Anda di halaman 1dari 47

BAB 1 PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Ekonomi kesehatan adalah ilmu yang mempelajari suplay dan demand sumber daya pelayanan kesehatan dan dampak sumber daya pelayanan kesehatan terhadap populasi. Ekonomi kesehatan perlu dipelajari, karena terdapat hubungan antara kesehatan dan ekonomi. Kesehatan mempengaruhi kondisi ekonomi, dan sebaliknya ekonomi mempengaruhi kesehatan. Dalam pemikiran rasional, semua orang ingin menjadi sehat. Kesehatan merupakan modal untuk bekerja dan hidup untuk mengembangkan keturunan, sehingga timbul keinginan yang bersumber dari kebutuhan hidup manusia. Tentunya demand untuk menjadi sehat tidaklah sama antarmanusia. Seseorang yang kebutuhan hidupnya sangat tergantung pada kesehatannya tentu akan mempunyai demand yang lebih tinggi akan status kesehatannya. Sebagai contoh, seorang atlet profesional akan lebih memperhatikan status kesehatannya dibanding seseorang yang menganggur. Pendekatan ekonomi menekankan bahwa kesehatan merupakan suatu modal untuk bekerja. Pelayanan kesehatan termasuk rumah sakit merupakan salah satu input yang digunakan untuk proses produksi yang menghasilkan kesehatan. Berbasis pada konsep produksi maka pelayanan kesehatan merupakan salah satu tergantung terhadapdemand akan kesehatan sendiri. Pelayanan kesehatan berbeda dengan barang dan pelayanan ekonomi lainnya. Pelayanan kesehatan atau pelayanan medis sangat heterogen, terdiri atas banyak sekali barang dan pelayanan yang bertujuan memelihara, memperbaiki, memulihkan kesehatan fisik dan jiwa seorang. Demand (permintaan) adalah barang atau pelayanan yang sesungguhnya dibeli oleh pasien. Permintaan tersebut dipengaruhi oleh pendapat medis dari dokter, dan juga faktor lain seperti pendapatan dan harga obat. input yang digunakan untuk menghasilkan kesehatan.Demandterhadap pelayanan rumah sakit

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah yang dimaksud dengan wants, needs dan demand dalam pelayanan

kesehatan serta bagaimana konsepnya?


2. Faktor apa saja yang mempengaruhi demand pada pelayanan kesehatan? 3. Apa yang dimaksud dengan demand creation dan bagaimana cara mengurangi

demand creation tersebut?


4. Apakah perbedaan antara demand pada pelayanan kesehatan dengan demand

produk secara umum?


5. Bagaimanakah penjelasan tentang elastisitas demand pada pelayanan

kesehatan beserta konsekuensi elastisitas tersebut? 6. Apa saja fungsi pelayanan kesehatan?
1.3 Tujuan Penulisan 1. Mempelajari pengertian serta konsep wants, needs dan demand dalam

pelayanan kesehatan
2. Mempelajari faktor yang mempengaruhi demand pada pelayanan kesehatan. 3. Mempelajari pengertian demand creation dan cara mengurangi demand

creation.
4. Memahami perbedaan antara demand pada pelayanan kesehatan dengan

demand produk secara umum.


5. Dapat menjelaskan mengenai elastisitas demand pada pelayanan kesehatan

beserta konsekuensi elastisitas tersebut. 6. Dapat mengetahui manfaat pelayanan kesehatan.


1.4 Manfaat Penulisan

1. Bagi mahasiswa Mahasisiwa dapat lebih memahami dan mengerti mengenai demand pada pelayanan kesehatan serta dapat mengaplikasikannya ketika mengahadapi masalah yang berkaitan dengan ekonomi kesehatan dalam kehidupan seharihari.
2

2. Bagi pembaca Dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran untuk memperluas pengetahuan mengenai demand pada pelayanan kesehatan dan dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari berkaitan dengan masalah ekonomi kesehatan.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Definisi Serta Konsep Wants, Needs dan Demand Dalam pelayanan Pelayanaan kesehatan sulit diukur secara kuantitatif. Biasanya pelayanan kesehatan diukur berdasarkan ketersediaaan (jumlah dokter atau tempat tidur rumah sakit per 1,000 penduduk) atau penggunaan (jumlah konsultasi atau pembedahan per kapita). 2.1.1 Pengertian Want, Need, dan Demand Awal pembahasan mengenai demandterhadap kesehatan dapat dilakukan melalui pengertian tentang keinginan (wants), permintaan (demand), dan kebutuhan (needs). Pengertian ini dibutuhkan mengingat demanddalam pelayanan kesehatan merupakan suatu hal yang agak berbeda dibandingkan dengan demanduntuk komoditi atau pelayanan lain.
1. Pengertian Keinginan (Wants) a. Keinginan adalah suatu keinginan yang dimiliki oleh seseorang untuk

Kesehatan

mendapatkan status kesehatan yang lebih baik dari yang dimiliki saat ini.
b. Suatu keinginan yang dimiliki seseorang untuk mendapatkan pelayanan

kesehatan yang terbaik, tanpa memperhitungkan apakah dia memiliki resources untuk mencapai keinginan tersebut.
c. Barang atau pelayanan yang diinginkan pasien karena dianggap terbaik bagi

mereka (misalnya, obat yang bekerja cepat). Wants bisa sama atau berbeda dengan need (kebutuhan).
2. Pengertian Kebutuhan (Need)

a. Suatu keinginan yang diwujudkan dalam tindakan seseorang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik menurut pengertian pribadi .
b. Keinginan tersebut belum tentu dapat direalisasikan karena memang hal itu

tidak diperlukan, atau yang bersangkutan tidak memiliki resources untuk mendapatkannya.
4

c. Kuantitas barang atau pelayanan yang secara objektif dipandang terbaik untuk digunakan memperbaiki kondisi kesehatan pasien.
d. Need biasanya ditentukan oleh dokter, tetapi kualitas pertimbangan dokter

tergantung pendidikan, peralatan, dan kompetensi dokter.


3. Pengertian Permintaan (Demand)

a. Suatu keinginan, kebutuhan yang direalisasikan dengan tindakan dan mendapatkan pelayanan kesehatan secara nyata. b. Barang atau pelayanan yang sesungguhnya dibeli oleh pasien.
c. Permintaan tersebut dipengaruhi oleh pendapat medis dari dokter, dan juga

faktor lain seperti pendapatan dan harga obat. Demand berbeda dengan need dan want.
d. Permintaan pelayanan kesehatan timbul melalui proses perubahan persoalan

kesehatan menjadi persoalan kesehatan yang dirasakan, dilanjutkan dengan merasa dibutuhkannya pelayanan kesehatan dan akhirnya dinyatakan dengan permintaan aktual. Dalam upayanya mengubah kebutuhan pelayanan yang dirasakan menjadi suatu bentuk permintaan yang efektif, konsumen harus memiliki kesediaan (willingness) dan kemampuan (ability) untuk membeli atau membayar sejumlah jenis pelayanan kesehatan yang diperlukan. 2.1.2 Konsep wants needs demand

Ingin dilayani sebaik mungkin

Ingin dilayani sebaik mungkin tetapi belum tentu dibutuhkan

Realisasi dari keinginan dan kebutuhan

Gambar 1. Konsep wants needs - demand


5

Pembedaan want, need, dandemand penting karena tujuannya adalah memenuhi semaksimal mungkin kebutuhan orang, dengan cara memperbaiki keputusan dokter, dan mendekatkan keinginan dan permintaan sedekat mungkin dengan kebutuhan, melalui pendidikaan kesehatan, dan sebagainya. Keinginan seseorang untuk menjadi lebih sehat dalam hidup. Keinginan ini didasarkan pada penilaian diri terhadap status kesehatannya

Keinginan (wants)

Keinginan untuk lebih sehat diwujudkan dalam perilaku mencari pertolongan tenaga kedokteran

Permintaan (demand)

Keadaan kesehatan yang oleh tenaga kedokteran dinyatakan harus mendapatkan penanganan medis

Kebutuhan (needs)

Gambar 2. Penerapan konsep keinginan (wants), permintaan (demand), dan kebutuhan (needs) dalam pelayanan kesehatan menurut Cooper (Posnett, 1988)

2.1.3

Pengertian Pelayanan Kesehatan Pelayanan kesehatan adalah upaya, pekerjaan atau kegiatan kesehatan yang

ditujukan untuk mencapai derajat kesehatan perorangan/ masyarakat yang optimal/ setinggi-tingginya.

2.1.4

Pengertian Demand Pelayanan Kesehatan Pelayanan kesehatan merupakan salah satu input yang digunakan untuk proses

produksi yang akan menghasilkan kesehatan. Demandterhadap pelayanan rumah sakit tergantung terhadap demand akan kesehatan sendiri. 2.1.5 Demand dalam Pelayanan Kesehatan Dalam lingkup kesehatan, permintaan dapat diartikan sebagai barang atau pelayanan yang sesungguhnya dibeli oleh pasien di mana permintaan tersebut dipengaruhi oleh pendapat medis dari dokter, dan faktor lain seperti harga obat dan pendapatan pasien. Permintaan terhadap kesehatan dapat dilakukan mengenai pengertian tentang keiginan, permintaan dan kebutuhan. Keinginan di sini adalah keinginan seseorang untuk menjadi lebih sehat dalam hidup didasarkan pada penilaian diri seseorang terhadap status kesehatannya. Sedangkan pada permintaan merupakan keinginan untuk lebih sehat dalam perilaku mencari pertolongan tenaga kedokteran dan kebutuhan disini adalah keadaan kesehatan oleh tenaga kedokteran dinyatakan harus mendapatkan penanganan medis. Sedangkan permintaan terhadap pelayanan kesehatan akan dilakukan mendalam dengan pendekatan sosial ekonomi. Berdasarkan Grossman, ada konsep yang menerangkan mengenai permintaan untuk kesehatan dan permintaan untuk pelayanan kesehatan. Salah satu contoh permintaan untuk pelayanan kesehatan adalah sebagai berikut : Cesc merupakan pemain sepak bola berusia 24 tahun, Cesc merasa sakit pada bagian punggungnya, rasa sakit itu menganggu aktivitasnya sebagai seorang pemain sepak bola oleh karena itu Cesc mempunyai keinginan untuk sehat agar dapat bermain sepak bola dengan baik. Untuk mengatasi maslah sakitnya Cesc membeli obat berdasarkan informasi yang diperoleh melalui majalah. Akan tetapi setelah mengkonsumsi obat, rasa sakit punggung itu tidaklah sembuh, berdasarkan majalah pula Cesc memutuskan untuk pergi ke dokter. Dalam hal ini Cesc telah mengubah

