Anda di halaman 1dari 46

LAPORAN PERENCANAAN ELEMEN MESIN II

MESIN PERAJANG SINGKONG

Di Susun oleh :
Hikam Muhammad Sultan

FAKULTAS TEKNIK DAN

INFORMATIKA
PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN
DAFTAR ISI
HALAMANJUDUL.
KATA PENGANTAR..
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar

Belakang1

1.2.1 Tujuan.....................3
1.2.2 Manfaat...............3
1.3 Batasan Masalah
BAB II
LANDASANTEORI

2.1. Pengertian Umum Mesin Perajang Singkong Otomatis .. 8


2.2. Perinsip Kerja Mesin Perajang Singkong Otomatis .. 8
2.3. Komponen Mesin Perajang Singkong Otomatis . 9
2.4. Motor Listrik ..
2.5. Piringan dan Pengiris . 15
2.6. Sabuk..16

2.7. Puli....... 17
2.8 Poros...18
2.9. Bantalan............0
2.10 Baut danMur.23
2.11.Rangka4
2.12 Mesin mesin yang digunakan pada saat pembuatan mesin . 25
2.13 Mesin Gerinda Potong .. 25
2.14 Mesin Bubut.25
2.15 Mesin Las Listrik.29
2.16 Mesin Bor....0
2.17 Sambungan Paku Keling . 30
BAB III
PROSES PEMBUATAN.........3
3.1. Konsep UmumPembuatanRangka..33
3.2 .Metode Proses Pembuatan.......34
3.3 .Kegiatan Awal Pembuatan5
3.4 Penyusunan Konsep 36
3.5 Proses Pengumpulan Data.......6
3.6 Pemilihan Bahan..7
3.7 Analisa Biaya Manufaktur38
3.8 Proses Pengerjaan 3
3.9 Prosas Pembuatan Rangka ... 39
3.10 Pembuatan Piringan Pisau 47
3.11 Perakitan mesin..48
3.12 Proses Pelapisan49
3.13 Pengawasan Mutu49

BAB IV
KESIMPULAN

50

PENUTUP51
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1Motor Listrik...................................12
Gambar 2.2 Sabuk V...17
Gambar 2.3 GambarPuli.8
Gambar 2.4 Poros.....20
Gambar. 2.5 Bantalan.....23
Gambar 2.6 Baut23
Gambar. 2.7 mesinBubut...27
Gambar 2.8 PahatmesinBubut.....28
Gambar 2.9 Pahat Ulir Mesinbubut...8
Gambar 2.10 Mesin Las Listrik.....29
Gambar 2.11 MesinBorTegak........30
Gambar 2.12 Paku Keling......31
Gambar 2.13 Alat Penembak Paku Keling.......31
Gambar 3.1.Diagramalir proses manufaktur..35
Gambar 3.2 Pandangan Rangka........ 39
Gambar 3.3 Rangkayang telah dirakit........45
Gambar 3.4 Piringan Pisau.48
DAFTAR TABEL

Tabel l3.1 kebutuhan bahan platsik yangdigunakan..................................40

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Keadaan perekonomian bangsa Indonesia yang semakin terpuruk
dalam krisis ekonomi yang berkepanjangan, menyebabkan terjadinya
pemutusan hubungan kerja yang cukup beasar. Hampir seluruh aspek
perekonomian terkena imbas dari krisis ekonomi yang sangat merugikan
bagi rakyat Indonesia. Jumlah pengangguran makin bertambah sementara
jumlah lapangan kerja semakin menyempit. Ditengah kondisi yang sangat
buruk dan serba tidak menentu untuk berkembangnya suatu usaha ternyata
kita semua harus mengakui bahwa masih ada bidang usaha yang ternyata
mampu bertahan ditengah kondisi seperti ini, salah satunya adalah bidang
agrobisnis. Dewasa ini bidang agrobisnis memang merupakan primadona
baru bagi Indonesia sebagai ladang usaha yang cukup memberikan
prospek yang menggembirakan. Bidang ini tidak hanya meliputi hal-hal
yang berkaitan dengan pertanian sebelum panen, tetapi yang justru lebih
berkembang adalah industri pengolahan hasil-hasil pertanian.
Satu hal yang harus kita perhatikan disini adalah bahwa bidang ini
ternyata dikuasai oleh industri rumah kecil dan menengah yang sebenarnya
adalah industri rumah tangga. Selain itu dikarenakan makin sulitnya
mendapatkan pekerjaan dan juga pemutusan hubungan kerja yang sering

terjadi, sehingga menyebabkan tenaga kerja tidak lagi berharap untuk


bekerja di pabrik-pabrik atau industri. Para korban PHK (pemutusan
hubungan kerja) maupun calon tenaga kerja, kini mengalihkan perhatian
untuk menjadi pengusaha-pengusaha baru yang tidak memerlukan modal
usaha yang besar akan tetapi cukup menjanjikan.
Dalam hal ini pemerintah membantu para pengusaha baik yang besar
maupun kecil dalam segala hal, untuk meningkatkan produk yang
dihasilkan baik dalam segi kualitas maupun kuantitasnya. Singkong
merupakan bahan pangan ketiga setelah padi dan jagung, dimana bahan
pokok tersebut mudah rusak dan menjadi busuk dalam jangka waktu 2
sampai 5 hari setelah panen, bila tidak mendapatkan perlakuan pasca
panen dengan baik. Beberapa perlakuan pasca panen antara lain
dikeringkan (dibuat gaplek), dibuat tepung tapioca maupun dibuat produk
yang bernilai lebih tinggi, kerupuk dari tepung tapioca dan keripik
singkong.Sekarang ini banyak dijumpai penjual keripik singkong yang
umumnya dibuat atau dikerjakan dirumah-rumah sebagai industri rumah
tangga. Artinya masih jarang sebuah pabrik besar yang khusus
memproduksi kripik singkong.
Untuk mendapatkan potongan keripik singkong tipis-tipis tersebut,
masih

jarang suatu

alat

mekanisme

yang

efisien

pada

proses

pembuatannya. Alat yang digunakan adalah mesin yang menggunakan


penggerak manual yaitu penggerak dengan tenaga manusia, sehingga
produksinya tidak optimal.Atas dasar itulah penulis menganggap perlunya
memperkecil kendala yang dihadapi oleh para produsen keripik singkong,
dengan cara memperbaiki proses perajangan bahan baku keripik singkong,
dengan kapasitas sebuah mesin perajang yang cukup dan memiliki
keseragaman dalam hal ketebalan hasil irisan. Karena umumnya produsen
merupakan industri rumah tangga, maka mesin ini harus memperhatikan
berbagai hal diantaranya adalah harga mesin tidak terlalu mahal, sumber
tenaga penggerak yang mudah didapatkan oleh rumah tangga dan juga
untuk mendapatkannya tidak membutuhkan biaya yang besar

