Anda di halaman 1dari 18

I.

IDENTITAS PASIEN

Nama

: Ny.
Ny. T

Umur

: 49 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Status Perkawinan

: Menikah

Suku Bangsa

: Sunda

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Ibu rumah tangga

Alamat

: Tarogong Kidul

Tanggal masuk

: 06-0
6-08- 2014
2014

Tanggal keluar:
keluar: 11-08-2014
11-08-2014
No CM

: 68-72-xx

Rawat

: SMF Interna Ruangan Safir

II.

ANAMNESIS

Diambil dari : autoanamnesa

Tanggal : 06 Agustus 2014


2014

A. Keluhan Utama :
Nyeri dada sejak 1 hari SMRS
B. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dengan keluhan nyeri dada sebelah kiri. Nyeri dada dirasakan sejak 1
hari SMRS. Menurut pasien, nyeri dada seperti tertekan dan menjalar hingga ke punggung.
Nyeri dada dirasakan pasien sedang beraktivitas dan membaik dengan beristirahat, pasien
mengeluhkan sesak nafas saat beraktivitas, sesak tidak dipengaruhi posisi, pasien masih dapat
berbaring, jantung sering berdebar, rasa gemetar, dan sering berkeringat pada siang dan
malam hari. Pasien mengaku mudah lelah jika melakukan aktivitas seperti membereskan
rumah dan mudah lapar, nafsu makan meningkat namun berat badan cenderung menurun.
Adanya demam disangkal, riwayat batuk lama dan pengobatan paru disangkal.
Pasien mengaku 3 hari kebelakang merasa nyeri ulu hati dan mual, rasa panas di dada
sampai tenggorokan diakui pasien. Keluhan membaik setelah pasien makan. Sakit kepala
diakui, muntah disangkal, BAB dan BAK dirasakan tidak ada keluhan.

Sejak 1 tahun kebelakang pasien sedang menjalani pengobatan di poli dalam karena
didiagnosis menderita struma , dan rutin kontrol ke poli jantung karena bengkak jantung.
Riwayat darah tinggi - , riwayat alergi -, riwayat DM
C. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat penyakit DBD +
D. Riwayat Penyakit Keluarga
Adik pasien menderita Asma
Orang tua pasien memiliki riwayat Hipertensi
E. Keadaan Sosial Ekonomi
Pasien tinggal bersama suami, 2 anak kandung, ibu, dan 3 adik kandungnya. Pasien seharihari bekerja sebagai ibu rumah tangga dan suami pasien bekerja sebagai buruh. Dapat
disimpulkan kondisi ekonomi pasien kurang, dapat dilihat dari sistem pembayaran kesehatan
yang ditanggung oleh BPJS.
F. Anamnesis Sistem Organ Tubuh
Kulit

: Keringat berlebih saat siang dan malam

Kepala

: Sakit kepala

Mata

: Ketajaman mata menurun, Mata menonjol sejak 1 tahun terakhir

Telinga:
Telinga: Tidak ada keluhan
Hidung

: Tidak ada keluhan

Mulut

: Tidak ada keluhan

Tenggorokan : Tidak ada keluhan


Leher

: Leher dirasakan membesar tanpa disertai rasa sakit

Dada
( jantung/paru-paru)

: Sesak nafas (+)


Nyeri dada (+),
(+), Berdebar (+)

Abdomen (lambung/usus)

: Rasa kembung (+), Rasa panas di ulu hati (+)

Saluran kemih/alat kelamin : Tidak ada keluhan


keluhan
Haid

: Siklus menstruasi berhenti 4tahun yang lalu

Saraf dan otot

: Tidak ada keluhan


keluhan
2

Ekstremitas

: Tidak ada keluhan


keluhan

G. Riwayat makanan
Frekwensi/hari

: 4-5x/hari
4-5x/hari

Jumlah/hari

: Cukup

Variasi/hari

: Cukup

Nafsu makan

: Bertambah

H. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Umum
Keadaan umum

: Sakit sedang

Kesadaran

: Compos mentis

Tinggi Badan

: 158 cm

Berat badan

: 50 kg

Keadaan gizi

: Baik, BMI 20,0 Kg/m2 (50/(1,58)2)

Tekanan darah

: 120
120//70 mmH
mmHg

Nadi

: 100 x/menit,
x/menit, reguler, isi cukup

Suhu

: 36,5
36,5 C

Pernafasan

: 24 x/menit

Sianosis

: (-)

