Anda di halaman 1dari 15

ETIKA PROFESI HAKIM DALAM HUKUM ISLAM

ETIKA PROFESI HAKIM DALAM HUKUM


ISLAM
TUGAS MAKALAH

KATA PENGANTAR

Assalamu`alaikum Wr.Wb.

Dengan Mengucap Syukur Alhamdulillah Berkat Rahmat Alloh SWT, penyusun


dapat menyelesaikan makalah ini. makalah ini disusun untuk memenuhi tugas pembuatan
makala dalam mata kuliah STUDI ISLAM dengan pokok bahasan ETIKA PROFESI
HAKIM DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM
Dalam penyusunan makalah ini, tidak sedikit hambatan yang penyusun hadapi, namun
dengan semangat,kerja keras berfikir positif dan optimis akhirnya penyusunan makalah ini
terselesaikan.

Dalam kesempatan ini penyusun menyampaikan rasa terima kasih kepada RAHMAT
ALLAH , serta terima kasih pula rekan-rekan mahasiswa fakultas ilmu hukum Universitas
Muhammadiyah Magelang yang turut memberikan informasinya.

Penyusun sangat menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari
sempurna, sehingga kritik dan sarannya yang membangun sangat penyusun harapkan agar
dapat berbuat lebih baik lagi dimasa yang akan datang.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penyusun khususnya dan dapat
memberikan manfaat bagi pembaca pada umumnya.
BAB. 1.
ETIKA PROFESI HAKIM DALAM HUKUM ISLAM
Penguasaan dan penerapan disiplin ilmu hukum dapat diemban untuk menyelenggarakan
dan menegakkan keadilan di masyarakat.

A. Asal mula permasalahan keadilan


Pada era reformasi sekarang ini yang disertai krisis multidimensi di segala bidang di
antaranya dalam bidang hukum, timbul keprihatinan publik akan kritik tajam sehubungan
dengan curat marutnya penegakan hukum di Indonesia, dengan adanya penurunan kualitas
hakim dan pengabaian terhadap kode etik, serta tidak adanya konsistensi, arah dan orientasi
dari penegak hukum itu sendiri. Hal ini menyebabkan tidak adanya ketidakpastian dan
ketidakadilan hukum. Dan pihak yang sering disalahkan adalah aparat penegak hukum itu
sendiri, yang terdiri dari Hakim, Jaksa, Pengacara dan Polisi.
Hakim sebagai salah satu aparat penegak hukum (Legal Aparatus) yang sudah memiliki
kode etik sebagai standar moral atau kaedah seperangkat hukum formal. Namun realitanya
para kalangan profesi hukum belum menghayati dan melaksanakan kode etik profesi dalam
melaksanakan profesinya sehari-hari, terlihat dengan banyaknya yang mengabaikan kode etik
profesi, sehingga profesi ini tidak lepas mendapat penilaian negatif dari masyarakat.
Dan berbagai kasus gugatan publik terhadap profesi hakim merupakan bukti bahwa
adanya penurunan kualitas hakim sangat wajar sehingga pergeseran pun terjadi dan sampai
muncul istilah mafia peradilan.
Dari peranannya yang sangat penting dan sebagai profesi terhormat (Offilium nobile),
atas kepribadiannya yang dimiliki. Hakim mempunyai tugas sebagaimana dalam undang-
undang pokok kekuasaan kehakiman adalah Hakim wajib menggali, mengikuti, dan
memahami nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Untuk itu hakim harus terjun ke tengah-
tengah masyarakat untuk mengenal, merasakan dan mampu menyelami perasaan hukum dan
rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat.
Jelas seorang hakim dalam menjalankan tugasnya selain di batasi norma hukum atau
norma kesusilaan yang berlaku umum juga harus patuh pada ketentuan etika profesi yang
terdapat dalam kode etik profesi.

B. Pandangan islam
Islampun menjelaskan bahwa hakim adalah seorang yang diberi amanah untuk
menegakkan keadilan dengan nama Tuhan atas sumpah yang telah diucapkan, dalam
pandangan Islam adalah kalimat tauhid adalah amalan yang harus diwujudkan dalam bentuk
satu kata dan satu perbuatan dengan niat lilla>hi ta'alla. Sehingga pada setiap putusannya
benar - benar mengandung keadilan dan kebenaran.
Dalam al-Qur'an diperintahkan :


