Anda di halaman 1dari 18

PENGARUH AUDIT OPERASIONAL PADA PENGELOLAAN PERSEDIAAN BARANG DAGANG TERHADAP PENINGKATAN LABA PADA PT.

PUSRI PERSERO PALEMBANG

I. Latar Belakang Pengawasan internal mempunyai peranan yang sangat penting bagi suatu organisasi perusahaan, apabila ada dewan direksi atau komisaris yang menganggap Satuan Pengawas Internal (SPI) bukanlah sesuatu yang penting maka tunggulah kehancuran perusahaan. Fungsi pengawasan ini merupakan suatu upaya tindakan pencegahan, penemuan penyimpanganpenyimpangan melalui pembinaan dan pemantauan internal control secara berkesinambungan. Agar semua kecurangan yang terjadi di perusahaan dapat ditemukan dan dicegah sehingga menimbulkan efek positif pada perkembangan perusahaan seperti peningkatan laba. Peningkatan penghasilan ini berasal dari tertibnya pembukuan keuangan sehingga tidak terjadinya kehilangan pada keuangan perusahaan, menjaga aset perusahaan dari tangan-tangan jahil dan mencegah peningkatan nilai barang yang tidak sesuai dengan harga pasar, prosedur perusahaan berjalan sesuai yang di tetapkan sehingga meningkatkan kepuasan pelanggan, terjaganya mutu pelayan pelanggan, serta efisiensi usaha. Satuan Pengawas Internal atau Audit Intern inilah yang akan melakukan audit disetiap kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan, seperti audit operasional. Audit Operasional adalah mengevaluasi kegiatan operasional perusahaan dengan tujuan menilai apakah pelaksanaan kegiatan operasional perusahaan telah dilakukan secara efektif, efisien dan ekonomis bagi perusahaan. Apabila setelah dilakukan audit operasional dan ternyata ada hal-hal yang menurut

auditor belum dilakukan oleh perusahaan maka auditor akan memberikan rekomendasi pada perusahaan untuk melakukan peningkatan-peningkatan dimasa yang akan datang. Audit operasional dilakukan oleh Tim Pengawasan Operasional selaku tim internal auditor yang dibentuk oleh Kepala Satuan Pengawas Intern (SPI). Audit operasional tersebut dilakukan secara periodik, yaitu setahun sekali yang ditentukan oleh perusahaan. Misalkan, auditor melakukan pemeriksaan gedung untuk melakukan pemeriksaan fisik atas persediaan barang dagang, kemudian membandingkan dengan laporan persediaan dan menilai pelaksanaan prosedur pengelolaan persediaan barang dagang. Salah satu kegiatan yang dilakukan oleh audit operasional adalah pengelolaan dari persediaan barang dagang. Persediaan barang dagang merupakan bagian utama dari neraca dan merupakan perkiraan yang nilainya cukup besar dan pengaruh yang besar pula. Besarnya jumlah moda perusahaan yang tertanam di persediaan barang dagang ini menyebabkan persediaan barang dagang adalah salah satu aktiva yang sangat penting bagi perusahaan. Pada intinya penyelangaraan semua kegiatan operasional dimaksudkan untuk menjamin bahwa dukungan yang diberikan pada bidang-bidang fungsional dalam perusahaan benar-benar efektif dan efisien. Persediaan barang dagang juga harus dikelola dengan baik, karena akan mempengaruhi bagian pemasaran barang. Pemasaran barang dagang dipengaruhi ada tidaknya persediaan barang dagang di gudang perusahaan. Dengan pengelolaan yang baik, perusahaan akan mampu memasarkan produknya sesuai dengan permintaan dari konsumen tepat waktu. Karena apabila perusahaan tidak mengelola persediaan barang dagangannya dengan baik maka perusahaan akan mengalami kesulitan dalam melakukan pemasaran produknya jika persediaan barang dagang kosong atau tidak mampu memcukupi permintaan konsumen dan berimbas pada perusahaan tidak akan mendapatkan laba yang seharusnya bisa didapatkan.