Edema umum

: Edema tungkai (-/-)

Cara berjalan

: Tidak diperiksa

Mobilitas

: Pasif

ASPEK KEJIWAAN
Tingkah laku

: Wajar

Alam perasaan

: Biasa

Proses pikir

: Wajar

KULIT
Warna

: Sawo matang

Eflorensensi : (-)

Jaringan parut

: (-)

Pigmentasi

Pertumbuhan rambut : Rambut tipis, beruban

Suhu raba

: (-)
: Hangat

Pembuluh darah

: Tidak melebar

Lembab/kering : Lembab

Keringat

: Berlebih

Turgor

: Cukup baik

Setempat

: (-)

Ikterus

: (-)
3

Lapisan lemak

: Cukup

Lain-lain

: (-)

Edema

: Edema tungkai (-/-)

KEPALA
Ekspresi wajah

: Wajar

Simetris muka

: Simetris

Rambut

: Putih dominan hitam

Pembuluh darah temporal

: Tidak
Tidak teraba

Mata
Exophthalmus
Enopthalmus
Kelopak
Konjungtiva
Sklera
Gerakan mata
Lensa
Visus
Tekanan bola mata
Lapangan penglihatan
Deviasi konjugate

: (+)
: (-)
: Normal
: Anemis -/: Tidak ikterik
: Baik
: Tidak dilakukan pemeriksaan
: Menurun
: Tidak dilakukan pemeriksaan
: Baik
: Tidak ada

Telinga
Tuli

: (-)

Cairan

: (-)

Lubang

: Normal

Penyumbatan : (-)

Serumen

: Tidak diperiksa

Perdarahan

: (-)

Selaput pendengaran : Tidak diperiksa


Mulut
Bibir

: Lembab

Tonsil

: T1-T1

Langit-langit : Normal

Bau pernafasan

: Biasa

Gigi geligi

: Caries (-)

Trismus

: (-)

Faring

: Tidak hiperemis

Selaput lendir

: (-)

Lidah

: Tidak deviasi

Kelenjar Getah Bening


Submandibula, Leher, Supraklavikula : Dalam batas normal

LEHER
Tekanan vena jugularis (JVP) : 5 + 4 cmH2O
Tyroid teraba 4x5cm, lunak, imobile, tepi tidak tegas, nyeri tekan (-)
DADA
4

Bentuk

: Simetris dalam keadaan statis dan dinamis, tidak ada kelainan bentuk,
tidak ada kelainan kulit dan pelebaran pembuluh darah

PARU-PARU
Inspeksi

: Simetris
Simetris hemithorak kanan dan kiri saat statis dan dinamis,

Palpasi

: Simetris hemithorak kanan dan kiri saat statis dan dinamis,


dinamis, fremitus vokal
dan fremitus taktil sama kanan kiri

Perkusi

: Sonor pada kedua lapang paru

Auskultasi

: VBS kanan = VBS kiri simetris, Rh -/-, Wh-/-

JANTUNG
Inspeksi

: Ictus cordis terlihat pada ICS 5 linea midclavicularis sinistra

Palpasi

: Ictus cordis teraba pada ICS 5 line midclavicularis sinistra, Thrill (-)

Perkusi

: Batas jantung kanan ICS 4 linea parasternalis


parasternalis dextra
Batas jantung kiri ICS 5, 2 jari lateral dari linea midclavikularis sinistra
Batas jantung atas ICS 2 linea sternalis
sternalis sinistra

Auskultasi

: BJ I-II regular, gallop (-) murmur (-)

ABDOMEN
Inspeksi

: Datar

Auskultasi

: Bising usus 12 x/menit (normal)

Perkusi

: PS/PP -/- , timpani

Palpasi

: Teraba lembut, nyeri tekan (+) Epigastrium


Hati, Limpa

Ginjal

: Tidak teraba pembesaran.

