Anda di halaman 1dari 13

Teori Gestalt

Gestalt adalah sebuah teori yang menjelaskan proses persepsi melalui


pengorganisasian komponen-komponen sensasi yang memiliki hubungan,
pola, ataupun kemiripan menjadi kesatuan. Teori gestalt beroposisi terhadap
teori strukturalisme. Teori gestalt cenderung berupaya mengurangi
pembagian sensasi menjadi bagian-bagian kecil.

Teori ini dibangun oleh tiga orang, Kurt Koffka, Max Wertheimer, and
Wolfgang Khler. Mereka menyimpulkan bahwa seseorang cenderung
mempersepsikan apa yang terlihat dari lingkungannya sebagai kesatuan
yang utuh.

Teori Belajar Gestalt


Perintis teori Gestalt ini ialah Chr. Von Ehrenfels, dengan karyanya
Uber Gestaltqualitation (1890). Aliran ini menekankan pentingnya
keseluruhan yaitu sesuatu yang melebihi jumlah unsur-unsurnya dan timbul
lebih dulu dari pada bagian-bagiannya. Pengikut-pengikut aliran psikologi
Gestalt mengemukakan konsepsi yang berlawanan dengan konsepsi aliranaliran lain . Bagi yang mengikuti aliran Gestalt perkembangan itu adalah
proses diferensiasi. Dalam proses diferensiasi itu yang primer ialah
keseluruhan , sedangkan bagian bagiannya adalah sekunder; bagian-bagian
hanya mempunyai arti sebagai bagian dari pada keseluruhan dalam
hubungan fungsional dengan bagian-bagian yang lain ; keseluruhan ada
terlebih dahulu baru disusul oleh bagian-bagiannya. Contohnya kalau kita
bertemu dengan seorang teman misalnya, dari kejahuan yang kita saksikan
terlebih dahulu bukanlah bajunya yang baru , melainkan teman kita itu
secara keseluruhan selanjutnya baru kemudian kita saksikan adanya hal-hal
khusus tertentu misalnya baju yang baru.
Selanjutnya Wertheimer, seorang yang di pandang pendiri aliran ini
mengemukakan eksperimennya mengenai Scheinbewegung (gerak semu)
memberikan kesimpulan, bahwa pengamatan mengandung hal yang
melebihi jumlah unsur-unsurnya. Penelitian dalam bidang optik ini juga di
pandang berlaku ( kesimpulan serta prinsip-prinsipnya ) di bidang lain,
seperti misalnya di bidang belajar.

Pokok-pokok Teori Belajar Gestalt


Psikologi Gestalt bermula pada lapangan pengamatan ( persepsi ) dan
mencapai sukses yang terbesar juga dalam lapangan ini. Demonstrasinya
mengenai peranan latar belakang dan organisasinya terhadap prosesproses yang diamati secara fenomenal demikian meyakinkan sehingga boleh
dikatakan tidak dapat di bantah.
Ketika para ahli Psikologi Gestalt beralih dari masalah pengamatan ke
masalah belajar, maka hasil-hasil yang telah kuat / sukses dalam penelitian
mengenai pengamatan itu dibawanya dalam studi mengenai belajar . Karena
asumsi bahwa hukum hukum atau prinsip-prinsip yang berlaku pada proses
pengamatan dapat ditransfer kepada hal belajar, maka untuk memahami
proses belajar orang perlu memahami hukum-hukum yang menguasai
proses pengamatan itu.
Pada pengamatan itu menekankan perhatian pada bentuk yang terorganisasi
(organized form) dan pola persepsi manusia . Pemahaman dan persepsi
tentang hubungan-hubungan dalam kebulatan (entities) adalah sangat
esensial dalam belajar. Psikologi Gestalt ini terkenal juga sebagai teori
medan (field) atau lazim disebut cognitive field theory. Kelompok pemikiran
ini sependapat pada suatu hal yakni suatu prinsip dasar bahwa pengalaman
manusia memiliki kekayaan medan yang memuat fenomena keseluruhan
lebuh dari pada bagian- bagiannya.
Keseluruhan ini memberikan beberapa prinsip belajar yang penting,
antara lain :
1. Manusia bereaksi dengan lingkunganya secara keseluruhan, tidak
hanya secara intelektual, tetapi juga secara fisik, emosional,sosial dan
sebagainya
2. Belajar adalah penyesuaian diri dengan lingkungan.
3. Manusia berkembang sebagai keseluruhan sejak dari kecil sampai
dewasa, lengkap dengan segala aspek-aspeknya.
4. Belajar adalah perkembangan kearah diferensiasi ynag lebih luas.
5. Belajar hanya berhasil,
memperoleh insight.

apabila

tercapai

kematangan

untuk

6. Tidak mungkin ada belajar tanpa ada kemauan untuk belajar, motivasi
membei dorongan yang mengerakan seluruh organisme.
7. Belajar akan berhasil kalau ada tujuan.

