Anda di halaman 1dari 21

Teori Kepribadian Karen Horney

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Psikoanalitik teori Karen Horney mengembangkan salah satu teori yang paling terkenal

dari neurosis. Dia percaya neurosis yang dihasilkan dari kecemasan dasar yang disebabkan
oleh hubungan interpersonal. Teorinya mengusulkan bahwa strategi yang digunakan untuk
mengatasi kecemasan seringkali digunakan secara berlebihan, menyebabkan mereka
mengambil bentuk kebutuhan.
Menurut Horney, kecemasan dasar (karena neurosis) dapat terjadi akibat berbagai hal
termasuk, "... dominasi langsung atau tidak langsung, ketidakpedulian, perilaku tak menentu,
kurangnya rasa hormat untuk kebutuhan individu anak, kurangnya bimbingan yang nyata,
sikap meremehkan, terlalu banyak kekaguman atau tidak adanya itu, kurangnya kehangatan
yang dapat diandalkan, harus berpihak dalam perselisihan orang tua, terlalu banyak atau
terlalu sedikit tanggung jawab, perlindungan lebih, terpisah dari anak-anak lain,
ketidak adilan, diskriminasi, ingkarjanji, suasana bermusuhan, dan seterusnya "(Horney,
1945).
Horney tidak percaya bahwa alam bawah sadar merupakan penentu kepribadian dan
konflik masa kecil yang penting, tapi ia mempertanyakan penekanan Freud pada konflik
seksual. Dia percaya konflik adalah masalah interpersonal yang belum terselesaikan. Seperti
Erikson, Horney percaya kekuatan budaya / sosial, harus dipertimbangkan. Dia juga percaya
perbedaan

peran

gender

yang

dipelajari

dalam

masyarakat,

bukan

hasil dari

perbedaan anatomi. Pendekatan relasional Horney telah menjadi dasar untuk terapi keluarga
kontemporer dan beberapa teori perkembangan sosial.
1.2

Biografi Karen Horney


Karen Horney lahir pada tanggal 16 September 1885 di Blankenese, Jerman, dekat

Hamburg. Ayahnya, Berndt Wackels Danielsen (1836-1910), adalah seorang kapten kapal,
seorang yang taat tradisional. Ibunya, Clotilde ne van Ronzelen (1853-1911), dikenal
sebagai "Sonni", sangat berbeda, jauh lebih terbuka dari Berndt.

Menurut

buku

harian

remaja

Horney, ayahnya

adalah

"sosok

disiplin dan kejam". Meskipun demikian, Horneyselalu merasa kehilangan kasih sayang
ayahnya

dan

bukan

dengan

ibunya.

Dari sekitar usia sembilan Horney berubah sudut pandangnya terhadap kehidupan, menjadi
ambisius dan agak memberontak. Dia merasa bahwa dia tidak bisa menjadi cantik dan malah
memutuskan untuk mengalihkan energi ke dalam kualitas intelektualnya.
Pada

tahun

1906, Horney masuk

sekolah

kedokteran yaitu Universitas

Freiburg dengan melawan keinginan orang tuanya. Pada tahun 1908, ia dipindahkan ke
Universitas Gttingen, dan akan dipindahkan lagi ke Universitas Berlin sebelum lulus pada
tahun

1913. Selama ia sebagai

yangdinikahinya

mahasiswa

kedokteran, ia

bertemu

Oskar

Horney,

pada tahun 1909. Tahun berikutnya Horney melahirkan seorang

putri bernama Brigitte yang akanmenjadi anak pertama dari tiga anak perempuannya.
Pada tahun 1920, Horney mengambil posisi dalam Institut Psikoanalisis di Berlin, di
mana dia memberi kuliah tentang psikoanalisis selama beberapa tahun. Dia juga mengajar di
The New School di New York City. Karl Abraham, seorang koresponden dari Sigmund
Freud, menganggap Karen Horney sebagai analis ekstensif berbakat dan guru psikoanalisis.
Pada tahun 1923, perusahaan Oskar Horney telah menjadi bangkrut, dengan Oskar
menderita meningitis segera setelahnya. Oskar cepat menjadi sakit hati, murung dan
argumentatif. Pada tahun 1923 juga, kakak Horneymeninggal karena infeksi paru-paru.
Kedua peristiwa ini berkontribusi pada memburuknya kesehatan mentalHorney. Dalam
keadaan depresi, dia berenang ke tengah laut selama berlibur dan dianggap bunuh diri. Pada
tahun 1926, Horney dan tiga putrinya keluar dari rumah Oskar itu. Empat tahun kemudian,
mereka beremigrasi ke Amerika Serikat, akhirnya menetap di Brooklyn. Brooklyn adalah
rumah bagi sebuah komunitas intelektual yang besar. Saat di Brooklyn, Horney menjadi
teman dengan akademisi seperti Erich Fromm dan Harry Stack Sullivan.
Horney cepat mengatur tentang bagaimana mengembangkan dirinya sendiri. Karir
pertamanya di Amerika Serikat adalah ia ditempatkan sebagai Direktur Associate Institute
Chicago untuk Psikoanalisis. Ia sementara tinggal di Brooklyn yang Horney berkembang dan
maju teori kompositnya tentang neurosis dan kepribadian, berdasarkan pengalaman yang
diperoleh dari bekerja di psikoterapi. Pada tahun 1937 dia menerbitkan buku The Neurotic
Personality of Our Time, yang memiliki pembaca umum yang luas. Pada tahun 1941,
Horney adalah Dekan American Institute of Psikoanalisis, sebuah lembaga pelatihan bagi
mereka

