Anda di halaman 1dari 36

PROPOSAL PENELITIAN GAMBARAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGGINYA ANGKA PENDERITA DEMAM BERDARAH DENGUE BULAN JANUARI JUNI

I 2008 DESA BANGAH KECAMATAN GEDANGAN KABUPATEN SIDOARJO

Pembimbing : Dr. Widianto Hadiwinoto, M.S

Disusun Oleh : Hartadi Pramulia, S.Ked I Wayan Duta Krisna,S.Ked Linda Perwita Sari, S.Ked Sismiati, S.Ked Yudha Indriastuti, S.Ked (01.700.052) (01.700.202) (01.700.188) (01.700.180) (01.700.183)

LABORATORIUM ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA SURABAYA 2008

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Di Indonesia kasus DBD pertama kali dicurigai di Surabaya pada tahun 1968. Di Jakarta, kasus pertama dilaporkan pada tahun 1969. Pada tahun 1994 DBD telah menyebar ke seluruh propinsi di daerah pedesaan.(1) Pada awal terjadinya wabah di suatu negara, distribusi umur diperkirakan 50 sampai 100 juta kasus DBD per tahunnya dan 90% nya menyerang anak-anak berusia di bawah 15 tahun. Namun pada wabah-wabah selanjutnya, jumlah penderita yang digolongkan dalam golongan usia dewasa dan muda juga meningkat. Saat ini DBD dapat menyerang semua golongan usia. Rata-rata angka kematian pada kasus DBD mencapai 5%.(6) Berdasarkan macam manifestasi klinik yang timbul dan tatalaksana DBD secara konvensional sudah berubah. Infeksi virus Dengue telah menjadi masalah kesehatan yang serius pada banyak negara tropis dan sub tropis. Kejadian penyakit DBD semakin tahun semakin meningkat dengan manifestasi klinis yang berbeda mulai dari yang ringan sampai berat. Karena seringnya terjadi perdarahan dan syok maka pada penyakit ini angka kematiannya cukup tinggi, oleh karena itu setiap Penderita yang diduga menderita Penyakit Demam Berdarah dalam tingkat yang manapun harus segera dibawa ke dokter atau Rumah Sakit, mengingat sewaktu-waktu dapat mengalami syok atau kematian. Dalam penelitian ini kami membahas faktor-faktor yang menyebabkan tingginya angka Demam Berdarah di Desa Bangah pada 01 Januari 2008 30 juni 2008. Berdasarkan data pada tanggal tersebut Desa Bangah di dapatkan data jumlah penderita Demam Berdarah tertinggi sebanyak 9 orang diantara 13 desa yang terdapat di wilayah kecamatan Gedangan. Atas pertimbangan tersebut maka kami mengadakan penelitian tentang Gambaran Faktor-Faktor yang berkaitan dengan tingginya angka penderita Demam Berdarah di RT 01 RW 04 Desa Bangah Kecamatan Gedangan Kabupaten Sidoarjo.

NO. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14.

DESA Gedangan Kebon Sikep Kebon Anom Ganting Karang.Bong Tebel Sruni Punggul Kragan Gemurung Ketajen Semambung SawoTratap Bangah TOTAL

JUMLAH DBD 1 1 3 1 7 9 18

(Sumber : PWS KIA Kecamatan Gedangan).

B. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut dengan gambaran : 1. Bagaimana gambaran tingkat pendidikan di Desa Bangah? 2. Bagaimana gambaran tingkat penghasilan keluarga di Desa Bangah ? 3. Bagaimana gambaran tingkat pengetahuan tentang Demam Berdarah Dengue? 4. Bagaimana gambaran perilaku penduduk di desa Bangah ? 5. Berapa gambaran jumlah ABJ di desa Bangah ? 6. Bagaimana gambaran pencegahan terhadap Demam Berdarah Dengue ?

7. Bagaimana gambaran frekuensi penyuluhan tentang Demam Berdarah Dengue?

C. TUJUAN PENELITIAN 1. Tujuan Umum Mengetahui Gambaran faktor-faktor yang berkaitan dengan penderita Demam Berdarah Dengue di desa Bangah, kecamatan Gedangan. Kabupaten Sidoarjo. 2. Tujuan Khusus a. Mengetahui gambaran tingkat pendidikan di Desa Bangah b. Mengetahui gambaran tingkat penghasilan keluarga di Desa Bangah b. Mengetahui gambaran tingkat pengetahuan penduduk Desa Bangah tentang Demam Berdarah Dengue c. Mengetahui gambaran perilaku penduduk di desa Bangah d. Mengetahui gambaran Berapa jumlah ABJ di desa Bangah e. Mengetahui Bagaimana gambaran pencegahan terhadap Demam Berdarah Dengue f. Mengetahui gambaran frekuensi penyuluhan tentang Demam Berdarah Dengue. D. MANFAAT PENELITIAN Hasil penelitian ini bermanfaat untuk : 1. Bagi Masyarakat Untuk meningkatkan pemahaman dan pengetahuan masyarakat tentang masalah penyakit demam berdarah dan meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit DBD. 2. Bagi Peneliti a. Untuk menambah wawasan peneliti tentang faktor-faktor yang menyebabkan tingginya angka demam berdarah disuatu wilayah.

b. Untuk dapat melatih peneliti agar bisa berpikir secara obyektif dalam menghadapi dan memecahkan masalah demam berdarah yang ada di lapangan. 3. Bagi instansi terkait Agar dapat memberikan masukan bagi puskesmas Gedangan dalam melakukan evaluasi keberhasilan pencatatan dan pelaporan serta pencapaian target dalam mengatasi kasus Demam Berdarah di wilayah desa Bangah. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. DEMAM BERDARAH DENGUE Batasan Demam Berdarah atau Demam Berdarah Dengue adalah penyakit febril akut yang ditemukan di daerah tropis, dengan penyebaran geografis yang mirip dengan malaria. Penyakit ini disebabkan oleh salah satu dari empat serotipe virus dari genus Flavivirus, famili Flaviviridae. Demam berdarah disebarkan kepada manusia oleh nyamuk Aedes aegypti.(6) B. ETIOLOGI Virus dengue adalah anggota virus genus Flavivirus dan famili Flaviviridae. Virus ini berukuran kecil dan memiliki single stranded RNA. Ada empat serotipe virus Dengue yang disebut serotipe 1, 2, 3 dan 4 (DEN1, DEN2, DEN3, DEN4). Dari survei virologi penderita DBD yang telah dilakukan di beberapa rumah sakit di indonesia sejak tahun 1972 sampai dengan tahun 1995, keempat serotipe berhasil diisolasi baik dari penderita DBD derajat ringan maupun berat. Selama 17 tahun, serotipe yang mendominasi ialah serotipe 2 dan 3. Serotipe 3 dikaitkan dengan kasus DBD berat.(6)

