Anda di halaman 1dari 7

Biografi Walter Mischel

Mischel adalah orang Vienna. Pada tahun 1938, ia kabur dari rumah orangtuanya di Nazis dan tinggal di New York. Meskipun ia memulai belajarnya pada seni di New York University (menggambar dan memahat) pada tahun 1951, Mischel memulai studi psikologi klinis di tempat yang sekarang dinamakan the City University of New York. Di tahun yang sama, ia juga menjadi pekerja sosial, ia menghabiskan seluruh waktunya di New York Citys Lower East Side. Kemudian, ia pindah ke Ohio State University, tempat dimana ia bertemu dengan Julian Rotter dan George Kelly. Terkesan dengan dua teori tersebut, Mischel mencoba menggabungkan teori pembelajran social (social learning theory) dan teori kogniif ke dalam penelitian dan konstruksi teorinya. Setelah menyelesaikan studi Ph. D. (gelar psikolog klinis)-nya di Ohio State, Mischel mengajar di University of Colorado dan kemudian di Harvard University, di sana ia bersama koleganya termasuk Henry Murray dan Gordon Allport. Pada tahun 1962, Mischel pindah ke Stanford University, di sana ia melakukan beberapa penelitian bersama Albert Bandura. Pada tahun 1983, ia kembali ke tempat , pendidikan pertamanya, Mischel menjadi professor psikologi di Columbia University. Pada tahun 1982, Mischel menerima sebuah penghargaan berupa Distinguished Scientific Contribution Award dari the American Psychological Association. Pada tahun 1978, ia menerima penghargaan serupa dari the APAS Divisoin of Clinical Psychology. Ia mendapat beasiswa dari the Center for Advanced Studies dalam bidang pengetahuan tentang tingkah laku dan ia menjalankan beberapa penelitiannya dan menjadi seorang komite yang professional. Walter Mischel melakukan penelitian tentang konsistensi dan variabilitas dari tingkah laku manusia. Pada tahun 1968 dalam buku kontroversialnya Personality and Assessment, ia menantang beberapa orang dari ahli psikologi kepribadian yang kebanyakan percaya pada asas tentang konsistensi dari kepribadian dan tingkah laku sosial. Kritik dari teori psikoanalitik, teori sifat dan metode penelitian kepribadian saat itu

menimbulkan debat sengit dan berkontribusi dalam menstimulasi beberapa penelitian penting dari peneliti lainnya. Awal dari usul Mischel adalah sebuah situasi dapat sangat penting daripada seseorang dalam menentukan tingakah laku yang muncul dari pengalaman dalam usaha untuk menaksir karakter kepribadiannya, dan sebuah prediksi kesuksesan dari, pengajar Peace Corps yang ditugaskan di Nigeria. Menggunakan teori yang sudah ada, Mischel menemukan dalam rasa dengki dari upaya terbaiknya, menyertakan taksiran perkalian, dia tidak dapat memprediksi sebuah pelaksanaan pengajar dengan baik. Dia juga berkecil hati kalau pelatihan psikologinya tidak dapat membantu hingga ia berharap, bahwa ini akan bekerja dalam pekerjaannya sekarang sebagai seorang pekerja sosial.

Bagaimanapun, teori yang sudah ia pelajari tidak tampak mempunyai sebuah aplikasi yang berguna.

Prediksi dari Kepribadian


Awalnya Mischel menentang bahwa traditional trait dan gambaran psikodinamik tidak berguna dalam memprediksi tentang tingkah laku manusia. Konsep global tentang watak, seperti aggression, anxiety, atau dependency, tidak membantu, Mischel menyatakan, karena tindakan dari variabel ini sangat tidak ada hubungannya dengan tingkah laku yang terjadi dalam banyak macam situasi. Banyak ahli psikologi (termasuk Mischel) beranggapan bahwa tanda yang dapat diterima adalah, say, aggresion, pada sebuah tes kepribadian seperti Rorsachach atau TAT atau dalam seuah interview akan dan dapat memprediksi tingkah laku yang aggresif di situasi yang lain. Namun penelitian Mischel dengan Peace Corps menunjukan sukarelawan, membuat ia terkejut bahwa hubungan diantara taksiran data dan kehidupan nyata tidak sesuai. Meninjau kembali penemuan terakhirnya untuk sebuah jawaban bagi penemuan yang membingungkan ini , Mischel mengamati bahwa ia telah dipandu oleh sebuah komitmen untuk lebih mengikuti pada apa yang benar-benar akan dilakukan seseorang, pada tindakan dan kesadaran mereka dalam sebuah fakta penghubung situasi bagi sebuah

