Anda di halaman 1dari 20

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Persalinan prematur/preterm adalah persalinan yang berlangsung pada usia kehamilan 20
37 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir (ACOG 1995). Himpunan
Kedokteran Fetomaternal POGI di Semarang tahun 2005 menetapkan bahwa persalinan
preterm adalah persalinan yang terjadi pada usia kehamilan 22 37 minggu. Ancaman
Partus Prematurus (APP) adalah adanya suatu ancaman pada kehamilan yaitu timbulnya
tanda-tanda persalinan pada usia kehamilan yang belum aterm (20 37 minggu).
1

Persalinan prematur merupakan penyebab utama kematian dan kesakitan bayi
prematur. WHO menyatakan bahwa bayi prematur adalah bayi yang lahir pada usia
kehamilan 37 minggu atau kurang. Persalinan prematur berkisar 6-10% dari seluruh
kehamilan dan merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian perinatal tanpa
kelainan kongenital yaitu 75% dari seluruh kematian perinatal.
(12)
Indonesia memiliki
angka kejadian partus prematurus sekitar 19% dan merupakan penyebab utama kematian
perinatal.
2
Setiap tahun, diperkirakan 15 juta bayi lahir prematur (sebelum 37 minggu usia
kehamilan), dan jumlah ini meningkat. Lebih dari 1 juta bayi meninggal setiap tahun dari
komplikasi kelahiran prematur. Secara global kelahiran prematur merupakan penyebab
utama kematian bayi baru lahir (bayi dalam empat minggu pertama kehidupan) dan
penyebab utama kedua kematian setelah pneumonia pada anak di bawah lima tahun. Di
184 negara, tingkat kelahiran prematur berkisar antara 5% sampai 18% dari bayi yang
lahir. Indonesia termasuk dalam 10 negara yang memiliki angka kelahiran bayi prematur
terbesar, yaitu 15,5 per 100 bayi lahir hidup.
2
Angka kejadian persalinan preterm pada umumnya adalah sekitar 6 10%. Hanya
1,5% persalinan terjadi pada umur kehamilan kurang dari 32 minggu dan 0,5% pada
kehamilan kurang dari 28 minggu. Namun, kelompok ini merupakan dua pertiga dari
kematian neonatal. Kesulitan utama dalam persalinan preterm ialah perawatan bayi
preterm, yang semakin muda usia kehamilannya semakin besar morbiditas dan mortalitas.
Sampai saat ini mortalitas dan morbiditas neonatus pada bayi preterm/prematur masih
sangat tinggi. Hal ini berkaitan dengan maturitas organ pada bayi lahir seperti paru, otak,
dan gastrointestinal. Di negara Barat sampai 80% dari kematian neonatus adalah akibat
2

prematuritas, dan pada bayi yang selamat 10% mengalami permasalahan dalam jangka
panjang. Penyebab persalinan preterm sering dapat dikenali dengan jelas. Namun, pada
banyak kasus penyebab pasti tidak dapat diketahui. Beberapa faktor pada ibu, faktor janin
dan plasenta, ataupun faktor lain seperti sosioekonomik.
1-2
Pendekatan obstetrik yang baik terhadap persalinan preterm akan memberikan
harapan terhadap ketahanan hidup dan kualitas hidup bayi preterm. Di beberapa negara
maju Angka Kematian Neonatal pada persalinan prematur menunjukkan penurunan, yang
umumnya disebabkan oleh meningkatnya peran neonatal intensive care dan akses yang
lebih baik dari pelayanan ini. Di Amerika Serikat bahkan menunjukkan kemajuan yang
dramatis berkaitan dengan meningkatnya umur kehamilan, dengan 50% neonatus selamat
pada persalinan usia kehamilan 25 minggu, dan lebih dari 90% pada usia 28-29 minggu.
1
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa umur kehamilan dan berat bayi lahir
saling berkaitan dengan risiko kematian perinatal. Pada kehamilan umur 32 minggu
dengan berat bayi > 1500 gram keberhasilan hidup sekitar 85%, sedang pada umur
kehamilan sama dengan berat bayi < 1500 angka keberhasilan sebesar 80%. Pada umur
kehamilan < 32 minggu dengan berat lahir < 1500 gram angka keberhasilan hanya sekitar
59%. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan persalinan preterm tidak hanya tergantung
dari umur kehamilan, tetapi juga berat bayi lahir.
1
Permasalahan yang terjadi pada persalinan preterm bukan saja pada kematian
perinatal, melainkan bayi prematur ini sering pula disertai dengan kelainan, baik kelainan
jangka pendek maupun jangka panjang. Kelainan jangka pendek yang sering terjadi
adalah: RDS (Respiratory Distress Syndrome), perdarahan intra/periventrikular, NEC
(Necrotizing Entero Cilitis), displasi bronko-pulmonar, sepsis, dan paten duktus
arteriosus. Adapun kelainan jangka panjang sering berupa kelainan neurologik seperti
serebral palsi, retinopati, retardasi mental, juga dapat terjadi disfungsi neurobehavioral
dan prestasi sekolah yang kurang baik.
1








3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Persalinan prematur/preterm adalah persalinan yang berlangsung pada usia kehamilan 20
37 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir (ACOG 1995). Himpunan
Kedokteran Fetomaternal POGI di Semarang tahun 2005 menetapkan bahwa persalinan
preterm adalah persalinan yang terjadi pada usia kehamilan 22 37 minggu. Ancaman
Partus Prematurus (APP) adalah adanya suatu ancaman pada kehamilan yaitu timbulnya
tanda-tanda persalinan pada usia kehamilan yang belum aterm / preterm (20 37
minggu).
1


