Anda di halaman 1dari 12

TEORI KOMUNIKASI INTERPERSONAL

 Antara dua individu


 Mencapai persefahaman, tidak semestinya persetujuan
 Pembentukan hubungan
 Persahabatan, percintaan, kekeluargaan dll
1. Teori Tembusan Sosial  Memahami proses membentuk dan mengekalkan
 Social Penetration Theory hubungan interpersonal.
 Altman & Taylor, 1973  Interaksi sosial - Dysfunctional function keluarga
 Proses menjalin hubungan  Aksiom pola komunikasi keluarga
 Tahap cetek – tidak intim – peribadi  Kita tidak boleh tidak berkomunikasi
 Lebih banyak maklumat, lebih bersifat peribadi  Manusia berkomunikasi secara analogik
komunikasi dan digital
 Personaliti diri seperti bawang besar  Komunikasi mengandungi isu dan
 Perkara luaran lebih kerap dan lebih awal hubungan
diceritakan  Hubungan menerangkan kandungan
 Pendedahan ada resiprokal utk perkongsian (metacommunication)
 Tembusan cepat di prgkt awal, lambat di tengah Keadaan hubungan bergantung kepada bagaimana setiap
 Proses kebalikan tembusan pihak menandakan rangkaian komunikasi mereka
2. Teori Pengurangan Ketidakpastian Semua komunikasi adalah komplementari
 Berger (1987) 4. Teori Disonan Kognitif
 Uncertainty Reduction Theory  Cognitive dissonance theory
 Orang tidak dikenali – tidak pasti  Festinger, 1957
 Mengawal kemesraan dgn menambah  Jika perlakuan tidak menyamai perkara yang kita
pengetahuan percaya, maka ketegangan mental atau disonan
 Juga dikenali sebagai teori aksiomatik kognitif akan berlaku
Tahap-tahap dalam interaksi  Jika isu penting dan perbezaan kelakuan dan
 Fasa permulaan kepercayaan besar, semakin besar
 Fasa peribadi disonan/ketegangan yang kita rasa
 Fasa exit HIPOTESIs
3. Teori Pendekatan Interaksi  Pendedahan terpilih menghalang disonan
 Paul Watzlawick (1967)  Disonan selepas membuat keputusan
 Interactional View memerlukan sokongan
 Jusifikasi minima atau tindakan akan
membawa perubahan sikap
TEORI DISONANSI KOGNITIF
Teori Leon Festinger mengenai dissonansi kognitif merupakan salah satu teori yang paling penting dalam sejarah psikologi sosial.
Selama bertahun-tahun teori ini menghasilkan sejumlah riset dan mengisi aliran kritik, interpretasi, dan extrapolasi.
Festinger mengajarkan bahwa dua elemen kognitif termasuk sikap, persepsi, pengetahuan, dan perilaku. Tahap pertama yaitu
posisi nol, atau irrelevant, kedua yaitu konsisten, atau consonant dan ketiga yaitu inkonsisten, atau dissonant. Dissonansi terjadi
ketika satu elemen tidak diharapkan mengikuti yang lain. Jika kita pikir merokok itu berbahaya bagi kes ehatan, mereka tidak
berharap kita merokok. Apa yang konsonan dan dissonan bagi seseorang tidak bisa berlaku b agi orang lain. Jadi kita harus selalu
menanyakan apa yang konsisten dan yang tidak konsisten dalam sistem psik ologis orang itu sendiri.
Dua premis yang menolak aturan teori dissonansi. Pertama yaitu bahwa dissonansi menghasilkan ketegangan atau penekan an
yang menekan individu agar berubah sehingga dissonansi terkurangi. Kedua, ketika dissonansi hadir, indivi du tidak hanya
berusaha menguranginya, melainkan juga akan menghindari situasi dimana dissonansi tambahan bisa dihasilkan.
Semakin besar dissonansi, semakin besar kebutuhan untuk menguranginya. Contoh, semakin perokok tidak konsisten dengan
pengetahuannay mengenai efek negatif merokok, semakin besar dorongan untuk berhenti merokok. Dissonansi itu sendiri
merupakan hasil dari dua variabel lain, kepentingan elemen kognitif dan sejumlah elemen yang terlibat dalam hubungan yang
dissonan. Dengan kata lain, jika kita mempunyai beberapa hal yang tidak konsisten dan jika itu penting untuk kita, kita akan
mengalami dissonansi yang lebih besar. Jika kesehatan tidak penting, pengetahuan bahwa merokok itu buruk bagi kesehatan
kemungkinan tidak mempengaruhi perilaku perokok secara aktual.
Bagaimana kita terkait dengan dissonansi kognitif ini ? Festinger mengemukakan sejumlah metode. Pertama, kita bisa
mengubah satu atau lebih elemen kognitif, perilaku atau sikap mungkin. Sebagai contoh, sebagai seorang perokok , kita bisa
berhenti merokok atau kita bisa berhenti mempercayai bahwa itu merusak kesehatan. Kedua, elemen baru mungkin
ditambahkan pada satu bagian ketegangan atau yg lain. Misalnya, kita bisa beralih mengunyah cerutu. Ketiga, kita bisa sampai
untuk melihat elemen sebagai hal yang kurang penting daripada yang mereka gunakan. Contoh, kita mungkin memutuskan
bahwa kesehatan tidaklah sepenting kondisi pikiran. Keempat, kita bisa mencari konsonan informasi seperti pembuktian
terhadap keuntungan merokok dengan membaca studi perusahaan cerutu. Kelima, kita bisa mengurangi dissonansi dengan
membuang atau misinterpretasi informasi yang terlibat. Ini dapat terjadi jika kita memutuskan bahwa meski merokok beresiko
pada kesehatan, tidaklah berbahaya sebagai weight yang akan kita capai jika kita berhenti merokok. Tidak masalah metode
mana yang akan kita pilih, itu semua akan mengurangi dissonansi dan membuat kita merasa lebih baik dalam sikap,
kepercayaan, dan tindakan.
Kebanyakan teori dan riset mengenai dissonansi kognitif disekitar situasi yang bervariasi dimana dissonansi sebenarnya
dihasilkan. Ini memasukkan situasi seperti pembuatan keputusan, persetujuan yang terpaksa, inisiatif, dukungan sosial, dan
usaha yang sungguh-sungguh.
Jumlah dissonansi sebuah pengalaman sebagai hasil keputusan bergantung pada empat variabel, pertama dan yang terpenting
yaitu keputusan. Keputusan tertentu, yaitu seperti ketinggalan sarapan, mungkin tidak dan menghasilkan sedikit dissonansi,
tetapi membeli mobil dapat menghasilkan banyak dissonansi.
Variabel kedua adalah sifat menarik alternatif yang dipilih. Hal lain yang mirip, bahwa semakin kurang atraktif alternatif pilihan,
semakin besar dissonansi. Kita kemungkinan akan menderita lebih banyak dissonansi dari membeli mobil butut daripada mobil
yang masih mulus.
Ketiga, semakin besar sifat atraktif yang diketahui dari alternatif yang dipilih, semakin terasa dissonansi. Jika kita berharap kita
dapat menabung untuk pergi ke Eropa disamping membeli mobil, kita akan menderita dissonansi.
Akhirnya, semakin tinggi tingkat similaritas atau tumpang tindih diantara alternatif, semakin kurang dissonansi. Jika kita
berdebat diantara dua mobil yang sama, membuat keputusan dengan bertujuan pada salah satu tidak akan menghasilkan
banyak dissonansi, tetapi jika kita memutuskan antara membeli mobil dan pergike Eropa, kita akan memiliki banyak dissonansi.
Situasi lain dimana disonansi cenderung berhasil yaitu paksaan kesepakatan, atau dipengaruhi untuk melakukan atau
mengatakan sesuatu yang berlawanan dengan kepercayaan atau nilai kita. Situasi ini biasanya terjadi ketika reward terlibat
untuk sepakat atau hukuman jika tidak sepakat. Teori dissonansi meramalkan bahwa semakin sedikit tekanan untuk patuh,
semakin besar dissonansi. Jika kita diminta untuk melakukan sesuatu yang kita tidak suka melakukan tetapi kita dibayar banyak,
kita tidak akan merasa banyak dissonansi seperti jika kita dibayar lebih sedikit.
Semakin sedikit justifikasi eksternal (seperti ganjaran dan hukuman), semakin banyak kita harus fokus pada inkonsistensi internal
dalam diri kita. Inilah mengapa menurut teoritisi dissonansi, tekanan sosial yang ‘lunak’ dapat begitu kuat: dapat menyebabkan
banyak dissonansi. Ini juga menjelaskan mengapa kita harus mengambil kerja yang bergaji tinggi meski kita tidak suka. Bayaran
tinggi dapat dipakai sebagai justifikasi untuk melakukannya.
Teori dissonansi juga membuat beberapa prediksi lain. Teori itu meramalkan, misalnya, bahwa semakin sulit inisiatif seseorang
terhadap kelompok, semakin besar komitmen orang itu untuk berkembang. Semakin banyak dukungan sosial yang seseorang
terima dari teman terhadap ide atau tindakan, semakin besar tekanan untuk percaya pada ide atau tindakan itu. Semakin besar
jumlah usaha yang diterapkan dalam tugas, semakin orang akan merasionalisasi nilai tugas tersebut.
