Anda di halaman 1dari 10

BAB I PENDAHULUAN

Herpes genitalis merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus herpes simpleks tipe 2 atau kadang-kadang tipe 1 dan bersifat sering rekuren. Infeksi akibat kedua tipe virus herpes simpleks ini dapat bersifat seumur hidup, dimana virus berdiam di jaringan saraf, pada ganglia dorsalis. Penyebab utama dari infeksi herpes pada genitalia adalah herpes simpleks virus tipe 2 (HSV-2), tetapi 10% dari kasus juga ditemukan infeksi HSV-1 yang disebabkan oleh hubungan seksual secara orogenital.1 Infeksi HSV tipe 2, yang sering menyebabkan herpes genitalis, biasanya dihubungkan dengan aktivitas seksual yang sering berganti-ganti pasangan, sehingga infeksi HSV tipe 2 ini akan banyak terjadi pada golongan umur yang tinggi aktivitas seksual, yaitu pada golongan umur 20-30 tahun. Di Amerika Serikat, satu dari 4-5 pasien dewasa memberi hasil pemeriksaan serologi HSV-2 yang positif atau sekitar 21-25%. Sedangkan pada usia remaja, prevalensi HSV tipe 2 adalah 12-15%. Secara global, infeksi HSV-2 ditemukan pada 13-40% pasien. Sebagian besar pasien dengan serologi positif tidak memberikan tanda maupun gejala apapun, tetapi mampu menyebarkan infeksi kepada orang lain.2,3 Virus herpes simpleks merupakan virus herpes hominis yang merupakan virus DNA. Pembagian tipe 1 dan 2 berdasarkan karakteristik pertumbuhan pada media kultur, antigenic marker, dan lokasi klinis (predileksi). HSV tipe 1 biasanya menjadi penyebab herpes labialis yang menyerang daerah pinggang ke atas, terutama daerah mulut dan hidung, sedangkan HSV tipe 2 biasanya menjadi penyebab herpes genitalis yang menyerang daerah pinggang ke bawah, terutama daerah genital.3 Penularan herpes genitalis terjadi melalui kontak langsung dengan sumber infeksi. Penularan hampir selalu melalui hubungan seksul baik genito genital, ano genital maupun oro genital. Setelah virus masuk ke dalam tubuh hospes, virus akan memperbanyak diri (replikasi) dan menimbulkan kelainan pada kulit. Pada infeksi primer pada hospes belum terbentuk antibodi spesifik. Keadaan ini dapat mengakibatkan timbulnya lesi pada daerah yang luas dengan gejala yang berat. Selanjutnya melalui serabut saraf sensorik, virus menuju ganglion saraf sakralis, berdiam diri di sana dan bersifat laten. Bila ada faktor pencetus (trigger factor) virus akan mengalami reaktivasi dan bermultiplikasi kembali sehingga terjadi infeksi rekuren. Faktor pencetusnya antara lain adalah trauma atau koitus berlebihan, demam, stres fisik atau

