Anda di halaman 1dari 16

ACARA I PROSES PANEN HASIL PERTANIAN

A. TUJUAN Tujuan dari praktikum acara I Proses Panen Hasil Pertanian ini adalah untuk mengetahui kriteria, metode serta permasalahan pemanenan hasil pertanian. B. TINJAUAN PUSTAKA Lengkeng (Euphoria longana Lam.) termasuk dalam famili Sapindaceae, berasal dari daratan China dan sekitarnya. Di Cina, lengkeng dikenal sebagai longan. Lengkeng merupakan buah-buahan yang berpotensi tinggi untuk dikembangkan dalam diversifikasi tanaman pekarangan. Lengkeng merupakan tanaman yang berbuah musiman dan hanya beberapa bulan saja setiap tahun. Tanaman lengkeng memerlukan beberapa syarat khusus untuk dapat berbunga, misalnya induksi pembungaan secara alami hanya di dataran tinggi dengan suhu relatif rendah (15-20C) dan musim kemarau panjang. Tanaman siap berbunga memiliki wama daun hijau tua, lebih mengkilat dan lebih kasap permukaannya. Tanaman yang belum siap berbunga (pucuk vegetatit) memiliki warna daun hijau agak muda (Prawitasari, 2002). Agar kelengkeng dapat berbunga lebat, tanaman tersebut perlu dirangsang pembungaannya. Pembungaan kelengkeng dapat dipacu dengan cara perlakuan fisik melalui pemangkasan, perundukan, penggelangan, dan stres air, atau perlakuan non fisik melalui pemupukan hara mikro dan pemberian hormon. Pada beberapa jenis tanaman buah-buahan,

perangsangan pembungaan dapat dilakukan melalui aplikasi paklobutrazol, pemangkasan, dan perundukan dahan (Yulianto, 2008). Kelengkeng (Nephelium Longanum) termasuk familia Sapindaceae. Kelengkeng merupakan tanaman keras yang mempunyai batang kayu yang kuat. Sistem perakarannya sangat luas dan mempunyai akar tunggang yang sangat dalam, sehingga tidak mudah roboh. Buah kelengkeng berbentuk

malai yang terletak di ujung ranting rantingnya. Warnanya kuning muda atau putih kekuningan. Pemacuan tanaman kelengkeng dilakukan pada batangnya, terutama batang pokoknya. Perlakuan ini didasari pada teori bahwa air dan zat zat hara yang diserap oleh akar akan dibawa ke atas (daun) melalui pembuluh kayu (xylem). Biaya panen adalah seluruh biaya yang dikeluarkan mulai dari usaha penyelamatan buah dari gangguan binatang sampai dengan biaya penyiapan untuk dipasarkan. Salah satu biaya yang dikeluarkan adalah untuk pembelian dan pemasangan berongsong. Berongsong merupakan anyaman bambu yang dirangkai dan digunkan untuk melindungi kelenkeng dari serangan binatang. Biaya lain yang harus dikeluarkan yaitu biaya petik dan pemakaian tenaga kerja (Hatta, 1990). Lengkeng buah non-klimakterik, dan tidak akan menjadi matang setelah dipetik dari pohon. Akibatnya, buah harus dipanen ketika kulit mereka menjadi kuning-coklat dan daging mereka mencapai kualitas yang optimal untuk dimakan. Belum ada pedoman dalam proses waktu pemanenan karena jumlah varietas yang bermacam-macam. Secara umum kematangan dapat ditentukan oleh bobot buah, warna kulit, konsentrasi gula daging, konsentrasi asam daging, rasio gula: asam,rasa dan/atau hari dari bunga mekar (Jiang, 2002). Musim panen lengkeng di selatan Florida adalah dari pertengahan Juli hingga awal September tapi terutama pada bulan Agustus. Pada saat jatuh tempo, buah akan menjadi intens warna cokelat. Indikator kematangan utama adalah bubur manis, ini terjadi sebelum mengeluarkan buah dari pohon. Buah yang 1 1/4 inci (32 mm) atau lebih besar diameter dengan rasa yang baik adalah yang paling diinginkan. sekali dihapus dari pohon, buah tidak akan meningkat manisnya. Buah dipanen dengan tangan, dengan pisau pemangkas atau tiang dengan cutter yang memegang seluruh cluster. Biasanya, sebagian dari cabang balik malai berbuah (sekitar 1 ft =30 cm) dipotong. Buah dipanen harus ditempatkan di tempat teduh segera dan kemudian didinginkan sesegera mungkin. Lengkeng buah memiliki umur simpan yang relatif pendek ketika disimpan pada suhu sekitar 75-85oF (24-

