Anda di halaman 1dari 7

PENANGANAN MUNTAH PADA PENCETAKAN RAHANG DI KEDOKTERAN GIGI

Perawatan prostodontik meliputi pemeriksaan, prosedur pembuatan gigi tiruan termasuk pencetakan dan pemasangan gigi tiruan (1). Pada proses tersebut dapat terjadi reaksi muntah dengan tanda mulai dengan adanya saliva yang berlebihan, lakrimasi, batuk-batuk, berkeringat dan pada saat itu respon tubuh dapat muncul seperti menggerakkan kepala leher, tangan dalam usaha menarik diri dari rangsangan untuk mengeluarkan segala yang ada dalam mulut dan perutnya (2). Menurut Faigenblum refleks muntah dibedakan refleks ringan dan berat. Pada refleks muntah ringan, pasien masih mampu mengontrol respon tersebut dan pada pasien prostodontik kebanyakan termasuk kategori ini. Pada refleks muntah berat merupakan masalah yang berat bagi dokter gigi karena akan menghambat perawatan karena refleks muntahnya aktif secara abnormal (3). Konsekuensi yang tidak diinginkan adalah ada pasien yang tidak mau dirawat giginya karena mempunyai refleks muntah berat (2). Muntah adalah suatu cara untuk mengeluarkan isi lambung yang disebabkan oleh banyak faktor (4). Merupakan mekanisme pertahanan yang sehat dan normal untuk mencegah masuknya benda asing ke dalam tubuh melalui trakeha, gerakan muntah akan merubah bentuk pharing dalam usaha mengeluarkan benda asing dari dalam tubuh (2). Penderita muntah menimbulkan masalah yang sulit ditanggulangi karena faktor penyebabnya tidak mudah diketahui. Penderita muntah dibagi dalam 2 kelompok yaitu : kelompok somatogenic, pasien yang dirangsang secara fisik menyebabkan muntah dan psikogenik , dirangsang dari hal yang bersifat psikis (5). Penyebab Refleks Muntah Penyebab refleks muntah bervariasi sehingga untuk penanganannya harus tahu penyebabnya dan tidak hanya menghilangkan gejalanya. Penyebab muntah dapat merupakan pertahanan terhadap adanya benda asing dalam mulut sehingga merupakan reaksi yang alami dari tubuh tetapi ada pula yang disebabkan oleh kelainan sistemik, faktor psikologik, fisiologik, iatrogenik dan faktor lain (2). Beberapa faktor penyebab muntah yaitu : 1. Kelainan sistemik

Kesehatan umum pasien sering berkaitan dengan kesehatan gigi dan berpengaruh terhadap refleks muntah. Beberapa penyakit kronis dapat menimbulkan reaksi muntah misalnya gangguan saluran pernafasan, deviasi septum, polip hidung dan luka lambung dapat meningkatkan refleks muntah. 2. Faktor psikologik Reflek muntah yang aktif secara abnormal dapat tejadi karena pengalaman sebelumnya yang memicu episode muntah. Secara psikologik.ketakutan adalah faktor di bawah sadar yang selalu mempengaruhi orang untuk muntah misalnya pasien pada waktu pencetakan ketakutan untuk menelan benda asing, pemakaian alat-alat yang dimasukan dalam mulut pasien (2). 3. Faktor Fisiologik Faktor fisiologik yang dapat menyebabkan muntah dibagi 2 yaitu sebagai berikut. (a). Faktor ekstra oral Berupa rangsangan yang datang dari luar rongga mulut dapat berupa rangsangan penglihatan, pendengaran dan penciuman. Rangsangan penglihatan, pasien dengan melihat alat yang akan digunakan untuk perawatan sudah dapat menimbulkan rangsangan muntah misalnya kaca mulut, sendok cetak, bahan cetak. Dapat pula terjadi reaksi muntah karena melihat pasien lain muntah (6). Rangsangan pendengaran, dengan mendengar pasien lain muntah sudah terangsang timbul reaksi muntah. Rangsangan penciuman, bau dapat menimbulkan rangsangan untuk muntah misalnya bau bahan cetak, obat-obatan dan bau rokok dari dokternya (7). (b). Faktor intra oral Daerah pada sekitar mulut yang mempunyai respon rangsangan taktil yang berbeda. Ada yang hiposensitif dan ada yang hipersensitif, daerah anterior palatum kurang sensitif dari sebelah posterior. Pada pencetakan, bahan cetak jangan sampai berlebihan sehingga pada palatum di bagian postenor dapat merangsang muntah. 4. Faktor latrogenik Faktor luar yang tidak ada keterkaitan dengan pasien misalnya perlakuan yang kurang baik tidak hati-hati dan pemakaian alat dengan temperatur yang ektrim dapat merangsang timbulnya muntah (2).