PT Pupuk Sriwidjaja Persero Palembang atau PT PUSRI adalah salah satu perusahaan yang bergerak di bidang industri pembuatan pupuk. PT PUSRI ini telah memasarkan pupuk ke berbagai daerah di Indonesia dan berkantor pusat di Palembang. PT PUSRI memperoleh sebagian besar keuntungan mereka dari pemasaran pupuk. Keuntungan tersebut juga didapat dari penjualan gas hasil pembuatan pupuk ke perusahaan lain. Perusahaan besar ini dalam perkembangannya memerlukan audit intern dalam mengawasi kegiatan perusahaan seperti kegiatan keuangan, produksi, dan persediaan. Persediaan yang ada di PT PUSRI ini terdiri dari persediaan pupuk urea dan hasil produksi sampingan yang dihasilkan oleh kegiatan produksi pupuknya. Dalam memenuhi kebutuhan barang-barang tersebut dan menunjang kegiatan pemasaran produknya, maka perusahaan harus menyimpan persediaan barang dagangnya di gudang dengan jumlah tertentu untuk dipasarkan ke masing-masing gudang unit di daerah dengan menggunakan jasa angkutan seperti truk dan kapal laut. Audit atas pengelolaan persediaan barang dagang perlu dilakukan untuk menentukan apakah nilai persediaan barang dagang yang tercantum sesuai dengan keadaan sebenarnya di gudang dan apakah pengelolaan persediaan barang dagang telah dilakukan dengan cara yang efektif dan efisien. Audit atas persediaan merupakan kegiatan yang kompleks dan memerlukan waktu yang cukup banyak untuk melakukan pemeriksaan karena pemeriksaan terdiri dari berbagai jenis dan tersebar ke beberapa lokasi. Pengelolaan persediaan barang dagang merupakan fungsi manajerial yang penting bagi perusahaan, karena pemeriksaan fisik atas persediaan ini menggunakan investasi yang tidak sedikir dan melibatkan efektifitas dan efisiensi kegiatan perusahaan. Karenanya audit operasional sangatlah dibutuhkan untuk mengurangi resiko terjadinya kehilangan, selisih kesalahan,

mengantisipasi kemungkinan kecurangan dan memastikan bahwa prosedur yang telah dilakukan dengan semestinya. Jika ditemukan kesalahan atau pun hal-hal yang menyimpang, maka auditor akan membuat usulan perbaikan untuk meningkatkan kinerja operasional di masa yang akan datang. Berdasarkan uraian diatas penulis ingin mengangkat permasalah ini dengan judul Pengaruh Audit Operasional Pada Pengelolaan Persediaan Barang Dagang Terhadap Peningkatan Laba Pada PT. PUSRI Persero Palembang II. Rumusan Masalah Dari uraian di atas, peneliti dapat mengemukakan beberapa permasalahan sebagai berikut: 1. Apakah ada pengaruh audit operasional dan pengelolaan persediaan barang dagangan secara simultan terhadap peningkatan laba pada PT.PUSRI (PERSERO)

PALEMBANG ?. 2. Apakah ada pengaruh audit operasional secara parsial terhadap peningkatan laba pada PT.Pusri (Persero) Palembang? 3. Apakah ada pengaruh pengelolaan persediaan barang dagangan secara parsial terhadap peningkatan laba pada PT. Pusri (Persero) palembang? III. Tujuan Penelitian
Peneliti memiliki beberapa tujuan yang ingin dicapai melalui penelitian ini, tujuan-tujuan tersebut yaitu : 1. Untuk mengetahui hubungan audit operasional dan pengelolaan persediaan barang

dagangan secara simultan terhadap peningkatan laba (Persero) Palembang.

di PT Pupuk Sriwidjaja

2. Untuk mengetahui hubungan audit operasional secara parsial terhadap peningkatan

laba pada PT.Pusri (Persero) Palembang.