B. ETIOLOGI
Ancaman persalinan prematur merupakan suatu keadaan yang multifaktorial. Kombinasi
keadaan obstetrik, sosiodemografi, dan faktor medik mempunyai pengaruh terhadap
terjadinya persalinan prematur. Kadang hanya risiko tunggal yang dijumpai seperti
distensi berlebih uterus, ketuban pecah dini, atau trauma. Banyak kasus persalinan
prematur sebagai akibat dari proses patogenik yang merupakan mediator biokimia yang
mempunyai dampak terjadinya kontraksi rahim dan perubahan serviks, yaitu:
1
1. Aktivasi aksis kelenjar hipotalamus-hipofisis-adrenal baik pada ibu maupun janin,
akibat stres pada ibu atau janin
2. Inflamasi desidua-korioamnion atau sistemik akibat infeksi asenden dari traktus
genitourinaria atau infeksi sistemik
3. Perdarahan desidua
4. Peregangan uterus patologik
5. Kelainan pada uterus atau serviks
Dengan demikian, untuk memprediksi kemungkinan terjadinya persalinan
prematur harus dicermati berbagai kondisi yang dapat menimbulkan kontraksi, sehingga
menyebabkan persalinan prematur atau seorang dokter terpaksa mengakhiri kehamilan
pada saat usia kehamilan belum cukup bulan.
1



4

C. FAKTOR PREDISPOSISI
a. Faktor Ibu
1. Infeksi Bakteri
Terdapat korelasi yang kuat antara infeksi dalam uterus dan mulainya permulaan
persalinan preterm spontan. Infeksi pada selaput dan cairan amnion disebabkan
oleh berbagai mikroorganisme dapat menyebabkan beberapa kasus seperti ketuban
pecah, persalinan prematur, atau keduanya. Infeksi dalam uterus memiliki potensi
untuk mengaktivasi semua jalur biokimia yang mengarah pada pematangan
serviks dan kontraksi uterus. Infeksi dari darah dari tempat lain jarang terjadi.
3-4

Telah diketahui bahwa kelemahan atau pendeknya serviks merupakan
faktor utama terjadinya risiko infeksi asenden bakteri. Namun, terdapat
kemungkinan juga bahwa dengan jumlah patogen yang tinggi dalam vagina,
bakteri dapat memperoleh akses menuju daerah uterus melalui leher uterus yang
berfungsi normal, di mana bakteri tersebut mengaktifkan mediator inflamasi yang
membuat serviks menjadi matang dan memendek. Bakteri mungkin juga
mendapatkan akses menuju rongga ketuban melalui penyebaran secara hematogen
atau melalui bersamaan dengan dilakukannya prosedur yang invasif.
3-4

Produk-produk bakteri seperti endotoksin merangsang monosit desidua
untuk memproduksi sitokin, termasuk interleukin-1, faktor nekrosis tumor, dan
interleukin-6, yang pada gilirannya merangsang asam arakidonat dan kemudian
memproduksi prostaglandin. Prostaglandin E2 dan F2 bertindak sebagai parakrin
untuk merangsang kontraksi miometrium.
3-4

Faktor pengaktif trombosit juga ikut berperan dalam aktivasi jaringan
sitokin, yang ditemukan di dalam cairan amnion. Faktor pengaktif trombosit
diperkirakan diproduksi di dalam paru dan ginjal janin. Oleh karenanya, janin
tampaknya memainkan suatu peran sinergistik untuk inisiasi kelahiran preterm
yang disebabkan oleh infeksi bakterial. Secara teoritis, hal ini kemungkinan
menguntungkan bagi janin yang ingin melepaskan dirinya dari lingkungan yang
terinfeksi.
3-4


2. Gaya Hidup
Faktor-faktor yang menyebabkan kelahiran prematur (terutama kelahiran prematur
spontan) masih belum diketahui dan diapahami dengan baik. Walaupun jalur yang
5

tepat antara merokok selama kehamilan dan kelahiran prematur tidak diketahui,
para peneliti berteori bahwa salah satu mekanisme yang dapat diperkirakan ialah
gangguan aliran darah plasenta akibat nikotin dan karbon monoksida, yang
merupakan vasokonstriktor yang poten pada pembuluh plasenta.
5-6

Plasenta dari ibu yang perokok telah terbukti menjadi lebih besar, dengan
meningkatnya luas permukaan plasenta, dan memiliki karakteristik lesi-lesi
sebagai akibat kurangnya perfusi dari uterus. Merokok dapat menyebabkan
perubahan sel endotel yang kemudian menyebabkan vasokonstriksi dan kekakuan
dinding arteriol, dengan perfusi yang kurang dari plasenta. Hal ini, dapat
mengakibatkan iskemia dari desidua basalis, yang kemudian menjadi nekrosis dan
terjadi perdarahan.
6
Karbon monoksida dalam asap rokok dapat mengganggu oksigenasi janin
dengan membentuk carboxyhemoglobin, dan nikotin dapat meningkatkan tekanan
darah ibu dan detak jantung, juga menghambat aliran darah ke janin, sehingga
pada ibu perokok sering dapat membuat pertumbuhan janin terganggu dan
melahirkan dengan berat badan bayi yang rendah.
6

Komplikasi plasenta dapat berupa perdarahan, terutama placenta
abruption (solutio plasenta) dan, yang lebih sedikit, ialah plasenta previa,
merupakan faktor yang penting dalam predisposisi kelahiran prematur dan bayi
lahir mati pada ibu yang merokok selama kehamilan.
6

