Anda di halaman 1dari 53

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Jumlah penduduk Indonesia dari tahun ketahun selalu meningkat. Jumlah
penduduk tahun 2010 sebanyak 237,6 juta jiwa, tahun 2011 sebanyak 241 juta
jiwa, dan sampai dengan bulan Maret tahun 2012 mencapai 245 juta jiwa. Jumlah
tersebut menempatkan Indonesia menjadi Negara keempat dengan penduduk
terbanyak setelah China, India dan Amerika Serikat. Selama rentang tahun 2000
2010, kenaikan jumlah penduduk Indonesia sebesar 1,49% per tahun. Angka ini
mengalami kenaikan disbanding periode tahun 1999 2000 yang masih sebesar
1,45% (BKKBN, 2012).
Salah satu upaya pemerintah dalam menekan laju pertumbuhan penduduk
Indonesia adalah dengan program Keluarga Berencana (KB). Program KB yang
ditujukan untuk menekan laju pertumbuhan penduduk adalah dengan mengajak
seluruh masyarakat pasangan usia subur untuk menjadi akseptor KB. Semakin
banyak penduduk yang turut berpartisipasi dalam program KB, maka angka
kenaikan laju pertumbuhan penduduk yang berlebihan akan bisa di tekan.
Jumlah penduduk Indonesia yang sudah mengetahui tentang program KB
mencapai 95%, tetapi yang memiliki kesadaran mengikuti program KB hanya
61%, dari sekian banyak warga yang tidak ber-KB, 9% di antaranya memiliki
keinginan untuk ber-KB, tetapi urung karena berbagai pertimbangan. Berdasarkan
dari beberapa kasus yang ada, diperoleh alasan keengganan yang disebabkan
karena takut akan efek sampingnya atau prosedurnya, hingga takut kepada tenaga
medis yang menangani (BKKBN, 2012).
Keluarga Berencana merupakan salah satu pelayanan kesehatan preventif
yang paling dasar dan utama bagi wanita. Peningkatan dan perluasan pelayanan
keluarga berencana merupakan salah satu usaha untuk menurunkan angka
kesakitan dan kematian ibu yang sedemikian tinggi akibat kehamilan yang dialami
oleh wanita. Banyak wanita harus menentukan pilihan kontrasepsi yang sulit
karena metode-metode tertentu mungkin tidak dapat diterima sehubungan dengan

kebijakan nasional KB, kesehatan individu dan seksualitas wanita atau biaya untuk
memperoleh kontrasepsi (Depkes RI, 2008).
Data jumlah peserta KB aktif di Jawa Tengah tahun 2009 sebanyak 5.080.580
atau sebesar 78,32% dari jumlah PUS yang ada sebanyak 6.487.025 atau 113,66%
dan jumlah akseptor AKBK yaitu sebanyak 9,61% (BKKBN, 2009).
B. Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian Program KB?
2. Apa Tujuan Program KB?
3. Apa Konsep Dasar Implan?
4. Bagaimana Pemasangan dan Pencabutan Implan?
5. Bagaimana Pemasangan Implan Implanon?
C. Tujuan
1. Mengetahui Pengertian Program KB.
2. Mengetahui Tujuan Program KB.
3. Mengetahui Konsep Dasar Implan.
4. Mengetahui Pemasangan dan Pencabutan Implan.
5. Mengetahui Pemasangan Implan Implanon.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Program KB

Pengetian Keluarga Berencana menurut UU No. 10 Tahun 1992 tentang


Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera adalah upaya
peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia
perkawinan (PUP), pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga,
peningkatan kesejahteraan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera.
B. Tujuan Program KB
Secara umum tujuan 5 tahun ke depan yang ingin dicapai dalam rangka
mewujudkan visi dan misi program KB di muka adalah membangun kembali dan
melestarikan pondasi yang kokoh bagi pelaksana program KB Nasional yang kuat
di masa mendatang, sehingga visi untuk mewujudkan keluarga berkualitas 2015
dapat tercapai.
Tujuan utama program KB nasional adalah untuk memenuhi perintah
masyarakat akan pelayanan KB dan kesehatan reproduksi yang berkualitas,
menurunkan tingkat/angka kematian ibu bayi, dan anak serta penanggulangan
masalah kesehatan reproduksi dalam rangka membangun keluarga kecil
berkualitas sedangkan tujuan program Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR)
adalah untuk meningkatkan pemahaman, pengetahuan, dan perilaku positif remaja
tentang kesehatan dan hak-hak reproduksi, guna meningkatkan derajat kesehatan
reproduksinya, untuk mempersiapkan kehidupan dalam mendukung upaya
meningkatkan kualitas generasi mendatang.
Tujuan program penguatan kelembagaan keluarga kecil berkualitas adalah
untuk membina kemandirian dan sekaligus meningkatkan cakupan dan mutu
pelayanan KB dan kesehatan reproduksi, serta pemberdayaan dan ketahanan
keluarga terutama yang diselenggarakan oleh institusi masyarakat di daerah
perkotaan dan pedesaan, sehingga membudidaya dan melembaganya keluarga
kecil berkualitas. Perlu diketahui bahwa tujuan-tujuan tersebut berkaitan erat dan
merupakan kelanjutan dari tujuan program KB tahun 1970, yaitu:
1. Tujuan demografis berupa penurunan TFR tahun 2000 sebesar 50 % dari
kondisi TFR 1970
2. Tujuan filosofi berupa kelembagaan dan pembudidayaan Norma Keluarga Kecil
Bahagia Sejahtera (NKKBS)
a. Perencanaan kehamilan dan mencegah kehamilan yang belum diinginkan
3

1)
2)
3)
4)

Pengaturan jarak dan usia melahirkan


Penggunaan kontrasepsi rasional, efektif dan efisien
Pelayanan KB bagi keluarga miskin
Keterlibatan pria dalam perencanaan kehamilan dan keterlibatan pria

dalam KB
5) Penurunan kehamilan di kalangan PUS muda.
6) Meningkatkan status kesehatan perempuan dan anak
a) Pengaturan usia melahirkan yang tidak terlalu muda dan tidak terlalu
tua
b) Pengaturan jarak antara kehamilan
c) Peningkatan keterlibatan pria dalam kehamilan dan perawatan anak
d) Peningkatan menyusui eksklusif
e) Pencegahan dan perlindungan HIV dan AIDS
7) Meningkatkan kesehatan dan kepuasan seksual
a) Kondom fungsi ganda (dual protection)
b) Program Universal Precaution untuk pencegahan HIV dan AIDS
dalam program KB
c) Penggunaan kontrasepsi pada PUS yang ingin menunda anak
pertama
d) Pelayanan terintegrasi dan deteksi dini kanker alat reproduksi.

C. Konsep Dasar Implant (Subdermal)


(AKBK= Alat Kontrasepsi Bawah Kulit)
Dikenal Dua Macam Implant :
1. Non-Biodegradable Implant
a. Norplant (6 kapsul), berisi hormon Levonorgestrel, daya kerja 5 tahun.
b. Norplant-2 (2 batang), idem, daya kerja 3 tahun.
c. Satu batang, berisi hormon ST- 1435, daya kerja 2 tahun. Rencana siap pakai
: tahun 2000
d. Satu batang, berisi hormon 3-keto desogestrel, daya kerja 2,5-4 tahun.
Rencana siap- pakai : awal dasawarsa 1990-an.
Saat ini di indonesia sedang di uji coba Implanon, implant 1 batang dengan
panjang 4 cm, diameter-luar 2 mm, terdiri dari suatu inti EVA (Ethylene
Vinly Acetate) berisi 60 mg 3-ketodesogestrel, yang dikelilingi suatu
membran EVA, berdaya kerja 2-3 tahun .
2. Biodegradable Implant
4

yang sedang diuji coba saat ini :


a. Carpronor
- Suatu kapsul polymer berisi hormon Levonorgestrel, dengan daya kerja

18 bulan.
Rencana siap- pakai : pertengahan dasawarsa 1990-an.
b. Pallets
Berisi norethindrone dan sejumlah kecil kolesterol, daya kerja 1 tahun.
Rencana siap- pakai : pertengahan dasawarsa 1990-an.
Non-Biodegradable Implant
1. Norplant
a. Dipakai sejak tahun 1987.
b. Terdiri dari 6 kapsul kosong Silastic (karet silicone), yang diisi dengan
hormon Levonorgestrel dan ujung- ujung kapsul ditutup dengan Silasticadhesive.
c. Tiap kapsul :
- Panjang =34 mm
- Diameter =2,4 mm
- Berisi 36 mg Levonorgestrel
d. Sangat efektif daam mencegah kehamilan untuk 5 tahun.
e. Saat ini Norplant yang paling banyak dipakai.
2. Norplant- 2
a. Dipakai sejak tahun 1987.
b. Terdiri dari 2 batang Silastic yang padat, dengan panjang tiap batang 44 mm.
c. Masing- masing batang diisi dengan 70 mg Levonorgestrel di dalam matriks
batangnya.
d. Sangat efektif untuk mencegah kehamilan selama 3 tahun.
Pada kedua macam implant tersebut, Levonorgestrel ber-difusi melalui
membran Silastic dengan kecepatan yang lambat dan konstan. Dalam 24 jam
setelah insersi, kadar hormon dalam plasma darah sudah cukup tinggi untuk
mencegah ovulasi.
Pelepasan hormon setiap harinya berkisar antara 50- 85 mcg pada tahun
pertama, kemudian menurun sampai 30-35 mcg per hari untuk lima tahun
berikutnya.
Kontra-indikasi Imlpant :
1. Kehamilan/diduga hamil.
2. Perdarahan traktus genitalia yang tidak diketahui penyebabnya.
3. Tromboflebitis aktif atau penyakit trombo-emboli.
4. Penyakit hati akut.
5. Tumor hati jinak atau ganas.

6. Karsinoma payudara/tersangka karsinoma payudara.


7. Tumor/neoplasma ginekologik.
8. Penyakit jantung, hipertensi, diabetes mellitus.
Insersi dan Pengeluaran Implant
1. Insersi dan pengeluaran implant umunya merupakan prosedur bedah minor,
yang memerlukan anestesi lokal dan insisi yang kecil.
2. Waktu terbaik untuk insersi adalah pada saat haid atau jangan melibihi 5-7 hari
setelah mulainya haid.
3. Implant ditempatkan tepat dibawah kulit, umumnya pada bagian dalam lengan
atas atau lengan bawah.
4. Pengeluaran implant terutama Norplant biasanya memerlukan waktu 15- 2o
menit bila dipasang dengan benar.
5. Bila implant telah dikeluarkan, implant baru dapat segera dipasang pada tempat
yang sama bila tidak ada pembengkakan pada tempat tersebut, atau dipasang
pada tempat yang sama dengan arah yang berlawanan bila tempat lama
mengalami trauma dan pembengkakan dalam pengeluaran implant yang lama,
atau dipasang pada lengan yang lain.
6. Infeksi atau komplikasi lain seperti hematoma setelah insersi jarang terjadi.
7. Dapat terjadi ekspulsi dari implant bila tempat insersi mengalami infeksi.
8. Yang penting pada saat insersi dan pengeluaran implant adalah menjaga
sterilitasi.
Efektifitas Implant
1. Angka kegagalan Norplant : >1 per 100 wanita per tahun dalam 5 tahun
pertama. Ini lebih rendah dibandingkan kontrasepsi oral, IUD dan metode
barier.
2. Efektivitas Norplant berkurang sedikit setelah 5 tahun, dan pada tahun ke 6
kira- kira 2,5 3% akseptor menjadi hamil.
3. Norplant-2 sama efektifnya seperti Norplant, untuk waktu 3 tahun pertama.
Semula di harapkan Norplant-2 akan efektif untuk 5 tahun,tetapi ternyata
setelah pemakaian 3 tahun terjadi kehamilan dalam jumlah besar yang tidak
terduga sebelumnya, yaitu sebesar 5-6%. Penyebabnya belum jelas, disangka
terjadi penurunan dalam pelepasan hormonnya.
Mekanisme Kerja Implant
1. Mekanisme kerja yang tepat dari implant belum jelas benar.
6