------------------------------------------------------------------------------
Rokeach: Sikap, Kepercayaan, dan Nilai. Salah satu teori yang paling komprehensif mengenai sikap dan perubahannya yaitu milik
Milton Rokeach. Dia mengembangkan penjelasan yang meluas mengenai perilaku manusia berdasarkan kepercayaan, sikap dan
nilai.
Rokeach percaya bahwa setiap orang mempunyai sistem yang tersusun dengan baik atas kepercayaan, sikap dan nilai, yang
menuntun perilaku. Belief adalah ratusan atau ribuan pernyataan yang kita buat mengenai diri dan dunia. Kepercayaan dapat
bersifat umum ataupun khusus, dan itu disusun dalam sistem dalam hal sentralitas atau pentingnya terhadap ego. Pada pusat
sistem kepercayaan yang dibangun dengan baik itu, kepercayaan yang secara relatif tidak dapat berubah yang membentuk inti
sistem kepercayaan. Pada pinggiran sistem terbentang sejumlah kepercayaan yang tidak signifikan yang dapat mudah berubah.
Percaya bahwa orang tua kita bahagia dalam perkawinan kemungkinan cukup penting, karena dampaknya yaitu banyak hal lain
yang kita anggap benar. Percaya bahwa kita perlu potong rambut, di sisi lain, adalah sampingan.
Semakin penting kepercayaan, semakin resisten untuk berubah dan semakin perubahan itu berdampak terhadap keseluruhan
sistem. Dengan kata lain, jika salah satu pusat kepercayaan kita berubah, mengharap perubahan yang agak mendalam mengenai
bagaimana kita memikirkan tentang banyak hal. Inilah mengapa anak begitu terguncang ketika orang tua yang mereka
asumsikan memiliki perkawinan yang bahagia itu bercerai.
Attitude adalah kelompok kepercayaan yang disusun disekitar obyek fokal dan menyarankan pada orang untuk berperilaku
dalam cara tertentu terhadap obyek tersebut. Kita mempunyai ratusan bahkan ribuan kepercayaan dan mungkin ribuan sikap,
yang masing-masing mengandung sejmlah kepercayaan mengenai sikap obyek.
Rokeach percaya sikap merupakan dua jenis penting yang harus selalu dipandang bersamaan. Terdapat sikap terhadap obyek
dan sikap terhadap situasi. Perilaku orang dalam situasi tertentu merupakan fungsi dari kedua kombinasi ini. Jika kita tidak
berperilaku dalam situasi yang berlaku secara konsisten dengan sikap kita terhadap hal tertentu, itu kemungkinan karena sikap
kita terhadap situasi mencegahnya. Contoh untuk jenis inkonsistensi ini yaitu makan makanan yang kita tidak suka saat kita
dijamu makan sebagai tamu. Poin disini bahwa perilaku merupakan fungsi dari berbagai rangkaian sikap, dan sistem terdiri atas
banyak kepercayaan yang berkumpul dalam sentralitasnya.
Rokeach percaya bahwa konsep tersebut dalam menjelaskan perilaku, nilai orang merupakan yang paling penting.value adalah
tipe kepercayaan khusus yang penting dalam sistem dan bertindak sebagai penuntun kehidupan. Nilai ada dua macam, nilai
instrumental seperti kerja keras dan kesetiaan, merupakan garis penuntun bagi kehidupan yang menjadi dasar perilaku sehari-
hari. Nilai terminal adalah ujung tujuan kehidupan terhadap mana kita bekerja. Contoh antara lain kesehatan dan kebahagiaan.
Komponen lain dalam sistem kepercayaan-sikap-nilai yang mengasumsikan keseluruhan yang sangat penting yang konsep diri,
kepercayaan orang mengenai diri. Ini merupakan jawaban atas pertanyaan Siapa saya ?. konsep diri secara khusus penting
dalam sistem sebagai ujung tujuan keseluruhan sistem seseorang. Jadi, jika kepercayaan, sikap, dan nilai menyatakan komponen
sistem, konsep diri adalah yang menuntun tujuannya.
Rokeach pada dasarnya teoritisi konsistensi. Dia memasukkan sejumlah hipotesis signifikan mengenai sikap, kepercayaan, dan
nilai, tetapi dia menyimpulkan bahwa orang dituntun oleh kebutuhan untuk konsisten dan bahwa inkonsistensi menciptakan
tekanan untuk berubah. Rokeach memperluas penjelasannya mengenai konsistensi paling jauh dibandingkan teori lain dalam
aliran ini. Dengan meletakkan sistem keseluruhan menjadi pertimabngan, dia melihat konsistensi sebagai hal yang sangat
kompleks.
---------------------------------------------------------------------------
teori self disclosure
Disclosure dan understanding merupakan tema penting dalam teori komunikasi pada tahun ’60 dan ‘70-an. Sebagian besar
sebagai konsekuensi aliran humanistik dalam psikologi, sebuah ideologi “honest communication” muncul, dan beberapa dari
pemikiran kita tentang apa yang membuat komunikasi interpersonal itu baik dipengaruhi oleh gerakan ini. Didorong oleh karya
Carl Rogers, disebut Third Force begitu dalam psikologi menyatakan bahwa tujuan komunikasi adalah meneliti pemahaman diri
dan orang lain dan bahwa pengertian hanya dapat terjadi dengan komunikasi yang benar.
Menurut psikologi humanistik, pemahaman interpersonal terjadi melalui self-disclosure, feedback, dan sensitivitas untuk
mengenal / mengetahui orang lain. Misunderstanding dan ketidakpuasan dalam hubungan diawali oleh ketidakjujuran,
kurangnya kesamaan antara tindakan seseorang dengan perasaannya, miskin feedback, serta self disclosure yang ditahan.
Banyak riset pengenalan diri muncul dari gerakan humanistik ini. Seorang teoritisi yang menggali proses self-disclosure ini adalah
Sidney Jourard. Uraiannya bagi kemanusiaan sifatnya terbuka dan transparan. Transparansi berarti membiarkan dunia untuk
mengenal dirinya secara bebas dan pengenalan diri seseorang pada orang lain. Hubungan interpersonal yang ideal menyuruh
orang agar membiarkan orang lain mengalami mereka sepenuhnya dan membuka untuk mengalami orang lain sepenuhnya
Jourard mengembangkan gagasan ini setelah mengamati bahwa sakit mental cenderung tertutup bagi dunia. Dia menemukan
bahwa mereka menjadi sehat ketika mereka bersedia mengenalkan dirinya pada ahli terapi. Kemudian, Jourard menyamakan
kesakitan (sickness ) dengan ketertutupan dan kesehatan dengan transparansi. Jourard melihat pertumbuhan –pergerakan
orang menuju cara berperilaku yang baru- sebagai hasil langsung dari keterbukaan pada dunia. Orang yang sakit sifatnya tetap
dan stagnan; pertumbuhan orang akan sampai pada posisi hidup baru. Selanjutnya, perubahan merupakan esensi dari
pertumbuhan personal.
Personal growth melekat pada komunikasi interpersonal sebab dunia merupakan sosial yang sangat luas. Untuk menerima
perubahan seseorang itu sendiri meminta kita untuk menetapkan bahwa kita juga diterima oleh orang lain. Pertumbuhan akan
sulit jika orang-orang di sekitar kita tidak membuka untuk penerimaan kita sendiri.
Sekarang kita mengerti self-disclosure sebagai proses yang lebih kompleks daripada yang dilakukan pada tahun ’60 dan ‘70-an.
Sebagai contoh pemikiran terbaru atas subyek ini, Sandra Petronio meletakkan secara bersamaan serangkaian ide mengenai
kompleksitas self-disclosure dalam relationship. Teori ini berdasar pada risetnya sendiri dan survey pada sejumlah banyak kajian
lain dengan topik pengembangan hubungan dan disclosure. Dia menerapkan teori ini pada pasangan yang menikah khususnya,
selain juga dapat diterapkan pada bermacam-macam; hubungan.
Menurut Petronio, individu terlibat dalam hubungan secara konstan menjadi bagian dalam proses pengaturan yang membatasi
antara publik dan privat, antara perasaan dan pikiran yang mereka mau berbagi dengan sang patner dengan perasaan dan
pikiran yang tidak mau mereka bagi. Permainan diantara kebutuhan untuk berbagi dan kebutuhan untuk melindungi diri ini
sifatnya konstan dan mendorong pasangan untuk membicarakan dan mengkoordinasi batasan mereka. Kapan kita diketahui dan
kapan tidak ? dan ketika pasangan memberitahukan informasi personal, bagaimana kita merespon ?
Ketika orang memberi tahu sesuatu, dia sedang membuat permintaan pada orang lain untuk meresponnya dengan sesuai.
Demand / permintaan dan respond perlu dikoordinasi. Ketika kita memberi tahu sesuatu pada patner kita, dia dapat merespon
dalam cara yang membantu kualitas hubungan dan kebahagiaan atau dalam cara yang tidak begitu.
Selanjutnya, pengaturan batasan memerlukan pertimbangan dan pikiran. Orang membuat keputusan mengenai bagaimana dan
kapan untuk memberi tahu, dan mereka memutuskan mengenai bagaimana merespon permintaan orang lain. Bermacam-
macam strategi langsung dan tidak langsung dapat diusahakan, dan problem yang berulang bagi pasangan yaitu mengkoordinasi
jenis-jenis disclosure dan respon yang mereka gunakan. Contoh, ketika kita membuat disclosure yang langsung dan jelas, kita
biasanya menginginkan respon yang juga langsung dan jelas, dan ketika kita membuat disclosure yang samar dan implisit, kita
mungkin ingin diberi lebih banyak waktu untuk mendalami situasi, mungkin secara coba-coba, dengan patner kita.
