Anda di halaman 1dari 11

BAB 1 P ENDAHULUAN

1. 1

Latar Belakang Masalah

Perompak atau bajak laut memiliki pengertian sekelompok orang yang mengacau, melakukan pembajakan, atau merampok di lautan lepas1. Seringkali kita mendengar istilah ini dalam film ataupun kisah-kisah heroik jaman dulu. Bajak laut atau perompak ternyata bukanlah sebuah kisah rekaan mengingat saat ini Somalia, sebagai sebuah negara yang berbatasan langsung dengan perairan Aden dan Samudera Hindia, menjadi perhatian dunia akibat gerak-gerik mangkhawatirkan dari bajak-bajak laut yang notabene merupakan warga negara dari negara yang beribukota di Mogadishu ini. Tidaklah salah jika pasukan perompak yang terdiri dari ribuan anggota dari berbagai rentang usia ini telah mengkhawatirkan dunia internasional, utamanya adalah jalur perdagangan telah menyebabkan kerugian ratusan juta dollar akibat kejadian ini. Kasus-kasus pembajakan kapal-kapal yang melewati Teluk Aden serasa bukan lagi berita asing. Tidak kurang dari 200 kapal yang dibajak oleh para perompak di tahun 2009 atau setidaknya naik 200% dari serangan-serangan yang dilakukan di tahun 20072. Bukan hanya kapal dagang yang membawa ribuan ton muatan, namun juga kapal pribadi yang merupakan milik penduduk sipil pun menjadi tujuan perompakan. Perompak-perompak ini kemudian menerapkan konsep permintaan tebusan kepada pihak-pihak terkait dengan dalih untuk menjaga awak kapal tetap hidup. Uang-uang hasil pembajakan inilah yang kemudian menjadi pendapatan mereka sehari-hari dan bahkan menjadikan bajak laut sebagai mata pencaharian mereka mengingat keadaan perekonomian Somalia yang selalu bergantung pada bantuan negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Italia tidaklah semaju negara-negara Afrika yang lain seperti Mesir ataupun Afrika Selatan. Melihat semua dampak yang telah diakibatkan oleh sekelompok perompak yang anggotanya terdiri dari pemuda-pemuda pengangguran, jelas kasus ini harus segara ditindaklanjuti. Tidak hanya melibatkan dunia internasional namun juga Perserikatan BangsaDalam http://www.artikata.com/arti-320334-bajak.php, diakses pada 1 Desember 2010 pukul 17.00 WIB Somalia: Piracy and Politics, dalam http://www.opendemocracy.net/article/somalia-piracy-and-politics, diakses pada 2 Desember 2010 pukul 17.00 WIB
2
1

bangsa sebagai sebuah organisasi yang bisa disebut sebagai mediator dari setiap konflik maupun kasus yang melibatkan entitas dunia internasional. Permasalahan ini perlu diselesaikan secepatnya sebelum dunia internasional kembali menelan kerugian baik itu materil maupun imateril akibat dari kejadian ini. 1. 2 Perumusan Masalah

Dari disusunnya makalah ini, muncul pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: 1. Apa saja peran PBB dan dunia internasional dalam upaya mengatasi berkembangnya jaringan perompak Somalia? 2. Bagaimana usaha-usaha yang tepat untuk memberantas para pembajak di kawasan Teluk Aden ini?

1. 3

Kerangka Pemikiran

Di dalam menganalisis peran PBB dalam upayanya menangani gerakan para perompak di Somalia dan kerjasama dunia internasional di dalamnya penulis menggunakan kerangka teori liberalisme. Teori ini berpandangan bahwa adanya kerjasama antar negara menjadi salah satu upaya untuk membuka jalan hubungan kerjasama dan damai. Tidak hanya itu saja, mengedepankan taktik diplomasi menjadi salah satu pilihan yang tepat dibandingkan menggunakan instrumen sarat kekerasan seperti perang ataupun kontak senjata. Dengan adanya perumusan peraturan yang tepat dan kerjasama dari berbagai pihak, menjadikan permasalahan ini semakin mudah ditanggulangi dibandingkan bertindak secara personal atau sendiri-sendiri.

