Anda di halaman 1dari 76

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ampas Tahu

Ampas tahu biasanya dalam bentuk semi solid, dengan kandungan air yang cukup

tinggi. Hal ini merupakan kendala, bila harus diangkut ke tempat yang jauh. Tingginya

kandungan air yang terdapat dalam ampas tahu juga menyebabkan produk tersebut cepat

menjadi busuk. Kandungan zat makanan ampas tahu sangat bervariasi, tergantung cara

yang digunakan dalam pembuatannya. Kadar protein kasar ampas tahu cukup tinggi yaitu

23 – 29 % dari bahan kering (Mathius dan Sinurat, 2001)

Menurut Imai et al., (1996) pencampuran konsentrat komersial dengan ampas

tahu untuk pakan pengemukan sapi menghasilkan pertambahan bobot hidup yang lebih

baik tercatat pertambahan bobot hidup sapi yang diberi konsentrat komersial adalah 1,13

kg/ekor/hari, sedangkan yang dicampur dengan ampas tahu sebanyak 20 % adalah

1,10kg/ekor/hari. Haryanto (1993) menyatakan bahwa penambahan ampas tahu basah

sebanyak 300 gram/ekor/hari pada domba yang sudah diberi pakan konsentrat komersil,

ternyata masih dapat meningkatkan pertambahan bobot hidup domba tersebut.

Penggunaan ampas tahu kering dalam ransum ayam ras biasanya tidak lebih dari 5 %

(Anonimus,1998). Ampas tahu setelah difermentasi dengan menggunakan ragi tempe,

dapat digunakan hingga 12 % dalam ransum ayam pedaging tanpa mengganggu

pertumbuhan (Nur et al., 1997). Kandungan zat makanan ampas tahu bisa dilihat pada

Tabel 1.

Tabel 1. Kandungan zat makanan ampas tahu (% BK)


Zat Makanan (%) 1 2
Protein Kasar 23,7 21,3-27
Lemak Kasar 10,1 4,5-17
Serat Kasar 23,6 16-23
Sumber: 1. Siregar (1995) ; 2. Kompiang et al. (1997)

Dalam penelitian menggunakan ampas tahu yang terlebih dahulu difermentasi

dengan ragi yang mengandung kapang dilaporkan bahwa kandungan ampas tahu

fermentasi adalah protein kasar 21,66 %, lemak kasar 2,73 %, serat kasar 20,26 %, Ca

1,09 %, P 0,88 %, dengan energi metabolis sebesar 2.830 kkal/kg, serta dengan

kandungan asam amino lisin dan methionin serta vitamin B komplek yang cukup tinggi

(Anonimus, 2005b).

2.2 Onggok

Salah satu jenis industri yang cukup banyak menghasilkan limbah adalah pabrik

pengolahan tepung tapioka. Proses pengolahan singkong menjadi tepung tapioka

menghasilkan limbah yang biasa disebut onggok sekitar 2/3 hingga ¾ bagian dari bahan

mentahnya (Amri,1998).

Onggok yang berasal dari ubi singkong merupakan limbah padat dari pengolahan

tepung tapioka. Sebagai ampas pati singkong yang mengandung banyak karbohidrat,

onggok dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi untuk ternak (Anonimus,2005a).

Menurut Supriyati dkk., (2003) dalam Dewi (2006) untuk memproduksi tapioka

dengan bahan baku satu ton ubi kayu dihasilkan 250 kg tapioka dan 114 kg onggok.

Ketersediaan onggok pun terus meningkat sejalan dengan meningkatnya produksi tapioka

dan semakin luasnya areal penanaman dan produksi ubi kayu.

Ubi kayu atau singkong (Manihot esculenta Crantz) merupakan salah satu bahan

pangan lokal yang banyak diproduksi di negara tropik termasuk Indonesia (Balogun et

al., 2000 dalam Aryogi dkk., 2001). Luasan lahan ubi kayu di Jawa Timur tahun 1992
adalah sebesar 295.244 Ha, dengan produksinya yang cukup melimpah yaitu sekitar

3.381.948 ton. Kandungan zat makanannya cukup rendah yaitu protein dan energinya

sekitar 1,5 – 4,0 % dan 2700 - 3420 Kkal/kg menyebabkan ubi kayu atau limbah hasil

olahannya banyak diolah untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku penyusun pakan ternak

(Gunawan, et al., 1996 ; Balogun et al., 2000 dalam Aryogi dkk., 2001). Hasil penelitian

Kompiang et al., (1994) dalam Aryogi dkk., (2001) menunjukkan bahwa pengolahan

onggok melalui proses fermentasi menjadi Cassapro, mampu meningkatkan kandungan

protein kasarnya menjadi 18 %. Hanya dalam proses ini ada penambahan urea.

Penggunaan onggok sebagai pakan ternak dihadapkan pada beberapa kendala,

antara lain rendahnya kandungan zat makanan (protein) dan masih tingginya kandungan

sianida. Untuk itu perlu dicari teknik pengolahan yang dapat meningkatkan kandungan

zat makanan dan menurunkan kandungan zat antinutrisi pada onggok. Penelitian

sebelumnya melaporkan bahwa melalui teknologi fermentasi dengan Aspergillus niger

kandungan zat makanan (khususnya protein kasar) meningkat dan HCN menurun

(Tabrany et al., 2004).

Onggok terfermentasi memiliki kandungan protein yang cukup tinggi serta dapat

memberikan efisiensi pakan yang lebih baik sehingga bisa dijadikan alternatif bahan

baku pakan untuk mengurangi ketergantungan pada sumber protein seperti bungkil

kedele. Disamping itu penggunaan bahan baku terfermentasi seperti onggok relatif murah

sehingga dapat mengurangi biaya produksi pakan (Supriyati dkk., 2003 dalam Dewi,

2006).

Penggunaan onggok untuk bahan baku penyusunan pakan ternak masih sangat

terbatas, terutama untuk hewan ruminansia. Hal ini disebabkan kandungan proteinnya

yang rendah disertai dengan kandungan serat kasarnya yang tinggi (lebih dari 35 %).
Proses bioteknologi dengan teknik fermentasi dapat meningkatkan mutu kandungan zat

makanan dari bahan-bahan yang bermutu rendah. Misalnya, produk fermentasi dari umbi

ubi kayu (Cassapro/Cassava protein tinggi), memiliki kandungan protein 18 – 42 %,

lebih tinggi dari bahan asalnya ubikayu, yang hanya mencapai 3 %. Demikian juga,

onggok terfermentasi juga memiliki kandungan protein tinggi yakni 18 % dan dapat

digunakan sebagai bahan baku ransum ayam ras pedaging. Namun peningkatan tersebut,

khususnya protein kasar tidak hanya dicapai melalui fermentasi semi padat dengan

menggunakan kapang Aspergillus niger sebagai inokulum, tetapi juga karena

penambahan campuran urea dan ammonium sulfat sebagai sumber nitrogen anorganik

(Tarmudji, 2004). Kandungan zat makanan dari onggok dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Kandungan zat makanan, HCN dan gula terlarut onggok (% BK)
Zat Makanan (%) 1 2 3
Protein kasar 3,6 0,8 2,76
Lemak kasar 2,3 0,2 4,48
Serat kasar - 2,2 12,03
Kadar Abu 4,4 2,5 1,82
BETN - 78 75,59
HCN - - 0,26
Gula terlarut - - 17,30
Sumber : 1. Anonimus (2005a); 2. Anonimus (2006a); 3. Sjofjan (1996)

2.3 Kapang oncom merah (Neurospora sitophila)

Salah satu kapang yang terdapat pada ragi oncom adalah Neurospora sitophila

atau kapang oncom merah. Genus Neurospora sebelum diketahui pembiakan

generatifnya disebut Monilia sitophila, dan dimasukkan dalam golongan kapang tak

sempurna (Deuteromycetes). Setelah diketahui pembiakan generatifnya yang berupa

askus namanya menjadi Neurospora sitophila dan dimasukkan dalam golongan

Ascomycotina. Kapang ini dapat menghasilkan tubuh buah, apabila bertemu dengan

jenis lain yang kompatibel. Monilia sitophila mampu menghasilkan peritesium.

Askuspora yang terdapat dalam tiap askus adalah delapan, warna spora coklat tua, sedang

dinding spora berloreng-loreng. Sifat inilah yang menyebabkan Monilia sitophila diberi
nama Neurospora sitophila. Neurospora merupakan kapang saprofit yang banyak

ditemukan di udara (Dwidjoseputro, 1978; Frazier dan Westhos, 1978 yang disitasi oleh

Rusdi, 1992).

Menurut Dwidjoseputro (1978) dan Ho (1978) dalam Rusdi (1992) klasifikasi

Neurospora sitophila adalah sebagai berikut :

Kingdom : Plantae
Phylum : Thalophyta
Sub phylum : Eumycetes
Klas : Ascomycetes
Ordo : Speriales
Famili : Sordariaceae
Genus : Neurospora
Spesies : Sitophila

Anonimus (2006b) menyatakan bahwa pengamatan mikroskopik perbesaran 400

kali dengan pewarnaan biru mampu menunjukkan morfologi Neurospora sp. Gambar

Neurospora sitophila dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Neurospora sitophila


Genus Neurospora bersama dengan ragi dan lukut termasuk klas Ascomycetes,

terdiri atas 30.000 spesies yang biasa ditemukan di daerah panas. Neurospora

berkembang biak secara asexual (vegetatif) dan sexual:

1. Sexual : menghasilkan spora hitam yang dibuat dalam tubuh buah hitam (perithecia).
Askuspora bersifat dorman sampai terkena suhu tinggi, seperti kebakaran hutan yang

secara otomatis merusak konidia dan mengaktifkan askuspora koloni berwarna merah

muda dan orange. Neurospora sitophila mempunyai askospora 8, masing-masing spora

tumbuh menjadi miselium yang dapat menghasilkan konidia, mikrokonidia (spermatica)

dan ascogonium dengan trikogin. Plasmogami hanya terjadi jika trikogin bersatu dengan

konidia atau mikrokonidia yang berasal dari jenis lain. Konidia dan mikrokonidia dapat

berfungsi sebagai pejantan.

2. Asexual : menghasilkan spora khusus yang disebut konidia yang diproduksi tanpa

pembungkus, yang disebut spora case pada ujung miselium yang disebut konidiospora

(Dwidjoseputro, 1978 yang disitasi oleh Rusdi, 1992).

Kapang oncom merah mudah tumbuh dan cepat menghasilkan keturunan. Kapang

oncom merah adalah kapang mesofilik yang dapat tumbuh bebas pada suhu berkisar 25 –

30 0C, dengan suhu optimum 30 0C dan tidak tumbuh pada suhu 32 0C. kelembaban yang

diperlukan adalah 70 – 90 %, sedangkan pH adalah berkisar antara 4,5 – 6,5 (Steinkraus

et al., 1965 dalam Rusdi, 1992).

Enzim yang dapat dihasilkan dari kapang oncom merah adalah enzim protease

yang dapat memecah protein menjadi asam amino, enzim lipase memecah lemak atau

gliserida menjadi asam lemak bebas, enzim amylase dan enzim pemecah karbohidrat

mengubah karbohidrat menjadi gula sederhana (Shurtleff and Aoyagi, 1979).

2.4 Fermentasi

Fermentasi adalah suatu proses perubahan bahan kimiawi dari senyawa-senyawa

organik (karbohidrat, lemak, protein dan bahan organik lain) baik dalam keadaan aerob

maupun anaerob melalui kerja enzim yang dihasilkan oleh mikroba (Ganjar, 1983).
Menurut Winarno (1986) dalam Rusdi (1992) fermentasi adalah suatu reaksi oksidasi-

reduksi di dalam sistem biologi yang menghasilkan energi. Sebagai donor dan aseptor

elektron pada reaksi tersebut digunakan senyawa organik. Senyawa organik yang

biasanya digunakan adalah karbohidrat dalam bentuk glukosa. Senyawa tersebut akan

diubah oleh reaksi reduksi dengan katalis enzim menjadi suatu bentuk lain yang dapat

dioksidasi menjadi asam.

Manfaat fermentasi antara lain dapat mengubah bahan organik kompleks seperti

protein, karbohidrat dan lemak menjadi molekul-molekul yang lebih sederhana dan

mudah dicerna, mengubah rasa dan aroma yang tidak disukai menjadi disukai,

mensintesis protein, mempercepat pematangan dan dalam beberapa hal tertentu

menambah daya tahan (Shurtleff dan Ayogi,1979 dalam Rusdi, 1992). Manfaat lain

fermentasi adalah bahan makanan lebih tahan disimpan dan dapat mengurangi senyawa

racun (toksin) yang dikandungnya, sehingga nilai ekonomis bahan dasarnya menjadi jauh

lebih baik (Saono, 1976 yang disitasi oleh Rusdi, 1992). Menurut Shurtleff dan Ayogi

(1979) dalam Rusdi (1992) Neurospora selama proses fermentasi mampu mengurangi

jumlah aflatoksin yang sudah ada sebanyak 40 – 48 %.

Produk-produk yang dapat dihasilkan dari suatu proses fermentasi adalah sel-sel

mikroba atau biomassa, enzim, metabolik primer dan metabolik sekunder serta senyawa-

senyawa kimia hasil proses biokonversi oleh mikroba (Ansori, 1989 yang disitasi

oleh Aisjah, 1995). Menurut Gandjar (1977) dalam Rusdi (1992) produk fermentasi

umumnya mudah diurai secara biologis dan tidak merupakan suatu bahan polusi seperti

bahan kimia, pestisida, plastik dan sebagainya. Makanan di Indonesia seperti tempe

kedele, tempe benguk, kecap, tape dan oncom, pada umumnya menggunakan genus

Rhizopus sebagai mikroba utama dalam inokulum.


Makanan-makanan yang telah mengalami fermentasi biasanya mempunyai

kandungan zat makanan yang lebih tinggi dari pada bahan asalnya. Hal ini tidak hanya

disebabkan oleh sifat mikroba yang katabolik atau memecah komponen-komponen yang

komplek menjadi lebih sederhana sehingga lebih mudah dicerna, tetapi juga dapat

mensintesis beberapa vitamin yang komplek seperti vitamin riboflavin, piridoksin

(vitamin B6), niasin, vitamin B12, asam panthotenat dan provitamin A, sedangkan

thiamine menurun karena teroksidasi menjadi thiochrome dan juga thiamine

dipergunakan oleh kapang untuk keperluan hidupnya (Poesponegoro, 1975 yang disitasi

oleh Rusdi, 1992).

