Anda di halaman 1dari 105

PENGARUH ASIMETRI INFORMASI DAN KEPEMILIKAN

MANAJERIAL PADA PRAKTEK MANAJAMEN LABA PERUSAHAAN


MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR
DI BURSA EFEK INDONESIA

SKRIPSI

Oleh:
I GEDE PUTU SENDHI ANDIKA
NIM : 1115351123

PROGRAM EKSTENSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2015

PENGARUH ASIMETRI INFORMASI DAN KEPEMILIKAN


MANAJERIAL PADA PRAKTEK MANAJAMEN LABA
PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR
DI BURSA EFEK INDONESIA

SKRIPSI

Oleh:
I GEDE PUTU SENDHI ANDIKA
NIM : 1115351123

Skripsi ini ditulis untuk memenuhi sebagian persyaratan


memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Udayana
Denpasar
2015

Skripsi ini telah diuji oleh tim penguji dan disetujui oleh Pembimbing, serta diuji
pada tanggal: 10 Maret 2015

Tim Penguji:

Tanda tangan

1. Ketua

: Drs. I Made Mertha, M.Si., Ak.

..................

2. Sekretaris

: Dr. Drs. I Made Sukartha, M.Si., Ak.

..................

3. Anggota

: Dr. Made Gede Wirakusuma, SE., Msi, Ak.

..................

Mengetahui,
Ketua Jurusan Akuntansi

Pembimbing

Dr. A.A.G.P. Widanaputra, SE., M.Si., Ak.


NIP. 19650323 199103 1 004

Dr. Drs. I Made Sukartha, Msi., Ak.


NIP. 19560505 198303 1 004

PERNYATAAN ORIGINALITAS
Saya menyatakan dengan sebenarnya bahwa sepanjang pengetahuan
saya, di dalam naskah skripsi ini tidak terdapat karya ilmiah yang pernah diajukan
oleh orang lain untuk memperoleh gelar akademik di suatu Perguruan Tinggi, dan
tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang
lain, kecuali yang secara tertulis dikutip dalam naskah ini dan disebutkan dalam
daftar pustaka.
Apabila ternyata di dalam naskah skripsi ini dapat dibuktikan terdapat
unsur-unsur plagiasi, saya bersedia diproses sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku.

Denpasar, 24 Februari 2015


Mahasiswa,

I Gede Putu Sendhi Andika


1115351123

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha
Esa atas berkat rahmat-Nya, sehingga skripsi yang berjudul Pengaruh Asimetri
Informasi dan Kepemilikan Manajerial Pada Praktek Manajemen Laba
Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia dapat
diselesaikan sesuai dengan yang direncanakan. Pada kesempatan ini penulis
menyampaikan terimakasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. I Gusti Bagus Wiksuana, S.E., MS., selaku Dekan Fakultas
Ekonomi, Universitas Udayana.
2. Bapak Dr. Gusti Wayan Murjana Yasa, S.E., M.Si., selaku Pembantu Dekan
I Fakultas Ekonomi, Universitas Udayana.
3. Bapak Prof. Dr. I Made Wardana, S.E., M.Si., selaku Pembantu Dekan II
Fakultas Ekonomi, Universitas Udayana.
4. Bapak Dr. Gerianta Wirawan Yasa, S.E., M.Si., selaku Pembantu Dekan III
Fakultas Ekonomi, Universitas Udayana.
5. Bapak Dr. A.A.G.P. Widanaputra, S.E., M.Si., Ak. dan Dr. I Dewa Nyoman
Badera, SE., M.Si., selaku Ketua dan Sekretaris Jurusan Akuntansi Fakultas
Ekonomi Universitas Udayana.
6. Bapak Drs. Ketut Suardika Natha, M.Si., selaku Ketua Program Ekstensi
Fakultas Ekonomi, Universitas Udayana.

7. Bapak Dr. Drs. I Made Sukartha, Msi., Ak. selaku Pembimbing skripsi atas
waktu, bimbingan, arahan, dan dukungan yang sangat besar kepada penulis
selama perkuliahan dan penulisan skripsi.
8. Bapak Dr. Made Gede Wirakusuma, S.E., M.Si., Ak, selaku dosen penguji
yang telah memberikan saran dan masukan terhadap skripsi ini.
9. Bapak Drs. I Made Mertha, M.Si., Ak. selaku Pembimbing Akademik dan
dosen penguji atas bimbingan, arahan dan dukungan yang sangat besar
kepada penulis selama perkuliahan dan penulisan skripsi.
10. Kedua orang tua tercinta Bapak I Made Subagia dan Ibu Ni Made Serinu,
Adik I Made Indra Vrana Adi dan keluarga kecilku Igst Agung Ayu Prami
Saraswati dan I Gede Putu Agung Dheniswara P., yang selalu memberikan
dukungan moril maupun material, semangat dan doa yang melimpah kepada
penulis.
11. Sahabat-sahabat setia Hendra Edy, Ferry Agung, Darayasa, Agung
Basudewa, Adi Arka; sahabat-sahabat senasib Darma, Hita Wasana, Dwi
Primantara, Septiana Dewi, Yura, Gun; dan teman-teman akuntansi Arya
Adi, Indra, Ngakan, Ivon, Tiksna, Prasetya, Satwika, serta teman-teman
lainnya yang tidak bisa disebutkan satu per satu, atas dukungannya selama
perkuliahan dan penulisan skripsi.
12. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah
memberikan bantuan, saran dan dukungan kepada penulis dalam penulisan
skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak akan berhasil tanpa bimbingan,
arahan dan dukungan dari berbagai pihak. Namun demikian penulis tetap
bertanggung jawab terhadap semua isi skripsi. Penulis berharap skripsi ini
bermanfaat bagi pihak yang berkepentingan.

Denpasar, 24 Februari 2014

Penulis

Judul
Nama
NIM

: Pengaruh Asimetri Informasi dan Kepemilikan Manajerial


Pada Praktek Manajemen Laba Perusahaan Manufaktur
Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia
: I Gede Putu Sendhi Andika
: 1115351123
Abstrak

Manajemen laba adalah suatu kondisi dimana manajemen melakukan


intervensi dalam proses penyusunan laporan keuangan bagi pihak eksternal
sehingga dapat meratakan, menaikkan, dan menurunkan laba. Manajemen laba
terjadi ketika manajemen menggunakan keputusan tertentu dalam pelaporan
keuangan dan penyusunan transaksi-transaksi yang mengubah laporan keuangan
yang bertujuan untuk menyesatkan para stakeholders tentang kondisi kinerja
ekonomi perusahaan. Manajemen laba sebagai suatu fenomena yang dipengaruhi
oleh berbagai macam faktor yang menjadi pendorong timbulnya fenomena
tersebut. Asimetri informasi dan kepemilikan manajerial diyakini dapat
mempengaruhi manajemen laba. Beberapa penelitian mengenai pengaruh asimetri
informasi dan kepemelikan manajerial pada manajemen laba telah dilakukan.
Namun, hasil yang diperolehnya tidak konsisten. Oleh karena itu penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui pengaruh asimetri informasi dan kepemilikan
manajerial pada praktek manajemen laba.
Penelitian ini manajemen laba diukur dengan menggunakan modified
jones model, asimetri informasi diproksikan dengan bid ask spread dan
kepemilikan manajerial diproksikan dengan persentase jumlah saham yang
dimiliki manajemen. Populasi dalam penelitian ini terdiri dari 134 perusahaan
manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan periode pengamatan
dimulai dari 2011-2013. Pengambilan sampel menggunakan metode
nonprobability sampling yaitu purposive sampling. Jumlah perusahaan sampel
yang memenuhi kriteria adalah 26 perusahaan manufaktur. Metode analisis data
yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda untuk menguji pengaruh
asimetri informasi dan kepemilikan manajerial pada praktek manajemen laba.
Analisis statistik yang digunakan adalah (1) pengujian asumsi klasik,
yang terdiri dari uji normalitas, uji heteroskedastisitas, uji multikolinearitas, dan
uji autokolerasi, (2) pengujian hipotesis yang terdiri dari uji koefisien determinasi
(R2), uji kelayakan model (uji F), uji hipotesis (uji t). Berdasarkan analisis dan
pengujian hipotesis, maka didapat kesimpulan bahwa asimetri informasi
berpengaruh positif pada praktek manajemen laba, sedangkan kepemilikan
manajerial berpengaruh negatif pada praktek manajemen laba.
Kata kunci: Manajemen Laba, Asimetri Informasi, Kepemilikan Manajerial.

DAFTAR ISI
Halaman
JUDUL .....................................................................................................
HALAMAN PENGESAHAN .................................................................
PERNYATAAN ORIGINALITAS...........................................................
KATA PENGANTAR ............................................................................
ABSTRAK ...............................................................................................
DAFTAR ISI ...........................................................................................
DAFTAR TABEL ...................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN ..........................................................................
DAFTAR GAMBAR ................................................................................
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian .....................................................
1.2 Rumusan Masalah Penelitian ................................................
1.3 Tujuan Penelitian .................................................................
1.4 Kegunaan Penelitian .............................................................
1.5 Sistematika Penulisan............................................................

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN


2.1 Landasan Teori ......................................................................
2.1.1 Teori Keagenan (Agency Theory) ................................
2.1.2 Agency Theory dan Pengelolaan Perusahaan................
12
2.1.3 Manajemen Laba...................................
2.1.4 Faktor-Faktor Pendorong Manajemen Laba ................
2.1.5 Kondisi Untuk Praktek Manajemen Laba.....................
2.1.6 Pola Dalam Manajemen Laba
..................................................................................
..................................................................................
17
2.1.7 Asimetri Informasi
..................................................................................
..................................................................................
19
2.1.8 Teori Bid Ask Spread
20
2.1.9 Kepemilikan Manajerial ..............................................
..................................................................................
..................................................................................
23
2.2 Pembahasan Hasil Penelitian Sebelumnya ...........................
2.3 Hipotesis Penelitian...............................................................

i
ii
iii
iv
v
vi
ix
x
xi
1
6
7
7
8
10
10
13
14
16

24
26

2.3.1 Pengaruh Asimetri Informasi Pada Praktek


Manajemen Laba..........................................................
......................................................................................
26
2.3.2 Pengaruh Kepemilikan Manajerial Pada Praktek
Manajemen Laba ........................................................
.....................................................................................
27
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian ..................................................................
3.2 Lokasi atau Ruang Lingkup Penelitian .................................
3.3 Objek Penelitian ....................................................................
3.4 Identifikasi Variabel ..............................................................
3.5 Definisi Operasional Variabel................................................
3.6 Jenis dan Sumber Data ..........................................................
3.6.1 Jenis Data.....................................................................
3.6.2 Sumber Data ...............................................................
3.7 Populasi dan Sampel .............................................................
3.8 Metode Pengumpulan Data....................................................
3.9 Teknik Analisis Data .............................................................
3.9.1 Uji Asumsi Klasik........................................................
3.9.2 Analisis Regresi Berganda...........................................
3.8.3 Uji Model ....................................................................
BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
4.1 Gambaran Umum Organisasi.................................................
4.2 Statistik Deskriptif Penelitian................................................
4.3 Uji Asumsi Klasik .................................................................
4.3.1 Uji Normalitas ............................................................
4.3.2 Uji Heterokedastisitas .................................................
4.3.3 Uji Moltikolinearitas...................................................
4.3.4 Uji Autokorelasi .........................................................
4.4 Analisis Regresi Linier Berganda...........................................
4.5 Uji Model................................................................................
4.5.1 Uji Koefisien Determinasi (R2).....................................
4.5.2 Uji Kelayakan Model (Uji F)........................................
4.5.3 Uji Hipotesis (Uji t)......................................................
4.6 Pembahasan Hasil Penelitian..................................................
4.6.1 Pengaruh Asimetri Informasi Pada Praktek
Manajemen Laba..........................................................
4.6.2 Pengaruh Kepemilkan Manajerial Pada Praktek
Manajemen Laba..........................................................
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan ...............................................................................

30
30
31
31
32
34
34
35
35
37
37
37
39
40
42
43
44
44
45
46
46
48
49
49
50
50
53
53
54
56

5.2 Saran .....................................................................................


DAFTAR RUJUKAN
LAMPIRAN

10

56

DAFTAR TABEL
No.

Tabel

Halaman

3.1

Seleksi Sampel Penelitian ..............................................................

38

4.1

Statistik Deskriptif ..........................................................................

43

4.2

Hasil Uji Normalitas .......................................................................

44

4.3

Hasil Uji Heteroskedastisitas ..........................................................

45

4.4

Hasil Uji Multikolinearitas .............................................................

46

4.5

Hasil Uji Autokorelasi .....................................................................

47

4.6

Hasil Uji Analisis Regresi Linear Berganda ...................................

48

4.7

Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2) .............................................

49

4.8

Hasil Uji Kelayakan Model (Uji F) ................................................

50

4.9

Hasil Uji Hipotesis (Uji t)................................................................

51

11

DAFTAR LAMPIRAN
No.

Lampiran

Halaman

1.

Daftar Perusahaan yang Memenuhi Kriteria Sampel......................

2. Tabulasi Data Manajemen Laba......................................................

3.

Tabulasi Data Asimetri Informasi....................................................

12

4.

Tabulasi Data Kepemilikan Manajerial..........................................

13

5.

Hasil Statistik Deskriptif.................................................................

14

6.

Hasil Uji Asumsi Klasik.................................................................

15

7.

Hasil Uji Model...............................................................................

18

12

DAFTAR GAMBAR
No.

Gambar

Halaman
1. Desain Penelitian ........................................................
30

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
Salah satu sumber informasi bagi pihak eksternal dalam menilai kinerja
perusahaan adalah laporan keuangan. Laporan keuangan merupakan ringkasan
dari suatu proses pencatatan transaksi-transaksi keuangan yang terjadi selama
tahun buku bersangkutan (Firdaus, 2013). Laporan keuangan dibuat oleh
manajemen dengan tujuan untuk mempertanggungjawabkan tugas-tugas yang
dibebankan kepadanya oleh para pemilik perusahaan. Laporan keuangan menjadi
media bagi perusahaan untuk menyampaikan informasi keuangan mengenai
pertanggungjawaban pihak manajemen terhadap pemenuhan kebutuhan pihakpihak eksternal yaitu diperolehnya informasi kinerja perusahaan. Parameter yang
digunakan untuk mengukur kinerja manajemen dalam laporan keuangan adalah
informasi laba (Boediono, 2005).
Hal ini sejalan dengan Statement of Financial Accounting Concepts (SFAC)
No.1 (1987) (yang dikutip Belkoui, 1993 dalam Widyaningdyah, 2001), yang

13

menyatakan bahwa informasi laba menjadi perhatian utama untuk menaksir


kinerja atau pertanggungjawaban manajemen terhadap laporan keuangan
perusahaan. Selain itu informasi laba juga membantu pemilik atau pihak lain
dalam menaksir kekuatan laba perusahaan di masa yang akan datang. Adanya
kecenderungan lebih memperhatikan laba ini disadari oleh manajemen, khususnya
manajer yang kinerjanya diukur berdasarkan informasi tersebut, sehingga
mendorong timbulnya perilaku menyimpang yang salah satu bentuknya adalah
manajemen laba (Chandra, 2011).
Manajemen laba adalah suatu kondisi dimana manajemen
melakukan intervensi dalam proses penyusunan laporan keuangan bagi
pihak

eksternal

sehingga

dapat

meratakan,

menaikkan,

dan

menurunkan laba (Schipper, 1989). Healy dan Wahlen (1999) dalam


Beneish (2001) menyatakan bahwa earnings management terjadi
ketika manajemen menggunakan keputusan tertentu dalam pelaporan
keuangan dan penyusunan transaksi-transaksi yang mengubah laporan
keuangan, hal ini bertujuan untuk menyesatkan para stakeholders
tentang

kondisi

kinerja

ekonomi

perusahaan,

serta

untuk

mempengaruhi penghasilan kontraktual yang mengendalikan angka


akuntansi yang dilaporkan.
Manajemen laba muncul sebagai dampak masalah keagenan
yang terjadi karena adanya ketidakselarasan kepentingan antara
pemegang saham (principal) dan manajemen perusahaan (agent).
Pihak

prinsipal

termotivasi

14

mengadakan

kontrak

untuk

menyejahterakan dirinya dengan profitabilitas yang selalu meningkat


sedangkan dari pihak agen termotivasi untuk memaksimalkan
pemenuhan kebutuhan ekonomi dan psikologisnya, antara lain dalam
hal memperoleh investasi, pinjaman, maupun kontrak kompensasi
(Salno dan Baridwan, 2000).
Manajemen laba menjadi penyebab berkurangnya kredibilitas
laporan keuangan karena dapat menambah bias laporan keuangan yang
mungkin dapat mengganggu pemakai dalam mempercayai angka hasil
rekayasa tersebut. Apabila suatu kondisi dimana pihak manajemen
ternyata tidak berhasil mencapai target laba yang ditentukan, maka
manajemen akan memanfaatkan fleksibilitas yang diperbolehkan oleh
standar

akuntansi

dalam

menyusun

laporan

keuangan

untuk

memodifikasi laba yang dilaporkan. Manajemen termotivasi untuk


memperlihatkan kinerja yang baik dalam menghasilkan nilai atau
keuntungan maksimal bagi perusahaan sehingga manajemen cenderung
memilih dan menerapkan metoda akuntansi yang dapat memberikan
informasi laba lebih baik (Lindrianasari dan Hartono, 2011). Tindakan
manajemen laba menimbulkan kasus skandal pelaporan akuntansi
dalam dunia bisnis, antara lain Enron, Merck, World Com dan
perusahaan lain di Amerika Serikat (Cornett, et al. 2006). Hal yang
sama terjadi di Indonesia, yaitu PT. Lippo Tbk dan PT. Kimia Farma
Tbk melibatkan financial reporting yang berawal dari adanya
manipulasi laba (Gideon, 2005).

15

Rahmawati (2006) menyatakan bahwa asimetri informasi dapat


memicu timbulnya manajemen laba. Teori keagenan (Agency Theory)
mengimplikasikan adanya asimetri informasi antara manajer sebagai
agen dan pemilik (dalam hal ini adalah pemegang saham) sebagai
prinsipal. Asimetri informasi muncul ketika manajer lebih mengetahui
informasi internal dan prospek perusahaan di masa yang akan datang
dibandingkan

pemegang

saham

memberikan

kesempatan

dan

kepada

stakeholder,
pihak

kondisi

manajemen

ini

untuk

menggunakan informasi yang di ketahuinya untuk memanipulasi


keuangan

perusahaan

sebagai

usaha

untuk

memaksimalkan

kemakmurannya. Semakin banyak informasi mengenai internal


perusahaan yang dimiliki oleh manajer daripada pemegang saham
maka manajer akan lebih banyak mempunyai kesempatan untuk
melakukan

manajemen

laba.

