Anda di halaman 1dari 42

PRESENTASI KASUS

BRONKIOLITIS DAN DEVELOPMENTAL DELAY

DOKTER PEMBIMBING
dr. Daniel Effendi, Sp.A

DISUSUN OLEH
Herlince .W. Amalo
030.11.130

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BUDHI ASIH


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK
PERIODE 11 APRIL 19 JUNI 2016
DAFTAR ISI

Bab 1 Pendahuluan 1
Bab 2 Presentasi Kasus . 3
Bab 3 Tinjauan Pustaka .. 15
Bab 4 Analisis kasus .38
Bab 5 Kesimpulan .39
Daftar pustaka ...40

BAB I
PENDAHULUAN

Bronkiolitis adalah peradangan di bronkiolus. Penyakit ini sering didapatkan pada anak usia
kurang dari 2 tahun. Selain itu, bronkiolitis juga merupakan penyebab tersering perawatan
rumah sakit pada bayi di bawah 1 tahun. Penyakit ini ditandai oleh sindrom klinis berupa
nafas cepat, retraksi dada dan wheezing.1
Penyebab terbanyak disebabkan oleh RSV (respiratory syncytial virus),penyebab lain
pada kasus-kasus yang lebih jarang disebabkan oleh virus parainfluenza tipe 1 dan 3,
Influenza B, Parainfluenza tipe 2, Adenovirus. Penyebab tersering dari bronkiolitis adalah
virus Respiratory Syncytical (RSV), kira-kira 45-55% dari total kasus. Sedangkan virus lain
seperti Parainfluenza, Rhinovirus, Adenovirus, dan Enterovirus sekitar 20%. Bakteri dan
mikoplasma sangat jarang menyebabkan bronkiolitis pada bayi. Sekitar 70% kasus bronkiolitis
pada bayi terjadi gejala yang berat sehingga harus dirawat di rumah sakit, sedangkan sisanya
biasanya dapat dirawat di poliklinik. Sebagian besar infeksi saluran napas ditularkan lewat
droplet infeksi. Infeksi primer oleh virus RSV biasanya tidak menimbulkan gejala klinik,
tetapi infeksi sekunder pada anak tahun-tahun pertama kehidupan akan bermanifestasi berat.
Virus RSV lebih virulen daripada virus lain dan menghasilkan imunitas yang tidak bertahan
lama. Infeksi ini pada orang dewasa tidak menimbulkan gejala klinis. RSV adalah golongan
paramiksovirus dengan bungkus lipid .1
Bronkiolitis yang disebabkan oleh virus jarang terjadi pada masa neonatus. Hal ini
karena antibodi neutralizing dari ibu masih tinggi pada 4-6 minggu kehidupan, kemudian akan
menurun. Antibodi tersebut mempunyai daya proteksi terhadap infeksi saluran napas bawah,
terutama terhadap virus. Secara klinis bronkiolitis akut sukar dibedakan dengan pneumonia
bakteri sedangkan gejala obstruksi saluran napas, secara klinis sukar dibedakan dengan
serangan asma. Bronkiolitis pada masa bayi dapat menimbulkan dampak pada saluran napas
berupa batuk, wheezing dan hiperreaktivitas sampai beberapa tahun kemudian.1
Faktor resiko penyakit ini diantaranya: berat bayi lahir rendah, bayi berumur kurang
dari 6 bulan, bayi prematur, sosial ekonomi rendah, lingkungan pemukiman yang padat,
terpapar asap rokok, ketiadaan pemberian ASI.1
Infeksi pada sel respiratorius bronkiolus dan sel epitel bersilia menyebabkan terjadinya
peningkatan sekresi mukus, terjadi kematian sel, diikuti infiltrasi limfosit peribronkial dan
edema submukosa menyebabkan terjadinya penyempitan dan obstruksi pada saluran napas
kecil. Hasil dari obstruksi selama ekspirasi ini menyebabkan terjadinya air trapping dan
overinflasi untuk kemudian terjadi gangguan keseimbangan ventilasiperfusi.1,2
Periode terpenting pertumbuhan dan perkembangan anak adalah umur di bawah 5
tahun.. Delayed development adalah klasifikasi ciri anak menunjukkan keterlambatan signifikan
2

dalam satu atau lebih domain perkembangan kognitif, emosional atau fisik. Salah satu masalah
pada penderita delayed development yakni terdapat hipotonus. Hipotonus adalah penurunan
massa otot dan biasanya terjadi suatu peningkatan mobilitas sendi. Tonus otot menurun
disebabkan karena oleh menurunnya impuls dari otak ke otot melalui saraf perifer. Akibatnya
mengalami kesulitan dalam beraktifitas dan melakukan kemampuan fungsional.3

BAB II
PRESENTASI KASUS
BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
3

RS PENDIDIKAN : RSUD BUDHI ASIH


STATUS PASIEN KASUS II
2.1 IDENTITAS PASIEN
Nama
: An. Muhammad Jinan
Tempat/ tanggal lahir : Jakarta, 25 Agustus 2015
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Umur
: 8 bulan
Alamat
: Jln PLN Duren 3 no. 44 RT 7/RW6, Pancoran-Jakarta Selatan
Agama
: Islam
Pendidikan
:Orang Tua/Wali
Ayah:
Ibu :
Nama : Tn. Bahrudin
Nama : Ny. Rohimah
Umur : 25 tahun
Umur : 19 tahun
Alamat: Jln PLN Duren 3 no. 44 RT 7/RW6, Alamat: : Jln PLN Duren 3 no. 44 RT 7/RW6,
Pancoran-Jakarta Selatan
Pancoran-Jakarta Selatan
Pekerjaan : Pedagang
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Penghasilan: Rp 1.000.000,00
Penghasilan: Pendidikan : SMA
Pendidikan : SMA
Suku Bangsa : Jawa
Suku Bangsa : Sunda
Agama : Islam
Agama : Islam
Hubungan dengan orang tua : Pasien merupakan anak kandung.
2.2 RIWAYAT PENYAKIT
A. ANAMNESIS
Dilakukan secara alloanamnesis dengan Ny.Rohimah yang merupakan ibu kandung pasien.
Lokasi
: Bangsal lantai 6 Timur, kamar 610
Tanggal / pukul
: 3 Mei 2016 pukul 16.00 WIB
Tanggal masuk
: 26 April 2016 pukul 06.00 WIB
Keluhan Utama
: Sesak nafas sejak 2 hari sebelum masuk RS.
Keluhan Tambahan : Batuk berdahak, pilek, demam naik turun selama 2 hari
B. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG :
Pasien datang ke IGD RSUD Budhi Asih diantar oleh kedua orang tuanya dengan keluhan
sesak sejak 2 hari sebelum masuk RS. Sesak dirasakan tiba-tiba dan semakin memberat.
Pasien juga demam naik turun sejak 2 hari disertai batuk berdahak yang sulit dikeluarkan
disertai pilek dengan sekret berwarna putih sejak 2 minggu yang lalu. Ibu pasien juga
mengeluh pasien belum bisa tengkurap atau duduk hingga sekarang berusia 8 bulan. BAB dan
BAK normal serta nafsu makan pasien baik.
Ibu pasien mengaku pasien lahir prematur dengan operasi sectio secaria atas indikasi
pre eklamsi berat. Pada saat lahir kulit pasien kuning.
Keluarga pasien tidak ada yang menderita penyakit asma, TB paru atau keluhan yang
serupa dengan pasien. Imunisasi pada pasien belum lengkap karena pasien sering demam
sehingga jadwal imunisasi selalu ditunda.
C. RIWAYAT KEHAMILAN/KELAHIRAN
4

Morbiditas
Kehamilan
Perawatan Antenatal

Ibu pasien menderita pre eklamsi berat


selama kehamilan
KEHAMILAN
ANC rutin dibidan, suntik TT(+), vitamin
rutin.
Tempat Persalinan
RSUD Budhi Asih
Penolong Persalinan
Dokter
Cara Persalinan
Sectio secaria
Masa Gestasi
32 minggu
Berat lahir : 2470 gram.
Panjang lahir : 45 cm.
Lingkar kepala : tidak tahu
KELAHIRAN
Langsung menangis (+)
Pucat (-)
Keadaan Bayi
Biru (-)
Kuning (+)
Nilai APGAR : Tidak tahu
Kelainan bawaan : Tidak ada
Kesimpulan riwayat kehamilan/kelahiran: Ibu pasien mempunyai riwayat pre eklamsi berat
selama kehamilan, pasien lahir kurang bulan secara sectio secaria dengan berat bayi lahir
rendah dan kulit kuning.
D. RIWAYAT PERKEMBANGAN
Pertumbuhan gigi I
: 7 bulan, incisivus 1 dan 2 bawah (Normal: 5-9
bulan)
Gangguan perkembangan mental
:Psikomotor
Tengkurap
:(Normal : 3-4 bulan)
Duduk
:(Normal : 6-9 bulan)
Berdiri
:(Normal : 9-12 bulan)
Berjalan
:(Normal : 13 bulan)
Bicara
:(Normal : 9-12 bulan)
Membaca dan menulis : Perkembangan pubertas
Rambut pubis
:Payudara
:Menarche
:Kesimpulan riwayat perkembangan: Pasien belum bisa tengkurap dan duduk sehingga
dapat disimpulkan pasien mengalami delayed development.
E. RIWAYAT MAKANAN
Umur
(bulan)

ASI/PASI

Buah / Biskuit Bubur Susu

Nasi Tim

02

ASI

24

ASI

56

ASI

67

ASI/PASI

7-10
10-12
Kesimpulan riwayat makanan: Pasien mendapat ASI eksklusif
Lebih dari 1 tahun
Jenis Makanan

Frekuensi dan Jumlah

Nasi/ Pengganti

Sayur

Daging

Telur

Ikan

Tahu

Tempe

Susu

SGM Ananda 6x/hari

Kesimpulan makanan Pasien mengonsumsi ASI dan susu SGM


F. RIWAYAT IMUNISASI
Vaksin
Dasar (umur)

Ulangan (umur)

BCG

1 bulan

DPT / DT

2 bulan

Polio

0 bulan

2 bulan

Campak

Hepatitis B

0 bulan

1 bulan

Kesimpulan riwayat imunisasi : Imunisasi dasar belum lengkap

G. RIWAYAT KELUARGA
a. Corak Reproduksi
No

Tanggal lahir
(umur)

Jenis
kelamin

Hidup

Lahir
mati

Abortus

Mati
(sebab)

Keterangan
kesehatan
6

1.

