Anda di halaman 1dari 7

GEOLOGI GUNUNG GALUNGGUNG - TASIKMALAYA

GUNUNG GALUNGGUNG JAWA BARAT

Galunggung adalah gunungapi aktif strato tipe-A yang terletak di Kabupaten Tasikmalaya dan Garut, Jawa Barat (lihat Gambar 2) dengan koordinat geografis sekitar 7 15 LS dan 10803 BT. Galunggung mempunyai ketinggian 2168 m di atas muka laut dan 1820 m diatas dataran Tasikmalaya. Berdasarkan catatan dari DVMBG, gunung Galunggung menempati daerah seluas 275 km2 dengan diameter 27 km (barat laut-tenggara) dan 13 km (timur laut-barat daya). Di bagian barat berbatasan dengan G. Karasak, dibagian utara dengan G. Talagabodas, di bagian timur dengan G. Sawal dan di bagian selatan berbatasan dengan batuan tersier Pegunungan Selatan. Secara umum, G. Galunggung dibagi dalam tiga satuan morfologi, yaitu: Kerucut Gunung Api, Kaldera, dan Perbukitan Sepuluh Ribu

Kerucut gunung api, menempati bagian barat dan selatan, dengan ketinggian 2168 m diatas permukaan laut, dan mempunyai sebuah kawah tidak aktif bernama Kawah Guntur yang berbentuk melingkar berdiameter 500 meter dengan kedalaman 100 150 meter. Kerucut ini merupakan kerucut gunungapi Galunggung tua sebelum terbentuknya Kaldera, mempunyai kemiringan lereng hingga 30 di daerah puncak dan menurun hingga 5 di bagian kaki. Kaldera Galunggung berbentuk sepatu kuda yang terbuka ke arah tenggara dengan panjang sekitar 9 km dan lebar antara 2-7 km. Dinding Kaldera mempunyai ketinggian maksimum sekitar 1000 meter di bagian barat-barat laut dan menurun hingga 10 m di bagian timur-tenggara.

Di dalam kaldera terdapat kawah aktif berbentuk melingkar dengan diameter 1000 meter dan kedalaman 150 meter. Di dalam kawah ini terdapat kerucut silinder dengan ketinggian 30 meter dari dasar kawah dan kaki kerucut berukuran 250 x 165 meter yang terbentuk selama periode letusan 1982-1983. Pada Desember 1986, kerucut silinder ini tertutup oleh air danau kawah; dan pada 1997, setelah volume air danau kawah dikurangi melalui terowongan pengendali air danau, kerucut silinder ini muncul kembali di permukaan air danau. Perbukitan Sepuluh Ribu atau

disebut juga perbukitan Hillock, terletak di lereng kaki bagian timur-tenggara dan berhadapan langsung dengan bukaan kaldera. Perbukitan ini menempati dataran Tasikmalaya dengan luas sekitar 170 km2, dengan jarak sebaran terjauh 23 km dari kawah pusat dan terdekat 6,5 km. Lebar sebaran nya sekitar 8 km dengan sebaran terpusat pada jarak 10 15 km. Jumlah bukit nya sekitar 3.600 buah dengan tinggi bukit bervariasi antara 5 sampai 50 meter di atas dataran Tasikmalaya dengan diameter kaki bukit antara 50 300 meter serta kemiringan lereng antara 15o 45o. Perbukitan ini terbentuk sebagai akibat dari letusan besar yang menghasilkan kaldera tapal kuda dan melongsorkan kerucut bagian timur-tenggara, yang terjadi sekitar 4200 tahun yang lalu.