3. Untuk mengetahui hubungan pengelolaan persediaan barang dagangan pada PT. Pusri

(Persero) Palembang IV. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut: 1. Bagi Peneliti Penelitian ini diharapkan dapat menjadi kesempatan bagi peneliti untuk menerapkan teori-teori yang diperoleh di bangku kuliah dan membandingkannya dengan praktek yang terjadi dalam perusahaan. 2. Bagi PT. Pusri (Persero) Palembang Dapat memberikan informasi dan masukan kepada pihak perusahaan mengenai hubungan audit operasional dan pengelolaan persediaan barang dagangan terhadap peningkatan laba perusahaan. 3. Bagi Universitas Sriwidjaya Untuk menambah pengetahuan mengenai konsep, prosedur dan teknik-teknik audit operasional dan pengelolaan persediaan barang dagangan dan sebagai dasar pengembangan penelitian selanjutnya. V. Batasan Masalah Agar masalah yang diangkat oleh penulis tidak menyimpang ke arah lain, maka peneliti membuat batasan masalah.

a. Audit operasional yang akan diteliti ini adalah audit yang berkenaan dengan pengelolaan persediaan barang dagang PT PUSRI. b. Objek dari penelitian ini adalah pengaruh audit operasional pada pengelolaan persediaan barang dagang terhadap peningkatan laba PT PUSRI.

VI. Landasan Teori 6.1. Audit Operasional Untuk mengetahui adanya kesalahan, kekurangan dan kecurangan yang dilakukan oleh karyawan, perusahaan membutuhkan Satuan Pengawas Intern sebagai badan independen untuk mengawasi jalannya kegiatan operasional perusahaan. Badan ini ditunjuk sebagai pengawas dan bersifat independen dan tidak mempunyai hubungan apa pun dengan badan lain di perusahaan kecuali top management. Audit operasional ini merupakan bagian dari kegiatan audit yang dilakukan oleh Satuan Pengawas Intern. Pengelolaan persediaan barang dagang diawasi oleh bagian operasional perusahaan. Audit operasional dimaksudkan terutama untuk mengidentifikasi kegiatan, program, aktivitas yang memerlukan perbaikan atau penyempurnaan dengan bertujuan untuk menghasilkan perbaikan atas pengelolaan struktur dan pencapaian hasil dari objek yang diperiksa dengan cara memberikan saran-saran tentang upaya-upaya yang dapat ditempuh guna pendayagunaan sumber-sumber secara efisien, efektif dan ekonomis. Dalam mengadakan pemeriksaan, titik berat perhatian utama diarahkan kepada kegiatankegiatan yang diperkirakan dapat diperbaiki di masa yang akan datang. Tujuan audit operasional

tidak hanya ingin mendorong dilakukannya tindakan perbaikan tetapi juga untuk menghindari kemungkinan terjadinya kekurangan atau kelemahan di masa yang akan datang. Menurut (Amin Wijaya Tunggal, 2001), ada beberapa tujuan dari audit operasional: 1. Objek dari audit operasional adalah mengungkapkan kekurangan dan

ketidakberesan dalam setiap unsur yang diuji oleh auditor dan untuk menunjukkan perbaikan apa yang dimungkinkan terjadi untuk memperoleh hasil yang terbaik dari operasi yang bersangkutan. 2. Untuk membantu manajemen mencapai administrasi operasi yang paling efisien. 3. Mengusulkan pada manajemen cara-cara dan alat-alat untuk mencapai tujuan apabila manajemen organisasi sendiri kurang memiliki pengetahuan tentang pengelolaan yang efisien. 4. Audit operasional bertujuan untuk mencapai efisiensi dari pengelolaan. 5. Untuk membantu manajemen, audit atau operasi berhubungan dengan fase dari aktivitas usaha yang dapat merupakan dasar pelayanan pada manajemen. 6. Untuk membantu manajemen pada setiap tingkat dalam pelaksanaan yang efektif dan efisien dari tujuan dan tanggung jawab mereka. Sasaran audit operasional adalah kegiatan, aktivitas, program atau bidang-bidang organisasi yang diketahui atau diidentifikasi memerlukan perbaikan atau peningkatan dalam hal efektifitas, efisiensi dan ekonomisnya. Ada tiga tahap yang dilakukan dalam melakukan audit operasional, menurut (Arens dan Loebbecke, 2007), yaitu: 1. Perencanaan

