Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Tinea pedis atau sering disebut athelete foot adalah dermatofitosis pada

kaki, terutama pada sela-sela jari dan telapak kaki. Tinea pedis adalah dermatofitosis yang biasa terjadi. Penggunaan istilah athlete foot digunakan untuk menunjukan bentuk jari kaki yang seperti terbelah. Tiga genus utama yang menjadi penyebabnya adalah Trichophyton, Epidermophyton, dan Microsporum, sedangkan spesies yang paling sering menyebabkan tinea pedis adalah Trichophyton rubrum dan Trichophyton mentagrophytes.1,2 Tinea pedis sering menyerang pada orang dewasa yang bekerja ditempat basah, seperti tukang cuci, petani atau orang yang setiap hari harus memakai sepatu tertutup misalnya tentara.3 Selain karena pemakaian sepatu tertutup untuk waktu yang lama, bertambahnya kelembaban karena keringat, pecahnya kulit karena mekanis, dan paparan terhadap jamur merupakan faktor resiko yang menyebabkan terjadinya Tinea pedis. Kondisi lingkungan yang lembab dan panas di sela-sela jari kaki karena pemakaian sepatu dan kaus kaki, juga akan merangsang tumbuhnya jamur.1,3 Kejadian tinea pedis di sela jari banyak ditemukan pada pria dibanding wanita. Angka kejadian tinea pedis meningkat seiring bertambahnya usia, karena bertambahnya usia cenderung mempengaruhi daya tahan tubuh terhadap suatu penyakit, yaitu semakin bertambah usia seseorang akan menurun pula daya tahan tubuhnya.3 Keadaan sosial ekonomi serta kurangnya kebersihan memegang peranan yang penting pada infeksi jamur, yaitu insiden penyakit jamur lebih sering terjadi pada sosial ekonomi rendah. Hal ini berkaitan dengan status gizi yang mempengaruhi daya tahan tubuh seseorang terhadap penyakit.2,3

Dermatofitosis merupakan kasus yang paling sering ditemui, maka penulis tertarik untuk mengambil salah satu jenis dermatofitosis yaitu tinea pedis sebagai laporan kasus.

BAB II LAPORAN KASUS

2.1.

Identifikasi Nama : Ny. Yl

Jenis Kelamin : Perempuan Umur Agama Pekerjaan Alamat No. RM : 40 tahun : Islam : Kary. Swasta : Ogan Komering Ilir : 563353

2.2.

Anamnesis Autonamnesis dengan pasien dilakukan tanggal 9 Oktober 2012 pukul 11.00 WIB di poliklinik kulit kelamin RSK Rivai Abdullah.

Keluhan utama : Kulit kemerahan, pecah-pecah dan bersisik pada sela jari kaki dan telapak kaki kanan dan kiri yang semakin meluas sejak 3 bulan yang lalu.

Keluhan tambahan : Gatal pada telapak kaki kiri dan kanan.

Riwayat perjalanan penyakit : Pasien datang ke Poli Kulit dan Kelamin RSK Rivai Abdullah pada tanggal 9 Oktober 2012 dengan keluhan kulit kemerahan, pecah-pecah dan bersisik pada sela jari kaki dan telapak kaki kanan dan kiri yang semakin meluas sejak 3 bulan yang lalu disertai rasa gatal. Kisaran 3 bulan lalu, pasien mengeluhkan timbul bercak kemerahan di ujung dan sela jari kedua kaki. Bercak tersebut kering dan

gatal. Bercak tersebut semakin lama semakin meluas dan kulit kaki menjadi bersisik dan pecah-pecah. Pasien mengaku sering menggaruk bercak tersebut. Pasien hanya menggunakan obat kulit yang dibeli di warung namun penggunaannya tidak teratur. Pasien sehari-hari menggunakan sandal berbahan kulit sintetis, tetapi tidak pernah mengalami gatal. Pasien juga menyangkal memiliki alergi terhadap detergen atau sabun tertentu. Karena keluhan pecah-pecah dan gatal bertambah berat, pasien memutuskan untuk berobat ke poliklinik kulit dan kelamin RSK Rivai Abdullah.

