Anda di halaman 1dari 22

12 Prinsip Ilmu Komunikasi (Deddy Mulyana)

SEPERTI FUNGSI DAN DEFINISI KOMUNIKASI, PRINSIP-PRINSIP komunikasi juga


diuraikan dengan berbagai cara oleh pakar komunikasi. Para pakar
komunikasi berbeda-beda dalam menggunakan istilah untuk menjabarkan
tentang prinsip-prinsip komunikasi, sebagai contoh William B. Gudykunst dan
Young Yun Kim mengistilahkan sebagai asumsi-asumsi komunikasi,
sedangkan Cassandra L. Book, Bert E. Bradley, Larry A. Samovar dan Richard
E. Porter, Sarah Trenholm dan Arthur Jensen menyebutnya sebagai
karakteristik-karakteristik komunikasi.
Dengan bersumber dari berbagai pakar komunikasi Deddy Mulyana, MA,
Ph.D. mencoba untuk merumuskan prinsip-prinsip komunikasi.
Berikut ini adalah prinsip-prinsip komunikasi yang di jabarkan oleh Dedi
Mulyana berdasarkan pengalaman dan pengamatan pribadi serta rujukan
lain yang relavan. Prinsip-prinsip komunikasi tersebut pada dasarnya
merupakan penjabaran lebih jauh dari definisi atau hakikat komunikasi.

PRINSIP 1 : KOMUNIKASI ADALAH SUATU PROSES SIMBOLIK


Salah satu kelebihan manusia dari makhluk lain (hewan) adalah ia
diberi kemampuan untuk berfikir, Seorang filosuf mengistilahkan sebagai al
hayawanu nathiq manusia adalah hewan yang berfikir. Dengan fikiran itulah
manusia mempunyai kemampuan untuk menggunakan lambang. Ernst
Cassier menyebutkan bahwa yang membedakan manusia dengan makhluk
lain adalah kemampuannya dalam menggunakan simbol (animal
symbolicum).
Lambang atau simbol adalah sesuatu yang digunakan untuk menunjuk
sesuatu lainnya, berdasarkan kesepakatan sekelompok orang. Lambang
meliputi kata-kata (pesan verbal), perilaku non verbal, dan objek yang
maknanya disepakati bersama. Kata kunci dari lambang atau simbol ini
adalah adanya kesepakatan sekelompok orang, tanpa adanya kesepakatan
tersebut maka simbol tersebut tidak akan dapat dijadikan sebagai
komunikasi.

Lambang adalah salah satu kategori tanda, hubungan antara tanda dengan
objek dapat direpresentasikan oleh ikon dan indeks, akan tetapi ikon[1] dan
indeks[2] tidak memerlukan kesepakatan. Salah satu ciri ikon adalah
kemiripan sebagaimana ketika anda membuat Kartu Anggota Perpustakaan
maka foto yang tertempel pada kartu tersebut adalah ikon anda. Akhir-akhir
ini lambang itu sering dipertukarkan dalam penggunaannya, sebagai contoh
Romeo dan Juliet / Rama dan Shinta merupakan lambang cinta yang abadi.
Sedangkan indeks muncul berdasarkan hubungan antara sebab dan akibat
yang punya kedekatan eksistensi, sebagai contoh ketika matahari terbenam
maka merupakan indeks bahwa waktu shalat maghrib telah masuk, akan
tetapi bagi sebagian masyarakat yang masih percaya pada hal-hal yang
mistik maka ketika matahari terbenam merupakan sinyal waktu keluarnya jin
dan setan lainnya sehingga para orang tua melarang anak-anak kecil untuk
keluar rumah maka waktu terbenamnya matahari merupakan lambang
karena sudah disepakati oleh masyarakat tersebut.
Lambang mempunyai karateristik sebagai berikut :
1.

Lambang bersifat sembarang, manasuka, atau sewenang-wenang.

Sebagaimana dalam muqaddimah bahwa hal yang paling utama dalam


lambang adalah adanya kesepakatan, maka apapun bentuknya dapat
dijadikan sebagai lambang, baik berupa kata-kata, isyarat anggota tubuh,
hewan, tumbuhan dan sebagainya. Sebagai contoh bahwa kenapa buah yang
berduri itu disebut durian, atau hewan yang berkokok itu disebut ayam,
penyebutan tersebut tentunya karena orang bersepakat
2.

Lambang pada dasarnya tidak mempunyai makna.

Yang memberikan makna pada sebuah lambang itu adalah pikiran kita,
bahkan kata-kata itupun merupakan pemaknaan dari pikiran kita. Tentu akan
menjadi hal yang sulit apabila suatu perkataan tidak dimaknai dengan
makna yang sama, maka hal ini akan menjadikan miss communication.
3.

Lambang itu bervariasi

Yang dimaksud dengan bervariasi adalah bahwa lambang itu akan berubah
dari konteks waktu ke konteks waktu yang lain, dari suatu tempat ke tempat
lain dan dari satu budaya ke budaya lain.

Lambang kekayan pada masyarakat jawa tahun tujuh puluhan adalah


dengan rumah gedhong (tembok) karena pada waktu itu rumah biasa dibuat
dari bambu atau papan, lambang tersebut tentunya tidak berlaku lagi pada
zaman sekarang karena kebanyakan masyarakat sudah mampu untuk
hanya membuat rumah gedhong.

PRINSIP 2: SETIAP PELAKU MEMPUNYAI POTENSI KOMUNIKASI


Setiap orang tidak bebas nilai, pada saat orang tersebut tidak
bermaksud mengkomunikasikan sesuatu, tetapi dimaknai oleh orang lain
maka orang tersebut sudah terlibat dalam proses berkomunikasi. Gerak
tubuh, ekspresi wajah ( komunikasi non verbal ) seseorang dapat dimaknai
oleh orang lain menjadi suatu stimulus.
Kita tidak dapat berkomunikasi (We Cannot not communicate). Tidak
berarti bahwa semua perilaku adalah komunikasi. Alih-alih, komunikasi
terjadi bila seseorang member makna pada perilaku orang lain atau
perilakunya sendiri.

