Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN An. F DENGAN


RETINOBLASTOMA
RUANG ANAK Lt. DASAR RSUP dr. KARIADI SEMARANG

DISUSUN OLEH :
NAMA

: KRISTINA MARIA AGUSTIN

NIM

: P17420113017

PRODI DIII KEPERAWATAN SEMARANG


JURUSAN KEPERAWATAN SEMARANG
POLITEKNIK KEMENTERIAN KESEHATAN SEMARANG
TAHUN 2015

RETINOBLASTOMA
KONSEP DASAR RETINOBLASTOMA
A. Definisi
Retinoblastoma merupakan tumor ganas utama intraokular yang ditemukan pada anakanak, terutama pada usia di bawah lima tahun. Tumor berasal dari jaringan retina
embrional. (Mansjoer A. 2000).
Retinoblastoma adalah tumor ganas dalam bola mata pada anak dan bayi sampai 5
tahun. (Sidarta Ilyas, 2009).
Retinoblastoma adalah tumor endo-okular pada anak yang mengenai saraf embrionik
retina. Kasus ini jarang terjadi, sehingga sulit untuk dideteksi secara awal. Rata rata usia
klien saat diagnosis adalah 24 bulan pada kasus unilateral, 13 bulan pada kasus kasus
bilateral. Beberapa kasus bilateral tampak sebagai kasus unilateral, dan tumor pada
bagian mata yang lain terdeteksi pada saat pemeriksaan evaluasi. ini menunjukkan
pentingnya untuk memeriksa klien dengan dengan anestesi pada anak anak dengan
retinoblastoma unilateral, khususnya pada usia dibawah 1 tahun. (Ganong William
F.1998).
Jadi dari beberapa pengertian diatas disimpulakan bahwa retinoblastoma adalah penyakit
tumor ganas dalam bola mata pada anak usia kurang dari 5 tahun.
B. Etiologi
Retinoblastoma disebabkan oleh mutasi gen RB1, yang terletak pada lengan panjang
kromosom 13 pada locus 14 (13q14) dan kode protein pRB, yang berfungsi sebagai
supresor pembentukan tumor. pRB adalah nukleoprotein yang terikat pada DNA
(Deoxiribo Nucleid Acid) dan mengontrol siklus sel pada transisi dari fase G1 sampai
fase S. Jadi mengakibatkan perubahan keganasan dari sel retina primitif sebelum
diferensiasi berakhir. Retinoblastoma normal yang terdapat pada semua orang adalah
suatu gen supresor atau anti-onkogen. Individu dengan penyakit yang herediter memiliki
satu alel yang terganggu di setiap sel tubuhnya, apabila alel pasangannya di sel retina
yang sedang tumbuh mengalami mutasi spontan, terbentuklah tumor. Pada bentuk
penyakit yang nonherediter, kedua alel gen Retinoblastoma normal di sel retina yang
sedang tumbuh diinaktifkan oleh mutasi spontan.
C. Patofisiologi

Teori tentang histogenesis dari Retinoblastoma yang paling banyak dipakai umumnya
berasal dari sel prekursor multipotensial (mutasi pada lengan panjang kromosom pita 13,
yaitu 13q14 yang dapat berkembang pada beberapa sel retina dalam atau luar. Pada
intraokular, tumor tersebut dapat memperlihatkan berbagai pola pertumbuhan yang akan
dipaparkan di bawah ini.
Pola Penyebaran Tumor
1. Pola pertumbuhan
Retinoblastoma Intraokular dapat menampakkan sejumlah pola pertumbuhan, pada
pola pertumbuhan endofitik, ini tampak sebagai gambaran massa putih sampai coklat
muda yang menembus membran limitan interna. Retinoblastoma Endofitik kadang
berhubungan dengan vitreus seeding. Sel-sel dari Retinoblastoma yang masih dapat
hidup terlepas dalam vitreous dan ruang sub retina dan biasanya dapat menimbulkan
perluasan tumor melalui mata. Vitreous seeding sebagian kecil meluas memberikan
gambaran klinis mirip endopthalmitis,vitreous seeding mungkin juga memasuki bilik
mata depan, yang dapat berkumpul di iris membentuk nodule atau menempati bagian
inferior membentuk Pseudohypopyon
Tumor Eksofitik biasanya kuning keputihan dan terjadi pada ruang subretinal, yang
mengenai pembuluh darah retina dan sering kali terjadi peningkatan diameter
pembuluh darah dengan warna lebih pekat.Retinoblastoma eksofitik, berasal dari
lapisan luar retina dan meluas ke koroid menyebabkan solid RD, dapat meluas hingga
ke sklera. Retinoblastoma eksofitik ini dapat pula menyebabkan retinal detachment.
2. Invasi saraf optikus;
Dengan penyebaran tumor sepanjang ruang sub arachnoid ke otak. Sel
Retinoblastoma paling sering keluar dari mata dengan menginvasi saraf optikus dan
meluas kedalam ruang sub arachnoid.
3. Diffuse infiltration retina
Pola yang ketiga adalah Retinoblastoma yang tumbuh menginfiltrasi luas yang
biasanya unilateral, nonherediter, dan ditemukan pada anak yang berumur lebih dari 5
tahun. Pada tumor dijumpai adanya injeksi conjunctiva, anterior chamber seeding,
pseudohypopyon, gumpalan besar sel vitreous dan tumor yang menginfiltrasi retina,
karena masa tumor yang dijumpai tidak jelas, diagnosis sering dikacaukan dengan
keadaan inflamasi seperti pada uveitis intermediate yang tidak diketahui etiologinya.
Glaukoma sekunder dan Rubeosis Iridis terjadi pada sekitar 50% kasus.
4. Penyebaran metastasis ke kelenjar limfe regional, paru, otak dan tulang.

