Anda di halaman 1dari 7

Human Papiloma Virus

Definisi Human Papilomavirus (HPV) adalah penyebab infeksi menular seksual terbanyak di Amerika. HPV ditransmisikan dari kontak genital ke genital, vaginal atau anal juga hubungan seksual, atau oral seks. Baru-baru ini 50% pria dan wanita yang merupakan orang yang sangat aktif secara seksual pernah menderita penyakit ini dalam hidupnya. Infeksi dari human papilomavirus sangat berhubungan dengan kangker serviks dan perilaku seksual yang telah terjadi lebih dari 100 tahun, dan penelitian tentang epidemiologinya telah dimulai dari tahun 1960. Penelitian epidemiologi menemukan hubungan yang konsisten antara HPV dan kangker serviks yang telah dipublikasikan pada tahun 1990 (Marietta, 2010). Etiologi Human Papilomavirus (HPV) adalah virus berukuran mikro yang merupakan golongan virus DNA non envelope. HPVs menginfeksi dan bereplikasi pada lapisan kulit dan mukosa jaringan ephitel. Ada 40 tipe HPV pada mukosa ephitel yang telah diklasifikasikan berdasarkan sekuens genetiknya (NCIRS, 2013). Semua tipe tersebut merupakan tipe virus yang menyerang sel epithel. Virus HPV yang menginfeksi mukosa dapat diklasifikasikan ke high risk dan low risk tipe. Tipe low risk dapat menginfeksi dan membuat kulit berkembang menjadi neoplasma jinak, dan high risk dapat berkembang menjadi neoplasma ganas (Marietta, 2010). Struktur Genomik Virus Bentuk DNA HPV adalah sirkular, rantai ganda, dan mengandung sekitar 8000 pasang basa. Genom DNAnya dapat dibagi ke dalam tiga area: long control region (LCR), early region (E), dan late region (L) (Alba A, 2009).

Gambar peta genetik virus HPV tipe 16 (Alba A, 2009) Gen LCR berperan dalam 15% genomic virus dan mengandung promotor, yang akan menginisiasi replikasi dan mengontrol transkripsi gen virus. Region ini dibagi menjadi dua: RE, diregulasi oleh adanya protein E2 virus dan merupakan asal dari replikasi DNA virus; dan EC (cellular enhancer), berperan pula dalam transkripsi gen virus. Gen E berperan dalam 45% genomic virus dan mengandung 7 regio open reading, mengkode protein non-struktural, yang berfungsi untuk mengontrol replikasi DNA dan menginduksi transformasi sel host menjadi bentuk maligna. Gen L berperan dalam 40% genomic virus dan mengandung dua gen yang mengkode protein struktural kapsid: L1, memproduksi protein 54,000 d merupakan bentuk protein dengan jumlah terbesar, dan L2 yang memproduksi jumlah protein yang lebih sedikit (Alba A, 2009). Epidemiologi Lebih dari 20 juta penduduk di Amerika atau 15 persen dari populasinya dilaporkan telah terinfeksi oleh virus HPV, dengan estimasi sekitar 6,2 juta penduduk yang mengalami infeksi HPV baru yang didiagnosis setiap tahun pada orang dengan rentang usia 14-44 tahun. Kasus baru yang terjadi sekitar 74%, dari 4.6 juta penduduk usia muda dan dewasa 15-24 tahun. Prevalensi terbanyak pada wanita usia 14-19 tahun (Marietta, 2010).

Pathogensis Terjadi dengan cara kontak kulit ke kulit atau mukosa dengan mukosa. Kemungkinan infeksi yang terjadi pada hubungan seksual, relatif tinggi, belum diketahui perbedaan dari tiap tipe dari HPV untuk probablitasnya. Sirkumsisi pada pria dapat menurunkan infeksi HPV dan carierrnya, kemungkinannya berhubungan dengan keratinisasi dari epithelium, yang diturunkan transmisinya. Transmisi HPV dapat meningkat seiring dengan peningkatan aktivitas seksual (Schiffman, 2007).

Gambar mekanisme infeksi HPV (Conway, 2009) Virion dari HPV dapat menginfeksi sel epithel basal dengan mendapatkan akses melalui abrasi secara mikroskopis pada jaringan. Pada pembuatannya, genom virus mengandung lebih dari 20-100 copy episomal per sel. Jika virus telah masuk, maka ia akan transit melalui lapisan kulit ke lapisan sel basal yang aktif bermitosis. Pada lapisan membran basal, terjadi ekspresi gen virus dan amplifikasi dari genom virus, yang diikuti dengan virion pirogen. Siklus hidup dari virus HPV dapat dijelaskan dari pathogenesis virus tersebut. Yang termasuk dalam hal ini adalah jalur infeksinya, transmisi, imunogenitas, dan struktur virusnya, penelitian terbaru telah dilakukan dengan menggunakan partikel papilomavirus sintetis, seperti Virus Like Particles (VLPs), papilomavirus berbasis transfer vector atau yang disebut juga dengan (PsV), dan papilomavirus genom yang mengandung quarisivirions (QV), dengan bypass yang diperlukan untuk menstratifikasi dan membedakan jaringan mana yang memproduksi HPV secara alami dan menfasilitasi secara cepat (Conway, 2009).