C. KLASIFIKASI Sedangkan derajat penyakit DBD diklasifikasikan menjadi 4 derajat yaitu: Derajat I: Demam diseratai gejala tidak khas dan satu-satunya manifestasi perdarahan adalah uji torniquet. 4

Derajat II: Seperti derajat I, disertai perdarahan spontan di kulit dan atau perdarahan lain. Derajat III: Didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lembut, tekanan nadi menurun ( 20 mmHg atau kurang) atau hipotensi, sianosis di sekitar mulut, kulit dingin dan lembab, dan anak tampak gelisah. Derajat IV: Syok berat, nadi tidak dapat diraba dan tekanan darah tidak terukur.(1)

D. PATOFISIOLOGI Proses patofisiologi utama untuk menentukan berat-tidaknya demam Dengue adalah peningkatan permeabilitas pembuluh darah, penurunan volume plasma (hipovolemia), hipotensi (penurunan tekanan darah), trombositopeni dan haemorrhagic diathesis. 1. Meningkatnya permeabilitas dnding kapiler disebabkan oleh pelepasan zat anafilatoksin, histamin, serotonin serta aktivasi sistem kalikrein. Maka akan terjadi ekstravasasi cairan elektrolit dan protein, terutama albumin, ke dalam rongga di antara jaringan ikat dan rongga serosa. Hal ini dibuktikan dengan radioisotop I131. Dengan demikian akan terjadi penurunan volume cairan tubuh (hipovolemik) plasma, yang jika mencapai 30% dari seluruh cairan tubuh akan menyebabkan renjatan (shock) yang hebat yang akan berakibat anoxia (tidak adanya suplai Oksigen) jaringan, asidosis metabolik dan kematian bila tidak terkontrol. 2. Trombositopeni merupakan petanda kedua untuk menentukan diagnosis penyakit DBD. Seseorang akan didiagnosa DBD jika jumlah trombositnya kurang atau sama dengan 100.000/mm3 yang disertai peningkatan permeabilitas kapiler. (Permeabilitas adalah kemampuan suatu membran dalam hal ini dinding pembuluh darah- untuk melewatkan bahan-bahan tertentu). Trombositopeni ini diasumsikan karena tertekannya fungsi megakaryosit (sel yang kelak pecah dan menjadi trombosit) serta destruksi trombosit yang matur (dewasa/matang).

3. Gangguan pembekuan darah juga berperan dalam terjadinya perdarahan pada penderita DBD. Pada pemeriksaan faal hemostasis (fungsi keseimbangan cairan tubuh) akan terjadi peningkatan Partial

Thromboplastine Time (PTT) 54,6% dan Prothrombine Time 33,3%. Sedangkan Thrombine Time pada umumnya normal. Terjadi penurunan faktor-faktor pembekuan darah, yaitu faktor II, V, VII, IX, X dan fibrinogen. Diduga juga terjadi penurunan faktor XII. Selain itu infeksi virus Dengue ini juga menyebabkan Disseminated Intravascular

Coagulation (DIC) (suatu keadaan kehabisan zat/bahan pembekuan darah, sehingga terjadi pendarahan yang terus-menerus).(7)

E. MANIFESTASI KLINIS Pada awal perjalanan penyakit, DBD dapat menyerupai kasus DD dengan kecenderungan perdarahan yang berupa satu atau lebih manifestasi di bawah ini, yaitu :
Uji bendungan (Tourniquet) positif Perdarahan kulit (Petekie, ekimosis atau purpura) Perdarahan mukosa (perdarahan hidung (epistaksis), perdarahan gusi) Muntah darah (hematemesis) atau buang air besar darah (melena). Hitung trombosit rendah (trombositopenia = hitung trombosit <

100.000/mm3)
Pemekatan darah (hemokonsentrasi) sebagai akibat dari peningkatan

permeabilitas kapilar dengan manifestasi satu atau lebih yaitu:


o

Peningkatan hematokrit (Ht) sesuai umur dan jenis kelamin > 20% dibandingkan rujukan atau lebih baik lagi data awal pasien.

o o

Penurunan hematokrit 20 % setelah mendapat pengobatan cairan. Tanda perembesan plasma, yaitu efusi pleura, asites atau proteinuria.(6)

F. DIAGNOSA WHO (1997) Memberikan pedoman untuk membantu menegakkan diagnosis DBD secara dini, disamping menentukan derajat beratnya penyakit: 1. Biasanya ditandai oleh 4 manifestasi klinis utama yaitu ( demam tinggi, fenomena perdarahan, hepatomegali, dan kegagalan

sirkulasi) 2. Trombositopenia ringan sampai nyata bersamaan dengan

hemokonsentrasi adalah gejala laboratoris yang spesifik 3. Perbedaan utama dengan dengue adalah adanya kebocoran plasma yang ditandai dengan peningkatan Hematokrit. 4. DBD pada anak biasanya ditandai dengan kenaikan suhu mendadak, disertai facial flush dan tanda lain yang menyerupai Demam Dengue (DD) seperti Anoreksia, muntah, sakit kepala serta tulang atau otot, nyeri epigastrium, ketegangan pada batas kosta kanan dan nyeri abdomen menyeluruh juga sering ditemukan. 5. 6. Suhu tubuh biasanya > 39 C Fenomena perdarahan yang sering terjadi adalah uji torniquet (+), petekie, ekimosis, pada ekstremitas, muka dan palatum. Epistaksis dan perdarahan gusi juga dapat terjadi. 7. Hati biasanya teraba pada fase demam, lebih sering ditemukan pada kasus DBD dengan syok. 8. Pada akhir fase demam, kewaspadaan akan terjadi penurunan kondisi, harus dipikirkan antara lain terjadinya gangguan sirkulasi antara lain: keringat banyak, gelisah, akral teraba dingin, terjadi perubahan tekanan darah dan nadi. Untuk menunjang diagnosis DBD, dapat digunakan parameter

laboratorium, antara lain: 1. Leukosit yang awalnya menurun/ normal, pada fase akhir, dapat ditemui limfositosit relatif ( LPB > 15% ), yang pada fase syok akan meningkat. 2. Trombositopenia ( < 100.000 /l ) dan hemokonsentrasi ( Ht > 20 % dari normal )