Sel tumor mungkin juga melewati kanal atau melalui slera untuk masuk ke orbita.
Perluasan ekstraokular dapat mengakibatkan proptosis sebagaimana tumor tumbuh
dalam orbita. Pada bilik mata depan, sel tumor menginvasi trabecular messwork,
memberi jalan masuk ke limphatik conjunctiva. Kemudian timbul kelenjar limfe
preauricular dan cervical yang dapat teraba.
Di Amerika Serikat, pada saat diagnosis pasien, jarang dijumpai dengan metastasis
sistemik dan perluasan intrakranial. Tempat metastasis Retinoblastoma yang paling
sering pada anak mengenai tulang kepala, tulang distal, otak, vertebra, kelenjar
limphe dan viscera abdomen.
Tumor mata ini, terbagi atas IV stadium, masing-masing:

Stadium I: menunjukkan tumor masih terbatas pada retina (stadium tenang)


Stadium II: tumor terbatas pada bola mata.
Stadium III: terdapat perluasan ekstra okuler regional, baik yang melampaui ujung

nervus optikus yang dipotong saat enuklasi.


Stadium IV: ditemukan metastase jauh ke dalam otak.

Pada beberapa kasus terjadi penyembuhan secara spontan, sering terjadi perubahan
degeneratif, diikuti nekrosis dan klasifikasi. Pasien yang selamat memiliki kemungkinan
50 % menurunkan anak dengan retinoblastoma.
D. Pathways

E. Tanda dan Gejala


1. Leukokoria merupakan keluhan dan gejala yang paling sering ditemukan.
2. Tanda dini retinoblastoma adalah mata juling, mata merah atau terdapatnya warna iris
yang tidak normal.
3. Tumor dengan ukuran sedang akan memberikan gejala hipopion, di dalam bilik mata
depan, uveitis, endoftalmitis, ataupun suatu panoftalmitis.
4. Bola mata menjadi besar, bila tumor sudah menyebar luas di dalam bola mata.
5. Bila terjadi nekrosis tumor, akan terjadi gejala pandangan berat.

6. Tajam penglihatan sangat menurun.


7. Nyeri
8. Pada tumor yang besar, maka mengisi seluruh rongga badan kaca sehingga badan kaca
terlihat benjolan berwarna putih kekuning-kuningan dengan pembuluh darah di
atasnya.
F. Manifestasi Klinis
Gejala retinoblastoma dapat menyerupai penyakit lain dimata. Bila letak tumor dimakula,
dapat terlihat gejala awal strabismus. Massa tumor yang semakin membesar akan
memperlihatkan gejala leukokoria, tanda-tanda peradangan di vitreus (Vitreous seeding)
yang menyerupai endoftalmitis.
Bila sel-sel tumor terlepas dan masuk ke segmen anterior mata , akan menyebabkan
glaucoma atau tanda-tanda peradangan berupa hipopion atau hifema. Pertumbuhan tumor
ini dapat menyebabkan metastasis dengan invasi tumor melalui nervus optikus ke otak,
melalui sclera ke jaringan orbita dan sinus paranasal, dan metastasis jauh ke sumsum
tulang melalui pembuluh darah. Pada fundus terlihat bercak kuning mengkilat, dapat
menonjol kebadan kaca. Di permukaan terdapat neovaskularisasi dan perdarahan. Warna
iris tidak normal. Penyebaran secara limfogen, ke kelenjar limfe preaurikular dan
submandibula dan, hematogen, ke sumsum tulang dan visera, terutama hati.
G. Klasifikasi Stadium
Menurut Reese-Ellsworth, retinobalastoma digolongkan menjadi :
1. Golongan I
a. Tumor soliter/multiple kurang dari 4 diameter pupil.
b. Tumor multiple tidak lebih dari 4dd,dan terdapat pada atau dibelakang ekuator.
2. Golongan II
a. Tumor solid dengan diameter 4-10 dd pada atau belakang ekuator.
b. Tumor multiple dengan diameter 4-10 dd pada atau belakang ekuator.
3. Golongan III
a. Beberapa lesi di depan ekuator.
b. Tumor ada didepan ekuator atau tumor soliter berukuran >10 diameter papil.
4. Golongan IV
a. Tumor multiple sebagian besar > 10 dd.
b. Beberapa lesi menyebar ke anterior ke ora serrata.
5. Golongan V
a. Tumor masif mengenai lebih dari setengah retina.
b. Penyebaran ke vitreous.
Tumor menjadi lebih besar, bola mata memebesar menyebabakan eksoftalmus kemudian
dapt pecah kedepan sampai keluar dari rongga orbita disertai nekrose diatasnya.