Catatan sejarah aktivitas letusan gunung Galunggung

Dalam sejarahnya Galunggung telah meletus empat (4) kali, yaitu pada 1822, 1894, 1918 dan 1982-83 dengan periode letusannya bervariasi dari beberapa jam hingga beberapa bulan [DVMBG, 2003]. Letusan 1822 terjadi dalam satu hari, pada tanggal 8 Oktober 1822, antara jam 13.00 hingga 17.00 WIB; sedangkan letusan 1894 terjadi selama 13 hari, pada tanggal 7-19 Oktober 1894. Letusan 1918 terjadi selama 4 hari, pada tanggal 16 - 19 Juli 1918, dan letusan 1982-83, terjadi selama 9 bulan, dari tanggal 5 April 1982 - 8 Januari 1983. Karakter letusan. Galunggung umumnya berupa erupsi leleran sampai dengan letusan yang sangat dahsyat yang berlangsung secara singkat atau lama, atau dari letusan yang bertipe Strombolian hingga Pellean.

Pemantauan aktivitas vulkanis gunungapi Galunggung

Mengingat potensi bahaya letusannya, aktivitas gunung Galunggung dipantau secara kontinyu (24 jam) di Pos Pengamatan Gunungapi Galunggung, di kampung Sayuran. Pemantauan

dilakukan dengan peralatan seismometer serta secara visual. Pengamatan kegempaan dengan seismometer ini dimulai Sejak awal April 1982 sampai Semarang. Disamping itu, dilakukan pula secara berkala penelitian lapangan di daerah puncak, berupa pengukuran temperatur air danau kawah dan solfatara/fumarola serta pengamatan perkembangan pertumbuhan kerucut sinder. Pemantauan kemagnetan juga pernah dilakukan selama periode September 1982 - Maret 1983. Disamping itu pada periode letusan 1982-83, juga dilakukan pemantauan deformasi dengan dengan metoda ungkitan (dry tilt) dan pengukuran jarak secara elektronis menggunakan EDM (Electronic Distance Measurement). Sejak Juni 2001, Departemen Teknik Geodesi ITB bekerjasama dengan Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mulai melaksanakan pemantauan deformasi gunung Galunggung dengan metode Survei GPS [Abidin et al., 2002] yang berbasiskan pada pengamatan satelit GPS (Global Positioning System) [Abidin, 2000].

Pemantauan aktivitas vulkanis gunungapi Galunggung menggunakan GPS

Pemantauan aktivitas deformasi gunungapi yang berada di wilayah Jawa Barat mulai dilakukan dengan menggunakan teknologi GPS secara episodik (berkala) oleh peneliti dari KK Geodesi FTSL ITB yang bekerja sama dengan tim dari Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana alam Geologi (DVMBG) dan Nagoya University Jepang mulai tahun 1996 sampai sekarang, dimana salah satu gunung yang diamati adalah gunung Galunggung.

Survei GPS untuk studi deformasi gunung Galunggung telah dilaksanakan tiga kali, yaitu masing-masing pada tahun 1999, 2001 dan 2002. Jaring GPS yang disurvei terdiri atas 9 titik. Titik POS yang berada di halaman depan Pos Pengamatan gunung Galunggung di Kampung Sayuran digunakan sebagai titik referensi, dan dalam analisa deformasi dianggap sebagai titik stabil yang tidak mengalami deformasi. Survei GPS dilaksanakan oleh tim dari Jurusan Teknik Geodesi ITB dan Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi dengan menggunakan tujuh receiver GPS tipe geodetik dua-frekuensi.

Di bawah ini adalah gambar-gambar dokumentasi survey lapangan pengambilan data GPS di titik-titik pantau deformasi gunung Galunggung. Titik Pantau dibangun di sekitar kawah gunung dan di bagian punggungan gunung.

Pemantauan deformasi gunung api dengan menggunakan GPS pada prinsipnya dapat dilakukan secara episodik atau kontinyu. Dalam pengamatan secara episodik, koordinat dari beberapa titik GPS yang dipasang pada gunung api, ditentukan secara teliti menggunakan metode survey GPS. Koordinat titik-titik ini ditentukan dalam selang periode tertentu secara berkala dalam selang waktu tertentu, dan dengan menganalisa perbedaan koordinat yang dihasilkan untuk setiap periode, maka karakteristik deformasi dari gunung api dapat ditentukan dan dianalisa.