8. Belajar merupakan suatu proses bila seseorang itu aktif, bukan ibarat
suatu bejana yang diisi.
Belajar sangat menguntungkan untuk kegiatan memecahakan masalah. Hal
ini nampaknya juga relevan dengan konsep teori belajar yang diawali dengan
suatu pengamatan. Belajar memecahkan masalah diperlukan suatu
pengamatan secara cermat dan lengkap. Kemudian bagaiman seseorang itu
dapat memecahknan masalah mrnurut
J. Dewey ada 5 upaya
pemecahannya yakni:
1. Realisasi adanya masalah. Jadi harus memehami apa masalahnya dan
juga harus dapat merumuskan
2. Mengajukan hipotesa, sebagai suatu jalan yang mungkin memberi arah
pemecahan masalah.
3. Mengumpulkan data atau informasi, dengan bacaan atau sumbersumber lain.
4. Menilai dan mencobakan usah pembuktian
keterangan-keterangan yang diperoleh.

hipotesa

dengan

5. Mengambil kesimpulan, membuat laporan atau membuat sesuatu


dengan hasil pemecahan soal itu.
Teori medan ini mengibaratkan pengalaman manusia sebagai lagu atau
melodi yang lebih daripada kumpulan not, demikian pila pengalaman
manusia tidak dapat dipersepsi sebagai sesuatu yang terisolasi dari
lingkungannya. Dengan kata lain berbeda dengan teori asosiasi maka toeri
medan ini melihat makna dari suatu fenomena yang relatif terhadap
lingkungannya. Sesuatu dipersepsi sebagai pendek jika objek lain lebih
panjang. Warna abu-abu akan terlihat lebih cerah pada bidang berlaatr
belakang hitam pekat. Warna abu-abu akan terliaht biru pada latar berwarna
kuning.
Belajar melibatkan proses mengorganisasikan pengalaman-pengalaman
kedalam pola-pola yang sistematis dan bermakna. Belajar bukan merupakan
penjumalahan (aditif), sebaliknya belajar mulai dengan mempersepsi
keseluruhan, lambat laun terjadi proses diferensiasi, yakni menangkapbagian
bagian dan detail suatu objek pengalaman. Dengan memahami bagian /
detail, maka persepsi awalakan keseluruhan objek yang semula masih agak
kabur menjadi semakin jelas. Belajar menurut paham ini merupakan bagian
dari masalah yang lebih besar yakni mengorganisasikan persepsi kedalam
suatu struktur yang lebih kompleks yang makin menambah pemahaman
akan medan. Medan diartikan sebagaikeseluruhan dunia yang bersifat
psikologis. Seseorang meraksi terhadap lingkungan seauai dengan