Sejauh ini, semua teori yang dibahas menunjukkan bagaimana pentingnya informasi dalam penguatan hubungan. Kita kadang-
kadang memantau informasi yang disediakan oleh orang lain dan memberi informasi mengenai diri kita sendiri.
----------------------------------------------------------------------
teori penetrasi sosial
Salah satu proses yang paling luas dikaji atas perkembangan gubungan adalah penetrasi sosial. Secara garis besar, ini merupakan
ide bahwa hubungan menjadi labih akrab seiring waktu ketika patner memberitahukan semakin banyak informasi mengenai
mereka sendiri. Selanjutnya, social penetration merupakan proses peningkatan disclosure dan keakraban dalam hubungan.
Gerald Miller dan rekannya secara literal mengartikan komunikasi interpersonal dalam term penetrasi. Semakin bertambah yang
saling diketahui oleh masing-masing komunikator, semakin bertambah karakter interpersonal yang berperan dalam komunikasi
mereka. Semakin sedikit yang mereka ketahui tiap personnya, semakin impersonal komunikasi itu. Komunikasi interpersonal
karenanya merupakan beragam proses penetrasi sosial. Teori penetrasi sosial yang paling terkenal yaitu milik Altman dan Taylor.
Original Social Penetration Theory. Irwin Altman dan Dalmas Taylor mengenalkan istilah penetrasi sosial. Manurut teori mereka,
karena hubungan itu berkembang, komunikasi bergerak dari level yang relatif sedikit dalam, tidak akrab, menuju level yang lebih
dalam, lebih personal. Personalitas komunikator dapat diperlihatkan melalui lingkungan dengan lapisan tiga dimensi; memiliki
jarak (breadth) dan kedalaman (depth). Breadth merupakan susunan yang berurutan atau keragaman topik yang merasuk
kedalam kehidupan individu. Depth adalah jumlah informasi yang tersedia pada tiap topik. Pada jarak terjauh akan merupakan
level komunikasi yang dapat dilihat, seperti berpakaian dan bicara. Didalamnya merupakan detil privat yang meningkat
mengenai kehidupan, perasaan, serta pikiran partisipan. Karena hubungan itu berkembang, patner berbagi lebih banyak atas
diri, menyediakan breadth sebaik depth, melalui pertukaran informasi, perasaan dan aktivitas.
Komunikasi kemudian dibantu oleh pemakaian level-level. Pada saat level tertentu tercapai, dibawah kondisi yang
memungkinkan sepasang patner berbagi dalam meningkatkan breadth pada level tersebut. Contohnya, setelah kencan beberapa
saat pasangan yang menikah bisa mulai mendiskusikan tindakan berpasangan selanjutnya, dan makin bertambah informasi
mengenai langkah berpasangan selanjutnya akan diperlihatkan / diberitahu sebelum bergerak bahkan menuju level disclosure
yang lebih dalam semisal sejarah seksual.
Teori Altman dan Taylor didasarkan dalam sebagian besar dari satu ide yang paling populer dalam ilmu sosial –bahwa hubungan
akan berhasil ketika secara relatif memperoleh ganjaran ( rewarding ) dan akan berhenti ketika secara relatif mengeluarkan
biaya ( cost ). Proses ini dikenal sebagai pertukaran sosial. Menurut Altman dan Taylor, pasangan relasional bukan hanya
mengandung reward dan cost atas hubungan pada saat tertentu, tetapi juga menggunakan informasi yang mereka cari untuk
meramalkan reward dan cost di waktu mendatang.
Jika patner menilai bahwa reward secara relatif lebih besar dari cost, mereka akan beresiko lebih banyak disclosure yang
mempunyai potensi gerakan partisipan menuju level keakraban yang lebih dalam. Semakin besar reward yang diketahui relatif
terhadap cost, semakin cepat penetrasi. Altman dan Taylor menemukan bahwa penetrasi tercepat cenderung terjadi dalam
langkah awal perkembangan ketika reward cenderung malampaui cost.
Terdapat empat langkah perkembangan hubungan. Orientation mengandung komunikasi impersonal, dimana seseorang
memberitahu hanya informasi yang sangat umum mengenai dirinya sendiri. Jika tahap ini menghasilkan reward pada partisipan,
mereka akan bergerak menuju tahap berikutnya, the exploratory affective exchange , dimana perluasaan / ekspansi awal
informasi dan gerakan menuju level lebih dalam dari disclosure itu terjadi. Tahap ketiga, affective exchange memusatkan pada
perasaan evaluatif dan kritis pada level yang lebih dalam. Tahap ini tidak akan dimasuki kecuali jika patner menyadari reward
substansial yang relatif terhadap cost dalam tahap lebih awal. Akhirnya, stable exchange adalah keakraban yang sangat tinggi
dan mengijinkan patner untuk meramalkan setiap tindakan pihak lain dan menanggapinya dengan sangat baik.
Altman dan Taylor menunjukkan bahwa perkembangan hubungan bukan hanya melibatkan peningkatan penetrasi sosial. Juga
terlalu sering melibatkan keakraban yang menurun, ketidakteraturan, dan tanpa solusi. Altman dan Taylor menyarankan bahwa
reward terkurangi dan cost meningkat pada level komunikasi yang lebih akrab, proses penetrasi sosial akan terbentuk dan
hubungan akan mulai mengambil bagian.
Modifikasi terhadap penetrasi sosial. Teori penetrasi sosial orisinal penting dalam memusatkan perhatian kita pada
pengembangan hubungan sebagai proses komunikasi. Terdapat banyak kebenaran terhadap ide bahwa hubungan menjadi lebih
dekat jika informasi dibagi, dan bahwa perkembangan secara parsial merupakan proses peningkatan keakraban. Pada saat yang
sama, teori original tersebut dianggap terlalu sederhana.
Kebanyakan siswa perkembangan hubungan sekarang ini percaya bahwa penetrasi sosial sifatnya berputar, sebagai proses
dialektis. Disebut berputar ( cyclical ) sebab berlangsung dalam bentuk siklus timbal-balik, serta disebut bersifat dialektis karena
melibatkan pengaturan pertentangan / ketegangan antara lawan-lawannya.
Sebuah dialectic adalah ketegangan antara dua atau lebih elemen yang berlawanan dalam sistem yang pada akhirnya kadang-
kadang meminta resolusi. Analisa dialektis melihat cara sistem berkembang atau berubah, bagaimana ia bergerak, dalam
merespon ketegangan. Dan ia melihat strategi tindakan yang dipakai sistem untuk menyelesaikan kontradiksi.
Altman dan rekannya sekarang menyatakan bahwa dialektik ini biasanya diatur dalam sebuah istilah panjang hubungan oleh
semacam siklus yang dapat diramalkan. Dengan kata lain, karena hubungan itu berkembang, keterbukaan dan ketertutupan
yang berputar pada pasangan nikah mempunyai pengaturan tertentu atau ritme yang dapat diramalkan. Pada saat yang sama,
dalam beberapa hubungan yang dikembangkan, perputaran yang terjadi lebih besar dibadingkan hubungan yang kurang
dikembangkan. Hal ini sebab, konsisten dengan perkiraan dasar teori penetrasi sosial, hubungan yang dikembangkan rata-rata
lebih diterima.
Untuk mengetes ide ini, analisa Arthur VanLear menunjukkan bahwa dalam percakapan pasangan nikah siklus keterbukaan
terjadi dan beberapa sinkronisasi juga terjadi. Sebagai perbandingan, juga diamati kelompok pelajar yang ternyata juga
mencerminkan hal yang sama. Kedua kajian tersebut menunjukkan bahwa siklus tersebut terjadi, bahwa sifatnya kompleks,
bahwa patner mengenal siklus mereka, dan bahwa penggabungan dan sinkronisasi seringkali terjadi. Penting untuk dicatat,
ternyata bahwa jumlah sinkroni tidak sama pada tiap pasangan, yang berarti bahwa terdapat perbedaan antar pasangan dalam
kemampuan mereka untuk mengkoordinasi siklus self-disclosure.
-----------------------------------------------------------------------------
Social Identity Theory
cognitive and motivational basis of intergroup differentiation.
History and Orientation
Social Identity Theory was developed by Tajfel and Turner in 1979. The theory was originally developed to understand the
psychological basis of intergroup discrimination. Tajfel et al (1971) attempted to identify the minimal conditions that would lead
members of one group to discriminate in favor of the ingroup to which they belonged and against another outgroup.
Core Assumptions and Statements
In the Social Identity Theory, a person has not one, “personal self”, but rather several selves that correspond to widening circles
of group membership. Different social contexts may trigger an individual to think, feel and act on basis of his personal, family or
national “level of self” (Turner et al, 1987). Apart from the “level of self”, an individual has multiple “social identities”. Social
identity is the individual’s self-concept derived from perceived membership of social groups (Hogg & Vaughan, 2002). In other
words, it is an individual-based perception of what defines the “us” associated with any internalized group membership. This can
be distinguished from the notion of personal identity which refers to self-knowledge that derives from the individual’s unique
attributes.
Social Identity Theory asserts that group membership creates ingroup/ self-categorization and enhancement in ways that favor
the in-group at the expense of the out-group. The examples (minimal group studies) of Turner and Tajfel (1986) showed that the
mere act of individuals categorizing themselves as group members was sufficient to lead them to display ingroup favoritism.