Riwayat penyakit dahulu Riwayat alergi terhadap bahan sepatu/sandal disangkal Riwayat alergi terhadap detergen atau sabun cuci disangkal Riwayat penyakit kencing manis disangkal

Riwayat keluarga Riwayat keluarga pernah menderita keluhan yang sama dengan pasien disangkal. Riwayat Higienitas Pasien mandi dua kali sehari dengan air sumur. Pasien mengaku menggunakan alas kaki berupa sandal saat keluar rumah Pasien mengaku sering kontak dengan air untuk mencuci pakaian sehari-hari dan mencuci piring di sumur dan tidak mengeringkan tangan dan kaki yang basah setelah mencuci. Riwayat sosial ekonomi Pasien adalah ibu rumah tangga dengan riwayat ekonomi menengah.

2.3.

Pemeriksaan Fisik Status Generalis Keadaan Umum : baik Keadaan sakit Kesadaran Tekanan Darah Nadi Pernapasan Suhu Tinggi Badan Berat Badan IMT Status gizi : tampak sakit sedang : kompos mentis : 120/70 mmHg : 84 x/menit : 20 x/menit : 36,5 C : 152 cm : 44 kg : 19,04 : Normal

Keadaan Spesifik Kepala Mata : konjungtiva tidak anemis sklera tidak ikterik Hidung : simetris, bagian luar tidak ada kelainan, septum tidak deviasi Telinga : selaput pendengaran tidak ada kelainan,

pendengaran baik Mulut : tonsil tidak membesar, lidah tidak pucat, stomatitis tidak ada Tenggorokan Leher : mukosa faring tidak hiperemis

: tekanan vena jugularis 5-2 cmH2O tidak ada pembesaran kelenjar getah bening leher

Dada Jantung

: simetris, tidak ada retraksi dinding dada : bunyi jantung reguler, tidak ada murmur, tidak ada gallop

Paru

: suara nafas vesikuler, tidak ada ronkhi, tidak ada wheezing

Perut

: datar, lemas, hepar dan lien tidak teraba, bising usus normal

Ekstremitas : tidak ada kelainan, refleks fisiologis normal KGB inguinal: tidak ada pembesaran kelenjar getah bening inguinal Status Dermatologikus

Regio plantaris pedis dextra et sinistra Makula eritema, multipel, bentuk tidak beraturan sebagian terdapat erosi, pada permukaan sebagian tampak ditutupi skuama sedang sampai kasar, selapis, warna putih dan terdapat fissura di daerah lateral, panjang 2 cm, lebar 0,1 mm.

2.4.

Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan mikroskopik preparat kerokan kulit dengan meneteskan KOH 10%, tidak ditemukan elemen jamur.

2.5.

Resume Ny. Y, 40 tahun, datang dengan keluhan kulit kemerahan, pecahpecah, dan bersisik pada sela jari kaki dan telapak kaki kanan dan kiri yang semakin meluas sejak 3 bulan yang lalu disertai rasa gatal. Dari autoanamnesis didapatkan, awalnya, kisaran 3 bulan lalu, pasien mengeluhkan timbul bercak kemerahan di ujung dan sela jari kedua kaki. Bercak tersebut kering dan gatal. Bercak tersebut semakin lama semakin meluas dan kulit kaki menjadi bersisik dan pecah-pecah. Pasien mengaku sering menggaruk bercak tersebut. Pasien hanya menggunakan obat kulit yang dibeli di warung namun penggunaannya tidak teratur. Karena keluhan pecah-pecah dan gatal bertambah berat, pasien memutuskan untuk berobat ke poliklinik kulit dan kelamin RSK Rivai Abdullah. Pada pemeriksaan fisik didapatkan status generalis dalam batas normal. Untuk pemeriksaan dermatologikus pada regio plantaris pedis dextra et sinistra didapatkan makula eritema, multipel, bentuk tidak beraturan sebagian terdapat erosi, pada permukaan sebagian tampak ditutupi skuama sedang sampai kasar, selapis, warna putih dan terdapat fissura di daerah lateral, panjang 2 cm, lebar 0,1 mm. Pada pemeriksaan mikroskopis kulit dengan larutan KOH 10% tidak ditemukan elemen jamur.

2.6.

Diagnosis Banding 1. Tinea pedis 2. Kandidiasis

2.7.

Diagnosis Kerja Tinea pedis

2.8.

