Anda di halaman 1dari 19

A.

Definisi
Hipotiroid adalah suatu kondisi yang dikarakteristikkan oleh produksi hormon
tiroid yang rendah. Ada banyak kekacauan-kekacauan yang berakibat pada hipotiroid.
Kekacauan-kekacauan ini mungkin langsung atau tidak langsung melibatkan kelenjar
tiroid.Karena hormone tiroid mempengaruhi pertumbuhan, dan banyak proses-proses sel.
Hormone tiroid yang tidak memadai mempunyai konsekuensi-konsekuensi yang meluas
untuk tubuh.
Hipertiroidisme adalah suatu keadaaan hipometabolik akibat defisiensi hormone
tiroid yang dapat terjadi pada setiap umur.(Nic - Noc, 2013)
Hipotiroid adalah suatu penyakit akibat penurunan fungsi hormon tiroid yang
diikuti tanda dan gejala yang mempengaruhi sistem metabolisme tubuh. Faktor
penyebabnya akibat penurunan fungsi kelanjar tiroid, yang dapat terjadi kongenital atau
seiring perkembangan usia. Pada kondisi hipotiroid ini dilihat dari adanya penurunan
konsentrasi hormon tiroid dalam darah disebabkan peningkatan kadar TSH (Tyroid
Stimulating Hormon).
Hipotiroidisme adalah suatu sindroma klinis akibat dari defisiensi hormontiroid,
yang kemudian mengakibatkan perlambatan proses metabolik. Hipotiroidisme pada bayi
dan anak-anak berakibat pertambahan pertumbuhan dan perkembangan jelas dengan
akibat yang menetap yang parah seperti retardasi mental. Hipotiroidisme dengan awitan
pada usia dewasa menyebabkan perlambatan umum organisme dengan deposisi
glikoaminoglikan pada rongga intraselular, terutama pada otot dan kulit,yang
menimbulkan gambaran klinis miksedema. Gejala hipotiroidisme pada orang dewasa
kebanyakan reversibel dengan terapi (Anwar R, 2005).

A. Etiologi
Hipotiroid adalah suatu kondisi yang sangat umum.Diperkirakan bahwa 3% sampai
5% dari populasi mempunyai beberapa bentuk hipotiroid. Kondisi yang lebih umum
terjadi pada wanita dari pada pria dan kejadian-kejadiannya meningkat sesuai dengan
umur.

Etiologi dari hipotiroidisme dapat digolongkan menjadi tiga tipe yaitu (Nic Nok:2013):
1. Hipertiroid primer
Mungkin disebabkan oleh congenital dari tyroid (kretinisme), sintesis hormone yang
kurang baik, defisiensi iodine (prenatal dan postnatal),obat anti tiroid, pembedahan
atau terapi radioaktif untuk hipotiroidisme, penyakit inflamasi kronik seperti penyakit
hasimoto, amylodosis dan sarcoidosis
2. Hipotiroid sekunder
Hipertiroid sekunder berkembang ketika adanya stimulasi yang tidak memadai dari
kelenjar tiroid normal, konsekwensinya jumlah tiroid stimulasing hormone (TSH)
meningkat.Ini mungkin awal dari suatu mal fungsi dari pituitary atau hipotalamus. Ini
dapat juga disebabkan oleh resistensi perifer terhadap hormone tiroid
3. Hipotiroid tertier / pusat
Hipertiroid tertier dapat berkembang jika hipotalamus gagal untuk memproduksi
tiroid releasing hormone (TRH) dan akibatnya tidak dapat di stimulasi pituitary untuk
mengeluarkan TSH.Ini mungkin berhbbungan dengan sesuatu tumor/lesi destruktif
lainnya diarea hipotalamus.Ada bentuk utama dari goiter sederhana yaitu endemic dan
sporadic.Goiter endemic prinsipnya disebabkan oleh nutrisi, defisiensi iodine.Ini
mengalah pada goiter belt dengan karakteristik area geografis oleh minyak dan air
yang berkurang dan iodine.
Sporadic goiter tidak menyempit ke area geografik lain. Biasanya disebabkan oleh :
a. Kelainan gebetik yang dihasilkan karena metabolisme iodine yang salah
b. Ingesti dari jumlah besar nutrisi goiterogen (agen produksi goiter yang
menghambat produksi T4) seperti kobis, kacang, kedelai,buah persik, bayam,
kacang polong, strawberry, dan lobak. Semuanya mengandung goitogenik
glikosida
c. Ingesti dari obat goitrogen seperti thioureas (propylthiracil) thocarbomen,
(aminothiazole, tolbutamid)
B. Patofisiologi
Kelenjar tiroid membutuhkan iodine untuk sintesis dan mensekresi hormone tiroid.
Jika diet seseorang kurang mengandung iodine atau jika produksi dari hormone tiroid
tertekan untuk alasan yang lain, tiroid akan membesar sebagai usaha untuk kompendasi
dari kekurangan hormone. Pada keadaan seperti ini, goiter merupakan adaptasi penting
pada suatu defisiensi hormone tiroid.Pembesaran dari kelenjar terjadi sebagai respon
untuk meningkatkan respon sekresi pituitary dari TSH.TSH menstimulasi tiroid untuk
mensekresi T4 lebih banyak, ketika level T4 darah rendah. Biasanya, kelenjar akan