permintaan akan kesehatan menjadi permintaan akan pelayanan kesehatan (khususnya tenaga medis,dokter) Pendekatan yang dapat dilakukan untuk membahas permintaan dalam pelayanan kesehatan yaitu pendekatan permintaan menurut model Grossman. Grossman mengemukakan penelitian pentingnya mengenai pelayanan kesehatan di mana dalam penelitiannya itu diungkapkan bahwa demand terhadap layanan kesehatan merupakan derivasi dari demand terhadap kesehatan itu sendiri. Kesehatan menurut Becker (1965) merupakan komoditi yang penting sehingga berdasarkan hal tersebut Grossman menyusun teori tingkah laku konsumen dalam human capital approach di mana arena pemilihannya diperluas hingga menyangkup pemilihan atas status kesehatan. Menurut Grossman, para konsumen memiliki permintaan terhadap pelayanan kesehatan karena dua alasan yaitu: 1. Pelayanan kesehatan merupakan sebuah komoditi konsumsi Pelayanan kesehatan sebagai sebuah komoditi konsumsi membuat konsumen sebagai pengguna layanan kesehatan merasa lebih baik. 2. Pelayanan kesehatan merupakan sebuah komoditi investasi Investasi dalam kesehatan merupakan nilai moneter sebab kesehatan dapat menurunkan jumlah hari sakit. Dengan menurunnya waktu sakit maka akan meningkatkan waktu yang tersedia untuk bekerja maupun adanya waktu luang untuk melakukan aktifitas lainnya. 2.1.6 Definisi Derived Demand Derived demand merupakan suatu demand turunan. Yang diinginkan masyarakat atau konsumen adalah kesehatan, bukan pelayanan kesehatan. Oleh sebab itu pelayanan kesehatan merupakan derived demand sebagai input untuk menghasilkan kesehatan. Dengan demikian, demand untuk pelayanan rumah sakit pada umumnya berbeda dengan demand untuk pelayanan hotel.

2.1.7

Cara MengukurNeeds Dalam Pelayanan Kesehatan Tidak mungkin menggunkan survei. Karena survei yang dilakukan kepada

pasien tidak akan bisa dilakukan karena pasien dalam keaadaan tidak memungkinkan untuk melakukan survei. Survei juga tidak mungkin dilakukan kepda keluarga pasien karena keluarga pastinya akan sibuk dalam mengurusi administrasi. Survei yang dikukan kepada petugas kesehatan juga tidak mungkin dilakukan karena petugas kesehatan di rumah sakit pastinya akan sibuk memberikan pelayanan kesehatan. Oleh karena itu pengukuran needs dalam pelayanan kesehatan dapat di lakukan dengan: 1. Melihat data kedatangan pasien ke penyaji kesehatan. Dengan melihat jumalah pasien yang datang, kita dapat melihat pelayan kesehtan mana yang lebih dibutuhkan oleh pasien. 2. Epidemiologi penyakit Dengan melihat data kajadian suatu penyakit, tingginya kejadian penyakit needs kebutuhan pelayanan kesehatan dapat dilihat dan digambarkan. 2.1.8 Cara Mengukur DemandDalam Pelayanan Kesehatan Secara garis besar pengukuran demand untuk pelayanan rumah sakit dapat dilakukan melalui analisis pasar atau melakukan peramalan demand. 1. Riset Pasar Tujuan analisis pasar adalah menyediakan informasi mengenai keadaan pasar saat ini dan kemungkinan trend pasar di masa mendatang. Melalui informasi yang diperoleh, rumah sakit dapat meningkatkan pelayanan, menetapkan kebijakan pelayanan baru, menetapkan tarif dan strategi promosi. Analisis pasar akan menghasilkan profil pasar yang sebaiknya memuat informasi mengenai konsumen, kinerja (performance) rumah sakit, dan keadaan pasar. Pada profil pasar dalam hal konsumen akan diteliti mengenai jumlah total konsumen, data epidemiologi,
9

distribusi daerah tempat tinggal, pendapatan total, pendapatan per rumah tangga, distribusi pendapatan, selera konsumen, ciri-ciri dan frekuensi penggunaan pelayanan kesehatan oleh konsumen.Profil mengenai keadaan pasar mencakup berbagai hal misalnya data mengenai efek dari kenaikan tarif yang terkait dengan pengukuran elastisitas harga. Adanya data mengenai efek kenaikan atau penurunan pendapatan masyarakat dan pengaruhnya terhadap konsumsi rumah sakit akan menyangkut elastisitas rumah sakit terhadap pendapatan. Data lain adalah keunikan pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit, identifikasi pelayanan kesehatan, jumlah dan sifat pesaing. Situasi persaingan ini harus dapat dianalisis tidak hanya dalam batas-batas wilayah tetapi juga mencakup ke jangkauan transportasi ataupun kemampuan masyarakat dalam menggunakan rumah sakit. Kasus persaingan rumah sakit di Medan menunjukkan bahwa masyarakat Sumatera Utara juga menggunakan rumah sakit di Malaysia. Bentuk kompetisi yang dilakukan sudah seperti melakukan perjalanan wisata dengan operator yang mengatur perjalanan untuk mencari kesehatan. Dalam profil pasar rumah sakit perlu digambarkan pula mengenai pola sistem rujukan kesehatan. Hal ini terkait dengan besarkecilnya rumah sakit dan tersedianya fasilitas dan tenaga medis yang ahli dalam menangani suatu penyakit. Sistem rujukan merupakan salah satu hal yang spesifik dalam karakteristik pasar rumah sakit yang jarang ditemui di sektor lain. Sebagai contoh, pasar untuk Bagian III 125operasi jantung merupakan proses dari suatu sistem rujukan yang dapat dimulai dari dokter umum, dokter spesialis jantung atau penyakit dalam, hingga dokter ahli bedah jantung. Sistem rujukan ini dapat menjadikan suatu keadaan yang monopoli atau perilaku monopoli dari dokter tertentu. Contoh lain dari keadaan khas profil pasar rumah sakit adalah perubahan teknologi pelayanan kesehatan. Dalam hal ini teknologi kesehatan berkembang sangat cepat sehingga terkadang sulit untuk dipahami oleh konsumen. Cara memahami perkembangan teknologi tentunya dengan mengikuti perkembangan terakhir ilmu kedokteran melalui jurnal atau konferensi ilmiah.Di dalam sektor kesehatan tidak
10

dapat dihindari adanya produk substitusi seperti pengobatan tradisional, tabib, sinshe, dukun yang memberikan pelayanan kesehatan. Profil pasar perlu mencatat hal ini termasuk mempunyai data tarif produk substitusi termasuk tarif dukun yang memberikan pelayanan rawat inap seperti ahli patah tulang yang menyediakan tempat pemondokan.Seperti sektor lainnya, profil pasar rumah sakit perlu mempunyai data mengenai hal-hal umum dalam masyarakat, misalnya keadaan harga barang-barang kebutuhan sehari-hari. Dalam hal ini perlu diperhatikan bahwa ternyata masyarakat Indonesia lebih memilih membelanjakan uang untuk rokok dibandingkan untuk kesehatan. Perbandingan seperti ini penting untuk memahami demandterhadap pelayanan kesehatan. Di samping itu, perlu diperhatikan mengenai keadaan ekonomi, tingkat kegiatan, tingkat pengangguran, kebijakan ekonomi dan kesehatan pemerintah serta besarnya pajak.Data penting lain adalah perbandingan kinerja antarrumah sakit dalam suatu wilayah. Dalam hal ini perlu dibandingkan besarnya BOR, Length of Stay, Turn Over Interval dari tempat tidur, dan angka kunjungan berbagai rawat jalan. Dalam perbandingan ini perlu dilihat trend yang terjadi. Dalam membandingkan data tersebut akan terlihat pangsa pasar (market share) yang ada serta kelemahan dan kekuatan kinerja setiap rumah sakit. Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa pengukuran demand untuk pelayanan rumah sakit merupakan hal sulit dan kompleks. Patut 126 Memahami Penggunaan Ilmu Ekonomidicatat bahwa rumah sakit merupakan lembaga yang multi produk. Jasa yang dihasilkan rumah sakit meliputi rawat jalan, rawat inap, laboratorium, apotek, dan berbagai produk lainnya dengan berbagai macam jenis spesialisasi. Oleh karena itu, konsep demandand supply ilmu ekonomi yang membutuhkan ceteris paribus merupakan hal yang sangat sulit dijumpai dalam sektor rumah sakit. Akan tetapi yang paling penting bahwa terdapat konsep demand and supply yang harus diperhitungkan dalam mengelola rumah sakit. Hasil analisis profil pasar ini akan sangat berguna untuk penyusunan rencana usaha (business plan) rumah sakit. Metode analisis pasar dapat menggunakan wawancara dan survei. Sebagai contoh, jika tarif bangsal VIP rumah sakit dinaikkan apakah sasaran potensial akan
11

masih menggunakannya?

Pertanyaanpertanyaan ini ditujukan ke sampel sasaran

melalui questionnaire. Agar dapat mewakili maka jumlah sampel harus cukup besar. Hal ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan keadaan. Pertanyaan mengenai penggunaan rumah sakit apabila tidak dirancang secara hati-hati dapat menimbulkan kesalahpahaman seolah-olah mengharapkan responden untuk jatuh sakit. Cara lain adalah dengan mengadakan diskusi kelompok secara riset kualitatif. Sekelompok sasaran potensial dikumpulkan untuk diajak membahas pola kenaikan tarif bangsal VIP.
2. Forecasting Demand

Tindakan ini mempunyai pengertian kegiatan peramalan. Data yang ada akan dianalisis untuk mendapatkan peramalan penggunaan rumah sakit di masa mendatang. Masa mendatang ini dapat berupa jangka pendek (setahun) ataupun jangka menengah dan panjang. Perlu diingat bahwa semakin panjang jangka waktu yang diramalkan, maka potensi meleset hasil peramalan menjadi lebih besar. Dalam hal ini terdapat tiga tahap peramalan demand. Tahap 1, penilaian keadaan umum ekonomi nasional dan lokal. Penilaian ini akan memberikan informasi mengenai kebijakan pemerintah dan kemungkinankemungkinan dampak kebijakan baru terhadap tingkat pendapatan masyarakat, trend kependudukan, epidemiologi, dan potensi sumber Bagian III 127 daya masyarakat untuk pelayanan kesehatan. Pada tahap 2, dilakukan penilaian terhadap demand total penduduk terhadap pelayanan kesehatan, khususnya rumah sakit. Berbagai faktor demand yang ada harus diperhatikan dan disusun dalam suatu model. Pada tahap 3, dilakukan penilaian posisi rumah sakit terhadap total demand yang ada. Pada tahap ini dapat diuji coba beberapa tindakan, misalnya merubah tarif untuk menguji pasar atau melakukan kegiatan-kegiatan pemasaran sosial. Cara peramalan demand ini dapat menggunakan ekonometrik yang

menggabungkan teori ekonomi dengan alat matematik dan statistik (Pappas dan Hirschey, 1993). Beberapa keuntungan menggunakan teknik ekonometrik yaitu