25-5-1996 (9 th)

Perempuan

Sehat

22-9-2000 (5 th)

Laki-laki

Sehat

25-8-2015 (8 bln)

Laki-laki

Pasien

b. Riwayat Pernikahan
Nama
Perkawinan keUmur saat menikah
Pendidikan terakhir
Agama
Suku bangsa
Keadaan kesehatan
Kosanguinitas
Penyakit, bila ada

Ayah
Tn. Bahrudin
I
25 th
SMA
Islam
Jawa
Sehat
-

Ibu
Ny. Rohimah
I
19 th
SMA
Islam
Sunda
Riwayat PEB selama kehamilan
-

c. Riwayat Penyakit Keluarga


Orang tua pasien tidak pernah memiliki keluhan serupa seperti pasien. Menurut ibu pasien,
di lingkungan rumah juga tidak ada yang memiliki keluhan yang sama seperti pasien.
Kesimpulan riwayat keluarga: Tidak ada resiko kontak langsung dalam penularan
penyakit.
H. RIWAYAT PENYAKIT YANG PERNAH DIDERITA
Penyakit
Umur
Penyakit
Umur
Penyakit
Alergi
(-)
Otitis
(-)
Kecelakaan
Rhinitis Atopi (-)
Parotitis
(-)
Penyakit Jantung
Dermatitis
(-)
Difteria
(-)
Radang Paru
Atopi
Cacingan
(-)
Diare
(-)
TBC
Demam
Berdarah
(-)
Kejang
(-)
Asma
Dengue
Demam Tifoid (-)
Morbili
(-)

Umur
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)

Kesimpulan penyakit yang pernah diderita: Pasien tidak mempunyai penyakit lain
sebelumnya.
I. RIWAYAT LINGKUNGAN PERUMAHAN
Pasien tinggal bersama kedua orang tua di rumah kontrakan. Menurut ibu pasien, kondisi
rumah memiliki ventilasi baik, pencahayaan cukup, sumber air dari jet pump, jamban bersih
milik sendiri di dalam rumah, sampah tiap hari diangkut petugas. Rumah berada didekat
pabrik minuman yang banyak polusi. Jarak rumah ke rumah cukup padat, dengan jumlah
orang yang cukup banyak juga.
7

Kesimpulan keadaan lingkungan: Perumahan padat penduduk, banyak polusi namun


lingkungan masih bersih.
J. RIWAYAT SOSIAL DAN EKONOMI
Ayah pasien bekerja sebagai pedagang denga penghasilan 1 juta per bulan. Ibu pasien tidak
bekerja, tidak juga memiliki usaha sampingan.
Kesimpulan sosial ekonomi: Penghasilan hanya bersumber dari ayah pasien,ibu pasien
mengaku penghasilan selama ini tidak cukup untuk membiayai kehidupan sehari-hari.
2.3 PEMERIKSAAN FISIK (Tanggal 3 Mei 2016, pukul 16.00 WIB)
A. Status Generalis
Keadaan Umum
Kesan Sakit
: Tampak sakit sedang
Kesadaran
: Compos Mentis
Kesan Gizi
: Baik
Keadaan lain
: anemis (-), ikterik (-), sianosis (-), sesak (+)
Data Antropometri
Berat Badan sekarang
: 8,3 Kg
Panjang Badan
: 70 cm
Lingkar lengan atas
: 13 cm
Lingkar kepala
: 42 cm (Normocephali menurut kurva Nellhaus)
Status Gizi
- BB/U
: Antara -2 SD - +2 SD (BB Normal)
- TB/U
: Antara -2 SD - +2 SD (TB Normal)
- BB/TB
: Antara -2 SD - +2 SD (Gizi Normal)
Berdasarkan standar baku WHO 2006 gizi anak termasuk dalam gizi normal
Tanda Vital
Nadi
Tekanan Darah
Nafas
Suhu

: 160x/menit, isi cukup, regular, equal


: 90/60 mmHg (tensi jarum di tangan kanan)
: 56x/menit tipe thorakoabdominal.
: 37C, axilla (diukur dengan thermometer digital pada axilla)

KEPALA : Normocephali, cekung (-), kelainan kulit kepala (-), ubun-ubun besar sudah
menutup
RAMBUT: Rambut hitam, distribusi merata dan tidak mudah dicabut.
WAJAH : wajah simetris, oedem (-), luka atau jaringan parut (-), sianosis (-), dismorfik
(-), pucat (-)
MATA
: Alis mata merata, madarosis (-), palpebral cekung (-), palpebral oedem (-/-),
bulu mata hitam, merata, trikiasis (-), kontak mata -/Visus
Sklera ikterik
Konjungtiva anemis
Exophthalmus
Endofthalmus
Pupil
Strabismus

: kesan baik
: -/: -/: -/: -/: isokor 3mm/3mm
: -/-

Ptosis
Lagofthalmus
Cekung
Bercak bitot
RCL/RCTL
Kornea

: -/: -/: -/: -/: +/+


: Jernih
8

Alis

: Hitam, distribusi merata

TELINGA
:
Bentuk
Nyeri tarik aurikula
Liang telinga
Serumen
Sekret

: Normotia
: -/: Lapang/lapang
: +/+
: -/-

HIDUNG :
Bentuk
Sekret
Mukosa hiperemis

: Simetris
: -/: -/-

BIBIR

Tuli
Nyeri tekan tragus
Membran timpani
Refleks cahaya

Napas cuping hidung


Deviasi septum : -

: -/: -/: Sulit dinilai


: Sulit dinilai

: -/-

: kesan simetris, pucat (-), kering (-), sianosis (-), labioskizis (-)

MULUT : Trismus (-) oral hygiene baik, gigi geligi sudah tumbuh, mukosa gusi dan pipi
berwarna merah muda, stomatitis (-)
LIDAH : Normoglosia, mukosa merah muda (-), atrofi papil (-), tremor (-), coated
tongue (-)
TENGGOROKAN : Arkus faring simetris, hiperemis (-), uvula ditengah, tonsil T2/T2
hiperemis (-)
LEHER : Bentuk tidak tampak kelainan, tidak tampak pembesaran tiroid maupun KGB,
tidak tampak deviasi trakea.
THORAKS
: Bentuk simetris, deformitas (-), retraksi intercostal ringan (+),
retraksi supraklavikula (-), retraksi suprasternal (-), retraksi subcostal (-)
JANTUNG :
Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi
: Ictus cordis teraba pada ICS V linea midklavikularis sinistra
Perkusi
: Batas kiri jantung ICS V linea midclavicularis sinistra
Batas kanan jantung ICS III-V linea sternalis dextra
Batas atas jantung ICS III linea parasternalis sinistra
Auskultasi : BJ I-II regular, murmur (-), gallop (-)
PARU :
Inspeksi

: Bentuk simetris, pernapasan simetris pada saat statis dan dinamis, pernapasan
abdomino-torakal
Palpasi
: Nyeri tekan (-), benjolan (-), gerak napas tidak ada yang tertinggal, vocal
fremitus sama kuat kanan kiri
Perkusi
: Sonor di seluruh lapang paru
Auskultasi : Suara napas vesikuler +/+ reguler, ronchi +/+, wheezing pada seluruh
ekspirasi dan sebagian inspirasi dengan lokasi 2 dari 4 lapang paru.
ABDOMEN

:
9

Inspeksi : Perut bentuk datar, tidak ada efloresensi yang bermakna, smiling umbilikus
Auskultasi : Bising usus (+), frekuensi 5x / menit
Palpasi
: Supel, nyeri tekan -, turgor kulit baik, hepar dan lien tidak teraba membesar
Perkusi : Timpani, shifting dullnessANOGENITALIA : Jenis kelamin laki-laki, hipospadi -, epispadi -, fimosis -, testis dalam
skrotum +/+
KELENJAR GETAH BENING : Tidak teraba pembesaran KGB pada regio colli, axilla
maupun inguinal
ANGGOTA GERAK :
Ekstremitas : Akral hangat seluruh ekstremitas, sianosis (-), CRT <2 , edema
TULANG BELAKANG: bentuk normal, tidak terdapat deviasi, benjolan (-), ruam (-)

STATUS NEUROLOGIS
Refleks Fisiologis

Kanan

Kiri

Biseps

Triceps

Patella

Achiles

Refleks Patologis
Babinski
Chaddock
Oppenheim
Gordon
Schaeffer
Klonus
Rangsang meningeal
Kaku kuduk
Kerniq
Laseq
Bruzinski I
Bruzinski II

Kanan
+

Kiri
+
-

Kanan
-

Kiri
-

10

Nervus kranialis: tidak ada lesi nervus kranialis


2.4. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium darah
Hematologi
Jenis
Hasil
Leukosit
7,9
Eritrosit
4,5
Hemoglobin
11,3
Hematokrit
35
Trombosit
262
MCV
78,7
MCH
25,1
MCHC
31,9
RDW
16,7
Elektrolit
Natrium
138
Kalium
4,7
Klorida
112

Satuan
ribu/l
juta/l
g/dl
%
ribu/l
fL
Pg
g/dl
%

Nilai Normal
6 - 17,5
3,6 - 5,2
10,5 12,9
35 43
217 497
74 106
21 33
28 32
<14

mmol/L
mmol/L
mmol/L

135 155
3,6 - 5,5
98 115

Rontgen thoraks

Deskripsi :
Intensitas cukup, simetris, inspirasi cukup.
Mediastinum tidak melebar
Jantung: kesan jantung tidak membesar, batas jantung kiri jelas, batas jantung kanan
kurang jelas
Paru: Tampak perselubungan hiller dan perihiler kanan, tampak peningkatan corakan
bronkovaskuler yang tersebar merata pada kedua lapang paru
Diafragma: sinus kostofrenikus dan hemidiafragma kanan dan kiri baik
Kesan: bronkiolitis
2.5 RESUME
11

Pasien laki-laki berusia 8 bulan datang ke IGD RSUD Budhi Asih diantar oleh kedua orang
tua dengan keluhan sesak sejak 2 hari sebelum masuk RS. Sesak dirasakan tiba-tiba dan
semakin memberat. Pasien juga demam naik turun sejak 2 hari disertai batuk berdahak yang
sulit dikeluarkan disertai pilek dengan sekret berwarna putih sejak 2 minggu yang lalu. Ibu
pasien juga mengeluh pasien belum bisa tengkurap atau duduk hingga sekarang berusia 8
bulan. BAB dan BAK normal serta nafsu makan pasien baik.
Ibu pasien mengaku pasien lahir prematur dengan operasi secio secaria atas indikasi
pre eklamsi berat. Pada saat lahir kulit pasien kuning.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan takipenea (nafas 56x/menit), kontak mata -/-,
adanya retraksi intercostal ringan , ronchi +/+ dan wheezing pada seluruh ekspirasi dan
sebagian inspirasi dengan lokasi 2 dari 4 lapang paru, reflex fisiologis meningkat, klonus +
Pemeriksaan laboratorium didapatkan dalam batas normal namun pada pemeriksaan
radiologis didapatkan kesan bronkiolitis.

