Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Gambaran Umum Tentang Percobaan


Perubahan waktu walaupun secara perlahan-lahan, telah merubah manusia dari
keadaan primitif menjadi manusia berbudaya. Kejadian itu antara lain terlihat pada
perubahan rancangan peralatan-peralatan yang dipakai, yaitu mulai dari batu yang
tidak berbentuk menjadi batu yang mulai berbentuk dengan meruncingkan beberapa
bagian dari batu tersebut. Perubahan pada alat sederhana ini, menunjukkan bahwa
manusia telah sejak awal kebudayaannya berusaha memperbaiki alat-alat yang
dipakainya untuk memudahkan pemakaiannya.
Usaha-usaha ini berkembang pesat dan sekarang di kenal sebagai salah satu
cabang ilmu yang disebut Ergonomi Antropometri. Ergonomi Antropometri berkenan
dengan perancangan sistem kerja yakni suatu kesatuan yang berunsurkan manusia /
peralatan, bahan dan lingkungan.
Pelaksanaan percobaan ini adalah untuk merakit (assembly) meja operator.
Perakitan (assembly) dilakukan di laboratorium.

1.2 Tujuan Percobaan


1. Menerapkan konsep Antropometri dan Biomekanika dalam perancangan
peralatan
2. Melatih praktikan untuk berfikir kreatif dan inovatif dalam merancang
peralatan.
1.3 Manfaat Percobaan
Adapun manfaat perubahan pelaksanaan percobaan ini antara lain adalah :
1. Praktikan dapat merancang meja komputer dan kursi komputer
2. Praktikan dapat memahami akan ilmu Ergonomi Antopometri dan
peralatan-peralatan yang digunakan.

34
1.4 Batasan Masalah dan Asumsi
a. Batasan Masalah
Agar pengumpulan data, analisa dan evaluasi penyelesaian, maka
dibuat batasan masalah sebagai berikut :
1. Mengabaikan cara pembuatan bahan yang digunakan.
2. pelaksanaan percobaan ini dibatasi hanya merakit meja komputer dan
kursi komputer.
b. Asumsi
1. Meja Komputer diasumsikan standar untuk ukuran panjang meja, lebar
meja dan tinggi meja.
2. Kursi Komputer diasumsikan standar untuk ukuran panjang kursi,
lebar kursi, tinggi kursi dan tinggi sandaran kursi.

35
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Ergonomi Antropometri


Ergonomi Antropometri mempunyai dua pengertian yaitu dari kata
Ergonomi dan Antropometri.
Ergonomi adalah pengetahuan tentang interaksi antara manusia dengan
pekerjaannya. Karena di dalam pekerjaannya manusia berhadapan dengan
peralatan, bahan, tempat dan manusia lainnya maka Ergonomi mengkaji
manusia dalam berinteraksi dengan unsur-unsur sistem kerja tersebut,
sedangkan Antropometri adalah mengkaji permasalahan dalam bidang dimensi
tubuh manusia karena sangat banyak persoalan yang timbul dari tidak
diperhatikannya aspek antropometri dari sistem kerja. Hal ini terjadi mulai dari
sekedar ketidaknyamanan sampai rendahnya produktivitas atau kecelakaan
kerja bahkan bencana bagi lingkungannya.
Karena Ergonomi Antropometris memerlukan informasi tentang
ukuran-ukuran tubuh manusia untuk merancang sistem kerja yang
Antropometris.. permasalahannya timbul disini karena setiap orang berbeda
ukurannya. Bisa saja dijumpai dua orang yang tepat sama tinggi tubuhnya,
tetapi tidak sama dalam dimensi lainnya, seperti tinggi pinggang, besar
genggaman atau lingkar kepala.
Jika sistem kerjanya di rancang khusus untuk seseorang seperti
perancangan tempat kerja seorang direktur berikut kursi dan mejanya, maka
persoalannya menjadi sederhana cukup dengan mendapatkan data Antropometri
sang direktur, rancangan sudah dapat dilakukan untuk mendapatkan sistem kerja
yang secara Antropometri pas betul dengan pemakainnya.
Dalam keadaan lain, dan ini yang lebih sering terjadi, diperhatikan
seperangkat data Antropometri yaitu bagi sistem-sistem kerja. Untuk pemakaian

36
umum seperti dalam rancangan kursi kerja dan alat kerja yang dipakai banyak
orang di pabrik serta fasilitas-fasilitas umum.

