Anda di halaman 1dari 8

TUGAS TEKNOLOGI BAHAN ALAM

Resep Ramuan Herbal dan Interaksi Kandungan


Kimia

Oleh:
Nama

: Yenny Abas

NIM

: 15.01.243

Kelas

: Transfer A 2015

SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI


MAKASSAR
2016

INTERAKSI RAMUAN OBAT HERBAL


Budaya kembali ke alam saat ini menjadi trend di dunia termasuk di
Indonesia. Hal ini terlihat pada penggunaan bahan alam untuk tujuan
membantu mengatasi beberapa beberapa penyakit. Berdasarkan cara
pembuatan serta jenis penggunaan dan tingkat pembuktian khasiat
secara ilmiah, obat bahan alam dikelompokkan menjadi jamu, obat herbal
terstandar dan fitofarmaka. Selain itu, obat bahan alam juga terkandung
dalam suplemen makanan. Penggunaan obat bahan alam yang
terkandung dalam jamu; obat herbal terstandar; fitofarmaka dan
suplemen makanan yang sedang marak di masyarakat saat ini tetap
memerlukan perhatian khusus dari semua profesi kesehatan yang terlibat
dalam pelayanan kesehatan kepada pasien.
Meskipun produk-produk obat bahan alam tanaman obat dipasarkan
sebagai jamu, obat herbal terstandar, fitofarmaka dan suplemen
makanan, penggunaannya tetap harus memperhatikan berbagai hal
seperti kemungkinan timbulnya efek samping, kemungkinan interaksi
obat dan lain-lain. Tidak banyak orang yang menyadari bahwa obat bahan
alam mempunyai efek samping sebagaimana obat bahan kimia. Demikian
juga interaksi antara obat bahan alam dan obat-obat kimiawi yang
diresepkan dapat terjadi dan dapat menyebabkan konsekuensi klinis yang
serius.
Pada umumnya, tanaman obat mengandung ratusan, kadang-kadang
ribuan, senyawa bioaktif. Bioflavonoid, flavon, lakton, glikosida,
polisakarida, minyak atsiri dan terpen merupakan sedikit contoh dari
senyawa-senyawa yang aktif secara biologi, yang ditemukan dalam obat
bahan alam.

CONTOH RESEP RAMUAN HERBAL YANG MEMILIKI INTERAKSI


KANDUNGAN KIMIA
1. Kontra Indikasi
R/

Meniran
Jintan hitam
Meniran (Phyllanthus niruri) berkhasiat sebagai imunostimulan

dan bersifat tidak toksik. Jinten hitam (Nigella sativa) berkhasiat


imunostimulan, juga tidak toksik. Namun, jika mencampur bahan
meniran dan jinten hitam bisa menyebabkan hepatotoksik (toksik
pada hati).
R/

Kumis Kucing
Bawang Putih
Fungsi dari bawang putih yaitu mengaktifkan enzim, sementara

kurkumin berfungsi untuk menonaktifkan enzim dalam tubuh.


Sehingga kumis kucing dan bawang putih memiliki indikasi yang
berbeda jika digabungkan.
R/

Daun kumis kucing


Buah pisang
Daun kumis kucing berfungsi untuk melemaskan otot-otot yang

tegang pada tubuh. Buah pisang mengandung kalium yang mampu


menguatkan kontraksi otot.
R/

Rheum palmatum (Kelembak)


Kelembak diketahui mengandung antrakinon yang berfungsi

sebagai laksansia untuk membantu melancarkan proses buang air

besar. Namun kelembak juga mengandung tanin sebagai anti diare,


sehingga kelembak mempunyai fungsi yang berlawanan.

R/

Curcuma xanthorrhiza (Temulawak)


Temulawak mengandung kurkuminoid dan minyak atsiri.

Kurkumionoid bisa menurunkan kolesterol. Sedangkan minyak atsiri


bisa menambah nafsu makan sehingga memicu kadar kolestrol bisa
naik. Sehingga fungsi dari kedua kandungan tersebut saling bertolak
belakang.
R/

Daun Senna
Dauh teh
Daun Senna (Cassia senna) mengandung antrakinon senosida

yang bersifat laksansia. Sedangkan daun teh (Camellia sinensis)


mengandung tanin EGCG (Epi Gallo Catechin Gallate) yang berefek
konstipasi. Jika daun senna dan daun teh berada dalam satu ramuan
maka tidak efektif karena saling menetralkan.