Fermentasi dapat dilakukan dengan metode kultur permukaan dan kultur

terendam (submerged). Medium kultur permukaan dapat berupa medium padat, semi

padat atau cair, sedangkan kultur terendam dilakukan dalam medium cair menggunakan

bioreaktor yang dapat berupa labu yang diberi aerasi, labu yang digoyang dengan

“shaker”. Dewasa ini proses fermentasi untuk memproduksi berbagai produk industri

lebih banyak menggunakan teknik kultur terendam. Walaupun demikian, kultur

permukaan yang menggunakan medium padat/semi padat masih banyak digunakan untuk

memproduksi berbagai jenis asam organik dan enzim (Rahman, 1992).

Menurut Rachman (1989) secara umum medium fermentasi menyediakan semua

zat makanan yang dibutuhkan oleh mikroba untuk memperoleh energi, pertumbuhan,

bahan pembentuk sel dan biosintesa produk-produk metabolisme. Tergantung pada jenis

mikroba dan produk yang akan diproduksi setiap fermentasi memerlukan medium

tertentu karena medium yang tidak sesuai dapat menyebabkan perubahan jenis produk

dan perubahan rasio diantara berbagai produk hasil fermentasi tersebut berlangsung.

Senyawa-senyawa sumber karbon dan nitrogen merupakan komponen terpenting didalam


medium fermentasi, karena sel-sel terdiri dari unsur C dan N. Disamping itu medium

fermentasi juga harus mengandung air, garam-garam anorganik dan beberapa vitamin.

Fermentasi padat adalah suatu jenis fermentasi dimana terjadi degradasi

komponen kimia padat oleh mikroba yang ditandai dengan tidak adanya air bebas dalam

sistem fermentasi tersebut, dalam hal ini media berfungsi sebagai sumber C, N maupun

energi (Muchtadi dkk., 1992).

Medium padat atau semi padat dalam fermentasi permukaan menggunakan

partikel substrat padat seperti jagung giling, bekatul gandum dan tepung biji kapas

dengan atau tanpa penambahan larutan zat makanan yang diserap oleh permukaan

substrat padat tersebut. Pada sebagian besar kapang, pertumbuhannya pada permukaan

medium padat dapat membentuk spora yang lebih banyak dengan viabilitas yang lebih

lama dibandingkan dengan kultur terendam (Rachman, 1989).

Menurut Rahman (1992) parameter-parameter yang paling mungkin

mempengaruhi fungsi fisik dan aktivitas fisiologik selama fermentasi substrat padat, ialah

a. Variabel kontrol

Variabel kontrol ini meliputi : ukuran partikel dan bentuk substrat, banyaknya

substrat padat, kadar air awal substrat, kelembapan udara, suhu udara, kecepatan agitasi,

laju aerasi dan tekanan inokulum spora.

b. Fungsi-fungsi fisik

Fungsi-fungsi fisik yang merupakan parameter disini yaitu pergerakan mekanis

substrat padat dan suhu substrat.

c. Aktivitas fisiologis

Aktivitas fisiologis meliputi : pertumbuhan, pembentukan produk, konsumsi


oksigen (oxygen uptake), evolusi karbondioksida, evolusi panas metabolik, produksi air

metabolik, dan kontaminasi bakteri.

Mekanisme proses fermentasi menurut Suharto (1992) dalam Aisjah (1995),

disebabkan adanya interaksi antara substrat dengan mikroorganisme yang dapat dibagi

dalam tiga kategori antara lain sebagai berikut :

1. Direct Breakdown and Utilization

Mikroorganisme secara langsung dapat menggunakan substrat sebagai sumber

karbohidrat dan C untuk pertumbuhannya. Bagian substrat yang mempunyai berat

molekul lebih rendah terlepas karena adanya enzim dari jamur dan terjadi reaksi kimia.

Substrat yang telah dipecah diabsorbsi oleh jamur dan menginduksi enzim yang

menyebabkan degradasi (Degradative enzyme). Substrat yang terdegradasi oleh enzim

membentuk molekul yang berat molekulnya kecil yang dapat diabsorbsi dan digunakan

untuk pertumbuhan sel.

2. Degradation by Excreted Metabolites

Mikroorganisme tidak dapat menggunakan substrat sebagai sumber hidupnya,

dengan demikian harus ada sumber energy dan C lainnya. Adanya sumber C dan energi

disekelilingnya itulah mikroorganisme dapat tumbuh dan mengadakan metabolisme.

Hasil metabolisme itu mengeluarkan zat metabolit yang dapat mendegradasi substrat

tersebut.

3. Co-Metabolic Degradation

Sama halnya dengan mekanisme kedua, disini mikroorganisme tidak dapat

menggunakan substrat sebagai sumber energi dan sumber C. Dengan adanya energi dan

kandungan zat makanan dari sekitarnya tersebut mikroorganisme dapat tumbuh dan

substrat itu sendiri berperan sebagai induktor untuk menginduksi enzim dalam
mikroorganisme hingga proses degradasi substrat dapat berjalan.
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian secara ringkas dapat dilihat pada Tabel 4 yang menunjukkan

tentang rataan kandungan zat makanan dengan perlakuan imbangan ampas tahu dan

onggok yang berbeda dan difermentasi oleh inokulan ragi oncom.

Tabel 4. Rataan kandungan zat makanan produk fermentasi menggunakan substrat


dengan imbangan ampas tahu dan onggok yang berbeda (% BK)
(% BK)
K) (% BK )
erlakuan rotein terlar ± 0,89 10,0 ± 1,5510,2 ± 0,55 10,07± 0,2510,05
C1 C2 C3 C4 ut %*)Gula R 7 ± 0,08 19,8 5 ± 0,21 20,0 ± 0,13 19,2 ± 0,10 19,5
Bahan Organ eduksi %94,8 2 ± 0,15c95, 4 ± 0,41d97, 1 ± 0,24a97,8 ± 0,19b98,
ik %Protein K 7 ± 1,3324, 81± 0,5020, 13± 0,2014, 87 ± 0,057, 42 ± 0
asar % 13 ± 0,1827, 21 ± 0,4120, 92 ± 0,1923, 71 ± 0,0720,,062,1
Serat Kasar %Lema 54 ± 0,375,2 39 ± 0,622,2 32 ± 0,293,2 49 ± 0,191,33 ± 0,0115,1
kK 4 ± 0,0437,96 2 ± 0,0452,99 4 ± 0,0455,64 6 ± 0,0168,31
3 ± 0,080,87
asar %BETN %P ± 0,0180,29
0,1610,14 ± 0,06 19,23 ± 0,11a Keterangan: Notasi huruf yang berbeda pada baris yang sama m
enunjukkan perbedaan pen
garuh yang sangat ny
ata (P < 0.01) *)Berdasarkan % PK4.1 Pengaruh Perlakua

n Terhadap Kandungan Bahan Kering Nilai rataan bahan kering terendah adalah p

ada perlakuan C2 (90,41 ± 1,84 %), kemudian diikuti berturut–turut pada C5 (90,57

± 0,50 %), C1 (90,73 ± 0,69 %), C3 (91,55 ± 1,17 %) dan C4 (92,01 ± 0,88 %). U

ntuk mengetahui pengaruh perla

kuan dilakukan analisis statistik. Hasil analisis peragam (Lampiran 5) menu

njukkan bahwa perlakuan memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata (P>0,05) terh

adap kandungan bahan kering produk fermentasi. Hal ini mengindikasikan bahwa perbeda

n perlakuan imbangan pada substrat menunjukkan perubahan bahan kering yang tidak berb

eda nyata. Jika dilanjutkan dengan analisis ragampun, hasilnya juga memberikan pengaruh

yang tidak berbeda nyata. Hal ini mengindikasikan bahwa imbangan ampas tahu d

an onggok yang membawa konsekuensi pada berubahnya imbangan unsur N dan C dalam

substrat tidak mempengaruhi bahan kering produk hasil fermentasi. Walaupun Rah

man (1989) menyatakan bahwa setiap jenis mikroorganisme membutuhkan medium fer

mentasi tertentu, tetapi perubahan imbangan N dan C dengan kondisi fermentasi seba
ini diduga hanya sedikit pengaruhnya terhadap aktivitas fermentasi dari ragi oncom.

Gambar 2 menunjukkan kecenderungan grafik yang meningkat dari C1 sampai C5

pada substrat sebelum difermentasi, sedangkan pada substrat sesudah difermentasi

menunjukkan bentuk grafik yang fluktuatif. Kandungan bahan kering substrat pada

masing–masing perlakuan mengalami penurunan dibanding sebelum difermentasi.

Persentase penurunan dari perlakuan C1 sampai dengan perlakuan C5 berturut–turut

sebesar 1,72%, 2,37 %, 1,36 %, 0,90 % dan 3 %. Persentase penurunan yang paling

tinggi adalah pada perlakuan C5 (3 %).

94.5 (-3%)
(-1.72%) (-2.37%) (-1.36%) (-0.90%)
Bahan Kering (%)

93
91.5
90
88.5
C1 C2 C3 C4 C5
Perlakuan

Sebelum fermentasi Sesudah fermentasi

Gambar 2. Grafik rataan kandungan bahan kering sebelum dan sesudah fermentasi
Bahan kering dipergunakan mikroorganisme untuk pertumbuhan sehingga

kandungan bahan kering akan menurun. Suliantari dan Rahayu (1990) menyatakan

bahwa selama proses fermentasi akan terjadi peningkatan kadar air dalam substrat karena

penguraian bahan kering total oleh kapang yang dipergunakan sebagai sumber energi

atau pembentuk sel baru.

Penurunan kandungan bahan kering substrat dapat diakibatkan oleh semakin

tingginya kadar air dalam substrat. Menurut Supriyati dkk. (1998) pertumbuhan

maksimum kapang menyebabkan produksi air selama proses fermentasi semakin


meningkat, sehingga meningkatkan kadar air substrat.

4.2 Pengaruh Perlakuan Terhadap Kandungan Bahan Organik

Tabel 4 menunjukkan bahwa kandungan bahan organik tertinggi adalah pada C5

(98,42 ± 0,06 %), kemudian diikuti dengan C4 (97,87 ± 0,05 %), C3 (97,13 ±

0,20 %), C2 (95,81 ± 0,50 %) dan C1 (94,87 ± 1,33 %). Untuk mengetahui pengaruh

perlakuan kemudian dilakukan analisis statistik.

Hasil analisis peragam (Lampiran 6) menunjukkan bahwa perlakuan memberikan

pengaruh yang tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap kandungan bahan organik produk

fermentasi. Hal ini mengindikasikan bahwa perbedaan perlakuan imbangan pada substrat

menunjukkan perubahan bahan organik yang tidak berbeda nyata.

Gambar 3 menunjukkan bahwa pada perlakuan C1 sampai dengan C5 kandungan

bahan organik substrat sebelum difermentasi maupun substrat sesudah difermentasi

menunjukkan kecenderungan grafik yang meningkat. Peningkatan kandungan bahan

organik di awal dan di akhir fermentasi yang sejalan ini menunjukkan bahwa hasil

fermentasi sangat tergantung dari kandungan bahan awal.

(-0.11%)
99 (+0.20%)
Bahan Organik (%)

(+0.32%)
98
97 (-0.17%)
96 (-0.25%)
95
94
93
C1 C2 C3 C4 C5
Perlakuan
Sebelum fermentasi Sesudah fermentasi

Gambar 3. Grafik rataan kandungan bahan organik sebelum dan sesudah fermentasi.
Gambar 3 menunjukkan bahwa kandungan bahan organik pada substrat sesudah

difermentasi cenderung mengalami penurunan dibandingkan sebelum difermentasi.

Persentase penurunan tertinggi adalah pada C1 (0,25 %), kemudian diikuti oleh C2 (0,17

%), dan C5 (0,11 %). Hal ini sesuai dengan pendapat Ardhana (1982) bahwa bahan

organik yang mengalami penurunan selama fermentasi adalah pati dan lemak karena

digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi untuk pertumbuhan kapang. Menurut

Ginandjar (1977), bahwa bahan organik yang diuraikan oleh kapang disebabkan oleh

bekerjanya enzim amilase dan lipase yang bekerja dalam pemecahan amilum dan lemak

dari substrat sehingga kandungan bahan organik selama fermentasi mengalami

penurunan.

4.3 Pengaruh Perlakuan Terhadap Kandungan Protein Kasar

Tabel 4 menunjukkan bahwa kandungan protein kasar tertinggi adalah pada C1

(24,13 ± 0,18 %) diikuti oleh C2 (20,20 ± 0,41 %), C3 (14,92 ± 0,19 %), C4 (7,70 ± 0,07

%), dan C5 (2,13 ± 0,01 %), untuk mengetahui pengaruh perlakuan dilakukan analisis

statistik.

Hasil analisis peragam (Lampiran 7) menunjukkan bahwa perlakuan memberikan

pengaruh yang tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap kandungan protein kasar produk

fermentasi. Hal ini mengindikasikan bahwa perbedaan perlakuan imbangan pada substrat

menunjukkan perubahan protein kasar yang tidak berbeda nyata dalam proses fermentasi.

Setelah dilanjutkan dengan menggunakan analisis ragam perlakuan memberikan

pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap kandungan protein kasar. Hal ini

mengindikasikan bahwa perbedaan yang sangat nyata dikarenakan oleh kandungan

protein kasar substrat awal yang berbeda. Perbedaan pengaruh diantara perlakuan dapat
diketahui dengan menggunakan uji beda nyata terkecil dan mengindikasikan bahwa

substrat dengan kandungan protein lebih tinggi (100% ampas tahu) memberikan

kandungan protein kasar produk hasil fermentasi yang tertinggi pula.

Gambar 4 menunjukkan kecenderungan grafik yang menurun dari C1 sampai

dengan C5 pada substrat sebelum difermentasi maupun pada substrat sesudah

difermentasi. Kandungan protein kasar substrat terfermentasi menurun dengan semakin

meningkatnya onggok dalam substrat karena onggok sendiri memiliki kandungan protein

jauh lebih rendah dibandingkan ampas tahu. Perbedaan kandungan protein kasar substrat

terfermentasi pada tiap perlakuan ini disebabkan oleh kandungan protein kasar substrat

awal yang sangat berbeda. Hal ini sesuai dengan Shin (1988) yang melaporkan bahwa

kandungan protein kasar produk akhir fermentasi sangat tergantung dari kandungan

protein kasar substrat awal. Selanjutnya Karmas and Harris (1997) menyatakan bahwa

perubahan kandungan zat makanan hasil fermentasi tergantung pada ketersediaan zat

makanan bahan awal, kemampuan metabolisme bahan awal, kemampuan metabolis

mikroorganisme fermentatif dan interaksi elemen-elemen tersebut.

