Anda di halaman 1dari 69

Modul 1

Makhluk Allah
Tim Penulis Departemen Agama dan Tim FISIP-UT

PENDAHULUA N

akhluk berasal dari bahasa Arab, diambil dari kata kerja khalaqa, artinya membuat, atau mencipta. Kata makhluk termasuk kata benda penderita (isim maful) yang mengandung arti yang dibuat atau diciptakan. Semua benda yang berada di sekeliling kita termasuk manusia, disebut makhluk. Langit dan bumi beserta isinya yang dapat ditangkap pancaindera (alam nyata) bahkan alam yang tidak dapat ditangkap oleh pancaindera seperti; barzah, surga, neraka, dan arasy (alam ghaib), itupun termasuk makhluk. Jadi segala sesuatu yang diciptakan Allah SWT, baik alam nyata maupun alam ghaib, disebut makhluk. Dalam membahas masalah makhluk, diuraikan: 1. Alam semesta; 2. Hayat/hidup; 3. Manusia. Setelah mempelajari modul ini, Anda diharapkan dapat memahami, mengetahui, dan menghayati aspek-aspek yang berhubungan dengan keadaan makhluk, kerasulan dalam melaksanakan ajaran agama Islam, dan meningkatkan keimanan terhadap Al-Khaliq (Allah SWT). Secara lebih khusus setelah menyelesaikan modul ini dengan baik, Anda diharapkan mampu: a. menyebutkan jenis-jenis makhluk Tuhan; b. menjelaskan tentang asal usul kejadian makhluk; c. menerapkan sifat umum tiap-tiap makhluk; d. menjelaskan kedudukan dan hubungan tiap-tiap makhluk.

1.2

Pendidikan Agama Islam

Kegiatan Belajar 1

Alam Semesta
angit dan bumi dengan segala isi serta peristiwa yang terkandung di dalamnya merupakan suatu kenyataan yang sangat menakjubkan akal manusia. Itulah alam semesta yang disebut dengan Alkaun (universum). Manusia sejak zaman dahulu telah berusaha menyelidiki rahasia alam serta mencari hubungan dengan kebutuhan dan tujuan hidupnya di atas bumi ini. Oleh karena itu lahir para ahli ilmu alam, seperti ahli astronomi, meteorologi, geologi, fisika, dan metalurgi. Penemuan dalam bidang astronomi menyebabkan ahli kosmologi terbagi dalam dua kelompok, pertama, kelompok yang beranggapan, bahwa alam semesta ini statis, dari permulaan diciptakannya sampai sekarang tidak berubah, dan kedua, kelompok yang beranggapan, bahwa alam semesta ini dinamis, bergerak atau berubah. Kelompok pertama tidak banyak mendapatkan perhatian para ahli sehingga akhirnya teori ini hilang. Kelompok yang beranggapan, bahwa alam semesta ini dinamis didukung oleh kemajuan ilmu pengetahuan modern. Menurut teori evolusi, pengembangan seperti ini dibuktikan atas adanya red shift (bola api yang mendidih). Peristiwa ini ditafsirkan, bahwa alam semesta ini dimulai dengan satu ledakan dahsyat. Materi yang terdapat dalam alam semesta itu mula-mula berdesakan satu sama lain dalam suhu dan kepadatan yang sangat tinggi sehingga hanya berupa proton, neutron dan elektron, serta tidak mampu membentuk susunan yang lebih berat. Karena mengembang, maka suhu menurun sehingga proton dan neutron berkumpul membentuk inti atom. Kecepatan mengembang ini menentukan macam atom apa yang terbentuk. Para ahli ilmu alam telah menghitung, bahwa masa mendidih itu tidak lebih dari 30 menit. Bila berkurang artinya mengembang lebih cepat, maka alam semesta ini akan didominasi oleh hidrogen. Apabila lebih dari 30 menit, berarti unsur mengembang dengan lambat, unsur berat akan dominan. Selama 250 tahun sesudah ledakan dahsyat, enerji sinar dominan terhadap materi, transformasi di antara keduanya bisa terjadi sesuai dengan rumus Einstein, E = mc2. Dalam proses pengembangan ini, enerji sinar

MKDU4201/MODUL 1

1.3

banyak terpakai dan materi makin dominan. Setelah 250 tahun, masa dari materi dan sinar menjadi sama. Sebelum itu tidak dibayangkan, bahwa materi larut dalam panas radiasi seperti garam larut dalam air. Pada masa itu setelah lewat 250 juta tahun, materi dan gravitasi dominan, terdapat diferensiasi yang tadinya homogen. Bola-bola massa galaksi terbentuk dengan garis tengah lebih kurang 40.000 tahun cahaya dan masanya 200 juta kali masa matahari. Awan gas gelap itu kemudian berdiferensiasi atau berkonsensasi menjadi bola-bola gas bintang yang berkontraksi sangat cepat. Akibat kontraksi atau pemadatan itu, maka suhu naik sampai 20.000.000 derajat (threshold reaksi inti), dan bintang itu pun mulai bercahaya. Karena sebagian besar dari materi terhisap ke pusat bintang, maka planet dibentuk dari sisa-sisanya, yaitu butir-butir debu yang berbenturan satu sama lain dan membentuk massa yang lebih besar, berterbangan di ruang angkasa dan makin lama makin besar. Proses kondensasi bintang dan pembentukan planet membutuhkan waktu beberapa juta tahun. Diketahui bulan bergerak menjauhi bumi. Hal ini menunjukkan, bahwa beberapa milyar tahun yang lalu bumi dan bulan itu satu, dan bulan merupakan pecahan dari bumi yang memisahkan diri. Firman Allah dalam Q.S. Al-Ambiya (21) : 30;

A walam yaral ladziina kafaruu annas samaawaati wal ardha kaanataa ratqan fa fataqnaahumaa wa ja'alnaa minal maa-i kulla syai'-in hayyin a fa laa yu'minuun. Dan apakah orang-orang yang ingkar itu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya langit dan bumi adalah keduanya berpadu, lalu Kami pisahkan keduanya. Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup dari air. Maka apakah mereka tidak beriman?

1.4

Pendidikan Agama Islam

Konsep ini jelas mendukung teori kedinamisan alam semesta. Orang Rusia, berdasarkan umur batu bulan telah menetapkan bahwa bulan berumur 4,5 milyar tahun. Dalam mempelajari red shift jarak diukur dengan tahun cahaya bukan dengan kilometer. Kecepatan cahaya adalah 300.000 km per detik, berarti beberapa galaksi berjarak beberapa juta tahun cahaya jauhnya. Pada waktu kita memandang galaksi yang sangat jauh itu, sebetulnya kita sedang meneropong jauh ke masa yang silam. Dalam mempelajari galaksi yang jauhnya satu milyar tahun cahaya, ini artinya membuktikan bahwa satu milyar tahun yang lalu alam semesta ini mengembang dengan kecepatan yang tinggi dari sekarang. Hal ini berarti pula, bahwa kita berada di alam semesta yang dinamis, bukan statis. Selain itu teori penurunan kecepatan mengembang meramalkan, bahwa pada waktu tertentu pengembangan itu akan berhenti, kemudian berkontraksi dan akhirnya kembali pada situasi kepadatan seperti asalnya, lebih kurang lima milyar tahun yang lalu. Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa alam semesta ini mengembang dan mengempis. Dalam hubungan ini George Gemov dalam bukunya The Creation of the Universe hal. 36 menjelaskan bahwa:
" ... tekanan raksasa yang terjadi pada permulaan sejarah alam semesta, adalah akibat dari suatu kehancuran yang terjadi sebelumnya, dan bahwa pengembangan yang sekarang ini sebenarnya hanyalah suatu gerak kembali yang bersifat elastis yang terjadi segera setelah tercapai kepadatan maksimum yang diizinkan".

Kita tidak mengetahui secara pasti bagaimana besar tekanan yang tercapai pada kepadatan maksimum itu, tetapi tekanan itu sungguh sangat tinggi. Besar kemungkinan, seluruh masa alam semesta yang mempunyai kemungkinan bentuk yang bagaimana pun dalam masa pra kehancuran telah dimusnahkan secara sempurna, dan bahwa atom-atom dan intinya telah dipecahkan menjadi proton, neutron, dan elektron serta partikel dasar lainnya. Jadi tidak ada satu pun yang bisa dituturkan tentang masa sebelum pemadatan alam semesta itu. Segera setelah kepadatan yang sangat tinggi itu hanya bertahan dalam waktu yang relatif cepat. Segala sesuatu yang berada dalam alam semesta, merupakan ciptaan (makhluk) Allah SWT sebagai refleksi dan manifestasi dari wujud Allah

MKDU4201/MODUL 1

1.5

SWT dengan segala sifat kesempurnaan-Nya. Karena itu manusia tidak habis-habisnya mengagumi isi "alkaun" ini dan terus mengambil pelajaran dan ibarat yang akan bermanfaat darinya. Firman Allah dalam Q.S. Al-Mulk (67): 3-4;

Alladzii khalaqa sab'a samaawaatin tibaaqam, maa taraa fii khalqir rahmaani min tafaawutin farji'il bashara hal taraa min futhuur (3). Tsummar ji'il bashara karrataini yanqalib ilaikal basharu khaasi-aw wa huwa hasiir (4). Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, engkau tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pengasih sesuatu yang tidak seimbang, maka ulangilah melihatnya, apakah engkau melihat cacat? (3) Kemudian ulanglah melihatnya kali yang kedua, niscaya penglihatanmu kembali kepadamu dengan hina dan terbatas (4)

Q.S. Al-Ruum (30), 22;

Wa min aayaatihii khalqus samaawaati wal ardhi waakhtilaafu alsinatikum wa alwaanikum inna fii dzaalika la aayaatil lil aalimiin. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, kejadian langit dan bumi serta berlain bahasa dan warna kulit kamu. Sesungguhnya pada yang demikian itu menjadi tanda-tanda bagi orang-orang yang berilmu.

Dari keterangan ayat tersebut dapat disimpulkan, bahwa universum itu sejalan dengan eksak, kokoh, rapi, dan harmonis, yang tidak akan ada habishabisnya menjadi tantangan yang menakjubkan bagi manusia.

1.6

Pendidikan Agama Islam

a. b. c. d.

Dalam topik Alam Semesta akan dibahas, antara lain; Asal-usul kejadian makhluk; Macam-macam makhluk; Sifat-sifat makhluk; Kedudukan dan hubungan tiap-tiap mahkluk.

A. ASAL-USUL KEJADIAN MAKHLUK Manusia adalah sebahagian dari makhluk yang hidup di atas bumi dengan tersedianya sarana kebutuhan hidupnya dan fasilitas-fasilitas secukupnya. Firman Allah Q.S. Al-A'raf (7) : 10;

Wa la qad makkannaakum fil ardhi wa ja'alnaa lakum fiihaa ma'aayisya qaliilam maa tasykuruun. Dan sesungguh Kami telah menempatkan kamu di bumi dan Kami jadikan di dalamnya penghidupan bagi kamu. Sedikit sekali kamu bersyukur.

Q.S. Al-Hijr (15) : 20;

Wa ja'alnaa lakum fiihaa ma'aayisya wa mal lastum lahuu bi raaziqiin. Dan Kami menjadikan di bumi keperluan kehidupan kamu dan kepeluan kehidupan orang yang bukan kamu memberi rezekinya.

Bagi manusia bukan saja yang ada di bumi sebagai bahan keperluan hidup, namun yang terkandung dalam langit seperti udara, air, matahari dan benda-benda lainnya diciptakan Allah bagi kemudahan manusia dalam mengelola kebutuhan hidupnya.

MKDU4201/MODUL 1

1.7

Perhatikan firman Allah ini Q.S. Al-Jatsiyah (45) : 13;

Wa sakhkhara lakum maa fis samaawaati wa maa fil ardhi jamii,am minhu inna fii dzaalika la aayaatil li qaumiy yatafakkaruun. Dan Dia memudahkan (pula) untuk kamu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu menjadi tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.

Asal-usul kejadian manusia menurut ajaran Islam berbeda dengan pendapat ahli biologi terutama pendapat ahli kenamaan seperti Charles Darwin. Manusia yang hidup di mana pun di dunia berasal dari satu keturunan yaitu Adam as. Kemudian berkembang biak dan bertebaran di muka bumi. Dalam hal ini Allah berfirman: Q.S. An-Nissa (4) : 1;

Yaa ayyuhan naasut taquu rabbakumul ladzii khalaqakum min nafsiw waahidatiw wa khalaqa minhaa zaujahaa wa batstsa minhumaa rijaalan katsiiraw wa nisaa aw wat taqullaahal ladzii tasaa-aluuna bihii wal arhaama, innallaaha kaana 'alaikum raqiibaa. Hai sekalian manusia, bertakwalah kamu kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu daripada satu diri, dan daripadanya Allah menciptakan pasangannya, dan memper-kembang biakkan dari keduanya lelaki dan perempuan yang banyak, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu saling meminta dengan (menyebut nama)Nya, dan (peliharalah hubungan) keluarga. Sesungguhnya Allah adalah sangat memperhatikan kamu.

1.8

Pendidikan Agama Islam

Apabila kita meneliti ayat tersebut jelas bagi kita bahwa manusia yang beragam warna kulit dan berbeda-beda bahasanya itu masih satu keturunan. Atas dasar inilah manusia memiliki kewajiban untuk memelihara kasih sayang di antara sesama agar tidak putus tali persaudaraan dan diberi tugas agar bertakwa dan patuh kepada Allah selaku Penciptanya. Dalam menilai ketakwaan seorang hamba kepada Allah SWT dapat dilihat dari aspek terpeliharanya hubungan kasih sayang di antara sesamanya. Hal ini ditegaskan dalam Q.S. Al-Hujurat (49) ; 13:

Yaa ayyuhan naasu innaa khalaqnaakum min dzakariw wa untsaa wa ja'alnaakum syu'uubaw wa qabaa-ila li ta'aarafuu inna akramakum 'indallaahi atqaakum, innal laaha 'aliimun khabiir. Hai sekalian manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah yang lebih takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.

Ayat ini menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan di antara sesamanya. Kesempurnaan hidup manusia tidak akan dapat dicapai dengan hidup menyendiri, karena segala sesuatu kebutuhan dan keperluan hidup hanya dipenuhi dalam kehidupan bersama dengan terpeliharanya kasih sayang. Kehidupan yang penuh kasih sayang akan melahirkan saling tolong menolong dan bantu membantu, sebab hanya dengan hidup seperti itulah manusia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Sedangkan bagi manusia, semakin tinggi kedudukannya semakin besar hajatnya pada pertolongan orang lain.

