Anda di halaman 1dari 6

Limbah proses produksi garam

Proses produksi garam rakyat, melalui berbagai tahapan, diantaranya : penyediaan


lahan (tambak), pengaliran air laut kelahan, proses penguapan air laut, proses kristalisasi
garam, pemisahan garam dari airnya sehingga diperoleh garam rakyat.
Air sisa dari proses produksi garam rakyat ini, berwarna kuning muda, dibuang (tidak
dimanfaatkan), disebut dengan istilah "Air Tua" atau "Bittern". Air tua (bittern) ini
merupakan air limbah dari proses produksi garam rakyat, jumlahnya cukup besar sehingga
dibutuhkan pengelolaan yang dapat dimanfaatkan. Kualitas air limbah industri garam ini
(bittern) :
Kandungan ion magnesium (Mg) : 36,45 gram/L
Kandungan ion kalium (K)
: 10,95 gram/L
Kandungan ion kalsium (Ca)
: 0,14 gram/L
Kandungan ion sulfat (SO4)
: 52,14 gram/L
Berat Jenis
: 1,250 gram/ml
Beberapa manfaat dari air limbah garam antara lain :
1. Produksi pupuk multinutrien phosphate-base
Langkah-langkah pembuatan pupuk multinutrien phosphate-base adalah sebagai berikut :
a.
Larutan air limbah (bittern) dimasukan kedalam tangki reaksi
b.
Tambahkan Larutan NaH2PO4 (sesuai stoikiometrinya)
c.
Tambahkan Larutan NaOH (sesuai stoikiometrinya)
d.
Lakukan Pengadukan dengan kecepatan putaran pengaduk 135 rpm, waktu
pengadukan 60 menit
e.
Lakukan proses pemisahan produk pupuk dari larutannya dengan proses
filtrasi
f.
Produk pupuk dilakukan proses pencucian dengan air untuk menghilangkan
kandungan NaCl nya
g.
Produk pupuk dilakukan proses pengeringan untuk mengurangi kandungan
airnya
* kondisi temperatur produksi : 30 C.
* kondisi pH : 10
Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
4 MgCl2 + KCl + 3NaH2PO4 + 6NaOH MgKPO4 + Mg3(PO4)2 + 9NaCl + 6H2O
Produk : MgKPO4 dan Mg3(PO4)24H2O
Kualitas Produk :
Kandungan ion phosphate (PO4)
: 53,92 % berat
Kandungan ion magnesium (Mg)
: 19,95 % berat
Kandungan ion kalium (K)
: 5,40 % berat
Kandungan ion boron (B)
: 0,05 % berat
Kandungan ion kalsium (Ca)
: 0,07 % berat
2. Sebagai penyelamat jantung
Masyarakat Jepang lebih beruntung. Mereka terbiasa minum nigari sebagai sumber
magnesium. Nigari alias sari air laut adalah air laut tua atau yang berada di lapisan teratas,
kira-kira setebal 10 cm, dalam pembuatan garam. Sementara lapisan bawah bakal menjadi
garam. Supaya menjadi sari air laut, air tua itu diproses dengan otoklaf kristalisasi. Biasanya
air tua terbuang dalam proses pembuatan garam. Satu ton produksi garam, membutuhkan 50
m3 air laut. Jumlah air tua yang terbentuk 1,9 m3. Nigari berupa bubuk magnesium klorida

kerap dipakai untuk koagulan (pengeras) alami dalam pembuatan tofu alias tahu jepang serta
bahan pendingin alami ikan.
Di negeri Matahari Terbit itu, nigari yang pahit memang beken. Anak-anak hingga orang
tua terbiasa mengkonsumsinya dalam kehidupan sehari-hari. Meski budaya memproduksi
garam sangat tua di Indonesia, tetapi nigari baru diperkenalkan setahun terakhir. Dr. Nelson
Sembiring periset Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Jawa Timur yang
memperkenalkannya. Nelson mengetahui khasiat nigari saat belajar di Jepang.
Limbah air garam kaya mineral seperti magnesium sulfat, natrium klorida, magensium
klorida, dan Kalsium klorida. Kandungan utamanya magnesium, mineral terbanyak keempat
dalam tubuh. Jika limbah itu diekstraksi, sarinya bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan
manusia, terutama untuk kecukupan gizi magnesium. Magnesium berperan menjkesehatan
jantung. Ia mampu mencegah pengendapan lemak pada dinding pembuluh darah jantung.
kata Prof Dr Bambang Wirjatmadi dari bagian gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Airlangga, Surabaya.
Menurut Bambang, kurangnya asupan magnesium bisa mempercepat timbulnya endapan
lemak pada pembuluh darah jantung. Padahal pembuluh darah jantung itu kan ukurannya
sangat kecil. Endapan lemak bisa menyebabkan pembuluh tersumbat. Akibatnya, kerja
jantung terhambat, tambah alumnus Fakultas Kedokteran Unair itu. Untuk mencegah
penyakit jantung, Bambang biasa melarutkan 20 tetes nigari dalam 20 liter air minum.
3. Manfaat lain :