Penatalaksanaan 1. Umum (Edukasi) Memberikan informasi kepada pasien bahwa penyebab penyakitnya adalah jamur yang dapat menular, pengobatannya memerlukan waktu yang cukup alama, sekitar 3-4 minggu, serta menasehati pasien untuk tidak menggaruk bercak karena akan menyebabkan bercak semakin luas. Menyarankan kepada pasien untuk mengkonsumsi obat secara teratur dan tidak menghentikan pengobatan tanpa seizin dokter. Menyarankan kepada pasien untuk mengeringkan tangan dan kaki yang basah setelah mencuci. 2. Khusus Sistemik: Ketokonazol tablet 200 mg/hari/per oral selama 3-4 minggu Cetirizin tablet 1x10 mg/hari/per oral bila gatal. Topikal: Salep mikonazol 2% (dioleskan 2 kali sehari pada lesi).

2.9.

Pemeriksaan Anjuran Pemeriksaan kultur jamur dalam media agar Saboraud

2.10.

Prognosis Prognosis baik selama pengobatan sesuai dan teratur seperti anjuran dan

penderita menjalankan terapi non medikamentosa. Quo ad sanationam Quo ad vitam Quo ad functionam Quo ad kosmetika : bonam : bonam : bonam : bonam

BAB III PEMBAHASAN

Tinea pedis atau sering disebut athelete foot adalah dermatofitosis pada kaki, terutama pada sela-sela jari dan telapak kaki. Tinea pedis adalah dermatofitosis yang biasa terjadi. Penggunaan istilah athelete foot digunakan untuk menunjukan bentuk jari kaki yang seperti terbelah. Tiga genus utama yang menjadi penyebabnya adalah Trichophyton, Epidermophyton, dan Microsporum, sedangkan spesies yang paling sering menyebabkan tinea pedis adalah Trichophyton rubrum dan Trichophyton mentagrophytes.1,2 Penyakit ini dapat menyerang segala usia, tanpa membedakan jenis kelamin. Pada umumnya jamur tumbuh karena faktor kelembaban. Hal itu dapat disebabkan kaki yang sering berkeringat, kaos kaki yang kurang dijaga kebersihannya, atau sepatu terlalu tertutup. Jadi dapat dikatakan di sini bahwa Tinea berhubungan dengan kebersihan dan keringat.1,2,3 Pada kasus ini didapatkan Ny. Y, 40 tahun, datang dengan keluhan kulit kemerahan, pecah-pecah, dan bersisik pada sela jari kaki dan telapak kaki kanan dan kiri yang semakin meluas sejak 3 bulan yang lalu disertai rasa gatal. Awalnya timbul bercak kemerahan di ujung dan sela jari kedua kaki. Bercak tersebut kering dan gatal. Bercak tersebut semakin lama semakin meluas dan kulit kaki menjadi bersisik dan pecah-pecah. Diagnosis pasien ini adalah tinea pedis berdasarkan anamnesis dan status dermatologikus.

Tabel 1. Anamnesis Secara Teori dan Kasus Anamnesis Teori4,5 Kasus Dapat menyerang pria dan wanita - Wanita Semua umur - 40 tahun Lebih banyak di daerah tropis - Kulit kemerahan dan bersisik pada Tipe papulo-skuamosa sela jari dan telapak kedua kaki hiperkeratotik kronik: jarang - Daerah sisi kaki mengalami pecahdidapati vesikel dan pustula, sering pecah pada tumit dan tepi kaki, kadang- Gatal pada telapak kaki. 9