12

pertama berbagai variabel yang mempengaruhi demand dapat diukur secara eksplisit dan ditentukan hubungan sebab-akibatnya. Hal ini memberikan manfaat berupa penyediaan hasil peramalan yang logis. Manfaat kedua, pendekatan ekonometrik sangat tepat untuk menilai demand dari periode waktu ke periode waktu lainnya (time-series). Manfaat ketiga dari metode ekonometrik yaitu dapat memberikan informasi mengenai besarnya pengaruh variabel dan arah pengaruhnya. 2.2 Faktor Yang Mempengaruhi Demand Pelayanan Kesehatan Terdapat beberapa factor yang mempengaruhi permintaan terhadap pelayanan kesehatan. Factor-faktor ini berasal dari pasien juga dari dokter sebagai pemberi pelayanan kesehatan.Faktor yang mempengaruhi permintaan pasien terhadap pelayanan kesehatan antara lain insiden penyakit, provider, karakteristik budayademografi dan factor ekonomi. Dua factor pertama berakar dari persepsi keluarga tentang masalah medis dan keyakinan mereka terhadap kemanjuran pelayanan kesehatan yang berpengaruh terhadap keinginan pelanggan untuk pelayanan kesehatan. Ketika menerjemahkan keinginan dibatasi oleh tingkat sumberdaya yang tersedia. 2.2.1 Insiden penyakit atau penyakit yang dirasakan Awal penyakit dan pemanfaatan rumah sakit adalah kejadian yang tidak diharapkan oleh kebanyakan orang. Sehingga penyakit biasa dianggap sebagai peristiwa random, tapi berkaitan dengan usia dan jenis kelamin populasi secara keseluruhan, penyakit memiliki prediktabilitas yang sama. Seperti usia individu, insiden penyakit meningkat dan pola-pola morbiditas berubah, penyakit kronis menjadi determinan yang lebih penting dari kebutuhan akan pelayanan kesehatan. 2.2.2 Peran provider (dokter) dalam permintaan terhadap pelayanan kesehatan Dalam pasar nonmedis, konsumen dengan beragam tingkat pengetahuan memilih barang dan jasa yang ia inginkan. Sedangkan dalam pelayanan kesehatan, pasien tidak memutuskan jenis pengobatan apa yang ia terima, ia lebih memilih
13

ini menjadi pengeluaran, keluarga

dokter yang menentukan pilihan tersebut. Dalam bertindak menurut kepentingan pasien, para dokter menggunakan kesadaran mereka akan sumber keuangan dan kebutuhan medis pasien. Saat memilih komponen-komponen perawatan yang digunakan dalam pengobatan, para dokter tidak hanya dipandu oleh kemampuannya, tapi juga oleh harga relative mereka terhadap pasien. Misalnya, seorang pasien bisa dirawat dengan rawat jalan atau rawat inap. Oleh karena asuransi hanya berlaku untuk pasien rawat inap, maka biaya yang dikeluarkan oleh pasien lebih rendah apabila mereka dimasukkan dalam rawat inap. Bagaimanapun, pilihan jenis pengobatan oleh dokter menurut kepentingan pasien akan menghasilkan harga total pelayanan medis yang lebih tinggi. Dengan adanya pertumbuhan asuransi rumah sakit yang lebih komprehensif, keterbatasan financial menjadi kurang penting dan para dokter mampu menentukan kualitas pelayanan kesehatan terbaik untuk pasiennya. Hal tersebut merupakan perilaku rasional antara pasien dan dokter, karena keuntungan marginal dari perawatan yang terdiri dari uji atau tes tambahan dan pelayanan lainnya, seberapa kecilpun itu, kemungkinan masih lebih besar daripada harga yang dibayar sendiri oleh pasien. Bagaimanapun juga, factor lain mungkin bias mencegah dokter untuk bertindak menurut kepentingan pasien. Beberapa rumah sakit mungkin mempunyai komite peninjau yang meninjau ketepatan administrasi dan lama tinggal pasien. Berhadapan dengan keefektifan komite tersebut, seorang dokter akan menemui kesulitan untuk menentukan perawatan rumah sakit dan atau lama tinggal yang bias memuaskan pasien. Ada alasan yang lebih penting mengapa dokter tidak bertindak semata-mata atas kepentingan pasien. Sebagai salah satu input dalam pengobatan pasien, seorang dokter mempunyai kepentingan ekonomi. Dalam menentukan perawatan untuk pasien, dokter bertindak tidak hanya menurut kepentingan pasien, tapi juga menurut kepentingannya sebagai penyedia pelayanan. Satu contoh jelas`dari dampak peran ganda tersebut yaitu penurunan kunjungan rumah (home visit).

14

Faktor lain yang berasal dari dokter (provider): 1. Dokter sebagai advisor Dokter sebagai penasehat bagi pasien untuk memberi masukan terhadap pelayanan kesehatan pada pasien. Dalam hal ini kemungkinan kecil seorang pasien akan menolak nasehat dari dokter, ini adalah salah satu sifat pelayanan kesehatan yang disebut asymetric knowledge dimana wawasan dokter lebih luas dari pasien. 2. Dokter sebagai supplier pelayanan kesehatan Dokter memberi usulan dan perlakuan atau memberi tindakan medis atau lainnya yang dianggap bermanfaat bagi pasien, misalnya memberikan obat baik oral maupun suntik, merujuk rawat inap, atau bahkan sampai tindakan operasi. Dalam hal ini terkadang dokter memberikan pelayanan kesehatan pada pasiennya tidak berdasarkan kebutuhan pasien. Ini terjadi karena asymetric knowledge di mana antara pasien dan dokter memiliki perbedaan pengetahuan, terkadang dokter melakukan hal ini untuk menambah pendapatannya. 2.2.3 Karakteristik budaya-demografi

2.2.3.1 Jenis kelamin Meskipun pengeluaran untuk pemanfaatan pelayanan kesehatan yang kurang lebih sama untuk kedua jenis kelamin pada tahun-tahun awal, ada perbedaan dalam kebutuhan pelayanan kesehatan antara pria dan wanita. Di kemudian hari, pengeluaran yang dikeluarkan oleh perempuan melebihi dari yang dikeluarkan oleh laki-laki terutama karena biaya kandungan. 2.2.3.2 Usia Hubungan antara umur dan penggunaan pelayanan medis, bagaimanapun tidak linier juga tidak sama untuk setiap jenis pelayanan kesehatan. Sebagai

15

contoh, hubungan antara umur dan penggunaan pelayanan rumah sakit berbeda antara umur dan penggunaan pelayanan perawatan gigi. 2.2.3.3 Status perkawinan dan jumlah orang dalam keluarga Status perkawinan dan jumlah orang dalam keluarga juga mempengaruhi permintaan untuk pelayanan kesehatan. Orang yang belum berkeluarga umumnya menggunakan perawatan di rumah sakit lebih dari yang dilakukan oleh orang yang sudah menikah. Ketersediaan orang di rumah untuk merawat seseorang mungkin pengganti hari tambahan di rumah sakit. Besarnya keluarga juga mempengaruhi permintaan, sebuah keluarga besar memiliki pendapatan per kapita yang lebih rendah (meskipun tidak selalu proporsional kurang) daripada sebuah keluarga kecil dengan pendapatan yang sama. 2.2.3.4 Pendidikan (keluarga) Pendidikan juga diyakini dapat mempengaruhi permintaan pelayanan medis. Sebuah jumlah yang lebih besar dari pendidikan di rumah tangga dapat memungkinkan keluarga untuk mengenali gejala awal penyakit, sehingga kesediaan yang lebih besar untuk mencari pelayanan kesehatan awal. Tingginya tingkat pendidikan juga dapat menyebabkan peningkatan efisiensi dalam pembelian keluarga dan penggunaan pelayanan medis. 2.2.3.5 Preferensi pasien Preferensi yang dimiliki pasien bisa didapatkan melalui iklan, orang sekita dan dokter yang dapat mempengaruhi pelayanan kesehatan yang diinginkan oleh pasien. 2.2.4 Faktor ekonomi

2.2.4.1 Pendapatan Sejumlah penelitian telah mengungkapkan hubungan antara pendapatan keluarga dan pengeluaran untuk pelayanan kesehatan. Ketika studi ini didasarkan

16

pada data survey, sering ditemukan bahwa keluarga-keluarga dengan pendapatan yang lebih tinggi memiliki pengeluaran yang lebih besar untuk pelayanan kesehatan. Keluarga dengan pendapatan yang lebih tinggi memiliki pengeluaran yang lebih besar untuk pelayanan kesehatan. 2.2.4.2 Harga Hubungan tarif dengan demand terhadap pelayanan kesehatan adalah negatif. Semakin tinggi tarif maka demand akan menjadi semakin rendah. Sangat penting untuk dicatat bahwa hubungan negatif ini secara khusus terlihat pada keadaan pasien yang mempunyai pilihan. Pada pelayanan rumah sakit, tingkat demand pasien sangat dipengaruhi oleh keputusan dokter. Keputusan dari dokter mempengaruhi length of stay, jenis pemeriksaan, keharusan untuk operasi, dan berbagai tindakan medik lainnya. Pada keadaan yang membutuhkan penanganan medis segera, maka faktor tarif mungkin tidak berperan dalam mempengaruhi demand, sehingga elastisitas harga bersifat inelastik. Sebagai contoh, operasi segera akibat kecelakaan lalu lintas. Apabila tidak ditolong segera, maka korban dapat meninggal atau cacat seumur hidup. Masalah tarif rumah sakit merupakan hal yang kontroversial. Pernyataan normatif di masyarakat memang mengharapkan bahwa tarif rumah sakit harus rendah agar masyarakat miskin mendapat akses. Akan tetapi tarif yang rendah dengan subsidi yang tidak cukup dapat menyebabkan mutu pelayanan turun bagi orang miskin dan hal ini menjadi masalah besar dalam manajemen rumah sakit. 2.2.4.3 Jaminan atau asuransi kesehatan Asuransi dan jaminan kesehatan dapat meningkatkan demand terhadap pelayanan kesehatan, dengan demikian hubungan dari asuransi kesehatan dan jaminan kesehatan terhadap demand terhadap pelayanan kesehatan adalah bersifat positif. Pada negara maju, faktor asuransi kesehatan menjadi penting dalam hal demand pelayanan kesehatan. Sebagai contoh, di Amerika Serikat masyarakat tidak membayar langsung ke pelayanan kesehatan, tetapi melalui sistem asuransi
17