Pelangsing No. 1 di Jepang Ranpa Diet Ketat & Olahraga Berat


Tatsuya Kosaka meriset untuk membuktikannya. Menurut direktur Institut Penelitian
Nigari itu, magnesium dalam sari air laut bisa membakar lemak dan mengeluarkan cairan tak
berguna dalam tubuh. Wajar jika di Jepang, kalangan anak muda, terutama remaja
perempuan, senantiasa membawa sari air laut. Gunanya menjaga tubuh tetap langsing dan
terhindar dari penyakit kolesterol walau memakan apa pun.

Kecantikan kulit
Magnesium pada nigari mampu memperlambat proses penuaan sehingga kulit tidak
gampang keriput. Selain itu, kolagen kulit pun bisa diperbaiki, jadi kulit muka semakin
kenyal dan kencang.

Detoksifikasi: Mengeluarkan Racun Tubuh

Perawatan Kulit: Mengangkat Kulit Mati, Mengurangi Jerawat, Memperbaiki Kualitas


Kulit, Merangsang Pembentukan Kolagen

Mencegah Osteoporosis

Mencegah Kerusakan Gigi, Tulang, & Gusi


Di Selandia Baru, pemerintahnya menyarankan anak-anak usia 3-13 tahun untuk
mengkonsumsi sari air laut. Di negeri kiwi itu pertumbuhan tulang pada usia itu sangat
lambat. Nah, kalsium pada nigari bekerja sama dengan magnesium bisa berperan dalam
pembentukan tulang dan gigi.

Memblokir Gula

Memcegah & Mengatasi Diabetes

Memblokir & Membakar Lemak

Memblokir pembentukan Trigliseida & Kolesterol

Mencegah Batu Ginjal & Batu Saluran Kencing

Mencegah Kejang Otot

Mengatur Detak Jantung

Mencegah Jantung Koroner


Mencegah Hipertensi & Stroke
Mengatasi Sembelit & Pencernaan
Beberapa saran penggunaan :
Untuk Menjaga Kesehatan, agar tetap Fit & Segar:
Gunakan 50-60 tetes Nigarin per hari ke dalam makanan atau minuman
Sebagai Isotonic Essence: Tambahakn 15ml (3 sendok teh) Nigarin dalam 1 galon (19lt) air
minum
Untuk Kecantikan: Pelembab, campurkan 10 ml (200 tetes) Nigarin dalam lotion
pelembab.
Cleansing, campurkan 5 tetes Nigarin pada busa sabun wajah.
Mandi Spa, campurkan 100 200 ml Nigarin dalam 180 Liter Air.
BAB III
PENUTUP
III.1 KESIMPULAN
Garam adalah bahan/bumbu masakan yang ditemukan hampir di semua peradaban.
Diperkirakan awal munculnya adalah sejak jaman neolitikum. Reay Tannahill dalam
bukunyaFood in History menyebutkan bahwa produksi garam sudah dilakukan manusia pada
jaman neolitikum yaitu fase atau tingkat kebudayaan pada zaman prasejarah yang
mempunyai ciri-ciri berupa unsur kebudayaan, seperti peralatan dari batu yang diasah,
pertanian menetap, peternakan, dan pembuatan tembikar.
Garam bisa di hasilkan dari berbagai sumber antara lain yaitu dari airlaut, air danau asin,
deposit dalam tanah, tambang garam, sumber air dalam tanah, larutan garam alamiah, dll.
Bukan hanya sebagai penyedap rasa, tetapi garam juga memilki berbagai macam manfaat
lainnya antara lain sebagai minuman kesehatn, garam mandi, garam konsumsi, cairan infus,
sabun dan sampo, cairan dialisat, dsb.
Ada beberapa cara yang umum dilakukan untuk memproduksi garam. Proses produksi
garam tergantung dari bahan baku yang digunakan, diantaranya dengan cara solar
evaporation, rekristalisasi, multiple effect evaporation, open pan dan pembuatan garam dari
batuan garam. Selain itu untuk memperoleh kualitas garam yang lebih baik lagi dengan
kandungan NaCl yang tinggi, ada beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain dengan
kristalisasi bertingkat maupun sengan pengikatan pengotor pada garam dengan
menambahkan bahan kimia.
Proses produksi garampun juga menghasilkan limbah yaitu berupa air bittern yang
merupakan air sisa proses kristalisasi garam. Air bittern ini dapat dimanfaatkan untuk
berbagai keperluan antara lain sebagai pupuk multinutrien, penyelamat jantung, dsb.