Menurut Grabowski dan Abrahamson, membagi penderajatan berdasarkan tempat utama


dimana retinoblastoma menyebar sebagai berikut :
1. Derajat I Intraokular
a. tumor retina.
b. penyebaran ke lamina fibrosa.
c. penyebaran ke ueva.
2. Derajat II orbita
a. Tumor orbita : sel sel episklera yang tersebar, tumor terbukti dengan biopsi.
b. Nervous optikus.
H. Pemeriksaan Penunjang
1. Ultrasonografi. Pemeriksaan

ini

dilakukan

pada

penderita

yang

belum

protopsis.Dengan USG dapat diketahui :- ukuran panjang bola mata ( axial lenght)
yang biasanya normal pada RB,kecuali bila terdapat buphthalmos.
- letak, besar dan bentuk massa tumor didalam bola mata, perluasan tumor ke N.
Optikus atau ke dalam bola orbita. RB memperlihatkan gambaranUSG yang khas
sehingga memberikan ketepatan diagnosi sampai 90 %,yaitu adanya reflektivitas
yang tinggi mencapai 100% pada A scan yangmenunjukkaan tanda kalsifikasi dan
shadowing effect positif.
2. CT Scan kepala orbita, bila terdapat protopsis, kecurigaan perluasan tumor
keekstraokular, metastasis intrakranial, pada USG terdapat perluasan ke N.II,
sertamenilai adanya trilateral pada midlinecranial.
3. Bone survey bila aspirasi sumsum tulang positif, nyeri atau pembengkakan tulang.
4. Pemeriksaan punsi sumsum tulang ( BMP ) bila ada protopsis dan pemeriksaan
pungsilumbal ( LP ) bila terdapat gejala peninggian tekanan intrakranial atau
penyebaran tumor ke N.II pasca operasi.
I. Penatalaksanaan
Dua aspek pengobatan retinoblastoma harus diperhatikan, pertama adalah pengobatan
local untuk jenis intraocular, dan kedua adalah pengobatan sistemik untuk jenis
ekstrokular, regional, dan metastatic. Hanya 17% pasien dengan retinoblastoma bilateral
kedua matanya masih terlindungi. Gambaran seperti ini lebih banyak pada keluarga yang
memiliki riwayat keluarga, karena diagnosis biasanya lebih awal. Sementara 13% pasien
dengan retinoblastoma bilateral kedua matanya terambil atau keluar karena penyakit
intraocular yang sudah lanjut, baik pada waktu masuk atau setelah gagal pengobatan
local.
Jenis terapi :
1. Pembedahan