Perencanaan dalam audit operasional serupa dengan perencanaan untuk audit atas laporan keuangan historis. Seperti dalam audit laporan keuangan, auditor operasional harus menentukan lingkup penugasan dan menyampaikan hal itu kepada unit organisasional, juga perlu menentukan staff yang tepat dalam penugasan, mendapatkan informasi mengenai latar belakang unit organisasional, memakai struktur pengendalian intern, serta menentukan bahan bukti yang tepat yang harus dikumpulkan. Perbedaan utama antara perencanaan audit operasional dengan audit laporan keuangan adalah sangat banyaknya keragaman dalam audit operasional. Oleh karena keragamannya, seringkali sulit menentukan tujuan khusus pada suatu audit operasional, sehingga tujuannnya akan didasarkan pada kriteria yang dikembangkan untuk penugasan. 2. pengumpulan dan evaluasi bahan bukti Dengan cara yang sama seperti pada audit keuangan, auditor operasional harus mengumpulkan cukup bahan bukti yang kompeten agar dapat menjadi dasar yang layak guna menarik suatu kesimpulan mengenai tujuan yang sedang diuji. 3. Pelaporan dan tindak lanjut Dua perbedaan utama dalam laporan audit operasional dan keuangan yang mempengaruhi laporan audit operasional. Pertama, dalam audit operasional, laporan biasanya dikirim hanya untuk pihak manajemen, dan satu salinan untuk unit yang diperiksa. Tidak adanya pemakaian pihak ketiga, mengurangi pembakuan kata-kata dalam laporan audit operasional. Kedua, keragaman audit operasional memerlukan penyusunan laporan secara khusus untuk menyajikan ruang lingkup audit, temuantemuan dan rekomendasi-rekomendasi. Hubungan kedua faktor ini mengakibatkan banyak perbedaan dalam laporan audit operasional. Penulisan laporan seringkali

memakan banyak waktu agar temuan-temuan dan rekomendasi disampaikan secara jelas. Tindak lanjut merupakan hal yang biasa dalam audit operasional di saat rekomendasi-rekomendasi disampaikan kepada manajemen, yang tujuannya adalah untuk memastikan apakah perubahan-perubahan yang direkomendasikan telah dilakukan dan jika tidak apakah alasannya. 6.2. Persediaan Persediaan adalah bagian utama dalam neraca dan seringkali merupakan perkiraan yang nilainya cukup besar yang melibatkan modal kerja yang besar. Menurut (Standar Akuntansi Keuangan, 1999) persediaan adalah aktiva: 1. tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal; 2. dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan; atau 3. dalam bentuk bagan atau perlengkapan (supplies) untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa Pengertian mengenai persediaan dalam hal ini adalah sebagai suatu aktiva yang meliputi barang-barang milik perusahaan dengan maksud untuk dijual dalam suatu periode waktu tertentu atau persediaan barang-barang yang masih dalam pengerjaan atau proses produksi, ataupun persediaan bahan baku yang menunggu penggunaannya dalam suatu proses produksi. Pada prinsipnya persediaan mempermudah atau memperlancar kegiatan operasi perusahaan, yang harus dilakukan secara berturut-turut untuk memproduksi barang-barang, serta selanjutnya menyampaikannya kepada para pelanggan atau konsumen.

VII. Metodologi Penelitian 7.1. Bagan Pemikiran Faktor yang berhubungan dengan peningkatan laba adalah audit operasional, pengelolaan persediaan barang dagangan dan piutang. Namun tidak semua variabel diteliti dalam penelitian ini, dengan pertimbangan kepentingan peneliti dilapangan, keterbatasan kemampuan dan waktu peneliti. Peneliti hanya meneliti beberapa variabel saja yaitu audit operasional dan pengelolaan persediaan barang dagangan, maka kerangka konsep serta variabel dalam penelitian ini secara sistematis dapat digambarkan sebagai berikut :

Audit Operasional Peningkatan Laba Pengelolaan Persediaan Barang Dagang

7.2. Hipotesis Penelitian


Berdasarkan kerangka pemikiran maka peneliti mengajukan hipotesis yaitu sebagai berikut : 1. Ha1: Ada Hubungan antara Audit Operasional, Pengelolaan Persediaan Barang Dagang dan Peningkatan Laba. 2. Ha2: Ada Hubungan antara Audit Operasional terhadap Peningkatan Laba. 3. Ha3: Ada Hubungan antara Persediaan Barang Dagang terhadap Peningkatan Laba.