Fleksibilitas

manajemen

untuk

manajemen laba dapat dikurangi dengan menyediakan informasi yang


lebih berkualitas bagi pihak luar (Richardson, 1998 dalam Arief dan
Bambang, 2007).
Bhattacharya dan Spiegel (1991) dalam Richardson (1998)
menyatakan bahwa asimetri informasi menyebabkan ketidakinginan
untuk berdagang dan meningkatkan cost of capital sebagai pelindung
harga investor itu sendiri melawan kerugian potensial dari
perdagangan dengan partisipan pasar yang diinformasikan dengan
baik. Richardson (1998) berpendapat bahwa terdapat hubungan yang

16

sistematis antara magnitut asimetri informasi dan tingkat manajemen


laba. Fleksibelitas manajemen untuk memanajemeni laba dapat di
kurangi dengan menyediakan informasi yang lebih berkualitas bagi
pihak luar. Kualitas laporan keuangan akan mencerminkan tingkat
manajemen laba. Rahmawati dkk (2006) berpendapat bahwa asimetri
informasi berpengaruh secara signifikan terhadap manajemen laba.
Lev (1998) berpendapat bahwa ukuran pengamatan atas
likuiditas pasar dapat digunakan untuk mengidentifikasi tingkat
penerimaan asimetri informasi yang dihadapi partisipan didalam pasar
modal. Bid-asks spreads adalah salah satu ukuran dalam likuiditas
pasar yang digunakan secara luas dalam penelitian terdahulu sebagai
pengukur asimetri informasi antara manajemen dan pemegang saham
perusahaan. Sebagai bukti dari kemampuan bid-asks dalam menangkap
informasi seputar perusahaan ditunjukkan oleh Healy (1995) yaitu
seorang yang melaporkan bukti dari hubungan yang negatif antara bidask spread dan kebijakan pengungkapan perusahaan. Rahmawati, dkk
(2006).
Kepemilikan manajerial merupakan besarnya kepemilikan saham
yang di miliki oleh manajer. Dari sudut pandang teori akuntansi,
manajemen laba sangat ditentukan oleh motivasi manajer perusahan.
Motivasi yang berbeda akan menghasilkan besaran manajemen laba
yang berbeda, seperti antara manajer yang juga sekaligus sebagai
pemegang saham dan manajer yang tidak sebagai pemegang saham.

17

Dua hal tersebut akan mempengaruhi manajemen laba, sebab


kepemilikan seorang manajer akan ikut menentukan kebijakan dan
pengambilan keputusan terhadap metode akuntansi yang diterapkan
pada perusahaan yang mereka kelola. Sehingga dapat dikatakan bahwa
persentase tertentu kepemilikan saham oleh pihak manajemen
cenderung mempengaruhi tindakan manajemen laba. Gideon (2005).
Kepemilikan

saham

oleh

manajer

dapat

menghindarkan

kemungkinan terjadinya kesenjangan informasi mengenai kondisi


perusahaan

yang

ditampilkan

oleh

agen

(manajer)

sehingga

permasalahan ketidaksejajaran kepentingan antara pemilik/pemegang


saham dengan manajer dapat diatasi. Shleifer dan Vishny (dalam
Siallagan dan Machfoedz, 2006) menyatakan bahwa kepemilikan
saham yang besar dari segi nilai ekonomisnya memiliki insentif untuk
memonitor. Kesejajaran penerimaan informasi dan akses penuh
terhadap informasi yang diperlukan akan meminimalisir terjadinya
rekayasa laba yang dilakukan pihak manajemen karena pengelola yang
berperan sebagai pemegang saham dapat melakukan kontrol lebih
intensif dibandingkan stakeholder lainnya yang berada di luar
perusahaan (pihak eksternal). Pemikiran ini di dukung oleh Warfield,
Wild & Wild (1995) dalam Boediono (2005) kepemilikan manajerial
memiliki hubungan negatif dengan manajemen laba. Hasil penelitian
ini mendukung bukti bahwa kepemilikan manajerial mengurangi
dorongan oportunistik manajer sehingga akan mengurangi manajemen

18

laba. Jadi semakin besar jumlah kepemilikan saham yang dimiliki oleh
pihak manajemen maka semakin kecil kecendrungan manajer untuk
melakukan manajemen laba.
Jensen dan Meckeling (1976) menyatakan bahwa terdapat
kesejajaran antara kepentingan manajer dengan pemegang saham pada
saat manajer memiliki saham perusahaan dalam jumlah yang besar.
Dengan demikian, keinginan untuk membodohi pasar modal berkurang
karena manajer ikut menanggung baik dan buruknya akibat setiap
keputusan yang diambil.
Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk
melakukan pengujian dengan mengangkat judul Pengaruh Asimetri
Informasi dan Kepemilikan Manajerial Pada Praktek Manajemen Laba
Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
1.2
Rumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah
penelitian ini adalah:
1) Apakah asimetri informasi berpengaruh pada praktek manajemen laba?
2) Apakah kepemilikan manajerial berpengaruh pada praktek manajemen laba?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian latar belakang dan rumusan masalah diatas,
maka yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah:

19

1) Untuk mengetahui adanya pengaruh asimetri Informasi pada praktek


manajemen laba.
2) Untuk mengetahui adanya pengaruh Kepemilikan Manajerial pada praktek
manajemen laba.

1.4 Kegunaan Penelitian


Penelitian diharapkan memberikan kegunaan secara teoritis dan
praktis sebagai berikut :
1)Kegunaan Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah refrensi dalam rangka
pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya mengenai manajemen laba dan
beberapa faktor yang mempengaruhi praktek manajemen laba.
2)Kegunaan Praktis
Hasil dari penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi
praktis bagi pembaca khususnya para investor dan pelaku pasar modal yang
akan menanamkan modalnya pada suatu perusahaan.

20

1.5

Sistematika Penulisan
Skripsi ini terdiri dari lima bab. Secara garis besar, isi dari masing-masing

bab dijelaskan sebagai berikut:


BAB I

PENDAHULUAN
Pada bab ini dikemukakan mengenai latar belakang masalah,
rumusan masalah penelitian, tujuan penelitian, kegunaan penelitian dan
sistematika penulisan.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN


Pada bab ini diuraikan mengenai landasan teori dan konsep yang
berkaitan dengan pembahasan masalah yang dapat digunakan sebagai
dasar acuan penelitian, pembahasan hasil penelitian sebelumnya yang
relevan dengan skripsi ini, hipotesis penelitian dan kerangka pemikiran.

BAB III METODE PENELITIAN


Pada bab ini dikemukakan mengenai metode penelitian yang
digunakan dalam skripsi ini, yang meliputi lokasi penelitian atau ruang
lingkup wilayah penelitian, obyek penelitian, identifikasi variabel,
definisi operasional variabel, jenis dan sumber data, populasi dan
sampel penelitian, metode pengumpulan data, serta teknik analisis data
yang digunakan.

21

BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN


Pada bab ini diuraikan mengenai karakteristik sampel, deskripsi
variabel penelitian, hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian
berdasarkan teknik analisis data yang digunakan.

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN


Bab ini merupakan bab penutup yang memuat simpulan dari hasil
pembahasan pada bab sebelumnya dan saran-saran yang diharapkan
dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan.

22

BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN
2.1
Landasan Teori
2.1.1
Teori Keagenan (Agency Theory)
Teori keagenan dapat dipandang sebagai suatu model kontraktual
antara dua atau lebih orang (pihak), dimana salah satu pihak disebut
agen dan pihak yang lain disebut prinsipal. Prinsipal mendelegasikan
pertanggungjawaban atas decision making kepada agen, hal ini dapat
pula dikatakan bahwa prinsipal memberikan suatu amanah kepada
agen untuk melaksanakan tugas tertentu sesuai dengan kontrak kerja
yang telah disepakati. Wewenang dan tanggungjawab agen maupun
prinsipal diatur dalam kontrak kerja atas persetujuan bersama.
Jensen dan Meckling dalam Isnanta (2008), menyatakan bahwa
teori keagenan mendeskripsikan pemegang saham sebagai prinsipal
dan manajemen sebagai agen. Manajemen merupakan pihak yang
dikontrak oleh pemegang saham untuk bekerja demi kepentingan
pemegang saham. Untuk itu manajemen diberikan sebagian kekuasaan
untuk membuat keputusan bagi kepentingan terbaik pemegang saham.
Oleh karena itu, manajemen wajib mempertanggungjawabkan semua
upayanya kepada pemegang saham. Karena unit analisis dalam teori
keagenan adalah kontrak yang melandasi hubungan antara prinsipal

23

dan agen, maka fokus dari teori ini adalah pada penentuan kontrak
yang paling efisien yang mendasari hubungan antara prinsipal dan
agen. Untuk memotivasi agen maka prinsipal merancang suatu kontrak
agar dapat mengakomodasi kepentingan pihak-pihak yang terlibat
dalam kontrak keagenan. Kontrak yang efisien adalah kontrak yang
memenuhi dua faktor, yaitu :
1) Agen dan pinsipal memiliki informasi yang simetris artinya baik agen
maupun prinsipal memiliki kualitas dan jumlah informasi yang sama
sehingga tidak terdapat informasi tersembunyi yang dapat digunakan
untuk keuntungan dirinya sendiri.
2) Risiko yang dipikul agen berkaitan dengan imbal jasanya adalah kecil
yang berarti agen mempunyai kepastian yang tinggi mengenai imbalan
yang diterimanya.
Pada kenyataannya informasi simetris itu tidak pernah terjadi,
karena manajer berada didalam perusahaan sehingga manajer
mempunyai

banyak

informasi

mengenai

perusahaan,sedangkan

prinsipal sangat jarang atau bahkan tidak pernah datang ke perusahaan


sehingga

informasi

yang

diperoleh

sangat

sedikit.

Hal

ini

menyebabkan kontrak efisien tidak pernah terlaksana sehingga


hubungan agen dan prinsipal selalu dilandasi oleh asimetri informasi.
Agen sebagai pengendali perusahaan pasti memiliki informasi yang
lebih baik dan lebih banyak dibandingkan dengan prinsipal. Di
samping itu, karena verifikasi sangat sulit dilakukan, maka tindakan

24

agen pun sangat sulit untuk diamati. Dengan demikian, membuka


peluang agen untuk memaksimalkan kepentingannya sendiri dengan
melakukan tindakan yang tidak semestinya atau sering disebut
disfunctional behaviour, dimana tindakan ini dapat merugikan
prinsipal, baik memanfaatkan aset perusahaan untuk kepentingan
pribadi, maupun perekayasaan kinerja perusahaan.
2.1.2 Agency Theory dan Pengelolaan Perusahaan
Era perekonomian modern, manajemen dan pengelolaan
perusahaan semakin banyak dipisahkan dari kepemilikan perusahaan.
Hal ini sejalan dengan Agency Theory yang menekankan pentingnya
pemilik perusahaan (pemegang saham) menyerahkan pengelolaan
perusahaan kepada tenaga-tenaga profesional (disebut agents) yang
lebih mengerti dalam menjalankan bisnis sehari-hari. Tujuan dari
dipisahkannya pengelolaan dari kepemilikan perusahaan yaitu agar
pemilik perusahaan memperoleh keuntungan yang semaksimal
mungkin

dengan

dikelolanya

perusahaan

oleh

tenaga-tenaga

profesional.
Mereka,

para

tenagatenaga

profesional,

bertugas

untuk

kepentingan perusahaan dan memiliki keleluasaan dalam menjalankan


dan mengelola perusahaan. Para profesional tersebut berperan sebagai
agen (manajemen) didalam suatu perusahaan dan memiliki peran
penting dalam memperoleh laba perusahaan yang dikelolanya.
Semakin besar perusahaan yang dikelola memperoleh laba semakin

25

besar pula keuntungan yang didapatkan agen tersebut. Sementara


pemilik perusahaan (pemegang saham) hanya bertugas mengawasi dan
memonitor jalannya perusahaan yang dikelola oleh manajemen serta
mengembangkan sistem insentif bagi pengelola manajemen untuk
memastikan bahwa mereka bekerja demi kepentingan perusahaan.
Namun pada sisi lain pemisahan seperti ini juga memiliki segi negatif.
Adanya keleluasaan pengelola manajemen perusahaan untuk
memaksimalkan laba perusahaan bisa mengarah pada proses
memaksimalkan kepentingan pengelolanya sendiri dengan beban dan
biaya yang harus ditanggung oleh pemilik perusahaan. Lebih lanjut,
pemisahan ini dapat pula menimbulkan kurangnya transparansi dalam
penggunaan dana di perusahaan serta keseimbangan yang tepat antara
kepentingan-kepentingan yang ada, misalnya antara pemegang saham
dan manajemen perusahaan dan antara pemegang saham pengendali
dengan pemegang saham minoritas.
2.1.3 Manajemen Laba
Scott (2000) membagi cara pemahaman atas manajemen laba
menjadi dua. Pertama, melihatnya sebagai perilaku oportunistik
manajer untuk memaksimumkan utilitasnya dalam menghadapi
kontrak kompensasi, kontrak utang dan political costs (oportunistic
Earnings Management). Kedua, dengan memandang manajemen laba
dari perspektif efficient contracting (Efficient Earnings Management),
dimana manajemen laba memberi manajer suatu fleksibilitas untuk

26

melindungi diri mereka dan perusahaan dalam mengantisipasi


kejadian-kejadian yang tak terduga untuk keuntungan pihak-pihak
yang terlibat dalam kontrak. Dengan demikian, manajer dapat
mempengaruhi nilai pasar saham perusahaannya melalui manajemen
laba, misalnya dengan membuat perataan laba (income smoothing) dan
pertumbuhan laba sepanjang waktu.
Healy dan Wahlen

(1999), menyatakan bahwa

definisi

manajemen laba mengandung beberapa aspek. Pertama intervensi yang


dilakukan manajemen terhadap pelaporan keuangan dapat dilakukan
dengan penggunaan judgment, misalnya judgment yang dibutuhkan
dalam mengestimasi sejumlah peristiwa ekonomi di masa depan untuk
ditunjukan dalam laporan keuangan, seperti perkiraan umur ekonomis
dan nilai residu aktiva tetap, tanggungjawab untuk pensiun, pajak yang
ditangguhkan, kerugian piutang dan penurunan nilai asset. Disamping
itu manajer memiliki pilihan untuk metode akuntansi, seperti metode
penyusutan dan metode biaya. Kedua, tujuan manajemen laba untuk
menyesatkan stakeholders mengenai kinerja ekonomi perusahaan. Hal
ini muncul ketika manajemen memiliki akses terhadap informasi yang
tidak dapat diakses oleh pihak luar.
Sulistyanto (2008), menyatakan bahwa manajemen laba
merupakan upaya manajer untuk mempengaruhi informasi dalam
laporan keuangan dengan tujuan untuk mengelabui stakeholder yang
ingin mengetahui kinerja dan kondisi perusahaan. Manajemen laba

27

(Earnings

management)

dilakukan

dengan

mempermainkan

komponen-komponen akrual dalam laporan keuangan, sebab akrual


merupakan komponen yang mudah untuk dipermainkan sesuai dengan
keinginan orang yang melakukan pencatatan transaksi dan menyusun
laporan keuangan. Alasannya, komponen akrual merupakan komponen
yang tidak memerlukan bukti kas secara fisik sehingga upaya
mempermainkan besar kecilnya komponen akrual tidak harus disertai
dengan kas yang diterima atau dikeluarkan perusahaan (Sulistyanto,
2008).
2.1.4 Faktor-faktor pendorong manajemen laba
Teori akuntansi positif mengemukakan terdapat tiga hipotesis yang
melatarbelakangi terjadinya manajemen laba (Watt dan Zimmerman, 1986), yaitu:
1) Bonus Plan Hypothesis
Manajemen akan memilih metoda akuntansi yang memaksimalkan
utilitasnya yaitu bonus yang tinggi. Manajer perusahaan yang memberikan
bonus besar berdasarkan earnings lebih banyak menggunakan metoda
akuntansi yang meningkatkan laba yang dilaporkan.
2) Debt Covenant Hypothesis
Manajer perusahaan yang melakukan pelanggaran perjanjian kredit
cenderung memilih metoda akuntansi yang memiliki dampak meningkatkan
laba (Sweeney, 1994). Hal ini untuk menjaga reputasi mereka dalam
pandangan pihak eksternal.
3) Political Cost Hypothesis

28

Semakin

besar

perusahaan,

semakin

besar

pula

kemungkinan

perusahaan tersebut memilih metoda akuntansi yang menurunkan laba. Hal


tersebut dikarenakan dengan laba perusahaan yang tinggi mengakibatkan
pemerintah akan mengenakan jumlah pajak pendapatan perusahaan sesuai
dengan laba yang diperolehnya.
Scott (2000: 302) mengemukakan beberapa motivasi terjadinya manajemen laba :
1) Bonus Purposes
Manajer yang memiliki informasi atas laba bersih perusahaan akan
bertindak secara oportunistik untuk melakukan manajemen laba dengan
memaksimalkan laba saat ini (Healy, 1985).
2) Political Motivations
Manajemen laba digunakan untuk mengurangi laba yang dilaporkan
pada perusahaan publik. Perusahaan cenderung mengurangi laba yang
dilaporkan karena adanya tekanan publik yang mengakibatkan pemerintah
menetapkan peraturan yang lebih ketat.
3) Taxation Motivations
Motivasi penghematan pajak menjadi motivasi manajemen laba yang
paling nyata. Berbagai metoda akuntansi digunakan dengan tujuan
penghematan jumlah pajak pendapatan yang harus dibayarkan.
4) Pergantian CEO
CEO yang mendekati masa pensiun akan cenderung menaikkan
pendapatan untuk meningkatkan bonus mereka. Dan jika kinerja perusahaan
buruk, mereka akan memaksimalkan pendapatan agar tidak diberhentikan.

29

5) Initital Public Offering (IPO)


Perusahaan yang akan go public belum memiliki nilai pasar, dan
menyebabkan manajer perusahaan yang akan go public melakukan
manajemen laba dalam prospektus mereka dengan harapan dapat menaikkan
harga saham perusahaan.
6) Pentingnya Memberi Informasi Kepada Investor
Informasi mengenai kinerja perusahaan harus disampaikan kepada
investor sehingga pelaporan laba perlu disajikan agar investor tetap menilai
bahwa perusahaan tersebut dalam kinerja yang baik.

2.1.5 Kondisi untuk Praktek Manajemen Laba


Bukti-bukti empiris menunjukkan bahwa earnings atau laba telah
dijadikan sebagai suatu target dalam proses penilaian pretasi usaha
suatu departemen secara khusus (manajer) atau perusahaan (organisasi)
secara umum (Gumanti, 2000). Laba dan tingkat keuntungan juga
merupakan alat untuk mengurangi biaya keagenan (agency costs), dari
sisi teori keagenan. Misalnya, pada saat keuntungan dijadikan sebagai
patokan dalam pemberian bonus, hal ini akan menciptakan dorongan
kepada manajer untuk memanipulasi data keuangan agar dapat
menerima bonus seperti yang diinginkannya. Selain itu, mengingat
akan pentingnya keuntungan atau perolehan secara akuntansi
(accounting income) untuk pembuatan keputusan oleh banyak pihak,
misalnya investor.

30

Richardson (1998) menemukan bukti bahwa adanya hubungan


antara

ketidakseimbangan

informasi

dengan

manajemen

laba.