Dalam sebuah penelitian ditemukan faktor-faktor ibu lain yaitu ibu terlalu
muda atau lanjut usia; kemiskinan; penggunaan alcohol, dan faktor-faktor seperti
pekerjaan lama berjalan atau berdiri, kondisi kerja berat dan panjang
meningkatkan insidensi kelahiran prematur.
7
Pada ibu yang terlalu tua terjadi lesi sklerotik (proses ateriosklerosis) pada
arteri miometrium sehingga dapat menyebabkan perfusi yang kurang dari plasenta
mengarah pada risiko yang lebih tinggi pada hasil mortalitas dan morbiditas
perinatal. Perfusi yang kurang dapat mengakibatkan iskemia dari desidua basalis,
yang kemudian menjadi nekrosis dan terjadi perdarahan.
5-6

Hipotesis bahwa adanya hubungan yang buruk antara usia ibu yang terlalu
muda dan pendarahan vagina pada awal kehamilan disebabkan adanya bagian ke
ketidakdewasaan dari sumbu hipothalamus-hipofisis-gonad saat menarche dan
adanya hubungan ginekologis yang terbalik antara usia dan kadar progesteron
6

selama fase luteal dari ovulasi siklus menstruasi. Dan terjadinya pendarahan
vagina dikaitkan dengan peningkatan insiden kelahiran premature.
8


3. Perdarahan
Abruptio plasenta atau solutio plasenta dapat mengakibatkan terjadinya prematur
pelahiran. Ini terjadi melalui pengeluaran trombin yang merangsang kontraksi
miometrium oleh reseptor yang diaktivasi protease tetapi secara independen juga
disebabkan sintesis dari prostaglandin. Ini menjelaskan kesan klinis bahwa
persalinan preterm berkaitan dengan chorionamnionitis sering cepat sedangkan
yang berhubungan dengan plasenta abruptio ialah kurang begitu karena pada
abruptio plasenta tidak ada proses kematangan (preripening) serviks uterus.
Pembentukan trombin mungkin juga mempunyai peran dalam persalinan prematur
yang disebabkan karena chorionamnionitis ketika dilepaskannya trombin sebagai
akibat dari perdarahan desidua.
6
Plasenta previa ditandai dengan perdarahan yang tidak nyeri, yang tidak
muncul sampai trimester II akhir atau setelahnya. Mekanismenya adalah sebagai
berikut setelah bulan ke-4 terjadi regangan pada dinding uterus karena isi uterus
lebih cepat tumbuhnya dari uterus sendiri, akibatnya ialah bahwa isthmus uteri
tertarik menjadi dinding cavum uteri (segmen bawah uterus). Pada plasenta
previa, ini tidak mungkin tanpa pergeseran antara plasenta dan dinding uterus, saat
perdarahan tergantung pada kekuatan insersi plasenta dan kekuatan tarikan pada
isthmus uteri. Jadi dalam kehamilan tidak perlu ada his untuk menimbulkan
perdarahan tapi sudah jelas dalam prsalinan his pembukaan menyebabkan
perdarahan karena bagian plasenta di atas akan terlepas pada dasarnya.
4,9


4. Kelainan Uterus
Uterus yang tidak normal menganggu resiko terjadinya abortus spontan dan
persalinan prematur. Pada serviks inkompeten dimana serviks tidak dapat
menahan kehamilan terjadi dilatasi serviks mengakibatkan kulit ketuban menonjol
keluar pada trimester 2 dan awal trimester 3 dan kemudian pecah yang biasanya
diikuti oleh persalinan. Terdapat penelitian menyatakan bahwa risiko terjadinya
persalinan prematur akan makin meningkat bila serviks < 30 mm. Hal ini
7

dikaitkan dengan makin mudahnya terjadi infeksi amnion bila serviks makin
pendek.
6


5. Penyakit Sistemik
Ibu dengan penyakit sistemik kronis misalnya: diabetes mellitus, penyakit jantung,
hipertensi, penyakit ginjal dan paru kronis meningkatkan resiko terjadinya
kelahiran prematur.
6,8


6. Senggama
Prostaglandin yang terlibat dalam mekanisme orgasme serta ada dalam cairan
seminal dapat merangsang pematangan serviks dan kontraksi miometrium
sehingga menyebabkan persalinan kurang bulan pada ibu yang sensitif.
6


7. Riwayat Obstetri
Riwayat persalinan prematur dan abortus merupakan faktor yang berhubungan
sangat erat dengan persalinan prematur berikutnya. Penderita yang pernah
mengalami 1 kali persalinan premature mempunyai resiko 37% untuk mengalami
persalinan prematur lagi dan penderita yang pernah mengalami persalinan
prematur 2 kali atau lebih mempunyai resiko 70% untuk mengalami persalinan
prematur.
6,8


b. Faktor Janin
1. Kehamilan ganda dan Hidramnion
Distensi uterus berlebihan sering menyebabkan persalinan prematur. Usia
kehamilan makin pendek pada kehamilan ganda, 25% bayi kembar 2, 50% bayi
triplet dan 75% bayi kuadriplet lahir 4 minggu sebelum kehamilan cukup bulan.
6
Patogenesis
Beberapa kehamilan mungkin mengarah pada kelahiran prematur melalui
setidaknya dua mekanisme. Over-distensi uterus mengarah ke regulasi prematur
terkait dengan kontraksi yang disebabkan oleh protein-protein dan faktor yang
memediasi kematangan cervix, yang seluruhnya menunjukkan adanya kepekaan
terhadap regangan mekanis. Kehamilan kembar yang berhubungan dengan jumlah
8

beberapa plasenta sehingga terjadi peningkatan CRH yang lebih awal dalam
sirkulasi dibandingkan dengan janin yang tunggal.
6