kesehatan. Di samping itu, dikenal pula program pemerintah dalam bentuk jaminan kesehatan untuk masyarakat miskin dan orang tua. Program pemerintah ini sering disebut sebagai asuransi sosial. Adanya asuransi kesehatan dan jaminan kesehatan dapat meningkatkan demand terhadap pelayanan kesehatan. Dengan demikian, hubungan asuransi kesehatan dengan demand terhadap pelayanan kesehatan bersifat positif. Asuransi kesehatan bersifat mengurangi efek faktor tarif sebagai hambatan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan pada saat sakit. Dengan demikian, semakin banyak penduduk yang tercakup oleh asuransi kesehatan maka demand akan pelayanan kesehatan (termasuk rumah sakit) menjadi semakin tinggi. Peningkatan demand ini dipengaruhi pula oleh faktor moral hazard. Seseorang yang tercakup oleh asuransi kesehatan akan terdorong menggunakan pelayanan kesehatan sebanyak-banyaknya. 2.2.4.4 Nilai waktu bagi pasien Tiga implikasi kebijakan menunjukkan bahwa biaya waktu berdampak penting terhadap permintaan akan layanan kesehatan, yaitu: a) Ketika harga yang dibebankan terhadap pasien berkurang, permintaan untuk pelayanan kesehatan akan menjadi lebih responsif terhadap biaya waktu. Jika kuantitas pelayanan kesehatan yang disuplai tidak meningkat secara cukup untuk memenuhi peningkatan permintaan, seperti dalam kasus dibawah sebuah system yang mirip dengan British National Health Service, maka kemungkinan metode pemikirannya adalah mengalokasikan perawatan pada mereka yang bersedia menunggu. Mereka yang dengan biaya waktu rendah lebih mungkin mendapatkan perawatan daripada mereka dengan peluang biaya waktu tinggi. b) Masyarakat menentukan bahwa kelompok-kelompok populasi tertentu harus meningkatkan pengggunaan jasa medisnya. Meski harga-harga uang untuk kelompok-kelompok tersebut dikurangi, mungkin diharapkan untuk lebih meningkatkan penggunaan layanan medisnya. Meski harga uang

18

untuk kelompok-kelompok tersebut berkurang, mungkin lebih diharapkan meningkatkan penggunaan jasa lebih lanjut dengan mengurangi biaya waktu mereka. Membangun klinik didekat kelompok-kelompok populasi tersebut akan mengurangi biaya perjalanan dan meningkatkan penggunaan layanan medis. c) Ketika system pengiriman layanan medis direncanakan, biaya waktu pasien harus dipertimbangkan bersama dengan biaya institusional, sebagai biaya yang relevan untuk diminimalkan oleh para perencana. Para konsumen bersedia membayar untuk mengurangi biaya waktu. Kecuali ini dimasukkan dlam perencanaan system pengiriman pelayanan kesehatan, para perencana mungkin berusaha mengurangi biaya rumah sakit dan bentuk perawatan lain dengan membangun lebih sedikit unit-unit yang lebih besar, sehingga meningkatkan biaya waktu travel pasien. 2.2.5 Faktor Lain Menurut Berbagai Sumber Menurut Fuchs (1998), Dunlop dan Zubkoff (1981) dan Laksono (2005) menyebutkan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi permintaan terhadap pelayanan kesehatan yaitu : 1. Kebutuhan berbasis aspek fisiologis Faktor ini menekankan pada pentingnya keputusan petugas medis yang menentukan perlu tidaknya seseorang mendapatkan pelayanan medis. Keputusan petugas medis ini akan mempengaruhi penilaian seseorang akan status kesehatannya. Berdasarkan situasi ini maka demandpelayanan kesehatan dapat ditingkatkan atau dikurangi. Faktor-faktor ini dapat diwakilkan dalam pola epidemiologi yang seharusnya diukur berdasarkan kebutuhan masyarakat. Akan tetapi, data epidemiologi yang ada sebagian besar menggambarkan puncak gunung es yaitu demand, bukan kebutuhan (needs). 2. Penilaian pribadi akan status kesehatan Secara sosio-antropologis, penilaian pribadi akan status kesehatan dipengaruhi oleh kepercayaan, budaya dan norma-norma sosial di masyarakat. Indonesia
19

sebagai negara Timur sejak dahulu telah mempunyai pengobatan alternatif dalam bentuk pelayanan dukun ataupun tabib. Pelayanan ini sudah berumur ratusan tahun sehingga dapat dilihat bahwa demandterhadap pelayaanan pengobatan alternatif ada dalam masyarakat. Sebagai contoh, untuk berbagai masalah kesehatan jiwa peranan dukun masih besar. Di samping itu, masalah persepsi mengenai risiko sakit merupakan hal yang penting. Sebagian masyarakat sangat memperhatikan status kesehatannya, sebagian lain tidak memperhatikannya. 3. Variabel-variabel ekonomi tarif Hubungan tarif dengan demandterhadap pelayanan kesehatan adalah negatif, sangat penting dicatat bahwa hubungan negatif antara tarif dan demandterhadap pelayanan kesehatan secara khusus terlihat pada pasien yang mempunyai pilihan. Pada pelayanan rumah sakit, tingkat demandpasien sangat dipengaruhi oleh keputusan dokter. Keputusan dari dokter mempengaruhi length of stay, jenis pemeriksaan, keharusan untuk operasi, dan berbagai tindakan medik lainnya. Pada keadaan yang membu-tuhkan penanganan medis segera, maka faktor tarif mungkin tidak berperan dalam mempengaruhi demand, sehingga elastisitas harga bersifat inelastik.Sebagai contoh, operasi segera akibat kecelakaan lalu lintas. Apabila tidak ditolong segera, maka korban dapat meninggal atau cacat seumur hidup. Masalah tarif rumah sakit merupakan hal yang kontroversial. Pernyataan normatif di masyarakat memang mengharapkan bahwa tarif rumah sakit harus rendah agar masyarakat miskin mendapat akses. Akan tetapi tarif yang rendah dengan subsidi yang tidak cukup dapat menyebabkan mutu pelayanan turun bagi orang miskin dan hal ini menjadi masalah besar dalam manajemen rumah sakit. 4. Penghasilan masyarakat Kenaikan penghasilan keluarga akan meningkatkan demanduntuk pelayanan kesehatan yang sebagian besar merupakan barang normal, akan tetapi ada pula sebagian pelayanan kesehatan yang bersifat barang inferior, yaitu kenaikan penghasilan keluarga justru menurunkan konsumsi. Hal ini terjadi pada rumah sakit pemerintah di berbagai kota dan kabupaten. Ada pula kecenderungan
20

mereka yang berpenghasilan tinggi tidak menyukai pelayanan kesehatan yang menghabiskan waktu banyak. Hal ini diantisipasi oleh rumah sakit-rumah sakit yang menginginkan pasien dari golongan mampu. Masa tunggu dan antrian untuk mendapatkan pelayanan medis harus dikurangi dengan menyediakan pelayanan rawat jalan dengan perjanjian misalnya. Faktor penghasilan masya-rakat dan selera mereka merupakan bagian penting dalam analisis demanduntuk keperluan pemasaran rumah sakit. 5. Asuransi Kesehatan dan dan Jaminan Kesehatan Pada negara-negara maju, faktor asuransi kesehatan menjadi penting dalam hal demandpelayanan kesehatan. Sebagai contoh, di Amerika Serikat masyarakat tidak membayar langsung ke pelayanan kesehatan, tetapi melalui sistem asuransi kesehatan. Di samping itu, dikenal pula program pemerintah dalam bentuk jaminan kesehatan untuk masyarakat miskin dan orang tua. Program pemerintah ini sering disebut sebagai asuransi sosial. Adanya asuransi kesehatan dan jaminan kesehatan dapat meningkatkan demandterhadap pelayanan kesehatan. Dengan demikian, hubungan asuransi kesehatan dengan demandterhadap pelayanan kesehatan bersifat positif. Asuransi kesehatan bersifat mengurangi efek faktor tarif sebagai hambatan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan pada saat sakit. Dengan demikian, semakin banyak penduduk yang tercakup oleh asuransi kesehatan maka demandakan pelayanan kesehatan (termasuk rumah sakit) menjadi semakin tinggi. Peningkatan demandini dipengaruhi pula oleh faktor moral hazard. Seseorang yang tercakup oleh asuransi kesehatan akan terdorong menggunakan pelayanan kesehatan sebanyak-banyaknya. 6. Variabel-variabel demografis dan umur Faktor umur sangat mempengaruhi demandterhadap pelayanan preventif dan kuratif. Semakin tua seseorang sendiri meningkat demand-nya terhadap pelayanan kuratif. Sementara itu, demandterhadap pelayanan kesehatan preventif menurun. Dengan kata lain, semakin mendekati saat kematian, seseorang merasa bahwa keun-tungan dari pelayanan kesehatan preventif akan lebih kecil diban-dingkan dengan saat masih muda. Fenomena ini terlihat pada pola demografi di negara21

negara maju yang berubah menjadi masyarakat tua. Pengeluaran untuk pelayanan kesehatan menjadi sangat tinggi. 7. Jenis kelamin Penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa demandterhadap pelayanan kesehatan oleh wanita ternyata lebih tinggi dibanding dengan laki-laki. Hasil ini sesuai dengan dua perkiraan. Pertama, wanita mempunyai insidensi penyakit yang lebih tinggi dibanding dengan laki-laki. Kedua, karena angka kerja wanita lebih rendah maka kesediaan meluangkan waktu untuk pelayanan kesehatan lebih besar dibanding dengan laki-laki. Akan tetapi, pada kasus-kasus yang bersifat darurat perbedaan antara wanita dan laki-laki tidaklah nyata. 8. Pendidikan Seseorang dengan pendidikan tinggi cenderung mempunyai demandyang lebih tinggi. Pendidikan yang lebih tinggi cenderung meningkatkan kesadaran akan status kesehatan, dan konsekuensinya untuk menggunakan pelayanan kesehatan. 9. Faktor-Faktor Lain Berbagai faktor lain yang mempengaruhi demandpelayanan kesehatan, yaitu pengiklanan, tersedianya dokter dan fasilitas pelayan-an kesehatan, serta inflasi. Iklan merupakan faktor yang sangat lazim digunakan dalam bisnis komoditas ekonomi untuk meningkatkan demand. Akan tetapi, sektor pelayanan kesehatan secara tradisional dilarang karena bertentangan dengan etika dokter dan apabila akan diberikan maka dalam bentuk informasi mengenai pelayanan rumah sakit. Patut dicatat bahwa pelayanan kesehatan tradisional seperti para tabib, dukun, dan pengobatan alternatif sudah lazim melakukan iklan di surat kabar dan majalah. Berbagai rumah sakit di Indonesia telah memperhatikan faktor pengiklanan sebagai salah satu cara pening-katan demand. Tersedianya dokter dan fasilitas pelayanan kesehatan merupakan faktor lain yang meningkatkan demand. Fuchs (1998) menyatakan bahwa pada asumsi semua faktor lain tetap, kenaikan jumlah dokter spesialis bedah sebesar 10% akan meningkatkan jumlah operasi sebesar 3%. Kehadiran dokter gigi akan
22