membesar dan itu akan menekan struktur di leher dan dada menyebabkan gejala respirasi
disfagia.
Penurunan tingkatan dari hormone tiroid mempengaruhi BMR(Basal Metabolic
Rate) secara lambat dan menyeluruh. Perlambatan ini terjadi pada seluruh proses tubuh
mengarah pada kondisi achlorhydria (pennurunan produksi asam lambung), penurunan
traktustrointestinal, bradikardi, fungsi pernafasan menurun, dan suatu penurunan produksi
panas tubuh.
Perubahan

yang

paling

penting

menyebabkan

penurunan

tingkatan hormone tiroid yang mempengaruhi metabolisme lemak. Ada


suatu peningkatan hasil kolesterol dalam serum dan level trigliserida
dan

sehingga

klien

berpotensi

mengalami

arteriosclerosis

dan

penyakit jantung koroner. Akumulasi proteoglikan hidrophilik di rongga


interstitial seperti rongga pleural, cardiac, dan abdominal sebagai
tanda dari mixedema.
Hormon tiroid biasanya berperan dalam produksi sel darah
merah, jadi klien dengan hipotiroidisme biasanya menunjukkan tanda
anemia karena pembentukan eritrosit yang tidak optimal dengan
kemungkinan kekurangan vitamin B12 dan asam folat (Lukman and
Sorrensons, 1993: 1810; Rumaharbo, H, 1999)