29oC). Buah dipanen di rumah mungkin ditempatkan dalam kantong plastik dan disimpan di lemari es selama 5 sampai 7 hari (Crane, 2005). Tanaman lengkeng termasuk mudah tumbuh, tetapi sukar berbunga. Oleh karena itu diperlukan stimulasi pembungaan dengan jalan mengikat kencang batang yang berada satu meter di atas permukaan tanah. Tanaman mulai berbunga pada umur 4-6 tahun. Biasanya tanaman ini berbungan pada bulan Juli-Oktober. Buah matang lima bulan setelah bungan mekar. Musim panen lengkeng di bulan Januari-Februari dengan produksi 300-600 kg per pohon. Pemanenan dilakukan dengan alat yang dapat memotong tangkai rangkaian buah. Alat panen berupa gunting bertangkai panjang yang tangkainya dapat diatur dari bawah. Tanda-tanda buah matang adalah warna kulit buah menjadi coklat gelap, licin dan mengeluarkan aroma. Rasanya manis harum, sedangkan buah yang belum matang rasanya belum manis (Sunarjo, 2006). Hama penggerek batang yang menimbulkan kerusakan pada tanaman kelengkeng tersebut adalah Zeuzera coffeae Neitner. Larva Z. Coffeae

mengebor kulit hingga ke bagian kambium kemudian menggerek bagian kambium dan kayunya. Apabila luas gerekan melingkar dan temu gelang, maka bagian tanaman di atas gerekan akan mengering dan mati. Bagian batang dan dahan yang terserang berat akan mudah patah ketika tertiup angin. Pohon yang masih kecil jika terserang hama ini akan mati. Pohon yang terserang hama ini ditandai dengan terdapatnya kotoran dan cairan berwarna kemerah-merahandari bekas gerekan (lubang) yang diserang larva. Akibat gerekan larva menyebabkan distribusi hara dan air terganggu. Serangan hama tersebut menimbulkan gejala daun-daunnya layu, kemudian rontok, tanaman menjadi kering, dan akhirnya mati. Pada bagian kulit batang atau cabang kelengkeng yang digerek terdapat lubang gerekan berdiameter sekitar 2 mm. Pada permukaan tanah dekat pangkal batang banyak ditemukan butiran kotoran penggerek batang berbentuk bulat panjang berwarna merah kecoklatan dengan ukuran panjang sekitar 1,5 mm. Apabila bagian batang yang digerek dibuka akan tampak gejala bekas