persepsinya terhadap lingkungan pada saat tersebut. Manusia mempersepsi


lingkungan secara selektif, tidak semua objek masuk kedalam fokus persepsi
individu, sebagian berfungsi hanya sebagai latar.
Tekanan ke-2 pada psikologi medan ini adalah sifat bertujuan dari prilaku
manusia. Individu menetaokan tujuan berdasarkan tilikan (insight) terhadap
situasi yang dihadapinya. Prilakunya akan dinilai cerdas atau dungu
tergantung kepada memadai atau tidaknya pemahamanya akan situasi.
Hukum-Hukum Belajar Gestalt
Dalam hukum-hukum belajar Gestalt ini ada satu hukum pokok , yaitu hukum
Pragnaz, dan empat hukum tambahan (subsider) yang tunduk kepada
hukum yang pokok itu,yaitu hukum hukum keterdekatan , ketertutupan,
kesamaan , dan kontinuitas.
1. Hukum Pragnaz
Hukum Pragnaz ini menunjukkan tentang berarahnya segala kejadian ,
yaitu berarah kepada Pragnaz itu, yaitu suatu keadaan yang seimbang,
suatu Gestalt yang baik. Gestalt yang baik , keadaan yang seimbang ini
mencakup sifat-sifat keturunan, kesederhanaan ,kestabilan, simetri dan
sebagainya.
Medan pengamatan, jadi juga setiap hal yang dihadapi oleh individu,
mempunyai sifat dinamis, yaitu cendrung untuk menuju keadaan Pragnaz
itu , keadaan seimbang . Keadaan yang problematis adalah keadaan yang
tidak Pragnaz, tidak teratur, tidak sederhana, tidak stabil, tidak simetri ,
dan sebagainya dan pemecahan problem itu ialah mengadakan
perubahan kedalam struktur medan atau hal itu dengan memasukkan
hal-hal yang dapat membawa hal problematis ke sifat Pragnaz.
2. Hukum-hukum tambahan
Ahli-ahli psikologi Gestalt telah mengadakan penelitian secara luas
dalam bidang penglihatan dan akhirnya mereka menemukan bahwaobjekobjek penglihatan itu membentuk diri menjadi Gestalt-gestalt menurut
prinsip-prinsip tertentu. Adapun prisip-prinsip tersebut dapat dilihat pada
hukum-hukum, yaitu :
1. Hukum keterdekatan
2. Hukum ketertutupan
3. Hukum kesamaan

Selain dari hukum-hukum tambahan tersebut menurut aliran teori


belajar gestalt ini bahwa seseorang dikatan belajar jika mendapatkan insight.
Insight ini diperoleh kalau seseorang melihat hubungan tertentu antara
berbagai unsur dalan situasi tertentu. Dengan adanya insight maka
didapatlah pemecahan problem, dimengertinya persoalan; inilah inti belajar.
Jadi yang penting bukanlah mengulang- ulang hal yang harus dipelajari,
tetapi mengertinya, mendapatkan insight. Adapun timbulnya insight itu
tergantung
a. Kesangupan
Maksudnya kesanguapan atau kemampuan intelegensi individu.
b. Pengalaman
Karena belajar, berati akan mendapatkan pengalaman dan pengalaman
itu mempermudah munculnya insght.
c. Taraf kompleksitas dari suatu situasi.
Dimana semakin
dihadapi.

komplek

situasinya

semakin

sulit

masalah yang

d. Latihan
Dengan banyaknya latihan akan dapat mempertinggi kesangupan
memperoleh insight, dalam situasi-situasi yang bersamaan yang telah
dilatih .
e. Trial and eror
Sering seseorang itu tidak dapat memecahkan suatu masalah. Baru
setelah mengadakan percobaan-percobaan, sesorang itu dapat
menemukan hubungan berbagai unsur dalam problem itu, sehingga
akhirnya menemukan insight.
Menurut Hilgard(1948 : 190-195) memberikan enam macam sifat khas
belajar dengan insight :
1. Insight termasuk pada kemampuan dasar
Kemampuan dasar berbeda-beda dari individu yang satu ke individu yang
lain. Pada umumnya anak yang masih sangat muda sukar untuk belajar
dengan insight ini.
2. Insight itu tergantung pengalaman masa lampau yang relevan.

3. Insight tergantung kepada pengaturan secara eksperimental


4. Insight itu didahului oleh suatu periode coba-coba
5. Belajar dengan insight itu dapat diulangi
6.

Insight yang telah sekali didapatkan


menghadapi situasi-situasi yang baru

dapat

dipergunakan

untuk

Teori gestalt banyak dipakai dalam proses desain dan cabang seni rupa
lainnya, karena banyak menjelaskan bagaimana persepsi visual bisa
terbentuk. Persepsi jenis ini bisa terbentuk karena:
1. Kedekatan posisi (proximity)
2. Kesamaan bentuk (similiarity)
3. Penutupan bentuk (closure)
4. Kesinambungan pola (continuity)
5. Kesamaan arah gerak (common fate)
Faktor inilah yang menyebabkan kita sering bisa merasakan keteraturan dari
pola-pola yang sebenarnya acak. Misalnya saat seseorang melihat awan, dia
dengan mudah bisa menemukan bentuk muka seseorang. Hal ini disebut
pragnan.

Terbentuknya perilaku dapat terjadi karena proses kematangan dan dari


proses interaksi dengan lingkungan. Cara yang kedua inilah yang paling
besar pengaruhnya terhadap perilaku manusia.