MKDU4201/MODUL 1

1.9

B. MACAM-MACAM MAKHLUK Makhluk terbagi atas dua kelompok, yaitu: 1) Makhluk nyata; 2) Makhluk ghaib. Makhluk nyata, antara lain; manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, bakteri, virus, tanah, air, udara, bulan, matahari dan lain-lain. Makhluk ghaib antara lain; malaikat, jin, ruh, surga, dan neraka. Mempercayai makhluk yang disebut Malaikat, termasuk rukun iman. Asal kata malaikat ialah malak, jamaknya malaaika. Akar katanya ialah Alak atau Aluuka berarti risalah atau menyampaikan pesan. Dalam Alquran dijelaskan bahwa manusia berasal dari tanah dan jin dari api. Menurut Hadits yang bersumber dari Siti 'Aisyah r.a. (radliyallahu 'anhaa), yang diriwayatkan oleh Muslim, bahwa malaikat diciptakan dari cahaya. Manusia berasal dari zat (materi) padat dan wujudnya nyata. Jin dan Malaikat tidak berasal dari zat padat dan wujudnya tidak nyata, tidak tampak/kelihatan atau ghaib. Dan manusia tidak dapat melihat malaikat, sebagaimana difirmankan Allah SWT. Q.S. Al-Ahzab (33):9;

Yaa ayyuhaal ladziina aamanudz kuruu ni'matallaahi 'alaikum idz jaa-atkum junuudun fa arsalnaa alaihim riihaw wa junuudal lam tarauhaa wa kanaallaahu bi maa ta'maluuna bashiiraa Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah atas kamu, ketika datang tentara-tentara kepadamu, maka Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang kamu tidak dapat melihatnya. Dan Allah adalah Maha Melihat dengan apa yang kamu kerjakan.

Pada ayat lain Allah berfirman tentang malaikat yang mendatangi Nabi Ibrahim As. sebagai tamu, Q.S. Hud (11), ayat 69 70, menyebutkan;

1.10

Pendidikan Agama Islam

Wa laqad jaa-at rusulunaa ibraahiima bil busyraa qaaluu salaaman qaala salaamun famaa labitsa an jaa'a bi 'ijlin haniidz. (69) Fa lammaa ra-aa aidiyahum laa tashilu ilaihi nakirahum wa aujasa minhum khiifatan qaaluu laa takhaf innaa ursilnaa ilaa qaumi luuth. (70). Dan sungguh telah datang utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) kepada Ibrahim dengan (membawa) kabar gembira; mereka berkata, "Selamat". Ibrahim menjawab, "Selamatlah". Maka tidak lama kemudian Ibrahim menghidangkan anak sapi yang dipanggang (69). Maka tatkala Ibrahim melihat tangan mereka tidak menjamahnya, dia memandang aneh mereka dan merasa takut kepada mereka. Utusan itu berkata, "Jangan engkau takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth. (70).

Di samping ayat tersebut di atas, dinyatakan pula dalam ayat lain seperti dalam Q.S. Al-Hijr (15) : 51 - 52;

Wa nabbihum 'an dhaifi ibraahim. (51) Idz dakhaluu 'alaihi faqaaluu salaaman qaala innaa minkum wajiluun (52). Dan kabarkanlah kepada mereka tentang tamu Ibrahim (51). Ketika mereka ke tempatnya, lalu mereka berkata, "Sejahtera." Ibrahim berkata, "Sesungguhnya kami merasa takut kepadamu". (52).

Q.S. Adz-Dzaariyaat (51) : 24 25;

MKDU4201/MODUL 1

1.11

Hal ataaka hadiitsu dhaifi Ibraahiimal mukramiin, (24) Idz dakhaluu 'alaihi fa qaaluu salaaman qaala salaamun qaumun munkaruun. (25) Sudahkah datang kepadamu berita tamu Ibrahim yang dimuliakan? (24). Ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mereka berkata, "Salam," Ibrahim berkata, "Salam". Mereka kaum yang belum dikenal. (25).

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dikatakan, bahwa Jibril dalam bentuk manusia bertamu kepada Nabi Muhammad SAW ketika beliau bersama para sahabat. Jibril mengajar mereka mengenai Iman, Islam dan Ihsan. Dalam kejadian itu malaikat dapat dilihat bukan oleh mata lahir (mata kepala), tetapi oleh mata batin (mata hati). Tetapi ada sebagian ulama menafsirkan, bahwa malaikat bersifat rohaniah tidak mungkin dapat dilihat dengan cara biasa. Namun ada orang yang sampai ke tingkat perkembangan rohaniah yang tinggi, sehingga dapat melihatnya. Para Nabi dan sebagian sahabat serta orang sufi telah sampai ke tingkat itu dan mampu melihatnya. Selain malaikat dan jin ada pula makhluk lain, yaitu jenis setan atau iblis. Setan, iblis, dan jin masuk ke dalam golongan makhluk halus seperti juga malaikat, tapi sifat, fungsi, dan tingkah laku perbuatan mereka berbeda dengan para malaikat. Uraian ini memang di luar jangkauan akal, karena akal ialah alam nyata. Sedangkan malaikat adalah makhluk ghaib. Berpikir rasional merupakan mekanisme ilmu. Karena itu jangan coba-coba memikirkan malaikat secara ilmiah. Yang bertugas menghadapi alam ghaib ialah hati. Akan tetapi kalau kita hanya berpikir rasa dalam membicarakan masalah malaikat, maka kita akan jatuh pada politeisme. Tidak menutup kemungkinan para malaikat itu akan dipercaya sebagai dewa-dewa. Untuk meyakini akan adanya para malaikat, memahami tugas-tugas dan menerima kedudukannya sebagai rukun iman kedua, maka akal yang harus berpikir dan hati bekerja dengan pimpinan budi. Budi saja akan gagal meyakini dan memahami makhluk tersebut. Hati pun akan gagal pula tanpa bantuan akal yang menjelaskan keberadaan makhluk ghaib ini.

1.12

Pendidikan Agama Islam

C. SIFAT-SIFAT MAKHLUK Malaikat sebagai makhluk ghaib tidak memasuki alam nyata atau alam materiil, tetapi alam rohaniah. Dia bertugas sebagai perantara dan pelaksana kehendak Allah, terutama yang berhubungan dengan alam rohaniah manusia. Jin adalah makhluk ghaib juga dan termasuk golongan makhluk halus. Ia tidak dapat disentuh oleh pancaindera, tetapi ia dapat menjelmakan dirinya sehingga dapat ditangkap oleh pancaindera. Kadang-kadang ia memperlihatkan dirinya sebagai manusia biasa, binatang, atau makhluk hidup lainnya. Sewaktu-waktu dapat ditangkap suaranya. Biasanya makhluk halus yang dipergunakan dalam perdukunan adalah dari bangsa jin ini. Jenis makhluk lain yang bertentangan tabiat dan tugasnya terhadap manusia ialah setan. Makhluk halus ini termasuk jenis jin dan diciptakan dari api. Kerjanya ialah menyesatkan manusia. Kalau tergerak hati manusia untuk berbuat jahat, ini menandakan bahwa hati itu telah dibisiki setan. Sedangkan apabila hati tergerak untuk berbuat amal saleh, maka tanda malaikat telah menyampaikan ilhamnya. Adapun iblis termasuk jenis setan. Ia makhluk halus yang dapat menjelmakan dirinya dalam berbagai bentuk. Sebagaimana halnya setan, ia mempengaruhi hati manusia untuk berbuat jahat. Ada pula dikatakan, bahwa iblis adalah golongan jin yang fasik dan ingkar akan perintah Allah serta selalu berdaya upaya menjerumuskan manusia ke lembah kesesatan agar menjadi golongan mereka sebagaimana orang jahat mempengaruhi orangorang lain memasuki golongannya. D. KEDUDUKAN DAN HUBUNGAN TIAP-TIAP MAKHLUK 1. Fungsi Malaikat Fungsi pokok malaikat ialah menyampaikan ajaran Allah kepada manusia. Adapun rincian tugasnya sebagai berikut: a) Malaikat sebagai perantara dalam menyampaikan wahyu Allah. Perhatikan Q.S. Al-Baqarah (2) : 97;

MKDU4201/MODUL 1

1.13

Qul man kaana aduwwal li jibriila fa-innahuu nazzalahuu 'alaa qablika bi idznillaahi mushaddiqal li maa baina yadaihi wa hudaw wa busyraa lil muminiin. Katakanlah, Siapa saja yang menjadi musuh Jibril, maka sesungguhnya Jibril itu telah menurunkan Alquran ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.

Dalam Q.S. Asy-Syu'araa (26) : 193;

Nazala bihir ruuhul amiin. Alquran dibawa turun oleh Ruhul Amin (Jibril).

Begitu juga dalam Q.S. An-Nisaa (4) : 163;

Innaa auhainaa ilaika kamaa auhainaa ilaa nuuhiw wan nabiyyiina mim ba'dihii wa auhainaa ilaa ibraahiima wa ismaa'iila wa is-haaqa wa ya'quuba wal asbaathi wa 'iisaa wa ayyuuba wa yuunusa wa haaruuna wa sulaimaana wa aatainaa daawuuda zabuuraa Sesungguhnya Kami wahyukan kepadamu sebagaimana telah Kami wahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi sesudahnya, dan Kami telah wahyukan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.

b) Malaikat sebagai perantara untuk meneguhkan dan memantapkan hati orang-orang yang beriman. Q.S. Luqman (31) : 30; menyebutkan:

1.14

Pendidikan Agama Islam

Dzaalika bi annallaaha huwal haqqu wa anna maa yad'uuna min duunihil baathilu wa annallaaha huwal 'aliyyul kabiir. Demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang hak. Dan sesungguhnya apa-apa yang mereka seru selain Dia adalah batil, dan sesungguhnya Allah Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.

c)

Malaikat sebagai perantara dalam melaksanakan hukum Allah. Q.S. Ali Imran (3) : 41 44. menjelaskan;

Qaala rabbij'al lii aayatan qaala aayatuka allaa, tukalliman naasa tsalaatsata ayyaamin illaa ramzaw wadz kur rabbaka katsiiraw wasabbih bil 'asyiyyi wal ibkaar. (41) Wa idz qaalatil malaa-ikatu yaa maryamu inallaahash thafaaki wa thahharaki wash thafaaki 'alaa nisaa-il 'aalamiin (42). Yaa maryamuqnutii lirabbiki was-judii war ka'ii ma'ar raki'iin (43). Dzaalika min ambaa-il ghaibi nuuhiihi ilaika wa maa kunta ladaihim idz yulquuna aqlaamahum ayyuhum yakfulu maryama wa maa kunta ladaihim idz yakhtashimuun (44). Zakaria berkata, Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda (isteriku telah hamil); Allah berfirman, Tandanya bahwa engakau tidak dapat berbicara dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi. (41) Dan (ingatlah) ketika malaikat berkata, Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih engkau, mensucikan dan melebihkan engkau atas sekalian

MKDU4201/MODUL 1

1.15

perempuan yang ada di dalam alam (pada massa itu). (42) Hai Maryam, patuhlah engkau kepada Tuhanmu, sujud dan rukulah bersama orang-orang yang ruku". (43) Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib Kami mewahyukannya kepada kamu (Muhammad) padahal engkau tidak berada dekat mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapakah di antara mereka yang akan memelihara Maryam, dan engkau tidak pula dekat mereka ketika mereka berselisih (memeliharanya). (44).

d) Malaikat penolong dan mendo'akan manusia. Q.S. An-Najm (53) : 26; menyatakan:

Wakam min malakin fis samaawaati laa tughnii syafaa-atuhum syaian illaa mim ba'di ay ya'dzanallaahu li may yasyaa-u wa yardhaa. Berapa banyaknya malaikat di langit, tiada berguna syafaatnya (pertolongannya) sedikit pun, kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi siapa yang dia kehendaki dan ridhai.

Dalam Surat Asy-Syuura (42), ayat 5, dikatakan juga;

Takaadus samaawaatu yatafaththarna min fauqihinna wal malaaikatu yusabbihuuna bi hamdi rabbihim wa yastaghfiruuna li man fil ardhi alaa innallaaha huwal ghafuurur rahiim. Semua langit hampir pecah dari sebelah atasnya (karena kebesaran Allah) dan malaikat-malaikat bertasbih serta memuji TuhanNya, dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang"

e)

Malaikat memberikan pertolongan kepada manusia dalam perkembangan ruhaninya. Q.S. Al-Ahzab (33) : 43; diterangkan Allah SWT;

1.16

Pendidikan Agama Islam

Huwal ladzii yushallii 'alaikum wa malaaikatuhuu li yukhrijakum minazh zhulumaati ilan nuuri, wa kaana bil mu'miniina rahiimaa. Dialah yang melimpahkan rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampun), untuk mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya terang. Dan Dia adalah Maha Penyayang kepada orang-orang yang mukmin.

f)

Malaikat memberikan ilham ke dalam hati manusia untuk melakukan perbuatan baik (amal saleh). Q.S. Al-Qashash (28) : 10 - 12; memberikan penjelasan;

Wa ashbaha fu-aadu ummi muusaa faarigan in kaadat la tubdii bihii lau laa ar rabathnaa 'alaa qalbihaa li takuuna minal mu'miniin (10) Wa qaalat li ukhtihii qushshiihi fabashurat bihiian junubiw wa hum laa yasy'uruun (11) Wa harramnaa 'alaihil maraadhi'a min qablu fa qaalat hal adullukum 'alaa ahli baity yakfuluunahuu lakum wa hum lahuu naashihuun (12). Dan jadilah hati ibu Musa gelisah. Sungguh dia hampir menyatakan kalau Kami tidak meneguhkan hatinya, supaya dia termasuk orang-orang yang beriman (10); Dan dia berkata kepada saudara perempuannya, Ikutilah dia. Maka dia melihat Musa dari jauh, sedang mereka tiada menyadari. (11) Dan Kami mencegahnya terhadap perempuan-perempuan yang akan menyusukannya sebelum itu, dan berkatalah saudaranya, "Maukah aku tunjukkan kepadamu ahli rumah yang akan mengasuhnya untuk kamu, sedang mereka adalah orang-orang yang berlaku baik padanya?" (12).

g) Malaikan pencatat perbuatan dan menjaga manusia. Allah berfirman dalam Q.S. Al-Infithar (82), ayat 10 12.

MKDU4201/MODUL 1

1.17

Wa in-na 'alaikum lahaafizhiin (10) Kiraaman kaatibiin (11) Ya'lamuuna maa taf'aluun (12). dan sesungguhnya terhadap kamu ada penjaga-penjaga (malaikatmalaikat), (10) yang mulia yang menulis, (11) Mereka mengetahui apa yang kamu perbuat. (12)

Q.S. Qaaf (50) : 18 disebutkan:

Maa yalfizhu min qaulin illaa ladaihi raqiibun 'attiid. Tidaklah diucapkan suatu perkataan melainkan ada di sisinya (malaikat) pengawas yang hadir (Raqib dan 'Atid).

h) Malaikat mencabut nyawa manusia. Dalam Q.S. An-Nisaa' (4) : 97; Allah SWT berfirman;

Innal ladziina tawaffaahumul malaaikatu zhaalimii anfusihim qaaluu fiima kuntum qaaluu kunnaa mustadh'afiina fil ardhi qaaluu a lam takun ardhullaahi waasi'atan fa tuhaajiruu fiihaa fa ulaaika ma'waahum jahannamu wa saa-at mashiiraa. Sesungguhnya orang-orang yang dimatikan oleh malaikat dalam keadaan mereka menganiaya diri mereka, (malaikat) akan bertanya, Mengapa kamu sekalian ini?" Mereka menjawab, Kami adalah orang-orang yang tertindas di bumi (Mekkah)". Malaikat berkata, "Bukankah bumi Allah itu luas sehingga kamu dapat berhijrah padanya?" Maka mereka itu tempatnya ialah jahanam, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.