Enukleasi adalah terapi yang paling sederhana dan aman untuk retinoblastoma.
Pemasangan bola mata palsu dilakukan beberapa minggu setelah prosedur ini, untuk
meminimalkan efek kosmetik. Bagaimanapun, apabila enukleasi dilakukan pada dua
tahun pertama kehidupan, asimetri wajah akan terjadi karena hambatan pertumbuhan
orbita. Bagaimanapun, jika mata kontralateral juga terlibat cukup parah, pendekatan
konservatif mungkin bisa diambil. Enukleasi dianjurkan apabila terjadi glaukoma,
invasi ke rongga naterior, atau terjadi rubeosis iridis, dan apabila terapi local tidak
dapat dievaluasi karena katarak atau gagal untuk mengikuti pasien secara lengkap atau
teratur. Enuklasi dapat ditunda atau ditangguhkan pada saat diagnosis tumor sudah
menyebar ke ekstraokular. Massa orbita harus dihindari. Pembedahan intraocular
seperti vitrektomi, adalah kontraindikasi pada pasien retinoblastoma, karena akan
menaikkan relaps orbita.
2. External beam radiotherapy (EBRT)
Retinoblastroma merupakan tumor yang radiosensitif dan radioterapi merupakan terapi
efektif lokal untuk khasus ini. EBRT mengunakan eksalator linjar dengan dosis 40-45
Gy dengan pemecahan konvensional yang meliputi seluruh retina. Pada bayi mudah
harus dibawah anestesi dan imobilisasi selama prosedur ini, dan harus ada kerjasama
yang erat antara dokter ahli mata dan dokter radioterapi untuk memubuat perencanan.
Keberhasilan EBRT tidak hanya ukuran tumor, tetapi tergantung teknik dan
lokasi. Gambaran regresi setelah radiasi akan terlihat dengan fotokoagulasi. Efek
samping jangka panjang dari radioterapi harus diperhatikan. Seperti enuklease, dapat
terjadi komplikasi hambatan pertumbuhantulang orbita, yang akhirnya akan
meyebabkan ganguan kosmetik. Hal yang lebih penting adalah terjadi malignasi
skunder.
3. Radioterapi plaque
Radioaktif episkeral plaque menggunakan 60 Co, 106 Ro, 125 I sekarang makin sering
digunakan untuk mengobati retinoblastoma. Cara itu biasanya digunakan untuk
tumoryang ukurannya kecil sa,pai sedang yang tidak setuju dengan kryo atau
fotokoagulasi, pada kasus yang residif setelah EBRT, tetapi akhir-akhir ini juga
digunakan pada terapi awal, khusunya setelah kemoterapi. Belum ada bukti bahwa
cara ini menimbulkan malignansi sekunder.
4. Kryo atau fotokoagulasi
Cara ini digunakan untuk mengobati tumor kecil (kurang dari 5 mm) dan dapat
diambil. Cara ini sudah secara luas digunakan dan dapat diulang beberapa kali sampai

kontrol lokal terapi. Kryoterapi biasanya ditujukan unntuk tumorbagian depan dan
dilakukan dengan petanda kecil yang diletakkan di konjungtiva. Sementara
fotokoagulasi secara umum digunakan untuk tumor bagian belakang baik
menggunakan laser argon atau xenon. Fotokoagulasi tidak boleh diberikan pada tumor
dekat makula atau diskus optikus, karena bisa meninggalkan jaringan parut yang
nantinya akan menyebabkan ambliopi. Kedua cara ini tidak akan atau sedikit
menyebabkan komplikasi jangka panjang.
5. Modalitas yang lebih baru
Pada beberapa tahun terakhir,banyak kelompok yang menggunakan kemoterapi
sebagai terapi awal untuk kasus interaokular, dengan tujuan untuk mengurabgi ukuran
tumor dan membuat tumor bisa diterapi secara lokal. Kemoterapi sudah dibuktikan
tidak berguna untuk kasus intraocular, tetapi dengan menggunakan obat yang lebih
baru dan lebih bisa penetrasi ke mata, obat ini muncul lagi. Pendekatan ini digunakan
pada kasus-kasus yang tidak dilakukan EBICT atau enukleasi, khususnya kasus yang
telah lanjut. Carboplatin baaik sendiri atau dikombinasi dengan vincristine dan VP16
atau VM26 setelah digunakan. Sekarang kemoreduksi dilakukan sebagai terspi awal
kasus retinoblastoma bilateral dan mengancam fungsi mata.
6. Kemoterapi
Protocol adjuvant kemoterapi masih kontrovensial. Belum ada penelitian yang luas,
prospektif dan random. Sebagian besar penelitian didasarkan pada sejumlah kecil
pasien dengan perbedaan resiko relaps. Selain itu juga karena kurang diterimanya
secra luas sistem stadium yang dibandingkan dengan berbagai macam variasi.
Sebagian besar penelitian didasarkan pada gambaran factor risiko secara
histopatologi. Penentuan stadium secara histopatologi setelah enukleasi sangat penting
untuk menentukan risiko relaps. Banyak peneliti memberikan kemoterapi adjuvant
untuk pasien-pasien retinoblastoma intraokular dan memiliki faktor risiko potensial
seperti nervus optikus yang pendek (< 5 mm), tumor undifferentiated, atau invasi ke
nervus optikus prelaminar. Kemoterapi ingtratekal dan radiasi intracranial untuk
mencegah penyebaran ke otak tidak dianjurkan. Apabila penyakitnya sudah menyebar
ke ekstraokuler, kemoterapi awal dianjurkan. Obat yang digunakan adalah carboplatin,
cis;platin, etoposid, teniposid, sikofosfamid, ifosfamid, vinkristin, adriamisin, dan
akhir-akhir ini adalah dikombinasi dengan idarubisin. Meskipun laporan terakhir
menemukan bahwa invasi keluar orbita dan limfonodi preauricular dihubungkan
dengan keluaran yang buruk, sebagian besar pasien ini akan mencapai harapan hidup

yang panjang dengan pendekatan kombinasi kemoterapi, pembedahan, dan radiasi.


