Anda di halaman 1dari 34

PENEMUAN HUKUM OLEH HAKIM DALAM PERSPEKTIF

HUKUM PROGRESIF DEWASA INI DI INDONESIA

Dibuat Untuk Memenuhi Tugas


Mata Kuliah Metode Penemuan Hukum

`
Dosen Pembimbing:
Prof. Dr. H. Abdul Manan, SH, S.IP, M.Hum
Disusun Oleh :
Kelompok 5 Kelas Minggu F
Patrina Soesilo

2012010461104

Pidari Sinaga

2012010461105

Putra Hutomo

2012010461106

Putri Sari

2012010461107

Putut Surarso

2012010461108

PROGRAM MAGISTER KENOTARIATAN


UNIVERSITAS JAYABAYA
JAKARTA - 2013

KATA PENGANTAR

Segala Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas
berkatNya sehingga kami dapat mengerjakan dan menyelesaikan penulisan
makalah ini dengan baik dengan judul : PENEMUAN HUKUM OLEH
HAKIM DALAM PERSPEKTIF HUKUM PROGRESIF DEWASA INI DI
INDONESIA. Pada kesempatan ini, perkenanlah kami mengucapkan terima
kasih yang sebesar-besarnya kepada yang membantu kami untuk menyelesaikan
penulisan makalah ini :
1.

Bapak Prof. Dr. H. Abdul Manan, SH, S.IP, M.Hum selaku dosen
pembimbing kami pada mata kuliah Metode Penemuan Hukum. Kami
ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas bimbingan beliau yang
telah mengajarkan materi tentang Teori Hukum yang sangat berbobot dan
menggali pemikiran kami untuk berpikir lebih kritis serta memberikan
kami kesempatan untuk membuat penulisan ini yang akan di diskusikan
dan disempurnakan oleh teman-teman kelas Minggu F yang tentunya
sangat bermanfaat bagi kami untuk penyempurnaan penulisan ini.

2.

Bapak dan Ibu Dosen Magister Kenotariatan Program Pasca Sarjana


Universitas Jayabaya, yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu, terima
kasih telah membimbing dan memberikan ilmunya.

3.

Staf Tata Usaha Program Pasca Sarjana Magister Kenotariatan Universitas


Jayabaya dan Staf Perpustakaan yang telah memberikan pelayanan
administratif serta peminjaman buku kepada kami.

4.

Teman-teman kelas Minggu F yang tidak bisa di tuliskan satu persatu pada
makalah ini, semoga kita kompak, sehat, sukses dan menjaga hubungan
persahabatan dan kekerabatan ini sampai nanti kita menyelesaikan kuliah
Program Pasca Sarjana Magister Kenotariatan Universitas Jayabaya.
Kami menyadari bahwa penulisan ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu,

kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca.
Akhirnya kami berharap agar penulisan ini dapat memberikan manfaat kepada
seluruh pembaca pada umumnya.
ii

Jakarta, Mei 2013


Penyusun

Kelompok 5
Kelas Minggu (F)

iii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

iii

BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

B. Perumusan Masalah

C. Tujuan Penelitian

D. Metode Penelitian

BAB II. PEMBAHASAN


A. Konsep Teori Hukum Progresif

13

Pengertian Teori Hukum Progresif

10

Tujuan Teori Hukum Progresif

11

Prinsip-prinsip Hukum Progresif

12

B. Penemuan Hukum oleh Hakim dalam Prespektif


Hukum Progresif

13

Penemuan Hakim Oleh Hakim

Penemuan Hukum oleh Hakim yang Progresif


Dalam Perkara

13

19

BAB III. PENUTUP


A. Kesimpulan

28

B. Saran

29

DAFTAR PUSTAKA

iv

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Negara Republik Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum


dan tidak berdasarkan atas kekuasaan. Disamping hukum berfungsi untuk
menjamin kepastian dan keadilan, hukum juga berfungsi untuk memberikan
perlindungan yang berintikan kebenaran dan keadilan bagi kesejahteraan hidup
manusia.
Pada dasarnya tidak ada suatu perkara

dapat

diadili

secara

serta

merta karena melanggar ketentuan hukum . Dalam mengadili suatu perkara yang
lebih bersifat konkret dengan berbagai konteksnya sangat berbeda jauh
ketentuan

dengan

hukum yang bersifat abstrak. Penafsiran menjadi jembatan

penting dalam penerapan ketentuan hukum yang tepat sehingga terbentuklah


penegakan hukum yang baik. Perkembangan manusia dan interaksinya dalam
memenuhi kebutuhan yang pada akhirnya menciptakan berbagai macam kejahatan
dan pelanggaran ternyata

tidak

semuanya

diatur dalam

ketentuan

hukum yang berlaku. Ketentuan hukum seringkali sudah banyak tertinggal


dengan

kemajuan-kemajuan masyarakat. Bukan berarti dalam hal ini

telah terjadi kekosongan

hukum

ditemukan lebih lanjut melalui

tetapi

hukum

penemuan

yang ada harus diisi dan

hukum.

Penafsiran hukum

merupakan proses mencari dasar hukum yang tepat untuk mengadili suatu
perkara yang belum jelas ketentuan hukum yang mengaturnya.
Hukum Kenyataannya seja Indonesia merdeka hingga sampai saat ini
penegakan selalu menjadi masalah utama yang dikeluhkan

masyarakat.

Banyaknya kasus hukum yang tidak diselesaikan atau selesai dengan


yang

kurang

akhir

memuaskan membuat hukum semakin tidak dipercaya

masyarakat sebagai alat mencari keadilan. Keterpurukan hukum di Indonesia


tersebut menurut A.M. Mujahidin disebabkan karen 2
perilaku

penegak

(dua) faktor yaitu

hukum (professional juris) yang koruptif

dan pola pikir para penegak hukum yang masih terkungkung dalam pikiran
legalistic- positivistik.1 Kondisi hukum yang semakin terpuruk ini pada
akhirnya tidak mendapat tempat di hati masyarakat karena sama sekali tidak
memberikan jawaban atas kebutuhan hukum yang berkeadilan. Sebagai
konstelasi

pemikiran

mengemukakan

bidang

hukum

selama

ini,

Satjipto

hasil

Rahardjo

pandangannya tentang fungsi hukum sebagai alat bagi

masyarakat yang disebutnya dengan hukum progresif.


Aliran hukum

progresif

menekankan

penafsiran

hukum

sebagai upaya menggali nilai-nilai yang hidup di masyarakat sehingga tercipta


sebuah putusan yang adil. Pemikiran tersebut

memang

sangat sesuai

dengan kebutuhan hukum masyarakat Indonesia, terutama bagi masyarakat


kecil yang tidak mempunyai posisi yang kuat dalam hal ekonomi maupun
sosial. Tidak hanya itu, hukum

progresif

juga

menawarkan

satu cara

pandang baru dalam berhukum yaitu dengan melibatkan hati nurani. Kasus
Prita Mulyasari

merupakan

contoh

kasus

yang diputus oleh hakim dengan

mengedepankan rasa keadilan yang ada secara khusus pada perlindungan hak
konsumen. Keadilan

menjadi

dimana pun berada terlebih


Mengingat

sebuah
saat

penafsiran

kepentingan masyarakat

berada

dalam

hukum progresif

daripada

jelas memiliki dampak serius bagi

kebutuhan hakiki bagi semua orang

kepastian
hukum

permasalahan hukum.
lebih

menekankan

hukum, hal
khususnya

tersebut

asas legalitas.

Kepastian hukum dan keadilan merupakan dua tujuan utama yang harus
diakomodasi

hukum

pidana

sebagai bagian dari hukum publik yang

berperan melindungi kepentingan masyarakat banyak. Ketika

asas

kepastian

hukum berhadapan dengan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang


maka

jelas

menimbulkan permasalahan

Apakah lebih menitikberatkan pada kepastian

tersendiri

dalam

hukum.

hukum sehingga mengabaikan

kepentingan masyarakat yang berkembang ataukah sebaliknya sehingga asas


legalitas dikorbankan. Berangkat dari pemikiran ini maka sangat penting
dibahas lebih lanjut hubungan
arti

penting

diterapkan

hukum

progresif

dan

hukum

dalam

hukum progresif bagi kasus hukum dan batasan yang

terhadap

hal
dapat

hukum progresif.