Perhatikan pula firman Allah dalam Allah dalam surat Q.S. An-Nahl (16): 28;

1.18

Pendidikan Agama Islam

Alladziina tatawaffaahumul malaa-ikatu zhaalimii anfusihim fa alqawus salama maa kunnaa na'malu min suu-im balaa innallaaha 'aliimum bi maa kuntum ta'maluun (yaitu) orang-orang yang diwafatkan oleh malaikat sedang mereka menganiaya diri sendiri, lalu mereka tunduk (berkata), "Kami tidak mengerjakan kejahatan". Sebenarnya (kamu telah mengerjakannya), sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan.

2.

Fungsi Setan Setan adalah penggerak manusia berlaku jahat. Sedangkan malaikat menggerakkan manusia berbuat amal saleh. Gerak jahat atau baik itu dipertimbangkan oleh akal. Keputusan akal melahirkan kemauan dan kemauan manusia itu bebas dalam menentukan pilihannya. Kemungkinan mengikuti dan menentang mempunyai kesempatan yang sama. Demikian pula sikap akal itu terhadap malaikat. Kemauan berbuat baik akan melahirkan amal saleh. Allah menurunkan wahyu dan mengutus rasul untuk menunjukkan perbuatan baik dan yang buruk, diikuti penjelasan dan balasan bagi perbuatan-perbuatan tersebut. Perbuatan baik atau buruk harus dipertanggungjawabkan oleh setiap individu di hadapan Allah pada hari akhirat. Jadi manusia tidak dapat lari dari tanggung jawab perbuatannya di dunia dihadapan Allah selaku Penciptanya. Setan ialah jenis makhluk jahat yang selalu memperdayakan manusia untuk berbuat sesat dari perintah dan larangan Allah atas kejahatannya. Itulah sebabnya mengapa setan dikutuk Allah SWT. Dalam Q.S. An-Nisaa' (4), ayat 118, dikatakan bahwa;

La'anahullaahu wa qaala la attakhizanna min 'ibaadika nashiibam mafruudhaa

MKDU4201/MODUL 1

1.19

Allah telah melaknatnya. Setan berkata, Sungguh akan aku tarik bagian yang ditentukan dari hamba-hamba-Mu.

Karena kedurhakaannya, setan dikutuk serta dijauhkan dari rahmat dan keridhaanNya. Manusia yang mengikuti perbuatan setan menjadi pendurhaka pula terhadap Tuhan. Untuk menjaga godaan setan, akal manusia perlu diisi oleh iman dan ilmu agar dapat memberikan daya tahan terhadap kecenderungan jahat dan lebih memperkokoh ke arah perbuatan yang positif. Apabila iman telah menerangi hati dan ilmu telah menyinari budi, maka manusia akan cenderung pada takwa. Hanya takwalah yang akan menjadi benteng terhadap tipu muslihat setan. Dan hanya dengan takwa itu pula manusia dapat menahan diri dari niat jahat dan mengembangkan kecenderungan baik dalam dirinya. Bagaimana setan memperdaya manusia, dijelaskan oleh Allah dengan firmannya; Q.S. An-Nisaa' (4) : 119 - 121;

Wa la udhillannahum wa la umanniyannahum wa la aamurannahum fa la yubattikunna aadzaanal an 'aami wa la aa murannanahum fa la yughayyirunna khalqallaahi wa may yattakhizisy syaithaana waliyyam min duunillaahi fa qad khasira khusraanam mubiinaa (119). Ya'iduhum wa yumanniihim wa maa ya'i duhumusy syaithaanu illaa ghuruuraa (120). dan sungguh akan aku sesatkan mereka, dan akan aku bangkitkan angan-angan kosong mereka, dan akan aku suruh mereka (memotong) telingga binatang ternak, lalu mereka benar-benar memotongnya (untuk berhala), dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka mengubah. Ciptaan Allah dan barangsiapa yang menjadikan setan sebagai pelindung selain Allah, maka sungguh dia telah merugi dengan kerugian yang nyata (119). Setan menjanjikan dan membangkitkan angan-angan mereka, dan setan tidak menjanjikan kepada mereka melainkan tipuan belaka (120).

1.20

Pendidikan Agama Islam

Kemudian diteruskan dalam ayat 121, berbunyi;

Ulaa-ika ma'waahum mahiishaa.

jahannamu

wa

laa

yajiduuna

'anhaa

Mereka itu tempat kembalinya ialah jahanam, dan mereka tidak memperoleh tempat lari dari padanya.

3.

Fungsi Jin Bangsa jin, ada yang baik dan yang buruk (jahat) perbuatannya serta ada pula yang taat dan yang ingkar. Dengan demikian ada di antara mereka yang Islam dan ada pula yang kafir. Banyak ayat Alquran yang menyebutkan tentang bangsa jin dan kewajibannya terhadap Allah. Q.S. Adz-Dzaariyat (51), ayat 56, memerangkan bahwa;

Wa maa khalaqtul jinna wal insa illaa liya'buduun Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.

Makhluk halus (Jin) inilah yang paling dekat kepada manusia. Proses pengislaman jin bersamaan pula pengislaman manusia. Dalam Q.S. Al-Ahqaaf (46) : 29 - 31; Allah menjelaskan;

Wa idz sharafnaa ilaika nafaram minal jinni yastami'uunal qur-aana fa lammaa hadharuuhu qaaluu anshituu, fa lammaa qudhiya wallau

MKDU4201/MODUL 1

1.21

ilaa qaumihim munziriin.(29) Qaaluu yaa qaumanaa innaa sami'naa kitaaban unzila min ba'di muusaa mushaddiqal li maa baina yadaihi yahdii ilal haqqi wa ilaa thariiqin mustaqiim (30). Ya qaumanaa ajiibuu daa'iyallaahi wa aaminuu bihii yaghfir lakum min dzunuubikum wa yujirkum min 'adzaabin aliim (31). Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan kepada engkau serombongan jin yang mendengarkan Alquran, maka tatkala mereka menghadirinya, mereka berkata, Perhatikanlah, maka tatkala selesai, mereka kembali kepada kaumnya memberi peringatan. (29) Mereka berkata, Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengar Kitab (Alquran) yang telah diturunkan sesudah Musa, yang membenarkan Kitab sebelumnya yang memberi petunjuk kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. (30) Hai kaum kami, terimalah orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kamu kepadanya (Muhammad), niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. (31).

Yakin kepada yang ghaib adalah pertanda utama dari orang yang takwa. Perhatikan Q.S. Al-Baqarah (2) ; 2 - 3; dengan seksama;

Dzaalikal kitaabu laa raiba fiihi hudal lil muttaqiin (2). Alladziina yu'minuuna bil ghaibi wa yuqiimuunash shalaata wa mim ma razaqnaahum yunfiquun (3). Kitab (Alquran) ini tidak ada keraguan di dalamnya, menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. (2) (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang telah Kami karuniakan kepada mereka.(3).

Orang yang bertakwa menjadikan Alquran sebagai petunjuknya, yaitu menunjukkan manusia tentang alam nyata dan ghaib. Alam nyata adalah lapangan kebudayaan, sedangkan alam ghaib adalah lapangan agama. Alquran mengisyaratkan dan memberi petunjuk, bahwa keduanya itu adalah lapangan Diinul Islam, karena Islam mengatur agama dan kebudayaan. Sebab itu orang yang tidak mempercayai yang ghaib tidak

1.22

Pendidikan Agama Islam

mungkin mempercayai agama. Satu-satunya yang dipercayainya hanyalah kebudayaan yang meliputi alam nyata. Usaha orang ini akan tenggelam dalam dunia. Ia mengejar keselamatan dan kesenangan di dunia, sehingga melupakan akhirat yang pada akhirnya akan mendapat malapetaka, dan siksa di akhirat. E. PEMBAGIAN ALAM Ulama Islam membagi alam ini menjadi dua kelompok; yaitu: 1) Alam nyata; 2) Alam ghaib yang terbagi menjadi dua, yakni: a) alam ghaib idhafi (nisbi) b) alam ghaib hakiki (mutlak) Alam nyata dan alam ghaib idhafi adalah lapangan ilmu dan kebudayaan, sedangkan alam ghaib hakiki merupakan lapangan agama. Semua masalah yang berada dalam medan empiris (wilayah pengalaman) manusia tetapi belum diteliti masuk ke dalam alam ghaib idhafi. Suatu ketika bukan mustahil alam nisbi ini akan dijadikan alam nyata oleh ilmu. Hal-hal yang di luar empiris masuk ke dalam ghaib hakiki, misalnya dari mana asalnya jagat raya dan ke mana akhirnya. Malaikat tidak mungkin diteliti dengan ilmu, karena termasuk ke dalam ghaib hakiki. Pengetahuan manusia tentang ghaib hakiki adalah bersifat spekulasi atau dugaan. Tuhanlah yang memberikan pengetahuan yang pasti dan benar. Pengetahuan kita tentang malaikat sejauh yang diinformasikan oleh Alquran dan menerimanya dengan akal yang sehat. Allah menyampaikan wahyu kepada para rasul melalui Malaikat Jibril, yang bagi kaum Nasrani disebut Ruh Kudus. Allah memberitakan melalui Jibril bahwa Maryam akan melahirkan anak (Isa). Seandainya Allah langsung menyampaikan wahyu-Nya, maka akan hilang ke-Esaan-Nya. Sebab rasul itu adalah alam. Bentuk dan kata haruslah bersifat alami untuk dapat ditangkap oleh manusia, karena rasul bersifat alami pula. Jika tidak demikian, Tuhan akan berserikat. Dia, tidak lagi jadi Tuhan Yang Esa. Akibatnya Tauhid dan Islam sebagai Ad-Diin yang benar akan runtuh. Kesimpulannya, Tuhan adalah Maha Besar, Maha Tinggi dan Maha Agung untuk langsung berhubungan dengan alam manusia dan lainnya.

MKDU4201/MODUL 1

1.23

Karena itulah Allah tidak langsung bertindak terhadap alam manusia melainkan memakai perantara, yaitu para malaikat. Apabila kita sudah yakin adanya malaikat, akibat logisnya akan yakin pula kepada kitab-kitab suci (Zabur, Taurat, Injil, Alquran) yang disampaikan oleh Jibril dari Allah kepada Rasul-Nya. L A TIH A N Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut! 1) Dalam Surat Al-Anbiyaa' (21) : 30 disebutkan bahwa "langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah sesuatu yang padu". Terangkan pengertian ayat tersebut dalam konteks teori evolusi, bahwa alam ini dinamis! 2) Jelaskan keanekaragaman bangsa di dunia dengan asal usul manusia berasal dari Adam dan tugas masing-masing individu sebagai khalifah Allah di bumi! 3) Manusia dengan tingkat ilmu pengetahuan tertentu dapat mengetahui seluk beluk makhluk yang besarnya hanya satu sel. Dengan cara bagaimanakah manusia dapat mengerti bahwa Malaikat itu termasuk rukun Iman! Petunjuk Jawaban Latihan Sebagai petunjuk untuk mengerjakan latihan di atas, coba Anda perhatikan hal-hal berikut: 1) Untuk mengerjakan soal latihan nomor 1, pertama-tama Anda harus tahu dan memahami ayat serta arti ayat tersebut. Selanjutnya harus dipahami proses evolusi tentang kejadian alam seperti dibuktikan oleh adanya red shift yang ditafsirkan, bahwa alam semesta ini dimulai dengan ledakan dahsyat. Teori ini merupakan tafsiran dari fenomena ciptaan Allah yang dapat ditangkap oleh indera manusia. Fenomena itu pada hakikatnya adalah tunduk kepada hukum atau kehendak Allah (iradah Allah). Dan iradah Allah itu Esa. 2) Untuk mengerjakan soal latihan nomor 2 ini, Anda perlu memahami kedudukan manusia di dunia sebagai makhluk paling sempurna yang

1.24

Pendidikan Agama Islam

proses penciptaan serta penyebarannya disebut dalam Surat An-Nisa; (4):1 dan naluri manusia sebagai makhluk sosial Surat Al Hujurat (49):13. Dengan potensi-potensi lebih yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya, maka manusia dituntut untuk melaksanakan tugas tertentu yang tidak diberikan kepada makhluk lain itu. 3) Untuk mengetahui ada makhluk satu sel, diperlukan ilmu tertentu dan dibantu peralatan yang memadai, maka makhluk satu sel dapat diidentifikasikan. Memang makhluk satu sel tersebut bersifat inderawi; kendati baru dapat dilihat setelah memakai peralatan tertentu. Perlu diketahui bahwa alat indera adalah anugerah Allah yang dipergunakan untuk mengetahui dan memahami serta menghayati kekuasaan Allah. Untuk mengetahui sesuatu di balik inderawi, maka memakai peralatan pancaindera sudah barang tentu tidak tepat. Ajaran agama diperuntukkan bagi manusia sebagai pedoman untuk membentuk pola kehidupan (bersikap, bertindak, dan berpikir). Ajaran agama tersebut bersifat aplikatif dan reasonable. Untuk memahami ajaran Islam secara sempurna diperlukan dasar-dasar yang sempurna pula. Oleh karena itu dasar tersebut tidak harus yang inderawi saja. RA NGK UMA N Alam semesta adalah ciptaan Allah. Sebagai ciptaan Allah, alam semesta tunduk pada ketentuan dan kehendak Allah (iradah Allah). Dengan potensi-potensi yang dianugerahi Allah, manusia mampu mengungkapkan dan mengidentifi-kasikan sisi dari suatu fenomena hukum yang mengatur ciptaan itu. Atas dasar fenomena tersebut selanjutnya memerikan (mendeskripsikan) suatu proses kejadian. Pemerian (deskripsi) itu belum final, karena fenomena yang dapat dipahami akan semakin banyak. Firman Allah (Alquran) bersumber dari Allah. Kehendak Allah adalah Esa, sehingga merupakan suatu yang tidak dapat diingkari bahwa ayat-ayat Alquran selaras dengan penemuan ilmu pengetahuan. Manusia dengan kualitas yang dimilikinya, menduduki posisi lebih tinggi dibanding dengan makhluk lain. Dengan kualitas tersebut, wajar pula apabila manusia mempunyai tugas khusus (khalifah Allah) dengan segala akibatnya. Sebagai khalifah, manusia diharuskan untuk mengetahui, memahami bukan hanya yang inderawi, bahkan juga yang tidak bisa ditangkap oleh indera. Hal yang tidak inderawi itu hanya dapat

