Anda di halaman 1dari 42

111111111111111111111

FARMASI PERAPOTEKAN

BU LATIFAH

DEFINISI-DEFINISI YANG BERKAITAN DENGAN FARMASI PERAPOTEKAN

Apotek : suatu tempat tertentu, tempat dilakukannya pekerjaan kefarmasian


dan penyaluran perbekalan farmasi pada masyarakat

Apoteker : mereka yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang


berlaku berhal melakukan pekerjaan kefarmasian di Indonesia sebagai
apoteker

Apoteker Pengelola Apotek (APA) : Apoteker yang telah diberi Surat Ijin
Apoteker (SIA)

Apoteker Pendamping (APEN) : Apoteker yang bekerja di apotek


disamping APA dan atau menggantikan apoteker pada jam-jam tertentu
pada hari buka apotek

Apoteker Pengganti (APENG) : Apoteker yang menggantikan APA selama


APA tersebut tidak berada ditempat lebih dari 3 bulan secara terus menerus,
telah memiliki surat ijin kerja dan tidak bertindak sebagai APA di apotek yang
lain

Asisten Apoteker (AA) : mereka yang berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku berhak melakukan pekerjaan kefarmasian sebagai
Asisten Apoteker

Perbekalan Farmasi : obat, bahan obat, obat asli Indonesia (obat


tradisional), bahan obat asli indonesia (bahan obat tradisional), alat
kesehatan dan kosmetik

Obat : bahan atau paduan bahan yang berasal dari alam, sintesis, mineral,
yang digunakan untuk diagnosis, memperbaiki, menyembuhkan penyakit
atau kelainantubuh atau bagian tubuh manusia atau hewan

Obat jadi : sediaan atau padua bahan yang siap digunakan untuk
mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam
rangka menegakkan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan,
peningkatan kesehatan dan kontrasepsi

Obat Tradisional : bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan


tambahan, hewan, mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari
bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk
pengobatan berdasarkan pengalaman

Obat generik : obat yang penamaannnya sesuai dengan nama resmi untuk
bahan aktif yang tercantum dalam FI atau INN

Obat paten : obat dengan nama dagang (trade names) yang penamaannya
sesuai dengan pabrikan

Obat palsu :

Golongan obat : Penggolongan yang dimaksudkan untuk peningkatan


keamanan dan ketepatan penggunaan serta pengamanan distribusi yang
terdiri atas :
- Obat bebas
- Obat keras
- Obat bebas terbatas
- Psikotropika
- Obat wajib apotek
- Narkotika

- Obat yang diproduksi oleh yang tidak berhak berdasarkan


perundang-undangan yang berlaku
- Obat yang tidak terdaftar
- Obat yang kadar berkhasiatnya menyimpang lebih dari
20% dari batas kadar yang telah ditetapkan

222222222222222222222

Sediaan farmasi : obat, bahan obat, obat tradisional, kosmetik


Obat wajib apotek (OWA) : obat keras tertentu yang dapat diserahkan
oleh apoteker kepada pasien tanpa resep dokter. Pada waktu penyerahan
disertai informasi yang lengkap

CARA PEMBUATAN OBAT YANG BAIK (CPOB = GMP)


Penuntun atau petunjuk yang menyangkut segala aspek dalam peroduksi dan
pengendalian mutu meliputi seluruh rangkaian pembuatan obat yang bertujuan
untuk menjamin agar obat yang dihasilkan senantiasa memenuhi persyaratan
mutu yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan penggunaan
TUGAS DAN FUNGSI APOTEK/APOTEKER
PP No. 25 tahun 1980, pasal 2, apotek :

Tempat pengabdian profesi seorang apoteker yang telah mengucapkan


sumpah jabatan

Sarana farmasi yang melaksanakan peracikan,


pencampuran dan penyerahan bahan obat atau obat

perubahan

bentuk,

Sarana penyalur perbekalan farmasi yang harus meyebarkan obat bermutu


kepada masyarakat secara meluas dan merata
Apotek sebagai tempat pengabdian apoteker, maka kehadiran apoteker
sangat diperlukan
KEHADIRAN APOTEKER DI APOTEK

Kehadiran apoteker di apotek bukan semata-mata disebabkan oleh ikatan


bisnis tetapi juga karena adanya kode etik, peraturan, standar profesi dan
sumpah apoteker

Beberapa alasan yang mendasari kehadiran apoteker di apotek adalah:

1.

Apabila APA berhalangan melakukan tugasnya pada jam buka apotek


dapat menunjuk apoteker pendamping

2.

Apotek wajib dibuka untuk melayani masyarakat sekurang-kurangnya


dari pukul 08.00 22.00

3.

Apoteker wajib melayani resep sesuai dengan tanggung jawab dan


keahlian profesinya yang dilandasi pada kepentingan masyarakat

4.
5.

Apoteker tidak diijinkan mengganti OGB dengan obat paten

6.

Apoteker wajib memberikan informasi tentang penggunaan obat secara


tepat, aman, rasional, atas permintaan masyarakat (OWA I & II)

7.

Pelayanan resep dokter, dokter gigi, dan dokter hewan sepenuhnya


tanggung jawab APA

8.

Apoteker berkewajiban menyediakan, menyimpan dan menyerahkan


perbekalan farmasi yang bermutu baik dan yang terjamin keabsahannya

9.

Apoteker harus mampu melayani informasi tentang perbekalan farmasi


kepada dokter, dan tenaga kesehatan lainnya

Apoteker wajib memberikan informasi berkaitan dengan penggunaan


obat yang diserahkan kepada pasien

10. Kepada

masyarakat mengenai khasiat, keamanan,


samping, kontraindikasi dari obat atau sediaan farmasi

bahaya,

efek

11. Jika apoteker menganggap bahwa dalam resep terdapat kekeliruan atau
penulisan resep yang tidak tepat, apoteker harus memberitahukan
kepada dokter penulis resep

333333333333333333333

12. Salinan resep harus ditandatangani oleh apoteker


13. APA, APEN, APENG dijinkan menjual obat keras yang dinyatakan sebagai
daftar obat wajib apotek (OWA) tanpa resep dokter
Sumpah dan janji apoteker :

14. Saya

akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena


pekerjaan saya dan keilmuan saya sebagai apoteker

15. Sekalipun

diancam saya tidak akan mempergunakan pengetahuan


kefarmasian saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum
kefarmasian

16. Sebagai

apoteker harus menjadi sumber informasi sesuai dengan


profesinya bagi masyarakat dalam rangka pelayanan dan pendidikan
kefarmasian

17. Sebagai

apoteker hendaknya menjauhkan diri dari usaha-usaha untuk


mencari keuntungan dirinya semata-mata yang bertentangan dengan
martabat dan tradisi luhur jabatan kefarmasian

18. Apabila APA

dan APEN karena hal-hal tertentu berhalangan melakukan


tugasnya, APA dapat menunjuk APENG

19. APENG

bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas pelayanan


kefarmasian selama yang bersangkutan bertugas menggantikan APA

Dari penjelasan di atas, kehadiran apoteker di apotek merupakan suatu


keharusan maka :

1.

Siapakah yang paling profesional dalam memberi informasi tentang obat


dari segi mutu ?

2.

Bagaimana cara menjelaskan kepada doketr tentang interaksi dalam


racikan yang mengandung krim dan fenol ?

3.

Apa yang harus diputuskan oleh apoteker bila dokter menulis dalam
resep yang tidak sesuai dengan usia pasien ?

4.

Siapakah yang kaan memberikan informasi farmakologi, farmakokinetik


atau kestabilan obat bila dokter membutuhkan ?

PENGADAAN, PENGELOLAAN DAN PENYIMPANAN OBAT


PENGELOLAAN PERBEKALAN DI APOTEK
Undang-undang No. 25 tahun 1992

1.

Pekerjaan kefarmasian adalah termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi,


pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan distribusi obat, pengelolaan
obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat dan obat
tradisional

2.

Segala kegiatan termasuk penerimaan, penyimpanan dan pengeluaran


barang yang berhubungan dengan kegiatan perapotekan

3.

Penerimaan pengadaan obat :

444444444444444444444

Berdasarkan
laporan
(de
facta)
dari
gudang,
bagian
pemesanan/pembelian memesan barang/obat ke PBF dengan Surat
Pemesanan (SP) yang ditandatangani oleh apoteker (2-3 rangkap untuk
PBF dan arsip)

PBF mengantar barang sesuai SP bersama-sama dengan faktur dari PBF

Copy faktur 1rangkap disimpan di apotek dan yang lain dikembalikan ke


PBF (aslinya untuk penagihan)

Copy faktur diproses di bagian administrasi apotek (dicatat stok awal


dan akhir, tanggal ED, dll)

Bagian penerimaan di apotek memeriksa barang, faktur dan SP


dicocokkan lalu di cap dan ditandatangani sebagai penerima

4.

Cara pemesanan : PBF dapat melayani permintaan atau pesanan obat dari
Apotek, RS, toko obat, sarana pelayanan kesehatan lainnya

5.

Penyaluran obat keras oleh PBF hanya boleh dilakukan oleh PBF (apoteker
penanggung jawab), Apotek (APA), RS (Apoteker penanggung jawab instalasi
farmasi), institusi yang diijinkan (apoteker penanggung jawab)

6.

Pemesanan oleh apotek dilakukan melalui sales medical, telepon (kecuali


untuk obat keras) disertai dengan SP

7.

Untuk narkotika 1 SP hanya untuk 1 jenis narkotika. Pemesanan


langsung ke PBF yang have izin khusus (KIMIA FARMA)
1 obat dgn dosis berbeda2 maka SP_nya berbeda pula. Misal :

a)
b)
c)

Codein tab 10 mg/250 bj

1 kaleng

Codein tab 15 mg/250 bj

1 kaleng

Codein tab 20 mg/250 bj

1 kaleng

SP dibuat dalam 5 rangkap


Untuk golongan NARKOTIKA, pelaporan dilakukan setiap kali
melakukan pemesanan. Bila ingin memesan maka harus
melampirkan laporan sisa STOK yang lalu.
Kepada siapa saja laporan tersebut ditujukan.

Pengeluaran obat di apotek :

Jika ada gudang, pengeluaran barang dilakukan dengan 4 jalur :


- Ke peracikan
- Ke DO faktur (untuk permintaan pihak
lain)
- Ke penjualan bebas
- Ke pembuatan

Setiap pengeluaran harus segera dicatat pada kartu stok untuk narkotika
1 SP hanya untuk 1 jenis narkotika. Pemesanan langsung ke Kimia Farma
dan cash

Menggunakan sistem FIFO (FIRST IN FIRST OUT)

JALUR DISTRIBUSI OBAT (Permenkes No 918/Menkes/Per/X/1993)


Pabrik Farmasi

PBF/Distributor

Apotek

Toko Obat

Sarana kesehatan

555555555555555555555
Obat bebas/
terbatas

Obat keras/
Narkotika

Dokter

Konsumen

PBF/Distributor

Apotek

Rumah sakit

Apoteker harus tahu No. Registrasi dan Tanda-tanda masing-masing obat :

1.

Obat Bebas

2.

Obat Bebas Terbatas

3.

Obat Keras

4.

Narkotik

5.

Fitoterapi

6.

Obat generik berlogo (Generik)

Lingkaran berdiameter 1 cm dengan tepi hitam setebal 1 mm.