2.2 Antropometri
A. Sumber Variasi Data Antropometri dan Cara Pengukurannya
Manusia pada umumnya akan berbeda-beda dalam hal bentuk
dan dimensi ukuran tubuhnya. Di sini beberapa faktor yang akan
mempengaruhi ukuran tubuh manusia, sehingga sudah semestinya
seorang perancang produk harus memperhatikan faktor-faktor tersebut
yang antara lain adalah :
1. Umur
Secara umum dimensi tubuh manusia akan tumbuh dan bertambah
besar, seiring dengan bertambahnya umur, yaitu sejak awal
kelahirannya sampai dengan umur sekitar 20 tahunan. Dari suatu
penelitian dilakukan oleh A.F Roche dan G.H. Davila (1972) di USA
diperoleh kesimpulan bahwa laki-laki akan tumbuh dan berkembang
naik sampai dengan usia 21,2 tahun, sedangkan wanita 17,3 tahun,
meskipun ada sekitar 10% yang masih terus bertambah tinggi sampai
usia 23,5 tahun (laki-laki) dan 21,1 tahun (wanita). Setelah itu, tidak
ada lagi akan terjadi pertumbuhan bahkan justeru akan cenderung
berubah menjadi penurunan ataupun penyusutan yang dimulai sekitar
umur 40 tahunan.
2. Jenis kelamin
Dimensi ukuran laki-laki umumnya akan lebih besar dibandingkan
dengan wanita, terkecuali untuk beberapa bagian tubuh tertentu,
seperti pinggul, dan sebagainya.
3. Suku bangsa
Setiap suku, bangsa ataupun kelompok etnik akan memiliki
karakteristik fisik yang akan berbeda satu dengan yang lainnya

37
4. Posisi tubuh (posture)
Sikap (posture) ataupun posisi tubuh akan berpengaruh terhadap
ukuran tubuh. Oleh sebab itu, posisi tubuh standar harus diterapkan
untuk survey pengukuran. Dalam kaitan dengan posisi tubuh dikenal 2
cara pengukuran, yaitu:

• Pengukuran dimensi struktur tubuh (structure body dimension)


Disini tubuh diukur dalam berbagai posisi standar dan tidak
bergerak (tetap tegak sempurna ). Istilah lain dari pengukuran
tubuh dengan cara ini dikenal dengan static anthropometry.
Dimensi tubuh yang diukur dengan posisi tetap antara lain
meliputi berat badan, tinggi tubuh, dan posisi berdiri/duduk,
panjang lengan, dan sebagainya. Ukuran dalam hal ini diambil
dengan percentile tertentu, seperti 5-th, 50-th, dan 95-th
percentile.
• Pengukuran dimensi fungsional tubuh (fungtional body
dimensions)
Disini pengukuran dilakukan terhadap posisi tubuh pada saat
berfungsi melakukan gerakan-gerakan tertentu yang berkaitan
dengan kegiatan yang harus diselasaikan. Hal ini pokok yang
ditekankan dalam pengukuran dimensi fungsional tubuh ini
adalah mendapatkan ukuran tubuh yang nantinya akan
berkaitan era dengan gerakan-gerakan nyata yang diperlukan
tubuh untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu. Berbeda
dengan cara pengukuran pertama, structural body dimensions,
yang mengukur tubuh dalam posisi tetap/statis (fixed), maka
cara pengukuran kali ini dilakukan pada saat tubuh melakukan
gerakan-gerakan kerja atau dalam posisi yang dimanis. Cara