MKDU4201/MODUL 1

1.25

dipahami dengan "Iman". Iman merupakan anugerah Allah selain pancaindera. Oleh karena itulah dalam agama Islam, beriman kepada Allah dan para malaikat, yang bersifat ghaib hakiki merupakan salah satu modal dasar. Keimanan ini akan membawa efek bagaimana harus berpikir, berbicara, bersikap dan bertindak dalam hubungan dengan Allah, dirinya sendiri, sesama manusia maupun dalam hubungan dengan alam semesta. TES FORMATIF 1 Pilihlah satu jawaban yang paling tepat! 1) Ayat Alquran selaras dengan penemuan ilmu pengetahuan; antara lain; tersebut dalam Q.S. Al-Anbiya (1) : 30 yang menyatakan bahwa langit dan bumi itu dahulunya adalah suatu yang padu, kemudian dipisahkan antara keduanya. Ayat ini selaras dengan kedinamisan alam semesta. Keselarasan yang dimaksud dapat dipahami dengan alasan .... A. ahli agama memaksakan penafsiran ayat-ayat agar selaras dengan ilmu pengetahuan B. ilmu pengetahuan adalah pemerian (deskripsi) terhadap suatu fenomena dari sejumlah fenomena kehendak (iradah Allah). Alquran merupakan perwujudan kehendak Allah; dan kehendak Allah itu Esa C. secara kebetulan D. ayat-ayat Alquran bersifat rasional dan ilmiah 2) Segala sesuatu yang berada di alam semesta adalah ciptaan Allah. Pernyataan yang benar adalah alam semesta .... A. diperuntukkan bagi umat manusia B. berjalan atas dasar hukum-hukum Allah C. adalah makhluk dan Allah adalah Khaliq D. riil dan objektif 3) Allah sebagai Pencipta mempunyai sifat berkuasa, berkehendak, pengatur, dan memiliki sifat-sifat kesempurnaan. Sehingga alam semesta ini .... A. tunduk dan patuh kepada hukum-hukum Allah B. berjalan atas kehendaknya sendiri C. sebagai bukti kekuasaan Allah dan kebenaran kerasulan Muhammad SAW D. alam diperuntukkan bagi manusia

1.26

Pendidikan Agama Islam

4) Alam semesta adalah ciptaan Allah. yang berjalan dengan pasti, teratur, dan rapi. Keteraturan dan kerapian alam ini merupakan akibat dari .... A. Allah mencipta alam ini, memperlengkapinya dengan hukum-hukum yang mengaturnya dengan pasti. Hukum-hukum tersebut merupakan perwujudan kehendak Allah B. merupakan sifat dasar makhluk untuk selalu tunduk dan patuh kepada Penciptanya C. keterpaksaan alam untuk tunduk kepada Allah D. adanya kesadaran alam ini untuk selalu tunduk kepada Allah 5) Menurut Islam asal-usul kejadian dan penyebaran manusia di dunia adalah.... A. asal kejadian manusia menurut Islam berbeda dengan ahli filsafatantropologi B. manusia diciptakan dari tanah C. manusia diciptakan oleh Allah untuk menjadi khalifahnya D. manusia di mana pun di dunia berasal dari satu keturunan yaitu Adam AS 6) Agar memperoleh daya tahan terhadap kecenderungan untuk berbuat jahat, maka cara yang harus ditempuh menurut Islam adalah .... A. manusia harus memahami akibat perbuatan jahat dan manfaat perbuatan baik B. akal manusia perlu diisi dengan iman dan ilmu, sehingga dapat memperkokoh kecenderungan untuk berbuat baik C. manusia harus memahami, bahwa kejahatan berarti merugikan dan kebaikan berarti keuntungan D. manusia harus menjauhkan diri dari bisikan setan 7) Kedudukan orang yang mempergunakan ilmu sihir untuk kepentingan hidupnya dapat digolongkan kepada .... A. murtad B. berdosa besar C. berbuat kufur D. tetap beriman, karena perbuatan tersebut boleh dikerjakan apabila keadaan memaksa 8) Cara memahami adanya para malaikat adalah melalui .... A. penelitian ilmu pengetahuan B. malaikat merupakan makhluk ghaib hakiki, oleh karena itu hanya dapat dipahami dengan keimanan dan petunjuk Alquran

MKDU4201/MODUL 1

1.27

C. pemahaman manusia tentang hal-hal yang ghaib hanya bersifat nisbi, karena itu malaikat tidak dapat dipahami secara objektif D. malaikat dapat dipahami bukan dengan panca indera dan pemikiran rasional, tetapi dengan mata hati dan renungan batin 9) Allah menyampaikan wahyu kepada para Rasul melalui perantaraan Malaikat. Hal ini menunjukkan .... A. kebesaran Allah B. kesucian Allah C. Allah sebagai khaliq yang berkuasa atas segala sesuatu D. keesaan, kesucian, dan keagungan Allah 10) Islam membagi alam ini menjadi dua kelompok, yaitu alam nyata, dan ghaib (idhafi dan hakiki). Beda alam ghaib hakiki dan ghaib idhafi adalah .... A. alam ghaib hakiki dapat dipahami melalui renungan batin dan alam ghaib idhafi dapat dipahami melalui renungan akal B. alam ghaib idhafi adalah medan empirir yang masuk dalam kawasan ilmu tetapi belum diteliti, sedang alam ghaib hakiki merupakan lapangan agama, hanya dapat dipahami melalui petunjuk-petunjuk agama C. alam ghaib idhafi dan alam ghaib hakiki tidak begitu berbeda. Perbedaannya hanya bersifat gradual saja D. kita tidak perlu memperdebatkan antara berbagai alam ghaib dan, cukup diyakini dan dipahami, bahwa alam-alam ghaib itu ada dan keberadaannya tidak inderawi

1.28

Pendidikan Agama Islam

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 1.
Jumlah Jawaban yang Benar Jumlah Soal 100%

Tingkat penguasaan =

Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali 80 - 89% = baik 70 - 79% = cukup < 70% = kurang Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80%, Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 1, terutama bagian yang belum dikuasai.

MKDU4201/MODUL 1

1.29

Kegiatan Belajar 2

Hayat/Hidup

emua makhluk yang hidup seperti alam nabati, hewani, dan alam insani dijadikan Allah dari air.

Q.S. Al-Anbiya (21) : 30; menyebutkan bahwa;

A walam yaral ladziina kafaruu annas samaawaati wal ardha kaanataa ratqan fa fataqnaahumaa wa ja'alnaa minal maa-i kulla syai-in hayyin, a fa laa yu'minuun Dan apakah orang-orang yang ingkar itu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya langit dan bumi adalah keduanya berpadu, lalu Kami pisahkan keduanya. Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup dari air. Maka apakah mereka tidak beriman?

A. JENIS ALAM NABATI Alam nabati (tumbuh-tumbuhan) yang ada di persada bumi sekitar kita yang produktif disediakan Allah bagi sarana kehidupan manusia dan makhluk lainnya. Dalam Q.S. Al-Hijr (15) : 19; Allah menyatakan;

Wal ardha madadnaahaa wa alqainaa fiihaa rawaasiya wa ambatnaa fiihaa min kulli syai-im mauzuun Dan Kami menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gununggunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.

1.30

Pendidikan Agama Islam

Adapun jenis alam nabati tiap wilayah berbeda-beda sesuai dengan iklim dan letak geografisnya. Negeri Indonesia dan negeri-negeri yang serumpun iklimnya akan banyak persamaannya tetapi di negeri Timur Tengah dan Eropa misalnya, banyak tumbuhan yang tidak ada di Indonesia, seperti: tin, zaitun, korma, dan anggur. Alquran Surat An-Nahl (16) : 10 - 11; memberikan keterangan;

Huwal ladzii anzala minas samaa-i maa al lakum minhu syaraabuw wa minhu syajarun fiihi tusiimuun (10). Yumbitu lakum bihiz zar'a waz zaituuna wan nakhiila wal a'naaba wa min kullits tsamaraati, inna fii dzaalika la aayatal liqaumiy yatafakkaruun (11). Dialah yang telah menurunkan air dari langit untuk kamu, di antaranya untuk minuman dan di antaranya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, padanya kamu mengembala ternak (10) Dia menumbuhkan untuk kamu dengan air itu tanam-tanaman, zaitun, kurma, anggur, dan bermacam buah-buahan. Sesungguhnya yang demikian itu sebagai ayat (keterangan) bagi kaum yang berpikir (11).

Untuk jenis alam nabati ini, coba kita perhatikan penjelasan Alquran berikut ini, antara lain: Surat Al-Hajj (22) : 18;

A lam tara annallaaha yasjudu lahuu man fis samaawaati wa man fil ardhi wasy syamsu wal qamaru wan nujuumu wal jibaalu wasy syajaru wad dawaabbu wa katsiirum minan naasi, wa katsiirun haqqa 'alaihil 'adzaabu, wa may yuhinillaahu famaa lahuu min mukrimin innallaaha yaf'alu maa yasyaa'.

MKDU4201/MODUL 1

1.31

Apakah engkau tidak mengetahui, sesungguhnya sujud kepada Allah siapa-saiap yang berada di langit, dan siapa-saipa yang berada di bumi, matahari, bulan, bintang-bintang, gunung-gunung, pohonpohon, binatang yang melata dan banyak dari manusia. Dan banyak (pula) yang berhak azab atasnya. Barang siapa yang dihinakan Allah maka tidak ada yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.

Q.S. Asy-Syu'araa (26) : 7;

A wa lam yarau ilal ardhi kam ambatnaa fiihaa min kulli zaujin kariim Dan apakah mereka tidak memperhatikan kepada bumi, berapakah banyaknya Kami tumbuhkan padanya berjenis-jenis (tumbuhtumbuhan) yang indah.

Q.S. An-Naml: (27) : 60;

Am man khalaqas samaawaati wal ardha wa anzala lakum minas samaa-i maa an fa ambatnaa bihii hadaa-iqa dzaata bahjatim ma kaana lakum an tumbituu syajarahaa a ilaahum ma'allaahi bal hum qaumuy ya'diluun. Atau siapakah yang menciptakan langit dan bumi serta menurunkan hujan dari langit kepada kamu, lalu Kami tumbuhkan dengannya kebun-kebun yang indah, Kamu tidak dapat menumbuhkan pohonnya. Adakah tuhan lain bersama Allah? Bahkan mereka kaum yang menyimpang.

1.32

Pendidikan Agama Islam

Q.S. Luqman (31) : 10;

Khalaqas samaawaati bi ghairi 'amadin taraunahaa wa alqaa fil ardhi rawaasiya an tamiida bikum wa batstsa fiihaa min kulli daabbatiw wa anzalnaa minas samaa-i maa-an fa ambatnaa fiihaa min kulli zaujin kariim Dia telah menciptakan langit tanpa tiang sebagaimana kamu melihatnya, dan Dia meletakkan gunung-gunung di bumi supaya bumi tidak menggoyangkan kamu; dan Dia mengembang biakkan padanya dari tiap-tiap jenis hewan. Dan Kami turunkan air dari langit lalu Kami tumbuhkan padanya dari tiap-tiap macam tumbuhan yang indah.

Q.S. Qaaf (50) : 7 - 9;

Wal ardha madadnaahaa wa alqainaa fiihaa rawasiya wa ambatnaa fiihaa min kulli zaujim bahiij (7) Tabshirataw wa dzikraa li kulli 'abdim muniib (8) Wa nazzalnaa minas samaa-i maa-am mubaarakan fa ambatnaa bihii jannaatiw wa habbal hashiid(9). Dan bumi Kami bentangkan dan Kami letakkan padanya gununggunung, dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah, (7) sebagai pemandangan dan pengajaran bagi setiap hamba yang kembali (kepada Allah). (8) Dan Kami turunkan air dari langit yang membawa berkah, lalu Kami tumbuhkan dengannya kebunkebun dan biji-bijian untuk diketam. (9).

MKDU4201/MODUL 1

1.33

Q.S. Ar-Rahman (55) : 7 - 11;

Was samaa-a rafa'ahaa wa wadha'al miizaan (7) Allaa tathghau fiil miizaan (8) Wa aqiimul wazna bil qisthi wa laa tukhsirul miizaan (9) Wal ardha wadha'ahaa lil anaam (10) Fiihaa faakihatuw wan nakhlu dzaatul akmaam (11) Langit ditinggikan-Nya dan neraca (keadilan) diletakkan-Nya (7) supaya kamu jangan melampaui batas pada neraca itu (8) Dan tegakkanlah timbangan dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. (9) Dan bumi diletakkan-Nya bagi makhluk, (10) padanya ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak (mayang) (11).

Dengan demikian dapat kita mengambil kesimpulan, bahwa alam tumbuh-tumbuhan ini mulai dari tumbuh-tumbuhan yang kecil-kecil seperti rerumputan hingga pohon yang besar-besar, kesemuanya itu dapat dimanfaatkan oleh manusia demi kebutuhan hidupnya. B. ALAM HEWANI Alam hewani memang diciptakan Tuhan bagi kepentingan manusia dan diharapkan dapat diambil pelajaran dari hewan-hewan tersebut. Jenis alam hewani ada yang hidup di hutan atau pegunungan yang sifatnya masih liar. Selain itu banyak juga yang hidup dalam pemeliharaan manusia dan masuk dalam kategori jinak atau hewan peliharaan. Adapula hewan yang terbang di angkasa namun kesemuanya itu adalah jenis-jenis makhluk yang banyak persamaannya dengan manusia. Yang dimaksud dengan banyak persamaannya dengan manusia, karena hewan itu mempunyai perasaan lapar, haus, berkelamin, hidup berkelompok dan berkembang biak seperti kehidupan makhluk manusia.

1.34

Pendidikan Agama Islam

Allah SWT menyatakan dalam surat Al-Anaam (6) : 38; bahwa;

Wa maa min daabbatin fil ardhi wa laa thaa-iriy yathiiru bi janaahaihi illaa umamun amtsaalukum maa farrathnaa fil kitaabi min syai-in tsumma ilaa rabbihim yuhsyaruun. Dan tiadalah yang melata di bumi (hewan) dan tiada (pula) yang terbang dengan kedua sayapnya (burung) melainkan umat-umat seperti kamu. Tidaklah kami meluputkan di dalam Kitab sedikit pun. Kemudian mereka dikumpulkan kepada Tuhannya.

Selanjutnya mengenai jenis-jenis binatang peliharaan yang banyak macamnya itu, kita bisa teliti dari berbagai informasi Alquran, antara lain menjelaskan; Q.S. Al-An'aam (6) : 142 - 145;

Wa minal an 'aami hamuulataw wa farsyan kuluu mimmaa razaqakumullaahu wa laa tattabi'uu khuthuwaatisy syaithaani innahuu lakum'aduwwum mubiin. Dan di antara ternak itu ada pemikul beban dan ada yang untuk disembelih. Makanlah dari rezeki yang telah dianugrahkan Allah kepadamu, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan, sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu. (142);

Tsamaaniyata azwaajim minadh dha'nits naini wa minal ma'zits naini, qul aadz dzakaraini harrama amil untsayaini ammasy tamalat

MKDU4201/MODUL 1

1.35

'alaihi arhaamul untsayaini, nabbi-uunii bi 'ilmin in kuntum shaadiqiin. (yaitu) delapan yang berpasangan; sepasang dari domba, dan sepasang dari kambing. Katakanlah, Adakah yang diharamkan Allah itu dua jantan atau dua betina, ataukah yang ada dalam kandungan kedua betina itu?" Beritahukan kepadaku (berdasarkan) pengetahuan jika kamu memang orang-orang yang benar (143);

Wa minal ibilits naini wa minal baqaritsnaini qul aadzdzakarraini harrama amil untsayaini am masy tamalat'alaihi arhaamul untsayaini am kuntum syuhadaa-a idz washshaakumullaahu bi haadzaa, faman azhlamu mim maniftaraa 'alallaahi kadzibaal li yudhillan naasa bi ghairi 'ilmin innallaaha laa yahdil qaumadz dzaalimin. Dan sepasang dari unta dan sepasang dari lembu. Katakanlah, "Apakah yang diharamkan Allah itu dua jantan atau dua betina, ataukah yang ada dalam kandungan kedua betina itu, ataukah kamu menyaksikan Allah menetapkan ini bagimu? Maka siapakah yang lebih aniaya daripada orang-orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan? Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim (144).

