Anda di halaman 1dari 91

DEMAM TIFOID

Suatu penyakit demam yang disebabkan oleh


infeksi sistemik Salmonella, yang 90% terjadi pada
umur 3 19 tahun.
KRITERIA DIAGNOSIS
Anamnesis
Demam tinggi dan mencapai suhu tertinggi pada
akhir

minggu

pertama

dan

terus

bertahan

pada

minggu kedua, anak mengigau, malise, letargi dan


sakit kepala. Gangguan pencernaan : anoreksia, mual,
muntah, nyeri perut, kembung, diare dan konstipasi.
Pemeriksaan Fisik
Kesadaran menurun, delirium, bradikardi relative,
tongue

(tengah

kotir,

tepi

hiperemis,

tremor)

meteorismus, hepatomegali, splenomegali.


Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium Darah Tepi
a. Leukopeni
b. Trombositopeni
c. Aneosinofilia
d. Anemia
e. Limfositosis relative
2. Serologis
- Titer O antigen > 1/160 atau meningkat 4 kali
dalam interval 1 minggu
- IgM Salmonella
SMF Anak

3. Mikrobiologis
Biakan Salmonella Typhi (+) pada biakan darah,
urine dan feses (biakan empedu)
DIAGNOSA BANDING
- Malaria
- Influenza
- Tuberculosis, dll
TERAPI
1. Kloramfenikol 50 100 mg/kgBB/hari oral/iv dibadi
4 dosis, maksimal 2 g/hari, sampai 7 hari bebas
panas, minimal 10 hari. Tidak dianjurkan bila Hb <
8 g% dan atau leukosit <2000/mm3
2. Ceftriaxon 80 mg/kgBB/hari selama 5 10 hari.
3. Cefixim 10 mg mg/kgBB/hari dibagi 2 dosis selama
5 hari.

SMF Anak

INFEKSI VIRUS DENGUE


Infeksi virus dengue merupakan suatu penyakit
demam

akut

yang

disebabkan

oleh

virus

genus

Flavivirus, family Flaviviridae, mempunyai 4 jenis


serotype yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4,
melalui perantara nyamuk Aedes aegypti atau Aedes
albopictus.

Keempat

serotipe

dengue

terdapat

di

Indonesia, DEN-3 merupakan serotipe dominan dan


banyak berhubungan dengan kasus berat,

diikuti

serotipe DEN-2.
Pada saat ini jumlah kasus masih tetap tinggi rata
rata 10-25 per 100.000 penduduk, namun angka
kematian

telah

terbanyak

yang

menurun
terkena

bermakna
infeksi

<2%.

dengue

Umur
adalah

kelompok umur 4-10 tahun, walaupun makin banyak


kelompok umur lebih tua. Spektrum klinis infeksi
dengue dapat dibagi menjadi (1) gejala klinis paling
ringan tanpa gejala (silent dengue infection), (2)
demam dengue (DD), (3) demam berdarah dengue
(DBD) dan (4) demam berdarah dengue disertai syok
(sindrom syok dengue/DSS).
DIAGNOSIS
Anamnesis
- Demam merupakan tanda utama, terjadi mendadak
tinggi, selama 2-7 hari
- Disertai lesu, tidak mau makan dan muntah
SMF Anak

- Pada anak besar dapat mengeluh nyeri kepala, nyeri


otot dan nyeri perut
- Diare kadang kadang dapat ditemukan
- Perdarahan
paling
sering
dijumpai

adalah

perdarahan kulit dan mimisan


Pemeriksaan Fisik
- Gejala klinis DBD diawali demam mendadak tinggi,
facial flush, muntah, nyeri kepala, nyeri otot dan
sendi, nyeri tenggorok dengan faring hiperemis,
nyeri di bawah lengkung iga kanan. Gejala penyerta
tersebut lebih mencolok pada DD daripada DBD.
- Sedangkan hepatomegali dan kelainan fungsi hati
lebih sering ditemukan pada DBD.
- Perbedaan antara DD dan DBD adalah pada DBD
terjadi peningkatan permeabilitas kapiler sehingga
menyebabkan perembesan plasma, hipovolemia dan
syok.
- Perembesan plasma mengakibatkan ekstravasasi
cairan

ke

dalam

rongga

pleura

dan

rongga

peritoneal selama 24-48 jam.


- Fase kritis sekitar hari ke-3 hingga ke-5 perjalanan
penyakit. Pada saat ini suhu turun, yang dapat
merupakan awal penyembuhan pada infeksi rngan
namun pada DBD berat merupakan tanda awal syok.
- Perdarahan dapat berupa petekie, epistaksis,
melena ataupun hematuria
Tanda tanda syok

SMF Anak

- Anak gelisah, sampai terjadi penurunan kesadaran,


sianosis
- Nafas cepat, nadi teraba lembut kadang kadang
tidak teraba
- Tekanan darah turun, tekanan nadi <10 mmHg
- Akral dingin, capillary refill menurun
- Diuresis menurun sampai anuria

Pemeriksaan penunjang
Laboratorium
- Darah perifer, kadar hemoglobin, leukosit dan
hitung jenis, hematokrit, trombosit.
Pada apusan darah perifer juga

dapat

dinilai

lomfosit plasma biru, peningkatan 15% menunjang


diagnosis DBD
- Uji serologis, uji hemaglutinasi inhibisi dilakukan
saat fase akut dan fase konvalesens
- Infeksi primer, serim akut <

1:20,

serum

konvalesens naik 4x atau lebih namun tidak


melebihi 1:1280
- Infeksi sekunder, serum akut < 1:20, konvalesens
1:2560; atau serum akut 1:20, konvalesens naik
4x atau lebih
- Persangkaan infeksi sekunder yang baru terjadi
(presumptive secondary infection): serum akut
1:1280, serum konvalesens dapat lebih besar atau
sama

SMF Anak

- Pemeriksaan radiologis (urutan pemeriksaan sesuai


indikasi klinis)
- Pemeriksaan foto dada, dilakukan atas indikasi (1)
dalam keadaan klinis ragu ragu, namun perlu
diingat bahwa terdapat kelainan radiologis pada
perembesan

plasma

20-40%,

(2)

pemantauan

klinis, sebagai pedoman pemberian cairan


- Kelainan radiologi, dilatasi pembuluh darah paru
terutama daerah hilus kanan, hemitoraks kanan
lebih

radio

opak

dibandingkan

kiri,

kubah

difragma kanan lebih tinggi dari pada kanan dan


efusi pleura
- USG : efusi pleura, ascites, kelainan (penebalan)
dinding vesica felea dan vesica urinaria
Diagnosis DBD ditegakkan berdasarkan criteria klinis
dan laboratorium (WHO tahun 1997) :
Kriteria klinis
- Demam tinggi mendadak, tanpa sebab yang jelas,
berlangsung terus menerus selama 2-7 hari.
- Terdapat manifestasi perdarahan, termasuk
bending

positif,

petekie,

ekimosis,

epistaksis,

perdarahan gusi, hematemesis dan melena


- Pembesaran hati
- Syok,
TATA LAKSANA

SMF Anak

uji

Terapi infeksi virus dengue dibagi menjadi 4 bagian,


(1) Tersangka DBD, (2) Demam Dengue (DD), (3) DBD
derajat I dan II (4) DBD derajat III dan IV (DSS). Lihat
Bagan 1, 2, 3, dan 4 dalam lampiran.
DBD tanpa stok (derajat I dan II)
Medikamentosa
- Antipiretik dapat diberikan, dianjurkan pemberian
parasetamol bukan aspirin
- Diusahakan tidak memberikan obat obat yang
tidak

diperlukan

(misalnya

antasid,

antiemetic)

untuk mengurangi beban detoksifikasi obat dalam


hati
- Kortikosteroid diberikan pada DBD ensefalopati,
apabila

terdapat

perdarahan

saluran

cerna

kostikosteroid tidak diberikan


- Antibiotik diberikan untuk DBD ensefalopati
Suportif
- Mengatasai
akibat

kehilangan

peningkatan

cairan

plasma

permeabilitas

sebagai

kapiler

dan

perdarahan
- Kunci keberhasilan terletak pada kemampuan untuk
mengatasi masa peralihan dari fase demam ke fase
syok disebut time of fever differvesence dengan
baik
- Cairan intravena diperlukan, apabila (1) anak terus
menerus muntah, tidak mau minum, demam
tinggi, dehidrasi yang mempercepat terjadinya syok,
SMF Anak

(2) nilai hematokrit cenderung meningkat pada


pemeriksaan berkala
DBD disertai syok (Sindrom Syok Dengue, derajat
III dan IV)
- Penggantian

volumue

plasma

segera,

cairan

intravena larutan ringer laktat 10 -20 ml/kgBB


secara bolus diberikan dalam waktu 30 menit.
Apabila syok belum teratasi tetap diberikan ringer
laktat

20

ml/kgBB

ditambah

koloid

20-30

ml/kgBB/jam, maksimal 1500 ml/hari.


- Pemberian cairan 10 ml/kgBB/jam tetap diberikan 14 jam pasca syok. Volume cairan diturunkan menjadi
7 ml/kgBB/jam, selanjutnya 5 ml dan 3 ml apabila
tanda vital dan diuresis baik
- Jumlah urin 1 ml/kgBB/jam merupakan indikasi
bahwa sirkulasi membaik
- Pada umumnya cairan tidak perlu diberikan lagi 48
jam setelah syok teratasi
- Oksigen 2-4 l/menit pada DBD syok
- Koreksi asidosis metabolic dan elektrolit pada DBD
syok
- Indikasi pemberian darah :

Terdapat perdarahan secara klinis


- Setelah pemberian cairan kristaloid dan koloid, syok
menetap, hematokrit turun, diduga telah terjadi
perdarahan, berikan darah segar 10 ml/kgBB

SMF Anak

- Apabila kadar hematokrit tetap > 40 vol%, maka


berikan darah dalam volume kecil
- Plasma segar beku dan suspensi trombosit berguna
untuk koreksi gangguan koagulopati atau koagulasi
intravascular desiminata (KID) pada syok berat
yang menimbulkan perdarahan masif
- Pemmberian transfusi suspensi trombosit pada KID
harus selalu disertai plasma segar (berisi faktor
koagulasi

yang

diperlukan),

untuk

mencegah

perdarahan lebih hebat


DBD ensefalopati
Pada ensefalopati cenderung terjadi edema otak dan
alkalosis, maka bila syok telah teratasi, cairan diganti
dengan cairan yang tidak mengandung HCO3 dan
jumlah cairan segera dikurangi. Larutan ringer laktat
segera ditukar dengan larutan NaCl (0,9%) : glukosa
(5%) = 3:1.
Indikasi rawat
Lihat bagan 1
Pemantauan
Pemantauan selama perawatan
Tanda klinis, apakah syok telah teratasi dengan baik,
adakah pembesaran hati, tanda perdarahan saluran
cerna,

tanda

ensefalopati,

harus

dimonitor

dievaluasi untuk menilai hasil pengobatan.