meningkatkan demanduntuk pelayanan kesehatan mulut. Keberadaan dokter spesialis THT akan meningkatkan demanduntuk operasi tonsilektomi. Kehadiran dokter spesialis kebidanan dan penyakit kandungan dengan peralatan operasi akan meningkatkan demanduntuk pelayanan bedah caesar. Efek inflasi terhadap demandterjadi melalui perubahan-perubahan pada tarif pelayanan rumah sakit, jumlah relatif pendapatan keluarga, dan asuransi kesehatan. Faktor ini harus diperhatikan oleh rumah sakit karena pada saat inflasi tinggi, ataupun pada resesi ekonomi, demandterhadap pelayanan kesehatan akan dapat terpengaruh. Menurut Mills & Gilson (1990) hubungan antara teori permintaan dengan pelayanan kesehatan di negara-negara berkembang sangat dipengaruhi oleh faktorfaktor dibawah ini : 1. Pendapatan, ada hubungan (asosiasi) antara tingginya pendapatan dengan besarnya permintaan akan pemeliharaan kesehatan, terutama dalam hal pelayanan kesehatan modern. 2. Harga berperan dalam menentukan permintaan terhadap pemeliharaan kesehatan. Meningkatnya harga mungkin akan lebih mengurangi permintaan dari kelompok yang berpendapatan rendah dibanding dengan kelompok yang berpendapatan tinggi. 3. Sulitnya pencapaian sarana pelayanan kesehatan secara fisik akan menurunkan permintaan. Kemanjuran dan kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan untuk meminta pelayanan dan pemberi jasa tertentu Sedangkan menurut Santerre dan Neun (2000) menyebutkan bahwa beberapa faktor yang mempengaruhi demandterhadap pelayanan kesehatan adalah : 1. Harga pembayaran secara langsung oleh rumah tangga. 2. Pendapatan bersih (real income)

23

3. Biaya waktu (time cost), termasuk di dalamnya adalah biaya (uang) untuk perjalana termasuk muatan bis atau bensin di tambah biaya pengganti untuk waktu. 4. Harga barang substitusi dan komplementer 5. Selera dan preferensi, termasuk di dalamnya status pernikahan, pendidikan dan gaya hidup. 6. Fisik dan mental hidup 7. Status kesehatan 8. Kualitas pelayanan (quality of care) Ronald Andersen et al (1975), membagi faktor yang menentukan pemanfaatan pelayanan kesehatan menjadi tiga : 1. Faktor Predisposing Kecenderungan individu dalam menggunakan pelayanan kesehatan ditentukan oleh serangkaian variabel : a. Keadaan demografi : umur, jenis kelamin, status perkawinan b. Keadaan sosial : pendidikan, ras, jumlah keluarga, agama, etnik, pekerjaan. c. Sikap / kepercayaan yang muncul : terhadap pelayanan kesehatan, terhadap tenaga kerja, perilaku masyarakat terhadap sehat dan sakit. 2. Faktor Pendukung Faktor tersebut menunjukan kemampuan individu didalam menggunakan pelayanan kesehatan, yang ditunjukan oleh variabel : a. Sumber pendapatan keluarga : pendapatan dan tabungan keluarga, asuransi / sumber pendapatan keluarga yang lain, jenis pelayanan kesehatan yang tersedia serta keterjangkauan pelayanan kesehatan baik segi jarak maupun harga pelayanan . b. Sumber daya yang ada di masyarakat yang tercermin dari ketersediaan kesehatan termasuk jenis dan rasio masing-masing pelayanan dan tenaga kesehatannya dengan jumlah penduduk, kemudian harga pelayanan kesehatan yang memadai dan sesuai dengan kemampuan mereka.
24

3. Faktor Kebutuhan Faktor tersebut menunjukan kemampuan individu untuk menggunakan pelayanan kesehatan yang ditunjukan oleh adanya kebutuhan karena alasan yang kuat yaitu pendekatan terhadap penyakit yang dirasakan serta adanya jawaban atas penyakit tersebut dengan cara mencari pelayanan kesehatan. Penilaian terhadap suatu penyakit merupakan bagian dari kebutuhan. Menurut Tahan P. Hutapea (2009) dalam jurnal manajemen pelayanan kesehatan mengenai faktor yang mempengaruhi permintaan masyarakat terhadap pemilihan kelas perawatan pada rumah sakit yaitu:
1. Faktor penghasilan (ability)

Dari penelitian didapatkan golongan berpenghasilan rendah terutama menggunakan RS pemerintah, sebaliknya berpenghasilan tinggi memakai RS swasta
2. Faktor jarak tempat tinggal ke RS (access)

Jarak merupakan faktor yang paling penting dalam mempengaruhi kebutuhan ibu terhadap pertolongan persalinan
3. Faktor kelengkapan sarana dan fasilitas (availability)

Pada umumnya fasilitas atau sarana di kelas perawatan lebih tinggi biasanya lebih lengkap dari kelas yang lebih rendah, sehingga pemilihan kelas yang lebih tinggi dengan harapan fasilitas yang lebih lengkap
4. Faktor biaya perawatan yang dibayarkan dengan kelas perawatan yang dipakai

(willingness) Semakin tinggi kelas perawatan akan makin mahal tariff kamarnya dan sejalan dengan itu juga akan lebih mahal tariff dari semua tindakan yang diberikan pada pasien
5. Faktor kepuasan terhadap pelayanan RS (acceptability) 25

Berguna dalam memutuskan apakah kita akan membeli benda atau jasa tersebut. Dari berbagai faktor-faktor yang mempengaruhi demand dalam pelayanan kesehatan, hanya dua faktor yang sangat penting yakni insiden penyakit dan provider (dokter). Sehingga dapat dirumuskan sebabai berikut: Qdmc = f (insiden penyakit, provider karakteristikbudaya- demografi, factor ekonomi, dll) Sedangkan kita ketahui demand secara umum dapat dirumuskan sebagai berikut: Qdx = f (PxPy, I, T, F .)

Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa faktor utama yang menentukan demanddalam pelayanan kesehatan berbeda dengan demandsecara umum. Demand secara umum, faktor yang paling mempengaruhi adalah harga. Sedangkan demand dalam pelayanan kesehatan faktor utama yang lebih dominan adalah insiden penyakit dan provider. Insiden penyakit menjadi faktor utama karena demand pelayanan kesehatan akan muncul saat ada insiden penyakit. Semakin banyak insiden penyakit maka akan meningkat pula demand pelayanan kesehatan, sebaliknya apabila insiden penyakit menurun atau bahkan sampai tidak ada maka demand pelayanan kesehatan pun akan ikut menurun.Faktor utama lain yang paling menentukan yaitu seorang dokter atau provider. Konsumer sangat tergantung kepada penyedia (provider) pelayanan kesehatan. Oleh karena pada umumnya consumer tidak tahu banyak tentang jenis penyakit, jenis pemeriksaan dan jenis pengobatan yang dibutuhkannya. Dalam hal ini Providerlah yang menentukan jenis dan volume pelayanan kesehatan yang perlu dikonsumsi oleh konsumer.
26

Hal ini berarti pasien menyerahkan semua pengambilan keputusan kepada dokter dengan alasan minimnya pengetahuan dan kurangnya wewenang dari pasien itu sendiri untuk memutuskan pengobatan apa yang sebaiknya diterima. Selain sebagai provider atau penasehat pasien, dokter juga memiliki peran sebagai pemasok layanan medis. Sebagai pemasok layanan, dokter memiliki kepentingan keuangan dalam pelayanan pengobatannya, dapat dilihat bahwa dengan peningkatan pasokan dokter di suatu daerah, baik harga dan kuantitas akan meningkatkan pula pelayanan dokter. Hal seperti ini bisa menimbulkan suatu keadaan yaitu demand creation.

2.3

Demand Creation Demand creation (penciptaan permintaan) yaitu permintaan yang diciptakan

karena

terjadi suatu keadaan dimana dokter berperan sebagai penasehat pasien

namun memiliki kepentingan pribadi yang bertentangan yaitu sebagai penyedia pelayanan kesehatan. Telah diamati bahwa peningkatan suplai dokter pada suatu daerah akan meningkatkan jumlah dan harga pelayanan dokter. Pasien mempunyai sedikit informasi berkenaan dengan tersebut kebutuhan dengan pengobatan, dokter akan memanfaatkan pelayanan. Bila dirasionalkan bahwa tambahan permintaan yang diciptakan oleh dokter memberikan pelayanan yang bermanfaat, tetapi tambahan pelayanan tersebut mungkin kurang penting dan mungkin tidak akan diberikan dimana sudah terdapat permintaan yang cukup. Salah satu contoh permintaan diciptakan oleh dokter (a physician-created demand) yaitu pasien diminta datang seminggu setelah kedatangan pertama agar dokter bisa memantau perkembangan pasien. Contoh yang lebih serius yaitu operasi yang kurang penting. Pasien tidak bisa menilai apakah ia perlu atau tidak melakukan operasi. Dokter merasionalkan bahwa prosedur operasi tersebut bermanfaat dan tidak berdampak pada kemampuan pasien untuk menjalankan
27

ketidaktahuan

merekomendasikan

tambahan

fungsinya. Sebaliknya, pasien tidak mengetahui apakah nantinya operasi tersebut menimbulkan perubahan padanya. Jenis-jenis operasi yang biasa direkomendasikan, yaitu tonsillectomies, appendectomies, dan hysterectomies. Sejumlah tinggi ketika dan cakupan rumah penelitian menunjukkan bahwa tingkat prosedur bedah lebih sama sesuai

dokter diganti berdasarkan serupa dan prosedur sakit, tingkat

fee-for-service. Antara dokter yang bedah bervariasi

dua kelompok populasi, dengan karakteristik

dengan metode penggantian dokter: dalam satu grup, Health Insurance Plan of Greater New York, dokter yang diganti secara kapitasi (tingkat yang sama terlepas dari penggantian sejumlah prosedur yang dilakukan ); untuk kelompok lain dari pasien, ditutupi/diganti oleh GHI, dokter yang diganti berdasarkan basis fee-forservice. Tingkat prosedur bedah rumah sakit karena enrollees HIP adalah sebesar 4,38 per seratus orang per tahun, untuk GHI sebesar 7,18. Dalam studi lain pada populasi GHI dan HIP, tidak terdapat perbedaan signifikan yang ditemukan dalam prosedur pembedahan antara laki-laki dewasa, tetapi mereka menemukan adanya perbedaan antara perempuan dewasa yaitu 6,56 pada GHI dan 4,97 pada HIP. Dalam ketiga studi perbandingan dari metode fee-for-service, sakit identik pada penggantian dokter dibawah ketika ketiga bedah per yang pasien memiliki rencana, seratus orang mana per satu