: Tidak teraba pembesaran

ANGGOTA GERAK
Lengan kanan/kiri
Tonus otot

N/N

Massa
Massa

-/-

Sendi

T.a.k

Gerakan

Tremor/
Tremor/Tremor

Kekuatan

5/5

Tungkai dan Kaki kanan/kiri


Luka

-/-

Varises

-/5

Tonus otot

N/N

Massa

-/-

Sendi

T.a.k

Gerakan

N/N

Kekuatan

5/5

Edema

-/-

I. Pemeriksaan Penunjang
LABORATORIUM
Hematologi :
Darah Rutin : Hb
Ht
Leukosit
Trombosit
Eritrosit
EKG

: 13,0 g/dl
: 37 %
: 6500/mm3
: 207.000 /mm3
: 4,56 juta/mm3

J. Ringkasan Permasalahan
Pasien datang dengan nyeri dada sebelah kiri yang menjalar kepunggung yang membaik
dengan istirahat,
istirahat, disertai sesak nafas, jantung berdebar, rasa gemetar, keringat berlebih,
mudah lelah jika beraktivitas berat, peningkatan nafsu makan dan penurunan berat badan,
nyeri ulu hati, mual, rasa panas didada sampai tenggorokan, sakit kepala. Pasien sedang
menjalani pengobatan di poli dalam karena struma, dan rutin kontr
kontrol di poli jantung karena
jantung bengkak. Pada pemeriksaan fisik, tekanan darah 120/70 mmHg, Nadi: 100x/menit,
Respirasi: 24x/menit, Suhu: 36,5oC, Exophthalmus (+
(+),Tekanan
),Tekanan vena jugularis (JVP) : 5 + 4
cmH2O, benjolan pada leher, batas
batas jantung kiri ICS 5 2 jari lateral dari linea midclavikularis
sinistra, nyeri tekan epigastrium (+).
K. Daftar Masalah
- Tyroid heart disease
- Struma difusa toksik
- Gastritis tipe refluks
L. Pengkajian
Tyroid heart disease
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Nyeri dada
Sesak nafas
Jantung berdebar
Mudah lelah saat beraktivitas
JVP 5 + 4 cmH2O
Batas jantung kiri ICS 5 2 jari lateral dari linea midclavikularis sinistra
Riwayat pengobatan di poli jantung karena bengkak jantung

Struma difusa toksik


a.
b.
c.
d.
e.

Benjolan di leher, lunak, dengan batas tidak tegas


Jantung berdebar,
Tubuh gemetar,
Keringat berlebih,
Peningkatan nafsu makan
7

f. Penurunan berat badan


g. Mual
h. Riwayat pengobatan struma
Gastritis tipe refluks
a.
b.
c.
d.

Nyeri ulu hati,


Mual
Rasa panas didada sampai tenggorokan
Nyeri tekan epigastrium

L. Perencanaan Diagnosis
- Pemeriksaan Ureum, Kreatinin, SGOT, SGPT, GDS, fT4, T3, TSHS
- USG leher
- Biopsi tyorid
- Foto thorax PA
M. Perencanaan Terapi
Asering 20 gtt/menit
Tyroid heart disease
- Spironolakton 1x25mg po
Struma difusa toksik
- Tirozol 1x10mg po
- Propanolol 2x5mg po
Gastritis tipe refluks
-Omeprazole 1x20mg po
- Ranitidin 2x25mg iv

N. Prognosis
Quo ad vitam

: ad bonam

Quo ad fungsional

: ad bonam

Quo ad sanationam

: ad bonam

O. Follow Up
Tanggal

Subjektif

07/08/14 Nyeri
dada
seperti
tertekan,
menjalar+
sesak nafas

Objektif

Assesment

Planning

KU

: sakit sedang

Diagnostik

KS

: Compos Mentis

TD

:120/70mmHg

: 84x/mnt

-Tyroid
heart
disease
-Struma difusa
toksik
-Gastritis tipe
refluks

Ureum,
Kreatinin,
SGOT, SGPT, GDS,
fT4, T3, TSHS Foto
thorax PA,

mudah lelah

: 20x/mnt;

Th/ :

mudah lapar

: 36,0o C

- Asering 20 gtt/menit

nafsu makan
meningkat

Mata : CA -/-, SI -/Eksoftalmus : +/+

- Ranitidin 2x25mg iv Inject Ranitidin 2 x


amp 1 (iv)

berat
badan
menurun

Leher : pembesaran tiroid +

- Propanolol 2x5mg po

Cor : BJ I-II murni regular


M(-) G (-)

- Tirozol 1x10mg po

demam batuk
lama
dan
pengobatan
paru disangkal

Pulmo: VBS ka=ki ,

nyeri ulu hati


dan mual

Abd : Datar lembut, BU (+),


NT epigastrium (+)

rasa panas di
dada

-Spironolakton
1x25mg po

Rh(-/-)