C. Woc
Primer

Sekunder

Tertier

Defisiensi iodium,
kretinim

Kelenjar tiroid
abnormal

Disfungsi TRH
Hipotalamus

TSH

Malfungsi hipotalamus

Hormon tiroid

hipotiroidisme

TSH Merangsang kelenjar


tiroid untuk mensekresi

Laju BMR

Gangguan metabolic
lemak

Peningkatan kolesterol
trigliserida

Kelenjar tiroid
membesar
Produksi panas

Achlorhyria
Menekan struktur
leher dan dada

Gangguan
respirasi disfagia

Depresi ventilasi

Dypsnea

Kekurangan vit
B12 & asam folat

Gangguan traktus
gastroentestinal

Pembentukan
eritrosit abnormal

Peristaltik usus

Konstipasi

MK : gangguan
eliminasi alvi

MK : pola nafas
tidak efektif

MK :
hipotermi

Oklusi pembuluh
darah

Produksi sel darah


merah
Suplai darah ke
Anemia

kelemahan
MK : intoleransi
aktifitas

MK :
Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh

Arteriosclerosis

jaringan otak

Hipoksia

MK : Perubahan pola
pikir

Jantung koroner

MK : Penurunan
curah jantung

D. Manifestasi Klinis
1. Kulit dan rambut
a. Kulit kering, pecah-pecah, bersisik dan menebal
b. Pembengkakan, tangan, mata, dan wajah
c. Rambut rontok, alopeksia, kering dan pertumbuhannya buruk
d. Tidak tahan dingin
e. Pertumbuhan kuku buruk, kuku menebal
2. Muskuluskeletal
a. Volume otot bertambah glossomegali
b. Kejang otot, kaku, paramitoni
c. Atralgia dan efusi synovial
d. Osteoporosis
e. Pertumbuhan tulang terhambat pda usia muda
f. Umur tulang tertinggal dibandingkan usia kronologis
g. Kadar fosfatase alkali menurun
3. Neurologic
a. Letargi dan mental menjadi lambat
b. Aliran darah menurun
c. Kejang, koma, dementia, psikosis (gangguan memori, perhatian
kurang, penurunan reflek tendon)
d. Ataksia (serebelum terkena)
e. Gangguan saraf (carfal tunnel)
f. Tuli perseptif , rasa kecap, penciuman terganggu
4. Kardiorespiratorik
a. Bradikardi, distritmia, hipotensi
b. Curah jantung menurun, gagal jantung
c. Efusi pericardial (sedikit, temponade sangat jarang)
d. Kardiomiopati di pembulih. EKG menunjukkan gelombang T
mendatar /inverse
e. Penyakit jantung iskemik
f. Hipotensilasi
g. Efusi pleura
h. Dipsnea
5. Gastrointestinal
a. Konstipasi, anoreksia, peningkatan BB, distensi abdomen
b. Obstruksi usus oleh efusi peritoneal
c. Aklorhidria, antibody sel parietal gaster, anemia pernisiosa
6. Renalis
a. Aliran darah ginjal berkurang, GFR menurun
b. Retensi air (volume plasma berkurang)
c. Hipokalsemia
7. Hematologi
a. Anemia normokrom normostik
b. Anemia mikrositik / makrositik
c. Gangguan koagulasi ringan
8. Sistem endokrin

a. Pada perempuan terjadi perubahan menstruasi seperti amenore/


masa menstruasi yang memanjang, menoragi dan galaktore
dengan hiperprolaktemi
b. Gangguan fertilitas
c. Gangguan hormone pertunbuhan dan respon ACTH, hipofisis
terhadap insulin akibat hipoglikemia
d. Gangguan sintesis kortison, kliren kortison menurun
e. Insufisiensi kelenjar adrenal autoimun
f. Psikologis / emosi : apatis, agitasi, depresi, paranoid, wajah
seperti bulan (moon face), wajah kasar, suara serak, pembesaran
leher, lidah tebal, sensitifitas terhadap opioid, haluran urin
menurun, lemah,ekspresi wajah kosong dan lemah. (Stevenson, J.
C& Chahal, P, 1993:52-53)
E. Pemeriksaan Diasnotik
a. Untuk mendiagnosis hipotiroidisme primer, kebanyakan dokter
hanya mengukur jumlah TSH (thyroid stimulating hormone) yang
dihasilkan oleh kelenjar hipofisis
b. Level TSH yang menunjukkan kelenjar tiroid tidak menghasilkan
hormone tiroid yang adekuat terutama toksin

(T4) dan sedikit

triodotironin (T3)
c. Tetapi untuk mendiagnosis hipotiroidisme sekunder dan tertier tidak
dapat dengan hanya mengukur level TSH
d. Uji darah yang perlu ilakukan (uji TSH normal dan hipotiroidisme
masih disuspek), sbb:
1) Free triodothyronin (ft3)
2) Free levothyroxin (ft4)
3) Total T3
4) Total T4
5) 24 hour urin free T3
F. Penatalaksanaan
Hipotiroidisme diobati dengan menggantikan kekurangan hormon
tiroid, yaitu dengan memberikan sediaan per oral (lewat mulut) yang
banyak disukai adalah hormon tiroid buatan T4. Bentuk yang lain
adalah tiroid yang dikeringkan (diperoleh dari kelenjar tiroid hewan).
Pengobatan pada pendeita usia lanjut dimulai dengan hormone
tiroid dosis rendah, karena dosis yang terlalu tinggi bisa menyebabkan
efek samping yang serius. Dosisnya diturunkan secara bertahap

sampai kadar TSH kembali normal. Obat ini biasanya terus diminum
sepajang hidup pendarita.
Pengobatan selalu mencakup pemberian tiroksin sintetik sebagai
pengganti hormone tiroid.Apabila penyebab hipotiroidisme berkaitan
dengan tumor susuna saraf pusat, maka dapat diberikan kemoterapi,
radiasi, atau pembedahan.