SMF Anak

dan

Kadar hemoglobin, hematokrit dan trombosit tiap 6


jam, minimal tiap 12 jam.
Balans caiaran, catat jumlah cairan yang masuk,
diuresis ditampung dan jumlah perdarahan.
Pada DBD syok, lakukan cross match darah untuk
persiapan transfusi darah apabila diperlukan.
Faktor risiko terjadinya komplikasi :
- Ensefalopati

dengue,

dapat

terjadi

pada

DBD

dengan syok ataupun tanpa syok


- Kelainan ginjal, akibat syok berkepanjangan dapat
terjadi gagal ginjal akut
- Edem paru, seringkali terjadi akibat overloading
cairan
Kriteria memulangkan pasien
-

Tidak demam selama 24 jam tanpa antipiretik


Nafsu makan membaik
Secara klinis tampak perbaikan
Hematokrit stabil
Tiga hari setelah syok teratasi
Jumlah trombosit > 50.000/ml
Tidak dijumpai distress pernafasan

SMF Anak

10

Bagan I
Tata Laksana Kasu Tersangka DBD/Infeksi Virus
Tersangka
Dengue
DBD

Demam tinggi, mendadak,


terus menerus < 7 hari,
apabila tidak disertai
infeksi saluran nafas
bagian atas, dugaan infeksi
virus dengue lebih kuat
Ada
Kedaruratan

Tidak ada kedaruratan


Periksa Uji
Tourniquet
Uji Tourniquet
(+)

Jumlah
trombosit
100.000/ul

Rawat Inap

Uji Tourniquet
(-)

Jumlah
trombosit
> 100.000/ul

Rawat jalan
Parasetamol
Kontrol tiap hari
sampai demam
hilang

Rawat Jalan

Nilai tanda klinis


Periksa Hb, Ht,
trombosit bila demam
menetap setelah hari
sakit ke-3

Minum banyak 1,5-2 lt/hari


Parasetamol
Kontrol tiap hari sampai
demam turun
Periksa Hb, Ht, trombosit tiap
Perhatian untuk orangtua

Pesan bila timbul tanda syok,


yaitu gelisah, lemah,
kaki/tangan dingin, sakit perut,
BAB hitam, BAK kurang
Lab : Hb & Ht naik, trombosit
turun
Segera Bawa ke Rumah
Sakit

SMF Anak

11

Bagan II
Tata Laksana Tersangka DBD (Rawat Inap) atau
Demam Dengue
Tersangka DBD (Rawat Inap) atau Demam
Dengue

Gejala klinis : demam 2-7


hari, uji tourniquet (+)
atau perdarahan spontan
Lab : Ht tidak meningkat
Trombositopeni (ringan)

Pasien masih dapat


minum :
Beri minum banyak 1-2
lt/hari atau
1 sdk makan tiap 5 menit
Jenis minuman : air putih,
teh manis, sirup, jus buah,
susu, oralit

Monitor gejala klinis dan


laboratorium
Perhatikan tanda syok
Palpasi hati setiap hari
Ukur dieresis setiap hari
Awasi perdarahan
Periksa Hb, Ht, trombosit tiap 612 jam

Perbaikan klinis dan


laboratoris

Pasien tidak dapat


minum :
Pasien muntah terus

Pasang infus NaCl 0,9%


: Dx 5% (1:3), tetesan
rumatan sesuai berat
badan
Periksa Hb, Ht,
Trombosit

Ht naik Ringer Laktat


(tetesan disesuaikan,
lihat bagan 3)

Infus ganti Ringer


Laktat
(tetesan disesuaikan,
lihat bagan 3)

Pulang (lihat : Kriteria


memulangkan pasien)

SMF Anak

12

Bagan 3
Tata Laksana DBD derajat I dan II
DBD Derajat I dan II
Cairan Awal
RL/NaCl 0,9 atau
RLD x 5%/NaCl 0,9% +
Dx5%
6-7 ml/kg/jam*
Monitor tanda vital / nilai Ht dan Trombosit tiap 6 jam

Perbaikan

Tidak ada
perbaikan

Tidak gelisah
Nadi kuat
Tekanan darah stabil
Diuresis cukup 1
ml/kg/jam)
Ht turun (2 kali

Gelisah
Distres pernapasan
Frekuensi nadi naik
Diresis kurang/tidak
ada
Ht tetap tinggi atau

Tanda vital
memburuk
Ht meningkat
Tetesan
dinaikkan
10-15 ml/kg/jam
Tetesan dinaikkan
bertahap
Evaluasi 15
menit
Tanda vital tidak
stabil

Tetesan
dikurangi

5 ml/kg/jam

Perbaik
an

Perbaikan
Sesuaikan tetesan

Distres
pernapasan
Ht naik
Tek. Nadi 20
IVFD stop pada 24-48
jam
Bila tanda vital/Ht
stabil dan diuresis

*
Transfusi
darah
segar 10

Koloid 20-30
ml.kg
Perbaik
an

* BB 20 kg

SMF Anak

Hb/Ht turun

13

Bagan 4
Tata Laksana DBD derajat III & IV atau DSS
DBD derajat III & IV
atau DSS
1. Oksigenisasi (berikan O2 2-4 ltr/menit)
2. Penggantian volume plasma segera (cairan
kristaloid isotonis)
Ringer laktat / NaCl 0,9%
20 ml/kg secepatnya (bolus dalam 30

Evaluasi 30 menit, apakah syok


teratasi?
Pantau tanda vital tiap 10 menit
Catat keseimbangan cairan selama pemberian
cairan intravena
Syok teratasi
Kesadaran membaik
Nadi teraba kuat
Tekanan nadi > 20
mmHg
Tidak sesak
nafas/sianosis
Ekstremitas hangat

Syok tidak teratasi


Kesadaran menurun
Nadi lembut/tidak
teraba
Tekanan nadi < 20
mmHg
Distres
pernapasan/sianosis
Ekstremitas dingin

Cairan dan tetesan


disesuaikan
10 ml/kg/jam

Lanjutkan cairan
20 ml/kg/jam

Evaluasi ketat

Tambahkan
koloid/plasma
Dekstran/FPP
10-20 (max 30)

Tanda vital
Tanda
perdarahan
Diuresis
Hb, Ht,
Stabil dalam 24 jam/Ht
< 40%
Tetesan 5
ml/kg/jam

Koreksi asidosis
Evaluasi 1 jam
Syok teratasi
Ht turun

Tetesan 3
ml/kg/jam

Infus stop tidak > 48


jam
Setelah syok teratasi

SMF Anak

Transfusi
darah segar 10
ml/ kg diulang
sesuai

14

Syok belum
teratasi
Ht tetap tinggi/naik

Koloid 20 ml/kg

TETANUS

Tetanus adalah penyakit yang disebabkan oleh


eksotoksin bentuk negative clostridium tetani dengan
predileksi sususnan saraf tepi.
KRITERIA DIAGNOSIS
Berdasarkan Manifestasi Klinik :
1. Tetanus Neonatoruum
- Anamnesis
: Bayi sulit atau tidak mau menetek
- Fisik
: Trismus, mulut mencucu
Kejang rangsang atau kejang spontan
2. Tetanus Anak
- Anamnesis

Ada

port

dentre

atau

luka

tusuk/luas, radang
telinga atau caries dentis
- Fisik

: Trismus, opistotonus, perut papan,

tidak
dapat berjalan atau berjalan seperti
robot
Kejang rangsang
Kesadaran tidak turun
DIAGNOSIS BANDING
Tetanus neonatorum / Tetanus Anak

SMF Anak

15

TERAPI
1. Medikamentosa
ATS
Tet. Neo
Hari I
: 10.000 U.im
Hari II
: 10.000 U.im
Tet. Anak
Hari I
: 20.000 U.im
Hari II
: 20.000 U.im
Antikonvulsan
Tet. Neo :
o Diazepam 8 10 mg/kgBB/hr dibagi 12 dosis
atau
o Gabungan fenobarbital dan largactil
Fenobarbital 30 mg (im) 6 x 15 mg per oral
Largactil 10 mg (im) 6 x 2 mg per oral
Tet. Anak :
o Diazepam 4 8 mg/kgBB/hr dibagi 2 dosis
atau
o Gabungan fenobarbital dan largacil
Largactil 10 mg (im) 2 5 mg/kg/BB/hr
dibagi 6 dosis
Antibiotika
Tet. Neo
o Metronidazole 30 mg/kgBB/hari dibagi 4 dosis
7 10 hari
o Ampicillin 100 mg/kgBB/hari 3 dosis
o Gentamicin 5 mg/kgBB/hari 3 dosis
Tet. Anak
o Metronidazole 30 mg/kgBB/hari dibagi 4 dosis
7 10 hari
o Lamanya pemberian selama 10 hari

SMF Anak

16

2. Antiseptika
H2SO2 dan debridement port dentre
3. Suportif dan simpomatik
PNEUMONIA
Peradangan akut parenkim paru yang meliputi
alveolus dan jaringan interstitial yang disebabkan oleh
bermacam macam etiologi seperti bakteri, virus,
jamur dan benda asing.
KRITERIA DIAGNOSIS
Anamnesis
- Batuk yang awalnya kering, kemudian menjadi
produktif
-

dengan

dahak

purulen

berdarah
Sesak nafas
Demam
Kesulitan makan / minum
Tampak lemah
Serangan
pertama
atau

bahkan

berulang

bias

(untuk

membedakan dengan kondisi imunokompromais,


kelainan anatomi bronkus atau asma.
Pemeriksaan Fisik
- Penilaian keadaan umum, frekuensi nafas dan nadi,
kesadaran dan kemampuan makan / minum
- Gejala distress pernafasan; takipnu, retraksi
subkostal, batuk, krepitasi dan penurunan suara
paru
- Demam dan sianosis

SMF Anak

17

- Dada;

perkusi

biasanya

normal,

auskultasi

terdengar ronki basah halus dan nyaring.

Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Radiologi :
- Foto dada direkomendasikan

pada

penderita

pneumonia yang dirawat inap atau bila tanda


klinis membingungkan
- Foto dada follow up
didapatkan

adanya

hanya
kolaps

dilakukan
lobus,

bila

terjadi

komplikasi, pneumonia berat, gejala menetap,


memburuk atau tidak respon terhadap antibiotika.
2. Pemeriksaan Laboratorium :
- Jumlah leukosit dan hitung jenis
- Kultur pada penderita rawat inap dengan kondisi
berat
- Pemeriksaan uji tuberculin pada anak dengan
riwayat kontak dengan penderita TBC dewasa.
TATALAKSANA
Kriteria rawat inap
Bayi : Saturasi oksigen < 92% sianosis
Frekuensi nafas > 60x/menit
Distres pernafasan, apnea intermiten, grunting
Tidak mau minum / menetek
Keluarga tidak bias merawat dirumah
Anak

SMF Anak

: Saturasi oksigen <92%, sianosis

18

Frekuensi nafas > 50x/menit


Distres pernapasan, grunting
Terdapat tanda dehidrasi
Keluarga tidak bias merawat dirumah

1. Tatalaksana Umum
- Terapi oksigen : (kanul nasal, sungkup, head box)
- Terapi cairan intravena dan dilakukan balans
cairan ketat
- Antipiretik / enalgesik
- Nebulisasi dengan b2 antagonis dan atau NaCl
- Pasien dengan O2 harus diobservasi setiap 4 jam
2. Pemberian antibiotika
- Pilihan pertama amoxicilin untuk oral pada anak
< 5 tahun (alternative: co amoxiclav, ceflacor,
eritromicin, claritomi micin dan azitromicin
- Antibiotika
intravena
(ampicillin
dan
kloramfenikol,

co

amoxiclav,

ceftriaxon,

cefuroxim, cefotaxim)
- Bila klinis perbaikan antibiotika intravena dapat
diganti preparat oral
3. Nutrisi
- Pada pneumonia berat makanan per oral harus
dihindari
- Makanan

dapat

diberikan

melalui

NGT

atau

intravena
- Perlu dilakukan pemantauan balans cairan ketat
KRITERIA PULANG
- Gejala dan tanda pneumonia menghilang
SMF Anak

19

- Asupan peroral adekuat


- Pemberian antibiotik oral dapat diteruskan dirumah
- Keluarga mengerti dan setuju untuk pemberian
terapi dan rencana control
- Kondisi rumah memungkinkan untuk perawatan
lanjutan dirumah.

SMF Anak

20

BRONKIOLITIS
Bronkiolitis adalah peradangan bronkioli pada
bayi < 2 tahun atau penyakit seasonal viral yang
ditandai dengan adanya panas, pilek, batuk dan mengi.
KRITERIA DIAGNOSIS
Anamnesa
Demam tidak tinggi, diawali batuk pilek, batuk kering
dang mengi khas untuk bronkiolitis
Pemeriksaan Fisik
Nafas cepat, retraksi dinding dada, adanya nyeri
TATALAKSANA
-

Klinis ringan dapat rawat jalan


Klinis berat harus rawat inap
Terapi suportif : pemberian oksigen, nasal suction
Antibiotika profilaksis : Gentamisin 2 3

mg/kgBB/kali, diberikan dalam 2 dosis


- Kortikosteroid : Dexametason 0,5 mg/kgBB/hari
INDIKASI RAWAT DI RUANG INTENSIF
- Gagal mempertahankan saturasi oksigen > 92%
dengan CO2
- Perburukan / distress pernafasan
- Apnea berulang

SMF Anak

21

FAKTOR RESIKO BRONKIOLITIS BERAT


-

Usia : Bayi usia muda


Prematuritas
Kelainan jantung bawaan
Orang tua perokok
Jumlah saudara / berada di tempat penitipan
Sosioekonomi rendah

KOMPLIKASI
Corpulmonale akut

SMF Anak

22

DIARE AKUT
Diare akut adalah buang air besar lebih dari 3 kali
dalam 24 jam dengan konsistensi cair dan berlangsung
kurang dari 1 minggu.
KRITERIA DIAGNOSIS
Anamnesis
- Lama diare berlangsung, frekuensi diare sehari,
warna, konsentrasi tinja, lender dan darah dalam
tinja
- Muntah, rasa haus, rewel, anak lemah, kesadaran
menurun, buang air kecil terakhir, sesak, kejang,
kembung.
- Jumlah cairan yang masuk selama diare
- Jenis makanan dan minuman selama

diare,

mengonsumsi makanan yang tidak biasa


- Penderita diare disekitarnya dan sumber air minum
Pemeriksaan Fisik
- Keadaan umum, kesadaran dan tanda vital
- Tanda utama : keadaan umum gelisah / cengeng
atau lemah / letargi / koma, rasa haus, turgor kulit
abdomen menurun
- Tanda tambahan : uub, kelopak mata, air mata,
mukosa bibir, mulut dan lidah
- Berat badan
- Tangan ggn keseimbangan asam basa dan elektrolit,
seperta nafas cepat dan dalam (asidosis metabolic),