-Omeprazole 1x20mg
po

Wh (-/-)

Extremitas : Edema (-)


Akral : Hangat

BAB
dan
BAK
dirasakan
tidak
ada
keluhan
Mual+
Sedang
menjalani
pengobatan
struma
dan
bengkak
jantung

Tanggal

Subjektif

08/08/14 Sakit kepala


Nyeri ulu hati

Objektif

Assesment

Planning

KU

: sakit sedang

Diagnostik

KS

: Compos Mentis

TD

:110/60mmHg

: 84x/mnt

-Tyroid
heart
disease
-Struma difusa
toksik
-Gastritis tipe
refluks

Ureum,
Kreatinin,
SGOT, SGPT, GDS,
fT4, T3, TSHS Foto
thorax PA tunggu hasil

10

: 20x/mnt;

Th/ :

: 36,0o C

- Asering 20 gtt/menit

Mata : CA -/-, SI -/Eksoftalmus : +/+

- Ranitidin 2x25mg iv Inject Ranitidin 2 x


amp 1 (iv)

Leher : pembesaran tiroid +

- Propanolol 2x5mg po

Cor : BJ I-II murni regular


M(-) G (-)

- Tirozol 1x10mg po
-Spironolakton
1x25mg po

Pulmo: VBS ka=ki ,


Rh(-/-)

-Omeprazole 1x20mg
po

Wh (-/-)
Abd : Datar lembut, BU (+),
NT epigastrium (+)
Extremitas : Edema (-)
Akral : Hangat
Tanggal

Subjektif

10/08/14 Batuk
tidak
berdahak

Objektif

Assesment

Planning

KU

: sakit sedang

KS

: Compos Mentis

TD

:140/80mmHg

: 64x/mnt

-Tyroid
heart
disease
-Struma difusa
toksik
-Gastritis tipe
refluks

: 20x/mnt;

: 36,2 0 C

Diagnostik
FT4,
T3,
TSHS
tunggu hasil.
Th/ :
- BLPL
- Propanolol 2x5mg
po
- Tirozol 1x10mg po
-Spironolakton
1x25mg po

Mata : CA -/-, SI -/Eksoftalmus : +/+


Leher : pembesaran tiroid +

Edukasi:
Kontrol poli dalam
dengan
membawa
hasil fungsi tiroid

Cor : BJ I-II murni regular


M(-) G (-)
Pulmo: VBS ka=ki ,
Rh(-/-)
Wh (-/-)

11

Abd : Datar lembut, BU (+),


NT epigastrium (+)
Extremitas : Edema (-)
Akral : Hangat

BAB I
Thyroid Heart Disease
1.1

Definisi
Thyroid Heart Disease atau Penyakit Jantung Tiroid adalah suatu kelainan pada

jantung akibat pengaruh kelenjar tiroid.1

12

Pasien dengan kelainan jantung endokrin terjadi pada usia muda, pertengahan, dan usia tua,
dimana gejala nampak pada usia muda. Dan biasanya penderita kebanyakan wanita, dengan
rasio 6:1, dimana riwayat keluarga terjadi pada 45% kasus dengan faktor kehamilan, infeksi,
dan shock emosional.2
1.2

Etiologi
Hipertiroidisme dapat terjadi akibat disfungsi kelenjar tiroid, hipofisis, atau