Melalui profesi inilah hakim mempunyai posisi istimewa. Hakim merupakan
kongkritisasi hukum dan keadilan yang bersifat abstrak, dan digambarkan bahwa hakim
sebagai wakil Tuhan di bumi untuk menegakkan hukum dan keadilan. Karena hakim satu-
satunya penegak hukum yang berani mengatasnamakan Tuhan pada setiap
putusannya. Sehingga setiap keputusan hakim benar-benar berorientasi kepada penegakan
nilai-nilai kebenaran dan keadilan dari pada sekedar mengejar kepastian hukum
Dan untuk membangun kembali kepercayaan publik terhadap lembaga peradilan
sebagai benteng terakhir keadilan yang merupakan cita-cita dan tujuan (Khususnya Profesi
hakim). Melihat permasalahan di atas penyusun merasa tertarik untuk membahas kode etik
profesi hakim dan dikaitkan dengan nilai-nilai etika Islam. Masalah ini sangat menarik
untuk dikaji karena etika Islam yang bersumber dari al-Qur'an yang pada hakekatnya
merupakan dokumen Agama dan bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang bermoral.
.
1. Etika Sebagai Landasan Profesional
Sebagai cabang ilmu filsafat, etika dimengerti sebagai filsafat moral atau filsafat
mengenai tingkah laku. Etika berbeda dengan moral, moral berisi ajaran-ajaran sedangkan
etika berisi alasan-alasan mengenai moralitas itu sendiri. Menurut Hans Wenr dalam
bahasa arab etika disebut ahklak. Norma (norm) adalah standar, pola (pattern), model (type).
Hal tersebut merupakan aturan atau kaedah yang di pakai sebagai tolak ukur untuk menilai
sesuatu.
Etika atau akhlak dalam khazanah Islam dipahami sebagai ilmu yang menjelaskan
baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya di lakukan kepada orang lain, menyatukan
tujuan apa yang harus dituju oleh manusia di dalam perbuatan mereka dan menunjukan jalan
untuk melakukan apa yang harus diperbuat. Dengan demikian Persoalan-persoalan etika
adalah persoalan kehidupan manusia. Tidak bertingkah laku semata-mata menurut naluri atau
dorongan hati.
Sedangkan K. Bertens mengungkapkan bahwa moral itu adalah nilai-nilai dan norma-
norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau kelompok tingkah lakunya. Sedangkan
profesi menurut K. Bertens menyatakan bahwa profesi adalah suatu moral community
(masyarakat moral) yang memiliki cita-cita dan nilai-nilai. Dari paparan diatas dapat
dipahami bahwa dalam kata moral terdapat dua makna. Pertama, sebagian cara seseorang
atau kelompok untuk bertingkah laku dengan orang lain. Kedua, adanya norma-norma atau
nilai-nilai yang menjadi dasar bagi cara bertingkah laku.
Menurut Majid Fakhri, sistem etika Islam dalam dikelompokkan dengan empat tipe:
pertama, moral skriptualis. Kedua, etika teologis. Ketiga, teori-teori filsafat. Keempat, etika
religius. Dari keempat tipologi di atas etika religius akan menjadi pilihan sebagai landasan
teori dalam penelitian ini
Dengan kerangka demikian dapat dikatakan bahwa etika profesi merupakan tuntutan
dasar hakim dalam Islam. Dan juga atas teori tersebut dapat diasumsikan bahwa etika profesi
hakim merupakan pengejawantahan nilai-nilai kebenaran, kejujuran, keadilan dan
pertanggung jawaban dalam realitas penegakan hukum oleh hakim. Ada tiga komponen yang
menopang tegaknya hukum dan keadilan di tengah masyarakat, yaitu adanya aparat penegak
hukum yang professional dan memiliki integritas moral yang terpuji, adanya peraturan
hukum yang sesuai dengan aspirasi masyarakat dan adanya kesadaran masyarakat yang
memungkinkan dilaksanakannya penegakan hukum.
Dalam penegakan hukum, menurut O. Notohamidjojo, ada empat norma yang penting
dalam penegakan hukum yaitu kemanusiaan artinya sebagai manusia jadikanlah manusia.
Kedua, keadilan yaitu memberikan sesuatu sesuai haknya. Ketiga kepatutan yaitu
pemberlakuan hukum harus melihat unsur kepatutan (equity) dalam masyarakat. Keempat,
kejujuran yaitu seorang hakim dalam menegakkan hukum harus benar-benar bersikap jujur
untuk mencari hukum dan kebenaran.
2. Eksistensi Hakim Sebagai Penegak Hukum Dalam Islam
Hakim mempunyai tugas sangat penting. Disamping itu hakim harus mempunyai
moral yang tinggi, berbudi luhur, dan menegakan hukum secara benar dan adil.
Sehingga peranan hakim sebagai penegak hukum dan keadilan dapat dilihat dari tugasnya :
1. Penggali Hukum

2. Pemutus Perkara

3. Pemberi Nasehat
....
Sementara dalam kaidah ushul Fiqh sendiri hakim sebagai pemegang amanah harus
dapat membawa kemaslahatan

Sebagai salah satu bentuknya adalah dengan adanya kode etik profesi hakim yang
tujuannya untuk kemaslahatan bagi manusia, kemaslahatan tersebut tercantum dalam azas-
azas yang dituangkan dalam syariat hukum Darury yaitu hal yang pokok dalam kehidupan
manusia, hukum Hajjiy yaitu hukum yang menselaraskan dengan hajat dan kebutuhan
manusia, dan hukum Tahsiny yaitu merupakan keindahan hidup yang merupakam pelengkap
dalam kehidupan manusia. Dengan demikian tujuan penegakkan keadilan dan kebenaran
dapat tercapai, dan kode etik profesi hakim benar-benar membawa maslahat bagi manusia.

BAB II
KODE ETIK PROFESI HAKIM INDONESIA

A. Gambaran Umum Peranan Hakim


1. Pengertian Hakim
Sebelum membahas pengertian kode etik, maka terlebih dahulu perlu dipahami
pengertian hakim. Hakim berasal dari kata : sama artinya dengan qod}i
yang berasal dari kata artinya memutus. Sedangkan menurut bahasa
adalah orang yang bijaksana atau orang yang memutuskan perkara dan
menetapkannya. Adapun pengertian menurut syar'a yaitu orang yang diangkat oleh kepala
negara untuk menjadi hakim dalam menyelesaikan gugatan, perselisihan-perselisihan dalam
bidang hukum perdata oleh karena penguasa sendiri tidak dapat menyelesaikan tugas
peradilan, .
Hakim sendiri adalah pejabat peradilan negara yang diberi wewenang oleh undang-
undang untuk mengadili. Sedangkan dalam Undang-undang kekuasaan kehakiman adalah
penegak hukum dan keadilan wajib menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum
yang hidup di masyarakat. Dengan demikian hakim adalah sebagai pejabat Negara yang
diangkat oleh kepala Negara sebagai penegak hukum dan keadilan yang diharapkan dapat
menyelesaikan permasalahan yang telah diembannya menurut Undang-undang yang berlaku.
Adapun pengertian qada sendiri ada beberapa makna yaitu :
a. Menyelesaikan seperti dalam Firman Allah :

b. Menunaikan dalam firman Allah
...
c. Menghalangi atau mencegah yang artinya hakim bisa melaksanakan amar ma'ruf nahi
munkar, menolong yang teraniaya dan menolak kez}oliman yang merupakan kewajiban.
2. Dasar Dan Syarat Pengangkatan Hakim
Lembaga peradilan sebagai lembaga Negara yang ditugasi menerapkan hukum (Izhar
Al Hukm) terhadap perkara-perkara yang berkaitan dengan hukum dan adanya hakim sebagai
pelaksana dari Undang-undang Nomor 4 Tahun 2004 Tentang Pokok-pokok Kekuasaan
Kehakiman, ketetapan Majelis Permusyawarakatan Indonesia Nomor X/MPR/1998 yang
menyatakan perlunya reformasi di bidang hukum untuk penanggulangan dibidang hukum dan
ketetapan Majlis Permusyawatan Rakyat Nomor III/MPR/1978 Tentang Hubungan Tata
Kerja Lembaga Tinggi Negara.