SMF Anak

23

kembung

(hipokalemia),

kejang

(hipo

atau

hipernatremia)
- Penilaian derajat dehidrasi dilakukan sesuai dengan
criteria :
1. Tanda dehidrasi (kehilangan cairan < 5%)
Tidak ditemukan tanda utama atau tambahan
Keadaan umum baik, sadar
UUB / mata tidak cekung, air mata ada,
mukosa mulut dan
bibir basah
Akral hangat
2. Dehidrasi ringan sedang / tidak berat (kehilangan
cairan 5 10% berat badan)
Didapatkan 2 tanda utama + 2 atau lebih tanda
tambahan
Keadaan umum gelisah atau cengeng
UUB / mata sedikit cekung, air mata kurang,
bibir / mulut sedikit kurang
Turgor kurang, akral hangat
3. Dehidrasi berat (kehilangan cairan > 10% berat
badan)
Didapatkan 2 tanda utama + 2 atau lebih tanda
tambahan
Keadaan umum lemah, letargi atau koma
UUB / mata sangat cekung, air mata tidak ada,
mukosa mulut dan bibir sangat kering
Turgor sangat kurang dan akral dingin
Pasien harus rawat inap

SMF Anak

24

Pemeriksaan Penunjang
- Tidak rutin, kecuali apabila ada tanda intoleransi
laktosa dan kecurigaan amubiasis
- Hal yang dinilai pada pemeriksaan tinja :
1. Makroskopis : konsistensi, warna, lender, darah,
bau
2. Mikroskopis
bakteri
3. Kimia

: leukosit, eritrosit, parasit,


: pH, klinites, elektrolit (Na, K,

HCO3)
- Analisa gas darah dan elektrolit bila secara klinis
dicurigai adanya gangguan keseimbangan asam
basa darah dan elektrolit
TATALAKSANA
- Lintas diare : Cairan, Seng, Nutrisi, Antibiotika yang
tepat, Edukasi
1. Cairan
a. Tanpa dehidrasi
Cairan
rehidrasi

oralit

dengan

menggunakan NEW ORALIT 5 10 ml/kgBB


setiap diare atau :
Umur < 1thn sebanyak 50 100ml
Umur 1 5thn sebanyak 100 200ml
Umur > 5thn semaunya
Dapat diberikan cairan rumah tangga sesuai
kemauan anak
ASI harus tetap diberikan

SMF Anak

25

Pasien dapat dirawat dirumah, kecuali jika


ada komplikasi lain (tidak mau minum,
muntah terus menerus, diare frekuen dan
profus)

b. Dehidrasi ringan sedang


Cairan oralit diberikan 75ml/kgBB dalam 3
jam, pengganti kehilangan caian yang telah
terjadi dan sebanyak 5 10 ml/kgBB setiap
diare cair
Rehidrasi parenteral bila anak muntah atau
menolak

orali

(BB

200ml/kgBB/hari,

10

175ml/kgBB/hari,

10
15

>15kg

kg
kg

=
=
=

135ml/kgBB/hari)
Cairan : RL, KaEN3B, NaCl 0.9%
c. Dehidrasi berat
Diberikan
cairan
rehidrasi
parenteral
dengan RL atau RA 100ml/kgBB dengan
cara pemberian
Umur < 12 bulan

: 30ml/kgBB dalam 1 jam

pertama, dilanjutkan 70ml/kgBB dalam 5


jam berikutnya
Umur > 12 bulan

: 30ml/kgBB dalam

jam pertama, dilanjutkan 70ml/kgBB dalam


2 jam berikutnya

SMF Anak

26

Masukan

cairan

peroral

diberikan

bila

pasien sudah mau / dapat minum, dimulai


5ml/kgBB selama proses rehidrasi
2. Seng (zink)
Diberikan selama 10 14 hari meskipun anak
telah tidak mengalami diare dengan dosis :
- Umur < 6 bulan
: 10mg/hari
- Umur > 6 bulan
: 20mg/hari
3. Nutrisi
ASI dan makanan dengan menu yang sama saat
anak sehat sesuai umur tetap diberikan. Adanya
perbaikan

nafsu

kesembuhan.

Anak

makan
tidak

menandakan
boleh

fase

dipuasakan,

makanan diberikan sedikit demi sedikit tapi


sering, rendah serat, buah buahan diberikan
terutama pusing.
4. Medikamentosa
- Tidak boleh diberikan anti diare
- Antibiotika diberikan bila ada indikasi
- Untuk disentri basiler :
Lini pertama
: kotrimoksazol
Lini kedua : jika resisten
Lini ketiga : cefixim
- Antiparasit (untuk amuba vegetative)
Metronidazol 50mg/kgBB/hari dibagi 3 dosis
5. Edukasi
Orangtua diminta untuk membawa kembali
anaknya ke PKK bila ditemukan : demam, tinja
berdarah, makan/minum sedikit, sangat haus,
diare makin sering atau belum membaik dalam 3
hari. Orangtua dan pengasuh diajarkan vara
menyiapkan oralit secara benar.
Langkah promotif / preventif :
1. ASI tetap diberikan
SMF Anak

27

2. Kebersihan perorangan, cuci tangan sebelum


makan
3. Kebersihan
4.
5.
6.
7.

SMF Anak

lingkungan,

buang

air

besar

dijamban
Imunisasi campak
Memberikan makanan penyapihan yang benar
Penyediaan air minum yang bersih
Selalu memasak makanan

28

KEJANG DEMAM
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang
terjadi pada kenaikan suhu tubuh (sihu rektal di atas
380C) tanpa adanya infeksi susunan saraf pusat,
gangguan

elektrolit

atau

metabolik

lain.

Kejang

disertai demam pada bayi berusia kurang dari 1 bulan


tidak termasuk dalam kejang demam. Kejang demam
sederhana adalah kejang yang berlangsung kurang
dari 15 menit, bersifat umum serta tidak berulang
dalam 24 jam. Kejang demam sederhana merupakan
80% diantara seluruh kejang demam. Kejang demam
disebut kompleks jika kejang berlangsung lebih dari 15
menit, bersifat fokal atau parsial I sisi kejang umum
didahului kejang fokal dan berulang atau lebih dari 1
kali dalam 24 jam.
Terdapat interaksi 3 faktor sebagai penyebab kejang
demam, yaitu (1) Imaturitas otak dan termoregulator;
(2) Demam, dimana kebutuhan oksigen meningkat, dan
(3)

predisposisi

genetik

>

lokus

kromosom

(poligenik, autosomal dominan)


DIAGNOSIS
Anamnesis
- Adanya

kejang,

jenis

kejang,

kesadaran,

lama

kejang
- Suhu sebelum/saat kejang, frekuensi dalam 24 jam,
interval, keadaan anak pasca kejang, penyebab
SMF Anak

29

demam di luar infeksi susunan saraf pusat (gejala


infeksi saluran nafas akut/ISPA, infeksi saluran
kemih/ISK, otitis media akut/OMA, dll)
- Riwayat perkembangan, riwayat kejang demam dan
epilepsy dalam keluarga
- Singkirkan penyebab kejang yang lain (misalnya
diare/muntah

yang

mengakibatkan

gangguan

elektrolit, sesak yang mengakibatkan hipoksemia,


asupan

kurang

yang

dapat

menyebabkan

hipoglikemia)
Pemeriksaan Fisik
- Kesadaran : apakah terdapat penurunan kesadaran
Suhu tubuh : apakah terdapat demam
- Tanda rangsang meningeal : kaku kuduk, Bruzinski I
dan II, Kernique, Laseque
- Pemeriksaan nervus kranial
- Tanda peningkatan tekanan intrakranial : ubun
ubun besar (UUB) membonjol, papil edema
- Tanda infeksi di luar SSP : ISPA, OMA, ISK, dll
- Pemeriksaan neurologi : tonus, motorik, reflex
fisiologis, reflex patologis
Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan penunjang dilakukan sesuai indikasi
untuk

mencari

penyebab

demam

atau

kejang.

Pemeriksaan dapat meliputi darah perifer lengkap,


gula darah, elektrolit, urinalisis dan biakan darah,
urin atau feses

SMF Anak

30

- Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk


menegakkan/menyingkirkan

kemungkinan

meningitis. Pada bayi kecil seringkali sulit untuk


menegakkan

atau

menyingkirkan

diagnosis

meningitis karena manifestasi klinisnya tidak jelas.


Jika yakin bukan meningitis secara klinis tidak perlu
dilakukan pungsi lumbal. Pungsi lumbal dianjurkan
pada :
- Bayi

usia

kurang

dari

12

bulan

sangat

dianjurkan
- Bayi 12 18 bulan : dianjurkan
- Bayi usia > 18 bulan tidak rutin dilakukan
- Pemeriksaan
eletroensefalografi
(EEG)
direkomendasikan.

EEG

masih

dapat

tidak

dilakukan

pada kejang demam yang tidak khas, misalnya :


kejang demam kompleks pada anak berusia lebih
dari 6 tahun atau kejang demam fokal
- Pencitraan (CT-Scan atau MRI kepala) dilakukan
hanya jika ada indikasi, misalnya:
- Kelainan
neurologi
fokal

yang

menetap

(hemiparesis) atau kemungkinan adanya lesi


structural di otak (mikrosefali, spastisitas)
- Terdapat tanda peningkatan tekanan intrakranial
(kesadaran menurun, muntah berulang, UUB
membonjol, paresis nervus VI, edema papil)
TATALAKSANA
Medikamentosa
Pengobatan medikamentosa saat kejang dapat dilihat
pada algoritme tatalaksana kejang. Saat ini lebih
SMF Anak

31

diutamakan pengobatan profilaksis intermiten pada


saat demam berupa :
- Antipiretik
Parasetamol 10 15 mg/kgBB/kali diberikan 4 kali
sehari dan tidak lebih dari 5 kali atau ibuprofen 5
10 mg/kgBB/kali, 3 4 kali sehari
- Anti kejang
Diazepam oral dengan dosis 0,3 mg/kgBB setiap 8
jam atau diazepam rectal dosis 0,5 mg/kgBB setiap
8 jam pada saat suhu tubuh >38,5 0C. Terdapat efek
samping berupa ataksia, iritabel dan sedasi yang
cukup berat pada 25-39% kasus.
- Pengobatan jangka panjang /rumatan
Pengobatan jangka panjang hanya diberikan jika
kejang demam menunjukkan cirri sebagai berikut
(salah satu) :
- Kejang lama > 15 menit
- Kelainan neurologi yang nyata sebelum/sesudah
kejang

hemiparesis,

paresis

Todd,

palsi

serebral, retardasi mental, hidrosefalus


- Kejang fokal
- Pengobatan jangka panjang dipertimbangkan jika :
- Kejang berulang 2 kali/lebih dalam 24 jam
- Kejang demam terjadi pada bayi kurang dari 12
bulan
- Kejang demam 4 kali per tahun
Obat untuk pengobatan jangka panjang : fenobarbital
(dosis 3-4 mg/kgBB/hari dibagi 1-2 dosis) atau asam
valproat (dosis 15-40 mg/kgBB/hari dibagi 2-3 dosis).
Pemberian obat ini efektif dalam menurunkan risiko

SMF Anak

32

berulangnya kejang (Level I). Pengobatan diberikan


selama 1 tahun bebas kejang, kemudian dihentikan
secara bertahap selama 1-2 bulan.
Indikasi rawat
-

Kejang demam kompleks


Hiperpireksia
Usia dibawah 6 bulan
Kejang demam pertama kali
Terdapat kelainan neurologis

Kemungkinan berulangnya kejang demam


Kejang demam akan berulang kembali pada sebagian
kasus. Faktor risiko berulangnya kejang demam adalah
:
-

Riwayat kejang demam dalam keluarga


Usia kurang dari 12 bulan
Temperatur yang rendah saat kejang
Cepatnya kejang setelah demam

Jika

seluruh

factor

di

atas

dada,

kemungkinan

berulangnya kejang demam adalah 80%, sedangkan


bila

tidak

berulangnya

terdapat
kejang

faktor

tersebut

demam

kemungkinan

hanya

10%-15%.

Kemungkinan berulangnya kejang demam paling besar


pada tahun pertama.
Faktor risiko terjadinya epilepsi
- Kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas
sebelum kejang demam pertama
- Kejang demam kompleks
SMF Anak

33

- Riwayat epilepsi pada orang tua atau saudara


kandung
Masing

kemungkinan

masing

faktor

kejadian

risiko

epilepsi

meningkatkan

sampai

4%-6%,

kombinasi dari faktor risiko tersebut meningkatkan


kemungkinan epilepsi menjadi 10%-49%. Kemungkinan
menjadi

epilepsi

tidak

dapat

dicegah

pemberian obat rumat pada kejang demam.