2. Stress pada ibu dan janin
Ada bukti bahwa janin dan ibu yang stres mungkin menjadi faktor risiko
persalinan prematur. Janin stres mungkin timbul dalam hubungannya dengan
terhambatanya pertumbuhann. Ibu stres dapat disebabkan oleh faktor-faktor
lingkungan. Pada kedua kasus tersebut dipostulasikan bahwa sekresi berlebih dari
kortisol menyebabkan meningkatnya regulasi dari produksi CRH dalam plasenta.
6


c. Faktor Lain
1. Genetik
Sifat keluarga, riwayat prematur dan sifat rasial kelahiran prematur telah diketahui
bahwa genetika mungkin memainkan peran dalam menyebabkan persalinan
preterm. Gen untuk relaksin desidua merupakan salah satu kandidat. Defek pada
protein trifunctional mitokondria defek janin atau polimorfisme dalam kompleks
gen interleukin-1, reseptor 2-adrenergik, atau faktor nekrosis tumor (TNF)
mungkin juga terlibat dalam ruptur membran yang prematur.
7

Untuk saat ini, hubungan antara polimorfisme dalam calon gen dan risiko
kelahiran prematur adalah moderat. Misalnya, variasi dalam reseptor progesteron
telah terlibat sebagai faktor risiko ibu dalam sebuah penelitian, tetapi tidak dalam
penelitian lainnya. Demikian juga, meskipun polimorfisme dalam gen yang
mengkode sel inflamasi sitokin pada awalnya diidentifikasi sebagai faktor risiko
yang mungkin dapat terjadi, namun hubungan yang konsisten dengan kelahiran
prematur belum dapat ditentukan. studi asosiasi Genomewide sekarang sedang
berlangsung terus dan berjanji untuk membuat wawasan baru dalam waktu dekat.
Untuk menjelaskan interaksi antara gen-gen dan gen-lingkungan yang
meningkatkan risiko kelahiran prematur, kohort besar (> 10.000 objek penelitian)
akan diperlukan, terutama jika tujuannya adalah untuk menemukan varian dengan
ukuran efek kecil yang bisa menjelaskan wawasan fisiologis yang baru.
10
Para ilmuwan dari Amerika Serikat berhasil menemukan perbedaan DNA
pada bayi yang lahir prematur. Para peneliti dari US National Institutes of Health
melakukan penelitian terhadap 700 varian DNA pada 190 gen wanita yang
9

melahirkan bayi prematur dan yang melahirkan bayi cukup bulan. Darah tali pusat
bayi mereka juga diperiksauntuk mengetahui variannya. Terungkap bahwa variasi
gen lebih sering ditemukan pada para ibu yang melahirkan bayi prematur dan juga
bayinya. Bayi yang membawa gen "interleukin 6 receptor" cenderung lahir lebih
dini. Gen ini diyakini memegang peran penting dalam mengatur sistem imun
untuk melawan infeksi dan peradangan.Bila terjadi infeksi, gen tersebut akan
mengirim sinyal pada tubuh untuk segera menyiapkan diri pada persalinan. Kadar
gen interleukin 6 yang terlalu tinggi dalam cairan ketuban dan darah bayi diduga
menyebabkan bayi lahir sebelum waktunya meski sebenarnya tidak terjadi
infeksi.
10

D. DIAGNOSIS
Sering terjadi kesulitan dapam menentukan diagnosis ancaman partus prematurus. Tidak
jarang kontraksi yang timbul saat kehamilan tidak benar-benar merupakan ancaman
partus prematurus. Beberapa kriteria yang dapat digunakan sebagai diagnosis ancaman
partus prematurus, yaitu:
1,11,12
- Kontraksi yang berulang sedikitnya setiap 7 8 menit sekali, atau 2 3 kali dalam
waktu 10 menit
- Adanya nyeri pada punggung bawah (low back pain)
- Bercak perdarahan
- Perasaan menekan daerah serviks
- Pada pemeriksaan serviks menunjukkan telah terjadi pembukaan sedikitnya 2 cm,
dan penipisan 50 80%
- Presentasi janin rendah, sampai mencapai spina isiadika
- Selabut ketuban pecah dapat merupakan tanda ancaman partus prematurus
- Terjadi pada usia kehamilan 22 37 minggu
Kriteria yang diusulkan oleh The American Collage of Obstetricians and
Gynecologists untuk mendiagnosis persalinan prematur adalah sebagai berikut:
13
1. Kontraksi yang terjadi dengan frekuensi empat kali dalam 20 menit atau delapan
kali dalam 60 menit plus perubahan progresif pada serviks,
2. Dilatasi serviks lebih dari 1 cm,
3. Pendataran serviks sebesar 80% atau lebih.