5. Faktor lain Muntah dapat terjadi pada berbagai keadaan misalnya kehamilan, mabuk perjalanan (8). Dapat pula karena efek samping pemakaian obat, operasi dan terapi radiasi (9). Metode Penanganan Muntah saat Pencetakan Rahang Pada waktu pencetakan memerlukan teknik kerja yang cermat dan menenangkan mental dan fisiknya (6). 1. Teknik pencetakan rahang yang cermat

Operator harus tenang dan cermat pada saat mencetak rahang. Cara pencetakan yang cermat dilakukan dengan mendudukkan dengan posisi kepala, tubuh berada dalam satu garis lurus, tegak dan rileks. Ukuran sendok cetak sedikit lebih besar dari rahang untuk ketebalan dari bahan cetak. Bahan cetak jangan sampai berlebihan sehingga dapat merangsang muntah Pencetakan dengan posisi yang benar operator di belakang kanan untuk rahang atas dan di depan untuk rahang bawah. Pencetakan dilakukan pada rahang bawah lebih dahulu dan pasien diminta bernafas melalui hidung dan bahan cetak jangan diperlihatkan pasien dan konsistensinya jangan encer. Bagian posterior sendok cetak ditekan terlebih dulu, kepala penderita ditundukkan sampai dagu menyentuh dada.

2. Persiapan mental pasien dan pengalihan perhatian Dengan dialihkan berkonsentrasi pada berbagai aktivitas, perhatian dapat dialihkan dari rangsang muntah (7). Metode yang dapat digunakan untuk mengalihkan rangsang muntah antara lain sebagai berikut.

Jangan pernah mengatakan muntah pada pasien selama proses pengerasan bahan cetak karena merupakan saat penting sehingga memerlukan untuk mengalihkan perhatian penderita terhadap apa yang dilakukan.

Dalam mengalihkan perhatian pasien pada rangsangan muntah dapat dilakukan dengan lembut dan bijaksana, dan pada saat lain dengan kata atau tindakan keras. Pada pencetakan dianjurkan memanipulasi jaringan mulut dan muka untuk mengalihkan perhatian dan mengadakan pembicaraan dan menjelaskan tentang pencetakan yang akurat. Pada pasien yang kurang dapat mentolerir terhadap rangsangan muntah disarankan pada waktu pencetakan pasien diajak melakukan percakapan dengan topik tertentu. Misalnya menghitung secara cepat sampai 50 atau 100 dan meminta pasien untuk membaca dengan keras.

Menurut Krol (10), untuk mengalihkan perhatian pasien diinstuksikan untuk mengangkat kakinya dan menahannya di udara. Karena otot pasien lelah maka perhatian akan muntah dapat dialihkan.

Disarikan dari artikel jurnal PENANGANAN MUNTAH PADA PERAWATAN PROSTODONTIK oleh Henyanti Amalia Kusuma (FKG UGM). Ceril XII, 3-2003: 123-127.

