Anda di halaman 1dari 18

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
Pada organ genetalia khususnya wanita, sering kali terjadi berbagai masalah. Dari yang
ringan dan mudah diatasi, sampai yang susah dan bersifat membahayakan. Terkadang juga
terjadi peradangan hingga perdarahan pada organ genetalia wanita.
Ada beberapa penyebab perdarahan yaitu salah satunya pada ulkus porsio.Pada ulkus
porsio bisa menjadi penyebab perdarahan, karena tejadi luka atau robekan pada
porsio.Perdarahan pada ulkus porsio dapat terjadi kegawat daruratan karena dapat menyebabkan
infeksi.Luka atau robekan pada ulkus porsio sering disebabkan oleh pemasangan IUD dalam
jangka waktu lama.
Terjadinya perdarahan akibat ulkus posio hanya bisa ditentukan dengan dilakukannya
pemeriksaan dalam atau VT.Penanganan perdarahan pada ulkus porsio tidak terlalu sulit.Namun
jika tidak segera ditangani dapat terjadi infeksi.Untuk mencegah terjadinya luka atau robekan
pada ulkus porsio sebaiknya dilakukan penggunaan yang tepat terhadap IUD.

1.2 Tujuan
1. Tujuan Umum
a. Untuk mengetahui apa saja masalah yang bisa terjadi pada organ genetalia, khususnya
wanita
b. Untuk lebih memahami tentang Ulkus Porsio, baik definisi, penyebab, gejala- gejala
yang terjadi, serta bagaimana penanganannya.
2. Tujuan Khusus
Agar mahasiswa, tenaga kesehatan serta masyarakat mengetahui penatalaksanaan
terhadap Ulkus Porsio.



2

1.3 Rumusan Maslah
1. Apa itu ulkus portio ?
2. Bagaimana gambaran patologi pada ulkus portio ?
3. Apa saja gejala ulkus portio ?
4. Bagaimana penanganan pada ulkus portio ?
5. Bagaimana melakukan penerapan manajemen 7 langkah varney ?



















3

BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Ulkus Portio
Ulkus pada portio uteri merupakan perdarahan yang terjadi diluar haid dengan penyebab
kelainan hormonal atau kelainan organ genetalia.Perdarahan terjadi dalam masa antara 2
haid.Perdarahan ini tampak terpisah dan dapat dibedakan dari haid, atau 2 jenis pendarahan ini
menjadi sebab-sebab organik.Perdarahan dari uterus, tuba dan ovarium disebabkan oleh kelainan
pada serviks uteri, seperti polipus servisis uteri, erosi porsionis uteri, dan ulkus pada porsio uteri,
karsinoma servisis uteri.

2.2 Patologi
Proses terjadinya ulkus portio dapat disebabkan adanya rangsangan dari luar
misalnya IUD.
IUD yang mengandung polyethilien yang sudah berkarat membentuk ion Ca, kemudian
bereaksi dengan ion sel sehat PO4 sehingga terjadi denaturasi / koalugasi membaran sel dan
terjadilah erosi portio.
Bisa juga dari gesekan benang IUD yang menyebabkan iritasi lokal sehingga
menyebabkan sel superfisialis terkelupas dan terjadilah ulkus portio dan akhir nya menjadi ulkus.
Dari posisi IUD yang tidak tepat menyebabkan reaksi radang non spesifik sehingga
menimbulkan sekresi sekret vagina yang meningkat dan menyebabkan kerentanan sel
superfisialis dan terjadilah erosi portio.Dari semua kejadian ulkus portio itu menyebabkan
tumbuhnya bakteri patogen, bila sampai kronis menyebabkan metastase keganasan leher rahim.

