Anda di halaman 1dari 11

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Setiap makhluk hidup memiliki respon fisiologis dalam

menanggapi rangsangan di sekitarnya. Respon fisiologis ini diperlukan untuk melindungi tubuh dari masuknya benda dan zat zat asing yang dapat membahayakan tubuh. Salah satu respon fisiologis yang sering dihadapi oleh tenaga medis kedokteran gigi adalah gagging refleks atau muntah. Gagging refleks atau muntah merupakan mekanisme tubuh untuk melindungi tubuh dari benda benda dan zat asing yang dapat membahayakan tubuh. Gagging refleks melibatkan sistem saraf pusat dan traktus

gastrointestinal dengan cara mengeluarkan paksa isi lambung ke esofagus menuju mulut. Gagging refleks dapat dipicu oleh beberapa faktor. Salah satu faktor pemicu muntah adalah iritasi mukosa mulut pada saat dilakukan pencetakan gigi pada perawatan prostodontik. Gagging refleks pada saat pencetakan gigi sering dihadapi oleh tenaga medis kedokteran gigi dan hal ini tentunya akan menghambat tindakan perawatan. Oleh karena itu penting bagi tenaga medis kedokteran gigi untuk mengetahui mekanisme terjadinya gagging refleks, faktor faktor yang dapat memicu gagging refleks serta upaya pencegahan gagging refleks supaya perawatan medis kedokteran gigi dapat berjalan dengan lancar.

1.2. Rumusan Masalah 1. Bagaimana anatomi dan fisiologi saluran pencernaan bagian atas? 2. Bagaimana mekanisme terjadinya gagging refleks? 3. Apa saja faktor yang memicu gagging refleks? 4. Bagaimana upaya pencegahan gagging refleks?

1.3 Tujuan 1. 2. 3. 4. Mengetahui anatomi dan fisiologi pencernaan bagian atas Mengetahui mekanisme terjadinya gagging refleks Mengetahui faktor-faktor yang memicu gagging refleks Mengetahui upaya pencegahan gagging refleks

BAB II PEMBAHASAN

Gagging merupakan suatu kontraksi dari otot konstriktor di faring karena adanya stimulasi dari reseptor sensori di soft palate oleh rasangan fisik atau obat sistemik. Gag reflex atau sering disebut pharyngeal reflex merupakan suatu peristiwa kontak antara benda asing dengan membrane mucus fauces yang menyebabkan terjadinya gagging. Gag reflex mencegah benda asing melintasi tenggorokkan diluar cara menelan normal dan membantu mencegah tersangkutnya benda asing tersebut ditenggorokan. Lebih tepatnya, gag reflex merupakan suatu reflex bawaan yang bertujuan untuk melindingi system pernafasan dan system pencernaan dari benda asing yang dapat merusaknya. Menurut Bradley (1981) Gagging adalah suatu refleks yang diawali oleh rangsangan mekanis dari facial pillars, dasar lidah, palatum dan dinding faring bagian posterior. Refleks yang terjadi merupakan mekanisme pertahanan alami dan dapat terjadi melalui beberapa jalur aferen. Pada skenario diketahui bahwa pasien berumur 60 tahun yang notabene sudah masuk tahap menopause. Akibatnya sekresi prostaglandin semakin banyak sehingga timbul rasa nyeri. Selain itu pada usia 60 tahun, tubuh telah mengalami degenerasi yang menyebabkan kelemahan dan atrofi pada saluran cerna. Tinggi badan dan berat badan terhadap gagging reflex tidak memiliki hubungan sama sekali. Kedua hal tersebut hanya berperan sebagai data pendukung dalam pemeriksaan dimana dapat dikatakan bahwa TB atau BB hanya digunakan pada diagnose untuk mengetahui suatu penyakit sistemik. Muntah sering terjadi pada pagi hari dikarenakan lamanya jangka waktu antara tidur dan bangun sehingga perut dalam keadaan kosong. Perut yang kosong ini menyebabkan produksi HCL didalam lambung meningkat sehingga merangsang terjadinya muntah pada pagi hari. Gagging refleks gastrointestinal antara lain : melibatkan beberapa organ organ dari traktus