BAB 2 PEMBAHASAN

2. 1

Perompak Somalia dan Tindakan Dunia Internasional Terhadapnya

2. 1. 1 Sejarah Perompak Somalia Somalia merupakan negara kecil yang beribukota di Mogadishu. Berbatasan darat dengan Djiboti di barat laut, Kenya di Barat daya, Teluk Aden dan Yaman di Utara, Ethiopia di sebelah Barat dan Samudera Hindia di timur negara ini. Sejak tahun 90an, nama Somalia begitu sering terpampang di pelbagai media massa karena perang sipil berkepanjangan yang menelan hampir 300 ribu korban jiwa ini dan sebutan sebagai negara dengan perang sipil berkepanjangan yang telah lekat selama bertahun-tahun akhirnya mulai mengendur dan berganti menjadi sebuah negara dengan permasalahan pembajakan kapal nomor wahid. Tak terdengar kabar perang sipilnya karena semua itu telah berganti dengan permasalahan perompaknya yang bukan hanya merugikan Somalia secara pencitraannya, tetapi juga dunia internasional yang telah dirugikan berjuta-juta dollar hingga detik ini. Perompakan ini mulai marak terjadi kala Somalia mengalami pergolakan politik baik kekuasaan maupun anarkisme sejak panglima-panglima perang menggulingkan diktator militer Mohamed Siad Barre pada tahun 1991. Peristiwa yang menghancurkan perekonomian Somalia ini kemudian menarik masyarakat Somalia, terutama para pemudanya melakukan penangkapan ikan secara ilegal di lepas pantai Somalia. Tidak berlangsung lama, gerombolan-gerombolan pemuda ini membentuk sebuah perkumpulan dengan kedok menjaga pantai Somalia yang kian lama kian tercemar oleh pembuangan limbah beracun dari kapalkapal asing yang berlayar di lepas pantai negara tersebut agar tetap aman. Tetapi hal ini menjadi dalih utama mengingat kemudian mereka menjadi giat dalam merampok setiap kapal yang lewat di perairan Teluk Aden ataupun Samudera Hindia. Para perompak itu sendiri tumbuh dari nelayan-nelayan Somalia dan para pemudapemuda pengangguran tanpa keahlian kerja. Mereka meminta pungutan dari sejumlah kapal dagang yang lalu lalang di perairan Somalia. Bukan hanya sekedar pungutan, melainkan menyandera awak kapal dan meminta tebusan berjuta-juta dolar apabila pihak pemilik kapal menginginkan awak dan barang-barang dagangan mereka bebas dengan selamat.
3

Pada akhirnya, pantai Somalia sepanjang 3. 213 km itu kini menjelma menjadi basisbasis perompakan. Para perompak ini terbagi ke dalam dua jaringan perompak. Salah satu jaringan mereka adalah di kawasan Putland yang merupakan suatu wilayah baru lepasan negara Djibouti, sedangkan jaringan lainnya adalah di Mudug, Somalia Selatan. Di kawasan Putland, para perompak kembali membagi-bagi kawanannya ke dalam beberapa kelompok yang dimana kelompok utama bermarkas di Distrik Eyl. Kelompok-kelompok kecil perompak Putland terbagi-bagi ke wilayah Bossaso, Quandala, Caluula, Bargaal, dan Garacad3. Desa-desa terpencil seperti Eyl, Hobyo, dan Haradheere pun tak luput menjadi pusat gerakan perompakan para bajak laut. Para perompak ini beroperasi di perairan Teluk Aden dan di lepas Pantai Somalia. Teluk Aden sendiri merupakan sebuah kawasan perairan yang berhubungan langsung dengan Samudera Hindia dan memiliki link dengan Terusan Suez dan Laut Mediterania yang dimana kedua kawasan tersebut merupakan kawasan perairan sibuk yang dilalui hampir 20.000 kapal laut setiap tahunnya4. Jelas hal ini menjadi suatu ancaman internasional yang tak boleh didiamkan terlalu lama sebelum akhirnya merusak jalannya perekonomian negara yang begitu menggantungkan diri lewat jalur laut. Salah satu contoh negara yang begitu dirugikan dengan keberadaan para perompak ini adalah Mesir dengan Terusan Suez-nya yang merupakan sumber pemasukan utama Mesir selain pariwisata, minyak, dan transfer gaji warga Mesir di luar negeri.

2. 1.

