Anda di halaman 1dari 13

PERCOBAAN 2

PENETAPAN SUSUT PENGERINGAN

I.

TUJUAN
Menghitung kadar senyawa yang hilang atau menguap selama
proses pemanasan.
Prinsip

II.

Metode gravimetric pemanas pada suhu 100-105 C


Besarnya senyawa yang hilang selama pemanasan dihitung

terhadap bobot awal sampel.


Pengaturan bobot dihitung hingga tercapai bobot tetap

ALAT & BAHAN


A. Alat
Oven
Cawan penguap
Timbangan digital
Desikator

B. Bahan
Simplisia daun kumis kucing

III.

PROSEDUR
Diatur oven pada suhu pengeringan yang digunakan (105oC).
dipanaskan cawan penguap pada suhu pengeringan selama 30 menit,
ditara. Ditimbang simplisia sebanyak 2 gram dalam cawan penguap
yang sudah ditara, diratakan permukaan simplisia. Dimasukkan cawan
berisi simplisia ke dalam oven, dipanaskan pada suhu pengeringan
selama 30 menit. Didinginkan cawan dalam eksikator sehingga suhu
kamar, ditimbang. Dilakukan penetapan hingga diperoleh bobot tetap.

IV.

HASIL PENGAMATAN DANPERHITUNGAN

Bobot cawan
-

Penimbangan pertama
cawan

Bobot

1
2

69,4117 gram
66, 4476 gram

Penimbangan kedua
cawan
1
2

Bobot
69,4120 gram
66, 4478 gram

Penimbangan ketiga
cawan
1
2

Bobot
69,4122 gram
66, 4483 gram

Bobot cawan + simplisia


-

Sebelum pemanasan
cawan
1
2

Bobot
71,4305 gram
68,4922 gram

Setelah pemanasan pertama


cawan

Bobot

1
2

71,2607 gram
68,3343 gram

Setelah pemanasan kedua


cawan

Bobot

1
2

71,2575 gram
68,3205 gram

Setelah pemanasan ketiga


cawan

Bobot

1
2

71,2568 gram
68,3199 gram

Perhitungan
susut pengeringan

( cawan+ simplisia sebelum pemanasan )(cawan+ simplisia setelah pemanasan)


100
bobot simplisia

susut pengeringan cawan 1

71,430571,2568
100 =8,685
2

susut pengeringan cawan 2

68,492268,3199
100 =8,615
2

V.

PEMBAHASAN
Dalam praktikum ini, dilakukan pengukuran parameter non spesifik
berupa

susut pengeringan terhadap daun

jati belanda. Dengan

menggunakan metode gravimetri, metode gravimetri sangat cocok


digunakan untuk penetapan susut pengeringan dan tidak membutuhkan
pelarut. Dengan menghitung susut pengeringan hingga tercapai bobot tetap,
diamati pengaruh cara dan lama pengeringan pada kualitas simplisia.
Dilakukan pengeringan dengan oven pada suhu 105 0C selama 30 menit.
Dilakukan pada suhu 1050C agar mendapatkan hasil pengeringan yang

maksimal. Bobot pada cawan akan semakin berkurang karena adanya


pemanasan.
Pengeringan bertujuan untuk mengurangi kadar air sehingga simplisia
tidak mudah rusak dan dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama. Air
yang masih tersisa dalam simplisia pada kadar lebih dari 10 %, dapat
menjadi media pertumbuhan mikroba. Selain itu, dengan adanya air, akan
terjadi reaksi enzimatis yang dapat menguraikan zat aktif sehingga
mengakibatkan penurunan mutu atau perusakan simplisia. Simplisia yang
dikeringkan dengan oven, lalu Simplisia yang sudah dikeringkan
kemudian dimasukan deksikator yang fungsinya untuk mendinginkan.
Simplisia yang digunakan yaitu Orthosiphonis Folium atau daun kumis
kucing.
Penentuan karakteristik dari suatu simplisia penting di lakukan
untuk mengetahui kualitas/mutu simplisia yang di gunakan. Parameter
yang biasa di tentukan antara lain penetapan kadar abu total, abu tidak
larut asam, dan abu larut air, kadar sari larut air dan sari larut etanol,
penetapan kadar air dan susut pengeringan.
Simplisia yang di gunakan sebagai bahan jamu atau fitofarmaka
harus memenuhi syarat monografi yang telah di tentukan dalam bukubuku standar seperti materia medika indonesia (MMI), farmakope herbal
indonesia (FHI), Farmakope Indonesia (FI), dan lain-lain. Kegunaannya
adalah untuk menjaga agar mutu yang di harapkan dapat terpenuhi dengan