Pemantauan deformasi secara kontinyu secara prinsip sama dengan pemantauan deformasi secara episodik, yang membedakannya hanya aspek operasional dari pemantauan. Dalam pemantauan deformasi secara kontinyu koordinat dari titik-titik GPS pada gunung api ditentukan secara real time dan terus menerus dengan sistem yang disusun secara otomatis. Agar metode ini dapat dilakukan maka diperlukan komunikasi data antara titik-titik GPS pada gunung api dan stasiun pengamat.

Data yang dikumpulkan tiap survey selanjutnya diproses dan digabungkan dengan hasil pengolahan data survey sebelumnya untuk dianalisis karakteristik deformasi yang terjadi pada gunungapi Galunggung yang diamati. Strategi pengamatan dan pengolahan data yang optimal merupakan salah satu sasaran utama penelitian, untuk memperoleh hasil yang baik.

Dari hasil survei GPS yang telah dilaksanakan pada Juni 2001, Agustus 2002 dan Juni 2003 dapat disimpulkan bahwa pada saat ini gunung Galunggung belum menunjukkan tingkat deformasi yang membahayakan. Tingkat deformasi seandainyapun nyata masih berada pada level perubahan jarak horizontal sekitar 1-3 cm per tahunnya. Berdasarkan korelasi antara hasil ketiga survei GPS dengan hasil pemantauan kegempaan dengan seismometer, maka nampaknya tingkat deformasi dalam orde 1-3 cm per tahun tersebut belum merefleksikan tingkat aktivitas

Galunggung yang membahayakan.

Dalam konteks kegiatan studi deformasi gunung Galunggung ini, disamping melanjutkan pelaksanaan metode survei GPS, korelasi yang lebih komprehensif antara karakteristik deformasi yang diperoleh dari GPS dengan karakteristik geologis, magmatis, dan hidrologis dari gunung Galunggung dan kawasan sekitarnya, juga akan ditelaah.

FISIOGRAFI DAN GEOLOGI JAWA BARAT

Gunungapi Galunggung (G. Galunggung) merupakan gunungapi aktif yang memiliki danau kawah di puncak, berdiamter 1000 m dengan kedalaman 11 m dan mempunyai volume air lebih kurang 750 m3. Di dalam kawah ini terdapat kerucut sinder setinggi 30 m dari dasar kawah dan kaki kerucut berukuran 250 x 165 meter yang terbentuk selama periode erupsi 1982-1983. Secara geografis G. Galunggung berada pada posisi 7 15 LS dan 108 03 BT dengan tinggi puncaknya 2168 m dari permukaan laut.

Secara administeratif lokasi gunung Galunggung berada di dua kabupaten, yakni kabupaten Tasikmalaya dan kabupaten Garut. Pada erupsi 5 April 1982 tahun 1982, gunung Galunggung menghasilkan asap tebal mencapai ketinggian 10 km sehingga sebuah pesawat terbang milik British Airways melakukan pendaratan darurat di Jakarta karena salah satu dari ke-4 mesin jetnya mati akibat kemasukan abu vulkanik. Erupsi pada tahun 1982 terjadi selama 9 bulang yakni sampai 8 Januari 1983. Gunung Galunggung merupakan gunung berapi dengan ketinggian 2.167 meter di atas permukaan laut, terletak sekitar 17 km dari pusat kota Tasikmalaya. Terdapat beberapa daya tarik wisata yang ditawarkan antara lain obyek wisata dan daya tarik wanawisata dengan areal seluas kurang lebih 120 hektare di bawah pengelolaan Perum Perhutani. Obyek yang lainnya seluas kurang lebih 3 hektar berupa pemandian air panas (Cipanas) lengkap dengan fasilitas kolam renang, kamar mandi dan bak rendam air panas. Gunung Galunggung mempunyai Hutan Montane 1.200 - 1.500 meter dan Hutan Ericaceous > 1.500 meter. Gunung Galunggung tercatat pernah meletus pada tahun 1882 (VEI=5). Tanda-tanda awal