2. Seperti kontrasepsi lain yang hanya berisi- progestin-saja, implant tampaknya


mencegah terjadinya kehamilan melalui beberapa cara :
a. Mencegah ovulasi.
b. Perubahan lendir serviks menjadi kental dan sedikit, sehingga menghambat
pergerakan spermatozoa.
c. Menghambat perkembangan siklis dari endometrium.
Efek Samping Implant
1. Efek samping paling utama dari Norplant adalah perubahan pola haid, yang
terjadi pada kira- kira 60% akseptor dalam tahun pertama setelah insersi.
2. Yang paling sering terjadi adalah :
a. Bertambahnya hari- hari perdarahan dalam 1 siklus.
b. Perdarahan- bercak (spotting)
c. Berkurangnya panjang siklus haid.
d. Amenore, meskipun lebih jarang terjadi dibandingkan perdarahan lama atau
perdarahan bercak.
3. Umumnya perubahan-perubahan haid tersebut tidak mempunyai efek yang
membahayakan diri akseptor. Meskipun terjadi perdarahan lebih sering
daripada biasanya, volume darah yang hilang tetap tidak berubah.
4. Pada sebagian akseptor, perdarahan ireguler akan berkurang dengan jalannya
waktu.
5. Perdarahan yang hebat jarang terjadi.
Efek pada Sistem Reproduksi
1. Tidak dilaporkan adanya efek samping yang serius terhadap sistem reproduksi
pada pemakaian Norplant.
2. Memang pada 10% akseptor ditemukan adanya kista ovarium yang sementara,
ada yang sampai mencapai ukuran 10 cm.
Umumnya tidak diperlukan tindakan pembedahan, pengeluaran implant atau
pengobatan lainnya, karena kista tersebut akan mengalami regresi spontan
dalam waktu 6 minggu.
3. Yang terjadi kekhawatiran adalah kemungkinan bertambahnya risiko dari
kehamilan ektopik. Dari penelitian ditemukan kehamilan ektopik 1,5 per 1000
wanita pertahun, dan ini hampir sama seperti pada akseptor IUD (baik yang
non-medicated maupun yang mengandung Cu). Dan angka tersebut masih tetap
lebih rendah dibandingkan wanita yang sama sekali tidak ber- KB.

4. Efek kontrasepsi Norplant menghilang dengan cepat setelah implantnya


dikeluarkan.
Mantan akseptor Norplant dapat menjadi hamil sama cepatnya seperti wanita
yang sama sekali tidak memakai kontrasepsi apa pun. Dari 95 wanita yang
menginginkan kehamilan, 50% sudah hamil setelah 3 bulan menghentikan
implantnya, dan 86% setelah 1 tahun.
5. Hasil penelitian pendahuluan menunjukan bahwa jumlah kecil dari
Levonorgestrel yang dilepaskan oleh Norplant tidak mempunyai efek buruk
pada bayi yang sedang dikandung maupun pada bayi yang masih menyusu.
6. Pemakaian Norplant selama laktasi tidak mempengaruhi kadar hormon bayinya.
Kadar immunoglobulin serum dan kadar FSH, LH dan testosteron di dalam
urine adalah sama pada bayi yang disusui akseptor Norplant dan yang disusui
akseptor metode barier ataupun ibu- ibu yang sama sekali tidak menggunakan
kontrasepsi apapun.
Efek Samping Lain
1. Norplant hanya sedikit sekali menyebabkan efek samping lain di samping
perubahan haid. Sakit kepala merupakan keluhan lain yang sering dikeluhkan.
2. Norplant hanya sedikit sekali menyebabkan perubahan-perubahan sistemik.
Hanya didapatkan perubahan-perubahan minor, yang semuanya masih dalam
batas- batas normal, seperti fungsi hepar, metabolisme karbohidrat, pembekuan
darah, tekanan darah, immunoglobin, serum cortisol, urea nitrogen, uric acid,
Na, K, Ca, phosphat anorganik dan berat badan.
Kontinuitas Penggunaan Implant
1. Lebih dari 2/3 akseptor Norplant memakainya untuk sekurang-kurangnya dua
tahun
2. Setelah satu tahun, kontinuitasnya 87-95%, dan setelah dua tahun 66-92%,serta
setelah 5 tahun 42-78%.
3. Perdarahan ireguler merupakan sebab paling utama dari penghentian pemakaian
Norplant, yaitu 2-7% akseptor menghentikannya dalam tahun pertama.
4. Daya kerja yang lama serta kemudahan pemakaian Norplant merupakan daya
tarik yang paling aktraktif, karena tidak perlu memasukan apapun ke dalam

vagina, tidak perlu melakukan sesuatu sebelum senggama, reversibel dan


kemungkinan berat badan yang sedikit bertambah.
Teknik Insesi Implant
Pemasangan dilakukan pada bagian dalam lengan atas atau lengan bawah, kirakira 6-8 cm diatas atau dibawah siku, melalui insisi tunggal, dalam bentuk kipas,
dan dimasukan tepat dibawah kulit. Perhatikan a dan antisepsis.
Untuk memasang Norplant :
1. Cuci daerah insersi, lakukan tindakan a dan antisepsis , dan tutup sekitar daerah
insersi dengan kain steril.
2. Lakukan anestesi lokal (lidocaine 1%) pada daerah insersi, mula-mula
disuntikan sejumlah kecil anestesi pada daerah insisi, kemudian anestesi
diperluas sampai ke enam atau dua daerah, sepanjang 4- 4,4 cm.
Penyuntikan anestesi dilakukan tepat dibawah kulit, sehingga lapisan luar kulit
akan terangkat dari lapisan bawahnya dan memudahkan insersi.
3. Dengan pisau scalpel dibuat insisi 2 mm sejajar dengan lengkung siku.
4. Masukan ujung trocar melalui insisi.
Terdapat 2 garis tanda batas pada trocar, satu dekat ujung trocar, lainya dekat
pangkal trocar.
Dengan perlahan- lahan trocar dimasukan sampai mencapai garis batas dekat
pangkal trocar, kurang lebih 4-4,5 cm. Trocar dimasukan sambil melakukan
tekanan ke atas dan tanpa merubah sudut pemasukan.
5. Masukkan implant ke dalam trocarnya.
Dengan batang pendorong, implant didorong perlahan lahan ke ujung trocar
sampai terasa adanya tahanan. Dengan batang pendorong tetap stationer, trocar
perlahan lahan di tarik kembali sampai garis batas dekat ujung trocar terlihat
pada insisi dan teras implantnya meloncat keluar dari trocarnya. Jangan
keluarkan trocarnya.
Raba lengan dengan jari untuk memastikan implant sudah berada pada
tempatnya dengan baik.
6. Ubah arah trocar sehingga implant berikutnya berada 15 derajat dari implant
sebelumnya. Letakkan jari tangan pada implant sebelumnya. Masukan kembali
trocar sepanjang pinggir jari tangan sampai garis batas dekat pangkal trocar.
Masukan implant kedalam trocar. Selanjutnya seperti pada butir-5 . ulangi lagi
prosedur tersebut sampai semua implant telah terpasang.

7. Setelah semua implant terpasang , lakukan penekanan pada tempat luka insisi
dengan kasa steril untuk mengurangi perdarahan. Lalu kedua pinggir insisi
ditekan sampai berdekatan dan ditutup dengan plester kupu- kupu. Tidak
diperlukan penjahitan luka insisi.
8. Luka insisi ditutup dengan kompres kering, lalu lengan di balut dengan kasa
untuk mencegah perdarahan.
Daerah insersi dibiarkan kering dan tetap bersih selama 4 hari.

CATATAN :
a. Sarung tangan steril yang dipakai oleh pemasang harus bebas/tidak
mengandung bedak/talk, oleh karena bedak/talk bila jatuh atau terbawa masuk
bersama sama implant ke dalam tempat insisi, dapat menyebabkan timbulnya
reaksi jaringan berupa fibrosis.
b. Setelah bungkus implant dibuka untuk mengeluarkan ke enam kapsul tersebut
ke dalam mengkuk stainless steel kosong dan steril, atau bungkus implant
dibuka sebagian saja dan kapsul- kapsul- nya diambil satu persatu langsung
dari dalam bungkusnya dengan memakai pinset anatomis steril. Jangan letakkan
keenam kapsul diatas doek steril, karena partikel- partikel kain/tenun dapat
menempel pada kapsul dan menyebabkankapsul menjadi lebih reaktif
sehingga menimbulkan perlengkapan atau parut yang berlebih.
c. Setelah selesai dengan insersi keenam kapsul Norplant , rendam semua alatalat yang sudah dipakai dalam cairan klorin 0,5% untuk dekontaminasi alat-alat
tersebut.
Teknik Pengeluaran/Pengangkatan Implant
Mengeluarkan implant umumnya lebih sulit dari pada insersi. Persoalan dapat
timbul bila implant dipasang terlalu dalam atau bila timbul jaringan fibrous
sekeliling implant.
Untuk mengeluarkan implat :
1. Cuci lengan akseptor, lakukan tindakan a dan antisepsis.

10

2. Tentukan lokasi dari implant dengan jari-jari tangan dan dapat diberi tanda
dengan tinta atau apa saja
3. Suntikan anastesi local dibawah implant.
Jangan menyuntikan anastesi diatas implant karena pembengkakan kulit dapat
menghalangi pandangan dari letak implantnya.
4. Buat satu insisi 4 mm sedekat mungkin pada ujung-ujung implant, pada daerah
alas kapsul
5. Keluarkan implant pertama yang terletak paling dekat ke insisi atau yang
terletak paling dekat ke permukaan.
6. Sampai saat ini dikenal 4 cara pengeluaran/pencabutan Norplant :
a) Cara POP-OUT. (Darney, Klaise dan walker)
Merupakan teknik pilihan bila memungkinkan karena tidak traumatis,
sekalipun tidak selalu mudah untuk mengerjakannya.
Dorong ujung proksimal kapsul (arah bahu) kea rah distal dengan ibu jari
sehingga mendekati lubang insisi, sementara jari telunjuk menahan bagian
tengah kapsul,sehingga ujung distal kapsulmenekan kulit.
Bila perlu, bebaskan jaringan yang menyelubungi ujung kapsuldengan
skapel/bisturi.
Tekan dengan lembut ujung kapsul melalui lubang insisi sehingga ujung

b)

tersebut akan menyembul/Pop-outmelalui lubang insisi.


Kerjakan prosedur yang sama untuk semua kapsulyang masih tertinggal.
Cara STANDAR
Bila cara Pop-Out tidak berhasil atau tidak mungkin dikerjakan , maka
dipakai cara standar.
Jepit ujung distal kapsuldengan klem Mosquito ,sampai kira-kira 0,5-1
cm dari ujung klemnya masuk di bawah kulit melalui lubang insisi.
Putar pegangan klem pada posisi 180 derajat disekitar sumbu utamanya
mengarah ke bahu akseptor.
Bersihkan jaringan-jaringan yang menempel di sekelilingi klem dan
kapsuldengan skalpet atau kassa steril sampai kapsulterlihat dengan
jelas.
Tangkap ujung kapsulyang sudah terlihat dengan klem Crile,lepaskan
klem Mosquito, dan keluarkan kapsuldengan klem Crile.
Cabut/keluarkan kapsul-kapsul lainnya dengan cara yang sama.
c) Cara U
Teknik ini dikembangkan oleh Dr. Untung Prawirohardjo dari Semarang.