yang

tertarik

dalam

organisasi

Horneyyaitu,

Asosiasi

untuk

Kemajuan

Psikoanalisis. Dia mengajar dari model non-otoriter, mendorong siswa untuk berpikir sendiri,
bukannya memaksa pandangan kaku terapi ke mereka.
Setelah itu, ia belajar di Jepang dan tinggal di beberapa biara Zen, menampilkan
eksplorasi pribadinya sendiri keyakinan alternatif. Keterbukaan ini diperluas untuk kehidupan
pribadinya, yang telah dikenal memiliki urusan, bahkan salah satu pasien dan peserta
pelatihan, Erich Fromm. Dia tidak setuju dengan Freud karena ia percaya bahwa
perkembangan kepribadian dibentuk oleh budaya dan akan bervariasi dari budaya ke budaya.
Dia terutama dieksplorasi pengembangan kepribadian perempuan, menjadi pengaruh awal
dalam pemikiran feminis.
Penyimpangan Horney dari psikologi Freudian menyebabkan pengundurkan dirinya
dari pos, dan dia segera mengajar di New York Medical College. Dia juga
menerbitkan sebuah jurnal, berjudul American Journal of Psychoanalysis. Kemudian dia
mengajar di New York Medical College dan terus berlatih sebagai psikiater sampai
kematiannya pada 1952.
Karen Horney dapat dianggap di antara pemikir psikoanalitik besar abad kedua puluh.
Dia pantas mendapatkanpengakuan historis karena karyanya tentang Psikologi Feminin yang
menganalisis kepribadian perempuan dengan martabat yang lebih besar dan rasa hormat dari
psikoanalisis Freudian. Dia juga mengembangkan teori psikologi kepribadian dan perilaku
manusia yang telah banyak diterapkan dalam pendekatan pengobatan.
Karen Horney (1937) percaya bahwa kepribadian dan perilaku dapat dipelajari sebagai
cara individu berhubungan dengan kecemasan, atau apa yang disebut kecemasan dasar. Dia
berpendapat bahwa kecemasan dasar berasal dari perasaan masa kecil, seperti: sendirian,
terisolasi, dan tak berdaya di dunia yang kejam. Dia melihat kecemasan dasar yang
dihasilkan, bukan dari konflik seksual atau agresif, seperti Freud lakukan, tetapi dari
hubungan bermasalah bahwa anak berpengalaman dengan orang tuanya (Horney, 1937, 1939,
1945). Faktor kunci dalam pembentukan kecemasan diyakini penolakan, hukuman,
hancurnya

kepercayaan,

dan

atau

overprotection.

Menurut

Horney,

anak-

anak yang dibesarkan dalam lingkungan cinta, kepercayaan, kehangatan, dan toleransi
memiliki risiko lebih rendah menderita kecemasan.
BAB II
PSIKOANALISIS SOSIAL

Psikoanalisis adalah cabang ilmu yang dikembangkan oleh Sigmund Freud dan para
pengikutnya, sebagai studi fungsi dan perilaku psikologis manusia.
Pada mulanya Horney merupakan pengikut Freud, yang kemudian terpengaruh oleh
Carl Gustav Jung dan Alfred Adler. Akhirnya dia mengembangkan pendekatan kepribadian
yang holistik. Manusia berada dalam satu totalitas pengalaman dan fungsinya, dan bagianbagian kepribadian seperti fisikokimia, emosi, kognisi, sosial, kultural, spiritual, hanya dapat
dipelajari dalam hubungannya satu dengan yang lain sebagai suatu kepribadian yang utuh.
Pakar psikoterapi lain seperti Monroe berpendapat teori dan konsep Horney berbeda secara
radikal dengan pikiran Freud dan Freudian, sehingga sukar mencari kesejajaran antara
keduanya. Namun Horney sendiri menyatakan bahwa tidak ada hal penting yang dapat
dikerjakan diranah psikologi dan psikoterapi tanpa mengakui temuan fundamental dari
Freud. Menurut Horney, doktrin Freud yang terpenting adalah:
1. Semua proses dan event psikis bersifat ditentukan (semua terjadi karena alasan tertentu,
dan bukan terjadi secara random).
2. Semua tingkah laku mungkin ditentukan oleh motivasi tak sadar.
3. Motivasi yang mendorong manusia adalah kekuatan yang bersifat emosional dan
nonrasional.
Disisi lain, Horney menentang teori Freud dalam hal:
1. Teori Freud terlalu mekanistik dan biologik sehingga tidak bisa menggambarkan keutuhan
motivasi dan tingkah laku manusia.
2. Perhatian Freud terhadap interrelasi manusia sangat kecil, sehingga berakibat penekanan
yang salah pada motivasi seksual dan konflik. Seharusnya, keamanan dan ketidakpuasan (non
seksual) yang menjadi kekuatan pendorong berfungsinya kepribadian.
3. Tingkah laku agresi dan destruksi bukan hereditas seperti yang dikemukakan Freud, tetapi
merupakan sarana bagaimana orang berusaha melindungi keamanannya.
4. Freud berpendapat penis envy adalah gambaran wanita yang inferior dan cemburu karena
peran kelaminnya lebih rendah dari laki-laki, sedang Horney dan Adler berpendapat
bahwa penis envy adalah simbolik wanita yang mengingikan persamaan status dan kekuasaan
seperti pria.
Meskipun menggambarkan

orang yang berfungsi

baik, sebagai terapis, ia lebih

terkait dengan individu yang disebut neurotik. Ia percaya bahwa rumah yang hangat dan
penuh

kasih bisa

memungkinkan seseorang

untukmenghindari kecemasan neurotik dan

konflik seperti Erich Fromm, namun dia juga percaya bahwa aspek tertentu dari masyarakat

kita menciptakan konflik yang intens seperti itu di masyarakat bahwa mereka mungkin juga
perlu banyak "istirahat" untuk menghadapi tantangan menjadi orang yang sehat.
Horney percaya neurosis menjadi proses yang terus menerus terjadi secara sporadis
dalam

hidup

seseorang.

Hal

ini

berbeda

dengan

pendapat

sebayanya

yang

percaya bahwa neurosis, seperti kondisi mental yang lebih parah, kerusakan negatif dari
pikiran dalam menanggapi rangsangan eksternal, seperti kematian, perceraian atau
pengalaman negatif selama masa kanak-kanak dan remaja.
55. Kebutuhan kasih sayang dan cinta semakin kuat
Horney percaya asumsi-asumsi ini menjadi kurang penting, kecuali untuk pengaruh masa
anak-anak. Sebaliknya, dia menekankan signifikan terhadap ketidak pedulian orangtua
terhadap anak, percaya bahwa persepsi seorang anak tentang peristiwa, yang bertentangan
dengan niat orang tua, adalah kunci untuk memahami neurosis seseorang.
11. Kurang kehangatan dan cinta orang tua
2. Permusuhan dan kemarahan karena diperlakukan buruk
33. Represi permusuhan agar tidak kehilangan cinta dan keaman yang hanya sedikit
4. Kecemasan dasar dan permusuhan dasar terus diperkuat kalau lingkaran kecemasan
permusuhan represi berlanjut
6 6. Semakin marah karena kebutuhannya semakin banyak tidak terpenuhi
7. Perasaan permusuhan semakin kuat
8. Represi semakin kuat untuk mempertahankan kasih sayang yang hanya sedikit
99. Tegangan kemarahan yang semakin kacau