emosi, gangguan pencernaan, alergi makanan dan obat-obatan dan beberapa kasus tidak diketahui dengan jelas penyebabnya.4,5 Masa inkubasi herpes genitalis adalah 2-20 hari. Infeksi primernya dapat bersifat asimptomatik. Gejala prodormalnya berupa rasa panas (terbakar) atau gatal. Lesinya berupa vesikel, erosi, ulkus dangkal berkelompok, dengan dasar eritematous. Dapat disertai dengan adanya disuria, duh vagina atau uretra, atau pembesaran kelenjar limfe regional. Pasien lebih sering datang dalam keadaan lesi berupa ulkus atau berkrusta. Pembentukan lesi baru masih berlangsung selama 10 hari dan berakhir dalam waktu 12-21 hari. Dapat juga disertai dengan keluhan sistemik seperti demam, nyeri kepala, malaise, dan myalgia.,4,6 Pada herpes genitalis nonprimer episode pertama, pada umumnya lesi lebih sedikit dan lebih ringan daripada herpes primer. Lesi yang tidak diobati dapat berlangsung 10-14 hari dan jarang disertai duh tubuh genital atau disuria dan keluhan sistemik. Pada herpes genitalis rekuren, lesinya lebih sedikit dan lebih ringan, bersifat lokal, unilateral, dan berlangsung lebih singkat. Pada sebagian besar individu dengan herpes genitalis rekuren, tidak ditemukan lesi klasik herpes (vesikel yang menggerombol). 1,4.6 Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan dengan tes Tzank. Pada tes Tzank dengan pengecatan giemsa atau wright akan terlihat sel raksasa berinti banyak. Pada keadaan tidak ada lesi dapat dilakukan pemeriksaan serologic antibody yaitu IgM dan IgG terhadap HSV-1 dan HSV-2.1,3 Komplikasi yang timbul pada penyakit herpes genitalis antara lain neuralgia, retensi urine, meningitis dan infeksi anal. Sedangkan komplikasi pada kehamilan dapat menyebabkan abortus pada kehamilan trimester pertama, partus prematur dan pertumbuhan janin terhambat pada trimester kedua kehamilan dan pada neonatus dapat terjadi lesi kulit, ensefalitis, makrosefali dan keratokonjungtivitis.6 Sampai saat ini belum ada pengobatan yang dapat mencegah episode rekuren secara tuntas. Pada lesi yang ringan dapat diberikan pengobatan simptomatis dan asiklovir topical. Untuk terapi antivirus dapat diberikan asiklovir oral dengan dosis 5x200mg perhari selama 5-7 hari. Jika timbul komplikasi berat dapat diberikan asiklovir iv. Selain pengobatan

medikamentosa, pasien juga perlu menjaga kebersihan diri, dan menghindari trauma atau faktor pencetus.1,4,6 Kematian oleh infeksi HSV jarang terjadi. Infeksi inisial dini yang segera diobati mempunyai prognosis baik, sedangkan infeksi rekuren hanya dapat dibatasi frekuensi kambuhnya. Prognosis juga sangat bergantung pada imunitas pasien. Pada orang dengan gangguan imunitas, infeksi ini dapat menyebabkan komplikasi yang berat. 6

BAB II LAPORAN KASUS 2.1 Identitas y Nama y Register y Umur y Jenis Kelamin y Suku Bangsa y Status Marital y Pekerjaan y Pendidikan y Alamat 2.2 Anamnesis Keluhan utama: Pasien mengeluh luka di alat kelamin Pasien mengeluh luka di alat kelamin sejak 4 hari yang lalu. Luka warna kemerahan dan sedikit nyeri. Dua hari kemudian muncul benjolan kemerahan di tempat lain di kelamin. Benjolan dirasakan sedikit nyeri. Pasien tidak sadar sebelumnya luka dan benjolan melenting berisi cairan atau tidak. Pasien juga mengeluh demam 4 hari yang lalu saat timbul luka. Pasien pernah mengalami gejala yang sama 3 bulan yang lalu, saat itu sembuh sendiri tanpa diobati. Pasien mengaku akhir-akhir ini sering stress dan kecapekan. Riwayat nyeri saat kencing (-), nyeri saat berhubungan seksual (+). Riwayat keluar nanah dari kelamin (-) Riwayat kontak : Pasien memiliki 2 istri, istri kedua pasien sering keputihan dan bau vagina tidak enak. Pasien masih berhubungan dengan istri 1 hari setelah luka muncul. Pasien tidak menggunakan kondom. Riwayat berhubungan seksual dengan selain istri disangkal. Pasien mencurigai istri kedua pernah berhubungan seksual dengan orang lain. Riwayat penyakit dahulu : pasien pernah mengalami gejala yang sama 3 bulan yang lalu, tapi sembuh tanpa diobati. : Tn. Yusak : 10976497 : 40 tahun : Laki-Laki : Jawa : Menikah : Swasta (pegawai SPBU) : SMA : Jl Kolonel Sujiono RT 7/4 Malang

Riwayat pengobatan : saat luka muncul pasien langsung periksa ke dokter umum dan diberi obat minum dan serbuk untuk ditaburkan di luka (pasien lupa nama obatnya), tapi tidak membaik.