10

E. PENCEGAHAN PERSALINAN PREMATUR
Cara utama untuk mengurangi risiko persalinan prematur dapat dilakukan sejak awal,
sebelum tanda-tanda persalinan muncul. Dimulai dengan pengenalan pasien yang
berisiko, untuk diberi penjelasan dan dilakukan penilaian klinik terhadap persalinan
prematur serta pengenalan kontraksi sedini mungkin, sehingga tindakan pencegahan dapat
segera dilakukan. Pemeriksaan serviks tidak lazim dilakukan pada kunjungan antenatal,
sebenarnya pemeriksaan tersebut mempunyai manfaat cukup besar dalam meramalkan
terjadinya persalinan prematur. Bila dijumpai serviks pendek (< 1 cm) disertai dengan
pembukaan yang merupakan tanda serviks matang/inkompetensi serviks, mempunyai
risiko terjadinya persalinan prematur 3 4 kali.
1
Beberapa indikator dapat dipakai untuk meramalkan terjadinya persalinan
prematur, sebagai berikut.
1

a. Indikator Klinik
Indikator klinik yang dapat dijumpai seperti timbulnya kontraksi dan pemendekan serviks
(secara manual maupun ultrasonografi). Terjadinya ketuban pecah dini juga meramalkan
akan terjadinya persalinan prematur.
b. Indikator Laboratorium
Beberapa indikator laboratorium yang bermakna antara lain adalah: jumlah leukosit
dalam air ketuban (20/ml atau lebih), pemeriksaan CRP (> 0,7 mg/ml), dan pemeriksaan
leukosit dalam serum ibu (> 13.000/ml).
c. Indikator Biokimia
- Fibronektin janin: peningkatan kadar fibrinektin janin pada vagina, serviks dan air
ketuban memberikan indikasi adanya gangguan pada hubungan antara korion dan
desidua. Pada kehamilan 24 minggu atau lebih, kadar fibrinektin janin 50 ng/ml
atau lebih mengindikasikan risiko persalinan prematur.
- Corticotropin releasing hormone (CRH): peningkatan CRH dini atau pada
trimester 2 merupakan indikator kuat untuk terjadinya persalinan prematur.
- Sitokin inflamasi: seperti IL-1, IL-6, IL-8, dan TNF- telah diteliti sebagai
mediator yang mungkin berperan dalam sintesis prostaglandin.
- Isoferitin plasenta: pada keadaan normal (tidak hamil) kadar isoferitin sebesar 10
U/ml. Kadarnya meningkat secara bermakna selama kehamilan dan mencapai
puncak pada trimester akhir yaitu 54,8 53 U/ml. Penurunan kadar dalam serum
akan berisiko terjadinya persalinan prematur.
11

- Feritin: rendahnya kadar feritin merupakan indikator yang sensitif untuk keadaan
kurang zat besi. Peningkatan ekspresi feritin berkaitan dengan berbagai keadaan
reaksi fase akut termasuk kondisi inflamasi. Beberapa peneliti menyatakan ada
hubungan antara peningkatan kadar feritin dan kejadian penyulit kehamilan,
termasuk persalinan prematur.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah persalinan prematur
antara lain sebagai berikut:
1
- Hindari kehamilan pada ibu terlalu muda (kurang dari 17 tahun)
- Hindari jarak kehamilan terlalu dekat
- Menggunakan kesempatan periksa hamil dan memperoleh pelayanan antenatal
yang baik
- Anjuran tidak merokok maupun mengkonsumsi obat terlarang (narkotik)
- Hindari kerja berat dan perlu cukup istirahat
- Obati penyakit yang dapat menyebabkan persalinan prematur
- Kenali dan obati infeksi genital/saluran kencing
- Deteksi dan pengamanan faktor risiko terhadap persalinan prematur

F. PENATALAKSANAAN
Menjadi pemikiran utama pada penatalaksanaan ancaman partus prematurus adalah :
apakah ini memang merupkan ancaman partus prematurus. Selanjutnya mencari
penyebabnya dan menilai kesejahteraan janin yang dapat dilakukan secara klinis,
laboratoris, ataupun ultrasonografi meliputi pertumbuhan/berat janin, jumlah dan
keadaan cairan amnion, presentasi dan keadaan janin atau adanya kelainan kongenital.
Bila ancaman partus prematurus tetap berlangsung, meski telah dilakukan segala upaya
pencegahan, maka perlu dipertimbangkan:
1
- Seberapa besar kemampuan klinik (dokter spesialis kandungan kebidanan, dokter
spesialis anak, peralatan) untuk dapat menjada kehidupan bayi prematur atau
berapa persen yang dapat bertahan hidup menurut berat dan usia kehamilan
tertentu.
- Bagaimana persalinan sebaiknya dilakukan, pervaginam atau seksio sesarea.
- Komplikasi apa yang dapat timbul, misalnya perdarahan otak atau sindroma gawat
napas.
12

- Bagaimana pendapat pasien dan keluarga mengenai konsekuensi perawatan bayi
prematur dan kemungkinan hidup atau cacat.
- Seberapa besar biaya yang diperlukan untuk merawat bayi prematur, dengan
rencana perawatan intensif neonatus.
Ibu hamil dengan risiko terjadi persalinan prematur atau dengan ancaman partus
prematurus perlu dilakukan intervensi untuk meningkatkan neonatal outcomes.
1
Manajemen ancaman partus prematurus bergantung pada beberapa faktor, yaitu:
1
- Keadaan selaput ketuban. Pada umumnya persalinan prematur tidak dihambat jila
selaput ketuban sudah pecah.
- Pembukaan serviks. Persalinan sulit dicegah bila pembukaan mencapai 4 cm.
- Usia kehamilan. Makin muda usia kehamilan, maka upaya untuk mencegah
terjadinya proses persalinan makin perlu dilakukan. Persalinan dapat
dipertimbangkan berlangsung bila kehamilan > 34 minggu.
- Penyebab/komplikasi persalinan prematur
- Kemampuan neonatal intensive care facilities
Beberapa langkah yang dapat dilakukan pada persalinan preterm, terutama
mencegah morbiditas dan mortalitas neonatus preterm adalah:
1
- Menghambat proses persalinan prematur dengan pemberian tokolisis
- Pematangan surfaktan paru janin dengan kortikosteroid
- Bila perlu dilakukan pencegahan terhadap infeksi