ASUHAN KEPERAWATAN
Seorang wanita, usia 28 tahun datang ke poli penyakit dalam RS Sakinah
dengan keluhan sesak nafas, sulit menelan, tidak nafsu makan, sembelit
dan intoleransi terhadap dingin. BB 30 kg, tb 160 cm. Riwayat penyakit:
dua tahun yang lalu pasien pernah melakukan pengobatan di puskesmas
dengan keluhan ada benjolan di leher depan dan nyeri tekan,pasien juga
merasakan dada sering berdebar-debar dan badannya tetap kurus.hasil
pemeriksaan fisik jantungnya membesar, nadi <60 kali/menit, matanya
exofthalmus, benjolan di leher, dan rasa nyeri. Hasil pemeriksaan fisik
kulit dingin, pucat, kering, bersisik, dan menebal, rambut kering, kasar,
rambut rontok.Saat diajak bicara fungsi intelektual yang lambat, berbicara
lambat dan terbata bata, gangguan memori, perhatian kurang, bingung,
pertanyaan harus diulang ulang karena pendengaran pasien berkurang,

parastesia, penurunan refleks tendom. Hasil pemeriksaan penunjang


kadar T3 15pg/dl, dan T4 20 g/dl dan kadar THS pada pasien tersebuut
yaitu <0,005IU/ml. Diagnosa medis pasien hipotiroid.
1. Pengkajian
a. Identitas :
Nama
:Ny.X
Umur
: 28 Tahun
Jenis kelamin : perempuan
b. Keluhan utama : klien mengalami sesak nafas
c. Riwayat kesehatan sekarang : sesak nafas, sulit menelan, tidak
nafsu makan, sembelit dan intoleran terhadap dingin
d. Riwayat kesehatan dahulu : dua tahun yang lalu pasien pernah
melakukan pengobatan di puskesmas dengan keluhan ada benjolan
di leher depan dan nyeri tekan,pasien juga merasakan dada sering
berdebar-debar dan badannya tetap kurus
e. Riwayat kesehatan keluarga : tidak ada riwayat keluarga yang
menyertai
f. Pemeriksaan fisik
1) Rambut
:
Inspeksi
: Rambut kering, Rambut rontok
Palpasi : Rambut Kasar
2) Mata :
Inspeksi
: mata pasien exofthalmus (melotot)
3) Telinga : pengalami gangguan pendengaran
4) Leher :
Inspeksi : ada benjolan di leher depan
Palpasi : tredapat pada nyeri tekan
5) Dada
:
Palpasi : berdebar - debar
6) Integumen:
Inspeksi
: pucat, kering, bersisik, pertumbuhan kuku buruk,
Palpasi : Kulit dingin, kuku menebal,
7) Kebiasaan hidup sehari-hari :
1) Pola makan : pasien mengatakan sulit menelan, tidak nafsu
makan,
8) Pemeriksaan penunjang:
a)
Pemeriksaan kadar T3 dan T4 pada klien : kadar T3 15pg/dl,
dan T4 20 g/dl
b)
Pemerisaan
<0,005IU/ml

kadar

THS

pada

pasien

tersebuut

yaitu

B. WOC
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Hormone
tiroid
Hipotiroidism
e
TSH
merangsang
kelenjar tiroid

Gangguan
metabolisme
lemak
Peningkatan
kolestterol dan
trigliserida

Kelenjar tiroid
membesar
Menekan
struktur leher

Arteriosclerosis

Oklusi pembuluh
darah
Suplai darah ke jaringan
otak menurun

Hipoksia

MK:
Gangguan
pola pikir

Gerakan kelopak
mata relative
lambat terhadap
bola mata

Gangguanrespirasi

MK :
Keseimbang
an nutrisi
kurang dari
kebutuhan
tubuh

Depresi
Dispnea
MK: Pola
nafas tidak
efektif

Benjolan
leher /
nodul
MK :
Nyeri

Infeltrasi
limosif, sel
mask ke
jaringan orbital
Eksoftalm
us
MK :
Gangguan
persepsi

Fungsi
intelektual
menurun
Pendengar
an
berkurang
MK :
Gangguan
persepsi
sensori
(pendengaran)

C. ANALISA DATA
11.

12.