Lingkaran Setan Kecemasan


(Horney, 1937)
Kecemasan dan permusuhan cenderung ditekan (repress), atau dikeluarkan dari
kesadaran, karena menunjukan rasa takut bisa membuka kelemahan diri, dan menunjukan
rasa marah beresiko dihukum dan kehilangan cinta dan keamanan. Bayi mengalami proses
melingkar, yang oleh Horney dinamakn Lingkaran setan atau vicious circle. Dimulai sejak
akhir, bayi membutuhkan kehangatan dan kasih sayang untuk dapat menghadapi tekanan
lingkungan. (1) Kalau kehangatan cinta dan kasih sayang ini tidak cukup diperoleh, (2) Bayi
menjadi marah dan muncul perasaan permusuhan karena diperlakukan secara salah itu. (3)
Tetapi kemarahan harus di repress agar perolehan cinta dan rasa aman yang hanya sedikit
(tidak cukup) itu tidak hilang sama sekali. (4) Perasaan menjadi kacau, muncul kecemasan
dasar dan permusuhan dasar. (5) Kebutuhan kasih sayang dan cinta semakin besar. (6)
Kemungkinan akan semakin banyak kebutuhan kasih sayang yang tidak terpenuhi sehingga
semakin kuat pula perasaan marah yang timbul. (7) Perasaan permusuhan menjadi semakin
kuat. (8) Repressi harus semakin kuat dilakukan agar perolehan kasih sayang yang hanya
sedikit itu tidak hilang. (9) Tegangan perasaan kacau, marah, gusar, mangamuk semakin kuat.
Kembali ke (4) ini akan membuat kecemasan dasar dan permusuhan dasar semakin kuat, dan
akan terus semakin parah kalau lingkaran 4 > 5 > 6 > 7 > 8 > 9 > 4 dst. terus menerus terjadi.
2.1

Kecemasan dan Konflik (Anxiety and Conflict)


Menurut Horney (Lindzey, 1985), semua orang mengalami creature anxiety, perasaan

cemas yang normal muncul pada masa bayi, ketika bayi yang lahir dalam keadaan tak
berdaya dan rentan itu dihadapkan dengankekuatan alam yang keras dan tidak bisa dikontrol.
Bimbingan yang penuh kasih sayang dan cinta pada awal kehidupan membantu bayi belajar
menangani situasi bahaya itu. Sebaliknya, tanpa bimbingan yang memadai bayi akan
megembangkan basic anxiety, basic hostility, dan terkadang neurotic distress.
2.2

Kecemasan Dasar dan Permusuhan Dasar (Basic Anxiety and Basic Hostility)
Kecemasan dasar berasal dari rasa takut, suatu peningkatan yang berbahaya dari
perasaan tak berteman dan tak berdaya dalam dunia yang penuh ancaman (Horney,
1937). Kecemasan juga telah didefinisikan dalam istilah perilaku ekspresif, tingkat umum
aktivitas, dan seluruh kelas gejala perilaku dan fisiologis diagnostik. Kecemasan dasar selalu
dibarengi oleh permusuhan dasar, berasal dari perasaan marah, suatu predisposisi untuk

mengantisipasi bahaya dari orang lain dan untuk mencurigai orang lain itu. Bersama-sama,
kecemasan dan permusuhan membuat orang yakin bahwa dirinya harus dijaga untuk
melindungi keamanannya (Lindzey, 1985).
Kecemasan dasar itu sendiri bukanlah neurosis, melainkan lahan subur dimana
neurosis dapat berkembang setiap saat (Horney, 1937). Kecemasan dasar terjadi terus
menerus dan sulit dihentikan, secara tidak langsungmembutuhkan stimulus tertentu, seperti
menjalani ujian di sekolah atau berpidato. Kecemasan dasar mempengaruhi semua hubungan
yang terjalin dengan orang lain dan mengarah pada cara-cara yang tidak sehat untuk
berhadapan dengan orang lain.
Teori Horney tentang neurosis didasarkan pada konsep gangguan psikis yang membuat
orang terkunci dalam lingkaran yang membuat tingkah laku tertekan dan tidak
produktif, kemudian dikenal sebagai masalah kecemasan(Alwisol, 2009).
Bila teori belajar berurusan dengan kecemasan, dia berurusan terutama dengan
hubungan yang konsekuen, ketika eksistensialis berbicara tentang kecemasan, dia khawatir
terutama dengan pengalaman kecemasan, sedangkan ia memiliki perhatian yang relatif
sedikit dengan yg di kondisi belajar.
2.3

Konflik Interpersonal : Kebebasan versus Kesepian


Konflik adalah pertentangan antar kekuatan yang berhadapan dalam fungsi manusia,
yang tidak dapat dihindari. Pengalaman konflik tidak berarti mengidap neurotik. Suatu ketika,
harapan, minat, atau pendirian seseorang bertabrakan dengan orang lain. Konflik dalam diri
sendiri adalah bagian yang integral dari kehidupan manusia, misalnya dihadapkan pilihan dua
keingianan yang arahnya berbeda, atau antara harapan dengan kewajiban atau antara dua
perangkat nilai. Juga, nilai kultural sering mengalami konflik di dalam maupun dengan nilai
diluarnya. Misalnya, masyarakat mendorong anggotanya untuk berkompetisi meraih prestasi,
tetapi juga mewajibkan orang mempedulikan orang lain dan mendahulukan minat
kepentingan orang lain dari pada kepentingan pribadi. Nilai-nilai tradisioanl menuntut peran
ibu sebagai pengasuh anak bertentangan dengan nilai modern yang menghargai persamaan
hak pria dan wanita (Alwisol, 2009).
Perbedaan konflik normal dengan konflik neurotik adalah taraf atau tinggi rendahnya.
Setiap orang memakai berbagai cara mempertahankan diri melawan penolakan, permusuhan,
dan persaingan dari orang lain. Orang normal mampu berbagai macam-macam strategi
pertahanan disesuaikan dengan masalahnya, sedang orang neurotik secara komplusif

memakai strategi pertahanan yang sama yang pada dasarnya tidak produktif. Orang dengan
kecemasan dasar mungkin memulai hidup dengan konflik yang sangat berat, konflik antara
kebutuhan rasa aman dan kebutuhan menyatakan kebebasan emosi dan pikiran. Semuanya
dimulai dari hubungan bayi dengan ibunya, hubungan antar manusia. Dalam bukunya SelfAnalysis (19242), Horney mengemukakan sepuluh kebutuhan neurotik, yakni kebutuhan
yang timbul sebagai akibat dari usaha menemukan pemecahan-pemecahan masalah
gangguang antara hubungan manusia.
1.