2.3 Pemeriksaan Fisik 2.3.1 Status Dermatologis y Lokasi Distribusi Ruam : glans penis : terlokalisir : papula eritematous, bentuk bulat, batas tegas, jumlah single,

ukuran diameter 0,5 cm y Lokasi Distribusi Ruam : corpus penis : terlokalisir : ulkus bentuk tidak teratur, batas tegas, dasar bersih, tidak mnggaung=jeglong,indurasi=pninggian..klo g ad

menggaung, tidak ada indurasi, nyeri (+) jeng ne bner g klo mgaung&indurasi itu artinya rata kah?tp klo statusny gn gpp

2.3.2 Status Generalis Keadaan Umum Tanda Vital Kepala Leher Thoraks Abdomen Ekstremitas 2.4 Diagnosis Banding 1. Herpes simpleks genitalis 2. Ulkus molle 3. Ulkus durum 2.5 Pemeriksaan Penunjang 1. Tzank test tidak ditemukan multinucleated giant cell dan sel akantolitik 2. Pewarnaan gram: tidak ditemukan gambaran school of fish 3. Pemeriksaan serologis 2.6 Diagnosis Kerja Herpes simpleks genitalis 2.7 Terapi Kausatif: Asiklovir 3 x 400 mg selama 5 hari Suportif: Kompres dingin 2.8 Saran 1. Tidak berganti-ganti pasangan 2. Menggunakan pengaman saat berhubungan seksual 3. Mengendalikan stress dan jangan kecapekan : Compos Mentis : GCS 456, nadi 84x/ menit, RR 18x/ menit TD : tidak dilakukan pemeriksaan : anemis -|-, ikterik -|- , pembesaran kelenjar leher (-) : tidak dilakukan pemeriksaan : tidak dilakukan pemeriksaan : edema (-)

BAB III PEMBAHASAN 3.1. Resume Tn. Y/40th/ Malang, mengeluh luka di alat kelamin sejak 4 hari yang lalu. Luka warna kemerahan dan sedikit nyeri. Dua hari kemudian muncul benjolan kemerahan di tempat lain di kelamin. Benjolan dirasakan sedikit nyeri. Pasien juga mengeluh demam 4 hari yang lalu saat timbul luka. Pasien mengaku akhir-akhir ini sering stress dan kecapekan. Pasien mengalami gejala yang sama 3 bulan yang lalu, saat itu sembuh sendiri tanpa diobati. Dari pemeriksaan fisik, pada glans penis didapatkan papula eritematous, bentuk bulat, batas tegas, jumlah single, ukuran diameter 0,5 cm, dan distibusi terlokalisir. Pada corpus penis didapatkan ulkus bentuk tidak teratur, batas tegas, dasar bersih, tidak menggaung, tidak ada indurasi, nyeri (+), dan distibusi terlokalisir. 3.2 Pembahasan Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang pasien ini didiagnosa Herpes simpleks genitalis. Pasien ini memenuhi kriteria dari herpes simplek genitalis yaitu pada herpes genitalis rekuren, lesinya lebih sedikit dan lebih ringan, bersifat lokal, unilateral, dan berlangsung lebih singkat. Gejala yang biasanya muncul adalah rasa gatal, rasa terbakar, adanya fisura, kemerahan dan iritasi sebelum munculnya vesikel. Pada sebagian besar individu dengan herpes genitalis rekuren, tidak ditemukan lesi klasik herpes (vesikel yang menggerombol). Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan dengan memeriksa cairan dari dalam vesikel. Cairan di vesikel dapat dilakukan tes Tzank. Pada tes Tzank dengan pengecatan giemsa atau wright akan terlihat sel raksasa berinti banyak. Pada keadaan tidak ada lesi dapat dilakukan pemeriksaan serologic antibody yaitu IgM dan IgG terhadap HSV-1 dan HSV-2. Pada pemeriksaan Tzank dari pasien, tidak ditemukan multinucleated giant cell dan sel akantolitik. Hal ini kemungkinan karena pengambilan jaringan yang kurang tepat. Pada pasien ini juga dilakukan pemeriksaan gram untuk menyingkirkan diagnosa banding ulkus molle. Ulkus pada herpes simplek dibedakan dengan ulkus durum dan ulkus molle. Pada ulkus durum, sifat ulkusnya adalah tidak nyeri, keras (durum), bulat, batas teratur, banyak serum/darah, dasarnya merah kusam seperti lak, atau tertutup dengan krusta ke abu abuan. Pada ulkus molle ulkus memiliki ciri-ciri : Multiple, bentuk bulat atau oval, tepi merah, tidak pernah