gerekan berwarna coklat kehitaman. Larva Z. Coffeae biasanya ditemukan dalam ruang gerekan. Tingkat kerusakan tanaman bervariasi dari tingkat serangan ringan hingga berat (Yulianto, 2007). B. rhodina (anamorph: Lasiodiplodia theobromae) merupakan salah satu tanaman patogen yang paling umum di daerah tropis. Hal ini menyebabkan buah yang beragam, daun dan cabang penyakit pada alpukat, pisang, belimbing, durian, lengkeng, leci, mangga, manggis dan rambutan. B. rhodina menyerang pohon yang melemah oleh suhu ekstrim, kekeringan dan faktor lainnya. Hal ini menginfeksi melalui luka, dan menyebabkan gejala pada buah saat mereka matang. Sering suatu endofit yaitu, berkolonisasi jaringan host tanpa menimbulkan gejala dan dapat juga ditemukan di tanah, pada ranting mati, buah dan puing-puing organik di bawah pohon (Ploetz, 2008). Kenikir termasuk ke dalam genus Cosmos. Kenikir berasal dari daerah tropika Amerika yang dibawa oleh orang Spanyol ke Filipina. Kenikir banyak ditemukan di Pulau Jawa dan biasanya ditanam sebagai tanaman pekarangan karena bunganya berwarna cerah. Selain itu, daun kenikir dapat dimanfaatkan sebagai sayuran segar atau dapat dibuat lalapan. Perbanyakan tanaman kenikir adalah dengan biji. Tanaman ini tumbuh baik di daerah dataran rendah sampai dataran tinggi. Oleh karena itu, kenikir tumbuh liar di tepi-tepi sawah atau sungai. Apabila daun-daunnya dipetik, tunas baru akan cepat tumbuh untuk menggantikannnya

(Sastrapradja, 1979). Cosmos caudatus (Kenikir) termasuk famili Asteraceae merupakan tanaman yang dapat dimakan. Ini sayuran tanaman umumnya dikonsumsi segar sebagai salad atau dimasak dengan direbus dengan rempah-rempah lainnya. Di Malaysia, yang biasa dikenal sebagai Ulam raja. C. caudatus merupakan sumber antioksidan alami dan kaya akan mineral seperti kalsium, fosfor, zat besi, magnesium dan kalium (Ajaykumar, 2012). Cosmos caudatus adalah tanaman yang dapat tumbuh tinggi sampai 1-8 m,berbulu atau berbulu jarang dan daun halus dengan panjang 10 - 20

cm. Tumbuhan ini berbunga dari Juni hingga November (Guanghou et al., 2005). Hal ini ditemukan di seluruh dunia di daerah tropis daerah termasuk Meksiko, Amerika Serikat (Arizona danFlorida), Amerika Tengah, Amerika Selatan, Malaysia dan Thailand. Tanaman ini termasuk tanaman obat karena memiliki kandungan antioksidan, senyawa fenolik aktif, dan antimikroba (Rasdi, 2010). Kenikir merupakan tanaman herba setahun yang tingginya dapat mencapai 3 m. Batangnya tegak, beralur dan mempunyai banyak cabang. Tanaman kenikir berdaun majemuk dan bergerigi pada bagian tepi. Bunganya tersusun seperti bunga matahari yang terletak di tepi berbentuk pita berjumlah delapan. Kenikir juga mempunyai buah berbentuk lonceng yang mengandung banyak biji berwarna hitam seperti jarum. Van den Bergh (1994a) mengungkapkan bahwa tanaman kenikir dapat tumbuh dengan baik pada daerah dengan sinar matahari penuh di dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian 1 600 m dpl. Perbanyakan kenikir dapat dilakukan melalui biji di persemaian yang kemudian dapat dipindahkan ke lapangan setelah tiga minggu. Pengaturan drainase dan irigasi yang baik dapat mendukung pertumbuhan kenikir. Kondisi tanah yang terlalu lembab dapat memicu perkembangan cendawan yang mengganggu pertumbuhan tanaman kenikir. Pemanenan daun kenikir dapat dilakukan setelah tanaman berumur enam minggu (Pambayun, 2008). Setelah proses pemanenan buah dan sayur, kondisi lingkungan sangat berpengaruh terhadap produk buah dan sayur segar. Penanganan pasca panen terbaik setelah pemanenan adalah 1) mengelola produk dalam kondisi optimum untuk dikonsumsi 2) mencegah serangan patogen. Suhu berperan penting dalam meningkatkan kerentanan buah dan sayur, setelah dipanen atau dalam penyimpanan. Pendedahan produk segar ke suhu tinggi setelah panen dapat meningkatkan kerentanan terhadap penyakit

pascapanen, meskipun produk tidak mengalami kerusakan fisisologis (Soesanto, 2006).