4

Schroder pada tahun 1915, setelah penelitian histopatologik pada uterus dan ovarium
pada waktu yang sama, menarik kesimpulan bahwa gangguan perdarahan yang dinamakan
metropatia hemoragika terjadi karena persistensi folikel yang tidak pecah sehingga tidak terjadi
ovulasi dan pembentukan korpus liteum. Akibatnya terjadilah hyperplasia endometrium karena
stimulasi estrogen yang berlebihan dan terus menerus.Penjelasan ini masih dapat diterima untuk
sebagian besar kasus-kasus perdarahan disfungsional.
Pembagian endometrium dalam endometrium jenis non sekresi penting artinya, karena
dengan demikian dapat dibedakan perdarahan yang anovulatoar dari yang uvoltoar, klasifikasi ini
mempunyai nilai-nilai klinik karena kedua jenis perdarahan disfungsional ini mempunyai dasar
etiologi yang berlainan dan memerlukan penanganan yang berbeda.Pada perdarahan
disfungsional yang ovulatoar, gangguan dianggap berasal dari faktor-faktor neuromuscular,
vasomotorik, atau hematoogik, yang mekanismenya belum seberapa di mengerti, sedangkan
perdarahan anovulatoar biasanya dianggap bersumber pada gangguan endokrin. (Sarwono, 2005)

Gambaran klinik
Perdarahan ovulatoar
Perdarahan ini merupakan kurang lebih 10% dari perdarahan disfungsional dengan siklus pendek
(polimenorea) atau panjang (oligomenorea), perdarahan ovulatoar perlu dilakukan kerokan pada
masa mendekati haid.Jika karena perdarahan yang lama dan tidak teratur siklus haid tidak
dikenali lagi. Perdarahan berasal dari endometrium tipe sekresi tanpa adanya sebab organik,
maka harus dipikirkan sebagai etiologinya :
1. Korpus luteum persistens; dalam hal ini dijumpai perdarahan kadang-kadang bersamaan
dengan ovarium membesar. Sindrom ini harus dibedakan dari kehamilan ektopik.
2. Insifisiensi korpus luteum dapat menyebabkan premenstrual spooting, menoragia atau
polimenorea
3. Apopleksia uteri; pada wanita dengan hipertensi dapat terjadi pecahnya pembuluh darah
dalam uterus.
5

4. Kelainan darah; seperti anemia, purpura trombositopenik, dan gangguan dalam
mekanisme pembekuan darah.
Perdarahan anovulatoar
Stimulasi dengan estrogen menyebabkan tumbuhnya endometrium. Dengan menurunnya
kadar estrogen di bawah tingkat tertentu, timbul perdarahan yang kadang-kadang bersifat siklis,
kadang-kadang tidak teratur sama sekali. Fluktuasi kadar estrogen ada sangkut pautnya dengan
jumlah folikel yang pada suatu waktu fungsional aktif.
Gangguan lain yang ada hubungannya dengan haid :
Premenstrual tension (Ketegangan prahaid)
Keluhan pre menstruasi terjadi sekitar beberapa hari sebelum bahkan sampai saat menstruasi
berlangsung.Gejala ini dijumpai pada wanita sekitar umur 30 sampai 45 tahun.Penyebab yang
jelas tidak diketahui tetapi terdapat dugaan bahwa ketidak seimbangan antara estrogen dan
progesteron.Dikemukakan bahwa dominasi "estrogen" merupakan penyebab dengan defisiensi
fase luteal dan kekurangan produksi progesteron.Akibat dominasi estrogen terjadi retensi air dan
garam, dan oedema pada beberapa tempat.

2.3 Gejala Pada Ulkus Portio
1. Adanya fluxus,
2. Portio terlihat kemerahan dengan batas yang tidak jelas,
3. Adanya kontak blooding,
4. Portio teraba tidak rata,
5. Pada perlukaan portio bisa tertutup cairan atau lendir,
6. Berwujud gumpalan- gumpalan seperti bunga kol,
7. Dapat dengan mudah berdarah atau tidak.
8. Sekret bercampur darah setelah bersenggama
9. Dapat menimbulkan pendarahan kontak atau metorarhagia.
6