3. Kelainan pembekuan sesuai derajat penyakit. 4. Protein plasma menurun. 5. Hiponatremia pada kasus berat. 6. Serum alanin-aminotransferase sedikit meningkat. 7. Isolasi virus terbaik saat viremia ( 3-5 hari ). 8. IgM terdeteksi pada hari ke 5, meningkat sampai minggu III, menghilang setelah 60-90 hari 9. IgG pada infeksi primer mulai terdeteksi pada hari 14, sedangkan pada infeksi sekunder mulai pada hari 2. (1)

G. PENATALAKSANAAN Tatalaksana DBD pada anak: Tatalaksana DBD bersifat simptomatik dan suportif yaitu pemberian cairan oral untuk mencegah dehidrasi.Pasien perlu diberikan minum 50 ml/kg BB dalam 4-6 jam pertama. Setelah keadaan dehidrasi dapat teratasi diberikan cairan rumatan 80-100 ml/ kgBB dalam 24 jam berikutnya. Apabila cairan oral tidak dapat diberikan karena tidak mau minum, muntah atau nyeri perut yang hebat, maka diberikan cairan intravena. Bayi yang masih minum ASI tetap harus diberikan disamping larutan oralit. Pada derajat I dan II, cairan intravena dapat dapat diberikan selama 12-24 jam. Perhatian khusus dengan peningkatan hematokrit yang terus menurus dan penurunan jumlah trombosit < 50.000/ l. Parasetamol direkomendasikan untuk mempertahankan suhu di bawah 39C denan dosis 10-15 mg/kgBB/kali. Tatalaksana DBD pada Pasien dewasa Tatalaksana ini didasarkan atas protokol yang terbagi atas 5 kategori yaitu: 1. Observasi dan pemberian cairan penderita DBD dewasa di UGD. Penderita yang dicurigai menderita DBD dengan hasil Hb, Ht dan trombosit dalam batas normal dapat dipulangkan dengan anjuran krmbali kontrol ke poliklinik dalam waktu 24 jam berikutnya atau bila keadaan memburuk. Sedangkan Penderita dirawat bila didapatkan hasil Hb, Ht dalam batas`normal dengan jumlah trombosit kurang dari 100.000/mm atau Hb,Ht meningkat dengan

jumlah trombosit kurang dari 150 000/ mm diberikan infus Ringer Laktat 500 cc dalam empat jam, selanjutnya dilakukan observasi ulang. 2. Observasi dan pemberian cairan penderita DBD dewasa tanpa perdarahan masif dan tanpa syok di ruang rawat. Cairan Ringer Laktat dapat diberikan dengan jumlah cairan yang diberikan dengan perkiraan selama 24 jam penderita mengalami dehidrasi sedang, maka penderita dengan berat sekitar 50-70 kg diberikan Ringer Laktat sebanyak 3000 cc selama 24 jam, bila BB< 50 kg diberi cairan sebanyak 2000 cc/24 jam dan bila BB> 70 kg diberi cairan sebanyak 4000 cc/24 jam. 3. Observasi dan pemberian cairan DBD dewasa dengan perdarahan spontan dan masif, tanpa syok di ruang rawat. Pada keadaan ini jumlah cairan Ringer laktat tetap seperti keadaan DBD tanpa syok lainnya sebanyak 500 cc setiap 4 jam. Dan dilakukan pemeriksaan laboratorium penunjang tiap 4 6 jam 4. Observasi dan pemberian cairan penderita DBD dewasa dengan syok dan perdarahan spontan. Pada kasus ini Ringer Laktat diberikan sebanyak 20 cc/kgBB/jam yang dievaluasi selama 30-120 menit, apabila syok sudah teratasi maka pemberian cairan selanjutnya sebanyak 500 cc/4 jam. 5. Observasi dan pemberian cairan DBD dewasa dengan syok tanpa perdarahan. Pada prinsipmnya sama dengan protokol 4 hanya pemeriksaan klinis maupun lab perlu dilakukan lebih teliti untuk menemukan kemungkinan adanya perdarahan tersembunyi. (1) H. FAKTOR-FAKTOR YANG BERKAITAN DENGAN PENDERITA

DBD 1. Faktor Sosial Ekonomi Penderita penyakit DBD jika tidak mendapat perawatan yang memadai dapat mengalami perdarahan yang hebat, syok dan dapat mengakibatkan kematian . Oleh karena itu semua kasus DBD sesuai dengan kriteria WHO harus mendapat perawatan di tempat pelayanan kesehatan atau Rumah sakit.Beberapa faktor sosial ekonomi yang berpengaruh antara lain : a. Tingkat Pendidikan masyarakat yang rendah mengakibatkan rendahnya kepedulian terhadap pencegahan penyakit DBD

b. Tingkat penghasilan masyarakat yang tinggi memungkinkan penderita segera mendapatkan pertolongan dan pengobatan, sehingga komplikasi kematian akibat penyakit DBD dapat dihindari.(2)

2. Faktor Perilaku SDM a. Pengetahuan Pengetahuan menurut (Notoatmodjo 1993) merupakan hasil dari perilaku dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap tertentu melalui panca indera manusia, pengetahuan ini menyebabkan sikap positif dan negatif.(3) 1. Pengetahuan masyarakat tentang gejala/tanda-tanda demam berdarah seperti demam tinggi selama 2-7 hari, timbulnya bercak-bercak merah (ptekia), kadang-kadang disertai mimisan. 2. Bahaya demam berdarah bila terlambat diberi pertolongan dapat menyebabkan komplikasi kematian . 3. Tempat-tempat yang disukai nyamuk Aedes aegypti adalah di tempattempat penampungan air jernih seperti bak mandi, kontainer, barang-barang bekas yang dapat menampung air, pohon yang dapat menampung air, air yang tergenang di atap-atap rumah dan talang air, baju-baju yang digantung 4. Mengetahui program 3M : Menguras TPA, Mengubur sisa-sisa barang bekas yang dapat menampung air, dan Menutup TPA.(4) b.Perilaku Masyarakat Perilaku mempunyai peranan besar terhadap kesehatan. Pendapat (Sarwono 1993) bahwa perilaku merupakan hasil dari segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungan, secara operasional perilaku dapat diartikan sebagai suatu respon organisme atau seseorang terhadap rangsangan diluar objek tersebut.(3) Perilaku masyarakat yang dapat mencegah timbulnya penyakit DBD a. Menguras TPA minimal seminggu sekali b. Mengganti vas bunga,tempat minum burung bila ada minimal seminggu sekali c. Tidak menggantung baju karena nyamuk Aedes aegypti suka pada baju yang digantung