SMF Anak

34

dengan

MENINGITIS BAKTERIALIS
Meningitis bakterialis adalah suatu peradangan
selaput jaringan otak dan medulla spinalis yang
disebabkan oleh bakteri patogen. Peradangan tersebut
mengenai

araknoid,

piamater

dan

cairan

serebrospinalis. Peradangan ini dapat meluas melalui


ruang subaraknoid sekitar otak, medulla spinalis dan
ventrikel. Penyakit ini menyebabkan angka kematian
yang cukup tinggi (5-10%). Hampir 40% diantara
pasien

meningitis

gangguan

mengalami

pendengaran

Meningitis

harus

emergensi.

Kecurigaan

dibutuhkan

untuk

dan

ditangani
klinis

diagnosis

gejala

sisa

defisit

berupa

neurologis.

sebagai

keadaan

meningitis
karena

bila

sangat
tidak

terdeteksi dan tidak diobati, dapat mengakibatkan


kematian.
Etiologi
- Usia

bulan

Streptococcus

group

B,

Escherichia coli
- Usia 2 bulan 5 tahun: Streptococcus pneumoniae,
Neisseria menigitidis, Haemophillus influenzae
- Usia diatas 5 tahun : Streptococcus pneumoniae,
Neisseria meningitidis
DIAGNOSIS
Anamnesis
SMF Anak

35

- Seringkali didahului infeksi pada saluran nafas atas


atau saluran cerna seperti demam, batuk, pilek,
diare dan muntah
- Gejala meningitis adalah demam, nyeri kepala,
meningismus,

dengan

atau

tanpa

penurunan

kesadaran, letargi, malaise, kejang dan muntah


merupakan hal yang sangat sugestif meningitis
tetapi tidak ada satu gejala pun yang khas
- Banyak gejala meningitis yang berkaitan dengan
usia, misalnya anak kurang dari 3 tahun jarang
mengeluh nyeri kepala. Pada bayi gejala hanya
berupa demam, iritabel, letargi, malas minum dan
high pitched-cry
Pemeriksaan fisik
- Gangguan

kesadaran

dapat

berupa

penurunan

kesadaran atau iritabilitas


- Dapat juga ditemukan ubun ubun besar yang
membonjol,

kaku

kuduk

atau

tanda

rangsang

meningeal lain (Bruzinski dan Kernig), kejang dan


defisit neurologis fokal. Tanda rangsang meningeal
mungkin tidak ditemukan pada anak berusia kurang
dari 1 tahun
- Dapat juga ditemukan tanda tanda peningkatan
tekanan intrakranial
- Cari tanda infeksi di tempay lain (infeksi THT,
sepsis, pneumonia)
Pemeriksaan penunjang
SMF Anak

36

- Darah

perifer

lengkap

dan

kultur

darah.

Pemeriksaan gula darah dan elektrolit jika ada


indikasi.
- Pungsi lumbal sangat penting untuk menegakkan
diagnosis dan menentukan etiologi :
- Didapatkan cairan keruh atau opalesence dengan
Nonne (-)/(+) dan Pandy (+)/(++).
- Jumlah sel 100-10.000/mm3 dengan hitung jenis
predominan polimorfonuklear, protein 200-500
mg/dl, glukosa < 40mg/dl, pewarnaan gram,
biakan dan uji resistensi. Pada stadium dini
jumlah sel dapat normal dengan predominan
limfosit.
- Apabila telah mendapat antibiotik sebelumnya,
gambaran LCS dapat tidak spesifik
- Pada kasus berat, pungsi lumbal sebaiknya ditunda
dan tetap dimulai pemberian antibiotik empirik
(penundaan 2 3 hari tidak mengubah nilai
diagnostik kecuali untuk identifikasi kuman, itupun
jika antibiotiknya sensitif)
- Jika memang kuat dugaan

kearah

meningitis,

meskipun terdaapat tanda tanda peningkatan


tekanan intrakraanial, pungsi lumbal masih dapat
dilakukan asalkan berhati hati. Pemakaian jarum
spinal dapat meminimalkan komplikasi terjadinya
herniasi.
- Kontraindikasi mutlak pungsi lumbal hanya jika
ditemukan tanda dan gejala peningkatan tekanan
intrakranial oleh karena lesi desak ruang.

SMF Anak

37

- Pemeriksaan

computed

tomography

(CT

Scan)

dengan kontras atau magnetic resonance imaging


(MRI) kepala (paada kasus berat atau curiga ada
komplikasi seperti empiema subdural, hidrosefalus
dan abses otak)
- Pada
pemeriksaan

elektroensefalografi

dapat

ditemukan perlambatan umum.


TATA LAKSANA
Medikamentosa
Diawali dengan terapi empiris, kemudian disesuaikan
dengan hasil biakan dan uji resistensi (lihat algoritme)
Terapi empirik antibiotik
- Usia 1 3 bulan :
- Ampisilin 200 400 mg/kgBB/hari IV dibagi dalam
4 dosis + sefotaksim 200 300 mg/kgBB/hari IV
dibagi dalam 4 dosis, atau
- Seftriakson 100 mg/kgBB/hari IV dibagi daalam 2
dosis
- Usia > 3 bulan :
- Sefotaksim 200 300 mg/kgBB/hari IV dibagi
dalam 3 4 dosis, atau
- Seftriakson 100 mg/kgBB/hari IV dibagi 2 dosis,
atau
- Ampisisilin 200 400 mg/kgBB/hari IV dibagi
dalam 4 dosis + kloramfenikol 100 mg/kgBB/hari
dibagi dalam 4 dosis

SMF Anak

38

Jika sudah terdapat hasil kultur, pemberian antibiotik


disesuaikan dengan hasil kultur dan resistensi
Deksametason
Deksametason 0,6 mg/kgBB/hari IV dibagi dalam 4
dosis selama 4 hari. Injeksi deksametason diberikan 15

30

menit

sebelum

atau

pada

saat

pemberian

antibiotik.
Bedah
Umumnya tidak diperlukan tindakan bedah, kecuali
jika ada komplikasi seperti empiema subdural, abses
otak atau hidrosefalus
Suportif
- Periode kritis pengobatan meningitis bakterialis
adalah hari ke 3 dan ke 4. Tanda vital dan
evaluasi neurologis harus dilakukan secara teratur.
Guna mencegah muntah dan aspirasi sebaiknya
pasien dipuasakan lebih dahulu pada awal sakit.
- Lingkar kepala harus dimonitor setiap hari pada
anak dengan ubun ubun besar yang masih terbuka
- Peningkatan
tekanan
intrakranial,
Syndrome
Inappropriate

Antidiuretic

Hormone

(SIADH),

kejang dan demam harus dikontrol dengan baik.


Retriksi cairan atau posisi kepala lebih tinggi tidak
selalu dikerjakan pada setiap anak dengan menigitis
baakterial.
SMF Anak

39

- Perlu dipantau adanya komplikasi SIADH. Diagnosis


SIADH ditegakkan jika terdapat

kadar natrium

serum yang < 135 mEq/L (135 mmol/L), osmolaritas


serum < 270 mOsm/kg, osmolaritas urin 2 kali
osmolaritas serum, natrium urin > 30 mEq/L

(30

mmol/L) tanpa adanya tanda tanda dehidrasi atau


hipovolemia.

Beberapa

ahli

merekomendasikan

pembatasan jumlah cairan dengan memakai cairan


isotoni, terutama jika natrium serum < 130 mEq/L
(130 mmol/L). Jumlah cairan dapat dikembalikan ke
cairan rumatan jika kadar natrium serum kembali
normal.
Pemantauan
Terapi
Untuk memantau efek samping penggunaan antibiotik
dosis tinggi, dilakukan pemeriksaan darah perifer
secara serial, uji fungsi hati dan uji fungsi ginjal bila
ada indikasi.
Tumbuh kembang
Gangguan pendengaran sebagai gejala sisa meningitis
bakterialis terjadi paada 30% pasien, karena itu uji
fungsi pendengaran harus segera dikerjakan setelah
pulang. Gejala sisa lain seperti retardasi mental,
epilepsi,

kebutaan,

spastisitas

dan

hidrosefalus.

Pemeriksaan penunjang dan konsultasi ke depatemen

SMF Anak

40

terkait disesuaikan dengan temuan klinis pada saat


follow-up.

SMF Anak

41

MENINGITIS TUBERKULOSIS
Meningitis tuberkulosis adalah radang selaput
otak

yang

disebabkan

oleh

Mycobacterium

tuberculosis. Biasanya jaringan otak ikut terkena


sehingga

disebut

sebagai

meningoensefalitis

tuberkulosis. Angka kejadian jarang dibawah usia 3


bulan dan mulai meningkat dalam 5 tahun pertama.
Angka kejadian tertinggi pada usia 6 bulan sampai 2
tahun. Angka kematian berkisar antara 10 20%.
Sebagian besar memberikan gejala sisa, hanya 18%
pasien yang normal secara neurologis dan intelektual.
Anak dengan meningitis tuberkulosis bila tidak diobati,
akan meninggal dalam waktu 3 5 minggu.
DIAGNOSIS
Anamnesis
- Riwayat

demam

yang

lama/kronis,

dapat

pula

berlangsung akut
- Kejang, deskripsi kejang (jenis, lama, frekuensi,
interval) kesadaran setelah kejang
- Penurunan kesadaran
- Penurunan berat badan (BB), anoreksia, muntah,
sering batuk dan pilek
- Riwayat kontak dengan pasien tuberkulosis dewasa
- Riwayat imunisasi BCG

SMF Anak

42

Pemeriksaan fisik
Manifestasi klinis dibagi menjadi 3 stadium :
- Stadium I (inisial)
Pasien tampak apatis, iritabel, nyeri kepala, demam,
malaise,

anoreksia,

mual

dan

muntah.

Belum

tampak manifestasi kelainan neurologi


- Stadium II
Pasien tampak mengantuk, disorientasi, ditemukan
tanda

rangsang

meningeal,

kejang,

defisit

neurologis fokal, paresis nervus kranial dan gerakan


involunter (tremor, koreotetosis, hemibalismus)
- Stadium III
Stadium III disertai dengan kesadaran semakin
menurun sampai koma, ditemukan tanda tanda
peningkatan tekanan intrakranial, pupil terfiksasi,
pernafasan

ireguler

disertai

peningkatan

suhu

tubuh dan ekstremitas spastis.


Pada funduskopi dapat ditemukan papil yang pucat,
tuberkel pada retina dan adanya nodul pada koroid.
Lakukan pemeriksaan parut BCG dan tanda tanda
infeksi tuberculosis di tempat lain.
Pemeriksaan penunjang

SMF Anak

43

- Pemeriksaan meliputi darah perifer lengkap, laju


endap darah dan gula darah. Leukosit darah tepi
sering meningkat (10.000 20.000 sel/mm 3). Sering
ditemukan hiponatremia dan hipokloremia karena
sekresi antidiuretik hormone yang tidak adekuat.
- Pungsi lumbal :
- Liquor serebrospinal (LCS) jernih, cloudy atau
santakrom
- Jumlah sel meningkat antara 10 250 sel/mm3 dan
jarang

melebihi

500

sel/mm3,

hitung

jenis

predominan sel limfosit walaupun pada stadium


awal dapat dominan polimorfonuklear
- Protein meningkat di atas 100 mg/dl sedangkan
glukosa

menurun

di

bawah

35 mg/dl,

rasio

glukosa LCS dan darah dibawah normal


- Pemeriksaan BTA (basil tahan asam) dan kultur
M.Tbc tetap dilakukan
- Jika hasil pemeriksaan
meragukan,

pungsi

memperkuat

diagnosis

minggu
- Pemeriksaan

LCS

lumbal

polymerase

yang
ulangan

dengan
chain

pertama
dapat

interval

reaction

dua

(PCR),

enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) dan


latex

particle

agglutination

dapat

mendeteksi

kuman Mycobacterium di cairan serebrospinal (bila


memungkinkan).
- Pemeriksaan pencitraan (computed tomography (CT
Scan) / magnetic resonance imaging / (MRI) kepala
dengan kontras) dapat menunjukkan lesi parenkim
pada

SMF Anak

daerah

basal

otak,

infark,

44

tuberkuloma,

maupun hidrosefalus. Pemeriksaan ini dilakukan


jika ada indikasi, terutama jika dicurigai terdapat
komplikasi hidrosefalus.
- Foto rontgen dada dapat menunjukkan gambaran
penyakit tuberkulosis.
- Uji tuberculin dapat mendukung diagnosis.
- Elektroensefalografi
(EEG)
dikerjakan

jika

memungkinkan dapat menunjukkan perlambatan


gelombang irama dasar.
Diagnosis
Diagnosis pasti bila ditemukan M.tuberkulosis pada
pemeriksaan apus LCS/kultur.
TATA LAKSANA
Medikamentosa
Pengobatan

medikamentosa

diberikan

sesuai

rekomendasi American Academy of Pediatrics 1994,


yakni dengan pemberian 4 macam obat selama 2
bulan,

dilanjutkan

dengan

pemberian

INH

dan

Rifampisin selama 10 bulan.


