Anda di halaman 1dari 12

Modul Pemberdayaan P3A

MODUL TENTANG PEMBERDAYAAN PERKUMPULAN PETANI PEMAKAI AIR (P3A)

A. TUJUAN: 1. Terwujudnya pengertian bersama bagi peserta pelatihan tentang arti kata pemberdayaan; 2. Peserta pelatihan dapat memahami, menyusun langkah-langkah program

pemberdayaan P3A serta melaksanakan program yang telah disusun.

B. SASARAN : Sebagai kelompok sasaran Modul ini adalah : 1. Fasilitator pelatihan tingkat Kabupaten/Kota 2. Fasilitator pelatihan tingkat kecamatan/desa

C. WAKTU PEMBELAJARAN : Didalam Kelas: Oiajarkan dan didiskusikan dalam waktu 120 menit. Diluarkelas: Direnungkan peserta (waktu tidak mengikat) agar dapat memahami arti kata pemberdayaan, sehingga dapat menyusun program-program yang sejalan dengan pemberdayaan masyarakat

D. CARA: Metode pembelajaran tentang pemberdayaan ini dilakukan dengan : 1. 2. Berdiskusi antar peserta tentang arti pemberdayaan Mendiskusikan tentang langkah-langkah yang harus dikerjakan untuk penyusunan program tentang partisipatif. pemberdayaan P3A sebagai suatu organisasi mandiri secara

Modul Pemberdayaan P3A

E. ISI: 1. Makna pemberdayaan Pemberdayaan secara harafiah bermakna menyebabkan lebih berdaya dari

sebelumnya dalam pengertian wewenang dan tanggung jawab temnasuk kemampuan individual yang dimilikinya. Dari arti menurut kata-kata tersebut maka kata pemberdayaan dikembangkan lebih lanjut sehingga banyak arti lain yang dipakai oleh beberapa orang ahli meskipun arti yang sebenarnya tidak berubah dari arti dasar. Dari arti yang banyak tersebut dapat disimpulkan bahwa pemberdayaan mempunyai arti sebagai : Proses yang mengembangkan dan memperkuat kemampuan sesuatu untuk terus dapat memberikan manfaat dalam proses yang dinamis secara bertanggung jawab Sesuatu yang dibendayakan tersebut dapat berbentuk sumberdaya dapat berbentuk sumberdaya alam (air, tanah, angin) ataupun manusia, bahkan juga dana maupun prosedur. Apabila pemberdayaan diberlakukan pada peningkatan potensi atau kemampuan manusianya maka disebut pemberdayaan manusia. Demikian pula apabila dilakukan pada pemberdayaan masyarakat. Sedangkan kata sumberdaya itu sendiri mengandung makna sebagai nilai kemanfaatan sesuatu (manusia, lahan, air, angin) sesuai dengan keberadaanya untuk memenuhi kebutuhan yang telah ditentukan oleh pemanfaat. Dari definisi tentang pemberdayaan di atas maka dapat ditandai bahwa : Pemberdayaan selalu berhubungan dengan manusia baik sebagai pelaku maupun pemanfaat dan sesuatu (misalnya air, atau lahan). Selain itu pemberdayaan selalu menqacu pada perubahan Artinya ialah bahwa pemberdayaan selalu bersifat dinamis. Ini disebabkan oleh karena hidup manusia selalu berkaitan dengan waktu, maka proses hidup dan kehidupan manusia juga selalu berubah sesuai dengan waktu dan zamannya beserta lingkungan strategisnya.