Kebutuhan kasih sayang dan penerimaan : keinginan membabi-buta untuk menyenangkan


orang lain dan berbuat sesuai dengan harapan orang lain. Orang itu mengharapkan dapat
diterima baik orang lain, sehingga berusaha bertingkah laku sesuai dengan harapan orang
lain, cenderung takut berkemauan, dan sangat peka/ tergantung dengan tanda-tanda
permusuhan dan penolakan dari orang lain, dan perasaan permusuhan di dalam dirinya
sendiri.

2.

Kebutuhan partner yang bersedia mengambil alih kehidupannya : tidak memiliki


kepercayaan diri, berusaha mengikat diri dengan partner yang kuat. Kebutuhan ini mencakup
penghargaan yang berlebihan terhadap cinta, dan ketakutan akan kesepian dan diabaikan.

3.

Kebutuhan membatasi kehidupan dalam ranah sempit : Penderita neurotik sering


berusaha untuk tetap tidak menarik perhatian, menjadi orang ke-dua, puas dengan yang serba
sedikit. Mereka merendahkan nilai kemampuan mereka sendiri, dan takut menyuruh orang
lain.

4.

Kekuasaan : kekuatan dan kasih sayang memungkin dua kebutuhan neurotik yang terbesar.
Kebutuhan kekuatan, keinginan berkuasa, tidak menghormati orang lain, memuja kekuatan
dan melecehkan kelemahan, yang berwujud sebagai kebutuhan mengontrol orang lain dan
menolak perasaan lemah atau bodoh.

5.

Kebutuhan mengeksploitasi orang lain : Takut menggunakan kekuasaan secara terangterangan, menguasai orang orang lain melalui eksploitasi dan superiorita intelektual. Neurotik
sering mengevaluasi orang lain berdasarkan bagaimana mereka dapat dimanfaatkan atau
dieksploitasi, pada saat yang sama mereka takut dieksploitasi orang lain.

6.

Kebutuhan pengakuan sosial atau prestise : Kebutuahan memperoleh penghargaan


sebesar-besarnya dari masyarakat. Banyak orang yang berjuang melawan kecemasan dasar
dengan berusaha menjadi nomor satu, menjadi yang terpenting, menjadi pusat perhatian.

7.

Kebutuhan menjadi pribadi yang dikagumi : Pengidap narkotik memiliki gambaran diri
melambung dan ingin dikagumi atas dasar gambaran itu, bukan atas siapa sesungguhnya

mereka. Inflasi harga diri yang terus menerus terjadi harus ditutupi juga secara terus menerus
dengan penghargaan dan penerimaan dari orang lain.
8.

Kebutuhan ambisi dan prestasi pribadi : Penderita neurotik sering memiliki dorongan
untuk menjadi yang terbaik, contoh: penjual terbaik, pemain bowling terbaik, pecinta terbaik.
Mereka ingin menjadi yang terbaik dan memaksa diri untuk semakin berprestasi sebagai
akibat dari perasaan tidak aman, harus mengalahkan orang lain untuk manyatakan
superioritasnya.

9.

Kebutuhan mencukupi diri sendiri dan independensi : Neurotik yang kecewa gagal
menemukan hubungan-hubungan yang hangat dan memuaskan dengan orang lain yang
cenderung akan memisahkan diri tidak mau terikat dengan orang lain, membuktikan bahwa
mereka bisa hidup tanpa orang lain. Gambaran khas dari sifat play boy yang tidak mau
terikat dengan wanita manapun.

10. Kebutuhan kesempurnaan dan ketaktercelaan : Melalui perjuangan yang tidak mengenal
lelah untuk menjadi sempurna, penderita neurotik membuktikan harga diri dan superioritas
pribadinya. Mereka sangat takut membuat kesalahan dan mati-matian berusaha
menyembunyikan kelemahannya dari orang lain.
Kecemasan dasar dan permusuhan dasar terbentuk dari konflik antara kebutuhan untuk
keamanan dan kebutuhan untuk mengekspresikan, emosi fundamental dan pikiran.
2.4

Konflik Intrapsikis
Kecenderungan neurotik yang timbul dari kecemasan dasar, berkembang dari hubungan

anak dengan orang lain. Dinamika kejiwaan yang terjadi menekankan pada konflik budaya
dan hubungan antar pribadi. Dalam hal ini Horney tidak mengabaikan faktor intrapsikis
dalam perkembangan kepribadiannya. Menurutnya, proses intrapsikis semula berasal dari
pengalaman hubungan antar pribadi kemudian mengembangkan eksistensi dirinya terpisah
dari konflik interpersonal. Untuk dapat memahami konflik intrapsikis yang sarat dengan
dinamika diri, perlu difahami empat gambaran diri dari Horney (Alwisol, 2009), yaitu :
1.

Diri Rendah (Despised Real Self)


Konsep yang salah tentang kemampuan diri, keberhargaan dan kemenarikan diri, yang
didasarkan pada evaluasi orang lain yang dipercayainya, khususnya orang tuanya. Evaluasi
negative mungkin mendorong oramg untuk merasa tak berdaya.

2.

Diri Nyata (Real Self)

Pandangan subjektif bagaimana diri yang sebenarnya, mencakup potensi untuk berkembang,
kebahagiaan, kekuatan, kemauan, kemampuan khusus, dan keinginan untuk realisasi diri,
keinginan untuk spontan menyatakan diri yang sebenarnya.
3.

Diri Ideal (Ideal Self)


Pandangan subjektif mengenai diri yang seharusnya, suatu usaha untuk menjadi sempurna
dalam bentuk khayalan, sebagai kompensasi perasaan tidak mampu dan tidak dicintai.

4.