8. Pengelolaan dan penyimpanan obat

Obat merupakan racun, bahan kimia, bahan penyembuh atau bahan toksik
Penyimpanan obat :
Obat sebaiknya disimpan menurut :

Tempat : aman, bersih, tdk kena sinar matahari lgsg, sirkulasi udara
lancar

Susunan : alfabetis/abjad, mudah dicari, tidak pindah-pindah tempat


Sistem : menggunakan sistem FIFO (First In First Out)

Bagian : umumnya apotek mempunyai 3 unit / bagian yaitu : Penjualan


bebas, peracikan dan gudang
Pengelompokan obat atau sediaan farmasi :

666666666666666666666
Penyimpanan obat atau sediaan farmasi di apotek umumnya berdasarkan :

Bentuk sediaan

Merupakan tanggung jawab APA secara pribadi

Golongan obat [contoh : tablet/kapsul (padat), salep/krim (semi padat),


injeksi/infus (steril), larutan/suspensi/emulsi (cair), generik)]
Khusus untuk golongan narkotika :

9.

SP harus disertai alamat APA


Pengelolaannya biasanya dikuasakan kepasa asisten kepala
Penyimpanan dalam lemari yang terdiri dari 2 bagian dengan kunci yang
berbeda :
I
: Morfin, petidin dan garam-garamnya
II
: Narkotik lainnya seperti kodein, doveri, dll

Juga dibedakan antara pemakaian sehari-hari dan persediaan


Penyimpanan obat atau sediaan obat di apotek :
Obat atau senyawa kimia : organik atau non organik
Terjadi reaksi : redoks, hidrolisis, polimerisasi, dekarboksilasi, degradasi
Efek reaksi kimia :

Penurunan efek hayati obat

Dalam wadah yang baik

Peningkatan efek toksik


Tidak berefek hayati
Memberikan efek yang berbeda

Efek alergi, dll


Penyimpanan obat/sediaan farmasi sebaiknya :
Tidak kena cahaya matahari langsung
Lingkungan tidak lembab
Wadah harus kedap

Contoh beberapa kerusakan obat

1.

Hidrolisis (adanya air/uap air, suasana lingkungan asam-basa, ikatan ester


sangat lemah)

a.

Asetosal (aspirin) asam salisilat + asam asetat

777777777777777777777

b.

Kloramfenikol (D-theo-1-p-nitrophenyl-2-dichloroacetamida-1,3propandiol) ? (senyawa yang tidak diketahui) + dikloroasetat

2.

Dekarboksilasi (kehilangan CO2 dari gugus COOH)


Misal PAS (para Amino Salisilat) m-amino fenol (inaktif)

3.

Epimerisasi
Misal : tetrasiklin epi- anhidrotetrasiklin (toksik)

4.

Perubahan struktur
Misal : penisilin asam penisilinat (penyebab alergi)

888888888888888888888

Tanda-tanda kerusakan fisik obat jadi :

1.
2.

Tablet biasa : perubahan warna, bau dan rasa; retak, pecah atau rapuh

3.

Kapsul gelatin : perubahan warna isi/cangkang melunak; kapsul lengket satu


sama lain/bocor

4.
5.

Salep/krim : Perubahan warna, bau tengik; mengeras, tidak homogen lagi

6.
7.

Emulsi : perubahan warna, bau dan rasa; terjadi pemisahan (creaming)

8.
9.

Injeksi/tetes mata : perubahan warna; kekeruhan, pengkristalan, endapan

1.

Teknologi metode pembuatan yang tidak sesuai dgn sediaan obat.


Misal : Metode cetak langsung, kurang cocok untuk obat dgn takaran yang
besar (voluminous) misalnya terhadap : Mg.oksidasi, sediaan yg bersifat
tidak midah dicetak dan sifat aliran yang buruk.

2.

formula kurang sesuai karenaa pemilihan dan jumlah bahan yg bersifat


pelicin dll yg tidak tepat sehingga tablet mudah pecah, retak/rapuh karena
kurangnya bhn pengikat atau karena formula salut yang kurang bagus

3.

Mengandung bhn aktif yang tidak stabil


Misal : vitamin yang mudah teroksidasi dan peka thd cahaya.

4.

Distribusi dan cara penyimpanan yg tidak sesuai


Kondisi penyimpanan baik di PBF maupun di apotek harus sesuai karena bila
tdk obat2an akan rusak sebelum waktu ED

5.

kemasann/wadah kurang baik


misal : kemasan tube yg tdk baik akakn menggelembung dan bocor.

Tablet salut : perubahan warna penyalut; salut pecah, ada perembesan bhn
aktif

larutan : terjadi perubahan warna, bau & rasa; tjd kekeruhan, endapan,
kristal
Suspensi : Tjd perubahan warna, bau dan rasa; endapan mengeras, sulit
dikocok

Serbuk/powder : perubahan warna, bau dan rasa; lembab, menggumpal; ada


bintik-bintik putih (jamur)
Sebab-sebab kerusakan obat :

999999999999999999999

OBAT WAJIB APOTEK


Menurut SK Menkes No. 37/1990, OWA adalah :

Obat keras yang diserahkan oleh apoteker di apotek tanpa resep dokter

Kriteria obat yang diserahkan tanpa resep dokter :

Tujuannya yaitu untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam


pengobatan sendiri secara tepat, aman dan rasional yang ditunjang dengan
penyediaan obat yang dibutuhkan untuk pengobatan sendiri

1.

Tidak dikontraindikasikan untuk penggunaan pada wanita hamil, anak <


2 tahun dan orang tua > 65 tahun

2.

Pengobatan sendiri dengan obat tersebut tidak memberikan resiko pada


kelanjutan penyakit

3.

Penggunaannya tidak memerlukan cara dan alat khusus yang harus


dilakukan oleh tenaga kesehatan

4.

Penggunaannya diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di


Indonesia

5.

Obat yang dimaksudkan memiliki rasio khasiat keamanan yang dapat


dipertanggungjawabkan untuk pengobatan sendiri
Termasuk dalam daftar G
Harus disertai oleh beberapa informasi antara lain dosis, efek
samping, kontraindikasi, aturan pakai, dll

OWA :

OBAT GENERIK DAN OBAT ESENSIAL


Obat generik :

PERMENKES NO. 85/1989 tentang kewajiban menuliskan resep dan atau


menggunakan resep obat generik pada fasilitas pelayanan kesehatan
KEP DIRJEN Pelayanan Medik Tahun 1989 Tentang Petunjuk Pelaksanaan
PERMENKES
SK DIRJEN POM Tahun 1989 Tentang Cara Pengadaan dan Pelayanan
Obat Generik di Apotek

1.

WHO menetapkan INN setiap bahan obat untuk pengenalan suatu obat tanpa
nama produsen

2.

Obat yang sesuai dengan penamaan INN disebut obat generik sedangkan
obat yang menggunakan nama dagang disebut obat paten atau obat
dengan nama dagang

3.

Di Indonesia obat generik disebut sebagai obat yang penamaannya sesuai


dengan FI untuk zat berkhasiat yang dikandungnya

101010101010101010101010101010101010101010

Program obat generik menurut Menkes adalah :

1.

Karena berdasarkan pemikiran program OGB yaitu memperluas cakupan


pelayanan, rasionalisasi obat jadi, pengendalian mutu sesuai CPOB,
menanamkan kepercayaan terhadap obat dengan mutu yang aman

2.

OGB dijamin mutunya karena :

Pemilihan bahan baku dan formulasi obat jadi yang memenuhi syarat
kestabilan dan bioavailabilitas
Persyaratan produksi yang harus memenuhi CPOB, pengendalian
mutunya melalui sistem QC dari PPOM (Pusat Pemeriksaan Obat dan
Makanan)

Berdasarkan sifat obat yang didasarkan atas bioavailabilitas, maka OGB dibagi
atas :

Yang memiliki uji klinis dan disolusi untuk menunjukkan sifat-sifat


bioavailabilitas obat jadi yang bersangkutan sesuai dengan persyaratan
dari Dirjen POM

Dalam hal uji klinis yang tidak dapat dilakukan karena pertimbangan etis
maka dilakukan pada hewan uji yang sesuai untuk menunjukkan sifatsifat bioavailabilitas obat yang bersangkutan sesuai dengan Dirjen POM

Yang memerlukan uji disolusi setiap bets sesuai dengan persyaratan


disolusi dari Dirjen POM

Yang hanya memerlukan uji desintegrasi untuk setiap bets (untuk tablet)
Syarat tambahan :

OGB juga harus stabil minimal 3 tahun setelah diproduksi. Kestabilan


tersebut dapat diuji dengan uji dipercepat
PPOM juga menyimpan selama 3 tahun dan OGB harus tetap memenuhi
uji bioavailabilitas disamping memenuhi persyaratan dalam Farmakope
Indonesia

Penamaan obat generik


Nama generik juga disebut obat generik
Nama latin juga digunakan untuk obat yang komposisinya > 1 bahan aktif.
Seperti Oralit, Vit. B-Complex, Trisulfa
Obat kombinasi dengan nama generik masing-masing komponen
Nama
sinonim
dituliskan
dalam
kurung,
seperti
acetaminophen
(paracetamol)
Jaminan mutu untuk OGB sesuai dengan CPOB dan mengacu pada FI
III, FI IV, USP, British Pharmacopee, dll
Profil disolusi kaplet ampisilin generik dibandingkan dengan ampisilin PMA
Terjadi disolusi pada waktu yang hampir sama (in vitro)
Pada menit ke 15
:
Generik = 70%
PMA = hampir 70%
Pada menit ke 45
:
Generik = hampir 100% PMA = sama
Kurva rata-rata pada 10 sukarelawan :
Pada waktu 2 jam puncaknya di dalam serum hampir sama
Jadi tidak ada perbedaan yang signifikan antara generik dan PMA

Obat esensial

111111111111111111111111111111111111111111
Obat esensial adalah obat yang paling dibutuhkan untuk pelayanan kesehatan
bagi masyarakat terbanyak mencakup diagnosa, propilaksi, preventif, dan
rehabilitasi yang harus diusahakan selalu tersedia pada unit pelayanan sesuai
dengan fungsi pelayanan.
Gagasan DOEN (Daftar Obat Esensial Nasional)
Untuk meningkatkan ketepatan, keamanan, kerasionalan penggunaan obat yang
sekaligus meningkatkan daya dan hasil guna, biaya yang tersedia sebagai salah
satu langkah untuk memperluas, menyamaratakan dan meningkatkan mutu
pelayanan kesehatan kepada masyarakat
Kriteria pemilihan obat esensial

Mempunyai rasio khasiat keamanan yang paling menguntungkan pasien

Menguntungkan dalam hal kepatuhan dan penerimaan oleh penderita

Bila terdapat lebih dari 1 pilihan untuk dipilih, obat yang sifatnya paling
banyak data ilmiahnya secara farmakokinetik paling menguntungkan,
stabilitas yang lebih baik, mudah diperoleh

Mutu terjamin termasuk stabilitas dan bioavailabilitas


Praktis dalam penyimpanan dan pengangkutan
Praktis dalam penggunaan dan penyerahan sesuai tenaga, sarana dan
fasilitas kesehatan
Mempunyai rasio manfaat biaya yang tertinggi berdasarkan biaya langsung
dan tidak langsung

Kriteria obat kombinasi jika :

Dalam kombinasi bermanfaat bagi penderita

Perbandingan komponen-komponen merupakan perbandingan yang


tepat bagi setiap penderita

Harus meningkatkan rasio manfaat biaya

Khasiat kombinasi tetap harus aman dan lebih berkhasiat daripada


masing-masing komponen

Kombinasi AB harus mencegah atau mengurangi resistensi dan efek


merugikan lainnya

DOEN terdapat di beberapa fasilitas kesehatan seperti RS tipe A, B, C, D,


Puskesmas, POD (Pusat Obat Desa), dll

DRUGS INCOMPATIBILITY
Obat adalah zat kimia yang mempengaruhi proses hidup termasuk bahan kimia
yang digunakan untuk pencegahan, diagnostik, pengobatan (manusia, hewan dan
tanaman) atau untuk keperluan lab, pupuk, insektisida, dll. Pengobatan dapat
menimbulkan masalah
Interaksi obat suatu peristiwa dimana efek suatu obat/bahan kimia dipengaruhi
oleh obat atau bahan kimia lain.