38
pengukuran semacam ini akan menghasilkan data dynamic
anthropometry. Antropometri dalam posisi tubuh
melaksanakan fungsinya ataupun ruang kerja.
5. Cacat tubuh
Di mana data antropometri di sini akan diperlukan untuk perancangan
produk bagi orang-orang cacat (kursi roda, kaki/tangan palsu, dan lain-
lain)
6. Tebal/tipisnya pakaian yang harus dikenakan
Di mana faktor iklim yang berbeda akan memberikan variasi yang
berbeda-beda pula dalam bentuk rancangan dan spesifikasi pakaian.
Dengan demikian dimensi tubuh orangpun akan berbeda dari satu
tempat dengan tempat yang lain.
7. Kehamilan (pregnancy)
Di mana kondisi semacam ini jelas akan mempengaruhi bentuk dan
ukuran tubuh (khusus perempuan). Hal ini tersebut jelas memerlukan
perhatian khusus terhadap produk-produk yang dirancang bagi
segmentasi seperti ini.

B. Faal Kerja
Hal ini berkenaan dengan pemakaian energi tubuh sebagai akibat
aktifitas kerja. Untuk semua kegiatannya, manusia membutuhkan
energi tubuh besarnya, energi sangat bergantungan pada ringan
beratnya pekerjaan.
Pada dasarnya energi bersumber dari makanan yang dimakan,
setelah melewati berbagai tahap metabolisme pada sistem pencernaan,
zat-zat yang mengandung energi di simpan dalam bentuk lemak dan
glikogen. Untuk keperluan-keperluan kerja industri pada umumnya,
glikogenlah yang mamainkan peran ini.
Pasal-pasal berikut ini membahas lebih jauh tentang beban kerja

39
sebagaimana yang dirasakan oleh mata, telinga dan kulit terhadap
suhu.

1. Beban Terhadap Mata


Diantara sifat-sifat mata dua diantaranya penting untuk disadari yaitu
bahwa gangguan terhadap kemampuan kerja mata bisa datang dalam
waktu tak lama setelah pekerjaan mulai dan terganggunya mata
merupakan potensi besar tidak produktifnya seluruh anggota badan
meskipun anggota-anggota itu belum terbebani secara fisik sama
sekali. Oleh sebab itu, apalagi tugas penginderaan terberat, rancangan
sitem kerja harus dengan baik mengamankan fungsi pengindraan mata.
Dalam hal ini yang penting untuk diperhatikan dalam rancangan
sistem kerja ialah : pencahayaan, jarak pandang, warna, konsentrasi
pandang dan gerakan bola mata.
2. Beban Terhadap Telinga
Bunyi – bunyian di tempat kerja adalah hal yang membebankan
telinga pekerja. Dibanyak tempat kerja bunyi dapat bersifat
“Menuntun” pekarja melaksanakan tugasnya misalnya dalam
mengetahui apakah suatu tugas sudah terposisi baik melalui bunyi
“klik” yang khas yang dikenal pekerja juga tahap-tahap pemprosesan
ada yang bisa diketahui melalui bunyi yang timbul di sekitar mesin.
3. Daya Tahan Terhadap Suhu Udara
Suhu – suhu ekstrim yaitu panas juga dingin yang berlebihan jelas
mengganggu pekerjaan bahkan kesehatan panas yang tinggi terutama
bila dihadapi di saat melakukan pekerjaan berat pada kelembaban
tinggi dan tanpa aliran udara dapat menyebabkan dehidrasi, kelelahan
yang sangat (disa pingsan) dan ketidakwajaran kerja jantung.
Sebaliknya suhu yang rendang menyebabkan tubuh menggigil
sehingga mengganggu kemampuan kerja telapak.