Diri Aktual (Actual Self)


Berbeda dengan real self yang subektif, aktual self adalah kenyataan objektif diri seseorang,
fisik dan mental apa adanya, tanpa dipengaruhi oleh persepsi orang lain.
2.5

Upaya Mengatasi (Attempts At Coping)


Untuk

mengatasi

kecemasan

dasar,

orang

mengembangkan

sejumlah

strategi. Mereka menciptakan dan berusaha untuk mewujudkan sebuah citra diri ideal dengan
mencapai kesempurnaan, atau "kemuliaan", merekamengembangkan "sistem kebanggaan"
untuk mendukung gambaran ideal, serta satu set perilaku standar yang mustahil, atau
"keharusan", dan mereka mencoba untuk memungkiri, atau "mengeksternalisasi", hal-hal
dalam diri mereka yang mereka tidak dapat mengatasi. Semua upaya ini dapat menghasilkan
"keterasingan dari diri"
Mengatasi telah didefinisikan dalam istilah psikologis oleh Susan Folkman dan Richard
Lazarus sebagai"constantly changing cognitive and behavioral efforts to manage specific
external and/or internal demands that are appraised as taxing" (selalu berubah upaya
kognitif dan perilaku untuk mengelola tuntutan eksternal atau internal tertentu yang dinilai
sebagai beban) atau "exceeding the resources of the person (melebihi sumber dari orang).
(Lazarus & Folkman, 1984)
Dengan demikian, mengatasi (Coping) merupakan pengeluaran usaha sadar untuk
memecahkan masalah personal dan interpersonal, dan berusaha untuk menguasai,
mengurangi atau mentolerir stres atau konflik. Mekanisme coping psikologis biasanya
disebut strategi mengatasi atau keterampilan mengatasi. Istilah mengatasi umumnya mengacu
pada strategi penanggulangan adaptif atau konstruktif, yaitu strategi mengurangi tingkat stres.
Namun, beberapa strategi penanganan yang dapat dianggap maladaptif, yaitu, tingkat stres
meningkat. Maladaptif mengatasi dengan demikian dapat dijelaskan, pada dasarnya, sebagai
non-coping. Selanjutnya, istilah mengatasi umumnya mengacu reaktif coping, yaitu,
respon coping berikut stressor. Ini kontras dengan mengatasi proaktif, dimana respon coping
bertujuan untuk mencegah stressor masa depan. Respon coping yang sebagian dikendalikan

oleh kepribadian (sifat kebiasaan), tetapi juga sebagian oleh konteks sosial, khususnya sifat
dari lingkungan stress.
Gaya Interpersonal dan Upaya Mengatasi
Sumber: Horney (1942, 1945, 1950)
Gaya interpersonal

Upaya men
gatasi

Citra diri
ideal

Mencarike
muliaan

Kerendaha
n hati,
Bergerak
ke
arahlain,
Mencari ci
nta
Baik,
murah
hati,
penuh
kasih,
tidak
egois,
simpatik,
baik hati,
rendah
hati,
mengorba
nkan diri
Sempurna
cinta;
menyerah
kepada
seseorang
yang akan
mengambi
l alih
kehidupan
seseorang;
kesempurn
aan
Kristus;
kemartiran

Perluasan,
Bergerak melawanlainnya,
Berusaha mendominasi

Pengunduran diri,
Bergerak menjauhdari
orang lain,
Berusaha untuk
menghindarihubungan

Semua-kuat, tak
terkalahkan, bantuantidak
ada yang perlu;intelektual,
fisik, moralunggul

Independen, mandiri,
berwawasan, mandiri,
bebas darikeinginan
dangairah, setia
padasatu diri, unik

Absolute kontrol; berada


di atas dan lebih baik
darisemua
orang;kemenangan
danpembalasan

Kebebasan;ketenangans
empurna, tidak
adamasalah,
iritasi,mengganggu

Sumberkeba Menjadi
nggaan
baik, baik
hati,
dicintai
(secara
sadar
ditolak
tetapi
ditunjukka
n pada
hipersensit
ivitas
terhadap
dikritik)
Sumber dari Rendah
rasa
diri,
membenci
kebodohan
diri
,
kelemahan
; yang
dicintai,
tidak
diinginkan
Keharusan
Mengemb
angkan
hubungan
cinta
menjadi
satu
harmoni
perect,
bercinta
pasangann
ya, tidak
buang
waktu n
diri, tidak
berusaha
untuk
lebih dari
satu telah

Intelektual kekuatan,
kewaspadaan, kemampuan
untukmengecoh orang lain,
keadilan, pandangan ke
depan, perencanaan,berada
di atas luka dan
penderitaan

Menyelesaikan
tugasapapun; menangani
situasi apapun,memecahka
n masalah,tidak
peduli bagaimana
kompleks; menaklukkanse
gala sesuatu
denganbelaka akan; selalu
benar

Melupakankesenangan s
emua;tidak
menjadiatached atau terl
ibat secara
emosionaldengan siapa
pun, tidak harus
mengubah 'tidak
harus menyesuaikan diri
dengan oranglain kebutu
han

Eksternalisa
si

Ketakutan, kecemasantak
berdaya, dan, dengan

Kebutuhan untuk
mengontrol danmembuat

Kemaraha
n,

Kebijaksanaan yang
"realistis",detasemen,ket
abahan, self-sufficiensy,
kemandirian, ketahanan
terhadappemaksaan, ber
ada di atas kompetisi

Falibilitas; kebutuhan akan Inersia, kegagalan


cinta, spontanitas,
untuk mencapai apakegembiraan hidup
apa, kesia-siaan

permusuha
n, dan
kebencian
diri,
dengan
melihat
orang lain
menuduh
atau
mengkritik
diri sendiri
atau
dengan
penderitaa
n dan
dengan
demikian
membuat
orang lain
merasa
bersalah
2.6

memanggil orang
lainketakutan, dan
lemah;falibilitas sendiri, de
ngan
menunjukkan kebodohanor
ang lain dan kesalahan.

tuntutanpada orang lain,


dengan melihatorang
lain
sebagaimenuntut pengaj
uandan
sebagaimengganggukehi
dupan seseorang