2 Upaya Dunia Internasional dan Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam

Penanganan Perompak di Somalia Laut yang merupakan jalur vital perdagangan dunia jelas membuat beberapa negara akan mengalami kerugian dalam jumlah besar kala jalur perdagangan sentral tersebut ternyata tidak lagi aman sehingga akan mengakibatkan mandeknya langkah kapal-kapal kargo yang mengangkut berton-ton material dagang. Begitulah yang menjadi permasalahan bagi setiap
3

PBB: Dua Jaringan Perompak di Somalia, dalam http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2009/03/20/05144666/PBB:.Dua.Jaringan.Perompak.di.Somalia, diakses pada 2 Desember 2010, pukul 18.00 WIB
4

Somalia:Piracy and Politics, dalam http://www.opendemocracy.net/article/somalia-piracy-and-politics, diakses pada 2 Desember 2010, pukul 15.30 WIB 4

negara yang menggantungkan jalannya sistem ekonomi mereka dari lalu lintas Teluk Aden maupun Samudera Hindia yang dimana menjadi batasan gerak para bajak laut Somalia. Hal ini tentu saja memancing aksi respon dari dunia internasional yang mengecam keras tindakan perompakan di perairan lepas pantai Somalia. Tak sekedar mengecam ataupun menggertak, beberapa diantara negara-negara yang vokal menentang aksi pembajakan antara lain Amerika Serikat, Cina, Jepang, Rusia, dan Perancis. Jepang bahkan telah mempersipakan dua kapal perusaknya yang dilengkapi dengan helikopter patroli SH-60k pada hari Sabtu (14/3) di Pangkalan Kure, Jepang. Kapal perusak bernama Samidare dan Sazanami ini akan bertugas dalam misi internasional dan anti-perompakan di lepas pantai Somalia. Tak mau kalah dari Jepang, Cina pun ikut mengirimkan kapal perangnya dalam aksi anti-perompakan. Semua negara-negara bagaikan domino yang terjatuh ikut bergerak dalam upaya penumpasan perompak Somalia, namun apa daya ini semua ternyata berbanding terbalik dari kenyataannya bahwa dari hari ke hari tingkat perompakan semakin meningkat tajam saat angkatan laut-angkatan laut dunia Internasional semakin meningkatkan keberadaan militernya di laut Somalia. Uni Eropa yang sebagian besar negara-negara anggotanya pernah menjadi sasaran para pembajak pun tidak tinggal diam. Sebuah patroli yang diberi nama EU NAVFOR atau European Union Naval Force Somalia yang bertujuan untuk mengatasi perompak Somalia yang semakin lama semakin tidak bisa ditolerir. Memperluas jangkauan hingga ke Seychelles dan Lautan Hindia menjadikan EU NAVFOR harus berhati-hati mengingat kapal-kapal pembajak Somalia tidak pernah merasa takut sedikitpun untuk melakukan perompakan meskipun kapal-kapal patroli keamanan berlayar tidak jauh dari mereka. Hal ini tampaknya bukan menjadikan patroli keamanan gabungan sebagai the only one solution mengingat akibat dari adanya patroli, para bajak laut cenderung memperluas jalur operasi mereka hingga ke Samudera Hindia dan Laut Merah bagian selatan5. Para perompak pun telah dipersenjatai oleh senapan mesin dan granat roket, sehingga mengakibatkan jalur perdagangan yang menghubungkan benua Eropa dan Asia itu semakin tidak aman. Rusia sebagai sebuah negara yang begitu menggantungkan ekonominya lewat jalur laut, terutama Teluk Aden, menyerukan agar penyergapan para perompak tidak dilakukan di laut, melainkan di darat. Pemerintahan Moskwa mengusulkan agar NATO, UNI Eropa, dan
5

BMI: Perompak Somalia Perluas Daerah Operasi Hingga ke Laut Merah, dalam http://indosmarin.com/2010/10/bmi-perompak-somalia-perluas-daerah-operasi-hingga-ke-laut-merah, diakses pada 2 Desember 2010, pukul 13.00 WIB

lainnya untuk melakukan serangan ke basis-basis perompak yang berada di darat. Namun inisiatif cerdas ini tersandung dengan Undang-Undang Konvensi Laut yang hanya memberi izin pada kapal-kapal asing untuk membela diri, membalas aksi, dan mencegah bajak laut di wilayah perairan dekat pantai dan setelah para perompak tersebut berada di daratan sebuah negara 6. Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai sebuah organisasi yang menaungi Somalia dan negara-negara di dunia jelas tidak ambil diam. Dewan Keamanan PBB dalam konferensinya yang membahas mengenai perompakan dan keamanan di perairan Somalia mengeluarkan sebuah resolusi No. 1816 pada tanggal 2 Juni 20087. Resolusi tersebut mendorong negaranegara yang khususnya memiliki kepentingan dengan rute maritime komersial di lepas pantai Somalia, untuk meningkatkan dan mengkoordinasikan upaya-upaya untuk penanganan perompak dan pembajakan bersenjata yang dimana didalamnya dilakukan kerjasama dengan Pemerintah Transisi Federal Somalia. Resolusi No. 1816 yang disponsori oleh Perancis pun ikut diperkuat dengan resolusi No. 1838 pada tanggal 7 Oktober tahun 2008 yang meminta kepada negara-negara yang memiliki kepentingan di perairan Somalia untuk menindas pembajakan di perairan Somalia8. Pertemuan demi pertemuan terus dilangsungkan guna mencegah semakin meluasnya jalur operasi para bajak laut. Dengan keluarnya resolusi Dewan Keamanan PBB setidaknya akan memicu dan menstimulus dunia internasional dalam upaya memerangi Perompak Somalia. Salah satu contohnya adalah diadilinya sepuluh perompak Somalia di Jerman dan diancam hukuman kurungan selama lima belas tahun. Tentunya dengan regulasi yang jelas, para awak kapal tidak akan perlu takut lagi untuk angkat senjata dan melawan diri melawan para perompak.