Hipotesis yang diajukan adalah bahwa tingkat ketidakseimbangan


informasi akan mempengaruhi tingkat manajemen laba yang dilakukan
oleh manajer perusahaan. Hasil penelitian Richardson menunjukkan
adanya

hubungan

yang

positif

signifikan

antara

ukuran

ketidakseimbangan informasi (bid-ask spreads dan analyst forecast


dispersion) dan manajemen laba setelah mengendalikan faktor lain
yang dapat mempengaruhi manajemen laba, seperti variabilitas aliran
kas, ukuran, risiko, dan pengungkapan keuangan perusahaan.
2.1.6 Pola dalam Manajemen Laba
Menurut Scott (1997) terdapat empat pola atau aktivitas dalam
melakukan manajemen laba yaitu:
1)Taking a bath
Pola manajemen laba yang dilakukan dengan cara melaporkan rugi yang
besar sekaligus jika perusahaan mengalami kerugian sehingga dapat
menciptakan peluang laba yang besar di masa yang akan datang. Pola ini
dapat dijelaskan dalam penelitian mengenai bonus plan hypothesis, dimana
manajemen akan meminimalkan laba karena kondisi perusahaan saat ini
rugi.
2)Income minimization
Pola manajemen laba yang dilakukan dengan cara menjadikan laba pada
laporan

keuangan

periode

berjalan

31

lebih

rendah

daripada

laba

sesungguhnya. Pola ini serupa dengan taking a bath. Income minimization


dilakukan pada saat tingkat profitabilitas perusahaan cukup tinggi. Contoh
penerapan pola ini adalah pada saat perusahaan melakukan manajemen laba
untuk menghindari political cost.
3)Income maximization
Pola manajemen laba yang dilakukan dengan cara menjadikan laba pada
laporan keuangan periode berjalan lebih tinggi daripada laba sesungguhnya.
Income maximization dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh bonus
yang lebih besar, meningkatkan keuntungan, serta untuk menghindari dari
pelanggaran atas kontrak utang jangka panjang. Income maximization
dilakukan dengan cara mempercepat pencatatan pendapatan, menunda biaya
dan memindahkan biaya untuk periode lain.
4)Income smoothing.
Pola ini dilakukan untuk mendapatkan tingkat laba yang stabil dan
mengurangi fluktuasi naik turunnya laba sehingga perusahaan terlihat stabil.
Dalam hal ini laba akan diturunkan jika terjadi peningkatan yang tajam dan
menaikkan laba jika tingkat laba yang diperoleh berada dibawah tingkat laba
yang ditentukan. Tingkat laba yang stabil membuat pemilik dan kreditor
lebih memiliki kepercayaan terhadap manajer.
2.1.7Asimetri Informasi
Asimetri informasi merupakan suatu keadaan dimana manajer
memiliki akses informasi atas prospek perusahaan yang tidak dimiliki

32

oleh

pihak

luar

perusahaan.

Jensen

dan

Meckling

(1976)

menambahkan bahwa jika kedua kelompok (agen dan prinsipal)


tersebut

adalah

orang-orang

yang

berupaya

memaksimalkan

utilitasnya, maka terdapat alasan yang kuat untuk meyakini bahwa


agen tidak akan selalu bertindak yang terbaik untuk kepentingan
prinsipal. Prinsipal dapat membatasinya dengan menetapkan insentif
yang tepat bagi agen dan melakukan monitor yang didesain untuk
membatasi aktivitas agen yang menyimpang.
Menurut Scott (2000), terdapat dua macam asimetri informasi
yaitu:
1) Adverse selection, yaitu bahwa para manajer serta orang-orang dalam
lainnya biasanya mengetahui lebih banyak tentang keadaan dan prospek
perusahaan dibandingkan pihak luar. Dan fakta yang mungkin dapat
mempengaruhi keputusan yang akan diambil oleh pemegang saham tidak
disampaikan informasinya kepada pemegang saham tersebut.
2) Moral hazard, yaitu kegiatan yang dilakukan oleh seorang manajer tidak
sepenuhnya diketahui oleh pemegang saham maupun pemberi pinjaman.
Sehingga manajer dapat melakukan tindakan diluar pengetahuan pemegang
saham yang melanggar kontrak dan sebenarnya secara etika atau norma
mungkin tidak layak dilakukan.
Chift dan Lewin (1970) dalam Ujiyanto dan Bambang (2007),
menyatakan bahwa agent berada pada posisi yang memiliki lebih
banyak informasi mengenai kapasitas diri, lingkungan kerja dan

33

perusahaan secara keseluruhan dibandingkan dengan principal.


Dengan

asumsi

bahwa

individu-individu

bertindak

untuk

memaksimalkan kepentingan diri sendiri, maka dengan informasi


asimetri

yang

dimilikinya

akan

mendorong

agent

untuk

menyembunyikan beberapa informasi yang tidak diketahui principal.


Sehingga dalam kondisi semacam ini prinsipal seringkali pada posisi
yang tidak diuntungkan.
Dalam penyajian informasi akuntansi, khususnya penyusunan
laporan keuangan, agen juga memiliki informasi yang asimetri
sehingga dapat lebih fleksibel mempengaruhi pelaporan keuangan
untuk memaksimalkan kepentingannya. Tujuan laporan keuangan
adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan,
kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang
bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai laporan keuangan dalam
pengambilan keputusan ekonomi (IAI, 2009).
2.1.8 Teori Bid-ask Spread
Penelitian

Eisenhardt

(1989)

dalam

Mardiyah

(2001)

menyatakan bahwa teori keagenan menggunakan tiga asumsi sifat


manusia yaitu:
1) Manusia pada umumnya mementingkan diri sendiri (self-interest).
2) Manusia memiliki daya pikir terbatas mengenai persepsi masa datang
(bounded-rationality).
3) Manusia selalu menghindari risiko (risk averse).

34

Masalah keagenan dihadapi pula oleh partisipan pasar modal.


Salah satu partisipan pasar modal adalah dealer atau market makers.
Ketidakpastian yang
ketidakseimbangan

dihadapi dealer disebabkan karena adanya


informasi

(information

asymmetry).

Untuk

mengurangi ketidakpastian tersebut dealer membutuhkan informasi.


Untuk

mendapatkan

informasi

dibutuhkan

biaya.

Besarnya

ketidakseimbangan informasi yang dihadapi dealer akan tercermin


pada spread yang ditentukannya. Dealer selalu berusaha menentukan
spread secara wajar dengan memperhatikan kejadian tertentu atau
kondisi atau informasi apa saja yang memberikan sinyal mengenai
surat berharga yang dimilikinya.
Bid-ask spread merupakan selisih harga beli tertinggi dengan
harga jual terendah saham trader. Stoll (1989) dalam Mardiyah (2001)
menyatakan bahwa bid ask spread merupakan fungsi dari tiga
komponen biaya yang berasal dari: 1) pemilikan saham (inventory
holding); 2) pemrosesan pesanan (order processing); 3) informasi
asimetri.
Biaya pemilikan menunjukkan trade off antara memiliki terlalu
banyak saham dan memiliki terlalu sedikit saham. Atas biaya
pemilikan saham tersebut akan menimbulkan opportunity cost. Biaya
pemrosesan pesanan meliputi biaya administrasi, pelaporan, proses
komputer, telepon, dan lainnya. Sedangkan biaya informasi asimetri
lahir karena adanya dua pihak trader yang tidak sama dalam memiliki

35

dan mengakses informasi. Pihak pertama adalah informed trader yang


memiliki informasi superior dan pihak lainnya yaitu uninformed trader
yang tidak memiliki informasi. Ketidakseimbangan informasi tersebut
menyebabkan munculnya perilaku adverse selection dan moral hazard
dalam perdagangan saham antar trader. Jika kedua belah pihak
bertransaksi, maka uninformed trader menghadapi risiko rugi jika
bertransaksi dengan informed trader. Upaya mengurangi risiko rugi
tersebut tercermin dalam bid ask spread.
Literatur mikrostruktur dalam penelitian Rahmawati dkk (2006)
mengenai bid-ask spread menyatakan bahwa terdapat suatu komponen
spread yang turut memberikan kontribusi terhadap kerugian yang
dialami dealer ketika bertransaksi dengan pedagang terinformasi
tersebut adalah sebagai berikut
1) Biaya pemrosesan pesanan (order processing cost), terdiri dari biaya yang
dibebankan

oleh

pedagang

sekuritas

(efek)

atas

kesiapannya

mempertemukan pesanan pembelian dan penjualan, dan kompensasi untuk


waktu yang diluangkan oleh pedagang sekuritas guna menyelesaikan
transaksi.
2) Biaya penyimpanan persediaan (inventory holding cost), yaitu biaya yang
ditanggung oleh pedagang sekuritas untuk membawa persediaan saham agar
dapat diperdagangkan sesuai dengan permintaan.
3) Adverse selection component, menggambarkan suatu upah (reward) yang
diberikan kepada pedagang sekuritas untuk mengambil suatu risiko ketika

36

berhadapan dengan investor yang memiliki informasi superior. Komponen


ini terkait erat dengan arus informasi di pasar modal. Berkaitan dengan bidask spread, fokus perhatian akuntan adalah pada komponen adverse
selection karena berhubungan dengan penyediaan informasi ke pasar modal.

2.1.9 Kepemilikan Manajerial


Kepemilikan manajerial merupakan kepemilikan saham perusahaan oleh
pihak manajemen. Kepemilikan manajerial akan menyelaraskan kepentingan
antara manajemen dengan pemegang saham. Semakin besar proporsi kepemilikan
manajerial dalam perusahaan maka manajemen akan berupaya lebih giat untuk
memenuhi kepentingan pemegang saham yang juga adalah dirinya sendiri (Jensen
dan Meckling, 1976). Struktur kepemilikan manajerial dapat dijelaskan dari 2
sudut pandang (Itturiaga dan Sanz, 2000) yaitu:
1) Pendekatan keagenan (agency approach)
Pendekatan keagenan menganggap struktur kepemilikan manajerial
sebagai sebuah alat untuk mengurangi konflik keagenan diantara beberapa
klaim (claim holder) terhadap perusahaan.
2) Pendekatan

ketidakseimbangan

informasi

(asymmetric

information

approach)
Pendekatan ketidakseimbangan informasi memandang mekanisme
struktur kepemilikan manajerial sebagai suatu cara untuk mengurangi

37

ketidakseimbangan

informasi

antara

insider

dan

outsider

melalui

pengungkapan informasi di dalam pasar modal.


Dengan adanya kepemilikan manajerial ini, pihak manajemen akan
terdorong untuk meningkatkan kinerja serta mengambil keputusan yang tepat
karena manajer akan ikut merasakan langsung manfaat maupun resiko yang
terkait pengambilan keputusan tersebut. Manajer yang sekaligus pemegang saham
akan berusaha meningkatkan nilai perusahaan, karena dengan meningkatnya nilai
perusahaan maka nilai kekayaannya sebagai individu pemegang saham akan ikut
meningkat pula (Pujiningsih, 2011).
2.2

Pembahasan Penelitian Sebelumnya


Rahmawati, dkk. (2006) menguji pengaruh asimetri informasi
pada praktek manajemen laba. Rahmawati, dkk. (2006) menggunakan
120 observasi dengan lima tahun penelitian yaitu dari tahun 2000-2004
dan dilakukan di perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek
Jakarta (BEJ). Asimetri informasi diukur dengan menggunakan
relative bid-ask spread dan manajemen laba diukur dengan
menggunakan Modified Jones Model. Teknik analisis data yang
digunakan

yaitu

membuktikan

regresi

bahwa

sederhana.

variabel

Hasil

independen

penelitian
asimetri

tersebut
informasi

berpengaruh secara positif signifikan dan mampu menjelaskan variabel


dependen manajemen laba.
Penelitian Mayanda (2008) tentang pengaruh asimetri informasi,
struktur kepemilikan, dan ukuran perusahaan terhadap earnings

38

management.Asimetri

Informasi

berpengaruh

signifikan

positif

terhadap Earnings Management. Sedangkan Sruktur Kepemilikan


Manajerial dan Ukuran Perusahaan tidak berpengaruh signifikan
terhadap Earnings Management.
Halim, dkk. (2005) menguji pengaruh asimetri informasi pada
manajemen laba. Halim, dkk. (2005) menggunakan 34 perusahaan
manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta dan termasuk Indeks
LQ-45 tahun 2001 berturut-turut selama 2 periode (periode Februari
2001 dan Agustus 2001) dan tahun 2002. Warfield et al (1995) dalam
Midyastuti dan Machfoedz (2003) menguji hubungan kepemilikan
manajerial dengan kandungan informasi dalam laba (information
content of earnings) dan discretionary accrual dengan menggunakan
data pasar modal Amerika. Mereka menemukan bahwa kepemilikan
manajerial berhubungan negatif dengan manajemen laba. Kepemilikan
manajerial dapat mengurangi dorongan untuk melakukan tindakan
manipulasi, sehingga laba yang dilaporkan merefleksikan keadaan
ekonomi dan perusahaan bersangkutan yang sebenarnya.
Veronica dan Bachtiar (2004) melakukan penelitian mengenai
pengaruh manajemen laba terhadap Good Corporate Governance dan
asimetri informasi pada semua perusahaan yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia (BEI) kecuali perusahaan yang bergerak dibidang
keuangan, telekomunikasi, serta perusahaan real estate dan property.

39

Hasil

penelitiannya

menunjukkan

bahwa

asimetri

informasi

berpengaruh positif dan signifikan dengan manajemen laba.


Boediono (2005) menyatakan bahwa kepemilikan manajerial
memiliki hubungan negatif dengan manajemen laba. Hasil penelitian
tersebut menyatakan bahwa kepemilikan manajerial mengurangi
dorongan oportunistik manajer sehingga akan mengurangi manajemen
laba. Jadi semakin besar jumlah kepemilikan saham yang dimiliki oleh
pihak manajemen maka semakin kecil kecendrungan manajer untuk
melakukan manajemen laba.
Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Warfield, Wild & Wild
(1995) yang melakukan pengujian hubungan kepemilikan manajerial
dengan kandungan informasi laba dan discretionary accrual dengan
menggunakan data pasar modal Amerika. Warfield, Wild & Wild
(1995) menemukan bukti bahwa kepemilikan manajerial mempunyai
hubungan yang negatif dengan earnings management. Hasil penelitian
ini mendukung bukti bahwa kepemilikan manajerial mengurangi
dorongan perilaku opportunistik manajer sehingga akan mengurangi
earnings management.
Fidyati

(2004)

menguji

pengaruh

mekanisme

corporate

governance terhadap manajemen laba pada perusahaan Seasoned


Equity Offering. Peneliti menghipotesakan kepemilikan manajerial,
kepemilikan institusional, pemegang saham publik dan reputasi auditor
terhadap manajemen laba. Dari keempat hipotesis yang diajukan

40

variabel kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional terbukti


signifikan mempengaruhi manajemen laba. Midyastuti dan Machfoedz
(2003) menguji pengaruh kepemilikan manajerial, kepemilikan
institusional, dan ukuran dewan direksi terhadap manajemen laba.
Hasilnya menunjukkan bahwa ketiganya berpengaruh signifikan
terhadap manajemen laba.
2.3

Hipotesis Penelitian

2.3.1 Pengaruh Asimetri Informasi Pada Praktek Manajemen


Laba.
Teori keagenan (agency theory) mengimplikasikan adanya
asimetri informasi antara manajer sebagai agen dan pemilik (dalam hal
ini adalah pemegang saham) sebagai prinsipal. Manajer memiliki
informasi yang lebih banyak dan menyembunyikan beberapa informasi
yang tidak diketahui oleh pemegang saham dan stakeholder. Dalam
kondisi tersebut maka manajer dapat menggunakan informasi yang
diketahuinya

dalam

memanipulasi

pelaporan

keuangan

guna

memaksimalkan kemakmuran.
Asimetri Informasi merupakan suatu keadaan ketika
manajer memiliki akses informasi atas prospek perusahaan yang tidak
dimiliki oleh pihak luar perusahaan. Asimetri informasi muncul ketika
manajer lebih mengetahui informasi internal dan prospek perusahaan
dimasa yang akan datang dibandingkan pemegang saham dan
stakeholder lainnya ( Ilham Firdaus, 2013).

41

Keberadaan asimetri informasi dianggap sebagai penyebab


manajemen laba. Semakin banyak informasi mengenai internal
perusahaan yang dimiliki oleh manajer daripada pemegang saham
maka manajer akan lebih banyak mempunyai kesempatan untuk
melakukan manajemen laba. Richardson (1998) meneliti hubungan
asimetri informasi dan manajemen laba pada semua perusahaan yang
terdaftar di NYSE periode 1988-1992 menunjukkan bahwa terdapat
hubungan yang sistematis antara magnitut asimetri informasi dan
tingkat manajemen laba.
Uschift dan Lewin dalam (Youngkei Santoso, 2012) menjelaskan
bahwa manajer berada pada posisi yang mempunyai lebih banyak
informasi mengenai kapasitas diri, lingkungan kerja dan perusahaan
secara keseluruhan dibandingkan dengan pemegang saham dan
stakeholder. Adanya kondisi yang asimetri, maka manajer dapat
mempengaruhi angka-angka akuntansi yang disajikan dalam laporan
keuangan dengan cara melakukan manajemen laba. Berdasarkan
pernyataan-pernyataan tersebut dapat dirumuskan hipotesis sebagai
berikut:
H1 : Asimetri informasi berpengaruh positif pada praktek
manajemen laba
2.3.2

Pengaruh

Kepemilikan

Manajemen Laba.

42

Manajerial

Pada

Praktek

Kepemilikan saham yang dimiliki oleh manajer merupakan salah


satu cara untuk mengurangi kos keagenan dimana kepemilikan
manajerial ini dapat mensejajarkan kepentingan manajer dengan
kepentingan pemilik.Kepemilikan manajerial merupakan besarnya
kepemilikan saham yang dimiliki oleh manajer. Hasil penelitian diatas
mendukung bukti bahwa kepemilikan manajerial mengurangi dorongan
oportunistik manajer sehingga akan mengurangi manajemen laba.
Kepemilikan seorang manajer akan ikut menentukan kebijakan dan
pengambilan keputusan terhadap metode akuntansi yang diterapkan
pada perusahaan yang mereka kelola. Secara umum dapat dikatakan
bahwa persentase tertentu kepemilikan saham oleh pihak manajemen
cenderung akan mempengaruhi tindakan manajemen laba (Gideon,
2005).
Jensen & Mecklin (1976) dalam Fidyati (2004) menemukan
bukti bahwa kepemilikan manajerial berhasil menjadi mekanisme
untuk mengurangi masalah keagenan dan moral hazard dari manajer
dengan menyelaraskan kepentingan manajer dengan pemegang saham.
Siallagan dan Machfoedz (2006) menyatakan bahwa semakin besar
kepemilikan manajerial maka discretionary accrual semakin rendah.
Jensen dan Meckling dalam Setiyarini dan Purwanti (2011)
menyatakan

bahwa

kepemilikan

manajerial

berhasil

menjadi

mekanisme untuk mengurangi masalah keagenan dari manajer dengan


menyelaraskan kepentingan - kepentingan manajer dengan pemegang

43

saham. Semakin besar kepemilikan manajemen dalam perusahaan


maka manajemen akan cenderung untuk berusaha untuk meningkatkan
kinerjanya (Siallagan dan Machfoedz, 2006).
Setiyarini dan Purwanti (2011) menemukan bahwa semakin
tinggi kepemilikan manajerial maka manajemen laba akan semakin
rendah. Ujiyantho dan Pramuka (2007) meneliti bahwa kepemilikan
manajerial adalah salah satu mekanisme good corporate governance
yang dapat menghindarkan pihak manajemen untuk melakukan
manajemen laba. Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas dapat
dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H2: Kepemilikan manajerial berpengaruh negatif pada praktek
manajemen laba.