Terbentuknya dan perubahan perilaku karena proses interaksi antara individu


dengan lingkungan ini melalui suatu proses yakni proses belajar. Oleh sebab
itu, perubahan perilaku dan proses belajar itu sangat erat kaitannya.
Perubahan perilaku merupakan hasil dari proses belajar.

Dibawah ini akan diuraikan beberapa teori proses belajar.

1. Teori Stimulus dan Transformasi

Perkembangan teori proses belajar yang ada dapat dikelompokkan kedalam


2 kelompok besar, yakni stimulus-respons yang kurang memperhitungkan
faktor internal dan teori transformasi yang telah memperhitungkan faktor
internal.

Teori stimulus-respons yang berpangkal pada psikologi asosiasi dirintis oleh


John Locke dan Heart. Didalam teori ini apa yang terjadi pada diri subjek
belajar merupakan rahasia atau biasa dilihat sebagai kotak hitam (black
box).

Belajar adalah mengambil tanggapan-tanggapan dan menghubungkan


tanggapan-tanggapan dengan mengulang-ulang. Tanggapan-tanggapan
tersebut diperoleh melalui pemberian stimulus atau rangsangan-rangsangan.
Makin banyak dan sering diberikan stimulus maka makin memperkaya
tanggapan pada subjek belajar. Teori ini tidak memperhitungkan faktor
internal yang terjadi pada subjek belajar.

Kelompok teori proses belajar yang kedua sudah memperhitungkan faktor


internal, antar lain :

a. Teori transformasi yang berlandaskan pada psikologi kognitif seperti yang


dirumuskan oleh Neiser, yang mengatakan bahwa proses belajar adalah
transformasi dari masukan (input) kemudian input tersebut direduksi,
diuraikan, disimpan, ditemukan kembali dan dimanfaatkan.

Transformasi dari input sensoris bersifat aktif melalui proses seleksi untuk
dimasukkan ke dalam ingatan (memory). Meskipun teori ini dikembangkan
berdasarkan psikologi kognitif tetapi tidak membatasi penelaahannya pada
domain pengetahuan (kognitif) saja tetapi juga meliputi domain yang lain
(afektif dan psikomotor).

Para ahli psikologi kognitif juga memperhitungkan faktor eksternal dan


internal dalam mengembangkan teorinya. Mereka berpendapat bahwa
kegiatan belajar merupakan proses yang bersifat internal dimana setiap
proses tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal, antara lain metode
pengajaran. Proses ini dapat digambarkan pada diagram (lihat gambar).

b. Teori Gestalt mendasarkan pada teori belajar pada psikologi Gestalt yang
beranggapan bahwa setiap fenomena terdiri dari suatu kesatuan esensial
yang melebihi jumlah unsur-unsurnya.

Bahwa keseluruhan itu lebih daripada bagian-bagiannya. Didalam peristiwa


belajar, keseluruhan situasi belajar itu amat penting karena belajar
merupakan interaksi antara subjek belajar dengan lingkungannya.
Selanjutnya para ahli psikologi Gestalt tersebut menyimpulkan, seseorang
dikatakan belajar bila ia memperoleh pemahaman (insight) dalam situasi
problematis.

Pemahaman itu ditandai dengan adanya a) suatu perubahan yang tiba-tiba


dari keadaan yang tak berdaya menjadi keadaan yang mampu menguasai
atau memecahkan masalah (problem) b) adanya retensi c) adanya peristiwa
transfer. Pemahaman yang diperoleh dari situasi, dibawa dan dimanfaatkan

atau ditransfer ke dalam situasi lain yang mempunyai pola atau struktur
yang sama atau hampir sama secara keseluruhannya (bukan detailnya).

2. Teori-Teori Belajar Sosial (Social Learning)

Untuk melangsung kehidupan, manusia perlu belajar. Dalam hal ini ada 2
macam belajar, yaitu belajar secara fisik, misalnya menari, olah raga,
mengendarai mobil, dan sebagainya, dan belajar psikis.

Dalam belajar psikis ini termasuk juga belajar sosial (social learning) dimana
seseorang mempelajari perannya dan peran-peran orang lain dalam konteks
sosial. Selanjutnya orang tersebut akan menyesuaikan tingkah lakunya
dengan peran orang lain atau peran sosial yang telah dipelajari.