2.1 RUMUSAN MASALAH


1. Bagaimana cara kerja mesin perajang singkong ?
2. Bagaimana perhitungan sistem transmisi pada mesin perajang singkong

BATASAN MASALAH
Pada penulisan laporan ini,Penulis hanya akan membahas tentang proses
pembuatan mesin perajang singkong dan bagian bagian pokok pada mesin
perajang singkong,diantaranya adalah :
a. Poros
b. Bantalan
c. Sabuk
d. Pasak
e. Puli
f. Cakram dudukan pisau
. Tujuan dan Manfaat
Adapun tujuan dan manfaat yang ingin dicapai dalam penyusunan
tugas makalah ini adalah :

Mengetahui cara kerja mesin perajang singkong

Untuk mengetahui perhitungan sistem transmisi pada mesin

perajang singkong

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Umum
Pengertian Umum Mesin Perajang Singkong Mesin perajang singkong
merupakan mesin yang berfungsi sebagai perajang singkong dalam jumlah yang
banyak dan secara kontinyu. Mesin ini menggunakan motor sebagai sumber
tenaganya. Mesin perajang singkong ini di lengkapi dengan pisau pemotong dan
menggunakan tenaga manual untuk mendorong singkong tersebut sehingga
terjadi proses pemotongan singkongtersebut.Prinsip kerja mesin perajang
singkong Mesin perajang singkong dengan penggerak motor listrik 0,5 Hp
mempunyai beberapa komponen, diantaranya adalah piringan, piringan pisau,
poros, bantalan, sabuk,dan puli. Dalam perencanaan mesin ini terdapat dua
gerakan yaitu gerakan putar piringan (sentrifugal) dan gerakan maju
(horizontal) batangan bahan baku keripik singkong untuk pemotongan. Untuk
mendapatkan gerak sentrifugal pada piringan, perencanaan menggunakan
motor listrik sebagai penggeraknya, sedangkan untuk menggerakan batang
bahan baku keripik singkong perencanaan menggunakan sistem manual, yaitu
dengan

mendorong

batangan

bahan

baku

keripik

singkong

tersebut

menggunakan tangan untuk proses pemotongannya. Dengan menggunakan


daya input ke motor maka alat ini akan berputar/bekerja sesuai perencanaan.
Besarnya kecepatan piringan tergantung dari kecepatan inputnya yaitu motor
dan sistem transmisinya, juga dipengaruhi oleh kekerasan singkong dan
ketajaman pisau pengiris. Apabila pisau pengiris sudah tumpul dapat diganti
atau

diasah

agar

tajam,

karena

pisau

dapat

dilepas/diganti.

Komponen Mesin perajang singkong Dalam membuat mesin perajang singkong


dengan penggerak motor diperlukan elemen elemen yang terdiri dari bagian
bagian yang memiliki fungsi dan kegunaan masing-masing bagian tersebut
disusun menjadi suatu kesatuan yang memiliki kegunaan lebih kompleks dan
mampu memenuhi kebutuhan yang diharapkan.Motor Listrik .Motor listik
merupakan

suatu

alat

yang

dapat

mengubah

energi

listik

menjadi energi gerak atau energi mekanik. Motor listik berfungsi untuk
menggerakan sistem pemutaran pisau potong, di mana pada saat singkong
dimasukan atau disentuhkan pada permukaan pisau potong maka proses
pemotongan pun akan memotong singkong yang di dorong ke dalam
permukaan pisau potong.
akan untuk penggunaan yang menggunakan torque penyalaan awal yang tinggi
seperti Derek danperangkat alat hoist (gambar 5) Karakteristik motor seri DC
(rodwell international comporation, 1999) Pedoman efisiensi enenrgi untuk
industry di asia
Bagian Utama Mesin
1. Kerangka Mesin
Kerangka mesin terbuat dari besi pipa, kerangka mesin berfingsi sebagai
tempat dudukan mesin dan bagian lain yang berada di atasnya. Jika
kerangka

sebuah

mesin

tidak

kuat,

kemungkinan

besar

akan

mempengaruhi kinerja mesin, maka dalam perencanaan mesin pemecah


kemiri ini kerangka mesin yang dipakai terbuat dari besi siku 20 x 40 ,
dengan ketebalan 2 mm

2. Pisau Perajang
Pisau perajang merupakan salah satu bagian utama dari mesin perajang singkong
(slicer). Jenis material yang digunakan untuk membuat pisau perajang adalah plat
stainless steel dengan bagian sisi perajang dibuat tajam.Kami merancang pisau
perajang berbentuk khusus yang memungkinkan pisau tersebut bisa diatur posisi
tinggi rendahnya dengan seimbang dan rata. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan
hasil rajangan dengan ukuran ketipisan yang seragam. Pisau perajang ini didesain
untuk bisa ditajamkan kembali jika sudah mulai tumpul. Pisau perajang dapat
dilepas dengan mudah dari cakram dudukan, kemudian diasah bagian pisau
tajamnya menggunakan mesin gerinda atau menggunakan batu asah manual. Jika
pisau sudah kembali tajam maka siap dipasang kembali dan pisau siap digunakan.
3. Cakram Dudukan Pisau
Fungsi utama dari cakram dudukan pisau mesin perajang singkong (slicer)
adalah sebagai dudukan tempat pisau perajang diletakkan. Cakram dibuat dari
bahan plat stainless steel dan bentuknya disesuaikan dengan rancangan pisau
perajang. Ukuran cakram disesuaikan dengan kapasitas mesin perajang yang
dibuat. Kapasitas mesin perajang singkong (slicer) yang tinggi membutuhkan
ukuran cakram yang besar, demikian juga sebaliknya.

Dasar Perencanaan Elemen Mesin


2.3.1. Perencanaan Daya Motor
Daya motor dihitung dengan P = T .
2 n
60

Atau

P T

Dimana :

P = Daya yang diperlukan (Watt)


T = Torsi (N.m)
= Kecepatan sudut (rad/s)
n = Putaran motor (rpm)

(Sularso, 2004 : 7)

Maka daya rencana :


Pd = P . fc

(Sularso, 2004

: 7)
8

Dimana :

Pd = Daya rencana (Watt)


P = Daya yang diperlukan (Watt)
fc = Faktor koreksi

2.3.2. Perencanaan Poros


Poros adalah salah satu elemen mesin terpenting. Penggunaan
poros antara lain adalah meneruskan tenaga poros penggerak, poros
penghubung, dan sebagainya. Dibawah ini adalah beberapa jenis poros :
Shaft, adalah poros yang ikut berputar untuk memindahkan daya dari
suatu mekanisme ke mekanisme lainnya.
Axle, adalah poros yang tetap tapi mekanismenya yang berputar pada
poros tersebut. Poros ini juga berfungsi sebagai pendukung.
Spindle, adalah poros pendek yang biasanya terdapat pada mesin
perkakas dan mampu / sangat aman terhadap momen bending.
Line shaft ( power transmision shaft ), adalah suatu poros yang
langsung berhubungan dengan mekanismenya yang bergerak dan
berfungsi memindahkan daya motor penggerak ke mekanisme tersebut.
Flexible shaft, adalah poros yang berfungsi memindahkan daya dari dua
mekanisme dimana perputaran poros membentuk sudut dengan poros
lainnya, dan daya yang dipindahkan relatif kecil.