Dosis obat antituberkulosis adalah sebagai berikut :
- Isoniazid

(INH)

10

20

mg/kgBB/hari,

dosis

maksimal 300 mg/hari.


- Rifampisin 10 20 mg/kgBB/hari, dosis maksimal
600 mg/hari.
- Pirazinamid 15 30 mg/kgBB/hari, dosis maksimal
2000 mg/hari.
SMF Anak

45

- Etambutol 15 20 mg/kgBB/hari, dosis maksimal


1000 mg/hari. atau streptomisin IM 20 30
mg/kg/hari dengan maksimal 1 gram/hari.
Kortikosteroid diberikan untuk menurunkan inflamasi
dan edema serebral. Prednison diberikan dengan dosis
1 2 mg/kg/hari selama

6 8 minggu. Adanya

peningkatan tekanan intrakranial yang tinggi dapat


diberikan deksametason 6 mg/m2 setiap 4 6 jam atau
dosis 0,3 0,5 mg/kg/hari.
Tata laksana kejang maupun peningkatan tekanan
intrakranial dapat dilihat pada bab terkait.
Perlu

dipantau

Inappropriate
Diagnosis

adanya

komplikasi

Antidiuretic

SIADH

Hormone

ditegakkan

jika

Syndrome
(SIADH).

terdapat

kadar

natrium serum yang <135 mEq/L (135 mmol/L),


osmolaritas serum <270 mOsm/kg, osmolaritas urin >
2 kali osmolaritas serum, natrium urin > 30 mEq/L (30
mmol/L) tanpa adanya tanda tanda dehidrasi atau
hipovolemia.

Beberapa

ahli

merekomendasikan

pembatasan jumlah cairan dengan memakai cairan


isotonis, terutama jika natrium serum <130 mEq/L
(130 mmol/L). jumlah cairan dapat dikembalikan ke
cairan rumatan jika kadar natrium serum kembali
normal.

SMF Anak

46

Bedah
Hidrosefalus terjadi pada 2/3 kasus dengan lama sakit
3 minggu dan dapat diterapi dengan asetazolamid 30

50

mg/kgBB/hari

dibagi

dalam

dosis.

Perlu

dilakukan pemantauan terhadap asidosis metabolic


pada pemberian asetazolamid. Beberapa ahli hanya
merekomndasikan tindakan VP-shunt

jika terdapat

hidrosefalus obstruktif dengan gejala ventrikulomegali


disertai

peningkatan

tekanan

intraventrikel

atau

edema periventrikuler.
Suportif
Jika

keadaan

dilakukan
Medik

umum

konsultasi

untuk

pasien
ke

mobilisasi

sudah

stabil,

dapat

Departemen

Rehabilitasi

bertahap,

mengurangi

spastisitas, serta mencegah kontraktur.


Pemantauan pasca rawat
Pemantaun darah tepi dan fungsi hati setiap 3 6
bulan

untuk

mendeteksi

adanya

komplikasi

obat

tuberkulostatik.
Gejala sisa yang sering ditemukan adalah gangguan
penglihatan, gangguan pendengaran, palsi serebral,
epilepsi, retardasi mental, maupun gangguan perilaku.
Pasca rawat pasien memerlukan pemantauan tumbuhkembang, jika terdapat gejala sisa dilakukan konsultasi

SMF Anak

47

ke depatemen terkait (Rehabilitasi Medik, telinga


hidung tenggorokan (THT), Mata dll) sesuai indikasi.
Pencegahan
Angka

kejadian

meningkat

dengan

meningkatnya

jumlah pasien tuberkulosis dewasa. Imunisasi BCG


dapat mencegah mengitis tuberkulosis. Faktor risiko
adalah

malnutrisi,

pemakaian

keganasan dan infeksi HIV.

SMF Anak

48

kortikosteroid,

SINDROMA NEFROTIK
Kumpulan gejala yang ditandai dengan oedema,
hipoproteinamia hipoalbuminemia, proteinuria masif
disertai dengan hipercolesterolemia, kadang kadang
disertai hematuria, hipertensi dan azotemia
DIAGNOSIS
Hipoalbuminemia (kadar albumin serum < 2.59%)
Hipoproteinemia (kadar protein serum kurang 5.5
gr%) Proteinuria Masif (Proteinurine) lebih besar
dari 0.05 0.1 gr/kgBB/24 jam + 2 (pemeriksaan
semikualitatif)
Pemeriksaan Penunjang :

Urine lengkap
Albumin
Kolesterol
Ureum
Creatinin
Darah rutin

Pemeriksaan Tambahan :
Mantoux test
Thorax Photo

SMF Anak

49

DIAGNOSIS
Sindroma Nefrotik
DIAGNOSIS BANDING
GNA
TATALAKSANA
- Tablet prednison 60 mg/m2 (maksimum 80 mg/m2)
atau 2 mg/kgBB/hr dibagi 3 dosis selama 4 minggu
- Kemudian prednison diberikan selang sehari: senin,
rabu, jumat, pagi hari (40 mg/m2/48 jam) atau 1,5
mg/kgBB/hr atau 2/3 dosis awal selama 4 minggu
- Mantoux test sebelum diberikan prednison. Bila
positif diberikan OAT.
- Bila ada hipertensi

beri

kaptopril

0,3

mg/kgBB/kali
- Antibiotik bila perlu, dapat diberikan sefadroxyl
10 - 15 mg/kgBB/kali
- Furosemid 1 2 mg/kgBB/hr. Bila didapatkan edema
-

anasarka atau hipertensi


Diet garam 1 gr/hr
Protein 1 gr/kgBB/hr
Balans cairan
Ukur urine output 24 jam
Bedrest

SMF Anak

50

GLOMERULONEFRITIS AKUT PASCA


STREPTOKOKUS
GNAPS adalah suatu reaksi imunologis akut pada
ginjal yang ditandai dengan timbulnya hematuria,
edema, hipertensi dan penurunan fungsi ginjal, yang
disebabkan oleh infeksi streptococcus.
DIAGNOSIS
Anamnesis
- Riwayat faringitis 1 2 minggu sebelumnya atau
infeksi kulit 3 6 minggu sebelumnya
- Hematuria nyata atau sembab di kedua kelopak mata
dan tungkai
- Oliguria / anuria
- Kadang kadang

disertai

dengan

kejang

dan

penurunan kesadaran
Pemeriksaan Fisik
- Hipertensi
- Edema periorbital, asites, extremitas atau edema
anasarka
- Oliguria / anuria
- Hematuria makroskopik
Laboratorium
-

Darah lengkap
Kimia klinik : ureum, creatinin
Urinalisis : hematuria, proteinuria
Serologi : ASTO, C3

SMF Anak

51

DIAGNOSIS BANDING
Sindroma Nefrotik
TATALAKSANA
- Tirah baring
- Amoxillin 30 50 mg/kgBB/hari dibagi 3 dosis bila
alergi

dapat

diberikan

eritromisin

30

50

mg/kgBB/hari dibagi 3 4 dosis, selama 10 hari


- Bila hipertensi dapat diberikan diuretic furosemid 12 mg/kgBB/hari dengan kombinasi captopril 0,3 2
-

mg/kgBB/dosis
Diet rendah garam 1 gr/kgBB/hari
Balans cairan
Ro. Thoraks bila disertai distres pernafasan
Bila disertai komplikasi fensefalopati hipertensi,
gangguan

ginjal

akut)

di

komplikasi

SMF Anak

52

tatalaksana

sesuai

KRISIS HIPERTENSI

DIAGNOSIS
- Untuk anak > 6 tahun: TD sistolik 180mmHg atau
TD
Diastolic 120 mmHg
- Untuk anak < 6 tahun: TD 50% diatas persentil
95

MANIFESTASI KLINIS
-

Sakit kepala
Muntah
Sesak nafas
Penglihatan kabur

TATALAKSANA
Nifedipin sublingual 0,1 mg/kgBB dinaikkan 0,4
mg/kgBB/kali

setiap

menit,

pada

15

pertama,

selanjutnya setiap 15 menit pada 1 jam, selanjutnya


setiap 30 menit, dosis maksimal 10mg/kali sampai TD
diastole 100 mgHg.
Furosemid dosis 1 mg/kgBB/kali. Bila tekanan darah
belum

turun

ditambah

kaptopril

dosis

0,3

mg/kgBB/kali, diberikan 2 3 dosis, maksimal 2


mg/kgBB/kali. Bila tekanan darah dapat diturunkan
dilanjutkan

dengan

nifedipin

oral.

Selanjutnya

nifedipin dan kaptopril diturunkan secara bertahap dan


diteruskan dengan kaptopril oral.

SMF Anak

53

SMF Anak

54

INFEKSI SALURAN KEMIH


ISK adalah keadaan adanya pertumbuhan bakteri
dalam saluran kemih, meliputi infeksi di parenkim
ginjal sampai infeksi di kandung kemih dengan jumlah
bakteriuria yang bermakna.
KRITERIA DIAGNOSIS
Manifestasi Klinik
Pada Neonatus
-

Pertumbuhan terlambat
Muntah
Jaundice
Demam

Pada Anak Besar


- Demam
- Disuria, Urgensi, Frekuensi
- Nyeri Pinggang
Laboratorium
- Urinalis

: Lekosituria (../L) atau > 5 sel/LPB,

Hematuria
- Kultur urine
Ditemukan bakteria > 100.000 kolom/ml urin dari
satu jenis bakteri yang diambil dengan urine porsi
tengah

SMF Anak

55

TATALAKSANA
- Ampicilin
100 mg/kgBB/hari

tiap

12

jam

(bayi

<

minggu)
: tiap 6 8 jam (bayi > 1 minggu)
- Gentamicin
5 mg/kgBB/hari : tiap 12 jam (bayi < 1 minggu)
: tiap 8 jam (bayi > 1 minggu)
- Bila dalam 48 jam tidak ada perbaikan dapat diganti
sefalosporin (ceftriaxon 75 mg/kgBB atau cefotaxim
150 mg/kgBB/hari tiap 6 jam)
- Bila perbaikan dapat diganti terapi oral (amoksilin
10 40 mg/kgBB/hari atau trime troprim 6 12
mg/kg atau cefixim 4 mg/kb)
- Medikamentosa dapat diberikan selama 7-10 hari
- Ultrasonografi bila ada indikasi
- Bila ditemukan adanya kelainan saluran kemih yang
memerlukan terpai bedah dapat dikonsulkan ke
bagian bedah anak / bedah urologi.

SMF Anak

56

GAGAL JANTUNG
Gagal jantung pada bayi dan anak adalah suatu
sindrom klinis yang ditandai oleh ketidakmampuan
miokardium memompa darah ke seluruh tubuh untuk
memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh termasuk
kebutuhan untuk pertumbuhan. Gagal jantung dapat
disebabkan oleh penyakit jantung bawaan maupun
didapat yang diakibatkan oleh beban volume (preload)
atau beban tekanan (afterload) yang berlebih atau
penurunan

kontraktilitas

miokard.

misalnya

adalah

takikardia

jantung,

anemia

berat,

kor

Penyebab

lain

supraventrikular,

blok

pulmonal

akut

dan

hipertensi akut.
DIAGNOSIS
Anamnesis
- Sesak nafas terutama saat beraktivitas. Sesak nafas
dapat mengakibatkan kesulitan makan/minum dan
dalam jangka panjang gagal tumbuh
- Sering berkeringat (peningkatan tonus simpatis)
- Ortopnea : sesak nafas yang mereda pada posisi
tegak
- Dapat dijumpai mengi
- Edema di perifer atau pada bayi biasanya di kelopak
mata
Pemeriksaan Fisik
Tanda gangguan miokard
SMF Anak

57

- Takikardia : laju jantung > 160 kali/menit pada bayi


dan > 100 kali/menit pada anak (saat diam). Jika
laju jantung > 200 kali/menit perlu dicurigai ada
takikardia supraventrikular
- Kardiomegali pada pemeriksaan fisik dan / atau foto
toraks
- Peningkatan tonus simpatis : berkeringat, gangguan
pertumbuhan
- Irama derap (gallop)
Tanda kongesti vena paru (gagal jantung kiri)
-

Takipne
Sesak nafas, terutama saat aktivitas
Ortopne
Mengi atau ronki
Batuk

Tanda kongesti vena sistemik (gagal jantung kanan)


- Hepatomegali : kenyal dan tepi tumpul
- Peningkatan
tekanan
vena
jugularis

(tidak

ditemukan pada bayi)


- Edema perifer (tidak dijumpai pada bayi)
- Kelopak mata bengkak (pada bayi)
Pemeriksaan penunjang
- Foto toraks : hamper selalu ada kardiomegali
- EKG : hasil tergantung penyebab, terutama melihat
adanya hipertrofi atrium / ventrikel dan gangguan
irama misalnya takikardi supra ventrikular

SMF Anak

58

- Ekokardiografi : melihat kelainan anatomis dan


kontaktilitas jantung, bermanfaat untuk melihat
penyebab
- Darah rutin
- Elektrolit
- Analisis gas darah

TATA LAKSANA
Penatalaksanaan gagal jantung ditujukan untuk :
- Menghilangkan

factor

penyebab,

misalnya

penutupan duktus arteriousus persisten


- Menghilangkan
factor
presipitasi,

misalnya

mengobati infeksi, anemia, aritmia


- Mengatasi gagal jantungnya sendiri
Umum
- Oksigen
- Tirah baring, posisi setengah duduk. Sedasi kadang
diperlukan: fenobarbital 2 3 mg/kgBB/dosis tiap 8
jam selama 1 2 hari
- Koreksi gangguan keseimbangan asam basa dan
elektrolit
- Retriksi garam jangan terlalu ketat, pada anak
garam <0.5 g/hari
- Timbang berat badan tiap hari
- Hilangkan factor yang memperberat : atasi demam,
anemia, infeksi jika ada
Medikamentosa

SMF Anak

59

Ada tiga jenis obat yang digunakan untuk gagal


jantung :
- Inotropik

untuk

meningkatkan

kontraktilitas

miokard
- Diuretik untuk mengurangi preload atau volume
diastolik akhir
- Vasodilator untuk

mengurangi

afterload

atau

tahanan yang dialami saat injeksi ventrikel


Obat inotropik yang bekerja cepat seperti dopamine
dan dobutamin digunakan pada kasus kritis atau akut,
sedangkan

obat

digunakan

pada

Diuretik.

hampir

inotropik.