Dalam al-Quran di jelaskan :


...
Dalam ayat lain di sebutkan :
...
Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah menciptakan Daud sebagai khalifah di muka
bumi ini supaya menghukumi di antara manusia dengan benar. Sedangkan ayat selanjutnya
menegaskan bila menghukumi manusia harus sesuai dengan dengan apa yang telah
dianjurkan oleh Allah dan orang yang menghukumi tersebut adalah hakim. Dalil hadis}
antara lain


Dari hadis dan ijma' tersebut dijelaskan tentang keutamaan ijtihad, kemuliaan ijtihad
yang dilakukan dengan sungguh-sungguh baik benar atau salah akan mendapat pahala.
Maksudnya seorang hakim dalam memutuskan perkara yang dihadapinya itu melalui qiyas
yang mengacu kepada al-Kitab dan al-Sunah bukan berdasarkan pendapat pribadi, yang
terlepas dari keduanya.
Hal ini sebagai salah satu usaha menggali hukum guna melindungi kepentingan-
kepentingan orang-orang yang teraniaya dan untuk mernghilangkan sengketa-sengketa yang
timbul dalam masyarakat, akibat dari luasnya wilayah Islam, seperti pada masa bani umayah
khalifah hanya mengangkat qod}i pusat dan didaerah diserahkan pada penguasa daerah dan
hanya diberi wewenang untuk memutuskan perkara, sedangkan untuk pelaksanaan putusan
oleh khalifah langsung atau oleh utusannya. Sedangkan pada masa Bani Abbasiah
dibentuknya Mahkamah Agung, pembentukan hakim setiap wilayah, pembukuan dan
mulainya organisasi peradilan, sehingga menempatkan hakim sebagi sosok yang sangat
diperlukan dan mempunyai peranan penting.
Hakim sebagai pelaksana hukum-hukum Allah mempunyai kedudukan yang sangat
penting sekaligus mempunyai beban yang yang sangat berat. Dipandang penting karena
melalui hakim akan tercipta produk-produk hukum baik melalui ijtihad yang sangat
dianjurkan sebagai keahlian hakim yang diharapkan dengan produk tersebut segala bentuk
kez}aliman yang terjadi dapat tercegah dan diminimalisir sehingga ketentraman masyarakat
terjamin. Dari tugas hakim ini menunjukkan posisi hakim sangat penting sebagai unsur badan
peradilan. Dari penjelasan dasar hakim di atas menempatkan Hakim sebagai salah satu unsur
peradilan yang dipandang penting dalam menyelesaikan perkara yang diperselisihkan antara
sesama, oleh sebab itu harus didukung oleh pengetahuan dan kemampuan yang professional
dengan syarat-syarat yang umum dan khusus yang di tentukan oleh oleh Mahkamah Agung
atas kekuasaan kehakiman yang diatur oleh undang-undang tersendiri, terkecuali Mahkamah
Konstitusi yang kekuasaan dan kewenangannya oleh Mahkamah Konstitusi.

Adapun syarat menjadi hakim secara umum adalah :


1. Warga Negara Indonesia
2. Bertaqwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa
3. Setia Pada Pancasila dan Undang-undang
4. Bukan anggota organisasi terlarang
5. Pegawai Negeri
6. Sarjana hukum
7. Berumur serendah-rendahnya 25 tahun
8. Berwibawa, jujur, adil dan berkelakuan baik.
Mengenai ketentuan khuhusnya terdapat pada masing-masing lembaga peradilan.
Peradilan Agama mensyaratkan hakim harus beragama Islam dan sarjana syari'ah atau sarjana
hukum yang mempunyai kehlian dalam bidang hukum Islam. Dan pada peradilan Tinggi
Agama minimal berumur 40 tahun dan minimal harus 5 tahun menjadi ketua Peradilan
Agama dan 15 Tahun menjadi hakim pada Peradilan Agama. Peradilan Tata Usaha Negara
mensyaratkan sarjana hukum yang memiliki keahlian di bidang Tata Usaha Negara atau
Administrasi Negara yang melaksanakan fungsi untuk menyelenggarakan urusan
pemerintahan baik Pusat maupun Daerah, sedangkan pada Peradilan Tinggi Tata Usaha
Negara minimal berumur 40 tahun dan minimal harus 5 tahun menjadi ketua atau wakil
Peradilan Tata Usaha Negara dan 15 Tahun menjadi hakim pada Peradilan Tata Usaha
Negara. Pada peradilan Militer mensyaratkan hakim harus pengalaman dalam peradilan,
berpangkat kapten dan berijazah sarjana hukum, dan pada Hakim Militer Tinggi minimal
berpangkat Letnan Kolonel, serta pada Hakim Militer Utama minimal berpangkat kolonel dan
pengalaman sebagai Hakim Militer Tinggi atau sebagai Oditur Militer Tinggi, Sedangkan
pada Peradilan Militer ini tidak ada batasan umur yang menjadi persyaratan. Adapun
Peradilan adhoc pada Peradilan Hak Azasi Manusia hakim harus mempunyai keahlian
hukum, berumur minimal 45 tahun dan maksimal 65 tahun dan memiliki kepedulian di
bidang hak azasi manusia, serta pada hakim ad hoc pada Mahkamah Agung minimal berumur
50 tahun. Sedangkan pada Mahkamah Agung atau Hakim Agung minimal umur 50 tahun
dan sekurang-kurangnya 20 Tahun menjadi hakim dan sekurang-kurangnya 3 Tahun menjadi
hakim tinggi. Dan apabila diangkat dari dari bukan karir yaitu dari profesi hukum atau
akademisi, sekurang-kurangnya telah menjalani rofesinya selama 25 Tahun, dan berijazah
magister hukum. Dan Mahkamah Konstitusi yaitu mempunyai kewenangan pada tingkat
pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final, mensyaratkan hakim minimal berumur
40 tahun, tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan dengan
kekuatan hukum tetap yang diancam lima tahun penjara serta tidak dinyatakan pailit dan
mempunyai pengalaman di bidang hukum minimal 10 Tahun, serta masa jabatan hakim
Mahkamah Konstitusi ini hanya 5 Tahun. Adapun Cik Hasan Bisri menyatakan persyaratan
tersebut termasuk kedalam dua katagori. Pertama, syarat kongkrit yaitu nomor 1-8, kecuali
nomor 3 dan 8. kedua, sebagai syarat Abstrak yaitu : Bertaqwa, Adil, jujur dan setia.
Dalam Hadis disebutkan :