hipotalamus. Penyebab penyakit jantung tiroid kebanyakan adalah akibat dari hipertiroid
(pembesaran kelenjar tiroid).1,2,5
Beberapa penyebab umum dari penyakit hipertiroid adalah penyakit graves,
pemasukan yang berlebihan dari hormon tiroid, pengeluaran yang abnormal dari TSH,
tiroiditis atau peradangan pada kelenjar tiroid, dan pemasukan yodium yang berlebihan.
Salah satu dari jenis penyakit hipertiroidisme adalah penyakit graves yaitu suatu penyakit
autoimun yang biasanya ditrandai oleh produksi autoantibodi yang kerja nya mirip TSH pada
kelenjar tiroid. Penyebab dari penyakit graves ini pun belum diketahui dengan pasti. Jenis
autoantibodi ini adalah tiroid stimulating immunoglobulin (TSI), tiroid peroxidase antibodi
(TPO), antibodi reseptor TSH. 1,2,5
Pemasukan berlebihan dari hormon tiroid bisa dari konsumsi tambahan hormon tiroid
yang berlebihan. Misalnya penyalahgunaan hormon tiroid sebagai obat penurun berat badan.
Pengeluaran abnormal dari TSH bisa dikarenakan adanya tumor di kelenjar pituitari yang
menyebabkan eksresi berlebihan dari TSH. 1,5
Peradangan tiroid atau tiroiditis mungkin terjadi setelah terkena suatu penyakit virus.
Sebelumnya biasanya disertai gejala demam atau rasa sakit saat menelan. Peradangan ini
menyebabkan suatu akumulasi sel darah putih atau limfositik tiroiditis. Peradangan ini akan
menimbulkan kebocoran pada kelenjar tiroid, sehingga hormon tiroid yang masuk ke darah
akan meningkat. Limfositik tiroiditis adalah keadaan paling umum setelah suatu kehamilan
dan dapat terjadi sampai dengan 8 % dari wanita-wanita setelah melahirkan.
Fase hipertiroid dapat berlangsung dari 4 sampai 12 minggu dan seringkali diikuti
oleh suatu fase hipotiroid (hasil tiroid yang rendah) yang dapat berlangsung sampai 6 bulan.
Kelenjar tiroid menggunakan yodium untuk membuat hormon tiroid. Kelebihan yodium dapat
menyebabkan terjadinya hipertiroid. Obat-obat tertentu misalnya amiodarone (obat anti
aritmia) ternyata mempunyai kandungan yodium yang besar sehingga mungkin menyebabkan
penyakit hipertiroid ini.
1.3.1

Epidemiologi

13

Penyakit tiroid lebih sering menyerang wanita dibanding pria karena pengaruh
hormonal pada wanita baik itu hipertiroid maupun hipotiroid. Namun keparahan yang diderita
pria lebih parah dibanding wanita. Penyakit tiroid sering terjadi pada saat masa kehamilan.
Hormon seks pada perempuan lebih rentan terhadap disfungsi kelenjar tiroid. Terdapat
predisposisi familial (genetik) kuat pada sekitar 15% pasien graves yang mempunyai keluarga
dekat dengan kelainan sama dan kira-kira 50% keluarga pasien dengan penyakit graves
mempunyai autoantibodi tiroid yang beredar di darah. Penyakit ini dapat terjadi pada segala
umur, dengan insiden puncak pada kelompok umur 20-40 tahun. 5
1.4

Manifestasi klinik
Manifestasi klinik dari hipertiroid yaitu peningkatan laju metabolic basal rate (BMR),

peningkatan pembentukan panas, pengeluaran keringat yang berlebihan, penurunan toleransi


terhadap panas, nafsu makan dan asupan makanan meningkat, penurunan berat badan,
degradasi simpanan karbohidrat, lemak , dan protein sehingga bisa menyebabkan kelemahan
otot, menimbulkan efek kardiovaskuler yaitu denyut jantung meningkat, palpitasi atau
berdebar-debar yang bisa menyebabkan takikardi dan fibrilasi, juga kewaspadaan mental
yang berlebihan.5,6

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap hormon tiroid:


Hipotalamus
Fungsi

sintesis

Hipofisis Anterior
dan sintesis

pelepasan

Tiroid

dan sintesis

TRH pelepasan TSH

pelepasan

(menstimulasi

dan
hormon

tiroid

prolaktin, FSH, LH)


Perangsang

penurunan T3 serum, TRH, penurunan T3 TSH


paparan

terhadap dan
baru hormon

T4

serum,

dingin

(bayi

estrogen

lahir),

katekolamin (meningkatkan
14

adrenergik

alfa, tempat

vasopressin arginin
Penghambat

peningkatan
serum,

pengikatan

TRH)

T3 peningkatan T3 dan antibodi penghambat

penghambat T4

adrenergik

serum, TSH, terapi litium

alfa, somatostatin,

tumor hipotalamus

dopamin,
glukokortikoid,
tumor hipofisis

1.5
Patofisiologi
Efek spesifik pada penyakit jantung akibat hormon tiroid sebagai berikut:
Efek Kardiovaskuler
T3 merangsang transkripsi dari rantai berat miosin, memperbaiki kontraktilitas otot
jantung. T3 juga meningkatkan transkripsi dari Ca 2+ ATPase dalam retikulum sarkoplasmik,
meningkatkan kontraksi diastolik jantung, dan meningkatkan reseptor adrenergik beta dan
konsentrasi protein G.7,8
Hormon tiroid mempunyai efek inotropik dan kronotropik yang nyata terhadap
jantung. Hal ini merupakan penyebab dari keluaran jantung dan peningkatan nadi yang nyata