baik. Untuk simplisia yang baru di kenalpun perlu di tetapkan karakteristik


nya.
Simplisia merupakan bahan alam yang dipergunakan sebagai obat
yang belum mengalami pengolahan apapun juga, dan kecuali dinyatakan
lain, simplisia merupakan bahan yang telah dikeringkan. Simplisia dapat
berupa simplisia nabati, simplisia hewani, dan simplisia pelikan atau
mineral. Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tanaman utuh,
bagian tanaman atau eksudat tanaman. Yang dimaksud eksudat tanaman
adalah isi sel yang secara spontan keluar dari tanaman atau dengan cara
tertentu dikeluarkan dari selnya, atau zat-zat nabati lainnya yang dengan
cara tertentu dipisahkan dari tanamannya. (Depkes RI, 1989)
Suatu

simplisia

harus

memenuhi

persyaratan

pemerian

(makroskopik dan mikroskopik), penetapan kadar abu, penetapan kadar


abu yang tidak larut asam, penetapan kadar abu yang tidak larut air,
penetapan kadar air, penetapan susut pengeringan, penetapan kadar sari
yang larut dalam air, penetapan kadar sari yang larut dalam etanol, dan
penetapan bahan organik asing (Depkes RI, 1989).
Penetapan persyaratan simplisia menurut (WHO,1998) meliputi
cara pengambilan sampel, penetapan bahan organik asing, pemeriksaan
makroskopik dan mikroskopik, penetapan bahan yang dapat terekstraksi,
penetapan kadar abu total, penetapan kadar abu yang tidak larut asam,
penetapan kadar abu yang larut air, dan penetapan kadar air.

Gravimetri adalah metode analisis kuantitatif untuk menentukan


berat dari suatu unsuratau senyawa unsur dengan cara memisahkan unsur
tersebut dengan persenyawaannya, kemudianditimbang atau proses isolasi
dan pengukuran berat suatu unsur atau senyawa tertentu. Tujuanpercobaan
gravimetri

adalah

untuk

memisahkan

analit

dari

pengganggu-

pengganggunya, untukmengetahui kadar air pada sampel. Prinsip


percobaan gravimetri yaitu berdasarkan penguranganberat sampel,
sebelum

dipanaskan

dan

sesudah

dipanaskan.Metode

gravimetri

merupakan metode standar yang memiliki akurasi yang sangat tinggi.


Namun

metode

ini

harus

dilakukan

di

laboratorium

sehingga

penerapannya membutuhkan waktu dan tenaga yang banyak untuk


mendapatkan satu nilai kadar air tanah. Kebutuhan akan metode
pengukuran tidak langsung menjadi sangat mendesak sebab banyaknya
waktu dan tanaga yang dibutuhkan metode gravimetri (Underwood,1980)
Pada dasarnya pemisahan zat dilakukan dengan cara sebagai
berikut : mula-mula cuplikan zat dilarutkan dalam pelarut yang sesuai, lalu
ditambahkan zat pengendap. Endapan yang terbentuk disaring, dicuci,
dikeringkan, dan dipijarkan dan setelah kering ditimbang. Kemudian
jumlah zat ditimbang. Kemudian jumlah zat ditentukan dihitung dari
faktor stoikiometrinya. Hasilnya disajikan sebagai bobot zat dalam
cuplikan semula (Rivai, 1995).
Salah satu cara untuk mengendalikan mutu simplisia adalah dengan
melakukan standarisasi simplisia. Standarisasi diperlukan agar dapat

diperoleh bahan baku yang seragam yang akhirnya dapat menjamin efek
farmakologi

tanaman

tersebut.