Bercak daun disebabkan oleh bakteri Xanthomonas campestris pv. Armoraciae yang menyebabkan busuk hitam, kecuali bahwa hal itu menyebabkan bercak daun dan tidak menyerang sistem vaskular. Bercak daun bakteri merupakan penyebab penting dari kualitas buruk untuk sayuran hijau dalam beberapa tahun terakhir. Ketika daun bercak meluas dan parah, hijau mungkin tidak cocok untuk panen. Root-knot (Meloidogyne spp.) Disebabkan oleh beberapa spesies nematoda, yaitu cacing gelang mikroskopis yang hidup di tanah dan memakan akar tanaman (John, 1990). C. METODOLOGI a. Tempat dan Waktu Praktikum Pengamatan pada komoditas buah yaitu kelengkeng yang dikelola oleh Mas Woto (RM. Pancingan V) di Karang Bulu Mudal Boyolali dan sayur yaitu kenikir yang dikelola oleh Bapak Wijianto di Timorejo Kelurahan Sobokerto Ngemplak Boyolali pada hari Sabtu tanggal 6 April 2013. b. Cara Kerja Pengamatan dilakukan dengan cara survey langsung ke tepat penanaman komoditas atau persawahan dan perkebunan. Selain itu juga dilakukan wawancara kepada petani yang bersangkutan untuk mendapat data dan info lebih lengkap mengenai komoditas yang ditanam. D. DATA HASIL PENGAMATAN 1. Kelengkeng a. Kriteria Pemanenan Kelengkeng yang ditanam merupakan hasil sambungan dari Mulwojawa dan kelengkeng. Bibit dari sambungan Mulwojawa dan kelengkeng mulai berbunga sekitar 6-7 bulan dan kelengkeng menghasilkan buah sekitar 5 bulan setelah pembungaan. Kelengkeng yang siap panen sudah bewarna coklat terang, kulit mulai menipis, aroma manis mulai tercium, teksturnya mulai lunak dan ukuran sudah besar.

b. Metode Pemanenan Pemanenan buah semangka biasanya dilakukan pada waktu pagi hari. Buah kelengkeng dipanen ketika buah tersebut sudah matang di pohon. Buah kelengkeng dipanen dengan cara dipotong pada tangkai dekat gerombolan buah menggunakan gunting. Buah kelengkeng juga dapat dipanen dengan cara dipetik secara langsung menggunakan tangan. c. Masalah Pemanenan Permasalahan pemanenan yang seringkali menghambat proses pemanenan adalah adanya serangan ulat yang membuat kelengkeng busuk dan jamur yang menimbulkan bercak putih di permukaan kulit buah kelengkeng. Selain serangan dari ulat ketika musim hujan, kelengkeng juga dapat diserang oleh hama penggerek batang. 2. Kenikir a. Kriteria Pemanenan Berdasarkan hasil pengamatan lapangan dan wawancara kepada petani kenikir, panen kenikir yang baik berdasarkan tinggi tanaman kenikir dan warna dari daun kenikir tersebut. Kenikir yang siap panen memiliki tinggi sekitar 120 cm. Warna pada kenikir yang siap dipanen biasanya hijau segar, tekstur batangnya keras, daunnya

segar dan batangnya tidak kaku. b. Metode Pemanenan Berdasarkan hasil pengamatan lapangan dan wawancara kepada petani kenikir, didapatkan data mengenai cara pemanenan pada kenikir yaitu sebulan setelah penanaman atau penaburan benih kenikir. Kenikir dipanen dengan cara dipotong sampai tangkai paling bawah sekitar 30-40 cm. Setelah dipanen, kenikir harus terlebih dahulu dicelupkan ke dalam air agar kenikir tetap terlihat segar dan kotoran yang menempel di kenikir hilang. Kemudian kenikir yang sudah bersih diikat menjadi satu. Pengikatan kenikir ini