Jenis-jenis strategi coping

1. Moving toward people


Memiliki ciri-ciri seperti menganggap orang lain mempunyai arti yang sangat penting dalam
hidupnya, mempunyai sikap tergantung pada orang lain, ingin disenangi, dicintai dan diterima,
bersikap intrapunitif (suka menghukum/ menyalahkan diri sendiri) serta mengorbankan diri
sendiri dan tidak individualistis.
2. Moving against people
Mempunyai ciri-ciri seperti bersikap agresif, oposisional (bertentangan dengan orang lain), ingin
menguasai dan menindas orang lain, tidak pernah memperlihatkan rasa takut maupun rasa
belas kasihan serta menjalin hubungan dengan orang lain berdasarkan pertimbangan untung
dan rugi. Sementara untuk orang yang memiliki orientasi.
3. Moving away from people
Mempunyai ciri-ciri seperti menjauh atau lari dari realitas, tidak mau mengadakan keterlibatan
emosi dengan orang lain baik dengan mencintai, berkelahi atau berkompetisi dan individu ini

selalu berusaha agar bisa hidup tanpa orang lain dan benar-benar tidak ingin tergantung pada
orang lain. (Wagner, 1996)

2.7

Citra Diri Ideal dan Pencarian Kemuliaan (The Idealized Self-Image and The Search
For Glory)
Karena mereka merasa rendah diri, orang dengan kecemasan dasar mengembangkan
citra diri yang idealseperti sebuah gambar (dan sebagian besar tidak sadar) imajiner dari diri
sebagai

prssessor

kekuasaan

tak

terbatas

dan

kualitas

superlatif. Diri

yang

sebenarnya orang ini adalah berada dalam kehidupan sehari-hari, sering dihina karena gagal
memenuhi persyaratan dari gambaran ideal. Semua orang mendengar cacian diri mereka
sendiri untuk beberapa kesalahan kecil: "apa saya idiot? bagaimana bisa saya lakukan hal
bodoh seperti itu?" Horney menyarankan bahwa hanya orang yang diam-diam percaya
kesempurnaan mereka sendiri (atau potensial untuk kesempurnaan) yang sangat toleran
terhadap ketidak sempurnaan mereka. (Lindzey, 1985)
Mendasari tentang diri ideal dan diri yang sebenarnya adalah diri sejati, yang
terungkap oleh sebagai orang hanya untuk menumpahkan berbagai teknik pengembangan
untuk menangani kecemasan dasar dan mencari cara untuk mengatasi konflik. Diri sejati
bukan merupakan perusahaan tetapi suatu "kekuatan" yang mendorong pertumbuhan dan
realisasi diri (Horney, 1950).
Dalam pencarian kemuliaan, orang tersebut mencoba untuk memenuhi citra
diri yang ideal. Formulasi yang mirip dengan "superiority striving" Adler, mencari kemuliaan
dari perjuangan normal untuk prestasi dapat dibedakan dalam tiga cara: Perjuangan
neurotik yang memaksa, tidak pandang bulu, dan tidak pernah puas.
Horney juga berbagi pandangan Abraham Maslow bahwa aktualisasi diri adalah sesuatu
yang semua orang perjuangkan. Dengan "diri" dia mengerti inti dari keberadaannya sendiri
dan potensi. Horney percaya bahwa jika kita memiliki konsepsi yang akurat tentang diri kita
sendiri, maka kita bebas untuk menyadari potensi kita dan mencapai apa yang kita inginkan,
dalam batas-batas yang wajar. Dengan demikian, ia percaya bahwa aktualisasi diri adalah
tujuan orang yang sehat melalui kehidupan yang bertentangan dengan neurotik itu menempel
satu set kebutuhan utama.
Menurut Horney kita dapat memiliki dua pandangan tentang diri kita: "diri sejati" dan
"diri ideal". Diri yang sebenarnya adalah siapa dan apa kita sebenarnya. Diri ideal adalah tipe

orang kita merasa bahwa kita seharusnya. Diri yang sebenarnya memiliki potensi untuk
pertumbuhan, kebahagiaan, akan kekuasaan, realisasi hadiah, dll, tetapi juga memiliki
kekurangan. Diri ideal digunakan sebagai model untuk membantu diri sejati dalam
mengembangkan potensinya dan mencapai aktualisasi diri. (Engler 125) Tetapi penting untuk
mengetahui perbedaan antara diri kita yang ideal dan nyata.
Diri orang neurotik yang dibagi antara diri ideal dan diri sejati, akibatnya individu
neurotik merasa bahwa mereka tidak hidup sesuai dengan diri ideal. Dengan demikian,
neurotik adalah seperti pendulum jam, berosilasi antara "kesempurnaan" keliru dan
merupakan manifestasi dari diri kebencian. Horney disebut fenomena ini sebagai "tirani dari
keharusan" dan putus asa yang neurotik yang "mencari kemuliaan". Dia menyimpulkan
bahwa sifat-sifat tertanam jiwa selamanya mencegah potensi individu dari yang
diaktualisasikan kecuali siklus neurosis entah bagaimana rusak, melalui pengobatan atau
sebaliknya.
2.8

Sistem Kebanggaan (The Pride System)


Sistem kebanggaan terdiri dari dua fenomena yang mau tidak mau menemani satu sama

lain. Kebanggaan neurotik adalah kebanggaan palsu karena diinvestasikan dalam hal-hal
yang mendukung citra diri yang ideal, seperti menjadi lebih kuat atau lebih kecerdasan dari
orang lain. Perasaan rendah diri yang mendasari citra diri ideal,bersama dengan
kegagalan akan menghasilkan kebencian terhadap diri sendri. Setiap kegagalan meningkatkan
kebencian diri seseorang dan kebutuhannya untuk mempertahankan kebanggaan dalam diri
ideal.
2.9

"Harus" (The Shoulds)