121212121212121212121212121212121212121212
Obat obat
Obat makanan
Obat bahan fisiologik tubuh/hormon
Terjadinya kasus interaksi obat :
I.
Drug Potency (potensi obat)
Contoh :

Seorang pasien minum lebih dari 1 macam obat yang potent


Dua atau lebih jenis obat jika diminum bersama-sama
mempengaruhi beberapa sistem yang sama
pengobatan kombinasi dari :
Antipsikotik (klorpromazin)
Antidepresan trisiklik (amitriptilin)
efek primer
Antiparkinsonisme (artane)
Ketiganya mempunyai efek : - antikolinergik
- adiktif

II.

V.

dokter mata : tetes mata pilokarpin (efek kolinergik)


Internist
: Tablet probantine (efek antikolinergik)

Pemakaian obat dengan atau tanpa resep secara bersama-sama

IV.

e fek sekunder

Visit lebih dari seorang dokter


Seorang pasien mengunjungi lebih dari seorang dokter dalam waktu yang
bersamaan

III.

akan

minum obat dengan atau tanpa resep dokter


Tidak memberitahu obat-obat yang telah diminum secara rutin/lama
Contoh : Obat-obat antasida, Vitamin (preparat besi), dekongestan,
analgetik
H+ (oleh asam lambung)
Fe2+
Fe3+
Ferro
Ferri (beracun)

Ketidakpatuhan pasien

Pasien tidak menerima penjelasan yang baik dari dokter/apoteker

Pasien menerima banyak jenis obat dengan berbagai cara/aturan pakai


aturan pakainya kurang atau lebih dari dosis
Penyalahgunaan obat
Contoh : barbiturat, amfetamin, narkotika, dll
Hasil penelitian :
Pasien peminum, perokok/marihuana, jika meminum obat jenis teofilin maka
efeknya akan cepat hilang dalam darah karena keduanya akan mempercepat
proses metabolisme teofilin dalam tubuh (sehingga harus diberikan 4 atau 5
jam sebelum/sesudahnya)

MEKANISME INTERAKSI OBAT


I.
Peracikan incompatibilitas akibat peristiwa fisika-kimia
II. Farmakologik

Farmakokinetik : absorbsi, distribusi, metabolisme, biotransformasi,


ekskresi

131313131313131313131313131313131313131313

I.

Farmakodinamik : interaksi dengan makromolekul reseptor tubuh


Peracikan

II.

Asam + karbonat/bikarbonat
H+ + CO3
CO 2
effervescent

(dalam larutan)

kecuali dalam tablet

Bahan yang bereaksi alkalis + ester


MgO + Ext. Belladon lembab (serbuk)
Cara mengatasinya :
Masing-masing dibalut dengan bahan yang netral seperti SL, masingmasing dibungkus sendiri, keduanya tidak dicampur, waktu diminumbya
bersama-sama
Bahan yang bereaksi alkalis + garam ammonium
Codein + NH4Cl NH3
Seperti : Codein + OBH (mengandung NH4Cl) biasanya dibuat potio.
Untuk menghindari biasanya diganti dengan codein HCl (bentuk
garamnya)
Bahan oksidator + bahan-bahan yang teroksidasi
KMnO4/KClO4 + gula/sukrosa ledakan
Garam-garam perak, merkuro, timbal + senyawa halogen
Ag Proteinat + Cl
AgCl
Hg2+
+ Br/I
senyawa kompleks beracun
Papaverin HCl + Br2/I2
Garam-garam
Garam-garam
Garam-garam
Garam-garam

alkaloid
alkaloid
alkaloid
alkaloid

sukar larut
+
+
+
+

alkalis (karbonat, boraks, SASA)


zat samak
asam pikrat
sublimat

Kalomel + antipirin senyawa yang sangat beracun


Norit, = senyawa BM tinggi adsobsi sehingga tidak berefek lagi

Farmakologik

1.

Interaksi farmakokinetik
A. Perubahan absorbsi saluran pencernaan
Perubahan pH

antasida + aspirin
antasida + pentobarbital

antasida pH lambung , obat


yang bersifat asam lemah akan

antasida + pseudoefedrin dihambat absorbsinya di lambung


Pembentukan kompleks
Tetrasiklin + logam (Ca, Mg, Al, Fe) kompleks yang sukar
diabsobsi oleh saluran pencernaan
Doksisilin/minocin + susu aktivitas AB menurun
Perubahan motilitas/kecepatan pengosongan lambung
- Katartik : menaikkan motilitas saluran cerna, menurunkan
absorbsi obat
- Antikolinergik : menurunkan motilitas saluran cerna,
menurunkan absorbsi obat, mengurangi peristaltik usus
disolusi obat dihambat
- Acetaminophen (analgetik) + propantelin (antikolinergik).
Propantelin menghambat pengosongan lambung. Absorbsi
acetaminophen bergantung pada kecepatan pengosongan

141414141414141414141414141414141414141414

B.

lambung sehingga absorbsi acetaminophen akan terhambat


(acetaminophen harus diminus sebelum makan)
- Griseofulvin + fenobarbital. Fenobarbital menurunkan efek
dan mengurangi absorbsi griseofulvin
Perubahan distribusi
Contoh : warfarin + fenilbutazon, keduanya terikat dengan protein
plasma (albumin). Afinitas fenilbutazon terhadap protein lebih besar
dari warfarin kadar warfarin bebas dalam darah naik sehingga efek
antikolinergik naik, resiko haemorrhagi (perdarahan) dapat terjadi

C.

Stimulasi terhadap metabolisme


Terjadi dengan adanya induksi enzim terhadap metabolisme obat.
Proses metabolismenya dipercepat sehingga efeknya menurun
Contoh : fenobarbital mempercepat proses metabolisme digitoksin

D.

Hambatan terhadap metabolisme


Contoh : kloramfenikol dapat menghambat metabolisme tolbutamid
(diabenese), luminal dan dikumarol

E.

Perubahan proses ekskresi


Perubahan pH urin
methenamin dalam suasana asam efek antibakterinya
meningkat dan berubah menjadi formaldehid (antibakteri)
-

2.

Pengaruh ekskresi melalui urin


Probenesid
menaikkan
kadar
dalam
memperpanjang aksi penisilin dengan cara
ekskresi tubular ginjal

serum
dan
menghambat

Interaksi farmakodinamik
A. Efek antagonisme
depresan (amfetamin) + stimulan (furosemid)
B. Efek sinergisme
sedatif (luminal) + alkohol
C. Perubahan kadar elektrolit
penggunaan diuretika (derivat thiazid, furosemid) akan terjadi
pengurangan kadar K dengan nyata (hypokalemia)
D. Perubahan letak reseptor
penggunaan warfarin dengan dextrotiroksin akan terjadi interaksi
perubahan reseptor sehinggaaktivitas warfarin meningkat (terjadi
pendarahan)
E. Perubahan flora usus
kombinasi antikoagulan dengan AB dimana AB akan meningkatkan
efek antikoagulan dan mempengaruhi produksi Vit. K oleh
mikroorganisme dalam saluran cerna

F.

Kombinasi AB
meningkatkan efek AB
mengobati infeksi campuran
mengobati infeksi yang belum jelas penyebabnya
mencegah timbulnya resistensi mikroorganisme
Efek kombinasi AB

1.

Efek antagonis
AB bakteriostatik + bakterisid
- Kloramfenikol/tetrasiklin + penisilin

2.

Efek sinergisme
- Streptomisin + penisilin

151515151515151515151515151515151515151515

3.

Efek aditif
- kloramfenikol + tetrasiklin (jika digunakan berkali-kali)

PELAYANAN OBAT
Jenis pelayanan di apotek

1.
2.
3.
4.
5.

Pelayanan resep

1.
2.

Apotek wajib melayani resep dokter, dokter gigi dan dokter hewan

Pelayanan kepada masyarakat


Pelayanan informasi
Pelayanan KIE (komunikasi, informasi, dan edukasi)

Pelayanan Perbekalan farmasi


Pelayanan di apotek
Pelayanan resep sepenuhnya atas tanggung jawab APA berdasarkan :

a.

Tanggung jawab dan keahlian profesinya yang dilandasi kepentingan


masyarakat

b.
c.

Tidak diizinkan mengganti OGB dalam resep dengan obat paten

Penggantian obat oleh karena pasien tidak mampu menebus obat,


apotek harus berkonsultasi dengan dokter
Apoteker wajib memberi informasi :

1.
2.

Yang berkaitan dengan obat yang diserahkan kepada pasien

1.

Pelayanan KIE di apotek sering kali merupakan penunjang dari dokter


seperti menyangkut KIE obat yang berhubungan dengan resep dokter

2.

Namun tidak jarang KIE harus diberikan oleh AA pada saat melayani
konsumen atau masyarakat yang membeli obat tanpa resep dokter

3.

KIE juga dapat diberikan oleh AA atau apoteker atas permintaan


masyarakat yang datang ke apotek

Penggunaan obat secara tepat, aman dan rasional atas permintaan


masyarakat
Pelayanan KIE

Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE)


Komunikasi mempunyai 3 unsur yaitu : Komunikator, Komunikan dan Informasi
Edukasi

Penggunaan obat dengan tepat, aman dan benar karena harus diajarkan
kepada masyarakat secara populer

161616161616161616161616161616161616161616

Mengajarkan tentang pengobatan sendiri harus dilakukan dengan hati-hati


Mengajarkan obat itu berbahaya kepada anak-anak harus dilakukan sedini
mungkin seperti peletakan obat-obat AB harus dijauhkan dari jangkauan anakanak

KIE Tentang KB
KEP MEN No. 347/MENKES/VII/1990

1.

KIE hanya dapat diberikan oleh personil yang sudah mengikuti pelatihanpelatihan apoteker, AA

2.

Pelayanan obat/alat KB

Melalui resep (untuk smua jenis)


Ulangan (pil KB)
Kartu akseptor (pil KB)

Penjualan bebas (kondom)


Penyerahan ulangan siklus kedua (II) dst harus dianjurkan melakukan
pemeriksaan ulang kepada dokter setelah penyerahan pil siklus keenam (VI)
Pada setiap penyerahan pil KB disertai informasi terutama yang berkaitan
dengan indikasi, kontraindikasi, efek samping, komplikasi
Efek samping kontrasepsi oral

Pendarahan di luar haid, mual, pusing/sakit kepala, jerawat, keputihan,


hiperpigmentasi, penambahan bobot badan, dll

Cara mengatasi :

Pendarahan diluar haid beri informasi bahwa keadaan tersebut hanya


bersifat sementara, bila agak lama rujuk ke dokter

Mual dapat diberi vitamin B6 atau ganti dengan pil KB estrogen lebih
rendah atau dengan cara lain

Sakit kepala beri analgetik


Keputihan
dokter

disebabkan oleh infeksi jamur Candida albicans, rujuk ke

Jerawat rujuk ke dokter dan biasanya diperlukan pil KB estrogen lebih


tinggi dari progestin non androgenik

Kegemukan sebaiknya pil dihentikan dan diganti dengan cara KB lain


Sebenarnya pil KB lebih aman dari AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim)
karena AKDR dapat menyebabkan efek samping seperti infeksi panggul (pada
wanita usia > 35 tahun) dan dapat berakibat mandul
Dalam OWA I ada obat antimual yaitu metoklorpramid HCl
Cara penanganan keracunan akut

1.

Mengencerkan racun dengan minum susu atau putih telur atau suspensi
pati ubi kayu (2-3 sendok teh susu bubuk atau pati ditambah 1 gelas air
dingin masak)

171717171717171717171717171717171717171717

2.