PRINSIP 3: KOMUNIKASI PUNYA DIMENSI ISI DAN DIMENSI HUBUNGAN


Dimensi isi menunjukkan muatan (isi) komunikasi sedangkan dimensi
hubungan
menunjukkan
bagaimana
cara
mengatakannya
dan
mengisyaratkan, bagaimana hubungan para peserta komunikasi dan
bagaimana seharusnya pesan itu ditafsirkan. Dimensi isi disandi secara
verbal sedangkan dimensi hubungan disandi secara non verbal. Sebagai
contoh kalimat Makan..tuh dengan nada lembut bermakna perintah untuk
makan sedangkan apabila menggunakan intonasi tinggi maka bermakna
larangan memakannya. Ketika seseorang tahu bahwa temannya sedang
makan iapun tetap menyapa dengan kalimat makan? hal itu bermakna
menyapa agar tidak dikatakan sebagai orang yang judes atau cuek.

PRINSIP 4: Komunikasi Itu Berlangsung Dalam Berbagai Tingkat Kesengajaan.

Komunikasi dilakukan manusia dari yang tidak sengaja hingga yang sengaja
dan sadar serta terencana melakukan komunikasi. Kesadaran akan lebih
tinggi ketika berkomunikasi dalam situasi-situasi khusus. Sebagai contoh
ketika kita bercakap-cakap dengan seorang yang baru dikenal tentunya akan
berbeda cara berkomunikasi kita dibanding ketika kita bercakap-cakap
dengan teman yang sudah biasa bergaul sehari-hari. Akan tetapi kita juga
akan bisa berkomunikasi dengan kesadaran yang lebih tinggi dengan teman
sehari-hari kita apabila teman tersebut menyampaikan berita yang sangat
menarik bagi kita.
Adanya perilaku-perilaku dalam berkomunikasi akan menimbulkan asumsiasumsi orang lain yang bisa benar atau belum tentu benar secara mutlak.
Sebagai contoh ketika seorang mahasiswa mempresentasikan makalahnya
dengan sering menggaruk-garuk kepalanya maka kita akan berasumsi
bahwa mahasiswa tersebut kurang siap, walaupun mahasiswa tersebut tidak
demikian. Untuk membuktikan bahwa niat atau kesengajaan bukan syarat
mutlak berkomunikasi dapat dilihat dari contoh kasus sebagai berikut ; Ketika
anak muda yang belum tahu tata krama Yogya-Solo berjalan di depan orang
yang lebih tua pada masyarakat Yogyakarta dan Solo klasik dan ia tidak
membungkukkan badan maka dia akan dicap sebagai anak yang tidak punya
tata krama walaupun anak itu tidak sengaja.

PRINSIP 5: Komunikasi Terjadi Dalam Konteks Ruang dan Waktu

Pesan komunikasi yang dikirim oleh pihak komunikan baik secara verbal
maupun non-verbal disesuaikan dengan tempat, dimana proses komunikasi
itu berlangsung, kepada siapa pesan itu dikirim dan kapan komunikasi itu
berlangsung.
Seseorang yang berkomunikasi akan menimbulkan makna-makna tertentu,
sedangkan makna tersebut berhubungan dengan konteks fisik/ruang, waktu,
sosial, dan psikologis. Sebagai contoh bahwa komunikasi berhubungan
dengan ruang adalah akan dianggap kurang sopan apabila menghadiri
acara protokoler dengan memakai kaos oblong. Adapun waktu dapat
mempengaruhi makna komunikasi dapat digambarkan sebagai berikut
seoarang yang berlangganan koran Republika dan koran itu selalu datang
jam 05.30 kemudian dengan tiba-tiba datang jam 09.00 tentunya pelanggan
tersebut akan mempunyai persepsi-persepsi tertentu.

PRINSIP 6: KOMUNIKASI MELIBATKAN PREDIKSI PESERTA KOMUNIKASI


Ketika orang-orang berkomunikasi, mereka meramalkan efek perilaku
komunikasi mereka. Dengan kata lain, komunikasi juga terikat oleh aturan
atau tatakrama. Artinya, orang-orang memilih strategi tertentu berdasarkan
bagaimana orang yang menerima pesan akan merespon. Prediksi ini tidak
selalu disadari, dan sering belangsung cepat. Kita dapat memprediksi
perilaku komunikasi orang lain berdasarkan peransosialnya. Misanya anda
mengetahui bagaimana tatakrama dalam berbahasa ketika anda berhaapan
dengan orang tua anda atau orang yang lebih tua. Misalnya tidak dapat
menyapa orang tua anda dengan kamu atau elu.

PRINSIP 7: KOMUNIKASI ITU BERSIFAT SISTEMIK


Setiap Individu adalah suatu system yang hidup ( A Living System ).
Organ-organ dalam tubuh kita saling berhubungan. Kerusakan mata dapat
membuat kepala kita pusing. Bahkan unsure diri kita yang bersifat jasmani
juga berhubungan dengan unsure kita yang bersifat rohani.
Komunikasi juga menyangkut suatu system dari unsurunsurnya.setidaknya dua system dasar beroperasi dalam transaksi
komunikasi itu system internal dan eksternal. System internal adalah seluruh
system nilai yang dibawah oleh seseorang individu ketika ia berpartisipasi
dalam komunikasi, yang ia serap selalu sosialisasinya dalam berbagai
lingkungan sosialnya ( Keluarga, Masyarakat setempat, kelompok suku,
kelompok agama, lembaga pendidikan, dan lain-lain). System internal ini
mengandung semua unsur yang membentuk individu yang unik. Kita hanya
dapat menduganya lewat kata-kata yang ia ucapkan dan perilaku yang ia
tunjukkan. Jumlah system internal ini adalah sebanyak individu yang ada.
System Eksternal terdiri dari unsur-unsur dalam lingkungan diluar
individu, termasuk kata-kata yang ia pilih untuk berbicara, isyarat fisik,
kegaduhan disekitarnya, penataan ruangan, cahaya, dan temperature
ruangan. Lingkungan dan objek mempengaruhi komunikasi kita namun
persepsi kita atas lingkungan kita juga mempengaruhi kita berperilaku.