11

Dibuat insisi memanjang selebar 4 mm, kira-kira 5 mm proksimal dari


ujung distalkapsul, diantar kapsul ke-3 dan kapsul ke -4.
kapsul yang akan dicabut di fiksasi dengan meletakkan jari telunjuk
tangan kiri sejajar di samping kapsul
kapsuldipegang dengan klem (Norplant holding forceps) kurang lebih 5
mm dari ujung distalnya, kemudian klem diputar kea rah pangkal lengan
atas/bahu akseptor sehingga kapsulterlihat dibawah lubang insisi dan
dapat dibersihkan dari jaringan-jaringan yang menyelubungi dengan
d)

memakai skapel, untuk seterusnya dicabut keluar.


Cara Tusuk Ma :
Dikembangkan oelh Dr.IBG Manuaba dari Denpasar.
Memakai alat bantu kawat atau jari roda sepeda, satu ujung dilengkungan
sepanjang 0,5-0,75 cm dengan sudut 90 derajat dan diperkecil serta
diruncingkan, sedangkan ujung yang lain dilengkungkan dalam satu bidang
dengan lengkungan runcing tadi dan dipakai untuk pegangan operator.
Setelah kapsul dijepit dengan pinset/klem arteri, jaringan ikat
dibersihkan dengan pisau sampai kapsul tampak putih, kemudian alat
tusuk Ma ditusukkan pada kapsulserta terus diikat keluar.
Atau setelah kapsul dijepit dengan pinset/klem arteri, alat tusuk Ma
ditusukan ke dalam kapsulsambil diungkit kearah luka insisi, lalu
pinset/klem arteri dilepaskan, dan dengan pisau kapsul dibebaskan dari
jaringan ikat lalu diungkit keluar dari luka insisi.
e) Berikan anastesi lagi bila diperlukan, untuk mengeluarkan implant yang
lain.
f) Tutup dan bungkus luka insisi seperti pada saat insersi. Bila akseptor ingin
dipasang implant yang baru, hal ini dapat segera dilakukan.
g) Upaya pencabutan keenam kapsul Norplant dibatasi sampai waktu 45
menit. Bila dalam waktu tersebut tidak semua kapsulberhasil
dikeluarkan, maka prosedur pencabutan dihentikan dan upaya pencabutan
kembali sisa kapsul yang masih tertinggal diulangi kira-kira 2-4 minggu
kemudian.

12

Hal ini dilakukan untuk mengurangi kemungkinan infeksi rasa nyeri


disamping itu mancaut sisa kapsul Norplant akan lebih mudah bila lengan
akseptor telah sembuh dari trauma jaringan upaya pencabutan yang lalu.
h) Setalah selesai dengan pencabutan keenam kapsul Norplant, rendam
semua alat-alat yang sudah dipakai dalam cairan klorin 0,5% untuk
dekontaminasi alat-alat tersebut.
Pemeliharaan Alat-alat untuk insersi dan pengangkatan Implant.
1. Trocar harus dicuci dengan air hangat dan larutan antiseptic segera setelah
insersi, kemudian didesinfeksi sebelum pemakaian berikutnya.
2. Desinfeksi dapat dilakukan dengan :
a. Autoclave selama 20 menit.
b. Direbus dalam air mendidih selama 5- 10 menit.
c. Sterilisasi dingin dengan larutan germiside untuk sedikitnya 1 jam.
3. Desinfeksi dengan autoclave merupakan cara yang paling eafektif.
4. Ketiga cara desinfiksi tersebut akan membunuh Human Immunodeficiency
Virus (HIV), yaitu virus penyebab AIDS.
5. Tetapi merebus dalam air panas selama 5-10 menit atau sterilisasi dingin ,
Pada daerah endemic Hepatitis , alat alat harus di autoclave atau direbus dalam
air selama 5-30 menit.
6. Ujung trocar harus diperiksa setelah melakukan 10 insersi, dan bila diperlukan
dapat diasah kembali.
Dengan pemeliharaan yang baik, trocar dapat dipakai untuk melakukan kurang
lebih 50 insersi.

Keuntungan Norplant
1. Efeksivitas tinggi.
2. Setelah dipasang, tidak perlu melakukan apa-apa lagi sampai saat pengeluaran
implantnya.
3. System 6 kapsul memberikan perlindungan untuk 5 tahun.
4. Tidak mengandung estrogen, sehingga tidak ada efek samping yang disebabkan
estrogen.
5. Efek kontraseptif segera berakhir setelah implantnya dikeluarkan.
6. Implant melepaskan progestin dengan kecepatan rendah dan konstan, sehingga
terhindar dari dosis awal yang tinggi seperti pada konstrasepsi suntikan
(injectables) ataupun puncak harian dari hormone pada kontrasepsi per-oral.

13

7. Norplant dapat mambantu mencegah terjadinya anemia.


Kerugian Norplant
1. Insersi dan pengeluaran harus dilakukan oleh tenaga terlatih.
2. Petugas medis memerlukan latihan dan praktek untuk insersidan pengangkatan
3.
4.
5.
6.

implant.
Lebih mahal.
Sering timbul perubahan pola haid.
Akseptor tidak dapat menghentikan implant sekehendaknya sendiri.
Beberapa orang wanita mungkin segan untuk menggunakannya karena kurang

mengenalnya.
7. Implant kadang- kadang dapat terlihat oleh orang lain.
Implant Non-Biodegradable Lain yang sedang Dikembangkan
1. Implanon.
- Penemuan terakhir saat ini adalah implant yang berisi Desogestrel, suatu
progestin baru yang telah digunakan bertahuntahun pada beberapa macam
-

kontrasepsi oral.
Pabrik obat Organon telah mengembangkan metabolit utama desogestrel
yaitu 3-ketodeso-gestrel yang dimasukan di dalam 1 batang implant

(implanon).
Implanon terdiri dari 1 batang yang berisi progestin generasi keriga, yang
dimasukkan kedalam inserter steril dan sekali pakai/disposable.
Batang implant terdiri dari suatu inti EVA (Ethylene Vinvly Acetate) berisi
60 mg-3-ketodesogestrel yang diselubungi oleh suatu membrane
EVA.Panjang batang Implant 4 cm dan berdiameter 2 mm.
Pada permulaannya kecepatan pelepasan hormonnya adalah 60 mcg per hari,
yang perlahan-lahan turun menjadi 30 mcg per hari selama masa kerjanya.
Daya kerja implanon minimal 2 tahun , dan mungkin dapat sampai 3 tahun.
Insersinya mudah dengan jalan menyuntikannya tanpa memerlukan anastesi
dan dapat dikerjakan oleh perawat atau paramedis yang terlatih.

2. Implant 1-batang ST-1435


- ST-1435 merupakan progestin baru dengan efek kontraseptif dan efek
samping serupa dengan levonorgestrel.

14

Implant ST-1435 efektif untuk 2 tahun, berisi Kristal ST-1435 yang


terbungkus oleh membrane selulose di dalam kapsul Silastic , dengan

pelepasan 100 mcg hormonnya per hari.


ST-1435 juga menghambat ovulasi dan mengentalkan lendir serviks.
Bedanya dengan progestin lain, ST-1435 tampaknya tidak mempunyai efek
pada kadar kolesterol darah. Rencana siap-pakai :2000.

Biodegradable implant
1. Biodegradable implant melepaskan progestin dari bahan
pembawa/pengangkut/carrier yang secara perlahan-lahan larut disalam jaringan
tubuh. Jadi, bahan pembawaanya sama sekali tidak perlu dikeluarkan lagi
seperti misalnya pada norplant. Tetapi sekali bahan pembawa tersebut mulai
melarut , ia tidak mungkin dikeluarkan lagi.
2. Dua macam implant biodegradable sedang di uji coba saat ini pada sejumlah
wanita :
a. Carpronor ,suatu kapsul polymer berisi Levonorgestrel.
b. Pallets, (bola/peluru), berisi Norethindrone dan sejumlah kecil kolesterol.
a)Capronor
- Pada awal penelitian dan pengembangkannya, Capronor beruba
suatukapsul biodegradable yang mengandung levonorgestrel yang
dilarutkan dalam minyak ethyl-oleate, dengan diameter kapsul>
0,24cm dan panjang kapsulyang diteliti terdiri dari 2 ukuran :
a. 2,5 cm : berisi 16 mg levonorgestrel , melepaskan 20 mcg
hormonnya per hari.
b. 4 cm : berisi 26 mg levonorgetrel, melepaskan 30-50 mcg
-

hormonnya per hari.


Penelitian pada kelinci dank era menunjukan bahwa proteksi
kontraseptif berlangsung paling sedikit 18 bulan, dan mungkin dapat
berlangsung tidak lama. Tetapi penelitian klinis pada wanita
menunjukan efektivitasnya hanya 8-10 bulan, dan ini antara lain
disebabkan oleh minyak ethyloleate. Sehingga akhirnya penelitian

awal ini dihentikan.


Sekarang sedang dikembangkan 2 versi baru implant Carpronor yang
biodegradable:
15

1. Carpronor-2 :
Satu kapsul 4 cm terbuat dari polimer caprolactone yang diisi
dengan 18 mg levonorgestrel.
Penelitian menunjukan bahwa mungkin diperlukan 2 kapsul
dengan formula ini.
2. Carpronor-3
satu kapsul 4 cm terbuat dari co-polimer (caprolactone dan
trimethylene carbonate) yang diisi dengan 32 mg levonorgestrel.
Co-polimer mengalami biodegradasi lebih cepat dibandingkan
-

polimer tunggal.
Kapsul Capronor akan tetap intak selama periode 12 bulan dari
pelepasan hormone levonorgestrelnya, dan bila diinginkan kapsulnya
dapat dikeluarkan selama masa ini. Kemudian hari, setelah beberapa
tahun, kapsul mengalami biodegradasi perlahan-lahan menjadi
Ehydroxycaproic acid, kemudian menjadi karbon dioksid dan air, yang
akan diserap oleh tubuh.

b)Norethindrone Pellets
- Pellets dibuat dari 10% kolesterol murni dan 90% Norethindrone
-

(NET).
Setiap Pellet, panjang 8 mm berisi 35 mg NET , yang akan dilepaskan

saat pellests dengan perlahan-lahan melarut.


Pellets berukuran kecil, masing masing sedikit lebih besar daripada

butir beras.
Uji coba pendahuluan menggunakan 4 dan 5 Pellets.
Dosis harian NET dan efektivitas kontrasepsi semakin bertambah

dengan banyaknya jumlah Pellets.


Sediaan empat Pellets tampaknya memberikan perlindungan yang

besar terhadap kehamilan untuk sekurang-kurangnya 12 bulan.


Lebih dari 50% akseptor Pellets mengalami pola haid ireguler.
Perdarahan inter-menstrual atau perdarahan bercak merupakan
problem utama. Tetapi dengan berlalunya waktu, perdarahan akan
kembali ke pola pra insersi. Amenore terjadi pada 14% akseptor

setelah 6 bulan. Pellets dapat mengurangi/menghilangkan dismenore.


Terjadi rasa sakit payudara pada 4% akseptor.