pada hipertiroidisme dan kebalikannya pada hipotiroidisme. 7,8


Efek Simpatik
Hormon tiroid meningkatkan jumlah reseptor adrenergik beta dalam otot jantung.
Hormon tiroid juga menurunkan reseptor adrenergik alfa miokardial. Di samping itu mereka
juga dapat memperbesar aksi katekolamin pada tempat pascareseptor. Dengan demikian,
kepekaan terhadap katekolamin meningkat dengan nyata pada hipertiroidisme, dan terapi
dengan obat-obatan penyekat adrenergik beta dapat sangat membantu dalam mengendalikan

takikardia dan aritmia.


Efek Pulmonar
Hormon tiroid mempertahankan dorongan hipoksia dan hiperkapneu normal pada pusat
pernapasan. Pada hipotiroidisme berat, terjadi hipoventilasi, kadang-kadang memerlukan
ventilasi bantuan. 7,8
1.6

Penatalaksanaan

A Penatalaksanaan Medika Mentosa


1 Obat Anti-Tiroid
Obat anti tiroid yang dianjurkan ialah golongan tionamid yaitu propilthiourasil (PTU)
dan carbamizole (Neo Mercazole) . Wanita hamil dapat mentolerir keadaan hipertiroid yang
tidak terlalu berat sehingga lebih baik memberikan dosis OAT yang kurang dari pada berlebih.
15

Bioavilibilitas carbamizole pada janin 4 kali lebih tinggi dari pada PTU sehingga lebih mudah
menyebabkan keadaan hipotiroid. Melihat hal -hal tersebut maka pada kehamilan PTU lebih
terpilih. PTU mula-mula diberikan 100-150 mg tiap 8 jam. Setelah keadaan eutiroid tercapai
(biasanya 4-6 minggu setelah pengobatan dimulai), diturunkan menjadi 50 mg tiap 6 jam dan
bila masih tetap eutiroid dosisnya diturunkan dan dipertahankan menjadi 2 kali 50 mg/hari.
Idealnya hormon tiroid bebas dipantau setiap bulan. Bila tirotoksikosis timbul lagi, biasanya
pasca persalinan, PTU dinaikkan sampai 300 mg/hari. Efek OAT terhadap janin dapat
menghambat sintesa hormon tiroid. Selanjutnya hal tersebut dapat menyebabkan
hipotiroidisme sesaat dan struma pada bayi, walaupun hal ini jarang terjadi. Pada ibu yang
menyusui yang mendapat OAT, OAT dapat keluar bersama ASI namun jumlah PTU kurang
dibandingkan carbamizole dan bahaya pengaruhnya kepada bayi sangat kecil, meskipun
demikian perlu dilakukan pemantauan pada bayi seketat mungkin.
2 Golongan Beta-Bloker
Golongan beta bloker sangat baik untuk penderita aritmia akibat hipertiroid. Karena
pada penderita hipertiroid umum nya terdapat peningkatan kepekaan reseptor katekolamin
juga peningkatan saraf adrenergik beta. Jadi beta bloker sangat baik untuk dipilih. Namun
obat golongan ini dikontraindikasikan pada kehamilan karena berbagai penelitian
menunjukan bahwa obat tersebut menyebabkan terjadinya plasenta yang kecil, pertumbuhan
3

janin intra uterin yang terhambat, dan tidak ada respon terhadap keadaan anoksia.
Tiroidektomi
Tiroidektomi secara umum sebenarnya tidak dianjurkan. Hanya perlu dilakukan bila
pasien hipersensitif terhadap obat anti tiroid (OAT) sama sekali tidak efektif, suatu hal yang
sangat jarang atau pada mereka dengan gejala mekanik akibat penekanan dari struma.