PRINSIP 8: SEMAKIN MIRIP LATAR BELAKAN SOSIAL BUDAYA SEMAKIN


EFEKTIFLAH KOMUNIKASI
Jika dua orang melakukan komunikasi berasal dari suku yang sama,
pendidikan yang sama, maka ada kecenderungan dua pihak tersebut
mempunyai bahan yang sama untuk berkomunikasi.
Komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang hasilnya sesuai
dengan harapan para pesertanya (orang-orang yang sedang berkomunikasi).
Dalam kenyataannya, tidak pernah ada dua manusia yang persis sama,
meskipun mereka kembar. Namun adanya kesamaan sekali lagi akan
mendorong orang-orang untuk saling tertarik dan pada gilirannya karena
kesamaan tersebut komunikasi mereka menjadi lebih efektif.

PRINSIP 9: komunikasi bersifat nonsekuensial


Proses komunikasi bersifat sirkular dalam arti tidak berlangsung satu
arah. Melibatkan respon atau tanggapan sebagai bukti bahwa pesan yang
dikirimkan itu diterima dan dimengerti.

PRINSIP
10:
KOMUNIKASI
TRANSAKSIONAL

BERSIFAT

PROSESUAL,

DINAMIS

DAN

Konsekuensi dari prinsip bahwa komunikasi adalah sebuah proses


adalah komunikasi itu dinamis dan transaksional. Ada proses saling memberi
dan menerima informasi diantara pihak-pihak yang melakukan komunikasi.

PRINSIP 11: KOMUNIKASI BERSIFAT IRREVERSIBLE


Setiap orang yang melakukan proses komunikasi tidak dapat
mengontrol sedemikian rupa terhadap efek yang ditimbulkan oleh pesan
yang dikirimkan. Komunikasi tidak dapat ditarik kembali, jika seseorang
sudah berkata menyakiti orang lain, maka efek sakit hati tidak akan hilang
begitu saja pada diri orang lain tersebut.

PRINSIP 12: KOMUNIKASI BUKAN PANESAUNTUK MENYELESAIKAN BERBAGAI


MASALAH

Dalam arti bahwa komunikasi bukan satu-satunya obat mujarab yang


dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah. Banya persoalan dan konflik
antar manusia disebabkan oleh masalah komunikasi. Namun komunikasi
bukanlah panasea (obat mujrab) untuk menyelesaikan persoalan atau konflik
itu, karena konflik atau persoalan tersebut mungkin berkaitan dengan
masalah structural.

PRINSIP-PRINSIP KOMUNIKASI

Prinsip-prinsip komunikasi seperti halnya fungsi dan definisi komunikasi


mempunyai uraian yang beragam sesuai dengan konsep yang dikembangkan
oleh masing-masing pakar. Istilah prinsip oleh William B. Gudykunst disebut
asumsi-asumsi komunikasi. Larry A.Samovar dan Richard E.Porter
menyebutnya karakteristik komunikasi. Deddy Mulyana, Ph.D membuat
istilah baru yaitu prinsip-prinsip komunikasi. Terdapat 12 prinsip komunikasi
yang dikatakan sebagai penjabaran lebih jauh dari definisi dan hakekat
komunikasi yaitu :

Prinsip 1 : Komunikasi adalah suatu proses simbolik

Komunikasi adalah sesuatu yang bersifat dinamis, sirkular dan tidak berakhir
pada suatu titik, tetapi terus berkelanjutan. Salah satu kebutuhan pokok
manusia, seperti dikatakan oleh Susanne K. Langer, adalah kebutuhan
simbolisasi atau penggunaan lambang. Manusia memang satu-satunya
hewan yang menggunakan lambang, dan itulah yang membedakan manusia
dengan makhluk lainnya. Ernst Cassier mengatakan bahwa keunggulan
manusia atas makhluk lainnya adalah keistimewaan mereka sebagai animal
symbolicum.

Lambang atau simbol adalah ssuatu yang digunakan untuk menunjuk


sesuatu lainnya, berdasarkan kesepakatan sekelompok orang. Lambang
meliputi kata-kata (pesan verbal), perilaku non-verbal, dan objek yang
maknanya disepakati bersama, misalnya memasang bendera dihalaman
rumah untuk menyatakan penghormatan atau kecintaan kepada negara.
Kemampuan manusia menggunakan lambnag verbal memungkinkan
perkembangan bahasa dan menangani hubungan antara manusia dan objek
( baik nyata ataupun abstrak) tanpa kehadiran manusia dan objek tersebut.

Lambang adalah salah satu kategori tanda. Hubungan antara tanda dengan
objek dapat juga direpresentasikan oleh ikon dan indeks, namun ikon dan
indeks tidak memerlukan kesepakatan. Ikon adalah suatu benda fisik (dua
atau tiga dimensi) yang menyerupai apa yang direpresenasikannya.
Representasi ini ditandai dengan kemiripan. Misalnya patung Soekarno
adalah ikon Soekarno, dan foto pada KTP Anda adalah ikon Anda.