16

Jumlah kecil dari kolesterol di dalam masing-masing pellet kurang dari


2% kolesterol dalam satu butir telur ayam tidak mempunyai efek pada

kadar kolesterol darah akseptor.


Insersi Pellets dilakukan pada bagian dalam lengan atas. Prosedur
insersi seperti pada Carpronor, dan dapat di pakai dengan inserter yang

sama.
Daerah insersi disuntik dengan anastesi local lalu dibuat insisi 3 mm.
pellets diletakkan kira-kira 3 cm dibawah kulit. Tidak diperlukan

penjahitan luka insisi , cukup ditutup dengan verband saja.


Bila Pellets akan dikeluarkan sebelum mereka melarutyaitu selama
12 bulan pertama, diperlukan insisi 5 mm. sering timbul jaringan
fibrous sekitar Pellets.

D. Pemasangan dan Pencabutan Implan


Sebagian besar masalah yang berkaitan dengan pencabutan disebabkan oleh
pemasangan yang tidak tepat. Oleh karena itu, hanya petugas klinik yang terlatih
(dokter, bidan) yang diperbolehkan memasang maupun mencabut implant. Untuk
mengurangi masalah yang timbul setelah pemasangan, semua tahap proses
pemasangan harus dilakukan secara hati-hati dan lembut, dengan menggunakan
upaya pencegahan infeksi yang dianjurkan.
Di Indonesia dikenal beberapa jenis implant, yaitu :

Implanon
Indoplan
Sinoplan
Jadena

1. Pelaksanaan Pelayanan
Ruangan klinik pasien rawat jalan maupun ruang operasi cocok untuk
pemasangan maupun pencabutan implant. Bila mungkin, ruangan sebaiknya
jauh dari area yang sering digunakan (ramai) di klinik maupun di rumah sakit,
serta harus :

Memiliki pencahayaan yang cukup


Berlantai keramik atau semen sehingga mudah dibersihkan

17

Terbebas dari debu dan serangga dan


Memiliki ventilasi udara yang baik
Selain itu juga perlu ada fasilitas untuk mencuci tangan termasuk air bersih
yang mengalir (air kran dan lain-lain).
2. Pencegahan Infeksi
Pemasangan dan Pencabutan Batang (Rod) Implan
Untuk meminimalisasi risiko infeksi pada klien setelah pemasangan
maupun pencabutan implant, petugas klinik harus berupaya untuk menjaga
lingkungan yang bebas dari infeksi. Untuk itu petugas perlu melakukan hal-hal
berikut:
Meminta klien untuk membersihkan dengan sabun seluruh lengan yang akan
dipasang implant dan membilasnya hingga tidak ada sisa sabun yang
tertinggal (sisa sabun dapat mengurangi efektivitas beberapa bahan
antiseptic). Langkah ini sangat penting khususnya bila kebersihan klien

sangat kurang.
Cuci tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir. Untuk pemasangan
maupun pencabutan batang, cuci tangan dengan sabun biasa selama 10-15

detik kemudian dibilas dengan air bersih yang mengalir sudah cukup.
Pakai kedua sarung tangan yang telah disterilisasi atau di DTT. (Gunakan
sepasang sarung tangan yang berbeda untuk setiap tindakan guna

menghindari kontaminasi silang).


Siapkan daerah pemasangan atau pencabutan dengan kapas yang telah diberi
antiseptic, gunakan forsep untuk mengusapkan kapas tersebut pada daerah

pemasangan/pencabutan implant.
Setelah selesai pemasangan maupun pencabutan batang implant, dan
sebelum melepas sarung tangan, dekontaminasi instrument dalam larutan
klorin 0,5%. Sebelum membuang atau merendam jarum dan alat suntik, isi
lebih dahulu dengan larutan klorin. (setelah pemasangan, pisahkan plunger
dari trokar. Darah kering akan menyulitkan waktu memisahkan plunger dari
trokar). Rendam selama 10 menit, kemudian bilas segera dengan air bersih
untuk menghindari korosi pada alat-alat berbahan metal.

18

Kain operasi (drape) harus dicuci sebelum digunakan kembali. Setelah


dipakai, taruh pada wadah kering dan tertutup kemudian dibawa keruang

pencucian.
Dengan tetap memakai sarung tangan, buang bahan-bahan terkontaminasi
(kasa, kapas, dll) ke dalam wadah tertutup rapat atau kantung plastic yang
tidak bocor. Jarum dan alat suntik sekali pakai (disposable) harus dibuang ke

dalam wadah yang tahan tusuk.


Masukkan kedua tangan yang masih memakai sarung tangan ke dalam

larutan klorin 0,5%. Lepaskan sarung tangan dari dalam ke luar.


- Bila hendak membuang sarung tangan, taruh ke dalam wadah atau kantung
plastic tahan bojor.
- Bila hendak dipakai ulang, dekontaminasi kedua sarung tangan dengan
direndam dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit.
Setelah semua langkah selesai, cuci tangan dengan handuk bersih dan kering
atau dianginkan.
3. Persiapan
Penting bahwa alat-alat dalam kondisi yang baik (misalnya, trokar dan
scalpel harus tajam). Selain itu, periksa semua alat dan bahan lain telah
disterilisasi atau di DTT. Batang implant tersimpan dalam kemasan steril,
beralas kertas, dan terlindung dari panas. Alkon tersebut akan tetap steril untuk
3 tahun selama tidak rusak dan tidak disimpan di tempat yang lembab dan
panas.
a) Persiapan Klien
Walaupun kulit dan integumennya sulit untuk disterilisasi, pencucian
dan pemberian antiseptic pada daerah operasi tempat implant akan dipasang
dapat mengurangi jumlah mikroorganisme di daerah kulit klien. Kedua
tindakan ini pada kenyataannya sangat bermanfaat dalam mengurangi risiko
terjadinya infeksi pada saat insersi atau pencabutan implant.
Bila prosedur pencucian dan kaidah tindakan antiseptic dilakukan
dengan benar, angka kejadian infeksi saat insersi dan pencabutan implant
sangat rendah (kurang dari 1 persen). Dengan demikian pemberian antibiotic
profilaktik tidak dianjurkan.

19

b) Peralatan dan Instrumen untuk Insersi


Meja periksa untuk berbaring klien
Alat penyangga lengan (tambahan)
Batang implant dalam kantong
Kain penutup steril (desinfeksi tingkat tinggi) serta mangkok untuk

tempat meletakkan implaan


Sepasang sarung tangan karet bebas bedak yang sudah steril (atau di

DTT).
Sabun untuk mencuci tangan
Larutan antiseptic untuk desinfeksi kulit (missal: larutan betadin atau
jenis golongan Povidon Iodin lainnya), lengkap dengan cawan/mangkok

antikarat
Zat anastesi local (konsentrasi 1% tanpa Epinefrin)
Semprit (5-10 ml), dan jarum suntik (22 G) ukuran 2,5 sampai 4 cm (1-

11/2 per inch).


Trokar 10 dan mandrin.
Skalpel 11 atau 15.
Kasa pembalut, band aid atau plester.
Kasa steril dan pembalut
Epinefrin untuk renjatan anafilaktik (harus tersedia untuk keperluan

darurat)
Bak/tempat instrument (tertutup).

20

c) Penerangan kepada Klien


Bimbing/berikan kesempatan pada klien untuk bertanya tentang
keterangan yang telah diberikan dan tentang apa yang akan dilakukan

pada dirinya.
Peragakan peralatan yang akan digunakan serta jelaskan tentang prosedur

apa yang akan dikerjakan.


Jelaskan bahwa klien akan mengalami sedikit rasa sakit saat penyuntikan
zat anastesi local, sedangkan prosedur inersinya sendiri tidak akan
menimbulkan rasa nyeri.

21

Prinsip-prinsip dan tata cara pemasangan dan pencabutan implant secara


umum adalah sama, baik implant yang menggunakan dua batang

(Indoplan), maupun satu batang (Implanon).


Tenteramkan hati klien setelah tindakan insersi.

d) Kunci Keberhasilan Pemasangan


Untuk tempat pemasangan kapsul, pilihlah lengan klien yang jarang

digunakan.
Gunakan cara pencegahan infeksi yang dianjurkan
Pastikan kapsul-kapsul tersebut ditempatkan sedikitnya 8 cm diatas lipat

siku, di daerah medial lengan.


Insisi untuk pemasangan harus kecil, hanya sekedar menembus kulit.

Gunakan scalpel atau trokar tajam untuk membuat insisi.


Masukan trokar melalui luka insisi dengan sudut yang kecil, superficial

tepat di bawah kulit. Waktu memasukan trokar jangan dipaksakan.


Trokar harus dapat mengangkat kulit setiap saat, untuk memastikan

pemasangan tepat di bawah kulit.


Pastikan 1 kapsul benar-benar keluar dari trokar sebelum kapsul
berikutnya dipasang (untuk mencegah kerusakan kapsul sebelumnya,
pegang kapsul yang sudah terpasang tersebut dengan jari tengah dan

masukan trokar pelan-pelan disepanjang tepi jari tersebut.


Setelah selesai memasang, bila sebuah ujung kapsul menonjol keluar atau
terlalu dekat dengan luka insisi, harus dicabut dengan hati-hati dan

dipasang kembali dalam posisi yang tepat.


Jangan mencabut ujung trokar dari tempat insisi sebelum semua kapsul
dipasang dan diperiksa seluruh posisi kapsul. Hal ini untuk memastikan
bahwa kedua kapsul dipasang dengan posisi yang benar dan pada bidang

yang sama di bawah kulit.


Gambar tempat kapsul tersebut pada rekam medic dan buat catatan bila
ada kejadian tidak umum yang mungkin terjadi selama pemasangan.

4. Penatalaksanaan Umum

22

Kapsul implant dipasang tepat di bawah kulit di atas lipat siku, di daerah
medial lengan atas (Gambar 20-2). Untuk tempat pemasangan kapsul, pilihlah
lengan klien yang jarang digunakan.

