang psikoterapi diperlukan. (Arif Mansjoer, 2000; 195).