Disamping itu juga terdapat banyaknya fakta-fakta yang memprihatinkan


terhadap penegakan hukum antara lain :
1. Sistem hukum yang tidak lagi pada posisinya, artinya bahwa supremasi
dan sistem hukum yang ada tidak pada tempatnya dan tidak lagi sesuai
dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Padahal seharusnya hukum selalu
dituntut berkembang dan disesuaikan dengan kondisi yang ada saat ini dan
selalu dijadikan dasar/aturan paling utama dalam menjalani kehidupan
berbangsa dan bernegara. Selain itu hukum sudah sangat ternoda artinya
bahwa adanya unsur-unsur yang diselipkan dalam hukum itu sendiri,
contohnya pembuatan produk hukum yang ada saat ini, banyak produk
hukum yang dibuat tidak berdasarkan hukum tapi berdasarkan
kepentingan-kepentingan pihak-pihak tertentu.
2. Sisi aparatur pemerintahan dan penegak hukum yang tidak konsisten
dalam menjalankan tugasnya sebagaimana mestinya, banyak para aparatur
pemerintahan dan penegak hukum yang menyalahgunakan kewenangan
serta kekuasaannya dan ini sudah menjadi penyakit atau kebiasaan yang
sangat sulit untuk disembuhkan. Dengan kondisi saat ini semua orang
dapat berkuasa apalagi yang memiliki kekuasaan serta didukung materi
yang berlimpah maka orang tersebut dengan mudahnya membeli hukum
atau dengan kata lain hukum akan menikam tajam ke kalangan tak
berpunya.
3. Peran dan tingkat kesadaran masyarakat yang sangat rendah, artinya
bahwa masyarakat sudah merasa kecewa dengan hukum yang ada saat ini
dan terkesan tidak mau tahu, alasannya menurut kami karena terlalu

rumitnya substansi dalam hukum itu sendiri baik dari Undang-undangnya


maupun aparaturnya. Hal ini di perparah dengan banyaknya kebohongan
publik yang terjadi, jika hal ini dibiarkan berjalan terus menerus, bisa
menjadi keadaan yang sangat bahaya untuk kita sendiri. Seharusnya
masyarakat dilibatkan secara aktif untuk turut serta dalam penegakkan dan
berjalannya hukum di Indonesia.
Akibat dari kondisi yang memprihatinkan tersebut, dimana hukum tidak
dapat menjamin kepastian dan keadilan, dari sisi penegakan hukum maka lahirlah
Teori Hukum Progresif yang untuk pertama kalinya di gagas oleh Prof. Dr.
Satjipto Rahardjo. Teori ini menuntut keberanian aparat hukum menafsirkan
pasal untuk memperadabkan bangsa. Apabila proses tersebut benar, idealitas yang
dibangun dalam penegakan hukum di Indonesia sejajar dengan upaya bangsa
mencapai tujuan bersama. Idealitas ini akan menjauhkan praktek ketimpangan
hukum yang tak terkendali sebagaimana yang diuraikan diatas.
Penegakan Teori Hukum Progresif adalah menjalankan hukum tidak hanya
sekedar kata-kata hitam-putih dari peraturan (according to the letter), melainkan
menurut semangat dan makna lebih dalam (to very maeaning) dari UndangUndang atau hukum. Penegakan hukum tidak hanya kecerdasan intelektual,
melainkan dengan kecerdasan spiritual. Dengan kata lain, penegakan hukum yang
dilakukan dengan penuh determinasi, empati, dedikasi, komitmen terhadap
penderitaan bangsa dan disertai keberanian untuk mencari jalan lain daripada yang
biasa dilakukan. Oleh karena itu kami tertarik untuk membahas dan mengkaji
dengan

judul

PENEMUAN

HUKUM

OLEH

HAKIM

DALAM

PERSPEKTIF HUKUM PROGRESIF DEWASA INI DI INDONESIA


B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya
maka kami membatasi ruang lingkup kajian mengenai PENEMUAN HUKUM
OLEH HAKIM DALAM PERSPEKTIF HUKUM PROGRESIF DEWASA
INI DI INDONESIA dengan merumuskan pertanyaan sebagai berikut :

1. Bagaimana konsep Hukum Progresif menurut Prof. Dr. Satjipto Rahardjo?


2. Bagaimanakah Penemuan Hukum Oleh Hakim dalam Perspektif Hukum
Progresif Dewasa ini di Indonesia ?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui bagaimana konsep Hukum Progresif menurut Prof.
Dr. Satjipto Raharjo.
2. Untuk mengetahui bagaimana Penemuan Hukum Oleh Hakim dalam
Perspektif Hukum Progresif Dewasa ini di Indonesia.
D. Metode Penelitian
Dalam melaksanakan pendekatan permasalahan yang berhubungan
dengan topik penelitian ini, digunakan metode sebagai berikut :
1. Metode Pendekatan.
Penelitian adalah usaha untuk menemukan, mengembangkan dan
menguji kebenaran suatu pengetahuan. Usaha tersebut dilakukan
dengan menggunakan metode-metode ilmiah.1
Menurut Soerjono Soekanto metode ilmiah tersebut adalah proses,
prinsip-prinsip dan tata cara memecahkan suatu masalah, sedangkan
penelitian merupakan pemeriksaan secara hati-hati, tekun dan tuntas
terhadap suatu gejala untuk menambah pengetahuan manusia.
Dengan demikian metode penelitian dapat diartikan sebagai proses
prinsip-prinsip dan tata cara untuk memecahkan masalah yang
dihadapi dalam melakukan penelitian.2

1
2

Sutrisno Hadi, Metodologi Research Jilid I, Andi Offset, Yogyakarta, 2000, hlm. 4.
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, UI Press, Jakarta 1986, hlm. 6.

Dalam melakukan suatu penelitian diperlukan suatu metode


pendekatan sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai dalam
penelitian tersebut. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini
adalah yuridis empiris yaitu suatu pendekatan masalah dengan cara
meninjau peraturan-peraturan yang telah diberlakukan dalam
masyarakat

sebagai

hukum

positif

dengan

peraturan

pelaksanaannya.
2. Spesifikasi Penelitian.
Spesifikasi Penelitian yang digunakan bersifat deskriptif analitis
yaitu untuk memperoleh gambaran yang menyeluruh dan sistematis
tentang tokoh-tokoh yang mengemukakan pendapat tentang teori
Hukum Progresif dan mengetahui implementasi teori Hukum
Progresif di Indonesia.
Menurut Bambang Sunggono, deskripsi analitis yaitu memaparkan,
menggambarkan atau mengungkapkan hal yang terkait dengan
obyek penelitian untuk kemudian dibahas atau dianalisis menurut
ilmu dan teori-teori atau pendapat peneliti sendiri, dan terakhir
menyimpulkannya.3
3. Tehnik Pengumpulan Data.
Data yang dikumpulkan dalam makalah ini berasal dari buku-buku
mengenai teori hukum Progresif.
4. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum.
Data yang telah dikumpulkan diproses melalui langkah-langkah yang
bersifat umum, yaitu difokuskan pada hal-hal yang penting dan
mengambil kesimpulan untuk kemudian diverifikasi. Data yang telah
terkumpul akan direduksi untuk kemudian dicari maknanya, mencari
3

Bambang Sungguno, Metodologi Penelitian Hukum, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta,


2003, hlm. 26.

pola, hubungan, persamaan, hal-hal yang sering timbul dan


kemudian

disimpulkan.4

Teknik

tersebut

digunakan

memberikan gambaran atas penelitian ini.