teratur, menggaung (undermined), dasarnya kotor tertutup pus/jaringan nekrotis, dangkal, nyeri, dan tidak ada indurasi. Dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang disimpulkan diagnosis pasien ini

adalah herpes simpleks genitalis. Terapi yang diberikan untuk pasien adalah terapi kausatif yaitu Asiklovir 3 x 400 mg selama 5 hari dan terapi suportif yaitu kompres dingin. Sampai saat ini belum ada terapi yang memberikan penyembuhan radikal, artinya tidak ada pengobatan yang dapat mencegah episode rekuren secara tuntas. Pada lesi yang ringan dapat diberikan pengobatan simptomatis dan asiklovir topical. Jika timbul ulserasi dapat dilakukan kompres. Asiklovir ini berkerja dengan mengganggu replikasi DNA virus. Secara klinis hanya bermanfaat bila penyakit sedang aktif. 1,4,6 Pengobatan oral asiklovir juga memberikan hasil yang baik, penyakit berlangsung lebih singkat dan jeda rekurensinya menjadi lebih panjang. Dosisnya 5x200mg per hari selama 5-7 hari. Pengobatan parenteral asiklovir terutama ditujukan kepada penyakit yang lebih berat atau jika timbul komplikasi pada organ dalam. Informasi dan edukasi yang diberikan kepada pasien ini antara lain : 1. Tidak berganti-ganti pasangan karena penularan vurus ini dapat melalui aktivitas seksual yang sering berganti-ganti pasangan 2. Menggunakan pengaman saat berhubungan seksual 3. Mengendalikan stress dan jangan kecapekan.

BAB IV KESIMPULAN Telah dilaporkan kasus Tn. Y ,laki laki, 40 tahun, dengan diagnosa Herpes Simpleks Genitalis. Diagnosis pada pasien ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Pada pasien Terapi yang diberikan untuk pasien adalah terapi kausatif yaitu Asiklovir 3 x 400 mg selama 5 hari dan terapi suportif yaitu kompres dingin. Informasi dan edukasi yang diberikan kepada pasien ini antara lain : 1. Tidak berganti-ganti pasangan karena penularan vurus ini dapat melalui aktivitas seksual yang sering berganti-ganti pasangan 2. Menggunakan pengaman saat berhubungan seksual 3. Mengendalikan stress dan jangan kecapekan. Prognosis dari pasien ini adalah baik.

Daftar Pustaka

1. Adi, Sudigdo.,dkk. 2004. Standar Pelayanan Medik Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin. Jakarta: Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FKUI/RSCM. 2. Hidayah, Gita Nurul. 2010. Tatalaksana Herpes Simpleks Genitalis pada Kehamilan. Artikel Konsep Edisi No 06 Vol XXXVI. Online (www.jurnalmedika.com. Diakses tanggal 27 Mei 2010) 3. Djuanda, A., dkk S. 2007. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 4. Murtiastutik, Dwi., dkk. 2005. Pedoman Diagnosis dan Terapi Bag/SMF Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Surabaya : Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. 5. Qauliyah, Asta. 2006. Referat Herpes Genitalis. Online

(http://astaqauliyah.com/2006/11/referat-herpes-genitalis/. Diakses tanggal 28 Mei 2010) 6. Wolff, K., Johnson, R.A. 2009. Fitzpatricks Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology Sixth Edition. New York: Mc Graw Hill Medical