2.6 DIAGNOSIS BANDING


- Bronkiolitis derajat sedang
- Asma bronkiale
- Pneumonia
- TB paru
- Developmental delay
2.7 DIAGNOSIS KERJA
- Bronkiolitis derajat sedang
- Developmental delay
2.8 PEMERIKSAAN ANJURAN
- Analisa gas darah
- CT Scan
- Mantoux test
2.9 TATALAKSANA
A. NON-MEDIKA MENTOSA
a. Edukasi kepada orang tua pasien mengenai keadaan pasien dan menjelaskan
kemungkinan adanya gejala berulang lagi
b. Edukasi agar pasien jangan terpapar dengan asap rokok dan hindari polusi udara
c. Nutrisi
B. MEDIKA MENTOSA
- Bronkodilator : Terbutalin (0,05 0,1 mg/kgbb) 2x0,4 mg
- Nebulisasi : Combivent 0,5 cc dalam NaCl 0,9% 1 cc diulang tiap 4-6 jam
- Antibiotik : Inj Ampicillin ( 100-200 mg/kgbb) 4 x 250 mg
- Steroid : Inj. Dexamethasone (0,6 mg/kgbb) 3 x 1,5 mg
- Mukolitik : Ambroxol 3 x 5 mg
- Antipiretik : Paracetamol (20mg/kgbb) 2 x 80 mg bila suhu 38C
C. TERAPI SUPORTIF
- O2 nasal 2l/menit
12

- IVFD KAEN 1B 3cc/kgbb/jam


2.10 PROGNOSIS
- Ad Vitam
- Ad Functionam
- Ad Sanationam

: Ad bonam
: Dubia ad bonam
: Dubia ad bonam

FOLLOW UP
Tgl
S
26/4/16 Sesak,batuk,
HP-1
pilek

27/4/16 Sesak

berkurang
30/4/16

Batuk
Pilek

O
TSS, CM
S: 37,5oC
HR: 98x/m, regular, isi
cukup, ekual
RR: 60x/menit, regular
TD: 100/80 mmHg
Mata CA -/- SI -/Hidung NCH +
Mulut Sianosis (-)
Kering(-)
Thorax Retraksi
intercostae +
c/ BJ I & II reg, m (-),
g (-)
p/ SNV, rh+/+,
wheezing pada
inspirasi sebagian
lapang paru &
ekspirasi pada semua
lapang paru
Abdomen datar,
supel BU+ 6x
Ekstremitas Akral
Hangat +, sianosis -,
CRT<2
Belum bisa
tengkurap&duduk
TSS, CM
S: 37,6oC
HR: 98x/m, regular, isi
cukup, ekual
RR: 32x/menit, regular
Mata CA -/- SI -/Hidung NCH Mulut Sianosis (-)
Kering(-)

A
Bronkiolitis
serangan sedang
Delayed
development

P
Oksigen nasal 2l/menit
IVFD KAEN 1B
3cc/kgbb/jam
Nebulisasi combivent
0,5cc dalam NaCl 0,9%
1 cc
Terbutalin 2x0,4mg
Inj.Ampicillin
4x250mg
Inj.Dexamethasone
3x1,5mg
Ambroxol 3x5mg

Bronkiolitis
serangan sedang
Delayed
development

Oksigen nasal 2l/menit


IVFD KAEN 1B
3cc/kgbb/jam
Nebulisasi combivent
0,5cc dalam NaCl 0,9%
1 cc
Terbutalin 2x0,4mg
Inj. Ampicillin
4x250mg
13

1/5/201 Batuk +
6
Pilek 5/5/201 Sesak 6

Thorax Retraksi
intercostae +,c/ BJ I &
II reg, m (-), g (-)
p/ SNV, rh+/+,
wheezing pada
inspirasi sebagian
lapang paru &
ekspirasi pada semua
lapang paru
Abdomen datar,
supel BU+ 5x
Ekstremitas Akral
Hangat +, sianosis -,
CRT<2
Belum bisa
tengkurap&duduk
TSS, CM
S: 37,6oC
HR: 98x/m, regular, isi
cukup, ekual
RR: 32x/menit, regular
Mata CA -/- SI -/Hidung NCH Mulut Sianosis (-)
Kering(-)
Thorax retraksi -,
c/ BJ I & II reg, m (-),
g (-)
p/ SNV, rh-/-,
wheezing pada
ekspirasi, lokasi 2
dari 4 lapang paru
Abdomen datar,
supel BU+ 5x
Ekstremitas Akral
Hangat +, sianosis -,
CRT<2
Belum bisa
tengkurap&duduk
CT Scan : atrofi otak

Ambroxol 3x5mg

Bronkiolitis
serangan ringan
Delayed
development

Venflon
Terbutalin 2x0,4mg
Ampicillin 2x100mg
Ambroxol 3x5mg
ASI 8x100cc
Boleh pulang

14

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 BRONKIOLITIS
3.1.1 Definisi
Bronkiolitis adalah penyakit infeksi respiratorik akut-bawah yang ditandai dengan adanya
inflamasi pada bronkiolus. Umumnya infeksi disebabkan oleh virus. Penyakit ini terjadi selama
usia 2 tahun pertama dengan insidens puncaknya pada sekitar usia 6 bulan. Secara klinis
ditandai dengan episode wheezing, nafas cepat dan retraksi dada.4,5
3.1.2 Etiologi
Penyebab utama dari bronkiolitis adalah infeksi Repiratory Syncytical Virus (RSV) yang
memilki morbiditas dan mortalitas tinggi, terutama pada anak dengan risiko tinggi dan
imnunokompromise. Sekitar 95 % dari kasus-kasus tersebut secara serologis terbukti
disebabkan oleh invasi RSV. Beberapa penyebab lainadalah Adenovirus, virus influenza, virus
parainfluenza, Rhinovirus dan mikoplasma. Tidak ada bukti yang kuat bahwa bakteri
menyebabkan bronkiolitis.5
RSV adalah single stranded RNA virus yang berukuran sedang (80-350
nm), termasuk paramyxovirus. Terdapat dua glikoprotein permukaan yang
merupakan bagian penting dari RSV untuk menginfeksi sel, yaitu protein G
(attachment protein ) yang mengikat sel dan protein F (fusion protein) yang
menghubungkan partikel virus dengan sel target dan sel tetangganya. Kedua
protein ini merangsang antibodi neutralisasi protektif pada host. Terdapat dua
macam strain antigen RSV yaitu A dan B. RSV strain A menyebabkan gejala yang
pernapasan yang lebih berat dan menimbulkan sekuele. Masa inkubasi RSV 2 - 5
hari.5
3.1.3 Faktor Risiko

Bronkiolitis sering mengenai anak usia dibawah 2 tahun dengan insiden tertinggi pada
bayi usia 6 bulan. Makin muda usia bayi menderita bronkiolitis biasanya akan makin berat
penyakitnya. Bayi yang menderita bronkiolitis berat mungkin oleh karena kadar antibodi
15

maternal (maternal neutralizing antibody) yang rendah. Selain usia, bayi dan anak dengan
penyakit jantung bawaan, bronchopulmonary dysplasia, prematuritas, kelainan neurologis dan
immunocompromized mempunyai resiko yang lebih besar untuk terjadinya penyakit yang
lebih berat. Insiden infeksi RSV sama pada laki-Iaki dan wanita, namun bronkiolitis berat
lebih sering terjadi pada laki-Iaki. Selain itu, faktor resiko terjadinya bronkiolitis adalah status
sosial ekonomi yang rendah, jumlah anggota keluarga yang besar, perokok pasif, dan berada
pada tempat penitipan anak atau tempat dengan lingkungan yang padat penduduk.4,5

3.1.4 Epidemiologi
Bronkiolitis mengenai anak usia dibawah 2 tahun dengan insiden tertinggi pada bayi usia 6
bulan. Pada daerah yang penduduknya padat, bronkiolitis oleh karena RSV terbanyak pada
usia 2 bulan. RSV menyebar melalui droplet dan kontak langsung, seseorang biasanya aman
apabila berjarak lebih 6 feet dari seseorang yang menderita infeksi RSV. Droplet yang besar
dapat berthan di udara bebas selama 6 jam, dan seorang penderita menularkan virus tersebut
selama 10 hari.6
Di Negara dengan 4 musim, bronkiolitis banyak terdapat pada musim dingin sampai
awal musim semi, di Negara tropis pada musim hujan.6
3.1.5 Patofisiologi
Masa inkubasi RSV 2-5 hari. Virus bereplikasi di dalam nasofaring kemudia menyebar dari
saluran nafas atas ke saluran nafas bawah melalui penyebaran langsung pada epitel saluran
nafas dan melalui aspirasi sekresi nasofaring. RSV mempengaruhi sistem saluran nafas
melalui kolonisasi dan replikasi virus pada mukosa bronkus dan bronkiolus yang memberi
gambaran patologi awal berupa nekrosis sel epitel silia. Nekrosis sel epitel saluran nafas
menyebabkan terjadi edema submukosa dan pelepasan debris dan fibrin ke dalam lumen
bronkiolus. Virus yang merusak epitel bersilia juga mengganggu gerakan mukosilier, mukus
tertimbun didalam bronkiolus. Kerusakan epitel saluran nafas juga mengakibatkan sel aferen
lebih terpapar terhadap allergen/iritan, sehingga dilepaskan beberapa neuropeptide
(neurokinin, substance P) yang menyebabkan kontraksi otot polos saluran nafas. Pada
akhirnya kerusakan epitel saluran nafas juga meningkatkan ekspresi Intercellular Adesion
Molecule-1 (ICAM-1) dan produksi sitokin yang akan menarik eosinophil dan sel-sel
inflamasi. Jadi, bronkiolus menjadi sempit karena kombinasi dan proses inflamasi, edema
saluran nafas, akumulasi sel-sel debris dan mukus serta spasme otot polos saluran nafas.7