Orang yang memiliki refleks muntah yang tinggi sering menemui kesulitan saat berobat ke dokter gigi, atau bahkan saat menyikat gigi setiap hari. Sebetulnya setiap orang memiliki refleks muntah yang merupakan reaksi tubuh normal, untuk mencegah tersedak saat benda asing atau benda berbahaya memasuki saluran pernafasan atas dan paru-paru. Refleks muntah akan terjadi saat daerah-daerah tertentu dalam rongga mulut tersentuh, meliputi langit-langit mulut (terutama bagian belakang), bagian belakang lidah, daerah amandel dan bagian ujung tenggorokan. Refleks ini pada beberapa orang begitu sensitif sehingga sulit untuk menerima perawatan gigi karena merasa ingin muntah saat dokter gigi memasukkan instrumen (misalnya kaca mulut) ke dalam rongga mulut. Begitu juga saat akan sikat gigi,apalagi gigi belakang. Refleks muntah yang hipersensitif dipicu oleh faktor fisiologi, psikologi, atau kombinasi keduanya, namun pada umumnya faktor psikologi memainkan peranan lebih besar. Bisa jadi orang tersebut pernah mengalami trauma masa lalu misalnya saat berobat ke dokter gigi sehingga ada daerah tertentu yang lebih mudah mengalami refleks muntah. Jika Anda termasuk orang yang memiliki refleks muntah tinggi, ada cara-cara tertentu yang dapat membantu dalam mengurangi hipersensitivitas refleks muntah Anda. Pertama-tama Anda dapat melakukan latihan sederhana di rumah sesering mungkin. Latihan I. Pertama-tama Anda harus relaks terlebih dulu. Dengan mulut tertutup, lakukan latihan nafas melalui hidung sembari mengangkat lidah menyentuh bagian belakang langitlangit. Kemudian coba gerakan tersebut dengan mulut terbuka lebar. Lakukan latihan ini berulang-ulang. Latihan II. Selanjutnya, Anda perlu mencari tahu dimana refleks muntah Anda dimulai. Caranya sederhana, cobalah sikat bagian ujung lidah Anda di dimana Anda masih bisa mentolerir tanpa merasa ingin muntah. Pilih sikat dengan kepala sikat berukuran kecil. Lakukan ini setiap hari setidaknya sekali sehari. Jika Anda sudah merasa nyaman dengan gerakan ini, coba gerakkan sikat perlahan-lahan sedikit lebih dalam. Pada titik tersebut, sikat lidah perlahan-lahan dan pertahankan sekitar 10 detik dan paksakan meski kemungkinan akan ada perasaan ingin muntah. Proses ini memerlukan latihan, dan ulangi terus selama beberapa hari. Pertahankan titik tersebut, hingga akhirnya Anda dapat menguasai refleks muntah Anda di titik tersebut dan mulailah menyikat lidah lebih dalam lagi. Selain bagian lidah, Anda juga dapat melakukan latihan ini dengan menyikat bagian langit-langit di belakang gigi depan atas Anda. Lakukan dengan cara yang sama. Coba gabungkan latihan ini dengan latihan I, yaitu menyikat gigi dengan bernafas melalui hidung, jangan melalui mulut.

Umumnya refleks muntah lebih tinggi di pagi hari, oleh karena itu ada baiknya latihan yang memicu refleks muntah ini dilakukan pada siang/sore hari. Sementara Anda melakukan latihan ini, tetap lakukan penyikatan gigi seperti biasa meski perasaan ingin muntah tetap ada terutama saat akan menyikat gigi belakang. Untuk berhasil, Anda tidak boleh pantang menyerah sebab latihan ini membutuhkan proses sehingga pada akhirnya hipersensitivitas refleks muntah Anda sedikit demi sedikit akan berkurang.[](MM)