Data

13.

N
15.

gi
16.

Ds

klien

Do

dada

berdebar-debar
21.
Ds
:

klien

Masal

ah
Kelenjar

19.

Pola

tiroid

nafas

membesar

efektif

23.

Disfa

24.

tidak

Kesei

gia

mbangan

makan

gangguan

nutrisi

respirasi

kurang dari

Do :

kebutuhan

Badannya tetap kurus


Sembelit

26.

klien

18.

14.

mengatakan tidak nafsu


22.

25.

mengatakan sesak nafas


17.

20.

Etiolo

Ds

mengatakan

klien
terdapat

28.

Nodul

tiroid toksik

tubuh
29.
Nyeri
akut

benjolan di leher
27.
30.

Do : derdapat nyeri

tekan
31.
Ds

mengatakan

klien
sult

33.

Eksof

talmul

menutup kelopak mata


32.

Do

mata

36.

Ds

klien

41.
6

uan
sensori
(penglihatan

klien

mengeluh kebingungan
37.

Gangg

persepsi

melotot
35.

34.

38.

Hipok

sia

)
39.

Gangg

uan

Do :

pola

fikir

klien

42.

gangguan memori
Ds
:
klien

40.

mengalami
44.

Fung

45.

Gangg

mengatakan

si

uan

pendengaran berkurang

intelektual

persepsi

43.

Do

pertanyaan

meurun

sensori

harus di ulang-ulang

(pendengar
an)

46.
D. Diagnosis keperawatan
a. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan kelenjar tiroid
membesar
b. Nyeri akut berhubungan dengan nodultiroid toksik
c. Keseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan

tubuh

berhubungan dengan disfagia gangguan respirasi


d. Gangguanpersepsi sensori (penglihatan) berhubungan
dengan eksoftalmus
e. Gangguan pola pikir berhubungan dengan hipoksia
f. Gangguan persepsi sensori (pendengaran) berhubungan
dengan fungsi intelektual menurun
47.
E. Perencanaan
48.

Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan kelenjar

tiroid membesar
49.

Tujuan :Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x30

menit sesak berkurang.


50.

kriteria hasil : -pasien merasa nyaman dalam bernafas

51.
52.

Intervensi

-sesak berkurang
53.

1. Kaji dan catat status pernafasan


2. Bantu klien untuk berada pada
posisi

yang

nyaman

dan

memungkinkan ekspansi dada


maksimal
3. Berikan
kesempatan

pasien

beristirahat di antara tindakan

Rasional

Untuk mendeteksi tanda-tanda

awal gangguan
Untuk memudahkan bernafas
Untuk menghindari keletihan
Untuk membantu menurunkan distres
pernafasan

yang

disebabkan

hipoksia

untuk memperlancar pernafasan


4. Berikan oksigen sesuai program
54.
55.

Nyeri akut berhubungan dengan nodultiroid toksik

oleh

56.

Tujuan :setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 230

menit nyeri berkurang.


57.
kriteria hasil :nyeri berkurang, pasien merasa nyaman
58.
Intervensi
59.
Rasional
1. Kaji jenis dan tingkat nyeri
- Pengkajian
berkelanjutan
pasien.
2. Minta

pasien

membantu menyakinkan bahwa

untuk

penanganan dapat memenuhi

menggunakan sebuah skala 1


sampai

10

kebutuhan

untuk

menjelaskan tingkat nyerinya

(dengan niali 10 menandakan


tingkat nyeri paling berat)
3. Berikan obat yang dianjurkan
untuk

mengurangi

dalam

mengurangi nyeri.
Untuk memfasilitasi pengkajian
yang

akurat

tentang

tingkat

nyeri pasien.
Untuk menentukan kefektifan

obat
Tindakan

nyeri,

bergantung pada gambaran

pasien

ini

meningkatkan

kesehatan, kesejahteraan, dan

nyeri pasien.
4. Atur periode istirahat tanpa

peningkatan

terganggu.

yang

tingkat

penting

energi,
untuk

pengurangan nyeri
60.
61.