sistem kapitasi (Kaiser) dan cakupan manfaat yang

ditemukan bahwa rasio prosedur rumah kelompok karyawan federal

tahun adalah masing-masing adalah 3,3; 6,9, dan 6,3. Perbandingan keempat dari dua dengan manfaat sama, di lain kelompok milik rencana kapitasi sementara kelompok milik sistem fee-for-

service, ditemukan bahwa tingkat prosedur bedah rumah sakit adalah 3,9 dalam rencana kapitasi dan 7,0 dalam sistem fee-for-service. Sepertiga dari perbedaan dalam tingkat prosedur pembedahan adalah hasil dari perbedaan dalam tingkat prosedur bedah untuk usus buntu (1,4 vs 2,6), tonsilektomi (4,0 vs 10,6) dan "operasi perempuan" (5,4 vs 8,2). Bukti di atas muncul untuk mendukung hipotesis bahwa ketika pasien memiliki pengetahuan yang kurang dan ketika dokter adalah
28

seorang penasihat dan juga pemasok dari layanan di mana ia memiliki kepentingan keuangan, dokter dapat mengambil keuntungan dari peran penasehat dengan menciptakan permintaan tambahan. Cara mengurangi demand creation, antara lain: 1. Meningkatkan Pengetahuan Pasien Peningkatan pengetahuan pasien akan mengurangi kemampuan dokter untuk mendapatkan tambahan permintaan. 2. Pengurangna Jumlah Operasi yang Tidak Perlu Mengurangi jumlah operasi yang tidak perlu dengan mengembangkan rencana institusi seperti komite peninjau ringan. 3. Dorongan Financial Dorongan financial (financial incentive) untuk mencegah praktek operasi yang tidak perlu serta pendekatan-pendekatan lainnya. 4. Mengubah biaya Reimbursment menjadi Kapitation a. Sistem penggantian (reimbursement). Dengan sistem penggantian, peserta asuransi harus mengeluarkan uang terlebih dahulu guna membayar biaya pengobatan yang kemudian dapat kita klaim atau meminta penggantian ke perusahaan asuransi dimana kita menjadi peserta asuransi. Dengan sistem ini maka kita bebas memilih rumah sakit yang mana saja, namun tentunya maksimal penggantian telah ditentukan dimuka. Yang perlu menjadi perhatian utama kita dalam melakukan klaim adalah kelengkapan surat-surat administrasi yang menjadi syarat utama agar proses penggantian biaya yang kita keluarkan dapat dibayar oleh perusahaan asuransi. Cepat lambatnya pencairan dana klaim tergantung kepada pelayanan yang diberikan oleh perusahaan asuransi, namun secara umum berkisar 7 hari kerja.
29

Bagi yang menganut sistem provider maka kita tidak perlu mengeluarkan uang terlebih dahulu. Kita hanya dibekali dengan kartu keanggotaan asuransi kesehatan guna mendapatkan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan di rumah sakit atau klinik kesehatan yang telah kita pilih sebelumnya berdasarkan daftar rumah sakit yang bekerja sama dengan perusahaan asuransi tersebut. Contoh dari sistem klaim atau sistem pengantian misalnya Sistem Klaim Jaminan Kesehatan pada PT. Jamsostek (Persero). b. Kapitasi Kapitasi berasal dari kata kapita yang berarti kepala. Secara harfiah maka sistem kapitasi berarti cara perhitungan berdasarkan jumlah kepala yang terikat dalam kelompok tertentu. Kepala dalam hal ini berarti orang atau peserta atau anggota. Definisi sistem kapitasi itu sendiri adalah metode pembayaran untuk jasa pelayanan kesehatan dimana pemberi pelayanan kesehatan (dokter atau rumah sakit) menerima sejumlah tetap penghasilan per perserta, per periode waktu (biasanya bulan), untuk pelayanan yang telah ditentukan per periode waktu. Kapitasi adalah metode pembayaran untuk jasa pelayanan kesehatan dimana Pemberi Pelayanan Kesehatan (dokter atau rumah sakit) menerima sejumlah tetap penghasilan per peserta, per periode waktu (bulanan), untuk pelayanan yang telah ditentukan per periode waktu. Kapitasi didasari dari jumlah tertanggung (orang yang diberi jaminan atau anggota) baik dalam keadaan sakit atau dalam keadaan sehat yang besarnya dibayarkan di muka tanpa memperhitungkan jumlah konsultasi atau pemakaian pelayanan di PPK tersebut. Pembayaran kapitasi ini merupakan suatu cara pengendalian

biaya dengan menempatkan PPK pada posisi menanggung resiko, seluruhnya atau sebagian, dengan cara menerima pembayaran atas dasar jumlah jiwa yang ditanggung. Berbeda dengan sistem pembayaran fee for service yang akan meningkatkan penghasilan jika semakin banyak pasien yang sakit dan
30

berobat, pada sistem pembayaran kapitasi ini PPK akan mendapat uang/dana yang sama baik saat peserta yang ditanggung itu sehat maupun sakit. Jadi, jika peserta yang ditanggung oleh PPK banyak yang sakit dan berobat, ini justru akan mengakibatkan kerugian. Untuk menentukan angka kapitasi perlu diketahui dua hal pokok yang harus diperhatikan dalam menentukan kapitasi, yaitu prediksi angka utilisasi (penggunaan pelayanan kesehatan) dan penetapan biaya satuan. Besaran angka kapitasi ini sangat dipengaruhi oleh angka utilisasi pelayanan kesehatan dan jenis paket (benefit) asuransi kesehatan yang ditawarkan serta biaya satuan pelayanan. Jenis-jenis kapitasi adalah sebagai berikut : a. Penuh/total : kapitasi melayani jasa rawat jalan dan rawat inap b. Sebagian : kapitasi hanya mencakup pada rawat jalan saja, rawat inap saja, atau hanya jasa pelayanan tanpa obat c. Risk adjustment capitation : berbasis umur, risiko sakit, dan geografi Sebenarnya, awal mula sistem kapitasi ini dilatarbelakangi oleh tidak terkendalinya biaya akibat over utilisasi dan demand creation/ suplay induce demand. Dalam hal ini, telah banyak terjadi moral hazard yang dilakukan oleh PPK karena miskinnya informasi mengenai penyakit dan pelayanan yang benar - benar dibutuhkan oleh pasien. Banyak pasien yang diberi rujukan untuk pemeriksaan MRI, CT scan, USG, EKG, dll oleh PPK yang tidak bertanggungjawab tanpa indikasi yang sesuai. Hal ini tentu mengakibatkan overutilisasi yang sangat merugikan pasien karena harus mengeluarkan biaya yang sebenarnya tidak diperlukan, sehingga muncul ide untuk mengendalikan hal ini yang akhirnya mencetuskan sistem kapitasi ini. Dengan adanya sistem kapitasi ini, diharapkan akan terjadi:

31

a.

Pemberian

pelayanan

yang

berkualitas

tinggi,

dengan

menegakkandiagnostik yang akurat dan memberikan pengobatan atau tindakan yang tepat sehingga pasien akan cepat sembuh dan tidak kembali ke PPK untuk konsultasi ataupun tindakan lebih lanjut yang menambah biaya.
b. Pemberian pelayanan promotif dan preventif untuk mencegah insidensi

kesakitan baru sehingga peserta tidak perlu lagi berkunjung ke PPK. Hal ini tentu akan menurunkan utilisasi menjadi lebih rendah dan biaya pelayanan menjadi lebih kecil.
c.

Pemberian pelayanan yang pas, tidak lebih dan tidak kurang, untuk mempertahankan efisiensi dan menekan biaya pelayanan.

d.

Secara teori, sistem kapitasi ini merupakan sistem yang sanagt baik dengan keuntungan yang akan didapatkan semua pihak, baik dokter, pasien, maupun pihak asuransi. Namun, pada kenyataanya masih banyak hambatan dalam pelaksanaan sistem ini. Mutu pelayanan yang diharapkan meningkat justru kemudian menjadi turun karena hal - hal seperti:

e.

Sering melakukan rujukan agar waktu pelayanan lebih cepat, dapat melayani banyak orang, dan meminimalkan biaya yang harus dikeluarkannya. Hal ini biasa terjadi pada pola kapitasi parsial, dimana PPK hanya menjamin rawat jalan dasar saja, sementara untuk rawat jalan lanjutan ataupun rawat inap perlu dirujuk ke tempat lain.

f.

Mempercepat waktu pelayanan sehingga tersedia waktu lebih banyak untuk melayani pasien non kapitasi yang tentu akan membayar lebih banyak. Artinya, mutu pelayanan menjadi berkurang karena waktu pelayanan yang singkat.

g. Tidak memberikan pelayanan dengan baik, supaya kunjungan pasien

kapitasi tidak banyak. Hal inilah yang kemudian sering menimbulkan banyaknya keluhan peserta atas pelayanan yang tidak memuaskan.

32

Pada akhirnya, sistem yang digunakan untuk meningkatkan mutu justru kemudian akan sangat menurunkan mutu pelayanan kesehatan oleh PPK. Untuk itu diperlukan suatu evaluasi yang mampu menilai keberhasilan sistem ini. Ada 3 hal penting yang harus selalu dievaluasi dalam pelaksanaan sistem kapitasi, yaitu: (1) utilisasi biaya; (2) status kesehatan dan (3) kepuasan peserta. Jadi dalam sistem pembayaran kapitasi, diperlukan telaah utilisasi (utilization review) sebagai sistem evaluasi yang berguna untuk memberikan informasikepada pembayar dan PPK apakah pelayanan yang diberikan selama ini sudahpas pada titik optimal. Utilisasi di bawah optiomal menunjukkan mutu pelayanan yang tidak memenuhi standar, sementara utilisasi yang berlebihan merugikan PPK. Selain itu, telaah utlisasi ini juga sangat penting untuk mengetahui apakah keluhan anggota/peserta tentang kualitas yang kurang memadai memang terjadi. Pada akhirnya, dapat ditarik kesimpulan bahwa sistem kapitasi merupakan sistem yang ideal jika mampu terlaksana dan sistem evaluasi berjalan dengan baik. Manfaat sitem kapitasi ini adalah : 1. ada jaminan tersedianya anggaran untuk pelayanan kesehatan yang akan diberikan 2. ada dorongan untuk merangsang perencanaan yang baik dalam pelayanan kesehatan, sehingga dapat dilakukan : a. pengendalian biaya kesehatan per anggota b. pengendalian tingkat penggunaan pelayanan kesehatan c. efesiensi biaya dengan penyerasian upaya promotif-preventif dengan kuratif-rehabilitatif d. rangsangan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang bermutu, efektif dan efesien
33

e. peningkatan pendapatan untuk PPK yang bermutu f. peningkatan kepuasan anggota yang akan menjamin tersedianya kesehatan masyarakat Konon disebutkan bahwa pembiayaan kesehatan dengan sistem kapitasi dinilai lebih efektif dan efisien menurunkan angka kesakitan dibandingkan sistem pembayaran berdasarkan layanan (fee for service). Tetapi sistem kapitasi bisa diterapkan jika pemerintah memberikan asuransi kesehatan bagi seluruh rakyat seperti disebutkan dalam UU No 40 tahun 2004 tentang Sistem jaminan Sosial Nasional (SJSN). Yang menjadi keuntungan dan kelemahan dari sistem kapitasi adalah sebagai berikut: Keuntungan:
1. RS dapat jaminan adanya pasien (captive market)

2.