Modul Pemberdayaan P3A

2. Pemberdayaan Pengelolaan Irigasi Mengapa perlu pemberdavaan pengelolaan irigasi ? Sewaktu pemerintahan Orde Baru, sumberdaya air kebijakan pemerintah dalam pembangunan

diarahkan untuk memotong garis kemiskinan dengan menaikkan

produksi pertanian melalui program pencapaian swa sembada beras. Maka untuk itulah pemerintah (pusat) melakukan pembangunan in'gasi sebagai titik berat pemerintah tersebut selaras dengan

pembangunan sumberdaya air. Kebijakan

paradigma pembangunan atau konsep dasar berpikir yang dianut pada waktu itu yaitu berupa pencapaian pertumbuhan ekonomi sebesar-besarnya. Oleh sebab itu dilakukanlah pembangunan sistem irigasi secara besar-besaran, baik.berupa pembangunan fisik, dan setelah selesai kemudian diikuti dengan

pengembangan lunak berupa perangkat kelembagaan beserta perangkat hukumnya. Karena berkaitan dengan tujuan pembangunan nasional, maka pemerintah pusat sangat berkepentingan dengan keberhasilan pelaksanaan program pembangunan termasuk pembangunan irigasi. Oleh sebab itu pembangunan dilaksanakan dengan cara pelaksanaan pembangunan dengan paradigma lama. Pembangunan dengan paradigm alama dilaksanakan dengan : Secara terpusat Berorientasi target Pendekatan atas bawah, dan Seragam baik program pembangunannya sendiri maupun cara

pelaksanaannya. Pembangunan secara terpusat dan seragam pada awalnya dapat dilaksanakan dengan baik, sehingga tujuan pembangunan sektor pengembangan sumberdaya air (irigasi) berupa swa sembada beras dapat tercapai. Tetapi pada akhirnya pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan yang dilakukan secara terpusat dan seragam tersebut tidak dapat dipertahankan kembali. Hal in! disebabkan oleh karena metode penyelenggaraan kelemahan. pembangunan yang dilaksanakan mengandung beberapa

Modul Pemberdayaan P3A

Kelemahan-kelemahan pembangunan dengan paradigma lama tersebut adalah : Penyelanggaraan pembangunan secara seragam di seluruh Indonesia, akan sangat bertentangan dengan keragaman social strategis setempat. Pelaksanaan pembangauna dengan pendekatan atas bawah dan terpusat menunjukkan adanya domiunasi pemerintah dalam pelaksanaan budaya dan lingkungan

pembangunan sehingga sangat memperkecil peran masyarakat setempat; dan Pelaksanaan pembangunan sangat berorientasi target yang terukur saecara fisik, dan tidak berorientasi pada proses, akibatnya adalah bahwa

pembangunan fisik sangat terlepas dari konteks pembangunan masyarakat sabagai pemanfaat hasil pembangunan.

Adanya pelaksanaan pembangunan dengan memakai metode atas bawah, seragam, dan sentralistik dengan beberapa kelemahan yang telah disebutkan mempunyai akibat dan dampak yang luas pada masyarakat pemakai dan pemanfaat jaringan irigasi.

Akibat yang nyata adalah munculnya konflik antara masyarakat dengan pemerintah, seperti ditunjukkan oleh kasus Kedungombo, Nipah, Proyek Lahan Gambut (PLG) dan Iain-lain.

Selain itu ketergantungan masyarakat terhadap peran pemerintah yang sangat besar juga menyebabkan beban pemerintah untuk melaksanakan operasi dan

pemeliharaan (O&P) sistem irigasi yang sudah dibangun menjadi sangat besar sehingga menyebabkan kondisi sistem jaringan yang sudah ada menjadi lebih buruk dan mengancam keberlanjutan sistem irigasi tersebut. Dampak dari itu semua adalah pertumbuhan ekonomi masyarakat yang semula dijadikan sasaran pembangunan irigasi menjadi tidak terwujud. Selain ketergantungan yang bersifat ekonomi dan finansial, ketidak mandirian masyarakat juga terjadi dalam aspek sosial dengan ditunjukkan oleh

ketidakmampuan masyarakat untuk menyelesaikan konflik serta masalah-masalah sosialnya secara mandiri. Pada pemerintahan Orde Baru yang lalu upaya untuk mengatasi masalah tersebut sebenamya sudah dilakukan, yaitu melalui Maklumat Kebijakan Pemerintah

Modul Pemberdayaan P3A

tahun 1987 tentang Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi. Inti dan Maklumat Pemerintah tahun 1987 tersebut adalah adanya keinginan pemerintah untuk melakukan Penyerahan irigasi Kecil (Daerah Irigasi < 500 ha) kepada masyarakat dan pemungutan luran Pelayanan Irigasi (IPAIR) untuk DI > 500 ha. Meskipun kedua kebijakan tersebut dikeluarkan untuk mengatasi kelemahankelemahan yang timbul tetapi karena pelaksanaannya masih tetap mengacu pada paradigma lama maka kedua kebijakan tersebut setelah lebih dan 10 tahun berjalan masih kurang dapat memenuhi tujuan dan sasaran yang diharapkan.