Tokolisis

Alasan pemberian tokolisis pada ancaman partus prematurus adalah:
1
- Mencegah mortalitas dan morbiditas bayi prematur
- Memberi kesempatan bagi terapi kortikosteroid untuk menstimulir surfaktan paru
janin
- Memberi kesempatan transfer intrauterin pada fasilitas yang lebih lengkap
- Mengoptimalkan keadaan ibu
Beberapa macam obat yang dapat digunakan sebagai tokolisis adalah:
1,11,12
- Kalsium antagonis : Nifedipin 10 mg/oral diulang 2 3 kali/jam, dilanjutkan tiap
8 jam sampai kontraksi hilang. Obat dapat digunakan lagi jika timbul kontraksi
berulang.
13

- Obat -mimetik: seperti terbutalin, ritrodin, isoksuprin, dan salbutamol, dapat
digunakan, tetapi nifedipin mempunyai efek samping lebih kecil.
- Magnesium sulfat dan antiprostaglandin (indometasin) : jarang dipakai karena
efek samping pada ibu ataupun janin.
- Untuk menghambat proses persalinan prematur selain tokolisis, perlu membatasi
aktivitas atau tirah baring.

Kortikosteroid
Pemberian terapi kortikosteroid dimaksudkan untuk pematangan surfaktan paru janin,
menurunkan insidensi RDS (Respiratory Distress Syndrome), mencegah perdarahan
intraventrikular, yang akhirnya menurunkan kematian neonatus. Kortikosteroid perlu
diberikan bilamana usia kehamilan kurang dari 35 minggu.
1,11,13
Obat yang diberikan adalah: betametason atau deksametason. Pemberian steroid ini tidak
diulang karena risiko terjadinya pertumbuhan janin terhambat.
1
Pemberian siklus tunggal kortikosteroid adalah:
1
- Betametason: 2 x 12 mg i.m dengan jarak pemberian 24 jam
- Deksametason: 4 x 6 mg i.m dengan jarak pemberian 12 jam

Antibiotik
Antibiotik hanya diberikan bila kehamilan memiliki risiko terjadinya infeksi seperti pada
kasus ketuban pecah dini (KPD). Obat diberikan per oral, yang dianjurkan adalah:
eritromisin 3 x 500 mg selama 3 hari. Obat pilihan lain adalah ampisilin 3 x 500 mg
selama 3 hari, atau dapat menggunakan antibiotik lain seperti klindamisin. Tidak
dianjurkan pemberian ko-amoksiklaf karena risiko NEC.
1
Beberapa hal yang harus diperhatikan pada pemeriksaan pasien dengan KPD/PPROM
(Preterm premature rupture of the membrane) adalah:
1
- Semua alat yang digunakan untuk memeriksa vagina harus steril.
- Periksa dalam vagina tidak dianjurkan, tetapi dilakukan dengan pemeriksaan
spekulum.
- Pada pemeriksaan USG jika ditemukan penurunan indeks cairan amnion (ICA)
tanpa adanya kecurigaan kelainan ginjal dan tidak adanya IUGR mengarah pada
kemungkinan KPD.
14

Pada penderita dengan KPD/PPROM dilakukan pengakhiran persalinan pada usia
kehamilan 36 minggu. Untuk usia 32 35 minggu jika ada bukti hasil pemeriksaan
maturitas paru, maka kemampuan rumah sakit (tenaga dan fasilitas perinatologi) sangat
menentukan kapan sebaiknya kehamilan diakhiri.
1
Akan tetapi, bila ditemukan adanya bukti infeksi (klinik ataupun laboratorik), maka
pengakhiran persalinan dipercepat/induksi, tanpa melihat usia kehamilan.
Persiapan persalinan prematur perlu dipertimbangkan berdasar:
1
a. Usia Kehamilan
- Usia kehamilan 34 minggu atau lebih: dapat melahirkan di tingkat dasar/primer,
mengingat prognosis yang relatif baik.
- Usia gestasi kurang dari 34 minggu: harus dirujuk ke rumah sakit dengan fasilitas
perawatan neonatus yang memadai.
b. Keadaan Selaput Ketuban
- Bila didapatkan KPD/PPROM dengan usia kehamilan kurang dari 28 minggu,
maka ibu dan keluarga dipersilahkan untuk memilih cara pengelolaan setelah
diberi konseling dengan baik.

Cara Persalinan
Masih sering muncul kontroversi dalam cara persalinan prematur seperti: apakah
sebaiknya persalinan berlangsung pervaginam atau seksio sesarea terutama pada berat
janin yang sangat rendah dan prematur sungsang, pemakaian forseps untuk melindungi
kepala janin, dan apakah adanya manfaatnya dilakukan episiotomi profilkasis yang luas
untuk mengurangi trauma kepala.
1
Bila janin presentasi kepala, maka diperbolehkan partus pervaginam. Seksio
sesarea tidak memberi prognosis yang lebih baik bagi bayi, bahkan merugikan ibu.
Prematuritas janganlah dipakai sebagai indikasi untuk melakukan seksio sesarea. Oleh
karena itu, seksio sesarea hanya dilakukan atas indikasi obstetri.
1,11,12
Pada kehamilan letak sungsang 30 34 minggu, seksio sesarea dapat
dipertimbangkan. Setelah kehamilan lebih dari 34 minggu, persalinan dibiarkan terjadi
karena mobiditas dianggap sama dengan kehamilan aterm.
1,11,12