10. Portio uterus disekitar ostium uteri eksternum tampah daerah kemerah-merahan yang
sulit dipisahkan secara jelas dan Epitel Portio.
11. Sekret juga tidak dapat bercampur dengan nanah
12. Pada ulkus sering di ketemukan ovula nobathii
Gejala kliniknya dalam bentuk :
1. Gangguan emosional- mudah tersinggung
2. Sukar tidur, gelisah, sakit kepala
3. Perut kembung, mual sampai muntah
4. Payudara terasa tegang dan sakit
5. Pada kasus yang lebih berat sering merasa tertekan

2.4 Penanganan
Pengeluaran darah pada perdarahan disfungsional sangat banyak, dalam hal ini penderita
harus istirahat baring dan diberi transfuse darah. Setelah pemeriksaan ginekologik menunjukan
bahwa perdarahan berasal dari uterus dan tidak ada abortus incomplete, perdarahan untuk
sementara waktu dapat dipengaruhi dengan hormon steroid. Dapat diberikan :
a. Estrogen dalam dosis tinggi, supaya kadarnya dalam darah meningkat dan perdarahan
berhenti. Dapat diberikan secara intramuskulus dipriopionas estradiol 2,5 mg, atau
benzoas estradiol 1,5 mg, atau valeras estradiol 20 mg. keberatan terapi ini adalah bahwa
setelah suntikan dihentikan, perdarahan timbul lagi.
b. Progesteron: pertimbangan disini adalah bahwa sebagian besar perdarahan fungsional
bersifat anovulatoar, sehingga pemberian progesterone mengimbangan pengaruh estrogen
terhadap endometrium. Dapat diberikan kaproas hidrokksi-progesteron 125 mg, secara
intramuscular, atau dapat diberikan per os sehari norethondrone 15 mg atau asetas
medroksi-progesteron (Provera) 10 mg, yang dapat diulangi. Terapi ini berguna pada
wanita dalam masa pubertas.
7

Dalam menghadapi masalah ulkus portio, bidan sebaiknya berkonsultasi ke puskesmas, dokter
ahli, atau rumah sakit untuk mendapatkan penanganan yang lebih sempurna.Kepada wanita
diberikan KIE untuk siap melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

2.5 Manajemen 7 Langkah Varney
Penerapan 7 langkah varney yang memberikan asuhan kebidanan pada klien dengan ulkus pada
portio.
I. Pengumpulan Data
Mengumpulkan data subyektif dan data obyektif berupa data fokus yang di butuhkan
untuk menilai keadaan ibu sesuai kondisinya menggunakan anamnesa, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan laboratorium.
Jenis data yang dikumpulkan :
A. Data Subyektif
1) Biodata ibu dan suami
a. Nama ibu
Untuk mengetahui siapa yang akan kita beri asuhan dan lebih mudah untuk
berkomunikasi.
b. Nama suami
Untuk mengetahui siapa penanggung jawab saat pemberian asuhan
c. Umur ibu
Untuk mengetahui faktor resiko yang menyebabkan terjadinya perdarahan di luar haid
karena ulkus pada portio.
d. Agama ibu dan suami
Untuk mengetahui apakah ada kepercayaan dalam agamanya sehubungan dengan
perdarahan di luar haid karena ulkus pada portio.
e. Suku bangsa ibu
8