kadang sampai ke punggung kaki, eritema dan plak hiperkeratotik di atas daerah lesi yang mengalami likenifikasi. Biasanya simetris, jarang dikeluhkan dan kadang tidak dihiraukan pasien. - Tipe intertriginosa kronik: manifestasi berupa fisura pada jarijari, tersering pada sela jari kaki ke-4 dan 5, basah dan maserasi disertai bau tidak enak - Tipe subakut: lesi intertriginosa berupa vesikel atau pustula. Dapat sampai ke punggung kaki dan tumit dengan eksudat yang jernih, kecuali jika mengalami infeksi sekunder. - Tipe akut: gambaran lesi akut, eritema, edema berbau. Lebih sering pada pria. Kondisi hiperhidrosis dan maserasi pada kaki, statis vaskular, dan bentuk sepatu yang kurang baik merupakan faktor predisposisi. Berdasarkan kedua data tersebut maka dapat diarahkan diagnosis ke arah tinea pedis. Kemudian dapat dikaji lebih lanjut berdasarkan status dermatologikus dan pemeriksaan penunjang. Tabel 2. Status Dermatologikus Berdasarkan Teori dan Kasus Status Dermatologikus Teori4 Kasus - Lokalisasi antara jari-jari ke-3, 4, dan regio plantaris pedis dextra et sinistra 5; serta telapak kaki didapatkan makula eritema, multipel, bentuk - Fisura pada sisi kaki, beberapa tidak beraturan sebagian terdapat erosi, pada milimeter sampai 0,5 cm. permukaan sebagian tampak ditutupi skuama - Skuama putih kecoklatan sedang sampai kasar, selapis, warna putih - Vesikula miliar dan dalam dan terdapat fissura di daerah lateral, panjang - Vesikopustula miliar sampai 2 cm, lebar 0,1 mm. lentikular pada telapak kaki dan sela jari - Hiperkeratotik biasanya pada telapak kaki. Pada status dermatologikus diatas sesuai dengan teori yang ada, sehingga kemungkinan diagnosis tinea pedis pada pasien ini menjadi lebih kuat.

10

Tabel 3. Pemeriksaan Penunjang Berdasarkan Teori dan Kasus Pemeriksaan Penunjang 4 Teori Kasus 1. Pemeriksaan KOH Pada kasus Ny. Y, dilakukan pemeriksaan Dapat dilakukan pemeriksaan untuk KOH 10%, tidak ditemukan elemen jamur. mengetahui adanya mikologi pada infeksi jamur. 2. Kultur jaringan Pemeriksaan dengan pembiakan diperlukan untuk menyokong pemeriksaan langsung dengan sediaan basah dan untuk menentukan spesies jamur. Pembiakan dilakukan pada medium agar Sabouraud karena dianggap merupakan media yang paling baik untuk pertumbuhan jamur.

Kebutuhan untuk dilakukannya pemeriksaan penunjang sangat bergantung dari kondisi masing-masing pasien berdasarkan riwayat perjalanan penyakitnya, penyakit penyerta, komplikasi yang mungkin berkaitan dan kesediaan pasien itu sendiri untuk melakukan pemeriksaan tambahan lainnya. Tabel 4. Diagnosis Banding Teori Definisi Diagnosis Banding Tinea Pedis4 Kandidiasis4 Infeksi jamur supperfisial pada Suatu penyakit kulit akut atau pergelangan kaki, telapak dan subakut, disebabkan jamur sela-sela jari kaki. intermediat yang menyerang kulit, subkutan, kuku, selaput lendir dan alat-alat dalam. - Dapat menyerang pria dan - Dapat menyerang pria dan wanita wanita - Semua umur - Semua umur - Lebih banyak di daerah tropis - Lebih banyak di daerah tropis - Tipe papulo-skuamosa Keluhan tergantung pada hiperkeratotik kronik: jarang predileksi. didapati vesikel dan pustula, - Kulit: gatal hebat disertai sering pada tumit dan tepi kaki, panas seperti terbakar, kadang-kadang sampai ke terkadang nyeri jika ada punggung kaki, eritema dan infeksi sekunder plak hiperkeratotik di atas - Kuku: sedikit gatal dan nyeri daerah lesi yang mengalami jika ada infeksi sekunder;

Anamnesis

11

Etiologi

likenifikasi. Biasanya simetris, kuku akan berwarna hitam jarang dikeluhkan dan kadang coklat, menebal, tak tidak dihiraukan pasien. bercahaya, biasanya dari - Tipe intertriginosa kronik: pangkal kuku ke distal. Di manifestasi berupa fisura pada sekitar kuku didapatkan jari-jari, tersering pada sela jari vesikel-vesikel dan daerah kaki ke-4 dan 5, basah dan erosif dengan skuama. maserasi disertai bau tidak - Mukosa: terutama mulut, enak ditemukan ulkus-ulkus ringan - Tipe subakut: lesi putih keabuan tertutup suatu intertriginosa berupa vesikel membran atau pustula. Dapat sampai ke punggung kaki dan tumit dengan eksudat yang jernih, kecuali jika mengalami infeksi sekunder. - Tipe akut: gambaran lesi akut, eritema, edema berbau. Lebih sering pada pria. Kondisi hiperhidrosis dan maserasi pada kaki, statis vaskular, dan bentuk sepatu yang kurang baik merupakan faktor predisposisi. Golongan jamur dermatofita, yang Candida albicans tersering adalah Trichophyton rubrum dan Trichophyton
mentagrophytes.