3. Pembangunan dan pengelolaan irigasi dengan paradigma baru Adanya kelemahan pelaksanaan pembangunan dengan paradigma lama telah menyebabkan munculnya paradigma baru dalam pelaksanaan pembangunan. Paradigma baru pelaksanaan pembangunan tersebut lebih menitik beratkan pada pembangunan manusia dan kemanusiaannya, secara tanggap lingkungan dan berkelanjutan. pembangunan Paradigma itu baru ini untuk muncul tujuan karena menganggap bahwa dan

dilakukan

pengembangan

manusia

kemanusiaannya sehingga

keberadaan manusia'dan kemanusiaan tersebut lebih

penting dari pembangunannya itu sendiri. Paradigma baru ini timbul sejalan dengan munculnya beberapa fenomena

perkembangan di masyarakat, berupa masyarakat.

maraknya terhadap beberapa tuntutan

Fenomena yang muncul berupa tuntutan masyarakat sebagai pemicu munculnya paradigma baru pembangunan adalah : Penegakan hak azasi manusia Proses demokratisasi, Penegakan hokum, Desentralisasi, Partisipasi, Keseimbangan lingkungan, serta Pengembangan sumberdaya air secara menyeluruh dan berkelanjutan.

Dalam konteks pembangunan dan pengelolaan sumberdaya air termasuk air, maka
5

Modul Pemberdayaan P3A

adanya aparadigma baru tersebut telah memunculkan adanya pengertianpengertian sebagai berikut :

Bahwa air keberadaannya tidak dapat terpisahkan dari hokum alam dalam bentuk siklus hidrologi (keberadaan air sebagai, hujan, air permukaan, air tanah, uap air, awan, es, salju merupakan seuatu siklus ) an hokum hidrolika (air mengalir dari tempat yang mempunyai energi ntinggi ketrempat yang energinya rendah, air masuk dan mengalir melalui suatu tempat selalu dalam jmlah yang sama dengan yang kelauar);

Bahwa air sebagai bentuyk karuynia Tuhan Yang Maha Esa selain mempunyai nilai social juga bernilai ekonomi, sehingga adalam beberapa hal air menjadi masukan dalam proses usaha ekonomi;

Setiap manusia mempunyai hak dan kewajiban yang sma auntuk memperoleh air yang dibutuhkan secara sepadan dan menjaga keberlanjutannya baik dalam skala jumlah, mutu dan waktu;

Pembangujnan

dan

pengelaolaan

irigasi

menjadi

bagian

dariu

pengembangan sumberdaya nair yang dilakukan secara menyeluruh; Pentingnya partisipasi masyarakat dalam setiap kegiatan pembangaunan dan pengelolaan sumberdaya aoir termasuk irigasi, dari mulai proses

perencanaan, pengambilan keputusan sampai poengawasan, monitoring dan evaluasi. Pentingnya pelaksanaan desentralisasi dan otonpomi daerah sebagai salahj satu upaya penghormatan terhadap kepentingan masyarakat setempat dengan keragaman social-budaya masyarakat dan lingkungan strategis setempat.

Pelaksanaan pembangunan irigasi dengan paradigma baru yang berorientasi pada pembangunan kemanusiaan dengan pengertian-pengertian di atas menenkankan azas pemberdayaan masyarakat dalam arti dan definisi sebagai suatu proses yang mengembangkan dan memperkuat kemampuan masyaralat untuk terus dapat memberikan manfaat dalam proses pembangunan irigasi yang dinamis secara bertanggung jawab.