letusan diketahui pada bulan Juli 1822, di mana air Cikunir menjadi keruh dan berlumpur. Hasil pemeriksaan kawah menunjukkan bahwa air keruh tersebut panas dan kadang muncul kolom asap dari dalam kawah. Kemudian pada tanggal 8 Oktober s.d. 12 Oktober, letusan menghasilkan hujan pasir kemerahan yang sangat panas, abu halus, awan panas, serta lahar. Aliran lahar bergerak ke arah tenggara mengikuti aliran-aliran sungai. Letusan ini menewaskan 4.011 jiwa dan menghancurkan 114 desa, dengan kerusakan lahan ke arah timur dan selatan sejauh 40 km dari puncak gunung. Letusan berikutnya terjadi pada tahun 1894. Di antara tanggal 7-9 Oktober, terjadi letusan yang menghasilkan awan panas. Lalu tanggal 27 dan 30 Oktober, terjadi lahar yang mengalir pada alur sungai yang sama dengan lahar yang dihasilkan pada letusan 1822. Letusan kali ini menghancurkan 50 desa, sebagian rumah ambruk karena tertimpa hujan abu.

Letusan Galunggung 1982, disertai petir Pada tahun 1918, di awal bulan Juli, letusan berikutnya terjadi, diawali gempa bumi. Letusan tanggal 6 Juli ini menghasilkan hujan abu setebal 2-5 mm yang terbatas di dalam kawah dan lereng selatan. Dan pada tanggal 9 Juli, tercatat pemunculan kubah lava di dalam danau kawah setinggi 85m dengan ukuran 560x440 m yang kemudian dinamakan gunung Jadi. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 5 Mei 1982 (VEI=4) disertai suara dentuman, pijaran api, dan kilatan halilintar. Kegiatan letusan berlangsung selama 9 bulan dan berakhir pada 8 Januari 1983. Selama periode letusan ini, sekitar 18 orang meninggal, sebagian besar karena sebab tidak langsung (kecelakaan lalu lintas, usia tua, kedinginan dan kekurangan pangan). Perkiraan kerugian sekitar Rp 1 milyar dan 22 desa ditinggal tanpa penghuni. Letusan pada periode ini juga telah menyebabkan berubahnya peta wilayah pada radius sekitar 20 km dari kawah Galunggung, yaitu mencakup Kecamatan Indihiang, Kecamatan Sukaratu dan Kecamatan Leuwisari. Perubahan peta wilayah tersebut lebih banyak disebabkan oleh terputusnya jaringan jalan dan aliran sungai serta areal perkampungan akibat melimpahnya aliran lava dingin berupa material batuan-kerikil-pasir. Pada periode pasca letusan (yaitu sekitar tahun 1984-1990) merupakan masa rehabilitasi kawasan bencana, yaitu dengan menata kembali jaringan jalan yang terputus, pengerukan lumpur/pasir pada beberapa aliran sungai dan saluran irigasi (khususnya Cikunten I), kemudian

dibangunnya check dam (kantong lahar dingin) di daerah Sinagar sebagai 'benteng' pengaman melimpahnya banjir lahar dingin ke kawasan Kota Tasikmalaya. Pada masa tersebut juga dilakukan eksploitasi pemanfaatan pasir Galunggung yang dianggap berkualitas untuk bahan material bangunan maupun konstruksi jalan raya. Pada tahun-tahun kemudian hingga saat ini usaha pengerukan pasir Galunggung tersebut semakin berkembang, bahkan pada awal perkembangannya (sekitar 1984-1985) dibangun jaringan jalan Kereta Api dari dekat Station KA Indihiang (Kp. Cibungkul-Parakanhonje) ke check dam Sinagar sebagai jalur khusus untuk mengangkut pasir dari Galunggung ke Jakarta. Letusannya juga membuat British Airways Penerbangan 9 tersendat, di tengah jalan.

http://smamuhammadiyah1tasikmalayageografi.blogspot.com/2012/02/geologi-gununggalunggung-tasikmalaya.html