10

d. Menimbun barang-barang bekas yang dapat menampung air. 3.Faktor Lingkungan Angka Bebas Jentik (ABJ) Angka bebas jentik adalah suatu prosentase dari jumlah rumah yang tidak ditemukan jentik dibanding dengan jumlah rumah yang diperiksa. Angka Bebas Jentik (ABJ) ini didapatkan melalui kegiatan pemeriksaan jentik secara berkala (PJB) pada rumah dan kontainer didalam dan diluar rumah yang positif atau negatif jentik.(1) 4. Faktor Pencegahan 1. Pemberatasan sarang nyamuk (PSN) adalah cara yang dilakukan dengan menghilangkan atau mengurangi tempat-tempat perindukan yang pada dasarnya adalah pemberantasan jentik atau mencegah nyamuk tidak berkembang biak seperti sebagai berikut : a. Menguras sekurangnya satu minggu sekali, dilakukan dengan pertimbangan siklus hidup perkembangan telur sampai menjadi nyamuk 1-10 hari b. Menutup rapat tempat penampungan air c. Mengganti air vas bunga seminggu sekali d. Membersihkan pekarangan dan halaman rumah dari barang bekas e. Menutup lubang pada pagar bambu dan lubang pohon dengan tanah f. Membersihkan air yang tergenang didepan rumah g. Memelihara ikan khusus untuk daerah sulit air 2. Abate adalah pemberantasan jentik Aedes aegypti dengan penggunaan Temophost (Abate) dimasukkan kedalam penampungan air yang diperkirakan menjadi tempat bersarangnya nyamuk dengan dosis yang digunakan 10 gram abate untuk 100 liter air.Abate mempunyai efek residu 3 bulan dan aman digunakan di teempat penampungan air yang airnya digunakan untuk manusia. 3. Fogging adalah pemberantasan terhadap nyamuk dewasa dengan cara peyemprotan pengasapan dengan insektida. Dilakukan mengingat kebiasaan nyamuk yang hinggap pada benda-benda tergantung. Karena

11

itu dilakukan penyemprotan ke dindining-dinding rumah.Insektisida yang dipakai : - Organohospat misal : Malathion, feniltrothion. - Pyremoitsritetie misal : lomda sihalotrim - Carbamat Alat yang digunakan untuk menyemprot ialah mesin fog atau mesin ULV karena penyemprotan dilakukan dengan cara pengasapan. Ini dilakukan 2 siklus dengan interval 1 minggu untuk membatasi penularan virus dengue (nyamuk infektif) dan nyamuk lainnya akan mati,tetapi akan mengisap darah penderita viremia yang masih ada setelah penyemprotan siklus 2 selanjutnya akan menimbulkan penularan virus dengue lagi. Oeh karena itu perlu dilakukan penyemprotan siklus ke II dengan penyemprotan yang kedua 1 minggu sesudah penyemprotan yang ke 1 nyamuk baru yang infektif ini akan terbasmi sebelum sempat menularkan kepada orang lain.

Penyemprotan insektisida ini dalam waktu singkat dapat membatasi penularan,akan tetapi tindakan ini perlu diikuti dengan pemberantasan jentiknya.(5)

12

BAB III OBYEK DAN METODE PENELITIAN

A. BENTUK PENELITIAN Penelitian ini bersifat deskriptif yang menggambarkan faktor-faktor yang berkaitan dengan penderita Demam Berdarah Dengue RT 01 RW 04 di desa Bangah kecamatan Gedangan.

B. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN Pelaksanaan penelitian ini berada di desa Bangah, kecamatan Gedangan, kabupaten Sidoarjo pada tanggal 7 Juli 11 Juli 2008.

C. OBYEK PENELITIAN 1. Populasi adalah Kepala keluarga warga RW01 RT04 desa Bangah yang ditemukan kasus Demam Berdarah Dengue sejumlah 40 kepala keluarga. 2. Besar sample yang digunakan adalah Jumlah Kepala Keluarga warga RW01 RT04 desa Bangah yang ditemukan kasus Demam Berdarah

Dengue sejumlah 40 kepala keluarga.

D. CARA PENGUMPULAN DATA 1. Jenis Data a. Data Primer Dikumpulkan dengan teknik wawancara menggunakan acuan

kuesioner dengan responden adalah masyarakat Desa Bangah

b. Data Sekunder Meliputi gambaran umum daerah penelitian yang didapat dari Puskesmas Pembantu Desa Bangah, kecamatan Gedangan, kabupaten Sidoarjo periode 1 Januari 2008 30 Juni 2008.

13

2. Jenis Variabel a. Variabel Terikat Keluarga penderita demam berdarah, keluarga tersangka demam berdarah, hasil pemeriksaan epidemiologi di Desa Bangah, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Sidoarjo. b. Variabel Bebas 1. Gambaran tingkat pendidikan penduduk di Desa Bangah 2. Gambaran tingkat penghasilan keluarga di Desa Bangah 3. Gambaran tingkat pengetahuan tentang Demam Berdarah Dengue 4. Gambaran perilaku penduduk di Desa Bangah 5. Gambaran berapa jumlah ABJ di Desa Bangah 6. Gambaran pencegahan terhadap Demam Berdarah Dengue 7. Gambaran frekuensi penyuluhan tentang Demam Berdarah Dengue

E. CARA MENGOLAH DATA 1. Data Mentah Berupa kuesioner yang telah diisi menurut karakteristik responden. Data mentah tersebut diedit dan bila telah lengkap kemudian ditabulasi untuk memperoleh tabel distribusi frekuensi yang digunakan sesuai analisis deskriptif. 2. Pengolahan Data 1. Pengumpulan data 2. Pengeditan 3. Membuat rancangan tabel a. Tabel Induk b. Distribusi frekuensi

F. CARA ANALISIS DATA Analisis sesuai dengan jenis penelitian deskriptif dilakukan dengan interpretasi data dari tabel distribusi frekuensi untuk memberikan gambaran hasil penelitian sesuai dengan tujuan penelitian.