Untuk mengetahui dari mana asal ibu berkaitan dengan bahasa yang digunakan untuk
berkomunikasi dan kebiasaan-kebiasaan yang dianut
f. Pendidikan ibu dan suami
Untuk mengetahui tingkat pengetahuaan ibu dan suami sehingga memudahkan dalam
pemberiaan informasi dan konseling.
g. Pekerjaan ibu dan suami
Untuk mengetahui tingkat aktivitas yang dilakukan oleh ibu dan suami dan pengaruhnya
terhadap ekonomi keluarga sehingga memudahkan dalam penanganan perdarahan di luar
haid karena ulkus pada portio yang sesuai dengan keadaan ekonomi keluarga ibu.
h. Alamat ibu dan suami
Untuk mengetahui tempat tinggal ibu dan suami serta lingkungan disekitar tempat tinggal
ibu.
i. No tlp/hp ibu dan suami
Untuk memudahkan berkomunikasi sewaktu-waktu bila ada masalah.
j. Golongan darah
Untuk mengantisipasi bila sewaktu-waktu terjadi sesuatu masalah yang memerlukan
donor.
2) Alasan datang
Untuk mengetahui keluhan yang dirasakan ibu yang dapat menunjang diagnosa
perdarahan diluar haid karena ulkus pada portio.Pasien dengan ulkus pada portio pada umumnya
datang pada stadium lanjut, dimana didapatkan keluhan seperti keputihan disertai darah,
keputihan yang berbau, perdarahan berkelanjutan, dan disertai metastase dimana stadium
pengobatan ini tidak memuaskan.
3) Riwayat menstruasi
Untuk mengetahui kapan pasien menarche, apakah siklus menstruasi ibu teratur atau
tidak, mengetahui lama haid dan banyaknya pengeluaran darah saat haid, serta apakah ibu pernah
mengalami dismenorhea atau tidak.
4) Riwayat perkawinan
9

Untuk mengetahui berapa kali ibu menikah, lama perkawinan, umur ibu saat menikah
serta apakah ibu sudah mempunyai anak atau belum.
5) Riwayat obstetri terdahulu
Untuk mengetahui jumlah anak yang dimiliki, umur kehamilan saat lahir, apakah ada
penyulit saat hamil, tempat bersalin, penolong persalinan, berat badan bayi saat lahir jenis
kelamin anak, jenis persalinan, apakah ada penyulit saat nifas, keadaan anak sekarang serta
umur anak sekarang.
6) Riwayat KB
Untuk mengetahui alat kontrasepsi apa saja yang pernah digunakan ibu sehingga dapat
mengetahui apakah perdarahan diluar haid karena ulkus pada portio disebabkan oleh karena
penggunaan alat kontrasepsi. Ulkus pada portio dapat terjadi pada pengguna IUD.
7) Riwayat ginekologi
Untuk mengetahui apakah ibu pernah atau sedang mengalami masalah dengan organ
reproduksinya serta sejak kapan masalah dirasakan.Riwayat penyakit / kelainan gynecology serta
pengobatannya dapat memberikan keterangan penting, terutama operasi yang pernah dialami.
Apabila penderita pernah diperiksa oleh dokter lain tanyakan juga hasil-hasil pemeriksaan dan
pendapat dokter itu.
8) Riwayat penyakit ibu
Untuk mengetahui penyakit-penyakit yang pernah diderita ibu, apakah ibu mempunyai
riwayat penyakit tertentu terutama yang berhubungan dengan alat reproduksi seperti infeksi,
keputihan berbau dan gatal.Dalam hal ini perlu ditanyakan apakah penderita pernah menderita
penyakit berat, penyakit TBC, penyakit jantung, penyakit ginjal, penyakit darah, DM, dan
penyakit jiwa.
9) Riwayat penyakit keluarga
Riwayat penyakit keluarga perlu diketahui apakah pernah menderita tumor alat kandungan/tidak
ataupun tumor di luar alat kandungan.
10