A. Hubungan Tinggi Badan (TB) dan Berat Badan (BB) terhadap Gagging Reflex Tinggi badan dan berat badan terhadap gagging refleks tidak memiliki hubungan sama sekali. TB ataupun BB seseorang tidak mempengaruhi seseorang untuk muntah. Seseorang yang memiliki TB dan BB yang ideal belum tentu mudah mengalami gagging reflex daripada seseorang yang mengalami obesitas; begitu juga sebaliknya. Kedua hal tersebut hanya berperan sebagai data pendukung dalam pemeriksaan dimana dapat dikatakan bahwa TB ataupun BB hanya digunakan pada diagnosa untuk mengetahui suatu penyakit sistemik. B. Mekanisme Fisiologis Gagging Reflex (berkaitan dengan Trigger Zone) Adanya perubahan gerak yang cepat diperkirakan dapat merangsang trigger zone. Selanjutnya adanya rangsang (dapat juga berupa sentuhan) pada Trigger Zone dapat menyebabkan terjadinya gagging reflex, khususnya pada bagian posterior RM. Letak trigger zone pada setiap individu tidak sama atau tidak spesifik. Ada yang lebih ke anterior dan posterior faucil pillar dan ada juga yang terdapat pada trakea bagian atas. Mayoritas individu, perangsangan pada 5 daerah trigger zone RM akan menimbulkan refleks gag, yang meliputi : Anterior dan posterior faucil pillar Bagian posterior dan dasar lidah Palatum molle Uvula Dinding posterior faring Trakea bagian atas dan bagian posterior RM yang lain (pada beberapa orang) Chemoreseptor Trigger Zone (CTZ) memiliki reseptor yang berbeda sehingga stimulasi dari reseptor tersebut dapat berbeda pula, diantaranya: o Reseptor opioid o Reseptor asetilkolin o Reseptor substansi P o Reseptor dopamine D2 o Reseptor serotonin 5-HT3 Mekanisme fisiologis gagging reflex dimulai setelah adanya rangsangan yang diberikan kepada pusat muntah (Vomiting Center/VC) atau pada zona pemicu kemoreseptor (Chemoreseptor Trigger Zone/CTZ) yang berada pada sistem saraf pusat (Central Nervous System). Pusat-pusat koordinasi ini dapat diaktifkan dengan berbagai cara, diantaranya : Adanya stress fisiologis, berlangsung karena adanya sinyal yang dikirimkan melalui lapisan otak luar dan limbic system ke VC. Adanya gerakan, berlangsung jika VC distimulasi melalui sistem pengaturan otot (vestibular atau vestibulocerebullar system) dari labirin yang terdapat pada telinga bagian dalam. Kemudian sinyal kimia dari aliran darah dan cairan cerebrospinal (jaringan saraf sampai tulang ekor) dideteksi oleh CTZ. Ujung-ujung saraf yang ada didalam