14

G. KERANGKA KONSEP PENELITIAN Faktor lingkungan Angka Bebas Jentik Faktor Perilaku SDM Kebiasaan menggantung baju. dan Frekuensi menguras bak mandi. Tingkat pengetahuan

Demam Berdarah Dengue

Faktor Sosial Ekonomi Tingkat Penghasilan Tingkat Pendidikan

Faktor Pencegahan Pegolahan barang bekas yang dapat menampung air, Abatisasi, Fogging Penyuluhan

H.DEFINISI OPERASIONAL

1. Tingkat pendidikan adalah pendidikan formal terakhir yang pernah diterima oleh responden saat penelitian dilakukan terdiri atas SD, SLTP, SLTA, PT, dan tidak sekolah 2. Tingkat penghasilan adalah jumlah rata-rata penghasilan kepala keluarga perbulan /sesuatu yang didapatkan sebagai upah setelah melakukan pekerjaan selama sebulan dibagi menjadi :. 15

Kriteria penghasilan : <Rp. 500.000,00 Rp.500.000 - 1000.000,00 Rp.1000.000 - 1500.000,00 > Rp.1.500.000,00 : penghasilan sangat kurang : penghasilan kurang : penghasilan cukup : penghasilan baik

3. Tingkat pengetahuan adalah informasi yang diterima oleh responden mengenai Demam Berdarah Dengue. Kriteria penilaian : a. Tahu b. Tidak tahu : Bila menjawab 3 pertanyaan : Bila menjawab 1 pertanyaan

NO 1. 2. 3.

Pengetahuan Tentang DBD Tanda-tanda DBD Bahaya DBD Tempat-tempat yang disukai nyamuk DBD

Tahu

Tidak tahu

4.

Program 3M (Menguras,Mengubur,Menutup)\ Jumlah

4. Perilaku penduduk adalah kebiasaan penduduk sehari-hari seperti : NO 1. 2. Perilaku Penduduk Tidak menguras TPA seminggu/x Mengganti Vas, Pot,tempat minum burung bila ada seminggu/x 3. Menggantung baju di dalam rumah 4. Membuang botol, kaleng bekas Ya Tidak

16

ditempat sampah, ditimbun Jumlah

5. ABJ (Angka Bebas Jentik) adalah salah satu indikator yang digunakan untuk mengetahui apakah suatu wilayah sudah memenuhi target bebas dari jentik nyamuk DBD dan target yang diharapkan 95%.Kami para peneliti mengamati 40 rumah dari Responden. Dikatakan positif walaupun hanya ditemukan 1 jentik.Tidak perlu dilakukan identifikasi jentik nyamuk. Jentik Positif Negatif Jumlah

6. Yang dimaksud pencegahan DBD adalah segala usaha yang dilakukan warga masyarakat untuk mecegah terjadinya penyebaran penyakit DBD usaha tersebut yaitu pemberantasan sarang nyamuk yaitu kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat dalam membasmi jentik nyamuk penular

demam berdarah dengue dengan 3 M plus. 3 M adalah : Menguras tempat penampungan air bersih Menutup penampungan air bersih Menimbun atau mengubur barang-barang bekas Responden menjawab untuk membuang barang bekas yang dapat menampung air : a. Di buang di tempat sampah

b. ditimbun/ dikubur c. dijual Tempat Penampungan Air yang memungkinkan menjadi tempat perindukan jentik nyamuk Aedes Aegepty seperti : bak mandi, kontainer air bersih dan barang barang bekas yang menampung air, genangan air yang jernih, tempat minum binatang ternak. Fogging adalah penyemprotan nyamuk dewasa yang didanai melalui subsidi pemerintah maupun swadaya masyarakat karena ditemukan kasus penyakit DBD pada wilayah tersebut

17

a. Pernah b. Tidak pernah Abatisasi adalah penaburan insektisida pembasmi jentik dengan dosis 1 sendok makan peres (10 gram) abate untuk 100 liter air. Dengan frekuensi pemberian 2 bulan sekali. Pengetahuan Kepala Keluarga tentang bubuk Abate dibagi menjadi : a. Tahu : dapat menyebutkan manfaat dan

penggunaannya b. Tidak tahu 7. Frekuensi Penyuluhan tentang Demam Berdarah Dengue dan

pencegahannya. berapa sering diberikan penyuluhan secara langsung oleh petugas kesehatan dibagi menjadi : a. 2x setahun b. 1x setahun c. Tidak pernah/lupa

18

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN ANALISA

A. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

Desa Bangah Kecamatan Gedangan Kabupaten Sidoarjo terletak 3 km dari kecamatan Gedangan, 15 km dari Kabupaten Sidoarjo.

a. Luas wilayah desa Bangah adalah 126.355 Ha dengan batas-batas : Sebelah Utara Sebelah Barat : Desa Pepelegi Kecamatan Waru. Sebelah Selatan : Bohar Kecamatan Taman. : Wage Kecamatan Taman. Sebelah Timur : Sawotratap Kecamatan Gedangan.

b. Jumlah penduduk pada tahun 2007 sebanyak 3661 jiwa, jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin adalah sebagai berikut : Laki-laki Perempuan Kepala Keluarga : 3.111 orang : 3.073 orang : 1.488 KK

c. Mata pencaharian penduduk : 1. Pegawai Swasta 2. Petani 3. PNS 4. Tukang Batu 5. Tukang Kayu 6. Pensiunan ABRI / Sipil 7. Pensiunan Swasta 8. Guru 9. ABRI 10. Pegawai BUMN / BUMD 11. Pegawai Desa : 3.180 orang : 40 orang : 50 orang : 40 orang : 38 orang : 80 orang : : 28 orang : 29 orang : 13 orang : 7 orang

19

12. Mantri Kesehatan / Perawat 13. Jasa Angkutan 14. Dokter 15. Jasa Lembaga Keuangan 16. Bidan

: 13 orang : 10 orang : : : 4 orang 2 orang

d. Tingkat Pendidikan Penduduk : 1. Penduduk usia 10 th keatas yang buta huruf : 2. Penduduk tidak tamat SD / sederajat 3. Penduduk tamat SD / Sederajat 4. Penduduk tamat SLTP / Sederajat 5. Penduduk tamat SLTA / Sederajat 6. Penduduk tamat D-1 7. Penduduk tamat D-2 8. Penduduk tamat D-3 9. Penduduk tamat S-1 10. Penduduk tamat S-2 Jumlah -

: 517 orang : 1.209 orang : 1.865 orang : 1.749 orang : : : 48 orang 45 orang 46 orang

: 205 orang : 25 orang

: 5.709 orang

e. Kesejahteraan Penduduk : 1. Keluarga Pra Sejahtera 2. Keluarga Sejahtera I 3. Keluarga Sejahtera II 4. Keluarga Sejahtera III 5. Keluarga Sejahtera III Plus Jumlah f. Wabah penyakit yang terjadi : 1. 2. 3. Demam Berdarah Malaria Tipus/Kolera/Muntaber Jumlah g. Prasarana Kesehatan : 12 Kasus : : 4 Kasus :16 Kasus : 23 KK