40
C. Biomekanika Kerja
Biomekanika berhubungan dengan aspek-aspek mekanika dari
gerakan-gerakan anggota tubuh. Dalam dunia pekerjaan yang menjadi
bidang-bidang perhatian adalah : kekuatan kerja otot, kecepatan dan
ketelitian gerak anggota-anggota badan dan daya tahan jaringan-jaringan
tubuh terhadap beban. Pengetahuan-pengetahuan tentang hal ini sangat
diperhatikan setiap perancang sistem kerja bukan saja supaya rancangan
sistem kerjanya terhindar dari pembebanan di luar batas-batas kemampuan
tubuh, tetapi juga agar tubuh pekerja terbebani secara mekanika dalam
kondisi yang optimal
1. Kekuatan Kerja Otot
Kekuatan harus di bebani dari daya tahan. Beberapa berat badan yang
dapat diangkat seseorang pada suatu saat (seperti ketika memindahkan
barang dari lantai ke sebuah rak ) menggambarkan kekuatannya
sementara berapa lama pekerjaan menyangkut itu dapat berlangsung
adalah persoalan daya tahan karena keduanya di jalankan oleh otot-
otot tubuh yang sama, aktifitas biologis yang berlangsung untuk yang
satu dan yang lainnya banyak berkaitan erat. Tetapi ada perbedaan
yang mendasar : pada kekuatan, prosesnya lebih bersifat anaerobik
yaitu sangat sedikit atau tidak memerlukan oksigen sebaliknya pada
daya tahan. Karena keduanya dijalankan oleh otot-otot tubuh yang
lainnya banyak berkaitan erat tetapi ada perbedaan yang mendasar,
pada kekuatan, prosesnya lebih bersifat maerobik yaitu sangat sedikit
atau tidak memerlukan oksigen sebaliknya pada daya tahan.

2. Kecepatan dan Ketelitian.


Kecepatan gerak bergantung pula banyak faktor diantaranya anggota

41
badan mana yang bekerja. Namun secara biomekanika dapat dilihat
dari kebebasan gerak otot yang bersangkutan. Kecepatan dapat
maksimum bila dalam melaksanakan geraknya otot bekerja sepenuh
tenaga yaitu pengerahan semua tenaga untuk bergerak kearah sasaran,
secara mekanika arah dari tenaga searah dengan jalur gerak. Ketelitian
adalah kebolehan lain yang di pentingkan dari gerakan-gerakan
anggota badan dalam bekerja.
3. Daya Tahan Jaringan Tubuh Terhadap Beban
Setiap bagian jaringan tubuh memiliki daya tahan tertentu terhadap
beban baik tekan, tarik, geser maupun putar. Jika seorang terus
menerus berdiri lalu merasa lelah, bukanlah ia kehabisan tenaga atau
mengalami fatique otot, melainkan jaringan-jaringan sekujur tubuhnya
terutama telapak kaki sudah tidak tahan terhadap beban dari tubuhnya
sendiri. Karena itu kelelehan demikian lebih tepat bila dinyatakan
dengan “Lelah” gejala ini akan lebih cepat terasa bila bebannya lebih
berat misalnya karena tubuh yang gemuk atau berbeban.
Pada umumnya”Lelah” dapat dikurangi dengan :
• Menghindarkan beban statis yaitu beban yang secara
bersinambung bekerja pada jaringan tanpa bergerak
• Menghindarkan konsentrasi beban yaitu terpusatnya beban
pada satu bagian sempit jaringan
• Menghindarkan beban yang terlalu besar, yang tak mampu
ditahan jaringan.
Diantara jaringan-jaringan tubuh yang rentan terhadap
kelelahan jenis ini yang terdapat disekitar belikat. Karena
dalam merancang kursi, bagian ini hendaknya dihindarkan dari
letak yang intesif dengan sandaran. Daerah di bawah pinggang
bagian belakang juga memiliki sifat yang serupa.