Manifestasi Klinis Kondiloma akuminata juga dikenal sebagai genital wart atau kutil kelamin, papilloma venereal atau kutil venereal merupakan karakteristik dari adanya ekskresi berlebihan yang ditemukan pada membran mukosa pada area anogenital. Kondiloma kuminata akan muncul pada area membrane mukosa atau kulit yang terinfeksi oleh virus HPV. Kondiloma akuminata biasanya berbentuk eksopitik seperti bunga kol, yang pada umumnya bercabang atau papular, dengan dasar sessile, dan kadang juga rata. Pada membran mukosa, kondiloma akuminata terlihat sebagai lesi yang hiperplastik, gemuk atau besar dan lengas atau berlembah, dengan warna merah muda atau putih, karena terjadi maserasi kulit (Tapia, 2009). Manifestasi pada Pria Pada genitalia pria, area yang paling sering terkena adalah bagian frenulum, lipatan balanopreputial, dan membran mukosa penis. Lokasi ini kemungkinan berhubungan dengan area yang terekspos trauma paling besar pada saat koitus. Selain bagian tersebut, uretra juga dapat terinfeksi, tetapi hanya pada bagian anterior, umumnya pada segmen pertamanya, dan jarang mengenai segmen yang lebih jauh ke dalam. Kondiloma akuminata juga dapat ditemukan di skrotum dan area perigenital, sekalipun pada bentuk sub-klinis (Tapia, 2009).

Gambar kondiloma akuminata pada gland dan preputium penis (Tapia, 2009)

Gambar kondiloma scrotal (Tapia, 2009) Manifestasi pada Wanita Kondiloma akuminata eksopitik pada wanita, biasanya, pertama kali ditemukan pada bagian fouchette serta labia mayora dan minora, berhubungan dengan infeksi yang menyebar dengan cepat pada area vulva, dan bahkan pada area perineum dan perianal. Di vulva dan perineum, bentuk lesinya dapat diamati sebagai kondiloma eksopitik atau lesi popular, mikropapiler atau macular (Tapia, 2009).

Gambar kondiloma akuminata pada fouchette dan perineum (Tapia, 2009) Sangat penting untuk diketahui bahwa tidak semua kasus infeksi virus HPV dapat terlihat secara kasat mata. Lesi dapat muncul secara subklinis sebagai lesi yang rata dan multipel. Temuan klinis yang tidak signifikan untuk infeksi virus HPV inilah yang dapat menyebabkan penyebaran dan keadaan persistennya, karena tidak terdiagnosis, hingga pada akhirnya dapat berhubungan dengan terjadinya kanker genitalia, yang pada umumnya terjadi pada wanita. Lesi ini dapat diamati dengan menggunakan asam asetat yang dapat diikuti dengan melihat menggukan kolposkop (Tapia, 2009).

Diagnosis Diagnosis HPV dapat ditegakkan melalui kultur dari sampel yang telah diisolasi. Infeksi dapat dideteksi melalui deteksi DNA HPV dari sampel klinis. Penilaian dari HPV dideteksi melalui spesifitas dan sensitivitasnya dan juga penilaian berdasarkan sampel regio anatomi yang diambil. Diagnosis dari HPV juga dapat ditegakkan melalui test PAP Smear, melalui pengambilan sampel dari serviks yang diduga terinfeksi oleh virus HPV (Marietta, 2010). Penatalaksanaan Tidak terdapat penatalaksanaan yang spesifik untuk infeksi HPV. Manajemen secara medis dan pengobatan secara spesifik bergantung pada manifestasi klinis dari daerah yang terinfeksi (seperti daerah genital atau sel serviks yang abnormal). Gejala kutil pada genital dan lesi pre-kanker dapat dihilangkan melalui prosedur medis seperti cryoterapi, electrocautery, terapi laser, maupun eksisi secara surgical. Kutil genital juga dapat diobati dengan medikasi topical. Kanker serviks dan HPV dapat diobati dengan pengobatan farmakologi maupun operatif, jika dapat didiagnsis lebih dini (Marietta, 2010). Komplikasi Infeksi virus HPV terutama tipe yang bersifat karsinogenik dapat berkomplikasi pada kanker serviks jika tidak ditangani dengan baik. Prognosis Prognosisnya buruk jika telah terjadi kangker berstadium lanjut yang telah bermetastasis ke seluruh tubuh, sehingga deteksi secara dini dan pencegahan sangat diperlukan dalam penanganan penyakit ini. Prevensi Transmisi HPV dapat diturunkan melalui penggunaan barrier secara fisik contohnya dengan penggunaan kondom. Penelitian terbaru mendapatkan bahwa terjadi penurunan signifikan pada infeksi HPV pada wanita yang aktif secara seksual, dengan partnernya yang menggunakan kondom secara konsisten dan benar. Abstain terhadap aktivitas seksual juga dapat menurunkan infeksi HPV genital. Setia terhadap satu pasangan yang tidak terinfeksi dapat mencegah penyakit ini (Marietta, 2010).

Daftar Pustaka Alba A, et al. 2009. The Human Papillomavirus (HPV) in Human Pathology: Description, Pathogenesis, Oncogenic Role, Epidemiology and Detection Techniques. The Open Dermatology Journal vol 3: pp. 90-102. Conway MJ & Meyers C. 2009. Replication and Assembly of Human Papilomavirusses. J Dent Res vol 88 (4): pp. 307-17. Marietta, Cynthia. 2010. High Incidence of HPV in Minors Spotlights Need for State Legislators to Consider Amending Child Consent to Treatment Laws. Texas: University of Houston Law Center: pp. 1-8. NIRCS. 2013. Human Papilomavirus (HPV) : Human Papilomavirus (HPV) Vaccines for Australians: Information For Imunisations Providers. NCIRS Fact Sheet: pp. 1-7. Schiffman M, et al. 2007. Human Papilomavirus and Cervical Cancer. Lancet vol 370 (9590): pp. 890-907.