Standarisasi

simplisia

mempunyai

pengertian bahwa simplisia yang akan digunakan untuk obat sebagai


bahan baku harus memenuhi persyaratan tertentu. Parameter mutu
simplisa meliputi susut pengeringan, kadar air, kadar abu, kadar abu tidak
larut asam, kadar sari larut air, kadar sari. Dalam percobaan kali ini
dilakukan proses penetapan susut pengeringan dari suatu simplisia.
Penetapan susut pengeringan merupakan suatu metode penetapan kadar
senyawa yang mudah menguap (seperti minyak atsiri) dan air yang
terdapat didalam suatu simplisia. Adapun susut pengeringan adalah
persentase senyawa yang menghilang selama proses pemanasan (tidak
hanyamenggambarkan air yang hilang, tetapi juga senyawa menguap lain
yang hilang). Pengukuran sisa zat dilakukan dengan pengeringan pada
temperatur 105C selama 30 menit atau sampai berat konstan
dandinyatakan dalam persen (metode gravimetri) (Dirjen, 1995). Oleh
karena itu, presentase susut pengeringan akan selalu lebih besar
dibandingkan dengan kadar air karena pada susut pengeringan senyawa
yang mudah menguap juga terhitung.
Dalam percobaan kali ini, digunakan simplisia daun kumis kucing,
tanaman dari famili Lamiaceae/Labiatae. Tanaman ini merupakan salah satu
tanaman obat asli Indonesia yang mempunyai manfaat dan kegunaan yang
cukup banyak dalam menanggulangi berbagai penyakit.

Kingdom
Subkingdom
Divisi
Subdivisi
Kelas
Subkelas
Ordo
Famili
Genus
Spesies
Nama simplisia
Nama Binomial

KLASIFIKASI TUMBUHAN
: Plantae (Tumbuhan)
: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
: Spermatophyta
: Angiospermae (Menghasilkan biji)
: Dicotyledoneae (Biji berkeping 2)
: Asteridae
: Lamiales
: Lamiaceae
: Orthosiphon
: Orthosiphon aristatus (Blume) Miq.
: Orthosiphonis Folium
: Orthosiphon aristatus (Blume) Miq.

Adapun dalam praktiknya, prosedur awal yang dilakukan ialah


merajang simplisia menjadi bagian yag lebih kecil dimana tujuannya agar
proses pengeringan di dalam oven dapat maksimal. Adapun percobaan ini
dilakukan secara duplo yang tujuannya untuk perbandingan bobot akhir
simplisia. Hal itu karena dalam penetapan susut pengeringan krus atau
cawan penguap serta simplisia harus berada pada bobot konstan yang
merupakan manifestasi dari keakuratan susut pengeringan akhir yang
didapat. Dimana bobot konstan ialah dalam 2 kali penimbangan berturutturut, perbedaannya maksimal 0,5 mg, penimbangan dilakukan setelah zat
dikeringkan lagi selama 1 jam (Materia Medika Indonesia, 1989). Oleh
karena itu, sebelum simplisia dikeringkan, cawan penguap terlebih dahulu
dikeringkan selama satu jam didalam oven dengan suhu 105 o C yang
bertujuan untuk mengurangi kadar air yang terjerap di dalam cawan

sehingga

tidak

akan

mengganggu

pada

saat

perhitungan

susut

pengeringan.
Pada dasarnya pengeringan cawan menggunakan oven tersebut
harus dilakukan berulang agar diperoleh bobot tetap, namun karena
keterbatasan waktu, pengeringan cawan penguap hanya dilakukan
sekali.Setelah cawan sudah dikeringkan selama 1 jam maka terlebih
dahulu