Qul laa ajidu fii maa-uuhiya ilayya muharraman 'alaa thaa'imiy yath 'amuhuu illaa ay yakuuna maitatan au damam masfuuhan au lahma khinziirin fa innahuu rijsun au fisqan uhilla li ghairillaahi bihi, fa manidhthurra ghaira baaghiw walaa aadin fa inna rabbaka ghafuurur rahiim.

1.36

Pendidikan Agama Islam

Katakanlah: "Tiada aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya kecuali bangkai, darah yang mengalir, atau daging babi, karena sesungguhnya (semua itu) kotor atau kefasikan yang disembelih bukan dengan nama Allah. Maka barang siapa dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (145).

Dan dalam surat Al-An'am ini, dijelaskan, mana hewan yang bisa dimakan dan jenis hewan yang dilarang (haram), seperti bangkai, babi, atau hewan yang dipotong dengan tidak menyebut nama Allah SWT. Tetapi ayat 145 di atas menjelaskan juga, bahwa yang diharamkan boleh saja dimakan kalau dalam keadaan terpaksa, misalnya sakit, atau yang lainnya. C. ALAM INSANI Kata insani berasal dari bahasa Arab yang berarti manusia. Insan adalah bentuk tunggal (mufrad) dari kata An Naas. Insan berasal dari akar kata anisa ya'nasu-Ansan, artinya ramah, mesra, berpuas hati. Dari hadits Nabi Muhammad SAW kita akan mengetahui tentang sifat insan yang sering lupa dan salah, sehingga manusia dibebaskan dari hukum apabila melakukan pelanggaran karena tidak sengaja dan lupa. Nabi bersabda;

Innallaaha wadha'a an ummatii al-khatha'u wan nisyaanu wa maa us tukrihuu 'alaihi. "Sesungguhnya Allah mengenyampingkan hukum dari umatku terhadap sesuatu yang dilakukannya karena (tidak sengaja), lupa dan terpaksa". (H.R. Tabrani Ibnu Hibban dari Ibnu Abbas).

Alam insani berbeda dengan alam hewani dan makhluk lainnya. Perbedaan-perbedaan ini terletak pada keadaan, kejadian dan penghidupannya. Adapun yang menjadi pokok keutamaan hidup manusia, ialah:

MKDU4201/MODUL 1

1.37

a) b) c) d) e)

diturunkan agama jiwanya memiliki akal keturunannya, dan hartanya.

Jika kelima pokok keutamaan hidup itu terpelihara dengan baik, maka akan melahirkan kebahagiaan dan kesempurnaan sifat keinsanannya. Bagi alam hewani tidak terdapat kelima pokok keutamaan hidup, sebab itu tidak ada bagi mereka keteraturan hidup. Mereka tidak mengenal hukum atau undang-undang yang harus dipatuhi, yang ada hanyalah pengelompokkan di antara bangsanya yang sejenis. Binatang buas memangsa binatang jinak dan lemah, yang hal itu sudah menjadi kebiasaan di kalangan mereka. Abu Musa Al-Asy'ari, (873 935 M) melukiskan, bahwa kehidupan insan adalah kekal, hanya berpindah tempat. Mula-mula hidup di dunia dengan sebab dilahirkan dari rahim ibunya, kemudian dipindahkan ke alam Barzah dan akhirnya ke Akhirat untuk diadili serta diminta pertanggungjawaban waktu hidup di dunia. Selanjutnya mendapat balasan, yaitu amal baik akan mendapat balasan surga dan amal jahat akan mendapat balasan buruk serta ditempatkan di neraka. Proses kehidupan insan (manusia), dijelaskan Allah dalam: Q.S. AlQiyamah (75): 36 - 40; sebagai berikut.

A yahsabul insaanu ay yutraka sudaa (36) A lam yaku nuthfatan mim maniyyiy yumnaa (37) Tsumma kaana 'alaqatan fa khalaqa fa sawwaa (38) Fa ja'ala minhuz zaujainidz dzakara wal untsaa (39) A laisa dzaalika bi qaadirin'alaa ay yuhyiyal mautaa (40) Apakah manusia mengira, bahwa dia akan ditinggalkan begitu saja (tanpa ia bertanggung jawab) (36) Bukankah dia dahulu setetes air mani yang dipancarkan (37) Kemudian menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya dan menyempur-nakannya (38) maka

1.38

Pendidikan Agama Islam

Allah menjadikan daripadanya sepasang laki-laki dan perempuan? (39). Bukankah (Allah yang berbuat) demikian, berkuasa (pula) menghidupkan orang-orang yang sudah mati? (40).

Lihat juga Q.S. Al-Baqarah (2) : 28 dan Al-Kahfi (18) : 103 - 108; Jadi manusia pindah dari dunia ke alam barzah dengan jalan kematian (meninggal) kemudian dipindahkan ke akhirat dengan jalan dibangkitkan (kiamat), yang akhirnya dihisab. Amal baik dibalas dengan surga, amal buruk atau jahat dibalas dengan siksa neraka. D. ALAM BARZAH DAN AKHIRAT Pengertian barzah menurut bahasa ialah dinding yang membatasi antara dua barang. Yang dimaksud dengan alam Barzah di sini ialah alam tempat pemberhentian arwah orang-orang yang telah meninggal sebelum dibangkitkan oleh Allah dalam bentuk baru (alam akhirat). Alam akhirat sesungguhnya ialah di mulai dengan kiamat. Allah berfirman dalam surat AlMu'minun (23) ayat 99 100;

Hattaa idzaa jaa-a ahadahumul mautu qaala rabbir ji'uun (99) La'allii a'malu shaalihaan fii maa taraktu kallaa, innahaa kalimatun huwa qaailuhaa wa miw waraa-ihim barzakhun ilaa yaumi yub'atsuun (100) Hingga apabila kematian datang kepada salah seorang di antara mereka (orang kafir), dia berkata, Ya Tuhanku, kembalikanlah aku, (99) supaya aku dapat beramal saleh terhadap sesuatu yang kutinggalkan (dahulunya). (Allah berfirman), Sekali-kali tidak, sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Sedang dihadapan mereka ada dinding yang membatasi hingga pada suatu hari mereka dibangkitkan. (100).

Alam menunggu kebangkitan setelah manusia meninggal disebut juga kubur. Dalam ayat berikut dijelaskan, bahwa alam kubur dan barzah itu identik. Q.S. 'Abasa (80) : 21 - 22;

MKDU4201/MODUL 1

1.39

Tsumma amaatahuu fa aqbarah (21) Tsumma idzaa syaa-a ansyarah (22) kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur. (21) kemudian apabila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya. (22).

Q.S. Al-Hajj (22) : 7;

Wa annas saa-'ata aatiyatul laa raiba fiihaa wa annallaaha yab 'atsu man fil qubuur dan sesungguhnya kiamat itu datang, tiada keraguan padanya dan bahwasanya Allah membangkitkan orang-orang yang di dalam kubur.

Jelaslah bagi kita bahwa keadaan kubur dan alam barzah itu adalah sama. Pengertian kuburan dalam ucapan sehari-hari ialah tempat menyimpan jenazah dalam tanah, tempat istirahat terakhir. Tetapi kadang-kadang ada jenazah yang tidak dikubur, seperti orang meninggal di laut, dimakan binatang, dan terbakar. Dan dalam hal ini jasmaninya memang tidak dikubur, tetapi ruhnya berada di alam barzah. Kubur ditinjau dari segi material ialah meninggalkan alam konkrit (dunia). Barzah dipandang dari aspek ruh yang immaterial menuju alam ghaib (akhirat). Akan tetapi sesungguhnya keduanya sama, yaitu keadaan sesudah meninggal dan sebelum Kiamat. E. SURGA DAN NERAKA Surga Surga berasal dari bahasa Sansekerta: Swargo yaitu kayangan atau indera atau keinderaan yang dipimpin oleh Batara Indera. Sedang Alquran memakai kata Firdaus dan Jannah. Kata Firdaus, disebut dua kali, dalam Surat Al-Kahfi (18) : 107 dan surat Al-Mu'minun (23) : 11. 1.

1.40

Pendidikan Agama Islam

Innal ladziina aamanuu wa 'amiluush shaalihaati kaanat lahum jannaatul firdausi nuzulaa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, adalah bagi mereka surga Firdaus sebagai tempat tinggal. (Al-Kahfi (18) : 107).

Q.S. Al-Mu'minun (23) : 11, menjelaskan;

Alladziina yuritsuunal firdausa hum fiihaa khaaliduun. yang akan mewarisi surga Firdaus, mereka kekal di dalamnya.

Pada umumnya kaum muslim menyebutkan surga dipakai kata jannah. Akar kata jannah ialah Jann, artinya menyembunyikan sesuatu sedemikian rupa, sehingga tidak tertangkap oleh indera. Pengertian harfiah jannah ialah taman (permukaan tanahnya ditutup oleh pepohonan). Alquran mempergunakan kata itu untuk menunjukkan pengertian dalam keberkatan (selamat dan kebaikan) atau salam (selamat dan bahagia) yang dikandungnya. Makna Jannah biasanya dilukiskan (kiasan, atau mutasyabihat) sebagai taman yang indah dengan sungai-sungai yang mengalir di dalamnya. Orang yang hanya memakai pendekatan rasional dan ilmiah (empirisme) akan goncang kepercayaannya terhadap Jannah jika memandangnya yang ada di Hari Kemudian bersifat materi. Q.S. An-Sajadah (32) : 17; menegaskan;

Fa laa ta'lamu nafsum maa ukhfiya lahum min qurrati a'yunin, jazaa-am bimaa kaanu ya'maluun Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka dari penyejuk mata (nikmat) sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.

MKDU4201/MODUL 1

1.41

Adapun ayat-ayat yang mutasyabihat, di antaranya: a.

menunjukkan

kata-kata

yang

sifatnya

Zhillu (naungan, keteduhan, bayangan) Berikut ini keterangan Allah SWT, antara lain; Q.S. Yaasiin (36) : 56;

Hum wa azwaajuhum fii zhilaalin 'alal araa-iki muttaki-uun. Mereka dan pasangan-pasangannya berada dalam tempat yang teduh bersandar di atas pelaminan.

Q.S. Ar-Ra'du (13) : 35 ;

Matsalul jannatil latii wu 'idal muttaquuna tajrii min tahtihal anhaaru ukuluhaa daaimuw wa zhilluhaa tilka 'uqbal ladziinat taqau wa 'uqbal kaafiriinan naar Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa (ialah surga) yang mengalir sungai-sungai di bawahnya; makanannya abadi (tak habis-habisnya) begitu pun naungan-nya. Itulah kesudahan orang-orang yang bertakwa; sedang kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka.

Q.S. Al-Waaqi'ah (56) ; 43 - 44;

Wa zhillim miy yahmuum (43) Laa baaridiw wa laa kariim (44) Dan naungan asap yang hitam, (43) Tidak sejuk dan tidak nyaman (44).

1.42

Pendidikan Agama Islam

Q.S. Al-Mursalat (77) : 30;

Inthaliquu ilaa zhillin dzii tsalaatsi syu'ab Pergilah kamu kepada naungan yang mempunyai tiga cabang.

b.

Rizq (rezeki, pemberian) Q.S. Maryam (19) : 62 - 63; menyebutkan;

Laa yasma'uuna fiihaa laghwan illaa salaamaw wa lahum rizquhum fiihaa bukrataw wa 'asyiyyaa (62) Tilkal jannatul latii nuuritsu min 'ibaadinaa man kaana taqiyyaa. Mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia di dalamnya, melainkan salam. (perkataan yang baik); dan bagi mereka ada rezeki di dalamnya pagi dan petang (62) Itulah surga yang akan Kami berikan kepada hamba-hamba Kami yang takwa". (63).

c.

Tsamarah (buah-buahan) Dalam Q.S. Al-Baqarah (2) : 25; dikatakan:

Wa basysyiril ladziina aamanuu wa amilushshaalihaati anna lahum jannaatin tajrii min tahtihal anhaaru kullamaa ruziquu minhaa min tsamaratir rizqan qaalu haadzal ladzii ruziqnaa min qablu wa utuu bihii mutasyaabihaw wa lahum fiihaa azwaajum muthahkaratuw wahum fiiha khaaliduun.

MKDU4201/MODUL 1

1.43

Dan sampaikanlah kabar gembira kepada mereka yang beriman dan beramal saleh, bahwa bagi mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Setiap kali mereka diberi buah-buahan dalam surga, sebagai rezeki mereka mengatakan, "Inilah rizki yang telah (dijanjikan) kepada kami sejak dahulu. Dan diberi kepada mereka buah-buahan yang serupa dan bagi mereka di dalamnya (tersedia) pasangan-pasangan yang suci dan mereka kekal di dalamnya.

d.

Anhar (sungai) dari air, susu, madu, dan anggur Perhatikan penjelasan Q.S. Muhammad (47) : 15; berikut ini.

Matsalul jannatil latii wu'idal muttaquuna, fiihaa anhaarum mim maa-in ghairi aasiniw, wa anhaarum mil labanil lam yataghayyar tha'muhuu, wa anhaarum min khamril ladzdzatin lisy syaaribiina wa anhaarum min 'asalin mushaffaw wa lahum fiihaa min kullits tsamaraati wa maghfiratum mir rabbihim, ka man huwa khaalidun fin naari wa suquu maa-an hamiiman fa qaththa'a am'aa-ahum. Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa. di dalamnya ada sungai dari air yang tidak berubah, sungai-sungai dari susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat bagi orang yang meminumnya dan sungaisungai dari madu yang bersih, dan bagi mereka di dalamnya bermacam-macam buah-buahan serta ampunan dari Tuhannya; apakah dia itu sama dengan orang yang kekal dalam neraka, dan diberi minum dengan air yang mendidih sehingga terpotong-potong ususnya?.

1.44

Pendidikan Agama Islam

e.

Surur (tahta, singgasana), Namariq (bantal-bantal), Zarabiy (permadani) Berikut ini keterangan dalam surat Q.S. Al-Ghasyiah (88) : 13 - 16;

Fiihaa sururum marfuu'ah (13) Wa akwaabum maudhuu'ah (14) Wa namaariqu mashfuufah (15) Wa zaraabiyyu mabtsuutsah (16) Padanya ada pelaminan-pelaminan yang ditinggalkan, (13) dan piala-piala yang tersedia (14) dan saudara-saudara yang teratur (15) dan permadani-permadani yang terhampar (16).