After being categorized of a group membership, individuals seek to achieve positive self-esteem by positively differentiating
their ingroup from a comparison outgroup on some valued dimension. This quest for positive distinctiveness means that people’s
sense of who they are is defined in terms of ‘we’ rather than ‘I’.
Tajfel and Turner (1979) identify three variables whose contribution to the emergence of ingroup favoritism is particularly
important. A) the extent to which individuals identify with an ingroup to internalize that group membership as an aspect of their
self-concept. B) the extent to which the prevailing context provides ground for comparison between groups. C) the perceived
relevance of the comparison group, which itself will be shaped by the relative and absolute status of the ingroup. Individuals are
likely to display favoritism when an ingroup is central to their self-definition and a given comparison is meaningful or the
outcome is contestable.
Favorite Methods
Experiments.
Scope and Application
Social Identity Theory has a considerable impact on social psychology. It is tested in a wide range of fields and settings and
includes prejudice, stereotyping, negotiation and language use. The theory has also implications on the way people deal with
social and organizational change.
Example
In further research this example is referred to minimal group studies. Schoolboys were assigned to groups, which were intended
as meaningless as possible. They were assigned randomly, excluding roles of interpersonal discrimination such as history of
conflict, personal animosity or interdependence. The schoolboys assigned points to anonymous members of both their own
group and the other group. Conclusions were that even the most minimal conditions were sufficient to encourage ingroup-
favoring responses. Participants picked a reward pair that awarded more points to people who were identified as ingroup
members. In other words, they displayed ingroup favoritism.

Social Identity Theory Outline

Social identity theory was developed by Henri Tajfel and John Turner in 1979. Tajfel and Turner proposed that there are three
mental processes involved in evaluating others as “us” or “them” (i.e. “ingroup” and “outgroup”. These take place in a particular
order.
The first is categorisation. We categorise objects in order to understand them and identify them. In a very similar way we
categorise people (including ourselves) in order to understand the social environment. We use social categories like black, white,
Australian, Christian, Muslim, student, and bus driver because they are useful. If we can assign people to a category then that
tells us things about those people, and as we saw with the bus driver example we couldn't function in a normal manner without
using these categories; i.e. in the context of the bus. Similarly, we find out things about ourselves by knowing what categories
we belong to. We define appropriate behaviour by reference to the norms of groups we belong to, but you can only do this if
you can tell who belongs to your group. An individual can belong to many different groups.
In the second stage, social identification, we adopt the identity of the group we have categorised ourselves as belonging to. If
for example you have categorised yourself as a student, the chances are you will adopt the identity of a student and begin to act
in the ways you believe students act (and conform to the norms of the group). There will be an emotional significance to your
identification with a group, and your self-esteem will become bound up with group membership.
The final stage is social comparison. Once we have categorised ourselves as part of a group and have identified with that group
we then tend to compare that group with other groups. If our self-esteem is to be maintained our group needs to compare
favourably with other groups. This is critical to understanding prejudice, because once two groups identify themselves as rivals
they are forced to compete in order for the members to maintain their self-esteem. Competition and hostility between groups is
thus not only a matter of competing for resources (like in Sherif’s Robbers Cave) like jobs but also the result of competing
identities.
Just to reiterate, in social identity theory the group membership is not something foreign or artificial which is attached onto the
person, it is a real, true and vital part of the person. Again, it is crucial to remember ingroups are groups you identify with, and
outgroups are ones that we don't identify with, and may discriminate against.
-------------------------------------------------------------------------------
Sensemaking
managing (life) is about making sense.
History and Orientation
Since Sensemaking has been under development since 1972, it cannot be explained in a few sentences. It is important to know
that the project has been based on three central assumptions regarding communication practice: a) That it is possible to design
and implement communication systems and practices that are responsive to human needs; b) That it is possible for humans to
enlarge their communication repertoires to pursue this vision; c) That achieving these outcomes requires the development of
communication-based methodological approaches.
Core Assumptions and Statements
Sensemaking is an approach to thinking about and implementing communication research and practice and the design of
communication-based systems and activities. It consists of a set of philosophical assumptions, substantive propositions,
methodological framings and methods.
According to Weick, sensemaking consists of seven aspects
1) Grounded in identity construction: a sensemaker is needed otherwise there won’t be any sensemaking, sense is in the eye
of the beholder. The sensemaker is singular and no individual ever acts like a single sensemaker, each individual has a lot of
identities.
2) Retrospective: After a certain time the process is reflected. This is always done afterwards. This aspect, looking afterwards
at a process, will depend on the success of the process.
3) Furthermore, retrospection makes the past clearer than the present or future; it cannot make the past transparent
(Starbuck & Milliken, 1988).
4) Enactive and sensible environments. In organizational life people often produce part of the environment they face (Pondy &
Mitroff, 1979). Action is crucial for sensemaking; we can’t command and the environment will obey. Moreover, we can’t
predict something that will happen exact, because everything is part of a larger truth. Entity and environment are factors
which influence eachother. You are neither a plaything in the environment or independent. Somewhere between is the
meaning.
5) Social: Sensemaking is a social process; human thinking and social functioning are essential aspects of another (Resnick,
Levine & Teasly, 1991). What a person does depends on others, so the direct influence is not clear. To understand
sensemaking is to pay more intention to sufficient cues for coordination such as generalized other, prototypes, stereotypes,
and roles.
6) Ongoing: Sensemaking never starts or stops, it is an ongoing process.
7) Focused on and by extracted cues: In life people are confronted with a lot of cues, too much too notice anyway. A person
will only notice a few cues, because of his own filter. Your own interest and your unconsciousness depend what cues you
focus on. As said earlier, it is also impossible to notice all the cues, because there are too many.
8) Driven by plausibility rather than accuracy: People are cognitively lazy, when they found an answer to the question, people
stop searching. No alternatives are evaluated, while people might not even know the half of it.
An example of how these seven elements are used in sensemaking: (Weick, 1995).
‘How can I know what I think until I see what I say?”
1. Identity: The recipe is a question about who I am as indicated by discovery of how and what I think.
2. Retrospect: To learn what I think, I look back over what I said earlier.
3. Enactment: I create the object to be seen and inspected when I say or do something.
4. Social: What I say and single out and conclude are determined by who socialized me and how I was socialized, as well as
by the audience I anticipate will audit the conclusions I reach.
5. Ongoing: My talking is spread across time, competes for attention with other ongoing projects, and it reflected on after
it is finished, which means my interests may already have changed.
6. Extracted cues: The “what” that I single out and embellish as the content of the thought is only a small portion of the
utterance that becomes salient because of context and personal dispositions.
7. Plausibility: I need to know enough about what I think to get on with my projects, but no more, which means sufficiency
and plausibility, take precedence over accuracy.
Source: Example from W Weick, K. E. (1995). Sensemaking in organizations. Thousand Oaks, CA: Sage. P. 61-62.
Sensemaking in organizations
In dealing with organizational issues, sensemaking requires us to look for explanations and answers in terms of how people see
things rather than rather than structures or systems. Sensemaking suggests that organizational issues - 'strategies',
'breakdowns', 'change', 'goals', 'plans', 'tasks', 'teams', and so on are not things that one can find out in the world or that exist in
the organization. Rather, their source is people's way of thinking.
Conceptual Model
Not applicable.
Favorite Methods
Interviews, critical incident, discourse analysis.
Scope and Application
Sense making can be used to study information seeking and use in the workplace (Cheuk, 2002). . It can also be used for
understanding deaf culture (Linderman, 1997) or to explore reflective thinking in nursing practice (Teekman, 1997). Rajendram
(1997) used sense making in media education classrooms with students. Dervin (1997) tried to use sense making for difficult
subjects such as racism, sexism and able-bodyism.
Sense Making Theory
Brenda Dervin mengembangkan sebuah teori yang diberinama Teori Sense-Making (selanjutnya TSM) untuk membantu peneliti
bidang informasi memahami fenomena kebutuhan dan pencarian informasi. Agar dapat memahami dan menggunakan TSM, kita
perlu memahami aspek ontologi dan epistemologi yang mendasarinya. Secara sederhana, “ontologi” adalah unsur “apa”
(hakikat fenomena) sedangkan “epistemologi” adalah unsur “bagaimana memahami” unsur apa itu. Artinya, setiap teori selalu
menegaskan apa yang patut diteliti dan bagaimana menelitinya.
Secara umum, TSM menganjurkan agar penelitian bidang informasi memfokuskan perhatian pada bagaimana seseorang “make
sense” (memaknai, memahami, mengenali, mengerti) dunia sekelilingnya melalui persentuhan dengan berbagai institusi, media,
pesan, dan situasi. Landasan TSM adalah paham fenomenologi (phenomenology), yakni paham yang percaya bahwa manusia
secara aktif membentuk dunia sekeliling mereka dengan melakukan observasi dan pemaknaan terhadap segala yang terjadi.
Dengan kata lain, “dunia sekeliling” terdiri dari “dunia buatan” yang dibentuk di pikiran manusia melalui persepsi, pandangan,
dan pemaknaan. Dunia sekeliling bukanlah semata-mata “dunia fisik”. Justru unsur terpenting dalam kehidupan manusia adalah
“dunia buatan” itu. Dalam bahasa sehari-hari, dunia buatan ini seringkali disebut sebagai “realita kehidupan”.