42
D. Penginderaan
Secara biologis manusia dikenal memiliki lima indra yaitu
penglihatan, pendengaran, peraba, pencium dan perasa. Lebih
dari 85 % pekerja-pekerja industri amat bergantung pada kerja
mata, lalu diikuti oleh telinga. Karenanya, kedua organ tubuh
ini amat penting diperhatikan dalam peracangan sistem kerja
agar tidak terganggu oleh beban kerja yang berujud tampakan
dan bunyi. Sekujur permukaan tubuh merupakan peraba
lingkungan disekitar tubuh. Karenanya panas dan dinginnya
udara di indera oleh kulit. Ujud-ujud fisik, selain diindera oleh
mata di indera pula oleh kulit. Keadaan lingkungan juga di
indera oleh syaraf-syaraf hidung yaitu yang berbentuk bau-
bauan meskipun hidung jarang mendapatkan “penugasan” di
dunia kerja mencium haruumnya anggur pada pabrik
minumam anggur adalah salah satu contoh dari sedikit industri
yang memanfaatkannya.
Kepedulian terhadapnya dalam perancangan sistem kerja harus
diberikan karena lingkungan yang menimbulkan bau-bauan tak
sedap amat menganggu kerja. Dalam dunia industri kerja
indera perasa yang berpusat tidak banyak diperlukan. Tangan
dan kaki adalah bagian-bagian tubuh yang sangat peka
terhadap dingin yang berlebihan. Memang terhadap dingin
tubuh dapat dilindungi dengan pakaian yang tebal tetapi
biasanya menyebabkan berkurangnya keleluasaan bergerak.

E. Psikologi Kerja
Diantara masalah-masalah kejiwaan yang banyak dijumpai

43
ditempat bekerja adalah yang berkenaan dengan kecocokan
pekerja dengan pekerjaannya. Seseorang memiliki apa yang
disebut sebagai faktor-faktor diri yaitu sifat-sifat dirinya yang
selalu “dibawanya” ketempat kerja. Ketidak cocokan diantara
dirinya dan pekerjaannya bisa menyebabkan hal-hal seperti
stress berlebihan dan frustasi yang dapat berujung pada
rendahnya produktifitas, rendahnya mutu hasil kerja dan
tingginya tingkat kecelakaan kerja, karena itu menempatkan
pekerja mesti selektif dari segi-segi fisik dan sosial
keorganisasiannya harus pula di tata mendekati keadaan diri
pekerjanya.

2.3 Prinsip-prinsip Penataan Sistem Kerja


Prinsip-prinsip penataan sistem kerja berkenaan dengan
manusia, peralatan, bahan, produk dan lingkungan tempat kerja.
1. Prinsip-prinsip Penataan Berkenaan dengan Manusia/Pekerja
a. Aspek-aspek fisik
 Energi Tubuh
 Gerakan –gerakan kerja
b. Aspek Sosio - psikologis
2. Prinsip-prinsip Penataan Berkenaan dengan Rancangan Peralatan
a. Perkakas tangan
b. Rancangan display
c. Rancangan alat-alat kendali
d. Rancangan kursi dan meja kerja

3. Prinsip-prinsip Penataan berkenaan dengan rancangan bahan /


produk

44
a. Bahan/produk hendaknya cukup ringan, sehingga mudah di
angkut atau di bongkar pasang di mesin
b. Sediakan alat-alat bantu penanganan bahan/produk
c. Beri pekerja pelindung, jika bahan/produk bersifat
menganggu atau membahayakan
d. Untuk pemeriksaan mutu, pikirkan kemudahan-
kemudahannya.
4. Prinsip-prinsip penataan berkenaan dengan rancangan lingkungan
kerja
a. Pencahayaan
b. Lingkungan bunyi
c. Suhu dan Kelembaban

2.4 Tabel Perhitungan


Pemakaian nilai-nilai percentil yang umum diaplikasikan dalam

45
perhitungan data antropometri dapat dijelaskan dalam tabel 1 , sebagai
berikut :