2.

Neraka Neraka (naraka) pun seperti kata surga, berasal dari bahasa Sansekerta. Neraka adalah lawan surga yaitu tempat orang yang berdosa sebagai hukuman di akhirat. Dalam Alquran neraka disebut dengan tujuh nama yang berbeda-beda antara lain: a. Jahanam, akar katanya sama dengan jahinam, berarti ke dalam yang menghunjam. Istilah ini sering disebut Alquran, antara lain dalam Q.S. Al-Mulk (67): 6; "Orang-orang yang tidak beriman kepada Tuhannya mereka akan memperoleh siksaan neraka Jahanam". Haawiyah, disebut satu kali dalam Q.S. Al-Qaari'ah (101) : 9;

b.

Fa ummuhuu haawiyah Maka tempat kembalinya Haawiyah.

Haawiyah berarti lubang atau tempat yang dalam, yang dasarnya tak tercapai. c. Jahiim, dijabarkan dari jahm berarti terik matahari yang membakar atau nyala api. Q.S, Al-Hadiid (57) : 19; menyebutkan:

MKDU4201/MODUL 1

1.45

Wal ladziina aamanuu billaahi wa rusulihii ulaa-ika humush shiddiiquuna wasysyuhadaa-u 'inda rabbihim lahum ajruhum wa nuuruhum wal ladziina kafaruu wa kadzdzabuu bi aayaatinaa ulaaika ash-haabul jahiim. Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, mereka itu orang-orang yang benar dan orang-orang yang menjadi saksi di sisi Tuhan mereka. Bagi mereka pahala dan cahaya mereka. Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni-penghuni neraka.

Dan lihat Q.S. Al-Infithaar (82) : 14

Wa innal fujjaara la fi jahiim dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka dalam neraka.

d.

Saqar, berasal dari saqara, berarti terik matahari yang membakar. Q.S. Al-Muddatsir (74) : 42; menjelaskan

Ma salakakum fii saqar apakah yang (menyebabkan) kamu masuk ke dalam Saqar?

e.

Sa'ir dan Nar yaitu nyala api dan api. Q.S. An-Nisaa' (4) : 10; mengatakan:

1.46

Pendidikan Agama Islam

Innal ladziina ya'kuluuna amwaalal yataamaa zhulman innamaa ya'kuluuna fii buthuunihim naaraw wa sa yashlauna sa'iiraa. Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara aniaya, sebenarnya yang mereka makan dalam perut mereka adalah api, dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).

f. g.

Laza artinya nyala api. Hutamah, tersebut dalam Alquran Surat Al-Humazah (104) : 4 - 6;

Kallaa la yumbadzanna fil huthamah (4) Wa maa adraaka mal huthamah (5) Naarullahil muuqadah (6) Tidak sekali-kali. Sesungguhnya dia akan dilemparkan ke dalam Hutamah itu? (4) Dan tahukah engkau apakah Hutamah itu? (5) (yaitu) api Allah yang dinyalakan.

Kata Hutama dijabarkan dari hitam yang berarti api yang sangat panas. Surga dihubungkan dengan keadaan yang meningkat tinggi, sedangkan neraka dihubungkan dengan keadaan jatuh ke dalam lubang yang sangat dalam. Kenikmatan surga dan siksa neraka tidak lain adalah akibat laku perbuatan manusia. Apa yang dinikmati dalam surga atau yang dirasakan dalam neraka, tertutup bagi pandangan atau pengetahuan kita sekarang, dan baru akan terbuka pada hari qiamat. Q.S. Ath-Thaariq (86) : 9 - 10; mengatakan;

Yauma tublaas saraa-ir (9) Fa maa lahuu min quwwatiw wa laa naashir (10) Pada hari semua rahasia di buka (9) maka tidaklah bagi manusia suatu kekuatan dan tidak penolong. (10).

MKDU4201/MODUL 1

1.47

Manusia pada hari kiamat akan mempertanggungjawabkan semua perbuatannya ketika hidup di dunia. Perhatikan dengan teliti penjelasan Q.S. Qaaf (50) : 22; ini:

La qad kunta fii ghaflatim min haadzaa fa kasyafnaa 'anka ghithaaaka fa basharukal yauma hadiid. Sesungguhnya engkau berada dalam kelalaian tentang ini. Maka Kami bukakan darimu apa yang menutupimu maka penglihatanmu hari ini sangat tajam

Siksaan batin dan kedukaan jiwa yang dalam waktu hidupnya tidak begitu dihiraukan akan menjadi kenyataan dalam kehidupan hari akhirat. Bentuk yang nyata itu berupa api. Q.S. Al-Humazah (104) : 6 - 7; menjawabnya dengan kata-kata:

Naarullahil muuqadah (6) Allatii taththali'u alal af-idah (7) (yaitu) api Allah yang dinyalakan. (6); yang sampai ke hati. (7).

Dan api itu diakibatkan oleh hawa nafsu yang tak kenal batas. Penyesalan terhadap perbuatan yang salah itu dinyatakan pula dengan api. Simak penjelasan Q.S. Al-Baqarah (2) : 167; berikut ini:

Wa qaalal ladziinat taba'uu lau anna lanaa karratan fa natabarra-a minhum kamaa tabarra-uu minnaa ka dzaalika yuriihimullaahu a'maalahum hasaraatin 'alaihim wa maa hum bi khaarijiina minan naar.

1.48

Pendidikan Agama Islam

Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: "Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan terlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka terlepas diri dari kami. Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan mereka tidak akan ke luar dari api neraka".

Api atau neraka adalah akibat dari kejahatan masing-masing pribadi manusia yang hanya selalu mengikuti kehendak hawa nafsunya untuk melakukan perbuatan negatif. L A TIH A N Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut! 1) Alam insani berbeda dengan alam hewani, jelaskan! 2) Insan atau manusia akan dapat hidup bahagia apabila terpelihara pokokpokok keutamaannya. Jelaskan pokok-pokok keutamaan tersebut! 3) Abu Musa Al-Asy'ari melukiskan bahwa kehidupan manusia adalah kekal. Coba uraikan pendapat Al-Asy'ari ini! Petunjuk Jawaban Latihan Sebagai petunjuk untuk mengerjakan latihan di atas, coba Anda perhatikan hal-hal berikut: 1) Untuk menjawab soal nomor satu ini, pertama-tama Anda harus memahami arti kata insan dan hewan serta sifat-sifat yang terkandung dalam arti itu. Alam insani dan hewani ini dapat dipahami dengan jelas apabila kedudukan manusia dan hewan serta hubungan antara keduanya dimengerti dan dipahami. 2) Untuk menjawab soal nomor 2, pertama-tama harus dimengerti dan dipahami perbedaan antara alam hewani dan alam insani. Pokok-pokok keutamaan hidup tersebut merupakan suatu keharusan (conditio sine quanon) bagi kesempurnaan dan kebahagiaan manusia (insan). Di

MKDU4201/MODUL 1

1.49

samping itu perlu juga dipahami kedudukan, tugas, dan peranan manusia di alam ini. 3) Soal nomor 3 ini dapat dipahami, pertama-tama harus dimengerti bahwa kehidupan alam dunia, kubur dan alam akhirat merupakan rentetan jenjang; sebagaimana tertera dalam Alquran Surat Al-Qiyamah (75) : 3640; Al-Baqarah (2) : 28; Al-Kahfi (18) : 103 - 108. RA NGK UMA N Alam semesta ini diciptakan oleh Allah dan diisi dengan beberapa jenis makhluk di antaranya adalah nabati (tumbuh-tumbuhan), hewani (hewan) dan insani (manusia). Makhluk-makhluk tersebut hidup dari mengembangkan keturunannya atas dasar pola yang diberikan oleh Allah. Pola pada masing-masing jenis makhluk tersebut berbeda. Perbedaan itu bersifat gradual, karena adanya potensi yang berbeda. Manusia mempunyai potensi yang berbeda dengan tumbuhtumbuhan dan hewan. Potensi-potensi manusia dapat tumbuh dan berkembang dengan sempurna, sehingga mencapai tingkat kebahagiaan dan kesempurnaan hidup karena manusia diberi keutamaan-keutamaan yaitu: 1. diturunkan agama; 2. diberi jiwa; 3. diberi akal; 4. diberi keturunan; dan 5. harta. Dengan keutamaan-keutamaan yang ada pada manusia tersebut, maka wajar apabila manusia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Pertanggungjawaban kehidupan manusia diperoleh melalui kehidupan dunia, mati, alam kubur/alam barzah, kebangkitan sesudah mati dan kehidupan akhirat. Rentetan panjang yang harus dialami manusia sebagai makhluk yang utama ini tidak akan dipunyai oleh tumbuh-tumbuhan dan hewan. Oleh karena itu alam nabati, hewani dan alam insani mempunyai ciri-ciri tersendiri. Alam barzah dan akhirat bersifat ghaib. Surga dan neraka berada di alam akhirat, karena itu bersifat ghaib juga. Informasi tentang akhirat, surga, neraka dapat diperoleh melalui Alquran.

1.50

Pendidikan Agama Islam

TES FORMATIF 2 Pilihlah satu jawaban yang paling tepat! 1) Alam nabati (tumbuh-tumbuhan) diciptakan Allah di bumi ini dengan tujuan bahwa tumbuh-tumbuhan diciptakan Allah untuk .... A. manusia dan makhluk-makhluk lain B. menjaga keseimbangan kehidupan alam C. hanya sebagai bukti kebesaran kekuasaan Allah D. tumbuh dan berkembang baik sebagai bukti adanya Allah 2) Apabila manusia melakukan pelanggaran dengan alasan tidak sengaja dan lupa, maka .... A. dibebaskan dari hukum B. tidak dikenakan hukuman betapa pun melakukan pelanggaran itu dengan alasan lupa atau tidak sengaja C. manusia yang melakukan pelanggaran dengan alasan tidak sengaja dan lupa, ia tidak dikenakan sanksi hukum dunia, tetapi yang bersangkutan tetap tercela D. manusia yang melakukan pelanggaran karena tidak sengaja dan lupa, yang bersangkutan tidak berdosa, hanya harus membayar denda 3) Perbedaan alam insani dengan hewani dan makhluk-makhluk lain di dunia ini adalah .... A. status antara manusia (insani), hewan dan tumbuhan B. keadaan, kejadian, dan penghidupannya C. pokok-pokok keutamaan yang dimiliki manusia sebagai wakil Allah di dunia (Khalifah Allah) D. manusia, kejadian, tugas, dan pola hidup 4) Kehidupan manusia menurut pendapat Al-Asy'ari adalah .... A. tidak kekal, karena manusia dapat mati B. kekal, hanya dipindah-pindah C. kekal, akan tetapi hidupnya berpindah-pindah D. melalui proses alam dunia, alam barzah dan alam akhirat 5) Alam barzah adalah tempat pemberhentian arwah orang-orang yang meninggal pra dibangkitkan oleh Tuhan dalam bentuk baru. Perbedaan antara alam barzah dan kubur adalah .... A. cukup besar karena alam kubur berarti kuburan, tempat penguburan mayat, sedang barzah tempat ruh

MKDU4201/MODUL 1

1.51

B. keduanya sama, kuburan dalam pengertian sehari-hari tempat jenazah, alam barzah tempat arwah orang-orang setelah melalui proses mati C. identik. Kedua-duanya merupakan tempat penantian arwah orangorang yang meninggal untuk dibangkitkan kembali guna memasuki alam akhirat D. bersifat ghaib, karena itu sulit dimengerti, sehingga sulit untuk dijelaskan 6) Pengertian surga (jannah) menurut Islam sama dengan pengertian swarga (kayangan) menurut bahasa Sansekerta yakni .... A. keduanya mempunyai arti yang sama B. kata Jannah mempunyai arti yang berbeda dengan kayangan atau swarga C. dalam tingkat, sehingga perbedaannya bersifat gradual D. surga (jannah) adalah kehidupan akhirat yang tidak ada ekivalennya dengan kehidupan dunia, sedang kata swarga adalah tempat yang penuh kenikmatan dan bagus 7) Jannah itu biasanya dilukiskan Alquran dengan sungai-sungai yang mengalir di dalamnya. Pernyataan ini menunjukkan .... A. kehidupan jannah adalah kehidupan inderawi, yang digambarkan dengan keadaan kehidupan yang pernah ada di dunia B. lukisan dalam Alquran tersebut bersifat kiasan, yang perlu penafsiran lain C. kehidupan jannah dapat terjadi dalam bentuk inderawi yang tidak sepenuhnya D. gambaran surga dengan arti inderawi adalah kiasan bahwa kehidupan jannah merupakan kehidupan pasca akhirat yang tidak bersifat inderawi 8) Tumbuh-tumbuhan, binatang, dan planet-planet adalah makhluk Allah. Maksud pernyataan ini adalah para makhluk itu .... A. tunduk dan bersujud kepada Allah B. bergerak atas dasar hukum alam C. bergerak atas dasar sunnatullah, tetapi mereka tidak sujud kepada Allah D. berevolusi dan bergerak menurut hukumnya sendiri 9) Tindakan yang seharusnya dilakukan oleh orang mukmin terhadap hasil yang diperoleh melalui tanam-tanaman (buah-buahan), binatang ternak dan rezeki-rezeki yang lain adalah ....

1.52

Pendidikan Agama Islam

A. perlu dinikmati karena memang itu jerih payahnya B. dipergunakan sendiri, tidak perlu menghiraukan orang lain C. perlu dinikmati secukupnya. Akan tetapi bila perlu memberikan sebagian kecil penghasilan tersebut kepada orang yang memerlukan D. memanfaatkan hasil-hasil tersebut, dengan tidak lupa membersihkan harta dengan memberikan zakat dan sadaqah kepada fakir miskin 10) Surga (Firdaus) itu diciptakan Allah untuk .... A. orang yang beriman dan beramal shaleh B. orang yang berbuat baik C. orang yang jujur D. para nabi dan rasul serta para wali

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 2.
Jumlah Jawaban yang Benar Jumlah Soal 100%

Tingkat penguasaan =

Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali 80 - 89% = baik 70 - 79% = cukup < 70% = kurang Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan dengan Kegiatan Belajar 3. Bagus! Jika masih di bawah 80%, Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 2, terutama bagian yang belum dikuasai.