Lesi

Lesi berbentuk fisura pada sisi kaki, beberapa milimeter sampai 0,5 cm, skuama putih kecoklatan, vesikula miliar dan dalam, vesikopustula miliar sampai lentikular pada telapak kaki dan sela jari, hiperkeratotik biasanya pada telapak kaki.

Predileksi

- Kulit: daerah eritematosa, erosif, kadang-kadang dengan papula dan bersisik. Pada keadaan kronik, daerahdaerah likenifikasi, hiperpigmentasi, hiperkeratosis dan terkadang berfisura. - Kuku: kuku tak bercahaya, berwarna hitam coklat, menebal, kadang-kadang bersisik. Sekitar kuku eritematosa, erosif dengan vesikel. Interdigitalis, antara jari ke-3, 4, Kulit: bokong sekitar anus, lipat dan 5;seerta telapak kaki ketiak, lipat paha, bawah payudara, sekitar pusat, garisgaris kaki dan tangan; kuku.

12

Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan KOH Dapat dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui adanya mikology pada infeksi jamur. 2. Kultur jaringan Pemeriksaan dengan pembiakan diperlukan untuk menyokong pemeriksaan langsung dengan sediaan basah dan untuk menentukan spesies jamur. Pembiakan dilakukan pada medium agar Sabouraud karena dianggap merupakan media yang paling baik untuk pertumbuhan jamur.

1. Pemeriksaan KOH 10%, 40% Ditemukan sel-sel ragi 2. Media Sabouroud Koloni coklat mengkilat, permukaan basah (koloni ragi) 3. Fermentasi glukosa Fruktosa (+), glukosa (+)

Berdasarkan diagnosis banding tersebut maka diagnosis pasien ini adalah tinea pedis.

Tabel 5. Penatalaksanaan Tatalaksana Teori4,6 1. Umum Mengeringkan kaki dengan baik setiap habis mandi, kaus kaki yang selalu bersih dan bentuk sepatu yang baik. Menggunakan obat secara teratur dan sesuai dengan resep dokter. Kontrol ke dokter secara teratur. Kasus
1. Umum (Edukasi)

2. Khusus Sistemik Antihistamin Griseofulvin 500-1000 mg/hari selama 2-6 minggu Itrakonazol 200mg/hari selama 2 minggu atau 2x200mg/hari selama 7 hari Ketokonazol 200mg/hari selama 3-4 minggu Topikal Golongan azol (krim mikonazol,

Memberikan informasi kepada pasien bahwa penyebab penyakitnya adalah jamur yang dapat menular, pengobatannya memerlukan waktu yang cukup alama, sekitar 3-4 minggu, serta menasehati pasien untuk tidak menggaruk bercak karena akan menyebabkan bercak semakin luas. Menyarankan kepada pasien untuk mengkonsumsi obat secara teratur dan tidak menghentikan pengobatan tanpa seizin dokter. Menyarankan kepada pasien untuk mengeringkan tangan dan kaki yang basah setelah mencuci. Sistemik: Ketokonazol tablet 200 mg/hari/per oral selama 3-4 minggu Cetirizin tablet 1x10 mg/hari/per

2. Khusus

13

klotrimazol, seknidazol, tioconazol, dll), cyclopiroxolamine dan terbinafin. Dioleskan 1-2 kali sehari selama 2-4 minggu.

oral bila gatal. Topikal: Salep mikonazol 2% (dioleskan 2 kali sehari pada lesi).