Dalam upaya lebih jauh untuk mendukung citra diri ideal, orang mengembangkan

keharusan, yaitu satu set tuntutan pada diri yang "sama sekali terlalu sulit dan terlalu
kaku". Contohnya: seorang mahasiswa di tahun terakhir kuliah menulis makalah senior,
melakukan proyek penelitian, menjabat sebagai presiden asosiasi mahasiswa, menulis kolom
untuk koran kampus, bermain klarinet di sebuah klub lokal, dan mencoba untuk melanjutkan
kehidupan sosial yang luas. Ketika ia melakukan kesalahan gramatikal kecil dalam kolom,
temannya bertanya apa ia berusaha untuk membuktikan.
Keharusan didasarkan pada asumsi bahwa segala sesuatu harus dilakukan dengan
mudah, tidak peduli fakta apa yang akan mempengaruhi. Misalnya, seorang profesor sejarah

seni merasa bahwa dia harus bisa menulis sebuah artikel tentang seorang pelukis
romanian, jelas dalam beberapa hari dan melemparkan menjadi depresi karena tulisannya
tidak mengalir. Ia mengabaikan fakta bahwa sebelum mulai menulis, dia harus melakukan
penelitian, mengorganisir pikirannya, mempertimbangkan apakah ia telah mengatakan
sesuatu, dan membuat garis yang jelas.
2.10 Mengasingkan diri (Alienation From Self)
Citra diri diartikan secara total tidak sama dengan nyata diri, dan externalization adalah
satu pengingkaran dari nyata diri. Kerenggangan dari diri punyai jangkauan luas akibat
adanya kepribadian dan hidup. Orang-orang meyakini bahwa yang lain adalah reponsible
untuk kesulitan mereka. Semakin sedikit cara yang tersedia untukmendorong ke arah realisasi
diri, akhirnya sistem bangga mencegah orang-orang dari tanggung jawab asumsi untuk
mereka sendiri. Misalnya, kalau seseorang tidak dapat mengenali bahwa dia adalah penghasut
dari perilakunya sendiri, dia akan enggan untuk melahirkan konsekuensi dari perilaku itu dan
dia tidak akan mengenali bahwa hanya dia yang dapat melakukan sesuatu tentang kesulitan
yang diakibatkan oleh ini.
2.11 Neurotik "Solusi" Untuk Konflik (Neurotic Solution to Conflict: Horneys Model of
Interpersonal Styles)
Sesuai dengan Horney, orang-orang berhubungan dengan diri mereka sendiri. Saat
manusia berkembang, mereka belajar mempergunakan sesuatu yang lain dari gaya hubungan
antar pribadi ini. Walaupun orang-orang biasanya lebih suka satu gaya, namun mereka
mampu

untuk

mengekspresikannya.

Orang-orang yang belum

pernah

menaklukkan kecemasan dasar dan permusuhan dasar, bagaimanapun tidak dapat tahan
terhadap konflik.
2.12 Melupakan Diri Sendiri (Self-Effecment)
Orang-orang yang

melupakan

dirinya

sendiri jarang

menyatakan

kebutuhan

mereka secara terbuka. Mereka mungkin melebih-lebihkan rasa dari ketakberdayaan dan
derita, hal

itu untuk

memperoleh

idealkan dengan menekankan kasih

keprihatinan. Citra
sayang. Ketika

diri

mereka
mereka tidak

menerima dengan persetujuan orang lain, mungkin mereka akan berusaha untuk memperoleh

persetujuan itu,

dan

kalau

mereka

mengalami

kekecewaan, makalingkaran

setan yang lain akan berjalan.


2.13 Perkembangan
(Lindzey, 1985), Kekuatan pemotivasi mereka adalah penentuan untuk mengatasi tiaptiap rintangan. Ada tiga jenis perkembangan, yaitu:
1. Narcissistic.
2. Perfectionistic.
3. Arrogant-vindictive.
Orang-orang

Narcissistic

tampak

sangat

tinggi dan percaya

diri, tidak

punya

keraguan, sadar dari bakat dan keterampilan mereka sendiri. Horney sering berkata, orangorang yang demikian menyukai anak-anak. Mereka

sering

menjadi

penuh

kasih

dan

dermawan tapi hanya sebagai antisipasi kemurahan hati kembali. Horney melihat narsisme
cukup berbeda dari Freud, Kohut, dan teori psikoanalitik utama. Karena ia tidak
menempatkan sebuah narsisme primer, tetapi melihat kepribadian narsistik sebagai produk
dari jenis tertentu dari lingkungan awal yang bekerja pada jenis temperamen tertentu.
Baginya, kebutuhan narsis dan kecenderungan tersebut tidak melekat dalam sifat manusia.
Narsisme

berbeda

dari

strategi

Horney

yang

defensif

atau

solusi

bukan dalam kompensasi. Idealisasi diriadalah kompensasi dalam teori, tapi hal itu berbeda
dari

narsisisme.

Semua

dalam penyelesaiannya, narsis

strategi

defensif

cenderung

melibatkan

menjadi

produk

idealisasi

diri,

tetapi

dari kegemaran bukan

kekurangan. Harga diripara narsisis tidak kuat, karena tidak didasarkan pada prestasi asli
Orang-orang Perfectionistic mendasari rasa mereka dari keadaan diatas para
cendekiawan dan standar moral.Hal yang berada di luar mereka merupakan kegagalan
mereka. Mempunyai standar yang tinggi, yang dapat memberikan orang-orang ini satu
perasaan sebagai penguasaan.
Orang-orang Arrogant-vindictive sangat

biasanya

mempunyai "particularly

bad

human experiences", penghinaan, pengabaian, atau kekejaman seperti itu, dan mereka
yakin bahwa orang lain itu tak jujur dan berhati dengki. Mereka merupakan pesaing yang
tinggi dan bangga dari kemampuan mereka untuk memperdayakan yanglain.
2.14 Pengunduran Diri (Resignation)

Pengunduran diri berpotensi paling destruktif dari semua penderita neurotic "solusi" ini
memaksudkan untuk menarik diri dari bidang hubungan interpersonal dan dengan demikian
hidup sendiri. Horney menyarankan beberapa cara, dalam lingkungan awal dari orangorang pasrah, buat

permintaan

berlebihan

pada

mereka

untuk

mencocokkan

dan mengancam untuk melanda mereka tanpa memandang ke ciri khas mereka.
Orang-orang pasrah mungkin melibatkan pada beberapa aktivitas bervariasi kecuali
tanpa kedalaman atau persetujuan yang mengikat. Mereka mungkin berkata, lakukan, dan
bahkan mereka berpikir apa yang diharapkan pada lingkungan tertentu, demi pendapat orang
lain. Ketika seseorang mencoba untuk berhubungan dengan orang-orang demikian di
beberapa cara, sesuatu menyadari kedangkalan dari adaptasi mereka. Erich Fromm,
mendiskusikan

satu

kepribadian

Dikatakan satu kerusakan permanen

pada

serupa yang
kapasitas

dia namakan "marketing" jenis.