Memuntahkan racun yang sudah diencerkan. Dapat dimuntahkan


dengan meminumkan garam dapur 1 sendok besar dalam air atau
dengan menggelitik langit-langit mulut sampai penderita muntah

3.

Menjerap atau menyerap racun sisa dari lambung atau sistem sistemik
dengan suspensi karbon aktif (Norit) 2-3 sendok dalam air masak - 1
gelas. Dimuntahkan !

4.
5.

Cuci kembali lambung dengan susu dan dimuntahkan kembali

Obat identik dengan racun/bahan kimia

10 % keracunan fatal (bunuh diri) karena sengaja

Bawa penderita ke RS kalau perlu

PENYALAHGUNAAN OBAT (DRUG ABUSE) DAN PENGGUNAAN SALAH


OBAT (DRUG MISUSE)

Penggunaan salah atau penyalahgunaan obat dapat berakibat fatal yaitu


berdampaik keracunan
25 % sengaja meracuni diri sendiri, sedangkan 75 % karena keracunan
Emosi, stres, tekanan batin merupakan penyebab

Obat yang sering disalahgunakan : antihistamin (ex: CTM bersama


alkohol), kortikosteroid, narkotik, amfetamin
Informasi tentang obat juga merupakan penyebab kejadian keracunan obat
(sengaja atau tidak sengaja)

PENYALAHGUNAAN OBAT (DRUG ABUSE)

Penggunaan obat secara salah yang disengaja

Sasaran utama penyalahgunaan obat adalah orang dewasa

Sedikitnya ada tiga golongan obat yang sering disalahgunakan :


# Depresan SSP
# Stimulan SSP
# Halusinogen
Tahun 70-an obat metaqualen (Mandrox) sebagai obat penenang dicabut
dari peredaran juga amfetamin

- Obat-obat tersebut menyebabkan ketergantungan (adiksi)


PENGGUNAAN SALAH OBAT (DRUS MISUSE)
-

Tidak sengaja menggunakan secara salah


Informasi obat berlebihan :
# Bodrexin (digunakan sebagai obat sakit kepala, gigi, dll) efek yang
terlalu banyak
# Aspilets
# Contrexin
# Obat sakit kepala

Obat transquilizer, sedatif (obat tidur) aturan pakai s.u.c (tahu aturan
pakai), kalau perlu 1 biji
Brosur obat jarang memuat efek samping yang berat seperti :

Efek toksik pada orang dewasa menyebabkan spsmus pada otot yang
mengarah ketetanus (kejang) diikuti lidah kelu & rahang kejang (over
dosis)

181818181818181818181818181818181818181818

Untuk mengatasi keracunan tersebut dapat dengan cara pengosongan


dan pencucian lambung (apoteker perlu mempelajari cara menangani
keracunan obat = Poison contra)
Bila masih belum menolong, efek ekstrapiramidal dapat diobati dengan
obat antiparkinson ex : benhexol HCl (Artane)
Informasi tentang interaksi obat juga perlu disampaikan oleh apoteker
pada saat menyerahkan obat (resep)

CONTOH SP OBAT DAN ALKES

APOTEK SINAR FARMA


Jl. Semanggi No. 21
Makassar
SURAT PESANAN
Kepada Yth :
PBF Alam Pharmindo
Di
Makassar
Dengan Hormat,
Harap dikirimkan obat/alat kesehatan sbb :
1.
2.
3.
4.
5.
Atas perhatian dan kerjasamanya, diucapkan terima kasih
Lembar ke-1/2/3/4/5
Makassar,
Apoteker Pengelola Apotek
SP NARKOTIKA
Yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama
:
_________________________
Jabatan
:
SIK :
Alamat rumah
:
Mengajukan pesanan narkotika kepada :
Nama
distributor :
CONTOH
SP NARKOTIKA
Alamat & No Tlp :
Sebagai berikut :
Narkotika tersebut akan digunakan untuk keperluan
Apotek________________________________________________
Lembaga
.................................20
Pemesan
Stempel apotek
(_____________________)
SIK

191919191919191919191919191919191919191919

202020202020202020202020202020202020202020

FARMASI PERAPOTEKAN
1.

2.

3.

BU aliyah

RESEP
Definisi
Resep permintaan tertulis dari seorang dokter, dokter gigi, dokter hewan
kepada apoteker untuk membuat dan atau menyerahkan obat kepada pasien
yang biasanya dilengkapi dengan aturan pemakaian
Resep yang baik
Memenuhi PP Menkes No. 26/Menkes/Per/1981 pasal 10 :

Nama, alamat, no. Hp, No. Ijin praktek dokter

Nama pasien

Tempat dan tanggal penulisan resep

Inscriptio

Tanda R/ pada bagian kiri setiap penulisan resep


Nm obat/komposisi resep (btk sediaan,dosis, jmLh obat Prescriptio
Petunjuk pemakaian Signatura
Tanda tangan atau paraf dokter subscriptio
Tanda seru (!) & paraf dokter tuk resep yg mgdg obat yang jumlahnya
>DM
Umur dan alamat pasien

Resep yang rasional memenuhi 6 T :


1. Tepat diagnosis
4. Tepat cara dan waktu pemberian
2. Tepat obat
5. Tepat bentuk sediaan yang dipilih
3. Tepat dosis
6. Tepat penderita

212121212121212121212121212121212121212121
Resep :

- Isinya rahasia
- Warna putih, ukuran 11 x 17 cm

Menurut AMA, obat atau resep yang rasional adalah :

Mengandung tidak >3 komponen aktif dari golongan farmakologi yang


berbeda, atau tidak mengandung >1 komponen aktif dalam setiap
golongan farmakologi yang sama

Tiap komponen aktif terdapat dosis yang efektif dan aman serta
mempunyai efek terapeutik dalam mengobati penyakit

4.

6.

Kombinasi obat memiliki nilai terapeutik untuk mengatasi gejala sesuai


tipe dan tingkat keparahan
Memperhitungkan interaksi obat yang merugikan antara komponen obat

Resep yang mengandung narkotika


Tidak boleh diulang
Nama pasien tidak boleh ditulis m.i (mihi ipsi) atau u.p (usus propium)
atau pemakaian sendiri
Alamat pasien harus jelas
Aturan pakai hrs jelas, tdk bLh ditulis u.c (usus cognitus)/sdh tahu cr
pakai
Apoteker hax boleh mbrikan obat narkotika jika ada resep asli dari dokter
Jika obat narkotika belum diserahkan semuanya, maka apotek dapat
memberi copy resepnya, sisa obat narkotika yang belum diserahkan
hanya dapat dibeli di apotek yang mengeluarkan copy resep tersebut
Apotek tidak boleh mberix obat narkotika bdasarx copy resep apotek lain
Resep narkotika dipisahx dr resep lainx (diberi grs mErAh dibwh nm
obatx)
Morfin, heroin, petidin
hrs diberikan o/ dokter spesialis
Codein, doveri
boleh diberikan oleh dokter umum
Pelaporan narkotika
Melalui distributor tunggal PT Kimia Farma.
Mekanismenya :

Apotek melakukan pesanan narkotika ke PBF KF dengan dilengkapi


catatan stok akhir narkotika pada saat pemesanan

Setiap 3 bulan, PBF KF cabang melakukan rekap jumlah penggunaan


narkotika dari masing-masing sarana dan melaporkannya kepada
penanggung jawab narkotika PBF KF Pusat dengan tembusan kepada
BPOM dan Dinkes kota

5.

Kombinasi obat diberikan untuk menangani gejala yang kompleks

Setiap 3 bulan penanggung jawab narkotika PT KF Pusat wajib


melaporkan jumlah penggunaan narkotika kepada BPOM
Resep yang mengandung psikotropika (OKT)
Apotek melakukan pencatatan untuk 2 jenis OKT tunggal (diazepam dan
nitrazepam) selama 1 tahun
Apotek membuat laporan tahunan, pelaporan ditujukan ke Dinkes kota,
tembusan ke BPOM
Penyimpanan Resep
Resep disimpan menurut urutan tanggal dan no. Resep penerimaan atau
pembuatan resep
Resep narkotika dipisahkan (tandai dgn garis merah di bwh nm obatnya)
Resep disimpan selama 3 tahun, lewat 3 tahun dapat dimusnahkan
dengan cara dibakar atau cara lain

222222222222222222222222222222222222222222
7.

Penyerahan obat
Penyerahan obat berdasarkan resep dokter dilengkapi etiket
Untuk obat dalam (p.o) etiket berwarna putih
Untuk obat luar (selain oral) etiket berwarna biru

8.

Pada etiket tercantum :


@ Nama dan alamat apotek
@ Nama dan SIK APA
@ Nomor dan tanggal pembuatan
@ Nama pasien (ditulis di tengah-tengah)
@ Aturan pakai
@ Tanda lain yang diperlukan seperti kocok dahulu, obat luar, tidak
boleh diulang tanpa resep dokter, dll
Salinan resep atau copy resep atau apographum
Diberikan jika :

Pasien memintanya/menginginkannya

Nama dan alamat apotek

Pasien baru mengambil separuh obatnya

Pasien harus mengulang obatnya (tercantum iter)


Salinan resep memuat semua keterangan yang termuat dalam resep asli
selain itu juga memuat :

9.

Nama dan SIK APA


Nomor resep dan tanggal pembuatan
Tanda det atau ne det atau d.i.d dsb
Tanda tangan atau paraf APA
Cap apotek

Kekurangan/masalah dalam resep


Kekurangan tulisan dalam resep masih dapat diterima seperti tidak ada
no., tidak ada bentuk sediaan, signa tidak baku (1-0-1)
Penulisan yang dapat menyulitkan dalam pelayanan

Salah baca : chloramphenicol chlorpropamid


Bentuk sediaan yang tidak tepat tablet/kapsul enterik digerus
Penulisan dosis dalam mg untuk tablet yang berisi > 1 macam obat
kecuali trisulfa dan doveri R/ Pehadoxin
250 mg
Satuan pecahan yang menyulitkan R/ Cortidex
Satuan yang tidak ditulis R/ Amoxycillin

4/5

150

Signa yang tidak tepat S 2 dd cth 3/5, S 3 dd gtt 0,7 ml (pipet 0,8
ml)
Signa yang kurang lengkap
Obat simptomatis perlu p.r.n antipiretik, anti muntah
Sifat absorbsi yang kurang diperhatikan signa perlu a.c, d.c dan
p.c

232323232323232323232323232323232323232323

DOSIS OBAT
1. Definisi
Dosis obat takaran/ukuran yang diberikan dengan jumlah tertentu untuk
tujuan tertentu pula pengobatan awal, terus menerus, diagnosis, dsb
2.