Kecenderungan

munculnya

paradigma

baru

dalam

pembangunan

tersebut
6

Modul Pemberdayaan P3A

sebenarnya tidak hanya terjadi di dalam negeri saja tetapi sudah merupakan fenomena global dan terjadi diseluruh dunia yang berlangsung sejak akhir dasa warsa 80-an. Munculnya paradigma pembangunan yang baru juga telah memunculkan metodemetode baru tentang bagaimana agar dapat melaksanakan pembangauan dengan memakai paradigma baru, seperti misalnya penggunaan ,metode untuk menngukur keberlanjutan lingkungan, dengan Metode Penaksiaran Dampak Lingkungan (Environmental Impact Assessment, EIA), serta metode pengumpulan dan penaksiran kebutuhan masyarakat melalui metode partisipasi seperti Penjajagan Cepat Kondisi Pedesaan, PCKP (Rapid Rural Appraisal, RRA), dan Penjajagan Kondisi Pedesaan Partisipatif, PPKP (Participatory Rural Appraisal, PRA) Karena paradigma pembangunan baru muncul secara global, maka pada awal dasa warsa 90'an pun metode-metode tersebut masuk ke Indonesia dan sudah dilaksanakan oleh beberapa Departemen. Dalam lingkup pembangunan irigasi misalnya telah dilaksanakan oleh Departemen Pertanian dalam bentuk Sekolah Lapangan Tata Guna Air (SLTGA), Departemen Pekerjaan Umum dengan memakai metode Kunjungan Tindak Lanjut (KJL) yaitu suatu metode pelatihan yang menggunakan prinsip-prinsip PRA dalam pelaksanaannya. Meskipun demikian hasil pelaksanaannya belumlah dapat disebut sebagai pemberdayaan masyarakat dalam arti yang sebenamya. Tuntutan temadap pelaksanaan pembangunan dengan poaradigma baru termasuk pembangunan irigasi bertambah kuat seiring dengan maraknya tuntutan reformasi dalam kehisupan sosial-politik di negara kita. Untuk itu Pemerintah melalui Instruksi Presiden no. 3/1999 tentang Pembaharuan Kebijaksanaan Pengelolaan Irigasi, telah mencanangkan lima kebijakan baru dalam pengelolaan irigasi.

Kebijakan-kebijakan yang tertuang dalam INPRES 3/1999 tersebut secara singfkat berupa : Redefinisi tugas dan peran pengelola irigasi Pemberdayaan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A); Penyerahan Pengelolaan Irigasi (PPI); Penyediaan dana Operasi dan Pemeliharaan melalui iuran pengelolalan air; Keberlanjutan Irigasi.
7

Modul Pemberdayaan P3A

Meskipun kebijakan-kebijakan tersebut terdiri atas lima kebijakan tetapi sebetulnya merupakan satu kesatuan makna yaitu upaya pemberdayaan masyarakat tani dalam arti sebenamya, baik pemberdayaan dalam arti harafiah yaitu sebagai upaya pemberian peran/tanggung jawab lebih besar dari sebelumnya maupun