Pertama, cuci lengan dengan air dan sabun, kemudian usap dengan
antiseptic dan suntik anastesi local. Buat insisi kecil hanya sekedar menembus
kulit, sekitar 8 cm di atas lipat siku. Setiap kapsul dimasukan melalui trokar
khusus (nomor 10) dan dipasang tepat di bawah kulit.
Tidak diperlukan penjahitan untuk menutup luka insisi, cukup dengan
band aid.
Ingat : yang terpenting kapsul dipasang superficial, tepat di bawah kulit
(dermis). Pemasangan yang dalam akan menyebabkan penjabutan menjadi sulit.
Sebelum memulai tindakan, periksa kembali untuk memastikan apakah klien :
Sedang minum obat yang dapat menurunkan efektivitas implant
Sudah mendapat anastesi local sebelumnya
Alergi terhadap obat anastesi local atau jenis obat lainnya.
5. Persiapan Pemasanagan
Langkah 1
Persilakan klien mencuci seluruh lengan dengan sabun dan air yang mengalir,
serta membilasnya. Pastikan tidak terdapat sisa sabun (sisa sabun menurunkan
efektivitas antiseptic tertentu). Langkah ini sangat penting bila klien kurang
menjaga kebersihan dirinya untuk menjaga kesehatannya dan mencegah
penularan penyakit.
Langkah 2

23

Tutup tempat tidur klien (dan penyangga lengan atau meja samping, bila ada)
dengan kain bersih.
Langkah 3
Persilakan klien berbaring dengan lengan yang lebih jarang digunakan
(misalnya:lengan kiri) diletakkan pada lengan penyangga atau meja samping.
Lengan harus disangga dengan baik dan dapat digerakkan lurus atau sedikit
bengkok sesuai dengan posisi yang disukai klinisi untuk pemudahan
pemasangan.
Langkah 4
Tentukan tempat pemasangan yang optimal, 8 cm di atas lipatan siku.
Langkah 5
Siapkan tempat alat-alat dan buka bungkus steril tanpa menyentuh alat-alat
didalamnya.
Langkah 6
Buka dengan hati-hati kemasan steril implant dengan menarik kedua lapisan
pembungkusnya dan jatuhkan seluruh kapsul dalam mangkok steril.
Ingat: Kapsul yang tersentuh kapas atau bahan lain akan menjadi lebih reaktif
(lebih sering menyebabkan perlekatan atau jaringan parut karena partikel kapas
menempel pada kapsul silastik).
Bila tidak ada mangkok steril, kapsul dapat diletakkan dalam mangkok yang
didisinfeksi tingkat tinggi (DTT) atau baki tempat alat-alat. Pilihan lain adalah
dengan membuka sebagian kemasan dan mengambil kapsul satu demi satu
dengan klem steril atau DTT saat melakukan pemasangan.
Jangan menyentuh bagian dalam kemasan atau isinya kecuali dengan alat yang
steril atau DTT.
Catatan : Bila kapsul jatuh ke lantai, kapsul tersebut telah terkontaminasi,
Buka kemasan baru dan teruskan pemasangan. (Jangan melakukan sterilisasi
ulang pada kapsul yang terkontaminasi).
6. Tindakan Sebelum Pemasangan
Langkah 1
Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, keringkan dengan kain bersih.
Langkah 2
Pakai sarung tangan steril atau DTT (ganti sarung tangan untuk setiap klien
guna mencegah kontaminasi silang).

24

Catatan : Jangan menggunakan bedak untuk memakai sarung tangan. Butirbutir bedak yang halus dapat jatuh ke tempat insisi dan menyebabkan terjadinya
jaringan parut (reaksi jaringan ikat). Bila sarung tangan diberi bedak, bersihkan
dengan kasa steril yang direndam dengan air steril atau air mendidih.
Langkah 3
Atur alat dan bahan-bahan sehingga mudah dicapai. Hitung kapsul untuk
memastikan jumlahnya.
Langkah 4
Persiapkan tempat insisi dengan larutan antiseptic. Gunakan klem steril atau
DTT untuk memegang kasa berantiseptik. (Bila memegang kasa berantiseptik
hanya dengan tangan, hati-hati jangan sampai mengkontaminasi sarung tangan
dengan menyentuh kulit yang tidak steril). Mulai mengusap dari tempat yang
akan dilakukan insisi ke arah luar dengan gerakan melingkar sekitar 8-13 cm
dan biarkan kering (sekitar 2 menit) sebelum memulai tindakan. Hapus
antiseptic yang berlebihan hanya bila tanda yang sudah dibuat tidak terlihat.
Langkah 5
Bila ada gunakan kain penutup (doek) yang mempunyai lubang untuk menutupi
lengan. Lubang tersebut harus cukup lebar untuk memaparkan tempat yang
akan dipasang kapsul. Dapat juga dengan menutupi lengan di bawah tempat
pemasangan dengan kain steril. (Gambar 20-4)

Langkah 6

25

Setelah memastikan (dari anamnesis) tidak alergi terhadap obat anestesi, isi alat
suntik dengan 3 ml obat anestesi (1% tanpa Epinefrin). Dosis ini sudah cukup
untuk menghilangkan rasa sakit selama memasang kapsul implant.
Langkah 7
Masukkan jarum tepat di bawah kulit pada tempat insisi (yang terdekat dengan
siku) kemudian lakukan aspirasi untuk memastikan jarum tidak masuk ke
dalam pembuluh darah. Suntikkan sedikit obat anastesi untuk membuat
gelembung kecil di bawah kulit. Kemudian tanpa memindahkan jarum,
masukkan ke bawah kulit (subdermis) sekitar 4 cm (Gambar 20-5). Hal ini
akan membuat kulit (dermis) terangkat dari jaringan lunak di bawahnya.
Kemudian tarik jarum pelan-pelan sehingga membentuk jalur sambil
menyuntikkan obat anastesi sebanyak 1 ml diantara tempat untuk memasang
kapsul.

Catatan: Untuk toksisitas, dosis total tidak boleh melebihi 10 ml (10 g/l) dari
1% anastesi local tanpa Epinefrin.
7. Pemasangan Kapsul
Sebelum membuat insisi, sentuh tempat insisi dengan jarum atau scalpel (pisau
bedah) untuk memastikan obat anatesi telah bekerja.
Langkah 1
Pegang scalpel dengan sudut 450, buat insisi dangkal hanya untuk sekedar
menembus kulit. Jangan membuat insisi yang panjang atau dalam.
Langkah 2

26

Ingat kegunaan ke-2 tanda pada trokar. Trokar harus dipegang dengan ujung
yang tajam menghadap ke atas. Ada 2 tanda pada trokar, tanda (1) dekat
pangkal menunjukan batas trokar dimasukan ke bawah kulit sebelum
memasukan setiap kapsul. Tanda (2) dekat ujung menunjukan batas trokar yang
harus tetap di bawah kulit setelah memasang setiap kapsul.

Langkah 3
Dengan ujung yang tajam menghadap ke atas dan pendorong di dalamnya
masukkan ujung trokar melalui luka insisi dengan sudut kecil. Mulai dari kiri
atau kanan pada pola seperti kipas, gerakkkan trokar ke depan dan berhenti saat
ujung tajam seluruhnya berada di bawah kulit (2-3 mm dari akhir ujung tajam)
(Gambar 20-7). Memasukkan trokar jangan dengan paksaan. Jika terdapat
tahanan, coba dari sudut lainnya.

27

Langkah 4
Untuk meletakkan kapsul tepat di bawah kulit, angkat trokar ke atas, sehingga
kulit terangkat. Masukkan trokar perlahan-lahan dan hati-hati kea rah tanda (1)
dekat pangkal. Trokar harus cukup dangkal sehingga dapat diraba dari luar
dengan jari. Trokar harus selalu terlihat mengangkat kulit selama pemasangan.
Masuknya trokar akan lancer bila berada di bidang yang tepat di bawah kulit.

28

Catatan : Jangan menyentuh trokar terutama bagian tabung yang masuk ke


bawah kulit untuk mencegah trokat terkontaminasi pada waktu memasukkan
dan menarik keluar.
Langkah 5
Saat trokar masuk sampai tanda (1), cabut pendorong dari trokar.
Langkah 6
Masukkan kapsul pertama ke dalam trokar. Gunakan ibu jari dan telunjuk atau
pinset atau klem untuk mengambil kapsul dan memasukkan ke dalam trokar.
Bila kapsul diambil dengan tangan, pastikan sarung tangan tersebut bebas dari
bedak atau partikel lain. (Untuk mencegah kapsul jatuh pada waktu dimasukkan
ke dalam trokar, letakkan satu tangan di bawah kapsul untuk menangkap bila
kapsul tersebut jatuh).
Dorong kapsul sampai seluruhnya masuk ke dalam trokar dan masukan kembali
pendorong (Gambar 20-9).

29

Langkah 7

30

Gunakan pendorong kapsul kea rah ujung trokar sampai terasa ada tahanan, tapi
jangan mendorong dengan paksa. (Akan terasa tahanan pada saat sekitar
setengah bagian pendorong masuk ke dalam trokar).
Langkah 8
Pegang pendorong dengan erat di tempatnya dengan satu tangan untuk
menstabilkan. Tarik tabung trokar dengan menggunakan ibu jari dan telunjuk ke
arah luka insisi sampai tanda (2) muncul di tepi luka insisi dan pangkalnya
menyentuh pegangan pendorong. Hal yang terpenting pada langkah ini adalah
menjaga pendorong tetap di tempatnya dan tidak mendorong kapsul ke
jaringan.
Langkah 9
Saat pangkal trokar menyentuh pegangan pendorong, tanda (2) harus terlihat di
tepi luka insisi dan kapsul saat itu keluar dari trokar tepat berada di bawah kulit.
Raba ujung kapsul dengan jari untuk memastikan kapsul sudah keluar
seluruhnya dari trokar.
Catatan : Pengasahan trokar yang berulang akan memendekkan trokar
sehingga mengurangi jarak ke tanda (2), karena itu saat memakai trokar yang
diasah, jangan menarik trokar terlalu jauh ke belakang karena akan keluar dari
tepi luka insisi.
Hal yang pentig adalah kapsul bebas dari ujung trokar untuk menghindari
terpotongnya kapsul saat trokar digerakkan untuk memasang kapsul berikutnya.
Langkah 10
Tanpa mengeluarkan seluruh trokar, putar ujung dari trokar kea rah lateral
kanan dan kembalikan lagi ke posisi semula untuk memastikan kapsul pertama
bebas.
Selanjutnya geser trokar sekitar 15-25 derajat. Untuk melakukan itu, mula-mula
fiksasi kapsul pertama dengan jari telunjuk dan masukkan kembali trokar pelanpelan sepanjang sisi jari telunjuk tersebut sampai tanda (1). Hal ini akan
memastikan jarak yang tepat antara kapsul dan mencegah trokar menusuk
kapsul yang dipasang sebelumnya.
Bila tanda (1) sudah tercapai, masukkan kapsul berikutnya ke dalam trokar dan
lakukan seperti seb elumnya (Langkah 5-9) sampai seluruh kapsul terpasang.
Langkah 11

31

Pada pemasangan kapsul berikutnya, untuk mengurangi risiko infeksi atau


ekspulsi, pastikan bahwa ujung kapsul yang terdekat kurang lebih 5 mm dari
tepi luka insisi.
Langkah 12
Sebelum mencabut trokar, raba kapsul untuk memastikan kapsul semuanya
telah terpasang.
Langkah 13
Ujung dari semua kapsul harus tidak ada pada tepi luka insisi (sekitar 5 mm).
bila sebuah kapsul keluar atau terlalu dekat dengan luka insisi, harus dicabut
dengan hati-hati dan dipasang kembali ditempat yang tepat.
Langkah 14
Setelah kapsul terpasang semuanya dan posisi setiap kapsul sudah diperiksa,
keluarkan trokar pelan-pelan. Tekan tempat insisi dengan jari menggunakan
kasa selama 1 menit untuk menghentikan perdarahan. Bersihkan tempat
pemasangan dengan kasa berantiseptik.
8. Tindakan Setelah Pemasangan Kapsul
Menutup luka insisi
a) Temukan tepi kedua insisi dan gunakan band aid atau plester steril untuk
menutup luka insisi. Luka insisi tidak perlu dijahit karena akan menimbulkan
jaringan parut.
b) Periksa adanya perdarahan. Tutup daerah pemasangan dengan pemmbalut
untuk hemostasis dan mengurangi memar (perdarahan subkutis).