BAB II
4

Nasution S, Metode Penelitian Kualitatif, Tarsito, Bandung, 1992, hlm. 52.

untuk

PEMBAHASAN

A.

Konsep Teori Hukum Progresif


Gagasan akan Teori Hukum Progresif ini pertama kali dilontarkan pada

tahun 2002 lewat sebuah artikel yang ditulis di Harian Kompas dengan judul
Indonesia Butuhkan Penegakan Hukum Progresif5. Dalam artikel ini
mengisyaratkan kritik dan kerisauan beliau terhadap perjalanan penegakan hukum
di Indonesia yang berjalan lambat. Selain itu gagasan hukum Progresif ini juga
dipengaruhi terutama sejak bergulirnya era reformasi yang ditandai oleh
ambruknya kekuasaan Orde Baru yang otoriter selama puluhan tahun.
Namun itu bukan satu-satunya alasan, menurut Prof. Dr. Satjipto Rahardjo,
hukum progresif tidak hanya dikaitkan pada keadaan sesaat, namun hukum
progresif melampaui pikiran sesaat dan memiliki nilai ilmiah tersendiri. hukum
progresif dapat diproyeksikan dan dibicarakan dalam konteks keilmuan secara
universal, oleh karena itu hukum Progresif dihadapkan pada dua medan sekaligus,
yaitu Indonesia dan dunia. Ini didasarkan pada argument bahwa ilmu hukum tidak
dapat bersifat steril dan mengisolasi diri dari perubahan yang terjadi didunia. Ilmu
pada dasarnya harus selalu mampu memberi pencerahan terhadap komunitas yang
dilayani. Untuk memenuhi peran itu, maka ilmu hukum dituntut menjadi
Progresif. Ilmu hukum normative yang berbasis Negara dan pikiran abad ke -19
misalnya, tidak akan berhasil mencerahkan masyarakat abad ke-20 dengan
sekalian perubahan dan perkembangannya. 6

Berbeda dengan hukum yang berbasis pada teori positivis, yang sangat
mengandalkan paradigma peraturan (rule), hukum Progresif lebih mengutamakan
5

Abu Rokhmad, Hukum Progresif Pemikiran Satjipto Rahardjo dalam Perspektif Teori
Maslahah, Pustaka Rizki Putra, Semarang, 2012, hlm 6.
6
Satjipto Rahardjo, Hukum Progresif sebagai Dasar Pembangunan Ilmu Hukum Indonesia, dalam
buku : Menggagas Hukum Progresif Indonesia, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, hlm.2-3.

paradigma manusia (people). Konsekuensi penerimaan paradigma manusia itu


membawa Hukum progresif sangat memperdulikan faktor perilaku (behavior,
experience). Menurut Holmes, logika peraturan disempurnakan dengan logika
pengalaman. 7
Menurut Prof. Dr. Satjipto Rahardjo ada dua alasan utama dibalik
pemikirannya mengenai hukum progresif tersebut, keduanya berada posisi sebabakibat, saling berpautan dan tidak bisa dipisahkan, yakni:
1. Alasan pertama, yaitu alasan praktis dimana beliau mengajak kita
untuk melihat bagaimana di sekitar kita mengoperasikan dan atau
menegakkan hukum oleh penegak hukum. Menurut beliau Negara
hukum yang bekerja dalam batas formalitas semata (formele rechstaat)
dan lebih mementingkan urusan perundang-undangan (black letter
law) adalah negara hukum kacangan. Hal ini karena asas dan doktrin
hukum digunakan berputar-putar, dan seringkali digunakan untuk
mendapatkan keuntungan pribadi dari kasus hukum yang ditangani.
Jika dihubungkan dengan kualitas penegakan hukum sejak reformasi
1997, maka hasilnya belum beranjak baik, korupsi meruyak di
berbagai sektor kehidupan bernegara, sementara hukum tak berdaya
menghentikannya.

Kegagalan

pengadilan

membawa

koruptor

kepenjara (salah satunya) disebabkan oleh sikap submisif terhadap


kelengkapan hukum yang ada, seperti prosedur, doktrin dan asas
hukum. Akibatnya hukum justru bias menjadi safe heaven bagi para
koruptor. Dilihat dari sudut Hukum Progresif maka cara-cara dan
praktik berhukum seperti ini sudah tergolong kontra-progresif dan
penggunaan ilmu hukum praktis ini terbukti gagal dalam menegakkan
hukum di masyarakat.
2. Alasan kedua, yaitu alasan pradigmatik-epistimologik hukum setelah
ajaran ilmu hukum positif (analytical jurisprudence) yang menjadi
dasar praktik hukum di Indonesia tidak memuaskan. Ilmu Hukum
7

Satjipto Rahardjo, Op. Cit.

Progresif tidak bertumpu pada peraturan (rule) saja, melainkan juga


memakai paradigma manusia (behavior, experience). Ilmu Hukum
Progresif berusaha peduli terhadap perburuan kebenaran (searching for
the truth) dan menampilkan gambar hukum yang utuh..8

Pengertian Teori Hukum Progresif


Teori Hukum Progresif ini adalah sebuah teori yang yang berangkat dari

asumsi bahwa hukum bertumpu pada manusia itu sendiri, membawa konsekuensi
pentingnya sebuah kreativitas. Kreativitas dalam konteks disini adalah konteks
penegakan hukum selain mengatasi ketertinggalan dan ketimpangan hukum, juga
untuk membuat terobosan hukum dan kalau perlu melakukan rule breaking.9
Menurut beliau, ada tiga cara untuk melakukan rule breaking, yaitu :
1.

Mempergunakan kecerdasan spiritual untuk


bangun dari keterpurukan hukum dengan mencari jalan baru, dan tidak
terkekang dengan cara-cara lama yang telah melukai rasa keadilan.

2.

Pencarian

makna

lebih

dalam

hendaknya

menjadi ukuran baru dalam menjalankan hukum dan bernegara hukum.


Masing-masing pihak yang terlibat dalam proses penegakan hukum
didorong untuk selalu bertanya kepada hati nurani tentang makna
hukum yang lebih dalam.
3.

Hukum hendaknya dijalankan tidak menurut


prinsip logika saja, tetapi dengan perasaan, kepedulian dan keterlibatan
kepada kelompok yang lemah. Pencarian keadilan tidak mungkin
hanya bisa dilihat dari aspek normative saja, melainkan juga aspek
sosiologis, apalagi sudah menyangkut aspek keadilan social (social
justice) serta konstitusionalitas suatu UU. 10

Abu Rokhmad, hlm 8.


M. Syamsudin, Budaya Hukum Hakim Berbasis Hukum Progresif, Kencana Prenada Media
Group, Jakarta, 2012, hlm 106.
10
Ibid., hlm 106.
9

10

Dari pengertian diatas, dapat di tarik kesimpulan bahwa hukum itu untuk
manusia, bukan manusia untuk hukum, karena kehidupan manusia penuh dengan
dinamika dan berubah dari waktu ke waktu, dengan kata lain, hukum dapat saja
tidak dipertimbangkan jika keadilan menuntut hal demikian.11

Tujuan Teori Hukum Progresif


Menurut Teori Hukum Progresif ini untuk mendapatkan tujuan hukum

yang maksimal berdasarkan Hukum Progresif diperlukan kemampuan manusia


dalam menalar, memahami serta bertindak dengan hati nurani manusia untuk
membuat interpretasi hukum yang menggantungkan nilai moral keadilan pada
masyarakat sesuai dengan rule breaking itu sendiri12. Oleh karena itu hukum
harus pro rakyat, pro keadilan, bertujuan untuk kesejahteraan dan kebahagiaan.
Tujuan Hukum Progresif ini harus selaras juga dengan bagaimana penegakan
hukumnya itu sendiri.
Menurut Prof. Dr. Satjipto Rahardjo, penegakan hukum menurut Teori
Progresif adalah menjalankan hukum tidak hanya sekedar kata-kata hitam-putih
dari peraturan (according to the letter), melainkan menurut semangat dan makna
lebih dalam (to very meaning) dari undang-undang atau hukum. Penegakan
hukum tidak hanya kecerdasan intelektual, melainkan dengan kecerdasan
spiritual. Dengan kata lain, penegakan hukum yang dilakukan dengan penuh
determinasi, empati, dedikasi, komitmen terhadap penderitaan bangsa dan disertai
keberanian untuk mencari jalan lain daripada yang biasa dilakukan. Dengan
demikian, gagasan pemikiran hukum progresif tidak semata-mata hanya
memahami sistem hukum pada sifat yang dogmatic, selain itu juga aspek perilaku
sosial pada sifat yang empirik. Sehingga diharapkan melihat problem
kemanusiaan secara utuh yang berorientasi pada keadilan substantif.13

11

Abu Rokhmad, hlm 106.