Kajian Pengolahan Limbah Garam (Bittern) untuk Senyawa Magnesium


Latar Belakang :
Sebagian besar wilayah Indonesia memproduksi garam dengan menggunakan
media matahari untuk menguapkan kandungan air pada air laut. Pada proses
pembuatan garam dihasilkan pula larutan sisa yang memiliki konsentrasi
yang cukup tinggi, dalam larutan ini terdapat banyak unsur-unsur yang
berguna bagi kehidupan manusia, larutan tersebut sering disebut sebagai air
tua atau bittern. Salah satu unsur yang terkandung dalam larutan bittern adalah
Magnesium. Kegiatan tahun 2011 ini difokuskan pada metode pengolahan
Bittern yang
Endapan garam sisa bittern . Pengolahan bittern ini dapat dilakukan dengan melakukan kajian
direbus dengan
perebusan bittern
menggenai kondisi larutan yang mengandung unsur-unsur tersebut sehingga
wajan alumuniu dan yang mengandung dapat dimanfaatkan dan merupakan suatu produk yang bernialai ekonomis.
tanah liat
Mg
Tujuan :
Kegiatan pengolahan bittern untuk
mendapatkan Senyawa Mg

Diagram alir pemurnian bittern

Mengidentifkasi zat pengotor yang ada pada limbah garam (bittern)


Mengidentifikasi dan membandingkan proses-proses/tahapan untuk
memurnikan bittern
Metode :
Penentuan stasiun dilakukan dengan cara purposive sampling
Sampel air laut, air tambak dan garam diuji di laboratorium dengan
parameter logam, anorganik non metalik, organik dan biologi, sementara
analisa garam dilakukan pengujian dengan 8 parameter bau, rasa, warna, kadar
air, Kadar NaCl, Kandungan Fe2O3, Kandungan Sulfat, persentase bagian
tidak larut dalam air, kandungan cemaran logam dan cemaran Arsen.
Sampel bittern diukur derajat Baume-nya kemudian diolah dengan cara
dimasak.
Hasil :
Analisa terhadap parameter logam, anorganik nonmetalik, organik dan
biologi pada air laut, dan garam menjelaskan kandungan unsur yang terdapat
dalam limbah garam (bittern) teridentifikasi beberapa zat pengotor ion unsur
dan senyawa utama (>100 mg/l) yaitu rerata Klorida (Cl) 267.255,30, rerata
Sulfat (SO4)) 108.205,25, rerata Natrium (Na) 18.529,45, rerata Kalium (K)
10.648,77 rerata Magnesium (Mg) 460,66 rerata Kalsium (Ca) 314,59 dan
sejumlah unsur minor lainnya (dibawah 100 mg/l)
Untuk mendapatkan senyawa magnesium pada bittern dapart
dilakukan dengan proses sederhana yaitu dengan melakukan perebusan
terhadap bitter dengan kadar >29 Be Diagram selama kira-kira 45 menit,
endapan setelah dilakukan pendinginan menghasilkan senyawa magnesium.
Diagram alir proses pemurnian bittern sederhana dapat dilihat pada gambar