16

Adapun respon paru ialah dengan meningkatkan kapasitas fungsi residu, menurunkan
compliance, meningkatkan tahanan saluran nafas, dead space serta meningkatkan shunt.
Semua faktor-faktor tersebut menyebabkan peningkatan kerja sistem pernafasan, batuk,
wheezing, obstruksi saluran nafas, hiperaerasi, atelektasis, hipoksia, hiperkapnea, asidosis
metabolik sampai gagal nafas. Resistensi aliran udara saluran nafas meningkat pada fase
inspirasi maupun pada fase ekspirasi. Selama fase ekpirasi terdapat mekanisme klep hingga
udara akan terperangkap dan menimbulkan overinflasi dada. Volume dada pada akhir ekspirasi
meningkat hampir dua kali diatas normal. Atelektasis dapat terjadi bila obstruksi total.7
Anak besar dan orang dewasa jarang mengalami bronkiolitis bila terserang infeksi
virus. Perbedaan anatomi antara paru-paru bayi muda dan anak ang lebih besar mungkin
merupakan kontribusi terhadap hal ini. Respon proteksi imunologi terhadap RSV bersifat
transien dan tidak lengkap. Infeksi yang berulang pada saluran nafas bawah akan
meningkatkan resistensi terhadap penyakit. Akibat infeksi yang berulang-ulang, terjadi
cumulative immunity sehingga pada anak yang lebih besar dan orang dewasa cenderung lebih
tahan terhadap infeksi bronkiolitis dan pneumonia karena RSV.7
Penyembuhan brokiolitis akut ditandai dengan regenerasi epitel bronkus dan
bronkiolus 3-4 hari, sedangkan regenerasi dari silia berlangsung lebih lama dapat sampai 15
hari. Infeksi RSV dapat menstimulasi respon imun humoral dan seluler. Respon antibodi
sitemik terjadi bersamaan dengan respon imun lokal. Bayi usia muda mempunyai respon imun
yang buruk.7

3.1.6 Manifestasi klinis


Mula-mula menderita gejala ISPA atas ringan berupa pilek yang encer dan bersin. Gejala ini
berlangsung beberapa hari, kadang disertai demam dan nafsu makan berkurang. Kemudian
satu atau dua hari kemudian timbul distres nafas yang ditandai oleh batuk paroksismal,
wheezing dan sesak napas. Bayi-bayi akan menjadi rewel, muntah serta sulit makan dan
minum. Bronkiolitis biasanya terjadi setelah kontak dengan orang dewasa atau anak besar yang
menderita infeksi saluran nafas atas yang ringan.8
Bayi mengalami demam ringan atau tidak demam sama sekali dan bahkan ada yang
mengalami hipotermi. Terjadi distres nafas dengan frekuensi nafas lebih dari 60 kali per menit,
17

kadang-kadang disertai sianosis, nadi juga biasanya meningkat. Terdapat nafas cuping hidung,
penggunaan otot bantu pernafasan dan retraksi. Retraksi biasanya tidak dalam karena adanya
hiperinflasi paru (terperangkapnya udara dalam paru). Terdapat ekspirasi yang memanjang,
wheezing yang dapat terdengar dengan ataupun tanpa stetoskop, serta terdapat crackles. Hepar
dan lien teraba akibat pendorongan diafragma karena tertekan oleh paru yang hiperinflasi.
Sering terjadi hipoksia dengan saturasi oksigen <92% pada udara kamar. Pada beberapa pasien
dengan bronkiolitis didapatkan konjungtivitis ringan, otitis media serta faringitis.8

3.1.7 Pemeriksaan Penunjang


- Pemeriksaan darah tepi tidak khas, jumlah leukosit berkisar antara 5000-24000 sel/l. Pada
keadaan leukositosis, batang dan PMN banyak ditemukan.9
- Analisis Gas Darah : hiperkapnia sebagai tanda dari air tapping, asidosis metabolik atau
respiratorik. Analisa gas darah (AGD) diperlukan untuk anak dengan gangguan pernafasan
berat, khususnya yang membutuhkan ventilator mekanik, gejala kelelahan dan hipoksia. 9
- Foto Thorak diindikasikan pada :
o Pasien yang diperkirakan memerlukan perawatan lebih
o Pasien dengan pemburukan klinis yang tidak terduga
o Pasien dengan penyakit jantung dan paru yang mendasari.
Rontgen thoraks AP dan lateral dapat terlihat gambaran hiperinflasi paru dengan diameter
anteroposterior membesar pada foto lateral disertai dengan diafragma datar, penonjolan ruang
retrosternal dan penonjolan ruang interkostal. Dapat terlihat bercak konsolidasi yang tersebar
pada sekitar 30 % penderita dan disebabkan oleh ateletaksis akibat obstruksi atau karena
radang alveolus.9
- Identifikasi virus dengan memeriksa sekresi nasal dengan menggunakan tekhnik
imunofluoresens atau enzyme linked immunosorbent assay (ELISA).9
- Histopatologi: hipertrofi dan timbunan infiltrat meluas ke peribronkial, destruksi dan
deorganisasi jaringan otot dan elastis dinding mukosa. Terminal bronkiolus tersumbat dan
dilatasi. Alveoli overdistensi, atelektasis dan fibrosis. Sensifitas pemeriksaan ini adalah 8090%9

18

3.1.8 Diagnosis
Diagnosis bronkiolitis berdasarkan gambaran klinis, umur penderita dan adanya epidemi RSV
di masyarakat. Kriteria bronkiolitis terdiri dari: (1) wheezing pertama kali, (2) umur 24 bulan
atau kurang, (3) pemeriksaan fisik sesuai dengan gambaran infeksi virus misalnya batuk,
pilek, demam dan (4) menyingkirkan pneumonia atau riwayat atopi yang dapat menyebabkan
wheezing.5
Pertama sekali dapat dicatat bahwa bayi dengan bronkiolitis
menderita suatu infeksi ringan yang mengenai saluran pernapasan bagian
atas disertai pengeluaran sekret-sekret encer dari hidung dan bersinbersin. Gejala-gejala ini biasanya akan berlangsung selama beberapa hari
dan disertai demam dari 38,50C hingga 390C, akan tetapi bisa juga tidak
disertai

demam,

bahkan

pasien

bisa

mengalami

hipotermi.

Pasien

mengalami penurunan nafsu makan, kemudian ditemukan kesukaran


pernafasan yang akan berkembang perlahan-lahan dan ditandai dengan
timbulnya batukbatuk, bersin paroksimal, dispneu, dan iritabilitas. Pada
kasus ringan gejala akan menghilang dalam waktu 1-3 hari. Kadangkadang, pada penderita yang terserang lebih berat, gejala-gejala dapat
berkembang hanya dalam beberapa jam serta perjalaan penyakitnya akan
berlangsung berkepanjangan. Keluhan muntah-muntah dan diare biasanya
tidak didapatkan pada pasien ini.5
Kebanyakan bayi-bayi dengan penyakit tersebut, mempunyai riwayat
keberadaan mereka diasuh oleh orang dewasa yang menderita penyakit
saluran pernafasan ringan pada minggu sebelum awitan tersebut terjadi
pada mereka. Disamping itu, kita juga harus menyingkirkan pneumonia
atau riwayat atopi yang dapat menyebabkan wheezing.5
Pemeriksaan fisik memperlihatkan seorang bayi mengalami distres
nafas dengan frekuensi nafas lebih dari 60 kali per menit (takipneu),
kadang-kadang disertai sianosis, dan nadi juga biasanya meningkat.
Terdapat nafas cuping hidung, penggunaan otot pembantu pernafasan
yang mengakibatkan terjadinya retraksi pada daerah interkostal dan
19

daerah

sub

kostal.

Retraksi

biasanya

tidak

dalam

karena

adanya

hiperinflasi paru (terperangkapnya udara dalam paru). Terdapat ekspirasi


yang memanjang , wheezing yang dapat terdengar dengan ataupun tanpa
stetoskop, serta terdapat crackles. Hepar dan lien akan teraba beberapa cm
dibawah tepi batas bawah tulang iga. Keadaan ini terjadi akibatt
pendorongan

diafragma

kebawah

karena

tertekan

oleh

paru

yang

hiperinflasi. Suara riak-riak halus yang tersebar luas juga dapat terdengar
pada bagian akhir inspirasi. Fase ekspirasi pernafasan akan memanjang
dan suara-suara pernapasan juga bisa hampir tidak terdengar jika sudah
berada dalam kasus yang berat.5
Untuk menilai kegawatan penderita dapat dipakai skor Respiratory
Distress Assessment Instrument (RDAI), yang menilai distres napas
berdasarkan 2 variabel respirasi yaitu wheezing dan retraksi. Bila skor
lebih dari 15 dimasukkan kategori berat, bila skor kurang 3 dimasukkan
dalam kategori ringan. Pulse oximetry merupakan alat yang tidak invasif
dan berguna untuk menilai derajat keparahan penderita. Saturasi oksigen
<95% merupakan tanda terjadinya hipoksia dan merupakan indikasi untuk
rawat inap.5

Tes laboratorium rutin tidak spesifik. Hitung lekosit biasanya normal. Pada pasien
dengan peningkatan lekosit biasanya didominasi oleh PMN. Limfopenia yang biasanya

20

berhubungan dengan penyakit-penyakit virus, tidak ditemukan pada


penyakit ini. Biakan-biakan bahan yang berasal dari nasofaring akan
menunjukkan flora normal. Virus dapat dapat diperlihatkan di dalam
sekresi nasofaring melalui fluresensi imunologis dalam suatu peningkatan
titer-titer darah atau dalam biakan5
Gambaran radiologik mungkin masih normal bila bronkiolitis ringan. Umumnya
terlihat paru-paru mengembang (hyperaerated). Bisa juga didapatkan bercak-bercak yang
tersebar, mungkin atelektasis (patchy atelectasis ) atau pneumonia (patchy infiltrates). Pada xfoto lateral, didapatkan diameter AP yang bertambah dan diafragma tertekan ke bawah. Pada
pemeriksaan x-foto dada, dikatakan hyperaerated apabila kita mendapatkan: siluet jantung
yang menyempit, jantung terangkat, diafragma lebih rendah dan mendatar, diameter
anteroposterior dada bertambah, ruang retrosternal lebih lusen, iga horisontal, pembuluh darah
paru tampak tersebar.4,5
Untuk menentukan penyebab bronkiolitis, dibutuhkan pemeriksaan aspirasi atau
bilasan nasofaring. Pada bahan ini dapat dilakukan kultur virus tetapi memerlukan waktu yang
lama, dan hanya memberikan hasil positif pada 50% kasus. Ada cara lain yaitu dengan
melakukan pemeriksaan antigen RSV dengan menggunakan cara imunofluoresen atau ELISA.
Sensitifitas pemeriksaan ini adalah 80-90%.4,5

3.1.9 Diagnosis Banding

Asma bronchial
Terdapat riwayat keluarga asma, episode berulang pada bayi yang sama, mulainya
mendadak tanpa infeksi yang mendahului, ekspirasi sangat memanjang, eosinofilia dan

respons perbaikan segera pada pemberian satu dosis albuterol aerosol.