MKDU4201/MODUL 1

1.53

Kegiatan Belajar 3

Manusia

anusia dalam pandangan paham materialisme adalah kumpulan daging, urat, tulang, urat-urat darah dan alat pencernaan. Akal dan pikiran dianggapnya benda, yang dihasilkan oleh otak. Mereka hanya mempercayai adanya benda-benda yang dapat diraba. Oleh karena itu dalam anggapan mereka, tidak ada keistimewaan manusia dibanding dengan makhluk lain yang hidup di muka bumi ini. Bahkan paham ini memasukkan manusia ke dalam bangsa kera, yang setelah melalui masa panjang, berevolusi menjadi manusia sebagai kita lihat sekarang ini. Inilah teori evolusi atau teori kondensasi, bahwa hayat berasal dari jenis hewan dan sepertiga juta jenis tanaman. Binatang satu sel sebagai awal evolusi dan manusia adalah akhir (sementara) evolusi itu. Pandangan ini menimbulkan anggapan, bahwa manusia adalah makhluk yang rendah dan hina, sama dengan hewan, yang hidupnya hanya untuk memenuhi keperluan dan kepuasan kebendaan semata. Pandangan hidup semacam ini sangat sesat dan menyesatkan. Dalam Q.S. Al-Jatsiyah (45) : 24; Allah SWT. mengecam/ mengkritik dengan keras paham materialisme ini.

Wa qaaluu maa hiya illa hayaatunad dun-yaa namuutu wa nahyaa wa maa yuhlikunaa illaad dahru wa ma lahum bidzaalika min 'ilmin, in hum illaa yazhunnuun. Dan mereka berkata: Tiadalah kehidupan itu melainkan kehidupan melainkan kehidupan kita di dunia ini (saja), kita mati dan hidup, dan tiadalah membinasakan kita kecuali masa. Dan mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga

Dalam pandangan orang yang beriman, manusia itu makhluk yang mulia dan terhormat di sisi Tuhan yang diciptakan dalam bentuk yang amat baik.

1.54

Pendidikan Agama Islam

Sesudah ditiupkan Ruh ke dalam tubuhnya, para malaikat disuruh sujud (memberi hormat) kepadanya. Allah memberi manusia ilmu pengetahuan dan kemauan, dijadikan khalifah (penguasa) di bumi, serta menjadi pusat pelaku kegiatan di alam ini. Segala apa yang dilangit dan di bumi bekerja untuk kepentingan manusia dan kepadanya diberikan hikmat lahir dan batin. Kesimpulannya, apa yang ada di alam ini adalah berhidmat kepada manusia dan diciptakan manusia untuk berhikmat kepada Tuhan. Allah SWT menjelaskan dalam Q.S. Al-Baqarah (2) : 29;

Huwal ladzii khalaqa lakum maa fil ardhi jamii'an tsummas tawaa ilas samaa-i fa sawwaahunna sab'a samaawaatiw wa huwa bi kulli syai-in 'aliim. Dialah Allah yang telah menciptakan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit lalu disempurnakan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Q.S. Adz-Dzaariyaat (51) : 56;

Wa maa khalaqtul jinna wal insa illa liya'buduun. Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku".

Untuk menambah pemahaman yang lebih luas dan mendalam pembahasan selanjutnya kita mencoba melihat manusia dari berbagai aspek. A. MANUSIA MAKHLUK BERAKAL Dalam diri manusia terdapat sesuatu yang tidak ternilai harganya sebagai anugerah Tuhan yang tidak diberikan kepada makhluk lainnya, yaitu akal. Sekiranya manusia tidak diberikan akal, niscaya keadaan dan perbuatannya akan sama saja dengan hewan.

MKDU4201/MODUL 1

1.55

Dengan adanya akal, manusia berarti dan berharga. Akal itu dapat digunakan untuk berpikir dan memperhatikan segala benda dan barang yang ada di alam ini, sehingga benda-benda dan barang-barang yang halus serta tersembunyi dapat dipikirkan manfaatnya. Tidak ada benda atau barangbarang di dunia ini yang sia-sia bagi manusia. Mengenai pemberian akal terhadap manusia, Allah telah berfirman dalam Surat An-Nahl (16), ayat 78;

Wallaahu akhrajakum mim buthuuni ummahaatikum laa ta'lamuuna syai-aw wa ja 'ala lakumus sam'a wal abshaara wal af-idata la'allakum tasykuruun. Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu sedang kamu tidak mengetahui sesuatu dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati supaya kamu bersyukur.

Oleh karena itulah Allah menyuruh manusia untuk berpikir atau menggunakan akal. Seandainya akal tidak dipergunakan untuk berpikir, tidak akan ada manfaatnya bagi manusia. B. TIMBULNYA ILMU PENGETAHUAN Lahirnya ilmu pengetahuan disebabkan kebutuhan-kebutuhan manusia yang berkemauan hidup berbahagia. Dalam mencapai dan memenuhi kebutuhan hidupnya itu, manusia menggunakan akal pikirannya. Mereka menengadah ke langit, memandang alam sekitarnya dan melihat dirinya sendiri. Dalam hal ini memang telah menjadi qudrat dan iradah Tuhan, bahwa manusia dapat memikirkan sesuatu kebutuhan hidup untuk mempertahankan dan mengembangkan generasinya. Adapun ayat-ayat Alquran yang menyuruh berpikir, antara lain Q.S. Yunus (10): 101;

1.56

Pendidikan Agama Islam

Qulin zhuruu maadzaa fis samaawaati wal ardhi wa maa tughnil aayaatu wan nudzuru'an qaumil laa yu'minuun. Katakanlah: "Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang beriman".

Q.S. Ar-Ruum (30) : 8;

A walam yatafakkaruu fii anfusihim maa khalaqallaahus samaawaati wal ardha wa maa bainahumaa illaa bil haqqi wa ajalim musammaw, wa inna katsiiram minan naasi bi liqaa-i rabbihim la kaafiruun. Dan tidakkah mereka memikirkan tentang diri mereka? Allah tiada menjadikan langit dan bumi dan apa-apa di antara keduanya melainkan dengan sebenarnya dan waktu tertentu. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia ingkar terhadap pertemuan dengan Tuhannya.

Dari hasil pemikiran manusia itu, maka lahirlah beberapa ilmu pengetahuan antara lain: Ilmu Pertanian, Perikanan, Humaniora, Kesehatan, Hukum, Sosial, Bahasa, Matematika, Alam, Teknologi, dan lain-lain. Ilmu pengetahuan itu bukan musuh atau lawan dari iman, melainkan jalan yang membimbing ke arah keimanan. Sebagaimana diketahui, bahwa banyak ahli ilmu pengetahuan yang berpikir mendalam. Mereka yakin bahwa di balik alam yang nyata ini ada kekuatan yang lebih tinggi, yang mengatur dan menyusunnya, serta memelihara segala sesuatu dengan ukuran dan perhitungan. Herbert Spencer (1820 1903 M) dalam tulisannya tentang pendidikan, menerangkan sebagai berikut.

MKDU4201/MODUL 1

1.57

"Pengetahuan itu berlawanan dengan khurafat, tetapi tidak berlawanan dengan agama. Dalam kebanyakan ilmu alam sering terjadi paham tidak bertuhan (atheisme), tetapi pengetahuan yang sehat dan mendalami kenyataan, bebas dari paham yang demikian itu. Ilmu alam tidak bertentangan dengan agama. Mempelajari ilmu itu merupakan ibadat secara diam, dan pengakuan yang membisu tentang keindahan sesuatu yang kita selidiki dan pelajari, serta pengakuan tentang kekuasaan Penciptanya. Mempelajari ilmu alam itu tasbih (memuji Tuhan) tapi bukan ucapan, melainkan tasbih berupa alam dan menolong bekerja. Pengetahuan ini bukan mengatakan mustahil akan memperoleh sebab yang pertama, yaitu Allah". "Seorang ahli pengetahuan yang melihat setitik air, lalu dia mengetahuinya bahwa air itu tersusun dari oksigen dan hidrogen dengan perbandingan tertentu, dan kalau sekiranya perbandingan itu berubah, niscaya air itu akan berubah pula menjadi sesuatu yang bukan air. Maka dengan itu dia akan meyakini kebesaran Pencipta, kekuasaan dan kebijaksanaanNya. Sebaliknya orang yang bukan ahli dalam ilmu alam, akan melihatnya tidak lebih dari setitik air".

Ilmu pengetahuan yang dilimpahkan Allah kepada manusia adalah sangat sedikit, tetapi kebanyakan manusia menganggap ilmu yang dimilikinya sangat banyak sehingga mereka menjadi sombong. Q.S. Al-Israa' (17) : 85; mengingatkan:

Wa maa uutiitum minal 'ilmi illaa qaliilaa. "Dan kamu tidak diberi ilmu melainkan sedikit".

C. HAK DAN KEWAJIBAN MANUSIA Hak adalah imbalan dari kewajiban-kewajiban yang telah ditunaikan. Yang dimaksud dengan kewajiban di sini ialah kewajiban seseorang untuk melakukan perbuatan yang di dalamnya terdapat hak orang lain. Untuk lebih jelasnya akan dibahas pada Modul 5 kegiatan belajar 1. Hukum Islam memberi 4 empat macam hak terhadap manusia yaitu: 1. hak Tuhan; 2. hak diri sendiri;

1.58

Pendidikan Agama Islam

3. 4. 1.

hak orang lain; hak atas harta. Hak Tuhan Petama, yang penting ialah mengimami dan tidak menyekutukan-Nya. Kedua, kita harus menerima petunjuk-Nya. Ketiga, kita harus mentaati-Nya yang dinyatakan dengan ketundukkan pada hukum-Nya. Keempat, kita harus menyembah-Nya sebagaimana dijelaskan dalam Alquran Surat Adz-Dzaariyaat (51) : 56;

Wa maa khalaqtul jinna wal insa illa liya'buduun. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.

2.

Hak terhadap diri sendiri Hak terhadap diri sendiri ialah hak pribadi seseorang yang meliputi hak jasmani dan ruhani. Hak jasmani ialah suatu kebutuhan dari jasmani, seperti makan dan minum. Islam mengajarkan, bahwa dalam makan dan minum hendaknya yang halal dan baik (halaalan thaiba). Oleh karena itu Islam melarang kita makan dan minum yang haram, kotor serta yang merusak kesehatan seperti minuman yang memabukkan, memakan daging babi, barang beracun, binatang yang kotor dan bangkai, karena semua benda-benda tersebut mempengaruhi manusia dari hal-hal yang merusak kesehatan, moral, pikiran dan ruhani. Hak ruhani ialah suatu kebutuhan ruhani seperti perasaan aman, dan ketenangan batin. Islam mengajarkan untuk memperoleh ketenangan (batin) dengan cara beriman dan bertakwa serta berserah diri kepada Allah. Pada kondisi tertentu barangkali dapat terjadi tidak seimbang antara pemenuhan kebutuhan ruhani dan jasmani. Dalam hal ini Islam melarang untuk melakukan jalan pintas seperti mencuri, dan bunuh diri. 3. Hak orang lain Hak orang lain adalah hak untuk memenuhi kebutuhan pribadi tanpa mengganggu hak orang lain. Hak terhadap orang lain dapat terlihat dalam

MKDU4201/MODUL 1

1.59

bentuk adanya larangan mencuri, merampas, menyogok, menipu, khianat, mengijon dan riba, karena rejeki yang diperoleh dengan jalan tersebut akan merugikan orang lain. Bergunjing, memfitnah, menyebarkan berita bohong, juga dilarang. Selain itu berjudi, spekulasi dan semua permainan yang berdasarkan untung-untungan, tidak diperbolehkan dengan alasan dapat merugikan hak orang lain. 4. Hak atas harta Hak atas harta adalah hak untuk memelihara dan memanfaatkan harta yang diberikan Allah sesuai dengan ketentuanNya. D. MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH DI DUNIA Tidak ada keraguan bahwa Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi dengan maksud agar mereka menjadi penguasa untuk mengatur dan mengendalikan bumi beserta segala isinya dengan mengindahkan semua ketentuan yang sudah ditetapkan-Nya. Maka di tangan manusialah terletak kemakmuran bumi dan ketenteramannya. Sebagai pedoman hidup mereka dalam mengelola dan melaksanakan tugas kekhalifahan itu, Allah menurunkan agama. Dengan petunjuk agama manusia dapat menjalankan tugasnya, sebab agama menjelaskan dua jalan, yaitu jalan yang bahagia dan jalan yang akan membahayakan. Jalan yang membahagiakan diperintahkan untuk dilaksanakan, sedang jalan yang membahayakan diperintahkan untuk menjauhinya. Mengenai manusia dijadikan sebagai khalifah di bumi, dinyatakan dalam Alquran, Surat Al-Baqarah (2) : 30;

Wa idz qaala rabbuka lil malaaikati innii jaa'ilun fil ardhi khalifatan qaaluu a taj'alu fiihaa may yufsidu fiihaa wa yusfikud dimaa-a wa nahnu nusabbihu bihamdika wa nuqaddisu laka qaala innii a'lamu maa laa ta'lamuun. Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka

1.60

Pendidikan Agama Islam

bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di muka bumi itu orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah padanya, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji dan menyucikan Engkau"? Tuhan berfirman, "Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".

Kemudian dijelaskan pula dalam: Q.S. Al-An'am (6) : 165; berbunyi:

Wa huwal ladzii ja-'alakum khalaa-ifal ardhi wa rafa'a ba'dhakum fauqa ba'dhin darajaatil li yabluwakum fii maa aataakum inna rabbaka sarii'ul 'iqaab wa innahuu la ghafuurur rahiim. Dan Dialah yang menjadikan kamu pemimpin-pemimpin di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebahagian kamu atas sebahagian beberapa derajat untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu engkau amat cepat memberikan siksaan, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

L A TIH A N Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut! 1) Apa yang Anda ketahui tentang manusia? Jelaskan! 2) Manusia mempunyai hak dan kewajiban. Terangkan apa arti dari kedua kata tersebut, serta hak-hak apa saja yang diberikan kepada manusia menurut Islam. 3) Mengapa Islam (Syariat Islam) melarang manusia berbuat bohong? Jelaskan!