Hadis di atas menerangkan bahwa perempuan dianggap belum mampu membawa
kemenangan atau kemajuan. Ini merupakan pendapat lama karena melihat kondisi
perempuan yang berbeda dengan masa sekarang, sehingga sekarang ini wanita boleh
menjadi hakim asalkan mempunyai keahlian serta memenuhi persyaratan yang telah
ditetapkan oleh hukum positif dan hukum Islam.
Persyaratan-persyaratan tersebut merupakan persyaratan pada masa dahulu
dikarenakan luasnya wilayah Islam dan banyaknya permasalahan yang muncul sehingga
menjadi komplek sedangkan lembaga peradilan masih sangat sedikit, namun dalam kontek
sekarang peradilan yang yang sudah merata dan laju kehidupan yang semakin maju sehingga
persyaratan-persyaratan itu menjadi dikontekkan secara umum untuk lebih mewadahi
pluralitas yang ada, kecuali dalam peradilan agama yang memakai azas personalitas
keIslaman sebagai lembaga peradilan khuhus dari lembaga peradilan yang lainnya.
Dengan berbagai macam syarat tersebut diharapkan hakim dapat bermoral tinggi dan
tidak boleh melakukan perbuatan tercela, melanggar sumpah jabatan atau melanggar larangan
seperti menjadi pengusaha atau penasehat hukum, Karena syarat tersebut termasuk dalam
ajaran yang menuntut moral dan tanggungjawab sebagai seorang hakim setelah disumpah
sesuai agamanya masing-masing.
Adapun lafal sumpah dan janjinya sebagai berikut :
Sumpah :
" Demi Allah saya bersumpah bahwa saya akan memenuhi kewajiban hakim dengan sebaik-
baiknya dan seadil-adilnya, memegang teguh Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945, dan menjalankan segala peraturan perundang-undangan dengan
selurus-lurusnya menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945,
serta berbakti kepada nusa dan bangsa."

Janji :
" Saya berjanji bahwa saya dengan sungguh-sungguh akan memenuhi kewajiban hakim
dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, memegang teguh Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945, dan menjalankan segala peraturan perundang-undangan
dengan selurus-lurusnya menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945, serta berbakti kepada nusa dan bangsa."
Maka jika seorang hakim melanggar maka dapat diberhentikan secara tidak hormat
oleh Presiden dengan terlebih dahulu diberi kesempatan untuk membela diri.
3. Tugas, Fungsi Dan Tanggung Jawab Hakim
Dalam menjalankan tugasnya, hakim memiliki kebebasan untuk membuat keputusan
terlepas dari pengaruh pemerintah dan pengaruh lainnya. ia menjadi tumpuan dan harapan
bagi pencari keadilan. Disamping itu mempunyai kewajiban ganda, disatu pihak merupakan
pejabat yang ditugasi menerapkan hukum (izhar al-hukum) terhadap perkara yang kongkrit
baik terhadap hukum tertulis maupun tidak tertulis, dilain pihak sebagai penegak hukum dan
keadilan dituntut untuk dapat menggali, memahami, nilai-nilai yang ada dalam masyarakat.
Secara makro dituntut untuk memahami rasa hukum yang hidup di dalam masyarakat.
Dalam undang-undang disebutkan tugas pengadilan adalah : tidak boleh menolak
untuk memeriksa, mengadili dan memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa
hukum tidak ada atau kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan
mengadilinya. Artinya hakim sebagai unsur pengadilan wajib menggali, mengikuti dan
memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat. Nilai-nilai
hukum yang hidup dalam masyarakat tersebut seperti persepsi masyarakat tentang tentang
keadilan, kepastian, hukum dan kemamfaatan. Hal ini menjadi tuntutan bagi hakim untuk
selalu meningkatkan kualitasnya sehingga dalam memutuskan perkara benar-benar
berdasarkan hukum yang ada dan keputusannya dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam hadis dijelaskan :
: ( )

Dalam menyelesaikan suatu perkara ada beberapa tahapan yang harus di lakukan oleh
hakim diantaranya :
Mengkonstatir yaitu yang dituangkan dalam Berita Acara Persidangan dan dalam duduknya
perkara pada putusan hakim. Mengkonstatir ini dilakukan dengan terlebih dahulu melihat
pokok perkara dan kemudian mengakui atau membenarkan atas peristiwa yang diajukan,
tetapi sebelumnya telah diadakan pembuktian terlebih dahulu.
Mengkualifisir yaitu yang dituangkan dalam pertimbangan hukum dalam surat putusan. Ini
merupakan suatu penilaian terhadap peristiwa atas bukti-bukti, fakta-fakta peristiwa atau
fakta hukum dan menemukan hukumnya.
Mengkonstituir yaitu yang dituangkan dalam surat putusan. Tahap tiga ini merupakan
penetapan hukum atau merupakan pemberian konstitusi terhadap perkara.
Tahapan-tahapan tersebut menjadikan hakim dituntut untuk jeli dan hati-hati untuk
memberikan keputusan sekaligus menemukan hukumnya, karena pada dasarnya hakim
dianggap mengetahui hukum dan dapat mengambil keputusan berdasarkan ilmu pengetahuan
dan keyakinannya sesuai dengan doktrin Curia Ius Novit .Karena dalam undang-undang
dijelaskan bahwa hakim tidak boleh menolak perkara yang diajukan kepadanya untuk
diperiksa dan diputus, dengan alasan bahwa hukum yang ada tidak ada atau kurang jelas.
Sedangkan fungsi hakim adalah menegakkan kebenaran sesungguhnya dari apa yang
dikemukakan dan dituntut oleh para pihak tanpa melebihi atau menguranginya terutama yang
berkaitan dengan perkara perdata, sedangkan dalam perkara pidana mencari kebenaran
sesungguhnya secara mutlak tidak terbatas pada apa yang telah dilakukan oleh terdakwa,
melainkan dari itu harus diselidiki dari latar belakang perbuatan terdakwa. Artinya hakim
mengejar kebenaran materil secara mutlak dan tuntas.
Di sini terlihat intelektualitas hakim yang akan teruji dengan dikerahkannya segenap
kemampuan dan bekal ilmu pengetahuan yang mereka miliki, yang semua itu akan terlihat
pada proses pemeriksaan perkara apakah masih terdapat pelanggaran-pelanggaran dalam
teknis yustisial atau tidak.