Macam-macam dosis
Dosis toksik : dosis yang sedemikian besarnya dapat menunjukkan efek
toksik
Dosis minimal : dosis terkecil yang mamsih dapat memberikan efek
terapi
Dosis maksimal (DM) : dosis terbesar untuk sekali pemakaian atau untuk
24 jam tanpa memperlihatkan efek toksik
Dosis terapi (DL) : dosis yang cukup memberikan daya penyembuhan
yang optimal
Dosis letal : dosis yang sedemikian besarnya dapat menyebabkan
kematian pada hewan percobaan
Yang mempengaruhi dosis :
Umur
- Waktu pemberian
Bobot badan
- Rute dan jumlah pemberian
Jenis kelamin
- Kecepatan ekskresi
Keadaan penderita
- Kombinasi obat

3. Cara menghitung dosis


-

@
@

n
Rumus Young = ------- x DM dewasa (n = umur (tahun))
n + 12
n
Rumus Dilling = --- x DM dewasa
(n = 8-9 tahun)
20
n+1
Rumus Cowling = ------ x DM dewasa
24
b
Rumus Fried = ------ x DM dewasa
(b = umur (bulan))
150
w
Rumus Clark = ---- x DM dewasa
(w = bobot (Kg))
68
Untuk obat-obat yang dapat menimbulkan resistensi (AB, sulfa) 1 hari
dihitung 24 jam
Untuk obat-obat lain 1 hari dihitung 16 jam (waktu tidur 8 jam tidak
dihitung) aturan pakai = (16/a) + 1
a = waktu paruh

Contoh :
R/ Paracetamol
100 mg
Amoxycillin 150 mg

242424242424242424242424242424242424242424

Luminal
10 mg
DM = 300 mg/600 mg
m.f. pulv dtd No XV
S 3 dd pulv I
Pro : Yanti (3 tahun) BB = 10 kg
DM luminal = 300 mg/600 mg
DM untuk 10 kg = (10 kg/68 kg) x (300 mg/600 mg)
= 44,12 mg/88,24 mg
1 x p = 10 mg luminal
1 x pakai = 10 mg (10 mg/44,12 mg) x 100% = 22,665%
1 hari
= 30 mg (30 mg/88,24 mg) x 100% = 33,998%
R/ OBH 200
Potio nigra contratussive (OBH) : 300 ml
S 3 dd C I
Succus Liquiritae 10
Pro : Rudi (25 tahun)
Ammonium chlorida
SASA
Air

6
6
278

DM Ammonium klorida = -/10 g


DL Ammonium klorida = 0,5 1 g/2 4 g
1 x pakai = 15/300 x 6 g = 0,3 g = 300 mg
1 x pakai = 1 C = 300 mg tidak masuk range DL
2 C = 600 mg masuk range DL
1 hari = 3 x 2 C = 6 C = 1800 mg = 1,8 g tidak masuk range DL
4 x 2 C = 8 C = 2400 mg = 2,4 g masuk range DL
= (2,4 g/10 g) x 100% = 24%
Jadi aturan pakai menjadi S 4 dd 2 C

4. Dosis kombinasi
Obat yang mempunyai >1 zat yang mempunyai DM dapat terjadi 2 hal :

1.
2.

Zat yg berlainan yg tdk mempunyai kerja bersamaan DM hitung msg2.

1.

Berasal dari tanaman yang sama atau 1 famili seperti ekstrak/tingtur


Belladon dengan ekstrak/tingtur Hyosyami atau dengan atropin sulfat

2.

Berasal dari 1 derivat / turunan (rumus kimianya) seperti kofein dgn


teofilin

3.

Mempunyai aksi farmakologi yang sama seperti piramidon-antipirin


(analgetik antipiretik), luminal-veronal (sedatif)

Zat yang berlainan yg mempunyai kerja yg bersamaan DM dijumlahkan


Dasar sinergis kombinasi obat :

Contoh :

R/ Atropin sulfat 3 mg
Extrak belladon

DM = 1 mg/3 mg
120 mg DM = 20 mg/80 mg

252525252525252525252525252525252525252525

Papaverin HCl0,6
m.f cap No. XV
S t 3 dd cap I
Pro : Siska (20 tahun)
Atropin sulfat DM = 1 mg/3 mg
1 kapsul = 3 mg/15 = 0,2 mg
1 x pakai = 0,2 mg (0,2 mg/1 mg) x 100% = 20%
1 hari
= 0,6 mg (0,6 mg/3 mg) x 100% = 20%
Extrak belladon DM = 20 mg/80 mg
1 kapsul = 120 mg/15 = 8 mg
1 x pakai = 8 mg (8 mg/20 mg) x 100% = 40%
1 hari
= 24 mg (24 mg/80 mg) x 100% = 30%
Dosis kombinasi = 20% + 40% = 60%
Jika 80% maka harus ditimbang satu per satu

SERBUK (PULVERES)
1. Definisi
2.

3.

Serbuk campuran kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan,
ditujukan untuk pemakaian oral atau untuk pemakaian luar
Penggolongan serbuk
1. Serbuk terbagi (pulveres)
dengan atau tanpa dtd dan ada No.
(nomero/jumlah) untuk oral
2. Serbuk tidak terbagi (pulvis) bisa untuk oral maupun untuk pemakaian
luar
Serbuk terbagi (pulveres)
Adalah serbuk yang dibagi dalam bobot yang kurang lebih sama, dibungkus
menggunakan bahan pengemas yang cocok, untuk sekali minum
Aturan pembuatan serbuk :

1.

Jangan mencampur
diencerkan

2.

Untuk BJ yang berlainan BJ yang besar dahulu baru kemudian BJ yang


kecil

3.
4.

Jangan menggerus bahan serbuk dalam jumlah banyak sekaligus

5.

obat

berkhasiat

keras

dalam

keadaan

tidak

Untuk serbuk kristal gunakan lumpang panas (untuk bahan higroskopis


seperti NaBr)

Untuk bahan mudah menguap atau rusak oleh pemanasan


gunakan lumpang panas (peroksida-peroksida, NaHCO3)
Cara mengerjakan bahan berikut dalam serbuk :

jangan

262626262626262626262626262626262626262626

1.

Camphora dilarutkan dengan spiritus fortior (96%) kemudian + SL


(untuk mengeringkan) aduk perlahan (jangan mengeringkan dengan zat
aktif

2.

Stibii penta sulfida digerus diantara 2 bahan tambahan


SL + Stibii + SL aduk dan gerus tanpa ditekan (karena stabii berwarna)

3.

Extrak kental dalam lumpang panas diencerkan dengan pelarutnya atau


dengan alkohol kemudian dikeringkan dengan SL (zat inert lain)

4.

Tingtur-tingtur

Kandungan zat berkhasiatnya tidak menguap atau rusak jika


dipanaskan
Jumlah kecil lumpang panas, keringkan dengan SL
Jumlah besar diuapkan diatas penangas air sampai sisa sedikit
(sisa 1/3nya) keringkan dengan SL

Kandungan zat berkhasiatnya mudah menguap / rusak jika


dipanaskan
Jika kandungan tingtur diketahui secara kualitatif dan kuantitatif
diambil isi atau kandungan zat berkhasiatnya saja
SL masukkan ke dalam cawan porselen terus diletakkan di atas
water bath kemudian diteteskan tingtur sedikit demi sedikit
Jika tidak dapat diganti dengan komponennya diuapkan dengan
pemanasan rendah

Zat aktif minimal 50 mg


zat tambahan bisa 30 mg
Jika < 50 mg
pengenceran
Contoh :

Atropin
0,5 mg 12 x 0,5 mg = 100 mg
Papaverin 40 mg 12 x 40 mg = 480 mg
m.f.pulv dtd No XII
Atropin sulfat = 50 mg x 20 = 100 mg
SL + pewarna (untuk zat yang tidak berwarna) = 950 mg
Jadi 1000 mg = 50 mg zat aktif + 950 mg SL + pewarna
Jadi SL yang ditimbang = 6/50 x 1000 mg = 120 mg ( 6 mg zat aktif)
R/ TOB 25 TOB (tingtura Opii Benzoicum) = 200
m.f. pulvis Minyak anisi
Kamfer
Asam benzoat
Tingtura opii
Alkohol 70%
-

1
2
4
10
183

Elaeosacchara gula minyak (campuran 2 g gula SL


dengan 1 tetes minyak atsiri)
Garam-garam yang mengandung air kristal diambil atau
diganti dengan senyawa yang telah dikeringkan (yang
eksikatus)
@
Natrium karbonat
50%
@
Natrium sulfat
50%
@
Ferosi sulfat
67%

272727272727272727272727272727272727272727

@
@

Magnesium sulfat
Aluminii et kalii sulfat

67%
67%

5.

Campuran-campuran yang mencair terjadi penurunan titik lebur/cair


pada saat mencampur. Caranya : masing-masing zat dicampurkan
dengan bahan netral, baru kemudian dicampur

6.

Dalam campuran serbuk terdapat tablet.


a. Dap[at diganti dengan zat aktifnya
b. Tablet digerus halus kemudian dicampur dengan serbuk lainnya (jika
jumlah tabletnya pecahan dibuat pengenceran dahulu)

4. Serbuk tidak terbagi (pulvis)


A.

Untuk pemakaian dalam (oral)


Terbatas pada obat yang relatif tidak potent
Pasien dapat menakar obatnya (penentuan DM-nya) dengan sendok
teh atau penakar lainnya
Pemakaian sendok sesendok rata atau sesendok peres (rata) serbuk
Contoh :

R/ Papaverin HCl 1,5 DM 200 mg/600mg


Mg Subkarbonat
Na bikarbonat
Bismuth subnitrat aaa 7,5
m.f.pulvis
S 3 dd cth I
Caranya :
Buat dahulu 1/3 n
1 cth rata = 2 g
1 x pakai = 2/24 x 1,5 g = 0,125 g
1 hari
= 6/24 x 1,5 g = 0,375 g
B.

Serbuk tabur atau pulvis adspersorius serbuk ringan yang bebas dari
butiran kasar dan dimaksudkan untuk pemakaian luar
Aturan pembuatan serbuk tabur :

1.

Serbuk tabur yang mengandung lemak diayak dengan ayakan no.


44

2.

Serbuk tabur yang tdk mengandung lemak diayak dgn ayakan no.
100

3.

Seluruh serbuk harus terayak semua


Cara membuat serbuk tabur yang mengandung :

1.

Adeps lanae, vaselin, emplastrum oksidi plumbici larutkan dalam


eter, aseton atau alkohol kemudian keringkan dengan talk

2.

Parafin cair, minyak jarak


campur dengan talk sama banyak
kemudian sisa talk ditambhakan sedikit demi sedikit

3.

Ichtiol
encerkan dengan eter cum spiritus atau etanol 96%
kemudian keringkan dengan talk

4.

Kamfer, mentol, asam salisilat, balsam peru larutkan dengan eter


atau etanol 96%

5.

Solutio formaldehida jumlah kecil campur terakhir. Jumlah banyak


ganti dengan para formaldehid padat 1/3 x bobotnya

282828282828282828282828282828282828282828

6.

Minyak atsiri campur terakhir ke dlm campuran serbuk yg tlh diayak

PIL
1. Definisi
Pil sediaan yang berbentuk bulat atau bulat telur mengandung 1 atau lebih
bahan obat dibuat dengan menggunakan massa pil
2.

Komponen/komposisi pil
1. Zat berkhasiat/zat aktif zat yang akan bekerja secara farmakologis
2. Zat non aktif/zat tambahan/eksipien zat yang ditambahkan ke dalam
massa pil dengan tujuan tertentu yang didasarkan pada teknik
pembuatan dan biofarmasi
a. Zat pengisi e.g Liquiritae radix (radix/akar manis), SL, pulvis pro
pilulae (radix : succus = 1:1), bolus alba (untuk bahan oksidator)
b. Zat pengikat e.g succus liquiritae, PGS, PGA, tragacan, oleum
cacao, adeps lanae, vaselin
Penggunaan succus 2 g untuk 60 pil.
Perbandingan radix : succus = 2 : 1
Penggunaan PGS 300 mg untuk 30 pil
Campuran succus dan saccharum sama banyak 75 g untuk
1000 pil
c. Zat pembasah e.g air, gliserin, sirop, madu, campuran bahan-bahan
tersebut
d. Zat penabur e.g lycopodium, talk
e. Zat penyalut ditambahkan jika perlu untuk :
Melindungi zat aktif dari pengaruh luar
Menutupi rasa dan bau yang tidak enak
Mencegah pil pecah di dalam lambung zat aktif rusak oleh
asam lambung atau zat aktif mengiritasi lambung atau zat aktif
diinginkan bekerja di usus.
e.g balsam tolu, perak, serlak, kolodium, gelatin, gula dan
bahan lain yang cocok

3.