Berbeda denfan lambang dan ikon, indeks adalah tanda yang secara alamiah
mempresentasikan objek lainnya. Istilah lain yang sering digunakan untuk
indeks adalah sinyal (signal), yang dalam bahasa sehari-hari disebut juga
gejala (symptom). Indeks muncul berdasarkan hubunagn antara sebab dan
akibat yang punya kedekatan eksistensi. Misalnya awan gelap adalah indeks
hujan yang akan turun, sedangkan asap itu disepakati sebagai tanda bagi
masyarakat untuk berkumpul misalnya, seperti dalam dalam kasus suku
primitif, maka asap menjadi lambang karena maknanya telah disepakati
bersama.

Prinsip 2 : Setiap perilaku mempunyai potensi komunikasi

Setiap orang tidak bebas nilai, pada saat orang tersebut tidak bermaksud
mengkomunikasikan sesuatu, tetapi dimaknai oleh orang lain maka orang
tersebut sudah terlibat dalam proses berkomunikasi. Gerak tubuh, ekspresi
wajah (komunikasi non verbal) seseorang dapat dimaknai oleh orang lain
menjadi suatu stimulus. Kita tidak dapat tidak berkomunikasi (We cannot not

communicate). Tidak berarti bahwa semua perilaku adalah komuniaksi. Alihalih, komunikasi terjadi bila seseorang memberi makna pada perilaku orang
lain atau perilakunya sendiri.

Cobalah Anda minta seseorang untuk tidak berkomunikasi. Amat sulit


baginya untuk berbuat demikian, karena setiap perilakunya punya potensi
untuk ditafsirkan. Kalau ia tersenyum, ia ditafsirkan bahagia; kalau ia
cemberut, ia ditafsirkan ngambek. Bahkan ketika kita berdiam diri sekalipun,
ketika kita mengundurkan diri dari komunikasi dan lalu menyendiri,
sebenarnya kita mengkomunikasikan banyak pesan. Orang lain mungkin
akan menafsirkan diam kita sebagai malu, segan, ragu-ragu, tidak setuju,
tidak perduli, marah, atau bahkan sebagai malas atau bodoh.

Prinsip 3 : Komunikasi punya dimensi isi dan hubungan

Setiap pesan komunikasi mempunyai dimensi isi dimana dari dimensi isi
tersebut kita bisa memprediksi dimensi hubungan yang ada diantara pihakpihak yang melakukan proses komunikasi. Percakapan diantara dua orang
sahabat dan antara dosen dan mahasiswa di kelas berbeda memiliki dimesi
isi yang berbeda.

Dimensi isi disandi secara verbal, sementara dimensi hubungan disandi


secara nonverbal. Dimensi isi menunjukkan muatan (isi) komunikasi, yaitu
apa yang dikatakan. Sedangkan dimensi hubungan menunjukkan bagaimana
cara mengatakannya yang juga mengisyaratkan bagaimana hubungan para
peserta komunikasi itu dan bagaimana seharusnya pesan itu ditafsirkan.
Sebagai contoh, kalimat Aku benci kamu yang diucapkan dengan nada
menggoda mungkin sekali justru berarti sebaliknya.

Dalam komunikasi massa, dimensi isi merujuk pada isi pesan, sedangkan
dimensi hubungan merujuk kepada unsur-unsur lain, termasuk juga jenis
saluran yang digunakan untuk menyampaiakn pesan tersebut. Pengaruh
suatu berita atau artikel dalam surat kabar misalnya, bukan hanya
bergantung pada isinya, namun juga siapa penulisnya, tata letak (lay-out)-

nya, jenis huruf yang digunakan, warna tulisan dan sebagainya. Pesan yang
sama dapat menimbulkan pengaruh berbeda bila disampaikan orang
berbeda. Biasanya artikel yang ditulis orang yang sudah dikenal akan
dianggap lebih berbobot bila dibandingkan dengan tulisan orang yang belum
dikenal. Bila dimengerti maka redaktur surat kabar atau majalh akan lebih
memprioritaskan tulisan orang-orang yang sudah dikenal sebelumnya.

Prinsip 4 : Komunikasi itu berlangsung dalam berbagai tingkat kesengajaan

Setiap tindakan komunikasi yang dilakukan oleh seseorang bisa terjadi mulai
dari tingkat kesengajaan yang rendah artinya tindakan komunikasi yang
tidak direncanakan (apa saja yang akan dikatakan atau apa saja yang akan
dilakukan secara rinci dan detail), sampai pada tindakan komunikasi yang
betul-betul disengaja (pihak komunikan mengharapkan respon dan berharap
tujuannya tercapai).

Kesengajaan bukanlah syarat untuk terjadinya komuniaksi. Meskipun kita


sama sekali tidak bermaksud menyampaikan pesan kepada orang lain,
perilaku kita potensial ditafsirkan orang lain. Kita tidak dapat mengendalikan
orang lain untuk menafsirkan atau tidak menafsirkan perilaku kita.
Membatasi komunikasi sebagai proses yang disengaja adalah menganggap
komuniaksi sebagai instrumen seperti dalam persuasi.

Naiat atau kesengajaan bukanlah syarat mutlak bagi seseorang untuk


berkomunikasi. Dalam komunikasi antara orang-orang berbeda budaya
ketidaksengajaan berkomunikasi ini lebih relevan lagi untuk kita perhatikan.
Banyak kesalahpahaman antarbudaya sebenarnya disebabkan oleh perilaku
seseorang yang tidak disengaja yang dipersepsi, ditafsirkan, dan direspons
oleh orang lain dari budaya lain. Misalkan dalam tindakan menyentuh wanita
di Arab Saudi yang diperkenalkan kepada Anda, yang sebenarnya tidak Anda
sengaja, dapat menyampaiakn pesan negatif yang menghambat pertemuan
tersebut.