Dengan demikian tugas hakim adalah melaksanakan semua tugas yang menjadi tanggung
jawabnya untuk memberikan kepastian hukum semua perkara yang masuk baik perkara
tersebut telah di atur dalam Undang-undang maupun yang tidak terdapat ketentuannya. Disini
terlihat dalam menjalankan tanggung jawabnya hakim harus bersifat obyektif, karena
merupakan fungsionaris yang ditunjuk undang-undang untuk memeriksa dan mengadili
perkara, dengan penilaian yang obyektif pula karena harus berdiri di atas kedua belah pihak
yang berperkara dan tidak boleh memihak salah satu pihak.

Sifat hakim tercermin dalam lambang Hakim yang dikenal dengan "Panca Dharma Hakim" :
1. Kartika, yaitu memiliki sifat percaya dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, sesuai
dengan agama dan kepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan
beradab.
2. Cakra, yaitu sifat mampu memusnahkan segala kebathilan, kezaliman dan ketidakadilan.
3. Candra, yaitu memiliki sifat bijaksana dan berwibawa.
4. Sari, yaitu berbudi luhur dan berkelakuan tidak tercela.
5. Tirta yaitu sifat jujur.
Adapun Setiap Hakim Indonesia memepunyai pegangan tingkah laku yang harus
dipedomaninya :
A. Dalam persidangan :
1. Bersikap dan bertindak menurut garis-garis yang ditentukan dalam hukum acara yang
berlaku, dengan memperhatikan azas-azas peradilan yang baik, yaitu :
a) Menjunjung tinggi hak seseorang untuk mendapat putusan (right to a decision) dimana setiap
orang berhak untuk mengajukan perkara dan dilarang menolak untuk mengadilinya kecuali
ditentukan lain oleh undang-undang serta putusan harus dijatuhkan dalam waktu yang pantas
dan tidak terlalu lama.
b) Semua pihak yang berperkara berhak atas kesempatan dan perlakuan yang sama untuk
didengar, diberikan kesempatan untuk membela diri, mengajukan bukti-bukti serta
memperoleh imformasi dalam proses pemeriksaan.(a fair hearing).
c) Putusan dijatuhkan secara obyektif tanpa dicemari oleh kepentingan pribadi atau pihak lain
(no bias) dengan menjunjung tinggi prinsip (nemo judex in resua).
d) Putusan harus memuat alasan-alasan hukum yang jelas dan dapat dimengerti serta bersifat
konsisten dengan penalaran hukum yang sistematis (reasones and argumentation of decision),
dimana argumentasi tersebut harus diawasi (controlerbaarheid) dan diikuti serta dapat
dipertanggungjawabkan (accountability) guna menjamin sifat keterbukaan (transparency) dan
kepastian hukum (legal certainity) dalam proses peradilan.
e) Menjunjung tinggi hak-hak azasi manusia.
2. Tidak dibenarkan menunjukkan sikap memihak atau bersimpati ataupun antipati kepada
pihak-pihak yang berperkara, baik dalam ucapan maupun tingkah laku.
3. Harus bersifat sopan, tegas dan bijaksana dalam memimpin sidang, baik dalam ucapan
maupun dalam perbuatan.
4. Harus menjaga kewibawaan dan kehidmatan persidangan antara lain serius dalam
memeriksa, tidak melecehkan pihak-pihak baik dengan kata-kata maupun perbuatan.
5. Bersungguh-sunguh mencari kebenaran dan keadilan.

B. Terhadap Sesama Rekan


1. Memelihara dan memupuk hubungan kerjasama yang baik antara sesama rekan.
2. Memiliki rasa setia kawan, tenggang rasa dan saling menghargai antara sesama rekan.
3. Memiliki kesadaran, kesetiaan, penghargaan terhadap korps Hakim secara wajar.
4. Menjaga nama baik dan martabat rekan, baik di dalam maupun di luar kedinasan.
C. Terhadap Bawahan atau Pegawai
1. Harus mempunyai sifat kepemimpinan.
2. Membimbing bawahan atau pegawai untuk mempertinggi pengetahuan.
3. Harus mempunyai sikap sebagai sebagai seorang bapak atau Ibu yang baik.
4. Memelihara sikap kekeluargaan terhadap bawahan atau pegawai.
5. Memberi contoh kedisiplinan.

D. Terhadap Masyarakat.
1. Menghormati dan menghargai orang lain.
2. Tidak sombong dan tidak mau menang sendiri
3. Hidup sederhana.
E. Terhadap keluarga atau rumah tangga
1. Menjaga keluarga dari perbuatan-perbuatan tercela, menurut norma-norma hukum
kesusilaan.
2. Menjaga ketentraman dan keutuhan keluarga.
3. Menyelesaikan kehidupan rumah tangga dengan keadaan dan pandangan masyarakat.
Selain dijelaskan tentang sifat dan sikap hakim juga terdapat ketentuan kewajiban dan
larangan profesi hakim
1. Kewajiban :
a. Mendengar dan memperlakukan kedua belah pihak berperkara secara berimbang dengan
tidak memihak(impartial).
b. Sopan dalam bertutur dan bertindak.
c. Memeriksa perkara dengan arif, cermat dan sabar.
d. Memutus perkara berdasarkan atas hukum dan rasa keadilan.
e. Menjaga martabat, kedudukan dan kehormatan Hakim.
2. Larangan :
a. Melakukan kolusi dengan sipapun yang berkaitan dengan perkara yang akan dan sedang
ditangani.
b. Menerima suatu pemberian atau janji dari pihak-pihak yang berperkara.
c. Membicarakan suatu perkara yang ditanganinya diluar cara persidangan.
d. Mengeluarkan pendapat atas suatu kasus yang ditanganinya baik dalam persidangan maupun
diluar persidangan mendahului putusan.
e. Melecehkan sesama hakim, jaksa, penasehat Hukum para pihak berperkara, ataupun pihak
lain.
f. Memberikan komentar terbuka atas putusan hakim lain, kecuali dikeluarkan dalam rangka
pengkajian ilmiah.
g. Menjadi anggota atau salah satu partai Politik dan pekerjaan atau jabatan yang dilarang
undang-undang.
h. Mempergunakan nama jabatan korps untuk kepentingan pribadi ataupun kelompoknya.
Uraian tersebut di atas merupakan standar minimal dalam pelayanan hukum bagi seorang
hakim. Apabila pelayanannya terdapat kesalahan baik yang diperbuat dengan sengaja
maupun tidak sengaja atau melebihi batas wewenangnya maka dia dapat dikenakan sanksi
baik berupa teguran, skorsing, maupun pemberhentian sebagai anggota Ikatan hakim
Indonesia.