RS mendapat kepastian dana di awal tahun/kontrak

3. Bila berhasil mengefesiensikan pelayanan akan mendapar keuntungan 4. Dokter dapat lebih taat prosedurpromosi dan prevensi akan lebih

ditekankan Kelemahan:
1. Cenderung underutilization 2. Bila dokter belum memahami dapa menimbulkan konflik 3. Bila peserta tidak banyak ada resiko kerugian

Untuk mengurangi kelemahan tersebut, maka utilization review harus diperkuat, dan bila perlu dikontrakkan keluar oleh ahlinya. Standar terapi harus disusun secara serius dan ditaati agar dokter atau Rumah Sakit betulbetul bertanggung jawab akan kesehatan masyarakat.
34

Yang mejadi tantangan saat ini adalah perlunya menjaga agar asumsiasumsi dapat terpenuhi dan juga harus siap dalam mengantisipasi risiko kerugian dengan membuat risk pool (dana cadangan). Dibutuhkan keharusan untuk menciptakan sistem mutu tetap terjaga, secara insentif dan disinsentif. Untuk langkah-langkah perhitungan kapitasi sebagai berikut : 1. menetapkan jenis-jenis pelayanan yang akan dicakup dalam pembayaran kapitasi
2. menghitung rate utilisasi (angka pemanfaatan) yang biasanya dihitung per

1000 jiwa 3. mendapatkan rata-rata biaya per pelayanan yang dicakup dalam kontrak kapitasi 4. menghitung biaya per kapita per bulan untuk tiap pelayanan

5. menjumlahkan biaya per kapita per bulan untuk seluruh pelayanan guna

mendapatkan besaran biaya kapitasi. Jika diperlukan, menghitung dana pool rujukan dan dana rumah sakit atau dana ditahan (withhold). Kesimpulannya, peran dokter dalam perawatan medis berpotensi untuk seorang penasehat pasien bertindak sebagai sumber daya, kita peran penasehat, berharap dan juga mempengaruhi permintaan konflik, karena untuk ia adalah pasien serta kuat antara Di sisi lain,

menimbulkan

pemasok layanan medis. Dokter dalam hubungan yang perawatan medis.

mempertimbangkan kebutuhan menemukan

karakteristik pasien dan

permintaannya untuk

ketika penggunaan pelayanan medis berbeda dari apa yang kita harapkan mungkin awalnya, bukannya meninggalkan model ekonomi permintaan, kita harus memeriksa alasan untuk penggunaan tak terduga dalam perawatan dalam hal pengaruhnya penggunaan terhadap pelayanan produktivitas dan pendapatan dokter. Peran penting dari dokter diterjemahkan sebagai penentuan permintaan pasien untuk

35

medis tidak boleh dilupakan dalam upaya kebijakan publik untuk mengontrol biaya medis dan pemanfaatan. Biaya-untuk-layanan dokter menentukan penggunaan semua sumber daya medis, namun dokter tidak menanggung tanggung jawab fiskal bagi keputusan mereka . 2.4 Perbedaan Demand Pelayanan Kesehatan dengan Demand Produk

Secara Umum Aplikasi ilmu ekonomi pada sektor kesehatan perlu mendapat perhatian terhadap sifat dan ciri khususnya sektor kesehatan. Sifat dan ciri khusus tersebut menyebabkan asumsi-asumsi tertentu dalam ilmu ekonomi tidak berlaku atau tidak seluruhnya berlaku apabila diaplikasikan untuk sektor kesehatan. Ciri khusus tersebut antara lain: 1. Kejadian penyakit tidak terduga Adalah tidak mungkin untuk memprediksi penyakit apa yang akan menimpa kita dimasa yang akan datang, oleh karena itu adalah tidak mungkin mengetahui secara pasti pelayanan kesehatan apa yang kita butuhkan dimasa yang akan datang. Ketidakpastian (uncertainty) ini berarti adalah seseorang akan menghadapi suatu risiko akan sakit dan oleh karena itu ada juga risiko untuk mengeluarkan biaya untuk mengobati penyakit tersebut. 2. Consumer Ignorance Konsumer sangat tergantung kepada penyedia (provider) pelayanan kesehatan. Oleh karena pada umumnya consumer tidak tahu banyak tentang jenis penyakit, jenis pemeriksaan dan jenis pengobatan yang dibutuhkannya. Dalam hal ini Providerlah yang menentukan jenis dan volume pelayanan kesehatan yang perlu dikonsumsi oleh konsumer. 3. Sehat dan pelayanan kesehatan sebagai hak Makan, pakaian, tempat tinggal dan hidup sehat adalah elemen kebutuhan dasar manusia yang harus senantiasa diusahakan untuk dipenuhi, terlepas dari kemampuan seseorang untuk membayarnya. Hal ini menyebabkan distribusi pelayanan kesehatan

36

sering sekali dilakukan atas dasar kebutuhan (need) dan bukan atas dasar kemampuan membayar (demand). 4. Ekstemalitas Terdapat efek eksternal dalam penggunaan pelayanan kesehatan. Efek eksternal adalah dampak positif atau negatif yang dialami orang lain sebagai akibat perbuatan seseorang. Misalnya imunisasi dari penyakit menular akan memberikan manfaat kepada masyarakat banyak. Oleh karena itu imunisasi tersebut dikatakan mempunyai social marginal benefit yang jauh lebih besar dari private marginal benefit bagi individu tersebut. Oleh karena itu pemerintah harus dapat menjamin bahwa program imunisasi harus benar-benar dapat terlaksana. Pelayanan kesehatan yang tergolong pencegahan akan mempunyai ekstemalitas yang besar, sehingga dapat digolongkan sebagai komodity masyarakat, atau public goods. Oleh karena itu program ini sebaiknya mendapat subsidi atau bahkan disediakan oleh pemerintah secara gratis. Sedangkan untuk pelayanan kesehatan yang bersifat kuratif akan mempunyai ekstemalitas yang rendah dan disering disebut dengan private good, hendaknya dibayar atau dibiayai sendiri oleh penggunanya atau pihak swasta. 5. Non Profit Motive Secara ideal memperoleh keuntungan yang maksimal (profit maximization) bukanlah tujuan utama dalam pelayanan kesehatan. Pendapat yang dianut adalah Orang tidak layak memeperoleh keuntungan dari penyakit orang lain. 6. Padat Karya Kecendrungan spesialis dan superspesialis menyebabkan komponen tenaga dalam pelayanan kesehatan semakin besar. Komponen tersebut bisa mencapai 40%60% dari keseluruhan biaya. 7. Mixed Outputs Yang dikonsumsi pasien adalah satu paket pelayanan, yaitu sejumlah pemeriksaan diagnosis, perawatan, terapi dan nasihat kesehatan. Paket tersebut bervariasi antara individu dan sangat tergantung kepada jenis penyakit. 8. Upaya kesehatan sebagai konsumsi dan investasi
37

Dalam jangka pendek, upaya kesehatan terlihat sebagai sektor yang sangat konsumtif, tidak memberikan return on investment secara jelas. Oleh sebab itu sering sekali sektor kesehatan ada pada urutan bawah dalam skala prioritas pembangunan terutama kalau titik berat pembangunan adalah pembangunan ekonomi. Akan tetapi orientasi pembangunan pada akhirnya adalah pembangunan manusia, maka pembangunan sektor kesehatan sesuangguhnya adalah suatu investasi paling tidak untuk jangka panjang. 9. Restriksi berkompetisi Terdapat pembatasan praktek berkompetisi. Hal ini menyebabkan mekanisme pasar dalam pelayanan kaesehatan tidak bisa sempurna seperti mekanisme pasar untuk komodity lain. Dalam mekanisme pasar, wujud kompetisi adalah kegiatan pemasaran (promosi, iklan dan sebagainya). Sedangkan dalam sektor kesehatan tidak pernah terdengar adanya promosi discount atau bonus atau banting harga dalam pelayanan kesehatan. Walaupun dalam prakteknya hal itu sering juga terjadi dalam pelayanan kesehatan. Demand terhadap pelayanan kesehatan berbeda dengan demand bidang ekonomi disebabkan oleh: 1. Pada dasarnya orang tidak menyukai pelayanan kesehatan berbeda dengan pakaian, rumah, mobil. Yang diharapkan konsumen dalam pelayanan kesehatan adalah cepat sehat. 2.
3.

Konsumer pelayanan kesehatan berada dalam posisi lemah dan sangat ditentukan oleh pemberi yankes. Demand yang terjadi bukan keputusan konsumer walaupun memutuskan dimana mau berobat tapi tidak bisa memutuskan jenis perawatan atau pengobatan untuknya. Grossman menguraikan bahwa demanduntuk kesehatan memiliki beberapa hal

yang membedakan dengan pendekatan tradisional demanddalam sektor lain:

38

1. Yang diinginkan masyarakat atau konsumen adalah kesehatan, bukan pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan merupakan derived demandsebagai input untuk menghasilkan kesehatan. Dengan demikian, demanduntuk pelayanan rumah sakit pada umumnya berbeda dengan demanduntuk pelayanan hotel. 2. Masyarakat tidak membeli kesehatan dari pasar secara pasif. Masyarakat menghasilkannya, menggunakan waktu untuk usaha-usaha peningkatan kesehatan, di samping menggunakan pelayanan kesehatan. 3. Kesehatan dapat dianggap sebagai bahan investasi karena tahan lama dan tidak terdepresiasi dengan segera. 4. Kesehatan dapat dianggap sebagai bahan konsumsi sekaligus sebagai bahan investasi.