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

berhubungan dengan disfagia gangguan respirasi


62.

Tujuan :setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24

jam nutrisi terpenuhi.


63.
64.
1. Beri

kriteria hasil :nafsu makan bertambah, nutrisi terpenuhi.


Intervensi
65.
Rasional
kesempatan
pasien
- Untuk membantu mengkaji

mendiskusikan alasan untuk


tidak

makan

untuk

tidak

dikonsumsi dan suplemen yang

makan
2. Observasi dan catat asupan
pasien (cair dan padat)
3. Tentukan makanan kesukaan
pasien dan usahakan untuk

penyebab gangguan makan


Untuk mengkaji zat gizi yang

diperlukan
Untuk
meningkatan

makan pasien
Makanan tersebut mencegah

nafsu

kerusakan protein tubuh dan

mendapatkan
tersebut.
4. Tawarkan

makan
-

suplemen

tinggi

protein, tinggi kalori, seperti


susu kocok, puding atau es
krim
5. Sajikan

makanan

memberikan kalori tinggi


Untuk membantu mencegah

malingering pada saat makan


67.
68.
69.

yang

membutuhkan sedikit dikerat


atau dikunyah
66.
70.
71.

Gangguanpersepsi sensori (penglihatan) berhubungan

dengan eksoftalmus.
72.

Tujuan :setelah dilakukan tindakan keperawatan selama3x24

jam eksoftalmus berkurang.


73.

kriteria hasil :rasa nyeri yang berhubungan dengan pada

jaringan mata berkurang.


74.
Intervensi
1. Obserfasi
adanya
edema
periorbital
2. Eveluasi ketajaman mata
3. Anjurkan
pasien
menggunakan

kaca

75.
Rasional
- Stimulasi umm dari stimulasi
-

akibat

mata

gelap
4. Bagian kepala tempat tidur
ditinggikan

adrenergic yang berlebihan


Oftalmopati infiltrative adalah

dari

peningkatan

jaringan retroorbital
Melindungi kerusakan kornea
Menurunkan edema jaringan
bila ada komplikasi

76.
77.

Gangguan pola pikir berhubungan dengan hipoksia

78.

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam

sesak pada klien berkurang


79.
kriteria hasil :sesak klien berkurang,
80.
Intervensi
81.
Rasional
1. Dokumentasikan dan laporkan
- Perubahan

dapat

perubahan proses pikir pasien

mengindikasikan peningkatan

setiap pergantian tugas jaga

atau penurunan kondisi yang

2. Panggil

pasien

dengan

namanya, beri tahukan nama


anda,

dan

kembali

realitas

informasikan

latar

82.

belakang

83.
- Untuk

(tempat, jam, tanggal)


3. Beri label dan letakkan barang
dan

foto

mendasari
Untuk memberikan orientasi

pasien

mengurangi

kebingungan

tetap

dan

menciptakan lingkungan yang

ditempatnya yang tetap

aman
84.
85.

Gangguanpersepsi sensori (pendengaran) berhubungan

dengan
86.

Tujuan :setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x30

menit pendengaran membaik.


87.

kriteria hasil : pasien mampu mengungkapkan perasaan

nyaman, pasien mampu mendengar.


88.
Intervensi
89.
Rasional
1. Biarkan
pasien
- Kesempatan pasien berbicara
mengungkapkan
perasaannya

tentang
tentang

penurunan pendengaran.
2. Tentukan cara yang efektif

penurunan

pendengarannya
-

meningkatkan.
Komunikasi yang

untuk berkomunikasi dengan

dengan

pasien, menggunakan sikap

meningkatkan

tubu,

perawatan

isyarat,

kata-kata,

dan

menuliskan
membaca

bibir.
3. Berikan orientasi realitas bila
pasien
kebingungan
disorientasi
91.
F. Implementasi