Perawatan klien
a) Buat catatan pada rekam medic tempat pemasangan kapsul dan kejadian
tidak umum yang ungkin terjadi selama pemasangan.
b) Amati klien kurang lebih 15 sampai 20 menit untuk kemungkinan
perdarahan dari luka nsisi atau luka lain sebelum memulangkan klien. Beri
petunjuk untuk perawatan luka insisi setlah pemasangan, kalau bias secara
tertulis.
9. Petunjuk Perawatan Luka Insisi di Rumah

32

a) Mungkin akan terdapat, bengkak atau memar di daerah insisi selama


beberapa hari . hal ini normal terjadi.
b) Jaga luka insisi tetap kering dan bersih sedikitnya 48 jam. Luka insisi dapat
mengalami infeksi bila basah saat mandi atau mencuci tangan.
c) Jangan membuka pembalut tekan sebelum 48 jam dan biarkan band aid tetap
ditempatnya sampai luka insisi sembuh (3-5 hari).
d) Klien dapat segera bekerja secara rutin. Hindari benturan atau luka di daerah
tersebut dan menambahkan tekanan.
e) Setelah luka insisi sembuh, daerah tersebut dapat didentuh dan dibersihkan
dengan tekanan normal.
f) Jika terdapat tanda-tanda infeksi seperti demam, daerah insisi kemerahan
dan panas atau sakit menetap selama beberapa hari, segera kembali klinik.
Bila Terjadi Infeksi
Obati dengan obat yang sesuai untuk infeksi local.
Bila terjadi abses dengan atau tanpa ekspulsi kapsul cabut semua kapsul.
10. Petunjuk untuk Menjaga agar Trokar Tetap Tajam
a) Pemakaian yang berulang-ulang akan menyebabkan trokar menjadi tumpul.
Trokar harus diperiksa dengan hati-hati setelah setiap 10 kali pemasangan.
b) Setelah selesai dipakai, pisahkan trokar dari pendorongnya. (Hal ini untuk
menjaga trokar agar tetap tajam).
c) Bila trokar tampak telah menjadi tumpul, harus diasah seperti mengasah
pisau atau gunting dengan menggunakan batu asah yang halus.
d) Pada waktu mengasah trokar, jangan terlalu berlebihan oleh karena dapat
mengubah sudut ketajamannya sehingga trokar tidak bisa dipakai lagi.
Pengasahan yang berlebihan akan memperpendek trokar, mengurangi jarak
ke tanda (2) dekat ujung trokar.
e) Masalah lain yang ditimbulkan karena pengasahan yang berlebihan adalah
pada waktu memasukkan pendorong sepenuhnya, maka ujung tumpul
pendorong akan menonjol keluar melewati ujung tajam trokar. Hal ini akan
menyulitkan waktu memasukkan trokar tepat dibawah kulit. Bila hal ini
terjadi, tarik kembali pendorong sehingga ujung tumpulnya tidak menonjol
keluar dari ujung tajam trokar.

33

f) Setelah kira-kira 50 sampai 100 kali pemasangan, trokar harus diganti, tidak
boleh diasah lagi.

34

35

E. Pemasangan Implan Implanon


Inserter yang digunakan telah terisi 1 buah kapsul didalamnya dan untuk satu
kali pakai. Kemasan inserter menyerupai suntikan.
Langkah langkah pemasangan:
Langkah 1
Persiapkan tempat pemasangan implant dengan larutan anti septic
Langkah 2
Tentukan tempat pemasangan yang optimal, 8 cm diatas lipatan siku pada bagian
dalam lengan dialur antra otot bisep dan trisep. Gunakan dengan spidol untuk
membuat garissepanjang 6- cm.
Langkah 3
Setelah memastikan dari anastesi tidak alergi dengan obat anastesi, isi alat suntik
dengan 2 ml obat anastesi (1% tanpa eprineprin) dan disuntikan ke tempat yang
akan dipasang yakni di bawah kulit sepanjang jalur pemasangan, pemberian
anastesi juga bias dengan semprotan.
Langkah 4
Keluarkan inserter dari kemasannya. Regangkan kulit di tempat pemasangan dan
masukkan jarum inserter tepat dibawah kulit sampai masuk seluruh panjang jarum
inserter. Untuk meletakkan kapsul tepat dibawah kulit, angkat jarum inserter ke
atas hingga kulit terangakat.
Langkah 5
Lepaskan segl inserter dengan menekan penopapang pendorong inserternya.
Langkah 6
Putar pendorong inserter 90atau 180 dengan mempertahankan pendorong inserter
tetap siatas lengan.

36

Langkah 7
Dengan tangan yang lain secara perlahan tarik jarum keluar dari lengan sambil
tetap mempertahankan penopang inserter di trmpatnya. (Catatan : prosedur ini
berlawanan dengan prosedur penyuntika, dimana pendorong didorong dan inserter
dipertahanka).
37

F. Pencabutan Implan
1. Metode Pencabutan
Metode pencabutan implant Norplant, Jadena, Indopalant, dan Implanont
sama hanya beda kapsul yang dipasang.
Metode standar pencabutan menggunakan klem mosquito atsu crileuntuk
menjepit kapsul yang telah digunakan sejak 1980an. Sejak itu telah banyak
dilaporkan modifikasi dari metode standar pencabutan misalnya metode pop
out yang dikenalkan oleh Darney dkk pada tahun 1992. Kenyataan bahwa
banyak yang memikirkan untuk terus menyempurnakan metode pencabutan,
sedang perubahan metode pemasangan sangat sedikit, menunjukkan dengan
jelas metodr standar pencabutan tak seluruhnya sempurna. Pengamatan ini
didukung oleh pengalaman dari berbagai negara. Disbanding pemasangan,
pencabutan lebih memerlukan keahlian dan kesabaran . selain itu pemasangan
yang tidak baik (pemasangan terlalu dalam atau tak menggunakan pola)
menyebabkan pencabutan dengan metode apapun akan memakan waktu yang
lama dan lebih banyak perdarahan dibandingkan pada waktu pemasangan.

38

2. Persiapan Bahan dan Peralatan


Dalam melakukan persiapan yang penting adalah alat alat dalam keadaan baik.
a. Meja periksa untuk tempat tidur klien
b. Penyangga lengan atau meja samping
c. Sabun untuk cuci tangan
d. Kain penutup operasi yang kering dan steril
e. 3 mangkuk steril untuk larutan antiseptic, kapas dan klorin 0,5%
f. Swpasang sarung tangan steril
g. Larutan antiseptic
h. Anastesi lokan (1% tanpa Epineprin)
i. Tabung suntik 5 tau 10 ml dan jarum suntuik dengan panjang 2,5-4 cm
j. Scalpel(pisau bedah) nomor 11
k. Klem lengkung atau lurus (mosquito atau crile)
l. Band aid atau kasa steril dengan plester
m. Kasa pembalut
n. Epineprin untuk syok anapilatik(harua selalu ada untuk keadaan darurat)
3. Konseling Sebelum Pencabutan
Sebelum pencabutan kapsul, ajak klien untuk berbicara alas an mencabut
dan jawab semua pertanyaan. Tanyakan pada klien tentang tujuan
reproduksinya. Terangkan secara singkat proses pencabutan dan apa yang
diharapkan setelah dan selama pencabutan.

4. Kunci Keberhasilan Pencabutan


a. Pencabutan yang mudah tergantung dari pemasangan yang benar. Bila kapsul
dipasang tepat dibawah kulit akan mudah dicabut dan bila dipasang terlalu
dalam akan menimbulkan masalah.
b. Pencabutan akan memakan waktu lebih lama dari pemasangan sekitar 10-20
menit.
c. Raba tempat pencabutan untuk menentukan lokasi masing-masing kapsul
dan beritanda dengan spidol.
d. Gunakan tindakan pencegahan infeksiyang dianjurkan untuk menghindari
infeksi.
e. Suntikan sedikit obat anastesi lokal biasanya tak lebih dari 3 ml biasanya
dibawah ujung kapsul dekat insisi yang lama. Jika disuntikkan diatas kapsul,
akan mengakibatkan kapsul tidak teraba sehingga menyulitkan pencabutan.

39

f. Bila posisi kapsul benar, hanya diperlukan sedikit insisi tak melebihi 4 mm
untuk mencabut kapsul.
g. Kapsul yang dicabut adalah kapsul yang dekat dengan daerah insisi atau
dekat dengan permukaan kulit.
h. Bila diperlukan tambah sedikit obat anastesi di bawah ujung kapsul.
i. Atasi perdarahan lakukan penekanan di daerah insisi.
j. Jika tersisa 1 atau 2 kapsul yang sulit dicapai, jangan dippaksakan
melakukan pencabutan. Nila waktu pencabutan telah memakan waktu lebih
dari 30 menit, minta klien untuk kembali lagi ketika luka insisi sudah
sembuh benar (sekitar 4-6 minggu) dan coba lagi ke klinisi yang lebih
berpengalaman.
k. Yang paling penting klinisi harua bekarja dengan baik, hati-hati dan sabar
untuk menghindari luka yang besar pada klien.
5. Penatalaksanaan Umum
Pencabutan yang mudah tergantung pada pemasangan yang benar. Proses
pencabutan umumnya lebih lama dari proses pemasangan sekitar 10-20 menit,
Bila kapsul terpasang dengan benar maka akan mudah untuk dicabut,
sedangkan dengan letak yang dalam akan lebuh sulit dicabut.
Menentukan kapsul terlebih dahulu dengan meraba tanpa sarung tangan
akan sangat membantu untuk proses pencabutan. Banyak klinisi untuk member
tanda dengan sepidol pada tiap posisi kapsul. Usap lengan klien dengan larutan
antiseptic senelum menyuntikkan anastesi local. Anastesi local harus disuntikan
dibawah ujung kapsul dekat tempat insisi suntikan diatas kapsul akan membuat
kapsul sulit diraba.
Pada umumnya dibutuhkan satu insisi kecil untuk mencabut semua
kapsul.panjang insisi tak lebih dari 4 mm. dimana insisi dilakukan bergantung
pada posisi impalant dan metode standar atau metode u.
Kapsul pertama dicabut harus kapsul yang paling mudah dicapai. Bila 1
atau 2 kapsul sulit dicabut jangan paksakan untuk mencabutnya. Bila seluruh
kapsul tak dapat tercabut semuanya setelah 20-30 menit hentikan pencabutan.
Klien harus diberi kontrasepsi pengaman jika klien menginginkan dan minta
datang kembali setelah luka insisi sembuh 4-6 minggu kemudian untuk

40

mencabut kapsul yang tersisa. Klinisi harus bertindak hati-hatidan sabar.


Sebelum memulai tindakan, pastikan klien tidak alergi dengan obat anastesi.
6. Persiapan Sebelum Tindakan
Langkah 1
Pastikan klien mencuci lengan dan tangannya dengan sabundan air yang
mengalir, serta menbilasnya. Pastikan tak ada sisa sabun. Langkah ini sangat
penting bila hygiene klien buruk (untuk menjaga kesehatannya dan penularan
penyakit).
Langkah 2
Tutup tempat tidurklien dengan kain bersih.
Langkah 3
Persilahkan klien berbaing dengan lengan yang lebih jarang digunakan biasanya
lengan kiri diletakkan pada lengan penyangga atau meja samping. Lengan harus
disangga dengan baik dan dapat digerakkan lurus atau sedikit bengkok sesuai
dengan posisi yang disukai oleh klinisi untuk memudahkan pencabutan.
Langkah 4
Raba semua kapsul untuk menentukan lokasinya. Untuk menentukan tempat
insisi, raba tanpa sarung tangan ujung kapsul dekat lipatan siku. Bila tak bida
meraba kapsul, lihat lokasi pemasangan pada rekam medic klien.
Petunjuk : Untuk memudahkan meraba kapsul, basahkan sedikit ujung jari
dengan air sabun atau larutan antiseptic seperti savlon atau betadine.dengan
cara ini dapat menghilangkan gesekan antara ujung jari klinisi dengan kulit
klien sehingga kapsul lebih muda diraba.
Langkah 5
Pastikan posisi dari setiap kapsul dengan membuat tanda pada kedua ujung
setiap kapsul dengan mengunakan spidol.
Langkah 6
Siapkan tempat alat-alat dan buka bungkus steril tanpa menyentuh alat-alat
didalamnya.
7. Tindakan Sebelum Pencabutan
Langkah 1
Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, keringkan dengan kain bersih.
Langkah 2
Pakai sarung tangan steril.
Langkah 3
41

Atur alat dan bahan sehingga mudah dipakai.