Tabel 1. Macam Percentil dan Cara Perhitungan dalam Distribusi Normal


Percentile Perhitungan
1-St X - 2,325 σ χ

2,5 - th X - 1,96 σ χ

5 - th X - 1,645 σ χ

10 - th X - 1,28 σ χ

50 – th X

90 - th X + 1,28 σ χ

95 - th X + 1,645 σ χ

97,5 - th X + 1,96 σ χ

99 - th X + 2,325 σ χ

BAB III
PENGUMPULAN DATA

46
III.1. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan pada pelaksanaan percobaan ini adalah :
1. Meteran
III. 2. Cara Kerja
1. Siapkan
peralatan
2. Pengumpulan
data
antropometri
dari masing-
masing
operator
Tabel 3.1 Data-data Antropometri 4 orang operator untuk meja komputer
Meja (mm)
No Dimensi tubuh A B C D X
1 Tinggi siku pada posisi duduk 260 160 130 170 180

2 Tinggi lutut 500 550 530 590 542,5

3 Jarak genggaman tangan ke 680 720 690 820 727,5


punggung
4 Jarak siku ke ujung jari 440 460 480 530 477,5

5 Jarak bentang tangan kanan 16401710 1740 1890 1745


kekiri
6 Sudut pijakan kaki 30° 35° 40° 40° 36,25

7 Lebar tangan 90 87 95 105 94,2


5
8 Panjang tangan 175 175 176 178 176

47
Sumbernya :
A. Muhammad Habibi
B. Kamaruzaman
C. Hengky Fitrayco
D. Piere Dayaka

Tabel 3.2 Data-data Antropometri 4 orang operator untuk kursi komputer


Kursi (mm)
No Dimensi tubuh A B C D X
1 Lebar bahu 440 440 480 430 448

2 Tinggi lipat lutut 445 455 450 500 463

3 Jarak lipat lutut ke pantat 460 460 440 580 485

4 Lebar panggul 320 330 360 360 343

5 Panjang lumbar 210 260 210 270 238

6 Jarak lumbar ke tulang ekor 200 180 180 160 180

7 Tinggi siku pada posisi 260 160 130 170 180


duduk
8 Panjang tangan 175 175 176 178 176

9 Jarak siku ke ujung jari 440 460 480 530 477,5

Sumbernya :
A. Muhammad Habibi
B. Kamaruzaman
C. Hengky Fitrayco
D. Piere Dayaka
BAB IV
PENGOLAHAN DATA

48
IV.1 Perancangan Alat (Meja Komputer)
Langkah-langkah yang ditempuh untuk perancangan alat ini (meja
komputer) adalah sbb:
1. Panjang meja komputer
Panjang meja berdasarkan panjangnya daerah jangkauan maksimum
standar untuk seorang operator komputer.
2. Lebar meja komputer
Lebar meja juga berdasarkan daerah jangkauan maksimum standar
untuk seorang operator komputer.
3. Tinggi meja keyboard
Tinggi meja keyboard berdasarkan keadaan standar seorang operator
komputer yang bekerja duduk sehingga rasa nyaman bekerja dapat
terpenuhi.
4. Lebar meja keyboard
Lebar meja keyboard berdasarkan keadaan standar seorang operator
komputer yang bekerja duduk sehingga rasa nyaman bekerja dapat
terpenuhi.
5. Tinggi meja komputer
Tinggi meja berdasarkan tingginya daerah jangkauan maksimum
standar untuk seorang operator komputer.

IV.1.1 Perhitungan
Tabel 5.1 Data-data Antropometri 4 orang Operator untuk meja komputer
Meja (mm)

49
No Dimensi tubuh SD X 95-th 5-th
1 Tinggi siku pada posisi duduk 31 180 - 130

2 Tinggi lutut 29 542,5 591 -

3 Jarak genggaman tangan ke 37 727,5 - 667


punggung
4 Jarak siku ke ujung jari 21 477,5 - 443

5 Jarak bentang tangan kekanan 87 1745 - 1602


Dan kekiri
6 Sudut pijakan kaki - 36,25 - -

7 Lebar tangan 5 94,25 103 -


8 Panjang tangan 8 176 - 163
Kelonggaran dinamis = 50 mm kelonggaran dinamis lebar keyboard = 40 mm
Tebal sepatu = 30 mm lebar keyboard = 165 mm
Tebal meja = 20 mm