Pneumonia

3.1.10 Tatalaksana
Infeksi
besar

virus

RSV

tatalaksana

biasanya

sembuh

bronkiolitis

pada

sendiri
bayi

(self

bersifat

limited)

sehingga

suportif,

yaitu

sebagian
pemberian
21

oksigen,

minimal

handling

pada

bayi,

cairan

intravena

dan

kecukupan

cairan,

penyesuaian suhu lingkungan agar konsumsi oksigen minimal, tunjangan respirasi bila perlu,
dan nutrisi. Setelah itu barulah digunakan bronkodilator, antiinflamasi seperti kortikosteroid,
antiviral seperti ribavirin, dan pencegahan dengan vaksin RSV, RSV immunoglobuline
(polyclnal) atau humanized RSV monoclonal antibody (palvizumad).4
Bronkiolitis ringan biasanya bisa rawat jalan dan perlu diberikan cairan peroral yang
adekuat. Bayi dengan bronkiolitis sedang sampai berat harus dirawat inap. Penderita resiko
tinggi

harus

bulan,

prematur,

dirawat

inap,

kelainan

jantung,

diantaranya:
kelainan

berusia

neurologi,

kurang
penyakit

dari
paru

kronis,

defisiensi imun dan distres napas.4


Manajemen dasar pengobatan bronkiolitis adalah meyakinkan pasien secara klinis
stabil, oksigenasi baik dan hidrasi baik.
Manfaat utama dari rawat inap bagi pasien dengan bronkiolitis akut adalah :
-

Dapat melakukan pengawasan terhadap status klinis

Dapat melakukan pemantauan saluran nafas (melalui penempatan posisi, pengisapan dan

pembersihan cairan).
-

Dapat melakukan pemantauan hidrasi cairan tubuh yang adekuat

Dapat memberikan edukasi kepada orang tua.

Mendeteksi dan mengobati komplikasi yang mungkin timbul

Mencegah penyebaran infeksi terhadap pasien lain dan pegawai

- Melakukan pengobatan menggunakan antivirus yang spesifik jika terdapat indikasi.


Indikasi-indikasi untuk perawatan di rumah sakit :
-

Tanda klinis gangguan pernafasan atau tanda kelelahan

Apnoe

Ketidakmampuan untuk makan

Hypoksemia4

Pengobatan Suportif
A. Pengawasan
Untuk pasien yang dirawat inap penting dilakukan pengawasan sistem jantung paru dan
jika ada indikasi dilakukan pemasangan pulse oxymetri.4
B. Oksigenasi

22

Oksigenasi sangat penting untuk menjaga jangan sampai terjadi hipoksia, sehingga
memperberat penyakitnya. Hipoksia terjadi akibat gangguan perfusi ventilasi paru-paru.
Pemberian oksigen tambahan direkomendasikan ketika saturasi oksigen menetap dibawah
91% dan dihentikan ketika saturasi oksigen menetap diatas 94%. Oksigenasi dengan kadar
oksigen 30 40 % sering digunakan untuk mengoreksi hipoksia, gunakan nasal kanul
(dengan kecepatan maksimun 2L/m); masker (minimum 4 liter/menit) atau kotak kepala.
Penderita bronkiolitis kadang-kadang membutuhkan ventilasi mekanik, yaitu pada kasus
gagal nafas, serta apnea berulang. CPAP biasa digunakan untuk mempertahankan tekanan
positif paru. CPAP mungkin memberi keuntungan dengan cara membuka saluran napas
kecil, mencegah air trapping dan obstruksi.4
C. Pengaturan Cairan
Pemberian cairan sangat penting untuk mencegah dehidrasi akibat keluarnya cairan lewat
evaporasi, karena pernafasan yang cepat dan kesulitan minum. Jika tidak terjadi dehidrasi
diberikan cairan rumatan. Berikan tambahan cairan 20 % dari kebutuhan rumatan jika
didapatkan demam yang naik turun atau menetap (suhu > 38,5 0C). Cara pemberian cairan
ini bisa secara intravena atau pemasangan selang nasogastrik. Akan tetapi harus hati-hati
pemberian cairan lewat lambung karena dapat terjadi aspirasi dan menambah sesak nafas,
akibat lambung yang terisi cairan dan menekan diafragma ke paru. Selain itu harus dicegah
terjadinya overload cairan.4
Pengobatan Medikamentosa
A. Antivirus (Ribavirin)
Bronkiolitis paling banyak disebabkan oleh virus sehingga ada pendapat untuk
mengurangi beratnya penyakit dapat diberikan antivirus.

Ribavirin adalah synthetic

nucleoside analogue, menghambat aktivitas virus termasuk RSV. Ribavirin menghambat


translasi messenger RNA (mRNA) virus ke dalam protein virus dan menekan aktivitas
polymerase RNA. Titer RSV meningkat dalam tiga hari setelah gejala timbul atau sepuluh
hari setelah terkena virus. Karena mekanisme ribavirin menghambat replikasi virus selama
fase replikasi aktif, maka pemberian ribavirin lebih bermanfaat pada fase awal infeksi. Ada
beberapa penelitian prospektif tentang penggunaan ribavirin pada penderita bronkiolitis
dengan penyakit jantung dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian jika diberikan
pada saat awal. Penggunaan ribavirin biasanya dengan cara nebulizer aerosol 12-18 jam
per hari atau dosis kecil.6

23

B. Bronkodilator
Obat-obat beta 2 agonis sangat berguna pada penyakit dengan penyempitan saluran napas
karena menyebabkan efek bronkodilatasi, mengurangi pelepasan mediator dari sel mast,
menurunkan tonus kolinergik, mengurangi pembengkakan mukosa dan meningkatkan
pergerakan silia saluran napas sehingga efektivitas dari mukosilier akan lebih baik.6
Tabel 2. Bronkodilator Simpatomimetik untuk inhalasi
Jenis obat

Epinephrine
Isoproterenol
Metaproterenol
Terbutalin
Salbutamol
Fenoterol

Potens

Selektivitas reseptor

Efek puncak

Lama kerja

(menit)

(jam)

4
4
4
4
4
4

0
0
+3
+4
+4
+4

2
3-15
30-60
60
30-60
30-60

1-1,5
1-2
3-4
4
4-6
4-6

Pada tabel diatas tampak bahwa salbutamol, terbutalin dan fenoterol merupakan agonis
selektif 2 yang mempunyai efek simpatomimetik dengan efek kardiovaskular yang
minimal serta lama kerja 4-6 jam. Pemberian salbutamol inhalasi mempunyai onset kurang
dari 15 menit dan efek puncak dicapai dalam 30-60 menit.6
Walaupun pemakaian nebulisasi dengan 2 agonis sampai saat ini masih
kontroversi, tetapi masih dianjurkan dengan alas an :
1. Pada bronkiolitis, selain terdapat proses inflamasi akibat infeksi virus juga ada

3.
4.

bronkospasme dibagian saluran napas perifer


2. Beta agonis dapat meningkatkan mukosilier
Sering tak mudah membedakan antara bronkiolitis dengan serangan pertama asma
Efek samping nebulasi beta agonis yang minimal disbanding epinefrin6
C. Kortikosteroid
Untuk pasien rawat jalan dengan akut bronkiolitis pemberian steroid sistemik mungkin
dapat dipertimbangkan tetapi total pemberian tidak lebih dari 5 hari. Dapat diberikan
deksametason 0,5 mg/kgBB dilanjutkan 0,5 mg/kgBB/hari dibagi 3-4 dosis. Untuk
pasien rawat inap steroid sistemik tidak rutin diberikan. Sedangkan untuk penanganan
pasien pada intensive care unit dengan bronkiolitis berat pemberian steroid sistemik
dapat dipertimbangkan. Sedangkan pemberian steroid inhalasi (budesonide &
fluticasone) sangat sedikit evidence based yang merekomendasikan.6
D. Antibiotik
24

Pemberian antibiotik biasanya tidak diperlukan pada penderita bronkiolitis, karena


sebagian besar disebabkan oleh virus, kecuali jika ada tanda-tanda infeksi sekunder
dapat diberikan antibiotik spektrum luas. Pemberian antibiotik justru akan
meningkatkan infeksi sekunder oleh kuman yang resisten terhadap antibiotik tersebut.
Antibiotik bila dicurigai adanya infeksi bakteri dapat digunakan ampisilin 100 - 200
mg/kgBB/hari secara intravena dibagi 4 dosis. Bila ada konjungtivitis dan bayi
berusia 1 4 bulan kemungkinan sekunder oleh Chlamidia trachomatis diberikan
kloramfenikol 50-100 mg/kgBB/hari dlam 3 kali pemberian.6
Edukasi Keluarga
Dilakukan pada saat pasien akan dipulangkan. yaitu dengan memberitahukan :
-

Informasi mengenai penyakit bronkiolitis

Bagaimana cara membersihkan jalan nafas dengan menggunakan penghisap


gelembung.

Segera memanggil bantuan atau membawa pasien ke rumah sakit kembali jika
didapatkan gangguan pernafasan

Cara pencegahan penyakit dan penyebarannya dengan menghindari anak dari


paparan asap rokok ataupun zat yang mengiritasi lainnya, melakukan cuci tangan,
dll.8
Gambar 1. Algoritma Tatalaksana Bronkilitis8

25

3.1.11 Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan menghindari faktor paparan asap rokok dan polusi udara,
membatasi penularan terutama dirumah sakit misalnya dengan membiasakan cuci tangan dan
penggunaan sarung tangan dan masker, isolasi penderita, menghindarkan bayi/anak kecil dari
tempat keramaian umum, pemberian ASI, menghindarkan bayi/anak kecil dari kontak dengan
penderita ISPA.4
Langkah preventif yang dapat dilakukan adalah dengan pemberian imunisasi aktif
(Vaksinasi) dan pasif (Immunoglobulin).4
Immunoglobulin
Imunisasi pasif dapat dilakukan dengan pemberian gammaglobulin yang mengandung titer
antibodi protektif tinggi (respigram). Respigram adalah human polyclonal hyperimmune
globilin. Dosis yang dianjurkan 750 mg/KgBB setiap bulan, diberikan secara intravena pada
anak dibawah umur 24 bulan. Indikasi lain adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan
kurang dari 35 minggu. 4
Pendekatan

profilaksis

pada

populasi

resiko

tinggi

adalah

meningkatkan

(augmentation) antibodi yang menetralisasi protein F dan G dengan cara pemberian dari luar
dan imunisasi dari ibu. Pada manusia, efek imunoglobulin yang mengandung neutralizing
26