(+45.98%)
25 (+59.26%)

20 (+67.83%)
Protein Kasar (% BK)

15 (+50.29%)
10
(+57.78%)
5
e d c b a
0
C1 C2 C3 C4 C5
Perlakuan
Sebelum fermentasi Sesudah fermentasi

Gambar 4. Grafik rataan kandungan protein kasar sebelum dan sesudah fermentasi.
Gambar 4 menunjukkan bahwa kandungan protein kasar dari perlakuan C1
sampai C5 sesudah difermentasi mengalami peningkatan dibanding sebelum

difermentasi. Persentase peningkatan protein kasar dari C1 sampai C5 berturut–turut

sebesar 45,98 %, 59,26 %, 67,83 %, 50,29 % dan 57,78 %, Persentase peningkatan

protein kasar yang paling tinggi adalah pada perlakuan C3 (67,83 %). Berdasarkan hasil

penelitian Nurhayati (2005) yang mengevaluasi nilai zat makanan campuran bungkil inti

sawit dan onggok yang difermentasi dengan Aspergillus niger bahwa terjadi peningkatan

protein kasar pada substrat setelah fermentasi dan diduga peningkatan kandungan protein

kasar disebabkan oleh tumbuhnya kapang yang mengandung nitrogen cukup tinggi (5 – 8

%), yang merupakan sumber protein sel tunggal. Judoamidjojo (1990) juga menyatakan

bahwa peningkatan kandungan protein kasar yang terjadi disebabkan oleh terbentuknya

massa mikrobial yang kaya akan protein.

4.4 Pengaruh Perlakuan Terhadap Kandungan Serat Kasar

Tabel 4 menunjukkan bahwa kandungan serat kasar yang tertinggi adalah pada C1

(27,54 ± 0,37 %) diikuti C3 (23,32 ± 0,29 %), C4 (20,48 ± 0,19 %), C2 (20,39 ± 0,62

%) sedangkan pada C5 kandungan serat kasarnya paling rendah (15,12 ± 0,08 %), untuk

mengetahui pengaruh perlakuan dilakukan analisis statistik.

Hasil analisis peragam (Lampiran 8) menunjukkan bahwa perlakuan memberikan

pengaruh yang tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap kandungan serat kasar produk

fermentasi. Hal ini mengindikasikan bahwa perbedaan perlakuan imbangan pada substrat

menunjukkan perubahan serat kasar yang tidak berbeda nyata dalam proses fermentasi.

Setelah dilanjutkan dengan menggunakan analisis ragam memberikan pengaruh yang

sangat nyata (P<0,01) terhadap kandungan serat kasar. Hal ini mengindikasikan bahwa

perbedaan yang sangat nyata dikarenakan oleh kandungan serat kasar substrat awal yang
berbeda. Perbedaan pengaruh diantara perlakuan dapat diketahui dengan menggunakan

uji beda nyata terkecil, dan serat kasar tertinggi diperoleh untuk C1.

Gambar 5 menunjukkan nilai rataan kandungan serat kasar substrat sebelum

fermentasi dan sesudah fermentasi yang cenderung menurun dari perlakuan C1 sampai

C5. Kandungan serat kasar antar perlakuan yang berbeda disebabkan oleh imbangan

penggunaan ampas tahu dan onggok yang berbeda. Kandungan serat kasar cenderung

akan meningkat dengan semakin tingginya kandungan ampas tahu. Hal ini disebabkan

ampas tahu memiliki kandungan serat kasar sebesar 23,6 % yang lebih tinggi

dibandingkan dengan onggok 12,03 %.

30 (+20.47%)
(-5.34%) (+15.22%)
Serat Kasar (%BK)

25 (+8.01%) (-14.13%)

20
15 d
e b c
10 a

5
0
C1 C2 C3 C4 C5
Perlakuan

Sebelum fermentasi Sesudah fermentasi

Gambar 5. Grafik rataan kandungan serat kasar sebelum dan sesudah fermentasi.

Gambar 5 menunjukkan bahwa kandungan serat kasar dari perlakuan C1 sampai

C5 sesudah difermentasi cenderung mengalami peningkatan dibanding sebelum

difermentasi. Pada perlakuan C1, C3 dan C4 mengalami peningkatan dengan persentase

peningkatan masing-masing sebesar 20,47 %, 15,22 %, dan 8,01 %. Persentase

peningkatan serat kasar tertinggi adalah pada perlakuan C1.

Peningkatan kandungan serat kasar ini disebabkan oleh pertumbuhan dan


perkembangan biomasa kapang yang tinggi dapat meningkatkan kandungan serat kasar.

Hal ini didukung oleh pendapat Purwadaria dkk. (1998) bahwa salah satu penyusun

dinding sel kapang adalah polisakarida (serat kasar). Demikian juga kondisi tidak

terombaknya serat kasar substrat yang diiringi dengan terombaknya zat makanan yang

lain (lemak dan pati) mengakibatkan peningkatan kandungan serat kasar substrat.

Sedangkan pada perlakuan C2 kandungan serat kasar mengalami penurunan dengan

persentase penurunan sebesar 5,34 %. Penurunan kandungan serat kasar ini disebabkan

oleh adanya kerja enzim selulase yang merombak serat kasar substrat. Perbedaan tingkat

penurunan atau peningkatan kandungan serat kasar substrat masing–masing perlakuan

kemungkinan disebabkan oleh aktivitas enzim yang berbeda pada masing–masing

perlakuan. Penggunaan onggok pada substrat dapat memacu pertumbuhan biomasa

kapang. Pertumbuhan biomasa kapang yang baik diharapkan memproduksi enzim

selulase yang banyak sehingga perombakan serat kasar dapat optimal.

4.5 Pengaruh Perlakuan Terhadap Kandungan Lemak Kasar

Tabel 4 menunjukkan bahwa kandungan lemak kasar semua perlakuan baik C1,

C3, C2, C4 maupun C5 mengalami penurunan berturut-turut menjadi 5,24 ± 0,04

%, 3,24 ± 0,04 %, 2,22 ± 0,04 %, 1,36 ± 0,01 % dan 0,87 ± 0,01 %, untuk mengetahui

pengaruh perlakuan dilakukan analisis statistik.

Hasil analisis peragam (Lampiran 9) menunjukkan bahwa perlakuan memberikan

pengaruh yang tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap kandungan lemak kasar produk

fermentasi. Hal ini mengindikasikan bahwa perbedaan perlakuan imbangan pada substrat

menunjukkan perubahan lemak kasar yang tidak berbeda nyata dalam proses fermentasi.

Setelah dilanjutkan dengan menggunakan analisis ragam memberikan pengaruh yang


sangat nyata (P<0,01) terhadap kandungan lemak kasar. Hal ini mengindikasikan bahwa

perbedaan yang sangat nyata dikarenakan oleh kandungan lemak kasar substrat awal

yang berbeda. Perbedaan pengaruh diantara perlakuan dapat diketahui dengan

menggunakan uji beda nyata terkecil, dan lemak kasar tertinggi dicapai pada perlakuan

C1.

Gambar 6 menunjukkan kecenderungan grafik yang menurun dari C1 sampai C5

pada substrat sebelum difermentasi maupun pada substrat sesudah difermentasi.

Kandungan lemak cenderung menurun dengan semakin menurunnya onggok dalam

substrat. Hal ini lebih dipengaruhi oleh kandungan lemak ampas tahu yang lebih tinggi

dibandingkan dengan onggok, disamping pengaruh enzim lipase yang diproduksi oleh

ragi oncom (Mahfudz, 2006). Kandungan lemak kasar awal substrat yang tinggi dapat

memacu aktifitas enzim lipase kapang untuk menghidrolisis lemak. Produksi enzim yang

banyak dan diimbangi oleh kandungan lemak kasar awal substrat yang tinggi

mengakibatkan penurunan lemak kasar semakin besar. Perombakan lemak oleh enzim

lipase kapang digunakan sebagai energi untuk pertumbuhannya.

Menurut Destrisier (1988) yang dikutip oleh Rusdi (1992) bahwa kapang setelah

memanfaatkan pati untuk sumber energi kemudian memanfaatkan lemak dan protein.

Menurut Ganjar (1983) fermentasi adalah perubahan kimiawi senyawa organik baik

karbohidrat, lemak, protein maupun bahan organik lain oleh mikroba. Sebagaimana

diketahui bahwa ragi oncom memiliki aktivitas lipolitik, sehingga unsur C dalam lemak

adalah merupakan salah satu unsur yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan mikroba.
10 (-35.94%)

Lemak Kasar(%BK)
8 (-64.87%)
6 (-27.84%)
(-48.68%)
4
(+6.10%)
2
e c d b a
0
C1 C2 C3 C4 C5
Perlakuan
Sebelum fermentasi Sesudah fermentasi

Gambar 6. Grafik rataan kandungan lemak kasar sebelum dan sesudah fermentasi.
Gambar 6 juga menunjukkan kandungan lemak kasar pada perlakuan C1, C2, C3

dan C4 sesudah difermentasi menurun dibanding sebelum difermentasi dengan

persentase penurunan berturut – turut sebesar 35,94 %, 64,87 %, 27,84 % dan 48,68 %.

Persentase penurunan kandungan lemak kasar pada C2 paling tinggi (64,87 %), hal ini

disebabkan oleh penggunaan ampas tahu yang cukup tinggi (75%) sehingga

memperbesar kandungan lemak kasar awal substrat serta didukung dengan adanya

onggok dalam substrat sebagai sumber C sehingga memacu aktifitas enzim lipase yang

diproduksi oleh biomasa kapang yang tumbuh baik karena adanya ketersediaan energi

dari onggok. Penurunan kandungan lemak kasar substrat ini disebabkan oleh perombakan

lemak oleh enzim lipase kapang yang digunakan sebagai energi untuk pertumbuhannya.

4.6 Pengaruh Perlakuan Terhadap Kandungan BETN

Tabel 4 menunjukkan bahwa kandungan BETN mengalami peningkatan berturut-

turut dari perlakuan C1 (37,96 ± 0,89 %), C2 (52,99 ± 1,55 %), C3 (55,64 ±

0,55%), C4 (68,31 ± 0,25 %) dan C5 (80,29 ± 0,16 %), untuk mengetahui pengaruh

perlakuan dilakukan analisis statistik.

Hasil analisis peragam (Lampiran 10) menunjukkan bahwa perlakuan


memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap kandungan BETN

produk fermentasi. Hal ini mengindikasikan bahwa perbedaan perlakuan imbangan pada

substrat menunjukkan perubahan BETN yang tidak berbeda nyata dalam proses

fermentasi. Setelah dilanjutkan dengan menggunakan analisis ragam memberikan

pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap kandungan BETN. Hal ini

mengindikasikan bahwa perbedaan yang sangat nyata dikarenakan oleh kandungan

BETN substrat awal yang berbeda. Perbedaan pengaruh diantara perlakuan dapat

diketahui dengan menggunakan uji beda nyata terkecil, dan BETN tertinggi diperoleh

dengan perlakuan C5.

Gambar 7 menunjukkan kecenderungan grafik yang meningkat dari C1 sampai C5

pada substrat sebelum difermentasi maupun pada substrat sesudah difermentasi.

Kandungan BETN semakin meningkat dengan semakin bertambahnya onggok pada

substrat. Hal ini karena kandungan BETN onggok lebih tinggi dibandingkan ampas tahu

(78,75% dibanding 47,54%). Substrat dengan imbangan onggok yang tinggi akan

menghasilkan kandungan karbohidrat yang tinggi pula, dimana kandungan BETN dalam

substrat dapat dilihat dari kandungan karbohidratnya. Hal ini sesuai dengan Anggorodi

(1979) bahwa BETN meliputi karbohidrat, gula, pati dan sebagian besar dari zat-zat yang

digolongkan sebagai hemiselulosa dalam bahan makanan. BETN dapat dikatakan sebagai

karbohidrat yang mudah larut, berkebalikan dengan serat kasar yang merupakan

polisakarida yang tidak dapat larut.


100 (+1.96%)
(-3.69%)
80 (-20.15%) (-4.40%) (-11.99%)

BETN (%)
60
40
b c d e
20 a

0
C1 C2 C3 C4 C5
Perlakuan

Sebelum fermentasi Sesudah fermentasi

Gambar 7. Grafik rataan kandungan BETN sebelum dan sesudah fermentasi.


Gambar 7 menunjukkan bahwa pada perlakuan C1, C2, C3, dan C4 kandungan

BETN mengalami penurunan dengan persentase penurunan masing- masing sebesar

20,15 %, 4,40 %, 11,99 %, dan 3,69 %. Persentase penurunan BETN tertinggi adalah

pada perlakuan C1 (20,15 %).

Penurunan kandungan BETN pada substrat sesudah difermentasi disebabkan

karena terjadinya degradasi BETN sebagai sumber energi mikroorganisme. Hal ini

sejalan dengan hasil penelitian Van Veen (1968) yang dikutip oleh Rusdi (1992) bahwa

pada pembuatan oncom dari tepung kacang tanah sebelum difermentasi kadar karbohidrat

26,20 % dan setelah mengalami proses fermentasi berkurang menjadi 17,25 %.

Dari hasil penelitian secara keseluruhan menunjukkan bahwa serat kasar

cenderung mengalami penurunan dari perlakuan C1 sampai dengan C5 sedangkan BETN

mengalami peningkatan, hal ini membuktikan bahwa kandungan BETN dan SK

berbanding terbalik, semakin banyak kandungan SK dalam substrat maka kandungan

BETN semakin turun.

4.7 Pengaruh Perlakuan Terhadap Kandungan Protein Terlarut


Tabel 4 menunjukkan rataan kandungan protein terlarut tertinggi pada perlakuan

C2 (10,25 ± 0,21 %), kemudian diikuti oleh C1 (10,17 ± 0,08 %), C5 (10,14 ± 0,06 %),

C3 (10,07 ± 0,13 %) dan C4 (10,05 ± 0,10 %), untuk mengetahui pengaruh perlakuan

dilakukan analisis statistik.