1) 5-th = X - 1,645 ( σ χ) 3) 5-th = X - 1,645 ( σ χ)


= 180 – 50,995 = 727,5 – 1,645 (37)
= 129,005 = 727,5 – 60,865
= 130 mm = 666,635 = 667 mm

2) 95-th = X + 1,645 ( σ χ) 4) 5-th = X - 1,645 ( σ χ)


= 542,5 + 1,645 (29) = 477,5 – 1,645 (21)
= 590,205 = 477,5 – 34,545
= 591 mm = 422,955 = 433 mm

5) 5-th = X - 1,645 ( σ χ) 7) 95-th = X + 1,645 (5)

50
= 1745 – 1,645 (87) = 94,25 + 8,225
= 1745 – 143,115 = 102,475 = 103 mm
= 1601,885 = 1602 mm

8) 5-th = X - 1,645 ( σ χ)
= 176 – 1,645 (8)
= 176 – 13,16
= 162,84 = 163 mm

• Panjang meja komputer 5-th = jarak bentang tangan ke kanan dan ke kiri
= 1602 mm
• Lebar meja komputer 5-th = jarak siku ke ujung jari
= 443 mm
• Tinggi meja keyboard = tinggi lutut (95-th) +
tebal sepatu + kelonggaran dinamis +
tebal meja
= 591 + 30 + 50 + 20
= 691 mm
• Lebar meja keyboard = lebar keyboard + kelonggaran dinamis keyboard
= 165 + 40
= 205 = 210 mm
• Tinggi meja komputer = tinggi meja keyboard + lebar tangan + tebal meja
= 691 + 103 + 20
= 814 mm

IV.1.2 Gambar Meja Komputer

51
Meja komputer

Pandangan dari sisi atas

52
Pandangan dari sisi kiri

Pandangan dari sisi depan

IV.2 Perancangan Alat (Kursi Komputer)

53
Langkah-langkah yang ditempuh untuk perancangan alat ini (kursi
komputer) adalah sbb:
1. Ukuran Tinggi Kursi Komputer
Tinggi kursi berdasarkan keadaan standar seorang operator komputer yang
bekerja duduk sehingga rasa nyaman bekerja dapat terpenuhi.
2. Panjang Kursi Komputer
Panjang kursi berdasarkan jarak dari pantat ke lutut untuk seorang
operator komputer.
3. Lebar Kursi Komputer
Lebar kursi berdasarkan lebar pinggul untuk seorang operator komputer.
4. Tinggi Sandaran Kursi Komputer
Berdasarkan tinggi bahu pada posisi duduk untuk seorang operator
komputer.

IV.2.1 Perhitungan

54
Tabel 5.2 Data-data Antropometri 4 orang Operator untuk kursi komputer
Kursi (mm)
No Dimensi tubuh SD X 95-th 5-th

1 Lebar bahu 26 448 491 -


2 Tinggi lipat lutut 26 463 - 421

3 Jarak lipat lutut ke pantat 27 485 - 441


4 Lebar panggul 24 343 383 -

5 Panjang lumbar - 238 - -


6 Jarak lumbar ketulang ekor - 180 - -

7 Tinggi siku pada posisi 31 180 - 130


duduk
8 Jarak siku keujung jari 21 477,5 - 443
9 Panjang tangan 8 176 - 163

Kelonggaran :
• Tebal tempat duduk = 45 mm
• Tebal back seat = 35 mm
• Tebal sepatu = 30 mm
• Tebal sandaran tangan = 40 mm

1). 95-th = X + 1,645 (26) 3). 5-th = X – 1,645 (27)


= 448 + 42,77 = 490,77 = 485 – 44,415
= 491 mm = 440,585
= 441 mm

2). 5-th = X – 1,645 (26) 4). 95-th = X + 1,645 (24)


=463 – 42,77 = 343 + 39,48

55
= 420,23 = 382,48
= 421 mm = 383 mm

7). 5-th = X – 1,645 (31) 8). 5-th = X - 1,645 (21)