Jika kita ingin memakai TSM untuk penelitian, maka titik tolaknya harus dari sisi pandang seseorang tentang dunia sekelilingnya:
bagaimana seseorang memandang (persepsi, horison) kehidupannya sendiri. Jika kita ingin memakai TSM untuk penelitian
bidang perpustakaan dan informasi, maka titik tolaknya harus dari bagaimana orang membentuk persepsinya tentang
perpustakaan dan informasi.       
Lebih jauh lagi, TSM didasarkan pada asumsi bahwa dunia sekeliling manusia atau realita  selalu mengandung dua hal yang selalu
bertentangan dan saling meniadakan, yaitu:  keteraturan dan ketidakteraturan. Akibatnya, setiap orang dalam hidupnya selalu
berhadapan dengan situasi problematik (problematic situation) dan kesenjangan (gaps). Akibatnya selanjutnya, manusia selalu
berhadapan dengan “dunia yang tidak lengkap”. Itu sebabnya, dalam TSM manusia dianggap sebagai mahluk yang terus-
menerus berupaya mengatasi problematika dan kesenjangan, agar ia dapat memahami realita walau cuma sejenak. Termasuk
dalam problematika dan kesenjangan ini adalah problematika dan kesenjangan informasi. Manusia selalu menghadapi kedua hal
ini dengan berupaya mencari dan melengkapi informasi di kepalanya. Inilah inti dari kegiatan mencari dan menggunakan
informasi.
TSM dilengkapi sebuah model segitiga yang menggambarkan bagaimana manusia bergerak di antara tiga titik, yaitu SITUASI (di
puncak segitiga), PENGGUNAAN (di dasar kiri segitiga), dan KESENJANGAN (di dasar kanan segitiga). Dengan model ini, TSM
berasumsi bahwa setiap manusia selalu bergerak dalam pengertian ruang maupun waktu di antara ketiga titik tersebut, agar
dunia sekeliling atau realita menjadi bermakna. Setiap saat manusia selalu berupaya mengatasi kesenjangan informasi agar
realita menjadi lebih terstruktur dan teratur.
Kalau kita ingin menggunakan TSM untuk penelitian di bidang perpustakaan dan informasi, maka hal pertama yang harus
dilakukan adalah menemukan petunjuk keberadaan ketiga titik itu. Misalnya, kalau kita ingin meneliti mahasiswa dalam konteks
perpustakaan perguruan tinggi, maka kita harus memastikan bahwa mahasiswa itu memiliki gambaran (persepsi) tentang
SITUASI (situasi perpustakaan, situasi kuliah), PENGGUNAAN (menggunakan katalog, membaca buku), dan KESENJANGAN (apa
yang dianggap kurang dari dirinya dan dunia sekelilingnya). Setelah itu, kita harus dapat “melihat” (dari kacamata si mahasiswa,
tentunya) bagaimana dia “bergerak” (bagaimana dia memahami, mengatasi, melakukan tindakan) di antara ketiga titik itu. Inilah
inti penelitian bidang perpustakaan dan informasi jika memakai TSM.
Hal mendasar yang membedakan TSM dari teori pencarian dan penggunaan informasi lainnya adalah pada asumsi bahwa 
semua fenomena dalam sebuah sistem informasi adalah fenomena persepsi manusia. Artinya, “informasi” di sini tidak diartikan
sebagai bentuk-bentuk kebendaan, melainkan semata-mata gambaran atau bayangan atau pikiran manusia. Semua hal yang
diteliti dengan menggunakan TSM harus dianggap sebagai bagian dari “make sense” (upaya memahami) dunia sekeliling. Sistem
informasi bukanlah sistem benda, melainkan sistem pemaknaan manusia atau bahkan sistem kepercayaan manusia.
Sistem informasi itu ada karena manusia memaknai dan percaya bahwa sistem itu ada.
---------------------------------------------------------------------------------
Self Disclosure Theory
1. Sejarah
Teori ini dikemukakan oleh Sydney Marshall Jourad yang lahir 21 January 1926, di Mt. dennis, Toronto Canada. Dia mendapat
gelar M.A thn 1948, di universitas di Toronto, dan kemudian melanjutkan studi di universitas Buffalo, mendapat gelar Ph.D di thn
1953. Dia pernah menjabat sebagai President of the Assosiation for Humanistic Psychology (1958-1963). Beliua meninggal pada
tahun 1974.
2. Asumsi Dasar
Self disclosure theory adalah proses sharing/berbagi informasi dengan orang lain. Informasinya menyangkut pengalaman
pribadi, perasaan, rencana masa depan, impian, dll. Dalam melakukan proses self-disclosure seseorang haruslah memahami
waktu, tempat, dan tingkat keakraban. Kunci dari suksesnya self-disclosure adalah kepercayaan.
• Self-disclosure selalu merupakan tindakan interpersonal.
• Merupakan sebuah proses berbagi informasi dengan orang lain, informasinya menyangkut masalah pribadi.
• Bergantung pada kepercayaan.
• Self-disclosure sangat esensial dalam proses terapi kelompok

3. Pembahasan
Self disclosure atau penyingkapan diri merupakan sebuah proses membeberkan informasi tentang diri sendiri kepada orang lain.
Penyingkapan diri merupakan suatu usaha untuk membiarkan keontentikan memasuki hubungan sosial kita, dan hal ini
berkaitan dengan kesehatan mental dan pengembangan konsep diri.
Salah satu model inovatif untuk memahami tingkat-tingkat kesadaran dan penyingkapan diri dalam komunikasi adalah Jendela
Johari (Johari Window). “Johari” berasal dari nama depan dua orang psikolog yang mengembangkan konsep ini, Joseph Luft dan
Harry Ingham. Model ini menawarkan suatu cara melihat kesalingbergantungan hubungan interpersona dengan hubungan
antarpersona. Model ini menggambarkan seseorang kedalam bentuk suatu jendela yang mempunyai empat kaca.
Dalam hal penyingkapan diri ini, hal yang paling mendasar adalah kepercayaan. Biasanya seseorang akan mulai terbuka pada
orang yang sudah lama dikenalnya. Selain itu menyangkut kepercayaan beberapa ahli psikologi percaya bahwa perasaan percaya
terhadap orang lain yang mendasar pada seseorang ditentukan oleh pengalaman selama tahun-tahun pertama hidupnya. Bila
seseorang telah menyingkapkan sesuatu tentang dirinya pada orang lain, ia cenderung memunculkan tingkat keterbukaan
balasan pada orang yang kedua.
Berikut ini adalah kelebihan dan kekurangan teori self disclosure: Kelebihannya, dari penyingkapan diri kita bisa mendengarkan
pengalaman orang lain yang nantinya bisa menjadi pelajaran bagi diri kita, selain itu dengan self disclosure kita juga bisa
mengetahui seperti apa diri kita dalam pandangan orang lain, dengan hal itu kita bisa melakukan introspeksi diri dalam
berhubungan.
Kekurangannya, tidak semua orang dapat menanggapi apa yang kita sampaikan bahkan sering terjadi salah paham sehingga
malah menimbulkan masalah baru. Ketika seseorang telah mengetahui diri kita, bisa saja orang lain ini memanfatkan apa yang
telah dia ketahui mengenai diri kita.
4. Aplikasi
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering melihat berbagai macam prilaku individu ketika sedang berinteraksi dengan
lingkungannya. Di dunia kampus contohnya banyak karakter indivudu yang menjalani kehidupan kampus. Masing-masing dari
mereka bila diperhatikan mempunyai keunikan masing-masing. Dalam suatu kasus misalnya, ada mahasiswa lebih memilih
seharian menjalani berbagai macam kegiatan kampus namun pada saat yang bersamaan ada mahasiswa lain yang cenderung
menghabiskan waktu berkumpul dengan orang lain.
Hal ini tentunya berkaitan dengan karakter seseorang yang menentukan seperti apa pergaulan dan bentuk interaksinya dengan
orang lain. Perkembangan pribadi atau karakter seorang manusia ditentukan oleh interaksi yang berkesinambungan antar
hereditas dan lingkungan. Ada beberapa faktor yang menentukan kepribadian seseorang, salah satu faktor terpenting adalah
interaksi dengan lingkungannya atau yang sering kita sebut interaksi sosial.
Penyingkapan diri merupakan prilaku yang disengaja, proses ini tidak hanya merupakan bagian integral dari komunikasi dua
orang. Penyingkapan diri lebih sering muncul dalam konteks hubungan dua-orang daripada dalam konteksjenis komunikasi
lainnya. Namun penyingkapan diri tidak Cuma berlaku dalam konteks hubungan antara dua orang, tetapi dalam membina
komunikasi kelompok. Bahkan dalam konteks komunikasi kelompok pembahasan akan lebih meluas. Penyingkapan diri ini akan
membuat kohesivitas dalam komunikasi semakin erat.