9
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan poros antara lain :

1. Kekuatan poros
Suatu poros transmisi dapat mengalami beban puntir atau lentur
atau gabungan antara puntir dan lentur seperti yang telah diutarakan di
atas. Juga ada poros yang mendapat beban tarik atau tekan seperti poros
baling-baling kapal atau turbin, dll.
Kelelahan, tumbukan atau pengaruh konsentrasi tegangan bila
diameter poros diperkecil (poros bertangga) atau bila poros mempunyai
alur pasak, harus diperhatikan.
Sebuah poros harus direncanakan hingga cukup kuat untuk
menahan beban-beban di atas.
2. Kekakuan poros
Meskipun sebuah poros mempunyai kekakuan yang cukup tetapi
jika lenturan atau defleksi puntirnya terlalu besar akan mengakibatkan
ketidak-telitian (pada mesin perkakas) atau getaran dan suara (misalnya
pada turbin dan kotak roda gigi).
Karena itu, disamping kekuatan poros, kekakuannya juga harus
diperhatikan dan disesuaikan dengan macam mesin yang akan dilayanai
poros tersebut
3. Putaran Kritis
Bila putaran suatu mesin dinaikkan maka pada suatu harga putaran
tertentu dapat terjadi getaran yang luar biasa besarnya. Putaran ini
disebut putaran kritis. Hal

10
ini dapat terjadi pada turbin, motor torak, motor listrik, dan lain-lain, dan
dapat mengakibatkan kerusakan pada poros dan bagian-bagian lainnya.
Jika mungkin, poros harus direncanakan sedemikian rupa hingga putaran
kerjanya lebih rendah dari putaran kritisnya.
4. Korosi
Bahan-bahan tahan korosi (termasuk plastik) harus dipilih untuk
poros propeler dan pompa bila terjadi kontak dengan fluida yang korosif.
Demikian pula untuk poros-poros yang terancam kavitasi, dan porosporos mesin yang sering berhenti lama. Sampai batas-batas tertentu dapat
pula dilakukan perlindungan terhadap korosi.
5. Bahan Poros
Poros untuk mesin umum biasanya dibuat dari baja batang yang
ditarik dingin dan difinish, baja karbon konstruksi mesin (disebut bahan
S-C) yang dihasilkan dari ingot yang di-kill (baja yang dideoksidasikan
dengan ferrosilikon dan dicor; kadar karbon terjamin) (JIS G3123 Tabel
1.1). Meskipun demikian, bahan ini kelurusannya agak kurang tetap dan
dapat mengalami deformasi karena tegangan yang kurang seimbang
misalnya bila diberi alur pasak, karena ada tegangan sisa di dalam
terasnya. Tetapi penarikan dingin membuat permukaan poros menjadi
keras dan kekuatannya bertambah besar.

11
Tabel 2.1 Baja karbon untuk konstruksi mesin dan baja batang yang
difinis dingin untuk poros

Dalam perancangan mesin pemecah kemiri ini, bahan poros yang


dipakai adalah bahan S30C, karena jenis ini digunakan untuk konstruksi
umum dengan kekuatan tarik (B) 48 kg/mm2.
Perencanaan diameter poros dapat dihitung dengan menggunakan
persamaan-persamaan berikut :

16 T
d s3

(Sularso, 1997 : 8)

Supaya konstruksi aman maka izin timbul (kg/mm2)


a

16 T
d s3

(Sularso, 1997 : 8)
1
3

16 T
ds

1
3

5,1 T

ds

(Sularso, 1997 : 8)

(Sularso, 1997 : 8)
12

Dimana : ds = Diameter poros (mm)

T = Torsi (kg.mm)
a = Tegangan izin (kg/mm2)
Jika P adalah daya nominal output dari motor penggerak (kW),
maka berbagai faktor keamanan bisa diambil, sehingga koreksi pertama
bisa diambil kecil. Jika faktor koreksi adalah fc, maka daya perencanaan
adalah :
Pd = fc . P

(Sularso, 2004 : 7)

Dimana Pd = Daya rencana (kW)


Harga fc dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 2.2 Faktor koreksi daya yang akan ditransmisikan
Daya yang Akan Ditransmisikan
Daya rata-rata yang diperlukan
Daya maksimum yang diperlukan
Daya normal
(Sularso, 2004 : 7)

fc
1,2 - 2,0
0,8 - 1,2
1,0 - 1,5

Untuk menghitung torsi T (kg.mm) dapat dihitung dari daya


rencana (kW) sebagai berikut :
T

Pd

Pd 102 60 1000
2 n

13
T 9,74 10 5

Pd
n1

(Sularso, Elemen Mesin, hal :

7)
Dimana :

T = Momen puntir rencana (kg.mm)


Pd = Daya rencana (watt)
n1 = Putaran motor (rpm)

Tegangan geser yang diizinkan :


a = B / Sf1 x Sf2

(Sularso,

Elemen

Mesin, hal : 8)
= Tegangan geser izin (kg/mm2)
B = Kekuatan tarik (kg/mm2)
Sf1 = Faktor keamanan untuk baja karbon, yaitu 6,0
Sf2 = Faktor keamanan untuk baja karbon dengan alur pasak,
dengan
harga 1,3 3,0

Dimana : a

Dari persamaan di atas diperoleh rumus untuk menghitung diameter


poros :
5,1

ds

1
3

K t C bT

(Sularso, 2004 :

8)
Dimana : ds = Diameter poros (mm)
Kt = Faktor koreksi untuk momen puntir :
1,0 (Jika beban halus)
1,0 1,5 (Jika terjadi sedikit kejutan atau tumbukkan)
1,5 3,0 (Jika beban dikenakan dengan dengan kejutan)
Cb = Faktor lenturan, yaitu 1,2 2,3
T = Momen puntir

Gambar 2.4 Gambar Poros

Pembebanan yang dialami poros antara lain beban puntir, lentur serta
beban puntir dan lentur. Tetapi di sini poros yang dibahas adalah poros dengan
beban puntir dan lentur.

Daya yang direncanakan


Nd

= fc . N (kW)

Momen Puntir ( momen yang direncanakan )

Nd

(T / 1000)( 2n / 60)
102

Sehingga,

= 9,74 . 105 .