15

Perawatan Neonatus
Untuk perawatan bayi preterm/prematur baru lahir perlu diperhatikan keadaan umum,
biometri, kemampuan bernapas, kelainan fisik, dan kemampuan minum.
Keadaan kritis bayi prematur yang harus dihindari adalah kedinginan, pernapasan
yang tidak adekuat, atau trauma. Suasana hangat diperlukan untuk mencegah hipotermia
pada neonatus (suhu badan di bawah 36,5oC), bila mungkin bayi sebaiknya dirawat cara
KANGURU untuk menghindarkan hipotermia. Kemudian dibuat perencanaan pengobatan
dan asupan cairan.
ASI diberikan lebih sering, tetapi bila tidak memungkinkan, diberikan dengan
sonde atau dipasang infus. Semua bayi baru lahir harus mendapatkan nutrisi sesuai
dengan kemampuan dan kondisi bayi.
Sebaiknya persalinan bayi prematur berlangsung pada fasilitas yang memadai,
seperti pelayanan perinatal dengan personel dan fasilitas yang adekuat termasuk
perawatan perinatal intensif.
1

G. KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat terjadi pada persalinan prematur antara lain:
14-15
- Pada ibu, setelah persalinan preterm, infeksi endometrium lebih sering terjadi
mengakibatkan sepsis dan lambatnya penyembuhan luka episiotomi. Bayi-bayi
preterm memiliki risiko infeksi neonatal lebih tinggi; Morales (1987) menyatakan
bahwa bayi yang lahir dari ibu yang menderita anmionitis memiliki risiko
mortalitas 4 kali lebih besar, dan risiko distres pernafasan, sepsis neonatal,
necrotizing enterocolitis dan perdarahan intraventrikuler 3 kali lebih besar.
- Sindroma gawat pernafasan (penyakit membran hialin).
- Paru-paru yang matang sangat penting bagi bayi baru lahir. Agar bisa bernafas
dengan bebas, ketika lahir kantung udara (alveoli) harus dapat terisi oleh udara
dan tetap terbuka. Alveoli bisa membuka lebar karena adanya suatu bahan yang
disebut surfaktan, yang dihasilkan oleh paru-paru dan berfungsi menurunkan
tegangan permukaan. Bayi prematur seringkali tidak menghasilkan surfaktan
dalam jumlah yang memadai, sehingga alveolinya tidak tetap terbuka.
- Diantara saat-saat bernafas, paru-paru benar-benar mengempis, akibatnya terjadi
Sindroma Distres Pernafasan. Sindroma ini bisa menyebabkan kelainan lainnya
dan pada beberapa kasus bisa berakibat fatal. Kepada bayi diberikan oksigen; jika
16

penyakitnya berat, mungkin mereka perlu ditempatkan dalam sebuah ventilator
dan diberikan obat surfaktan (bisa diteteskan secara langsung melalui sebuah
selang yang dihubungkan dengan trakea bayi).
- Ketidakmatangan pada sistem saraf pusat bisa menyebabkan gangguan refleks
menghisap atau menelan, rentan terhadap terjadinya perdarahan otak atau
serangan apneu. Selain paru-paru yang belum berkembang, seorang bayi prematur
juga memiliki otak yang belum berkembang. Hal ini bisa menyebabkan apneu
(henti nafas), karena pusat pernafasan di otak mungkin belum matang. Untuk
mengurangi mengurangi frekuensi serangan apneu bisa digunakan obat-obatan.
Jika oksigen maupun aliran darahnya terganggu. otak yang sangat tidak matang
sangat rentan terhadap perdarahan (perdarahan intraventrikuler) atau cedera .
- Ketidakmatangan sistem pencernaan menyebabkan intoleransi pemberian
makanan. Pada awalnya, lambung yang berukuran kecil mungkin akan membatasi
jumlah makanan/cairan yang diberikan, sehingga pemberian susu yang terlalu
banyak dapat menyebabkan bayi muntah. Pada awalnya, lambung yang berukuran
kecil mungkin akan membatasi jumlah makanan/cairan yang diberikan, sehingga
pemberian susu yang terlalu banyak dapat menyebabkan bayi muntah.
- Retinopati dan gangguan penglihatan atau kebutaan (fibroplasia retrolental)
- Displasia bronkopulmoner.
- Penyakit jantung.
- Jaundice.
Setelah lahir, bayi memerlukan fungsi hati dan fungsi usus yang normal untuk
membuang bilirubin (suatu pigmen kuning hasil pemecahan sel darah merah)
dalam tinjanya. Kebanyakan bayi baru lahir, terutama yang lahir prematur,
memiliki kadar bilirubin darah yang meningkat (yang bersifat sementara), yang
dapat menyebabkan sakit kuning (jaundice).
- Peningkatan ini terjadi karena fungsi hatinya masih belum matang dan karena
kemampuan makan dan kemampuan mencernanya masih belum sempurna.
Jaundice kebanyakan bersifat ringan dan akan menghilang sejalan dengan
perbaikan fungsi pencernaan bayi.
- Infeksi atau septikemia.
- Sistem kekebalan pada bayi prematur belum berkembang sempurna. Mereka
belum menerima komplemen lengkap antibodi dari ibunya melewati plasenta.
17

Resiko terjadinya infeksi yang serius (sepsis) pada bayi prematur lebih tinggi.
Bayi prematur juga lebih rentan terhadap enterokolitis nekrotisasi
(peradangan pada usus).
- Anemia .
- Bayi prematur cenderung memiliki kadar gula darah yang berubah-ubah, bisa
tinggi (hiperglikemia maupun rendah (hipoglikemia).
- Perkembangan dan pertumbuhan yang lambat.
- Keterbelakangan mental dan motorik.

