Ada beberapa jenis karakter dalam diri seseorang bila dilihat dari komunikasi kelompok, beberapa diantaranya yaitu:
• Monopolist
Monopolist adalah orang yang mempunyai dorongan untuk selalu berceloteh tanpa henti. orang seperti ini gelisah jika tidak
bicara. Jika orang lain mendapat giliran bicara, dia selalu menyela dengan berbagai teknik, dengan menyela secara tidak sopan,
memanfaatkan saat pembicara itu sedang mengambil nafas, dengan merespon pada setiap pernyataan dalam kelompok, dengan
terus-menerus menyebutkan persamaan antara masalah pembicara dan dirinya, dengan berulang-ulang mengatakan, “saya juga
seperti itu”. Pendekatan yang paling efektif pada orang seperti ini adalah yang bermata dua: pertimbangkan kedua belah pihak
pasien yang memonopoli dan kelompok yang termonopoli. Dari sudut pandang kelompok, ingat prinsip bahwa tidak ada pasien
monopolistik yang boleh eksis dalam kevakuman, bahwa pasien selalu berada dalam ekuilibrium dinamis dengan kelompok yang
membolehkan atau mendorong perilaku seperti ini.
Penyebab perilaku monopolistik bervariasi pada setiap orang. Ada individu yang berbicara demi mengontrol orang lain, banyak
yang begitu takut dipengaruhi dan diserang oleh orang lain sehingga mereka mempertahankan setiap pernyataannya, yang
lainnya menghargai gagasan dan pengamatannya sendiri secara berlebihan sehingga mereka tidak dapat menunda untuk
mengekspresikan semua pemikirannya sesegera mungkin. Jauh lebih efektif jika karakter orang yang seperti ini didekati dengan
cara berkonsentrasi pada menifestasi diri monopolist dalam kelompok daripada respon kelompok terhadap perilakunya. Secara
halus tetapi berulang-ulang karakter seperti ini harus dikonfrontasi dengan paradox bahwa betapa pun besar keinginannya
untuk diterima dan dihargai orang lain, perilakunya itu hanya akan menghasilkan kejengkelan, penolakan, dan frustrasi.
• Schizoid
Karakter seperti ini emosinya tersumbat, terisolasi, menjauh. Dia merasa bahwa ada sesuatu yang hilang. Dia tidak dapat
merasa, tidak dapat tertawa, tidak dapat bermain, tidak dapat menangis. Dia adalah penonton bagi dirinya sendiri. Dia tidak
merasakan tubuhnya sendiri, tidak mengalami pengalamanya sendiri. Biasanya respon dari orang lain maupun anggota-anggota
kelompoknya khas bergerak dari rasa ingin tahu dan keheranan ke rasa tidak percaya, kekhawatiran, jengkel, dan frustrasi.
• Pendiam (Silent Patient)
Orang yang pendiam dapat tertolong melalui pengamatan langsung untuk mengidentifikasi orang lain, yang aktif, yang
mempunyai masalah yang serupa dengan dirinya. Berbagai kasus menunjukkan bahwa perilaku orang seperti ini di luar
kelompok akan berubah meskipun di dalam kelompok tidak menunjukkan perubahan.
Seseorang dapat menjadi pendiam karena berbagai alasan. Ada yang merasa sangat takut untuk membuka diri, setiap
ucapannya dikhawatirkan akan mengarah pada self-disclosure lebih jauh. Ada pula yang merasa begitu takut menjadi agresif
sehingga setiap perkataanya dapat menimbulkan resiko yang tak mampu ditanggungnya. Orang lain menginginkan kesempurnan
sehingga takut berbuat salah jika berbicara. Ada pula yang menjaga jarak dari orang lain dan menunjukkan superioritasnya
dengan berdiam diri. Orang seperti ini merasa sangat terancam dengan kehadiran orang tertentu dan hanya akan berbicara bila
orang itu tidak ada. Beberapa terlalu takut menunjukkan kelemahanya dan berdiam diri agar tidak menjadi marah atau
menangis. Ada pula yang berdiam diri sewaktu-waktu untuk menghukum orang lain atau untuk memaksa orang lain ataupun
kelompok memperhatikannya.
Poin yang penting adalah bahwa diam itu tidak pernah berarti sekedar diam melainkan merupakan suatu perilaku, dan seperti
perilaku lainnya, diam juga memiliki makna, baik dalam kerangka here-and-now maupun sebagai sampel perwujudan caranya
berhubungan dengan dunia interpersonalnya.
• Orang yang membosankan (The Boring Patient)
Orang yang memiliki karakter yang membosankan mengeluh bahwa mereka tidak pernah mempunyai sesuatu yang dapat
diceritakan kepada orang lain, bahwa mereka sering ditinggalkan berdiri seorang diri dalam pesta-pesta, bahwa tidak ada lawan
jenis yang mau pergi dengan mereka lebih dari satu kali, bahwa orang lain memanfaatkan mereka hanya untuk sex, bahwa
mereka pemalu, kikuk dalam pergaulan, hampa, atau hambar. Dalam mikrokosme sosial kelompok, mereka juga menciptakan
situasi seperti ini dan membuat bosan anggota-anggota lain.
Kebosanan merupakan pengalaman yang sangat individual. Tidak semua orang bosan dengan situasi yang sama, dan sulit untuk
membuat generalisasi. Akan tetapi, pada umumnya, orang yang membosankan dalam kelompok adalah orang yang sangat
pemalu yang tidak memiliki spontanitas, tidak pernah mengambil resiko. Ucapan orang yang membosankan selalu “aman” dan
selalu dapat diprediksi.
Dinamika penyebab sifat membosankan itu sangat bervariasi dari satu individu ke individu lain. Banyak yang berada pada posisi
yang sangat berketergantungan sedemikian rupa sehingga sangat takut mengalami penolakan atau ditinggalkan sehingga
mereka menjauhkan diri dari ucapan-ucapan agresif yang dapat menimbulkan pembalasan.
• Penolak Pertolongan dan Pengeluh (The Help-Rejecting Complainer)
Penolak pertolongan dan pengeluh (the help-rejecting complainer) – yang selanjutnya disebut HRC – mempunyai pola perilaku
yang khas dalam berinteraksi baik antara individu maupun kelompok, yang secara implisit atau eksplisit selalu meminta
pertolongan dari kelompok dengan menceritakan masalah atau keluhan, dan kemudian menolak setiap pertolongan yang
ditawarkan.
HRC terus-menerus membawa masalah lingkungan atau somatik ke dalam kelompok dan sering menggambarkannya dalam
banyak cara sehingga tampak seperti tidak dapat teratasi. HRC tampaknya bangga dengan masalahnya yang tak dapat
terpecahkan. Sering kali HRC memfokuskan perhatiannya pada terapis dalam upayanya untuk mendapatkan medikasi atau advis.
HRC tampaknya tidak peduli akan reaksi kelompok terhadapnya dan tidak berkeberatan ditertawakan selama dia diperbolehkan
terus mencari pertolongan.
Dia mendasari hubungannya dengan orang lain dengan dimensi tunggal bahwa dia lebih memerlukan pertolongan daripada
mereka. HRC jarang menunjukkan sikap kompetitif kecuali jika orang lain meminta perhatian terapis atau kelompok dengan
mengemukakan masalah. Pada titik ini, HRC sering berusaha mengecilkan keluhan orang lain dengan membandingkanya dengan
masalahnya.
HRC tampaknya sangat self-centered: dia hanya berbicara tentang dirinya sendiri dan masalahnya. Akan tetapi, masalahnya itu
tidak terformulasikan secara jelas bagi kelompok maupun bagi dirinya sendiri; masalah itu dikaburkan oleh kecenderungannya
untuk membesar-besarkannya dan menyalahkan orang lain, biasanya figur otoritas yang digantunginya.
• Narsisistik (The Narcissistic Patient)
Narsisisme (mencintai diri sendiri) yang berlebihan adalah rasa cinta pada diri sendiri dengan mengesampingkan orang lain, tidak
mampu melihat fakta bahwa orang lain adalah makhluk yang berperasaan, bahwa orang lain juga memiliki ego, yang masing-
masing membangun dan mengalami dunianya sendiri yang unik
Secara singkat, narsisis adalah orang yang memandang bahwa dunia dan individu lain hanya ada untuk dirinya. Orang dengan
karakter narsisistik pada umumnya lebih heboh tetapi lebih produktif dalam terapi kelompok daripada dalam terapi individual.
Dalam terapi kelompok, pasien diharapkan berbagi waktu, memahami, berempati dan membantu pasien lain, membangun
hubungan, memperhatikan perasaan orang lain, menerima umpan balik yang mungkin kritis.
Sering kali orang narsisistik merasa hidup bila sedang mendapatkan giliran, mereka menilai kebermanfaatan kelompok bagi
dirinya berdasarkan berapa menit waktu kelompok dan terapis yang didapatkannya dalam sebuah pertemuan. Mereka menjaga
kuat kekhususanya dan sering kali berkeberatan bila ada orang yang menunjukkan persamaan antara diri mereka dengan
anggota lain. Untuk alasan yang sama, mereka juga berkeberatan bila diikutsertakan dengan anggota lain dalam interpretasi
kelompok massa.
Beberapa pasien narsisistik yang mempunyai perasaan kekhususan yang mendalam merasa bahwa mereka tidak hanya patut
mendapatkan perhatian kelompok, tetapi juga bahwa perhatian tersebut seharusnya mereka dapatkan tanpa usaha.
Gangguan Kepribadian Narsisistik (Narcissistic Personality Disorder) “Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders” dari
The American Psychiatric Association (DSM-III) tahun 1980 memberikan kriteria deskriptif tentang orang yang mengalami
narcistic personality disorder sebagai berikut: memiliki perasaan self-importance yang berlebihan, suka berfantasi mencapai
keberhasilan tak terbatas, menuntut perhatian dan kekaguman yang terus-menerus, sangat peka terhadap kritikan, acuh tak
acuh, atau menjadi marah jika mengalami kekalahan, inferioritas, merasa malu atau hampa, dan mengalami sekurang-kurangnya
dua dari gangguan-gangguan interpersonal berikut ini: merasa memiliki hak istimewa, eksploitatif interpersonal, berganti-ganti
antara overidealisasi dan devaluasi, dan tidak memiliki empati.