Prinsip 5 : Komunikasi terjadi dalam konteks ruang dan waktu

Pesan komunikasi yang dikirimkan oleh pihak komunikan baik secara verbal
maupun non-verbal disesuaikan dengan tempat, dimana proses komunikasi
itu berlangsung, kepada siapa pesan itu dikirimkan dan kapan komunikasi itu
berlangsung.

Makna pesan juga bergantung pada konteks fisik dan ruang (termasuk iklim,
suhu, intensitas cahaya, dan sebagainya), waktu, sosial dan psikologis. Topiktopik yang lazim dipercakapkan di rumah, tempat kerja, atau tempat hiburan
seperti lelucon, acara televisi, mobil, bisnis, atau perdagangan
terasa kurang sopan bila dikemukakan dimasjid.

Waktu juga mempengaruhi makna terhadap suatu pesan. Dering telepon


pada tengah malam atau dini hari akan dipersepsi lain bila dibandingkan
dengan dering telpon pada siang hari.Dering telepon pertama itu mungkin
berita sangat penting (darurat) , misalnya untuk mengbarkan orang sakit,
kecelakaan atau meninggal dunia atau upaya orang jahat untuk mengetes
apakah dirumah ada orang atau tidak.

Prinsip 6 : Komunikasi melibatkan prediksi peserta komunikasi

Tidak dapat dibayangkan jika orang melakukan tindakan komunikasi di luar


norma yang berlaku di masyarakat. Jika kita tersenyum maka kita dapat
memprediksi bahwa pihak penerima akan membalas dengan senyuman, jika
kita menyapa seseorang maka orang tersebut akan membalas sapaan kita.
Prediksi seperti itu akan membuat seseorang menjadi tenang dalam
melakukan proses komunikasi.

Ketika orang-orang berkomunikasi, mereka meramalkan efek perilaku


komunikasi mereka. Dengan kata lain, komunikasi juga terikat oleh aturan
atau tatakrama. Artinya , orang-orang memilih strategi tertentu berdasarkan

bagaimana orang yang menerima pesan akan merespons. Prediksi ini tidak
selalu disadari dan sering berlangsung cepat. Kita dapat memprediksi
perilaku komunikasi orang lain berdasarkan peran sosialnya.

Prinsip 7 : Komunikasi itu bersifat sistemik

Dalam diri setiap orang mengandung sisi internal yang dipengaruhi oleh latar
belakang budaya, nilai, adat, pengalaman dan pendidikan. Bagaimana
seseorang berkomunikasi dipengaruhi oleh beberapa hal internal tersebut.
Sisi internal seperti lingkungan keluarga dan lingkungan dimana dia
bersosialisasi
mempengaruhi
bagaimana
dia
melakukan
tindakan
komunikasi.

Setiap individu adalah suatu sistem yang hidup (a living system). Organorgan dalam tubuh kita saling berhubungan. Kerusakan pada mata dapat
membuat kepala kita pusing. Bahkan unsur diri kita yang bersifat jasmani
juga berhubungan dengan unsur kita yang bersifat rohani. Kemarahan
membuat jantung kita berdetak lebih cepat dan berkeringat. Setidaknya dua
sistem dasar beroperasi dalam transaksi komunikasi itu: Sistem Internal dan
Sistem Eksternal. Sistem internal adalah seluruh sistem nilai yang dibawa
oleh individu ketika ia berpartisipasi dalam komunikasi yang ia cerap selama
sosialisasinya
dalam
berbagai
lingkungan
sosialnya
(keluarga,
masyarakat,setempat, kelompok suku, kelompok agama, lembaga
pendidikan, kelompok sebaya, tempat kerja, dan sebagainya).

Berbeda dengan sistem internal, sistem eksteernal terdiri dari unsur-unsur


dalam lingkungan di luar individu, termasuk kata-kata yang ia pilih untuk
berbicara, isyarat fisik peserta komunikasi, kegaduhan di sekitarnya,
penataan ruangan, cahaya, dan temperatur ruangan. Elemen-elemen ini
adalah stimuli publik yang terbuka bagi setiap peserta komunikasi dalam
setiap transaksi komunikasi.

Prinsip 8 : Semakin mirip latar belakang sosial budaya semakin efektiflah


komunikasi

Jika dua orang melakukan komunikasi berasal dari suku yang sama,
pendidikan yang sama, maka ada kecenderungan dua pihak tersebut
mempunyai bahan yang sama untuk saling dikomunikasikan. Kedua pihak
mempunyai makna yang sama terhadap simbol-simbol yang saling
dipertukarkan.

Komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang hasilnya sesuai dengan


harapan para pesertanya (orang-orang yang sedang berkomunikasi). Dalam
kenyataannya, tidak pernah ada dua manusia yang persis sama, meskupun
mereka kembar yang dilahirkan dan diasuh dalam keluarga yangsama, diberi
makanan yang sama dan di didik dengan cara yang sama. Namun adanya
kesamaan sekali lagi akan mendorong orang-orang untuk saling tertarik dan
pada gilirannya karena kesamaan tersebut komunikasi mereka menjadi lebih
efektif.

Prinsip 9 : Komunikasi bersifat nonsekuensial

Proses komunikasi bersifat sirkular dalam arti tidak berlangsung satu arah.
Melibatkan respon atau tanggapan sebagai bukti bahwa pesan yang
dikirimkan itu diterima dan dimengerti.

Prinsip 10 : Komunikasi bersifat prosesual, dinamis dan transaksional

Konsekuensi dari prinsip bahwa komunikasi adalah sebuah proses adalah


komunikasi itu dinamis dan transaksional. Ada proses saling memberi dan
menerima informasi diantara pihak-pihak yang melakukan komunikasi.