= 180 – 50,995 = 477,5 – 34,545
= 129,005 = 442,955
= 130 mm = 443 mm

9). 5-th = X - 1,645 ( σ χ)


= 176 – 1,645 (8)
= 176 – 13,16
= 162,84 = 163 mm

• Panjang tempat duduk = 383 mm


• Lebar tempat duduk = 441 mm
• Tinggi tempat duduk = 421 + 45 + 30 + 5 = 501 mm
• Lebar back seat = jarak lumbar = 238 mm
• Tinggi sandaran ( back seat) = tinggi tempat duduk + jarak lumbar + jarak
lumbar ke tulang ekor = 501 + 238 + 180 + 5 = 924 mm
• Panjang back seat = lebar bahu = 491 mm
• Tebal sandaran = 35 mm
• tebal besi penyangga = 5 mm
• lebar besi penyangga = 30 mm

• panjang besi penyangga Horizontal 1 = ¾ (tempat duduk) + tebal back seat

56
= 331 + 35 = 366 mm

• panjang besi penyangga Horizontal 2 = ¾ (panjang tempat duduk) = 287,25


= 288 mm

2
• jarak poros ke besi pegangan 2 = 30 mm

• panjang besi penyangga vertikal = ¾ (lebar back seat) + panjang tulang ekor
+ tebal tempat duduk = 179 + 180 + 45 + 5 = 409 mm
• tebal pijakan = 20 mm
• lebar pijakan = 40 mm
• panjang pijakan = 100 mm
• silinder tengah r = 15
t = tinggi tempat duduk – tebal pijakan – tebal tempat
duduk
= 495 – 20 – 45 = 430 mm

IV.2.2 Gambar Kursi Komputer

57
Kursi Komputer

Pandangan dari sisi kanan

58
Pandangan dari sisi depan

Pandangan dari sisi atas

BAB V

59
KESIMPULAN dan SARAN
V.1 Kesimpulan
Dari pelaksanaan percobaan ini dapat diproses beberapa kesimpulan antara
lain :
1. Panjang meja komputer = 1602 mm
2. Lebar meja komputer = 443 mm
3. Tinggi meja keyboard = 691 mm
4. Lebar meja keyboard = 210 mm
5. Tinggi meja komputer = 814 mm
6. Kelonggaran dinamis = 50 mm Kelonggaran dinamis lebar
keyboard
• Tebal sepatu = 30 mm = 40 mm
• Tebal meja = 20 mm
• Lebar keyboard = 165 mm
7. Kelonggaran :
• Tebal tempat duduk = 45 mm
• Tebal back seat = 35 mm
• Tebal sepatu = 30 mm
• Tebal sandaran tangan = 40 mm
7. Panjang tempat duduk = 383 mm
8. Lebar tempat duduk = 441 mm
9. Tinggi tempat duduk = 501 mm
10. Lebar back seat = jarak lumbar = 238 mm
11. Tinggi sandaran ( back seat) = 924 mm
12. Panjang back seat = lebar bahu = 491 mm
13. Tebal sandaran = 35 mm
14. tebal besi penyangga = 5 mm
15. lebar besi penyangga = 30 mm

60
16. panjang besi penyangga Horizontal 1 = 366 mm
17. panjang besi penyangga Horizontal 2 = 288 mm
18. jarak poros ke besi pegangan 2 = 30 mm
19. panjang besi penyangga vertikal = 409 mm
20. tebal pijakan = 20 mm
21. lebar pijakan = 40 mm
22. panjang pijakan = 100 mm
23. silinder tengah r = 15
t = tinggi tempat duduk – tebal pijakan – tebal tempat
duduk
= 495 – 20 – 45 = 430 mm
V.2 Saran
1. Sebaiknya meja kompuer yang dirancang ini hanya digunakan untuk elemen-
elemen kecil dan ringan
2. Untuk perakitan selanjutnya, perancangan meja komputer untuk operator lebih
diperhatikan ketelitian pengukuran fisik agar di dapat meja komputer yang
berukuran normal dan standar.

61