: 145 KK : 296 KK : 785 KK : 249 KK : 1.498 KK

20

1. Rumah Sakit Bersalin 2. Puskesmas pembantu Jumlah

: 1 unit : 1 unit : 2 unit

B.KARAKTERISTIK RESPONDEN 1. Gambaran tingkat pendidikan Tabel IV.1 Tabel Distribusi Tingkat Pendidikan Kepala Keluarga RW01 RT04 Warga di Desa Bangah dalam Satu Bulan, Kecamatan Gedangan Tingkat Pendidikan Frekuensi Prosentase (%) SD 3 7,5 SLTP 8 20 SLTA 16 40 Perguruan Tinggi 12 30 Tidak Sekolah 1 2,5 JUMLAH 40 100
Sumber: Hasil Survey

Diagram 1 Diagram Proporsi Tingkat Pendidikan Kepala Kelurga RW01 RT04 Dalam Satu Bulan warga Di Desa Bangah Kecamatan Gedangan, Kabupaten Sidoarjo

2.5% 30%

7.5% 20% SD SLTP SLTA Perguruan Tinggi Tidak Sekolah

40%

Berdasarkan diagram diatas diketahui bahwa sebagian besar responden yaitu 40% berpendidikan SLTA diurutan pertama dan sekitar 30% adalah Perguruan tinggi , selanjutnya sekitar 20% ditempati SLTP.

21

Tabel 2 Gambaran tingkat penghasilan Tabel Distribusi Tingkat Penghasilan Kepala Keluarga RW01 RT04 Warga di Desa Bangah dalam Satu Bulan, Kecamatan Gedangan Tingkat Penghasilan < Rp.500.000,00 Rp.500.000,1000.000,00 Rp.1.000.000,1.500.000,00 >Rp.1.500.000,00 JUMLAH Frekuensi 4 11 Prosentase (%) 10 27,5

20

50

5 40

12,5 100

Diagram 2 Diagram Proporsi Tingkat Penghasilan Kepala Kelurga RW01 RT04 Dalam Satu Bulan, warga Di Desa Bangah Kecamatan Gedangan, Kabupaten Sidoarjo

10,0% 12,5% 27,5% 50%

< Rp.500.000,00 Rp. 500.000,00 - Rp. 1.000.000,00 Rp. 1.000.000,00 - Rp. 1.500.000,00 > Rp. 1.500.000,00

22

Berdasarkan diagram diatas diketahui bahwa tingkat penghasilan responden terbanyak adalah Rp.1.000.000 Rp.1.500.000,00

Tabel 3 Gambaran tingkat pengetahuan mengenai DBD Tabel Distribusi tingkat pengetahuan mengenai DBD Kepala Kelurga RW01 RT04 warga Di Desa Bangah Kecamatan Gedangan, Kabupaten Sidoarjo Sumber : Hasil survey Pengetahuan tentang DBD Tahu Tidak tahu Jumlah Frekuensi Prosentase (%)

17 23 40

42,5 57,5 100

Diagram 3 Diagram Proporsi Tingkat Pengetahuan tentang DBD Kepala Kelurga RW01 RT04 Dalam warga Di Desa Bangah Kecamatan Gedangan, Kabupaten Sidoarjo
42.5% 57% Tahu Tidak Tahu

Berdasarkan diagram diatas kebanyakan responden yang tidak mengetahui tentang DBD lebih banyak dibanding yang tahu karena hanya melihat sekilas-sekilas saja lewat iklan di TV dan Koran yaitu sebesar 57,5% dan yang tahu hanya 42,5%.

23

Tabel 4 Gambaran perilaku penduduk Tabel Distribusi Perilaku penduduk RW01 RT04 warga Di Desa Bangah Kecamatan Gedangan, Kabupaten Sidoarjo yang dapat menyebabkan timbulnya DBD Sumber : Hasil survey Perilaku penduduk disini seperti : 1. Tidak menguras TPA seminggu/x 2. Mengganti Vas atau Tempat minum burung bila ada seminggu/x 3. Menggantung baju dalam rumah Dikatakan ya bila responden menjawab 2. Perilaku penduduk Ya Tidak Jumlah Jumlah 32 8 40 Prosentase(%) 80 20 100

Diagram 4 Diagram Distribusi Perilaku penduduk RW01 RT04 warga Di Desa Bangah Kecamatan Gedangan, Kabupaten Sidoarjo, yang dapat menimbulkan DBD Sumber : Hasil survey

20% 80.0% Ya Tidak

24

Berdasarkan diagram diatas Perilaku penduduk yang kemungkinan dapat menyebabkan timbulnya resiko kasus DBD sebanyak 80%

Tabel 5 Gambaran Jumlah angka bebas jentik Tabel Distribusi Angka Bebas Jentik rumah penduduk di Desa Bangah RT04 RW01 Kecamaran Gedangan, Kabupaten Sidoarjo Sumber : Hasil Survey Jentik Positif Negatif JUMLAH Jumlah 14 26 40 Persentase (%) 35 65 100

Diagram 5 Diagram Distribusi Angka Bebas Jentik rumah penduduk di Desa Bangah RT04 RW01 Kecamatan Gedangan, Kabupaten Sidoarjo
35% 65% Positif Negatif

Berdasar diagram diatas didapatkan angka bebas jentik belum memenuhi target 95%, karena ditemukan rumah responden yang positif jentik sebesar 35% dan yang negative 65% jadi ABJ yang dicapai baru mencapai Jumlah rumah yang tidak dtemukan jentik x 100% = 26 x 100 = 65% Jumlah rumah yang diperiksa 40

25

Tabel 6.1 Gambaran pencegahan terhadap DBD oleh penduduk Tabel Distribusi pencegahan terhadap DBD berhubungan dengan pembuangan sisa-sisa bahan yang dapat menampung air oleh responden di Desa Bangah RT04 RW01 Kecamatan Gedangan, Kabupaten Sidoarjo Sumber : Hasil Survey Membuang barang bekas yang dapat menampung air Dibuang tempat sampah Dikubur/ditimbun Dijual JUMLAH

Jumlah

Porsentase (%)

27

67,5

2 11 40

5 27,5 100

Diagram 6.1 Diagram Distribusi pencegahan terhadap DBD berhubungan dengan pembuangan sisa-sisa bahan yang dapat menampung air oleh responden di Desa Bangah RT04 RW01 Kecamatan Gedangan, Kabupaten Sidoarjo

27.5% 67.5% 5%

Dibuang di Tempat Sampah Dikubur/Ditimbun Dijual

Berdasarkan diagram diatas pencegahan yang dilakukan responden terhadap DBD untuk pembuangan sisa barang yang dapat menampung air prosentase terbanyak yaitu dibuang di tempat sampah sebesar 67.5% karena di desa Bangah ada pasukan kuning yang mengambil sampah setiap hari.