Nilai dalam kode etik profesi hakim


Sebelumnya telah dijelaskan akan pentingnya etika dalam sebuah organisasi profesi,
dalam hal ini profesi hakim. Dan akan kita bahas tentang pokok-pokok kode etik profesi
hakim. Bagaimanakah pandangan etika terhadap profesi hakim, Apa saja bentuk dan jenis
norma etis yang dianut dan wajib dilaksanakan oleh para hakim. Hal inilah yang menjadi
permasalahan pada bagian ini. Pembahasan pokok-pokok etika ini dimaksudkan untuk
mengetahui bahwa nilai-nilai etika dalam profesi hakim.
Profesi hukum merupakan salah satu profesi yang menuntut pemenuhan nilai moral bagi
pengembannya. Nilai moral tersebut akan menjadi landasan bagi tindakannya. Ada 5 (lima)
nilai moral yang terkandung dalam profesi hakim yaitu:
1. Nilai kemandirian atau kemerdekaan.
Di sini terkandung nilai profesi hakim adalah profesi yang mandiri, yang dalam
melaksanakan tugasnya, tidak boleh dipengaruhi oleh pihak manapun. Begitu pula Hakim
dalam menjalankan tugasnya tidak boleh dipengaruhi oleh pihak manapun. Hakim dalam
menjatuhkan putusan berdasarkan keyakinan yang dilandasi dengan kejujuran dan
keseksamaan, yang diambil setelah mendengar dan mempelajari keterangan-keterangan dari
semua pihak. Nilai kemandirian atau kemerdekaan ini sangat penting karena tanpa nilai ini,
nilai-nilai lain tidak akan bisa ditegakkan.
Hal ini memperjelas bahwa untuk mendukung terlaksananya tugas-tugas profesi hakim
maka diperlukannya kemandirian hakim. Namun harus kita pahami bahwa kemandirian ini
adalah bukan dengan identik dengan kebebasan yang mengarah kepada pada kesewenang
wenangan. Tentu hal ini kembali kepada kemandirian moral dan keberanian moral.
Kemandirian moral artinya tidak mudah terpengaruh atau tidak mudah mengikuti pandangan
moral sekitarnya, melainkan membentuk penilaian dan mempunyai pendirian sendiri.
Mandiri secara moral berarti tidak dapat dibeli oleh pendapat mayoritas, tidak terpengaruh
pertimbangan untung rugi, menyesuaikan diri dengan nilai kesusilaan dan agama. Sedangkan
keberanian moral adalah kesetiaan terhadap suara hati nurani yang menyatakan kesediaan
untuk menanggung resiko konflik. Keberanian tersebut antara lain menolak segala bentuk
korupsi, kolusi, suap, pungli; menolak segala bentuk penyelesaian melaui jalan belakang
yang tidak sah. Hal ini dapat menjadikan seorang hakim menjadi kuat, demikian pula faktor
kemandirian moral dan keberanian moral yang kedua-duanya saling mengikat.
2. Nilai keadilan.
Kewajiban menegakan keadilan tidak hanya dipertanggungjawabkan secara horizontal
kepada sesama manusia, tetapi juga secara vertikal kepada Tuhan Yang Maha Esa. Maka
pengadilan harus mengadili menurut hukum dan tidak membeda-bedakan orang Yang
dicerminkan dalam proses penyelengaraan peradilan yaitu membantu pencari keadilan dan
berusaha mengatasi segala hambatan dan rintangan untuk dapat tercapainya peradilan secara
sederhana, cepat, dan biaya ringan. Agar keadilan tersebut dapat dijangkau oleh seluruh
lapisan masyaarakat, dengan tidak memutar balikan fakta dan tidak membedakan orang
dengan tetap memegang asas praduga tak bersalah. Dan nilai ini dapat diperluas sampai
kepada hakim wajib menghormati hak seseorang (setiap orang yang tersangkut perkara
berhak memperoleh bantuan hukum). Serta memperoleh ganti rugi dan rehabilitasi akibat
kekeliruan tentang orang atau hukum yang diterapkan.
3. Nilai kerja sama dan kewibawaan korp
Nilai kerja sama ini diwujudkan dalam persidangan salah satunya dalam bentuk majlis
dengan sekurang-kurangnya berjumlah sebanyak tiga orang hakim untuk memusyawarahkan
hasil dari persidangan secara rahasia yang kemudian menjatuhkan putusan, disamping itu
perlunya saling memberi bantuan dan adanya kerja sama dengan negara lain yang meminta
keterangan, pertimbangan, atau nasehat-nasehat yang berkaitan dengan hukum

KODE ETIK PROFESI HAKIM DALAM ISLAM


A. Pemahaman

Pemahaman terhadap eksistensi kode etik profesi hakim dalam wacana pemikiran
hukum Islam adalah sistem etika Islam yang akan menjadi landasan berfikir untuk melihat
nilai-nilai yang ada dalam kode etik profesi hakim.

Etika dalam Islam disebut dengan akhlak. Akhlak berasal dari bahasa arab yang
artinya perangai, tabiat, rasa malu dan adat kebiasaan atau dalam pengertian sehari-hari
disebut budi pekerti, kesusilaan atau sopan santun. Dengan demikian ahklak merupakan
gambaran bentuk lahir manusia

B. Landasan Etika Profesi Dalam Islam

Persoalan etika dalam Islam sudah banyak dibicarakan dan termuat dalam al-Qur'an
dan al-Hadis. Etika Islam adalah merupakan sistem akhlak yang berdasarkan kepercayaan
kepada tuhan, dan sudah tentu berdasarkan kepada agama, dengan demikian al-Qur'an dan al-
Hadis adalah merupakan sumber utama yang dijadikan landasan dalam menentukan batasan-
batasan dalam tindakan sehari-hari bagi manusia, ada yang menerangkan tentang baik dan
buruk, boleh dan dilarang, maka etika profesi hakim di sini merupakan bagian dari perbuatan
yang menjadi fokus bahasan.