teoritis atau masalah minat yang klinis. [Sebuah pencarian] tidak berusaha mempermuda tatomistic behaviorsm,atau untuk meninggikan situasi kedalam sebuah sebab utama dalam tingkah laku. Mischel menjelaskan bahwa dia menafsirkan individu sebagai penghasil macammacam tingkah laku dalam merespon bermacam-macam situasi. Menghasilkan tingkah laku adalah mengobservasi dan selanjutnya menggabungkan teori dari pelaku. Jadi, saat paradigma traditonal personality memperlihatkan sifatnya sebagai sebab intrapsikis dari konsistensi tingkah laku. Banyak penelitian telah merespon pada penolakan Mischel untuk melakukan

pekerjaan yang lebih baik dalam penaksiran kepribadian. Beberapa usaha terbaru telah diringkas dalam Mischel (1984a) dan Mischel and Peake (1982).

Paradoks Konsistensi
Paradoks Konsistensi mengarahkan pada sebuah kenyataan meskipun Naluri nampak mendukung sebuah kepercayaan bahwa karakter manusia dihasilkan oleh watak yang besar dalam konsistensi melewati situasi, sebuah penelitian dalam sebuah area memiliki kegagalan terus menerus untuk mendukung naluri itu. (Mischel, 1982a, p. 357). Berdasarkan dari keyakinannya bahwa metode terbaik sekalipun pernah mengalami kegagalan untuk mendemonstrasikan konsistensi tingkah laku, Mischel telah mengambil pendekatan yang berbeda. Ia memilih untuk menanyakan dasar pikiran dari teori sifat, untuk melihat seseorang sebagai proactive dan cognitive, dan untuk membuat analisis dengan hati-hati dari interaksi manusia situasi. Menanyakan teori sikap, Mischel mengatakan, memimpin untuk mengenal pembatasan dari traditional global trait dan teori yang ditetapkan tidak dapat menyatakan bahwa orang tersebut tidak memiliki watak. (19842, p. 356). Watak harus berkarakter syarat itu memenuhi untuk sebuah kenyataan kalau seseorang tidak selalu

konsisten. Berdasarkan pikiran tersebut, Mischel telah mempelajari bagaimana seseorangmenafsirkan, atau mengkategorikan dirinya sendiri, orang lain dan situasi. Mischel mengusulkan bahwa peneliti teori prototipe dari sesuatu yang diberikan tingkah laku mempengaruhi prediksinya. Konsistensi pendapat mengandalkan peranan dari sebuah observasi dari keistimewaan prototipe jadi kesan dari konsistensi akan memperoleh bukan dari rata-rata level sebuah konsistensi melewati semua kemungkinan keistimewaan dari sebuah kategori, namun cukup dari sebuah observasi mengenai sebuah keistimewaan yang dapat dipercaya saat ini. (Mischel, 1984a, p. 357) Mischel akan mengeluarkan maksud bahwa anak menggunakan gagasan kognitif untuk mengkategorikan situasi dan dapat menjadi agresif hanya saat merasa kemungkinan sebuah deteksi rendah. Demikian dia dapat menunjukkan tingkah laku agresif hanya dalam sebuah grup yang sudah di setting, dia dapat merasakan, tingkah lakunya akan menjadi lost in the crowd. Dengan demikian kamu bisa memprediksi tingkah laku agresif seorang anak dengan lebih akurat jika kau dapat menaksir persepsinya dan perbuatannya tentang sebuah situasi yang bermacam, yang mana ia menemukan dirinya. Dan jika kau menginginkan untuk merubah tingkah laku seorang anak, kamu dapat mengembangkan lebih banyak strategi campur tangan yang berguna jika kau mengetahui sebuah variabel yang penting di dalam keagresifannya sebagai sebuah deteksi. Mengakhiri artikel 1982 mereka dalam konsistensi sebuah tingkah laku, Mischel dan Peake menulis. Konsistensi paradoks dapat menjadi berlawanan asas hanya karena kita telah melihat sebuah konsistensi di tempat yang salah. Jika kita membagi persepsi dalam menghubungkan konsistensi kepribadian sungguh-sungguh berakar dalam sebuah observasi pada keseimbangan permanen tingkah laku dengan keistimewaan yaitu prototipe untuk menghubungakan sebuah fakta, sebuah paradoks dapat dengan baik menjadi sebuah jalan menuju resolusi. Malahan dalam mencari konsistensi situasional yang tinggi kita mungkin membutuhkan daripada, untuk mengidentifikasi berkas unik

atau menetapkan sebuah keseimbangan permanen tingkah laku prototipe yang mengkarakter seseorang hingga akhir dari periode waktu, namun tidak perlu melewati banyaj atau seluruh kemungkinan yang menyangkut situasi. (Mischel and Peake, 1982).