Obat

inotropik
semua
selalu

lain

kasus

seperti
yang

diberikan

pengurang

digoksin

tidak

bersama

afterload

kritis.
obat

(vasodilator)

belakangan ini cukup banyak digunakan karena dapat


meningkatkan

curah

jantung

tanpa

meningkatkan

konsumsi oksigen miokard.


Inotropik
- Digoksin
- Lakukan EKG sebelum pemberian digoksin
- Jika mungkin periksa kadar K karena keadaan
hipokalemia mempermudah terjadinya toksisitas
digoksin
- Digoksin dapat diberikan IV (jarang) dengan dosis
75% dosis oral
- Pemberian IM tidak dianjurkan :
- Dosis awal dosis digitalisasi total

SMF Anak

60

- 8 jam kemudian dosis digitalisasi total,


sisanya 8 jam kemudian
- Dosis rumat diberikan 12 jam setelah dosis
digitalisasi selesai
- Pada gagal jantung ringan : dapat langsung
dosis rumatan
- Tanda tanda intoksikasi digitalis :
- Pemanjangan PR interval pada EKG
- Bradikardia sinus atau blok pada sinoartrial
- Takikardia supraventrikular
- Aritmia vebtrikular
- Dopamin
- Inotropik dengan efek vasodilatasi renal dan
takikardia
- Dosis 5 10 mikrogram/kgBB/menit secara IV
drip

- Dobutamin
- Inotropik

tanpa

efek

vasodilatasi

renal

atau

takikardia
- Dosis 5 8 mikrogram/kgBB/menit secara IV drip
- Dobutamin
dan
dobutamin
dapat
diberi
bersamaan dalam dosis rendah
Diuretik
Furosemid
- Dosis : 1-2 mg/kgBB/hari, 1-2 kali perhari, oral atau
IV
- Dapat menimbulkan hipokalemia
Spironolakton

SMF Anak

61

- Dosis : sama dengan furosemid


- Dapat diberikan bersamaan dengan furosemid
- Bersifat menahan kalium
Vasodilator
- Kaptopril
- Kaptopril biasanya diberikan pada gagal jantung
akibat beban volume, kardiomiopati, insufisiensi
mitral atau aorta berat, pirau dari kiri ke kanan
yang besar
- Dosis 0,3 3 mg/kgBB/hari per oral, dibagi dalam 2
3 dosis
- Bersifat retensi kalium
Seringkali digoksin, furosemid dan kaptoptril diberikan
bersamaan per oral. Pada penderita yang tidak dapat
diberikan obat peroral maka dopamine/dobutamin dan
furosemid secara intravena dapat menjadi alternative.
Diuretik jangan digunakan sebagai obat tunggal
Bedah
Tergantung penyebab misalnya pada defek septum
ventrikel dilakukan penutupan defek setelah gagal
jantung teratasi
Suportif
Perbaikan

penyakit

penyerta

atau

kondisi

yang

memperburuk gagal jantung misalnya demam, anemia,


dsb.

SMF Anak

62

Tabel 1. Dosis digoksin untuk gagal jantung (oral)


Usia

Dosis digitalisasi

Dosis rumatan

Prematur

(microgram/kg)
20

(microgram/kg/hari
5

Bayi <30 hari

30

Usia <2 tahun

40 50

10 12

Usia >2 tahun

30 40

8 - 10

SMF Anak

63

DEMAM REMATIK AKUT


Demam rematik akut (DRA) merupakan penyakit
reaksi autoimun lambat terhadap Streptococcus grup A
(SGA). Manifestasi klinis pada penderita ditentukan
ditentukan

oleh

kerentanan

genetik

penderita,

virulensi organism dan lingkungan. Demam rematik


akut

yang

tidak

diterapi

dengan

baik

akan

menimbulkan gejala sisa pada jantung yang dikenal


sebagai penyakit jantung rematik (PJR). DRA dan PJR
terjadi

disebagain

besar

dinegara

yang

sedang

berkembang, lingkungan padat, social ekonomi rendah,


keadaan malnutrisi dan fasilitas kesehatan terbatas.
Insidens puncak terjadi pada usia 8 tahun (rentang
usia 6 15 tahun).
DIGANOSIS
Kriteria Jones (revisi) untuk pedoman dalam diagnosis
reumatik (1992)
Manifestasi mayor
Karditis

Manifestasi minor
Klinis

Poliartritis

Artralgia

Khorea

Demam

Eritema marginatum

Laboratorium
Peningkatan reaktan fase akut (laju endap darah,

Nodul subkutan

C-reactive protein)
Pemanjangan interval PR pada EKG

PLUS
Bukti infeksi streptokokus grup A sebelumnya

SMF Anak

64

Kultur usap tenggorok atau rapid streptococcal antigen test positif


Titer antibody stretokokus di atas nilai normal atau meningkat

Dasar diagnosis
- Highly probable (sangat mungkin)
- 2 mayor atau 1 mayor + 2 minor
- Disertai
bukti
infeksi
Streptococcus

beta

hemolyticus group A
- ASTO atau kultur positif Doubtful diagnosis
(meragukan)
- 2 mayor
- 1 mayor + 2 minor
- Tidak terdapat bukti infeksi Streptococcus beta
hemolyticus group A
- Exception (perkecualian) : diagnosis DRA dapat
ditegakkan bila hanya ditemukan
- Korea saja atau
- Karditis indolen saja pada tahun 2003, WHO
mengeluarkan rekomendasi untuk melanjutkan
penggunaan criteria Jones

yang

diperbaharui

(tahun 1992) untuk demam rematik serangan


pertama dan serangan rekuren DR pada pasien
yang

diketahui

tidak

mengalami

PJR.

Untuk

serangan rekuren DR pada pasien yang sudah


mengalami

penyakit

jantung

rematik,

WHO

merekomendasikan penggunanaan minimal dua


criteria minor dengan disertai bukti infeksi SGA
sebelumnya. Kriteria diagnostik PJR ditujukan
untuk pasien yang datang pertama kali dengan

SMF Anak

65

mitral stenosis murni atau kombinasi stenosis


mitral dan insufisiensi mitral dan/atau penyakit
katur

aorta.

Untuk

chorea

rematik

tidak

diperlukan kriteria mayor lainnya atau bukti


infeksi SGA sebelumnya (WHO, 2004).

Kriteria DR menurut WHO tahun 2002 2003 dapat


dilihat pada Tabel I berikut ini :
Tabel I

Kriteria WHO Tahun 2002-2003 untuk diagnosis demam


rematik dan penyakit jantung rematik (berdasarkan
revisi criteria Jones)

Kriteria diagnostik
Demam
rematik

serangan

pertama

Kriteria
Dua mayor atau satu mayor dan dua
minor ditambah dengan bukti infeksi
SGA sebelumnya

Demam
rekuren

rematik

serangan

ranpa PJR

Demam

rematik

serangan

rekuren

dengan PJR

Korea rematik

Dua mayor atau satu mayor dan dua


minor ditambah dengan bukti infeksi
SGA sebelumnya
Dua

minor

ditambah

dengan

bukti

infeksi SGA sebelumnya


Tidak diperlukan kriteria mayor lainnya

PJR (stenosis mitral murni atau

atau bukti infeksi SGA

kombinasi

Tidak diperlukan kriteria lainnya untuk

dengan

insifisiensi

mitral dan/atau gangguan katup

mendiagnosis sebagai PJR

aorta)
Bukti infeksi streptokokus grup A sebelumnya
Kultur usap tenggorok atau rapid streptococcal antigen test positif
Titer antibody stretokokus di atas nilai normal atau meningkat

Sumber : WHO, 2004

SMF Anak

66

TATA LAKSANA
Tirah baring
Lama dan tingkat tirah baring tergantung sifat dan
keparahan serangan (Tabel 2.panduan aktivitas pada
DRA).
Tabel 2.

Panduan aktivitas pada DRA

Aktivitas

Artritis

Karditis

Karditis

Karditis berat

Tirah baring

1-2

minimal
2-4 minggu

sedang
4-6 minggu

2-4 bulan/selama

minggu

masih terdapat
gagal jantung

Aktivitas dalam

2-3 minggu

4-6 minggu

kongestif

rumah

1-2

2-4 minggu

1-3 bulan

2-3 bulan

Aktivitas diluar

minggu

Setelah 6-10

Setelah 3-6

2-3 bulan

rumah

2 minggu

minggu

bulan

Bervariasi

Aktivitas penuh

Setelah
6-10
minggu

Pemusnahan sreptokok dan pencegahan

SMF Anak

67

Rekomendasi untuk pencegahan streptokok dari tonsil


dan faring sama dengan rekomendasi yang dianjurkan
untuk pengobatan faringitis streptokok, yaitu :
- Benzantin penicillin G
- Dosis 0,6-1,2 juta U i.m
- Juga berfungsi sebagai pencegahan dosis pertama
- Jika alergi terhadap benzantin penisilin G
- Eritromisin 40 mg/kgBb/hari dibagi 2-4 dosis
selama 10 hari
- Alternatif lain : penisilin V 4 x 250 mg p.o. selama
10 hari

Pengobatan antinyeri dan antiradang


Antiinflamasi asetosal diberikan pada karditis ringan
sampai sedang, sedangkan prednisone hanya diberikan
pada karditis berat
- Karditis

minimal

tidak

jelas

ditemukan

kardiomegali
- Karditis sedang : kardiomegali ringan
- Karditis berat : jelas terdapat kardiomegali disertai
tanda gagal jantung
Tabel 3.

Panduan obat anti inflamasi


Artritis

Prednison

SMF Anak

Karditis

Karditis

Karditis berat

ringan
-

sedang
2-4 minggu

2-6 minggu

68

Aspirin

Dosis :

1-2 minggu

2-4 minggu

Prednison

6-8 minggu

2-4 bulan

: 2 mg/kgBB/hari dibagi 4

dosis
Aspirin

: 100 mg/kgBB/hari, dibagi 4-6

dosis
Dosis prednison di tapering off pada minggu terakhir
pemberian dan mulai diberikan aspirin
Setelah minggu ke-2 dosis aspirin diturunkan menjadi
60 mg/kgBB/hari.
Pencegahan
Sesudah pengobatan DRA selama 10 hari dilanjutkan
dengan

pencegahan

sekunder.

Cara

pencegahan

sekunder yang diajukan oleh The American Heart


Association

dan

WHO,

yaitu

mencegah

infeksi

streptokokus.
Pencegahan primer
Penisilin oral untuk eradikasi

Streptococcus beta

hemolyticus group A selama 10 hari atau benzathine


penicillin G 0.6-1.2 juta unit IM
Pencegahan sekunder
Benzantin penisilin G 600.000 U IM untuk berat badan
<27 kg (60 pound), 1,2 juta U untuk berat badan >27
kg (60 pound) setiap 4 minggu/28 hari
- Pilihan lain :
SMF Anak

69

- Penisilin

p.o.