Cara yang sangat penting dalam belajar sosial menurut teori stimulusrespons adalah tingkah laku tiruan (imitation). Teori dengan tingkah laku
tiruan yang penting disajikan disini adalah teori dari Millers, NE dan Dollard,
serta teori Bandura A. dan Walter RH.

2.1 Teori Belajar Sosial dan Tiruan Dari Millers dan Dollard

Pandangan Millers dan Dollard bertitik tolak pada teori Hull yang kemudian
dikembangkan menjadi teori tersendiri. Mereka berpendapat bahwa tingkah
laku manusia itu merupakan hasil belajar. Oleh karena itu untuk memahami
tingkah laku sosial dan proses belajar sosial, kita harus mengetahui prinsipprinsip psikologi belajar.

Prinsip belajar itu terdiri dari 4, yakni dorongan (drive), isyarat (cue), tingkah
laku balas (respons), dan ganjaran (reward). Keempat prinsip ini saling
mengait satu sama lain, yaitu dorongan menjadi isyarat, isyarat menjadi
respons, respons menjadi ganjaran, dan seterusnya.

Dorongan adalah rangsangan yang sangat kuat terhadap organisme


(manusia) untuk bertingkah laku. Stimulus-stimulus yang cukup kuat pada
umumnya bersifat biologis seperti lapar, haus, seks, kejenuhan, dan
sebagainya. Stimulus-stimulus ini disebut dorongan primer yang menjadi
dasar utama untuk motivasi. Menurut Miller dan Dollard semua tingkah laku
(termasuk tingkah laku tiruan) didasari oleh dorongan-dorongan primer ini.

Isyarat adalah rangsangan yang menentukan bila dan dimana suatu respons
akan timbul dan terjadi. Isyarat ini dapat disamakan dengan rangsangan
diskriminatif. Didalam belajar sosial, isyarat yang terpenting adalah tingkah
laku orang lain, baik yang langsung ditujukan orang tertentu maupun yang
tidak, misalnya anggukan kepala merupakan isyarat untuk setuju, uluran
tangan merupakan isyarat untuk berjabat tangan.

Mengenai tingkah laku balas (respons), mereka berpendapat bahwa manusia


mempunyai hirarki bawaan tingkah laku. Pada saat manusia dihadapkan
untuk pertama kali kepada suatu rangsangan tertentu maka respons
(tingkah laku balas) yang timbul didasarkan pada hirarki bawaan tersebut.
Setelah beberapa kali terjadi ganjaran dan hukuman maka tingkah laku balas
yang sesuai dengan faktor-faktor penguat tersebut disusun menjadi hirarki
resultan (resultant hierarchy of respons).

Disinilah pentingnya belajar dengan coba-coba dan ralat (trial and error
learning). Dalam tingkah laku sosial, belajar coba-ralat dikurangi dengan
belajar tiruan dimana seseorang tinggal meniru tingkah laku orang lain untuk
dapat memberikan respons yang tepat. Sehingga ia tidak perlu membuang
waktu untuk belajar dengan coba-ralat.

Ganjaran adalah rangsang yang menetapkan apakah tingkah laku balas


diulang atau tidak dalam kesempatan yang lain. Menurut Miller dan Dollard
ada 2 reward atau ganjaran, yakni ganjaran primer yang memenuhi
dorongan-dorongan primer dan ganjaran sekunder yang memenuhi
dorongan-dorongan sekunder.

Lebih lanjut mereka membedakan 3 macam mekanisme tingkah laku tiruan,


yakni :

a. Tingkah Laku Sama

Tingkah laku ini terjadi pada 2 orang yang bertingkah laku balas (respons)
sama terhadap rangsangan atau isyarat yang sama. Contoh 2 orang yang
berbelanja di toko yang sama dan dengan barang yang sama. Tingkah laku
yang sama ini tidak selalu hasil tiruan maka tidak dibahas lebih lanjut oleh
pembuat teori.

b. Tingkah laku Tergantung (Matched Dependent Behavior)

Tingkah laku ini timbul dalam interaksi antara 2 pihak dimana salah satu
pihak mempunyai kelebihan (lebih pandai, lebih mampu, lebih tua, dan
sebagainya) dari pihak yang lain. Dalam hal ini, pihak yang lain atau pihak
yang kurang tersebut akan menyesuaikan tingkah laku (match) dan akan
tergantung (dependent) pada pihak yang lebih.