44

BAB III
Metode Penelitian
3.1

Desain Penelitian

Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan


kuantitatif. Berdasarkan tingkat eksplanasi penelitian, penelitian ini berbentuk
penelitian asosiatif dengan tipe kausalitas. Sugiyono (2012:6) mengatakan bahwa
penelitian yang berbentuk asosiatif dengan tipe kausalitas adalah penelitian yang
menjelaskan pengaruh variabel independen pada variabel dependen. Penelitian ini
untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi manajemen laba. Berikut
adalah desain penelitian yang penulis gunakan:
Gambar G.1 Desain Penelitian
ASIMETRI
INFORMASI (X1)
PRAKTEK
MANAJEMEN LABA (Y)
KEPEMILIKN
MANAJERIAL (X2)

Sumber: Data diolah, 2014


3.2

Lokasi atau Ruang Lingkup Wilayah Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada perusahaan manufaktur yang


terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan mengakses website

45

BEI yaitu www.idx.co.id dan melalui Indonesian Capital Market


Directory (ICDM) 2011-2013.
3.3

Objek Penelitian

Menurut Sugiyono (2010;38), objek penelitian merupakan suatu


sifat dari objek yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan
kemudian akan memperoleh kesimpulan. Dari pengertian tersebut
dapat dijelaskan bahwa objek penelitian merupakan sumber dan tempat
peneliti akan memperoleh data. Objek penelitian ini adalah manajemen
laba pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia periode 2011-2013.
3.4

Identifikasi Variabel

Variabel penelitian adalah suatu atibut atau sifat atau nilai orang
atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang diterapkan oleh
peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya. Penelitian ini
menggunakan dua (2) jenis variabel yang dapat diuraikan sebagai
berikut (Sugiyono,2006:33):
1) Variabel terikat

atau dependen variabel (Y)

yaitu variabel yang dipengaruhi oleh variabel


bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini
adalah manajemen laba (Y).
2) Variabel bebas atau independen variabel (X)
yaitu suatu variabel yang mempengaruhi

46

variabel bebas dari penelitian ini adalah


asimetri informasi (X1) dan kepemilikan
manajerial (X2).

3.5 Definisi Operasional Variabel


1) Variabel Terikat (Dependen Variabel)
Pada penelitian ini, variabel terikat yang diteliti adalah manajemen laba
yang diukur dengan proksi discretionary accruals (DA) dan dihitung
berdasarkan Model Jones yang dimodifikasi oleh Dechow et al. (1995)
dengan langkah sebagai berikut:
(1) Menghitung akrual total
TAit = NIit CFOit...................................................................................(1)
Keterangan:
TAit
= akrual total perusahaan i pada periode t.
NIit
= laba bersih sebelum pos luar biasa perusahaan i pada periode t.
CFOit = aliran kas operasi perusahaan i pada periode t.
(2) Menghitung akrual diskresioner (DA)
Modified Jones model menaksir akrual total dideflasi dengan aset total
awal tahun untuk mengurangi heteroskedastisitas. Model tersebut adalah
sebagai berikut:

47

TAit/Ait-1 = (1/Ait-1) + 1((REVit - RECit)/Ait-1) + 2(PPEit/Ait-1) + it ..(2)


Keterangan:
REVit

= pendapatan perusahaan i pada periode t dikurangi


pendapatan pada periode t-1.
= piutang perusahaan i pada periode t dikurangi piutang pada
periode t-1.
= property, plan and equipment (aset tetap berwujud kotor)
perusahaan i pada periode t.
= aset total perusahaan i pada periode t-1 (awal tahun).

RECit
PPEit
Ait-1
Keterangan:
NDAit

DAit = akrual diskresioner perusahaan i pada periode t.


= akrual non-diskresioner perusahaan i pada periode t.

(3) Menghitung akrual non-diskresioner (NDA)


NDAit-1 = (1/ Ait-1) + 1((REVit - RECit)/Ait-1) + 2(PPEit/Ait-1)..............(3)
Keterangan:
TAit
REVit
RECit
PPEit
Ait-1

= akrual total perusahaan i pada periode t.


= pendapatan perusahaan i pada periode t dikurangi
pendapatan pada periode t-1.
= piutang perusahaan i pada periode t dikurangi piutang pada
periode t-1.`
= property, plan and equipment (aset tetap berwujud kotor)
perusahaan i pada periode t.
= aset total perusahaan i pada periode t-1 (awal tahun).

Selanjutnya penghitungan eksistensi pengaturan laba dilakukan dengan


proksi akrual diskresioner (DA). Akrual diskresioner dihitung dari akrual
total dikurangi akrual non-diskresioner (NDA) yang dideflasi dengan aset
total awal tahun (periode t-1) atau dengan rumus:
DAit = TAit - NDAit.................................................................................(4)

48

2)Variabel Independen ( Variabel Bebas)


Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah asimetri
informasi dan kepemilikan manajerial.
(1) Asimetri Informasi (X1)
Variabel independen yang pertama dalam penelitian in adalah Asimetri
Informasi (X1). Asimetri informasi adalah keadaan dimana manajer lebih
mengetahui informasi internal dan prospek perusahaan di masa yang akan
datang dibandingkan pemegang saham dan stakeholder lainnya. Dalam
penelitian ini asimetri informasi diukur dengan bid-ask spread secara
tahunan. Asimetri informasi diukur dengan menggunakan Relative Bid-ask
Spread, dimana asimetri informasi dilihat dari selisih harga saat ask dengan
harga bid saham perusahaan atau selisih harga jual dan harga beli saham
perusahaan selama satu tahun (Healy, 1999) dalam (Mayanda,2008).
Spread =

ask pricebid price


100
(ask price+bid price)/2

Keterangan :
Spread

= Selisih harga ask (jual) dengan harga bid (beli) saham


perusahaan
Ask price = harga ask (jual) tertinggi saham perusahaan
Bid price = harga bid (beli) terendah saham perusahaan
(2) Kepemilikan Manajerial (X2)
Kepemilikan manajerial merupakan kepemilikan saham oleh pihak
manajemen perusahaan. Variabel ini diukur dengan cara menghitung

49

persentase jumlah saham yang dimiliki pihak manajemen terhadap seluruh


saham perusahaan yang beredar.
3.6
Jenis dan Sumber Data
3.6.1
Jenis Data
1) Data kuantitatif
Data kuantitatif yaitu data yang berbentuk angka atau data kualitatif
yang diangkakan (Sugiyono, 2012:23). Data kuantitatif yang digunakan
dalam penelitian ini adalah angka angka yang terdapat di dalam laporan
keuangan.

2) Data kualitatif
Data kualitatif yaitu data yang berbentuk kata, kalimat, skema, dan
gambar (Sugiyono, 2012:23). Data kualitatif yang digunakan dalam
penelitian ini adalah gambaran umum tentang manajemen laba, asimetri
informasi dan kepemilikan manajerial pada seluruh perusahaan manufaktur
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sepanjang tahun 2011 - 2013.
3.6.2
Sumber Data

50

Data yang digunakan merupakan data sekunder yang diperoleh melalui


internet. Data sekunder yang digunakan adalah data laporan keuangan
yang bersumber dari Bursa Efek Indonesia, Indonesian Capital Market
Directory (ICMD), dari berbagai penelitian sebelumnya, maupun dari
berbagai artikel, internet, dan buku-buku.
3.7
Populasi dan Sampel

Populasi merupakan subjek atau objek yang mempunyai kualitas dan


karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan
kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2010).Populasi yang
digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sampel adalah bagian dari karakteristik yang dimiliki populasi


(Sugiyono,2010). Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah
non probability sampling yang merupakan teknik pengambilan sampel
yang tidak memberi kesempatan yang sama anggota populasi untuk
dijadikan sampel (Sugiyono, 2006:120). Pengambilan sampel dalam
penelitian ini dilakukan dengan purposive sampling yang merupakan
salah satu bagian dari non probability sampling yang digunakan, yaitu

51

peneliti memiliki tujuan spesifik dalam memilih sampel secara tidak


acak (Indriantoro dan Supomo, 2009:131). Kriteria yang digunakan
adalah:
1)

Perusahaan

yang

terdaftar

termasuk

perusahaan

manufaktur yang sudah go public di BEI selama periode


2011 - 2013.
2)

Perusahaan yang memiliki laporan keuangan secara


lengkap tentang data manajemen laba, asimetri informasi,
dan kepemilikan manajerial pada tahun 2011 - 2013.

3)

Perusahaan sampel tersebut mempublikasikan laporan


keuangan auditor dengan menggunakan tahun buku yang
berakhir pada tanggal 31 Desember.

4)

Data harga saham tersedia selama periode pengamatan.

5)

Laporan keuangan diterbitkan dalam mata uang rupiah.

Tabel 3.1 Seleksi Sampel Penelitian


Sumber: www.idx.co.id (2014), data diolah.
NO.
1

KRITERIA
Perusahaan manufaktur yang tercatat terakhir di Bursa
Efek Indonesia (BEI) per-2013

Perusahaan tidak memiliki laporan keuangan secara


lengkap

(47)

Laporan keuangan berakhir selain 31 Desember


Perusahaan tidak menerbitkan harga saham selama
periode pengamatan

(25)
(19)

Perusahaan tidak menerbitkan laporan keuangan dalam


mata uang rupiah

(17)

JUMLAH SAMPEL PENELITIAN

52

JUMLAH
134

26

Tabel 3.1 menunjukkan bahwa berdasarkan kriteria yang telah


di tetapkan, maka terpilih 26 sampel perusahaan manufaktur yang
terdaftar di BEI selama periode 2011-2013.
3.8
Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah


observasi non partisipan. Dimana dalam metode ini peneliti dapat
melakukan observasi sebagai pengumpul data tanpa ikut terlibat dalam
fenomena yang diamati (Suporno, 2009:159). Data yang dikumpulkan
melalui observasi non partisipan dengan cara melakukan pengamatan
dan mencatat serta mempelajari uraian uraian dari bukubuku,
jurnaljurnal, skripsi, dan mengakses PT. Bursa Efek Indonesia (BEI)
melalui www.idx.co.id. Data tersebut dapat diperoleh dalam bentuk
ICDM dan annual report di BEI.
3.9
Teknik Analisis Data
3.9.1 Uji Asumsi Klasik

Model regresi yang baik adalah model regresi yang terbebas dari
masalah

normalitas,

multikolinieritas,

53

heteroskedastisitas,

dan

autokorelasi. Untuk itu maka perlu dilakukan pengujian terhadap


model regresi yang akan digunakan pada penelitian. Pengujian tersebut
dilakukan dengan uji asumsi klasik sebagai berikut:
1) Uji normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi,
variabel residualnya mempunyai distribusi normal atau tidak normal. Model
regresi yang baik adalah data yang terdistribusi normal (Ghozali, 2009:147).
Caranya adalah dengan menggunakan statistik Kolmogorov-Smirnov. Jika
Asymp. Sig (2-tailed) lebih besar dari level of significant yang dipakai, maka
dapat disimpulkan bahwa residual yang dianalisis berdistribusi normal.
2) Uji Multikolinearitas
Ghozali (2009:95) menyatakan bahwa uji multikolinearitas bertujuan
untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar
variabel bebas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi
antara variabel independen. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya
multikolinearitas di dalam model regresi dapat dilihat dari nilai tolerance
dan lawannya dan yang kedua dilihat nilai variance inflation factor (VIF).
Kedua ukuran ini menunjukkan setiap variabel independen manakah yang
dijelaskan oleh variabel independen lainnya.

Tolerance mengukur

variabilitas variabel indenpenden yang terpilih yang tidak dijelaskan oleh


variabel independen lainnya. Jadi nilai tolerance rendah sama dengan nilai
VIF tinggi karena VIF = 1/tolerance. Dengan kata lain, tidak terjadi

54

multikolinearitas adalah yang memiliki nilai Variance Inflation Factor (VIF)


< 10 dan mempunyai angka tolerance > 0.1 (Imam Ghozali, 2009:96).
3) Uji Heteroskedastisitas
Ghozali (2009:125) menjelaskan bahwa uji heteroskedastistas bertujuan
menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari
residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Jika varian dari residual satu
pengamatan ke pengamatan lain tetap maka disebut homoskedastisitas dan
jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah
homokedastisitas, atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Untuk mendeteksi
ada atau tidaknya gejala heteroskedastisitas digunakan metode Glejser yaitu
dengan meregresi nilai absolut residual dari model yang diestimasi terhadap
variabel independen. Jika tidak ada satupun variabel bebas yang
berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat maka tidak ada gejala
heteroskedastisitas.
4) Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linear
ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan
pengganggu pada perode t-1. Uji Durbin Watson digunakan untuk
mengetahui adanya autokorelasi atau tidak. Nilai Durbin-Watson merupakan
kriteria tidak terjadinya autokorelasi, dimana dilakukan perbandingan nilai
Durbin-Watson dengan nilai pada tabel dengan menggunakan nilai
signifikansi, jumlah sampel dan jumlah variabel independen (Ghozali,
2012:111) dengan ketentuan:

55

0 < d < dl

: Tidak ada autokorelasi positif

dl d du

: Tidak ada autokorelasi positif

4-dl < d < 4

: Tidak ada autokorelasi negatif

4-du d 4-dl

: Tidak ada autokorelasi negatif

du < d < 4-du

: Tidak ada autokorelasi positif atau negatif

3.9.2
Analisis Regresi Berganda

Alat analisis yang digunakan untuk menguji H1 adalah metode


analisis regresi berganda karena analisis regresi digunakan untuk
meneliti pengaruh variabel bebas pada variabel terikat serta
menunjukkan arah hubungan variabel-variabel tersebut. Berdasarkan
pembahasan teori, data penelitian, variabel-variabel penelitian, dan
penelitian terdahulu maka bentuk persamaan regresi berganda
penelitian ini menggunakan model sebagai berikut:
Y= + 1.X1 + 2.X2 +
Keterangan:
Y

= Manajemen Laba

= nilai konstanta

1, 2

= Koefisien regresi variabel independen

X1

= Asimetri Informasi (X1)

X2

= Kepemilikan Manajerial (X2)

56

= standar eror

3.9.3
Uji Model
1)Uji Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi (R2) intinya mengukur tingkat ketepatan atau
kecocokan dari regresi linear berganda yaitu persentase sumbangan
(gooodness of fit) dari regresi linear berganda, yaitu persentase sumbangan
seluruh variabel bebas pada variabel terikat. Pada penelitian ini digunakan
Adjusted R Square karena variabel bebas yang digunakan pada penelitian ini
lebih dari satu.

2)Uji F (F-test)
Uji F dilakukan untuk melihat ada tidaknya pengaruh semua variabel
bebas pada variabel terikat serta untuk menguji apakah model yang
digunakan sudah fix atau tidak. Patokan yang digunakan adalah dengan
membandingkan nilai sig yang di dapat dengan signifikan = 0.05. Apabila
nilai sig lebih kecil dari derajat signifikasi maka persamaan regresi yang
diperoleh dapat diandalkan (sudah fix).
3)Uji Hipotesis (t-test)
Uji t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel
independen secara individual dalam menerangkan variabel dependen

57

(Ghozali, 2011). Uji t dilakukan dengan tingkat signifikansi = 5%. Apabila


nilai sig t (p- value) < 0,05 maka Ho ditolak, artinya suatu variabel
independen secara individual mempengaruhi variabel dependen.

58

BAB IV
DATA DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

4.1 Gambaran Umum Organisasi


Perkembangan pasar modal di Indonesia sudah ada sejak zaman kolonial
Belanda. Pasar modal didirikan pertama pada tahun 1912. Periode kedua adalah
periode orde lama yaitu pada tahun 1952. Periode ketiga adalah pada masa orde
baru, dimana Bursa Efek Jakarta (BEJ) dikatakan lahir kembali pada tahun 1977.
Dimasa ini, hanya sedikit perusahaan yang tercatat di BEJ. Periode keempat yaitu
pada tahun 1988-1995 terjadi lonjakan IPO (Initial Public Offering), yang mana
banyak perusahaan yang melakukan penawaran saham perdananya di Bursa Efek
Jakarta.
Pada periode kelima yaitu mulai Mei 1995, Bursa Efek Jakarta melakukan
otomatisasi pasar modal atau yang dikenal dengan istilah JATS (Jakarta
Automatic Trading System). Pada era krisis moneter, sempat terjadi kelesuan
perdagangan di Bursa Efek Jakarta, dimana total return yang didapat investor
lebih kecil dari pendapatan bunga deposito, sehingga investor tidak tertarik untuk
menanamkan dananya di pasar modal. BEJ sempat melakukan perdagangan tanpa
warkat pada tahun 2000.
Efektif mulai bulan November 2007, setelah diadakannya RUPSLB (Rapat
Umum Pemegang Saham Luar Biasa), BEJ (Bursa Efek Jakarta) dan BES ( Bursa
Efek Surabaya) bergabung menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI). Bursa Efek
Indonesia memiliki visi yaitu menjadi bursa yang kompetitif dengan kredibilitas
tingkat dunia serta misi yaitu menciptakan daya saing untuk menarik investor dan

59

emiten, melalui pemberdayaan anggota bursa dan partisipan, penciptaan nilai


tambah, efisiensi biaya serta penerapam good governance (www.idx.co.id).

4.2

Statistik Deskriptif
Berdasarkan pengolahan data dengan menggunakan SPSS, diperoleh

statistik deskriptif yang memberikan penjelasan mengenai nilai minimum, nilai


maksimum, nilai rata-rata, dan nilai standar deviasi dari masing-masing variabel.
Berikut disajikan hasil dari statistik deskriptif.
Tabel 4.1 Statistik Deskriptif
Descriptive Statistics
N
asimetri informasi
Kepemilikan manajerial
DA
Valid N (listwise)

78
78
78
78

Minimum
,06
,00
-,50

Maximum
,95
,23
,40

Mean
,4574
,0500
,0082

Std. Deviation
,25193
,06473
,11176

Sumber: Lampiran 1
Statistik deskriptif pada Tabel 4.1 menunjukkan bahwa statistik
deskriptif variabel DA (manajemen laba) pada perusahaan manufaktur
menunjukkan nilai minimum -0,50 dan nilai maksimum 0,40 dengan
rata-rata 0,0082 dan standar deviasi sebesar 0,11176 menunjukkan
variasi yang terdapat dalam akrual deskresioner.
Statistik deskriptif variabel asimetri informasi (X1) pada
perusahaan manufaktur menunjukkan nilai minimum 0,06 dan nilai
maksimum 0,95 dengan rata-rata 0,4574 dan standar deviasi sebesar
0,25193. Statistik deskriptif variabel kepemilikan manajerial (X2) pada

60

perusahaan manufaktur menunjukkan nilai minimum 0,00 dan nilai


maksimum 0,23 dengan rata-rata 0,0500 dan standar deviasi sebesar
0,647.