pemberdayaan dalam arti yang luas seperti telah didefinisikan di atas. Menurut Peraturan Pemerintah (PP) no 23/1982 tentang Irigasi disebutkan bahwa petani hanya bertanggung jawa atas pengelolaan air 50 meter setelah pintu sadap tersier. Hal ini menyebabkan terjadinya pemisahan pengelolaan irigasi di suatu DI. Pemerintah hanya bertanggung jawab atas jaringan utama dan petani bertanggung jawab atas pengelolaan di tingkat tersier. Dengan adanya pemisahan ini maka selama ini petani tidak pernah dilibatkan dalam pengelolaan irigasi secara utuh. Upaya pembinaan yang selalu dilakukan adalah upaya untuk mengatasi permasalahan yang timbul di tingkat tersier, tetapi kepada PSA tidak pernah diberikan pengetahuan tentang pengelolaan irigasi di Tingkat jaringan utama serta hubungan antara satu petak tersier dengan tersier lain tidak pernah dibahas secara dialogis. Sebagai akibat dari upaya pembinaan yang kurang sepadan tersebut adalah masih adanya konflik antar tersier di dalam suatu jaringan irigasi meskipun diakui konflik air di tingkat jaringan tersier sudah jauh sangat berkurang. Kejadian ini sangat sering terjadi di mana-mana. Dengan penetapan alokasi air di tetapkan oleh petugas, maka tanpa adanya keterbukaan pengelolaan irigasi yang dilakukan petugas akan sangat rawan untuk terjadinya penetapan alokasi dan pembagian air di luar otoritas. Selain itu konflik yang tak terselesaikan akan memicu tindakan anarkis, misalnya ditunjukkan oleh perusakan bangunan ukur, bagi sadap, ataupun pencurian kuncikunci pintu air. Dengan adanya program PPI yang tercakup dalam INPRES 3/1999 ini maka pengelolaan irigasi di dalam suatu 01 akan diserahkan kepada petani melalui suatu organisasi P3A Gabungan. Dengan demikian efisiensi manajemen akan dapat meningkat Rendahnya efisiensi manajemen yang disebabkan oleh timbulnya konflik di dalam suatu DI akan ditangani dan diselesaikan oleh petani sendiri. Pemerintah hanya akan bertindak sebagai fasilitator. Dalam kebijakan yang baru tersebut pemberdayaan petani juga dilakukan dengan mengakui dan memfasilitasi organisasi petani apapun bentuknya untuk dapat melakukan upaya berorientasi bisnis sehingga dapat menyediakan dana untuk

Modul Pemberdayaan P3A

tetap terjaga keberlanjutannya. Apabila upaya bisnis tersebut masih berkaitan dengan irigasi yang dijalaninya maka air tidak lagi hanya menjadi masukan produksi saj'a tetapi sudah dapat diperhitungkan sebagai masukan modal usaha tani. Dengan adanya program PPI maka di satu pihak, petugas pemerintah juga tidak berkurang tugasnya. Meskipun tidak lagi melakukan pengelolaan di tingkat jaringan utama tetapi petugas pemerintah masih harus melakukan pengawasan dan audit teknis untuk jaringan irigasi yang sudah diserahkan pengelolaannya. Selain itu petugas pemerintah juga diringankan tugasnya karena tidak lagi dibebani pekerjaan tambahan berupa upaya penyelesaian konflik yang selalu terjadi di jaringan utama. Pada masa pasca penyerahan dalam hal petani tidak mampu untuk dapat melakukan perbaikan berat sistem jaringan yang telah diserahkan pengelolaannya baik secara teknis maupun dana maka pemerintah masih dapat memberikan bantuan perbaikan dalam bentuk subsidi dana ataupun bantuan teknis kepada petani. Meskipun demikian setiap upaya pemberian bantuan baik berupa dana, bantuan teknis ataupun upaya perbaikan dan rehabilitasi jaringan harus selalu didiskusikan teriebih dahulu dengan petani. Meskipun Pemerintah Pusat telah menyusun suatu Pedoman Umum PPi tetapi setiap Kabupaten/Kota dapat menyusun Pedoman pelaksanaan program PPI di wilayahnya sendiri agar tebih dapat diimplementasikan. Penyusunan Pedoman kabupaten ini hendaknya dilakukan secara demokratis dengan mengikutsertakan seluruh pihak yang terlibat dalam manajemen irigasi (stakeholder). Upaya untuk untuk melaksanakan INPRES 3/1999 termasuk program PPI di suatu wilayah dapat dilakukan dengan langkah-langkah yang ditentukan secara demokratis dengan berdialog di antara semua pihak yang berkepentingan dalam pengelolaan irigasi.