Hasil analisis peragam (Lampiran 11) menunjukkan bahwa perlakuan

memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap kandungan protein

terlarut produk fermentasi Jika dilanjutkan dengan analisis ragampun juga memberikan

pengaruh yang tidak berbeda nyata. Hal ini mengindikasikan bahwa imbangan ampas

tahu dan onggok yang membawa konsekuensi pada berubahnya imbangan unsur N dan C

dalam substrat tidak mempengaruhi protein terlarut produk hasil fermentasi.

Gambar 8 menunjukkan bahwa pada substrat sebelum difermentasi cenderung

mengalami peningkatan dari C1 sampai C5, sedangkan pada substrat sesudah

difermentasi menunjukkan kecenderungan grafik yang lurus. Kandungan protein terlarut

sesudah difermentasi pada perlakuan C1, C2, C3, C4 dan C5 mengalami peningkatan

dibanding sebelum difermentasi dengan persentase peningkatan berturut-turut adalah

6,34 %, 7,67 %, 5,22%, 4,36% dan 5,08 %.

10.4 (+6.34%) (+7.67%) (+5.22%) (+4.36%) (+5.08%)


Protein terlarut (%)

10.2
10
9.8
9.6
9.4
9.2
9
C1 C2 C3 C4 C5
Perlakuan

Sebelum fermentasi Sesudah fermentasi

Gambar 8. Grafik rataan kandungan protein terlarut sebelum dan sesudah fermentasi
Peningkatan protein terlarut disebabkan selama fermentasi terdapat aktivitas

proteolitik kapang yang menguraikan protein menjadi asam-asam amino yang

mengakibatkan peningkatan nitrogen terlarut. Menurut Haris dan Endel (1989) selama

fermentasi kelarutan protein dapat mencapai 50%. Makin lama fermentasi maka makin

banyak bahan organik komplek yang dimanfaatkan oleh mikroba untuk dirubah menjadi

produk sampai batas tertentu. Natsir dan Djunaidi (2001) menyatakan bahwa protein

terlarut yang dihasilkan menggambarkan produk fermentasi yang dihasilkan, sehingga

dengan semakin meningkatnya protein terlarut maka semakin banyak protein yang

berbetuk peptida yang mempunyai berat molekul rendah dan asam amino bebas.

4.8 Pengaruh Perlakuan Terhadap Kandungan Gula reduksi

Tabel 4 menunjukkan bahwa kandungan gula reduksi tertinggi adalah pada C2

(20,04 ± 0,41 %), kemudian diikuti oleh C1 (19,82 ± 0,15 %), C4 (19,58 ±

0,19 %), C5 (19,23 ± 0,11 %) dan C3 (19,21 ± 0,24 %), untuk mengetahui pengaruh

perlakuan dilakukan analisis statistik.

Hasil analisis peragam (Lampiran 12) menunjukkan imbangan ampas tahu dan

onggok berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap kandungan gula reduksi. Perbedaan

pengaruh diantara perlakuan dapat diketahui dengan menggunakan uji beda nyata

terkecil, dan menunjukkan bahwa kandungan gula reduksi pada perlakuan C2 yang

paling tinggi.
25 (+20.25%) (+19.64%) (+59.55%) (+12.92%) (+9.51%)

Gula reduksi (%)


20
15
10
5 c d a b a
0
C1 C2 C3 C4 C5
Perlakuan
Sebelum fermentasi Sesudah fermentasi

Gambar 9. Grafik rataan kandungan gula reduksi sebelum dan sesudah fermentasi.
Gambar 9 menunjukkan kecenderungan grafik yang lurus dari C1 sampai C5 pada

substrat sebelum difermentasi maupun pada substrat sesudah difermentasi. Kandungan

gula reduksi dari C1 sampai C5 sesudah difermentasi meningkat dibanding sebelum

difermentasi. Persentase peningkatan pada C1 sampai C5 berturut-turut adalah 20,25 %,

19,64 %, 59,55 %, 12,92 % dan 9,51 %.

Peningkatan kandungan gula reduksi ini disebabkan karena adanya degradasi pati

dalam substrat. Hal ini sesuai dengan pendapat Suliantari (1990) bahwa selama

fermentasi akan terjadi aktivitas enzim alfa dan beta amilase yang akan menguraikan pati

dari bahan baku menjadi gula-gula pereduksi. Menurut Purnomo dan Adiono (1987)

bahwa selama proses fermentasi pati dihidrolisis menjadi gula sederhana sehingga kadar

gula reduksi menjadi meningkat. Fermentasi menyebabkan karbohidrat lebih mudah

dihidrolisis sehingga gula reduksi akan meningkat akibatnya daya cerna juga meningkat.
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa fermentasi tidak mengubah

kandungan zat makanan campuran ampas tahu dan onggok pada berbagai level termasuk

protein terlarut dan gula reduksi.

5.2 Saran

Tidak perlu dilakukan fermentasi karena pada proses fermentasi tidak merubah

kandungan zat makanan.


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pakan merupakan komponen biaya tertinggi dalam usaha peternakan yang

dikelola secara intensif. Ketersediaan bahan pakan berkualitas yang terbatas

dibandingkan dengan jumlah yang dibutuhkan, menyebabkan Indonesia harus

mengimpor komponen tersebut dari negara lain. Ketergantungan akan komponen bahan

pakan penyusun ransum unggas impor yang semakin mahal adalah salah satu penyebab

terpuruknya industri perunggasan dewasa ini. Oleh karena itu dalam upaya meningkatkan

produktivitas ternak perlu dilakukan upaya mencari sumber pakan baru/alternatif sebagai

pakan ternak pengganti yang harganya murah, tidak bersaing dengan kebutuhan manusia,

mudah didapat dan berkualitas.

Ampas tahu merupakan limbah pabrik dalam jumlah berlimpah yang tidak

bersaing dengan kebutuhan manusia dan belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai

pakan ternak. Ampas tahu disamping mengandung protein (21,3 – 27,0 %) dan lemak

cukup tinggi (4,5 – 17,0 %), juga mengandung serat kasar yang tinggi (sekitar 16 – 23 %)

yang perlu dipertimbangkan pemakaiannya dalam pakan unggas karena sulit dicerna

(Kompiang et al., 1997).

Onggok yang berasal dari ubi singkong merupakan limbah padat dari pengolahan

tepung tapioca dan juga belum secara maksimal dimanfaatkan sebagai bahan pakan

ternak. Onggok sebagai ampas pati singkong yang masih mengandung karbohidrat, dapat

dimanfaatkan sebagai sumber energi. Kandungan zat makanan yang terkandung dalam

onggok adalah protein 3,6 %, lemak 2,3 %, air 20,3 %, abu 4,4 %, energi metabolis 3000
kkal/kg dan mengandung sianida yang tinggi (Anonimus,2005a ; Abidin, 1997).

Upaya peningkatan kandungan zat makanan dan penurunan kandungan zat

antinutrisi pada onggok salah satunya adalah melalui teknologi fermentasi dengan

Neurospora sp (Kompiang et al.,1997). Menurut Ganjar (1983) fermentasi adalah suatu

proses perubahan bahan kimiawi dari senyawa-senyawa organik (karbohidrat, lemak,

protein dan bahan organik lain) baik dalam keadaan aerob maupun anaerob melalui kerja

enzim yang dihasilkan oleh mikroba. Manfaat fermentasi antara lain dapat mengubah

bahan organik kompleks seperti protein, karbohidrat dan lemak menjadi molekul-molekul

yang lebih sederhana dan mudah dicerna, mengubah rasa dan aroma yang tidak disukai

menjadi disukai, mensintesis protein, mempercepat pematangan dan meningkatkan daya

tahan (Shurt Leff dan Ayogi,1979 dalam Rusdi, 1992).

Setiap jenis mikroba membutuhkan medium tertentu untuk proses fermentasi

(Rachman, 1989), khususnya N dan C. Kombinasi onggok dan ampas tahu diharapkan

merupakan metode sederhana yang aplikatif dalam rangka menemukan media yang cocok

untuk pembiakan ragi oncom. Jika fermentasi tersebut berhasil meningkatkan zat

makanan secara signifikan, maka hal ini bisa menjadi bahan pakan alternatif yang

potensial di masa yang akan datang.

1.2 Rumusan Masalah

Permasalahan yang dapat dirumuskan dalam penelitian ini adalah bagaimana

pengaruh imbangan ampas tahu dan onggok terhadap kandungan zat makanan produk

fermentasinya dengan ragi oncom.

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh imbangan ampas tahu dan
onggok terhadap kandungan zat makanan produk fermentasinya dengan ragi oncom.

1.4 Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah tentang

pengaruh imbangan ampas tahu dan onggok yang difermentasi dengan ragi oncom.

1.5 Kerangka Pikir

Ampas tahu selain memiliki potensi sebagai pakan ternak juga memiliki kendala,

sehingga dalam penerapannya memerlukan penanganan secara khusus untuk

meningkatkan utilisasi zat makanan dari bahan pakan tersebut. Ampas tahu disamping

mengandung protein 21,3 – 27,0 % dan kandungan lemak yang cukup tinggi yaitu 4,5 –

17,0 %, kandungan serat kasarnya juga tinggi yaitu sekitar 16 – 23 %. Serat kasarnya

dalam pakan unggas merupakan zat makanan yang sulit dicerna (Kompiang et al.,1997).

Onggok yang berasal dari ubi singkong merupakan limbah padat dari pengolahan

tepung tapioka. Onggok mengandung protein 3,6 %, lemak 2,3 %, air 20,3 % dan abu

4,4 % (Anonimus,2005a). Potensi dari onggok sebagai bahan pakan bagi ternak sangat

guna memasok kebutuhan energi. Namun keterbatasan dalam penyedia N mungkin secara

praktis bisa dikombinasi dengan ampas tahu.

Setiap jenis mikroba membutuhkan medium tertentu untuk berlangsungnya proses

fermentasi (Rachman,1989). Medium fermentasi/substrat yang baik untuk perkembangan

mikroba harus menyediakan semua zat makanan yang dibutuhkan oleh mikroba untuk

memperoleh energi, pertumbuhan, bahan pembentuk sel dan biosintesa produk

metabolisme. Medium fermentasi tersebut dapat berfungsi sebagai sumber C, N dan

beberapa unsur mineral pokok. Penggunaan kombinasi ampas tahu dan onggok

diharapkan dapat menjadi bahan yang kaya energi dan mengandung PK yang juga cukup
tinggi. Hal ini mungkin akan menjadi makin efektif bila campuran tersebut digunakan

sebagai medium untuk pertumbuhan ragi oncom. Mikroba yang biasanya digunakan

sebagai inokulan untuk pembuatan oncom ini diusulkan karena memiliki aktivitas

enzimatik dan mampu memperkaya kandungan zat makanan substrat.

Sebagaimana dilaporkan dalam penelitian sebelumnya bahwa fermentasi ampas

tahu dengan ragi yang mengandung kapang menghasilkan ampas tahu fermentasi dengan

kandungan protein kasar 21,66 %, lemak kasar 2,73 %, serat kasar 20,26 %, Ca 1,09 %, P

0,88 %, dengan energi metabolis sebesar 2.830 kkal/kg, serta mengandung asam amino

lisin dan methionin serta vitamin B komplek yang cukup tinggi (Anonimus, 2005a).

Informasi tentang imbangan ampas tahu dan onggok yang difermentasi dengan ragi

oncom belum ada, oleh sebab itu diperlukan penelitian tentang pengaruh imbangan

ampas tahu dan onggok dalam fermentasi dengan menggunakan ragi oncom terhadap

kandungan zat makanan produk yang dihasilkan.

1.6 Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini adalah imbangan ampas tahu dan onggok yang

difermentasi dengan menggunakan ragi oncom dapat meningkatkan kandungan zat

makanan dari produk fermentasi.


BAB III

MATERI DAN METODE

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September sampai dengan Oktober 2006

bertempat di:

1. Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas

Brawijaya, sebagai tempat pelaksanaan fermentasi dan analisis kandungan zat

makanan berdasarkan analisis proksimat.

2. Laboratorium Biokimia Universitas Muhamadiyah Malang, sebagai tempat

pelaksanaan analisis kandungan gula reduksi dan protein terlarut.

3.2 Materi Penelitian

1. Ampas tahu

Ampas tahu berasal dari limbah industri pembuatan tahu yang diperoleh dari

Pabrik Tahu di Desa Beji, Kotatif Batu. Ampas tahu ini digunakan dalam bentuk basah

sebagai media dalam fermentasi padat. Kandungan zat makanan anpas tahu dapat dilihat

pada Tabel 3.

2. Onggok

Onggok merupakan hasil samping dari industri tepung tapioka yang diperoleh

dari Pabrik tepung tapioka Desa Bumiaji, Kotatif Batu, digunakan dalam bentuk basah

sebagai campuran ampas tahu dalam substrat pada fermentasi padat. Kandungan zat

makanan onggok dapat dilihat pada Tabel 3.


3. Inokulum

Inokulum yang digunakan adalah ragi oncom yang diperoleh dari penjual oncom

di Bandung.

4. Peralatan yang digunakan

Peralatan yang digunakan di dalam penelitian ini antara lain:

a. Timbangan analitik dan timbangan digital


b. Alat untuk mengukus
c. Baki plastik
d. Plastik klip untuk tempat sampel
e. Seperangkat alat analisis proksimat
f. Oven
g. Grinder

Tabel 3. Kandungan zat makanan ampas tahu dan onggok (% BK)


Zat Makanan (%) Ampas Tahu Onggok
Bahan Organik 95,11 98,53
Protein Kasar 16,53 1,35
Serat Kasar 22,86 17,62
Lemak Kasar 8,18 0,82
BETN 47,54 78,75
Keterangan: Hasil analisis proksimat laboratorium nutrisi dan makanan ternak Universitas Brawijaya
Malang.
1.3 Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah percobaan

laboratorium dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang

digunakan dalam penelitian ini adalah 5 perlakuan dengan 4 ulangan. Perlakuannya

adalah sebagai berikut:

C1 = Ampas tahu 100% : Onggok 0%


C2 = Ampas tahu 75%: Onggok 25%
C3 = Ampas tahu 50%: Onggok 50%
C4 = Ampas tahu 25% : Onggok 75%
C5 = Ampas tahu 0 % : Onggok 100%

Prosedur fermentasi yang dilakukan yaitu ampas tahu dan onggok dikukus

masing-masing selama ±10 - 5 menit dan ± 20 - 25 menit kemudian didinginkan /


diangin-anginkan (dipastikan hingga tidak beruap). Setelah itu kedua bahan tersebut

diletakkan pada baki kecil dan dicampur hingga merata, baru ditambahkan inokulum

sebanyak 2,5 % b/b (5 gram). Berat total substrat masing-masing perlakuan adalah 200

gram dengan ketebalan ± 2 cm. Inkubasi dilakukan selama 72 jam (waktu inkubasi

berdasarkan hasil pra penelitian yang terbaik) pada suhu ruang 25 – 30 0C. Setelah 72

jam bahan dikeringkan dalam oven dengan suhu 60 0C, lalu digiling dengan

menggunakan grinder dan siap dianalisa. Prosedur penelitian secara skematis bisa dilihat

pada Lampiran 1.