Meskipun remisi bisa dicapai oleh pasien dengan metastasis, biasanya mempunyai
kehidupan pendek. Hal ini biasanya dikaitkan dengan ekspresi yang belebihan p 170
glikoprotein pada retinoblastoma, yang dihubungkan dengan multidrug resistance
terhadap kemoterapi.
J. Prognosis
Tumor mempunyai prognosis baik bila ditemukan dini dan intraokuler.
Prognosis sangat buruk bila sudah tersebar ekstra ocular pada saat pemeriksaan
pertama. Tumor dapat masuk ke dalam otak melalui saraf optik yang terkena infiltrasi sel
tumor.
K. Komplikasi
Bila tumor masih terbatas intraukolar, pengobatan dini mempunyai prognosis yang
baik. Tergantung dari letak, besar, dan tabel pada tumor yang masih intraukolar dapat
dilakukan krioterapi, fotokoagulasi laser, atau kombinasi sitostatikdan fotokoagulasi
laser untuk mempertahankan visus. Pada tumor intraokular yang sudah mencapai
seluruh vetreus dan visus nol, dilakukan enukleasi. Bila tumor telah keluar bulbus okuli,
tapi masih terbatas di rongga orbita, dilakukan kombinasi eksentrasi, radioterapi, dan
kemoterapi. Pasien harus terus dievaluasi seumur hidup karena 20-90% pasien
retinoblastoma

bilateral

akan

menderita

tumor

ganas

primer,

terutama

osteosarkoma. (Mansjoer A. 2000).


Komplikasi dari penyakit retinoblastoma adalah :
1. Ablasio Retina
Ablasio adalah suatu keadaan lepasnya retina sensoris dari epitel pigmen retina
(RIDE). keadaan ini merupakan masalah mata yang serius dan dapat terjadi pada usia
berapapun, walaupun biasanya terjadi pada orang usia setengah baya atau lebih tua.
2. Glaukoma
Glaukoma adalah salah satu jenis penyakit mata dengan gejala yang tidak langsung,
yang secara bertahap menyebabkan penglihatan pandangan mata semakin lama akan
semakin berkurang sehingga akhirnya mata akan menjadi buta. Hal ini disebabkan
karena saluran cairan yang keluar dari bola mata terhambat sehingga bola mata akan
membesar dan bola mata akan menekan saraf mata yang berada di belakang bola

mata yang akhirnya saraf mata tidak mendapatkan aliran darah sehingga saraf mata
akan mati.
3. Kebutaan
Kebutaan merupakan sebuah penyakit pada mata yang disebabkan orang tidak bisa
melihat. Penanganan kebutaan nasional lebih lebih diarahkan pada katarak yang
umumnya dapa diatasi.
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Pengkajian yang penting untuk retinoblastoma
Sejak kapan sakit mata dirasakan. Penting untuk mengetahui perkembangan
penyakitnya, dan sejauhmana perhatian klien dan keluarganya terhadap masalah yang
dialami. Retinoblastoma mempunyai prognosis baik bila ditemukan dini.
2. Riwayat trauma sebelum atau sesudah ada keluhan
Trauma dapat memberikan kerusakan pada seluruh lapis kelopak ataupun bola mata.
Trauma sebelumnya dapat juga memberikan kelainan pada mata tersebut sebelum
meminta pertolongan.
3. Apakah

ada

keluarga

yang

menderita

penyakit

yang

sama

sebelumnya.

Retinoblastoma bersifat herediter yang diwariskan melalui kromosom, protein


yang

selamat

memiliki

kemungkinan

50

menurunkan

anak

dengan

retinoblastoma.
4. Apakah pasien merasakan adanya perubahan dalam matanya. Retinoblastoma dapat
menyebabkan bola mata menjadi besar.
5. Apakah ada keluhan lain yang menyertai
Keluhan sakit kepala merupakan keluhan paling sering diberikan oleh penderita.
Adanya keluhan pada organ lain juga bisa diakibatkan oleh tumor yang bermetastase.
6. Penyakit mata sebelumnya
Kadang-kadang dengan mengetahui riwayat penyakit mata sebelumnya akan
dapat menerangkan tambahan gejala-gejala penyakit yang dikeluhkan penderita.
7. Penyakit lain yang sedang diderita
Bila sedang menderita penyakit lain dengan keadaan yang buruk, dapat pula
memperburuk keadaan klien
8. Usia penderita

Dikenal

beberapa

jenis

penyakit

yang

terjadi

pada

usia

tertentu.