Nd
n

(kg.mm)

Keterangan :

2.1.1

= daya motor (kW)

Nd

= daya yang direncanakan (kW)

fc

= faktor koreksi

= torsi (kg.mm)

Bantalan
Bantalan adalah elemen mesin yang berfungsi menumpu poros berbeban,
sehingga putaran atau gerakan bolak baliknya dapat berlangsung secara
halus,
aman dan panjang umur. Bantalan harus cukup kokoh untuk
memungkinkan
poros serta elemen lainnya bekerja dengan baik. Jika bantalan tidak
berfungsi
dengan baik maka prestasi seluruh sistem menurun atau tidak dapat

bekerja
dengan semestinya.
1. Klasifikasi Bantalan Bantalan dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Berdasarkan

gerakan

bantalan

terhadap

poros

bantalan

luncur

Pada bantalan ini terjadi gesekan luncur antara poros dan bantalan
karena permukaan poros ditumpu oleh permukaan bantalan dengan pelantara
lapisan pelumas. Bantalan luncur mampu menumpu poros berputaran tinggi
dengan beban yang besar. Dengan kontruksi yang sederhana maka bantalan ini
mudah untuk dibongkar pasang. Akibat adanya gesekan pada bantalan dengan
poros

maka

akan

memutar

poros.

berpungsi

sebagai

meminimalisasi

memerlukan
Pada

bantalan

peredam
suara

momen
luncur

tumbukan

yang

awal

dan

yang

terdapat
getaran

ditimbulkannya.

besar

untuk

pelumas

yang

sehingga

akan

Secara

umum

bantalan luncur dapat dibagi atas :


Bantalan radial,yang dapat berbentuk silinder, belahan, elipsdan lain-lain.
Bantalan aksial, yang berbentuk engsel, kerah dan lain-lain.
Bantalan gelinding Pada bantalan gelinding terjadi gesekan gelinding
antara

bagian

yang berputar dengan yang diam melalui elemen gelinding seperti


bola (peluru), rol atau rol jarum atau rol bulat. Bantalan gelinding
lebih cocok untuk beban kecil. Putaran pada bantalan gelinding
dibatasi oleh gaya sentrifugal yang timbul pada elemen gelinding
tersebut. Apabila ditinjau dari segi biaya, bantalan gelinding lebih
mahal dari bantalan luncur.Berdasarkan arah beban terhadap poros
Bantalan radial tegak lurus Arah beban yang ditumpu tegak lurus
terhadap sumbu poros.
Bantalan radial sejajar Arah beban bantalan sejajar dengan sumbu poros.
Bantalan gelinding khusus
Bantalan ini mampu menumpu beban yang arahnya sejajar dan tegak lurus
terhadap sumbu poros.
Pertimbangan Dalam Pemilihan Bantalan Dalam pemilihan bantalan banyak hal
yang harus dipertimbangkanseperti : Jenis pembebanan yang diterima oleh
bantalan (aksial atau radial). Beban maksimum yang mampu diterima oleh

bantalan.
Kecocokan

antara

dimensi

poros

yang

dengan

bantalan

sekaligus

dengan keseluruhan sistem yang telah direncanakan.Keakuratan pada kecepatan


tinggi.Kemampuan terhadap gesekan.Umur bantalan.Harga.Mudah tidaknya
dalam pemasangan.Perawatan. (Elemen Mesin, Sularso, 1987, hal 103)
Jadi setelah melihat beberapa pertimbangan diatas penulis memilih untuk
memakai bantalan gelinding dengan ukuran diameter dalam 19 mm.
walaupun ditinjau dari segi biaya bantalan gelinding lebih mahal dari
bantalan luncur, tapi mesin perajang singkong lebih cocok memakai bantalan
gelinding karena mesin perajang singkong tidak memerlukan putaran yang
sangat tinggi.

2.5 Gambar Bantalan.


2.1.8 Baut dan Mur
Baut dan mur merupakan alat pengikat yang sangat penting. Untuk mencegah
kecelakaan, atau kerusakan pada mesin, pemilihan baut dan mur sebagi alat
pengikat harus dilakukan dengan seksama untuk mendapatkan ukuran yang yang
sesuai.

Gambar 2.6 Baut


adapun gaya-gaya yang bekerja pada baut dapat berubah :
1. beban statis aksial murni.
2. beban aksial, bersama dengan beban puntir.
3. beban tumbukan aksial.
Pada baut sering terjadi kerusakan yang diakibatkan oleh beban, seperti
(a) Putus karena tarikan (c) tergeser
(b) Mencegah karena puntiran (d) ulir lumur (dol)
Baut atau mur menjadi kendor atau lepas karena getaran. Untuk mengatasi
hal ini perlu dipakai penjamin.
1. Cincin penjamin ganda.
2. Cincin bergigi (gigi alur).
3. Cincin cekam.
4. Cincin berlidah .5. Cincin berlidah ganda Rangka
Rangka penunjang yang dipilih terbuat dari baja siku-siku sama kaki 40 x
40 x 4 mm. kerangka berfungsi sebagai pendukung dan tempat dipasangnya
komponen-komponen alat mesin perajang singkong, seprti, motor listrik dan
bantalan. Kerangka mampu menahan beban yang terdapat pada atas bagian
dengan bahan baja ST profil L, untuk menahan beban dari seluruh komponen
ada rangka mesin. Penyambungan pada rangka penunjang di lakukan dengan
cara dilas. Untuk merakit rangka tersebut sehingga menjadi satu kesatuan
dibutuhkan tenaga/jasa.
Mesin-Mesin Yang Digunakan Pada Saat Pembuatan Mesin
Dalam pembuatan sesuatu pastilah diperlukan alat bantu, alat bantu atau
mesim-mesin ini juga digunakan agar dapat memangkas waktu produksi
(pembuatan) barang yang dihasilkan akan menjadi lebih banyak, banyak dan
tidak banyak waktu yang terbuang. Dalam proses pengerjaannya diperlukan
jasa atau biay.

3.1.1 Mesin gerinda


Mesin gerinda potong Sesuai dengan namanya mesin gerinda potong digunakan
untuk memotong. Material yang telah kita siapkan untuk perajang singkong stick
kentang.

Pada

pembuatan

mesin

perajang

singkong

digunakan

untuk

memotong besi siku yang digunakan untuk rangka. Mesin ini digunakan
karena jika memotong secara manual atau menggunakan gergaji besi
memerlukan waktu yang cukup lama. Dengan menggunakan mesin gerinda
potong ini kita bisa memangkas waktu dan tenaga.
3.1.2 Mesin bubut
Mesin bubut digunakan

dalam

pembuatan

poros

dan

rotor

yaitu

mengurangi diameter poros agar sesuai dengan diameter lubang bantalan


(bearing). Dari keseluruhan pemesinan tadi didapatkan biaya/jasa yang
dibutuhkan dengan mengatur perbandingan kecepatan rotasi benda kerja dan
kecepatan translasi pahat maka akan diperoleh berbagai macam ulir dengan
ukuran kisar yang berbeda. Hal ini dapat dilakukan dengan jalan menukar roda
gigi translasi (change gears) yang menghubungkan poros spindle dengan
poros uliir (lead screws). Roda gigi penukaran disediakan secara khusus untuk
memenuhi keperluan pembuatan ulir. Jumlah gigi pada masing-masing roda
penukar bervariasi besarnya mulai dari jumlah 15 sampai dengan gigi
maksimum 127. Roda gigi penukar dengan jumlah 127 mempunyai ke
khususan karena digunakan untuk menversi dari ulir metric ke ulir inchi.
Prinsip kerja mesin bubut Poros spindle akan memutar benda kerja melalui
piringan pembawa sehingga memutar roda gigi pada poros spindle. Melalui roda
gigi penghubung, putaran akan disampaikan ke roda gigi poros ulir. Oleh klem
berulir, putaran poros ulir tersebut diubah menjadi sayatan yang berbentuk ulir.
Pekerjaan pekerjaan yang umumnya dikerjakan oleh mesin bubut antara
lain
1. Membuat Luar
2. Membuat Dalam
3. Membuat Tirus
4. Membuat Permukaan
5. Memotong
6. Membuat Ulir