3.4 Variabel Penelitian

Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah

1. Kandungan zat makanan berdasarkan analisis proksimat yang meliputi bahan kering

(%), bahan organik (%), protein kasar (%), serat kasar (%),lemak kasar (%), dan

bahan ekstrak tanpa nitrogen (%).

2. Protein terlarut (%) dan gula reduksi (%).

3.5 Analisis Statistik

Data yang didapat dari penelitian dianalisis berdasarkan analisis peragam

(ANKOVA) dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL). Model analisis yang digunakan

menurut Gaspersz (1991) adalah :


___

Y = μ +τ i + β (X − X .. ) + ε ij
ij ij
;

i = 1,…, 5
j = 1,…, 4

dimana :
Y ij
= nilai pengamatan pada perlakuan ke-I ulangan ke-j
μ = nilai tengah umum

τ i = pengaruh perlakuan ke-I

β = koefisien regresi yang menunjukkan ketergantungan Y ij pada

Χ ij

Χ ij
= peubah pengiring bebas dari perlakuan ke-i pada ulangan ke-j

yang berkaitan dengan Y ij

___
Χ .. = nilai rata-rata peubah bebas

ε ij
=kesalahan (galat) percobaan pada perlakuan ke-I ulangan ke-j

Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) dilakukan apabila peragam nyata / sangat nyata,

tetapi jika peragam tidak nyata dilanjutkan dengan analisis ragam kemudian apabila

diantara perlakuan berbeda nyata / sangat nyata dilanjutkan dengan BNT (Steel and

Torrie, 1995). Hasil penelitian ini juga didukung dengan pembahasan secara deskriptif

dengan menggunakan grafik.

3.6 Batasan Istilah

1. Ampas Tahu : limbah padat yang merupakan hasil samping dari pengolahan tahu.

2. Onggok : limbah padat yang merupakan hasil samping dari pengolahan tepung

tapioka.

3. Fermentasi : perubahan kimiawi yang terjadi pada suatu bahan sebagai akibat dari

aktivitas suatu enzim dari mikroorganisme.


PENGARUH IMBANGAN AMPAS TAHU DAN ONGGOK
YANG DIFERMENTASI DENGAN RAGI ONCOM TERHADAP
KANDUNGAN ZAT MAKANAN

SKRIPSI

Oleh :
Margaretha Mildayani
0310520043

JURUSAN NUTRISI DAN MAKANAN TERNAK


FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2007
PENGARUH IMBANGAN AMPAS TAHU DAN ONGGOK
YANG DIFERMENTASI DENGAN RAGI ONCOM TERHADAP
KANDUNGAN ZAT MAKANAN
SKRIPSI

Oleh :
Margaretha Mildayani
0310520043

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana
pada Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya

JURUSAN NUTRISI DAN MAKANAN TERNAK


FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2007
PENGARUH IMBANGAN AMPAS TAHU DAN ONGGOK
YANG DIFERMENTASI DENGAN RAGI ONCOM TERHADAP
KANDUNGAN ZAT MAKANAN

SKRIPSI

Oleh :
Margaretha Mildayani
0310520043

Telah dinyatakan lulus dalam Ujian Sarjana


Pada Hari/Tanggal : ……………

Menyetujui:
Susunan Tim Penguji

Pembimbing Utama Anggota Tim Penguji

Dr. Ir. Eko Widodo, M.Agr.Sc.MSc Ir. Surisdiarto, M. Rur. Sc


Tanggal: Tanggal:

Pembimbing Pendamping

M. Halim Natsir, SPt. MP.


Tanggal :

Malang,
Universitas Brawijaya
Fakultas Peternakan
Dekan

Prof. Dr. Ir. Hartutik, MP


Tanggal:
KUMPULAN ARTIKEL
JURUSAN NUTRISI DAN MAKANAN TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2007
RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Rembang - Jawa Tengah pada tanggal 18 Februari 1985.

Penulis merupakan anak bungsu dari pasangan Bapak Andreas Yuni Hardi dan Ibu Sri

Utami Lestari. Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD Wijaya Kusuma Lasem

pada tahun 1997. Penulis melanjutkan pendidikan menengah pertama di SLTP Negeri 1

Lasem dan menyelesaikan pada tahun 2000. Penulis menyelesaikan pendidikan

menengah atas di SMU Negeri 1 Rembang pada tahun 2003. Pada tahun 2003 penulis

diterima sebagai mahasiswa S1 Universitas Brawijaya Jurusan Nutrisi dan Makanan

Ternak lewat jalur Penjaringan Siswa Berprestasi (PSB). Selama menempuh pendidikan

di Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya penulis aktif dalam organisasi PTM

Unibraw (Unit Aktivitas Tenis Meja Universitas Brawijaya) dan sempat menjabat

sebagai pengurus selama dua periode kepengurusan, yaitu pada periode 2005 menjabat

sebagai Anggota bidang Personalia dan pada periode 2006 sebagai Sekretaris Umum.

Prestasi yang pernah diraih antara lain Juara I PORSIS MABA Cabang Tenis Meja

Tunggal Putri Tahun 2004, Juara II PORSIS MABA Cabang Tenis Meja Beregu

Campuran Tahun 2004, dan Juara III OLIMPIADE BRAWIJAYA Cabang Tenis Meja

Beregu Putri Tahun 2006. Penulis pernah menerima beasiswa Peningkatan Prestasi

Akademik (PPA) periode 2006 – 2007.

KATA PENGANTAR
Sujud syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan karuniaNya

kepada penulis hingga penulis dapat menyelesaikan penulisan laporan skripsi dengan

judul ”Pengaruh Imbangan Ampas Tahu dan Onggok yang Difermentasi dengan Ragi

Oncom Terhadap Kandungan Zat makanan”. Penulis juga mengucapkan terimakasih

kepada :

1. Bapak Dr. Ir. Eko Widodo, M. Agr. Sc. MSc atas saran, waktu dan kesabarannya

dalam membimbing penulis dalam menyusun skripsi ini.

2. Bapak M. Halim Natsir, SPt. MP selaku pembimbing pendamping atas bimbingan,

saran, nasehat yang telah diberikan hingga terselesaikannya skripsi ini.

3. Bapak Dr. Ir. Osfar Sjofjan, M.Sc atas kesempatan yang telah diberikan kepada

penulis untuk ikut dalam penelitian ini, terimakasih pula atas semua motivasi dan

arahannya selama ini.

4. Bapak Ir. Surisdiarto, M.Rur.Sc. selaku dosen penguji yang telah bersedia

meluangkan waktu untuk penulis dalam menguji dan penulisan skripsi.

5. Ibu Ir. Herni Sudarwati, MS selaku pembimbing akademik atas semua bantuan,

bimbingan dan arahan hingga terselesaikannya studi penulis di Fakultas Peternakan

Universitas Brawijaya Malang.

6. Bapak Ngatuwin yang telah banyak membantu penulis dalam pengurusan

administrasi selama penulis berada di Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak.

7. Bapak Mahfud dan Bapak Sugiono atas semua bantuan dan bimbingannya selama

penulis mengadakan penelitian di Laboratorium Jurusan Nutrisi dan Makanan

Ternak.

8. IBUNDA TERCINTA terimakasih atas semua pengorbanan, doa dan dukungan tanpa
batas yang telah diberikan hingga akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

9. Teman-teman satu penelitian (NEURO CREW), teman-teman satu angkatan

(NMT’03), terimakasih atas motivasi dan dukungannya.

10. COMAGASI CREW terimakasih atas motivasi, semangat, dukungan, kekompakan

dan semuanya yang telah diberikan.

Penulis berharap semoga tulisan ini dapat bermanfaat dalam menambah

pengetahuan dan wawasan bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya.

Malang, April 2007

Penulis

ABSTRACT

EFFECT OF RATIO BETWEEN TOFU BY – PRODUCT AND


TAPIOCA WASTE FERMENTED BY ONCOM YEAST
ON NUTRIENT COMPOSITION

The research was aimed to evaluate effect of ratio between tofu by–
product and tapioca waste fermented by oncom yeast on nutrient composition. Materials
used were tofu by-product, tapioca waste, and oncom yeast. This experiment was
arranged in a Completely Randomized Design with 5 treatment namely C1(100% TBP +
0 % TW), C2 (75 % TBP + 25 % TW), C3 (50 % TBP + 50 % TW), C4 (25 % TBP + 75
% TW), C5 (0 % TBP + 100 % TW). Each treatment was repeated 4 times. Variables
observed were Dry Matter (DM), Organic Matter (OM), Crude Protein (CP), Crude
Fibre (CF), Ether Extract (EE), Nitrogen Free Extract (NFE), soluble protein and
reducing sugar. The result of this research showed that DM, OM, CP, CF, EE,
NFE, and soluble protein content were not significantly (P>0,05) affected by ratio
between tofu by-product and tapioca waste, but reducing sugar were affected very
significantly (P<0,01). Fermentation were not change the nutrient composition mixing of
tofu by-product and tapioca waste in each level include soluble protein and reduction
sugar.
Keywords : Tofu by-product, tapioca waste, oncom yeast, nutrient composition.

RINGKASAN

PENGARUH IMBANGAN AMPAS TAHU DAN ONGGOK YANG


DIFERMENTASI DENGAN RAGI ONCOM TERHADAP
KANDUNGAN ZAT MAKANAN

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September sampai dengan Oktober 2006 di
Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya
dan Laboratorium Biokimia Universitas Muhamadiyah Malang. Tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui pengaruh imbangan ampas tahu dan onggok yang difermentasi
dengan ragi oncom terhadap kandungan zat makanan.

Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah ampas tahu (AT) yang
didapatkan dari Pabrik Tahu di Desa Beji, Kotatif Batu, onggok yang didapatkan dari
Desa Bumiaji, Kotatif Batu, ragi oncom yang didapatkan dari penjual oncom di Bandung.
Metode penelitian yang digunakan adalah percobaan laboratorium dengan menggunakan
Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Adapun imbangan
yang digunakan adalah C1(100% AT + 0 % Onggok), C2 (75 % AT + 25 % Onggok), C3
(50 % AT + 50 % Onggok), C4 (25 % AT + 75 % Onggok), C5 (0 % AT + 100 %
Onggok). Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah Bahan Kering (BK), Bahan
Organik (BO), Protein Kasar (PK), Serat Kasar (SK), Lemak Kasar (LK), BETN, Protein
terlarut, dan Gula reduksi. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis
peragam (ANKOVA), apabila terdapat perbedaan dilakukan uji lanjut dengan
menggunakan Uji beda nyata terkecil (BNT).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa imbangan ampas tahu dan onggok pada
fermentasi dengan menggunakan ragi oncom memberikan pengaruh yang tidak nyata (P>
0,05) terhadap kandungan BK, BO, PK, SK, LK, BETN dan protein terlarut, tetapi
memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap kandungan gula reduksi.
Persentase penurunan BK tertinggi pada perlakuan C5 (3 %). Persentase penurunan BO
tertinggi pada C1 (0,25 %). Persentase peningkatan PK tertinggi pada C3 (67,83 %).
Penurunan SK terjadi pada C5 dengan persentase penurunan (14,13 %). Persentase
penurunan LK tertinggi pada C2 (64,87 %). Persentase penurunan BETN tertinggi pada
C1 (20,15 %). Persentase peningkatan protein terlarut tertinggi pada C2 (7,67 %).
Persentase peningkatan gula reduksi tertinggi pada C3 (59,55%).

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa fermentasi tidak mengubah


kandungan zat makanan campuran ampas tahu dan onggok pada berbagai level termasuk
protein terlarut dan gula reduksi. Tidak perlu dilakukan fermentasi karena pada proses
fermentasi tidak merubah kandungan zat makanan.

DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PENGESAHAN iii

RIWAYAT HIDUP iv

KATA PENGANTAR v

ABSTRACT vii

RINGKASAN viii

DAFTAR ISI ix

DAFTAR TABEL x
DAFTAR GAMBAR xi

DAFTAR LAMPIRAN xii

BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 2
1.3 Tujuan Penelitian 3
1.4 Kegunaan Penelitian 3
1.5 Kerangka Pikir 3
1.6 Hipotesis 4

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Ampas tahu 5
2.2 Onggok 6
2.3 Kapang oncom merah (Neurospora sitophila) 9
2.4 Fermentasi 11

BAB III. MATERI DAN METODE


3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 16
3.2. Materi Penelitian 16
3.3. Metode Penelitian 17
3.4. Variabel Penelitian 18
3.5. Analisis Statistik 18
3.6. Batasan Istilah 19
Halaman

V. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Pengaruh Perlakuan Terhadap Kandungan Bahan Kering 20
4.2 Pengaruh Perlakuan Terhadap Kandungan Bahan Organik 22
4.3 Pengaruh Perlakuan Terhadap Kandungan Protein Kasar 23
4.4 Pengaruh Perlakuan Terhadap Kandungan Serat Kasar 26
4.5 Pengaruh Perlakuan Terhadap Kandungan Lemak Kasar 28
4.6 Pengaruh Perlakuan Terhadap Kandungan BETN 30
4.7 Pengaruh Perlakuan Terhadap Kandungan Protein Terlarut 32
4.8 Pengaruh Perlakuan Terhadap Kandungan Gula Reduksi 33

V. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1. Kesimpulan 36
5.2. Saran 36

DAFTAR PUSTAKA 37
LAMPIRAN 41

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Kandungan zat makanan ampas tahu (% BK) 6

2. Kandungan zat makanan, HCN dan gula terlarut onggok (% BK) 8

3. Kandungan zat makanan ampas tahu dan onggok (% BK) 17

4. Rataan kandungan zat makanan produk fermentasi menggunakan


substrat dengan imbangan ampas tahu dan onggok yang berbeda
(%BK). 20
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Neurospora sitophila 10

2. Grafik rataan kandungan bahan kering sebelum dan sesudah


fermentasi 21

3. Grafik rataan kandungan bahan organik sebelum dan sesudah


fermentasi 23

4. Grafik rataan kandungan protein kasar sebelum dan sesudah


fermentasi 25

5. Grafik rataan kandungan serat kasar sebelum dan sesudah


fermentasi 27

6. Grafik rataan kandungan lemak kasar sebelum dan sesudah


fermentasi 29

7. Grafik rataan kandungan BETN sebelum dan sesudah


fermentasi 31

8. Grafik rataan kandungan protein terlarut sebelum dan sesudah


fermentasi 33

9. Grafik rataan kandungan gula reduksi sebelum dan sesudah


fermentasi 34

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Prosedur penelitian pengaruh imbangan ampas tahu dan onggok


yang difermentasi dengan ragi oncom terhadap kandungan
zat makanan 41

2. Prosedur analisis proksimat menurut petunjuk


Sudarmadji (1989) 42

3. Penentuan kandungan protein terlarut (Sudarmadji, 1989) 47

4. Penentuan kandungan gula reduksi (Sudarmadji, 1989) 48

5. Analisis peragam antara kandungan bahan kering (BK)


sebelum dan sesudah fermentasi (%) .. 49

6. Analisis peragam antara kandungan bahan organik (BO)


sebelum dan sesudah fermentasi (%) .. 52

7. Analisis peragam antara kandungan protein kasar (PK) sebelum


dan sesudah fermentasi (%) .. 53

8. Analisis peragam antara kandungan serat kasar (SK)


sebelum dan sesudah fermentasi (%) .. 55

9. Analisis peragam antara kandungan lemak kasar (LK) sebelum


dan sesudah fermentasi (%) .. 57

10. Analisis peragam antara kandungan BETN sebelum dan


sesudah fermentasi (%) .. 59

11. Analisis peragam antara kandungan protein terlarut sebelum


dan sesudah fermentasi (%) .. 61

12. Analisis peragam antara kandungan gula reduksi sebelum dan


sesudah fermentasi (%) .. 63
DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Z. 1997. Pengaruh Tingkat Penggantian Ransum Komersial dengan Campuran


Gamblong dan DPW Terfermentasi oleh Rhizopus oligosporus yang Dikukus
Terhadap Retensi Nitrogen dan Kecernaan Bahan Organik pada Ayam
Pedaging Periode Finisher. Skripsi. Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak.
Fakultas Peternakan Universitas Islam Malang. Malang.

Aisjah, T. 1995. Biokonversi Limbah Umbi Singkong Menjadi Bahan Pakan Sumber
Protein oleh Jamur Rhizopus sp. Serta Pengaruhnya Terhadap Pertumbuhan
Ayam Pedaging. Tesis Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran.
Bandung.

Amri, K. 1998. Bioteknologi Penangkal Bau. http://www.indonesia.com/intisari/


1998/desember/halhi.htm. Diakses tanggal 25 Juni 2006.

Anggorodi, R. 1979. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT. Gramedia. Jakarta.

Anonimus. 2005a Bahan Alternatif Pakan Dari Hasil Samping Industri Pangan.
http://www.chem-is-try.org/?sect=folus & ext=15.

_________. 2005b . Ampas Tahu.. http://id.PoultryIndonesiaOnline.com. Diakses tanggal


23 Juni 2006

_________. 2006a. Bahan Pakan Dari Hasil Ikutan Industri pangan.http//mangla


yang.blogsome.com/2006/04/21/terminologi-bahan-pakan-dari-hasil-ikutan-
indusri-pangan/. Diakses tanggal 25 Juni 2006.

_________. 2006b. Neurospora sitophila, Monilia sitophila. http://schimmel-


schimmelpilze.de/schimmelpilz/neurospora-sitophila.html. Diakses tanggal 20
Juni 2006.

_________. 1998. Untung Rugi Menggunakan Pakan Alternatif. Infovet. Edisi


058.Hal.20-22.

Ardhana, M. 1982. The Mikrobial Ecology of Tape Ketan Fermentation. Thesis. The
University of New South Wales. Sydney.

Aryogi, D.B. Wijono, U. Umiyasih dan A. Rasyid. 2001. Pengkajian Teknologi


Pemanfaatan Cassapro Sebagai Pakan Sapi Perah Yang Efisien Pada Skala
Usaha Peternakan Rakyat. http://www.bptp-jatim
deptan.go.id/Templates/PENGKAJIAN%20TEKNOLOGI%
20PEMANFAATAN%20CASSAPRO%20SEBAGAI.htm. Diakses tanggal
25 Juni 2006.

Dewi. 2006. Onggok Untuk Bahan Pakan.http://poultryindonesia.com/ modules.


php.?name=News&file=article&sid=839. Diakses tanggal 25 juni 2006.

Gandjar,I. 1983. Perkembangan Mikrobiologi dan Bioteknologi di Indonesia.


Mikrobilogi di Indonesia. PR HIMJ.PP.422-424.

Gaspersz, V. 1991. Metode Perancangan Percobaaan. CV. ARMICO. Bandung.

Ginandjar, I. 1977. Fermentasi Biji Mucuna proriens DC dan Pengaruhnya Terhadap


Kualitas Protein. Disertasi. IPB. Bandung.

Harris, R. S. dan K. Endel. 1989. Evaluasi Gizi pada Pengelolaan Bahan Pangan. ITB.
Bandung.

Haryanto, B. 1993. Penggunaaan Ampas Tahu Dalam Pakan Penggemukan Domba.


Dalam: Domba dan Kambing Untuk Kesejahteraan Masyarakat. B Hariyanto,
I. K. Sutama, B. Sudaryanto, A. Djajanegara (eds.). Hal. 62-63. ISPI Cab
Bogor, Bogor.

Imai, A., Y. Miyakoshi, M. Seki dan W. Oyamagi. !996. Utilization of ”Tofu Cake” as an
ingredient of Mixed Feed in Fattening Holstein Steers. Procs. 8th AAAP
Anim. Sci. Cong. Pp. 886-887. Japanese Soc Zootech. Sci. Tokyo. Japan.

Judoamidjojo,M., A. D. Abdul dan G. S. Endang. 1990. Teknologi Fermentasi. ITB.


Bandung.

Karmas, E. And R.S. Harris.1997.Nutritional Evaluation of Food Processing third


edition. An Avi Published by Van Nostrand Reinhold. New York.

Kompiang, L.P; T. Purwadaria, T. Haryati, dan Supriyati. 1997. Bioconversion of Sago


(Metroxylon sp) Waste Current Status of Agricultural Biotechnology in
Indonesia. A. Darusman, LP kampiang and S. Moeljopawiro (editors).AARD
Indonesia PP.523-526.

Mahfudz, L.D. 2006. Efektifitas Oncom Ampas Tahu sebagai Bahan Pakan Ayam
Pedaging. Animal Produktion Vol. 8. Fakultas Peternakan Universitas
Diponegoro. Semarang.

Mathius, I. W dan A. P. Sinurat. 2001. Pemanfaatan Bahan Pakan Inkonvensional Untuk


Ternak. WARTAZOA Vol. 11 No. 2 2001. Balai penelitian Ternak. Bogor.

Muchtadi, D., N. S. Palupi, M. Astawan. 1992. Enzim dalam Industri Pangan.


Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan
Tinggi Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi IPB. Bogor.
Natsir, M. H. dan I. H. Djunaidi. 2001. Pengaruh Fermentsi Terhadap Kualitas Protein
Campuran Dedak Padi dan Limbah Udang. Jurnal Ilmu-ilmu Peternakan.
Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. Malang. September. Vol. 11:3.

Nur, S. Y., D. Ade dan F. L. Yose. 1997. Penggunaan Biokonversi Ampas Tahu dengan
Laru Tempe dalam Ransum Broiler. ProsSem. Nas. II Ilmu Nutrisi dan
Makanan Ternak. Fapet IPB, Bogor. Hal. 1134-114.

Nurhayati. 2005. Evaluasi Nutrisi Campuran Bungkil Inti Sawit dan Onggok yang
Difermentasi Menggunakan Aspergillus niger Sebagai Bahan Pakan
Alternatif. Tesis Program Pascasarjana Universitas Brawijaya Malang.
Malang.

Purnomo dan Adiono. 1987. Ilmu Pangan. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Purwadaria. T., A. P. Sinurat, T. Haryati, I. Sutikno, Supriyati, dan J. Darma. 1998.


Korelasi Antara Aktivitas Enzim Mananase dan Selulose Terhadap Kadar
Serat Lumpur Sawit Hasil Fermentasi dengan Aspergillus niger. Jurnal Ilmu
Ternak dan Veteriner 3: 230 – 236.

Rachman, A. 1989. Pengantar Teknologi Fermentasi. Departemen Pendidikan dan


Kebudayaan Dirjen Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Pangan dan
Gizi IPB. Bogor

________, A. 1992. Teknologi Fermentasi. Arcan. Jakarta

Rusdi, U. D. 1992. Fermentasi Konsentrat Campuran Bungkil Biji Kapuk dan Onggok
Serta Implikasi Efeknya Terhadap Pertumbhan Ayam Broiler. Disertasi
Universitas Padjadjaran. Bandung.

Shin, H. T. 1988. The Effects of Yeast Culture In swine and Poultry Ration. College of
Agriculture. Sung Kyun University. Korea.

Shurtleff, W., and Aoyagi. 1979. The Book of Tempeh. Herper & Row, Publisher. New
York, Hangertown, San fransisco, London

Siregar, S. 1995. Sapi Perah : Jenis, Teknik Pemeliharaan, dan Analisis Usaha. Penebar
Swadaya. Jakarta

Sofjan, O. 1996. Penggunaan Gamblong sebagai Media Fermentasi dari Rhizopus sp.
Laporan Penelitian. Universitas Brawijaya. Malang.

Steel, R. G. D., J. H. Torrie. 1995. Prinsip dan Prosedur Statistika Suatu Pendekatan
Biometrik. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Sudarmadji, S.,B. Haryono, Suharti. 1989. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian.
Kerjasama Penerbit Liberty dan Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi
UGM. Yogyakarta.

Suliantari dan W. P. Rahayu. 1990. Teknologi Fermentasi Umbi-Umbian dan Biji-Bijian.


Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Supriyati, T. Pasaribu, H. Hamid dan A. Sinurat. 1998. Fermentasi Bungkil Inti Sawit
Secara Substrat Padat dengan Menggunakan Aspergillus niger. Jurnal Ilmu
Ternak dan Veteriner 3 : 165-169.

Tabrany, H, E. Kusumanti, Surono, E. T. Setiatin, B. Waluyo H.E Prasetyono.2004.


Pemanfaatan Limbah Onggok Dengan Biofermentasi Dalam Meningkatkan
Daya Gunanya Sebagai Pakan ternak.
http://www.cdnet.edu.cn/mirror/Indonesia_college/www.undip.ac.id/riset/riset
_pub_bangteklpn.htm. Diakses tanggal 25 Juni 2006.

Tarmudji. 2004. Pemanfataan Onggok Untuk Pakan Unggas. Tabloid Sinar Tani Juni
2004. http://www.litbang.deptan.go.id/artikel/one/71/pdf. Diakses tanggal 25
Juni 2006.
Lampiran 1. Prosedur penelitian pengaruh imbangan ampas tahu dan onggok yang
difermentasi dengan ragi oncom terhadap kandungan zat makanan.
Lampiran 2. Prosedur analisis proksimat menurut petunjuk Sudarmadji (1989)

A. Penetapan Kadar Bahan Kering Udara


1. Kertas ditimbang (A gram) dan ditambah sampel sebanyak 150 – 200 gram,
kemudian kertas + sampel ditimbang (B gram).
2. Kertas dan sampel dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 60 – 70 ºC sampai
diperoleh berat konstan.
3. Sampel dikeluarkan dari oven dan diangin-anginkan selama 2 – 3 jam, kemudian
ditimbang (C gram).
Perhitungan:
Kadar BK udara = C – A x 100 %
B-A
Keterangan:
A = berat kertas
B = berat kertas + sampel
C = berat kertas + sampel setelah dioven
B. Penetapan Kadar Bahan Kering
4. Cawan porselin dimasukkan dalam oven 105 ºC selama 1 jam.
5. Cawan diambil dan dimasukkan eksikator (gunakan tang penjepit).
6. Timbang cawan tersebut dengan teliti, misal beratnya A gram.
7. Masukkan sampel kira – kira 5 gram dalam cawan, dan ditimbang kembali, misal
beratnya B gram. Kemudian masukkan cawan yang berisi sampel tersebut ke
dalam oven 105 ºC selama 4 jam.
8. Cawan diambil, dimasukkan dalam eksikator selama 1 jam, kemudian ditimbang
beratnya dengan teliti, misal C gram. Pada waktu mengambil cawan, gunakan
tang penjepit.
Perhitungan:
Kadar BK = C – A x 100 %
B–A
Keterangan:
A = berat cawan
B = berat cawan + sampel
C = berat cawan + sampel setelah oven
C. Penetapan Kadar Bahan Organik
9. Ambil al-disks dan masukkan ke dalam tanur (600 ºC) selama 1jam.
10. Timbang al-disks tersebut, misal beratnya A gram. Ambil sampel kira – kira
3 – 5 gram, masukkan ke dalam al-disks dan ditimbang kembali, misal bertanya B
gram.
11. Masukkan al-disks yang berisi sampel ke dalam tanur 600ºC sampai warna
berubah menjadi putih atau berubah menjadi abu. Tidak boleh terdapat warna
hitam (kira – kira selama 4 jam).
12. Al-disks diambil dan dimasukkan ke dalam eksikator, diamkan selama 1 jam
kemudian ditimbang dengan teliti (beratnya C gram).
Perhitungan:
Kadar Abu = C – A x 100 %
B–A
Keterangan:
A = berat cawan
B = berat cawan + sampel setelah oven
C = berat cawan + sampel setelah tanur
Sampel yang berisi banyak protein atau lemak (daging) tidak boleh langsung
dimasukkan ke dalam tanur, tetapi harus terlebih dahulu dipanaskan di atas kompor
(di dalam lemari asam) sampai tidak ada uap lagi.