Modul Pemberdayaan P3A

Langkah-langkah yang disarankan untuk melaksanakan INPRES 3/1999 : Melakukan sosialisai tentang INPRES 3/199 beserta program PPI, sosialisasi dilakukan kepada seluruh pihak yang terkait dalam pengelolaan irigasi di semua tingkatan. Sosialisasi terutama menyangkut tentang manfaat yang diperoleh baik petani maupun petugas pemerintah dengan adanya INPRES 3/1999 tersebutr; Penyamaan persepsi dari semua pihak yang terlibat dalam pegeloalan irigasi di setiap kabupaten tentang pelaksanaan INPRES 3/1999. Menyusun rencana kerja pelaksanaan INPRRES 3/1999 termasuk pedoman PPI yang dapat diberlakukan pada wilayah bersangkutan. Menyususn suatu pedoman pelaksanaan PPI di wilayah bersangkutan yang berisikan criteria kesiapan teknis, kesiapan organisatoris, maupun kesiapan finansial suatu organisasi petani untuk dpat menerima pengelolaan jaringan irigasi, kesiapan pemerintah untuk menyerahkan serta prosedur penyerahan. Melaksanakan seluruh kebijakan yang tertuang dalam INPRES 3/199 termasuk PPI berdasarkan prosedur dan tatacara yang telah disepakati.

4. Pemberdayaan organisasi petani Sebagaimana pendekatan halnya dalam atas bawah pengelolaan dan irigasi, pelaksanaan terpusat, dilakukan pada

seragam -tersebut juga

pembangunan perangkat lunak yang berupa penyusunan perangkat hukum dan pembentukan organisasi petani. Menurut teori tentang organisasi suatu organisasi akan dapat berjalan dengan baik apabila unsur-unsur dalam organisasi tersebut dapat berkesetimbangan dengan lingkungan strategisnya.

10

Modul Pemberdayaan P3A

Unsur-unsur dalam organisasi mealiputi : Tujuan organisasi dan juga tujuan setiap anggota untuk berorganisasi, Teknologi/prosedur cara kerja organisasi, Struktur Organisasi, Hubungan anatara anggota, dan Sistem manajerial yang dilakukan dalam kerja organisasi.

Sedangkan lingkungan strategis suatu organisasi adalah : Kebijakan, Aspek sosial/ekonomi masyarakat, dan. Lingkungan ekologisnya.

Dalam pembinaan P3A dengan paradigma lama maka pelaksanaannya dititikberatkan pada target, yaitu berapa jumlah organisasi yang terbentuk. Dalam pembentukan organisasi tersebut langkah-langkah pelaksanaan dilakukan dengan hanya

memperhatikan pembentukan struktur organisasi serta penyusunan Anggaran Dasar (AD) dan Aggaran Rumah Tangga (ART) organisasi. Selama ini pembentukan organisasi ataupun penyusunan AD/ART dilakukan tanpa melalui suatu proses yang demokratis. Akibatnya adalah bahwa hampir sebagian besar organisasi yang sudah terbentuk tidak dapat beroperasi secara optimal. Meskipun upaya pembinaan yang dilakukan secara seragam tetapi karena adanya keragaman sosial-budaya masyarakat dan lingkungan strategis berbeda maka P3A yang sudah dibentuk menampilkan kinerja yang berbeda-beda pula. Untuk itu upaya pemberdayaan masyarakat beserta organisasi P3A juga dilakukan berbeda-beda.

11

Modul Pemberdayaan P3A

Secara umum langkah-langkah pemberdayaan dilakukan sebagai berikut : Dengan metode PPKP melakukan petugas pemerintah sebagai fasilitator melakukan dialog untuk menentukan kelamahan, kekuatan, peluang, dan ancaman yang sedang dihadapi P3A yang sudah terbentuk dan kemungkian untuk pembentukan P3A gabungan sebagai persiapan untuk pelaksanaan program PPI, Setelah secara dialogis pula menentukan renacana strategis langkahlangkah yang akan diambil beserta cara-cara pelaksanaan program Melaksanakan program pemberdayaan secara dialogis dan partisipatif.

Sedangkan untuk melakukan pembentukan P3A dapat ditempuh sebagai berikut : Denga cara PCKP mempelajari ada atau tidaknya kelembagaan irigasi yang ada di DI yang akan di bentuk, serta mengetahui potensinya yang ada. Dengan cara PCKP untuk mengetahui kebutuhan yang ada di masyarakat sehingga dalam pembuatan AD dan ART P3A dapat diselaraskan dengan kebutuhan masyarakat.

12