7. Membuat Lubang Pada Senter


Bagian bagian Mesin Bubut

Gambar 2.7 mesin Bubut


Bagian bagian Mesin BubutMesin bubut terdiri dari meja ( bed ) dan kepala
tetap (head stook ).
Didalam kepala tetap terdapat roda-roda gigi transmisi penukar putaran yang
akan memutar poros spindel. Poros spindel akan memutar benda kerja melalui
cekal ( chuck ). Eretan utama ( appron ) akan bergerak sepanjang meja sambil
membawa eretan lintang ( cross slide ) dan eretan atas ( upper cross slide ) dan
dudukan pahat. Sumber utama dari semua gerakan tersebut berasal dari motor
listrik untuk memutar pulley melalu sabuk ( belt ).Pahat Mesin Bubut
1. Pahat Bentuk

Gambar 2.8 Pahat mesin Bubut


Pahat bentuk digunakan untuk membentuk benda kerja sesuai bentuk
permukaan yang diharapkan, salah satu contohnya adalah pahat yang

ujungnya beradius. Pahat bentuk yang lain adalah berbentuk persegi, biasanya
untuk

membuat

alur

pada

benda

silinder.

2. Pahat Ulir
Pahat ulir digunakan untuk membuat ulir, baik ulir tunggal maupun ganda.
Bentuk pahat ulir harus sesuia dengan bentuk ulir yang diinginkan. Untuk itu
diperlukan pengasahan pahat sesuai dengan mal ulirnya. Pahat ulir tidak
mempunyai sudut tatal, permukaannya rata dengan ujung beradius sesui radius
kaki ulir yang besarnya tergantung besar kisar ulirnya.
3.1.3 Mesin Las Listrik
Las busur listrik atau pada umumnya disebut las listriktermasuk suatu proses
penyambungan logam dengan menggunakan tenaga listrik sebagai sumber panas.
Jadi sumber panas pada las listrik ditimbulkan oleh busur api arus listrik, antara
elektroda las benda kerja. Benda kerja merupakan bagian dari rangkaian aliran
arus listrik las. Elektroda mencair bersama-sama dengan benda kerja akibat dari
busur

api

arus

listrik.

Gerakan

busur

api

diatur

sedemikian rupa, sehingga benda kerja dan elektroda yang mencair, setelah
dingin dapat menjadi satu bagian yang sukar dipisahkan.

Gambar 2.10 Las Mesin Las Listrik


3.1.4 Mesin Bor
Mesin Bor30 Mesin bor yang digunakan pada pembuatan mesin perajang
singkong adalah mesin bor tegak, mempunyai hantaran daya untuk menggurdi

putar dan dirancang untuk kerja yang lebih berat, mesin bor semacan ini dapat
dipakai untuk

Gambar 2.11 Mesin Bor Tegak


3.1.5 Sambungan Paku Keling
Sambungan Paku Keling Paku keling atau rivet adalah salah satu metode
penyambungan yang sederhana. Sambungan keling umumnya diterapkan pada
jembatan,bangunan, ketel, tangki, kapal dan pesawat terbang. Penggunaan
metode penyambungan dengan paku keling ini juga sangat baik digunakan untuk
penyambungan pelat-pelat alumunium. Pengembangan penggunaan rivet dewasa
ini umumnya digunakan untuk pelat-pelat yang sukar dilas dan dipatri dengan
ukuran

relative

kecil.

Setiap

ben

kegunaan

tersendiri,

masing

penggunaannya.Sambungan dengan paku keeling ini umumnya bersifat permanen


dan sulit untuk melepaskannya karena pada bagian ujung pangkalnya lebih besar
daripada batang paku kelingnya.Bagian utama paku keeling
Kepala
Badan
Ekor
Kepala lepas Alat penembak paku keAlat penembak paku kyang telah dimasukan
pada penarik y dan kemudian ditembakan kealumunium yang telah diberi lubang
sebelumnya.Gambar bentuk kepala rivet ini mempunyaimasing-masing jenis
mempunyai kekhususan dalampada

Gambar 2.12 Paku Keling


kelingkeling adalah alat untuk menembakan paku yang ada di alat penembak
paku.

Gambar : Alat Penembak Paku Keling


Cara kerja paku keling
Langkah awal pemasangan rivet ini adalah dengan mengebor terlebih
dahulu kedua pelat yang akan disambung.
Lubang dan penggunaan mata bor disesuaikan dengan diameter rivet
yang digunakan.
Masukan rivet diantara kedua pelat.
Tarik rivet dengan memasukan inti rivet pada penarik yang ada di alat
penembak rivet.
Penarikan dilakukan dengan menekan tangki alat penembak secara
berulang-ulang sampai inti rivet putus.
Keuntungan dan kelemahan paku keling
Tidak ada perubahan struktur dari logam yang disambung. Oleh
karena itu banyak dipakai pada pembebanan-pembebanan dinamis.
Sambungan keling lebih sederhana dan mudah untuk dibuat.
Pemeriksaannya lebih mudah.
Sambungan keling dapat dibuka dengan memotong kepala dari paku
keling tersebut.

Sedangkan kelemahanya adaalah :


Hanya satu kelemahan bahwa pada pekerjaan mula berupa pengeboran
lubang paku kelingnya disamping kemungkinan terjadi karat
disekeliling lubang tadi selama paku keeling dipasang.

Gambar 2. Mesin Perajang Singkong


Keterangan gambar :
1. Rangka

6. Corong Pemasukan

2. Tempat Keluaran

7. Penutup Piringan

3. Pisau

8. Sabuk V

4. Piringan

9. Motor

5. Bantalan
BAB III
PEMBAHASAN

Konsep Umum Pembuatan Rangka


Konsep merupakan suatu kesimpulan perencanaan. Dimana suatu konsep
sangatlah dibutuhkan dalam suatu kegiatan, acara maupun pengerjaan suatu
produk. Tujuan konsep itu sendiri ialah mengetahui pokok kesimpulan dari
suatu alur perencanaan kegiatan, acara maupun pengerjaan suatu produk itu
sendiri. Di dalam pengerjaan suatu produk sebuah konsep pembuatan
sangatlah dibutuhkan khususnya adalah sebuah konsep umum pembuatan
produk. Konsep-konsep tersebut meliputi beberapa hal, yaitu :
1. Pengurangan Volume Bahan
Mengerjakan
diproses

suatu

akan

pengurangan

produk,

mengalami
tersebut

tentunya

proses

berpengaruh

bahan

pengurangan
pada

yang
volume

hasil

akan
bahan

yang

di

hasil
dimana

inginkan.