Satjipto Rahardjo, Membedah Hukum Progresif, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2006, hlm 3.
13
Satjipto Rahardjo, Penegakan Hukum Suatu Tinjauan Sosiologis, Genta Publishing,
Yogyakarta, 2009, hlm. xiii
12

11

Konsep keadilan progresif yang di idealkan adalah bagaimana bisa


menciptakan keadilan yang substantif dan bukan keadilan prosedural. Maka
hukum di Indonesia dihadapkan pada dua pilihan besar antara pengadilan yang
menekankan pada prosedur atau pada substansinya itu sendiri. Keadilan Progresif
bukanlah keadilan yang menekan pada prosedur melainkan keadilan substantif. 14
Menurut penafsiran kami, untuk mencapai tujuan berdasarkan teori hukum
Progresif ini adalah menempatkan manusia sebagai sentralitas utama (pusat) dari
seluruh perbincangan mengenai hukum. Dengan kebijaksanaan Hukum Progresif
mengajak untuk memperhatikan faktor perilaku manusia. Oleh karena itu, hukum
progresif menempatkan perpaduan antara faktor peraturan dan perilaku penegak
hukum didalam masyarakat. Disinilah arti penting pemahaman gagasan Hukum
Progresif, bahwa konsep hukum terbaik mesti diletakkan dalam konteks
keterpaduan yang bersifat utuh (holistik) dalam memahami problem-problem
kemanusiaan. Selain itu maksud dari keadilan substantif adalah yang berkaitan
dengan hukum materil (Undang-Undang), sedangkan keadilan prosedural
berkaitan dengan hukum formil atau hukum acara, yakni bagaimana menegakkan
atau menjalankan hukum materil itu.

Prinsip-prinsip dalam Hukum Progresif.


Lahirnya hukum progresif dalam pemikiran hukum, bukanlah sesuatu

yang lahir tanpa sebab dan bukanlah sesuatu yang jatuh dari langit. Hukum
Progresif adalah bagian dari proses pencarian kebenaran yang tidak pernah
berhenti. Hukum Progresif dapat dipandang sedang konsep yang sedang mencari
jati diri bertolak dari realitas empiris tentang bekerjanya hukum di masyarakat,
berupa ketidakpuasan dan keprihatinan terhadap kinerja dan kualitas penegakan
hukum dalam setting Indonesia akhir abad ke -20. 15
Hukum dengan watak progresif ini diasumsikan bahwa hukum adalah
untuk manusia, bukan sebaliknya manusia untuk hukum. Kehadiran hukum bukan
14

Ibid.
SatjiptoRahardjo, Hukum Progresif : Hukum yang membebaskan, Jurnal Hukum Progresif,
Vol 1, No. 1/April 2005, Program Doktor Ilmu Hukum Undip Semarang, hlm 3.
15

12

untuk dirinya sendiri, melainkan untuk sesuatu yang lebih luas dan besar. Jika
terjadi permasahan didalam hukum, maka hukumlah yang harus diperbaiki, bukan
manusia yang dipaksa untuk dimasukkan kedalam skema hukum. Hukum juga
bukan institusi yang mutlak serta final, karena hukum selalu berada dalam proses
untuk terus-menerus menjadi (law as process, law in the making).
B.

Penemuan Hukum oleh Hakim dalam Prespektif Hukum Progresif

Penemuan Hukum oleh Hakim (Rechtvinding)

Ketentuan

hukum

yang

selalu

ketinggalan dibandingkan dengan

kebutuhan dan perkembangan masyarakat mengharuskan


melakukan

hakim

untuk

sebuah kajian hukum komprehensif yang disebut penafsiran

hukum. Konsepsi hakim dalam melakukan penafsiran hukum dapat


dibagi menjadi 2 (dua) teori yaitu teori penemuan hukum yang heteronom
dan teori penemuan hukum yang otonom.16 Perbedaan mendasar dari kedua
teori tersebut terletak pada sejauhmana hakim terikat pada ketentuan
hukum tertulis. Teori penemuan hukum heteronom lebih menempatkan
hakim sebagai corong undang-undang

(la

bouche

de

la

loi)

sedangkan teori penemuan hukum otonom menempatkan hakim pada


satu

kebebasan untuk

memahami

dan

mengkaitkan

hukum sesuai

perkembangan masyarakat.
Pemahaman akan korelasi hermenetika dan
hukum

metode

penemuan

sangat penting mengingat hal ini tidak terlepas dari substansi

filsafat hermeneutika adalah tentang hakikat mengerti dan memahami


sesuatu, yakni refleksi kefilsafatan yang menganalisis

syarat-syarat

kemungkinan semua pengalaman dan pergaulan manusiawi


dalam kenyataan,...17

Terkait dengan usaha penemuan

hukum

16

Ahmad Rifai, 2010, Penemuan Hukum oleh Hakim dalam Perspektif Hukum P
rogresif, Sinar Grafika, Jakarta, hlm. 19.
17

Ahmad Zaenal Fanani, Hermeneutika Hukum Sebagai Metode Penemuan Hu


kum dalam Putusan Hakim,
Varia Peradilan, Tahun XXV, No. 297, Agustus, 2010, hlm. 58.

13

tersebut

setiap kali menerima perkara maka hakim akan melakukan

kegiatan penafsiran yang sangat mendasar

yaitu

strictissim

interpretatio atau strictieve interpretatie, yaitu penafsiran secara ketat (strict)


terhadap redaksi undang- undang, yang rumusannya jelas dan tidak dapat
diartikan jamak.18 Dalam kondisi seperti ini hakim tidak diperbolehkan
melakukan

penyimpangan dari kata-kata atau rumusan undang-undang.

Putusan Hoge Raad tanggal 21 Desember 1929, NJ 1929:79 juga


menegaskan apabila kata-kata atau rumus undang-undang itu
jelas maka hakim tidak boleh menyimpangdari

kata-kata

cukup
tersebut,

walaupun kehendak yang sungguh-sungguh dari pembuat undang-undang


itu berlainan dengan arti kata tersebut.19 Berbeda
dari rumusan

undang-undang

yang

halnya jika

dibuat

oleh

ternyata
pembuat

undang-undang tidak jelas maka dibutuhkan penjelasan yang konkrit


melalui kegiatan penafsiran. Paul Scholten menjelaskan
atau

interpretatie

penafsiran itu sebagai kegiatan menjelaskan undang- undang20.

Dalam bahasa yang serupa van Apeldoorn


dari kegiatan

penafsiran

itu

sebagai

menjelaskan

hakekat

suatu usaha mencari kehendak

pembuat undang-undang yang pernyataannya kurang jelas.


Fungsi

dari

penafsiran

pada

dasarnya adalah untuk (1)

memahami makna asas atau kaidah hukum, (2) menghubungkan


suatu fakta hukum dengan kaidah hukum, (3)

menjamin

penerapan

atau penegakan hukum dapat dilakukan secara tepat, benar, dan adil, dan
(4) mempertemukan antara kaidah hukum dengan perubahan-perubahan
sosial

agar

kaidah

hukum

tetap

aktual mampu memenuhi kebutuhan

sesuai dengan perubahan masyarakat.21


Rumusan

aturan

undang-undang dalam
18
19

yang

tidak

membuat

jelas disebabkan karena pembuat

rumusan

undang-undang hanyalah

A. Zainal Abidin Farid, Op.cit., hlm. 115.


Ibid.