antibody titer tinggi atau monoklonal terhadap protein F akan mengurangi beratnya penyakit.
Bila pada bayi premature atau bayi dengan penyakit paru kronis diberikan RSV hyperimmune
globulin atau antibodi monoklonal terhadap protein F yang disebut dengan Palivizumab setiap
bulan, diberikan secara intramuskular setiap hari, lama perawatan RSV akan berkurang secara
bermakna. Palivizumab adalah humanized murine monoclonal anti-F glycuprotein antibody,
yang mencegah masuknya RSV kedalam sel host. Akan tetapi resiko efek samping
kemungkinan meningkat pada bayi dengan penyakit jantung sianotik. AAP merekomendasikan
profilaksis boleh diberikan hanya pada bayi dengan resiko tinggi yang tidak menderita
penyakit jantung sianotik 1,4
Vaksinasi
Sesudah penelitian dengan vaksin inaktif, dikembangkan vaksin live attenuated. Vaksin RSV
pertama, yang terdiri dari cold passaged mutan, efektif untuk orang dewasa, tetapi pada anak
terlalu virulen dan tidak stabil karena dapat berubah menjadi virus biasa kembali. Kemudian
dari permukaan glikoprotein murni, dikembangkan DNA dan peptik sintetik. Vaksin live
attenuated mempunyai kelebihan, yaitu dapat diberikan intranasal dan menginduksi imunitas
mukosa dan sistemik. 1,4
Dianjurkan pemberian live attentuated RSV dan PIV3 (Parainfluenza virus serotipe 3)
sebagai vaksin kombinasi sebanyak dua atau tiga kali dengan dosis pertama sebelum atau pada
usia 1 bulan diikuti dengan vaksin bivalen PIV1 dan PIV2 pada usia 4-6 bulan.4
3.1.12 Komplikasi
Biasanya komplikasinya bisa berupa apneu, pneumonia, sindrom aspirasi, gagal nafas yang
membutuhkan ventilator mekanik, dehidrasi, atrial tachycardia. Pneumothorak dapat juga
terjadi pada penyakit obstruksi yang berat Ada beberapa kelompok pasien yang beresiko tinggi
terhadap infeksi RSV yang berat yaitu : bayi prematur (usia kehamilan <35 minggu), penyakit
jantung kongenital, penyakit paru kronik, fibrosis kistik, dan kelainan fungsi imunologi (bisa
karena kemoterapi, transplantasi, dan kelainan imunodefisiensi kongenital atau didapat)4
Komplikasi seperti otitis media akut, pneumonia bakterial dan gagal jantung jarang
dijumpai.4
3.1.13 Prognosis
Prognosis tergantung berat ringannya penyakit, cepatnya penanganan, dan penyakit latar
belakang (penyakit jantung, defisiensi imun, prematuritas). Anak biasanya dapat mengatasi
serangan tersebut sesudah 48 72 jam. Mortalitas kurang dari 1 %. Anak biasanya meninggal
27

karena jatuh ke dalam apneu yang lama, asidosis respiratorik yang tidak terkoreksi atau karena
dehidrasi yang disebabkan oleh takipneu dan kurang makan-minum.4
Penelitian di Norwegia menunjukkan bahwa bayi yang dirawat dengan bronkhiolitis
mempunyai kecendrungan menderita asma dan penurunan fungsi paru pada usia 7 tahun
dibandingkan dengan kontrol. Hal ini menunjukkan adanya hipereaktifitas bronkhial yang
menetap selama beberapa tahun setelah menderita bronkiolitis pada bayi muda, baik para RSV
positif, maupun RSV negatif. Tidak dapat dibuktikan secara jelas bahwa bronkiolitis terjadi
pada anak dengan kecendrungan asma, keberhasilan pengobatan dengan kortikosteroid
mungkin dapat mengurangi prevalens asma pada anak dari kelompok pengobatan. 4
DEVELOPMENTAL DELAY
3.2.1 Definisi
Developmental Delay adalah ketertinggalan secara signifikan pada fisik, kemampuan kognitif,
perilaku, emosi, atau perkembangan sosial seorang anak bila dibandingkan dengan anak
normal seusianya. Seorang anak dengan developmental delay akan tertunda dalam mencapai
satu atau lebih perkembangan kemampuannya. Seorang anak dengan Global Developmental
Delay (GDD) atau Keterlambatan Perkembangan Global (KPG) adalah anak yang tertunda
dalam mencapai sebagian besar hingga semua tahapan perkembangan pada usianya.
Keterlambatan perkembangan global merupakan keadaan yang terjadi pada masa
perkembangan dalam kehidupan anak.10
3.2.2 Epidemiologi
Developmental Delay sekitar 5-10% pada anak di seluruh dunia, sedangkan di Amerika
Serikat angka kejadian diperkirakan 1%-3% dari anak-anak berumur<5 tahun. 3 Penelitian oleh
Suwarba dkk.di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta mendapatkan prevalensinya adalah 2,3 %.11
3.2.3 Aspek-aspek Perkembangan yang Dipantau
Aspek-aspek perkembangan yang dipantau meliputi11:
1. Motorik kasar, adalah aspek yang berhubungan dnegna kemampuan anak melakukan
pergerakan dan sikap tubuh yang melibatkan otot-otot besar seperti duduk, berdiri, dan
sebagainya.
2. Motorik halus, adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak untuk melakukan
gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu dan dilakukan oleh otot-otot kecil,

28

tetapi memerlukan koordinasi yang cermat seperti mengamati sesuatu, menjimpit, menulis,
dan sebagainya.
3. Kemampuan bicara dan bahasa, adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan untuk
memberikan respon terhadap suara, berbicara, berkomunikasi, mengikuti perintah, dan
sebagainya.
4. Sosialisasi dan kemandirian, adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri
anak (makan sendiri, membereskan mainan selesai bermain), berpisah dengan ibu/pengasuh
anak, bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya, dan sebagainya.

3.2.4 Etiologi
Developmental delay dapat merupakan manifestasi yang muncul dari berbagai kelainan
neurodevelopmental (mulai dari disabilitas belajar hingga kelainan neuromuskular. Tabel
berikut memberikan pendekatan beberapa etiologi :
Tabel 3. Penyebab Developmental delay menurut Forsyth dan Newton13
Kategori
Genetik atau Sindromik
Teridentifikasi dalam 20% dari
mereka yang tanpa tanda-tanda
neurologis, kelainan dismorfik,
atau riwayat keluarga

Metabolik
Teridentifikasi dalam 1% dari
mereka yang tanpa tanda-tanda
neurologis, kelainan dismorfik,
atau riwayat keluarga
Endokrin
Traumatik

Komentar
Sindrom yang mudah diidentifikasi,
misalnya Sindrom Down
Penyebab genetik yang tidak terlalu
jelas pada awal masa kanak-kanak,
misalnya Sindrom Fragile X,
Sindrom Velo-cardio-facial (delesi
22q11),Sindrom Angelman,
Sindrom Soto, Sindrom Rett,
fenilketonuria maternal,
mukopolisakaridosis, distrofi
muskularis tipe Duchenne, tuberus
sklerosis, neurofibromatosis tipe 1,
dan delesi subtelomerik.
Skrining universal secara nasional
neonatus untuk fenilketonuria
(PKU) dan defisiensi acyl-Co A
Dehidrogenase rantai sedang.
Misalnya, kelainan siklus/daur urea
Terdapat skrining universal neonatus
untuk hipotiroidisme kongenital
Cedera otak yang didapat
29

Penyebab dari lingkungan

Malformasi serebral

Anak-anak memerlukan kebutuhan


dasarnya seperti makanan, pakaian,
kehangatan, cinta, dan stimulasi
untuk dapat berkembang secara
normal
Anak-anak tanpa perhatian, diasuh
dengan kekerasan, penuh
ketakutan, dibawah stimulasi
lingkungan mungkin tidak
menunjukkan perkembangan yang
normal
Ini mungkin merupakan faktor yang
berkontribusi dan ada bersamaan
dengan patologi lain dan
merupakan kondisi yaitu ketika
kebutuhan anak diluar kapasitas
orangtua untuk dapat
menyediakan/memenuhinya
Misalnya, kelainan migrasi neuron

Palsi Serebral dan Kelainan


Perkembangan Koordinasi
(Dispraksia)

Kelainan motorik dapat mengganggu


perkembangan secara umum

Infeksi

Perinatal, misalnya Rubella, CMV,


HIV
Meningitis neonatal
Fetus: Alkohol maternal atau obatobatan saat masa kehamilan
Anak: Keracunan timbal

Toksin

Selain itu faktor risiko seperti status gizi, pemberian ASI, perawatan kesehatan,Berat lahir
rendah berisiko untuk mengalami keterlambatan perkembangan12
3.2.5 Deteksi Dini
Perkembangan setiap anak memiliki keunikan tersendiri dan kecepatan pencapaian
perkembangan tiap anak berbeda. Kisaran waktu pencapaian tiap tahap perkembangan
umumnya cukup besar, misalnya seorang anak dikatakan normal jika ia dapat berjalan mulai
usia 10 hingga 18 bulan, sehingga seringkali terjadi perbedaan perkembangan di antara anak
yang seusia. Untuk itu, orang tua perlu mengenal tanda bahaya (red flag) perkembangan
anak.Untuk mengetahui apakah seorang anak mengalami keterlambatan perkembangan umum,
perlu data / laporan atau keluhan orang tua dan pemeriksaan deteksi dini atau skrining
perkembangan pada anak.13
30

Deteksi dini merupakan suatu upaya yang dilaksanakan secara komprehensif untuk
menemukan penyimpangan tumbuh kembang dan mengetahui serta mengenal faktor resiko
pada anak usia dini. Melalui deteksi dini dapat diketahui penyimpangan tumbuh kembang
anak secara dini, sehingga upaya pencegahan, stimulasi, penyembuhan serta pemulihan dapat
diberikan dengan indikasi yang jelas pada masa proses tumbuh kembang. Penilaian
pertumbuhan dan perkembangan meliputi dua hal pokok, yaitu penilaian pertumbuhan fisik
dan penilaian perkembangan.13
Secara umum, keterlambatan perkembangan umum pada anak dapat dilihat dari
beberapa tanda bahaya (red flags) perkembangan anak sederhana seperti yang tercantum di
bawah13:
Tanda bahaya perkembangan motor kasar
1. Gerakan yang asimetris atau tidak seimbang misalnya antara anggota tubuh bagian kiri dan
kanan.
2. Menetapnya refleks primitif (refleks yang muncul saat bayi) hingga lebih dari usia 6 bulan
3. Hiper / hipotonia atau gangguan tonus otot
4. Hiper / hiporefleksia atau gangguan refleks tubuh
5. Adanya gerakan yang tidak terkontrol
Tanda bahaya gangguan motor halus
1.

Bayi masih menggenggam setelah usia 4 bulan

2.