26

Tabel 6.2 Gambaran pencegahan tehadap DBD berhubungan dengan Manfaat dan Pemberian Bubuk Abate. Tabel Distribusi pencegahan terhadap DBD berhubungan dengan Bubuk Abate di Desa Bangah RT04 RW01 Kecamaran Gedangan, Kabupaten Sidoarjo Sumber : Hasil Survey Bubuk Abate Tahu Tidak tahu Jumlah Jumlah 3 37 40 Prosentase (%) 7,5 92,5 100

Diagram 6.2 Diagram distribusi pencegahan terhadap DBD berhubungan dengan Bubuk Abate di Desa Bangah RT04 RW01 Kecamaran Gedangan, Kabupaten Sidoarjo Sumber : Hasil Survey

7.5% Positif Negatif

92.5%

Berdasarkan diagram diatas responden yang mengetahui manfaat dan pemberian bubuk abate secara tepat hanya sebesar 7,5%. Tabel 6.3 Gambaran pencegahan terhadap DBD yang berhubungan Dengan Fogging. Tabel Distribusi pencegahan terhadap DBD yang berhubungan dengan fogging di Desa Bangah RT04 RW01 Kecamaran Gedangan, Kabupaten Sidoarjo Sumber : Hasil Survey Fogging Jumlah Prosentase (%)

27

Pernah Tidak pernah Jumlah

40 0 40

100 0 100

Diagram 6.3 Diagram distribusi pencegahan terhadap DBD di Desa Bangah RT04 RW01 Kecamaran Gedangan, Kabupaten Sidoarjo Sumber : Hasil survey

Pernah 100% Tidak Pernah

Berdasarkan diagram diatas responden yang menjawab di daerah penelitian pernah dilakukan fogging setelah ditemukan positif kasus DBD yaitu sebesar 100% Tabel 7 Gambaran frekuensi penyuluhan DBD Tabel Distribusi Frekuensi penyuluhan DBD di Desa Bangah RT04 RW01 Kecamaran Gedangan, Kabupaten Sidoarjo Sumber : Hasil Survey Pernah / Tidak Mendapat Penyuluhan Pernah 1x Pernah 2x Tidak Pernah JUMLAH Sumber : Hasil survey Jumlah 7 0 33 40 Prosentase (%) 7,5 0 82,5 100

Diagram 7 Diagram . Frekuensi penyuluhan DBD


7.5% 0% Pernah 1x Pernah 2x 82.5% Tidak Pernah

28

Berdasarkan diagram diatas sebagian besar responden mengatakan pernah dilakukan penyuluhan tentang DBD oleh petugas kesehatan dengan prosentase 7,5 % dan yang tidak pernah 82,5 %.

29

BAB V PEMBAHASAN

A. Gambaran Tingkat Pendidikan Kepala Keluarga. Dari hasil survey Tingkat pendidikan responden dapat diketahui sebagian besar adalah Tamatan SLTA (40%), Perguruan Tinggi (30%), SLTP (20%), SD (7,5%), dan tidak sekolah (2,5%). Dari data diatas (tabel 1) dengan tingkat pendidikan yang lumayan tinggi diharapkan bisa menerapkan pengetahuan yang dimiliki yang diterima dari petugas kesehatan maupun informasi tentang DBD dengan pelaksanakannya. Tetapi pendidikan yang tinggi tidak dapat menjamin masyarakat melaksanakannya dengan benar. Terbukti dengan ditemukannya penderita DBD di Desa Bangah Rw 04 Rt 01. Tingkat pendidikan yang tinggi diharapkan dapat melakukan tindakan terhadap masalah yang muncul seperti kasus DBD agar tidak bertambah banyak, dengan melakukan pencegahan untuk memberantas Nyamuk DBD. Padahal banyak informasi atau penyuluhan tentang DBD oleh pemerintah baik melalui media massa maupun elektronik. Tetapi hal tersebut masih diabaikan oleh masyarakat karena dianggap tidak penting. Bila sudah ditemukan masyarakat yang terkena DBD barulah masyarakat bergerak untuk melakukan tindakan. Pada masyarakat yang pendidikannya tinggi seharusnya memberi contoh lebih dahulu pada masyarakat yang pendidikannya kurang secara tidak langsung cepat atau lambat pasti akan diikuti dan dilaksanakan.

B. Gambaran Tingkat Penghasilan Penduduk Dari hasil survey dapat diketahui tingkat penghasilan terbanyak adalah 50 % memiliki penghasilan Rp.1.000.000,-1.500.000,00 hal ini berpengaruh pada penanganan dan pengobatan yang memadai, sehingga penyakit DBD dapat terdeteksi sejak dini hingga tidak sampai menimbulkan kematian. Kemungkinan pengetahuan tentang DBD yang masih rendah dan penyuluhan yang kurang di daerah tersebut.

30

C. Gambaran Tingkat Pengetahuan Tentang DBD Dari hasil survey diperoleh bahwa sebagian masyarakat yang tidak mengetahui tentang DBD termasuk tanda-tanda, bahaya, tempat yang disukai nyamuk, dan program 3M yaitu sebesar 57,5% dan yang sudah mengetahui sebesar 42,5% dapat dilihat prosentase yang tidak tahu lebih besar walaupun pendidikan sebagian masyarakatnya cukup tinggi. Hal ini disebabkan karena : a. Kemungkinan partisipasi masyarakat yang kurang tanggap terhadap bahayanya penyakit DBD. b. Kemungkinan kurangnya partisipasi perangkat desa untuk terjun langsung memberikan penyuluhan tentang penyakit DBD pada masyarakat. c. Kurangnya kesadaran masyarakat untuk mengetahui pentingnya penyakit DBD. Biasanya setelah ada yang terkena penyakit DBD barulah masyarakat tahu betapa pentingnya pengetahuan tentang DBD. D. Gambaran tentang Perilaku Penduduk Dari hasil survey diperoleh bahwa sebagian besar masyarakat sebanyak 80% mempunyai kesadaran yang kurang terhadap kebersihan lingkungan dalam kesehariannya yang dapat menyebabkan timbulnya penyebab penyakit DBD. Perilaku penduduk disini seperti : 1. Tidak menguras TPA seminggu/x tapi bila sudah kotor saja, sehingga dapat menyebabkan timbulnya jentik nyamuk. 2. Mengganti Vas atau Tempat minum burung bila ada seminggu/x, agar tidak dapat dijadikan tempat berkembangbiak. 3. Menggantung baju dalam rumah, dimana nyamuk beristirahat / hinggap. 4. Membuang botol/kaleng bekas di tempat sampah, karena barang-barang bekas yang dapat menampung air dapat menjadi tempat

berkembangbiaknya nyamuk yang dapat meningkatkan penularan nyamuk DBD. E. Gambaran Angka Bebas Jentik Dari hasil survey diperoleh bahwa Angka Bebas Jentik belum sesuai harapan yaitu 65% dimana seharusnya angka yang dicapai sebesar 95%.