dimasukkan

kedalam

eksikator

yang

bertujuan

untuk

mendinginkan cawan dengan adanya silica gel pada bagian bawah


eksikator.
Setelah cawan penguap dikeringkan, dimasukkan 2 gram simplisia
halus dan dilakukan pengeringan selama 30 menit di dalam oven pada
suhu 105o C yang bertujuan untuk menghilangkan bagian air dan senyawasenyawa lainnya yang mudah menguap (termasuk minyak atsiri) didalam
simplisia sehingga dapatditentukan kadar susut pengeringan dari simplisia
buah kapulaga tersebut.
Setelah dilakukan pengeringan, cawan berisi simplisia tersebut
didinginkan di dalam eksikator yang tujuannya untuk menurunkan suhu
akibat pemanasan pada suhu tinggi selama berada di oven. Adapun di
bagian dasar eksikator tersebut terdapat silica gel dimana silica gel ini
berfungsi untuk menyerap molekul air yang berasal dari uap panas dari
cawan. Pendinginan ini dilakukan karena penimbangan akhir bobot

simplisia tidak boleh dilakukan pada suhu tinggi (segala jenis bahan atau
alat tidak boleh ditimbang dalam keadaan panas).
Adapun perlakuan tersebut diatas (pengeringan, pendinginan, dan
penimbangan) dilakukan dua kali yang tujuannya untuk memperoleh bobot
konstan simplisia sehingga didapatkan hasil yang lebih akurat. Perlu
diingat kembali, agar hasil penetapan susut pengeringan tepat dan berjalan
maksimal, baik sampel maupun cawan harus berada dalam bobot konstan.
Jadi, apabila setelah dikeringkan dua kali belum diperoleh bobot konstan,
lakukan pengeringan kembali hingga diperoleh bobot konstan. Dalam
percobaan kali ini, pengeringan simplisia hanya dilakukan dua kali
mengingat waktu yang diberikan cukup singkat.
Berdasarkan penimbangan kedua cawan terhadap simplisia yang
telah dikeringkan,diperoleh bahwa presentase susut pengeringan simplisia
Ortoshiponis folium ialah 8,685 % pada cawan 1 dan 8,615 % pada cawan
2. Hal tersebut sesuai dengan teori dimana nilai susut pengeringan lebih
besar dari pada kadar air yang terkandung didalam simplisia daun kumis
kucing.

VI.

KESIMPULAN

Kadar susut pengeringan buah kapulaga yang diuji pada cawan nomor 1

sebesar 8,685 % dan cawan nomor 2 sebesar 8,615 %


Kadar susut pengeringan jauh dari persyaratan FHI sehingga tidak layak
untuk digunakan sebagai obat bahan alam.

VII.

DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI. 1989. Materia Medika Indonesia jilid V. Jakarta: Direktorat
Jenderal Pengawasan Obat Dan Makanan.
Dirjen POM.1995. Farmakope Indonesia edisi IV.Jakarta : Departemen
Kesehatan Republik Indonesia.h.dvii
Rivai Harrizul. 1995. Asas Pemeriksaan Kimia. Jakarta: Penerbit UI Press.
Sinaga, E. 2008.Amomum cardamomum Willd.Pusat Penelitian dan
Pengembangan Tumbuhan Obat.UNAS. Jakarta.
Underwood, A. L dan R. A. Day.1980. Analisa Kimia Kuantitatif. Edisi
Keempat. Jakarta: Erlangga.
Utami,DT. 2013. Tinjauan Pustaka Buah Kapulaga dalam http://ejournal.uajy.ac.id/1253/3/2BL0 1090.pdf.Diunduh pada tanggal 28
Mei 2016.

LAMPIRAN

Kontribusi tiap anggota :

Syamsul Rizal M
Muhamad Rizal S
Yoesoef A.W
Miss Sofia aboo
Wini Mulyani D
Fuji Kristianti

: Judul, Pembahasan
: Pembahasan, Cover
: Data pengamatan dan Tujuan, Prinsip
: Pembahasan, Prosedur, Kesimpulan
: Alat dan Bahan, Perhitungan
:, Daftar Pustaka, Kesimpulan