Otto Kernberg menambahkan bahwa individu ini mempunyai kehidupan emosional yang dangkal, memperoleh sedikit saja
kesenangan hidup; ingin selalu diberi tetapi tidak menghargai pemberian yang diterimanya.
• Pasien Ambang Batas (The Borderline Patient)
DSM-III mengemukakan bahwa lima dari delapan kriteria berikut ini harus ada pada individu yang didiagnosis sebagai mengalami
borderline personality disorder:
1. Dorongan untuk merusak diri atau tidak dapat diprediksi. (misalnya penyalahgunaan narkoba, mengutil, makan berlebihan,
melukai diri sendiri);
2. Hubungan interpersonal yang tidak stabil dan ekstrim (misalnya idealisasi, devaluasi, manipulasi, sikap yang sangat berubah-
ubah);
3. Marah yang tidak sepatutnya atau tidak dapat mengontrol marah;
4. Gangguan identitas yang dimanifestasikan dengan ketidakpastian mengenai hal-hal seperti citra diri, identitas gender nilai,
pilihan karir, loyalitas;
5. Instabilitas suasana hati (berubah-ubah secara radikal dari suasana hati normal ke depresi, kekesalan atau kecemasan yang
biasanya berlangsung selama beberapa jam dan hanya beberapa hari);
6.Tidak mau dibiarkan seorang diri;
7. Melakukan tindakan-tindakan merusak fisik diri sendiri (isyarat bunuh diri, kecelakaan yang berulang-ulang, atau berkelahi);
8. Perasaan hampa atau bosan yang kronis.
Menyadari bahwa karakter manusia yang begitu beragam, kita bisa lebih mudah melakukan penyingkapkan diri. Namun faktor
karakter manusia saja tidaklah cukup, contohnya saja, dalam interaksi sosial yang dilakukkan setiap individu seseorang tentunya
akan mempunyai hubungan yang lebih dekat dengan orang-orang tertentu dibandingkan dengan orang lainnya. Melihat
hubungan antara dua orang manusia, merupakan suatu hal yang menarik. Dari hubungan ini terlihat bagaimana seseorang
membuka sisi kehidupannya kepada orang lain. Dalam membina hubungan ini tentunya seseorang akan mulai membuka dirinya
ketika dia telah merasa percaya dengan orang tersebut. Beberapa ahli psikologi percaya bahwa perasaan percaya terhadap
orang lain yang mendasar pada seseorang ditentukan oleh pengalaman selama tahun-tahun pertama hidupnya. (Bowlby, 1973;
Erikson, 1963,1976).
5. Hubungan dengan Teori Lain
Self disclosure merupakan salah satu teori komunikasi interpersonal yang membahas mengenai hubungan antar dua orang dalm
berinteraksi. Banyak teori lain yang juga berlatar belakang masalah yang sama. Berikut adalah teori yang berhubungan dengan
teori self disclosure:
Teori Interaksional
Pada teori ini menganggap bahwa struktur sosial merupakan produk dari interaksi. Interaksionalisme lebih menerangkan
perkembangan diri melalui proses “penunjukan diri” dimana individu “dapat bergerak keluar” dari diri dan melibatkan dirinya
dalam introspeksi dari sudut pandang dengan orang lain. Individu dapat melibatkan dirinya dalam pengambilan peran dan
mendefinisikan diri maupun orang lain dari sudut pandang orang lain. Fenomena pengambilan peran inilah yang memungkinkan
adanya pengembangan diri semata-mata sebagai proses sosial.
Dari pemaparan teori interaksional teori ini mempunyai hubungan dalam peran individu dalam sebuah interaksi. Pada teori self
disclosure dan interaksional ini interaksi yang dilakukan oleh individu bergantung pada kemampuan individu dalam membina
hubungan denga orang lain.
Speech Codes Theory (Etnografi Komunikasi)
Merupakan teori yang menggunakan metode pada pola komunikasi dalam sebuah kelompok. Hal ini erat kaitan dengan teori self
disclosure yang dapat digunakan dalam menentukan baik tidaknya komunikasi yang terjadi dalam suatu kelompok atau
organisasi.
Interaction Adatation Theory
Teori ini merupakan teori humanistik yang mengarah pada psikologi sosial sehingga dikatagorikan teori komunikasi interpersonal
dengan lebih menekankan pada sisi komunikasi nonverbal. Teori ini berasumsi bahwa komunikator dan komunikan mempunyai
berbagai faktor yang mengatur prilaku komunikasinya.
Hal ini mempunyai hubungan dengan self disclosure karena kedua teori ini memandang bahwa keberhasilan komunikasi
bergantung pada faktor yang ada pada komunikator dan komunikan.
---------------------------------------------------------------------------
ANALISIS TRANSAKSIONAL (ERIC BERNE)
           Teori analisis transaksional merupakan karya besar Eric Berne (1964), yang ditulisnya dalam buku Games People Play.
Berne adalah seorang ahli ilmu jiwa terkenal dari kelompok Humanisme. Teori analisis transaksional merupakan teori terapi yang
sangat populer dan digunakan dalam konsultasi pada hampir semua bidang ilmu-ilmu perilaku. Teori analisis transaksional telah
menjadi salah satu teori komunikasi antarpribadi yang mendasar.
Kata transaksi selalu mengacu pada proses pertukaran dalam suatu hubungan. Dalam komunikasi antarpribadi pun
dikenal transaksi. Yang dipertukarkan adalah pesan-pesan baik verbal maupun nonverbal. Analisis transaksional sebenarnya ber -
tujuan untuk mengkaji secara mendalam proses transaksi (siapa-siapa yang terlibat di dalamnya dan pesan apa yang
dipertukarkan).
Dalam diri setiap manusia, seperti dikutip Collins (1983), memiliki tiga status ego. Sikap dasar ego yang mengacu pada
sikap orangtua (Parent= P. exteropsychic); sikap orang dewasa (Adult=A. neopsychic); dan ego anak (Child = C, arheopsychic).
Ketiga sikap tersebut dimiliki setiap orang (baik dewasa, anak-anak, maupun orangtua).
           Sikap orangtua yang diwakili dalam perilaku dapat ter1ihat dan terdengar dari tindakan maupun tutur kata ataupun
ucapan-ucapannya. Seperti tindakan menasihati orang lain, memberikan hiburan, menguatkan perasaan, memberikan
pertimbangan, membantu, melindungi, mendorong untuk berbuat baik adalah sikap yang nurturing parent (NP). Sebaliknya ada
pula sikap orang tua yang suka menghardik, membentuk, menghukum, berprasangka, melarang, semuanya disebut dengan sikap
yang critical parent (CP).
Setiap orang juga menurut Berne memiliki sikap orang dewasa. Sikap orang dewasa umumnya pragmatis dan realitas.
Mengambil kesimpulan, keputusan berdasarkan fakta-fakta yang ada. Suka bertanya, mencari atau menunjukkan fakta-fakta,
bersifat rasional dan tidak emosional, bersifat objektif dan sebagainya.
Sikap lain yang dimiliki juga adalah sikap anak-anak. Dibedakan antara natural child (NC) yang ditunjukkan dalam sikap
ingin tahu, berkhayal, kreatif, memberontak. Sebaliknya yang bersifat adapted child (AC) adalah mengeluh, ngambek, suka
pamer, dan bermanja diri.
Ketiga sikap itu ibarat rekaman yang selalu diputar-putar bagai piringan hitam dan terus bernyanyi berulang-ulang di
saat dikehendaki dan dimungkinkan. Karenanya maka sering anda berkata : si Pulan sangat dewasa; si Iteung kekanak-kanakan;
atau si Ucok sok tua, mengajari/menggurui.
      Bagaimana cara mengetahui sikap ego yang dimiliki setiap orang? Berne mengajukan empat cara, yaitu:
1.     Melihat tingkah laku nonverbal maupun verbal yang digunakannya. Tingkah laku non verbal tersebut pada umumnya sama
namun dapat dibedakan kode-kode simbolnya pada setiap orang sesuai dengan budaya yang melingkupinya. Di samping
nonverbal juga melalui verbal, misalnya pilihan kata. Seringkali (umumnya) tingkah laku melalui komunikasi verbal dan
nonverbal berbarengan.
2.     Mengamati bagaimana sikap seseorang ketika bergaul dengan orang lain. Dominasi satu sikap dapat dilihat kalau Pulan
sangat menggurui orang lain maka Pulan sangat dikuasai oleh P dalam hal ini critical parent. Si Iteung suka ngambek maka
Iteung dikuasai oleh sikap anak. Si Ucok suka bertanya dan mencari fakta-fakta atau latar belakang suatu kejadian maka ia
dikuasai oieh sikap dewasa.
3.     Mengingat kembali keadaan dirinya sewaktu masih kecil; hal demikian dapat terlihat misalnya dalam ungkapan : buah
jatuh tidak jauh dari pohonnya. Cara berbicara, gerak-gerik nonverbal mengikuti cara yang dilakukan ayah dan ibunya yang
anda kenaI.