20

Ibid.
Bagir Manan, Beberapa Catatan tentang Penafsiran, Varia Peradilan, Tahun
XXIV, No. 285 Agustus, 2009, hlm. 5.
21

14

membuat suatu moment opname terhadap

segi

pergaulan

sosial

sehingga bersifat sangat abstrak dan sudah tidak sesuai lagi


perkembangan

dengan

masyarakat.

Bagir Manan menegaskan beberapa alasan paling umum bagi hakim


saat menggunakan penafsiran berikut:22
1)

Tidak pernah ada satu peristiwa hukum yang tepat serupa dengan lukisan

dalam undang-undang (peraturan perundang-undagan).

Untuk

memutus, hakim harus menemukan kesesusian antara fakta dan hukum.


Hal

ini

dilakukan dengan merekonstruksi fakta (melalui bukti-bukti)

sehingga memenuhi unsur yang dimuat dalam undang-undang;


2)

Suatu perbuatan, tidak tercakup dalam kata atau kata-kata (ordinary

word) yang disebut dalam undang-undang;


3)

Tuntutan keadilan;

4)

Keterbatasan makna bahasa dibandingkan dengan gejala atau peristiwa

yang ada atau terjadi di masyarakat, baik peristiwa


politik,

hukum,

ekonomi, maupun sosial.

5)

Bahasa dapat diartikan berbeda padasetiap lingkungan masyarakat;

6)

Secara sosiologis, bahasa atau kata atau kata-kata bisa berbeda makna;

7)

Pengaruh perkembangan masyarakat;

8)

Transformasi

atau

resepsi konsep

hukum

asing

yang

hukum,

seperti

dipergunakan dalam praktik hukum;


9)

Pengaruh berbagai

teori

baru

sociological jurisprudence,

dan

feminist

10) Ketentuan

kata

atau kata-kata

bahasa,atau

di bidang

legal theory
dalam

undang-

undang tidak jelas, bermakna ganda, tidak konsistenunreasonable. Berdasarkan 10 (sepuluh) alasan di atas hakim dalam
melaksanakan

tugas penafsiran mempertimbangkan aspek legal

yuridis normatif yang berlaku di masyarakat.


Fokus pada alasan ke-3 dan 7, penggunaan penafsiran sebagai
pengaruh perkembangan masyarakat pada dasarnya membuka pe22

Ibid., hlm. 10-11

15

luang bagi hakim untuk melakukan penemuan


Hakim

tidak hanya

menggali

nilai-nilai

hukum
yang

secara

ada

progresif.

dan berlaku di

masyarakat melainkan mengikuti perkembangan penghayatan nilai-nilai tersebut di masyarakat. Di sinilah titik temu antara
dengan

hukum progresif

yang

memberikan

penemuan

hukum

kemudahan serta

kemungkinan bagi hakim untuk melakukan berbagai terobosan baru dalam


memutus perkara. Harifin A. Tumpa menegaskan pandangan tersebut dengan
mengatakan:
Hukum itu sangat luas dan kompleks, karena mengikuti seluruh segi kehidupan manusia dalam masyarakat. Hukum itu tidak pernah berhenti
berkembang sejalan berkembangnya kehidupan bermasyarakat. Oleh
karena itu, seorang hakim tidak boleh ketinggalan dan selalu harus
mengikuti perkembangan hukum itu. Tetapi hakim harus mampu menggali
nilai-nilai hukum yang hidup di tengah-tengahmasyarakat tersebut.23
Dalam situasi inilah hakim menjalankan
lembaga

perannya

sebagai

yudisial dengan melakukan penafsiran hukum atas aturan

hukum yang ada untuk mendapatkan aturan hukum sebagai dasar mengadili.
Hakim diberikan keleluasaan untuk melakukan
terdapat
jaman.
kataan

penafsiran

apabila

rumusan undang-undang yang tidak jelas atau sudah ketinggalan


Simons

menegaskan tugas ini bahwa bilamana perkataan-per-

undang-undang

tersebut

memboleh- kannya,

dengan

memperhatikan keadaan-keadaan yang berubah, maka undang-undang


itu

dapat

diterapkan

menyimpang dari maksud semula pembuat

undang-undang.24
Dengan

adanya kebebasan

hakim dapat sekaligus melakukan

untuk melakukan penafsiran, maka


penemuan

setiap penafsirannya. Scholten menyimpulkan,

hukum di dalam
bahwa menjalankan

Undang-undang itu selalu rechtsvinding, penemuan hukum.25


23

Harifin A. Tumpa, Apa yang Diharapkan Masyarakat dari Seorang Hakim, Va


ria Peradilan, Tahun XXV,No. 298, September, 2010, hlm. 6.
24
A. Zainal Abidin Farid, Op.cit., hlm. 116.
25
Ibid.

16

Dari istilah penemuan hukum sebenarnya

secara

implisit

menunjukkan adanya hukum yang telah berlaku di suatu masyarakat,


tetapi belum diketahui secara jelas sehingga diperlukan usaha untuk
mendapatkannya. Hal ini sangat bersesuaian

dengan

societas ibi ius (Cicero), dimana terdapat


hukum tertentu di
penemuan

dalamnya.

hukum

doktrin

masyarakat

berlakulah

Algra menjelaskan

pengertian

sebagai menemukan hukum untuk suatu

kejadian konkret, yang mana hakim (atau seorang pemutus


lain)

harus

ibi

diberikan suatu

penyelesaian

yuridis

yuridis.26 Hukum

disini diartikan tidak hanya sebatas aturan perundang-undangan


ditetapkan pembentuk undang-undang namun peraturan yang
diakui

di

yang

hidup

dan

masyarakat.

Roscoe

Pound

membedakan

penemuan hukum, yaitulaw

dua

making

istilah dalam membahas


yang

lebih

merupakan

kegiatan pembentuk undang-undang dalam membentuk suatu aturan (lex)


dan law finding berupa aturan yang hidup dalam masyarakat (ius). 27
Ini

berarti

pengertian hukum

di

dalam

penemuan

dibatasi oleh peraturan perundang-undangan tetapi


pada

hukum

tetap

tidak

didasarkan

peraturan perundang-undangan.
Suatu penafsiran agar dapat disebut sebagai

hukum

harus melalui

beberapa

prosedur

Prosedur penemuan hukum menurut Sudikno

usaha

penemuan

penemuan hukum.

Mertokusumo 28

dapat

dijelaskan sebagai berikut:

26

Algra dan K. van Duyvendijk, Op.cit., hlm. 324.


Roscoe Pound, 1960, Law Finding through Experience and Reason: Three Lec
tures, University of Georgia
Press, Athens, hlm. 1.
Sudikno Mertokusumo, 1997, Penemuan Hukum: Sebuah Pengantar, Cet. Keli
ma, Liberty, Yogyakarta, hlm. 37.
28
Ibid.
27

17

Dari bagan di atas, proses penemuan hukum mulai dilakukan sejak


hakim

memperoleh perkara. Penuntut umum dan penasehat

hukum

mengajukan peristiwa yang akan diuji di dalam proses pembuktian di


persidangan sehingga didapatkan peristiwa konkret (tahap konstatasi).
Peristiwa konkret ini

akan

dibandingkan dengan

undang yang mungkin untuk dijadikan

bahan

aturan

undang-

pertimbangan

awal.

Kegiatan ini berlangsung di dalam diri hakim yang pada langkah


awal melakukan

seleksi terhadap

undang-undang

yang

mungkin diterapkan pada kasus konkret. Setelah didapatkan peraturan


hukumnya, hakim akan melakukan pengkajian secara lebih mendalam
tentang peristiwa hukum apa yang telah terjadi di dalam peristiwa
konkret itu (tahap kualifikasi peristiwa konkret). Didalam tahap ini
hakim akan memisahkan unsur-unsur yang non hukum dengan unsur-unsur
yang membentuk peristiwa hukum.