Adanya dominasi satu tangan (handedness) sebelum usia 1 tahun


3. Eksplorasi oral (seperti memasukkan mainan ke dalam mulut) masih sangat dominan
setelah usia 14 bulan
4. Perhatian penglihatan yang inkonsisten
Tanda bahaya bicara dan bahasa (ekspresif)
1. Kurangnya kemampuan menunjuk untuk memperlihatkan ketertarikan terhadap suatu benda
pada usia 20 bulan
2. Ketidakmampuan membuat frase yang bermakna setelah 24 bulan
3. Orang tua masih tidak mengerti perkataan anak pada usia 30 bulan
Tanda bahaya bicara dan bahasa (reseptif)
1. Perhatian atau respons yang tidak konsisten terhadap suara atau bunyi, misalnya saat
dipanggil tidak selalu member respons
31

2. Kurangnya join attention atau kemampuan berbagi perhatian atau ketertarikan dengan
orang lain pada usia 20 bulan
3. Sering mengulang ucapan orang lain (membeo) setelah usia 30 bulan
Tanda bahaya gangguan sosio-emosional
1. 6 bulan: jarang senyum atau ekspresi kesenangan lain
2. 9 bulan: kurang bersuara dan menunjukkan ekspresi wajah
3. 12 bulan: tidak merespon panggilan namanya
4. 15 bulan: belum ada kata
5. 18 bulan: tidak bisa bermain pura-pura
6. 24 bulan: belum ada gabungan 2 kata yang berarti
7. Segala usia: tidak adanya babbling, bicara dan kemampuan bersosialisasi / interaksi
Tanda bahaya gangguan kognitif
1. 2 bulan: kurangnya fixation
2. 4 bulan: kurangnya kemampuan mata mengikuti gerak benda
3. 6 bulan: belum berespons atau mencari sumber suara
4. 9 bulan: belum babbling seperti mama, baba
5. 24 bulan: belum ada kata berarti
6. 36 bulan: belum dapat merangkai 3 kata
3.2.6 Gejala Klinis
Mengetahui adanya KPG memerlukan usaha karena memerlukan perhatian dalam
beberapa hal. Padahal beberapa pasien seringkali merasa tidak nyaman bila di perhatikan.
Akhirnya membuat orang tua sekaligus dokter untuk agar lebih jeli dalam melihat gejala dan
hal yang dilakukan oleh pasien tersebut. Skrining prosedur yang dilakukan dokter, dapat
membantu menggali gejala dan akan berbeda jika skrining dilakukan dalam sekali kunjungan
dengan skrining dengan beberapa kali kunjungan karena data mengenai panjang badan,
lingkar kepala, lingkar lengan atas dan berat badan. Mengacu pada pengertian KPG yang
berpatokan pada kegagalan perkembangan dua atau lebih domain motorik kasar, motorik
halus, bicara, bahasa, kognitif, sosial, personal dan kebiasaan sehari-hari dimana belum
diketahui penyebab dari kegagalan perkembangan ini. Terdapat hal spesifik yang dapat
mengarahkan

kepada

diagnosa

klinik

KPG

terkait

ketidakmampuan

anak

dalam

perkembangan milestones yang seharusnya, yaitu11:


32

1. Anak tidak dapat duduk di lantai tanpa bantuan pada umur 8 bulan
2. Anak tidak dapat merangkak pada 12 bulan
3. Anak memiliki kemampuan bersosial yang buruk
4. Anak tidak dapat berguling pada umur 6 bulan
5. Anak memiliki masalah komunikasi
6. Anak memiliki masalah pada perkembangan motorik kasar dan halus
3.2.7 Diagnosis
Anamnesis
Dokter memulai anamnesis dengan mendengarkan penjelasan orangtua secara seksama
tentang

perkembangan

anaknya.

Orang

tua

dapat

mencatat

setiap

keterlambatan

perkembangan, perubahan tubuh dan kurang responsifnya anak tersebut, sehingga perlu
perhatian khusus. Tiap orangtua tentunya memiliki daerah perhatian yang berbeda. Penggalian
anamnesis secara sistematis meliputi, resiko biologi akibat dari gangguan prenatal atau
perinatal, perubahan lingkungan akibat salah asuh, dan akibat dari penyakit primer yang sudah
secara jelas terdiagnosis saat infant.10
Contoh, dari pandangan biologi, infant dengan berat badan lahir rendah seringkali
beresiko terhadap angka kejadian perdarahan intraventrikel, sepsis atau meningitis, gangguan
metabolik, dan defisit nutrisi yang dapat secara langsung memengaruhi perkembangan otak.
Anak dengan resiko lingkungan termasuk didalamnya ibu yang masih muda dan tidak
berpengalaman serta ibu yang tidak sehat secara individu atau kekurangan finansial. Anak
yang hidup dalam keluarga bermasalah akibat obat-obatan terlarang, minuman keras dan
kekerasan sering menyebabkan hasil buruk. Anak dengan faktor resiko kondisi medis seperti
myelomeningocele, sensorineural deafness, atau trisomy 21 diketahui memiliki hubungan
dengan keterlambatan perkembangan anak. Perhatian saat ini sering pula akibat dari infeksi
virus HIV. Kurangnya motorik milestones, peubahan perilaku, atau kognitif buruk serta
perubahan fungsi serebelum dalam tahun pertama sering dihubungkan dengan HIV.10
Pemeriksaan Fisik
Faktor risiko untuk keterlambatan dapat dideteksi dari pemeriksaan fisik. Pengukuran lingkar
kepala (yang mengindikasikan mikrosefali atau makrosefali) adalah bagian penting dalam
pemeriksaan fisik. Perubahan bentuk tubuh sering dihubungkan dengan kelainan kromosom,
atau faktor penyakit genetik lain sulit dilihat dalam pemeriksaan yang cepat. 10 Sebagai
tambahan, pemeriksaan secara terstruktur dari mata, yaitu fungsi penglihatan dapat dilakukan
33

saat infant, dengan menggunakan pemeriksaan sederhana seperti meminta mengikuti arah
cahaya lampu. Saat anak sudah memasuki usia pre-school, pemeriksaan yang lebih mendalam
diperlukan seperti visus, selain itu pemeriksaan saat mata istirahat ditemukan adanya
strabismus. Pada pendengaran, dapat pula dilakukan test dengan menggunakan brain-stem
evoked potentials pada infant. Saat umur memasuki 6 bulan, kemampuan pendengaran dapat
dites dengan menggunakan peralatan audiometri. Pada usia 3-4 tahun, pendengaran dapat
diperiksa menggunakan audiometer portable. Pemeriksaan telinga untuk mencari tanda dari
infeksi otitis media menjadi hal yang penting untuk dilakukan karena bila terjadi secara
kontinyu akan menyebabkan gangguan pendengaran ringan. Pemeriksaan kulit secara
menyeluruh dapat dilakukan untuk mengidentifikasi penyakit ektodermal seperti tuberous
sklerosis atau neurofibromatosis yang dihubungkan dengan delay. Pemeriksaan fisik juga
harus meliputi pemeriksaan neurologi yang berhubungan dengan perkembangan seperti
adanya primitive reflek, yaitu moro reflex, hipertonia atau hipotonia, atau adanya gangguan
tonus.10
Pemeriksaan Penunjang

Secara umum, pemeriksaan laboratorium untuk anak dengan kemungkinan gangguan


perkembangan tidak dibedakan dengan tes skrining yang dilakukan pada anak yang sehat. Hal
ini penting dan dilakukan dengan periodik. Adapun beberapa pemeriksaan penunjangnya
antara lain10 :
a. Skrining metabolik
Skrining metabolik meliputi pemeriksaan: serum asam amino, serum glukosa, bikarbonat,
laktat, piruvat, amonia, dan creatinin kinase. Skrining metabolik rutin untuk bayi baru lahir
dengan gangguan metabolisme tidak dianjurkan sebagai evaluasi inisial pada KPG.
Pemeriksaan metabolik dilakukan hanya bila didapatkan riwayat dari anamnesis atau
temuan pemeriksaan fisik yang mengarah pada suatu etiologi yang spesifik. Sebagai
contohnya, bila anak-anak dicurigai memiliki masalah dengan gangguan motorik atau
disabilitas kognitif, pemeriksaan asam amino dan asam organik dapat dilakukan. Anak
dengan gangguan tonus otot harus diskrining dengan menggunakan kreatinin phospokinase
atau aldolase untuk melihat adanya kemungkin penyakit muscular dystrophy.10
b. Tes sitogenetik
Tes sitogenetik rutin dilakukan pada anak dengan KPG meskipun tidak ditemukan
dismorfik atau pada anak dengan gejala klinis yang menunjukkan suatu sindrom yang
34

spesifik. Uji mutasi Fragile X, dilakukan bila adanya riwayat keluarga dengan KPG.
Meskipun skrining untuk Fragile X lebih sering dilakukan anak laki-laki karena insiden
yang lebih tinggi dan severitas yang lebih buruk, skrining pada wanita juga mungkin saja
dilakukan bila terdapat indikasi yang jelas.

Diagnosis

Rett syndrome perlu

dipertimbangkan pada wanita dengan retardasi mental sedang hingga berat yang tidak
dapat dijelaskan.10
c. Skrining tiroid
Pemeriksaan tiroid pada kondisi bayi baru lahir dengan hipotiroid kongenital perlu
dilakukan. Namun, skrining tiroid pada anak dengan KPG hanya dilakukan bila terdapat
klinis yang jelas mengarahkan pada disfungsi tiroid.10
d. EEG
Pemeriksaan EEG dapat dilakukan pada anak dengan KPG yang memiliki riwayat
epilepsia tau sindrom epileptik yang spesifik (Landau-Kleffner). Belum terdapat data yang
cukup mengenai pemeriksaan ini sehingga belum dapat digunakan sebagai rekomendasi
pemeriksaan pada anak dengan KPG tanpa riwayat epilepsi.10

e. Imaging
Pemeriksaan imaging direkomendasikan sebagai pemeriksaan rutin pada KPG (terlebih
bila ada temuan fisik berupa mikrosefali). Bila tersedia MRI harus lebih dipilih
dibandingkan CT scan jika sudah ditegakkan diagnosis secara klinis sebelumnya.10
3.2.8 Diagnosis Banding
Etiologi dan penyebab dari KPG saat ini belum bisa memprediksi secara spesifik, gangguan
mana saja yang akan terlibat dalam penegakan KPG ini, terdapat beberapa penyakit atau
gangguan dengan gambaran serupa GDD, namun memiliki beberapa perbedaan yaitu retardasi
mental, palsi serebral, Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), dan Autism Spectrum
Disorder (ASD).10
3.2.9 Penatalaksanaan
Pengobatan bagi anak-anak dengan KPG hingga saat ini masih belum ditemukan. Hal itu
disebabkan oleh karakter anak-anak yang unik, dimana anak-anak belajar dan berkembang
dengan cara mereka sendiri berdasarkan kemampuan dan kelemahan masing-masing.
35

