Anda di halaman 1dari 2

FENOMENA HURUF h DALAM BAHASA MANDAILING Dalam berbahasa lisan orang Mandailing sering tidak memunculkan huruf h dalam

banyak kata yang digunakan. Misal kata halak (orang) diucapkan alak, sehingga halak lahi (laki-laki) diucapkan menjadi alak lai. Beberapa nama binatang juga kehilangan huruf h, seperti horbo (kerbau) diucapkan menjadi orbo, hambeng (kambing) berubah menjadi ambeng dan juga huting (kucing) menjadi uting. Kenyataan ini mungkin tidak hanya terjadi dalam bahasa Mandailing, tetapi juga terjadi dalam bahasa Indonesia, seperti kata baharu berubah menjadi kata baru. Diperkirakan bahwa fenomena ini merupakan pengaruh dari bahasa Arab, yang huruf h kecil diucapkan dengan tipis, hampir tidak terdengar. Analisa ini dapat pula membenarkan bahwa kata mandailing dahulunya adalah mandahiling, yang menurut beberapa ahli, berasal dari kata mandala holing kemudian berubah menjadi mandahiling lalu sekarang menjadi mandailing, istilah yang kita gunakan sekarang ini. Beberapa ukti masih ditemukan, seperti sebutan kopi mandahiling, masih digunakan di negeri Belanda, untuk menyebut kopi yang dahulunya berasal dari Mandailing. Berbeda dengan beberapa bahasa daerah lain, yang kata-katanya diucapkan dengan hentakan, sehingga huruf h tetap diucapkan dengan jelas. Misalnya laho (pergi, berjalan) dalam bahasa Toba tetap diucapkan seperti apa adanya. Akan tetapi ada juga beberapa kata yang tidak mengikuti fenomena di atas, seperti kata ahad (nama hari Ahad) justru berubah menjadi akad, karena kalau huruf h dihilangkan menjadi sulit pengucapannya. Begitu juga kata kehe (pergi) tetap dipertahankan, atau disingkat menjadi ke saja. Sebagai contoh kalimat kehe ma hami (pergilah lami) diucapkan kehe ma ami atau ke ma ami. Kata lain yang juga tidak mengikuti fenomena ini, misalnya, kata habang (terbang) juga tetap dipertahankan habang, mungkin karena terbentur dengan kata abang (saudara tua) dan kata hulu berubah menjadi julu (hulu), mungki karena terbentur dengan kata ulu (kepala). Dari contoh-contoh di atas, dapat diperhatikan bahwa leburnya atau hilangnya huruf h terjadi pada semua jenis kata, kata benda, kata kerja dan juga jenis kata yang lain. Kelihatannya fenomena ini berlaku juga bagi kata-kata yang berasal dari luar, misalnya yang berasal dari bahasa Indonesia atau pun yang berasal dari bahasa daerah lain di sekitarnya. Sebagai contoh kata habis (dari bahasa Indonesia) berubah menjadi abis dalam bahasa Mandailing. Begitu juga kata hapus (dari bahasa Indonesia) dalam bahasa Mandailing sering digunakan apus. Beberapa contoh kata dalam bahasa Mandailing yang seharusnya mengandung huruf h serta perubahannya hita, hamu, hami (kita, kamu, kami) berubah menjadi ita, amu, ami huruf h hilang, halahi (mereka) berubah menjadi alai, kedua huruf h hilang, ho (kau, engkau) berubah menjadi ko, dalam hal ini huruf h berubah menjadi huruf k, halihi (elang) berubah menjadi alihi, huruf h yang pertama hilang sedangkan huruf h yang kedua tetap dipertahankan, kehe (pergi) tetap kehe, karena huruf h tidak bisa dihilangkan, atau sering pula berubah menjadi ke saja, seseorang yang bernama Ahmad bisa berubah nama menjadi Amat atau Ammat.

Dalam bahasa Mandailing, kelihatannya bahasa lisan lebih berpengaruh dibanding bahasa tulis, mungkin karena bahasa lisan lebih banyak digunakan, sehingga apa yang diucapkan dalam bahasa lisan cenderung menjadi bahasa tulis. Keadaan ini berbeda dengan bahasa daerah lain. Misalnya dalam bahasa Aceh, walaupun diucapkan Simelu, mereka tetap menulisnya Simeuleue. Demikian juga dalam bahasa Bugis, konsonan n diucapkan sebagai ng, akan tetapi dalam bahasa tulis mereka lebih banyak menulisnya tetap dengan n, misalnya angin mamiri mereka ucapkan anging mamiri, biasanya tetap ditulis dengan sebagai angin mamiri. 1

Seandainya kita pengguna bahasa Mandailing bisa sepakat untuk menuliskan kata-kata dalam bahasa Mandailing, misalnya dalam menulis surat, e-mail, SMS, selalu dengan benar, tidak menghilangkan huruf h, maka kita tidak akan kehilangan kata-kata bahasa Mandailing yang benar. Kata horbo (kerbau), walaupun kita ucapkan orbo, tetapi dalam menulisnya tetap kita gunakan horbo, sehingga generasi berikutnya tetap mengetahui kata yang benar adalah horbo. Menggunakan bahasa tulis yang benar, sangatlah diperlukan, agar bahasa Mandailing tetap terjaga. Sekarang ini di berbagai daerah di Mandailing muncul ucapan kata yang berbeda-beda untuk satu kata yang sama. Misalnya giot kehe tu dia (mau pergi ke mana) sering diucapkan get ke tu dia, bahkan ada yang mengucapkannya get ke tu jia. Di daerah lainnya, di Mandailing, ucapan ini mungkin berbeda. Jika ucapan-ucapan seperti ini dijadikan bahasa tulis, maka akan muncul bahasabahasa Mandailing yang berbeda-beda dan generasi berikutnya tidak mengetahui lagi kata-kata bahasa Mandailing yang benar. Munculnya teknologi canggih, komunikasi melalui bahasa tulis dengan menggunakan surat sudah bakal ditinggalkan dan beralih ke SMS atau email. Gejala yang terlihat adalah penggunaan kata dalam SMS ataupun email, sangat tidak terkendali. Banyak menggunakan kata-kata singkat dan menggunakan istilah-istilah yang muncul dalam pergaulan sehari-hari. Merupakan hal yang biasa kita lihat bahwa komunikasi melalui SMS, sesama orang Mandailing, tidak lagi menggunakan bahasa Mandailing, walaupun komunikasi mereka dalam secara lisan tetap menggunakan bahasa Mandailing. Dalam rangka seabad kebangkitan nasional, kita perlu mengambil langkah pelestarian bahasa daerah sebagai asset bangsa. Misalnya kita lebih banyak menggunakan bahasa tulis dengan bahasa Mandailing yang benar, terutama para ahli bahasa Mandailing agar lebih sering menyajikan tulisantulisan dalam berbagai media, sehingga kita banyak mengetahui kata-kata bahasa Mandailing yang benar dan dapat dikenal oleh generasi muda.