mempermudah dalam penjualannya dan mengurangi kerusakan mekanis. c. Permasalahan Pemanenan Berdasarkan hasil pengamatan lapangan dan wawancara, kenikir jarang mengalami kerusakan pada saat panen. Menurut petani kenikir ketika asupan pupuk dan air yang diberikan sudah cukup maka kenikir dapat tumbuh dengan baik. Bila terjadi kerusakan pada kenikir biasanya disebabkan oleh hawa wereng sehingga daun dan batang kenikir berlubang. Hama wereng ini dapat dibasmi dengan coragen atau pestisida. Kenikir hanya mengalami kerusakan ketika cuaca sangat panas sehingga menyebabkan daun kenikir cepat layu dan berwarna kecoklatan.

E. PEMBAHASAN 1. Kelengkeng a. Kriteria Pemanenan Kelengkeng termasuk buah non-klimakterik, dimana setelah dipanen respirasi dan produksi etilen buah mengalami penurunan dan tidak mengalami proses pematangan jika buah telah dipanen sehingga harus dipanen matang di pohon karena tidak dapat diperam. Pada buah non-klimakterik, saat panen perlu diperhatikan agar kualitas buah yang diperoleh optimal. Kandungan total padatan terlarut, total gula dan vitamin C buah mengalami peningkatan selama proses pemasakan buah. Menurut Diana (2010), penentuan panen lengkeng berdasarkan warna kulit, kandungan TPT, total asam, rasio TPT:TA, rasa buah dan umur buah kelengkeng. Pada kelengkeng varietas lokal memiliki warna kulit coklat tua, rasa buahnya manis dengan derajad brix minimal 14 dan umur buah kelengkeng tersebut mencapai 6 bulan. Sedangkan kelengkeng varietas introduksi siap dipanen bila memiliki warna kulit kuning kecoklatan cerah, rasa buahnya manis (brix minimal 18) dan berumur 4-6 bulan tergantung varietasnya. Berdasarkan teori Sugiyanto (2006), buah saat masih muda berwarna kemerahan dan berangsur menjadi kuning kecoklatan sampai coklat terang saat menjelang matang, ukuran maksimal sebesar bola pingpong, rasa buah manis mencapai kadar 200 Brix, kadar air tinggi, rata-rata daging buah basah dan biji besar. b. Metode Pemanenan Berdasarkan hasil pengamatan lapangan, buah kelengkeng dipanen ketika buah tersebut sudah matang di poho dan buah

kelengkeng dipanen dengan cara dipotong pada tangkai dekat gerombolan buah menggunakan gunting. Menurut Diana (2010) pemanenan buah dilakukan saat pagi hari untuk mengurangi penguapan air dari buah dan menghindari panas karena sengatan

matahari. Panen saat hari hujan juga sebaiknya dihindari. Buah dipanen dengan cara memotong malai/tandan buah, atau butiran buah dipanen langsung dari tandannya dan ditempatkan dalam keranjang plastik atau bambu. Semua buah dalam satu pohon sebaiknya dipanen secara bersamaan kecuali jika tingkat kematangan antar tandan buah berbeda jauh. Buah yang dipanen diletakkan di tempat yang teduh dan jika memungkinkan segera dibawa ke bangsal pengepakan. Musim panen lengkeng di bulan Januari-Februari dengan produksi 300-600 kg per pohon. Pemanenan dilakukan dengan alat yang dapat memotong tangkai rangkaian buah. Alat panen berupa gunting bertangkai panjang yang tangkainya dapat diatur dari bawah. c. Permasalahan Pemanenan Berdasarkan pengamatan di Karangbulu Mudal, yang seringkali menghambat proses pemanenan adalah adanya serangan ulat yang membuat kelengkeng busuk, jamur dan hama penggerek batang. Menurut Yulianto (2007) pohon-pohon kelengkeng