2.5

Elastisitas serta konsekuensi Demand Dalam Pelayanan Kesehatan Elastisitas merupakan salah satu konsep penting untuk memahami beragam

permasalahan di bidang ekonomi. Konsep elastisitas sering dipakai sebagai dasar analisis ekonomi, seperti dalam menganalisis permintaan, penawaran, penerimaan pajak, maupun distribusi kemakmuran. Harga atau layanan dan yang menggunakan layanan tersebut, menurut teori ekonomi, berbanding terbalik dengan: pengurangan harga, pembelian atau penggunaan layanan akan meningkat. Oleh karena itu Pengetahuan tentang elastisitas harga permintaan untuk layanan kesehatan penting bagi kebijakan publik. bagaimanapun Banyak orang dalam perawatan medis umumnya diasumsikan, bahwa harga memiliki pengaruh yang sangat sedikit pada menggunakan layanan medis. Jadi
E= elastisitas demand dalam pelayanan kesehatan tergolong dalam kategori inelastis. 0

Sehingga di dapat kurva sebagai berikut: E<1

P2 39

P1
E=

Gambar 3. Kurva elastisitas, inelastis dan inelastis sempurna dalam demand pelayanan kesehatan

Jika demand dalam pelayanan kesehatan termasuk inelastis, maka konsekuensi yang harus dilakukan adalah meningkatkan mutu pelayanan. Karena di dalam permintaan terhadap kesehatan, faktor yang lebih dominan adalah insiden terjadinya penyakit. Bukan masalah harga. Pada dasarnya, demand dalam pelayanan kesehatan adalah dimana seseorang ingin meningkatkan derajat kesehatannya tanpa memikirkan seberapa besar uang yang akan dikeluarkan untuk kesehatannya tersebut. Dalam pelayanan kesehatan, permintaan tergantung pada sifat urgensinya:
1. Emergency : penyakit jantung mendadak, apendik dll.

Pada sifat emergency ini, elastisitas demand dalam pelayanan kesehatan tergolong inelastis. Semakin emergency suatu keadaan, maka kurva dari demand akan bersifat semakin inelastic bahkan inelastic sempurna. 2. Non emergency Pada sifat non emergency ini, elastisitas demand dalam pelayanan kesehatan akan bersifat semakin elastis. Dalam keadaan yang tidak darurat pasien cenderung memikirkan factor lain yang mempengaruhi salah satunya yaitu biaya. Contohnya, dalam kadaan menderita penyakit influenza, dimana penyakit ini
40

tidak terlalu darurat atau memerlukan penanganan secepatnya, apabila seorang dokter meresepkan pelayanan kesehatan A dimana biayanya dirasa mahal, maka pasien akan lebih memilih membeli obat bebas yang dirasa biayanya lebih murah dari pada Pelayanan A.
3. Elective yaitu yankes yang bisa diatur saat pelaksanaannya seperti bedah

kosmetik, sirkumsisi, operasi katarak.

2.6 Fungsi Pelayanan Kesehatan


1.

Melaksanakan dan mengembangkan upaya kesehatan dalam rangka meningkatkan status kesehatan masyarakat.

2. Mengurangi penderita yang sakit, baik melalui tindakan pencegahan maupun

pengobatan penykit.
3. Membina masyarakat di wilayah kerja untuk berperan aktif dan mampu

(memiliki pengetahuan) untuk diri sendiri di bidang kesehatan. 4. Memenuhi kebutuhan, sumber daya kesehatan, memperluas jangkauan

pelayanan kesehatan dan meningkatkan profesionalisme tenaga kesehatan.

41

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Pelayanan kesehatan adalah upaya, pekerjaan atau kegiatan kesehatan yang ditujukan untuk mencapai derajat kesehatan perorangan/ masyarakat yang optimal/ setinggi-tingginya. Pelayanan kesehatan merupakan salah satu input yang digunakan untuk proses produksi yang akan menghasilkan kesehatan. Demandterhadap pelayanan rumah sakit tergantung terhadap demandakan kesehatan sendiri. Pengukuran need dalam pelayanan kesehatan : 1. Melihat data kedatangan pasien ke penyaji kesehatan. Dengan melihat jumalah pasien yang datang, kita dapat melihat pelayan kesehtan mana yang lebih dibutuhkan oleh pasien. 2. Epidemiologi penyakit Dengan melihat data kajadian suatu penyakit, tingginya kejadian penyakit need kebutuhan pelayanan kesehatan dapat dilihat dan digambarkan Cara Mengukur DemandDalam Pelayanan Kesehatan 1.
2.

Riset pasar Forcasting demand

Faktor Yang Mempengaruhi Demand Pelayanan Kesehatan


1. 2. 3. 4.

Insiden penyakit atau penyakit yang dirasakan Peran provider (dokter) dalam permintaan terhadap pelayanan kesehatan Karakteristik budaya-demografi Factor ekonomi
42

Demand creation (penciptaan permintaan) yaitu permintaan yang diciptakan karena terjadi suatu keadaan dimana dokter berperan sebagai penasehat pasien namun memiliki kepentingan pribadi yang bertentangan yaitu sebagai penyedia pelayanan kesehatan. Cara mengurangi demand creation, antara lain: 1. Meningkatkan Pengetahuan Pasien Peningkatan pengetahuan pasien akan mengurangi kemampuan dokter untuk mendapatkan tambahan permintaan. 2. Pengurangna Jumlah Operasi yang Tidak Perlu Mengurangi jumlah operasi yang tidak perlu dengan mengembangkan rencana institusi seperti komite peninjau ringan. 3. Dorongan Financial Dorongan financial (financial incentive) untuk mencegah praktek operasi yang tidak perlu serta pendekatan-pendekatan lainnya. 4. Mengubah biaya Reimbursment menjadi Kapitation

Elastisitas merupakan salah satu konsep penting untuk memahami beragam permasalahan di bidang ekonomi. Konsep elastisitas sering dipakai sebagai dasar analisis ekonomi, seperti dalam menganalisis permintaan, penawaran, penerimaan pajak, maupun distribusi kemakmuran. Dalam pelayanan kesehatan, permintaan tergantung pada sifat urgensinya:
1.

Emergency : penyakit jantung mendadak, apendik dll. Pada sifat emergency ini, elastisitas demand dalam pelayanan kesehatan tergolong inelastis. Semakin emergency suatu keadaan, maka kurva dari demand akan bersifat semakin inelastic bahkan inelastic sempurna.

2.

Non emergency
43

Pada sifat non emergency ini, elastisitas demand dalam pelayanan kesehatan akan bersifat semakin elastis. Dalam keadaan yang tidak darurat pasien cenderung memikirkan factor lain yang mempengaruhi salah satunya yaitu biaya. Contohnya, dalam kadaan menderita penyakit influenza, dimana penyakit ini tidak terlalu darurat atau memerlukan penanganan secepatnya, apabila seorang dokter meresepkan pelayanan kesehatan A dimana biayanya dirasa mahal, maka pasien akan lebih memilih membeli obat bebas yang dirasa biayanya lebih murah dari pada Pelayanan A.
3.

Elective yaitu yankes yang bisa diatur saat pelaksanaannya seperti bedah kosmetik, sirkumsisi, operasi katarak.

3.2

Saran Demand pelayanan kesehatan harus lebih dipahami oleh mahasiswa, agar dapat

melihat seberapa besar permintaan masyarakat terhadap pentingnya sehat dan dapat menerapkannya di suatu pelayanan kesehatan.

44

DAFTAR PUSTAKA http://fk.uns.ac.id/static/materi/Ekonomi_Kesehatan_-_Prof_Bhisma_Murti.pdf diakses pada tanggal 25 September 2011 pukul 20:53 WIB http://manajemen-rs.net/dmdocuments/MRS_BAB%20VIII%20-%20KONSEP %20DEMAND%20DALAM.pdf diakses pada tanggal 25 September 2011 pukul 19:23 WIB http://docs.google.com/viewer? a=v&q=cache:wg3m11rfTV8J:repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20855/4/ Chapter %2520II.pdf+definisi+pelayanan+kesehatan+adalah&hl=id&gl=id&pid=bl&srcid =ADGEESiR6zqNtdoGhJIfjbWLJ959BqHRqdOyZARnSiqPh3owyO4ebsEPVSr R2Rdpsu9MCI8fPF7WaD4Mx_qb3AyowmpBrbyEnO7bnxDPUsx4YAReaEtr1is uGM62Uz_Ov2d4HnSY9Dp_&sig=AHIEtbR1vPPp1CvFX16nujyqUG909UUNn g. Diakses pada tanggal 25 September 2011 pukul 20:55 WIB http://manajemen-rs.net/dmdocuments/MRS_BAB%20VIII%20-%20KONSEP %20DEMAND%20DALAM.pdf. Diakses pada tanggal 26 September 2011 pukul 18:47 WIB. http://bukan-sekedar-dokter.blogspot.com/2010/10/kapitasi-meningkatkan-mutuatau.html. Diakses pada tanggal 27 September 2011 pukul 20:33 WIB. http://rhainakhairani.wordpress.com/2011/02/17/mari-mengenal-sistem-kapitasilebih-dekat/. Diakses pada tanggal 27 september pukul 21:08 WIB. http://kesehatandemu.blogspot.com/2011/02/sistem-kapitasi.html. tanggal 28 September 2011 pukul 13:22 WIB. Anonim. Penggunaan Ekonomi Mikro di Sektor Kesehatan. http://manajemenrs.net/dmdocuments/MRS_BAB%20V%20-%20PENGGUNAAN%20EKONOMI %20MIKRO.pdf. Sitasi 25 September 2011 pukul 19:05 WIB Diakses pada

45

eprints.undip.ac.id/23147/1/FULL_TEXT.pdf. Diakses pada tanggal 25 September 2011 pukul 16:34 WIB jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/1220994101.pdf. September 2011 pukul 17:42 WIB 2006. Kumpulan Materi Kuliah Ekonomi Kesehatan. Diakses pada tanggal 25

46

Lampiran Pertanyaan
1. Lebih penting mana antara demand kesehatan dibanding dengan demand pelayanan kesehatan? Jika dipandang dari sudut pandang SKM? (Budi Eko S) Jawab: Dari sudut pandang SKM kita harus lebih mengutamakan demand kesehatan karena tujuan SKM adalah promotion and preventive. Namun di Indonesia masih belum bisa seperti itu karena salah satunya disebabkan oleh kemiskinan. Oleh karena itu untuk sekarang demand kesehatan dan demand pelayanan kesehatan harus berjalan bersama-sama. 2. Untuk menentukan faktor-faktor yang menyebabkan demand dalam pelayanan kesehatan menurut kelompok kalian yg paling utama adalah kejadian penyakit, saat ini paradigmanya adalah paradigma sakit. Bagaimana jika suatu saat nanti paradigma kita berubah menjadi paradigma sehat, apakah faktor penentu utamanya masih sama atau tidak? kalo tidak, faktor apa yang paling berpengaruh? berikan alasannya! (Gerardin Ranin K) Jawab: Faktor utama tetap kejadian penyakit meskipun paradigma telah berubah menjadi paradigma sehat. Hal ini di asumsikan bahwa masyarakat ketika telah berparadigma sehat, akan menggunakan pelayanan kesehatan untuk mencegah terjadinya penyakit yang sedang berlangsung, bukan lagi untuk mengobatinya jadi faktor penentu tetap sama.

47