Langkah 4
Usap tempat pencabutan dengan kasa berantiseptik. Gunakan klem steril atau
DTT untuk memegang kasa tersebut. Mulai mengusap dari temat yangakan
dilakukan insisi kearah luar dengan gerakan melingkan sekitar 8-13 cmdan
biarkan kering sebelum memulei tindakan. Hapus antiseptic yang berlebihan
hnya bila tanda yang sudah dibuat tidak terlihat.
Langkah 5
Bila ada bunakan kain doek lubang untuk menutupi lengan. Lubang tersebut
harus cukup besar untuk memaparkan posisi kapsul. Dapat juga dengan
menutupi lengan dibawah tempat kapsul dipasang dengan menggunakan kain
steril. Pilihan lain adalah dengan kain yang telah didekontaminasi dan dijemur
dibawah sinar matahari.
Langkah 6
Sekali lagi raba seluruh kapsul untuk menentukan lokasinya.
Langkah 7
Setelah memastikan klien tidak alergi dengan obat anastesi, isi alat suntik
dengan 3 ml obat anastesi (1% tanpa epineprin). Masukkan jarum tepat dibawah
kulit pada tempat insisi akan dibuat, kemudian lakukan aspirasi untuk
memastikan jarum tidak masuk ke pembuluh darah. Suntikan sedikit obat
anastesi untuk memebuat seikit gelembung kecil dibawah kulit. Masukkan
jarum secara hati-hati dibawah ujung kapsul pertama sampai lebih kurang
sepertiga panjang kapsul (1 cm) tarik jarum pelan-pelan sambil menyuntikkan
obat anastesi (kira-kira 0,5 ml) untuk mengangkat ujung kapsul.
INGAT : Menyuntikkan obat anastesi local dibawah ujung kapsul sangat
menentukan kemudahan dan kecepatan proses pencabutan.
Tanpa mencabut jarum, geser ujung jarum dan masukkan ke bawah
kapsul berikutnya ulngi proses sini sampai semua ujung kapsul terangkat.
Jangan menyuntikkan obat anastesi di atas kapsul karena akan mengakibatkan
jarikan menjadi oedem sehingga kapsul sulit diraba. Bila perlu dapat
ditambahkan lagi anastesi, selama berlangsungnya proses pencabutan.
CATATAN : Untuk mencegah toksisitas dosis total tidak melebihi 10 ml(10 g/l)
dari 1% anastesi local tanpa epineprin.

42

8. Tindakan Pencabutan Kapsul


a. Metode standar
Langkah 1
Yentukan lokasi insisi yang mempunyai jarak sama dari ujung bawah semua
kapsul dekat siku, kira-kira 5mm dari ujung bawah kapsul. Bila jarak bila
jarak insisi tersebut sama maka insisi dilakukan pada tempai insisi dibuat
waktu pemasangan. Sebelum menentukan lokasi, pastikan ujung kapsul yang
berada dibawah insisi lama untiuk mencegah terpotongnya insisi.
Langkah 2
Pada lokasi yang telah dipilih, buat insisi yang melintang lebih kurang 4 mm
dengan menggunakan scalpel.
Langkah 3
Mulai dengan mencabut kapsul yang mudah diraba dari luar atau yang dekat
denagn daerah insisi.
Langkah 4
Dorong ujung kapsul ke arah insisi dengan jari tangan sampai ujung kapsul
tampak pada luka insisi. Saat ujung kapsul tampak pada luka insisi,
masukkan klem lengkung mosquito atau crile dengan lengkungan jepitan
mengarah keatas, kemudian jepit ujung kapsul dengan klem tersebut.
Catatan : Bila ujung kapsul sulit digerakkan kea rah insisi, kemungkinan hal
ini desebabkan oleh pembentukan jaringanfibrous yang mengelilingi kapsul.
(langkah 4A dan 4B menenai cara memotong jaringan tersebut)
Langkah 4a
Masukkan klem lengkung melalui luka insisi dengan lengkungan jepitan
mengarah ke kulit teruskan sampai ke ujung bawah dekat siku. Buka dan
tutup jepitan klem untuk memotong secara tumpul jaringan parut yang
mengelilingi kapsul.
Langkah 4b
Dorong ujung kapsul [ertama sedekat mungkin pada luka insisi. Sambil
menekan kapsul dengan jari telunjuk dan jari tengah, masukkan lagi klem
lengkung (lengkungan jepitan mengarah ke kulit), sampai di bawah ujung
kapsul, jepit kapsul di dikat ujungnya 5-10 mm dan secara hati-hati tarik
keluar melalui luka insisi.
Langkah 5

43

Bersuhkan dan buka jaringan ikat yang mengelilingi kapsul dengan cara
menggosok-gosok pakai kasa steril untuk memaparkan ujung bawah kapsul.
Cara lain : bila jaringan ikat tidak bias dibuka dengan cara menggosokgosokan kasa taril, dapat menggunakan skelsel secara hati-hati. Untuk
mencegah terpotongnya kapsul, gunakan sisi yang tidak stabil dari scalpel
waktu membersihkan jaringan ikat yang mengelilingi kapsul.
Langkah 6
Jepit kapsul yang telah terpapar dengan menggunakan klem kedua. Lepaskan
klem pertama dan cabut kapsul secara perlahan dan hati-hati dengan klem
kedua.kapsul akan mudah tercabut karena jaringan ikat yang
mengelilinginya tidak melekat pada karet silicon. Bila kapsul sulit dicabut
pisahkan dengan hati-hati sisa jaringan ikat yang menempel pad akapsul
dengan kasa steril atau scalpel.
Catatan : setelah kapsul berhasil dicabut taruh dalam mangkuk kecil berisi
klorin 0,5%,dan liat keadaan kapsul jika tenggelam berarti kapsul terpotong
dan jika kapsul terapung maka kaapsul utuh.
Langkah 7
Pilih kapsul selanjutnya yang akan dicabut dan tampak lebih mudah untuk
dicabut. Gunakan langkah 4-6 untuk mencabut kapsul. Sebelum mengakhiri
tindakan hitug untuk memastikan kapsul sudah dicabut. Tunjukkan kepada
klien agar klien puas dan percaya.
b. Metode Pencabutan Teknik U
Diameter dalam 2,2 mm
Klem yang dipakai mencabut kapsul teknik u merupakan modifikasi klem
yang digunakan untuk vasektomi tanpa pisau dengan diameter ujung klem
diperkecil dari 3.5 mm ke 2,2 mm.
Untuk menggunakan teknik ini raba daerah pencabutan dengan hati-hati
untuk menentukan dan menandai kapsul.selanjutnya cuci tangan dan pakai
sarung tangan staril. Usap lengan dengan larutan anti septic dan suntikan
obat anastesi local seperti yang telah di uraikan sebelumnya.
Langkah 1
Tentukan lokasi insisi pada kulit diantara kapsul ke tiga dan empat lebih
kurang 5 mm dari ujung kapsul dekat siku.
Langkah 2
44

Buat insisi kecil 4 mm memanjang sejajar diantara sumbu panjang kapsul


dengan menggunakan skapel.
Langkah 3
Masukkan ujung klem pemegang implant norplant dengan hati-hati ke luka
insisi.(dengan metode ini tidak perlu memisahkan jaringan secara tumpul
seperti pada metode standar.
Langkah 4
Fiksasi kapsul yang letaknya paling dekat dengan luka insisi dengan jari
telunjuk sejajar panjang kapsul.
Langkah 5
Masukkan klem lebih dalam sampai ujungnya menyentuh kapsul, buka klem
dan jepit kapsul dengan sudut yang tepat dada sumbu panjang kapsul lebih
dari 5 mm diatas ujung bawah kapsul setelahkapsul terjepit, tarik ke arah
insisi dan balikkan pegangan klem 180 kea rah bahi klien untuk
memaparkan ujung bawah kapsul.
Langkah 6
Bersihkan kapsul dari jaringan ikat yang meengelilinginya dengan
menggosok-gosok menggunakan kasa steril untuk memaparkanujung bawah
kapsul sehingga mudah dicabut. Bila tidak bisa dengan kasa, boleh dengan
menggunakan scalpel.
Langkah 7
Gunakan klem lengkung mosquito atau crile untuk menjepit kapsul yang
sudah terpapar. Lepaskan klem pemegang norplant dan cabut kapsul dengan
pelan-pelan dan hati-hati. Taruh kapsul yang telah dicabut dalam mangkuk
kecil yang berisi klorin 0,5 % untuk mendekontaminasi sebelum dibuang.
Kapsul akan keluar denagn mudah karena jaringan ikat tidak melekat pada
kapsul. Bila kapsul tidak bias keluar dengan mudah, bersihkan kembali
jaringan ikat yang mengelilinginya dengan menggosok-gosok dengan kasa
atau sisi klem yang tidak tajam pada scalpel.
Langkah 8
Pencabutan kapsul berikutnya adalah yang tampak paling mudah dicabut.
Gunakan teknik yang sama untuk mencabut kapsul berikutnya.
Sebelum mengakhiri tindakan hitung kembali jumlah kapsul dan tunjukkan
pada klien.

45

9. Kapsul yang Sulit Dicabut


Kadang-kadang satu atau beberapa kapsul sulit dicabut. Sebagai contoh,
meskipun jaringan parut telah dipotong secara tumpul, ujung kapsul tidak dapat
didorong mendekati luka insisi atau kapsul dipasang terlalu dalam (misalnya ke
dalam jaringan subkutan atau jaringan lemak). Bila ini terjadi, teknik U dapat
digunakan untuk mencabut kapsul tersebut. Cara lain, ikuti langkah-langkah di
bawah ini untuk mencabut kapsul :
Langkah 1
Raba kedua ujung kapsul dengan jari telunjuk dan jari tengah. Letakkan jari
tengah pada ujung kapsul yang dekat bahu dan jari telunjuk pada ujung kapsul
yang dekat siku, kemudian dorong kapsul sedekat mungkin kea rah insisi.
Langkah 2
Masukkan klem lengkung ke dalam luka insisi sampai ujung-ujung kapsul
untuk memfiksasi.
Langkah 3
Jepit kapsul dari bawah dengan klem lengkung

Langkah 4
Jangan mencoba untuk menarik kapsul ke luar oleh karena ujung klem yang
sekarang masuk ke dalam luka insisi lebih kurang 1 sampai 2 cm. lebih baik
sambil meneruskan mendorong ujung kapsul kea rah insisi, balikkan (flip)
pegangan klem 1800 ke arah bahu klien dan kemudian pegang klem dengan
tangan yang berlawanan.
Catatan : Bila setelah klem dibalikkan, kapsul belum terlihat (Langkah 4) putar
(twist) klem 1800 ke arah sumbu utamanya. Tarik klem hati-hati sehingga ujung
kapsul terlihat pada luka insisi dari sisi yang berlawanan dengan klem.
Langkah 5
Bersihkan dan buka jaringan ikat yang mengelilingi kapsul dengan menggosokgosok pakai kasa steril untuk memaparkan ujung kapsul. Cara lain bila jaringan