125-250mg

kali

sehari

Sulfadiazin I g p.o. sekali sehari Eritromisin 250


mg p.o. 2 kali sehari diberikan pada demam
reumatik akut, termasuk korea tanpa penyakit
jantung reumatik.
- Lama pencegahan adalah sebagai berikut :
Kategori pasien
Demam rematik tanpa karditis

Durasi
Sedikitnya sampai 5 tahun setelah
serangan terakhir atau hingga usia

Demam

rematik

dengan

karditis

18 tahun

tanpa bukti adanya penyakit jantung

Sedikitnya sampai 10 tahun setelah

residual/kelainan katup

serangan terakhir atau hingga usia


25 tahun, dipilih jangka waktu yang

Demam

reumatik

akut

dengan

terlama

karditis

dan

penyakit

jantung

Sedikitnya 10 tahun sejak episode

residual (kelainan katup persusten)

terakhir atau sedikitnya hingga usia

Setelah operasi katup

40

tahun

dan

seumur hidup
Seumur hidup

SMF Anak

70

kadang

kadang

GAGAL GINJAL AKUT


Gagal ginjal akut (GGA) ialah penurunan fungsi
ginjal

mendadak

kemampuan

yang

ginjal

mengakibatkan
untuk

hilangnya

mempertahankan

homeostasis tubuh, ditandai dengan peningkatan kadar


kreatinin darah secara progresif 0,5 mg/dL per hari
dan peningkatan ureum sekitar 10-20 mg/dL per hari.
GGA dapat bersifat oligurik dan non-oligurik. Oliguria
ialah produksi urin < I ml/kgBB/jam untuk neonates
dan <0,8 ml/kgBB/jam untuk bayi dan anak. GGA tanpa
penyakit

penyerta

menunjukkan

angka

kematian

sekitar 10-20%, sedangkan GGA yang disertai penyakit


penyerta seperti sepsis, syok dan pembedahan jantung
menunjukkan angka kematian sampai >50%.
Keadaan dibawah ini memerlukan pemantauan fungsi
ginjal yang adekuat, agar diagnosis dini dan tata
laksana GGA dapat segera dilakukan, yaitu :
- GGA prarenal : dehidrasi, syok, perdarahan, gagal
jantung, sepsis
- GGA
renal
:

pielonefritis,

glomerulonefritis,

nefrotoksisitas karena obat atau kemoterapi, lupus


nefritis, nekrosistubular akut, SHU, HSP
- GGA pascarenal : keracunan jengkol, batu saluran
kemih, obstruksi saluran kemih, sindrom tumor lisis,
buli buli neurogenik

SMF Anak

71

DIAGNOSIS
Anamnesis
- Lemah, pucat, sakit kepala, edema, produksi urin
berkurang

atau

tidak

ada

sama

sekali,

urin

berwarna merah, kejang atau sesak nafas


- Riwayat penyakit yang menjadi predisposisi
terjadinya GGA seperti tersebut
Pemeriksaan fisik
- Pernafasan kussmaul, edema, hipertensi
- Tanda ovelload cairan lain seperti edema paru,
gagal jantung, ensefalopati hipertensi, perdarahan
saluran cerna
- Penurunan kesadaran dapat ditemukan
Pemeriksaan penunjang
- Pada

urinalisis

hematuria,

dapat

leukosituria.

ditemukan

proteinuria,

Osmolalitas

urin

<400

mOsm/L, berat jenis urin <1.020, natrium urin >20


meq/L, serta FeNa >1% menunjukkan adanya GGA
renal.
- Pada pemeriksaan darah tepi dapat ditemukan
anemia, trombositopenia, tanda hemolitik.
- Kadar ureum dan kreatinin serum meningkat.
- Analisis gas darah menunjukkan asidosis metabolik
dengan anion gap meningkat.
- Pemeriksaan
elektrolit
dapat
hipo/hipernatremia,

hiperkalemia,

menunjukkan
hipokalsemia,

hiperfosfatemia
- Foto toraks untuk mendeteksi edema paru

SMF Anak

72

- Ultrasonografi ginjal dan saluran kemih dan foto


polos perut untuk mendeteksi penyakit primer.
TATA LAKSANA
Medikamentosa
- Terapi sesuai penyakit primer
- Bila terdapat infeksi, dosis antibiotik disesuaikan
dengan beratnya penurunan fungsi ginjal (lihat
lampiran pada PPM GGK)
- Pemberian cairan disesuaikan
hidrasi
- Koreksi

gangguan

dengan

ketidakseimbangan

keadaan
cairan

elektrolit terutama hiperkalemia (lihat lampiran)


- Natrium bikarbonat untuk mengatasi asidosis
metabolik

sebanyak

1-2

mEq/kgBB/hari

sesuai

dengan beratnya asidosis


- Pemberian diuretik pada GGA renal untuk memacu
diuresis dengan furosemid 1-2 mg/kgBB dua kali
sehari dan dapat dinaikkan secara bertahap sampai
maksimum 10 mg/kgBB/kali. Sebelum pemberian
diuretik, pastikan kecukupan sirkulasi dan GGA
yang terjadi bukan akibat obstruksi (pascarenal)
- Bila gagal dengan medikamentosa, maka dilakukan
dialisis peritoneal atau hemodialisis.
Bedah
Tindakan bedah sesuai dengan kelainan pasca renal
yang ditemukan

SMF Anak

73

Suportif
Pemberian nutrisi yang rendah protein, rendah garam
dan kalori yang adekuat sesuai dengan umur dan berat
badan (lihat lampiran)
Lain

lain

(rujukan

subspesialis,

rujukan

spesialis lainnya, dll)


Dirujuk ke dokter spesialis nefrologi anak setelah
keadaan darurat diatasi.
Pemantauan (Monitoring)
Terapi
- Pemantauan keseimbangan cairan dan elektrolit
(balans cairan)
- Pemantauan keadaan

yang

merupakan

indikasi

dialisis

Tumbuh kembang
Gagal ginjal akut bila ditata laksana dengan adekuat
umunya tidak mempengaruhi proses tumbuh kembang
anak.
Lampiran
Tata laksana hiperkalemia
1. Bila kadar K+ serum 5,5 7,0 mEq/L, perlu diberi
kayeksalat

SMF Anak

atau

suatu

cation

74

exchange

resin

(Resonium A) 1 g/kgBB per oral atau per rektal 4 x


sehari atau kalitake 3 x 2,5 g.
2. Bila kadar K+ >7,0 mEq/L atau terdapat kelainan
EKG atau aritmia jantung, perlu diberikan glukonas
kalsikus 10% 0,5 ml/kgBB iv dalam 10-15 menit dan
natrium bikarbonat 7,5% 2,5 mEq/kgBB iv dalam
10-15 menit.
3. Bila hiperkalemia tetap ada, diberi glukoa 0,5
g/kgBB per infus selama 30 menit ditambah insulin
0,1

unit/kgBB

menyiapkan

atau

dialisis.

0,2

unit/g

Glukonas

glukosa
kalsikus

sambil
tidak

menurunkan kadar K+ serum tetapi menstabilkan


membran sel jantung. Na bikarbonat menurunkan
H+ serum sehingga H+ keluar dari sel dan K+ masuk
ke dalam sel. Insulin mendorong glukosa bersama
K+ masuk ke dalam sel.
Untuk

penanggulangan

hiperkalemia

juga

dapat

diberikan salbutamol 0,5 mg/kgBB IV selama 15 menit


atau dengan nebulizer.

Indikasi perawatan di Rumah Sakit dengan fasilitas


unit Nefrologi Anak :
1. Dibutuhkan dialisis atau sejenisnya

SMF Anak

75

2. Penyebab

gagal

ginjal

belum

jelas

diketahui,

sehingga membutuhkan opini ahli dan kemungkinan


diperlukan sarana untuk melakukan biopsi ginjal
3. Membutuhkan pemeriksaan berbagai spesialis
seperti : radiologi, kedokteran Nuklir
4. Pasca gagal ginjal dengan permasalahan urologi
sehingga dibutuhkan opini seorang urolog anak
5. Adanya gangguan organ multipel atau dibutuhkan
perawatan intensif
Tabel 1.

Obat

obatan

yang

dipergunakan

dalam

terapi

hiperkalemia
Obat
Calcium

Cara kerja
Stabilisasi

Dosis
0.5 mg elemental

Onset/Durasi
Cepat (men) /

gluconate 10%

potensial

Ca++/kg IV selama

transien (jam)

Glukosa (50%)

membran

2-4 menit

Cepat (30 men)

dan insulin

Meningkatkan

1 mL/kg of glukosa

/ transien (jam)

Natrium

ambilan K ke

dengan 0.1 U insulin

dalam sel

regular/kg IV, bolus

Cepat (30 men)

pelan/drip cepat

/ transien (jam)

2.5 mEq/kg (3

Jam/hari

bikarbonat
(7,5%)

Meningkatkan
+

Sodium

ambilan K ke

ml/kg), bolus

polystyrene

dalam sel

pelan/drip cepat

sulfonate

Resin penukar

1g/kg po (dengan 3-4

kation

ml sorbitol
70%/gram resin)
atau per rectal
(dengan 10 ml
sorbitol 70%/gram
resin)

SMF Anak

76

Tabel 2.

Kebutuhan kalori dan protein (RDA) berdasarkan derajat

fungsi ginjal
Umur

RDA

(tahun)

GFR

(ml/m/1,73

Kalori (kkal/kg)

Protein (g/kg)

m2
10-

5-10

<5

0-0.5

115

2,2

20
1.7

1.5

1.3

0.5-1

105

2,0

1.4

1.2

1.0

1-3

100

1,8

1.3

1.1

1.0

4-6

85

1.5

1.2

1.0

0.9

7-10

85

1.2

1.1

0.9

0.8

60

1.0

0.8

0.7

0.6

43

1.0

1.0

0.8

0.7

42

0.85

0.8

0.7

0.6

38

0.85

0.8

0.7

0.6

11-14

15-18

SMF Anak

77

GAGAL GINJAL KRONIK


Gagal

ginjal

kronik

(GGK)

adalah

terjadinya

penurunan fungsi ginjal sehingga kadar kreatinin


serum lebih dari 2 atau 3 kali nilai normal untuk anak
dengan jenis kelamin dan usia yang sama atau bila laju
filtrasi

glomerulus

(LFG)

<30

ml/menit/1,73m 2

sekurang kurangnya selama 3 bulan. Gagal ginjal


terminal ialah suatu keadaan yang ditandai dengan
kadar kreatinin serum lebih dari 4 kali nilai normal
untuk anak dengan usia dan jenis kelamin yang sama
atau LFG <10 ml/menit/1,73m2 selama minimal 3
bulan.
Insufisiensi

ginjal

kronik

ialah

keadaan

LFG

antara 30-50 ml/menit/1,73m2. Pada keadaan ini perlu


dilakukan

upaya

tertentu

untuk

mempertahankan

fungsi ginjal semaksimal mungkin, agar penderita


tidak jatuh ke dalam keadaan gagal ginjal terminal,
yaitu keadaan penderita yang tidak bias hidup tanpa
terapi pengganti ginjal.
Di Indonesia, antara 1984 1988 di 7 rumah sakit
pendidikan ditemukan GGK sebanyak 2% dari 2889
anak yang dirawat dengan penyakit ginjal. Di RSCM
Jakarta didapatkan peningkatan jumlah penderita GGK
dari 4,9% dari 668 anak yang dirawat tahun 1991
1995, menjadi 13,3 dari 435 anak pada tahun 1996
2000.

SMF Anak

78

DIAGNOSIS
Anamnesis
- Riwayat

penyakit

ginjal

dan

saluran

kemih

(penyebab terbanyak GGK ialah glomerulonefritis


dan infeksi saluran kemih
- Gejala GGK tidak spesifik : sakit kepala, lelah,
letargi, gangguan pertumbuhan, anoreksia, muntah,
polidipsi,

poliuria,

jumlah

urin

berkurang

dan

edema
Pemeriksaan fisik
- Kelainan yang bersifat kegagalan multiorgan akibat
-

sindrom uremik
Pucat, lemah
Gangguan kesadaran
Tekanan darah tinggi
Pernafasan cepat dan dalam (kussmaul)
Edema
Pada keadaan lanjut :
Kelainan bentuk tulang
Gangguan pertumbuhan (perawakan pendek)
Gangguan perdarahan
Gangguan neurologi
Gangguan jantung

Pemeriksaan penunjang
- Ureum dan kreatinin serum meningkat. LFG dapat
dihitung
lampiran)

menggunakan
atau

rumus

dengan

Schwartz

pemeriksaan

kreatinin dan klirens ureum.


- Pada pemeriksaan urinalisis

dapat

(lihat
klirens

ditemukan

proteinuria, leukosituria, hematuria, isosteniuria.