18

Peter
ini

Machmud
sebagai

menegaskan

arti

penting pemahaman

isu

hukum

satu permasalahan yang harus dijawab dengan penelitian

hukum, baik secara dogmatik hukum, teori hukum ataupun filsafat hukum 29.
Isi hukum di dalam dogmatik hukum lebih memberatkan pada
praksis dengan ditemukannya

aspek

aturan hukum sebagai dasar untuk

mengadili bagi hakim.Sedangkan isu hukum dalam teori hukum lebih


membahas

mengenai

konsep

hukum di balik peraturan dan kegiatan

hukum yang dilakukan. Kedua hal ini benar-benar harus dipahami dan
dikuasai oleh hakim sebagai seorang

ahli

hukum

dalam

menangani

masalah hukum secara konkrit.

Penemuan Hukum oleh Hakim yang Progresif dalam Perkara


Sejak

digagasnya

konsep

berbagai pemikiran

untuk

hukum progresif oleh Satjipto Raharjo,


menggunakan

hukum progresif dalam

tahapan proses hukum mulai bergulir termasuk di dalamnya penemuan


hukum

progresif

yang

dikemukakan

bukunya Penemuan Hukum


Progresif,

oleh

penemuan

oleh Ahmad Rifai melalui

Hakim

dalam

hukum progresif

Perspektif Hukum

memiliki

(tiga)

karakteristik utama, yaitu:30


1.

Metode penemuan hukum yang bersifat visioner dengan melihat

permasalahan hukum
ke
2.

depan

tersebut

untuk

kepentingan jangka

panjang

dengan melihat case by case;

Metode penemuan hukum yang berani dalam melakukan suatu

terobosan (rulebreaking)

dengan

melihat

dinamika masyarakat, tetapi

tetap berpedoman pada hukum, kebenaran, dan keadilan serta memihak


dan peka pada nasib dan keadaan bangsa dan negaranya;

29

Peter Mahmud Marzuki, 2006, Penelitian Hukum, Cet.II, Kencana Prenada Me


dia Group, Jakarta, hlm. 57-61.
30
Ahmad Rifai, Op.cit., hlm. 93.

19

3.

Metode penemuan hukum yang dapat membawa

dan

kesejahteraan

kemakmuran masyarakat dan juga dapat seorang

dalam

menangani membawa

bangsa

dan

ahli

Negara

hukum

keluar dari

keterpurukan dan ketidakstabilan sosial seperti saat ini. Ketiga


karakteristik

di

atas

lebih merupakan

syarat bagi

sebuah putusan hakim dapat disebut sebagai penemuan hukum yang


progresif. Semangat dasar dari penemuan hukum progresif pada dasarnya
adalah

mampu

didasarkan

melihat

kepentingan jangka panjang yang

atas dinamika

masyarakat

sehingga

membawa

kesejahteraan dan kemakmuran bangsa dan Negara. Dengan kata lain,


titik perhatian utama dari penemuan hukum yang bersifat progresif
adalah terakomodasinya nilai-nilai hukum masyarakat

dalam putusan

hakim. Putusan hakim atas suatu perkara tidak lagi dipahami


sebuah hasil aturan dan fakta

(RxF=D)34

melainkan

sebagai

pertimbangan

atas nilai-nilai hukum di masyarakat.


Penting untuk diperhatikan
suatu

perkara berdasarkan

bahwa ketika hakim memutuskan

nilai-nilai

hukum

masyarakat tidak dapat

disamakan dengan hakim menuruti keinginan massa. Hodio Potimbang


mengutip

pendapat

menyebabkan

Smelser

menjelaskan

6 (enam)

faktor

yang

lahirnya peradilan massa atau faktor penentu perilaku

kolektif yaitu structural conduciveness (segi-segi sosial yang memicu


masyarakat sepertipenyerangan/pengrusakan), structural strain (ketegangan
struktural), growth and spread of a generalized belief (keyakinan yang sama
terhadap suatu perbuatan yang salah),

precipitating

factors

situasional), mobilization of participants for actions (adanya

figur

(faktor
yang

menggerakkan masyarakat) dan the operations of social control.31


Adanya

tuntutan

publik

maupun tidak memang

atas

dapat

suatu perkara baik secara langsung


berpengaruh

31

pada

hakim dalam

Hodio Potimbang, FaktorFaktor yang Melahirkan Peradilan Massa Ditinjau d


ari Aspek Hukum Pidana,Varia Peradilan, Tahun XXVII, No. 302, Januari 2011,
hlm. 59-60.

20

mempertimbangkan

sebuah

kasus. Dalam hal ini, hakim harus

memperhatikan nilai-nilai

hukum

terbentuk

tuntutan massa

oleh

karena

peradilan massa
dihalalkan

di

padahal

kehakiman yang

secara

mana
itu

lebih.

Putusan hakim yang

justru

intervensi

akan

pada

sangat berbahaya

mandiri. A.M.

dengan civic engagement yang

Mujahidin

melahirkan

proses peradilan
bagi

kekuasaan

menyebut kondisi tersebut

berdampak

pada

penegakan

hukum

yang irasional dan emosional.32 Selain itu peradilan oleh massa (trial by
mass) melanggar prinsip presumption of innocence sebagai prinsip dasar
proses hukum pidana yang

menempatkan

seseorang

sepanjang hakim tidak memutuskan sebaliknya.

tidak

Penilaian

bersalah
ada

tidaknya putusan hakim yang dapat dikatakan sebagai penemuan


berciri

progresif

putusannya.

Ahmad

atau
hukum

dapat dilihat dari pertimbangan hakim dalam amar


Rifai

menyebutkan beberapa kasus pidana yang

dapat dikatakan sesuai dengan metode penemuan hukum progresif:33


Ukuran progresivitas sebuah penemuan hukum sebagaimana diungkapkan
oleh Ahmad Rifai ada 3 (tiga), yaitu visioner, rule breaking dan membawa
kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat34 sebenarnya bertumpu pada
kepentingan masyarakat. Kedelapan perkara di
dikatakan

sebagai penemuan

hukum

menghasilkan sesuatu yang baru dan keluar dari


yang

atas

yang

memang
progresif

ketentuan

dapat
karena
hukum

ditetapkan.

Disinilah terletak keistimewaan penemuan hukum progresif yang


menyajikan hal-hal baru dalam dinamika hukum nasional. Permasalahannya,
tindakan

penemuan hukum tersebut tidak boleh dilakukan secara

sembarangan supaya tidak melanggar hak asasi manusia sebagaimana


ditegaskan dalam asas legalitas. Sekalipun asas legalitas dalam
32

konsep

A.M. Mujahidin, Pengaruh Opini Publik dalam Proses Pengambilan Putusan,


Varia Peradilan, Tahun XXV,No. 291, Februari 2010, hlm. 18.
33
Ahmad Rifai, Op.cit., hlm. 138-163.
34
Ibid., hlm. 93.

21

materiil memberikan kesempatan bagi hakim untuk menggali nilai-nilai


masyarakat tidak berarti hakim lepas begitu saja pada ketentuan hukum
tertulis yang mengatur perkara yang dimohonkan.Hakim tetap harus
memperhatikan maksud dan tujuan

dari

pembuatan

ketentuan

hukum yang dimaksud agar jangan sampai terlepas dari tujuan asal
sebuah undang-undang dibuat. Kondisi

tersebut

menempatkan hakim pada posisi tidak bebas karena

seolah

harus selalu

mempertimbangkan ketentuan hukum tertulis. Namun peraturan tersebut


lebih

menjamin

memberikan

dan

mengedepankan kepastian hukum yang dapat

perlindungan

hukum

bagi

tersangka maupun pencari

keadilan.
Perlu

diingat

bahwa

tujuan

dari kekuasaan

kehakiman

sendiri

adalah menegakkan hukum dan keadilan, artinya keseimbangan antara asas


kepastian hukum dan
dalam

tahap

keadilan

persidangan.

penulis masuk

dalam

harus

benar-benar

dijamin termasuk

Salah satu putusan yang menurut pendapat

kategori

putusan

hukum progresif adalah

putusan atas kasus video asusila terdakwa Ariel. Putusan Pengadilan


Negeri

Bandung

menyatakan

terdakwa bersalah

melakukan

tindakan

pornografi sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 4 UU No. 44

Tahun 2008 tentang Pornografi.