46

ikat tidak bisa dibuka dengan menggosok-gosok pakai kasa steril, dapat
menggunakan scalpel.
Langkah 6
Setelah jaringan ikat yang mengelilingi kapsul terbuka, gunakan klem kedua
untuk menjepi kapsul yang sudah terpapar. Lepaskan klem pertama dan cabut
kapsul dengan klem kedua.
Langkah 7
Sisa kapsul lain yang sulit dicabut, dapat dicabut dengan menggunakan
teknik yang sama. Bila perlu dapat ditambahkan lagi anastesi local untuk
mencabut sisa kapsul.
a. Metode Pencabutan Teknik Pop Out
Pada tahun 1992, Darney, Klaisle, dan Walker melaporka metode
pencabutan yang sederhana untuk mencabut beberapa atau seluruh kapsul
Norplant. Metode ini tanpa menggunakan klem dan disebut teknik Pop
Out. Teknik pencabutan ini dapat mengurangi rasa sakit maupun perdarahan
dan biasanya luka insisi lebih kecil. Demikian juga trauma ataupun
perdarahan di bawah kulit lebih sedikit dan jaringan parut yang terjadi lebih
kecil bahkan sering tidak tampak. Teknik ini akan mengurangi risiko robek
pada kapsul selama tindakan pencabutan. Satu-satunya kerugian dan teknik
ini adalah tidak dapat dilakukan bila lokasi kapsul tidak baik (misalnya tidak
dalam pola kipas) pada waktu dipasang atau dipasang terlalu dalam.
Untuk menggunakan teknik ini, raba tempat pencabutan secara hati-hati
untuk menentukan dan menandai kapsul. Selanjutnya, cuci tangan dan pakai
sarung tangan steril atau DTT. Usap lengan dengan larutan antiseptic dan
suntikan obat anastesi local seperti yang telah diuraikan sebelumnya.
Langkah 1
Raba ujung-ujung kapsul di daerah dekat siku untuk memilih salah satu
kapsul yang lokasinya terletak di tengah-tengah dan mempunyai jarak yang
sama dengan ujung kapsul lainnya. Dorong ujung bagian atas kapsul (dekat

47

bahu klien) yang telah dipilih tadi dengan menggunakan jari. Pada saat ujung
bagian bawah kapsul (dekat siku) tampak jelas di bawah kulit, buat insisi
kecil (2-3 mm) di atas ujung kapsul dengan menggunakan scalpel.
Langkah 2
Lakukan penekanan dengan menggunakan ibu jari dan jari tangan lainnya
pada ujung bagian bawah kapsul untuk membuat ujung kapsul tersebut tepat
berada di bawah tempat insisi.
Langkah 3
Masukkan ujung tajam scalpel ke dalam luka insisi sampai terasa menyentuh
ujung kapsul. Bila perlu, potong jaringan ikat yang mengelilingi ujung
kapsul sambil tetap memegang kapsul dengan ibu jari dan jari telunjuk.
Catatan : Bila akan menggunakan scalpel untuk memotong jaringan ikat
yang menutupi ujung bawah kapsul, harus hati-hati jangan sampai kapsul
ikut terpotong.

Langkah 4
Tekan jaringan ikat yang sudah terpotong tadi dengan kedua iu jari sehingga
ujung bawah kapsul terpapar keluar.
Langkah 5
Tekan sedikit ujung atas kapsul (dekat bahu) sehingga kapsul muncul (pop
out) pada luka insisi dan lengan mudah dapat dipegang dan dicabut Setelah
kapsul pertama berhasil dicabut, kapsul berikutnya akan muncul dengan
menggunakan teknik yang sama.
Ingat : Untuk mengurangi risiko putusnya kapsul, dorong kapsul dengan
hati-hati. Gunakan penekanan seringan mungkin untuk memunculkan
kapsul, pada waktu mencabut kapsul yang sudah muncul tersebut juga harus
hati-hati.

48

Kemungkinan tidak seluruh kapsul dapat dicabut dengan teknik ini. Bila
menemui kapsul yang sulit dicabut dengan teknik ini, gunakan metode
pencabutan yang lain.
Setelah keenam kapsul berhasil dicabut dan dihitung kembali jumlahnya,
luka insisi ditutup dengan band aid atau kasa steril dan plester. Pembalut
tekan biasanya tidak diperlukan karena teknik pop out ini tidak
menyebabkan atau hanya sedikit merusak jaringan (subkutaneus) di tempat
pencabutan.
10. Petunjuk Pencabutan
a. Kapsul yang Sulit Dicabut
Kadang-kadang kapsul tidak bisa dicabut semuanya pada kunjungan
pertama. Jangan dipaksaan untuk mencabut 1 atau 2 kapsul sisa yang sulit
dicabut. Aturan yang umum adalah bila seluruh kapsul tidak bisa dicabut
dalam waktu 20 sampai 30 menit atau klien tampak gelisah maka cara yang
terbaik adalah menghentikan tindakan pencabutan, memulangkan klien dan
meminta datang kembali bila luka insisi sudah benar-benar sembuh (sekitar
empat sampai enam minggu). Biasanya kapsul yang tersisa tersebut akan
teraba dan dapat dicabut pada kunjungan kedua.
Ingat : Bila klien tidak ingin hamil, harus diberi metode kontrasepsi
pengaman untuk dipakai selam menunggu pencabutan kapsul yang tersisa.
b. Kapsul yang Tidak Dapat Diraba
Ada 2 cara untuk menentukan lokasi kapsul yang dipasang terlalu
dalam sehingga tidak bisa diraba dengan jari yaitu dengan sinar X dan
ultrasound. Dengan menggunakan bahan radiopaque biasanya dapat
ditentukan dengan sinar X (pasang pada 50-55 kilovolts dan 4-5 miliamper,
dengan waktu pemaparan 0,03 detik). Kedalamannnya tidak dapat
ditentukan dengan sinar X, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan lebih
lanjut untuk memastikan lokasi kapsul.

49

Dengan ultrasound, bayangan yang ditimbulkan oleh kapsul dapat


ditentukan (contohnya suatu bayangan dengan daerah yang tidak ada ekho
akan tampak di bawah masing-masing kapsul). Penyetelan khusus (posisi
probe ultrasound) mungkin diperlukan untuk memusatkan gambar pada
ultrasound.
c. Kapsul yang Putus
Pencabutan akan lebih sulit bila kapsul terputus pada waktu berusaha
mengeluarkannya. Sekali kapsul putus, maka ada kemungkinan akan putus
lagi setiap kali melakukan jepitan dengan klem. Kadang-kadang diperlukan
insisi baru di ujung atas kapsul (dekat bahu) pada pencabutan kapsul yang
sudah putus sehingga sisa kapsul tersebut dapat dicabut.
11. Pemasangan Kedua
Bila klien ingin meneruskan memakai implant, maka satu set kapsul yang baru
dapat segera dipasang setelah selesai pencabutan. Dari hasil pengamatan,
tidak didapatkan perbedaan yang bermakna antara kadar Levonorgestrel
setelah pemasangan pertama dengan pemasangan kedua pada tempat yang
sama maupun pada lengan yang lain.

Kapsul yang baru dapat dipasang melalui insisi dan arah yang sama dengan

yang terdahulu.
Pilihan lain, kapsul dipasang dengan arah yang berlawanan. Saat
memasang dengan arah yang berlawanan, pastikan kapsul tidak terpasang

terlalu dekat dengan siku karena akan mengganggu gerakan siku.


Insisi baru hanya dilakukan bila terlalu banyak jaringan ikat yang rusak
pada tempat pemasangan pertama atau bila tidak ada tempat yang cukup

antara tempat insisi dan lipatan siku.


Bila pada tempat pencabutan tidak memungkinkan untuk dipasang lagi atau
atas permintaan klien, maka pemasangan satu set kapsul yang baru dapat
dilakukan pada lengan yang lain.

50

12. Tindakan Setelah Pencabutan Kapsul


a. Menutup Luka Insisi
Bila klien tidak ingin melanjutkan pemakaian implant lagi, bersihkan
tempat insisi dan sekitarnya dengan menggunakan kasa berantiseptik.
Gunakan klem untuk memegang kedua tepi luka insisi selama 10 sampai
15 detik untuk mengurangi perdarahan dari luka insisi, kemudian

dilanjutkan dengan membalut luka insisi.


Dekatkan kedua tepi luka insisi kemudian tutup dengan band aid
(plester untuk luka ringan) atau kasa steril dan plester.
Luka insisi tidak perlu dijahit, karena mungkin dapat menimbulkan
jaringan parut. Periksa kemungkinan adanya perdarahan.

13. Instruksi kepada Klien untuk Perawatan Luka di rumah


Beri tahu klien mungkin akan timbul memar, pembengkakan dan kulit
kemerahan pada daerah pencabutan selama beberapa hari, keadaan ini

normal.
Jaga luka insisi tetap kering dan bersih paling sedikit selama 48 jam (dapat

terjadi infeksi bila luka insisi basah pada waktu mandi).


Bila memakai pembalut tekan jangan dibuka selam 48 jam dan band aid

boleh dibuka setelah luka insisi sembuh (biasanya 3 sampai 5 hari).


Klien dapat segera melakukan pekerjaan rutin. Hindari benturan atau

tekanan pada tempat insisi dan mengangkat beban yang berat.


Setelah sembuh, luka insisi boleh dicuci dan disentuh dengan tekanan

normal.
Segera kembali ke klinik bila terdapat tanda-tanda infeksi seperti demam,
radang (kemerahan dan panas) pada tempat insisi atau sakit di lengan
selama beberapa hari.

51

Beritahu klien kapan kembali ke klinik untuk perawatan tindak lanjut, bila
diperlukan. Diskusikan apa yang harus dilakukan bila klien mengalami
masalah. Jawab semua pertanyaan klien.
Beritahu klien bahwa jaringan ikat di lengan (alur tempat bekas kapsul)

mungkin masih tetap terasa dan akan menghilang setelah beberapa bulan
kemudian.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Alat kontrasepsi susuk atau implan berisi lovonorgestrel, terdiri dari 6 kapsul
yang diinsersikan di bawah kulit lengan atas bagian dalam, kira-kira 6-10 cm dari
lipat siku. Indikasi penggunaan KB susuk adalah pemakaian KB yang jangka
waktu lama, masih berkeinginan punya anak lagi, tapi jarak antara kelahirannya
tidak terlalu dekat, tidak dapat memakai jenis KB yang lain. Banyak alasan dapat
dikemukakan mengapa implant dikembangkan dan diperkenalkan sebagai cara
KB yang baru. Alasan-alasan tersebut antara lain implant merupakan cara KB
yang sangat efektif dalam mencegah kehamilan dan dapat mengembalikan
kesuburan secara sempurna, tidak merepotkan. Setelah pemasangan, akseptor
tidak perlu melakukan atau memikirkan apa-apa misalnya pada penggunaan pil.
Implant merupakan cara KB yang ideal bagi ibu yang tidak amau mempunyai
anak lagi, akan tetapi belum siap untuk melakukan sterilisasi.
B. Saran

52

Dalam memasang implant di perlukan orang yang berkompeten dalam


bidangnya, seperti bidan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh bidan dalam
pemasangan implant adalah, teknik, steril, sebaiknya bidan yang akan memasang
implant sudah melakukan konseling kepada ibu dan keluarga sehingga pilihan
implant merupakan pilihan yang tepat untuk ibu dan keluarga, dan ibu mengetahui
efek samping maupun keuntungan dari implant tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
BKKBN. 2010. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo.
Hartanto, Hanafi. 2003. Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan.
Noviawati, Dyah, Sujiyatini. 2009. Panduan lengkap pelayanan KB terkini.
Jogjakarta: Nuha Medika.

53