Cara membuat pil


Gerus zat aktif, zat pengisi dan zat pengikat hingga halus dan homogen
Tambahkan tetes demi tetes zat pembasah sambil digerus dan ditekan
sampai diperoleh massa plastis dan mudah dikepal
Bagi massa pil dalam beberapa bagian dengan cara ditimbang atau
dibuat batas dengan cara digulung kemudian dipotong/dibagi menjadi
bagian-bagian yang sama
Tiap bagian digulung seperti diatas sampai panjang tertentu
Letakx gulungan-gulungan ini pada alat pemotong pil kemudian dipotong
Pil yang terbentuk dibulatkan

KAPSUL
1. Definisi
Kapsul sediaan padat yang terdiri dari obat di dalam cangkang kapsul yang
keras atau lunak yang dapat larut. Cangkang kapsul umumnya dibuat dari
gelatin atau pati

292929292929292929292929292929292929292929
2.

3.

Macam-macam kapsul
A. Kapsul keras/hard capsule (capsulae gelatinosae operculatae)
Kapsul yang paling sering digunakan di apotek
Terdiri atas wadah (induk) dan tutup
Tersedia dalam berbagai macam warna
Tersedia dalam berbagai ukuran
B. Kapsul lunak/soft capsule
Merupakan kapsul tertutup, biasanya sedikit lebih
dibandingkan kapsul keras
Pembuatan dan pengisian obat dilakukan dengan alat khusus
Digunakan untuk mewadahi obat cair/minyak
Dapat diberi bermacam-macam warna

tebal

Cara mengerjakan bahan berikut dalam kapsul


cairan yang mengandung air, larutan yang sangat pekat (ichtiol
tumenolamonium) dapat mengikis dinding kapsul dibuat massa pil lalu
dibagi-bagi kemudian tiap bagian dimasukkan ke dalam kapsul

Fenol-fenol (kreosol, pix liquida), mengikis kapsul harus diolah dahulu


menjadi massa pil. Tapi bila telah diencerkan dengan minyak atsiri
sampai kepekatannya tidak lebih dari 40% dapat langsung dimasukkan
ke dalam kapsul

Cairan yang mengandung kadar etanol tinggi (>90%) tidak mengikis


dapat langsung dimasukkan ke dalam kapsul (tetapi jika < 90% harus
diolah dahulu menjadi massa pil)

Minyak-minyak, lemak dan minyak atsiri tidak mengikis kapsul dapat


langsung dimasukkan ke dalam cangkang kapsul

LAR UTAN
1. Definisi
Larutan sediaan cair yang mengandung 1 atau lebih zat kimia yang larut
untuk digunakan sebagai obat dalam, obat luar atau dimasukkan ke dalam
rongga tubuh (suntikan, enema) kecuali dinyatakan lain sebagai pelarut
digunakan air suling
2.

Macam-macam sediaan bentuk cair


Collyria (obat cuci mata)
Collutoria/collutio oris (obat cuci mulut) mengandung antiseptik
Collinarium ( obat cuci hidung)
Gargarisma/gargle (obat kumur) tulis obat kumur, jangan ditelan
Guttae/drops/tetes dan nebula (spray)
Injectio
Clysma/enema melalui rektum
Douche untuk mencuci vagina
Elixir

303030303030303030303030303030303030303030
-

Potio (obat minum) dalam bentuk larutan


Sirup, etc

3.

Pembuatan larutan
a. Untuk membuat suatu larutan diperlukan :
Zat yang akan dilarutkan (solvendum) padat, cair, gas
Pelarut (solven) air, gliserin, minyak tumbuhan, minyak mineral
b. Larutan dapat dibuat dengan cara :
Melarutkan zat padat dilarutkan dalam suatu pelarut
Mencampur zat cair dalam zat cair lainnya
c. Kecepatan melarut suatu zat tergantung pada :
Bentuk dan sifat zat padat yang akan dilarutkan
Sifat bahan pelarut
Suhu/temperatur
Junlah zat yang akan dilarutkan
Terdapatnya bahan lain yang sudah terlarut

4.

Melarutkan dengan pemanasan


a. Tidak dilakukan jika :
Pelarutnya air harum (aqua aromatica)
Zat yang akan ditambahkan
cairan
etanol atau cairan harum
Zat yang akan ditambahkan terurai oleh
pemanasan
Larutan yang mengandung gas (saturasi)
b. Pemanasan tidak diperbolehkan dalam membuat larutan berikut :
Ascal (acetylosalicylas calcicus) terurai menjadi ca- salisilat dan
asam asetat
Luminal Na, barbital Na menjadi fenil etil setil ureum yang sukar
larut
Helmitol kloroform dan asam formiat
Natrium subkarbonat natrium karbonat dan CO2
Pepsin dipanaskan > 70O C tidak berkhasiat
Penisilin, dsb
Apabila suatu senyawa harus dilarutkan dalam air dengan penghangatan
maka hendaknya senyawa tersebut dimasukkan ke dalam air yang telah
dihangatkan terlebih dahulu

5.

Yang perlu diperhatikan dalam melarutkan zat berikut :


*
Asam borat :
Gunakan yang kristal
Larutkan dengan air panas
Jika ada gliserin, larutkan dalam gliserin
*
Argentum proteinicum (Protargol) :
Taburkan diatas air 2x bobotnya, diamkan 15 ditempat gelap.
Caranya : dlm cawan porselen, air + Protargol masukkan dlm lemari
Jika ada gliserin, gerus dengan gliserin lalu tambahkan air sampai
larut (simpan di botol berwarna gelap)
*
Argentum colcidale (Collargor)
Gerus dengan sedikit air (1/4 bobotnya) kemudian tambahkan sisa
airnya
Masukkan dalam botol sebam, tambahkan air dan kocok kuat
*
Sublimat (Hydragyn bichloridum) berbahaya (dapat membutakan)
Perbandingan pengencerannya 1 : 10.000
Dilarutkan dengan cara penghangatan
*
Permanganas kalicus (PK)
Gerus dalam lumpang dengan air hangat, larutan yang terbentuk
didinginkan tanpa dikocok, kemudian didekantasi
Larutan PK jangan disaring dengan kertas saring/kapas

313131313131313131313131313131313131313131
*

Dapat disaring dengan kertas wol/asbes


Pepsin
Sukar larut dalam air, larut dalam HCl encer
Campur pepsin dengan air 10x beratnya, kemudian tambahkan HCl
Khasiat pepsin dapat dihilangkan/dirusak oleh :
@ Zat berkhasiat alkalis
@ Garam logam berat
@ Kadar alkohol > 15%
@ Zat samak
@ Kadar asam > 0,5%
@ Pankreatin
@ Pemanasan > 50 OC
@ Larutan garam pekat
Succus liquritae (Glycyrrhizae succus)
Jumlah sedikit gerus dalam lumpang dengan air 1 : 1, aduk sambil
menambahkan air hingga larut
Jumlah banyak larutkan dalam air mendidih 10 x bobot succus
Kamfer (Camphora)
Kamfer digerus halus, kemudian masukkan dlm botol kering &
tambahkan spiritus fortior 2x bobot kamfer, kocok sampai larut,
tambahkan air panas yang tersedia, kocok kuat-kuat

Yang perlu diperhatikan dalam melarutkan :

Periksa DMnya (over/tidak), kelarutan zat aktif dan kestabilannya


Melarutkan menggunakan erlenmeyer
Untuk bahan yang mudah menguap tidak dipanaskan. Jika terdapat
minyak-minyak menguap (minyak atsiri) ditambahkan terakhir. Untuk
zat-zat yang liquos ditimbang di kaca arloji

6.

Keuntungan sediaan larutan


Campuran yang homogen
Dosis lebih seragam dibandingkan suspensi/emulsi
Mempunyai ketelitian yang lebih jika larutan diencerkan atau dicampur
Jika mengiritasi lambung, dapat diberikan dalam bentuk larutan encer
Absorbsinya lebih cepat
Dapat menutupi rasa yang tidak enak dengan penambahan sirup
(pemanis lain) sehingga disukai anak-anak
Mudah digunakan untuk pasien yang sulit menelan tablet
Untuk pemakaian luar mudah digunakan

7.

Kerugian sediaan larutan


Bentuk sediaan lebih besar volumenya
Jika disimpan lama, banyak obat yang tidak stabil
Adanya air, kemungkinan terurai/rusaknya obat dipercepat
Ada obat yang rasa dan baunya sukar ditutupi
Sulit dibawa kemana-mana
Rumit penggunaannya harus menggunakan penakar seperti sendok
Wadah mudah pecah volume/isi berkurang

SUSPENSI

323232323232323232323232323232323232323232
1.

Definisi
Suspensi adalah sediaan obat yang mengandung bahan obat padat dalam
bentuk halus dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa
Atau sediaan heterogen yang terdiri dari 2 fase yaitu fase pendispersi atau
fase kontinu atau fase luar yang umumnya cairan/setengah padat dan fase
terdispersi atau fase dalam yang terdiri dari bahan-bahan yang tidak larut

2.

Kriteria suspensi yang baik


Zat yang terdispersi harus halus
Zat yang terdispersi tidak boleh cepat mengendap
Bila mengendap pada dasar wadah partikel tidak boleh membentuk
cake
Jika dikocok perlahan-lahan, endapan harus segera terdispersi kembali
Dapat dituang dari wadah dengan cepat dan homogen
Klasifikasi suspensi berdasarkan cara pemberiannya :
a. Pelarut (suspensi AB/sulfa)
b. Pemakaian luar/topikal (lotio, tetes mata)
c. Injeksi
PGS PGA, gula, tragakan sama banyak
PGS untuk zat berkhasiat keras 2 % dari volume

3.

Pembuatan suspensi
Menggunakan pensuspensi PGS (Pulvis gummosus)
Banyaknya PGS tidak tergantung pada banyaknya serbuk
pada besarnya volume cairan
R/

5.

tergantung

Tripiron
2
2/100 x 100 = 2 g
Codein
0,1
dilarutkan dalam air
Syr. Simpleks q.s
m.f.pot 100
Caranya :
Trypiron digerus dengan PGS (terbentuk corpus) tambahkan
dengan air 7x PGS lalu tambahkan air. Kodein ditambahkan
dalam air lalu dicampurkan ke dalamnya sedikit demi
sedikit

Untuk zat yang berkhasiat keras PGS 2 % dari volume suspensi


Untuk zat yang tidak berkhasiat keras PGS 1 % dari volume suspensi
Caranya :
Bahan yang tidak larut dicampur/digerus dengan PGS di
dalam lumpang kemudian tambahkan air sebanyak 7x PGS
yang digunakan. Jika zat padat dalam campuran cukup
banyak air bisa ditambahkan > 7x. Jika terdapat syrup
maka syrup ditambahkan sebelum penambahan air sedikit
demi sedikit.
Beberapa pengecualian
MgO, Mg Subcarbonat serbuk yang ringan dapat disuspensikan tanpa
zat tambahan
Karbo adsorben, carbo ligni sebagai obat diare tidak boleh ditambahkan
PGS (lendir) mengurangi daya kerjanya
Suspensi adsorben : Norit (untuk keracunan) tidak boleh dibuat suspensi,
tetapi digerus saja dengan air karena norit akan terselubung sehingga
tidak bisa menyerap air
Suspensi yang dibuat dalam apotek tidak menggunakan pengawet

333333333333333333333333333333333333333333

EMULSI
1.