Belum banyak petambak yang tahu tingginya nilai unsur mineral (bittern) yang terkandung
dalam limbah pengolahan garam atau biasa dikenal air tua. Ketua Kelompok Penelitian dan
Pengembangan (Kelitbang) Sumber Daya Air Laut dan Garam Balai Penelitian dan
Pengembangan Kelautan dan Perikanan (Balitbang KP) Ifan Ridlo Suhelmi mengungkapkan,
di pasaran, harga mineral magnesium (Mg) yang terkandung dalam bitternbiasanya berkisar
Rp 40 ribu per kg, dan yang lebih murni lagi bisa mencapai Rp 400 ribu per kg.
Menurut Ifan, tingginya nilai bittern salah satunya karena kandungan Mg dalam bittern yang
dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan Mg sebagai bittern padat Mg(OH)2dengan
memanfaatkan soda api (NaOH) sebagai larutan pengendap. Untuk menghasilkan 1 ton
garam itu diperlukan sekitar 90 liter air tua. Dari produksi garam itu menghasilkan
2m3 bittern.
Ifan mengkalkulasi, dengan asumsi produksi garam Indonesia bisa mencapai 1,6 jutatonper
tahun, bisa dihasilkan bittern3,2jutam3per tahun. Secara teori, 1 m3 bittern (3.1 % Mg)
menghasilkan kurang lebih 90 kg bittern padat Mg sebagaiMg(OH)2. Analoginya, jika 20%
produksi bittern dimanfaatkan, yakni sebanyak 640 ribu m3per tahun bittern bisa
menghasilkan 57.600 tonMgper tahun, sehingga potensi omzet Mg dengan harga Rp 20 ribu
sajaper kg diperkirakan Rp1,15 triliun/tahun, tambah Ifan.
Ia menjelaskan, Mg ini merupakan senyawa penting dalam industri kimia di Indonesia, yang
sampai saat ini masih diimpor. Senyawa Mg dalam Magnesium
hidroksida(Mg(OH)2)berfungsi sebagai antasidadalam obat penyakit maag, bahan tahan api,
zat additif dalam industri pulp and paper, serta bahan koagulan. Potensi ini belum
tersosialisasi dengan luas, baik di kalangan petambak garam juga industri kimia yang
memanfaatkan Mg, ungkap Ifan kepada TROBOS Aqua.
Tim inipun menghasilkan teknologi sederhana dan mudah diaplikasikan masyarakat
petambak garam untuk mengolah bittern. Salah satu peneliti Kelitbang Sumber Daya Air
Laut dan Garam, Sophia L Sagala menuturkan, teknologi ini terdiri dari tiga unit alat, yakni
alat pengaduk (mixer), alat pemisah (centrifuge unit), dan alat pengering (oven) yang masingmasing bisa menampung kapasitas hingga 40 - 50 liter.
Menurut Sophia, teknologi ini dinamakan sebagai intersep teknologi. Karena petambak
garam tidak bisa membuat hasil olahan bittern ini kalau tidak membuat garam terlebih dulu.
Untuk itu kita intersep teknologi ini, ungkapnya.
Pengolahan Bittern
Dari pada dipakai lagi atau malah dibuang, tim ini menyarakan untuk diolah dengan
teknologi sederhana. Dijelaskan Sophia, proses pengolahan bittern dibagi dalam 3 tahapan,
yakni pengikatan Mg dengan mixer yang berfungsi mengikat Mg yang terkandung dalam
bittern dengan larutan agen pengendap. Reaksinya berupa Mg2+(dalam bittern) + 2
NaOH Mg(OH)2(padatan) + 2Na+.
Sophia mengimbuhkan, soda api dalam proses pengikatan ditambahkan secara bertahapan.
Alasannya, selain Mg ada mineral lain, semacam K yang bersifat basa dan mudah berikatan
dengan OH dari soda api. Kalau bertahap, OH akan selektif hanya berikatan dengan Mg, dan
mencegah pengotor-pengotor mineral yang lain tidak ikut mengendap. Kalau kandungan Mg

sebesar 3% dalam bitter, dibuat perbandingan jumlah soda api yang diberikan dengan bittern,
yakni 1:3, tambahnya.
Lalu dilanjutkan proses pemisahan Mg dari larutannya dengancentrifuge unit yang berfungsi
memisahkan padatan Mg dari fase larutan suspensinya. Dan proses terakhir adalah
pengeringan Mg dengan alat pengering (oven) yang berfungsi untuk mengeringkan padatan
Mg yang diperoleh, jelas Ifan.