Penanganan Bajak Laut Somalia: Terhalang Lemahnya Hukum. Koran Seputar Indonesia, 19 April 2009. hlm. 7. 7 Keamanan Maritim, Keuntungan Politik dan Bisnis, dalam nunukanzonerscommunity.blogspot.com, diakses pada 2 Desember 2010, pukul 22.15 WIB 8 Piracy in Somalia: Threatening, Global Trade, Feeding Local Wars, dalam www.chathamhouse.org.uk/files/12203_1008piracysomalia.pdf, diakses pada 2 Desember 2010, pukul 16.30 WIB

2. 1. 3 Metode Pencegahan Perompakan Somalia


Dengan perangkat hukum yang sudah mulai ditata dan ikut campurnya organisasiorganisasi internasional dalam upaya penanganan perompak Somalia yang tingkat penyerangannya semakin meningkat mulai muncul bermacam-macam metode yang diusulkan untuk mencegah pembajakan di pantai Somalia.

Sumber: Media Indonesia

Metode diatas diekspos secara luas dan dianggap sebagai cara paling efektif dalam pencegahan pembajakan Somalia. Dalam gambar diatas digambarkan dengan gamblang metode-metode penanganan perompak Somalia. Cara yang digambarkan diatas belumlah dipraktekan secara langsung tetapi bisa jadi merupakan metode terbaik dalam hal pencegahan perompak Somalia di pantai negara yang kini menjadi surga pembajak. Tidak hanya itu saja, tindakan-tindakan preventif semacam melakukan patroli gabungan antar negara dan latihan gabungan untuk menjaga keamanan di kawasan menjadi salah satu upaya menekan jumlah perompakan di perairan ramai pengunjung, Teluk Aden dan Samudera Hindia.

BAB 3 KESIMPULAN

Keamanan di perairan Teluk Aden dan Somalia jelas harus segera diperbaiki melihat PBB sebagai sebuah organisasi dunia terbesar yang masih eksis sampai saat ini melakukan resolusi yang dimana isinya khusus membahas mengenai isu perompakan di Somalia. Somalia yang masih dinilai sebagai sebuah negara gagal atau failed country yang tidak memiliki otoritas politik maupun hukum jelas tidak bisa menangani kasus ini dan memberikan pengadilan terhadap para perompak. Sebagai jalan keluar paling baik adalah menyerahkan para tersangka pelaku perompakan kepada negara ketiga yang dirasa memiliki kekuatan hukum yang lebih baik. Dalam hal ini, Kenya lah yang menjadi sebuah alternatif negara pilihan meskipun Kenya sendiri belum bisa dibilang sebagai negara yang memiliki sistem hukum yang sempurna. Dengan dibawanya para perompak ke negara ketiga dan diadili sebaik-baiknya setidaknya akan membuat ICC atau International Criminal Court memasukan kasus perompakan ke dalam daftar kejahatan yang bisa dibawa ke mahkamah internasional, mengingat perompakan Somalia bukan lagi kasus internal melainkan juga lintas batas negara. Menilik dari teori liberalisme, kerjasama antar negara jelas sangat perlu dilakukan guna meminimalisir serangan para perompak. Seperti yang tercantum dalam prinsip pemberantasan bajak laut yang ditegaskan dalam pasal 100 Konvensi yaitu:
Meminta supaya negara-negara bekerjasama sepenuhnya dalam pemberantasan pembajakan di laut lepas atau tempat lain manapun di luar yurisdiksi suatu negara9