Definisi
Emulsi adalah :

Sistem 2 fase yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang
lain dalam bentuk tetesan kecil
Mengandung sedikitnya 2 jenis cairan yang tidak bercampur 1 dengan
yang lainnya cairan yang satu terdispersi menjadi butiran halus (tetesan
kecil) dalam cairan lainnya
@ Dispersi ini tidak stabil
tetesan-tetesan kecil akan bergabung
kembali (koalesen) membentuk 2 lapisan terpisah
@ Untuk mendapatkan campuran yang homogen dan kestabilan
digunakan zat pengemulasi/emulgator/emulsifying agent /surfaktan

2.

Komposisi emulsi
a. Fase dalam/fase internal, fase terdispersi, fase diskontinu atau
emulgendum
b. Fase luar/fase eksternal, medium dispersi, fase diskontinu atau
menstrum
c. Emulgator/zat pgemulsi,emulsifying agent,surfaktan (surface active
agent)
emulgator
Campuran heterogen
campuran homogen

3.

Tipe emulsi

343434343434343434343434343434343434343434
a.
b.

Tipe m/a atau o/w minyak sebagai fase dalam dan air sebagai fase luar,
biasanya untuk pemakaian dalam
Tipe a/m atau w/o emulsi dimana air sebagai fase dalam terdispersi di
dalam minyak sebagai fase luar, biasanya tuk pemakaian luar (lotio,
krim)

4. Pembagian emulsi
a.
b.

Emulsi alam/vesa/naturalia
biasanya dari biji-bijian, ditumbuk dan
diambil minyaknya
Emulsi buatan/spuria/artificialia
emulsi dari minyak lemak, dibuat
dengan menggunakan emulgator Gom Arab atau PGA dengan
perbandingannya :

Minyak lemak

: 10 bagian (2x jumlah gom arab)

Gom Arab

: x jumlah minyak

Air untuk corpus


Cara buatnya :

: 1 x gom arab

Buat dahulu corpus emulsi campur homogen minyak dan gom dalam
lumpang yang kasar dan kering

Tambahkan air untuk corpus sekaligus (1 x gom), aduk kuat sampai


diperoleh campuran kental berwarna putih (ditandai dengan bunyi
spesifik)

Encerkan corpus dengan air sedikit demi sedikit sambil diaduk

Zat yang dapat mengendapkan asam, basa, garam (larutan elektrolit),


larutan alkohol, larutan adstringent
ditambahkan
dalam keadaan
seencer-encernya ke dalam corpus yang telah diencerkan juga

Bahan-bahan kental
seperti sirup, gliserin/zat yang bersifat lendir
ditambahkan ke dalam corpus emulsi

Untuk zat yang tidak larut geus dahulu dengan air kemudian tambahkan
dengan emulsi yang sudah jadi

5. Contoh emulsi dengan jumlah gom dan air yang berbeda dari
ketentuan
a. Emulsi dengan oleum ricini/minyak jarak konsistensi kental

b.

c.

d.

Gom arab yang digunakan 1/3 x jumlah minyak, tapi jumlah minyak
2 x gom tetap sama dengan ketentuan
Cara buat :
@ Buat corpus dengan jumlah gom 2x minyak
@ Setelah jadi, tambahkan sisa minyak sedikit demi sedikit
kedalam mediumnya sambil diaduk
@ Jika sudah tidak terbentuk tetes minyak, encerkan dengan air
sedikit demi sedikit
Emulsi olei lecoris aselli (emulsi minyak ikan)

Gom

Gom

Gom sama banyaknya dengan parafin cair

: 3/10 x jumlah minyak

Air
: 2 x jumlah gom
Emulsi olei lecoris aselli compositum (emulsi minyak ikan campuran)
: 3/8 x jumlah minyak

Air
: 2 x jumlah gom
Emulsi dengan parafin cair

353535353535353535353535353535353535353535
e.

f.

Emulsi dengan ekstrak kental

Jika jumlahnya sedikit gom 2 % dari berat emulsi

Gom 1-2 x bobot balsam, air 1 x jumlah gom


Cara buat : Sama dengan minyak lemak

Jika disamping balsam terdapat minyak lemak mk gom yg


digunakan :
Untuk balsam
:
gom
sama
banyak
- Untuk minyak lemak
: gom x bobot minyak
Cara buat :
Buat corpus emulsi dengan minyak lemak dahulu
dengan gom. Setelah corpus jadi, tambahkan balsam
sedikit demi sedikit, aduk perlahan dan encerkan
dengan air

Jika disamping ekstrak terdpt minyak lemak gom yg digunakan :


@ Untuk ekstrak
: Gom sama banyaknya
@ Untuk minyak lemak
: Gom x bobot minyak
@ Air yang ditambahkan
: 1 x jumlah gom
Campuran dengan balsam

R/ Oleum Rhicini
Maka :

15

PGA : 1/3 x 15 = 5 g
Minyak : 2 x PGA = 10 g

Jadi dibuat corpus 5 g PGA dan 10 g minyak lalu ditambahkan sisa 5


g ricini sedikit demi sedikit

Jika tingtur, tingtur diencerkan lebih dahulu begitupun dengan


corpusnya lalu ditambahkan tingtur ke corpus sedikit demi sedikit

R/ Oleum olivarum
10
Extrak Belladone
1
PGA untuk ekstrak sama banyak = 1
=6g
PGA untuk olivarum = x bobot minyak = 5

g.

Total PGA

Campuran balsam dengan minyak atsiri


Gom sama banyaknya dengan jumlah balsam dan minyak atsiri.
Cara buatnya : Sama dengan minyak lemak campuran balsam

Emulsi dengan emulgator lain

Merah/kuning telur

Merah/kuning telur digerus dengan 3 ml air, kemudian


ditambahkan minyaknya sedikit demi sedikit, setelah
diencerkan saring dengan kain kasa
Untuk kamfer caranya : kamfer yang telah dihaluskan digerus
dengan kuning tellur
1 buah kuning telur = 10 g gom

Tragacant

363636363636363636363636363636363636363636

PGS

7.

Dibuat lendir/mucilago dulu dengan cara : gerus tragacan


dengan air 20x bobotnya kemudian ke dlm lendir ini teteskan
minyaknya
Pembuatan emulsi dengan PGS tidak dianjurkan karena tetesan
minyaknya jauh kurang halusnya dibanding emulsi dengan gom
Walaupun jika PGS dibutuhkan maka minyak dicampur dengan
PGS kemudian ditambahkan air (7x PGS) sekaligus

Natrii carboxymethylcellulose (Na-CMC)


Tabur CMC dalam air panas, biarkan beberapa lama kemudian aduk
kuat dengan pengaduk elektrik sampai CMC larut, masukkan minyak
lemaknya, aduk kembali dengan pengaduk elektrik

Faktor-faktor yang mempengaruhi/dapat memecah emulsi


Bila emulsi yang terbentuk belum sempurna kemudian diencerkan
Pengocokan yang keras/kuat partikel akan mengadakan kontaminasi
sehingga partikel > besar
Teknik pembuatan terlalu lama merendam gom dalam minyak
Penambahan garam/elektrolit di konsentrasi yang besar
Senyawa organik yang larut dengan air etanol, eter, etil asetat
Perubahan pH yang besar
Emulgator yang berlawanan gelatin dengan gom
Zat-zat yang dapat memecah emulsi
@ Asam salisilat
@ Elektrolit
@ etil asetat
@ Garam-garam
@ Alkohol
@ Fenol
@ Asam-asam
@ Tingtura
@ Extract cair

Keuntungan sediaan emulsi

1.

Dapat mengurangi rasa dan bau yang tidak enak dengan penambahan
bahan pengaroma yang larut air/minyak

2.

Untuk pemakaian dalam absorbsinya lebih mudah karena dalam bentuk


butiran yang halus

3.

Untuk pemakaian luar membantu penetrasi dan absorbsinya pada kulit

CATATAN PENTING TAMBAHAN


Larutan :

Larutan yang mengandung gas/pembagian saturasi, ex: ascal/asetosal


dimana jika dipanaskan akan terurai menjadi asam salisilat, asetosal tidak
bisa dibuat larutan. Bila ada R/ obat minum aspirin, maka dibuat dalam
bentuk ascal lebih dahulu Ascal (asetosal salisilat calcicus)
Asetosal + CaCO3 air + CO2 saring

Ekstrak kering gerus dengan air sama banyak, encerkan sedikit demi sedikit
dengan air hangat, keringkan

Gentian violet (untuk sariawan) untuk bayi : ditaburkan di dalam cawan,


dibiarkan beberapa lama tanpa diaduk

373737373737373737373737373737373737373737

Rivanol (obat kompres) & mereurokrom (obat merah) dilarutx dgn air hangat
Ekstrak kering digerus ditimbang, masukkan dalam mortir dilarutkan dalam
air sama banyak setelah larut diencerkan

SALEP, KRIM DAN PASTA


A.
1.

SALEP
Definisi
Menurut FI III Salep adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan
dan digunakan sebagai obat luar. Bahan obat harus larut atau terdispersi
homogen dalam dasar salep yang cocok
Menurut FI IV Salep adalah sediaan setengah padat, ditujukan untuk
pemakaian topikal pada kulit atau selaput lendir
Menurut Formularium Nasional (1978) Salep adalah sediaan berupa
massa lembek, mudah dioleskan, umumnya berlemak dan mengandung
obat, digunakan sebagai obat luar untuk melindungi atau melemaskan kulit

2.

Fungsi salep

3.

Sebagai bahan pembawa obat untuk pengobatan kulit


Sebagai bahan pelumas pada kulit
Sebagai bahan pelindung untuk kulit, yaitu mencegah kontak permukaan
kulit dengan larutan berair dan rangsang kulit

Dasar salep
Dasar salep adalah zat atau bagian dari salep yang bertindak/digunakan
sebagai pembawa untuk obat. Sebenarnya dasar salep dapat dikatakan
sebagai salep yang tidak mengandung obat di dalamnya
Dasar salep dapat digolongkan ke dalam 4 kelompok :

1.
2.
3.
4.

Dasar salep hidrokarbon

1.

Dasar salep hidrokarbon (dasar salep berlemak)


Dasar salep ini merupakan dasar salep dengan titik lebur yang luas,
sehingga memungkinkan membuat campuran dengan konsistensi yang
diinginkan. Hanya sejumlah kecil komponen berair dapat dicampurkan ke
dalamnya. Salep ini dimaksudkan untuk memperpanjang kontak bahan
obat dengan kulit (dapat bertahan lama pada kulit) dan sukar dicuci,
bertindak sebagai pembalut penutup. Dasar salep hidrokarbon
digunakan terutama sebagai emolien (pelunak kulit). Tidak mengering
dan tampak berubah dalam waktu lama
Contohnya : Vaselin putih/kuning, minyak mineral, parafin padat/cair,
campuran vaselin dengan malam putih/kuning

Dasar salep serap (absorbsi)


Dasar salep yang dapat dicuci dengan air
Dasar salep yang larut dalam air

383838383838383838383838383838383838383838

2.

Dasar salep serap (absorbsi)


Meskipun tidak seperti dasar salep hidrokarbon, dasar salep ini juga
berguna sebagai emolien. Dasar salep serap tidak mudah dihilangkan
dari kulit menggunakan air.
Dasar salep serap dapat dibagi ke dalam 2 kelompok, yaitu :
a. Dasar salep anhidrous yaitu terdiri atas dasar salep yang dapat
bercampur dengan air, membentuk emulsi air dalam minyak
Contohnya :
*
Hydrophilic petrolatum terdiri atas :
Kolesterol
3%
Stearil alkohol
3%
Malam putih
8%
Vaselin putih
86 %
*
Adeps lanae (lanolin anhidrat)
b. Dasar salep yang sudah mengandung air dan merupakan
emulsi air dalam minyak, tapi masih mampu menyerap air (masih
dapat bercampur dengan sejumlah larutan air tambahan)
Contohnya :
atas :

Lanolin (adeps lanae cum aqua) terdiri

70 % sampai 75 % adeps lanae


25 % - 30 % air
Cold cream

3.