7.3. Rancangan Penelitian


Penelitian ini merupakan penelitian survei yang dimaksudkan untuk memberikan penjelasan atau disebut sebagai explanatory research atau confirmatory research. Penelitian survei merupakan penelitian yang mengambil sampel dan suatu populasi dan menggunakan kuisioner sebagai alat pengumpulan data yang pokok. Penelitian eksplanatori (explanatory research) adalah penelitian yang berusaha menjelaskan hubungan kausal antara variable-variabel penelitian melalui pengujian hipotesis yang dirumuskan (Sarwono, 2006:81).

7.4. Populasi dan Sampel Penelitian Populasi dan sampel yang digunakan dlam penelitian ini adalah : a. Populasi Populasi penelitian ini adalah seluruh staf Akuntansi PT. Pupuk Sriwijaya yang diperkirakan 40 orang. b.Sampel Pengambilan sampel penelitian menggunakan metode random dimana sampel diambil dari jumlah populasi yang diperlukan 20 orang

7.5. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data untuk penelitian ini dengan prosedur sebagai berikut : a. Wawancara Yaitu suatu teknik pengumpulan data dengan melaksanakan tanya jawab langsung kepada pegawai yang mempunyai wewenang untuk memberikan data dan informasi yang diperlukan dalam penulisan

b. Observasi Yaitu teknik pengumpulan data dengan mengadakan pengamatan-pengamatan secara langsung atau seksama pada pelaksanaan operasi perusahaan atau instansi, sejalan dengan judul diatas agar mendapatkan data yang objektif dan sistematis c. Library Research Yaitu suatu teknik pengumpulan data dengan cara membaca buku-buku, referensi dan literature yang berhubungan dengan penyusunan laporan akhir.
Data yang dibutuhkan untuk penelitian ini adalah data mengenai pengaruh audit operasional dan pengelolaan persediaan barang dagang terhadap peningkatan laba. Pengumpulan data diperoleh dengan studi lapangan melalui kuisioner yang telah dibagikan peneliti kepada seluruh responden yang menjadi sampel penelitian. Skor jawaban kuisioner yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan linkert scale yaitu : (Sangat Setuju) SS = 5, (Setuju) S = 4, (Ragu-Ragu) R = 3, (Tidak Setuju) TS = 2, dan (Sangat Tidak Setuju) STS = 1 Kuisioner ini selanjutnya ditujukan kepada auditor internal di perusahaan-perusahaan BUMN tersebut.

7.6. Instrumen Penelitian Penelitian ini menggunakan instrumen kuisioner untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan. Daftar pertanyaan yang ada di dalam kuisioner tersebut dikembangkan oleh peneliti berdasarkan landasan atau dasar yang diperoleh dari Standar Profesi Auditor Intern (SPAI, 2005) dan dimodifikasi dengan beberapa jurnal lainnya yang saling berkaitan selanjutnya dikembangkan oleh peneliti menjadi suatu pertanyaan.