Retinoblastoma umumnya ditemukan pada anak-anak, terutama pada usia di


bawah 5 tahun.
9. Riwayat Psikologi
Reaksi pasien dana keluarganya terhadap gangguan penglihatan yang dialami pasien:
cemas, takut, gelisah, sering menangis, sering bertanya.
10. Mekanisme koping
11. Pemeriksaan Fisik Umum
Diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya keadaan umum yang dapat
merupakan penyebab penyakit mata yang sedang diderita.
12. Pemeriksaan Khusus Mata
a. Pemeriksaan tajam penglihatan
Pada retinoblastoma, tumor dapat menyebar luas di dalam bola mata sehingga
dapat merusak semua organ di mata yang menyebabkan tajam penglihatan
sangat menurun.
b. Pemeriksaan gerakan bola mata
Pembesaran tumor dalam rongga mata akan menekan saraf dan bahkan dapat
merusak saraf tersebut dan apabila mengenai saraf III, IV, dan VI maka akan
menyebabkan mata juling.
c. Pemeriksaan susunan mata luar dan lakrimal
Pemeriksaan dimulai dari kelopak mata, sistem lakrimal, konjungtiva, kornea,
bilik mata depan, iris, lensa dan pupil. Pada retinoblastoma didapatkan:
- Leukokoria, Yaitu reflek pupil yang berwarna putih.
- Hipopion, Yaitu terdapatnya nanah di bilik mata depan.
- Hifema, Yaitu terdapatnya darah di bilik mata depan
- Uveitis, Yaitu terdapatnya darah di bilik mata depan
d. Pemeriksaan Pupil
Leukokoria (refleks pupil yang berwarna putih) merupakan keluhan dan gejala
yang

paling

sering

ditemukan

pada

penderita

dengan

retinoblastoma.
e. Pemeriksaan funduskopi
Menggunakan oftalmoskopi untuk pemeriksaan media, papil saraf optik, dan
retina. Refleksi tak ada (atau gelap) akibat perdarahan yang banyak dalam badan
kaca.
f. Pemeriksaan tekanan bola mata

Pertumbuhan tumor ke dalam bola mata menyebabkan tekanan bola mata


meningkat.
B. Pengelompokan Data
1. Data Subjektif
- Mengeluh nyeri pada mata
- Sulit melihat dengan jelas
- Mengeluh sakit kepala
- Merasa takut
2. Data Objektif
- Mata juling (strabismus)
- Mata merah
- Bola mata besar
- Aktivitas kurang
- Tekanan bola mata meningkat
- Gelisah
- Refleks pupil berwarna putih (leukokoria)
- Tajam penglihatan menurun
- Sering menangis
- Keluarga sering bertanya
- Ekspresi meringis
- Tak akurat mengikuti instruksi
- Keluarga nampak murung
- Keluarga nampak gelisah
- Pertanyaan/pernyataan keluarga salah konsepsi
C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Preoperasi
Perubahan persepsi sensori melihat berhubungan dengan efek dari neoplasma

yang berasal dari neuroretina.


Ansietas yang berhubungan dengan ancaman kehilangan penglihatan
Ganguan konsep diri berhubungan dengan efek perubahan pada gaya hidup
Resiko terhadap ketidak efektifan penatalaksanaan program teapeutik yang
berhubungan dengan ketidak cukupan pengetahuan tentang aktivitas yang
diperbolehkan dan yang dibatasi, obat-obatan,komplikasi dan perawatan tindak

lanjut.
Takut berhubungan dengan pembedahan yang akan dijalani
2. Post operasi
Perubahan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan dampak pembedahan
Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan peningkatan kerentanan

sekunder terhadap gangguan akibat pembedahan mata.


Risiko tinggi cedera berhubungan dengan keterbatasan penglihatan
Berduka berhubungan dengan kehilangan mata
Gangguan konsep diri berhubungan dengan perubahan penampilan

Perubahan interaksi sosial berhubungan dengan perubahan citra tubuh


danperubahan penglihatan.

D. RENCANA KEPERAWATAN
1. Perubahan persepsi sensori melihat berhubungan dengan efek dari neoplasma yang
berasal dari neuroretina.
Tujuan : Klien dapat mengerti tentang penyakitnya dan dapat menggunakan kekuatan
panca indera keenam.
Kriteria :
-

Klien mengerti dan mau menerima keberadaan penyakitnya.


Klien dapat melakukan aktivitas yang diperlukan sehari-hari baik aktif maupun

pasif
Klien mau berkerja sama dalam mengendalikan kondisi penyakitnya baik medis
dan perawatan

INTERVENSI
Orientasikan klien pada lingkungannya

RASIONAL
Orientasi dapat memberikan ingatan atau
memori pada otak sehingga bisa membawa

Berikan penjelasan tentang penyakitnya

perasaan pada tempatnya.