Namun al-Qur'an yang menerangkan tentang kehidupan moral, keagamaan dan sosial
muslim tidak menjelaskan teori-teori etika dalam arti yang khusus sekalipun menjelaskan
konsep etika Islam, tetapi hanya membentuk dasar etika Islam, bukan teori-teori etika dalam
bentuk baku. Tetapi masalah yang paling utama adalah bagaimana mengeluarkan ethik Islam
yang bersumber dari al-Qur'an yang melibatkan seluruh moral, keagamaan, dan sosial
masyarakat muslim guna menjawab semua permasalahan yang timbul baik dari dalam
maupun dari luar.

Dengan demikian perlu dari kedua sumber tersebut yang pada umumnya memiliki
sifat yang umum, karena itu perlu dilakukan upaya-upaya dan kualifikasi agar dipahami
sehingga perlu melalui penjelasan dan penafsiran. Permasalahan kehidupan manusia yang
semakin kompleks dengan dinamika masyarakat yang semakin berkembang.

Etika Islam sebagai landasan yang harus dijunjung oleh seorang profesi dalam hal ini
seorang hakim (Qadi) dalam menjalankan profesinya adalah memberi keputusan
(Judgement) bukan menghadiahkan keadilan dan keputusan yang diberikan harus
berdasarkan hukum. Hal ini dalam konsep Islam, profesi hakim harus benar-benar
menegakkan etika, dan bagaimana etika yang harus ditegakkan dalam menjalani profesi
dalam Islam, atau yang disebut etika profesi dalam Islam.

Konsep profesi dalam Islam tersebut adalah :

1. Meletakkan kerja sebagai sebuah amal shaleh yang dilakukan dalam kontek dan tahapan
yang runtut atas iman, ilmu, dan amal. Disini kerja terorientasi kepada dua pandangan :
aktifitas yang bernilai ibadah dan sebuah aktifitas untuk memperoleh keuntungan financial.

2. Menunuaikan kerja sebagai suatu penunaian amanah yang harus dilakukan secara
professional.

3. Melakukan kerja dengan wawasan masa depan dan wawasan ukhrawi artinya dalam
melakukan kerja, seseorang harus mengingat kepentingan akan hari depannya.

Dari uraian di atas etika profesi dalam Islam adalah merupakan aktivitas yang bukan
hanya bersifat duniawi, melainkan juga sangat ukhrawi. Artinya Islam melibatkan aspek
transendental dalam beribadah, sehingga bekerja tidak hanya bisa dilihat sebagai prilaku
ekonomi tetapi juga ibadah, sehingga profesi hakim yang dijalani adalah suatu profesi yang
profesi yang harus dipertanggung jawabkan di akhirat.

Dalam hadis di sebutkan :


: :

[ 19]
Hadits} diatas menjelaskan pembagian hakim, sehingga apabila haim tidak
menjalankan amanahnya sesuai dengan sistem etika profesi dalam Islam maka termasuk salah
satu golongan hakim yang celaka, karena mengimgkari tujuan dari etika profesi hakim yang
ada, dan tidak bisa mempertanggungjawabkan akan tugasnya diakhirat nanti.

PROFESI HAKIM DALAM PERSPEKTIF SYARIAT ISLAM

A.Pemaparan

Profesi Hakim 1 adalah jabatan yang mulia sekaligus penuh resiko dan tantangan. Mulia
karena ia bertujuan menciptakan ketentraman dan perdamaian di dalam masyarakat. Penuh
resiko karena di dunia ia akan behadapan dengan mereka yang tidak puas dengan
keputusannya, sedangkan di akhirat diancam dengan neraka jika tidak menetapkan keputusan
sesuai dengan yang seharusnya. Jabatan tersebut membutuhkan persyaratan-persyaratan baik
fisik maupun non fisik.
(profesi hakim dalam ayat al-quran)
Di samping itu, ada kode etik yang harus mendapatkan perhatian yang mendalam oleh para
hakim yang meliputi dua aspek, yaitu aspek moral dan intelektual. Kedua aspek ini, lebih-
lebih aspek moral, masih menjadi persoalan di hampir setiap pengadilan pada masa sekarang.
Oleh karena itu Profesi Hakim ini mendapat perhatian khusus, tidak hanya dalam hukum
positif saja, dalam hukum Islam pun mendapat perhatian khusus melalui ayat-ayat Al-Quran
dan Al-Hadits yang membahas tentang Profesi Hakim seperti di bawah ini.

Hendaklah engkau menghukum antara mereka menurut pengaturan yang diturunkan Alloh
( QS. Al-Maidah ayat 49 ).
Dan jika kamu menghukum antara manusia hendaklah kamu hukum dengan seadil-adilnya
) QS. An-Nisaa ayat 58 ).
Bahwa Alloh adalah Hakim yang seadil-adilnya ) Q.S. At-Tin ayat 8 )

Dan jangan sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain dengan jalan bathil. Dan
janganlah membawa urusan harta itu kepada hakim sebagai umpan untuk - Menyuap Hakim -
dengan maksud supaya kamu memakan sebagian harta orang lain dengan jalan dosa, padahal
kamu mengetahui ) Q.S. Al-Baqoroh ayat 188 ).

Mengingat betapa pentingnya Profesi Hakim dalam pelaksanaan peradilan, maka dalam
makalah ini penulis akan membahas dua masalah pokok yang sangat mendasar, yaitu :

1. Bagaimanakah Profesi Hakim itu menurut Perspektif Syariat Islam ?

2. Bagaimanakah praktek peradilan Islam dalam memutus suatu perkara ?

Dari permasalahan tersebut di atas, penulis akan mencoba untuk memaparkan dan
menganalisa serta menjabarkannya dalam makalah ini.