MKDU4201/MODUL 1

1.61

Petunjuk Jawaban Latihan Sebagai petunjuk untuk mengerjakan latihan di atas, coba Anda perhatikan hal-hal berikut: 1) Untuk menjawab soal nomor 1 ini, pertama-tama Anda harus memahami manusia dalam pandangan materialisme (kebendaan), sebagaimana disinyalir Alquran surat Al-Jatsiyah (45) : 24, kemudian perlu dipahami bagaimana proses penciptaan manusia sebagai khalifah Allah yang dibekali dengan akal, budi, dan ilmu. 2) Untuk soal 2 ini dapat dijawab dengan meninjau manusia dari sudut hak dan kewajibannya, serta kedudukan manusia sebagai makhluk dan khalifah Allah di dunia. Dalam hal ini, maka perlu dikaji bagaimana hubungan manusia dengan Tuhan, dengan diri sendiri, dan sesama manusia serta makhluk-makhluk selain manusia. 3) Latihan nomor 3 dapat dijawab dengan memahami hak manusia terhadap diri sendiri dan hak terhadap orang lain. RA NGK UMA N Manusia ialah makhluk yang utama dan terutama di antara semua makhluk yang ada. Keutamaan manusia dapat dilihat dengan adanya potensi-potensi yang dimiliki oleh manusia, yang tidak terdapat pada makhluk lain. Dengan kelebihan itu manusia dijadikan sebagai khalifah Allah di bumi. Kedudukan manusia sebagai khalifah Allah inilah, yang menjadikan mereka mempunyai sejumlah hak dan kewajiban. Hak di sini adalah suatu imbalan dari kewajiban-kewajiban yang telah ditunaikannya. Kewajiban dalam konteks dengan hukum Islam, berarti pekerjaan yang akan mendapat sanksi hukum apabila ditinggalkan. TES FORMATIF 3 Pilihlah satu jawaban yang paling tepat! 1) Manusia dalam pandangan kebendaan atau paham materialisme berbeda dengan Islam. Menurut Islam, manusia adalah .... A. makhluk Allah yang diturunkan ke dunia B. khalifah Allah, sebagai pelaksana hukum Islam

1.62

Pendidikan Agama Islam

C. makhluk Allah, yang ditugasi untuk beribadah kepadaNya D. jujur dan disiplin 2) Hak seseorang terhadap orang lain menurut Islam adalah .... A. beribadah kepada Allah B. menerima takdir Allah C. harus berusaha dan berikhtiar D. jujur dan disiplin 3) Hak seseorang terhadap diri sendiri menurut Islam adalah .... A. memenuhi kebutuhan diri sendiri tanpa memperhatikan kepentingan orang lain B. berbuat sesuai dengan peraturan yang ditetapkan oleh negara C. memenuhi keinginan diri sendiri, dengan tidak merugikan orang lain D. tidak melanggar peraturan atau kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat 4) Tujuan hukum (syariat) Islam bagi manusia adalah .... A. mengatur tata hidup dan pergaulan manusia B. agar menjadi muslim sejati C. agar manusia dapat masuk surga D. kebahagiaan manusia itu sendiri 5) Bunuh diri dilarang oleh ajaran Islam dengan alasan .... A. bersikap tanpa harapan atau frustasi B. melanggar atas hak terhadap diri sendiri C. merugikan orang lain D. melawan takdir 6) Hak manusia atas harta adalah .... A. hak yang ada pada harta tersebut B. kewajiban yang ditunaikan terhadap harta yang dimiliki C. mempergunakan harta sepatutnya D. memelihara dan memanfaatkan harta di jalan Allah 7) Khalifah Allah adalah .... A. penguasa dan pengatur bumi untuk dan atas nama Allah B. rasul Allah di dunia C. hamba yang taat kapada Allah D. mukmin dan muslim yang konsekuen

MKDU4201/MODUL 1

1.63

8) Tugas manusia sebagai khalifah Allah adalah .... A. memakmurkan dan menciptakan ketenteraman di dunia atas petunjuk agama Allah B. menjauhi larangan dan melaksanakan perintahNya C. melaksanakan rukun Islam D. beribadah 9) Fungsi Ilmu Pengetahuan dalam hubungannya dengan Iman adalah .... A. penjabaran cara melaksanakan keimanan dalam kehidupan seharihari B. menjelaskan pentingnya keimanan bagi kehidupan manusia C. menanamkan keimanan D. petunjuk jalan yang membimbing ke arah keimanan 10) Dalam rangka memenuhi hak Allah manusia berkewajiban .... A. berbakti kepada Allah B. mengamalkan agama Allah C. mengimani dan tidak menyekutukan Allah D. bertakwa dan tidak menyekutukannya

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 3 yang terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 3.
Jumlah Jawaban yang Benar Jumlah Soal 100%

Tingkat penguasaan =

Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali 80 - 89% = baik 70 - 79% = cukup < 70% = kurang Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan modul selanjutnya. Bagus! Jika masih di bawah 80%, Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 3, terutama bagian yang belum dikuasai.

1.64

Pendidikan Agama Islam

Kunci Jawaban Tes Formatif


Tes Formatif 1 1) B hal ini tidak terlalu sulit untuk dimengerti, karena memang fenomena kehendak Allah adalah berasal dari Allah dan Alquran juga berasal dari Allah. Kedua-duanya merupakan perwujudan iradah Allah. Oleh karena itu mustahil kalau iradah itu bertentangan. 2) C dalam ajaran Islam ada dua pilihan besar, yaitu yang diciptakan (makhluk) dan Pencipta (Khalik). Pencipta ialah Allah SWT. 3) A Allah bukan hanya menciptakan makhluk di alam semesta saja, akan tetapi juga mengaturnya. 4) A dalam Alquran dijelaskan bahwa Allah di samping Pencipta (Khaliq) juga Pemelihara (Rab). Oleh karena itu tiap penciptaan selalu dilengkapi dengan hukum yang mengatur penciptaan tersebut. 5) D untuk mengetahui ini, maka perlu disimak asal-usul kejadian makhluk. Selanjutnya perlu disimak pula Firman Allah dalam Q.S. An-Nisa' (4) : 1, dan Q.S. Al-Hujurat (9) : 13. Dari sini jelas, bahwa manusia di dunia ini berasal dari Adam. 6) B perbuatan itu dilakukan lazimnya melalui proses pemilihan yang didasarkan pertimbangan pikiran/akal, budi. Untuk memperoleh pertimbangan akal budi yang baik, maka akal perlu dibimbing oleh iman dan dibekali ilmu. 7) C untuk mengetahui hal ini, perlu diketahui dahulu sistem kerja ilmu sihir, apa tujuan orang-orang menjalankan sihir dan siapa yang berperan dalam kerja sihir itu, serta bagaimanakah kedudukan/peran orang yang melaksanakan ilmu sihir itu? Dalam sihir nampak, bahwa orang berbuat dengan minta tolong dan berserah diri kepada setan. Kerja setan dapat dilihat dalam Surat An-Nisa (4) : 118 - 121. 8) B jawaban yang tepat untuk nomor 8 ini akan diperoleh apabila dipahami, bahwa malaikat adalah makhluk ghaib hakiki. Salah satu ciri bagi orang mukmin adalah harus mempercayai hal yang ghaib, termasuk malaikat. Untuk mengetahui dan memahami para malaikat tersebut pertama harus mengimani, selanjutnya perlu mengikuti apa yang ditujukan Alquran. 9) D penerima wahyu nabi/rasul. Nabi atau rasul ialah manusia biasa. Kemampuan penerimaan seseorang lazimnya melalui indera maupun mata hati. Apabila Tuhan memberikan wahyu kepada nabi

MKDU4201/MODUL 1

1.65

10) B

secara langsung, berarti Tuhan/Allah inderawi. Padahal Allah itu Maha Suci, Maha Agung, Esa dan tidak terikat oleh ruang dan waktu. hal ini dapat dimengerti apabila dipahami bahwa alam ghaib idhafi adalah medan ilmu dan budaya, hanya saja belum diteliti. Oleh karena itu suatu saat alam ghaib idhafi dapat dijangkau oleh ilmu, yang sekaligus inderawi. Sebaliknya alam ghaib hakiki tidak dapat dipahami begitu saja melalui pengalaman inderawi tetapi perlu melalui renungan akal dan batin yang dibimbing agama.

Tes Formatif 2 1) A Allah menciptakan sesuatu tidaklah sia-sia. Hal ini dapat dilihat dalam Alquran Surat Al-Hijr (15) : 21 - 22, An-Nahl (16) : 10 - 11, Asy-Syura (26) : 7, Luqman (31) : 10. Dari ayat-ayat ini jelas kedudukan tumbuh-tumbuhan dalam hubungannya dengan hewan dan manusia. 2) A Orang yang lupa atau tidak sengaja adalah ke luar dari kontrol kesadarannya. Kedudukan perbuatan karena lupa dan tidak sengaja dapat dilihat dalam hadits yang diriwayatkan oleh At-Thabrani dan Ibnu Hayyan dari Ibnu Abbas. 3) C untuk menjawab nomor 3 ini, perlu dimengerti adanya keistimewaan manusia dan pokok-pokok keutamaan yang tidak dipunyai oleh makhluk lain. 4) B jawaban ini dapat dipahami, bahwa manusia mengalami proses lahir, mati, kemudian masuk alam barzah, selanjutnya dibangkitkan di akhirat untuk menerima balasan baik/buruk dari amal perbuatannya di dunia. Lihat Alquran Surat Al-Qiyamah (75) : 36 - 40, Al-Baqarah (2) : 28 dan Al-Kahfi (18) : 103 - 108. 5) C untuk memahami soal ini dan diperoleh jawaban yang tepat, perlu diketahui dan dipahami informasi Alquran tentang alam barzah maupun alam kubur, sebagaimana tersebut dalam surat AlMu'minun (23) : 99 - 100, Abassa (80) : 21 22, dan Al-Hajj (22) : 7. 6) D hal ini mudah saja dipahami apabila kita berpikir, bahwa Jannah, atau kehidupan Jannah diperoleh sesudah kurun akhirat. Lihat Alquran Surat As Sajdah (32) : 17 dan hadits Qudsy yang

1.66

Pendidikan Agama Islam

7) D 8) A

9) D

10) A

menyatakan, bahwa Allah telah menyediakan kenikmatan bagi orang yang mu'min, yang belum pernah dilihat oleh kepala maupun dibayangkan oleh pikiran. Swarga/kayangan atau keinderaan, tempat Batara Indera. Pengertian kayangan ini bersifat inderawi, terutama pada agama Hindu. ini dapat dimengerti dengan mengkaji Alquran surat Al-Baqarah (2) : 25; ini mudah saja dipahami, bahwa makhluk diciptakan oleh Allah, dilengkapi dengan hukum/peraturan yang disebut Sunnatullah. Oleh karena itu mereka bergerak atas dasar Sunnatullah tadi. Selanjutnya perhatikanlah Alquran Surat Al-Hajj (22) : 18. penghasilan, rezeki, atau harta menurut Islam tidak hanya mempunyai nilai ekonomi saja, tetapi juga nilai sosial. Oleh karena itu ada sebagian dari harta yang dimiliki itu merupakan hak orang yang tidak punya/memerlukan. Ini dapat dilihat dalam Alquran Surat Al-Anam (6) : 141 - 145. lihat Alquran Surat Al-Kahfi (18) : 107 dan Al-Mukminun (23) : 11.

Tes Formatif 3 1) C untuk menjawab tes nomor 1 ini perlu dipahami kedudukan manusia di dunia, dan hubungannya dengan Allah, diri sendiri, dan sesama makhluk lain. Dalam hubungan ini perlu dipahami petunjuk Alquran Surat Al-Jatsiah (45) : 24, Al-Baqarah (2) : 29 - 30, Adz-Dzaariyaat (51) : 56, An-Nahl (16) : 78. 2) D untuk ini perlu diketahui tutur Alquran sebagaimana tersebut dalam Alquran Surat Adz-Dzaariyaat (51) : 56. 3) C hal ini tidak sulit untuk dipahami. 4) D ini mudah dipahami mengingat syariat Islam menasihatkan manusia akan hak-hak dan kewajiban; seperti menjaga hak diri sendiri, yang meliputi hak jasmani dan hak ruhani. 5) B ini dapat dipahami mengingat, bahwa diri manusia mempunyai hak dan kewajiban. Bunuh diri, berarti melanggar hak fisik ruhani dan meninggalkan kewajiban yang harus dilaksanakan terhadap fisik dan ruhani. 6) D jawaban ini mudah saja dipahami, bahwa harta yang diberikan oleh Allah tidak semata-mata bernilai ekonomi, tetapi juga bernilai

MKDU4201/MODUL 1

1.67

7) A

8) A

9) D

10) C

sosial. Oleh karena itu memelihara dan membelanjakannya harus berada dalam ketentuan untuk memperoleh ridha Allah. ini dapat dipahami mengingat, bahwa Allah mengangkat manusia sebagai Khalifah melalui proses seleksi (lihat Alquran Surat AlBaqarah (2) : 30 - 31) dan Al-An'am (6) : 165. untuk menjawab pertanyaan ini perlu dipahami pengertian Khalifah Allah. Selanjutnya apa yang dikehendaki Allah melalui petunjukpetunjuk yang diberikan (agama). pertanyaan nomor 9 ini dapat dijawab dengan menjelaskan posisi ilmu pengetahuan bagi orang beragama. Untuk lebih jelasnya, perhatikan penjelasan Q.S. Yunus (10) : 101 dan Ar-Ruum (30) : 8. hal ini dapat dipahami dengan melihat apa tugas dan kewajiban manusia sebagai makhluk Allah, dan tugas-tugas manusia sebagai khalifah Allah.

1.68

Pendidikan Agama Islam

Daftar Pustaka
Alquran dan Terjemahannya (Jakarta: Depag RI 1986). A. R. Sutan Mansur, Jihad (Jakarta: Panjimas, 1982). Chatibul Umam, (Ed.), Tipologi Manusia Pembangunan dalam Alquran (Jakarta: PTIQ, 1988). E. Hasan Saleh, Studi Islam di Perguruan Tinggi: Pembinaan IMTAQ dan Pengembangan Wawasan (Jakarta : ISTN, 2000), cet kedua. Endang Saifuddin Anshari, Wawasan Islam: Pokok-pokok Pikiran tentang Islam dan Umatnya (Bandung: Pustaka, 1983). Fuad Kauma, Wajah-wajah Iblis (Jakarta: Kalam Mulia, 2000), cet. kedua. Fachrudin HS, Ensiklopedi Alquran, 2 jilid (Jakarta: Renika Cipta, 1992). Harun Nasution, Konsep Manusia Menurut Ajaran Islam (Jakarta: IAIN Jakarta, 1981). Harun Yahya, Bagaimana Muslim Berfikir (Jakarta Rabbani Pres, 2001). Harry Hamersma, Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern (Jakarta: Gremedia, 1990), cet. keempat. Murtadha Mutahhari, Manusia dan Agama (Bandung : Mizan , 1984), cet pertama. Maurice Bucaille, Asal Usul Manusia Menurut Bibel, Alquran, dan Sains (Bandung: Mizan, 1986), cet. pertama. Majid Ali Khan, Asal Usul dan Evolusi Kehidupan: Pandangan Alquran (Yogyakarta: PLP2M, 1987), cet. pertama.

MKDU4201/MODUL 1

1.69

M. Quraish Shihab, Yang Tersembunyi: Jin, Iblis, Setan & Malaikat dalam Alquran dan Sunnah (Jakarta: Lentera Hati, 1999), cet. pertama. ___________, Membumikan Alquran (Bandung: Mizan, 1992), cet. pertama. Muhammad Isa Dawud, Dialog Dengan Jin Muslim: Pengalaman Spirirual (Bandung: Pustaka Hidayah, 1995), cet. pertama. M. Ali Usman, dkk., Hadits Qudsi: Firman Allah yang tidak dicantumkan dalam Alquran (Bandung: Diponogoro, 1993), cet. kesepuluh. Muchsin Qaraati, Tauhid Pandangan Dunia Alam Semesta (Jakarta: Firdaus, 1991) Sindhunata, Dilema Usaha Manusia Rasional (Jakarta: Gremedia, 1982). Syamsul Rijal Hamid, Buku Pintar Agama Islam (Jakarta: Penebar Salam, 1997). Sirajudin Sar, Konsep Penciptaan Alam: Pemikiran Islam Sains dan Alquran (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997), cet. kedua. Zakiah Derajat, dkk., Materi Pokok Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Universitas Terbuka, 1993), cet. pertama.

Kembali Ke Daftar Isi