Penundaan pemuasan
Dalam pekerjaannya dalam penundaan pemuasan, Mischel berfokus pada sebuah proses yang merupakan pusat pengembangan kepribadian dan fungsinya : kemampuan untuk sengaja menunda langsung pemuasan untuk yang tertunda, kontingen tetapi lebih diinginkan hasil di masa depan (Mischel, 1984a p. 353). Imbalan untuk perilaku seseorang tidak selalu segera datang, dan kemampuan untuk bertekun dalam sebuah upaya mengantisipasi sebuah komponen penting dalam kedewasaan psokologis . Untuk memeriksa bagaimana kemampuan untuk menunda pemuasan berkembang, Mischel telah mempelajari anak-anak muda , menerbitkan sejumlah makalah tentang topik ini. Situasi eksperimental yang khas dalam penelitian Mischel adalah sebagai berikut : anak prasekolah diberitahu bahwa experimenter harus meninggalkan ruangan untuk beberapa menit dan apabila ia (pr) menunggunya (lk) sampai kembali ia (pr) diberikan dua marshmallow . Jika ia membunyikan lonceng untuk segera memanggilnya , ia hanya akan diberikan 1 marshmallow. Mischel telah menunjukkan , dalam serangkaian studi, bahwa anak-anak dapat menunda dalam waktu yang cukup lama (1) jika

penghargaan tidak ditunjukkan (Mischel dan Ebbesen, 1970), (2) jika mereka bermain dengan mainan atau berpekir tentang kesenangan (Mischel, Ebbesen dan Zeiss, 1972), (3) jika mereka menghindari berpikir tentang consummatory fitur fitur imbalan, seperti rasa marshmallow (Mischel dan Baker, 1975), dan (4) jika mereka mengalihkan perhatian mereka dari imbalan dan menyibukkan diri sendiri dengan memikirkan hal-hal yang lain (Mischel, 1981 a).

Mischel (1961) juga menunjukkan, dalam sebuah studi awal di Trinidad, yang nakal akan lebih sering memilih langsung, berpikir lebih kecil, imbalan daripada mereka akan menunda imbalan dan menunggu yang lebih besar di kemudian hari . Dan, bekerja sama, Mischel dan Albert Bandura (Bandura dan Mischel, 1965) menujukkan bahwa kebiasaan menunda dapat disebabkan oleh paparan model, apakah hidup atau simbolik (menjelaskan, tetapi tidak terlihat oleh, subjek): seorang anak yang tidak menunda kepuasan dapat melakukannya pada uji berikutnya jika terkena model yang menunda imbalan . Belakangan ini, Mischel dan Harriet Mischel (Mischen dan Mischel 1983) telah mempelajari strategi anak-anak dalam menunda pemuasan. Dalam pelajaran ini Mischel tertarik pada apa yang anak-anak ketahui tentang faktor-faktor yang dapat menolong mereka untuk menolak imbalan, apa usia pengetahuan ini hadir, dan strategi apa yang anak-anak gunakan untuk menunda pemuasan dan mempertahankan kontrol diri. Bekerja dengan anak yang berkisar di usia dari kelas prasekolah ke urutan keenam, mampu menggunakan perspektif perkembangan dalam mengevaluasi pemahaman anak terhadap aturan untuk penundaan yang efektif. Mereka menemukan, misalnya, anak usia 5 tahun mengerti bahwa jika menutupi marshmallow dan berpikir tentang tugas menunggu tetapi tidak tentang rasa marshmallow-kamu dapat menunggunya lebih lama.

METODE PENELITIAN
Mischel lebih suka program riset sistematis yang bergantung pada kehati-hatian kendali, metode eksperimental. Namun, ia mencoba untuk membuat risetnya masuk ke dalam pengaturan alam seperti pembibitan sekolah atau kampus-kampus: ia menghindari hal yang di buat-buat, setting penelitian artifical. Mischel telah mempelajari mengenai anak-anak, remaja, dan orang dewasa, dan ia lebih menyukai untuk melakukan studi populasi nonclinical. Mischel menggunakan berbagai sumber data, dari the number second a child akan menunggu di pengaturan penundaan kepuasan untuk apa anak TK dan SD akan memberitahu eksperimen tentang pikiran dan keyakinan mereka. Demikian,

seperti yang Anda lihat, Mischel tidak hanya mengukur langsung perilaku tetapi juga subjek laporan diri (self-report).Mischel mengatakan ia sering terkesan oleh cerdas subjek nya adalah; memang (indeed), ia mengatakan, itu sangat berguna bagi experimenter untuk mendengar apa yang subjek katakan.