orang

untuk

mengalami

derita

emosional yang sebenarnya. Horney tidak sependapat dengannya,dinyatakan dengan orangorang yang demikian mengungkapkan di pengobatan, "sangat melupakan kesedihan, benci
diri dan benci untuk orang lain, mengasihani diri, berputus asa, bimbang" mereka tidak cacat,
dia minta dengan tegas, tapi terlibat dalam satu tekad dari bagian dalam hidup.
Horney menyarankan faktor masa anak-anak itu mungkin menyebabkan adopsi dari
corak mode tertentu, dia mungkin akan cepat untuk mengatakan yang mengecualikan ke
aturan. Faktor lain pada hidup awal anak dan mungkin faktor biologi juga mungkin
mempengaruhinya atau perkembangannya.
2.15 Psikologi Feminin
Horney juga pelopor dalam disiplin psikiatri feminin, juga sebagai salah satu psikiater
wanita pertama yangmenyajikan makalah tentang psikiatri feminin. Empat belas makalah
dia tulis

antara

tahun

1922

dan

1937

yang

digabung

menjadi

satu buku

yang berjudul Feminine Psychology. Sebagai seorang wanita, ia merasa bahwa pemetaan dari
tren dalam perilaku perempuan adalah pengabaian masalah. Dalam esainya yang
berjudul "The Problem of Feminine Masochism" Horney merasa dia membuktikan bahwa
budaya dan masyarakat di seluruh dunia mendorong perempuan bergantung pada laki-laki
untuk cinta mereka, wibawa, kekayaan, perawatan dan perlindungan. Perempuan dianggap
sebagai objek pesona dan keindahan-berbeda dengan tujuan akhir setiap manusia dari
aktualisasi diri.

Wanita, menurut Horney, secara tradisional memperoleh nilai hanya melalui anak-anak
mereka dan keluarga yang lebih luas. Dia menyentuh lebih lanjut mengenai hal ini dalam
esainya "The Distrust Between the Sexes" di mana ia membandingkan hubungan suami-istri
ke orang tua-anak, hubungan kesalah pahaman yang melahirkan neurosis merugikan.
Horney percaya bahwa pria dan wanita memiliki dorongan untuk menjadi cerdik dan
produktif. Wanita dapat memuaskan kebutuhan normal dan batin. Untuk melakukan hal
ini, mereka hamil dan melahirkan. Pria akan puashanya perlu melalui cara-cara
eksternal. Horney mengusulkan agar prestasi mencolok dari pria dalam pekerjaan atau bidang
lain dapat dilihat sebagai kompensasi atas ketidakmampuan mereka untuk melahirkan anakanak.
Horney mengembangkan idenya sejauh bahwa ia merilis salah satu buku "selfhelp" pertama pada tahun 1946,yang Are You Considering Psychoanalysis?. Buku ini
menegaskan bahwa orang-orang, baik pria dan wanita, dengan masalah neurotik yang relatif
kecil, pada dasarnya bisa menjadi psikiater sendiri. Dia terus menerus menekankan bahwa
kesadaran diri adalah bagian untuk menjadi manusia yang lebih baik, lebih kuat, dan lebih
kaya.

BAB III
Kesimpulan
Berdasarkan materi yang telah disampaikan di awal, kami mendapatkan beberapa
kesimpulan sebagai berikut:
1. Menurut Horney, kecemasan dasar (karena neurosis) dapat terjadi akibat berbagai hal
termasuk, dominasi langsung atau tidak langsung, ketidak pedulian, perilaku tak menentu,
kurangnya rasa hormat untuk kebutuhan individu anak, kurangnya bimbingan yang nyata,
sikap meremehkan, terlalu banyak kekaguman atau tidak adanya itu, kurangnya kehangatan
yang dapat diandalkan, harus berpihak dalam perselisihan orang tua, terlalu banyak atau
terlalu sedikit tanggung jawab, perlindungan lebih, terpisah dari anak-anak lain,
ketidakadilan, diskriminasi, ingkar janji, suasana bermusuhan, dan seterusnya (Horney,
1945).
2. Kecemasan dasar berasal dari perasaan masa kecil, seperti: sendirian, terisolasi, dan tak
berdaya di dunia yang kejam. Dia melihat kecemasan dasar yang dihasilkan, bukan dari

konflik seksual atau agresif, seperti Freud lakukan, tetapi dari hubungan bermasalah bahwa
anak berpengalaman dengan orang tuanya (Horney, 1937, 1939, 1945).
3. Motivasi yang mendorong manusia adalah kekuatan yang bersifat emosional dan
nonrasional.
4. Bayi mengalami proses melingkar, yang oleh Horney dinamakn Lingkaran setan atau vicious
circle.
5. Teori Horney tentang neurosis didasarkan pada konsep gangguan psikis yang membuat orang
terkunci dalam lingkaran yang membuat tingkah laku tertekan dan tidak produktif, kemudian
dikenal sebagai masalah kecemasan.
6. Horney mengemukakan sepuluh kebutuhan neurotik, yakni kebutuhan yang timbul sebagai
akibat dari usaha menemukan pemecahan-pemecahan masalah gangguang antara hubungan
manusia.
1)

Kebutuhan kasih sayang dan penerimaan

2)

Kebutuhan partner yang bersedia mengambil ahli keidupannya

3)

Kebutuhan membatasi kehidupan dalam ranah sempit.

4)

Kekuasaan

5)

Kebutuhan mengeksploitasi orang lain

6)

Kebutuhan pengakuan sosial atau prestise

7)

Kebutuhan menjadi pribadi yang dikagumi

8)

Kebutuhan ambisi dan prestasi pribaadi

9)

Kebutuhan mencukupi diri sendiri dan independensi

10) Kebutuhan kesempurnaan dan ketaktercelaan


7. Horney juga pelopor dalam disiplin psikiatri feminin, juga sebagai salah satu psikiater wanita
pertama yang menyajikan makalah tentang psikiatri feminin.

DAFTAR PUSTAKA
Hall,

Calvin

S.,

Lindzey,

Gardner.,

Loehlin,

John

C.,

Manosevitz,

Martin.

(1985). Introduction to Theories of Personality. New York: John Wiley & Sons.
Hogan, Robert. (1997). Handbook of Personality Psychology. New York: Academic Press.
Schultz, Duane and Ellen, Sydney. ( 1994). Thoeries of Personality. California: Brooks/Cole
Publishing Company.
Suryabrata, Sumadi. (2003). Psikologi Kepribadian. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.