Tidak hanya peran negara saja, namun juga organisasi-organisasi internasional seperti PBB, Oxfam, dan lain sebagainya. Upaya memberdayakan masyarakat Somalia merupakan sebuah awalan yang tepat sehingga mereka akan siap bersaing di dunia kerja baik itu di Somalia maupun di seputar negara Afrika. Metode-metode cerdas seperti yang telah digambarkan di halaman sebelumnya setidaknya menjadi sebuah pertimbangan lain dalam upaya penyergapan para perompak setelah dirasa upaya penyergapan lewat jalur laut tak lagi

DR. Boer Mauna, 2005. Hukum Internasional: Pengertian, Peranan Dan Fungsi Dalam Era Dinamika Global. Jakarta: PT. Alumni, hal.330-331.

begitu efektif karena para perompak seperti hilang ditelan bumi kala kapal-kapal niaga mengarungi samudera dengan diiringi kapal-kapal penjaga. Dari sinilah bisa kita pelajari bahwa dalam dimensi keamanan terdapat dimensi core values of security10. Dimensi ini menyoroti bahwa begitu banyak isu-isu baru baik itu yang bersifat individual maupun global yang harus mendapatkan perhatian khusus yang dimana salah satunya adalah kejahatan lintas batas (transnational criminal organizations). Perlu dilakukan pendekatan-pendekatan intens dengan para perompak yang notabene adalah para nelayan dan pemuda pengagguran. Salah satu cara yang dinilai paling baik selain penyelesaian masalah lewat jalur hukum adalah dengan menerima partisipasi kelompok Islam yang sedari dulu selalu bentrok dengan Pemerintahan Federal Transisi (TFG) Somalia dan Etiopia. Dengan rukunnya ketiga aspek pendukung pemerintahan ini maka akan menjadi suatu jaminan bahwa perompak Somalia bisa dihapuskan karena Somalia dapat membentuk suatu pemerintahan yang dimana bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Sebagaimana mestinya disini berarti memiliki suatu badan atau otoritas hukum dan politik sehingga pemerintah Somalia bisa mengadili para perompak tanpa harus melibatkan pihak-pihak asing secara intens yang dimana pihak-pihak asing tersebut dapat pula bergerak terlalu jauh ke dalam tubuh Somalia sehingga mengganggu peran Somalia sebagai sebuah negara sebagaimana mestinya. Upaya kerjasama antar negara dan organisasi internasional merupakan upaya yang tepat mencegah berkembangnya kembali kawanan perompak Somalia. Pemerintah Somalia bolehlah gagal, namun melalui semangat berintegrasi maka permasalahan ini bisa dengan cepat diatasi meskipun melalui proses bertahap.

DR. Anak Agung Banyu Perwita dan DR. YanyanMochamad Yani, 2005. Pengantar Ilmu Hubungan Internasional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, hal. 125.

10

DAFTAR PUSTAKA

Mauna, Boer. 2005. Hukum Internasional: Pengertian, Peranan, dan Fungsi Dalam Era Dinamika Global. Jakarta: P. T. Alumni. Perwita, DR. Anak Agung Banyu dan DR. Yanyan Mochamad Yani. 2005. Pengantar Imu Hubungan Internasional. Bandung: P. T. Remaja Rosdakarya. Perlu Solusi di Darat dan Laut. Koran Seputar Indonesia, 19 April 2009. Penanganan Bajak Laut Somalia: Terhalang Lemahnya Hukum. Koran Seputar Indonesia, 19 April 2009. Militer Bebaskan Tanker dari Bajak Laut: Pencegahan Pembajakan Somalia. Media Indonesia, 28 April 2009.

Piracy in Somalia: Threatening, Global Trade, Feeding Local Wars, dalam www.chathamhouse.org.uk/files/12203_1008piracysomalia.pdf, diakses pada 2 Desember 2010, pukul 16.30 WIB Somalia: Piracy and Politics, dalam http://www.opendemocracy.net/article/somalia-piracyand-politics, diakses pada 2 Desember 2010 pukul 17.00 WIB PBB: Dua Jaringan Perompak di Somalia, dalam http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2009/03/20/05144666/PBB:.Dua.Jaringan.Perompak. di.Somalia, diakses pada 2 Desember 2010, pukul 18.00 WIB BMI: Perompak Somalia Perluas Daerah Operasi Hingga ke Laut Merah, dalam http://indosmarin.com/2010/10/bmi-perompak-somalia-perluas-daerah-operasi-hingga-kelaut-merah, diakses pada 2 Desember 2010, pukul 13.00 WIB Keamanan Maritim, Keuntungan Politik dan Bisnis, dalam nunukanzonerscommunity.blogspot.com, diakses pada 2 Desember 2010, pukul 22.15 WIB

10

11