Dasar salep yang dapat dicuci dengan air


Merupakan emulsi minyak dalam air dan lebih tepat disebut krim
karena dasar ini mudah dicuci dari kulit atau dilap basah, sehingga lebih
dapat diterima untuk dasar kosmetik. Bahan obat tertentu dapat diserap
lebih baik oleh kulit jika menggunakan dasar salep ini daripada dasar
salep hidrokarbon, sehingga menjadi lebih efektif
Keuntungan lain dasar salep ini adalah dapat diencerkan dengan air dan
mudah menyerap cairan yang terjadi pada kelainan dermatologik
Contohnya : * Hydrophilic ointment, terdiri atas :
Metil paraben
0,025
pengawet
Propil paraben
0,015
pengawet
Na. lauril sulfat 1
bahan pengemulsi
Stearil alkohol
25
fase lemak
Vaselin putih
25
fase lemak
Propilenglikol
12
fase air
Air
37
fase air
* Vanishing cream

4.

Dasar salep yang larut dalam air


Dasar salep ini disebut juga dasar salep tidak berlemak, terdiri atas
konstituen larut air, dan lebih tepat disebut gel. Dasar salep ini dapat
dicuci dengan air
Dasar salep ini sangat mudah melunak dengan penambahan air, oleh
sebab itu larutan air tidak efektif jika dicampurkan ke dalam bahan dasar
ini. Dasar salep ini lebih baik digunakan untuk dicampurkan dengan
bahan tidak berair atau bahan padat. Dasar salep jenis ini memberikan
banyak keuntungan seperti dasar salep yang dapat dicuci dengan air,
dan tidak mengandung bahan yang tidak larut dalam air, seperti parafin,
adeps lanae, atau malam

393939393939393939393939393939393939393939
Contohnya :

Polietilenglikol (PEG) atau campuran antara PEG bobot


molekul rendah (bentuk cair) dengan PEG bobot molekul
tinggi (bentuk padat) misal Salep polietilenglikol,
t/a :
- PEG 4000
40 % padatan
- PEG 400
60 %
cairan (dibuat dengan
peleburan)
Setiap salep obat menggunakan salah satu dasar salep tersebut
Pemilihan dasar salep tergantung pada beberapa faktor, antara
lain :

Khasiat yang diinginkan


Sifat bahan obat yang dicampurkan
Ketersediaan hayati

Stabilitas dan ketahanan sediaan


Dasar salep yang baik memiliki kriteria sebagai berikut:

Cukup lunak
Mudah dipakai dan mudah dihilangkan dari kulit
Stabil selama pemakaian. Jadi stabil terhadap suhu kamar dan
kelembaban
Kompatibel (dapat bersatu) secara fisika dan kimia dengan zat aktif
yang dikandungnya
Tidak boleh menghambat aksi atau efek terapeutik dari zat aktif dan
mampu melepaskan obatnya pada daerah yang diobati

Zat aktif harus terdistribusi secara merata didalam dasar salep


Untuk mendapatkan stabilitas yang diinginkan, dalam beberapa hal
kadang-kadang perlu menggunakan dasar salep yang kurang ideal.
Misalnya, untuk obat-obat yang cepat terhidrolisis lebih stabil dalam
dasar salep hidrokarbon daripada dasar salep yang mengandung air,
meskipun obat tersebut bekerja lebih efektif dalam dasar salep yang
mengandung air.

4.

Pembuatan salep
Ada 2 metode pembuatan salep yaitu :

a.

Metode pencampuran
Dalam metode ini, komponen dari salep dicampur bersama-sama sampai
homogen. Untuk skala kecil biasanya dibuat dalam lumpang

b.

Metode peleburan
Pada metode ini semua komponen salep dicampur dan dilebur bersamasama, kemudian didinginkan dengan pengadukan yang konstan sampai
mengental. Komponen-komponen yang tidak dicairkan biasanya
ditambahkan pada campuran yang sudah mengental tadi dan diaduk.
Untuk bahan-bahan yang mudah menguap ditambahkan terakhir bila

404040404040404040404040404040404040404040
temperatur campuran sudah cukup rendah (tidak
penguapan dari bahan yang mudah menguap tadi)
5.

menyebabkan

Aturan umum pembuatan salep


1. Zat-zat yang larut dalam dasar salep di larutkan di dalamnya,
dan jika perlu dilakukan penghangatan atau pemanasan pada
suhu rendah
Umumnya kelarutan bahan obat yang ditambahkan ke dalam salep lebih
besar dalam minyak lemak daripada dalam vaselin
Kamfer, mentol, timol, guaiakol lebih mudah dilarutkan dengan cara
digerus dalam lumpang dengan minyak lemak
Bila dasar salep ada vaselin, maka zat-zat tersebut digerus halus dan
ditambahkan vaselin sama banyak, aduk hingga homogen. Selanjutnya
tambahkan sisa vaselin dan bagian dari dasar salep yang lain
Untuk kamfer, dapat dihaluskan dengan penambahan eter atau spiritus
fortior secukupnya, gerus sampai larut. Kemudian tambahkan dasar
salep sedikit-sedikit, aduk sampai pelarutnya menguap
Jika zat-zat tersebut berada bersama-sama dalam salep (misalnya
kamfer dan mentol), maka zat-zat tersebut dicampur dan digerus dulu
hingga meleleh (mencair), kemudian tambahkan dasar salep sedikit
demi sedikit
Hal-hal yang perlu diperhatikan :

Koloponium. Digerus halus, kemudian ditambahkan eter, aduk


sampai larut. Jaga jangan sampai ada bagian-bagian yang melekat
pada dinding lumpang. Selanjutnya tambahkan dasar salepnya
sedikit-sedikit sampai eter menguap

Iodium. Kelarutannya dalam minyak lemak sangat kecil, sehingga


jika ada minyak atau vaselin, maka sebaiknya iodium ditambah eter
dulu

2.

Ekstrak Cannabis indicae. Digerus dengan minyak. Jika harus


dicampur dengan vaselin, maka lebih dahulu digerus dengan
penambahan sedikit etanol 96 %, kemudian tambahkan vaselin
sedikit-sedikit
Zat-zat yang mudah larut dalam air
a. Jika tidak ada petunjuk lain, maka lebih dahulu zat aktif dilarutkan
dalam air, asal saja air yang dibutuhkan untuk melarutkan zat
tersebut dapat diserap oleh dasar salep. Banyaknya air yang
dibutuhkan dikurangkan dari jumlah dasar salep, karena jika tidak
dikurangkan, maka bukan saja massa salep menjadi terlalu berat,
tapi juga obat tidak lagi terdapat dalam kadar yang diminta
Contoh : R/

Tanin
Adeps lanae
Vaselin kuning
m.d.s a.u.e

2
8
20

mudah larut dalam air

Cara buat :
Tanin dilarutkan dalam air yang bobotnya sama, tambahkan adeps
lanae (adeps lanae mudah menyerap air), kemudian masukkan

vaselin kuning sedikit demi sedikit, aduk sampai homogen


Karena dalam resep di atas tidak ada air, maka air untuk
melarutkan tanin dikurangkan dari dasar salepnya yaitu vaselin. Jadi
vaselin kuning yang ditimbang = 20 2 = 18

414141414141414141414141414141414141414141
b.

Jika dasar salep mengandung air, maka zat aktifnya dapat dilarutkan
dalam air yang tersedia, kemudian dicampur dengan bagian dasar
salep yang dapat menyerap air, baru ditambahkan bagian lain dari
dasar salep, digerus dan diaduk sampai homogen
Contoh : R/

KI
Lanolin
Vaselin ad
m.d.s. a.u.e

3
10
30

mudah larut dalam air

Karena KI mudah larut dalam air, maka KI harus dilarutkan dalam


air. Air untuk melarutkan KI diambil dari lanolin (lanolin terdiri dari
adeps lanae dan air)

Contoh zat-zat yang mudah larut dalam air antara lain :


Tanin, kalium iodida (KI), Prokain HCl, Resorsin, dsb

Contoh dasar salep yang mudah menyerap air :


Adeps lanae, hydrophilic ointment, unguentum simplex
Peraturan kedua ini tidak berlaku untuk AgNO 3, karena meskipun
AgNO3 larut dalam air, zat ini tidak dilarutkan

3. Zat yang sukar/tidak cukup larut dalam salep


Mula-mula serbukkan zat dan ayak dengan ayakan No. 100,
kemudian campur dengan sebagian atau kurang lebih sama banyak
dengan dasar salep atau dengan salah satu bahan dasar salep. Bila
perlu dasar salep dicairkan dahulu, kemudian dasar salep yang telah
cair atau yang tidak dicairkan ditambahkan sedikit demi sedikit,
gerus & aduk ad homogen
ZnO dan asam borat harus diayak dulu sebelum ditimbang.
Demikian pula untuk carbonas plumbicus, sulfanilamid, chloretum
hydragyrico ammoniucum.
Kesalahan yang sering dilakukan adalah zat padatnya dicampur
dengan terlalu sedikit dasar salep, sehingga terjadi tapal yang tebal
yang tidak dapat dibuat homogen lagi. Sebaliknya, jika terlalu
banyak dasar salep, maka akan terjadi bintik-bintik yang tidak
diinginkan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan (hal-hal khusus) :

4.

Seng oksida (ZnO). Dasar salep perlu dicairkan, kecuali jika


jumlahnya sangat sedikit

Kalomel, Noviform, Raksa (II) aminoklorida, bismuth oksinitrat


harus digerus dingin karena jika digerus pada suhu yang lebih
tinggi kemungkinan akan terurai

HgO flavum atau rubrum


dicairkan

digerus dengan vaselin yang

Salep dibuat dengan jalan dicairkan (peleburan)


Jika salep dibuat dengan cara dileburkan, amak setelah lebur
campuran harus diaduk sampai dingin
Untuk bahan salep yang mengandung air, maka diambil bagian
lemaknya dan bagian lemak tersebut ikut dilelehkan, sedangkan
airnya ditambahkan setelah massa salep diaduk sampai dingin.

424242424242424242424242424242424242424242
Contoh : R/

KI
Cera flava
Ol. Sesami
Lanolin
m.d.s a.u.e

2
3
3
10

Cara buat :

Lanolin diambil airnya untuk melarutkan KI

Cera flava, oleum sesami dan adeps lanae (dari lanolin) dilebur
di atas tangas air. Setelah lebur, aduk-aduk hingga dingin,
kemudian campurkan keduanya
Jika bahan salep mengandung kotoran, maka massa salep yang
meleleh/mencair harus disaring/diserkai dengan kain kasa. Hasilnya
ditampung dalam lumpang atau cawan yang panas, kemudian aduk
hingga dingin. Penimbangan bahan dilebihkan 10-20%
6.

Bahan-bahan yang ditambahkan terakhir


Bahan-bahan yang ditambahkan terakhir ke dalam massa salep, antara lain :

Ichtyol ditambahkan setelah massa salep dingin


Tumenolamonium sama seperti ichtyol, ditambahkan setelah dingin
Balsam-balsam dan minyak atsiri ditambahkan setelah dingin
Gliserol tidak dapat bercampur homogen dengan konstituen salep
apapun yang mencair, oleh sebab itu harus ditambahkan terakhit
setelah dingin. Senyawa ini tidak mudah diserap, oleh sebab itu
sebaiknya ditambahkan sedikit demi sedikit
Serbuk pualam dan serbuk batu kambang
ditambahkan setelah
dihaluskan terlebih dahulu dengan ayakan No. 25 (B-10). Jika sudah
ditambahkan, tidak boleh lagi menggerus massa kuat-kuat. Maksudnya
supaya butir-butir kasar itu merobek kulit