4.3 Uji Asumsi Klasik


Sebelum dianalisis dengan teknik analisis regresi linear berganda,
maka model persamaan regresi linear berganda harus melalui uji
asumsi klasik. Berikut disajikan hasil uji asumsi klasik yang diolah
dengan bantuan program SPSS.

4.3.1

Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah residual dari model regresi

yang dibuat berdistribusi secara normal atau tidak. Uji normalitas dapat dilakukan
dengan menggunakan uji

Kolmogorov-Smirnov. Jika signifikansi dari nilai

Asymp. Sig. (2-tailed) lebih besar dari 0,05 maka data tersebut berdistribusi
secara normal.
Tabel 4.2 Uji Normalitas

61

One -Sa mple Kolmogorov-Sm irnov Te st

N
Normal Parametersa ,b
Most Extreme
Differences

Mean
Std. Deviation
Absolute
Positive
Negative

Kolmogorov-Smirnov Z
Asymp. Sig. (2-tailed)

Unstandardiz
ed Residual
78
,0000000
,11130701
,134
,134
-,109
1,183
,122

a. Test distribution is Normal.


b. Calculated from data.

Sumber: Lampiran 2
Berdasarkan

Tabel

4.2

hasil

uji

Kolmogorov-Smirnov

nilai

siginifikasinsinya sebesar 0,122 maka dapat diambil kesimpulan bahwa data


residual terdistribusi normal karena signifikansi nilai Asymp. Sig. (2-tailed) lebih
besar dari 0,05.

4.3.2 Uji Heteroskedastisitas


Uji heteroskedastisitas dilakukan untuk mengetahui apakah
dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian. Uji ini dapat
dianalisis melalui uji glesjer dengan melihat tingkat signifikansi, jika
tingkat signifikansi berada di atas 0,05 maka model regresi ini bebas
dari masalah heteroskedastisitas.
Tabel 4.3 Uji Heteroskedastisitas

62

Coefficientsa

Model
1

(Constant)
asimetri informasi
Kepemilikan manajerial

Unstandardized
Coefficients
B
Std. Error
,074
,021
-,003
,037
,001
,001

Standardized
Coefficients
Beta
-,009
,045

t
3,503
-,081
,387

Sig.
,001
,935
,700

a. Dependent Variable: Abres

Sumber: Lampiran 2
Berdasarkan hasil pengujian yang ditunjukkan pada Tabel 4.3,
tingkat signifikansi berada di atas 0,05 dimana nilai Sig. asimetri
informasi sebesar 0,935, kepemilikan manajerial sebesar 0,700.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dalam model regresi ini tidak
terdapat heteroskedastisitas.

4.3.3

Uji Multikolinearitas
Uji Multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah di dalam model

regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas. Model regresi yang baik
seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel bebas. Suatu model regresi
dapat dikatakan baik jika tidak terjadi multikolinearitas di dalamnya. Model
regresi yang bebas dari multikolinearitas adalah yang memiliki nilai variance
inflaction factor (VIF) tidak lebih dari 10 dan mempunyai angka tolerance lebih
dari 10%.
Tabel 4.4 Uji Multikolinearitas

63

Coe fficie ntsa

Model
1

asimetri informasi
Kepemilikan manajerial

Collinearity Statistics
Tolerance
VIF
,997
1,003
,997
1,003

a. Dependent Variable: DA

Sumber: Lampiran 3
Berdasarkan hasil pengujian yang ditunjukkan pada Tabel 4.4,
nilai tolerance variabel bebas lebih dari 10% atau 0.1 dimana nilai
tolerance dari

asimetri informasi sebesar 0,997, kepemilikan

manajerial sebesar 0,997. Nilai VIF kurang dari 10 dimana nilai VIF
dari asimetri informasi sebesar 1,003, kepemilikan manajerial sebesar
1,003.

Dengan

demikian

dapat

disimpulkan

tidak

terjadi

multikolinearitas antara variabel bebas dalam penelitian ini.

4.3.4

Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi dilakukan untuk mendeteksi adanya korelasi
antara data pada masa sebelumnya (t-1) dengan data sesudahnya (t1).
Model uji yang baik adalah terbebas autokorelasi. Identifikasi adanya
autokorelasi dalam model regresi pada penelitian ini dilakukan dengan
melakukan pengujian terhadap nilai uji Durbin-Watson (DW).

Tabel 4.5 Uji Autokorelasi

64

b
Model Summary

Model
1

R
,889a

R Square
,791

Adjusted
R Square
,79

Std. Error of
the Estimate
,11278

DurbinW atson
1,915

a. Predictors: (Constant), Kepemilikan manajerial, asimetri informasi


b. Dependent Variable: DA

Sumber: Lampiran 7

Gambar 4.1 Kurva Uji Autokorelasi

Daerah Keragu-raguan

Daerah Keragu-raguan
Negatif
Autocorelation

Positif
Autocorelation
Menerima H0 atau H0 atau
kedua-duanya
0

2
dl

umber : Lampiran 3piran 3sil penelitian

du
sebelumnya
1,68

DW

4 du
2,32

4 dl
2,42

adalah sebagai berikut

Berdasarkan Tabel 4.5 variabel yang diteliti memiliki nilai DW


sebesar 1,915. Dengan jumlah data (n) = 78 dan jumlah variabel bebas
(k) = 2 serta =5% diperoleh angka dl=1,58 dan du=1,68. Karena DW
sebesar 1,915 terletak antara batas atas (du) dan (4-du), maka dapat
disimpulkan dalam model regresi ini tidak terdapat autokorelasi.
4.4

Analisis Regresi Linear Berganda


Analisis regresi linear berganda digunakan untuk mengetahui
pengaruh antara variabel bebas pada variabel terikat. Dalam penelitian

65

ini analisis regresi linear berganda digunakan untuk mengetahui


besarnya pengaruh asimetri informasi dan kepemilikan manajerial
pada praktek manajemen laba pada perusahaan manufaktur di Bursa
Efek Indonesia tahun 2011-2013.
Tabel 4.7 Analisis Regresi Linear Berganda
Coefficientsa

Model
1

(Constant)
asimetri informasi
Kepemilikan manajerial

Unstandardized
Coefficients
B
Std. Error
-,026
,029
,657
,040
-,006
,002

Standardized
Coefficients
Beta
,870
-,143

t
-,917
16,448
-2,712

Sig.
,362
,000
,008

a. Dependent Variable: DA

Sumber: Lampiran 7
Berdasarkan Tabel 4.6 maka persamaan regresi dari hasil tersebut sebagai
berikut:
Y = -0,026 + 0,657X1 - 0,006X2
Persamaan regresi tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
1) Nilai konstanta sebesar -0,026 artinya jika variabel asimetri informasi dan
kepemilikan manajerial, dianggap konstan (tetap atau tidak ada perubahan),
maka praktek manajemen laba sebesar -0,026.
2) Nilai koefisien 1 sebesar 0,657 artinya jika nilai variabel asimetri informasi
meningkat sebesar satu satuan maka praktek manajemen laba meningkat
sebesar 0,667 dengan asumsi variabel kepemilikan manajerial tetap konstan.
3) Nilai koefisien 2 sebesar -0,006 artinya jika kepemilikan manajerial
meningkat sebesar satu persen maka praktek manajemen laba menurun sebesar
0,006 dengan asumsi variabel asimetri informasi tetap konstan.

66

4.5

Uji Model

4.5.1 Uji Koefisien Determinasi (R2)


Uji koefisien determinasi dilakukan untuk mengetahui seberapa
jauh kemampuan variabel bebas (independen) menerangkan variabel
terikatnya (dependen), ini dapat dilihat dari nilai R2 yaitu adjusted R2.
Tabel 4.7 Nilai Koefisien Determinasi (Uji R)
b
Mode l Summary

Model
1

R
,889a

R Square
,791

Adjusted
R Square
,79

Std. Error of
the Estimate
,11278

DurbinWatson
1,915

a. Predictors: (Constant), Kepemilikan manajerial, asimetri informasi


b. Dependent Variable: DA

Sumber: Lampiran 7
Berdasarkan Tabel 4.7 nilai adjusted R2 sebesar 0,79, ini berarti
sebesar 79 persen (%) variasi variabel asimetri informasi dan
kepemilikan manajerial mempengaruhi praktek manajemen laba,
sedangkan sisanya sebesar 21 persen (%) dipengaruhi oleh variabel
lain yang tidak dimasukan dalam penelitian.

4.5.2

Uji Kelayakan Model (Uji F)


Uji kelayakan model (uji F) bertujuan untuk menguji apakah semua

variabel bebas berpengaruh pada variabel terikat dan untuk mengetahui model
regresi yang digunakan dalam penelitian ini layak uji atau tidak.
Tabel 4.8 Uji Kelayakan Model (Uji F)

67

ANOVAb
Model
1

Regression
Residual
Total

Sum of
Squares
4,789
1,266
6,055

df
2
75
77

Mean Square
2,395
,017

F
141,873

Sig.
,000a

a. Predictors: (Constant), Kepemilikan manajerial, asimetri informasi


b. Dependent Variable: DA

Sumber: Lampiran 7
Berdasarkan Tabel 4.8 diperoleh nilai dari signifikansi 0,000
yang lebih kecil dari 0,05. Ini berarti bahwa ada pengaruh antara
variabel bebas yaitu asimetri informasi dan kepemilikan manajerial
secara simultan pada variabel terikat praktek manajemen laba.
4.5.3

Uji Hipotesis (Uji t)

Uji hipotesis dilakukan untuk mengetahui apakah variabel independen


secara parsial mempunyai pengaruh pada variabel dependen. Hasil pengujian
hipotesis (uji t) dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.9 Uji Hipotesis (Uji t)

68

Coefficientsa

Model
1

(Constant)
asimetri informasi
Kepemilikan manajerial

Unstandardized
Coefficients
B
Std. Error
-,026
,029
,657
,040
-,006
,002

Standardized
Coefficients
Beta
,870
-,143

t
-,917
16,448
-2,712

Sig.
,362
,000
,008

a. Dependent Variable: DA

Sumber: Lampiran 7
Untuk mengetahui signifikansi pengaruh asimetri informasi pada
praktek manajemen laba dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:
(1) Merumuskan hipotesis
H0 : 1 = 0,

artinya asimetri informasi tidak berpengaruh pada praktek


manajemen laba.

H1 : 1 > 0,

artinya asimetri informasi berpengaruh pada praktek


manajemen laba.

(2)

Penentuan t hitung
Hasil perhitungan dengan menggunakan program SPSS pada Tabel
4.9 menunjukkan t hitung = 16,448

(3)

Kriteria penerimaan/penolakan
Untuk menguji hipotesis dilakukan dengan membandingkan nilai
sig dengan nilai = 0,05 sebagai berikut:
Jika sig < 0,05 maka H0 ditolak atau H1 diterima
Jika Sig > 0,05 maka H0 diterima atau H1 ditolak
(4) Berdasarkan Tabel 4.9 diketahui bahwa nilai t hitung sebesar 16,448
dengan tingkat signifikan sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05 dan nilai
thitung = 16,448 > ttabel = 1,658 Dimana H0 ditolak dan H1 diterima atau

69

variabel

asimetri

informasi

berpengaruh

positif

pada

praktek

manajemen laba.
Untuk mengetahui signifikansi pengaruh kepemilikan manajerial
pada praktek manajemen laba dilakukan dengan tahapan sebagai
berikut:
(1) Merumuskan hipotesis
H0 : 2 = 0,

artinya kepemilikan manajerial tidak berpengaruh pada


praktek manajemen laba

H1 : 2 < 0,

artinya kepemilikan manajerial berpengaruh pada praktek


manajemen laba.

(2) Penentuan t hitung


Hasil perhitungan dengan menggunakan program SPSS pada Tabel
4.9 menunjukkan t hitung = -2,712
(3)

Kriteria penerimaan/penolakan
Untuk menguji hipotesis dilakukan dengan membandingkan nilai
sig dengan nilai = 0,05 sebagai berikut:
Jika sig < 0,05 maka H0 ditolak atau H1 diterima
Jika Sig > 0,05 maka H0 diterima atau H1 ditolak
(4) Berdasarkan Tabel 4.9 diketahui bahwa nilai t hitung sebesar -2,712
dengan tingkat signifikan sebesar 0,008 lebih kecil dari 0,05 dan nilai
thitung = -2,712 > ttabel = -1,658 yang berarti H0 ditolak dan H1 diterima. Ini
berarti variabel kepemilikan manajerial berpengaruh pada praktek
manajemen laba.

70

4.6 Pembahasan Hasil Penelitian


4.6.1 Pengaruh Asimetri Informasi Pada Praktek Manajemen Laba
Hasil statistik uji t menunjukan bahwa variabel asimetri
informasi memiliki nilai unstandarized koefisien beta sebesar 0,657
dengan tingkat signifikan sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05 dan nilai
thitung = 16,448 > ttabel = 1,658 Dimana H0 ditolak dan H1 diterima. Ini
berarti asimetri informasi berpengaruh positif pada praktek manajemen
laba.
Teori keagenan (agency theory) mengimplikasikan adanya
asimetri informasi antara manajer sebagai agen dan pemilik (dalam hal
ini adalah pemegang saham) sebagai prinsipal. Manajer memiliki
informasi yang lebih banyak dan menyembunyikan beberapa informasi
yang tidak diketahui oleh pemegang saham dan stakeholder. Dalam
kondisi tersebut maka manajer dapat menggunakan informasi yang
diketahuinya

dalam

memanipulasi

pelaporan

keuangan

guna

memaksimalkan kemakmuran.
Asimetri Informasi merupakan suatu keadaan ketika
manajer memiliki akses informasi atas prospek perusahaan yang tidak
dimiliki oleh pihak luar perusahaan. Asimetri informasi muncul ketika
manajer lebih mengetahui informasi internal dan prospek perusahaan
dimasa yang akan datang dibandingkan pemegang saham dan
stakeholder lainnya ( Ilham Firdaus, 2013). Keberadaan asimetri
informasi dianggap sebagai penyebab manajemen laba. Semakin

71

banyak informasi mengenai internal perusahaan yang dimiliki oleh


manajer daripada pemegang saham maka manajer akan lebih banyak
mempunyai kesempatan untuk melakukan manajemen laba.
Uschift dan Lewin dalam (Youngkei Santoso, 2012)
menjelaskan bahwa manajer berada pada posisi yang mempunyai lebih
banyak informasi mengenai kapasitas diri, lingkungan kerja dan
perusahaan secara keseluruhan dibandingkan dengan pemegang saham
dan stakeholder. Adanya kondisi yang asimetri, maka manajer dapat
mempengaruhi angka-angka akuntansi yang disajikan dalam laporan
keuangan dengan cara melakukan manajemen laba
Hasil penelitian ini sejalan dengan Richardson (1998) yang
meneliti hubungan asimetri informasi dan manajemen laba pada semua
perusahaan yang terdaftar di NYSE periode 1988-1992 menunjukkan
bahwa terdapat hubungan yang sistematis antara magnitut asimetri
informasi dan tingkat manajemen laba.
4.6.2 Pengaruh Kepemilikan Manajerial Pada Praktek Manajemen Laba
Hasil statistik uji t menunjukan bahwa variabel kepemilikan
manajemen laba memiliki nilai unstandarized koefisien beta sebesar
-0,006 dengan tingkat signifikan sebesar 0,008 lebih kecil dari 0,05
dan nilai thitung = -2,712 > ttabel = -1,658 Dimana H0 ditolak dan H1
diterima. Ini berarti kepemilikan manajerial merupakan faktor yang
berpengaruh negatif pada praktek manajemen laba.

72

Kepemilikan saham yang dimiliki oleh manajer merupakan salah satu cara
untuk mengurangi kos keagenan dimana kepemilikan manajerial ini dapat
mensejajarkan kepentingan manajer dengan kepentingan pemilik. Kepemilikan
manajerial merupakan besarnya kepemilikan saham yang dimiliki oleh manajer.
Hasil penelitian diatas mendukung bukti bahwa kepemilikan manajerial
mengurangi

dorongan

oportunistik

manajer

sehingga

akan

mengurangi

manajemen laba. Kepemilikan seorang manajer akan ikut menentukan kebijakan


dan pengambilan keputusan terhadap metode akuntansi yang diterapkan pada
perusahaan yang mereka kelola. Secara umum dapat dikatakan bahwa persentase
tertentu

kepemilikan

saham

oleh

pihak

manajemen

cenderung

akan

mempengaruhi tindakan manajemen laba (Gideon, 2005).


Jensen & Mecklin (1976) dalam Fidyati (2004) menemukan bukti bahwa
kepemilikan manajerial berhasil menjadi mekanisme untuk mengurangi masalah
keagenan dan moral hazard dari manajer dengan menyelaraskan kepentingan
manajer dengan pemegang saham. Siallagan dan Machfoedz (2006) menyatakan
bahwa semakin besar kepemilikan manajerial maka discretionary accrual semakin
rendah.
Setiyarini dan Purwanti (2011) menyatakan bahwa kepemilikan manajerial
berhasil menjadi mekanisme untuk mengurangi masalah keagenan dari manajer
dengan menyelaraskan kepentingan - kepentingan manajer dengan pemegang
saham. Semakin besar kepemilikan manajemen dalam perusahaan maka
manajemen akan cenderung untuk berusaha untuk meningkatkan kinerjanya
(Siallagan dan Machfoedz, 2006).

73

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Setiyarini dan Purwanti (2011)
menemukan bahwa semakin tinggi kepemilikan manajerial maka manajemen laba
akan semakin rendah. Ujiyantho dan Pramuka (2007) meneliti bahwa kepemilikan
manajerial adalah salah satu mekanisme good corporate governance yang dapat
menghindarkan pihak manajemen untuk melakukan manajemen laba.

74

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

5.1

Simpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah
dilakukan pada bab sebelumnya maka dapat ditarik simpulan sebagai
berikut:
1) Asimetri informasi berpengaruh positif pada praktek manajemen laba
perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2011-2013. Hal ini
menunjukkan bahwa semakin tinggi asimetri informasi semakin tinggi
peluang yang dimiliki manajer untuk melakukan praktek manajemen
laba.
2) Kepemilikan manajerial berpengaruh negatif pada praktek manajemen
laba perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2011-2013.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa peningkatan persentase saham yang
dimiliki oleh manajemen dapat mengurangi tindakan manajemen laba.

5.2

Saran
Berdasarkan simpulan yang telah diuraikan, maka dapat
disampaikan beberapa saran sebagai berikut:
1) Dalam penelitian ini variabel asimetri informasi berpengaruh positif dan
variabel kepemilikan manajerial berpengaruh negatif pada praktek
manajemen laba. Oleh sebab itu, disarankan agar pemilik atau pemegang

75

saham mayoritas suatu perusahaan agar ikut serta mengelola dan menjadi
bagian dari manajemen perusahaan agar tidak terjadi ketimpangan
informasi antara pemilik dan manajemen perusahaan sehingga dapat
mengurangi terjadinya praktek manajemen laba.
2) Penelitian selanjutnya dapat melibatkan variabel-variabel bebas lainnya
untuk melihat variabel mana yang memberikan pengaruh pada manajemen
laba,

contohnya

mekanisme-mekanisme

dalam

good

corporate

governance lainnya selain kepemilikan manajerial.


3) Penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan menggunakan sampel dari
kategori perusahaan lainnya selain perusahaan manufaktur untuk
membuktikan apakah kesimpulan yang didapat dalam penelitian ini
berlaku untuk semua jenis industri atau tidak.
4) Penelitian selanjutnya dapat menambah jumlah periode tahun pengamatan
sehingga tingkat generalisasinya akan lebih tinggi.

76

DAFTAR RUJUKAN
Alvia, Januarsi, Sulistiawan.2011.Creative Accounting, mengungkap manajemen
laba dan skandal akuntansi.Jakarta:Salemba Empat.
Andayani T.D.2010. Pengaruh Karakteristik Dewan Komisaris Independen
Terhadap Manajemen Laba. Tesis Fakultas Ekonomi, Universitas
Diponegoro.Semarang.
Anthony, Robert N. dan Vijay Govindarajan. 2005. "Sistem Pengendalian
Manajemen'". Jakarta: Salemba Empat.
Antonia, Edgina. 2008. Analisis Pengaruh Reputasi Auditor, Proporsi Dewan
Komisaris Independen, Leverage, Kepemilikan Manajerial dan Proporsi
Komite Audit Independen Terhadap Manajemen Laba. Jurnal Fakultas
Ekonomi, Universitas Diponogoro.
Arif, Ujiyanto Moh dan Bambang Agus Pramuka. 2007. Mekanisme Corporate
Governance, Manajemen Laba, dan Kinerja Keuangan. Simposium
Nasional Akuntansi X. IAI. 2007.
Belkaoui, Ahmed Riahi. 2006a. Accounting Theory. Edisi ke-5, Buku Satu.
Jakarta: Salemba Empat.
Bengtsson, Kristian, Class Bergstrom, dan Max Nilsson. 2006. Earnings
Management and CEO Turnovers. Working Paper, School of
Economics, Sweden.
Budiasih, I.G.A.N. 2007. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Praktik Perataan
Laba. Jurnal Akuntansi dan Bisnis. Indonesia
Boediono, Gideon SB. (2005). Kualitas Laba: Studi Pengaruh Mekanisme
Corporate Governance dan Dampak Manajemen Laba dengan
Menggunakan Analisis Jalur. Simposium Nasional Akuntansi VIII.
Chtourou, Sonda Marrakchi, Jean Bedard and Lucie Courteau. 2001. Corporate
Governance and Earnings Management. www.ssrn.com
Dechow, P.M., Sloan, R.G., dan Sweeney, A.P 1995. Detecting Earnings
Management. The Accounting Review, 70: 193-225.
Firdaus, Ilham. 2013. Pengaruh Asimetri Informasi dan Capital Adequacy Ratio
terhadap Manajemen Laba (Studi Empiris pada Perusahaan Perbankan
yang Listing di Bursa Efek Indonesia). Skripsi Fakultas Ekonomi,
Universitas Negeri Padang.

77

Fuad. 2005. Simultanitas Dan Trade-Off Pengambilan Keputusan Finansial


Dalam Mengurangi Konflik Agensi: Peran Dari Corporate Ownership.
Simposium Nasional Akuntansi VIII, IAI, 2005.
Gerianta Wirawan Yasa dan Novially Yulia. 2012. Indikasi manajemen laba oleh
CEO baru pada perusahaan yang terdaftar di pasar modal Indonesia.
Jurnal Fakultas Ekonomi, Universitas Udayana.
Ghozali, Imam. 2006. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS,
Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Halim, Julia, Carmel Meiden, dan Rudolf Lumban Tobing. 2005. Pengaruh
Manajemen Laba pada Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan pada
Perusahaan Manufaktur yang Termasuk dalam Indeks LQ-45.
Simposium Nasional Akuntansi 8. Solo.
Handoko, jimmy.2006. Analisis atas hubungan motivasi pergantian CEO dan
motivasi pajak penghasilan terhadap earning managemen pada industri
manufaktur food&beverages.Skripsi Fakultas Ekonomi, Universitas
Petra.
Hanifah. 2007. Pengaruh Asimetri Informasi terhadap Manajamen Laba pada
perusahaan perbankan di Bursa Efek Jakarta. Skripsi. Fakultas Ekonomi.
Universitas Bung Hatta.
Haryono, Slamet. 2005. Struktur Kepemilikan dalam Bingkai Teori Keagenan.
Jurnal Akuntansi dan Bisnis Vol. 5, No. 1, hal 63-71.
Hazarika, Sonali, Jonathan M. Karpof, dan Rajariishi Nahata. 2009. Internal
Corporate Governance, CEO Turnovers, and Earnings Management.
Social Science Research Network.
Herawati, Nurul dan Zaki Baridwan. 2007. Manajemen Laba pada Perusahaan
yang Melanggar Hutang. Simposium Nasional Akuntansi 10. Makassar.
http://books.google.co.id/books?
id=hYqM7wfmU5UC&printsec=frontcover&hl=id#v=onepage&q&f=fal
se. Diakses 2 Juni 2014.
Idris. 2006. Aplikasi SPSS dalam Analisa Data Kuantitatif. FE. UNP.
Ikatan Akuntan Indonesia. 2009. Standar Akuntansi Keuangan.Jakarta: Penerbit
Salemba Empat.
Indrayani, Sita. 2009. Pengaruh Asimetri Informasi, Konsentrasi Kepemilikan
Institusional dan Leverage Terhadap Manajemen Laba pada perusahaan

78

Properti, Real Estate, dan Konstruksi yang Terdapat di BEI. Skripsi SI.
Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro.
Indriani, yohana. 2010. Pengaruh kualitas auditor, corporate governance, leverage
dan kinerja keuangan terhadap manajemen laba. Jurnal Fakultas
Ekonomi, Universitas Diponegoro. Semarang.
Jensen, Michael C. Dan William Meckling. 1976. Theory of the Firm, Managerial
Behavior, Agency, and Ownership Structure. Journal of Financial
Economics 3 (4):305-360.
Kaplan, Steven N. dan Bernadette A. Minton. 2006. How has CEO Turnover
Changed? Increasingly Performance Sensitive Boards and Increasingly
Uneasy CEOs. Working Paper, University of Chicago.
Kanisiusmedia,http://books.google.co.id/books?
id=hYqM7wfmU5UC&printsec=frontcover&hl=id#=onepage&q&f=false
. Diakses 11 Februari 2012.
Mulford dan comiskey.2010.Deteksi Kecurangan Akuntansi.Jakarta:PPM.
Nasution, Marihot dan Doddy Setiawan. 2007. Pengaruh Corporate Governance
Terhadap Manajemen Laba di Industri Perbankan Indonesia. Simposium
Nasional Akuntansi 10.Makassar .
Ningsaptiti restie. 2010. Analisis pengaruh ukuran perusahaandan mekanisme
corporate governance terhadap manajemen laba. Jurnal Fakultas
Ekonomi, Universitas Diponegoro. Semarang.
Nuryaman. 2008. Pengaruh Konsentrasi Kepemilikan, Ukuran Perusahaan, dan
Mekanisme Corporate Governance terhadap Manajemen Laba.
Simposium Nasional Akuntansi 11. Pontianak.
Olyvia, Angella. 2010. Pengaruh Asimetri informasi dan Nilai Earning Per Share
(EPS) Terhadap Praktik Manajemen Laba pada Perusahaan Manufaktur
di BEI. Skripsi SI. Fakultas Ekonomi. Universitas Negeri Padang
Priyatno Duwi.2010. Paham Analisa Statistik Data dengan SPSS. Yogyakarta:
MediaKom.
Rahmawati. 2008. "Motivasi, Batasan, dan Peluang Manajemen Laba (Studi
Empiris pada Industri Perbankanyang Terdaftar di Bursa EfekJakarta)".
Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia Vol. 23, No. 4,hal. 385-403.

79

Rahmawati, Yacob Suparto dan Nurul Qomariah. 2006. Pengaruh Asimetri


Informasi Terhadap Praktik Manajemen Laba pada Perusahaan Perbankan
Publik yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Simposium Nasional
Akuntansi X. IAI. 2007.
Reichelt Ken, Francis Jere R.2002. The Effect of Fee Dependence on Non-Big 5
Clients Accruals. University of Missouri.Columbia.
Richardson, V. J. 1998. Information Asymmetry and Earnings Management :
Some Evidence. http/www.ssrn.com.
Scoot, William, R. (1997), Financial Accounting Theory, International Edition,
New Jersey:Prentice-Hall, Inc.
Setyawati, Naim, (2000), Manajemen Laba, Jurnal Ekonomi dan Bisnis
Indonesia, Vol.15, No.4, 424-441.
Sugiyono. metode Penelitian Bisnis. Bandung: CV. Alfabeta.2007.
Sulistyanto, H. Sri. 2008. Manajemen Laba, Teori dan Model Empiris. Jakarta:
Grasindo.
Suryani Dewi I. 2010. Pengaruh Mekanisme Corporate Governance dan Ukuran
Perusahaan Terhadap Manajemen Laba Pada Perusahaan Manufaktur
Yang Terdaftar Di BEI. Jurnal Fakultas Ekonomi, Universitas
Diponegoro. Semarang
Tarjo. 2008. Pengaruh Konsentrasi Kepemilikan Institusional dan Leverage
Terhadap Manajemen Laba, Nilai Pemegang Saham serta Cost of Equity
Capital. Simposium Nasional Akuntansi 11. Pontianak.
Ujiyantho, Muh Arief dan Bambang Agus Pramuka. 2007. Mekanisme Corporate
Governance, Manajemen Laba dan Kinerja Keuangan Studi Pada
Perusahaan Go Publik Sektor Manufaktur. Simposium Nasional
Akuntansi X (Makassar).
Veronica, Sylvia N.P Siregar dan Siddharta Utama. 2005. Pengaruh Struktur
Kepemilikan, Ukuran Perusahaan, dan Praktek Corporate Governance
Terhadap Pengelolaan Laba (Earning Management). Simposium Nasional
Akuntansi 8. (Solo)
Wangi C. M. A. 2010. Analisi manajemen laba dan kinerja keuangan perusahaan
pengakuisisi sebelum dan sesudah merger dan akuisisi yang terdaftar di
BEI. Jurnal Fakultas Ekonomi, Universitas Diponegoro. Semarang.

80

Watts, R, L., and Zimmerman, J, L. (1986). Positive Accounting Theory. New


York, Prentice Hall.
Widyaningdyah, Agnes Utari. 2001. Analisis Faktor-Faktor yang Berpengaruh
Terhadap Earnings Management pada Perusahaan Go Public di
Indonesia. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Vol. 3, No. 2, hal. 89-101.
www.idx.co.id
Yasa G. W, Novialy yulia.2012.Indikasi manajemen laba oleh CEO baru pada
perusahaan yang terdaftar di pasar modal Indonesia. Jurnal Fakultas
Ekonomi, Universitas Udayana.

81

Lampiran 1 : Daftar Perusahaan Manufaktur yang Memenuhi Kriteria


Sampel
NO

KODE

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26

INDF
TBLA
ULTJ
GGRM
SSTM
SRSN
AKRA
ETWA
LTLS
BRNA
TRST
ALMI
PICO
KICI
MTDL
MLPL
ASII
AUTO
GJTL
INTA
PRAS
SMSM
KONI
KLBF
PYFA
TCID

NAMA PERUSAHAAN
PT. Indofood Sukses Makmur Tbk
PT. Tunas Baru Lampung Tbk
PT. Ultra Jaya Milk Industry & Trading Company Tbk
PT. Gudang Garam Tbk
PT. Sunson Textile Manufacturer Tbk
PT. Indo Acidatama Tbk (d/h Sarasa Nugraha Tbk)
PT. AKR Corporindo Tbk
PT. Eterindo Wahanatama Tbk
PT. Lautan Luas Tbk
PT. Berlina Tbk
PT. Trias Sentosa Tbk
PT. Alumindo Light Metal Industry Tbk
PT. Pelangi Indah Canindo Tbk
PT. Kedaung Indah Can Tbk
PT. Metrodata Electronics Tbk
PT. Multipolar Tbk
PT. Astra International Tbk
PT. Astra Otoparts Tbk
PT. Gajah Tunggal Tbk
PT. Intraco Penta Tbk
PT. Prima Alloy Steel Tbk
PT. Selamat Sempurna Tbk
PT. Perdana Bangun Pusaka Tbk
PT. Kalbe Farma Tbk
PT. Pyridam Farma Tbk
PT. Mandom Indonesia Tbk TCID

82

Lampiran 2:Tabulasi Data Manajemen Laba yang Diproksikan Dengan


Modified Model Jones Berdasarkan Nilai Discretionary Accrual

No.
1

10

11
12

Tahun
Kode
2011
2012 INDF
2013
2011
2012 TBLA
2013
2011
2012 ULTJ
2013
2011
GGR
2012
M
2013
2011
2012 SSTM
2013
2011
2012 SRSN
2013
2011
2012 AKRA
2013
2011
2012 ETWA
2013
2011
2012 LTLS
2013
2011
2012 BRNA
2013
2011
2012 TRST
2013
2011 ALMI
2012

TAit/Ait1
-0,0371
-0,0490
-0,0592
-0,1147
0,0595
0,0197
-0,0969
-0,0632
0,0533
0,1642
0,0295
0,0460
-0,0768
-0,0808
-0,1194
-0,0157
0,0676
-0,0544
0,0780
-0,0046
0,0723
0,1425
-0,0184
0,2435
0,0677
-0,0585
-0,0159
0,0962
0,0724
-0,1497
0,0100
0,0172
-0,0468
-0,1084
0,0150

(REVitRECit)/Ait1
0,1394
0,0689
0,1067
0,2132
-0,0714
-0,0268
0,0156
0,3000
0,2440
0,1356
1,7141
0,1348
0,2866
-0,5949
0,2283
0,0358
0,0944
-0,0155
1,0073
0,2177
0,2932
0,2288
0,0814
0,1749
0,3526
0,1838
-0,1201
1,1406
0,2113
0,1453
0,1434
-0,0338
-0,0174
0,3243
-0,2049

83

PPEit/Ait
-1
0,2733
0,2940
0,3882
0,3814
0,4122
0,4466
0,5331
0,4492
0,3990
0,2664
2,6580
0,3563
0,4278
0,4516
0,4763
0,2532
0,2228
0,2941
0,3179
0,3775
0,3586
0,1210
0,2989
0,2369
0,2265
0,2654
0,2731
0,6096
0,6634
0,8298
0,6071
0,6095
0,9103
0,3633
0,3676

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25
26

2013
2011
2012 PICO
2013
2011
2012 KICI
2013
2011
2012 MTDL
2013
2011
2012 MLPL
2013
2011
2012 ASII
2013
2011
2012 AUTO
2013
2011 GJTL
2012
2013
2011 INTA
2012
2013
2011 PRAS
2012
2013
2011
2012 SMSM
2013
2011
2012 KONI
2013
2011
2012 KLBF
2013
2011
2012 PYFA
2013
2011 TCID

0,3932
0,0458
0,0653
0,0360
0,0435
0,0230
0,0527
-0,0398
-0,0265
0,1004
-0,0162
-0,0317
0,0478
0,0981
0,0895
0,0057
0,1509
0,0859
0,0570
0,0581
-0,0535
-0,0916
-0,4914
0,0857
-0,3728
-0,0058
-0,0558
0,0043
-0,0018
-0,0637
-0,0686
-0,0730
-0,0109
0,1077
0,0070
0,0482
0,1108
0,0346
0,0488
0,0887
0,0639

-0,1566
0,0522
-0,1592
0,1189
0,0543
0,0558
0,0827
0,3880
0,4371
0,9518
0,0553
0,1868
0,1257
0,1944
0,1231
0,0059
0,1683
0,1067
0,2321
0,1616
0,0458
-0,0347
0,6820
-0,0273
-0,0332
0,0454
0,0319
-0,0277
0,4372
-0,2300
0,2797
-0,1214
0,1118
0,2649
0,0588
0,2927
0,2080
-0,0142
0,4122
-0,1461
0,1371

84

0,4340
0,3250
0,3034
0,2724
0,0929
0,1080
0,0918
0,1395
0,1756
0,0498
0,1614
0,1811
0,2143
0,2552
0,0688
0,2077
0,2771
0,2993
0,3584
0,4424
0,5273
0,4985
0,2230
0,0856
0,0566
0,4816
0,6070
0,7727
0,3727
0,3682
0,3415
0,2512
0,2730
0,2877
0,2645
0,2725
0,3106
0,5479
0,5605
0,7181
0,3975

2012
2013

-0,0885
-0,0743

0,1443
0,1334

85

0,3892
0,5425

Hasil Regresi Komponen Akrual Diskresioner (DA)


Coefficientsa

Model
1

(Constant)
REV-REC
PPE/Ait

Unstandardized
Coefficients
B
Std. Error
,008
,020
,010
,046
-,010
,045

a. Dependent Variable: TAit/Ait-1

86

Standardized
Coefficients
Beta
,027
-,027

t
,402
,212
-,215

Sig.
,689
,833
,830

Komponen Akrual Diskresioner (DA) Berdasarkan Modified Model Jones Tahun 2013
TAit

Ait-1

Tait/Ait-1

Pendapatan
2013

Pendapatan
2012

No.