(Dimocarpus longan (Lour) Steud.) banyak mendapat gangguan serangan hama penggerek batang sehingga produktivitasnya turun. Hama penggerek batang yang menimbulkan kerusakan pada tanaman kelengkeng tersebut adalah Zeuzera coffeae Neitner. Larva Z. Coffeae mengebor kulit hingga ke bagian kambium kemudian menggerek bagian kambium dan kayunya. Apabila luas gerekan melingkar dan temu gelang, maka bagian tanaman di atas gerekan akan mengering dan mati. Bagian batang dan dahan yang terserang berat akan mudah patah ketika tertiup angin. Pohon yang masih kecil jika terserang hama ini akan mati. Pohon yang terserang hama ini ditandai dengan terdapatnya kotoran dan cairan berwarna kemerah-merahan dari bekas gerekan (lubang) yang diserang larva. Akibat gerekan larva menyebabkan distribusi hara dan air terganggu. Serangan hama tersebut menimbulkan gejala daun-daunnya layu, kemudian rontok, tanaman menjadi kering, dan akhirnya mati. Pada bagian kulit batang

atau cabang kelengkeng yang digerek terdapat lubang gerekan berdiameter sekitar 2 mm. Berdasarkan teori dari Kamza (2008) pada umumnya tanaman lengkeng sangat tahan terhadap serangan berbagai macam hama dan penyakit. Hanya terdapat beberapa hama yang sering mengganggu tanaman lengkeng, antara lain trusuk yang menyerang bagian batang, terutama batang pokoknya, yakni dengan cara membuat lubang dan masuk ke dalamnya. Apabila jumlahnya sangat banyak, pohon lengkeng yang diserang tentu terdapat lubang yang sangat banyak pula sehingga menunjukkan perubahan pada warna daunnya yakni menjadi kuning dan akhirnya rontok, cabang cabang menjadi kering dan mengakibatkan kematian. Pemberantasan hama trusuk dapat dilakukan dengan penyemprotan insektisida pada batang yang telah terserang hama tersebut. Namun akan lebih baik jika dilakukan pencegahan secara dini sebelum terserang yakni dengan penyemprotan insektisida terhadap batang batang lengkeng yang sehat, terutama batang pokoknya. Kelengkeng juga dapat diserang oleh penghisap buah (Tessarotoma javanica) sehingga terdapat tanda tusukan berwarna hitam pada buah kelengkeng. Buah tampak keriput karena cairan buah dihisap hama ini. Bahkan banyak buah yang terdapat kopong/ tidak berisi. Hal ini menyebabkan produksi buah lengkeng menurun karena banyaknya buah yang busuk . Untuk mengatasi gangguan penghisap buah (Tessarotoma javanica) maka buah kelengkeng pada tiap malainya harus dibrongsong dengan anyaman bambu atau tepes kelapa. Diana (2010) mengatakan bahwa kelelawar juga termasuk hama yang merugikan petani karena memakan buah-buahan masak dan merontokkan buah-buah muda. Untuk mengatasi gangguan kelelawar maka buah lengkeng pada malainya harus diberongsong dengan anyaman bambu atau tepes kelapa. Salah satu penyakit yang sering mengganggu tanaman lengkeng adalah jamur. Penyakit ini