D. Penetapan Kadar Protein Kasar

DESTRUKSI
13. Timbang kertas minyak, misal berat A gram. Ambil sampel kira – kira 0,3 gram
untuk bahan yang mengandung protein rendah atau 0,2 gram untuk bahan yang
mengandung protein tinggi, tuangkan dalam kertas minyak dan timbang kembali,
misal bertanya B gram. Masukkan sampel (tidak dengan kertas minyak) ke dalam
labu kjeldahl.
14. Tambahkan 1,4 gr katalisator dan batu didih. Kemudian tambahkan 5 ml H2SO4
pekat (dalam lemari asam) dengan menggunakan dispenser.
15. Didestruksi sampai warna menjadi hijau. Biarkan sampai dingin.
16. Tambahkan 60 ml aquades (dibagi 4 kali), kocok dan masukkan larutan ke dalam
erlenmeyer 300 ml.
DESTILASI
17. Ambil beaker glass 300 ml, isi dengan H2SO4 0,1 N sebanyak 25 ml dengan
menggunakan dispenser. Tambahkan 3 tetes indikator mix, warna menjadi ungu.
Kemudian letakkan beaker glass di bawah ujung alat destilasi (ujung alat destilasi
harus masuk ke dalam cairan penampung, agar tidak ada NH3 yang hilang).
18. Untuk destilasi, tambahkan 20 ml NaOH 40% dalam erlenmeyer hasil destruksi,
kemudian dengan cepat (agar tidak ada NH3 yang hilang) pasang dalam alat
destilasi.
19. Destilasi dihentikan jika volume larutan dalam erlenmeyer 100 ml.

TITRASI
20. Beaker glas yang berisi hasil destilasi dititrasi dengan NaOH 0,1 N sampai warna
berubah menjadi hijau jernih. Misal jumlah NaOH untuk titrasi C ml.
21. Buat blanko, caranya sama tetapi tidak memakai sampel (misal untuk titrasi perlu
D ml NaOH 0,1 N).
Perhitungan:
PK = (D – C) x n NaOH x 0,014 x 6,25 x 100 %
B–A
Keterangan:
A = berat kertas minyak
B = berat kertas minyak + sampel
C = ml NaOH untuk titrasi sampel
D = ml NaOH untuk titrasi blanko

E. Penetapan Kadar Serat Kasar


22. Timbang kertas minyak, misal beratnya A gram. Ambil sampel kira – kira 1 gram
taruh di atas kertas minyak dan timbang kembali, misal beratnya B gram.
Tuangkan sampel (kertas minyak tidak diikutkan) dalam beaker glass khusus
untuk analisis serat kasar dan tambahkan H2SO4 0,3 N sebanyak 50 ml dengan
menggunakan gelas ukur, didihkan selam 30 menit.
23. Dengan cepat ditambahkan 25 ml NaOH 1,5 N dan didihkan lagi selama 25 menit
tepat.
24. Dengan cepat pula ditambahkan 0,5 gram EDTA kemudian didihkan lagi selama
5 menit tepat.
25. Matikan tombol pemanas. Ambil beaker glass.
26. Saring dengan cawan filtrasi yang sebelumnya sudah diisi dengan pasir.
27. Bersihkan beaker glass dengan aquades panas sesedikit mungkin sampai semua
larutan masuk ke cawan filtrasi.
28. Tambahkan 50 ml HCL 0,3 N, diamkan 1 menit lalu dihisap dengan pompa
vacuum.
29. Ditambah 10 ml aceton dan dihisap dengan pompa vacuum.
30. Ditambahkan lagi 40 ml aceton, diamkan 1 menit lalu dihisap sampai kering.
31. Dioven pada suhu 140 ºC selama 1,5 jam, kemudian masukkan ke dalam
eksikator selama 1 jam dan ditimbang dengan teliti (beratnya C gram).
32. Masukkan ke dalam tanur 550 – 600 ºC selama 2 jam, keluarkan dengan tang
penjepit dan masukkan kembali ke dalam eksikator, diamkan selama 1 jam dan
timbanglah dengan teliti (beratnya D gram).
Perhitungan:
Kadar SK = C – D x 100 %
B–A
Keterangan:
A = berat kertas minyak
B = berat kertas minyak + sampel
C = beaker glass + sampel setelah oven
D = beaker glass + sampel setelah tanur
F. Penetapan Kadar Lemak Kasar
1. Beaker glass dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 105 ºC selama 1 jam.
Beaker glass sudah diisi dengan batu didih kemudian dimasukkan eksikator
selama 1 jam dan ditimbang dengan teliti (beratnya = A g)
2. Sampel ditimbang ± 5 g dan dimasukkan ke dalam alat porselin khusus (beratnya
= B g)
3. Dimasukkan 30 ml n-hexaan ke dalam beaker glass tersebut
4. Beaker glass dan alat porselin dipasang ke alat ekstraksi
5. Diekstraksi selama 4 jam
6. Alat porselin dengan sampel diambil dan diganti dengan labu khusus untuk
mengumpulkan hexaan lagi, sampai tinggal sedikit saja.
7. Beaker glass serta lemak dimasukkan oven vacum (80 ºC), lalu dihisap udara dari
oven, beaker glass di oven selama 1½ jam
8. Dimasukkan eksikator selama 1 jam, dan ditimbang dengan teliti
9. ( beratnya = C g).
Perhitungan :
Kadar LK = C – A x 100 %
B
Keterangan:
A = berat beaker glass
B = berat sampel
C = berat beaker glass + sampel setelah oven

Lampiran 3. Penentuan kandungan protein terlarut (Sudarmadji, 1989)

Bahan Kimia:
1. Bahan A: larutkan 100 g Na2CO3 dalam NaOH 0,5 N hingga mencapai volume
1000 ml.
2. Reagen B: larutkan 1 g CuSO4.5 H2O dalam aquades hingga mencapai volume
100 ml.
3. Reagen C: larutkan 2 g K-tartrat dalam aquades hingga mencapai volume 100 ml
(larutan A, B dan C dapat disimpan).
4. Larutan standar serum bovin albumin 0,3 mg/ml. Larutkan 0,03 g serum bovin
albumin dalam larutan buffer sitrat 0,01 N pH 6,00 yang telah didinginkan pada
suhu ± 10 0C selama 24 jam hingga mencapai volume 100 ml.
5. Reagen D: campur 15 ml larutan A; 0,75 ml reagen B dan 0,75 ml reagen C,
kemudian digoyang homogen.
6. Penyediaan larutan E yaitu mengencerkan 5,00 ml reagen Folin-Ciocalteu 2 N
menjadi volume 50 ml lalu digoyang.

Cara Kerja:
1. Masukkan sampel sebanyak 1 ml dalam tabung reaksi kemudian tambahkan 1 ml
reagen D, segera digoyang dengan vortex dan diinkubasi pada suhu ruang selama
15 menit.
2. Tambahkan 3 ml reagen E ke dalam tabung sampel dan harus segera digoyang
vortex secepatnya, kemudian diinkubasikan pada suhu ruang selama 45 menit dan
segera ukur absorbansinya pada 540 nm. Warna biru yang terbentuk tetap stabil
selama 45 - 80 menit sesudah periode inkubasi.
3. Buat kurva standar serum bovin albumin dengan konsentrasi 0; 0,60; 0,12; 0,18;
0,24; dan 0,30 mg/ml sehingga diperoleh garis regresi hubungan antara
absorbansi dengan konsentrasi protein. Berdasarkan garis regresi ini kandungan
protein sampel dapat diketahui.

Lampiran 4. Penentuan kandungan gula reduksi (Sudarmadji, 1989)

Bahan Kimia:
1. Reagen Nelson
- 25 cc Nelson A ditambah 1 cc Nelson B dan dikocok.
2. Nelson A
- Na2CO3 12,5 + K.Na tartrat 12,5 g.
- NaH CO3 10 g + Na2SO4 100 g.
- Kedua larutan dilarutkan dalam aquades sebanyak 500 cc.
3. Nelson B
- CuSO4.5H2O 7,5 g dalam 50 cc air suling + 1 tetes asam sulfat pekat
4. Arsenomolibdat
- 25 g Am-molibdat dalam 450 cc aquades + 25 cc H2SO4 pekat
- Larutkan di tempat lain 3 g Na2H AsO4 7H2O ( Natrium Hirogin Arsenat)
dalam 25 cc aquades.
- Baru kemudian dicampur ke dalam larutan pertama di tempat gelap pada suhu
37 0C dan dibiarkan selama 24 jam.

Cara Kerja:
1. Timbang sampel ± 0,1 g masukkan dalam gelas piala 100 cc dan panaskan sampai
5 menit, setelah mendidih didinginkan dan disaring ke labu ukur 250 cc,
kemudian encerkan sampai tanda batas, dikocok sampai homogen dan disaring.
2. Ambil filtrate 1 cc masukkan ke dalam tabung reaksi kemudian tambahkan
Reagen Nelson 1 cc dan dipanaskan pada water bath selama 20 menit pada suhu
100 0C.
3. Kemudian ambil dan dinginkan, tambahkan larutan arsenomolibdat 1 cc dan
dikocok.
4. Kemudian tambahkan aquades 7 cc kocok dan kemudian dibaca dengan
spektronik 20 pada panjang gelombang 490 nm.

Lampiran 5. Analisis peragam antara kandungan bahan kering (BK) sebelum dan sesudah
fermentasi (%)
C1 C2 C3 C4 C5
X Y X Y X Y X Y X
1 92. 90 90. 37 93 51 88 79 93 56 91 59 93. 55 91. 35 94 65 90
2 92. 01 89. 93 92 67 88 86 93 04 90 42 93. 11 91 .5 94. 03 89
3 91. 63 91. 22 91 46 91 77 91 92 91 03 91. 88 91. 92 92 81 90
4 92. 73 91. 39 92 74 92 22 92 71 93 15 92. 86 93. 28 91 99 90
Σ 3 9 .27 3 0 .38 3 1 .23 3 1 .40 3 3
370.38 371.23 371.40 373.48
Χ 92.32 90.73 92.60 90.41 92.81 91.55 92.85 92.01 93.37 90.57

X ..2.
JK Total ( XX ) = ∑ X − 2
ij = 12.84
i, j rt
Jumlah Kuadrat (JK)xx

JK Perlakuan ( XX ) =
∑ i
X i2.

X ..2.
= 2.41
r rt

JK Galat ( XX ) = JK Total ( XX ) − JK Perlakuan ( XX ) = 10.44

Jumlah Kuadrat (JK)yy


Y..2.
JK Total (YY ) = ∑ Yij −
2
= 26.45
i, j rt
JK Galat (YY ) = JK Total (YY ) − JK Perlakuan (YY ) = 18.76

JK Perlakuan (YY ) =
∑ i
Yi.2

Y..2.
= 7.69
r rt

∑X i.
( X ..) (Y ..)
Yi.
JHK Perlakuan ( XY ) = i
= 0.25 −
r rt
JHK Galat ( XY ) = JK Total ( XY ) − JK Perlakuan ( XY ) = − 3.88
( X ..) (Y ..)
JHK Total ( XY ) = ∑ X ij Yij − = − 3.63
i, j rt
Jumlah Hasil Kali (JHK)xy
ANALISIS PERAGAM
41 92 .8 1 91 .5
9
0. 5 9 2.0 1 9
57 Jum lah Ku adrat (JK)xx

J um la h Kua drat (JK)y y 
 J umlah Hasil K a l i

K)xy ANAL SI S PERAGAM JK


X Y Tota l 19
2.84 -3.63 26.45 Perlakuan 4 2.41 0.25 7.69

Galat
5 10 .44 -3.8 8 1
Regr esi 8.

re g 1 .44 1.44 0 .86tn 4.60 8 .86 Galat


es uai kan 14 17. 32 1.24 tn = m
ju kka n perb edaan yang t idak n yata (P >0,05)
AL ISI S RAG M (P>0, 05)AN ALISIS
AM yata (P>0,0 5)AN ALISIS RAGAM
yata ( P> 0, 05 ) ANALISI S
A
GAM Ulangan

G
A
M
Ulangan

I
I
I III IV 1 C1 90.37 89
.
2
t ⎛ r ⎞
∑ ⎜ ∑ Yij ⎟

i =1 ⎝ j =1

JKP = ⎠ − FK = 7.69
r

Jumlah Kuadrat Galat (JKG)

JKG = JKT − JKP = 26.45 − 7.69 = 18.76

SK DB JK KT F.Hit F0.05 F 0.01


Perlakua
n 4 7.69 1.92 1.54tn 3.06 4.89
Galat 15 18.76 1.25
Total 19
tn = menunjukkan perbedaan yang tidak nyata (P>0,05)
Lampiran 6. Analisis peragam antara kandungan bahan organik (BO) sebelum dan
sesudah fermentasi (%)
C1 C2 C3 C4 C5
X Y X Y X Y X Y X
1 95. 13 93. 82 96 01 95 23 96 85 97 .3 97. 69 97. 87 98 55 98
2 95 09 93. 79 95 97 95 63 96 83 97 26 97. 68 97. 94 98 54 98
3 95 07 95 .3 95. 92 95 98 96 79 96 85 97. 65 97. 83 98 52 98
4 95 13 96. 55 95 98 96 41 96 82 97 09 97. 67 97. 82 98 51 98
Σ 0 .42 3 3 .88 3 7 .29 3 0 .69 3 4
7 9.46 8 3.25 8 8.50 9 1.46
6 95.11 94.87 95.97 95.81 96.82 97.13 97.67 97.87 98.53
.
42 Analog dengan perhitungan pada lampiran 3 maka diperoleh hasil sebagai ber
u t: XX
Y FK 1 82.25 1874 68.69 1874
7 JK Total 29.27 40.44
2 JK P akuan 29.26 34.26
1 JK Galat 0.01 6.18
.
01