18

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Persalinan prematur merupakan penyebab utama kematian dan kesakitan bayi prematur.
Persalinan prematur berkisar 6-10% dari seluruh kehamilan dan merupakan penyebab
utama kesakitan dan kematian perinatal tanpa kelainan kongenital yaitu 75% dari seluruh
kematian perinatal.
(12)
Indonesia memiliki angka kejadian partus prematurus sekitar 19%
dan merupakan penyebab utama kematian perinatal.
Ancaman persalinan prematur merupakan suatu keadaan yang multifaktorial.
Kombinasi keadaan obstetrik, sosiodemografi, dan faktor medik mempunyai pengaruh
terhadap terjadinya persalinan prematur.
Cara utama untuk mengurangi risiko persalinan prematur dapat dilakukan sejak
awal, sebelum tanda-tanda persalinan muncul. Dimulai dengan pengenalan pasien yang
berisiko, untuk diberi penjelasan dan dilakukan penilaian klinik terhadap persalinan
prematur serta pengenalan kontraksi sedini mungkin, sehingga tindakan pencegahan dapat
segera dilakukan. Beberapa indikator dapat dipakai untuk meramalkan terjadinya
persalinan prematur, yaitu indikator klinik, laboratorium, dan biokimia.
Ibu hamil dengan risiko terjadi persalinan prematur atau dengan ancaman partus
prematurus perlu dilakukan intervensi untuk meningkatkan neonatal outcomes.
Manajemen ancaman partus prematurus bergantung pada beberapa faktor, yaitu keadaan
selaput ketuban, pembukaan serviks, usia kehamilan, penyebab/komplikasi persalinan
prematur, kemampuan neonatal intensive care facilities.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan pada persalinan preterm, terutama
mencegah morbiditas dan mortalitas neonatus preterm antara lain, menghambat proses
persalinan prematur dengan pemberian tokolisis, pematangan surfaktan paru janin dengan
kortikosteroid, dan dilakukan pencegahan terhadap infeksi bila diperlukan.
Masih sering muncul kontroversi dalam cara persalinan prematur seperti: apakah
sebaiknya persalinan berlangsung pervaginam atau seksio sesarea. Akan tetapi
prematuritas tidak dipakai sebagai indikasi untuk melakukan seksio sesarea. Tindakan
seksio sesarea hanya dilakukan atas indikasi obstetri.


19

B. SARAN
Pencegahan sedini mungkin terdahap munculnya ancaman partus prematurus perlu
dilakukan, dengan cara mendeteksi faktor-faktor risiko terjadinya persalinan prematur
pada ibu saat pemeriksaan ante natal. Untuk itu ibu hamil dan keluarga perlu diedukasi
mengenai faktor-faktor predisposisi terjadinya ancaman partus prematurus agar dapat
meminimalisasi faktor-faktor tersebut, serta tanda-tanda ancaman partus prematurus dan
tindakan yang perlu diambil oleh ibu serta keluarga.


























20

DAFTAR PUSTAKA

1. Mochtar AB. Persalinan Preterm. Dalam Prawihardjo S. Ilmu Kebidanan. Jakarta :
PT. Bina Pustaka Sarwono Prawihardjo. 2010.
2. WHO. Preterm Birth. Accessed from :
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs363/en/
3. Cunningham FG, et al. Williams Obstetrics 21
st
ed. McGraw Hill Inc. 2001.
4. Rompas, J. Pengelolaan Persalinan Prematur. Cermin Dunia Kedokteran
2001;145.
5. Santoso, A.B. Hubungan Antara Kelahiran Prematur dengan Tumbuh Kembang
Anak pada Usia 1 Tahun. Tesis. Semarang : Fakultas kedokteran Universitas
Diponegoro. 2003.
6. Yusuf, J. Efektivitas dan Efek Samping Ketorolac sebagai Tokolitik pada
Ancaman Persalinan Prematur Tinjauan Perbandingan dengan Nifedipin. Tesis.
Semarang : Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. 2008.
7. Philip, S. The epidemiology of preterm labour. Br J Obstet Gynaecol 2005;112:1-
3
8. Husslein P. Strategies to prevent the morbidity and mortality associated with
prematurity. Br J Obstet Gynaecol 2003;110-135
9. Mochtar, R. Sinopsis Obstetri: Obstetri Fisiologi dan Patologi. Jakarta : EGC.
1998.
10. Widjanarko, B. Persalinan Preterm. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas
Muhammadiyah Jakarta. 2009.
11. Goepfert AR. Preterm delivery. In : Obstetrics and Gynecology Principle for
Practise. McGraw-Hill. 2001.
12. Iams JD. Preterm labor and delivery. In : Maternal Fetal Medicine 5th Edition.
Saunders. 2004.
13. ACOG Practice Bulletin. Assessment of risk factor for preterm birth. Am J Obstet
Gynecol 2001:709716.
14. American Pregnancy Association. Premature Birth Complication. Accessed from :
http://americanpregnancy.org/labornbirth/complicationspremature.htm
15. University of Rochester Medical Center. Preterm Labor. Accessed from :
http://www.urmc.rochester.edu/Encyclopedia/Content.aspx?ContentTypeID=90&
ContentID=P02497