10) Riwayat bio-psiko-sosial-spiritual
a) Biologis
1. Bernafas
Untuk mengetahui apakah ibu ada keluhan saat bernafas atau tidak.
2. Pola nutrisi
Untuk mengetahui status gizi ibu dan riwayat nutrisinya, pola nutrisi, jenis dan porsi
makan ibu.
3. Eliminasi
Untuk mengetahui apakah ada keluhan atau masalah dengan pola BAK maupun BAB.
4. Istirahat dan tidur
Untuk mengetahui adakah gangguan pada pola tidur dan istirahat akibat keluhan yang
dialami.
5. Aktifitas sehari-hari
Untuk mengetahui aktifitas ibu sehari-hari, apakah ada keluhan saat beraktivitas.
6. Personal hygiene
Untuk mengetahui bagaimana personal hygiene ibu apakah sudah menerapkan hygiene
yang benar atau belum.Seperti selalu mengganti celana dalam setiap harinya dan tidak
membiarkan pemakaian celana dalam yang lembab dikarenakan dapat mengundang
kuman pathogen.Oleh karena itu kebersihan alat kelamin harus dijaga.
b) Psikologi
Untuk mengkaji psikologis klien sehubungan dengan keluhan yang dirasakan.
c) Sosial
Untuk mengetahui interaksi ibu dengan masyarakat dilingkungan yang dirasakan pandangan
masyarakat terhadap kondisi ibu dan ada tidaknya kebiasaan yang merugikan kesehatan, serta
mengetahui bagaimana pengambilan keputusan dalam keluarga.
d) Spiritual
11

Untuk mengetahui bagaimana kebiasaan ibu dalam mendekatkan diri kepada tuhan serta
kepercayaan yang dianut yang berkaitan dengan kesehatan.
11) Pengetahuan
Untuk mengkaji pengetahuan ibu tentang hal-hal yang berkaitan dengan keluhan yang dirasakan,
penyebab ibu mengalami keluhan yang dirasakan, serta pengetahuan ibu tentang cara mengatasi
keluhannya.

B. Data obyektif
1) Pemeriksaan umum
a) Keadaan umum
Untuk mengetahui keadaan umum ibu, sejauh mana keluhan yang dirasakan ibu, mempengaruhi
kondisi kesehatan ibu secara umum.
b) Berat badan dan tinggi badan
Untuk mengetahui pertambahan BB ibu,dan mengetahui TB ibu.
c) TTV
Untuk mengetahui keadaan tekanan darah, suhu, nadi, respirasi sehubungan dengan keluhan
yang dirasakan ibu
2) Pemeriksaan sistematis dan ginekologi
a) Kepala dan leher
Kepala : Untuk mengetahui bagaimana kebersihan dan struktur rambut
Muka : Untuk mengamati pada muka apakah ada oedema / pucat
Mata : Untuk mengetahui bagaimana warna konjungtiva dan sklera
12

Mulut : Untuk mengetahui bagaimana keadaan mulut apakah lembab/kering,
kemerahan/pucat
Leher : Untuk mengetahui apakah ada pembesaran kelenjar limfe, pembesaran kelenjar
tiroid maupun pembesaran vena jugularis
b) Payudara
Pemeriksaan payudara mempunyai arti penting bagi penderita wanita terutama dalam hubungan
dengan diagnostik kelainan endokrin
c) Abdomen
Untuk mengetahui apakah ada luka bekas operasi, apakah ada pembesaran perut abnormal.
d) Anogenital
1. Inspeksi vulva Pengeluaran cairan atau darah dari liang senggama, ada perlukaan pada
vulva, adakah pertumbuhan kondiloma akuminata, kista bartholini, abses bartholini
maupun fibroma pada labia, perhatikan bentuk dan warna, adakah kelainan pada
rerineum dan anus. b) Palpasi vulva Teraba tumor, benjolan maupun pembengkakan
pada kelenjar bartholini.
2. Pemeriksaan Inspekulo, terdiri dari : a) Pemeriksaan vagina Adakah ulkus,
pembengkakan atau cairan dalam vagina; adakah benjolan pada vagina. b) Pemeriksaan
porsio uteri Adakah perlukaan, apakah tertutup oleh cairan/ lendir, apakah mudah
berdarah dan terdapat kelainan. c) Pengambilan cairan berasal dari ulkus vagina dan
porsio uteri Pemeriksaan bakteriologis, pemeriksaan jamur dan pemeriksaan sitologi.
3. Pemeriksaan Dalam Pemeriksaan dalam untuk menentukan : a) Rahim Bagaimana
posisi rahim, besar, pergerakan, dan konsistensi rahim, apakah ada nyeri saat
pemeriksaan. b) Adneksa (daerah kanan kiri rahim) Pemeriksaan ini dilakukan dengan
menggerakkan jari yang berada didalam fornix lateral dan tangan yang ada diluar
bergerak ke samping uterus. c) Forniks posterior (kavum douglas) Pemeriksaan ini
untuk mengetahui apakah terdapat nanah (infeksi) dan apakah forniks menonjol akibat
perdarahan kavum abdominalis.
13