mengalami
atau

pasien

akan
terencana
akan
pemberian

90.
-

Agar interaksi pasien-staf lebih


efektif

1) mengkaji dan catat status pernafasan, membantu klien


untuk

berada

pada

posisi

yang

nyaman

dan

memungkinkan ekspansi dada maksimal, memberikan


kesempatan pasien beristirahat di antara tindakan untuk
memperlancar pernafasan, memberikan oksigen sesuai
program.
2) mengkaji jenis dan tingkat nyeri pasien, meminta pasien
untuk menggunakan sebuah skala 1 sampai 10 untuk
menjelaskan

tingkat

nyerinya

(dengan

niali

10

menandakan tingkat nyeri paling berat) ,memberikan obat


yang dianjurkan untuk mengurangi nyeri, bergantung pada
gambaran nyeri pasien, mengatur periode istirahat tanpa
terganggu.
3) memberi kesempatan pasien mendiskusikan alasan untuk
tidak makan untuk tidak makan, mengobservasi dan catat
asupan pasien (cair dan padat), menentukan makanan
kesukaan pasien dan usahakan untuk mendapatkan makan
tersebut, menawarkan suplemen tinggi protein, tinggi
kalori, seperti susu kocok, puding atau es krim, menyajikan
makanan

yang

membutuhkan

sedikit

dikerat

atau

dikunyah
4) mengobserfasi adanya edema periorbital, mengeveluasi
ketajaman mata, menganjurkan pasien menggunakan kaca
mata gelap, meninggikan bagian kepala tempat tidur
5) mendokumentasikan dan laporkan perubahan proses pikir
pasien setiap pergantian tugas jaga, memanggil pasien
dengan

namanya,

informasikan

beri

kembali

tahukan

latar

nama

belakang

anda,

dan

(tempat,

jam,

tanggal), memberi label dan letakkan barang dan foto


pasien tetap ditempatnya yang tetap
6) membiarkan pasien mengungkapkan perasaannya tentang
penurunan pendengaran, menentukan cara yang efektif
untuk berkomunikasi dengan pasien, menggunakan sikap
tubu, isyarat, menuliskan kata-kata, dan membaca bibir,

Memberikan orientasi realitas bila pasien mengalami


kebingungan atau disorientasi
92.
93.
94.
95.
96.
97.
98.
99.

100.
A. KESIMPULAN
101.
Hipotiroid

PENUTUP

adalah suatu kondisi yang dikarakteristikkan

oleh produksi hormon tiroid yang rendah. Ada banyak kekacauan kekacauan yang berakibat pada hipotiroid. Kekacauan - kekacauan ini
mungkin langsung atau tidak langsung melibatkan kelenjar tiroid.Karena
hormone tiroid mempengaruhi pertumbuhan, dan banyak proses-proses
sel. Hormone tiroid yang tidak memadai mempunyai konsekuensikonsekuensi yang meluas untuk tubuh.
102. Hipertiroidisme adalah suatu keadaaan hipometabolik
akibat defisiensi hormone tiroid yang dapat terjadi pada setiap umur.
103. Hipotiroidisme diobati dengan menggantikan
kekurangan hormon tiroid, yaitu dengan memberikan
sediaan per oral (lewat mulut) yang banyak disukai adalah
hormon tiroid buatan T4. Bentuk yang lain adalah tiroid
yang dikeringkan (diperoleh dari kelenjar tiroid hewan).
B. SARAN
104. Peran Perawat dalam penangan hipotiroidisme dan
mencegah hipotiroidisme adalah dengan memberika asuhan keperawatan
yang tepat. Asuhan keperawatan yang tepat untuk klien harus dilakukan
untuk meminimalisir terjadinya komplikasi serius yang dapat terjadi
seiring dengan kejadian hipotiroidsme
105.
106.
107.
108.

109.
110.
111.
112.
113.
114.
115.
116.
117.
118.
119.

120.
121.

DAFTAR PUSTAKA

Taylor, M Cynthia, dan Sheila Sparks Ralph. 2002. Diagnosa

Keperawata dengan Rencana Asuhan.Jakarta.Buku Kedokteran.EGC.


122.

Nurarif, Huda Amin dan Hardhi Kusum, 2013.Aplikasi Asuhan

Keperawatan Dianosa Medis Dan Nanda Nic Noc.Yogyakarta. Media


Action
123.
124.

Http://www. Slideshare.net/septianraha/konsep-penyakit-hipotiroid