Prinsip 11 : komunikasi bersifat irreversible

Setiap orang yang melakukan proses komunikasi tidak dapat mengontrol


sedemikian rupa terhadap efek yang ditimbulkan oleh pesan yang
dikirimkan. Komunikasi tidak dapat ditarik kembali, jika seseorang sudah
berkata menyakiti orang lain, maka efek sakit hati tidak akan hilang begitu
saja pada diri orang lain tersebut.

Prinsip 12 : Komunikasi bukan panasea untuk menyelesaikan berbagai


masalah

Dalam arti bahwa komunikasi bukan satu-satunya obat mujarab yang dapat
digunakan untuk menyelesaikan masalah. Banyak persoalan dan konflik
antar manusia disebabkan oleh masaalh komunikasi. Namun komunikasi
bukanlah panasea (obat mujrab) untuk menyelesaikan persoalan atau konflik
itu, karena konflik atau persoalan tersebut mungkin berkaitan denagn
masalah struktural.

Sedangkan Mulyana (2003) dalam bukunya Ilmu Komunikasi Sebuah


Pengantar menjelaskan beberapa prinsip komunikasi antara lain bahwa :
komunikasi adalah suatu proses simbolik, setiap perilaku mempunyai potensi
komunikasi, komunikasi punya dimensi isi dan dimensi hubungan,
komunikasi itu berlangsung dalam berbagai tingkat kesengajaan, komunikasi
terjadi dalam konteks ruang dan waktu, komunikasi melibatkan prediksi
peserta komunikasi, komunikasi itu bersifat sistematik, semakin mirip latar
belakang sosial budaya semakin efektiflah komunikasi, komunikasi bersifat
non sekuensial, komunikasi bersifat prosesual, dinamis dan transaksional dan
prinsip yang terakhir adalah Komunikasi bersifat inreversible, komunikasi
bukan merupakan obat mujarab (panasea) untuk menyelesaikan berbagai
masalah
Dijelaskan lebih lanjut oleh Mulyana (2003) sebagai berikut :

Prinsip 1. Komunikasi adalah suatu Proses Simbolik

Salah satu kebutuhan pokok manusia adalah kebutuhan akan simbolisasi


atau penggunaan lambang. Beberapa hal terkait dengan penggunaan
lambang, yaitu :
Lambang / simbol adalah sesuatu yang digunakan untuk menunjuk
sesuatu lainnya, berdasarkan kesepakatan sekelompok orang.
Lambang meliputi pesan verbal, non verbal dan obyek yang maknanya
disepakati bersama.
Lambang adalah salah satu kategori tanda, dimana hubungan antara
tanda dan obyek juga dapat dipresentasikan oleh ikon-ikon dan indeks.
Namun perlu dicatat ikon dan indeks tidak memerlukan kesepakatan
bersama, sedangkan lambang memerlukan kesepakatan.
Ikon adalah suatu benda fisik dua atau tiga dimensi yang menyerupai apa
yang dipresentasikan. Representasi ini ditandai dengan kemiripan misalnya :
patung Sukarno adalah ikon Sukarno
indeks adalah suatu tanda yang secara alamiah mempresentasikan obyek
lainnya. Istilah lain yang digunakan untuk indeks adalah sinyal (signal), yang
dalam bahasa sehari-hari yang disebut gejala (symptom). Indeks muncul
berdasar hubungan antara sebab dan akibat yang punya kedekatan
eksistensi. Misalnya awan gelap adalah indeks hujan akan turun.
Lambang mempunyai bebeapa sifat, yaitu:
bersifat sembarang, manasuka atau sewenang-wenang.
Apa saja bisa dijadikan lambang, bergantung pada kesepakatan bersama.
Kata-kata (lisan dan tulisan), isyarat tubuh, huruf, makanan, dandanan,
tempat tinggal, dan sebagainya
Lambang pada dasarnya tidak mempunyai makna, kitalah yang memberi
makna pada lambang.
Lambang itu bervariasi
Lambang itu bervariasi dari suatu budaya ke budaya lain, dari suatu tempat
ke tempat lain, dari suatu konteks waktu ke waktu yang lain. Misalnya
Indonesia menyebut modul yang anda baca ini adalah buku, orang Inggris
menyebutnya book, orang Jerman menyebutnya buch.

Prinsip 2. Setiap perilaku mempunyai potensi komunikasi


Kita tidak dapat berkomunikasi (We cannot not communication). Tidak berarti
semua perilaku adalah komunikasi. sebagai contoh pada saat kita diminta
untuk tidak berkomunikasi, hal ini sangat sulit dilakukan karena setiap hal
yang kita lakukan berpotensi untuk ditafsirkan, ketika kita melotot ditafsirkan
marah, ketika tersenyum ditafsirkan gembira. Begitu pula dengan sikap diam
dapat ditafsirkan setuju.

Prinsip 3. Komunikasi Punya Dimensi Isi dan Dimensi Hubungan


Setiap komunikasi mempunyai dimensi isi dan dimensi hubungan. Dimensi isi
disandi secara verbal, menunjukkan muatan (isi) komunikasi, yaitu apa yang
dikatakan. Sedangkan dimensi hubungan disandi secara non verbal,
menunjukkan bagaimana cara mengatakan, dan mengisyaratkan bagaimana
hubungan para peserta komunikasi itu dan bagaimana seharusnya pesan
ditafsirkan.
Sebagai contoh, ketika seorang pemuda bertanya Mau pergi ke Jakarta,
Dik? kepada seorang wanita yang duduk disebelahnya dalam sebuah kereta,
bukannya pria itu tidak tahu bahwa kereta menuju ke Jakarta, melainkan pria
tersebut ingin berkenalan atau ingin menunjukkan keramahannya.