Pengetahuan
dan
pengalaman

akan

menambah wawasan dan fungsi kerja sama


Hindari pergerakan yang mendadak, menghentakkan

dalam tindakan.
Mencegah bertambah parahnya lapisan saraf

kepala,menyisir,batuk,bersin, retina yang terlepas .

muntah
Ajarkan klien dan stimulasi klien dalam Panca indera ke enam merupakan kepekaan
menggunakan panca indera ke enam

dalam menggunakan feeling dalam berbuat

dan bertindak.
Jelaskan beberapa alternatif tindkan untuk Pem,bedahan, kemoterapi, merupakan salah
mengatasi

masalah

yang

berhubungan satu dari beberapa tindakan

dengan penyakitnya seperti pembedahan.


Kemoterapi dan lainnya.
2. Ansietas yang berhubungan dengan ancaman kehilangan penglihatan
Tujuan :
Kecemasan berkurang
Kriteria :

Klien mampu menggambarkan ansietas dan pola kopingnya.


Klien mengerti tentang tujuan perawatan yang diberikan/dilakukan.
Klien memahami tujuan operasi, pelaksanaan operasi, pasca operasi, prognosisnya

INTERVENSI
RASIONAL
Kaji tingkat ansietas : ringan ,sedang ,berat, Untuk mengetahui sampai sejauh mana
panik

tingkat kecemasan klien sehingga memudahkan penanganan/pemberian askep se-

Berikan kenyaman dan ketentraman hati


Berikan

penjelasan

mengenai

lanjutnya.
Agar klien

tidak

terlalu

memikirkan

penyakitnya.
prosedur Agar klien mengetahui/memahami bahwa ia

perawatan,perjalanan penyakit & progno- benar sakit dan perlu dirawat.


sisnya.
Berikan/tempatkan alat pemanggil yang Agar klien merasa aman dan terlindungi saat
mudah dijangkau oleh klien
memerlukan bantuan.
Gali intervensi yang dapat menurunkan Untuk mengetahui cara mana yang efektif
ansietas.
untuk menurunkan/mengurangi ansietas.
Berikan aktivitas yang dapat menurunkan Agar klien dengan senang hati melakukan
kecemasan/ketegangan.

aktivitas karena sesuai dengan keinginannya dan tidak bertentangan dengan prog-ram
perawatan.

3. Ganguan konsep diri berhubungan dengan efek perubahan pada gaya hidup
Tujuan :
Konsep diri klien mengarah ke positif (adaftif)
Kriteria :
-

Konsep diri yang diekspresikan klien nonverbal dan verbal yang konstruktif
Reaksi terhadap perubahan gaya hidup ke arah positif
Klien mau menerima keadaannya dan pasrah

INTERVENSI
Dorong klien

untuk

RASIONAL
mengungkapkan Interaksi yang

perasaannya

mencobat

meningkatkan

konsep diri dimulai dengan mengkaji tentang


apa yang dirasakan klien tentang penyakit

dan pembedahan.
Bantu klien untuk mengidentifikasi tingkat Hal ini membantu klien untuk mengubah
mekanisme koping yang dimiliki

fokus dari perubahan penampila ke semua

aspek yang positif yang menunjang konsep


diri.
Berikan support sistem (keluarga, teman Mempertahankan kotrak sosial kekuatan
dekat dan lainlain)
moral klien dalam mengahdapi masalahnya.
Ajarkan klien untuk beradaptasi terhadap Meminimalkan perubahan yang ada ke arah
perubahan penampilannya.

konstruktif.

4. Resiko terhadap ketidak efektifan penatalaksanaan program teapeutik yang


berhubungan dengan ketidak cukupan pengetahuan tentang aktivitas yang
diperbolehkan dan yang dibatasi, obat-obatan,komplikasi dan perawatan tindak lanjut.
Tujuan :
Klien mampu berintegrasi dengan program terapeutik yang direncanakan/dilakukan
untuk pengobatan, akibat dari penyakit dan penurunan situasi berisiko (tidak aman,
polusi).
Kriteria :
-

Klien mengungkapkan ansietas berkurang tentang ketakutan karena ketidak

tahuan, kehilangan kontrol atau kesaahan persepsi.


menggambarkan proses penyakit, penyebab dan faktor penunjang pada gejala dan

aturan untuk penyakit atau kontrol gejala.


Mengungkapkan maksud/tujuan untuk melakukan perilaku kesehatan yang
diperlukan dan keinginan untuk pulih dari penyakit dan pencegahan kekambuhan
atau komplikasi.