Pengurangan volume bahan dapat dilakukan dengan cara :


a. Pemotongan
b. Pengeboran
c. Pengelasan
d. penggerindaan
2. Proses Mengubah Bentuk Bahan
Pengubahan

bentuk

bahan

merupakan

proses

untuk

membentuk

logam atau bahan menjadi bentuk jadi atau setengah jadi yang
memerlukan pengerjaan lain. Umumnya bentuk mula suatu bahan adalah
batangan yang diperoleh sebagai hasil proses pengolahan bijih logam.
Bijih logam dicairkan menggunakan temperature tinggi, kemudian bijih

logam

cair

dituangkan

dalam

cetakan

logam

yang

kemudian

akan

satunya

yaitu

menghasilkan batangan dengan ukuran tertentu.


3. Penyambungan
Proses

penyambungan

pada

bahan

dilakukan

salah

dengan cara pengelasan. Proses pengelasan ialah proses penyatuan logam


melalui pencairan bahan dasar dengan tujuan agar kedua bahan tersebut
dapat menyatu. Proses penyambungan juga dapat dilakukan dengan cara
dilem,

disambung

dengan

baut,

dikeling,

disolder,

dipatri

dan

lain

sebagainya.
4. Penyelesaian Permukaan
Proses

penyelesaian

permukaan

dapat

pula

diartikan

sebagai

proses

finishing. Proses ini adalah proses yang sangat menentukan baik tidaknya
penampakan luar pada suatu bahan atau produk. Proses yang dapat
dilakukan

pada

finishing

yaitu

diantaranya

ialah

proses

pelapisan,

semprot logam, pelapisan fosfat, pelapisan listrik, proses gosok amril,


penghalusan

rata,

penggosokan

halus,

dan

lain

sebagainya.

Metode Proses Pembuatan


proses yang

dilakukan untuk pembuatan mesin perajan singkong ini

berkaitan dengan proses manufaktur dari mesin tersebut. Proses manufaktur


merupakan serangkaian proses yang dilakukan untuk mengubah bahan
setengah jadi menjadi barang jadi atau suatu bentuk yang memiliki
nilai

lebih

dari

sebelumnya.

Prosedur

yang

dilakukan

dalam

proses

manufaktur mesin perajang singkong ini adalah :


Gambar 3.1. Diagram alir proses manufaktur
Kegiatan Awal Pembuatan Untuk melakukan proses pembuatan suatu alat perlu
dilakukan proses perencanaan dan perancangan yang baik sebagai langkah dasar
pembuatan alat, sehingga dari pemilihan bahan (material), pengumpulan data,

analisa Mulai Pengumpulan Data Pemilihan Bahan Proses Manufaktur Analisa


Biaya Manufaktur Pengawasan Mutu Selesai biaya manufaktur, proses atau
pengerjaan produksi, pengawasan mutu dan penyelesaian pembuatan dapat
dilakukan dengan hasil yang baik pula.Perencanaan adalah gambaran langkahlangkah yang perlu dilakukan dalam pembuatan alat. Perencanaan ini perlu dalam
mengkordinasikan tugas yang ada dan memperkirakan sumber daya yang
diperlakukan dan waktu prosesnya. Dalam metode membuat dasar perencanaan
alat, hal yang penting untuk diperhitungkan yaitu waktu pembuatan yang telah
direncanakan serta anggaran dari alat tersebut, sehingga dalam perencanaan alat
tersebut dapat diperoleh keefektifan dan keefesienannya. Langkah perencanaan
yang baik meliputi dari kegiatan :
Penyusunan Konsep Konsep alat merupakan gambaran singkat bagaimana alat
tersebut dapat memenuhi kebutuhan. Sebuah konsep alat dapat digambarkan
dengan sebuah sketsa atau sebuah model tiga dimensi yang dapat disertai dengan
sebuah uraian gambar. Penyusunan konsep alat harus dilaksanakan dengan tepat,
agar alat yang digunakan atau dikerjakan untuk proses pembuatan yang dilakukan
sangat baik hasilny.
Proses Pengumpulan Data Dalam proses pembuatan mesin perajang singkong
otomatis data yang di peroleh sebagai berikut:
a) Penyediaan bahan baku,
b) Proses pemesinan dalam pembuatan mesin perajang
singkong meliputi pemotongan, penggerindaan, pembuatan, pengeboran, dan
pengelasan,
c) Proses perakitan.
Pemilihan Bahan (material) Dalam pembuatan mesin perajang singkong, untuk
menghasilkan mesin yang berkualitas maka dibutuhkan pemilihan bahan yang

sesuai denganklasifikasi yang dinginkan. Hal ini diperlukan agar didapat hasil
yang memuaskan. Bahan yang dibutuhkan diantaranya :
a) Bahan pada rangka mesin menggunakan besi siku berukuran 40 x 40 x 4 mm
dengan dimensi rangka p = 500 mm, l = 500 mm, t = 300 mm.
b) Poros menggunakan bahan C 45 S dengan ukuran P = 200 mm
dan d = 19 mm.
c) Bantalan menggunakan no. 2400, jenis bantalan yang digunakan adalah
bantalan gelinding jenis bola baris tunggal.
d) Pisau terbuat dari bahan baja steinles dengan ukuran panjang 80 mm, lebar 30
mm, dan tebal 2 mm.
e) Bahan piringan pengatur terbuat dari steinles steel dengan dimensidiameter 250
mm dengan ketebalan 4 mm.
f) Penutup rangka terbuat dari plat besi dengan ketebalan 1 mm.
Analisa Biaya Manufaktur Analisa biaya manufaktur perlu untuk mengetahui
besarnya efisiensibiaya-biaya yang diperlukan pada proses manufaktur, maka
perlu dilakukan analisa manufaktur antara lain :
a) Biaya pembelian beberapa komponen seperti : motor listrik, besi siku, besi plat,
bantalan, poros, puli, sabuk.
b) Biaya proses pemesinan dalam pembuatan mesin perajang singkong seperti :
mesin gerinda potong, mesin bubut, mesin las,mesin bor, dan mesin las.
c) Biaya tenaga kerja dalam pembuatan mesin perajang singkong.
Proses Pengerjaan (Proses Manufaktur) Proses manufaktur pada mesin perajang
singkong dilakukan dengan proses pemotongan, penggerindaan, pengeboran, dan
pengelasan. Adapun proses pengerjaan produksi dalam pembuatan mesin perajang
singkong terdapat pada gambar di baawah ini :

Material Pemesinan Perakitan Pengecatan Selesai

Gambar : Proses Pembuatan Rangka 1.