Kode

NI

CFO

REVit

INDF

3.416.663

6.928.790

-3.512.127

59.324.207

-0,0592

57.731.998

50.059.427

7.672.571

TBLA

86.549

-15.682

102.231

5.197.552

0,019669

3.705.288

3.805.931

-100.643

Piutang
2013

Piutang
2012

RECit

23.027.913

4.959.416

3.617.741

1.341.675

2.321.196

423.653

385.224

38.429

PPEit

ULTJ

325.127

195.989

129.138

2.420.793

0,053345

3.460.231

2.809.851

650.380

965.974

368.549

308.798

59.751

GGRM

4.383.932

2.472.971

1.910.961

41.509.325

0,046037

55.436.954

49.028.696

6.408.258

14.788.915

2.196.086

1.382.539

813.547

SSTM

-13.228

83.498

-96.726

810.275

-0,11937

573.748

403.182

170.566

385.911

412.312

426.699

-14.387

SRSN

15.994

37.888

-21.894

402.108

-0,05445

392.315

384.145

8.170

118.272

81.705

67.312

14.393

AKRA

615.626

-236.036

851.662

11.787.525

0,072251

22.337.928

21.673.954

663.974

4.226.691

431.773

3.224.397

-2.792.624

ETWA

7.911

-226.069

233.980

960.956

0,243487

1.206.066

1.002.231

203.835

227.661

224.205

188.467

35.738

LTLS

127.491

191.790

-64.299

4.054.774

-0,01586

5.734.847

6.213.600

-478.753

1.107.351

1.137.398

1.129.312

8.086

10

BRNA

-12.219

103.086

-115.305

770.383

-0,14967

961.000

836.986

124.014

639.297

158.115

146.026

12.089

11

TRST

32.965

135.446

-102.481

2.188.129

-0,04683

2.033.149

1.949.153

83.996

1.991.932

460.951

338.909

122.042

12

ALMI

26.118

-713.749

739.867

1.881.568

0,393218

2.871.313

3.221.635

-350.322

816.552

201.165

256.854

-55.689

13

PICO

15.439

-5.967

21.406

594.616

0,036

684.448

593.266

91.182

161.999

153.848

133.339

20.509

14

KICI

7.419

2.412

5.007

94.956

0,05273

99.029

94.787

4.242

8.717

9.694

13.302

-3.608

15

MTDL

170.231

3.289

166.942

1.662.380

0,100423

7.325.303

5.172.997

2.152.306

82.793

1.180.943

610.871

570.072

16

MLPL

1.645.910

972.267

673.643

14.088.183

0,047816

14.671.670

12.642.770

2.028.900

3.019.244

349.050

91.454

257.596

17

ASII

22.297.00
0

21.250.000

1.047.000

182.274.000

0,005744

193.880.000

188.053.000

5.827.000

37.862.000

48.657.000

43.899.000

4.758.000

18

AUTO

1.058.015

551.756

506.259

8.881.642

0,057001

10.701.988

8.277.485

2.424.503

3.182.962

1.551.235

1.187.967

363.268

19

GJTL

120.330

1.299.132

-1.178.802

12.869.793

-0,09159

12.352.917

12.578.596

-225.679

6.415.815

2.287.194

2.066.109

221.085

20

INTA

-242.631

1.348.883

-1.591.514

4.268.975

-0,37281

2.570.668

2.592.824

-22.156

241.578

540.835

421.212

119.623

21

PRAS

13.196

10.729

2.467

577.350

0,004273

316.174

310.224

5.950

446.146

87.836

65.871

21.965

22

SMSM

350.777

449.576

-98.799

1.441.204

-0,06855

2.372.983

2.163.842

209.141

492.164

561.026

755.038

-194.012

23

KONI

-3.844

-12.755

8.911

82.759

0,107674

106.985

78.295

28.690

23.811

19.633

12.862

6.771

24

KLBF

1.970.452

927.164

1.043.288

9.417.957

0,110776

16.002.131

13.636.405

2.365.726

2.925.546

2.345.218

1.938.164

407.054

25

PYFA

6.195

-5.856

12.051

135.849

0,088709

192.556

176.730

15.826

97.554

66.239

30.568

35.671

26

TCID

160.148

253.852

-93.704

1.261.572

-0,07428

2.027.899

1.851.152

176.747

684.459

291.342

282.897

8.445

87

Komponen Akrual Diskresioner (DA) Berdasarkan Modified Model Jones Tahun 2012
No.

Kode

NI

CFO

TAit

Ait-1

TAit/Ait1

Pendapatan
2012

Pendapatan
2011

REVit

PPEit

Piutang
2012

Piutang
2011

RECit

INDF

4.779.446

7.407.134

-2.627.688

53.585.933

-0,0490

50.059.427

45.332.256

4.727.171

15.755.741

3.617.741

2.584.084

1.033.657

TBLA

243.767

-8.854

252.621

4.244.618

0,0595

3.805.931

3.731.749

74.182

1.749.693

385.224

8.094

377.130

ULTJ

353.431

491.316

-137.885

2.180.516

-0,0632

2.809.851

2.102.384

707.467

979.511

308.798

255.494

53.304

GGRM

4.068.711

3.953.574

115.137

3.908.705

0,0295

49.028.696

41.884.352

7.144.344

10.389.326

1.382.539

937.987

444.552

SSTM

-14.137

54.013

-68.150

843.450

-0,0808

403.182

554.471

-151.289

380.894

426.699

76.186

350.513

SRSN

16.963

-7.454

24.417

361.182

0,0676

384.145

387.354

-3.209

80.470

67.312

104.617

-37.305

AKRA

755.870

794.364

-38.494

8.417.862

-0,0046

21.673.954

18.805.949

2.868.005

3.177.350

3.224.397

2.189.010

1.035.387

ETWA

38.599

53.434

-14.835

806.098

-0,0184

1.002.231

904.236

97.995

240.977

188.467

156.054

32.413

LTLS

147.869

384.252

-236.383

4.040.298

-0,0585

6.213.600

5.529.075

684.525

1.072.211

1.129.312

1.187.315

-58.003

10

BRNA

101.095

54.496

46.599

643.963

0,0724

836.986

679.335

157.651

427.232

146.026

124.447

21.579

11

TRST

112.201

76.503

35.698

2.078.643

0,0172

1.949.153

2.025.867

-76.714

1.266.887

338.909

345.417

-6.508

12

ALMI

15.224

-12.754

27.978

1.862.965

0,0150

3.221.635

3.605.496

-383.861

684.845

256.854

258.903

-2.049

13

PICO

11.198

-25.484

36.682

561.840

0,0653

593.266

621.233

-27.967

170.466

133.339

71.848

61.491

14

KICI

2.259

248

2.011

87.419

0,0230

94.787

87.517

7.270

9.439

13.302

10.911

2.391

15

MTDL

116.860

150.586

-33.726

1.271.546

-0,0265

5.172.997

4.408.711

764.286

223.294

610.871

402.383

208.488

16

MLPL

166.583

619.786

-453.203

14.314.707

-0,0317

12.642.770

10.332.842

2.309.928

2.593.069

91.454

456.201

-364.747

17

ASII

22.742.00
0

8.932.000

13.810.000

154.319.000

0,0895

188.053.000

162.564.000

25.489.000

10.623.000

43.899.000

37.405.000

6.494.000

18

AUTO

1.135.914

537.785

598.129

6.964.227

0,0859

8.277.485

7.363.659

913.826

2.084.184

1.187.967

1.017.494

170.473

19

GJTL

1.086.114

1.707.135

-621.021

11.609.514

-0,0535

12.578.596

11.841.396

737.200

6.121.783

2.066.109

1.860.955

205.154

20

INTA

12.430

-308.034

320.464

3.737.918

0,0857

2.592.824

3.000.323

-407.499

320.020

421.212

726.613

-305.401

21

PRAS

15.565

47.968

-32.403

580.959

-0,0558

310.224

330.446

-20.222

352.671

65.871

104.606

-38.735

22

SMSM

268.543

353.110

-84.567

1.327.799

-0,0637

2.163.842

2.072.441

91.401

488.863

755.038

358.252

396.786

23

KONI

2.238

3.056

-818

75.295

-0,0109

78.295

67.331

10.964

20.558

12.862

10.314

2.548

24

KLBF

1.775.098

1.376.343

398.755

8.274.554

0,0482

13.636.405

10.911.860

2.724.545

2.254.763

1.938.164

1.635.311

302.853

25

PYFA

5.308

-449

5.757

118.033

0,0488

176.730

151.094

25.636

66.153

30.568

53.581

-23.013

26

TCID

150.373

250.453

-100.080

1.130.865

-0,0885

1.851.152

1.654.671

196.481

440.133

282.897

249.632

33.265

No.

Kode

NI

CFO

TAit

Ait-1

TAit/Ait-1

88

Pendapatan
2011

Pendapatan
2010

REVit

PPEit

Piutang
2011

Piutang
2010

RECit

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

INDF
TBLA
ULTJ
GGRM
SSTM
SRSN
AKRA
ETWA
LTLS
BRNA
TRST

3.213.898
419.664
128.449
4.958.102
-24.097
23.987
2.348.705
72.961
105.220
96.770
151.994

4.968.991
838.469
322.963
-90.307
42.939
29.713
1.750.898
-3.044
-137.902
43.796
131.729

-1.755.093
-418.805
-194.514
5.048.409
-67.036
-5.726
597.807
76.005
243.122
52.974
20.265

47.275.955
3.651.105
2.006.596
30.741.679
872.458
364.004
7.665.590
533.380
3.591.139
550.907
2.029.558

-0,0371

45.332.256

38.403.360

6.928.896

12.921.013

2.584.084

2.245.977

338.107

-0,1147

3.731.749

2.951.114

780.635

1.392.516

8.094

5.754

2.340

-0,0969

2.102.384

2.006.596

95.788

1.069.735

255.494

190.914

64.580

0,1642

41.884.352

37.691.997

4.192.355

8.189.881

937.987

915.004

22.983

-0,0768

554.471

446.625

107.846

373.271

76.186

218.419

-142.233

-0,0157

387.354

342.870

44.484

92.167

104.617

73.167

31.450

0,0780

18.805.949

10.320.713

8.485.236

2.437.215

2.189.010

1.425.102

763.908

0,1425

904.236

810.859

93.377

64.534

156.054

184.722

-28.668

0,0677

5.529.075

3.901.733

1.627.342

813.225

1.187.315

826.285

361.030

0,0962

679.335

68.328

611.007

335.847

124.447

141.818

-17.371

0,0100

2.025.867

1.745.510

280.357

1.232.155

345.417

356.078

-10.661

12

ALMI

48.831

211.886

-163.055

1.504.154

-0,1084

3.605.496

3.019.070

586.426

546.452

258.903

160.279

98.624

13

PICO

12.323

-13.820

26.143

570.360

0,0458

621.233

586.317

34.916

185.384

71.848

66.703

5.145

14

KICI

357

-3.385

3.742

85.942

0,0435

87.517

80.789

6.728

7.984

10.911

8.848

2.063

15

MTDL

61.836

99.430

-37.594

945.242

-0,0398

4.408.711

3.953.971

454.740

131.879

402.383

314.356

88.027

16

MLPL

96.038

323.322

-227.284

14.016.686

-0,0162

10.332.842

9.537.671

795.171

2.262.732

456.201

436.253

19.948

0,0981

162.564.000

129.038.000

33.526.000

28.804.000

37.405.000

25.822.000

11.583.000

0,1509

7.363.659

6.255.109

1.108.550

1.547.831

1.017.494

849.087

168.407

0,0581

11.841.396

9.853.904

1.987.492

4.588.389

1.860.955

1.549.461

311.494

-0,4914

3.000.323

1.532.683

1.467.640

364.620

726.613

373.967

352.646

-0,0058

330.446

287.200

43.246

222.467

104.606

82.335

22.271

-0,0018

2.072.441

1.561.786

510.655

397.702

358.252

314.122

44.130

-0,0730

67.331

77.888

-10.557

21.316

10.314

10.569

-255

0,0070

10.911.860

10.226.789

685.071

1.860.288

1.635.311

1.363.956

271.355

0,0346

151.094

140.858

10.236

55.114

53.581

41.921

11.660

0,0639

1.654.671

1.466.939

187.732

416.328

249.632

205.459

44.173

17
18
19
20
21
22
23
24
25
26

ASII
AUTO
GJTL
INTA
PRAS
SMSM
KONI
KLBF
PYFA
TCID

21.077.000
1.101.583
906.274
120.214
1.946
241.576
3.076
1.522.956
5.172
140.038

10.011.000
258.576
303.823
923.613
4.646
243.517
9.267
1.473.495
1.688
73.140

11.066.000
843.007
602.451
-803.399
-2.700
-1.941
-6.191
49.461
3.484
66.898

112.857.000
5.585.852
10.371.567
1.634.904
461.968
1.067.103
84.841
7.032.496
100.587
1.047.238

Komponen Akrual Diskresioner (DA) Berdasarkan Modified Model Jones Tahun 2011
Hasil Perhitungan Nilai Akrual Diskresioner (DA) Berdasarkan Modified Model Jones Tahun 2011

89

No.
(1)
1
2
3

Kode
(2)
INDF
TBLA
ULTJ

Ait-1 (6)
(jutaan rupiah)

TAit/Ait-1
(7)

(REVitRECit)/Ait-1
(8)

PPEit/Ait-1
(9)

1/Ait-1
(10)

1(1/Ait-1)
(11)
1=0,008

1(REVitRECit)/Ait-1
(12)*(8)
1=0,010

2(PPEit/Ait-1)
(13)*(9)
2= -0,010

NDAit (14)
(11) + (12) +
(13)

DAit (15)
(7) - (13)

47.275.955

-0,0371

0,1394

0,2733

0,000

0,000

0,0014

-0,0027

-0,0013

-0,0358

3.651.105

-0,1147

0,2132

0,3814

0,000

0,000

0,0021

-0,0038

-0,0017

-0,1130

2.006.596

-0,0969

0,0156

0,5331

0,000

0,000

0,0002

-0,0053

-0,0052

-0,0918

GGRM

30.741.679

0,1642

0,1356

0,2664

0,000

0,000

0,0014

-0,0027

-0,0013

0,1655

SSTM

872.458

-0,0768

0,2866

0,4278

0,000

0,000

0,0029

-0,0043

-0,0014

-0,0754

SRSN

364.004

-0,0157

0,0358

0,2532

0,000

0,000

0,0004

-0,0025

-0,0022

-0,0136

7.665.590

0,0780

1,0073

0,3179

0,000

0,000

0,0101

-0,0032

0,0069

0,0711

AKRA

ETWA

533.380

0,1425

0,2288

0,1210

0,000

0,000

0,0023

-0,0012

0,0011

0,1414

LTLS

3.591.139

0,0677

0,3526

0,2265

0,000

0,000

0,0035

-0,0023

0,0013

0,0664

550.907

0,0962

1,1406

0,6096

0,000

0,000

0,0114

-0,0061

0,0053

0,0908

2.029.558

0,0100

0,1434

0,6071

0,000

0,000

0,0014

-0,0061

-0,0046

0,0146

10
11

BRNA
TRST

12

ALMI

1.504.154

-0,1084

0,3243

0,3633

0,000

0,000

0,0032

-0,0036

-0,0004

-0,1080

13

PICO

570.360

0,0458

0,0522

0,3250

0,000

0,000

0,0005

-0,0033

-0,0027

0,0486

85.942

0,0435

0,0543

0,0929

0,000

0,000

0,0005

-0,0009

-0,0004

0,0439

945.242

-0,0398

0,3880

0,1395

0,000

0,000

0,0039

-0,0014

0,0025

-0,0423

14
15

KICI
MTDL

16

MLPL

14.016.686

-0,0162

0,0553

0,1614

0,000

0,000

0,0006

-0,0016

-0,0011

-0,0152

17

ASII

112.857.000

0,0981

0,1944

0,2552

0,000

0,000

0,0019

-0,0026

-0,0006

0,0987

5.585.852

0,1509

0,1683

0,2771

0,000

0,000

0,0017

-0,0028

-0,0011

0,1520

10.371.567

0,0581

0,1616

0,4424

0,000

0,000

0,0016

-0,0044

-0,0028

0,0609

18
19

AUTO
GJTL

20

INTA

1.634.904

-0,4914

0,6820

0,2230

0,000

0,000

0,0068

-0,0022

0,0046

-0,4960

21

PRAS

461.968

-0,0058

0,0454

0,4816

0,000

0,000

0,0005

-0,0048

-0,0044

-0,0015

1.067.103

-0,0018

0,4372

0,3727

0,000

0,000

0,0044

-0,0037

0,0006

-0,0025

84.841

-0,0730

-0,1214

0,2512

0,000

0,000

-0,0012

-0,0025

-0,0037

-0,0692

22
23

SMSM
KONI

24

KLBF

7.032.496

0,0070

0,0588

0,2645

0,000

0,000

0,0006

-0,0026

-0,0021

0,0091

25

PYFA

100.587

0,0346

-0,0142

0,5479

0,000

0,000

-0,0001

-0,0055

-0,0056

0,0403

1.047.238

0,0639

0,1371

0,3975

0,000

0,000

0,0014

-0,0040

-0,0026

0,0665

26

TCID

Hasil Perhitungan Nilai Akrual Diskresioner (DA) Berdasarkan Modified Model Jones Tahun 2012
90

No.
(1)

Kode
(2)

Ait-1 (3) (jutaan


rupiah)

TAit/Ait1 (4)

(REVitRECit)/Ait-1
(5)

PPEit/Ait-1
(6)

1/Ait-1
(7)

1(1/Ait-1)
(8) 1=0,008

1(REVitRECit)/Ait-1
(9)*(5)
1=0,010

2(PPEit/Ait-1)
(10)*(6)
2= -0,010

NDAit (11)
(8) + (9) + (10)

DAit (12)
(4) - (11)

INDF

53.585.933

-0,0490

0,0689

0,2940

0,0000

0,0000

0,0007

-0,0029

-0,0023

-0,0468

TBLA

4.244.618

0,0595

-0,0714

0,4122

0,0000

0,0000

-0,0007

-0,0041

-0,0048

0,0644

ULTJ

2.180.516

-0,0632

0,3000

0,4492

0,0000

0,0000

0,0030

-0,0045

-0,0015

-0,0617

GGRM

3.908.705

0,0295

1,7141

2,6580

0,0000

0,0000

0,0171

-0,0266

-0,0094

0,0389

SSTM

843.450

-0,0808

-0,5949

0,4516

0,0000

0,0000

-0,0059

-0,0045

-0,0105

-0,0703

SRSN

361.182

0,0676

0,0944

0,2228

0,0000

0,0000

0,0009

-0,0022

-0,0013

0,0689

AKRA

8.417.862

-0,0046

0,2177

0,3775

0,0000

0,0000

0,0022

-0,0038

-0,0016

-0,0030

ETWA

806.098

-0,0184

0,0814

0,2989

0,0000

0,0000

0,0008

-0,0030

-0,0022

-0,0162

LTLS

4.040.298

-0,0585

0,1838

0,2654

0,0000

0,0000

0,0018

-0,0027

-0,0008

-0,0577

10

BRNA

643.963

0,0724

0,2113

0,6634

0,0000

0,0000

0,0021

-0,0066

-0,0045

0,0769

11

TRST

2.078.643

0,0172

-0,0338

0,6095

0,0000

0,0000

-0,0003

-0,0061

-0,0064

0,0236

12

ALMI

1.862.965

0,0150

-0,2049

0,3676

0,0000

0,0000

-0,0020

-0,0037

-0,0057

0,0207

13

PICO

561.840

0,0653

-0,1592

0,3034

0,0000

0,0000

-0,0016

-0,0030

-0,0046

0,0699

14

KICI

87.419

0,0230

0,0558

0,1080

0,0000

0,0000

0,0006

-0,0011

-0,0005

0,0235

15

MTDL

1.271.546

-0,0265

0,4371

0,1756

0,0000

0,0000

0,0044

-0,0018

0,0026

-0,0291

16

MLPL

14.314.707

-0,0317

0,1868

0,1811

0,0000

0,0000

0,0019

-0,0018

0,0001

-0,0317

17

ASII

154.319.000

0,0895

0,1231

0,0688

0,0000

0,0000

0,0012

-0,0007

0,0005

0,0889

18

AUTO

6.964.227

0,0859

0,1067

0,2993

0,0000

0,0000

0,0011

-0,0030

-0,0019

0,0878

19

GJTL

11.609.514

-0,0535

0,0458

0,5273

0,0000

0,0000

0,0005

-0,0053

-0,0048

-0,0487

20

INTA

3.737.918

0,0857

-0,0273

0,0856

0,0000

0,0000

-0,0003

-0,0009

-0,0011

0,0869

21

PRAS

580.959

-0,0558

0,0319

0,6070

0,0000

0,0000

0,0003

-0,0061

-0,0058

-0,0500

22

SMSM

1.327.799

-0,0637

-0,2300

0,3682

0,0000

0,0000

-0,0023

-0,0037

-0,0060

-0,0577

23

KONI

75.295

-0,0109

0,1118

0,2730

0,0000

0,0000

0,0011

-0,0027

-0,0016

-0,0093

24

KLBF

8.274.554

0,0482

0,2927

0,2725

0,0000

0,0000

0,0029

-0,0027

0,0002

0,0480

25

PYFA

118.033

0,0488

0,4122

0,5605

0,0000

0,0000

0,0041

-0,0056

-0,0015

0,0503

26

TCID

1.130.865

-0,0885

0,1443

0,3892

0,0000

0,0000

0,0014

-0,0039

-0,0024

-0,0860

Hasil Perhitungan Nilai Akrual Diskresioner (DA) Berdasarkan Modified Model Jones Tahun 2013