7.7. Metode Analisis Data


Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa data kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif digunakan untuk menilai kualitas audit intern dan analisis kuantitatif digunakan untuk melihat hasil kuisioner dengan menggunakan tabulasi yang berupa pengaruh standar profesi terhadap kualitas pemeriksaan auditor intern. Analisis data dilakukan dengan menggunakan bantuan program komputer yaitu SPSS (Statistical Package For Social Science) versi 11. Sebelum diolah, data primer dikonversikan terlebih dahulu dari skala ordinal ke skala interval. Setelah itu, proses uji validitas dan uji reliabilitas dilakukan terhadap data yang telah dikonversikan dari skala ordial ke skala interval. Konversi data dilakukan dengan MSI (Methode Succesive Interval) yang diperoleh dari www.olah-data.com . Selanjutnya dilakukan uji validitas dan reliabilitas karena penelitian ini menggunakan kuisioner sebagai sumber data primernya. Pengujian validitas dan reliabilitas adalah proses menguji butir-butir pernyataan dalam sebuah kuisioner, aapakah isis dari butir-butir pertanyaan sudah valid atau reliable. Uji ini bermanfaat untuk mendeteksi kelemahan-kelemahan dalam instrumen penelitian. Selanjutnya butir-butir yang telah diuji dan dinyatakan valid serta reliable disertakan dalam penelitian. Untuk kepentingan uji validitas dan reliabilitas ini menggunakan SPSS 11. Uji validitas adalah prosedur pengujian untuk melihat apakah alat ukur yang berupa kuisioner yang dipakai dapat mengukur dengan atau tidak, dengan kata lain sejauh mana alat ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Uji validitas digunakan untuk memilih item-item yang relevan untuk dianalisis. Validitas uji dengan menggunakan besarnya korelasi antar variabel. Koefisien korelasi dinyatakan dengan r. Dalam hal in r hasil perhitungan ststistik akan dibandingkan dengan r kritis yang dapat dilihat pada tabel r dengan derajat kebebasan n 2 ( jumlah kasus dikurangi 2). Jika r hitung lebih besar dari r kritis berarti memiliki konsistensi internal yang artinya pernyataan-pernyataan tersebut mengukur aspek yang sama.

Uji reliabilitas adalah suatu cara untuk melihat apakah alat ukur yang berupa kuisioner yang digunakan konsisten atau tidak. Reliabilitas dihitung dengan menggunakan koefisien alpha (E) dan diuji dengan menggunakan cronbach Alpha (E). Apabila nilai cronbach Alpha dari hasil penggujian > 0,6 maka dapat dikatakan bahwa konstruk atau variabel itu adalah reliable (Nunnaly, 1969 dalam Ghozali, 2001) . Alat analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian dengan model regresi linier berganda karena memiliki 1 variabel dependen dan 2 variabel independen. Independent variable (variabel bebas) adalah hasil audit operasional dan pengelolaan barang dagang, sedangkan Dependent Variabel (variable tak bebas) adalah peningkatan laba perusahaan. Secara umum formulasi dari regresi berganda dapat ditulis sebagai berikut :

Y = a + b1SA + b2SB + e
Keterangan : Y a b1, b2, e : Peningkatan Laba : Nilai intercept / constant : Koefisien Variabel : Error Teknik analisis regresi beganda ini juga diolah dengan SPSS (Statistical Product and Services Solutions) for Windows version 11.0. Teknik analisis yang memakai regresi OLS (Ordinary Least Square), disajikan estimasi tentang adanya kevalidan sehingga diuji dengan model sebagai berikut. a. Uji Stastistik SA SB : Hasil Audit Operasional : Pengelolaan Barang Dagang

Uji statistik ini meliputi uji koefisien, regresi parsial atau individu (T-test) dan uji ketepatan model atau Goodness of Fit (F-test). 1. Uji Koefisien Uji koefisien regresi parsial dilakukan umtuk mengetahui pengaruh dari masing-masing variabel bebas (independent variabel) terhadap perubahan variabel tak bebas (dependent variabel). Untuk mengetahui apakah hipotesis nol (Ho) ditolak dan hipotesis alternatif (Ha) diterima atau sebaliknya diuji dengan membandingkan nilai t. Bilamana t-hitung < t-tabel maka hipotesis (Ho) diterima dan hipotesis alternatif (Ha) ditolak (Setiaji, 2004:14) 2. Uji Ketepatan Model a. Uji F Uji ketepatan model (goodness of it) bertujuan untuk mengetahui apakah perumusan model sudah tepat atau fit. Uji ini dilakukan dengan memebandingkan signifikasi nilai F. Jika hasil F-hitung > dari Ftabel maka model yang dirumuskan sudah tepat (goodness of it) (Setiaji, 2004:22) b. Uji Asumsi Klasik 1) Uji Normalitas Uji ini dilakukan dengan metode Jarque Berra (JB) dengan formula sebagai berikut.