Identifikasi Gambar Kerja Gambar 3.2 Pandangan Rangka2. Bahan Bahan untuk
membuat rangka adalah plat baja siku dengan ukuran 40 x 40 dengan tebal 2 mm,
keuntungan sebagai berikut :
Bila dila dengan baik maka akan menghasilkan kerangka yang kokoh.
Harganya terjangkau dan mudah dicari dipasaran.
3. Perencanaan Pemotongan Langkah pertama dalam melakukan pembuatan
rangka adalah perencanaan pemotongan dan pengukuran bahan yang akan
40 dipotong. Perencanaan pemotongan bahan merupakan cara pemotongan bahan
agar meminimalkan jumlah bahan yang

terbuang selama pemotongan

berlangsung yang berarti menghemat penggunaan bahan.Dalam pembuatan

rencana pemotongan bahan, didasarkan pada identifikasi kebutuhan gambar untuk


pembuatan rangka. Berikut ini adalah tabel kebutuhan bahan plat siku yang
digunakan dalam pembuatan rangka mesin perajang singkong.
Tabel 3.1 kebutuhan bahan plat siku yang digunakan

No. Nama bagian rangka Panjang (mm) Jumlah Panjang (mm)


1. A(Rangka panjang) 500 8 4000
2. B(Rangka tegak) 300 4 1200
3. C(Dudukan motor) 500 2 1000 Total 6200

Realisasi kebutuhan plat siku jika panjang total kebutuhan 6200 mm dan panjang
palat siku 2000 mm maka plat siku yang harus dibeli adalah 3.5 batang.
4. Keselamatan kerja
a)

Memakai pakaian kerja (wear pack).

b) Menggunakan alat atau mesin sesuai dengan fungsi dan kegunaannya.


c)

Pada saat mengelas mengenakan alat keselamatan kerja seperti sarung tangan

las dan kacamata las.


d)

Pada saat menggerinda mengenakan kaca mata, sarung tangan, dan masker.

e)

Pada saat melakukan pengeboran benda kerja dijepit dengan ragum supaya

benda kerja tidak lepas atau terlempar.


5. Langkah Kerja Proses Pembuatan Rangka Langkah kerja proses pembuatan
rangka mesin perajang singkong otomatis :
Proses Pemotongan
Alat yang dipakai : Roll Meter, Penggaris, Penyiku, Busur Derajat,
Ragum, Gerinda Potong, Gergaji Tangan.
Keterangan :
1. Ukur benda kerja sesuai gambar kerja menggunakan roll meter yaitu 500 mm
sebanyak 8 buah.
2. Tandai benda yang diukur menggunakan penggores.
3. Jepit benda kerja dengan menggunakan ragum serta atur sudut pemotongan
menjadi 450 .

4. Potong benda kerja sesuai garis yang telah dibuat sebelumnya dengan
menggunakn mesin gerinda potong.
5. Rapikan hasil pemotongan yang masih kasar dengan mesin gerinda
tangan.
Alat yang dipakai : Roll meter, Penggaris, Penyiku, Busur Derajat,
Ragum, Gerinda Potong, Gergaji tangan.
Keterangan :
1. Ukur benda kerja sesuai gambar kerja menggunakan roll meter yaitu 300 mm
sebanyak 4 buah untuk kaki rangka
.2. Tandai benda yang telah diukur menggunakan penggores.
3. Jepit benda kerja dengan menggunakan ragum serta atur sudut potongan
menjadi 900 pada kedua ujung yang berlawanan.
4. Rapikan hasil pemotongan yang masih kasadengan menggunakan gerinda
tangan.
Alat yang dipakai : Roll meter, Penggaris, Penyiku, Busur Derajat,
Ragum, Gerinda Potong, Gergaji tangan.
Keterangan :
1. Ukur benda kerja sesuai gambar kerja menggunakan roll meter yaitu 500 mm
sebanyak
2 buah untuk dudukan motor listrik. 2. Tandai benda yang telah diukur
menggunakan penggores.
3. Jepit benda kerja dengan menggunakan ragum serta atur sudut pemotongan
menjadi 900 atau bentuk L.

4. Potong benda kerja sesuai garis yang telah dibuat sebelumnya dengan
menggunakan msin gerinda potong.
5. Rapikan hasil pemotongan yang masih kasar dengan menggunakan
mesin gerinda tangan.Proses pengeboranan ) Gambar proses pengerjaan
b ) Gambar hasil pengerjaan
Alat yang dipakai : Mesin Bor, Ragum, Kunci Chuk, Mata Bor 14, Penitik,
Palu Besi.
Keterangan :
1. Lukis plat siku yang akan dibor (dudukan motor listrik), kemudian tandai
bagian yang akan dibor dengan penitik.
2. Gunakan mesin bor mejadan mata bor yang digunakan 14.
3. Putaran mesin bor yang dipakai sebesar 870 rpm.
4. Jepit plat siku dengan ragum kemudian lakukan pengeboran plat siku sesuai
gambar kerja. 45 Perakitan Rangka Perakitan adalah penggabungan komponenkomponen yang sudah melalui proses pemotongan, penggerindaan, dan
pengeboran

sampai

menjadi

satu

kesatuan

yang

kokoh

dengan

cara pengikatan dengan cara pengelasan sehingga menjadi suatu rangka yang
berguna atau sesuai dengan rencana.
Gambar 3.3 Rangka yang telah dirakit Uji Fungsional Rangka Untuk mengetahui
kesesuaian produk yang telah dibuat dengan komponen lainnya, maka diperlukan
sebuah pengujian fungsional. Dari hasil uji fungsional Rangka mesin perajang
singkong diperoleh data sebagai berikut :
1. Rangka mampu menopang dan menahan beban yang diberikan oleh komponen
lainnya.

2. Pemasangan komponen mesin lain pada rangka sesusai, misalnya lubang untuk
baut pengunci.
3. Meskipun rangka mesin sedikit tidak tegak, tapi tidak mempengaruhi kinerja
dari komponen mesin lainnya.Pembahasan.Dalam pembuatan rangka mesin
perajang singkong ini menggunakan baja bentuk profil siku 40 x 40 dengan tebal
2 mm. Ukuran total alat ini adalah dengan panjang 500 mm,lebar 500 mm dan
tinggi 350 mm. Proses pembuatan rangka tidal luput dari permasalahan,
atau

kesulitan

yang

dihadapi

pada

waktu

proses

pembuatan.

Beberapa permasalahan yang dihadapi dalam proses pembuatan rangka mesin


diantaranya adalah pada saat pemotongan besi siku. Hasil pemotongan bahan yang
kurang begitu sesuai dapat menimbulkan masalah lain pada saat proses
pengelasan

berupa

celah,

ini

dapat

menyebabkan

terjadinya

cacat las. Walaupun pembuatan rangka ini tidak terlalu rumit namun butuh
keterampilan dan pengalaman yang cukup untuk menangani masalah yang terjadi.
Masalah lain seperti pengeboran setelah menentukan titik pengeboran gunakanlah
center punch untuk membuat menandai titk. Hal ini dilakukan untuk
mempermudah pada saat proses pengeboran.Setelah semua komponen rangka
terangkai dengan baik dilakukan penggerindaan untuk menghilangkan sisa
pengelasan yang tidak diinginkan. Kemudian untuk langkah finishing dilakukan
pendempulan pada bagian-bagian yang kurang rata terutama pada bagian celah
yang memungkinkan terjadinya korosi. Setelah itu ampelas seluruh permukaan
komponen rangka untuk menghaluskan serta menghilangkan korosi dan minyak
yang mungkin menempel dipermukaan rangka. Setelah rangka bersih dari minyak
dan korosi dilakukan pengecatan menggunakan cat dasar epoxy setelah itu
diteruskan pengecatan dengan cat besi. Setelah cat kering dilakukan pemasangan
seluruh komponen mesin.Pembuatan Piringan Pisau Metode yang digunakan pada
proses pembuatan piringan pisau mesin perajang singkong diawali dengan
perancangan konsep,penyajian gambar, mengidentifikasi piringan pisau. Bahan
yang digunakan dalam proses pembuatan piringan pisau adalah steinles steel.
Peralatan yang digunakan dalam proses pembuatan piringan pisau antara lain