B Penatalaksanaan Non Medika Mentosa


1 Pemberian nutrisi yang adekuat
Jika pasien ternyata juga mengalami gejala diare maka hindari makanan berserat tinggi.
2 Kurangi aktivitas berat
1.7 Komplikasi
Penyakit tiroid ini ini bisa menimbulkan krisis tirotoksikosis atau tiroid strom, yaitu
eksaserbasi akut semua gejala tirotoksikosis, sering terjadi sebagai suatu sindroma yang
demikian berat sehingga dapat menyebabkan kematian. Kadang-kadang krisis tiroid dapat
ringan dan nampak hanya sebagai reaksi febris yang tidak bisa dijelaskan setelah operasi
tiroid pada pasien yang persiapannya tidak adekuat. Lebih sering, terjadi dalam bentuk yang
lebih berat, setelah operasi, terapi iodin radioaktif atau partus pada pasien dengan
tirotoksikosis yang tidak terkontrol adekuat atau selama penyakit atau kelainan stres yang

16

berat, seperti diabetes yang tidak terkontrol, trauma, infeksi akut, reaksi obat yang berat, atau
infark miokard. Manifestasi klinis krisis tiroid adalah
1 Hipermetabolisme yang menonjol dan respons adrenergik berlebihan. Febris dari 38-41C
dan dihubungkan dengan muka kemerahan dan keringat banyak.
2 Terdapat takikardia berat sering dengan fibrilasi atrium, tekanan nadi tinggi, dan kadang3
4
5

kadang gagal jantung.


Gejala susunan saraf pusat termasuk gelisah, delirium, dan koma.
Gejala gastrointestinal termasuk nausea, muntah, diare.
Akibat fatal ada hubungannya dengan gagal jantung dan syok.
Pernah diduga bahwa krisis tiroid adalah akibat bahwa pelepasan mendadak cadangan
tiroksin dan triiodotironin dari kelenjar tirotoksis. Pemeriksaan lebih teliti telah
mengungkapkan bahwa kadar T4 dan T3 serum pada pasien dengan krisis tiroid tidaklah lebih
tinggi daripada pasien tirotoksikosis tanpa krisis tiroid. Tidak ada bukti bahwa krisis tiroid
disebabkan oleh produksi triiodotironin berlebihan. Ada bukti bahwa pada tirotoksikosis
terdapat peningkatan jumlah tempat pengikatan untuk katekolamin, sehingga jantung dan
jaringan saraf mempunyai kepekaan yang meningkat terhadap katekolamin dalam sirkulasi.
Teori saat ini bahwa dalam keadaan seperti ini, dengan tempat pengikatan yang bertambah
yang tersedia untuk katekolamin, infeksi atau stres bedah memacu pengeluaran katekolamin,
yang bersama-sama kadar T4 dan T3 bebas yang tinggi, menimbulkan problem akut ini.
Gambaran diagnostik klinis yang paling menonjol dari krisis tirotoksikosis adalah
hiperpireksia yang jauh lebih berat dari tanda-tanda lain.9

1.8 Prognosis
Secara umum, perjalanan penyakit hipertiroid ini ditandai oleh remisi dan eksaserbasi untuk
jangka waktu yang lama kecuali kalau kelenjar dirusak dengan pembedahan atau iodin
radioaktif. Walaupun beberapa pasien bisa tetap eutiroid untuk jangka waktu lama setelah
terapi, banyak yang akhirnya mendapatkan hipotiroidisme. Sehingga, follow-up seumur hidup
merupakan indikasi untuk semua pasien dengan penyakit hipertiroid.
1.9 Pencegahan
1

Atur asupan yodium secara seimbang

Olahraga teratur

17

Daftar Pustaka

Ganong. Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC; 2005.

Guyton dan Hall. Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Jakarta: EGC; 2007.

Nelson Piercey. Thyroid disease in : Handbook of Obstetric Medicine. 2nd edition.


London: Martin Dunitz; 2001.

Price AS, Wilson ML. Patofisiologi proses-proses penyakit. Edisi 4. Alih Bahasa;
Anugerah P. Jakarta: EGC; 2005. h. 1049-80.

Sherwood. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Edisi 21. Jakarta: EGC; 2001.

Ingbar SH, Woeber KA. Disease of the thyroid in : Harrison's Principles of


Internal Medicine.9th edition. Tokyo: McGraw Hill Hogakusha Ltd; 2008. p. 1694

Mansjoer A. Kapita selekta kedokteran jilid 1. Edisi 3. Jakarta: Fakultas


Kedokteran UI; 1999. hal 594-600.

Noer HMS. Buku ajar ilmu penyakit dalam jilid 1. Edisi 3. Jakarta: Balai Penerbit
Fakultas Kedokteran UI; 2006. h. 725.

Harrison. Prinsip-prinsip ilmu penyakit dalam volume 1. Jakarta: Penerbit Buku


Kedokteran EGC.

18