Majelis hakim berpendapat bahwa terdakwa
pembantu (medepletigheid)

pasif

dalam

berkedudukan

sebagai

melakukan penyebaran video

asusila. Sebuah pertimbangan yang cukup unik mengingat pelaku tidak


memiliki niat untuk menyebarkan video
yang melakukan

asusila

bahkan

orang

lain

penyebaran

tersebut.

Majelis hakim menekankan

pentingnya penggunaan konsep

pembantu

pasif

perbuatan

tersebut

meresahkan masyarakat

nilai-nilai

ke-susilaan.

telah

22

tersebut
dan

mengingat
merusak

Namun

demikian,

hal

tersebut menimbulkan

sebuah

permasalahan sampai sejauh manakah hakim diperbolehkan melakukan


penemuan hukum yang visioner. Sekalipun hakim memiliki kebebasan
dalam

mencari, menafsirkan, memaknai serta

menerapkan

ketentuan

hukum ketika memutus suatu kasus tidak berarti tidak ada


batasan
harus

yang diberlakukan pada dirinya.

mengarahkan pandangannnya

pada

Hakim tetap

tugas

yudisial

sebagaimana digariskan dalam Pasal 1 angka 1 UU No. 48 Tahun 2009


yang menyatakan Kekuasaan Kehakiman adalah kekuasaan Negara yang
merdeka untuk menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila
dan

UUD

1945.

Berdasarkan

rumusan ketentuan hukum tersebut,

setiap putusan hakim harus dapat menunjukkan adanya dasar hukum


yang

jelas

serta

mempertimbangkan rasa keadilan yang seimbang.

Dengan kata lain, hakim tetap dihadapkan pada


menyeimbangkan
putusannya.

kepastian

Hakim

hukum

diwajibkan

yang berlaku di masyarakat

dan

tugas

keadilan

untuk

pada

setiap

untuk mendalami norma-norma

sebagai

ukuran

obyektifitas dan

kebenaran atas putusan yang diambil di dasarkan atas nilai-nilai Pancasila.


Norma merupakan perwujudan dari nilai-nilai yang hidup, tumbuh, serta
diakui dalam masyarakat. Soedarto mendefinisikan norma
anggapan

bagaimana

seseorang

harus

berbuat

berbuat.35 Kedudukan norma di sini lebih konkrit


dengan

atau
jika

sebagai

tidak

harus

dibandingkan

nilai-nilai (values) sebab nilai merupakan ukuran yang disadari

atau tidak disadari oleh suatu masyarakat atau golongan untuk


menetapkan apa yang benar, yang baik, dan sebagainya.36
Senada dengan pendapat ini, Peter Mahmud juga menegaskan

yang

norma sebagai pranata yang membatasi individu dalam berpola tingkah


pekerti dalam hidup bermasyarakat,
35
36

tidak

bergantung

pada

Soedarto, 2006, Hukum dan Hukum Pidana, Alumni, Bandung, hlm. 19


Ibid.

23

aturan

tersebut tertulis atau tidak.37 Sekalipun norma merupakan wujud konkrit


dari nilai tidak berarti hakim dapat dengan mudah menentukan

norma

tertentu dengan sistem nilai tertentu yang berlaku di masyarakat. Kondisi


tersebut

memacu

hakim

untuk

menggali nilai-nilai yang hidup di

masyarakat dengan harapan menemukan norma yang berlaku di dalamnya


dan yang merupakan pelanggaran sehingga dapat dikategorikan sebagai
perbuatan yang dilarang oleh undang-undang.
Fungsi norma sebagai batasan terhadap penemuan hukum dalam hukum
pidana sebenarnya

sangat terkait erat

dengan pemberlakuan

asas

legalitas dalam makna materiil. Mengingat keberadaan norma yang secara


hakiki ada dan berlaku di masyarakat membawa

sebuah

konsekuensiadanya ketentuan

dan

diberlakukan
asas
norma

hukum yang

oleh masyarakat

jelas

tegas

tersebut. Berdasarkan pemahaman

legalitas dalam makna materiil dapat diartikan pula normatersebut

sebagai

ketentuan hukum

berlaku. Bahkan jauh sebelum ketentuan


berlaku. Pemahaman tersebut

yang

sudah

sebelumnya

hukum pidana tertulis

memberikan

sebuah

dasar

kuat bagi

keberlakuan sebuah ketentuan hukum undang-undang tetapi norma yang


berlaku di masyarakat. Sebagai contoh dalam kasus kejahatan kesusilaan,
seorang yang sengaja menunjukkan ketelanjangan dirinya

di

umum tetap dinilai sebagai perbuatan asusila.

Perbuatan

melanggar nilai kesusilaan

berlaku

yang

secara

riil

depan
tersebut
dan diakui

masyarakat.
Terkait dengan penggunaan penafsiran hukum sebagai upaya penemuan
hukum secara
nilai-nilai

progresif,
yang

hakim dituntut

untuk

menggali

merupakan norma yang berlaku di masyarakat,

artinya tugas penemuan hukum merupakan tugas istimew

bagi

seorang

hakim dalam memeriksa dan memutus perkara. Setiap hakim selalu


37

Peter Mahmud Marzuki, 2008, Pengantar Ilmu Hukum, Kencana Prenada Medi
a, Jakarta, hlm. 44-45

24

ditantang untuk menemukan hukum yang tepat untuk mengadili dan


memutus suatu perkara seperti diamanatkan dalam Pasal 5 ayat (1) UU
No. 48 Tahun 2009.

Secara yuridis

formil, diakuinya penemuan

hukum dalam UU No. 48 Tahun 2009 menegaskan sumber hukum Indonesia


tidaklah selalu aturan tertulis tetapi juga hukum yang

berupa nilai-

nilai

tersebut lebih

yang berlaku

di

masyarakat.

Harapan

menekankan tujuan hukum yang dilaksanakan kekuasaan kehakiman


untuk menegakkan

hukum dan keadilan bagi masyarakat Indonesia.

Meskipun demikian hakim tetap me-miliki batasan yang jelas dalam


melakukan interpretasi, di antaranya:
1.

Dalam hal

hakim bunyi

kata

dan

atau kata-kata

susunan

kaidah

dan susunan kaidah sudah jelas,


kecuali didapati

hal-hal

yang

inkonsistensi, pertentangan, atau ketentuan-ketentuan tidak


menjangkau
2. Wajib

dapat

peristiwa hukum yang diadili;


memerhatikan

undang, kecuali

maksud

maksud
dan

dan tujuan pembentukan undang-

tujuan

sudah usang, terlalu sempit

sehingga perlu ada penafsiran yang lebih longgar;


3.

Penafsiran

keadilan.

Kepentingan

bertentangan
4.

hanya

Penafsiran

dengan
hanya

dilakukan

demi memberi

masyarakat
kepentingan
dilakukan

kepuasan

kepada

diperhatikan sepanjang tidak


pencari keadilan;

dalam rangka aktualisasi penerapan

undang-undang bukan untuk mengubah undang-undang;


5.

Mengingat hakim hanya memutus menurut hukum, maka penafsiran

harus mengikuti metode penafsiran menurut hukum dan memperhatikan


asas-asas hukum umum, ketertiban umum, kemaslahatan
dapat dipertanggungjawabkan secara hukum;

25

hukum

dan

6.