SMF Anak

79

- Gambaran

darah

tepi

menunjukkan

anemia

normokrom normositik.
- Analisis gas darah menunjukkan asidosis metabolik
dengan

anion

gap

elektrolit

meningkat.

dapat

Pemeriksaan

memperlihatkan

hipo/hipernatremia, hiperkalemia, hipokalsemia dan


hiperfosfatemia.
- Pemeriksaan pencitraan yang dilakukan ialah foto
toraks untuk melihat pembesaran jantung, edema
paru, serta foto tangan untuk melihat usia tulang,
foto

tulang

panjang

untuk

melihat

tanda

osteodistrofi ginjal. Ultrasonografi ginjal diperlukan


untuk mencari etiologi dan menyingkirkan adanya
obstruksi saluran kemih. Pemeriksaan EKG untuk
menilai keadaan jantung.
TATA LAKSANA
Medikamentosa
- Koreksi

asidosis

bikarbonat,

dosis

metabolik
awal

1-3

derajat

natrium

mEq/kgBB/hari,

disesuaikan dengan derajat asidosis.


- Diuretik untuk memacu produksi

urin

dengan

furosemid 1 mg/kgBB/kali, 2 kali sehari. Dosis dapat


ditingkatkan sesuai respons sampai maksimal 10
mg/kgBB/kali. Pengobatan hipertensi.
- Mengatasi infeksi bila ada
- Pemberian suplemen kalsium (kalsium glukonat),
fisfat binders (CaCO3 50 mg/kgBB/hari), vitamin D
aktif (0,25 mikrogram/hari).
SMF Anak

80

- Bila memungkinkan dapat diberikan recombinant


human erythropoietin 50-150 mikrogram/kgBB/kali,
3 kali seminggu sampai kadar Hb 10 g/dL dan
recombinant

human

growth

hormone

0,125

mg/kgBB/kali, 3 kali dalam seminggu sampai epifisis


menutup.
Terapi pengganti ginjal
Dialisis peritoneal atau hemodialisis dilakukan bila :
1. Terdapat keadaan darurat pada acute on chronic
renal failure
2. Gagal ginjal terminal
3. Pasien sedang menunggu transplantasi

Indikasi absolute untuk tindakan awal dialysis kronik


pada anak dengan GGK adalah :
-

Hipertensi tidak terkendali (ensefalopati hipertensi)


Gagal jantung kongestif (kardiomiopati)
Neuropati perifer (parestesia, disfungsi motorik)
Ostedistrofi ginjal (klasifikasi tersebar, deformitas

tulang)
- Depresi sumsum tulang (anemia berat, leucopenia,
trombositopenia)
Suportif

SMF Anak

81

Pemberian nutrisi yang adekuat sangat penting dalam


tata laksana konservatif GGK. Asupan nutrisi yang
dianjurkan dapat dilihat pada lampiran. Pemberian
transfusi sel darah merah harus dilakukan secara hati
hati. Transfusi dilakukan bila kadar hemoglobin <6
g/dL sebanyak 5-10 ml/kgBB.
Lain

lain

(rujukan

subspesialis,

rujukan

spesialis lainnya, dll)


Pasien harus dirujuk ke dokter spesialis nefrologi anak
kalau LFG <10 ml/menit/m2 atau terdapat tanda uremia
berat seperti penurunan kesadaran, perdarahan dan
gagal jantung.
PEMANTAUAN
Terapi
Pemantauan terhadap asupan nutrisi, keadaan umum,
gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit (balans
cairan dan elektrolit), hipertensi dan pertumbuhan
harus dilakukan.
Dalam pemberian obat, dosis dan interval pemberian
disesuaikan dengan derajat GGK.
Tumbuh kembang
Gangguan tumbuh kembang dapat ditemukan akibat
penyakit.

SMF Anak

82

LAMPIRAN
1. Menghitung LFG dengan rumus Schwartz
Menghitung LFG dari kreatinin serum

(rumus

Schwartz)
Rumus Schwartz LFG = k x L
Pkr
L

= panjang badan dalam cm

Pkr

= kreatinin serum

suatu

konstanta

yang

berhubungan

dengan daya ekskresi


kreatinin per unit luas permukaan tubuh
(unit body size)
Angka k berbeda pada berbagai umur anak
- Pada neonatus sampai umur 1 tahun : k = 0,45
- Pada anak sampai usia 13 tahun : k = 0,55
- Pada remaja 13 21 tahun, lelaki k = 0,7;
perempuan k = 0,57
2. Asupan nutrisi yang dianjurkan pada GGK
3. Nilai kreatinin normal berdasarkan usia
4. Penentuan dosis dan interval obat pada anak
dengan GGK

SMF Anak

83

2.

Asupan nutrisi yang dianjurkan pada GGK

Tabel 2.

Kebutuhan kalori dan protein yang direkomendasikan untuk

anak dengan gagal ginjal kronik


Umur

Tinggi
(cm)

Energi
(kkal)

0-2 bulan
2-6 bulan
6-12 bulan
1-2 tahun
2-4 tahun
4-6 tahun
6-8 tahun
8-10 tahun
10-12
tahun
12-14
tahun L
12-14
tahun P
14-18
tahun L
14-18
tahunP
18-20
tahun L
18-20
tahun P

55
63
72
81
96
110
121
131
141
151
154
170
159
175
163

120/kg
110/kg
100/kg
1000
1300
16GO
2000
2200
2450
2700
2300
3000
2350
2800
2300

L = Lelaki

3.

Minimal
protein
(g)
2.2/kg
2.0/kg
1.8/kg
18
22
29
29
3-i
36
40
34
45
35
4.2
33

Kalsium
(g)

Fosfor
(g)

0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0.9
0.9
1.0
1.2
1.4
1.3
1.4
1.3
0.8
0.8

0.2
0.4
0.5
0.7
0.8
0.9
0.9
1.0
1.2
1.4
1.3
1.4
1.3
0.8
0.8

P = Perempuan

Nilai normal kreatinin berdasarkan usia

Tabel 3.

Kadar kreatinin serum normal (mg/dL) pada anak dari berbagai

usia
Umur
1
2
3
4
5
6
7
8
9

SMF Anak

Perempuan
0.35 0.05
0.45 0.07
0.42 0.08
0.47 0.12
0.46 0.11
0.48 0.11
0.53 0.12
0.53 0.11
0.55 0.11

Laki laki
0.41 0.10
0.43 0.12
0.46 0..
0.45 0.11
0.50 0.11
0.52 0.12
0.54 0.14
0.57 0.16
0.59 0.16

84

10
11
12
13
14
15
16
17
18-20

3.

0.55
0.60
0.59
0.62
0.65
0.67
0.65
0.70
0.72

0.13
0.13
0.13
0.14
0.13
0.22
0.15
0.20
0.19

0.61
0.62
0.65
0.68
0.72
0.76
0.74
0.80
0.91

0.22
0.14
0.16
0.21
0.24
0.22
0.23
0.18
0.17

Nilai normal kreatinin berdasarkan usia

Tabel 3.

Kadar kreatinin serum normal (mg/dL) pada anak dari berbagai

usia

Umur
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18-20

SMF Anak

Perempuan
0.35 0.05
0.45 0.07
0.42 0.08
0.47 0.12
0.46 0.11
0.48 0.11
0.53 0.12
0.53 0.11
0.55 0.11
0.55 0.13
0.60 0.13
0.59 0.13
0.62 0.14
0.65 0.13
0.67 0.22
0.65 0.15
0.70 0.20
0.72 0.19

Laki laki
0.41 0.10
0.43 0.12
0.46 0..
0.45 0.11
0.50 0.11
0.52 0.12
0.54 0.14
0.57 0.16
0.59 0.16
0.61 0.22
0.62 0.14
0.65 0.16
0.68 0.21
0.72 0.24
0.76 0.22
0.74 0.23
0.80 0.18
0.91 0.17

85

SMF Anak

86

Table 42-7. (continued)


Drug

Primary drug
clearance *

Dosing
adjusment in
renal failure
Drugs Affecting Cardiovascular System (continued)
Anolgesics and Anti-inyiammatory Drugs [93]
Acetaminophen
H,
No
Aspirin [154,163]
H.R
Yes
Indomethacin
H
No
Sulindac
H
No
Diflunisal
H.R
Severe
Ibuprofen
H
No
Fenoprofen
H
No
Naproxen
H
No
Tolmetin
H.R
No
Piroxicam
H
No
Other Drugs
Benzodiazepines
H
No
Chloral Hydrate
H
Phenothiazines
H
No
Tricyclic
antidepressants
H
No
Heparin [79]
R,H
Ycs
Warfarin [118]
H
No

Significant
clearance
during dialysis*

Anticonvulsants
Phenobarbital
Carbanazepine
Ethosuximide
Phenytoin
Primidone
Valproic Acid
Immunosuppresive
s
Azathioprine
Cyclophosphamide
[189]
Adriamycin
Methotrexate [112]
Vincristine
Cyclosporin
Glucuconicoids
Cimetidine [2321]
Allopurinol [108]

He

H,R
H
H,,
H
H
H

No
No
He
No

H
H
H
R
H
H
H
R.H
R

No
Severe
No
Yes
No
No
No
No
Yes

He

He
No
He
He

He

* R : renal; H : hepatic; NR ; non renal


* Dosing adjusment only in severe renal failure He, hemodialysis; P,
peritoneal dialysis

SMF Anak

87

THALLASEMIA
Penyakit

anemia

hemolitik

herediter

yang

disebabkan oleh defek genetik pada pembentukan


rantai globin.
DIAGNOSIS
Anamnesis
-

Pucat yang lama (kronis)


Terlihat kuning, mudah infeksi
Perut membesar akibat hepatosplenomegali
Pertumbuhan terlambat / pubertas terlambat
Riwayat transfusi berulang (jika sudah pernah

transfusi sebelumnya)
- Riwayat keluarag yang menderita thallasemia
Pemeriksaan Fisik
- Anemia / pucat, ikterus
- Hepar dan limpa membesar
- Tulang tulang wajah menonjol dan pipih (facies
cooley)
- Gizi kurang / buruk, perawatan pendek
- Hiperpigmentasi kulit, pubertas terlambat

SMF Anak

88

Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium
- Darah lengkap
1. Hemoglobin
2. Sedian apus darah tepi (mikrositer, hipokrom,
anisosito-sis,

poikilositosis,

normoblast,

fragmentosit sel target)


3. Indeks eritrosit : MCV, MCH, MCHC menurun,
RDW meningkat
4. Uji resistensi osmotic (fragilitas
- Konfirmasi dengan analisis hemoglobin
1. Elektroforesis Hb jika memungkinkan
2. Metode HPLC jika memungkinkan
TATALAKSANA
- Transfusi darah
Prinsip pertimbangan matang matang sebelum
memberikan transfusi darah.
Transfusi darah pertama kali diberikan bila
1. Hb < 7 g/dl yang diperiksa 2 kali berurutan
dengan jarak waktu 2 minggu
2. Hb 7 g/dl disertai gejala klinis
3. Penanganan
selanjutnya,
transfuse

darah

diberikan Hb < 8 sampai kadar Hb 10 11 g/dl


4. Transfusi darah dengan PRC
BB x 4 x Hb yang diinginkan sehingga mencapai
12 13 gr% pasca transfusi :
Bila Hb < 5 % tiap jam 2 5 cc/kgBB
Bila ada gagal jantung 3 ml/kgBB + furosemide
- Medikamentosa
1. Asam folat
: 2 x 1 mg/hari
2. Vitamin E
: 2 x 200 IU/hari

SMF Anak

89

3. Vitamin C

: 2 3 mg/kgBB (mak. 50 mg anak

< 10 tahun dan 100 mg pada anak > 10 tahun)


hanya diberikan saat pemakaian desferioksamin
(DFO)
4. Kelasi besi
Dapat diberikan secara parentral atau oral atau
kombinasi
Dimulai bila

Feritin

1000

ng/ml

atau

Saturasi transferin 55% atau sudah menerima


3 5 liter darah atau 10 20 kali transfusi.
Pertama kali kelasi besi dimulai dengan DFO
Dosis :
Anak > 3 tahun; 30 50 mg/kgBB/hari, 5 7 x
seminggu selama 8 12 jam dengan syringe
pump
Anak < 3 tahun; 15 25 mg/kgBB dengan
monitoring ketat efek samping
Terapi

kombinasi

(desferoksamin

dan

deferiprone) pada :
Feritin 3000 ng/ml yang bertahan minimal
selama 3 bulan
Adanya
gangguan

fungsi

jantung

kardiomiopati akibat kelebihan besi


Jangka waktu (6 12 bulan) tergantung pada
kadar feritin dan fungsi jantung saat evaluasi

SMF Anak

90

PEMANTAUAN RUTIN / EFEK SAMPING


- Sebelum transfusi

: darah perifer, fungsi

hati
- Setiap 3 bulan

pertumbuhan

(berat

badan, tinggi
- Setiap 6 bulan
- Setian tahun

badan)
: feritin
:
pertumbuhan

dan

perkembangan,
status besi, fungsi endokrin,
visual,
pendengaran
memungkinkan)

SMF Anak

91

(kalau