pada umumnya menyerang batang pohon lengkeng, terutama batang pokoknya. Pemberantasannya dapat dilakukan dengan penyemprotan fungisida pada batang yang terserang. 2. Kenikir a. Kriteria Pemanenan Berdasarkan hasil pengamatan, kenikir yang siap di panen memiliki tinggi sekitar 120 cm dan warna pada kenikir biasanya hijau segar, tekstur batangnya keras, daunnya segar dan batangnya tidak kaku. Pambayun (2008) mengungkapkan bahwa tanaman kenikir dapat tumbuh dengan baik pada daerah dengan sinar matahari penuh di dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian 1 600 m dpl. Perbanyakan kenikir dapat dilakukan melalui biji di persemaian yang kemudian dapat dipindahkan ke lapangan setelah tiga minggu. Pengaturan drainase dan irigasi yang baik dapat mendukung pertumbuhan kenikir. Kondisi tanah yang terlalu lembab dapat memicu perkembangan cendawan yang mengganggu pertumbuhan tanaman kenikir. Pemanenan daun kenikir dapat dilakukan setelah tanaman berumur enam minggu. Apabila daun-daunnya dipetik, tunas baru akan cepat tumbuh untuk menggantikannya. Tanaman kenikir dipanen dengan ukuran 27-30 cm dari tanaman yang paling muda dan terdapat 6-8 helai daun. b. Metode Pemanenan Dari hasi pengamatan kenikir dipanen dengan cara dipotong sampai tangkai paling bawah sekitar 30-40 cm kemudian dicelupkan ke dalam air agar lalu diikat menjadi satu. Kenikir dapat dipanen setelah disemai selama dua minggu dan ditanam di lahan selama enam minggu. Berdasarkan percobaan identifikasi terhadap tanaman kenikir yang dilakukan oleh Rahanita (2009), metode panen

tanaman kenikir yang dilakukan adalah dengan cara memotong cabang muda yang telah berukuran 30 cm sepanjang 15-20 cm, kemudian disatukan hingga terkumpul segenggam lalu diikat.

Berdasarkan teori dari Yunita (2011) pengikatan (bunching) dilakukan pada sayuran daun untuk memudahkan penanganan dan mengurangi kerusakan. Pencucian (washing) dilakukan pada sayuran daun yang tumbuh dekat tanah untuk membersihkan kotoran yang menempel dan memberi kesegaran. Selain itu dengan pencucian juga dapat mengurangi residu pestisida dan hama penyakit yang terbawa. Pencucian disarankan menggunakan air yang bersih, penggunaan desinfektan pada air pencuci sangat dianjurkan. c. Permasalahan Pemanenan Menurut survey lapangan, kerusakan pada kenikir biasanya disebabkan oleh hawa wereng sehingga daun dan batang kenikir berlubang. Menurut Sunanto (1997) selain hama wereng, kutu batang

(Psedaulacapsis pentagona) dapat menyerang tanaman kenikir. Serangga ini termasuk ordo Hemiptera, menyerang tanaman kenikir yang terlindungi oleh pohon-pohon besar atau karena kondisi lembab. Bentuk nimpha dan dewasa terdapat padacabang atau batang, menghisap cairan tanaman menyebabkan kulit cabang atau batang menjadi putih keabu-abuan. Jika serangan cukup berat akan menyebabkan kematian tanaman . Kutu daun, Mealy Bug (Meconellicoccus hirsutus) merupakan serangga ini termasuk ordo Hemiptera, mengalami metamorfosa tidak sempurna, badannya ditutupi oleh tepung putih. Siklus hidup kira-kira 35 hari, nimpha dan dewasa mengeluarkanembun madu yang menyebabkan semut berdatangan atau embun tersebut dapat menjadi media tumbuh cendawan Septobasidium dan diikuti dengan cendawan (Corticidium ) yang berwarna hitam.Kutu ini merusak daun, kuncup dan tunas muda dengan menghisap cairan, sehinggapertumbuhan pucuk terhalang atau terhenti. Daun mengkerut, keriting dan berubah

bentuk.Pertumbuhan tunas terhenti, kuncup daun membengkak, ruas antara pucuk daun menjadi pendek yang mengakibatkan cabang membengkak tidak dapat berkembang serta mudah patah