Pengobatan untuk tinea pedis mengurangi keluhan dan menghindari terjadinya infeksis sekunder, antihistamin diberikan untuk mengurangi rasa gatal, karena menggaruk lesi yang terasa gatal justru akan memperberat lesi. Pengobatan topikal diberikan untuk mengembalikan kulit yang sakit dan jaringan disekitarnya dalam keadaan fisiologis stabil secepatnya. Prognosis untuk pasien ini adalah bonam. Jika faktor-faktor pencetus dihilangkan maka akan cepat disembuhkan. Prognosis baik selama pengobatan sesuai dan teratur seperti anjuran.

14

BAB IV KESIMPULAN
Tinea pedis atau sering disebut athelete foot adalah dermatofitosis pada kaki, terutama pada sela-sela jari dan telapak kaki. Tinea pedis adalah dermatofitosis yang biasa terjadi. Penggunaan istilah athelete foot digunakan untuk menunjukan bentuk jari kaki yang seperti terbelah. Tiga genus utama yang menjadi penyebabnya adalah Trichophyton, Epidermophyton, dan Microsporum, sedangkan spesies yang paling sering menyebabkan tinea pedis adalah Trichophyton rubrum dan Trichophyton mentagrophytes.1,2 Dari hasil anamnesis didapatkan seorang wanita, 40 tahun, datang dengan keluhan kulit kemerahan, pecah-pecah, dan bersisik pada sela jari kaki dan telapak kaki kanan dan kiri yang semakin meluas sejak 3 bulan yang lalu disertai rasa gatal. Dari autoanamnesis didapatkan, awalnya, kisaran 3 bulan lalu, pasien mengeluhkan timbul bercak kemerahan di ujung dan sela jari kedua kaki. Bercak tersebut kering dan gatal. Bercak tersebut semakin lama semakin meluas dan kulit kaki menjadi bersisik dan pecah-pecah. Pasien mengaku sering menggaruk bercak tersebut. Pasien hanya menggunakan obat kulit yang dibeli di warung namun penggunaannya tidak teratur. Pada pemeriksaan fisik didapatkan status generalis dalam batas normal. Untuk pemeriksaan dermatologikus pada regio plantaris pedis dextra et sinistra didapatkan makula eritema, multipel, bentuk tidak beraturan sebagian terdapat erosi, pada permukaan sebagian tampak ditutupi skuama sedang sampai kasar, selapis, warna putih dan terdapat fissura di daerah lateral, panjang 2 cm, lebar 0,1 mm. Pada pemeriksaan mikroskopis kulit dengan larutan KOH 10% tidak ditemukan elemen jamur. Dari diagnosis banding yang telah disingkirkan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami tinea pedis. Pengobatan yang tepat didasarkan pada kausa, yaitu menyingkirkan penyebabnya. pengobatan bersifat simtomatis yaitu dengan

15

menghilangkan/mengurangi keluhan dan gejala, dan menekan peradangan. Pada pasien ini diberi ketokonazol tablet 200 mg/hari/per oral selama 3-4 minggu untuk terapi kausatif dan cetirizin tablet 1x10 mg/hari/per oral untuk terapi simtomatis. Salep Mikonazol 2% (dioleskan 2 kali sehari pada lesi).

16

DAFTAR PUSTAKA
1. Budimulja, U. 2010. Mikosis, dalam Djuanda, A., Hamzah, M. dan Aisah, S. (editor), Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi Kelima. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta : 89-105 Claire J. Carlo, MD, Patricia MacWilliams Bowe, RN, MS. Tinea Pedis (athelete foot). Diunduh http://www.bhchp.org/BHCHP%20Manual/pdf_files/Part1_PDF/TineaPedis .pdf , tanggal 18 Oktober 2012 Kurniawati, RD. 2006. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Tinea Pedis pada Pemulung di TPA Jatibarang, Tesis. Program Pasca Sarjana Universitas Diponogoro. Kartowigno, S. 2011. 10 Besar Kelompok Penyakit Kulit. Edisi Pertama. Unsri Press. Palembang : 41-65 Siregar, RS. 2005. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Edisi Kedua. EGC. Jakarta : 17-20 Kurniawan, Ricky. 2010. Artikel Ilmiah Dermatologi Penatalaksanaan Komprehensif Tinea Pedis. Diunduh http://id.scribd.com/doc/36250422/Artikel-Ilmiah-Dermatologi-tinea-Pedis, tanggal 20 Oktober 2012.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

17