1. Mulut Mulut adalah rongga permulaan saluran pencernaan. Terdiri atas 2 bagian yaitu luar dan dalam. Bagian luar yang sempit atau vestibula yaitu ruang diantara gusi serta gigi dengan bibir dan pipi, dan bagian dalam yaitu rongga mulut yang dibatasi di sisi sisinya oleh tulang maksilaris dan semua gigi, dan di sebelah belakang bersambung dengan awal faring. atap mulut dibentuk palatum dan lidah sebagai lantainya dan terikat pada tulang hyoid. 2. Tenggorokan ( Faring) Merupakan penghubung antara rongga mulut dan

kerongkongan.Didalam lengkung faring terdapat tonsil ( amandel ) yaitu kelenjar limfe yang banyak mengandung kelenjar limfosit dan merupakan pertahanan terhadap infeksi, disini terletak bersimpangan antara jalan nafas dan jalan makanan, letaknya dibelakang rongga mulut dan rongga hidung, didepan ruas tulang belakang. 3. Kerongkongan Kerongkongan adalah tabung (tube) berotot pada vertebrata yang dilalui sewaktu makanan mengalir dari bagian mulut ke dalam lambung. Makanan berjalan melalui kerongkongan dengan

menggunakan proses peristaltik. 4. Lambung Merupakan organ otot berongga yang besar dan berbentuk seperti kacang keledai. Makanan masuk ke dalam lambung dari kerongkongan melalui otot berbentuk cincin (sfinter), yang bisa membuka dan menutup. Dalam keadaan normal, sfinter menghalangi masuknya kembali isi lambung ke dalam kerongkongan. Terdiri dari 3 bagian yaitu kardia,fundus,antrum.

5. Usus halus (usus kecil) Usus halus atau usus kecil adalah bagian dari saluran pencernaan yang terletak di antara lambung dan usus besar. Dinding usus kaya akan pembuluh darah yang mengangkut zat-zat yang diserap ke hati melalui vena porta. Dinding usus melepaskan lendir (yang melumasi isi usus) dan air (yang membantu melarutkan pecahan-pecahan makanan yang dicerna). Dinding usus juga melepaskan sejumlah kecil enzim yang mencerna protein, gula dan lemak. Usus halus terdiri dari tiga bagian yaitu usus dua belas jari (duodenum), usus kosong (jejunum), dan usus penyerapan (ileum). Fisiologi sistem pencernaan 1. Mengunyah Mengunyah makanan bersifat penting untuk pencernaan semua makanan, tetapi terutama sekali untuk sebahagian besar buah dan sayur-sayuran mentah karena zat ini mempunyai membran selulosa yang tidak dapat dicerna diantara bagian-bagian zat nutrisi yang harus di uraikan sebelum makanan dapat di gunakan. Selain itu, mengunyah akan membantu pencernaan makanan karena enzim-enzim pencernaan hanya akan bekerja pada permukaan partikel makanan.

2. Menelan Pada umumnya, menelan dapat dibagi menjadi (1) tahap volunter, yang mencetuskan proses menelan, (2) tahap faringeal, yang bersifat involunter dan membantu jalannya makanan melalui faring ke dalam esofagus, dan (3) tahap esofageal, fase involunter lain yang mempermudah jalannya makanan dari faring ke lambung.

Muntah biasanya terjadi pada proyeksi molar maksila maupun mandibula. Reseptor-reseptor gag refleks berada pada palatum lunak, bagian 1/3 lateral

posterior lidah dan pada bagian retromolar mylohyoid.Area yang sangat sensitif untuk merasakan stimulus yang menghasilkan refleks muntah adalah palatum, dasar lidah,uvula, palatum lunak, palatum keras, dinding belakang dari faring, dan daerah palatofaringeal mulut. Sensor rangsang yang mampu memulai gag reflex, ditemukan pada tiga tipe reseptor yang terletak di orofacial, pencernaan dan aliran darah. Mekanisme terjadinya gagging refleks :

Adanya factor penyebab / pencetus muntah (Somatik dan Psikogenik)

Merangsang Trigger Zone

Menstimulasi Vomiting Center / Chemoreceptor Trigger Zone pada Sistem Saraf Pusat

Motor cascade bereaksi

Kontraksi non peristaltic pada duodenum

Gerak Peristaltik

Mendorong isi duodenum dan sekresi pancreas ke dalam lambung

Aktivitas lambung tertekan

Otot pernafasan berkontraksi melawan celah suara yang tertutup

Terjadi pembesaran krongkongan

Kontraksi abdominal

Isi lambung di dorong ke krongkongan

muntah

Gagging refleks dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti : 1. Kelainan Sistemik Kesehatan umum pasien sering berkaitan dengan kesehatan gigi dan berpengaruh terhadap refleks muntah. Beberapa penyakit kronis dapat menimbulkan reaksi muntah misalnya gangguan saluran pernafasan, deviasi septum, polip hidung dan luka lambung dapat meningkatkan refleks muntah.

2. Faktor psikologik Reflek muntah yang aktif secara abnormal dapat tejadi karena pengalaman sebelumnya yang memicu episode muntah. Secara psikologik.ketakutan adalah faktor di bawah sadar yang selalu mempengaruhi orang untuk muntah misalnya pasien pada waktu pencetakan ketakutan untuk menelan benda asing, pemakaian alat-alat yang dimasukan dalam mulut pasien.

3. Faktor Fisiologik Faktor fisiologik yang dapat menyebabkan muntah dibagi 2 yaitu sebagai berikut.

(a). Faktor ekstra oral Berupa rangsangan yang datang dari luar rongga mulut dapat berupa rangsangan penglihatan, pendengaran dan penciuman. Rangsangan penglihatan, pasien dengan melihat alat yang akan

digunakan untuk perawatan sudah dapat menimbulkan rangsangan muntah misalnya kaca mulut, sendok cetak, bahan cetak. Dapat pula terjadi reaksi muntah karena melihat pasien lain muntah. Rangsangan pendengaran, dengan mendengar pasien lain muntah sudah terangsang timbul reaksi muntah. Rangsangan penciuman, bau dapat menimbulkan rangsangan untuk muntah misalnya bau bahan cetak, obat-obatan dan bau rokok dari dokternya.

(b). Faktor intra oral Daerah pada sekitar mulut yang mempunyai respon rangsangan taktil yang berbeda. Ada yang hiposensitif dan ada yang hipersensitif, daerah anterior palatum kurang sensitif dari sebelah posterior. Pada pencetakan, bahan cetak jangan sampai berlebihan sehingga pada palatum di bagian postenor dapat merangsang muntah.

4.

Faktor latrogenik Faktor luar yang tidak ada keterkaitan dengan pasien misalnya perlakuan yang kurang baik tidak hati-hati dan pemakaian alat dengan temperatur yang ektrim dapat merangsang timbulnya muntah.

5.

Faktor lain Muntah dapat terjadi pada berbagai keadaan misalnya kehamilan, mabuk perjalanan. Dapat pula karena efek samping pemakaian obat, operasi dan terapi radiasi. Upaya pencegahan gagging reflex : Pada waktu pencetakan memerlukan teknik kerja yang cermat dan

menenangkan mental dan fisik pasien.

1. Tehnik pencetakan rahang yang cermat. y Operator harus tenang dan cermat pada saat mencetak rahang. y Ukuran sendok cetak sedikit lebih besar dari rahang untuk ketebalan dari bahan cetak. y Bahan cetak jangan sampai berlebihan karena dapat merangsang muntah. 2. Persiapan mental pasien Dengan dialihkan berkosentrasi pada berbagai aktivitas, perhatian dapat dialihkan dari rangsang muntah. Metode yang dapat digunakan untuk mengalihkan rangsang muntah antara lain: y Jangan pernah mengatakan muntah pada pasien selama proses pengerasan bahan cetak, karena dapat merangsang pasien untuk muntah. y Untuk mengalihkan perhatian, pasien diinstruksikan untuk mengangkat kakinya dan menahannya diudara, karena otot pasien akan lelah maka perhatian akan muntah dapat dialihkan.

3. Berkumur dengan air es atau mengulum es batu, hal ini dapat menghambat kerja syaraf untuk menyampaikan rangsang menuju pusat muntah. Sehingga sensitifitas pasien dapat berkurang 4. Mengulas area yang sensitive dengan cairan kokain 5. Anestesi Lokal atau general 6. Terapi obat-obatan 7. Terapi psikologis dan perilaku 8. Akupuntur pada bagian atas telinga dan fossa triangular serta pada dagu 9. Metode operasi yaitu pemotongan uvula.

BAB III KESIMPULAN

Gagging refleks atau muntah merupakan mekanisme tubuh untuk melindungi tubuh dari benda benda dan zat asing yang dapat membahayakan tubuh. Gagging refleks melibatkan sistem saraf pusat dan sistem gastrointestinal.
Mekanisme terjadinya gag reflek dimulai pada saat timbulnya iritasi atau sentuhan pada palatum lunak atau bagain 1/3 posterior belakang lidah dan kemudian diteruskan oleh serabut-serabut saraf afferent ke pusat pengaturan muntah di medulla oblongata (porsi bagian bawah otak). Dari medula oblongata, stimulus dilanjutkan keluar oleh serabut saraf efferent keluar dari serabut-serabut saraf otak ke otot-otot yang berperan dalam terjadinya muntah.Gagging refleks dapat disebabkan oleh beberapa faktor

seperti kelainan sistemik, faktor psikologis, faktor fisiologis, faktor latrogenik dan faktor lain seperti kehamilan atau mabuk perjalanan. Pencegahan terhadap gagging refleks bisa dengan cara mengalihkan perhatian pasien pada saat pencetakan gigi, berkumur dengan air es, terapi obat obatan dan lain lain.

DAFTAR PUSTAKA

Ganong. 1991. Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC Irianto, Kus. 2004.Struktur dan Fungsi Tubuh Manusia untuk Paramedis . Jakarta:EGC Putra, Deddy. 2008. Muntah Pada Anak Pierce, Evelin C. 1997. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama Syaifuddin, H. 1997.Anatomi Fisiologi untuk Siswa Perawat. Jakarta: EGC Sloane, Ethel. 2004. Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula. Jakarta : EGC http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/18844/4/Chapter%20II.pdf