mesin potong, peralatan pendukungnya seperti mesin gerinda tangan, ragum, palu,
alat ukur dan alat bantu lainnya, serta pahat HSS (High Speed Steel). Proses
pengerjaan piringan pisau adalah penyiapan bahan, pembuatan facing,
pemotongan, pengeboran, dan finishing. Adapun tahapan dalam pembuatan
piringan pisau ini adalah analisa kebutuhan, analisa teknik, pembuatan gambar
kerja dan pengujian alat. Dari beberapa proses tersebut didapat hasil akhir
piringan pisau mesin perajang singkong yaitu piringan pisau 280 mm dengan
tebal 5 mm, lubang pisau sebanyak 4 buah dengan ukuran 80 x 30 mm, dan
pisau perajang dengan ukuran 80 x 10 mm.

Gambar 3.4 Piringan Pisau


Perakitan MesinPada proses perakitan mesin perajang singkong yaitu setelah
semua peralatan peralatan yang dibuat sesuai gambar kerja selesai maka langkah
selanjutnya merakit semua komponen yang dibuat menjadi satu. Pada proses
perakitan dapat diketahui kesalahan-kesalahan misalnya ukurannya tidak pas,
ukurannya kebesaran atau kekecilan, benda kerja sudutnya tidak pas atau
tidak sesuai dengan desain dan lain sebagainya. Sehingga pada proses
perakitan

benda

kerja

masih

bisa

diperbaiki

kesalahan-kesalahan

dan

disesuaikan dengan ukuran yang sebenarnya.Proses Pelapisan Pada rangka

digunakan proses pelapisan dengan pendempulan dan pengecatan. Tujuan utama


dari pengecatan ini adalah agar terlihat menarik dan tahan korosi. Sedangkan alat
untuk pendempulan dilakukan dengan :
amplas ukuran 400 dan 1000, skrap, dempul. Sedangkan alat untuk
pengecatan dilakukan dengan kompresor, spray gun. Cat yang digunakan
pada pelapisan rangka adalah cat epoksi sebagai cat dasar kemudian dilapisi
lagi menggunakan cat minyak yang dicampur menggunakan tiner sebagai
bahan pengencernya.Pengawasan Mutu Pengawasan mutu merupakan suatu
kegiatan yang perlu dilakukan pada setiap kegiatan produksi. Hal ini disebabkan
karena kualitas mutu alat atau mesin dari hasil yang dikerjakan merupakan cermin
keberhasilan dari hasil usaha produksi atau pembuatan alat atau mesin tersebut.
Apabila mutu dari alat atau mesin itu yang dihasilkan kurang bagus dalam untuk
hasil akhirnya atau setelah dilakukan pengujian, maka alat itu belum dapat
diterima dan proses pengerjaannya bisa diulang kembali. Usaha-usaha tersebut
akan memperoleh output yang betul-betul bermutu baik. Setelah alat itu jadi lalu
dilakukan pengujian ulang dari proses pembuatan atau hasil produksinya, dan ini
merupakan tes akhir yang merupakan uji coba secara menyeluruh terhadap
komponen maupun proses.

BAB IV

PENUTUP

KESIMPULAN
Dari hasil perencanaan dan perhitungan, maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai
berikut:
1. Motor yang digunakan adalah motor listrik dengan daya 0,25 hp dan 1400
rpm
2. Kerangka mesin perajang singkong dari profil L atau plat siku ukuran 40
x40 mm dan tebal 2 m, bahan ST 37.
3. Pulley motor maupun pulley poros piringan bahan yang digunakan adalah
cast iron. Diameter pulley motor 50 mm dan diameter pulley poros
piringan 220 mm.
4. sabuk yang dipakai adalah type A dengan bahan yang terbuat dari Rubber
Canvas.
5. Poros piringan perajang singkong yang digunakan adalah terbuat dari
bahan AISI C 1010 CDA dengan diameter 19 mm dan panjang 25 mm.
6. Mesin ini menggunakan 2 buah bantalan model pillow blok, type yang
dipakai adalah single row deep groove dengan diameter dalam 19 mm.
7. Piringan pisau yang digunakan dari bahan steinles steel dengan diameter
280 mm dan tebal plat 4 mm, sedangkan lubang yang dibuat adalah 4 buah
dengan ukuran 70 x 30.
8. Pisau menggunakan bahan baja stell dengan ukuran panjang 70 mm, lebar
20 mm dan tebal 2mm.

DAFTAR TABEL

DIAGRAM ALIR PERANCANGAN

Mesin Perajang
Singkong

Informasi Umum :
- Tuntutan Mesin
- Batasan dari Mesin

Teori-Teori Penunjang

Perhitungan

Evaluas
i

Gambar Kerja

Proses Produksi

Evaluas
i

Analisis Sesuai
Tuntutan Mesin

Kesimpulan

Gambar 1. Diagram Alir Perancangan Mesin Perajang Singkong

ESTIMASI BIAYA

No

Bahan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Proposal
Motor
Puli Besar
Puli Kecil
Sabuk V
Poros
Pasak
Bantalan
Piringan Al
Pisau
Besi Siku
Plat Baja

13

Baut dan Mur

14

Lain-Lain
Total Biaya

Spesifikasi
1/4 HP, 1400 rpm
25 cm (D)
5 cm (D)
Tipe A, L1275

27 cm (D)
30 x 30 x 3 (mm3)
M10 x 1,5
M12 x 1,5

Vol

Satuan Harga/Satuan

1
1
1
1
1
1
1
2
1
3
1
1
11
11

buah
buah
buah
buah
buah
buah
buah
buah
buah
buah
lonjor
meter2
buah
buah

GAMBAR MESIN

Rp 10.000
Rp 400.000
Rp 60.000
Rp 40.000
Rp 35.000
Rp 150.000
Rp 15.000
Rp. 40.000
Rp 65.000
Rp 5.000
Rp 40.000
Rp 50.000
Rp 1.000
Rp 1.000

Jumlah
Rp 10.000
Rp 400.000
Rp 60.000
Rp 40.000
Rp 35.000
Rp 150.000
Rp 15.000
Rp. 80.000
Rp 65.000
Rp 15.000
Rp 40.000
Rp 50.000
Rp 11.000
Rp 11.000
Rp 200.000
Rp 1.182.000

BAB V
DAFTAR PUSTAKA
Sato, G. Takeshi dan N. Sugiarto Hartono, 1992, Menggambar Mesin Menurut
Standar ISO, PT. Pradnya Paramita, Jakarta.
Stolk, Jac dan C. Kros, 1984, Elemen Mesin, Penerbit Erlangga, Jakarta.
Sularso dan Kiyokatsu Suga, 1991, Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen
Mesin, PT. Pradnya Paramita, Jakarta.