F. KESIMPULAN DAN SARAN a. Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil praktikum Acara I Proses Panen Hasil Pertanian adalah: 1. Kelengkeng termasuk buah non-klimakterik sehingga harus dipanen matang di pohon karena tidak dapat diperam. 2. Panen pada kelengkeng varietas lokal harus sudah memiliki warna kulit coklat tua, rasa buahnya manis dengan derajad brix minimal 14 dan umur buah kelengkeng tersebut mencapai 6 bulan. 3. Buah kelengkeng dipanen dengan cara memotong malai/tandan buah dengan gunting bertangkai panjang, atau butiran buah dipanen langsung dari tandannya dan ditempatkan dalam keranjang plastik atau bambu. 4. Hama penggerek batang yang menimbulkan kerusakan pada tanaman kelengkeng adalah Zeuzera coffeae Neitner. 5. Hama yang sering mengganggu tanaman lengkeng, antara lain trusuk yang menyerang bagian batang dan penghisap buah (Tessarotoma javanica) sehingga terdapat tanda tusukan berwarna hitam pada buah kelengkeng. 6. Pemanenan daun kenikir dapat dilakukan setelah tanaman berumur enam minggu. 7. Tanaman kenikir dipanen dengan ukuran 27-30 cm dari tanaman yang paling muda dan terdapat 6-8 helai daun. 8. Metode panen tanaman kenikir yang dilakukan adalah dengan cara memotong cabang muda yang telah berukuran 30 cm sepanjang 1520 cm, kemudian disatukan hingga terkumpul segenggam lalu diikat menjadi satu. 9. Kerusakan pada kenikir biasanya disebabkan oleh hawa wereng, kutu batang (Psedaulacapsis pentagona) dan Kutu daun Mealy Bug (Meconellicoccus hirsutus).

DAFTAR PUSTAKA

Ajaykumar, 2012. Anti-Inflammatory Activity Of Cosmos Caudatu.International Journal Of Universal Pharmacy And Bio Sciences Crane, Jonathan H et. al. 2005. Longan Growing in the Florida Home Landscape. University of Florida IFAS Extension. Diana. 2010. Kelengkeng. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor Hatta, Sunanto, 1990. Budidaya Kelengkeng. Kanisius. Yogyakarta. Jiang, Yueming, 2002. Postharvest Biology And Handling Of Longan Fruit (Dimocarpus Longan Lour.). Journal Postharvest Biology And Technology 26 (2002) 241252 Damicone, John dan Warren Roberts. 1990. Diseases of Leafy Crucifer Vegetables. Oklahoma State University. Division of Agricultural Sciences and Natural Resources Kamza. 2008. Hama Utama Pada Tanaman Lengkeng (Dimocarpus longan L.) Pambayun, Ratna. 2008. Pengaruh Jarak Tanam Terhadap Produksi Beberapa Sayuran Indigenous. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor Prawitasari, Theresia. 2002. Perkembangan Struktur Meristem Reproduktif Pada Proses Pembungaan Tanaman Lengkeng. Jurnal Hayati, Him. 119-124 ISSN 0854-8587 Vol. 9, No.4. Rasdi, Nor Haripah. Antimicrobial studies of Cosmos caudatus Kunth (Compositae. Journal of Medicinal Plants Research Vol. 4(8), pp. 669673 Rahanita, Prima. 2009. Pengaruh Pupuk Organik pada Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kenikir (Cosmos caudatus) dan Katuk (Sauropus androgynus). Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor R. C, Ploetz. 2008. Tropical Fruits Crop and The Diseases That Affect Their Production. International Commission on Tropical Biology and Natural Resources Sastrapradja, S. 1979. Tanaman Pekarangan. Lembaga Biologi Nasional-LIPI: Bogor.

Soesanto, Loekas. 2006. Penyakit Pasca Panen. Kasinius: Yogyakarta. Sugiyanto A dan B. D Mariana. 2006. Karakteristik Lengkeng Dataran Rendah. Jurnal Iptek Hortikultura No 2 Sunarjo, Hendro. 2006. Berkebun 21 jenis Tanaman Buah. Penebar Swadaya. Depok. Yulianto, 2008. Teknologi Perangsangan Pembungaan Tanaman Kelengkeng Umur Produktif Dengan Cara Perundukan Dahan. Jurnal Hortikultura. Yulianto dan Endang Iriani. 2007. Teknologi Pengendalian Hama Penggerek Batang Pada Tanaman Kelengkeng. JPPTP 10(3) Yunita, Ina et. al. 2011. Panen dan Pasca Panen. Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang