Anda di halaman 1dari 2

Sejarah Psikologi Kognitif

Proses mental atau pikiran manusia sebenarnya telah dipelajari para ahli filsafat seperti aristoteles sejak lebih dari 2000 tahun yang lalu. Sekalipun begitu, psikologi sebagai cabang ilmu yang berdiri sendiri baru dimulai pada tahun 1879. Hal ini dikaitkan dengan pembukaan laboratorium psikologi pertama kali oleh Wilhem Wundt di Leipzig, Jerman. Jadi, psikologi termasuk cabang ilmu baru yang memisahkan diri dari filsafat dan fisiologis. Pada waktu itu, Wundt mengusulkan bahwa psikologi seharusnya mempelajari pengalaman kesadaran dengan menggunakan metode introspeksi. Pendekatan introspeksi menekankan bagaimana proses-proses mental (pikiran) yang terjadi pada saat organisme menerima stimulus yang membangkitkan sensori. Metode introspeksi ini memerlukan waktu 50 tahun untuk dapat diterima dan bergabung dengan metode lain dalam mempelajari proses-proses kognitif pada abad ke 20. Selain Wundt, juga Hermann Ebbinghaus ikut mengembangkan metode introspeksi untuk mempelajari ingatan meskipun sedikit berbeda dengan teknik yang dipakai oleh Wundt. Di Amerika Serikat (AS), pada akhir abad ke 19, para ahli psikologi banyak dipengaruhi oleh William James yang dikenal sebagai Bapak Psikologi Ameriika pada saat itu. James tidak tertarik dengan metode introspeksi dari Wundt ataupun Ebbinghaus. Ia lebih menyukai pendekatan informal yang menekankan pada gejala psikologis yang dijumpai di dalam kehidupan sehari-hari. Ia mendeskripsikan pengalaman manusia, menekankan pada pikiran yang bersifat aktif dan cenderung mencari tahu. Ia mengajukan dua aspek ingatan yaitu struktur ingatan dan proses ingatan. Dengan demikian, James memberikan sumbangan yang sangat penting bagi lahirnya psikologi kognitif. Pada tahun 1924, seorang ahli psikologis AS bernama J.B Watson memprakarsai gerakan baru dalam psikologis yang dikenal dengan psikologi behaviorisme. Behaviorisme merupaka suatu pendekatan yang hanya menitik beratkan pada reaksi-reaksi objektif dan yang dapat diamati secara langsung. Menurut pandangan behaviorisme, metode introspeksi dianggap tidak ilmiah dan kesadaran manusia sangat kabur sehingga tidak dapat diteliti secara memadai. Berdasarkan pandangan ini, behaviorisme selalu menolak setiap istilah yang menunjuk pada proses mental seperti imajeri, ide, atau berpikir. Sekalipun begitu, pendekatan behaviorisme masih tetap memberikan sumbangan yang penting bagi perkembangan psikologi kognitif. Sumbangan yang dimaksud adalah berupa bagaimana mendefinisikan konsep-konsep secara operasional, hati-hati dan tepat, sehingga dapat diukur dan dikendalikan di dalam suatu eksperimen. Di benua Eropa behaviorisme kurang memiliki pengaruh. Di sana justru berkembang psikologi baru yaitu psikologi Gestalt. Psikologi Gestalt merupakan suatu pendekatan yang menekankan bahwa organisme manusia memiliki kecendrungan dasar untuk mengorganisasikan (mengatur dengan sendirinya) apa yang dilihat atau

dipersepsi, dan bahwa suatu keseluruhan (whole) lebih besar dan penting daripada bagian-bagian (parts). Misalnya, hukum kedekatan menyatakan bahwa objek-objek cenderung dikumpulkan menjadi satu kesatuan ketika dilihat saling berdekatan antara objek satu dengan yang lain. Psikologi Gestalt lebih tertarik memperlajari tentang bagaimana organisme manusia mempersepsi objek-objek di dalam lingkungannya. Hal ini sangat besar sumbangannya bagi perkembangan psikologi kognitif terutama mengenai persepsi. Psikologi kognitif disepakati oleh ahli lahir pada tahun 1956, karena banyak buku dan artikel dari para peneliti terkenal diterbitkan pada waktu itu, yang memuat misalnya tentang perhatian, ingatan, bahasa, pembentukan konsep, dan pemecahan masalah. Tepatnya pada tanggal 11 September 1956, banyak peneliti terkemuka yang menghadiri sebuah simposium yang diselenggarakan di Massachusetts Institute of Technology . mereka menyepakati adanya pendekatan baru didalam psikologi, yaitu pendekatan kognitif. Akhirnya, sekitar tahun 60-an minat para peneliti menggunakan pendekatan kognitif tumbuh begitu cepat, sehingga banyak perubahan yang mendasar mengenai cara, pendekatan, dan sikap mereka di dalam mempelajari kawasan psikologi pada umumnya. Di indonesia perkembangan psikologi kognitif terkesan agak lamban, meski sudah mulai dikenal pada awal 1990-an. Sampai saat ini studi-studi tentang prosenproses kognitif misalnya persepsi, ingatan, bahasa, penalaran, pembuatan keputusan dan pemecahan masalah, memang masih sangat jarang dilakukan ahli-ahli psikologi indonesia. Sebagai salah satu indikator penting adalah masih jarang kita jumpai artikel-artikel yang dapat dibaca pada jurnal-jurnal psikologi yang diterbitkan oleh beberapa perguruan tinggi di indonesia. Namun, dewasa ini sebagian ahli psikologi indonesia mulai merintis studi-studi atau penelitian yang berkaitan langsung atau tidak langsung dengan bidang psikologi kognitif. Contoh-contoh artikel baik yang merupakan hasil-hasil studi literatur maupun dilapangan yang dimuat pada jurnal-jurnal psikologi antara lain : Hastjarjo, tentang arsitektur kognisi manusia, ingatan dan persepsi. Sugianto, 1994, tentang sensitivitas manusia dalam menentukan pilihan dikotomi, dan aritmatika kognitif. Suharnan dan wirawan, 1993, tentang penalaran yang dikaitkan dengan keterampilan belajar konsep. Suharnan, 2000, tentang emosi dan proses kognisi, pembuatan keputusan imajeri dan penalaran yang dikaitkan dengan kreativitas.Dar-mapatni, djalali, dan Farid, 2003, tentang ingatan yang dikaitkan dengan kekurangan tidur. Dan Widyana, 2003, tentang bahasa dan membaca. Semua contoh artikel ini menggambarkan kecendrungan sikap optimis, bahwa ke depan minat ahli-ahli psikolodi Indonesia untuk melakukan studi-studi yang berkaitan dengan psikologi kognitif akan makin tinggi.

Mirna Irnita Ardhya 1024090114