e) Ekstremitas atas bawah
Untuk mengetahui apakah ada oedema, sianosis, pada kaki dan tangan, serta keadaan kuku
apakah kemerahan ataukah pucat.

3) Pemeriksaan penunjang
a) Pemeriksaan Swab vagina
Dapat dilakukan pemeriksaan cairan vagina untuk mengetahui penyebab dari perdarahan karena
ulkus pada portio tersebut.
1. Interpretasi data dasar, masalah dan kebutuhan
Untuk merumuskan diagnosa berdasarkan dari pengumpulan data yang diperoleh dari klien
langsung atau dari keluarga, pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang.Selain itu bertujuan
untuk menentukan masalah yang dihadapi klien serta segala sesuatu yang dibutuhkan klien tanpa
klien sadari atau klien butuhkan.Di sini kita menentukan diagnosa aktual, masalah, dan
kebutuhan.
a. Jika dari hasil pemeriksaan, perdarahan diluar haid karena ulkus pada portio belum dapat
ditentukan secara pasti :
Diagnosa : Wanita umur ..th dengan (ulkus portio)
Masalah : cemas, keputihan, bercak-bercak darah yang belum diketahui asalnya, nyeri
abdomen, perih pada vagina.
Kebutuhan : istirahat, personal hygiene, nutrisi, dukungan psikologis, informasi tentang
penyakit yang diderita

2. Identifikasi diagnosa dan masalah potensial
Diagnosa potensial : dapat terjadi Ca serviks
14


3. Identifikasi akan tindakan segera, konsultasi, kolaborasi dan rujukan
Mengidentifikasi berdasarkan diagnosa apakah kondisi klien memerlukan tindakan
segera, konsultasi, kolaborasi maupun rujukan. Tindakan segera yang diperlukan biasanya
seperti pemberian infuse apabila ibu mengalami perdarahan yang berat guna mencegah ibu
mengalami syok hipovolemik dan pemberian analgetik untuk mencegah terjadinya syok
neurogenik. Selain itu konsultasi dan kolaborasi dengan dokter Sp.OG diperlukan guna
membantu dalam pengambilan keputusan yang terbaik untuk ibu. Apabila kasus ditemukan BPS,
Puskesmas, Pustu dan sarana pelayanan kesehatan lain yang tidak memiliki fasilitas yang
memadai harus dilakukan rujukan ke fasilitas yang lebih memadai.
4. Perencanaan
Untuk mengetahui apa saja yang harus direncanakan berdasarkan diagnosa masalah dan
kebutuhan klien.
Pada perdarahan diluar haid karena ulkus pada portio perencanaan yang bisa dibuat antara lain:
a. Jelaskan tentang hasil pemeriksaan kepada ibu dan pendamping
Rasionalisasi : ibu dan suami harus tahu hasil dari pemeriksaan yang dilakukan karena hasil
pemeriksaan meliputi keadaan ibu yang akan memberikan ketenangan dan rasa nyaman yang
nantinya akan mempengaruhi psikologis ibu dan merupakan salah satu hak klien yang harus
dipenuhi.
b. Berikan pengobatan ulkus pada portio dengan menggunakan yodium saat pemeriksaan
speculum.
Rasionalisasi : yodium dapat membantu meringankan infeksi dan rasa nyeri yang ibu rasakan
pada vaginanya.
c. Beri KIE tentang penyebab keluhan yang dialami dan kemungkinan tindakan yang akan
dilakukan untuk menangani keluhan.
15