Prinsip 4. Komunikasi itu berlangsung dalam berbagai tingkat kesengajaan


Komunikasi dilakukan dalam berbagai tingkat kesengjaan mulai dari
komunikasi yang tidak disengaja sama sekali (misalnya ketika seseorang
mengamati kita pada saat menagis) sampai pada tingkat kesengajaan yang
benar-benar direncanakan (misalnya seorang dosen yang mengajar di kelas).
Kesengajaan bukanlah syarat untuk terjadinya komunikasi. meski kita tidak
bermaksud untuk menyampaikan pesan. Namun perilaku kita potensial
untuk ditafsirkan. Coba amati teman anda yang sedang mengikuti kuliah !,
mungkin ada yang berpangku tangan, ada yang melamun, nah anda dapat
menafsirkan perilaku teman anda tersebut, tanpa kesengajaan bahwa
perilaku teman yang anda amati telah menyampaikan pesan.

Prinsip 5. Komunikasi terjadi dalam konteks ruang dan waktu

Makna pesan juga bergantung pada konteks fisik/ruang, waktu, social dan
psikologis. Sebagai contoh, topik-topik yang lazim dipercakapkan di rumah,
tempat kerja, atau tempat hiburan seperti lelucon, acara televisi,
mobil, bisnis , atau perdagangan terasa kurang sopan bila
dikemukakan di masjid.
Waktu juga mempengaruhi makna terhadap suatu pesan. Misalnya
kunjungan seorang mahasiswa kepada teman kuliahnya yang wanita pada
malam minggu akan dimaknai lain dibandingkan dengan kedatangannya
pada malam biasa. Kehadiran orang lain , sebagai konteks social juga akan
mempengaruhi orang-orang yang berkomunikasi. Misalnya dua orang yang
diam-diam berkonflik akan merasa canggung bila tidak ada orang lain sama
sekali di dekat mereka.
Suasana psikologis peserta komunikasi mempengaruhi juga suasana
komunikasi. ketika orang-orang berkomunikasi. Misalnya ketika kita
menyampaikan kritik kepada teman kita pada suasana santai atau bercanda
mungkin akan diterima dengan baik oleh teman kita, namun jika kritik kita
lontarkan pada saat teman sedang merasa sedih atau emosi maka akan
membuatnya marah.

Prinsip 6. Komunikasi melibatkan prediksi peserta komunikasi


Selain itu ketika orang berkomunikasi, mereka meramalkan efek perilaku
komunikasi mereka. Dengan kata lain, komunikasi juga terikat oleh aturan
atau tatakrama. Misalnya kepada orang yang lebih tua kita akan
memanggilnya dengan sebutan bapak / ibu, karena jika kita hanya
memanggil namanya tentu akan membuatnya tersinggung. Dengan
demikian orang-orang memilih strategi tertentu berdasarkan bagaimana
orang yang menerima pesan akan merespon.

Prinsip 7. Komunikasi itu bersifat sistematik


Komunikasi setidaknya menyangkut dua sistem dasar beroperasi dalam
transaksi komunikasi, yaitu : system internal dan system eksternal
Sistem internal
Seluruh sistem nilai yang dibawa oleh individu ketika ia berpartisipasi dalam
komunikasi, yang ia serap selama sosialisasinya dalam berbagai lingkungan

sosialnya (keluarga, masyarakat setempat, kelompok suku, kelompok


agama, lembaga, kelompok sebaya, tempat kerja, dan sebagainya).
Istilah lain system internal : kerangka rujukan (frame of reference), bidang
pengalaman (filed of experience), struktur kognitif, pola piker , keadaan
internal atau sikap (attitude).
System internal mengandung semua unsur yang membentuk individu
(termasuk ciri-ciri kepribadian, pendidikan, penget, agama, dan sebagainya).
Sehingga system internal ini dapat diduga dari kata-kata yang diucapkan
atau perilaku yang ditunjukan.
Sistem eksternal
System eksternal terdiri dari unsur-unsur dalam lingkungan diluar individu,
seperti isyarat fisik peserta komunikasi, kegaduhan disekitar, penataan
ruang. Merupakan elemen-elemen berupa stimulasi publik yang terbuka bagi
setiap peserta komunikasi dalam setiap transaksi komunikasi.
Komunikasi merupakan produk dari perpaduan antara system internal dan
eksternal di atas. Lingkungan dan objek mempengaruhi komunikasi kita,
namun persepsi kita atas lingkungan juga mempengaruhi perilaku kita.

Prinsip 8. Semakin mirip latar belakang sosial budaya semakin efektiflah


komunikasi.
Kesamaan dalam hal-hal tertentu, misalnya agama, ras (suku), bahasa,
pendidikan, atau tingkat ekonomi akan mendorong orang-orang untuk saling
tertarik dan karena kesamaan tersebut komunikasi lebih efektif. Kesamaan
bahasa khususnya akan membuat orang yang terlibat komunikasi lebih
mudah mencapai pengertian bersama disbanding dengan orang yang tidak
saling memahami bahasa yang digunakan.