A. Profesi Hakim Menurut Perspektif Syariat Islam

1. Profesi Hakim

Diriwayatkan dari Buraidah, r.a, sabda Nabi Saw : Bahwa Hakim itu ada tiga golongan,
yaitu satu golongan masuk syurga, dan dua golongan lagi masuk neraka. 1. Hakim yang
masuk surga, adalah hakim yang mengetahui hak ( kebenaran ) menurut Hukum Alloh, dan ia
menghukum dengan kebenaran itu. 2. Hakim yang mengtehui hak, tetapi ia menghukum
dengan yang bukan hak, hakim ini akan masuk neraka. 3. Hakim yang menghukum dengan
tidak mengetahui Hukum Alloh ( Bodoh ) dalam perkara itu, dan ia memutus dengan
ketidaktahuannya itu, maka hakim ini pun akan masuk neraka ) HR. Abu Dawud dan HR.
Imam Empat Hadits Shohih menurut Hakim ).
Hadits ini, secara sederhana, memberikan pemahaman bahwa terdapat tiga golongan
hakim, dua diantaranya masuk neraka dan yang satu lagi masuk surga. Hakim yang diberi
imbalan surga adalah hakim yang mengetahui tentang kebenaran dan menetapkan keputusan
sesuai dengan kebenaran itu. Hakim yang masuk neraka, adalah hakim yang mengetahui
tentang mana yang benar dan mana yang salah akan tetapi memberi keputusan tidak sesuai
dengan kebenaran, kemudian hakim yang bodoh, ia tidak mengetahui mana di antara pihak
yang benar dan yang salah kemudian memberi keputusan atas ketidaktahuannya itu.

Hadits ini mengisyaratkan bahwa menjadi seorang hakim bukanlah profesi yang mudah, akan
tetapi penuh resiko dan berat. Seorang hakim yang tidak mampu menunjukkan performance-
nya secara baik dan proporsional akan mendapatkan konsekuensi logisnya, sehingga tidak
mengherankan jika Imam Abu Hanifah menolak jabatan hakim, meski kapasitas dan
kapabelitasnya sangat cakap untuk menduduki jabatan tersebut. 8 Di sisi lain, jabatan seorang
hakim merupakan jabatan yang mulia di sisi Alloh. Akan tetapi, untuk memperoleh
kemuliaan tersebut banyak tantangan dan godaannya.

3. Profesi Hakim dan Problematikanya

Hakim sebagai pelaksana hukum-hukum Alloh Swt mempunyai kedudukan yang sangat
penting dan strategis, tetapi juga mempunyai resiko yang berat. Dikatakan penting dan
strategis, karena melalui produk hukum yang ditetapkannya diharapkan dapat mencegah
segala bentuk kezaliman yang terjadi di tengah masyarakat, atau setidaknya dapat
meminimalisir, sehingga ketentraman dalam suatu komunitas dapat direalisasikan. Disamping
itu, resiko yang dihadapi pun cukup berat, baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia akan
berhadapan dengan mereka yang tidak puas dengan keputusannya, sedangkan di akhirat
diancam dengan hukuman sebagai ahli neraka jika tidak menetapkan keputusan sesuai
dengan yang seharusnya.

Kaidah etika profesi adalah sesuatu yang universal sifatnya, artinya berlaku di mana-mana
baik dulu maupun sekarang karena mengatur nilai-nilai moral, yaitu perilaku baik yang harus
selalu dipegang teguh oleh seorang yang berprofesi sebagai Hakim dalam menjalankan
tugasnya. Ada empat macam etika profesi bagi seorang Hakim seperti dikemukakan Socrates,
yaitu;
Pertama, mendengar dengan sopan (to hear courteously),
Kedua, menjawab dengan arif dan bijaksana (to answer wisly),
Ketiga, mempertimbangkan dan tidak terpengaruh (to consider soberly)
Keempat, memutus tak berat sebelah ( to diccide impartially).

Apabila mencermati hal-hal di atas menjadi seorang yang berpredikat sebagai hakim itu
ternyata bukanlah pekerjaan yang mudah. Profesi hakim menuntut adanya beberapa
persyaratan yang harus ada dan dipenuhi, 21 yaitu : bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
sehat jasmani dan rohani, berwibawa, jujur, adil dan berkelakuan tidak tercela. Hampir
senada dengan itu.
BAB. 3 Penutup
Kata Kunci: Etika Hakim, Hukum Islam, Hukum Positif.

Munculnya wacana pemikiran tentang etika profesi hakim karena berangkat


dari realitas para penegak hukum (khususnya hakim) yang mengabaikan
nilai-nilai moralitas. Meskipun para pelaku profesional (hakim) sudah
memilki etika profesi hakim sebagai standar moral, ternyata belum
memberikan dampak yang positif, terutama belum bisa merubah pandangan
masyarakat terhadap wajah peradilan untuk menjadi lebih baik.

Salah satu jalan untuk menegakkan supremasi hukum adalah dengan cara
menegakkan etika, profesionalisme, sebagai upaya untuk menganalisis
terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam etika profesi hakim dalam etika
hukum Islam dan Hukum positif.
tujuan adalah untuk memberikan penjelasan, analisa dan penilaian terhadap
etika profesi
hakim dari sudut pandang etika Islam dan etika hukum Positif.

kesimpulan.

Pertama,. Etika profesi hakim dan hukum adalah merupakan satu kesatuan
yang secara inheren terdapat nilai-nilai etika Islam yang landasannya
merupakan pemahaman dari al-Qur'an, sehingga pada dasarnya Kode etik
profesi hakim sejalan dengan nilai-nilai dalam sistem etika Islam. Etika
hukum Islam dibangun di atas empat nilai dasar yaitu yaitu nilai-nilai
kebenaran, keadilan, kehendak bebas, dan pertanggung jawaban. Kalau Etika
hukum positif juga dibangun di atas empat nilai dasar juga yaitu nilai-nilai
kemandirian atau kemerdekaan, keadilan, kerjasama atau kewibawaan,
pertanggungjawaban.
Kedua,. Komparasi antara hukum islam dan hukum positif tentang etika
profesi hakim yaitu ada perbedaan dan kesamaan artinya etika yang dipakai
oleh hakim dalam melaksanakan keputusan. Perbedaanya kalau hukum islam
yaitu kebenaran dan kehendak bebas kalau hukum positif yaitu kemandirian
atau kemerdekaan dan kerjasama atau kewibawaan. Persamaanya antara
hukum islam dan hukum positif yaitu keadilan dan pertanggungjawaban.
Terjadinya penyalahgunaan dan pengabaian terhadap etika profesi hakim
diakibatkan rendahnya etika hakim. Sehingga tidak terlaksananya nilai-nilai
dasar hukum islam dan hukum positif sebagai nilai yang harus ditegakkan
oleh profesi hakim.