91

No.
(1)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26

Kode
(2)

Ait-1 (3)
(jutaan
rupiah)

INDF
TBLA
ULTJ
GGRM
SSTM
SRSN
AKRA
ETWA
LTLS
BRNA
TRST
ALMI
PICO
KICI
MTDL
MLPL
ASII
AUTO
GJTL
INTA
PRAS
SMSM
KONI
KLBF
PYFA
TCID

59.324.207
5.197.552
2.420.793
41.509.325
810.275
402.108
11.787.525
960.956
4.054.774
770.383
2.188.129
1.881.568
594.616
94.956
1.662.380
14.088.183
182.274.000
8.881.642
12.869.793
4.268.975
577.350
1.441.204
82.759
9.417.957
135.849
1.261.572

TAit/Ait1 (4)

(REVitRECit)/Ait1 (5)

PPEit/Ait1 (6)

-0,0592
0,0197
0,0533
0,0460
-0,1194
-0,0544
0,0723
0,2435
-0,0159
-0,1497
-0,0468
0,3932
0,0360
0,0527
0,1004
0,0478
0,0057
0,0570
-0,0916
-0,3728
0,0043
-0,0686
0,1077
0,1108
0,0887
-0,0743

0,1067
-0,0268
0,2440
0,1348
0,2283
-0,0155
0,2932
0,1749
-0,1201
0,1453
-0,0174
-0,1566
0,1189
0,0827
0,9518
0,1257
0,0059
0,2321
-0,0347
-0,0332
-0,0277
0,2797
0,2649
0,2080
-0,1461
0,1334

0,3882
0,4466
0,3990
0,3563
0,4763
0,2941
0,3586
0,2369
0,2731
0,8298
0,9103
0,4340
0,2724
0,0918
0,0498
0,2143
0,2077
0,3584
0,4985
0,0566
0,7727
0,3415
0,2877
0,3106
0,7181
0,5425

1/Ait-1
(7)
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000

92

1(1/Ait-1)
(8)
1=0,008
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000
0,0000

1(REVitRECit)/Ait-1
(9)*(5)
1=0,010
0,0011
-0,0003
0,0024
0,0013
0,0023
-0,0002
0,0029
0,0017
-0,0012
0,0015
-0,0002
-0,0016
0,0012
0,0008
0,0095
0,0013
0,0001
0,0023
-0,0003
-0,0003
-0,0003
0,0028
0,0026
0,0021
-0,0015
0,0013

2(PPEit/Ait1)
(10)*(6)
2= -0,010
-0,0039
-0,0045
-0,0040
-0,0036
-0,0048
-0,0029
-0,0036
-0,0024
-0,0027
-0,0083
-0,0091
-0,0043
-0,0027
-0,0009
-0,0005
-0,0021
-0,0021
-0,0036
-0,0050
-0,0006
-0,0077
-0,0034
-0,0029
-0,0031
-0,0072
-0,0054

NDAit (11)
(8) + (9) +
(10)
-0,0028
-0,0047
-0,0016
-0,0022
-0,0025
-0,0031
-0,0007
-0,0006
-0,0039
-0,0068
-0,0093
-0,0059
-0,0015
-0,0001
0,0090
-0,0009
-0,0020
-0,0013
-0,0053
-0,0009
-0,0080
-0,0006
-0,0002
-0,0010
-0,0086
-0,0041

DAit (12)
(4) - (11)
-0,0564
0,0244
0,0549
0,0483
-0,1169
-0,0514
0,0729
0,2441
-0,0119
-0,1428
-0,0376
0,3991
0,0375
0,0528
0,0914
0,0487
0,0078
0,0583
-0,0863
-0,3719
0,0123
-0,0679
0,1079
0,1118
0,0974
-0,0702

Lampiran 3 : Tabulasi Data Asimetri Informasi yang Diproksikan Dengan


Bid Ask Spread
NO

KODE

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26

INDF
TBLA
ULTJ
GGRM
SSTM
SRSN
AKRA
ETWA
LTLS
BRNA
TRST
ALMI
PICO
KICI
MTDL
MLPL
ASII
AUTO
GJTL
INTA
PRAS
SMSM
KONI
KLBF
PYFA
TCID

NAMA PERUSAHAAN
PT. Indofood Sukses Makmur Tbk
PT. Tunas Baru Lampung Tbk
PT. Ultra Jaya Milk Industry & Trading Company Tbk
PT. Gudang Garam Tbk
PT. Sunson Textile Manufacturer Tbk
PT. Indo Acidatama Tbk (d/h Sarasa Nugraha Tbk)
PT. AKR Corporindo Tbk
PT. Eterindo Wahanatama Tbk
PT. Lautan Luas Tbk
PT. Berlina Tbk
PT. Trias Sentosa Tbk
PT. Alumindo Light Metal Industry Tbk
PT. Pelangi Indah Canindo Tbk
PT. Kedaung Indah Can Tbk
PT. Metrodata Electronics Tbk
PT. Multipolar Tbk
PT. Astra International Tbk
PT. Astra Otoparts Tbk
PT. Gajah Tunggal Tbk
PT. Intraco Penta Tbk
PT. Prima Alloy Steel Tbk
PT. Selamat Sempurna Tbk
PT. Perdana Bangun Pusaka Tbk
PT. Kalbe Farma Tbk
PT. Pyridam Farma Tbk
PT. Mandom Indonesia Tbk TCID

93

2011
0,484
0,724
0,677
0,672
0,660
0,400
0,826
0,904
0,607
0,448
0,589
0,817
0,732
0,234
0,260
0,931
0,507
0,444
0,539
0,896
0,902
0,413
0,591
0,413
0,955
0,293

SPREAD
2012
0,340
0,357
0,381
0,326
0,592
0,305
0,442
0,600
0,387
0,404
0,455
0,667
0,664
0,785
0,476
0,819
0,709
0,276
0,385
0,778
0,903
0,668
0,679
0,381
0,569
0,353

2013
0,238
0,082
0,265
0,165
0,390
0,058
0,175
0,319
0,104
0,122
0,163
0,212
0,384
0,400
0,247
0,889
0,092
0,121
0,140
0,182
0,556
0,140
0,182
0,261
0,089
0,085

Lampiran 4 : Tabulasi Data Kepemilikan Manajerial yang Diproksikan


Dengan Persentase Jumlah Saham yang Dimiliki Oleh
Manajemen
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

KODE
INDF
TBLA
ULTJ
GGRM
SSTM
SRSN
AKRA
ETWA
LTLS
BRNA
TRST
ALMI
PICO
KICI
MTDL
MLPL
ASII
AUTO
GJTL
INTA

NAMA PERUSAHAAN
PT. Indofood Sukses Makmur Tbk
PT. Tunas Baru Lampung Tbk
PT. Ultra Jaya Milk Industry & Trading Company Tbk
PT. Gudang Garam Tbk
PT. Sunson Textile Manufacturer Tbk
PT. Indo Acidatama Tbk (d/h Sarasa Nugraha Tbk)
PT. AKR Corporindo Tbk
PT. Eterindo Wahanatama Tbk
PT. Lautan Luas Tbk
PT. Berlina Tbk
PT. Trias Sentosa Tbk
PT. Alumindo Light Metal Industry Tbk
PT. Pelangi Indah Canindo Tbk
PT. Kedaung Indah Can Tbk
PT. Metrodata Electronics Tbk
PT. Multipolar Tbk
PT. Astra International Tbk
PT. Astra Otoparts Tbk
PT. Gajah Tunggal Tbk
PT. Intraco Penta Tbk

94

Kepemilikan Manajeria
2011
2012
2013
0,000 0,000
6
6
0,00
0,006 0,006
4
4
0,00
0,147 0,147
2
2
0,14
0,008 0,009
5
2
0,00
0,080 0,080
0
0
0,08
0,001
8 0,1119
0,11
0,008 0,005
7
2
0,00
0,077 0,077
3
5
0,07
0,036 0,036
4
4
0,03
0,198 0,169
2
0
0,14
0,013 0,013
3
3
0,01
0,000 0,000
9
9
0,01
0,000 0,000
3
3
0,00
0,002 0,002
3
3
0,00
0,154 0,154
1
1
0,21
0,000 0,000
0
0
0,00
0,000 0,000
4
4
0,00
0,000 0,000
7
7
0,00
0,000 0,000
8
8
0,00
0,035 0,035
0,03

21
22
23
24
25
26

PRAS
SMSM
KONI
KLBF
PYFA
TCID

PT. Prima Alloy Steel Tbk


PT. Selamat Sempurna Tbk
PT. Perdana Bangun Pusaka Tbk
PT. Kalbe Farma Tbk
PT. Pyridam Farma Tbk
PT. Mandom Indonesia Tbk TCID

95

3
3
0,059 0,059
1
1
0,060 0,060
4
4
0,055 0,055
8
8
0,0118 0,0118
0,230 0,230
7
8
0,000 0,051
8
8

0,04

0,08

0,05
0,01

0,23

0,05

Lampiran 5: Statistik Deskriptif


Descriptive Statistics
N
asimetri informasi
Kepemilikan manajerial
DA
Valid N (listwise)

78
78
78
78

Minimum
,06
,00
-,50

96

Maximum
,95
,23
,40

Mean
,4574
,0500
,0082

Std. Deviation
,25193
,06473
,11176

Lampiran 6: Uji Asumsi Klasik


Uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

N
Normal Parametersa,b

Unstandardiz
ed Residual
78
,0000000
,11130701
,134
,134
-,109
1,183
,122

Mean
Std. Deviation
Absolute
Positive
Negative

Most Extreme
Differences
Kolmogorov-Smirnov Z
Asymp. Sig. (2-tailed)

a. Test distribution is Normal.


b. Calculated from data.

Uji Multikolinearitas
Coefficientsa

Model
1

asimetri informasi
Kepemilikan manajerial

Collinearity Statistics
Tolerance
VIF
,997
1,003
,997
1,003

a. Dependent Variable: DA

Uji Heteroskedasitas
Coefficientsa

Model
1

(Constant)
asimetri informasi
Kepemilikan manajerial

Unstandardized
Coefficients
B
Std. Error
,074
,021
-,003
,037
,001
,001

a. Dependent Variable: Abres

97

Standardized
Coefficients
Beta
-,009
,045

t
3,503
-,081
,387

Sig.
,001
,935
,700

Uji Autokorelasi
Model Summaryb
Model
1

R
R Square
,889a
,791

Adjusted
R Square
,79

Std. Error of
the Estimate
,11278

DurbinWatson
1,915

a. Predictors: (Constant), Kepemilikan manajerial, asimetri informasi


b. Dependent Variable: DA

98

Lampiran 7 : Uji Analisis Regresi Linear Berganda


Coefficientsa

Model
1

(Constant)
asimetri informasi
Kepemilikan manajerial

Unstandardized
Coefficients
B
Std. Error
-,026
,029
,657
,040
-,006
,002

a. Dependent Variable: DA

99

Standardized
Coefficients
Beta
,870
-,143

t
-,917
16,448
-2,712

Sig.
,362
,000
,008

Lampiran 8 : Uji Model

Regression
b
Variables Entered/Removed

Model
1

Variables
Removed

Variables Entered
Kepemilikan
manajerial,
a
asimetri informasi

Method
.

Enter

a. All requested variables entered.


b. Dependent Variable: DA

Uji Koefisien Determinasi (R2)


Model Summaryb
Model
1

R
R Square
,889a
,791

Adjusted
R Square
,79

Std. Error of
the Estimate
,11278

DurbinWatson
1,915

a. Predictors: (Constant), Kepemilikan manajerial, asimetri informasi


b. Dependent Variable: DA

Uji Kelayakan Model (Uji F)


ANOVAb
Model
1

Regression
Residual
Total

Sum of
Squares
4,789
1,266
6,055

df
2
75
77

Mean Square
2,395
,017

F
141,873

Sig.
,000a

a. Predictors: (Constant), Kepemilikan manajerial, asimetri informasi


b. Dependent Variable: DA

Uji Hipotesis (Uji t)


Coefficientsa

Model
1

(Constant)
asimetri informasi
Kepemilikan manajerial

Unstandardized
Coefficients
B
Std. Error
-,026
,029
,657
,040
-,006
,002

a. Dependent Variable: DA

100

Standardized
Coefficients
Beta
,870
-,143

t
-,917
16,448
-2,712

Sig.
,362
,000
,008

101

Lampiran 8 : Tabel Distribusi F ; = 0,05


V2
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
30
40
60
65
70
80
100
120

1
161
18,5
0
10,1
0
7,71
6,61
5,99
5,59
5,32
5,12
4,96
4,84
4,75
4,67
4,60
4,54
4,49
4,45
4,41
4,38
4,35
4,32
4,30
4,28
4,26
4,24
4,17
4,06
4,00
3,99
3,98
3,96
3,94
3,92
3,84

2
200
19,0
0
9,55

3
216
19,2
0
9,28

4
225
19,2
0
9,12

V1
5
230
19,3
0
9,01

6,94
5,79
5,14
4,74
4,46
4,26
4,10
3,98
3,89
3,81
3,74
3,68
3,63
3,59
3,55
3,52
3,49
3,47
3,44
3,42
3,40
3,39
3,32
3,23
3,15
3,14
3,13
3,11
3,09
3,07
3,00

6,59
5,41
4,76
4,35
4,07
3,86
3,71
3,59
3,49
3,41
3,34
3,29
3,24
3,20
3,16
3,13
3,10
3,07
3,05
3,03
3,01
2,99
2,92
2,84
2,76
2,75
2,74
2,72
2,70
2,68
2,60

6,39
5,19
4,53
4,12
3,84
3,63
3,48
3,36
3,26
3,18
3,11
3,06
3,01
2,96
2,93
2,90
2,87
2,84
2,82
2,80
2,78
2,76
2,69
2,61
2,53
2,51
2,50
2,48
2,46
2,45
2,37

6,26
5,05
4,39
3,97
3,69
3,48
3,33
3,20
3,11
3,03
2,96
2,90
2,85
2,81
2,77
2,74
2,71
2,68
2,66
2,64
2,62
2,60
2,53
2,45
2,37
2,36
2,35
2,33
2,30
2,29
2,21

Sumber : Nata Wirawan, 2002

102

6
234
19,3
0
8,94

7
237
19,4
0
8,89

8
237
19,4
0
8,85

9
241
19,4
0
8,81

6,16
4,95
4,28
3,87
3,58
3,37
3,22
3,09
3,00
2,92
2,85
2,79
2,74
2,70
2,66
2,63
2,60
2,57
2,55
2,53
2,51
2,49
2,42
2,34
2,25
2,24
2,23
2,21
2,19
2,18
2,10

6,09
4,88
4,21
3,79
3,50
3,29
3,14
3,01
2,91
2,83
2,76
2,71
2,66
2,61
2,58
2,54
2,51
2,49
2,46
2,44
2,42
2,40
2,33
2,25
2,17
2,15
2,14
2,12
2,10
2,09
2,01

6,04
4,82
4,15
3,73
3,44
3,23
3,07
2,95
2,85
2,77
2,70
2,64
2,59
2,55
2,51
2,48
2,45
2,42
2,40
2,37
2,36
2,34
2,27
2,18
2,10
2,08
2,07
2,05
2,03
2,02
1,94

6,00
4,77
4,10
3,68
3,39
3,18
3,02
2,90
2,80
2,71
2,65
2,59
2,54
2,49
2,46
2,42
2,39
2,37
2,34
2,32
2,30
2,28
2,21
2,12
2,04
2,02
2,01
1,99
1,97
1,96
1,88

Lampiran 9 : Tabel Distribusi t

0,25
1

0,2
1,376

0,15
1,963

0,1
0,05 0,025
3,078 6,314 12,706

2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
40
60
120

0,816
0,765
0,741
0,727
0,718
0,711
0,706
0,705
0,7
0,697
0,695
0,694
0,692
0,691
0,69
0,689
0,688
0,688
0,687
0,686
0,686
0,685
0,685
0,684
0,684
0,684
0,683
0,683
0,683
0,681
0,679
0,677
0,674

1,061
0,978
0,941
0,92
0,906
0,896
0,889
0,883
0,879
0,876
0,875
0,87
0,868
0,866
0,865
0,863
0,862
0,861
0,86
0,859
0,858
0,858
0,857
0,856
0,856
0,855
0,855
0,854
0,854
0,851
0,848
0,845
0,842

1,386
1,25
1,19
1,156
1,134
1,119
1,108
1,1
1,093
1,088
1,083
1,079
1,076
1,074
1,071
1,069
1,067
1,066
1,064
1,063
1,061
1,06
1,059
1,058
1,058
1,057
1,056
1,055
1,055
1,05
1,046
1,041
1,036

1,886
1,638
1,533
1,476
1,44
1,415
1,397
1,383
1,372
1,363
1,356
1,35
1,345
1,341
1,337
1,333
1,33
1,328
1,325
1,323
1,321
1,319
1,318
1,316
1,315
1,414
1,313
1,311
1,31
1,303
1,296
1,289
1,282

df=v

2,92
2,353
2,132
2,015
1,943
1,895
1,86
1,833
1,812
1,796
1,782
1,771
1,761
1,753
1,746
1,74
1,734
1,729
1,725
1,721
1,717
1,714
1,711
1,708
1,706
1,703
1,701
1,699
1,697
1,684
1,671
1,658
1,645

Sumber : Nata Wirawan, 2002

103

4,303
3,812
2,776
2,571
2,447
2,365
2,306
2,262
2,228
2,201
2,179
2,16
2,145
2,131
2,12
2,11
2,101
2,093
2,086
2,08
2,074
2,069
2,064
2,06
2,056
2,052
2,081
2,045
2,042
2,021
2,000
1,98
1,96

0,01
31,81
2
6,965
4,542
3,747
3,365
3,143
2,998
2,896
2,821
2,764
2,718
2,681
2,65
2,624
2,602
2,583
2,567
2,552
2,539
2,528
2,518
2,508
2,5
2,492
2,485
2,479
2,473
2,467
2,462
2,457
2,423
2,39
2,358
2,326

0,005
63,657
9,925
5,841
4,604
4,032
3,707
3,499
3,355
3,25
3,169
3,106
3,055
3,012
2,977
2,947
2,921
2,898
2,878
2,861
2,845
2,831
2,819
2,807
2,797
2,787
2,779
2,771
2,763
2,756
2,75
2,704
2,66
2,617
2,576

104