31

Kegiatan Pemantauan Jentik Berkala rutin dilakukan oleh tenaga medis oleh kader Desa Bangah dibawah bimbingan Bidan Desa Bangah setiap 2 minggu/x setelah ditemukan kasus DBD di daerah tersebut. F. Gambaran Tingkat Pencegahan Terhadap DBD. F.1 Berhubungan dengan pembuangan sisa-sisa bahan yang dapat menampung air oleh responden. Dari hasil survey didapatkan sebagian besar sisa kaleng dan botol bekas dibuang di tempat sampah sebanyak 67,5% dan di Desa Bangah ada pasukan kuning yang setiap hari mengambil sampah, yang dikubur 5%, dan yang dijual 27,5%. F.2 Berhubungan dengan Bubuk Abate. Dari hasil survey didapatkan sebagian besar masyarakat yang tahu manfaat dan penggunaan bubuk abate sebesar 7,5% dan yang tidak tahu sebesar 92,5%. Hampir semua responden tidak tahu pemakaian bubuk abate secara tepat. Sehingga usaha pencegahan dan pemberantasan sarang nyamuk menjadi tidak efektif dan penularan DBD menjadi tinggi. F.3 Berhubungan dengan Fogging. Dari hasil survey didapatkan bahwa di desa Bangah sudah pernah dilakukan fogging baik dari subsidi pemerintah maupun swadaya masyarakat sendiri sebanyak 100% setelah ditemukan kasus penyakit DBD. Adanya fogging tidak menurunkan DBD kemungkinan karena masih rendahnya perilaku yang kurang tanggap terhadap kesehatan lingkungan.

G. Gambaran Frekuensi Penyuluhan Terhadap DBD Dari hasil survey didapatkan bahwa sebanyak 82,5% responden mengatakan tidak pernah mendapat penyuluhan tentang DBD. Hal ini dapat berpengaruh pada rendahnya pengetahuan tentang penyakit DBD sehingga kurang mendukung usaha pencegahan dan pengobatan penyakit DBD.

32

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Dari hasil penelitian yang dilakukan di Desa Bangah Kecamatan Gedangan didapatkan gambaran faktor yang berkaitan dengan Penderita Demam Berdarah yaitu : 1. Didapatkan prosentase Tamatan SLTA (40%), Perguruan Tinggi (30%), SLTP (20%), SD (7,5%), dan tidak sekolah (2,5%). pendidikan yang tinggi tidak dapat menjamin masyarakat melaksanakannya dengan benar. Terbukti dengan ditemukannya penderita DBD di Desa Bangah Rw 04 Rt 01. 2. Dari hasil survey dapat diketahui tingkat penghasilan terbanyak adalah 50 % memiliki penghasilan Rp.1.000.000,-1.500.000,00. Karena kesibukan pekerjaan banyak masyarakat yang kurang peduli terhadap lingkungan tempat tinggal dan kesehatannya.Ternyata dengan

penghasilan yang tinggi belum dapat mencegah penyebaran DBD. 3. Sebagian masyarakat tidak mengetahui tentang DBD yaitu sebesar 57,5% dan yang sudah mengetahui sebesar 42,5% Hal ini disebabkan karena : a. Kemungkinan partisipasi masyarakat yang kurang tanggap terhadap bahayanya penyakit DBD. b. Kemungkinan kurangnya partisipasi perangkat desa untuk terjun langsung memberikan penyuluhan tentang penyakit DBD pada masyarakat. c. Kurangnya kesadaran masyarakat untuk mengetahui pentingnya penyakit DBD 4. Sebagian besar masyarakat sebanyak 80% mempunyai perilaku yang buruk dalam kesehariannya yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit DBD. 5. Dari hasil survey diperoleh bahwa Angka Bebas Jentik belum sesuai harapan yaitu 65% dimana seharusnya angka yang dicapai sebesar 95%. 6. Gambaran pencegahan DBD

33

a. Berhubungan dengan pembuangan sisa-sisa bahan yang dapat menampung air oleh responden.dari hasil survey didapatkan sebagian besar sisa kaleng dan botol bekas dibuang di tempat sampah sebanyak 67,5%. b. Berhubungan dengan Bubuk Abate dari hasil survey didapatkan sebagian besar masyarakat yang tahu manfaat dan penggunaan bubuk abate sebesar 7,5% dan yang tidak tahu sebesar 92,5%. Hampir semua responden tidak tahu pemakaian bubuk abate secara tepat c. Berhubungan dengan Fogging dari hasil survey didapatkan bahwa di desa Bangah sudah pernah dilakukan fogging sebanyak 100% setelah ditemukan kasus penyakit DBD. 7. Dari hasil survey didapatkan bahwa sebanyak 82,5% responden mengatakan tidak pernah mendapat penyuluhan tentang DBD. B. Saran 1. Mengenalkan kepada masyarakat tentang perilaku hidup sehat dan gejalagejala DBD sehingga mencegah timbulnya penyakit dan penyebaran DBD. 2. Memberikan penyuluhan secara intensif kepada masyarakat melalui media massa, sekolah, tempat ibadah, di tempat tempat dilaksanakannya pertemuan masyarakat desa. 3. Melakukan pembinaan dan pendekatan terhadap masyarakat untuk melakukan Kerja bakti dalam pelaksanakan program 3M (menguras, mengubur, menutup) di lingkungannya. 4. 5. Dilakukannya pemberantasan jentik secara swadaya dan tepat guna. Dilakukan pengasapan / Fogging secara rutin dengan tidak bergantung pada subsidi pemerintah. 6. Diharapkan masyarakat ikut langsung dalam memberantas nyamuk Aedes Aegypti.

34

35