INTERVENSI
RASIONAL
Identifikasi faktor-faktor penyebab yang Agar diketahui penyebab yg mengha-langi
menghalangi penata laksanaan program sehingga dpt segera diatasi sesuai prioritas.
terapeutik yg efektif.
Bangun rasa percaya diri.

Agar klien mampu melakukan aktifitas


sendiri/dengan bantuan orang lain tanpa

Tingkatkan

rasa

percaya

diri

kemampuan diri klien yang positif.

mengganggu program perawatan.


dan Agar klien mampu dan mau melakukan/
melaksanakan

program

perawatan

yang

dianjurkan tanpa mengurangi peran ser-tanya


dalam pengobatan/ perawatan diri-nya.
Jelaskan dan bicarakan: proses penyakit, Klien mengerti dan menyadari bahwa
aturan pengobatan/perawatan,efek sam-ping penyakitnya memerlukan suatu tindakan &
prognosis penyakitnya.

perlakuan yang tidak menyenangkan.

Post operasi
1. Perubahan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan dampak pembedahan
Tujuan :
Nyeri berkurang atau rasa nyaman terpenuhi
Kriteria :
-

Lokasi nyeri minimal


Keparahan nyeri berskala 0
Indikator nyeri verbal dan noverbal (tidak menyeringai)

INTERVENSI
Identifikasi
klien

RASIONAL
membantu Pengetahuan yang mendalam tentang nyeri

dlam

menghilangkan rasa nyerinya


dan kefektifan tindakan penghilangan nyeri.
Berikan informasi tentang penyebab dan Informasi mengurangi ansietas yang
cara mengatasinya
Tindakan

penghilangan

berhubungan
rasa

dengan

sesuatu

yang

diperkirakan.
nyeri Tindakan ini memungkinkan klien untuk

noninvasif dan nonfarmakologis (posisi, mendapatkan rasa kontrol terhadap nyeri.


balutan (24-48 jam), distraksi dan relaksasi.
Terapi analgetik

Terapi

farmakologi

diperlukan

untuk

memberikan peredam nyeri.


2. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan peningkatan kerentanan sekunder
terhadap gangguan akibat pembedahan mata.
Tujuan :
Infeksi tak terjadi
Kriteria :
Tanda-tanda infeksi tidak ditemukan :
-

Kemirahan periorbital
Drainase baik
Suhu dalam batas normal
Nilai laboratorium Sel Darah Putih normal

INTERVENSI
Tingkatkan Penyembuhan luka :

RASIONAL
Nutrisi
dan

meningkatkan

diit seimbang
menjaga kebersihan luka

hidrasi

yang

kesehatan

optimal
umum.

Mempercepat kesemubuhan luka.


Tindakan untuk mencegah regangan pad a Regangan pad ajahitan dapat menimbulkan
jahitan

gangguan,

emmbuat

jalan

masuk

Tindakan

perawatan

luka

aseptik

mikroorganisme.
dan Teknik aseptik menimimalkan masuknya

antiseptik

mikroorganisme dan mengurangi risiko

Terapi antibiotika

infeksi.
Anti kuman atau babteri berspektrum luas.

E. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
F. EVALUASI KEPERAWATAN
1. Anak dapat mengerti tentang penyakitnya dan dapat menggunakan kekuatan panca
indera keenam.
2. Kecemasan anak berkurang
3. Konsep diri anak mengarah ke positif (adaftif)
4. Anak mampu berintegrasi dengan program terapeutik yang direncanakan/dilakukan
untuk pengobatan, akibat dari penyakit dan penurunan situasi berisiko (tidak aman,
polusi).
5. Nyeri anak berkurang atau rasa nyaman terpenuhi
6. Pada anak infeksi tak terjadi
DAFTAR PUSTAKA
Doenges, Marilynn, E., et. al., 1999, Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 3, EGC, Jakarta.
Oswari hanifah, dkk. 123 Penyakit dengan Gangguan Pada Anak. 2009. BIP : Jakarta
Ganong William F. 2000. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC
Ilyas Sidarta, Prof. dr. H. SpM. 2009. Ilmu Penyakit Mata. Edisi ke-3. FKUI : Jakarta
Mansjoer A. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius
Carpenito, L.J. (1999). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. Ed. 2. Jakarta : EGC
Ilyas, Sidarta. (2000). Kedaruratan Dalam Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : FKUI Jakarta.
http://salnisaharman.blogspot.com/2012/03/askep-pada-anak-dengan-retinoblastoma.html
Diakses pada tanggal 10 Mei 2015 pukul 10.45 WIB
http://fitripriyadi92.blogspot.com/2013/03/makalah-retinoblastoma.html
Diakses pada tanggal 10 Mei 2015 pukul 12.13 WIB