Dalam penafsiran, hakim dapat menggunakan ajaran hukum sepanjang

ajaran

tersebut

relevan

dengan

persoalan hukum

yang

akan

diselesaikan dan tidak merugikan kepentingan pencari keadilan;


7. Penafsiran

harus bersifat

progresif yaitu berorientasi

ke

masa depan (future oriented), tidak menarik mundur keadaan

hukum

di masa lalu yang bertentangan

dengan keadaan

yang

hidup

dan perkembangan hukum. Penemuan hukum sebagaimana dimaksud


oleh

Bagir

Manan

tidak

dapat dilakukan sembarangan tetapi harus

mengindahkan kejelasan aturan hukum sebagai dasar

berpijak

dan

nilai-nilai masyarakat sebagai dasar aktualisasi putusannya.


Berikut ini kami lampirkan contoh implementasi Teori Hukum Progresif yang
kami anggap tepat adalah :
1. Putusan Perkara Pidana Minah yang Mencuri Tiga Butir Buah Kakao.
Dalam kasus ini asas keadilan, kemanfaatan, dan kepastian hukum
terpenuhi semua secara bersamaan, sehingga menjadi putusan yang
dianggap ideal. Minah tetap dipidana karena terbukti mencuri tiga buah
kakao (dipidana percobaan). Putusan tersebut mampu memenuhi rasa
keadilan masyarakat dan pihak perusahaan kakao yang menjadi korban
pencurian, selain itu mempunyai sifat preventif (pencegahan) tindak
pidana, dan terutama memenuhi asas kepastian hukum bahwa barangsiapa
melanggar hukum maka harus diproses secara hukum, tidak peduli siapa
dan berapa nilai kerugiannya.38
2. Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 46/PUUVIII/2010 Tanggal 13 Februari 2012. Putusan Mahkamah Konstitusi ini
mengabulkan uji materiil UU Perkawinan (Undang-Undang Nomor 1
Tahun 1974) yang diajukan Hj. Aisyah Mochtar alias Machica binti H.
Mochtar Ibrahim yang meminta puteranya Muhammad Iqbal Ramadhan
bin Moerdiono agar diakui sebagai anak almarhum Moerdiono mantan
Menteri Sekretaris Negara di era Soeharto yang memicu perseteruan antara
dirinya dengan keluarga almarhum Moerdiono.
Dengan adanya putusan Mahkamah Konstitusi tersebut di atas, maka
diakuinya anak luar kawin (hasil biologis) sebagai anak yang sah berarti
akan mempunyai hubungan waris dengan bapak biologisnya tanpa harus
didahului dengan pengakuan dan pengesahan, dengan syarat dapat
dibuktikan adanya hubungan biologis antara anak dan bapak biologis
38

http://hukum.kompasiana.com/2011/01/07/praktik-mafia-hukum-dan-hukum-progresif/

26

berdasarkan ilmu pengetahuan, misalnya melalui hasil tes DNA. Namun


demikian, apabila ada penyangkalan mengenai anak luar kawin ini dari
anak-anak ahli waris yang sah, maka dalam hal ini tetap perlu dimohonkan
Penetapan Pengadilan mengenai status anak luar kawin tersebut sebagai
ahli waris yang sah. Diharapkan dengan adanya putusan MK tersebut
membuat sinkronisasi hukum dan peraturan perundang undangan yang
berkaitan dengan perkawinan menurut agama dan kepercayaannya tidak
menimbulkan pendapat/ opini yang tumpang tindih dan juga tidak akan
menimbulkan banyak masalah baru, sehingga penegakkan hukum serta
rasa keadilan dimasyarakat dapat terwujud.39

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Penemuan

hukum

secara progresif

tidak

terlepas

darikeinginan luhur untuk menegakkan

keadilan

dengan

menyerap nilai-nilai hukum di masyarakat.

Pemikiran Hukum Progresif

adalah bagian dari proses pencarian kebenaran (searching for the truth) yang
tidak pernah berhenti.Paradigma
39

sempit

yang

menempatkan

http://www.lemhannas.go.id/portal/in/daftar-artikel/1715

27

hakim

sebagai la bouche de la loi saat memeriksa perkara pidana sangat tidak


benar. UU No. 48 Tahun 2009 secara khusus mengoreksi pandangan
tersebut dengan menekankan tugas hakim untuk
dan

menegakkan

hukum

keadilan. Artinya, hakim dapat melakukan penemuan hukum secara

progresif atas setiap perkara yang dihadapinya tanpa mengabaikan asas


legalitas yang dianut.
Dilampauinya batas asas legalitas sama saja
kepastian

dengan

menabrak

hukum dan merusak rasa keadilan dari terdakwa. Artinya,

penemuan hukum progresif tetap diperbolehkan dan sangat membantu


dalam menangani perkara pidana. Hanya saja dalam penerapannya
tetap

harus

mendasarkan diri pada nilai-nilai Pancasila sebagai nilai dasar

kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia.

Pemahaman

tersebut

tentunya sangat sinergi dengan konsep asas legalitas secara materiil yang
membuka

diri

pada keterlibatan

nilai-nilai

hukum

dasar

dalam

menangani perkara pidana. Disinilah hakim sangat penting memahami


batasan penemuan hukum

progresif

secara

jelas

yaitu

asas legalitas

dalam arti materiil yang didasarkan pada nilai-nilai Pancasila yang luhur.

B. Saran
Saran kami setelah menyelesaikan penulisan ini adalah kesadaran tiap
masyarakat sangat diperlukan untuk membantu merubah serta memperbaiki
kondisi hukum yang ada saat ini agar tidak telalu jauh berada diluar sistem
atau arah yang ditetapkan pada awalnya. Hal ini sangat merugikan apabila
nantinya hukum benar-benar tidak berubah dan tidak bisa mewakili
kepentingan masyarakat pada umumnya. Selain kesadaran yang diperlukan
juga diperlukan adanya turut serta untuk mewujudkan hal itu, tidak hanya
cita-cita tapi harus diwujudkan, jangan hanya menjadi topik pembicaraan
28

semata tanpa adanya fakta yang menunjukkan bahwa hukum sudah tidak
keluar dari tujuan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Buku/Makalah :
Abu

Rokhmad, Hukum Progresif Pemikiran Satjipto Rahardjo dalam


Perspektif Teori Maslahah, Pustaka Rizki Putra, Semarang, 2012.

Bambang Sungguno, Metodologi Penelitian Hukum, PT Raja Grafindo Persada,


Jakarta, 2003

Nasution S, Metode Penelitian Kualitatif, Tarsito, Bandung, 1992

29

Syamsudin, M, Konstruksi Baru Budaya Hukum Hakim Berbasis Hukum


Progresif, Kencana Prenada Media Group, Jakarta 2012.

Satjipto Rahardjo, Hukum Progresif sebagai Dasar Pembangunan Ilmu Hukum


Indonesia, dalam buku : Menggagas Hukum Progresif Indonesia, Pustaka Pelajar,
Yogyakarta, hlm.2-3.
Satjipto Rahardjo, Hukum Progresif : Hukum yang membebaskan, Jurnal Hukum
Progresif, Vol 1, No. 1/April 2005, Program Doktor Ilmu Hukum Undip
Semarang, hlm 3.

Satjipto Rahardjo, Membedah Hukum Progresif, Penerbit Buku Kompas, Jakarta,


2006.
Satjipto Raharjo, Penegakan Hukum Suatu Tinjauan Sosiologis, Genta Publishing,
Yogyakarta, 2009
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, UI Press, Jakarta 1986
Sutrisno Hadi, Metodologi Research Jilid I, Andi Offset, Yogyakarta, 2000
Rifai,

Ahmad, 2010, Penemuan Hukum oleh Hakim dalam Perspektif


Hukum Progresif, Sinar Grafika, Jakarta.

Internet :
http://hukum.kompasiana.com/2011/01/07/praktik-mafia-hukum-dan
-progresif/
http://www.lemhannas.go.id/portal/in/daftar-artikel/1715

30

hukum