Sehingga penanganan KPG dilakukan sebagai suatu intervensi awal disertai penanganan pada
faktor-faktor yang beresiko menyebabkannya. Intervensi yang dilakukan, antara lain11,13:
1. Speech and Language Therapy
Speech and Language Therapy dilakukan pada anak-anak dengan kondisi CP, autism,
kehilangan pendengaran, dan KPG. Terapi ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan
berbicara, berbahasa dan oral motoric abilities. Metode yang dilakukan bervariasi
tergantung dengan kondisi dari anak tersebut. Salah satunya, metode menggunakan jari,
siulan, sedotan atau barang yang dapat membantu anak-anak untuk belajar mengendalikan
otot pada mulut, lidah dan tenggorokan. Metode tersebut digunakan pada anak-anak
dengan gangguan pengucapan. Dalam terapi ini, terapis menggunakan alat-alat yang
membuat anak-anak tertarik untuk terus belajar dan mengikuti terapi tersebut.11,13
2. Occupational Therapy
Terapi ini bertujuan untuk membantu anak-anak untuk menjadi lebih mandiri dalam
menghadapi permasalahan tugasnya. Pada anak-anak, tugas mereka antara bermain, belajar
dan melakukan kegiatan sehari-hari seperti mandi, memakai pakaian, makan, dan lain-lain.
Sehingga anak-anak yang mengalami kemunduran pada kemampuan kognitif, terapi ini
dapat

membantu

mereka

meningkatkan

kemampuannya

untuk

menghadapi

permasalahannya.11,13
3. Physical Therapy
Terapi ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan motorik kasar dan halus,
keseimbangan dan koordinasinya, kekuatan dan daya tahannya. Kemampuan motorik
kasar yakni kemampuan untuk menggunakan otot yang besar seperti berguling,
merangkak, berjalan, berlari, atau melompat. Kemampuan motorik halus yakni
menggunakan otot yang lebih kecil seperti kemampuan mengambil barang. Dalam terapi,
terapis akan memantau perkembangan dari anak dilihat dari fungsi, kekuatan, daya tahan
otot dan sendi, dan kemampuan motorik oralnya. Pada pelaksanaannya, terapi ini
dilakukan oleh terapi dan orang-orang yang berada dekat dengan anak tersebut. Sehingga
terapi ini dapat mencapai tujuan yang diinginkan.11,13
4. Behavioral Therapies
Anak-anak dengan delay development akan mengalami stress pada dirinya dan memiliki
efek kepada keluarganya. Anak-anak akan bersikap agresif atau buruk seperti melempar
barang-barang, menggigit, menarik rambut, dan lain-lain. Behavioral therapy merupakan
36

psikoterapi yang berfokus untuk mengurangi masalah sikap dan meningkatkan


kemampuan untuk beradaptasi. Terapi ini dapat dikombinasikan dengan terapi yang lain
dalam pelaksanaanya. Namun, terapi ini bertolak belakang dengan terapi kognitif. Hal itu
terlihat pada terapi kognitif yang lebih fokus terhadap pikiran dan emosional yang
mempengaruhi sikap tertentu, sedangkan behavioural therapy dilakukan dengan
mengubah dan mengurangi sikap-sikap yang tidak diinginkan. Beberapa terapis
mengkombinasikan kedua terapi tersebut, yang disebut cognitive-behavioural therapy.11,13
3.2.10 Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada anak-anak dengan KPG, yakni kemunduran
perkembangan pada anak-anak yang makin memberat. Jika tidak tertangani dengan baik, dapat
mempengaruhi kemampuan yang lain, khususnya aspek psikologi dari anak itu sendiri. Salah
satunya, anak akan mengalami depresi akibat ketidakmampuan dirinya dalam menghadapi
permasalahannya. Sehingga anak itu dapat bersikap negatif atau agresif.11
3.2.11 Prognosis
Prognosis KPG pada anak-anak dipengaruhi oleh pemberian terapi dan penegakkan diagnosis
lebih dini (early identification and treatment). Dengan pemberian terapi yang tepat, sebagian
besar anak-anak memberikan respon yang baik terhadap perkembangannya. Walau beberapa
anak tetap menjalani terapi hingga dewasa. Hal tersebut karena kemampuan anak itu sendiri
dalam menanggapi terapinya. Beberapa anak yang mengalami kondisi yang progresif (faktorfaktor yang dapat merusak sistem saraf seiring berjalannya waktu), akan menunjukkan
perkembangan yang tidak berubah dari sebelumnya atau mengalami kemunduran. Sehingga
terapi yang dilakukan yakni meningkatkan kemampuan dari anak tersebut untuk menjalani
kesehariannya.11

37

BAB IV
ANALISIS KASUS
Pasien datang keluhan sesak 2 hari sebelum masuk rumah sakit. Sesak pada pasien
disebabkan oleh virus yang bereplikasi di dalam nasofaring dan kemudian menyebar dari
saluran nafas atas ke saluran nafas bawah melalui penyebaran langsung pada epitel saluran
nafas. Virus mempengaruhi sistem saluran nafas melalui kolonisasi dan replikasi virus pada
mukosa bronkus dan bronkiolus yang memberi gambaran patologi awal berupa nekrosis sel
epitel silia yang menyebabkan terjadi edema submukosa. Virus yang merusak epitel bersilia
akan mengganggu gerakan mukosilier sehingga mukus tertimbun dalam bronkiolus.
Akibatnya terjadi penyempitan saluran nafas sehingga pasien sesak.
38

Pasien juga mengeluh batuk berdahak. Batuk merupakan mekanisme pertahanan dari
tubuh akibat adanya infeksi atau benda asing. Selain itu, pada bronkiolitis tertimbun banyak
mukus sehingga akan terjadi respon batuk untuk mengeluarkan mukus.
Pasien yang masih berusia 8 bulan sangat rentan untuk mengalami bronkiolitis karena
respon imun yang buruk sehingga virus lebih mudah bereplikasi dan menginfeksi saluran
nafas.
Pasien lahir prematur dengan berat bayi lahir rendah serta belum imunisasi dasar
secara lengkap. Hal ini merupakan faktor risiko untuk terjadinya bronkiolitis karena respon
imun yang buruk serta menjadi risiko untuk mengalami gangguan perkembangan.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan takipnea dan retraksi sela iga. Takipnea merupakan
frekuensi pernafasan yang cepat dan dangkal yang melebihi normal, pada bayi berusia 8 bulan
frekuensi pernafasan normal adalah <50x/menit. Takipnea biasanya terjadi saat adanya
ketidakseimbangan antara karbondioksida dan oksigen. Takipnea merupakan mekanisme
kompensasi agar oksigen bisa masuk dan tersalurkan ke dalam tubuh dan dapat membuang
karbon dioksida yang menumpuk.. Selain itu, adanya ronchi dan wheezing pada saat inspirasi
dan ekspirasi menandakan bahwa adanya udara yang melewati saluran nafas yang sempit
karena adanya obstruksi saluran nafas.
Pasien belum bisa tengkurap merupakan salah satu ciri dari keterlambatan
perkembangan (developmental delay). Normalnya bayi sudah bisa tengkurap pada usia 3-4
bulan. Berbagai etiologi dapat menyebabkan gangguan perkembangan, namun pada kasus ini
pasien yang lahir prematur, belum diimunisasi secara lengkap dan juga berat bayi lahir rendah
merupakan risiko yang dapat menimbulkan gangguan perkembangan.
BAB V
KESIMPULAN
Bronkiolitis adalah suatu infeksi atau inflamasi akut dari saluran
pernapasan atas dan bawah yang menyebabkan obstruksi pada saluran
napas kecil pada anak di bawah usia 2 tahun. Angka insiden tertinggi pada
anak berusia di bawah 6 bulan terutama usia 2-3
bulan
Penyebab bronkiolitis pada pasien ini cenderung lebih mengarah ke
infeksi virus yaitu paling banyak disebabkan oleh RSV. Respon imun yang

39

buruk pada pasien dibawah 2 tahun merupakan salah satu risiko untuk
terjadinya bronkiolitis
Risiko berat bayi lahir rendah dan juga lahir prematur merupakan
risiko bukan hanya terhadap bronkiolitis namun juga risiko keterlambatan
perkembangan pada anak (developmental delay)

DAFTAR PUSTAKA
1.

Behrman, R.E., Kliegman R.M., Hal, Jenson, Bronchiolitis, Nelson Textbook of

Pediatrics. 17thed,Philadelphia: WB Saunders Company. 2004; 378: 1415-17


2. Setiawati L, Asih R, Makmuri MS. Kapita Selekta Ilmu Kesehatan Anak. Tatalaksana
Bronkiolitis. Devisi Respirologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK Unair RSU Dr. Soetomo
Surabaya.2005

40

3. Menkes JH, Moser FG. Neurologic examination of the child and infant. Dalam: Menkes
JH, Sarnat HB, penyunting. Child neurology. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins;
2006.h.1-27
4. RahajoeN, Supriyatno B, Setyanto. DB Buku Ajar

Respirologi Anak. Edisi Pertama.

Jakarta : Badan Penerbit IDAI. 2008


5. Pusponegoro Hardiono D, dkk. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. Edisi Pertama.
Jakarta : Badan Penerbit IDAI.2005.
6. Steiner RWP. Treating Acute Bronchiolitis Associated with RSV. American Family
7.

Physician 2004;69:326-30
Kim CK, Kim SW, Park CS, Kim BI, Kang H, Koh YY. Bronchoalveolar lavage
cytokine profiles in acute asthma and acute bronchiolitis. J Allergy Clin Immunol
2003;112:64-71

8.

Orenstein DM. Bronchiolitis. In : Behrman RE, Kliegman RM, Arvin AM eds.


Nelsons Textbook of pediatrics; 17th ed. Philadelphia: WB Saunders , 2004; 1285-7.

9.

Garna H Herry. Pedoman Diagnosis Ilmu Kesehatan Anak. Bandung : Penerbit FK

Unpad. 2005
10. Srour M, Mazer B, Shevell MI. Analysis of clinical features predicting etiologic yield
in the Assessment of global development delay. Pediatrics 2006;118:139-45.
11.

Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak

12.
13.

di Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar. Departemen Kesehatan RI. 2005.


Walters AV. Development Delay: Causes and Identification. ACNR 2010; 10(2);32-4.
Mengenal Keterlambatan Perkembangan Umum pada Anak. Ikatan Dokter Anak
Indonesia.

Indonesia.

[diunduh

Mei

2016].

[Available

from]:

URL:

http

//idai.or.id/public-articles/seputar-kesehatan-anak/mengenal-keterlambatanperkembangan-umum-pada-anak.html.

41