Rasionalisasi : Dengan KIE ibu dapat mengetahui penyebab keluhan yang dialami dan
kemungkinan tindakan yang akan dilakukan guna menangani keluhan ibu sehingga ibu dan
keluarga dapat mempersiapkan diri dan segala sesuatu yang mungkin diperlukan untuk
membantu menangani keluhan ibu.
d. Berikan dukungan moral/support mental kepada ibu dan libatkan pendamping.
Rasionalisasi : Diperlukan support mental untuk membantu ibu dalam menghadapi penyakit
yang diderita serta diperlukan pula peran pendamping.
e. Anjurkan dan motivasi ibu untuk menjaga personal hygiene khususnya hygiene pada daerah
genital
Rasionalisasi : Infeksi dan jamur. Oleh karena itu kebersihan alat kelamin harus dijaga.
f. Lakukan konsultasi dan kolaborasi dengan dokter Sp.OG
Rasionalisasi : Apabila kasus ditemukan bidan di rumah sakit tempat ia bertugas bidan perlu
melakukan konsultasi dan kolaborasi dengan dokter Sp.OG untuk dapat mengambil keputusan
yang benar-benar tepat bagi klien.
g. Lakukan rujukan ke pelayanan kesehatan yang lebih memadai
Rasionalisasi : Apabila kasus ditemukan di BPS, Puskesmas maupun Puskesmas Pembantu
penanganan lebih lanjut dari mioma uteri ini akan didapatkan di fasilitas yang lebih memadai
seperti di rumah sakit.
5. Pelaksanaan
Untuk melaksanakan perumusan perencanaan yang telah dibuat mengacu pada diagnosa,
masalah dan kebutuhan yang sesuai dengan kondisi klien saat diberikan asuhan.
6. Evaluasi
Untuk mengetahui hasil dari asuhan yang telah diberikan kepada klien yang mengacu pada
pemecahan masalah dan perbaiki kondisi ibu evaluasi disesuaikan dengan pelaksanaan yang
dilaksanakan.
16
















BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Ulkus pada portio uteri merupakan perdarahan yang terjadi diluar haid dengan penyebab
kelainan hormonal atau kelainan organ genetalia.Perdarahan terjadi dalam masa antara 2
haid.Perdarahan ini tampak terpisah dan dapat dibedakan dari haid, atau 2 jenis pendarahan ini
menjadi sebab-sebab organik.Perdarahan dari uterus, tuba dan ovarium disebabkan oleh kelainan
pada serviks uteri, seperti polipus servisis uteri, erosi porsionis uteri, dan ulkus pada porsio uteri,
karsinoma servisis uteri.Dalam gambaran kliniknya terdapat perdarahan ovulatoar, perdarahan
anovulator serta terdapat gangguan premenstrual tension. Jika pengeluaran darah pada
perdarahan disfungsional sangat banyak, dalam hal ini penderita harus istirahat baring dan diberi
transfuse darah. Setelah pemeriksaan ginekologik menunjukan bahwa perdarahan berasal dari
17

uterus dan tidak ada abortus incomplete, perdarahan untuk sementara waktu dapat dipengaruhi
dengan hormon steroid.

3.2 Saran
Dalam menghadapi masalah ulkus portio, bidan sebaiknya berkonsultasi ke puskesmas,
dokter ahli, atau rumah sakit untuk mendapatkan penanganan yang lebih sempurna.Dan
memberikan KIE untuk siap melakukan pemeriksaan lebih lanjut.



















18

DAFTAR PUSTAKA

Manuaba.1998.Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan.Jakarta:
EGC
Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri. Jakarta : EGC.
Saifudin, Abdul Bari.2006.Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.Jakarta:Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo
Sarwono.2006.Ilmu Kebidanan.Yayasan Bina Pustaka:Jakarta
http://www.infobunda.com/pages/articles/artikelshow.php?id=144&catid=7