Prinsip 9. Komunikasi bersifat non sekuensial


Sebenarnya komuniaksi manusia dalam bentuk dasarnya bersifat dua arah
atau disebut juga bersifat sirkuler. Komunikasi sirkuler, ditandai beberapa hal
berikut :

1) Orang-orang yang berkomunikasi dianggap setara, yang mengirim dan


menerima pesan pada saat yang sama.
2) Proses komunikasi berlangsung timbal balik (dua arah)
3) Dalam prakteknya, tidak dapat dibedakan antara pesan dan umpan balik.
4) Komunikasi yang terjadi sebenarnya jauh lebih rumit. Misalnya komunikasi
antara dua orang sebernarnya secara simultan melibatkan komunikasi
dengan diri sendiri (berpikir) untuk menanggapi pihak lain.
Prinsip 10. Komunikasi bersifat prosesual, dinamis dan transaksional
Komunikasi pada dasarnya tidak mempunyai awal dan tidak mempunyai
akhir, namun merupakan proses yang berkesinambungan. Sebagai contoh
ketika seorang anak dinasehati ibunya untuk rajin belajar, komunikasi ini
tidak berakhir ketika ibunya selesai berbicara, namun akan berlangsung
terus krena anak ini akan terus menerus mengingatnya atau memaknainya.
Dalam proses komunikasi, para peserta komunikasi saling mempengaruhi,
seberapa kecil pengaruh itu, baik lewat komunikasi verbal maupun non
verbal. Transaksi menunjukkan bahwa para peserta komunikasi saling
berhubungan, sehingga kita dapat mempertimbangkan salah satu tanpa
mempertimbangkan yang lainnya.
Implikasi dari komunikasi sebagai prose yang dinamis dan transaksional
adalah bahwa para peserta komunikasi berubah (dari sekedar berubah
pengetahuan hingga berubah pandangan dunia dan perilakunya).

Prinsip 11. Komunikasi bersifat irreversible


Sifat irreversible ini adalah implikasi dari komunikasi sebagai suatu proses
yang selalu berubah. Oleh karena itu kita harus berhati-hati dalam
menyampaikan pesan kepada orang lain, sebab efeknya tidak bisa
ditiadakan sama sekali, meskipun kita berupaya meralatnya. Sehingga
muncul ungkapan To forgive but not to forget (kita bisa memaafkan
kesalahan orang lain, namun tidak dapat melupakannya).

Prinsip 12. Komunikasi bukan merupakan obat mujarab (panasea) untuk


menyelesaikan berbagai masalah.

Banyak permasalahan antarmanusia yang disebabkan oleh masalah


komunikasi, namun komunikasi bukan obat mujarab (panasea) untuk
menyelesaikan masalah terebut, karena permasalahan tersebut berkaitan
dengan masalah structural. Sehingga agar komunikasi efektif maka masalah
structural harus diatasi. Sebagai contoh meskipun pemerintah berusaha
menjalin komunikasi yang efektif dengan warga Aceh, tidak mungkin usaha
tersebut berhasil, selama pemerintah masih memperlakukan mereka secara
tidak adil.

DAFTAR PUSTAKA

Devito, Joseph A. 1997. Komunikasi Antarmanusia. Professional Books.


Jakarta.
Mulyana, Deddy M. 2003. Ilmu Komunikasi Sebuah Pengantar. PT. Remaja
Rosdakarya. Bandung

BAB III. Prinsip-prinsip komunikasi


1.

Komunikasi adalah proses simbolik

Symbol = sesuatu yang digunakan untuk menunjukkan sesuatu lainnya


Sifat symbol/lambang adalah bersifat sembarang, suka-suka bergantung
kesepakatan bersama, lambang tidak mempunyai makna dan kitalah yang
memberi nya makna, lambang itu bervariasi.
2.

Setiap perilaku mempunyai potensi komunikasi.

Bahkan diam adalah sebuah komunikasi. Orang diam secara tidak sengaja
telah mengirimkan pesan pada orang lain yang orang tsb dapat menafsirkan
bahwa mungkin dia diam karena marah, malas, atau yang lainnya.
3.

Komunikasi memiliki dimensi isi dan dimensi hubungan

Dimensi isi: apa yang dikatakan (pesan verbal)

Dimensi hubungan: apa jenis salurannya, bagaimana cara mengatakannya


(pesan non verbal)
4.

Komunikasi berlangsung dalam berbagai tingkat kesengajaan

Mulai dari komunikasi yang tidak sengaja sama sekali sampai komunikasi
terencana.
Kesengajaan
bukan
merupakan
syarat
utama
untuk
berkomunikasi.
5.

Komunikasi terjadi dalam konteks ruang dan waktu

Konteks ruang: memakai baju merah saat pemakaman tidaklah sopan karena
akan mengirimkan pesan bahwa kita tidak ikut berduka.
Konteks waktu: dering telepon malam hari atau tengah malam akan
dipersepsikan berbeda dibandingkan jika telepon itu bordering siang hari.
6.

Komunikasi melibatkan prediksi peserta komunikasi

Siapa yang diajak bicara dan bagaimana sikap kita?


7.

Komunikasi bersifat sistemik

Sistem internal

: kepribadian, pola pikir, sikap kita.

Sistem eksternal

: unsure diluar individu (kegaduhan, cahaya, dll)

8.
Semakin mirip latar belakang social budaya, semakin efektif-lah
komunikasi
9.
1.

Komunikasi bersifat Non sekuensial (komunikasi sirkuler/ dua arah)


Komunikasi bersifat prosesual, dinamis, dan transaksional.

Prosesual
: terus berubah (orang tidak akan melintas disungai yang
sama ke-2 kalinya)
Dinamis
Transaksional

: terus berubah
: pengiriman-penerimaan pesan terus terjadi (bersamaan)

11. Komunikasi bersifat irreversible (tidak dapat diubah)


Seperti kalimat to forgive but not forget. Maka berhati-hatilah dalam
berkomunikasi dan berbicara karena apa yang telah kita ucapkan mungkin
dapat dicabut dan dimaafkan namun takkan pernah bisa dilupakan.

12. Komunikasi bukan panasea untuk menyelesaikan berbagai masalah


Panasea= obat mujarab. Maksudnya adalah, jangan jadikan komunikasi jalan
utama untuk mengatasi masalah. Contohnya: meskipun pemerintah
bersusah payah menjalin komunikasi yang baik dengan warga aceh, itu
takkan berhasil bila pemerintah memperlakukan masyarakat di wilayahwilayah itu secara tidak adil, dengan merampas kekayaan alam mereka dan
mengangkutnya kepusat.