saluran pencernaan merupakan penstimulir muntah jika terjadi iritasi saluran pencernaan, kembung, dan tertundanya proses pengosongan lambung. Ketika VC distimulasi, maka motor dari cascade akan bereaksi menyebabkan muntah. Akibatnya kontraksi non peristaltik didalam usus halus meningkat dan sebagian isi dari usus dua belas jari masuk ke dalam lambung. Kondisi ini diikuti dengan melambatnya gerakan peristaltik yang akan mendorong masuknya isi usus halus dan sekresi pankreas ke dalam lambung sehingga aktivitas lambung tertekan. Sementara itu, otot-otot pernapasan akan berkontraksi untuk melawan celah suara yang tertutup sehingga terjadi pembesaran kerongkongan. Pada saat otot perut (abdominal) berkontraksi, isi lambung akan didorong masuk ke dalam kerongkongan. Relaksasi dari otot-otot perut memungkinkan isi kerongkongan masuk kembali ke dalam lambung. Siklus dari muntah berlangsung cepat hingga semua isi lambung yang masuk ke kerongkongan dikeluarkan semua melalui mulut. Pada kondisi muntah juga terjadi peningkatan produksi saliva, peningkatan kecepatan pernapasan dan detak jantung, pembesaran pupil, dan berkeringat dingin. C. Terjadinya Mual di Pagi Hari Setiap orang pernah merasakan sensasi mual dan mengetahui bahwa mual sering merupakan gejala awal muntah. Mual adalah pengenalan secara sadar terhadap eksitasi bawah sadar pada daerah medulla yang secara erat berhubungan dengan atau merupakan merupakan bagian dari pusat muntah, dan mual dapat disebabkan oleh impuls iritasi yang dating dari traktus gastrointestinal, impuls yang berasal dari otak bawah yang berhubungan dengan motion sickness, atau impuls dari korteks serebri untuk memulai muntah. Pada skenario telah diketahui bahwa pasien berumur 60 tahun maka dia tergolong dismanore sekunder (masa menopause telah lewat). Akibatnya sekresi prostaglandin semakin banyak sehingga timbul nyeri. Selain itu, pada usia 60 tahun, tubuh telah mengalami degenerasi yang menyebabkan kelemahan dan atrofi pada saluran cerna. Hal itu mengakibatkan sekresi HCl melebihi batas di umur normal. Ditambah lagi dengan lamanya jangka waktu antara tidur dengan bangun sehingga perut dalam keadaan kosong. Perut yang kosong juga menyebabkan produksi HCL didalam lambung meningkat sehingga merangsang terjadinya muntah. D. Gejala Awal Muntah Kondisi muntah selalu diawali dengan gejala-gejala yang mengindikasikan bahwa seseorang akan muntah karena adanya gangguan didalam tubuhnya,diantaranya : Mual Suhu tubuh meningkat Batuk Pucat Tremor; jika rasa ingin muntah ditahan terus menerus dapat merangsang otot sehingga timbul tremor. Peningkatan kuantitas air ludah Berkeringat dingin Meningkatnya kecepatan denyut jantung (takikardi) dan pernapasan Pembesaran pupil Lakrimasi Nyeri pada perut; dapat mengindikasikan adanya ulkus peptik, obstruksi intestinum, dan penyakit-penyakit peradangan.

Muntah dapat meredakan rasa sakit yang terdapat pada perut akibat adanya ulkus didalam saluran cerna, namun pada penyakit radang, muntah tidak terlalu mempengaruhi rasa sakit di perut. Diare, demam, dan myalgia; mengindikasikan pada penyakit infeksi. Turunnya berat badan dan malnutrisi; mengindikasikan penyakit telah kronis. Sakit kepala; terjadi akibat adanya lesi pada sistem saraf. Nyeri dada, disfagia atau jaundice; mengarah pada penyakit jantung dan esofagus. 11 KESIMPULAN o Refleks muntah (gagging reflex) yaitu mekanisme fisiologis yang melindungi tubuh dari bahaya substansi asing yang masuk melalui mulut. o TB maupun BB tidak mempengaruhi gagging reflex tetapi hanya berperan dalam membantu penegakan diagnosis suatu penyakit. o Banyak macam gejala awal yang menyertai muntah. Mayoritas diantaranya yaitu hipersaliva, takikardi, napas semakin cepat, pupil mata membesar, dan nyeri perut. o Refleks muntah diawali oleh adanya suatu rangsang yang memberikan sinyal kepada pusat muntah/vomiting center yang kemudian diteruskan ke batang otak hingga kembali ke saraf motorik pada tubuh dan terjadilah muntah. o Mual di pagi hari ditimbulkan oleh produksi asam HCl yang terlalu tinggi akibat dari lamanya jangka waktu mulai tidur hingga bangun sehingga perut dalam keadaan kosong. Selain itu, peningkatan produksi asam HCl juga dipengaruhi oleh penyakit degeneratifakelemahan pada saluran cerna. o Refleks muntah dapat diminimalisasi dengan berbagai cara diantaranya berkumur dengan air es, terapi obat-obatan, psikologi, dll.