2. Interaksi Komplementer
R/

Seledri
Kumis kucing
Seledri mengandung Flavonoid Apiin dan Apigenin yang bersifat

sebagai vasodilator sehingga dapat menyebabkan tekanan darah


turun. Kumis kucing mengandung Flavonoid polimetoksi : sinensetin,
eupatorin; garam kalium; dan inositol yang berfungsi sebagai
diuretika yang dapat menurunkan tekanan darah.
R/

HERBA THYMI (Thymus vulgaris)

Herba Thymi mengadung senyawa fenol, mintak atsiri dan flavon


polimetoksi. Senyawa fenol yang terkandung seperti timol dan
karvakrol yang berfungsi sebagai anti mikroba, minyak atsiri dapat
berfungsi

sebagai

mucolitik

atau

pengencer

dahak,

Flavon

polimetoksi berfungsi sebagai spasmolitik atau meredakan batuk.


Senyawa tersebut saling mendukung untuk pengobatan batuk.

3. Sinergisme
R/

Selederi
kumis kucing
Pada tanaman seledri terdapat kandungan favonoid apiin dan

apigenin yang bekerja sebagai vasodilator sehingga tekanan darah


turun. Sedangkan kumis kucing (Orthosiphon stamineus)
mengandung flavonoid polimetoksi : sinensetin, eupatorin; garam
kalium; dan inositol. Flavonoid sinensetin, eupatorin bersifat
spasmolitik dan hasilnya adalah diuretika. Garam kalium besifat
retensi air dan hasilnya adalah diuretika. Inositol sendiri bersifat
dieresis. Kedua tanaman menghasilkan penurunan tekanan darah
dan efeknya menjadi optimal.

R/

Orthosiphon (Kumis kucing)


Kumis

kucing

mengandung

garam

kalium

dan

flavonoid

polimetoksi yang dapat memberikan efek diuretika inositol.


R/

Zingiber officinale (Jahe)


Jahe mangandung Gingerol (Zat pedas) dan minyak atsiri.

Ginerol (zat pedas) memberikan efek anti mual (rasa) dan minyak
atsiri sebagai anti mual (bau).

R/

Akar Valerian
Biji Pala
Akar Valerian mengandung valepotriate yang memberikan efek

sedativa dan biji pala mengandung Miristisin yang juga memberikan


efek sedativa. Tetapi harus dilihat mekanisme efek sedativanya, Jika
berbeda berarti menunjukkan efek sinergisme dan jika pada reseptor
yang sama berarti menunjukkan efek kompetitif.

4. Hambatan Absorbsi
R/

Teh
Buah Jati Belanda
Kayu Rapat
Penggunaan bahan penyusun ramuan yang mengandung tanin

misal teh, buah jati belanda, kayu rapat. Tanin akan bereaksi dengan
protein dan membentuk senyawa yang melapisi dinding usus.
Keadaan tersebut akan menghambat absorpsi kandungan zat aktif
lain, misal protein, vitamin, mineral. Bahkan pada dosis besar bisa
menimbulkan konstipasi atau malnutrisi.

5. Pengurangan Waktu Transit di Usus


R/

Senna
Lidah Buaya
Biji daun sendok
Penggunaan

bahan

penyusun

ramuan

yang

mengandung

Antrakinon atau serat larut air akan mengurangi waktu transit obat
lain dalam usus. Antrakinon bersifat laksansia yaitu mempermudah

pengeluaran feses. Contoh tanaman yang mengandung antrakinon


adalah senna dan lidah buaya. Sedangkan serat larut air bersifat bulk
laxative, yaitu juga mempercepat keluarnya feses. Tanaman yang
memiliki serat larut air adalah biji daun sendok. Jika bahan obat lain
dicampur dengan tanaman di atas maka waktu transit di usus
berkurang, feses cepat dikeluarkan, kesempatan absorpsi zat aktif
berkurang dan efak farmakologinya akan berkurang.

DAFTAR PUSTAKA

Badan POM RI, InfoPOM. Gerakan Nasional Minum Temulawak. ISSN 18299334 Vol. 6, No. 6, November 2005. Diakses: 6 Februari 2016
http://perpustakaan.pom.go.id/KoleksiLainnya/Buletin%20Info
%20POM/0605.pdf

Solihah, Indah. Faktor Formulasi Herbal. Diakses: 6 Februari 2016


http://www.pendekarilusi.com/wp-content/uploads/2015/02/FaktorFormulasi-Herbal.pdf