Misalnya kakak adik yang sedang bermain menunggu ibunya pulang dari
pasar. Biasanya ibu mereka membawa coklat. Terdengar ibunya pulang,
kakak segera menjemput ibunya kemudian diikuti oleh adiknya. Ternyata
mereka mendapatkan coklat (ganjaran). Adiknya yang semula hanya meniru
tingkah laku kakaknya, dilain waktu meskipun kakaknya tidak ada, ia akan
lari menjemput ibunya yang baru pulang dari pasar.

c. Tingkah Laku Salinan (Copying Behavior)

Seperti tingkah laku tergantung, pada tingkah laku salinan, peniru bertingkah
laku atas dasar isyarat yang berupa tingkah laku pula yang diberikan oleh
model. Demikian juga dalam tingkah laku salinan ini, pengaruh ganjaran dan
hukuman sangat besar terhadap kuat atau lemahnya tingkah laku tiruan.

Perbedaannya dengan tingkah laku tergantung adalah dalam tingkah laku


tergantung ini si peniru hanya bertingkah laku terhadap isyarat yang
diberikan oleh model pada saat itu saja. Sedangkan pada tingkah laku
salinan, si peniru memperhatikan juga tingkah laku model di masa yang lalu
maupun yang akan dilakukan di waktu mendatang.

Hal ini berarti perkiraan tentang tingkah laku model dalam kurun waktu yang
relatif panjang ini akan dijadikan patokan oleh di peniru untuk memperbaiki
tingkah lakunya sendiri dimasa yang akan datang sehingga lebih mendekati
tingkah laku model.

3. Teori Belajar Sosial dari Bandura dan Walter

Teori belajar sosial yang dikemukakan Bandura dan Walter ini disebut teori
proses pengganti. Teori ini menyatakan bahwa tingkah laku tiruan adalah
suatu bentuk asosiasi dari rangsang dengan rangsang lainnya. Penguat
(reinforcement) memang memperkuat tingkah laku balas (respons) tetapi
dalam proses belajar sosial, hal ini tidak terlalu penting.

Aplikasi teori ini adalah apabila seseorang melihat suatu rangsang dan ia
melihat model bereaksi secara tertentu terhadap rangsang itu maka dalam
khayalan atau imajinasi orang tersebut, terjadi rangkaian simbol-simbol yang
menggambarkan rangsang dari tingkah laku tersebut. Rangkaian simbolsimbol ini merupakan pengganti dari hubungan rangsang balas yang nyata
dan melalui asosiasi, si peniru akan melakukan tingkah laku yang sama
dengan tingkah laku model.

Terlepas dari ada atau tidak adanya rangsang, proses asosiasi tersembunyi
ini sangat dibantu oleh kemampuan verbal seseorang. Selain dari itu, dalam
proses ini tidak ada cara-coba dan ralat (trial and error) yang berupa tingkah
laku nyata karena semuanya berlangsung secara tersembunyi dalam diri
individu.

Hal yang penting disini adalah pengaruh tingkah laku model pada tingkah
laku peniru. Menurut Bandura, pengaruh tingkah laku model terhadap
tingkah laku peniru ini dibedakan menjadi 3 macam, yakni :

a. Efek modeling (modelling effect), yaitu peniru melakukan tingkah-tingkah


laku baru melalui asosiasi sehingga sesuai dengan tingkah laku model.

b. Efek menghambat (inhibition) dan menghapus hambatan (disinhibition)


dimana tingkah-tingkah laku yang tidak sesuai dengan tingkah laku model
dihambat timbulnya sedangkan tingkah laku yang sesuai dengan tingkah
laku model dihapuskan hambatannya sehingga timbul tingkah laku yang
dapat menjadi nyata.

c. Efek kemudahan (facilitation effect), yaitu tingkah-tingkah laku yang sudah


pernah dipelajari oleh peniru lebih mudah muncul kembali dengan
mengamati tingkah laku model.

Akhirnya bandura dan Walter menyatakan bahwa teori proses pengganti ini
dapat pula menerangkan gejala timbulnya emosi pada peniru yang sama
dengan emosi yang ada pada model. Contohnya seseorang yag mendengar
atau melihat gambar tentang kecelakaan yang mengerikan maka ia berdesis,
menyeringai bahkan sampai menangis ikut merasakan penderitaan tersebut.