S 2 K  3 2 J ! n  6 24
Kriteria pengujian yang digunakan dalam metode Jarque erra (JB) adalah: a) Jika JB > tabel Chi Square dengan nilai 6, 6 maka data tidak normal.

b) Jika JB < tabel Chi Square 6, 6 maka data tersebut normal dan regresi boleh dilakukan (Setiaji, 2004:27). 2) Uji Autokorelasi Autokorelasi adalah adanya korelasi antara data pada suatu waktu tertentu dengan nilai data tersebut pada waktu satu periode sebelumnya atau lebih pada data runtut waktu. Penggunaan uji DW (Durbin Waston) untuk mendeteksi tidak adanya korelasi antar error, maka nilai DW diharapkan berada di sekitar angka 2 (dari 1,5 sampai 2,5) (Setiaji, 2004:13). 3) Uji Heteroskedastisitas Uji Heteroskedastisitas dilakukan dengan melalui uji LM test, membandingkan R2 x N, dengan nilai tabel Chi Square 9,2 (H = 1%, df 2 = 9,2). Jika R2 x N > dan label Chi Square 9,2 maka terjadi heteroskedastisitas. Sebaliknya, jika R2 x N < dan label Chi Square 9.2 berarti menerima hipotesis homoskedastisitas sehingga dapat dilanjutkan (Setiaji, 2004:29). 4) Multikolinieritas Multikolinearitas timbul apabila antara variabel independen berkolerasi dengan variabel pengganggu. Salah satu cara untuk menganalisis ada atau tidaknya pengaruh multikolineritas dalam penelitian ini digunakan metode Klein. Adapun langkah-langkah dalam metode Klein adalah: a) Regres model lengkap Y = a + b1SA + b2SK + b3SI+ b4RP + e . Dapatkan nilai R2. b) Regres masing-masing variabel independen terhadap seluruh variabel independen lainnya untuk mengetahui koefisien determinasi antar variabel independen, dapatkan nilai Ri2. c) Ri2 yang didapat dibandingkan dengan koefisien determinasi dari model awal atau seluruh variabel independen terhadap variabel dependen (R2), yang kemudian disebut auxiliary regression.

d)

Adapun kriterianya adalah apabila: Ri2 < R2 (tidak ada multikolinearitas) Ri2 > R2 (ada multikolinearitas) (Gujarati, 1997:166) Untuk pengujian hipotesis dilakukan baik secara parsial (uji t) maupun secara serentak (uji F). Uji

parsial dilakukan dengan pengujian terhadap probabilitas konstanta dari tiap variabel independen. Dasar pengambilan keputusan diambil jika nilai probabilitas t dari tiap variabel independen Sig t lebih kecil 0,05. Uji secara serentak (Uji F) juga dilakukan sebagaimana untuk uji parsial. Pengujian dilakukan dengan menganalisis nilai probabilitas F (Sig F) dengan menggunakan signifikansi alpha sebesar 5%. Uji t dilakukan untuk mengetahui pengaruh dari masing-masing variabel bebas (independent variable) terhadap perubahan variabel tak bebas (dependent variable). Dengan kata lain apakah hipotesis nol (Ho) ditolak dan Hipotesis altematif (Ha) diterima atau sebaliknya diuji dengan membandingkan nilai t. - Bilamana nilai t-hitung > t-tabel, maka Hipotesis nol (Ho) ditolak dan hipotesa alternatif diterima. - Sebaliknya, jika nilai t-hitung < t-tabel maka hipotesis (Ho) diterima dan hipotesa altematif (Ha) ditolak (Setiaji, 2004:14).

DAFTAR PUSTAKA

Ikatan Akuntan Indonesia. 1994. Standar Profesional Akuntan Publik: Standar Auditing, Standar Atestasi, Standar Jasa Akuntansi dan Review per 1 Agustus 1994. ST1E YKPN Yogyakarta.

y y

P. Siagian, Sondang. 1999. Audit Manajemen. Bumi Akasara. Jakarta


Arens, Elder, Beasley. 2007. Auditing dan Pelayanan Verifikasi : Pendekatan Terpadu, Jilid I dan II, Edisi Kesembilan. Indeks. Jakarta

y y

Standar Akuntansi Keuangan No. 14. (PSAK) Aziz, Hendra. Audit Atas Persediaan Barang Dagang Pada PT. Semesta Niaga Sejahtera