4.     Mengecek perasaan diri sendiri, perasaan setiap orang muncul pada konteks, tempat tertentu yang sangat mempengaruhi
apakah lebih banyak sikap orang tua, dewasa, ataupun anak-anak sangat menguasai mempengaruhi seorang.
 
            Berne juga mengemukakan terdapat beberapa faktor yang menghambat terlaksananya transaksi antarpribadi, atau keseim-
bangan ego sebagai sikap yang dimiliki seseorang itu. Terdapat dua hambatan utama yaitu:
1. Kontaminasi (contamination). Kontaminasi merupakan pengaruh yang kuat dari salah satu sikap atau lebih terhadap
seseorang sehingga orang itu “berkurang” keseimbangannya.
2. Eksklusif (exclusive); penguasaan salah satu sikap atau lebih terlalu lama pada diri seseorang. Misalnya sikap orang tua yang
sangat mempengaruhi seseorang dalam satu waktu yang lama sehingga orang itu terus menerus memberikan nasihat,
melarang perbuatan tertentu, mendorong dan menghardik.
 
      Berne mengajukan tiga jenis transaksi antarpribadi yaitu: transaksi komplementer, transaksi silang, dan transaksi ter -
sembunyi.
1. Transaksi komplementer; jenis transaksi ini merupakan jenis terbaik dalam komunikasi antarpribadi karena ter jadi
kesamaan makna terhadap pesan yang mereka pertukarkan, pesan yang satu dilengkapi oleh pesan yang lain meskipun
dalam jenis sikap ego yang berbeda. Transaksi komplementer terjadi antara dua sikap yang sama, sikap dewasa. Transaksi
terjadi antara dua sikap yang berbeda namun komplementer. Kedua sikap itu adalah sikap orang tua dan sikap anak-anak.
Komunikasi antarpribadi dapat dilanjutkan manakala terjadi transaksi yang bersifat komplementer karena di antara mereka
dapat memahami pesan yang sama dalam suatu makna.
2. Transaksi silang; terjadi manakala pesan yang dikirimkan komunikator  tidak mendapat respons sewajarnya dari
komunikan. Akibat dari transaksi silang adalah terputusnya komunikasi antarpribadi karena kesalahan dalam memberikan
makna pesan. Komunikator tidak menghendaki jawaban demikian, terjadi kesalahpahaman sehingga kadang-kadang orang
beralih ke tema pembicaraan lain.
3.  Transaksi tersembunyi; jika terjadi campuran beberapa sikap di antara komunikator dengan komunikan sehingga salah satu
sikap menyembunyikan sikap yang lainnya. Sikap tersembunyi ini sebenarnya yang ingin mendapatkan respons tetapi
ditanggap lain oleh si penerima. Bentuk-bentuk transaksi tersembunyi bisa terjadi jika ada 3 atau 4 sikap dasar dari mereka
yang terlibat dalam komunikasi antarpribadi namun yang diungkapkan hanya 2 sikap saja sedangkan 1 atau 2 lainnya ter-
sembunyi. Jika terjadi 3 sikap dasar sedangkan yang lainnya disembunyikan maka transaksi itu disebut transaksi
tersembunyi 1 segi (angular). Kalau yang terjadi ada 4 sikap dasar dan yang disembunyikan 2 sikap dasar disebut dengan
dupleks.
 
         Berne juga mengajukan rekomendasinya untuk posisi dasar seseorang jika berkomunikasi antarpribadi secara efektif
dengan orang lain. Ada empat posisi yaitu :
1. Saya OK, kamu OK (I’m OK., you’re OK)
2. Saya OK, kamu tidak OK (I’m OK, you’re not OK)
3. Saya tidak OK, kamu OK (I’m not OK, yo/ire OK)
4. Saya tidak OK, kamu tidak OK (I’m not OK, you’re not OK).

Eric Berne adalah seorang psikiaterkelahiran Kanada yang merupakan pencipta dari Analisis Transaksional dan juga penulis
buku Games People Play. Eric dilahirkan dengan nama Eric Lennard Bernstein di Montreal, Kanada pada Mei 1901. Eric Berne
merupakan anak pertama dari seorang fisikawan dan seorang penulis yaitu David dan Sara Gordon Bernstein. Ayah Eric
meninggal karena penyakit TBC dan Ibunya sendiri yang mengasuh dan membesarkan dia.
Awal penelitian
Namany adalah Wilder Penfield.. Penelitian yang dilakukan Penfield adalah dengan pembedahan otak terhadap pasiennya
dimana setelah dibedah bagian korteks temporal kemudian disentuh dengan arus listrik yang lemah melalui instrumen
elektroda galvanik. Yang mengejutkan adalah elektroda tersebut mampu memunculkan ingatan pasien secara terperinci
mengenai peristiwa yang dialaminya berikut perasaan yang terkait.
Di dalam konteks komunikasi, Analisis Transaksional dapat diartikan sebagai upaya untuk mengurai secara sistematis proses
pertukaran pesan yang bersifat timbal balik di antara pelaku komunikasi yang semuanya merupakan cerminan struktur
kepribadian seseorang. Analisis Transaksional dapat diartikan sebagai suatu cara untuk memahami diri sendiri dan orang lain
melalui analisis transaksi atau interaksi yang terjadi di antara individu.
Spoiler for EGO STATES
Ada banyak petunjuk yang dapat membantu untuk mengetahui rangsangan dan tanggapan bagian Orangtua, Dewasa, atau
bagian Kanak-kanak. Petunjuk tersebut meliputi bukan hanya kata-kata (verbal) yang digunakan, tetapi juga dari tinggi-
rendahnya suara, gerak-isyarat badan dan ekspresi wajah (non-verbal). Banyaknya data yang didapatkan dalam Analisis
Transaksional tergantung pada ketrampilan kita menangkap petunjuk ini.
PETUNJUK BAGIAN ORANG TUA
Non-Verbal : Alis dikerutkan, bibir terkatup rapat, goyang kepala, ‘pandangan masam’, menghentakkan kaki, jari telunjuk
menuding, berkacak pinggang, tangan dilipat di depan dada, tangan diremas-remas, lidah dibunyikan, mengeluh, dan
menepuk kepala orang lain.
Verbal : seringkali terdengar kata “jangan”, “harus”,dll. Kemudian seperti kalimat “jangan kuatir”, “jangan bergerak dari sini”,
dan lain sebagainya.
PETUNJUK BAGIAN DEWASA
Non-Verbal: pada bagian Dewasa ditandai dengan gerakan yang terus-menerus dari mata, badan, disertai kerlipan mata.
Selain itu pada bagian Dewasa orang ditandai dengan berdiri yang tegak dan selalu memperhatikan orang lain dengan
mempertahankan kontak mata dan juga jarak fisik serta berada sedekat mungkin kepada pembicara untuk dapat mendengar
dan melihat dengan baik.
Verbal : perbendaharaan kata pada bagian Dewasa adalah mengapa, apa, dimana, kapan, siapa, dan bagaimana. Contoh lain
adalah : berapa, bagaimana caranya, menurut perbandingan, saya kira, saya mengerti, dll.
PETUNJUK BAGIAN KANAK-KANAK
Non-Verbal: tanda-tandanya adalah air mata yang dikeluarkan sang anak, bibir gemetaran, merengek, rewel, marah suara
melengking, merajuk, mata berputar-putar, mengangkat bahu, mata sayu, mengolok-olok, tertawa tergelak-gelak, menggigit
jari, menekan ibu jari pada hidung, dan tertawa terkikih-kikih.
Verbal : saya ingin, saya mau, saya tidak tahu, saya tidak peduli, saya kira, lebih baik, paling baik.

Ini dia jenis2 transaksi yg ane dan agan2 biasa lakukan walaupun tanpa agan2 sadari...

COMPLEMENTARY TRANSACTIONS (TRANSAKSI SEIMBANG)


Spoiler for TRANSAKSI SEIMBANG
Transaksi komplementer atau bisa dikatakan sebagai transaksi yang saling melengkapi atau mengimbangi jika suatu perilaku
yang diperlihatkan oleh suatu ego state dapat direspons tepat dan yang diharapkan oleh ego state itu.
Spoiler for CROSSED TRANSACTIONS (TRANSAKSI SILANG)
Crossed Transactions atau disebut juga transaksi silang terjadi jika pesan yang dikirimkan oleh seseorang dengan ego state
pertama tidak direspons dengan baik oleh orang dengan ego state berikutnya. Akibatnya adalah terputusnya komunikasi
antarpribadi karena kesalahan dalam memberikan makna pesan. Ane yakin lebih sering terjadi transaksi seperti ini. Klo dlm
bahasa sehari2ny namany missed communication. Mis. Agan sudah bicara serius layakny seorang yg dewasa tapi temen agan
malah menanggapi kaya anak kecil sepert tertawa2, ngejek, dsb.
Spoiler for ULTERIOR TRANSACTIONS (TRANSAKSI TERSEMBUNYI)
Transaksi tersembunyi (Ulterior Transactions) terjadi ketika seseorang yang memberikan pesan dengan menggunakan ego
state tertentu misalnya Dewasa namun kemudian direspons dengan ego state yang lain misalnya Orangtua. Transaksi ini
biasanya menghambat kelancaran komunikasi. Agan2 mungkin pernah mengalami ini, mis. pas agan lg ngantarin pacar agan
k rumahny trus tiba2 d depan pintu ad bokap pacar agan, trus tuh bokap nanya udah jam brp ini?? (disini sang bokap ingin
agan segera pulang) agan bukanny