ANALISIS PE
G J K
A
S
M
P JK
J K G A M
GAM J K
K
JK K
JK GAM
J K

JK JK A
JK JK JK
XX XY YY
Total 19 29.27 31.32 40.44 Perlakuan 4
2
9
.
2
6

3
Lampiran 7. Analisis peragam antara kandungan protein kasar (PK) sebelum dan sesudah
fermentasi (%)
C1 C2 C3 C4 C5
X Y X Y X Y X Y X
1 16. 43 24. 22 12 57 20 57 8. 82 14 91 5. 09 7. 76 1. 33 2.
2 16 59 24. 34 12 68 20 55 8. 87 15 11 5. 11 7. 75 1. 34 2.
3 16 65 24 12 85 19 .9 8. 98 15 01 5. 18 7. 71 1. 36 2.
4 16 46 23. 95 12 67 19 .8 8. 90 14 66 5. 13 7 .6 1. 37 2.
Σ 6 .13 0 .77 5 .57 2 0 .51 5
9 6.51 8 0.82 5 9.69 3 0.82
2 16.53 24.13 12.69 20.21 8.89 14.92 5.13 7.71 1.35
.
13 Analog dengan perhitungan pada lampiran 3 maka diperoleh hasil sebagai ber
u t: XX
Y FK 90.97 38 18.74 24
5 JK Total 5 75.57 12 89.85 8
4 JK P akuan 5 75.48 12 89.11 8
3 JK Galat 0.09 0.74
.
0
9 ANALISIS PE
G J K
A
S
M
P JK
J K
GAM GA M JK
JK GAM
AGAM JK AM
JK
XX XY YY Total 19 575.57 856.74 1289
.
85 Perl
ua n 4 575. 48
85
28 9.1 1

at 15 0.0 9 -0.0 9 0 .74 Regres

1 Jk. reg 0. 08 0.0 8 0.5 6tn4 .60 8. 86

at di sesuai kan 14 14 0.66 0 .05

m enu njukk an pe rbeda an y ang ti dak n


( P>0 ,05) ANAL ISIS RAG
>0 ,05) AN AL IS IS RAGAM
Ulangan I II III IV 1 C1 24.22 24.34 24
1
2 C2
JK Total 1289.85
JK Perlakuan 1289.11
JK Galat 0.74

SK DB JK KT F.Hit F0.05 F 0.01


Perlakua
n 4 1289.11 322.28 6538.40** 3.06 4.89
Galat 15 0.74 0.05
Total 19
** = menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (P<0,01)

0.05 / 2 2 KT Galat
BNT 1% = t tab (db galat ) x = 0.46
r

Perlakuan Rataan Notasi


C5 2.13 a
C4 7.71 b
C3 14.92 c
C2 20.21 d
C1 24.13 e
Lampiran 8. Analisis peragam antara kandungan serat kasar (SK) sebelum dan sesudah
fermentasi (%)
C1 C2 C3 C4 C5
X Y X Y X Y X Y X
1 22. 71 27. 73 21 32 20 94 20
07 23 31 18. 82 20. 63 17 38 15
2 22 93 27. 96 21 52 20 91 20
18 23 61 18. 91 20 .6 17. 49 15
3 23 03 27. 28 21 80 19 93 20
43 23 45 19. 17 20. 51 17 72 15
4 22 75 27. 19 21 50 19 79 20
26 22 92 18. 96 20. 21 17 88 15
Σ 1 .42 6 .14 0 .94 7 5 .86 0
1 0.16 8 1.57 9 3.29 8 1.95
0 22.86 27.54 21.54 20.39 20.24 23.32 18.97 20.49 17.62
.
13 Analog dengan perhitungan pada lampiran 3 maka diperoleh hasil sebagai ber
u t: XX
Y FK 94.37 91 36.53 86
3 JK Total 68.55 3 32.40 1
8 JK P akuan 68.07 3 30.46 1
5 JK Galat 0.47 1.94
.
2
7 ANALISIS PE
G J K
A
S
M
P JK
J K JK K
PERA M JK K
JK
XX XY YY Tot al 19 68.5 5 129 .18 3
0 Perlakua n 4 68 .07 1 29.45 3 30 .4
Galat 15 0.47 -0.27 1.94 Regresi 1
1
Jk.reg 0.15 0.
0 .8 4tn4.60 8 .
86
al at dise sua

4 14 1.79 0.13 tn = menunj ukkan


ed aan yang tidak nyata (P>0,0 5)AN ALISIS
AM yata ( P>0,05 )ANA LISIS RAGAM
yat a (P>0 ,05) ANALI SIS RA GAM
( P>0 ,05) ANALI IS RA GAM nyata
,0 5)AN A L I S IS RAGA M
Ulangan I II III IV 1 C1 27.73 27.96
1
27. 54
20.94 20. 91 19.9
.79 81.57 20 39
23.31 23 .61 2
4
22. 92 93. 29 23.32 4 C4 20.6
Perlakua 638.80
n 4 330.46 82.62 ** 3.06 4.89
Galat 15 1.94 0.13
Total 19
** = menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (P<0,01)

0.05 / 2 2 KT Galat
BNT 1% = t tab (db galat ) x = 0.75
r

Perlakuan Rataan Notasi


C5 15.13 a
C2 20.39 b
C4 2.49 c
C3 23.32 d
C1 27.54 e

Lampiran 9. Analisis peragam antara kandungan lemak kasar (LK) sebelum dan sesudah
fermentasi (%)
C1 C2 C3 C4 C5
X Y X Y X Y X Y X
1 8. 13 5. 26 6. 26 2. 26 4.
45 3. 24 2. 63 1. 37 0.80 0.
2 8. 21 5. 28 6. 31 2. 26 4.
47 3. 28 2. 64 1. 37 0.81 0.
3 8. 24 5. 21 6. 40 2. 20 4.
53 3. 26 2. 68 1. 36 0.82 0.
4 8. 14 5 .2 6. 31 2. 18 4.
49 3. 19 2. 65 1. 34 0.83 0.
Σ 2 .72 5 .28 7 .94 1 0 .60 3
2 0.95 8.90 1 2.97 5.44
9 8.18 5.24 6.32 2.22 4.49 3.24 2.65 1.36 0.82
.
87 Analog dengan perhitungan pada lampiran 3 maka diperoleh hasil sebagai ber
u t: XX
Y FK 03.20 1 33.89 2
5 JK Total 1 35.45 48.14
8 JK P akuan 1 35.43 48.13
9 JK Galat 0.02 0.01
0
0
4 ANALISIS PE
G J K
A
S
M
P JK
J K JK A
JK K
K JK K
K JK
JK ER AGA GA M
JK XX XY YY

To tal 19 1 3
5.
68 48 .14

er lak uan 4 13 5.43 70.6 9 48.1 3


G ala t 1 5 0.0 2 -0 .004 0.01
Re gre si 1 1 Jk. reg 0 .001 0.001 1.22t
60 8. 86 Gal at di sesua ikan 14 14
.0 1 0 .001 tn = me nunju kkan
ed aan ya ng t id ak nyata
>0,05)ANALISIS RAGAM Ulangan I II III
5
8 5 .21 5.2
95 5.24 2
26 2.26 2.2 .18 8.
23 3 C3 3

28 3.2 6 3 .19 12.97 3.24 4


37 1.37
1. 36 1.34 5.44 1 .36 5 5 0.8 7 0.8
87 0.8 7 3 .49 0 .87
al 51 .7 5
0.05 / 2 2 KT Galat
BNT 1% = t tab (db galat ) x = 0.07
r

Perlakuan Rataan Notasi


C5 0.87 a
C4 1.36 b
C2 8.90 c
C3 12.97 d
C1 20.95 e

Lampiran 10. Analisis peragam antara kandungan BETN sebelum dan sesudah fermentasi
(%)
C1 C2 C3 C4 C5
X Y X Y X Y X Y X
1 47. 87 36. 61 55 87 51 46 63 51 55 84 71. 15 68. 11 79 04 80
2 47.36 36.21 55.47 51.91 63.31 55.26 71.01 68.22 78.90 80.05
3 47.15 38.81 54.88 53.96 62.86 55.13 70.62 68.25 78.62 80.32
4 47.77 40.21 55.50 54.64 63.18 56.32 70.93 68.67 78.43 80.39
Σ 190.15 221.72 252.86 283.71 314.99
151.84 211.97 222.55 273.25 321.15
Χ 47.54 37.96 55.43 52.99 63.22 55.64 70.93 68.31 78.75 80.29

Analog dengan perhitungan pada lampiran 3 maka diperoleh hasil sebagai berikut:
XX YY XY
FK 79812.77 69709.71 74590.38
JK Total 2429.94 4138.81 3115.43
JK Perlakuan 2428.49 4119.80 3116.41
JK Galat 1.45 19.01 -0.97

ANALISIS PERAGAM
S PER AG AM
AGA M
M S PER AGAM JK
RAGA GAM E R A
PE RAG AM RAGA I
RAGAM S PERAG S PER AGAM ERAG
JK J K
XX XY YY Total 19 2429.94 3115.43 41
3
8.81 Pe
ak ua n 4 24 28 .
49
41 41 19.8 0

G ala t 15 1.45 -0.97 19.01 Regre

1 Jk .reg 0 .66 0. 66 2.0 0tn4. 60 8.86 G

d ise suaika n 14 1 4 18 .35 1. 31 tn

en unj ukkan perbed aan ya ng tid ak nyat a (P>0


ANA LISIS RAGAM Ulanga n
II III I V

C1 36.61 36.21 38.81 40.21 151.84 37.96 2 C2 51.46 51.91 53.96


5
99 3
4 55.26 5 5.13 56.
22.55 55.64 4 C
1 68.22 6 8.25 6
27 3.2 5 6 8.3 1 5 C5 0.39 80
80.32 80
.3 9 321.15 8 0.29 Total 180.7
Anal og dengan perh i t u
pada lam pi ra n 3 ma
diperoleh hasil sebagai berikut: FK 69709.71 J
K
Perlakuan Rataan Notasi
C1 37.96 a
C2 52.99 b
C3 55.64 c
C4 68.31 d
C5 80.29 e

Lampiran 11. Analisis peragam antara kandungan protein terlarut sebelum dan sesudah
fermentasi (%)
C1 C2 C3 C4 C5
X Y X Y X Y X Y X
1 9. 41 10. 11 9. 42 10 43 9. 49 10 06 9. 56 10. 12 9. 52 10
2 9. 50 10. 16 9. 51 10 43 9. 54 10 19 9. 60 10 .1 9. 58 10
3 9. 54 10. 02 9. 63 10 .1 9. 66 10 12 9. 73 10. 06 9. 71 10
4 9. 43 10 9. 50 10 05 9. 58 9. 89 9. 63 9. 91 9. 79 10
Σ 7 .88 8 .06 8 .27 3 8 .52 8
4 0.29 4 1.01 4 0.26 4 0.19
Χ 9.47 10.07 9.52 10.25 9.57 10.07 9.63 10.05 9.65 10.14

Analog dengan perhitungan pada lampiran 3 maka diperoleh hasil sebagai berikut:
XX YY XY
FK 1830.36 2046.06 1935.21
JK Total 0.20 0.34 -0.07
JK Perlakuan 0.09 0.11 -0.02
JK Galat 0.11 0.23 -0.05

ANALISIS PERAGAM
h has il s eb ag
iku t:
F K 183 0.36 2046.0 6 19 5 . 2 1
JK Total 0. 20 0.34 -0.07 J K P
kuan 0 .0 9 0 .11 - 0.02 G a l
.11 0.23 - 0.05 ANA LI SIS P ERAG hasi
bagai berikut: XX YY XY FK 83 0. 36
046.06 1935.21 JK Total 0.20 0.34 -0.07 JK Pe
r
lakuan 0.09 0.1
-0 .0 2 JK G a
0 .23 -0. 05 la
AL ISI S PERA GAM sil sebag ai ber
: XX YY XY FK 830.36 2046. 06 193
JK Tot al 0.2 0 0.34 -0.0 7 JK Per
an 0. 09 0.1 1 -0. 02 JK G alat 0 .11 0.
0. 05 A NALIS S PERA GAM asil s
ai berik ut : X X YY

FK 1830.36 2046.06 1935.21 JK Total 0.20 0.34 -0.07 JK Per


.
-0 .02
alat 0.11 0.23
05 ANALIS IS PE
M asil
b
ai ber iku t: XX YY XY F
.36 2046
.0 6 1935. 21 JK T tal 0 .20 0
-0.07 JK P erlak u a n
9 0.11 -0 .0 2 JK
alat 0.11 0.23 -0.05 ANALISIS PERAGAM

s
e
b
a
g
a
Lampiran 12. Analisis peragam antara kandungan gula reduksi sebelum dan sesudah
fermentasi (%)
C1 C2 C3 C4 C5
X Y X Y X Y X Y X
1 16. 38 19 .9 16. 59 20 .4 16. 90 19 .2 17. 21 19. 72 17 32 19
2 16 54 20 16 74 20 38 6. 99 19 45 17. 29 19. 69 17 43 19
3 16 61 19. 72 16 96 19 73 17 20 19 32 17. 52 19 .6 17. 66 19
4 16 41 19. 68 16 72 19 64 7. 05 18 88 17. 34 19. 31 17 82 19
Σ 5 .94 7 .01 8 .14 6 9 .36 0
7 9.30 8 0.15 7 6.85 7 8.32
2 16.49 19.83 16.75 20.04 12.04 19.21 17.34 19.58 17.56
.
23 Analog dengan perhitungan pada lampiran 3 maka diperoleh hasil sebagai ber
u t: XX
Y FK 41.78 76 65.18 62
JK Total 183.91 3.00 6.30
JK Perlakuan 82.95 2.11 5.50
JK Galat 100.96 0.89 0.80

ANALISIS PERAGAM
K Gal at 1 00 .9
J 0. 80
PERAG AM K
XX XY YY Tota l 1 9 1 8
6.30 3. 00 Perl akuan 4
95 5.50 2. 11 al at 15 100.9 6 0.8 0 0.8
Regresi1 Jk .re g 0.01 0.01 10 .0 3*
60 8.86 Gala
t dises ua i kan1 4 0
0.06
Regresi(Pe rlk + Gal a t ) 1
22 Perlk Ga la t Dis es uaika n18 2 .78
Perlk. (disesuaikan)4 1.90 0.47 7.53 3.11 5.03
**

**= menunjukkan perbedaan yang


ngat nya si Perla
(P<0,01) Nilai tenga h perlak uan terkorek
ta kuan Rata-r
X S impang an Ko reksi Rata- rata Y
a-r ata te rkore ksi C1 16.49
0. 00 19. 83 19. 83 C2 16 .75 0.
.01 20.04 20.0 3 C3 12 .04 -4
-0. 03 19. 21 19 .24 C4 17.34
3

0
0
.
0
19.58 19. 57
17.56 1. 52 0.
9.23 19.22 
BNT1%1. 20.0

BNT1%2.3 0.12 BNT1


0. 13 B
4.5 0.09
erl akuan Ra
No tasi
19. 22 a